Sabtu, 31 Maret 2012

F-86 Avon Sabre

✈ Salah Satu Pioner Pesawat Modern

Di dunia ini hanya ada 112 unit pesawat F-86 Avon Sabre, produksi Australia, 23 di antaranya berada di Indonesia pasca dihibahkannya jenis pesawat ini kepada TNI AU pada awal tahun 1973. Ke-23 pesawat datang dalam program yang disebut Garuda Bangkit yaitu mendatangkan 18 unit pesawat F-86 Avon Sabre yang datang pada tahun 1973 dalam dua gelombang pengiriman dan lima unit F-86 da­tang pada tahun 1976 dari TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) yang tadinya dioperasikan oleh Skuadron Udara-11 bermarkas di Butterworth.

✈ MiG Killer

F-86 Sabre adalah pesawat legendaris, terkenal sejak Perang Korea dan mendapat sebutan MiG-Killer karena berhasil merontokkan 792 pesawat MiG-­15 dalam 900 kali pertempuran udara dan “hanya” kehilangan 78 unit. Bila ini benar maka kill ratio pesawat F-86 terhadap MiG-15 adalah 10 : 1, angka yang fantas­tic. Meskipun dokumen Rusia menyebut bahwa mereka berhasil merontokkan 650 Sabre di udara dan diakui Amerika “hanya” 224 pesawat, terpenting bahwa pesa­wat F-86 Sabre memang dirancang sebagai pesawat tempur untuk keunggulan di udara.

Empat pilot F-86 Sabre
Denag berakhirnya Perang Dunia II hampir tidak ada perlombaan senjata, semua pihak masih menyesal dengan perbuatan masing-masing selama perang. Sementara itu dunia penerbangan makin maju sebagai dampak pengalaman selama perang, sehingga nantinya tercipta sebuah pesawat tempur yang kecil, lincah, tidak boros bahan bakar, dioperasikan seorang pilot dan mampu menyergap musuh dengan kecepatan tinggi. Pihak Barat dalam hal ini Amerika menelurkan pesawat yang disebut F-86 Sabre dan pihak Timur dalam hal ini Rusia menghasilkan pesawat yang disebut MiG-15. Sepasang `anak kembar” inilah yang nanti akan bertemu dalam duel udara di atas Korea.

Edgar Schmued berhasil merancang pesawat yang diper­syaratkan oleh AU AS, maka lahirlah pesawat F-86 Sabre yang terbang perdana pada tanggal 1 Oktober 1947. Pesawat lincah yang ditenagai dengan mesin jet trial dan hanya diawaki seorang Pilot ini mampu melesat terbang mendekati kecepatan suara dengan struktur yang telah dirancang untuk penerbangan supersonik. Untuk itulah ekor pesawat telah mengadopsi rancang bangun mutakhir serta adanya horizontal stabilizer yang mempunyai satu kesatuan – bertolak belakang dengan stabilizer pesawat terdahulu. Dengan penemuan baru ini masalah kontrol dapat teratasi dan pesawat dapat terbang melebihi kecepatan suara, karena pilot saat menggerakkan stick control semua bagian stabilizer akan bergerak. Namun teknologi permesinan be­lum mampu mengatasi, sehingga pesawat F-86 hanya dapat terbang supersonik dengan cara terbang dive pada sudut antara 70 hingga 90 derajat mengarah ke bawah.

Tiga prototipe telah dibuat untuk uji terbang statis dan dina­mis, sayang pesawat pertama jatuh terbakar setelah terbang 241 kali. Sedang prototipe kedua dan ketiga terus diuji coba hingga tahun 1953 agar mendapat pesawat yang diinginkan para pilot yaitu sebuah pesawat tempur kecil, lincah dan bertenaga. Setelah dilaksanakan serangkaian uji terbang akhirnya tercipta pesawat yang diberi reg­istrasi F-86 dengan enam senjata kaliber 12,7 mm Browning M3 .50 inci, masing-masing dengan 300 butir peluru. Meskipun masih dilengkapi dengan alat bidik manual (manual ranging comput­ing gun sight) jenis Mark-18, pesawat yang mampu terbang pada ketinggian 35.000 kaki ini merupa­kan pesawat terhebat di zamannya. Tidak heran banyak angkatan udara ingin memiliki pesawat ini. Bahkan beberapa negara ingin memproduksinya. Antara lain adalah pabrikan Commonwealth Aircraft Corporations di Fisher­man’s Bend, Melbourne, Aus­tralia, mendapat lisensi yang nanti hasil produksinya diberi label F-86 Avon Sabre (diproduksi 112 unit). Sedang Kanada dengan label CL‑13 Sabre (diproduksi 1.813 unit) dan Amerika tetap memakai label North American F-86 Sabre.

✈ Efek Perang Korea

Pada 9 April 1973, Indonesia mendapat hibah pesawat tempur F-86 Sabre dari Australia. 
Pesawat-pesawat ini kemudian melahirkan penerbang-penerbang tangguh TNI AU. 
Dalam Foto di atas ini, berdiri dari kiri ke kanan: Suyamto, Anggoro, Iowan Saleh, Tri Soeharto, 
FX Suyitno, Boediardjo. Sementara berjongkok, 
dari kiri ke kanan: Sulaiman Supriyatna, Sutejo, Holky Bk, Donan Sunanto dan Sudahlan.

Dampak Perang Korea, permintaan pesawat F-86 dari luar negeri melesat tajam. Negara pertama yang berhasil mendapatkannya adalah Taiwan. Sebanyak 160 unit F-86F-1-NA dikirim ke Taiwan periode 1954 hingga 1956. Belakangan pada tahun 1958 dikirim lagi 320 unit F-86 dan tujuh unit tipe RF-86F dari surplus AU AS dan 135 unit lagi yang semuanya di upgrade menjadi F-86F-40. Tahun 1954 Kongres Amerika menyetujui pengiriman pesawat jenis ini ke Jepang guna membangun pasukan bela diri Jepang yang kemampuannya dikebiri akibat kalah perang. Awalnya terkirim 68 unit T-33 dan 54 unit F-86 Sabre, belakangan dikirim lagi 135 unit dimana sebagian dirakit oleh Mitsubishi. Kemampuan merakit inilah nantinya menjadikan Mit­subishi mampu membuat sendiri 300 unit F-86F di bawah penga­wasan Amerika. Hingga tahun 1957 tulang punggung kekuatan udara Nihun Koku Jeitei ditopang oleh F-86F Sabre.

Spirit 78 F-86 Sabre AURI
Saking lakunya pesawat ini, be­berapa negara termasuk Indonesia hanya mendapat pesawat bekas pakai. Indonesia mendapat dari Australia dan Malaysia padahal Malaysia sendiri mendapat pesa­wat bekas dari Australia. Negara penerima pesawat F-86 bekas pakai lainnya adalah Venezuela yang mendapat bekas dari Argentina dan juga Jerman; Saudi Arabia dan Portugal dari Norwegia; Bangla­desh dari Pakistan; dan Tunisia dari Amerika. Selain tampil sebagai pesawat andal dalam medan perang, pesawat yang lincah ini juga dipakai sebagai pesawat andalan tim aerobatik angkatan udara di antaranya Thunderbirds (USAF), Golden Eagle (Canada), Black Panther, Red Diamonds, Black Diamonds, 78 Wing Sabre Team, 3 Squadron Team dan Markerman (Australia), Blue Impuls (Jepang) dan tentunya TNI AU dengan tim aerobatik yang dinamakan Spirit-78. Kesemua tim aerobatik memanfaatkan kelincahan F-86 dan kemampuan manuver pada ketinggian rendah yang dapat disajikan secara spektakuler. Kemampuan untuk terbang invertel selama 12 detik juga merupakan salah satu sajian semua tim aerobatik yang mengu­nakan pesawat ini.

✈ Kekuatan udara Indonesia

Pesawat F-86 Avon Sabre yang dioperasikan TNI AU sejak tahun 1973 akhirnya dikandangkan pasca tragedi jatuhnya pesawat TS-8620 dengan menewaskan pi­lotnya yaitu Mayor Pnb Budiardjo Soerono. Peristiwa tanggal 30 Oktober 1980 ini menutup lembar sejarah keperkasaan sang Sabre yang sempat menjadi perangkat tim aerobatik Spirit-78 di masa jayanya. Kemampuan sang Sabre masih dapat ditampilkan para pilot muda pimpinan Mayor Budiardjo saat mengikuti hari ABRI tanggal 5 Oktober 1980 di Jagorawi dengan menampilkan manuver yang spektakuler, lebih spektakuler lagi karena semua anggota tim adalah para pilot siswa konversi yang belum menyelesaikan pendidikan. Berkat leader yang baik para siswa mampu mengikuti manuver yang sulit sambil fly pass, antara lain dengan melakukan trill in roll, wing over dan clover leaf in box. Meskipun hanya dengan empat pe­sawat, “penampilan terakhir” F-86 di hadapan publik ini memancing decak kagum.


F-86 AURI
Kini kita masih dapat melihat sisa-sisa pesawat F-86 Avon Sabre yang dulunya dioperasikan di Skadron Udara 14 menggantikan keberadaan pesawat MiG-21 yang dikandangkan tahun 1966. Sejumlah pesawat F-86 registrasi TNI AU kini masih dapat dilihat di museum di Indonesia dan juga yang dijadikan monumen. Sedang sisanya semua diborong ke Amerika oleh perusahaan Aero Trader yang memenangkan tender pembelian pesawat F-86 (bekas) pada tahun 1989. Pesawat-pesawat tersebut saat ini tersimpan di Ocotillo, Wells. Meskipun cuma dioperasikan selama tujuh tahun (1973 -1980) pesawat ini telah mengubah cara pandang pilot tempur Indonesia dalam mengelola serta merawat sebuah skadron udara.

Diawali dengan pengiriman sejumlah teknisi ke Australia pada tanggal 30 Mei 1972 maka operasi bersandi Garuda Bangkit secara resmi diberlakukan. Operasi ini dipimpin oleh Pangkohanudnas, Marsekal Muda TNI Iskandar, guna menerima satu skadron plus pesawat bekas pakai yaitu F-86 Avon Sabre. Selanjutnya gelom­bang kedua diberangkatkan dan terakhir 12 pilot menutup pengir­iman personel TNI AU ke Aus­tralia. Mereka belajar di William­stown RAAF Base, Sydney, tempat dimana skadron Sabre berada.


F-86 AURI
Sayang dua pilot dikembalikan dan tidak dapat menyelesaikan pendidikan. Hal ini disebabkan karena pilot yang dikirim adalah mantan pilot MiG yang telah tu­juh tahun tidak terbang di pesawat tempur, meskipun sebelumnya telah diterbangkan lagi dengan pesawat L-29 di Indonesia untuk mengembalikan feeling sebagai pilot tempur. Lagi pula pesawat F-86 memang tidak ada yang bertempat duduk ganda sehingga harus langsung terbang solo. Na­mun begitu sesuai dengan silabus pendidikan RAAF para pilot harus terbang dulu di pesawat jet dual control type Aermachi milik RAAF yang dipakai sebagai pesawat OCU. Pola yang sama nantinya diterapkan buat pendidikan pilot Sabre di Indonesia, mereka harus terbang dan selesai mengikuti pelatihan dengan pesawat T-33 yang dipakai sebagai pesawat pre-Sabre transition.

Para teknisi TNI AU kembali ke Indonesia dalam dua gelombang. Gelombang pertama terdiri dari 64 teknisi dan gelombang kedua terdiri dari 49 teknisi diangkut dengan pesawat C-130 milik RAAF. Pendaratan para teknisi di Lanuma Iswahyudi akhir Desember 1972 sebagai persiapan kedatangan pesawat dan persiapan gelar skadron tempur. Untuk itu Lanuma Iswahyudi dipersiapkan dan dilengkapi dengan peralatan layaknya pangkalan operasional dengan dibangunnya fasilitas pengisian bahan bakar, renovasi tower beserta alat komunikasi, overlay landasan, dipasangnya barrier barricade, dibangun labo­ratorium minyak dan dibangun fasilitas perumahan bagi para teknisi Australia termasuk pem­bangunan mess yang kini dikenal dengan sebutan Wisma Cumulus di Sarangan.


Foto ketika Panglima ABRI M Panggabean bersama pejabat Australia
melaksanakan inspeksi terhadap F-86 yang sudah terkirim ke Indonesia

Dalam keterbatasan pras­arana ke-10 pilot Indonesia dapat terbang dengan pesawat F-86 Sabre dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Akhirnya pada awal tahun 1973 dibagi dalam dua gelombang diadakan feri pesawat dengan rute Wil­liamstown – Darwin – Denpasar – Iswahyudi. Untuk rute Denpasar ke Iswahyudi, beberapa pilot TNI AU menerbangkan pesawatnya sendiri. Terjadi kecelakaan ketika pesawat yang diterbangkan Lettu Pnb Budiardjo keluar landasan saat proses lepas landas. Pesawat registrasi F-8606 ini rusak cukup parah dan dikirim kembali ke Australia. Belakangan pesawat yang aslinya berregistrasi A94-952 (serial number CAC-199) dikirim ke Warbird Aviation Museum sebagai alat peraga pelatihan teknisi avionik. Nantinya pihak RAAF mengganti pesawat yang kecelakaan ini dengan pesawat registrasi A94-370 yang oleh TNI AU diberi registrasi F-8617 dan datang pada bulan November 1973.


✈ Titik Balik

Spesifikasi F-86 Avon Sabre
Kedatangan pesawat F-86 di Indonesia seolah merupakan titik awal kebangkitan skadron tempur, selain kemampuan kombatan sebagai pilot tempur diperkenalkan pula cara mengoperasikan, mendidik pilot dan teknisi serta penyusunan silabus dan persiapan briefing bagi siapapun yang akan memulai tugas di skadron udara. Saat itu para instruktur dari RAAF mengajarkan pengelolaan skadron mulai dari pelaksanaan morning briefing yang diikuti semua personel yang terlibat kegiatan, adanya weekly forum dan bold face check bagi pilot dan teknisi yang secara rutin dilakukan. Metode ini hingga kini tetap diberlakukan dan diadopsi oleh semua skadron di TNI AU.

Pembuatan Standard Operating Procedure, pembagian Training Area, kesiapan SAR termasuk ket­ersediaan pesawat heli saat training dan pembuatan Air Weapon Range juga limbah dari sentuhan personel RAAF yang bertugas mendamp­ingi para perwira TNI AU selama satu tahun dalam mempersiapkan sebuah skadron udara. Dengan kelengkapan fasilitas latihan untuk skadron udara maka Lanuma Iswahyudi ditetapkan sebagai pangkalan model – atau model pangkalan buat TNI AU yang akan membangun dan mengembangkan sebuah pangkalan udara. Nanti­nya semua pangkalan yang ada akan meniru Lanuma Iswahyudi. Termasuk pangkalan yang dikem­bangkan kemudian yaitu Medan, Pekanbaru, Makassar dan Kupang.

Setelah memperkuat jajaran TNI AU, F-86 mulai diperkenalkan kepada perwira-
perwira muda yang saat itu masih menjalami pendidikan di Akademi Militer, Magelang. 
Dua penerbang yang berada disamping F-86 adalah Ida Bagus Sanubari 
(merapat di pesawat) dan F Djoko Poerwoko

Sayang kemampuan pemukul F-86 yang dioperasikan di Skadron Udara-14 tidak dapat dipergu­nakan dalam operasi Seroja yang digelar di Timor Timur pada Desember 1975. Berapa jam sebelum F-86 berangkat ke Bacau keluar perintah untuk membat­alkan operasi udara yang telah dipersiapkan lama, dan akhirnya Operasi Cakar Garuda dibebankan pada Skuadron Udara dengan pesawat T-33. Meskipun operasi Cakar Garuda terlambat beberapa bulan menunggu proses untuk mempersenjatai pesawat T-33, na­mun operasi udara dapat berjalan dengan baik sambil menunggu kedatangan peawat OV-10F yang baru datang pada akhir tahun 1976.


Formasi lima F-86 yang sedang terbang di alas Bandara Polonia Medan 
dan melintas di atas Boeing 707 Garuda. 
Sejumlah F-86 sedang melaksanakan terbang cross country 
dan salah satu yang disinggahi adalah Bandara Polonia Meda

Memang pesawat F-86 tidak terlibat operasi bersenjata yang di­gelar TNI, namun kehadiran pesa­wat Sabre telah mengangkat nama TNI AU saat tampil dalam demo udara di Senayan tanggal 5 Okto­ber 1978. Dengan hanya persiapan selama dua bulan, Skadron Udara -14 berhasil menampilkan sebuah tim aerobatik dengan 12 manuver yang spektakuler. Penampilan yang dilengkapi dengan smoke trail apa adanya dengan mengisi salah satu tangki pesawat dengan jenis 0M-11 sehingga asap berwarna putih dapat tersajikan. Padahal untuk mengoperasikan asap ini salah satu switch di pesa­wat yaitu landing gears light switch telah diubah fungsinya untuk menyalakan lampu landing gears dan mematikan asap putih. Apresiasi buat tim Dislitbangau yang telah menciptakan alat ini meskipun satu pesawat yaitu F-8606 men­jadi rusak flaps akibat korosi saat dicobakan asap berwarna dengan menambahkan konsentrat pada bahan bakar pesawat.


✈ Masuk museum

Selama tujuh tahun dioper­asikan, 38 pilot tempur TNI AU telah menerbangkan pesawat ini dan menyandang predikat pilot kombatan. Pilot kombatan yang hebat karena untuk terbang den­gan pesawat ini sang siswa harus terbang solo sejak awal – karena memang pesawat ini tidak ada jenis dual control. Dari 38 pilot tempur hanya satu yang meninggal di pesawat (Mayor Pnb Budiardjo Soerono) sementara tiga pilot telah menggunakan kursi lontar dan selamat. Keempat pesawat yang mengalami kecelakaan dalam waktu terpisah tersebut semua hancur. Sisa pesawat Sabre kini masih dapat dilihat satu di Museum Dirgantara Mandala, satu di Wingdiktekal Lanud Husein Sastranegara sebagai alat peraga dan delapan menjadi monumen di berbagai kota. Dua dikembalikan ke Australia dan sisanya seban­yak tujuh unit dibeli oleh sebuah perusahaan Amerika bernama Aero Trader pada tahun 1989 dan dionggokkan di Actolio Wells sebagai besi tua.

✈ Seusai Masa Bakti

Selama menjadi alutsista di jajaran TNI AU, F-86 Sabre selain menjadi pesawat yang menghantar para pilot untuk menjadi penerbang pesawat tempur moderen juga berhasil menciptakan sejarah penerbangan tersendi­ri. Tapi setelah puma tugas, sejumlah F-86 TNT AU itu pun di grounded. Sebagian dipajang di sejurnlah tempat sebagai museum dan sebagian lagi dibeli oleh perusahaan Aero Trader dari AS. Tak semua F-86 yang dipajang sebagai museum terawat baik demikian juga yang dibawa ke AS. Sebagai saksi sejarah penerbangan TNI AU, F-86 yang difungsikan sebagai museum seharusnya dirawat dengan sebaik-baiknya.

Setelah teronggok sekian lama di Iswahyudi, pesawat dengan nose number l2 
ini dikirim ke Amerika oleh perusahaan Aero Trader. 
Kondisinya cukup mengenaskan. Kemungkinan sebagian suku cadang dikanibal.
Warna ini masih berupa warna asli seperli ketika dikirim dari Australia.
Masih dalam kondisi dipoles dengan warna aslinya pesawat F-8623 
ini sejak datang ke Indonesia tahun 1976 tidak pernah terbang 
karena kurangnya buku riwayat dan kemudian dikirim ke Amerika oleh Aero Trader.
Di bawah kerindangan pepohonan dan terawat balk F-86 dengan nose number 07 
ini menjadi ikon di taman hiburan Ngumbul, Ponorogo, Jateng.
Sayang pesawat dengan no TS-8609 di Taman Wisata Dander, Bojonegoro. Jawa Timur 
ini tidak terawat dengan baik. Terlihat seperti teronggok begitu saja di sekitar taman.



[Sumber sejarahperang]

303 - Pengabdian Prajurit Sejati

erka Suwanto dilahirkan di Ngawi, 36 tahun yang lalu. Dia merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara Berdinas di TNI mulai 1992, sebagai Ta Kipan A Yonif 303/13/1 Kostrad di Cibuluh, Garut. Selama masa tugasnya, Serka Suwanto telah melaksanakan 5 kali tugas operasi, antara lain ke Irian Jaya (1997, 2003), Ambon (1999), Aceh Tengah (2002) dan Aceh Selatan (2005). Suwanto mengakhiri masa lajangnya pada tahun 1998 dengan menikahi Nanik Maryani dan dikarunia 2 orang putri. Karena prestasinya di Kipan A Yonif 303 sebagai penembak tingkat Kostrad, pada tahun 2000, Suwanto mengikuti pendidikan Secaba dan kembali sebagai Danru Kipan A Yonif 303.

Saat ini, Serka Suwanto menjabat sebagai Bamin Kipan A Yonif 303/13/1 Kostrad. Menurutnya, menjadi Bamin tidak terbayang sebelumnya, karena Suwanto semenjak Tamtaman sudak aktif di peleton. Salah satu dari sekian pengalamannya di berbagai operasi adalah pada saat bertugas sebagai Dantim 5 Kipur A Satgaskul Yonif 303 Kostrad di Aceh selatan pada tahun 2005 lalu.

Saat itu dia memimpin tim berkekuatan 10 orang. "Kami sudah bergerak 10 hari, dari rencana gerak 12 hari," kata Suwanto. Pada hari itu, Kipur A yang di pimpin oleh Kapten Inf Imam PH mendapat tugas melakukan pengejaran terhadap GSA (Gerakan Separatis Aceh) yang sering mengganggu ketentraman rakyat kec. Kluet selatan Kab Aceh Selatan.

Tim 5 dan Tim 2 yang bergerak di sektor kanan dari operasi Kipur A bergerak saling menutup untuk mengejar dan menghancurkan GSA yang di tenggarai bersembunyi di sekitar KV2349. Pada pukul 3 siang hari, pengintai depan Tim 5 melaporkan kepada Suwanto (saat bertugas masih berpangkat Sertu), bahwa dia melihat 3 orang GSA dengan sepucuk senjata AR-15. Suwanto pun langsung berkoordinasi dengan Dantim 2 Sertu Koesdiadi, yang berposisi tidak jauh darinya untuk melaksanakan penyergapan.

Tak lama kemudian, Tim 2 merapat ke kedudukan Tim 5. Dengan sangat rahasia, Suwanto memerintahkan anggotanya untuk melepas ransel, menunjuk kelompok pengaman ransel, lalu bergerak perlahan berhadapan dengan GSA di seberang sungai, yang tidak mengetahui gerakan TNI yang akan menyergapnya. Sedangkan Tim 2 bergerak menyisir sungai, tepat membentuk formasi "L".

"Kira-kira pukul 3.40, setelah saya meyakinkan kedudukan anggota saya dan Tim 2 sudah masuk kedudukan, Tim, saya perintahkan buka tembakan", kata Suwanto. Keheningan hutan Kluet terpecah. Seketika dengan letusan SS1 para prajurit 303 Kostrad. Kelompok GSA yang berada di seberang sungai Tim 5 terkejut karena pernyergapan mendadak tersebut, sehingga 2 orang langsung tewas di tempat, 1 orang kabur kearah ketinggian sebelah kanan sungai.

Rupanya di ketinggian tersebut terdapat kelompok GSA yang lain, langsung membalas tembakan TNI dengan membabi buta. "Saya perkirakan saat itu terdapat senjata RPD", ujar Suwanto. Untuk memastikan posisi dan arah tembakan lawan, Suwanto mencoba mengintai ke depan. "Posisi tempat kami menyergap sangat rimbun, sehingga saya perlu meyakinkan ke depan, mengetahui posisi musuh untuk memperhitungkan langkah selanjutnya", kata Suwanto.

Tanpa disadarinya, saat merangkak kedepan untuk mengintai, terdengar letusan dan Suwanto langsung mengaduh. Tangan kirinya tertembus proyektil AK-47. "Saat itu saya masih sadar, saya lihat tangan saya berdarah, saya segera tiarap dan mencari perlindungan, lalu membalas tembakan," ujar Suwanto.

Pratu Burhamudin, anggota Tim 5 Suwanto menyampaikan, saat itu Suwanto masih mampu membalas tembakan kelompok GSA. Tak disangka, Dantim 2 Sertu Koesdiadi, juga tertembak, saat memimpin timnya untuk bergerak membantu Tim 5 yang mendapat tembakan gencar. Dari gencarnya tembakan, diperkirakan ada 20-an orang kelompok GSA bersenjata antara 15-17 pucuk senjata, dengan 2 pucuk senjata otomatis. Pada akhirnya, disinyalir kelompok GSA tersebut adalah kelompok pimpinan Panglima Sago Kluet Selatan, Zul Karmaini.

Dengan kondisi tertembak, Suwanto masih mampu memimpin anggotanya untuk membalas tembakan. "Saya perintahkan anggota menembak ke arah musuh, dibantu SO (senjata otomatis) Minimi," ujar Suwanto. setelah 30 menit bertempur sengit. kelompok GSA mundur ke arah ketinggian Lawe Sawah. Sambil diberikan pertolongan pertama, Suwanto memerintahkan anggotanya untuk melakukan pembersihan, melaporkan ke Kotis Mobil Satgaskul Yonif 303 Kostrad dan merencanakan evakuasi, karena dirinya maupun Sertu Koesdiadi tertembak. Setelah pembersihan, ditemukan 1 pucuk senjata AR-15 berserta 70 butir amunisi 5,56 mm dan 2 mayat anggota GSA.

Setelah meyakinkan Sertu Koesdiadi ditandu dan anggotanya lengkap. Suwanto memimpin kedua Tim tersebut untuk turun ke kampung terdekat, dimana sudah menunggu Tim Waltis dan Kesehatan di pimpin langsung oleh Dansatgaskul Yonif 303, Letkol Inf M. Shokir. Tepat pukul 6 sore, 2 Tim mencapai titik temu dengan Tim Waltis, Suwanto dan Koesdiadi langsung di evakuasi ke RS Yuliddin Away, Tapaktuan Aceh Selatan. Dokter yang menangani langsung mengadakan operasi terhadap keduanya.

Selesai operasi jam 11.30 malam, dokter menyatakan bahwa luka Suwanto dan Koesdiadi cukup parah, sehingga perlu perawatan di rumah sakit yang lebih lengkap. Esok harinya pukul 6 pagi, Suwanto dan Koesdiadi di evakuasi dengan menggunakan Helikopter Koops TNI menuju RS Putri Hijau, Medan. Sekali lagi Dokter di RS Putri Hijau Medan menyatakan bahwa lukanya parah dan harus di evakuasi ke RSPAD, Jakarta. Esoknya Suwanto dak koesdiadi devakuasi ke Jakarta dengan penerbangan sipil.

Selama perawatan di RSPAD, Jakarta, Suwanto mendapat 2 kali operasi, karena proyektil tersebut membuat tulang lengan bawahnya pecah dan mencederai otot serta syaraf lengan kirinya. Dengan perawatan intensif di RSPAD selama 3 bulan dan dilanjutkan terapi jalan serta dukungan dari keluarga, rekan maupun pimpinan, Suwanto sekarang sudah berangsur sehat, walaupun pin di dalamnya belum di cabut.

Berkat pengabdian dan pengorbannya di medan tempur, Panglima TNI menganugerahkan penghargaan Kenaikan Pangkat Medan Tempur (KPMT) kepada Suwanto dan Koesdiadi, masing-masing kenaikan pangkat luar biasa dari Sertu menjadi Serka dan piagam penghargaan. Suwanto dan Koesdiadi juga diangkat sebagai Bintara terbaik selama penugasan Satgaskul Yonif 303 Kostrad. Ibu Nanik, istri Suwanto juga merasa bahagia dan bangga terhadap suaminya, "Saya bersyukur suami saya pulang selamat dari NAD, saya juga berterima kasih kepada bapak-bapak Pimpinan TNI yang menghargai pengabdian suami di medan tugas".

Karena keterbatasaannya dalam kegiatan di lapangan, saat ini Suwanto menjabat sebagai Bintara Administrasi Kompi Senapan A Yonif 303/13/1 Kostrad. "Prinsip saya, sejak saya mendaftar menjadi prajurit TNI, pengabdian adalah yang Utama, bahkan pengorbanan pikiran, keringat bahkan darah di medan tempur bagi saya adalah suatu kewajiban bagi setiap prajurit", jelas Suwanto. Baginya, penghargaan bukanlah tujuannya dalam bekerja. "Saya di ajarkan bekerja dengan sebaik-bainya, bagaimanapun kondisi saya:, ujarnya.

"Harapan saya kepada pimpinan Kostrad, supaya untuk kedepannya, lebih di tingkatkan lagi kesejahteraan prajurit, karena apabila prajurit sejahtera, maka akan makin banyak prajurit yang berkonsentrasi dalam bidang kedinasannya dan lebih prestasi".

Di lingkungan kerjanya, Suwanto dikenal tegas dan bertanggung jawab. "Bamin saya sangat tekun dalam bekerja dan tidak pernah mengeluh, dia menempatkan diri baik saat mengatur anggota atau mengatur kegiatan Persit Kipan A", kata Kapten inf Parada WN, Dankipan A yonif 303/13/1 Kostrad.

Pada posisisnya sekarang, dia di tuntut untuk mengatur administrasi prajurit dan keluarganya. "Tugas Bamin gampang-gampang susah, gampang apabila kita mengetahui teknik dalam bekerja dan susah bila kita tidak mau belajar dan memahami karakter prajurit dan keluarganya", kata Suwanto.

Semangat dan ketekunannya dalam bekerja membuat Suwanto selalu meraih nilai kepribadian tertinggi di satuannya.

"Serka Suwanto merupakan Bintara yang bisa dijadikan contoh bagi rekan dan anggotanya, dengan keterbatasannya mampu menunjukan etos kerja dan semangat pengabdian yang tinggi, salah satunya mampu mendukung Kipan A Yonif 303/13/1 Kostrad sebagai kompi dengan administrasi terbaik hasil penilaian Tin Wasrik Kostrad", Letkol Inf Faharudin, Danyonif 303/13/1 Kostrad menjelaskan.

Demikian sekilas profil dari Serka Suwanto, prajurit Kostrad yang pantang menyerah, dan mempunyai semangat serta etos kerja yang tinggi dalam mengabdi.


(Majalah Defender, Juni 2007)

Selama lebih kurang 16 bulan berada di NAD, Satgas 300/RBK berhasil melumpuhkan 54 orang, menangkap hidup 15 orang dan menerima 17 orang pembrontak GAM yang menyerahkan diri, menyita 44 pucuk senjata api, diantaranya AK-47, M-16A1, GLM, RPG, pistol dan granat, HT, motor dan mobil hasil curian GAM berserta 5 kilogram ganja kering. Di pihak prajurit Yonif 300/RBK tidak ada yang gugur, hanya lima orang yang terluka tembak.

PBB ubah mandat pasukan TNI di Kongo

Kasum berkunjung ke Kompi zeni TNI konga XX-F/Monuc di Beni, Kongo.

Pimpinan Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Kongo (Monuc) mengubah Kontingen Garuda (Konga) XX-F dari Operasi Rudia melawan milisi Uganda menjadi membantu membangun kamp bagi badan dan organisasi PBB di Kongo.

Selain itu Pimpinan Monuc juga meminta Konga XX-F untuk membangun kamp bagi kontingen Maroko yang akan bertugas mengamankan personil dan segala fasilitas PBB di Kongo, kata pimpinan tertinggi Monuc, Letnan Jenderal Babacar Gaye, saat berkunjung ke kamp Konga XX-F.

Perwira Penerangan Konga XX-F, Kapten Inf Leo Sugandi dalam surat elektroniknya mengukapkan prioritas mandat bagi Konga XX-F semula adalah mendukung Operasi Rudia (Operasi gabungan PBB dengan tentara nasional Kongo untuk mengusir LRA / milisi Uganda) dengan memperbaiki infrastruktur jalur pengerahan pasukan dan logistik dari kota Dungu ke Durru.

Monuc meminta pekerjaan perbaikan jalan Dungu - Durru sepajang 88 km dapat diselesaikan awal April, mengingat situasi keamanan di Dungu daerah perbatasan Kongo - Sudan sangat tidak kondusif, akibat aktifitas milisi LRA yang sempat melakukan penyerangan di kota Dungu, Kongo, disertai penjarahan, perampokan, penculikan, dan perekrutan 'child soldier' bagi perjuangan kelompoknya.

"Saat ini kondisi di wilayah Dungu dan sekitarnya berangsur-angsur pulih kembali, setelah di gelar Operasi Rudia dan Operasi gabungan negara Sudan, Kongo, dan Uganda," kata Leo.

PBB melalui badan-badan kemanusiaan (OCHA, WFP dan UNHCR) kini menjalankan misi kemanusiaan bagi masyarakat Dungu dan sekitarnya yang terkena dampak serangan milisi LRA.

Untuk memperlancar bantuan kemanusiaan tersebut, pasukan zeni Indonesia mendapat mandat untuk membangun kamp bagi badan kemanusiaan PBB tersebut, sekaligus kamp bagi Batalyon Infanteri Mekanis Maroko yang bertugas mengamankan personil dan staff badan-badan PBB itu.

Dalam kunjungan singkatnya ke Dungu, Letjen Gaye berpesan agar pasukan Indonesia selalu meningkatkan kewaspadaan dalam menjalankan tugasnya menjaga perdamaian di Kongo.

Saat ini 174 prajurit TNI Kontingen Garuda XX-F / Monuc (Mission de l'Organisation des Nations Unies en Republique Democratique du Congo / Misi PBB di Kongo) telah lebih dari enam bulan di Kongo, Afrika untuk melaksanakan mandat PBB. Seperti diketahui Konga XX-F yang bertugas di Kongo adalah penerus Konga XX lainnya yang telah selesai bertugas di Republik Kongo.☆


Sumber :
    ▣ Majalah Defender, 2009

★ Jasgu

Jasgu V1
Untuk penugasan prajurit Marinir darii laut menuju pantai, TNI AL memerlukan kendaraan pengangkut personil. Seorang anggota TNI AL mencoba mendesain kendaraan amfibi untuk bisa digunakan pasukan Marinir dalam menjalankan tugasnya.

Jasgu adalah hasil karya seorang prajurit Marinir, Kapten Marinir Citro Subono, 31 tahun. Jasgu yang dipamerkan merupakan prototipe ketiga. Laksamana TNI Slamet Subijanto, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) menyempatkan diri berdialog dengan Kapten Citro. KSAL terlihat bangga dengan hasil karya prajuritnya itu. Jasgu didesain Kapten Citro untuk bergerak di darat dan laut. Jasgu (Jeep Amfibi Serba Guna) mendampingi peralatan tempur milik Marinir. Peranti tempur Marinir itu umumnya impor. Namun Jasgu lain karena bikinan dalam negeri.
"Saya berharap, Jasgu bisa menjadi kendaraan serba guna. Enak untuk tempur dan dikendarai," kata Citro. Dia mengaku mendapat ide mencipta Jasgu ketika bertugas di Batalyon Angkutan Bermotor I Marinir, Karang Pilang, Surabaya, sejak 1997. Ia terusik ketika melihat perahu bot ditarik jip menuju pantai. "Kenapa tidak digabungkan saja," tuturnya.
Jasgu V2
Dengan biaya sendiri, Citro mulai "mencangkok" perahu boat ke jip. Untuk menciptakan kendaraan yang bisa bermanuver di air dan darat, ia membangun mobil amfibi yang menggunakan mesin sedan Mitsubishi Evo 4. Lahirlah Jasgu seri 1. Pada ulang tahun TNI ke-59 pada 2004, Citro mengikutkan Jasgu dalam Lomba Karya Cipta Teknologi TNI. Jasgu 1 menjadi juara inovasi terbaik, menyisihkan 147 peserta lainnya. Jasgu prototipe pertama dibuat lebih kecil dan hanya bisa mengangkut sekitar 3-4 orang tanpa perlengkapan tempur yang memadai. Kendaraan ini diciptakan dengan memperhatikan suku cadangnya yang bisa di dapat dan banyak beredar di indonesia.


Citro kian bersemangat menyempurnakan mobil amfibinya. Kelemahan Jasgu 1, suspensinya terlalu ringan. Di medan berat, "perut"-nya kerap menggesek tanah. Suspensi per spiral terlalu ringkih menahan beban. Jasgu 1 terlihat kurang kokoh. "Kayak belalang," katanya. Citro pun mempodifikasi Jasgu 1. Dia menggunakan badan jip di bagian depan, sedangkan bagian bawah ia buat seperti perahu.

Selama ini TNI AL khususnya Marinir masih menggunakan kendaraan Panser amfibi buatan Rusia BTR 50 sebagai kendaraan utama pengangkut pasukan dari kapal laut menuju ke daratan. Biarpun sebagian telah di retrofit tapi masih belum bisa maksimal, karena teknologinya yang sudah tua.

Jasgu V2
Lahirlah Jasgu 2 dengan penggerak mesin Mitsubishi Evo 1.800 cc, ditambah mesin Mitsubisdi L-300 2.500 cc. Jika di darat, Jasgu 2 menggunakan mesin Mitsubishi Evo. Bila terjun ke air, Mitsubishi L-300 yang bekerja. "Kecepatan di air masih belum maksimal," kata Citro. Kecepatannya hanya menyamai kecepatan tank amfibi, yang rata-rata 10 kilometer per jam atau sekitar 7 knot.

Daya apungnya juga masih payah. Ruang mesin yang penuh membuat tabung apung menjadi minimal, sehingga hanya mampu mengangkut empat serdadu tanpa ransel. Meski belum sempurna, Jasgu 2 kerap mengikuti parade TNI Angkatan Laut. Tampilan yang mirip mobil membuat Jasgu 2 tidak beda dengan kendaraan umumnya. Setelah Jasgu 2 malang melintang, mulai ada perhatian dari kesatuan tempat Citro berdinas.

☆ Prototipe Versi 3

Jasgu V3
Citro pun dipercaya membuat Jasgu seri 3, dengan ukuran lebih gede. Dia mendapat bantuan Rp 200 juta. Dikerjakan enam orang sipil dan dua Marinir anak buah Citro, dalam tiga bulan Jasgu 3 kelar. Peranti tempur ini jadi jauh lebih andal dan kokoh. Berat total 3.700 ton. Panjang 648 cm, lebar 200 cm, tinggi 243 cm, dengan jarak dari tanah 46 cm. Jarak antar sumbu roda mencapai 365 cm.

Jasgu 3 juga menggunakan mesin diesel Mitsubishi. Bedanya, mesin yang dicangkokkan adalah mesin truk 4.300 cc. Kini, di darat, Jasgu 3 sanggup berlari 105 kilometer per jam. Bentuk dasarnya yang mirip kapal kerap membuat orang heran. "Ini ada kapal di jalan," kata Citro menirukan. Di air, Jasgu 3 bisa melaju 25 kilometer per jam atau setara 15 knot. Jasgu 3 juga dilengkapi dua pompa air, yang berfungsi mengeluarkan air yang masuk secara otomatis. Di air, Jasgu 3 butuh 10 liter solar untuk sejam perjalanan dengan kecepatan standar, 20 kilometer per jam. Di darat, seliter solar dapat menempuh jarak 8 kilometer, dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam.

Kini, Citro pingin menjajal kendaraannya melayari Laut Jawa. Niat Citro itu mendapat apresiasi I Ketut Aria Pria Utama, Kepala Laboratorium Hidrodinamika Teknik Perkapalan ITS. Pelayaran itu akan menguji kekuatan Jasgu 3 ketika mencebur ke laut yang berombak. Percobaan di danau tidak cukup untuk menguji. "Tidak ada yang istimewa (pada Jasgu 3), tapi idenya yang luar biasa," kata Ketut, memuji.

Biarpun belum dipesan untuk produksi, Kapten Citro tetap mendesain dan membuat prototipe kendaraan amfibi Jasgu. Desainnya sepintas seperti menyalin tipe DUKW alias DUCK. Truk amfibi yang dikembangkan AD AS era PD II. Dengan biaya 169 juta Kapten Mar Citro Subroto menciptakan prototipe jip amfibi ini untuk TNI AL. Kedepan rencananya akan menciptakan prototipe ke empat versi komunikasi/komando.

TNI AL selama ini telah mencoba dengan mendesain baru BTR 50 dengan penampilan yang baru maupun mesin yang lebih bertenaga. Prototipe ini berhasil diluncurkan PT PAL dan pernah dipamerkan ke umum pada perayaan HUT ABRI. Selain itu ada juga yang merombak hampir total penampilan panser amfibi dengan penampilan yang lebih besar dalam daya angkutnya. Maka dengan adanya Jasgu menambah alutsista Marinir untuk dapat memenuhi kebutuhan ranpur amfibi yang mandiri.

Tapi dari semua, pihak yang berkepentingan, yaitu TNI AL sampai sekarang belum juga memutuskan maupun memesan produk desain bikinan anak bangsa ini.

☆ Spesifikasi Jasgu V3 :

Panjang : 6.48 m
Lebar : 2 m
Tinggi : 2.43 m
Berat : 3.700 kg
Awak : 2+6
Daya angkut : 750 kg
Kec didarat : 100 km/jam
Kec di air : 20 km/jam
Mesin : Mitsubishi PS Canter 4.300 cc


Sumber :
    Commando

Main berondong di Aceh

TNI patroli di Aceh
RUMAH itu memang sudah diendus oleh aparat keamanan. Tempatnya disebut-sebut sebagai "markas kecil" GPK. Maka, Senin pekan lalu, pasukan ABRI menyergap sekelompok GPK yang mendekam di rumah yang terletak di Langsa, Aceh Timur.

Upaya penyergapan diawali dengan seorang petugas yang maju dan mengetuk pintu. Namun, jawaban yang diterima adalah berondongan tembakan. Akibatnya, petugas tersebut mengalami luka berat.

Akhirnya, terjadilah kontak senjata antara ABRI dan GPK. Seorang anggota GPK tertembak mati dan tiga lainnya luka-luka. Dalam penyergapan itu, pasukan ABRI juga berhasil menyita sepucuk pistol dan sebuah senjata laras panjang jenis jungle rifle.

Lusanya, Rabu 6 Juni 1990, sejumlah anggota ABRI bermaksud mengantarkan pulang jenazah anggota GPK yang tertembak itu kepada keluarganya di Desa Binta Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur. Tapi, dalam perjalanan mereka kembali menuju ke pangkalan operasi, ternyata sisa-sisa gerombolan GPK melakukan penghadangan, lalu menyerang.

Akibatnya, tiga anggota ABRI gugur dalam insiden itu. Kabar ini beredar lewat siaran pers Pusat Penerangan Markas Besar ABRI yang dikeluarkan Jumat pekan silam. Lalu dilakukan pelacakan intensif oleh aparat keamanan.

"Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada serta jangan terpancing oleh isu yang menyesatkan," kata Kapuspen ABRI Brigadir Jenderal Noerhadi. Insiden yang kemudian dikenal dengan Peristiwa 4 Juni itu merupakan aksi pengacauan kelompok GPK yang kedua kalinya di Aceh dalam waktu berdekatan.

Sebelumnya, 28 Mei lalu, gerombolan GPK juga melakukan aksi serupa. Lagi-lagi yang jadi sasaran adalah anggota ABRI, yang ketika itu sedang melakukan kerja Bakti ABRI bersama masyarakat di Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara.

Pagi hari itu, sejumlah anggota ABRI dan masyarakat berada di Alue Linta. Atau sekitar dua kilometer dari Posko Bakti ABRI. Ketika itu, mereka sedang bergotong-royong memperbaiki saluran irigasi. Tak lama kemudian, sekitar pukul 8.30, sebuah Colt Mitsubishi L-300 berhenti di depan Posko.

Menurut saksi mata, tiga dari sembilan penumpangnya langsung turun dari mobil. Berpakaian putih-putih, berambut agak gondrong -- nampaknya menggunakan rambut palsu -- ketiga penumpang itu langsung memberondong Posko dengan senjata jenis M-16.

Juga ikut diberondong adalah kantor Polsek Kuta Makmur, yang letaknya berseberangan jalan. "Tak ada kesempatan untuk membalasnya," ujar Letnan Dua Muh. Rawa, Kapolsek Kuta Makmur, kepada TEMPO.

Lagi pula, kata Muh. Rawa, pihak polisi tak memiliki senjata panjang. Sedangkan GPK yang dihadapi menyandang senjata otomatis. "Anak buah saya hanya tiarap," ujarnya. Tak ayal lagi, dua perajurit ABRI yang sedang berada di luar Posko tewas tertembak. Sedangkan dua pelajar SMP yang sedang melintas dekat peristiwa berlangsung juga tersambar peluru, seorang tewas seketika, lainnya luka di bahu kiri.

Keadaan panik itu dimanfaatkan oleh GPK. Tiga orang lain menyusul turun dari mobil dan masuk ke dalam Posko dan mengambil sejumlah senjata M-16 dan Mini Magazine. Lalu mereka masuk kembali mengambil dua peti amunisi.

Peristiwa itu berlangsung sekitar sepuluh menit. Setelah senjata dan amunisi dikuasai, mobil mereka larikan ke arah Kedai Blang Ara. Persis di depan kantor Koramil Kuta Makmur -- jaraknya sekitar 400 meter dari Posko Bakti ABRI -- kembali GPK melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah kantor itu. Kaca-kaca pecah berantakan, syukur, tak ada korban jiwa.

Anggota GPK itu kemudian kabur ke arah timur menuju Simpang Kramat dan menyusuri jalan pipa milik PT Arun sejauh dua kilometer. Dari situ, mereka terus ke jembatan Matang Kuli. Di situlah mobil ditinggalkan.


[sumber tempointeraktif]

Insiden KKo dan RPKAD

Illustrasi
Bentrok ini diawali kemiripan warna baret RPKAD dan Tjakrabirawa. Menurut AKBP Mangil (DanDen Kawal Pribadi Resimen Tjakrabirawa) awalnya mereka meminjam baret RPKAD dan untuk membedakan warna Tjakrabirawa menambah zat pewarna sehingga menjadi merah bata. Kemiripan ini sering menyulut perselisihan antara kedua kesatuan militer tersebu. Para Anggota RPKAD berpendapat Tjakrabirawa tidak pantas memakai baret warna merah, semtaran Tjakrabirawa selalu merasa paling berjasa sebagai pengawal Presiden (panglima tertinggi).

Pertengahan tahun 1964, Jakarta sedang dibakar panas matahari Mayor Benny Moerdani (Komadan Batalyon 1 RPKAD) baru selesai main tenis dengan jip pulang ke Cijantung. Persis pada jalan masuk menuju kompleks asrama berpapasan dengan truk operasi RPKAD yang dimuat penuh anggota RPKAD berpakaian sipil. Benny mengamati tapi setelah melihat mereka bukan dari Yon 1 dia tidak merasa tertarik. “Pak, anak-anak keluar semua…”, teriak petugas piket jaga. Benny langsung menginjak rem. “lho, emangnya ada apa?”. “ tidak tau pak, anak-anak Yon 2 semua keluar asrama tanpa ijin.”

Pikiran Benny langsung bergerak cepat, keluar asrama tanpa ijin sudah melanggar prosedur militer. Tanpa pikir panjang dia langsung mutar arah dan mengikuti konvoi liar dari kejauhan. Pedoman yang dipakainya satu, truk paling belakang. Selepas Jatinegara, Benny semakin mencium sesuatu yang tidak beres, sepanjang jalan warga masyarakat terlihat dilanda kepanikan. Beberapa bergerombol sambil menunjuk-nunjuk kearah pasar senen. Iring-iringan kendaraan berhenti diwilayah Kramat Raya. Nampak para anggota RPKAD (berpakaian sipil) berloncatan dan langsung berlarian ke arah Simpang Lima Senen. “Wah kacau Pak, RPKAD gontok-gontokan dengan KKO”, jawab seorang yang sedang ikut berkerumun.

Sebuah keputusan segera melintas dikepala Benny. Insiden ini harus segera dihentikan. Ia kemudian dengan berjalan kaki menembus orang lalu lalang yang sedang melarikan diri. Ketikan nampak seorang digotong masuk ke RSPAD dia langsung masuk dan bertemu dokter bekas anak buahnya di Pasukan Naga. Dr. Bem Mboi melaporkan anggota RPKAD berkelahi dengan pasukan Tjakrabirawa dari unsur KKO TNI AL. di ruangan perawatan tergeletak 3 orang RPKAD dan 10 KKO.

Keributan merupakan kelanjutan insiden di lapangan Banteng, tanpa alasan yang jelas kedua belah pihak saling mengejek dan menjadi perkelahian massal. Para anggota RPKAD merasa tidak seimbang, karena jumlah KKO lebih banyak (Asrama KKO di Kwini bersebrangan jalan) kemudian menghubungi rekannya di Cijantung.

Tanpa ragu Benny segera meninggalkan RSPAD dan berjalan kaki ke asrama KKO di Kwini, pada pos jaga Kwini puluhan anggota KKO memakai seragam Tjakrabirawa bersenjata lengkap sibuk bersiap-siap mempertahankan asramanya. Benny masih dengan pakaian olahraga langsung melangkah masuk. Sebuah keanehan terjadi, petugas jaga depan markas segera memberi hormat.

Ternyata, sebagian dari anggota KKO yang sudah direkrut sebagai pasukan Tjakrabirawa ini dulu bekas anak buahnya di Irian Barat. Tentu saja mereka masih ingat mantan Komandan pasukan gerilya se-Irian, meski siang itu Benny hanya memakai baju kaos.

“Siap Pak, bisa saya bantu?” kata petugas jaga.”Mana Komandan,” jawab Benny singkat. “Baik Pak, silahkan tunggu….”. Para anggota KKO lainnya saling berbisik dari kejauhan. Mereka heran menyaksikan seorang sipil berani masuk asrama militer yang tengah bersiaga tempur. Tidak menunggu lama seorang perwira KKO keluar. Kebetulan kembali terulang lagi, yang muncul adalah Mayor Saminu, sama-sama berasal dari solo. “Piye iki, koq malah dadi ngene kabeh Ben…?”
“Sudahlah, jaga pasukanmu agar jangan keluar asrama. Saya akan tertibkan anak-anak. Kalau kamu diserang, ya …sudah silahkan, mau ditembak atau apa, terserah saja. Tapi saya minta jangan ada anggotamu keluar asrama.”. “Yo, wis beres,” jawab Saminu cepat menyetujui usul Benny.

Melihat Benny masuk asrama Kwini, isu segera menyebar di kalangan anak buahnya. “Pak Benny ditangkap, Pak Benny ditangkap KKO…” Mereka segera berebutan menduduki asrama perawat putri RSPAD, persis disamping Kwini. Dari lantai atas asrama perawat tersebu, sepucuk Bazooka siap ditembakkan tepat mengarah ke dalam asrama KKO.

Sambil menunggu datangnya perintah tembak, para anggota RPKAD tidak melihat seorangpun anggota KKO muncul. Tetapi dari kejauhan, malahan nampak Benny melenggang keluar dari Kwini “Sudah, sudahlah pulang kalian semua…” teriak Benny sambil melambaikan tangannya. Ia kemudian memerintahkan semua anggota RPKAD disekitar tempat itu, yang berpakaian sipil namun membawa beraneka macam senjata mundur dari wilayah sekeliling Kwini. Beberapa lagi masih kelihatan tetap ragu-ragu segera didorong oleh Benny, diperintahkan naik keatas kendaraannya masing-masing. Mereka diminta kembali ke Cijantung.

Warga masyarakat dipinggir jalan terheran-heran melihat tontonan ini. Pertempuran kedua pasukan elit yang semula dikuatirkan meletus mendadak saja berakhir. Setelah seorang berpakaian olahraga memerintahkan pasukan RPKAD naik kembali keatas truk.

Insiden berdarah antara pasukan RPKAD melawan Kesatuan Tjakrabirawa dari unsur KKO ini segera dibicarakan ditingkat atas. Keesokan hari Benny menerima perintah untuk datang melapor ke Markas Garnizun Jakarta. Benny dipertemukan kembali dengan Mayor KKO Saminu yang didampingi Kolonel CPM Sabur Komandan Resimen Tjakrabirawa.

Insiden di Senen sepanjang hari itu ternyata tidak mungkin bisa disembunyikan dari perhatian Presiden. Ketika keributan meletus di Istana negara sedang berlangsung pertemuan antara dokter militer. Ditengah pertemuan mendadak diinterupsi dan diminta seluruh tenaga dokter secepatnya harus datang ke RSPAD Karena dokter yang di RSPAD kewalahan menerima kiriman korban.

Usai dari Garnizun Benny malahan menerima panggilan dari Istana. Presiden Soekarno ingin mengetahui duduk perkara sebenarnya langsung dari tangan pertama. Tapi dengan datangnya panggilan ke Istana justru yang muncul dalam pikiran Benny adalah bagaimana harus menjelaskan peristiwa itu kepada Bung Karno. Dengan perasaan galau semacam itulah Benny melangkah kakinya memasuki Istana Kepresiden.

Bung Karno menerima kedatangan Benny diberanda belakang Istana Merdeka. Selama pembicaraan dia lebih banyak diam terpaku, sementara Bung Karno dalam nada cerah bercerita panjang lebar. Inti pembicaraannya mengkisahkan dalam setiap negara selalu harus ada pasukan-pasukan elite. Tugas pasukan elite kecuali untuk bisa melindungi negara dari ancaman musuh juga tidak kalah pentingnya harus selalu siap sedia melindungi Kepala Negara.

Tiba-tiba Bung Karno berkata, ”Ben, saya menginginkan kamu menjadi anggota Tjakrabirawa.” Langsung kepala benny tersentak dan sesaat terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sama sekali tidak pernah ada bayangan terlintas bahwa dia bakal menerima perintah semacam itu. Setelah membisu beberapa saat dan suasana menjadi agak tenang kembali, dengan perlahan keluar jawabannya,” Bapak Presiden, saya pengin jadi tentara betulan…”

Suasana senyap dalam beranda Istana mendadak berubah. “Lho, apa kau pikir Tjakrabirawa bukan tentara…” teriak Bung Karno dalam nada marah.

Benny sebenarnya bermaksud menjelaskan, dalam pandangannya pribadi sebagai seorang anggota militer, pasukan semacam Tjakrabirawa tidak ada nilainya. Sepanjang karir kemiliterannya dia sudah dilatih untuk menjadi anggota Pasukan Komando. Bagaimana mungkin ini semua dialihkan untuk sebuah penugasan yang sama sekali berbeda sifatnya.

Dalam bayangannya, seorang anggota pasukan Tjakrabirawa setiap hari hanya bertugas berdiri bersiaga untuk menjaga keamanan pribadi seseorang. Meski yang sedang mereka jaga adalah seorang kepala negara, tetapi untuk Benny itu semua bukan tugas seorang anggota militer profesional.

Benny tentu saja menyadari, penilaian semacam itu tidak mungkin bisa dia kemukakan secara langsung kepada seorang Panglima Tertinggi ABRI. Dengan pertimbangan ini, yang kemudian dipilihnya adalah mengucapkan kalimat “….tidak begitu Pak. Saya ingin menjadi Komandan Brigade lebih dulu…”
“Oh, kamu pahlawan ya, pemegang Bintang Sakti. … tapi Komandan Brigade..?”. Benny menyadari, dengan mengemukakan alasan teknis seperti itu Bung Karno pasti tidak akan bisa lagi menawar. Karna masih sangat panjang jarak yang harus ditempuh oleh seorang Mayor untuk bisa menjadi Komandan Brigade.

Permintaan untuk menjadi anggota resimen Tjakrabirawa ternyata sudah tidak muncul lagi dalam pembicaraan di beranda Istana. Bung karno segera mengalihkannya kepada topik lain. Kini dengan suara perlahan-setengah berbisik dia berkata, “Saya sebetulnya ingin anakku menikah dengan seorang pahlawan. Ya seperti engkau ini…”. Bung karno kembali mulai memakai kalimat-kalimat berbunga, melukiskan keinginan hatinya untuk bisa menjodohkan salah satu putrinya dengan anggota militer.

Dalam pembicaraan antar hati ke hati tersebut, Benny dengan cerdik segera bisa meloloskan diri. Maksud Bung Karno untuk menjadikan Benny seorang menantu presiden – yang mungkin dilandasi dengan maksud baik- tentu tidak mungkin bisa dipenuhinya. Benny sudah memiliki pilihan sendiri. Namun menghadapi seorang kepala negara dan orang tua yang merindukan datangnya menantu memang dia merasa perlu memilih kata-kata penolakan yang tidak menyinggung perasaan. Hari itu dua buah tawaran penting dari bung karno sudah berhasil dielaknnya. Benny bukan saja berhasil menolak secara halus keinginan Bung Karno untuk dia menjadi anggota resimen Tjakrabirawa, ia juga tanpa harus menyakitkan lawan bicaranya bisa menghindar tawaran untuk menjadi seorang menantu Presiden.

Dengan perasaan lega benny kemudian bisa meninggalkan halaman Istana Kepresidenan tanpa menanggung beban. Jebakan Bung Karno dengan sangat cerdik berhasil dihindarkannya. Sebuah ketrampilan berdiplomasi yang mungkin tidak setiap orang kuasa untuk melakukannya.
(Dikemudian hari pernikahan benny dengan pilihan hatinya malah dipestakan oleh Bung Karno di Istana Bogor).

Originally Posted by daelle

Ilmu Siluman Warisan Samurai

Kiprah penembak runduk Nusantara telah dikenal sejak perang Aceh pada abad ke 19. Berkat didikan tentara Jepang yang biasa bertempur dengan kondisi serba minim, para prajurit "Siluman" itu banyak berperan saat revolusi fisik 1945-1949.

Cukup sulit menentukan kapan ilmu tembak runduk (sniping) mulai dikenal oleh para prajurit di Nusantara. Minimnya catatan sejarah mengenai ini, baik dari masa Hindia Belanda, Jepang, maupun pasca Poklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, membuat upaya penelusuran poses tumbuh dan berkembangnya ilmu tembak runduk di tanah air laksana mencari sebatang jarum di tengah onggokan jerami. 

Kerterlibatan para penembak runduk (sniper) di dalam sebuah petempuran hampir bisa dipastikan dibayangi aroma kerahasiaan sebagai dampak budaya "ambil jalan pintas" yang acap diambil para komandan pasukan. Dalam situasi seperti ini, jangan harap bakal ada selembar catatan terbuka soal terlibatnya penembak runduk. 

Sejak bercokolnya Belanda di Bumi Pertiwi pada abad ke 17, ratusan konflik bersenjata banyak terjadi. Kala itu pola pertempurannya masih diwarnai gaya baku bunuh di Abad Pertengahan. Kedua belah pihak yang bertikai saling berbenturan secara frontal dalam jarak dekat. Dalam situasi seperti ini tak hanya prajurit rendahan bahkan perwira tinggi sekelas Jenderal pun bakal berkesempatan melihat wajah pembunuhnya disaat detik-detik akhir maut menjemputnya.

♁ Sniper Aceh

Kian intensnya peran senjata api semasa pergolakan menentang Belanda pada abad Ke 18 dan 19 membuat beragam senjata api banyak beredar di tangan sejumlah kelompok perlawanan. Sayang, penggunaannya belum maksimal mengingat kesulitan kelompok perlawanan memperoleh amunisinya. Terbukti dari uraian dalam laporan kematian para perwira pasukan kolonial Hindia Belanda yang kebanyakan tewas akibat senjata tajam atau tembakan jarak dekat.

Jendral Kohler
Mungkin satu-satunya aksi tembak runduk kelompok perlawanan yang secara resmi diakui rejim kolonial adalah insiden tewasnya Mayor Jenderal JHR Kohler di depan Mesjid Raya Baitul Rachman, Kutaraja (kini Banda Aceh) pada tanggal 14 April 1873. Saat itu pasukan ekspedisi Belanda berkekuatan sekitar 5.000 orang yang telah sembilan hari menyerang Kesultanan Aceh berhasil mendobrak pertahanan Laskar Aceh di Mesjid Raya dan kemudian membakarnya hingga ludes.

Kohler yang tengah mengadakan inspeksi situasi palagan hendak beristirahat di bawah sebuah pohon yang berjarak sekitar 100 meter dari mesjid. Mendadak sebuah tembakan meletus dan mengenai tepat di kepalanya hingga membuat Kohler tewas seketika. Pelakunya, yang kemudian di berondong pasukan Belanda, ternyata seorang remaja Laskar Aceh berusia 19 tahun yang bersembunyi di reruntuhan mesjid.

Di lain pihak, Laskar Aceh sendiri sempat merasakan betapa ampuhnya sengatan penembak runduk. Salah satu tokoh, Teuku Umar, tewas dihajar sebutir peluru emas milik seorang penembak runduk dari satuan elit Marechaussee di pantai Sua Ujung Kuala. Saat itu Teuku Umar tengah merencanakan penyerbuan terhadap kota Meulaboh pada dini hari tanggal 11 Februari 1899.

♁ Didikan Jepang

Heiho parade didalam kota
Tatkala pasukan Dai Nippon mulai merebut satu demi satu wilayah kekuasaan Hindia Belanda pada periode awal Perang Pasifik tahun 1942, saat itu ilmu tembak runduk seperti yang kita kenal sekarang mulai dikenalkan para samurai Tenno Haika.

Guna membuat pertahanan pasukan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) di suatu lokasi morat marit, para satria kate dengan bertengger di atas pohon dan bermodal senapan standar Arisaka tipe 30 atau 38 (keduanya berkaliber 6,5 mm) menghabisi satu demi satu para perwira KNIL, dengan sebutir peluru tepat di kepalanya atau bagian vital lainya. Begitu si opsir tewas, anak buahnya seketika ambil langkah seribu. Tak jarang mereka harus terima nasib "menyusul" komandannya ke alam baka dengan cara sama meski telah sekuat tenaga berlari menjauhi lokasi pertempuran.

Dalam beraksi para penembak runduk Jepang tak hanya dibekali senapan standar. Sejumlah kesatuan di jajaran Angkatan Darat kekaisaran Jepang sempat kebagian senapan Arisaka tipe 97. Hakikatnya, senjata ini merupakan pengembangan Arisaka tipe 38 untuk memenuhi kebutuhan tembak runduk yang sejati. Perbedaan kasat mata diantara keduanya terutama sekali pada penempatan teropong bidik dengan perbesaran 2,5 kali diatas kamar peluru senapan tipe 97. Belakangan posisi tipe 97 digeser tipe 99 dengan kaliber 7,7 mm dengan skala perbesaran teropong bidik empat kali.

Bercokolnya pasukan Jepang selama 3,5 tahun membawa dampak yang amat luas pada berbagai sendi kehidupan di Tanah Air. Terutama sekali dari segi militer. Kian menipisnya sumber daya manusia memaksa pasukan Jepang merekrut banyak tenaga muda pribumi dari semua wilayah taklukannya, termasuk Indonesia.

Ribuan pemuda dilatih ilmu kemiliteran guna disiapkan menjadi personil Heiho dan PETA. Jika para Heiho (yang berarti pembantu prajurit) diberi kesempatan merasakan ganasnya api peperangan di berbagai palagan Perang Pasifik, tak demikian dengan personil PETA. biarpun telah di gembleng dengan amat kerat di Giyugun Rensetai (semacam pusdiklat) PETA di Bogor, mereka harus puas hanya kebagian tugas sebagai Bo-ei Giyugun Chiho atau sebagai pasukan pertahanan lokal.

Semasa awal latihan, para calon personil Heiho dan PETA diajari memakai aneka senjata tua yang dirampas dari pasukan KNIL seperti karaben Hamburg kaliber 6,5 mm dan senapan mauser Kav 1889 kaliber 7,92 mm. Setelah dianggap mahir baru beralih ke senjata standar tentara Jepang sendiri dari jenis Arisaka tipe 30 dan 38.

Siswa yang berbakat akan diarahkan menjadi seorang penembak runduk yang akan dikirim ke garis depan. Di perkirakan jumlah pemuda Indonesia yang beruntung mengeyam pendidikan senapan runduk versi Jepang hanya sekitar 70 orang. Tambahan lagi, pendidikan mereka baru selesai dikala pasukan Jepang sudah mulai terdesak Sekutu disejumlah tempat.


Peruntukan boleh saja beda, namun landasan ilmu kemiliteran yang terlanjur diserap kedua satuan paramiliter bentukan Jepang itu toh tetap sama. Antara lain kemampuan bertahan hidup di hutan lebat dan bertempur secara gerilya dengan bekal amunisi minim. Dibarengi disiplin total, dengan sendirinya para remaja didikan Jepang ini tanpa sadar telah terbiasa menjadi penembak runduk alami. Falsafah "satu peluru satu nyawa" telah meresap kedalam jiwanya. Sebuah kebiasaan yang terasa sekali manfaatnya dalam perang mempertahankan kemerdekaan 1945-1949.

♁ Berpelor Minim

Modal awal berbagai badan perjuangan yang di bentuk pada September 1945, siapa lagi kalau bukan para pemuda didikan Jepang tersebut. Biar hanya berbekal senjata tua bekas KNIL dan Jepang, para pemuda tetap menghadang gerak maju pasukan Inggris dan Belanda di berbagai wilayah. 

TKR
Pertempuran sengit di Surabaya dan Ambarawa (1945), pihak Inggris sempat mengerahkan pasukan elit Gurkha yang telah banyak menyerap taktik perang rimba dan tembak runduk model Jepang. Alhasil dalam beberapa pertempuran sempat terjadi duel antar penembak runduk Gurkha dengan "rekan sejawat" dengan satuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) . Hebatnya lagi, duel tadi acap kali terjadi bukan hanya di permukaan tanah tapi juga sampai di atas pepohonan lebat.

Selama berkobarnya Perang kemerdekaan 1 dan 2, tak hanya penembak runduk saja namun kebanyakan pasukan TRI (TNI) seta anggota Laskar kejuangan lainnya terpaksa harus bertempur dengan modal peluru sangat minim. Berbulan-bulan mereka harus kucing-kucingan dengan pasukan Belanda, tapi peluru dikantong tak lebih 10 butir.

Akibatnya dalam setiap baku tembak bisa ditebak suara berondongan tembakan selalu datang dari posisi pasukan Belanda yang suka obral peluru. Sementara tembakan di pihak Republik hanya terdengar sesekali. Biarpun begitu, tembakan tunggal pihak Republik bikin ciut nyali para sinyo Koninklijke Leger (KL). Pasalnya, tiap tembakan "kaum ekstrimis" itu tak pernah meleset dan selalu minta korban jiwa diantara rekan-rekannya.

Hanya berkat semangat juang yang tinggi plus segudang akal cerdiklah para personil gerilyawan Republik mampu bertahan dalam kondisi serba pas-pasan sehingga tercapainya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada bulan desember 1949.(Santoso Purwoadi)


Sumber :

      ▹ edisi koleksi Angkasa