Sabtu, 08 Desember 2012

Komandan Jepang Kunjungi Markas Konga XXXII-B di Haiti

http://www.poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2012/12/kunjungi.jpgGonaives, Haiti - Komandan Jepang (Japan Engineering Company) Kolonel Kanno beserta rombongan mengunjungi Markas Kontingen Garuda XXXII-B/MINUSTAH (Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haïti), Bumi Garuda Camp, di Gonaives-Haiti, Jum’at (7/12/2012).

Komandan Jepang dan rombongan disambut oleh Dansatgas Konga XXXII-B Letkol Czi Arief Novianto didampingi Wadansatgas Kapten Czi Donny Ardhiwida.

Adapun maksud dari kunjungan ini adalah selain untuk mempererat tali silahturahmi dan meningkatkan hubungan kerjasama sesama kontingen yang tergabung dalam misi pasukan perdamaian dunia MINUSTAH Haiti, juga untuk berpamitan berkenaan dengan akan berakhirnya misi Japan Engineering Company di Haiti.

Japan Engineering Company saat ini merupakan kontingen terakhir dari Negara Jepang, dimana Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak lagi memperpanjang mandat untuk mengemban misi perdamaian dunia di Haiti. Kontingen Zeni dari Negara Jepang bergabung dalam misi perdamaian dunia di Haiti sejak tahun 2008, akhir bulan Desember ini mereka selesai mengemban misi perdamaian dunia di Haiti.

Dalam pertemuan yang penuh rasa kekeluargaan dan keakraban tersebut, masing-masing Komandan Satgas mengharapkan agar tali silahturahmi serta kerjasama yang telah terjalin saat ini dapat terus dipelihara, dijaga dan tingkatkan di kemudian hari.

“Satgas TNI Konga XXXII-B/MINUSTAH selain mengemban misi sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB MINUSTAH di Haiti, juga mengemban misi sebagai duta diplomasi Bangsa Indonesia di tengah-tengah hubungan internasional dengan bangsa-bangsa di dunia”, kata Letkol Czi Arief Novianto.

Usai melaksanakan ramah tamah, Letkol Czi Arief Novianto didampingi Kapten Czi Donny Ardhiwida saling bertukar cinderamata dengan Kolonel Kanno, dilanjutkan foto bersama di bawah patung burung garuda.

Perwira Penerangan Konga XXXII-B/Minustah
Kapten Czi Ali Akbar

Poskota

Honeywell Keen Participating in the Indonesian Aerospace Industry

Honeywell turboprop TPE-331 engine (Foto Oldwoodward)
Honeywell Aerospace, one of the four Honeywell’s business units based in New Jersey, United States, observing the fast growing Indonesian aviation industry, is keen in participating such as the PT Dirgantara Indonesia and the Korean Aerospace aircraft program to produce fighter planes, as well as the maintenance, modification and upgrading of the Indonesian Air Force C-130 heavy transport planes.

President Asia Pacific Honeywell Aerospace Honeywell Aerospace, Briand Greer, further said to Angkasa early November in Jakarta, with experience engineers and Honeywell products, the US avionics company is looking forward to take part in the avionic system, engine, auxiliary power unit and wheel & brake system.

“Not only US and European-made aircraft, but also Russian-made planes. We have the ability to repair and modified Mi-17 helicopter, especially for its avionics,” said Paul J. West, Director Avionic Technical Sales Honeywell Defense & Space who assisted Greer.

He added, though his company is world known but less known in Indonesia, actually its presence in the country is known being the supplier for the TPE-331-12 engine for the PT Dirgantara Indonesian-made NC-212 light transport aircraft. The company also supplied various components, electrical system and avionics for the Indonesian Air Force F-16 Fighting Falcon jet fighters since 1990.

He further explained, the company involved in three business fields, the defense & space, air transport & regional, and general aviation. Beside aerospace, Honeywell is also known for its automation and control solution, performance and technologies, and transportation system.(adr/ds)

Angkasa
Abarky Indo

Jajaran Koarmabar Terlibat Operasi Pam VVIP

http://www.jurnas.com/fototmp/detail/60681-77751-518023-0-192464d253217601fbaa1cb9fb39c5c8.jpg?1354897169GUGUS Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Guspurlaarmabar) melaksanakan operasi pengamanan Very Very Importen Personel (Pam VVIP) Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan yang on board di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Makassar-590. Kehadiran Presiden dalam rangka peresmian proyek Pertamina yakni Kapal Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat di perairan Teluk Jakarta, Jakarta Utara, Kamis (6/12).

Pada Operasi Pam VVIP Guspurlaarmabar melibatkan dua Unsur KRI Jajaran Koarmabar masing-masing jenis Parchim KRI Silas Papare-386 dan kapal patroli jenis Fast Patrol Boat (FPB) KRI Lemadang-632.

Selain itu, pada Operasi Pam VVIP tersebut juga melibatkan empat Tim Satuan Komando Pasukan Katak Koarmabar (Satkopaskaarmabar) dengan menerjunkan tiga Searider dan satu Combat boat Halilintar.

Berdasarkan siaran pers Dispen Koarmabar, unsur KRI dan Searider serta Combat boat jajaran Koarmabar melaksanakan pengawalan dan pengamanan pelayaran KRI Makassar-590.

Jurnas

Kopassus Latihan Simulasi Pengamanan Presiden

Banten - Sejumlah prajurit Grup 1 Kopassus TNI AD mengikuti simulasi pengamanan Presiden di Alun-alun Barat, Serang, Banten, Jumat (7/12). 


Kegiatan tersebut bagian dari program latihan pencegahan teror terhadap tamu VIP dan pejabat tinggi termasuk Presiden.

Antara
Abarky Indo

Yonkav 1/Tank Bangun Garasi Leopard

Pangkostrad Letnan jenderal TNI M. Munir pada hari Selasa tanggal 4 Desember 2012 mengunjungi pembangunan Garasi Leopard di Yonkav 1 Kostrad Cijantung. Pada kesempatan itu Pangkostrad melihat lihat pembangunan garasi. Dalam kunjungan pangkostrad tersebut didampingi oleh Komandan Batalyon Kav 1 Kostrad Mayor Kav Eko.

Sebagai salah satu satuan yang berada di bawah komando Divisi Infanteri 1 Kostrad, Batalyon Kavaleri 1/ Tank merupakan salah satu satuan banpur yang menjadi pemukul di jajaran Kostrad pada khususnya dan di jajaran TNI AD pada umumnya.

Pemerintah RI melalui Angkatan Darat akan mendatangkan kendaraan tempur baru jenis MBT dari Jerman yaitu Leopard dan Batalyon Kavaleri 1/Tank merupakan Satuan Kavaleri yang mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk menerima dan mengoperasikan Leopard ini dengan kekuatan 1 Batalyon lengkap.

Wujud nyata dari persiapan tersebut adalah mulai dibangunnya garasi untuk Leopard di dalam satuan Batalyon Kavaleri 1/Tank. Garasi Tank Leopard sedang dipersiapkan dan direncanakan akan selesai secepatnya.

Pen Kostrad
Abarky Indo

‘ASEAN Open Sky’ Ancam Kedaulatan Udara RI

http://www.suarapembaruan.com/media/images/medium2/20120420142719360.jpgJakarta - Pemberlakukan "ASEAN Open Sky" pada 2015 dinilai akan mengancam pertahanan dan kedaulatan udara Indonesia, bila Indonesia tidak memersiapkan secara baik dari berbagai aspek.   

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim di Jakarta, Kamis (6/12), mengatakan, kondisi kedirgantaraan Indonesia saat ini masih banyak kendala, seperti pengaturan lalu lintas udara atau air traffic control (ATC).   

Selain itu, pemenuhan standar keamanan terbang internasional, dimana Indonesia sejak 2007 hanya berada pada kategori dua penilaian Federal Aviation Administration (FAA) atau sekelas Zimbabwe dan Kongo.   

"Di sinilah kita berhadapan dengan masalah yang sangat serius, yaitu kedaulatan negara di udara," kata Chapy dalam Seminar tentang "Intelijen Udara, Ancaman Kedaulatan Udara menghadapi ASEAN Open Sky".   

Menurut dia, terganggunya kedaulatan itu karena Indonesia dianggap tidak memiliki kemampuan memadai dalam menjamin keamanan penerbangan, sehingga wewenang pengaturan lalu lintas udara di wilayah kedaulatan Indonesia akan diserahkan kepada negara lain.   

Ia mengatakan, beberapa negara seperti Thailand, Singapura, dan Australia telah lama memersiapkan diri sebagai pemegang peran sentral dalam pengaturan lalu lintas udara.   

"Bila Indonesia tidak hati-hati dalam menangani masalah ini, maka akan berhadapan dengan situasi fatal dalam pengelolaan kawasan udara kedaulatannya," katanya.   

Oleh karena itu, pemerintah harus berperan cerdik dalam memelihara dan menjaga kepentingan nasional. Tidak saja dalam menghadapi "ASEAN Open Sky 2015", tetapi juga masalah perimbangan kekuatan militer di Pasifik.   

Rektor UPN 'Veteran' Jakarta yang juga mantan Kabadiklat Kemhan Marsda TNI (Purn) Koesnadi Kardi menyebutkan, pertimbangan adanya "ASEAN Open Sky 2015" hanya dari segi ekonomi, yakni mampu menyumbang PDB hingga Rp7 triliun dan meningkatkan banyak lapangan kerja baru.   

Seharusnya, lanjut dia, juga ditinjau dari segi politik dan pertahanan.   

Ia menilai kebijakan "open sky" bisa membawa masalah baru karena saat ini Indonesia masih kekurangan sarana dan prasarana penerbangan, belum memiliki hukum udara dan ruang angkasa yang pasti, serta kurang siapnya operator dalam mendukung dunia penerbangan.   

"Udara merupakan wilayah kedaulatan negara yang harus dikuasai dan dikendalikan. Sementara untuk menjaga kedaulatan udara tak mungkin tanpa adanya air superiority," ucapnya.   

Menurut dia, "ASEAN Open Sky 2015" yang mengadopsi Eropa sangat berisiko bagi Indonesia karena sangat merugikan dari aspek politik dan hankam. [Ant/L-8]

Suara Pembaruan

☆ Cut Nyak Dien (1850-1908)

Perempuan Aceh Berhati Baja 

Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.

Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1850, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Jiwa pejuang memang sudah diwarisi Cut Nyak Dien dari ayahnya yang seorang pejuang kemerdekaan yang tidak kenal kompromi dengan penjajahan. Dia yang dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda semakin mempertebal jiwa patriotnya.

Ketika Lampadang, tanah kelahirannya, diduduki Belanda pada bulan Desember 1875, Cut Nyak Dien terpaksa mengungsi dan berpisah dengan ayah serta suaminya yang masih melanjutkan perjuangan. Perpisahan dengan sang suami, Teuku Ibrahim Lamnga, yang dianggap sementara itu ternyata menjadi perpisahan untuk selamanya. Cut Nyak Dien yang menikah ketika masih berusia muda, begitu cepat sudah ditinggal mati sang suami yang gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Gle Tarum bulan Juni 1878.

Begitu menyakitkan perasaaan Cut Nyak Dien akan kematian suaminya yang semuanya bersumber dari kerakusan dan kekejaman kolonial Belanda. Hati ibu muda yang masih berusia 28 tahun itu bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya sekaligus bersumpah hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu usahanya menuntut balas tersebut. Hari-hari sepeninggal suaminya, dengan dibantu para pasukannya, dia terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Dua tahun setelah kematian suami pertamanya atau tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. Sumpahnya yang hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu menuntut balas kematian suami pertamanya benar-benar ditepati. Teuku Umar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang terkenal banyak mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda. Teuku Umar telah dinobatkan oleh negara sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sekilas mengenai Teuku Umar. Teuku Umar terkenal sebagai seorang pejuang yang banyak taktik. Pada tahun 1893, pernah berpura-pura melakukan kerja sama dengan Belanda hanya untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang. Setelah tiga tahun berpura-pura bekerja sama, Teuku Umar malah berbalik memerangi Belanda. Tapi dalam satu pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Pebruari 1899, Teuku Umar gugur.

Cut Nyak Dien kembali sendiri lagi. Tapi walaupun tanpa dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut, dia terus melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh. Dia seorang pejuang yang pantang menyerah atau tunduk pada penjajah. Tidak mengenal kata kompromi bahkan walau dengan istilah berdamai sekalipun.

Perlawanannya yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh, sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya tapi sekalipun tidak pernah berhasil.

Tapi seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dien pun semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit orang tua seperti encok pun mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya pun semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan.

Melihat keadaan yang demikian, anak buah Cut Nyak Dien merasa kasihan kepadanya walaupun sebenarnya semangatnya masih tetap menggelora. Atas dasar kasihan itu, seorang panglima perang dan kepercayaannya yang bernama Pang Laot, tanpa sepengetahuannya berinisiatif menghubungi pihak Belanda, dengan maksud agar Cut Nyak Dien bisa menjalani hari tua dengan sedikit tenteram walaupun dalam pengawasan Belanda. Dan pasukan Belanda pun menangkapnya.

Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap pun dia masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Dia lalu ditawan dan dibawa ke Banda Aceh.

Tapi walaupun di dalam tawanan, dia masih terus melakukan kontak atau hubungan dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga dia pun akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pembuangan itulah akhirnya dia meninggal dunia pada tanggal 6 Nopember 1908, dan dimakamkan di sana.

Perjuangan dan pengorbanan yang tidak mengenal lelah didorong karena kecintaan pada bangsanya menjadi contoh dan teladan bagi generasi berikutnya. Atas perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada negara, Cut Nyak Dien dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Penobatan tersebut dikuatkan dengan SK Presiden RI No.106 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.



Nama :
Cut Nyak Dien
Lahir:

Lampadang, Aceh, tahun 1848
Wafat:

Sumedang, Jawa Barat, 6 Nopember 1908
Dimakamkan:

Sumedang, Jawa Barat
Suami:

- Teuku Ibrahim Lamnga (pertama), meninggal di Gle Tarum, Juni 1878
- Teuku Umar (kedua), meninggal di Meulaboh, 11 Pebruari 1899
Pengalaman Perjuangan:

- Bergerilya di daerah pedalaman Meulaboh
- Dibuang ke Sumedang, Jawa Barat
Tanda Penghormatan:

Pahlawan Kemerdekaan Nasional

DI SUMEDANG tak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya, juga sebuah periuk nasi dari tanah liat. Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda, yang ingin mengasingkannya dari medan perjuangannya di Aceh pada 11 Desember 1906.

Perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.


Di antara mereka yang datang banyak membawakan makanan atau pakaian, selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar, juga karena Ibu Perbu tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda.

Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, saat Ibu Perbu meninggal dunia. Dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang, tak jauh dari pusat kota Sumedang. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa sesungguhnya perempuan yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat itu, bahkan hingga kemerdekaan Indonesia.



Ketika masyarakat Sumedang beralih generasi dan melupakan Ibu Perbu, pada tahun 60-an berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda baru diketahui bahwa Tjoet Njak Dhien, seorang pahlawan wanita Aceh yang terkenal telah diasingkan ke Pulau Jawa, Sumedang, Jawa Barat. Pengasingan itu berdasarkan Surat Keputusan No. 23 (Kolonial Verslag 1907:12). Akhirnya dengan mudah dapat dipastikan bahwa Ibu Perbu tak lain adalah Tjoet Njak Dhien yang diasingkan Belanda bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana berusia 15 tahun.

TJOET NJAK DIEN lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar.

Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan Aceh, sejak kecil Tjoet Njak Dien memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama. Pendidikan ini selain diberikan orang tuanya, juga para guru agama. Pengetahuan mengenai rumah tangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami dan hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, didapatkan dari ibunda dan kerabatnya. Karena pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung suasana lingkungannya, Tjoet Njak Dhien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.

Tjoet Njak Dien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana perang Aceh. Sebuah peperangan yang panjang dan melelahkan. Perlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keyakinan agama serta perasaan benci yang mendalam dan meluap-luap kepada kaum kafir.

Tjoet Njak Dien dinikahkan oleh orang tuanya pada usia belia, yaitu tahun 1862 dengan Teuku Ibrahim Lamnga putra dari uleebalang Lam Nga XIII. Perayaan pernikahan dimeriahkan oleh kehadiran penyair terkenal Abdul Karim yang membawakan syair-syair bernafaskan agama dan mengagungkan perbuatan-perbuatan heroik sehingga dapat menggugah semangat bagi yang mendengarkannya, khususnya dalam rangka melawan kafir (Snouck Hourgronje, 1985: 107). Setelah dianggap mampu mengurus rumah tangga sendiri, pasangan tersebut pindah dari rumah orang tuanya. Selanjutnya kehidupan rumah tangganya berjalan baik dan harmonis. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

Ketika perang Aceh meletus tahun 1873, suami Tjoet Njak Dien turut aktif di garis depan sehingga merupakan tokoh peperangan di daerah VI Mukim. Karena itu Teuku Ibrahim jarang berkumpul dengan istri dan anaknya. Tjoet Njak Dien mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan, bahkan menjadi pendorong dan pembakar semangat juang suaminya. Untuk mengobati kerinduan pada suaminya yang berada jauh di medan perang, sambil membuai sang buah hatinya ia menyanyikan syair-syair yang menumbuhkan semangat perjuangan. Ketika sesekali suaminya pulang ke rumah, maka yang dibicarakan dan dilakukan Tjoet Njak Dien tak lain adalah hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda.

Keterlibatan Tjoet Njak Dien dalam perang Aceh nampak sekali ketika terjadi pembakaran terhadap Mesjid Besar Aceh. Dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala berserulah ia, "Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?" (Szekely Lulofs, 1951:59).

Bertahun-tahun peperangan kian berkecamuk. Karena keunggulan Belanda dalam hal persenjataan dan adanya pengkhianatan satu per satu benteng pertahanan Aceh berjatuhan, termasuk Kuta (benteng) Lampadang. Karena terdesak Tjoet Njak Dien beserta keluarganya terpaksa mengungsi. Pada sebuah pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur, yang konon karena penghianatan Habib Abdurrahman.



Rumah kediaman menjadi Museum
MESKI kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang dalam bagi Tjoet Njak Dien, tapi ini tak membuatnya murung dan mengurung diri. Sebaliknya, semangat juangnya kian berkobar. Sebagai seorang janda yang masih muda dengan seorang anak, ia tetap ikut bergerilya melawan Belanda. Menurut orang yang dekat dengannya, Tjoet Njak Dien pernah bersumpah hanya akan menikah dengan orang yang turut membantunya melawan Belanda.

Kehadiran seorang figur seperti Teuku Umar yang juga adalah pemimpin perjuangan yang gagah berani, sangatlah berarti bagi rencana perjuangan Tjoet Njak Dien. Meski masih saudara sepupu, dia baru bertemu dengan Teuku Umar saat upacara pemakaman suaminya. Karena sama-sama terikat dalam Sabilillah maka pasangan ini kemudian menikah pada 1878.

Perlawanan terhadap Belanda kian hebat. Beberapa wilayah yang sudah dikuasai Belanda berhasil direbutnya. Dengan menikahi Tjoet Njak Dien mengakibatkan Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah mempunyai istri sebelumnya, Tjoet Njak Dien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Perempuan inilah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan buruknya.

Selanjutnya Tjoet Njak Dien terpaksa meninggalkan Montesik, karena kepala Mukim menyerah pada Belanda. Pada saat itulah Tjoet Njak Dien melahirkan putrinya yang diberi nama Tjoet Gambang yang kemudian dinikahkan dengan Teungku Di Buket, anak laki-laki Teungku Tjik Di Tiro (ulama dan pejuang Aceh, juga merupakan salah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia). Anak dan menantu Tjoet Njak Dien ini pun gugur sebagai syuhada melawan Belanda.

Peristiwa menggegerkan yang dinamakan "Sandiwara Besar" terjadi ketika Teuku Umar melakukan sumpah setia pada Belanda. Ketika sudah mendapatkan berbagai fasilitas, Teuku Umar justru berbalik melawan Belanda. Kemarahan Belanda membuat Tjoet Njak Dien dan Teuku Umar beserta para pengikutnya yang setia terpaksa memasuki hutan rimba. Dari belantara inilah Teuku Umar memimpin perlawanan.

Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Tjoet Njak Dien menerima berita duka ini. Sepeninggal Teuku Umar, Tjoet Njak Dien memimpin langsung perlawanan.


Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Tjoet Njak Dien mengordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan. Lama-lama pasukan Tjoet Njak Dien melemah. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Usianya kian lanjut, kesehatannya kian menurun. Tapi, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah sebagai jalan pembebasan dari kehidupan yang serba terpencil dan penuh penderitaan ini, Tjoet Njak Dien menjadi sangat marah. Pang Laot Ali tetap tak sampai hati melihat penderitaan pimpinannya. Akhirnya ia menghianatinya. Kepada Belanda ia melaporkan persembunyiannya dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.

Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini, mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap menentang. Dari mulutnya terucap kalimat, "Ya Allah ya Tuhan inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir".

Tjoet Njak Dien marah luar biasa kepada Pang Laot Ali. Sedangkan kepada Letnan Van Vureen yang memimpin operasi penangkapan itu sikap menentang mujahidah ini masih nampak dengan mencabut rencong hendak menikamnya.

Penempatan Tjoet Njak Dien di Kutaraja mengundang kedatangan para pengikutnya. Karena khawatir masih bisa menggerakkan semangat perjuangan Aceh, Tjoet Njak Dien terpaksa dijatuhi hukuman pengasingan ke Pulau Jawa, yang berrati mengingkari salah satu butir perjanjiannya dengan Pang Laot Ali.

Perjuangan Tjoet Njak Dien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing, sehingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu. Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor.

Menjelang akhir hidupnya, di Sumedang, di daerah yang sangat asing baginya, Tjoet Njak Dien masih juga berperang dalam pertempuran lain, yakni perlawanan terhadap penjajahan kebodohan


Sumber dari :
- juka-atur (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
- sluggers (kapanlagi)


  Garuda Militer  

PMPP Butuh Standby Forces 3 Batalyon Mekanis

SITUASI dunia yang semakin tidak menentu dan banyaknya daerah konflik membuat PBB, utamanya Dewan Keamanan semakin sibuk. 

Sebagai negara kontributor pasukan perdamaian, Indonesia juga pastinya kecipratan kesibukan tersebut. Untuk memenuhi permintaan PBB yang kadang kala mendadak, Indonesia sendiri kemudian membuat Pusat Misi Pasukan Perdamaian (PMPP) di Kawasan Sentul, Bogor, Jawa barat. 

Di tempat inilah para calon Pasukan Garuda mendapat pelatihan intensif dan terintegrasi.

Di tempat ini pula nantinya akan dibangun Standby Forces Pasukan Garuda. Sesuai namanya, pasukan ini merupakan satuan yang siap dikirim kemana pun ke seluruh dunia atas permintaan PBB. Standby forces ini nantinya terdiri dari 1 Batalyon Mekanis yang dilengkapi Panser Anoa.

Akan tetapi, bagi pihak PMPP sendiri, idealnya Standby forces bukan hanya 1 batalyon mekanis. Mereka meminta agar setidaknya Standby Forces ini terdiri dari 3 Batalyon Mekanis, plus dukungannya. Yaitu 2 kompi Zeni dan 2 Kompi Kesehatan. 

Dengan jumlah ini, rotasi penugasan, pelatihan dan kesiagaan bisa dijaga dengan baik. Misalnya, jika ada kejadian gawat, PMPP akan mengirim 1 Batalyon Mekanis, maka masih ada 1 Batalyon untuk siaga ke tempat lain, serta 1 batalyon lainnya untuk pelatihan. Akan tetapi, terwujud atau tidaknya keinginan dari PMPP ini tentunya tergantung pihak Kementrian Pertahanan.

Area PMPP di Sentul, Bogor, Jawa barat diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 19 Desember 2011. Lalu kemudian pada 20 maret 2012, Sekjen PBB Ban Ki Moon juga mengunjungi fasilitas PMPP. Namun demikian, seluruh fasilitas maupun gedung PMPP saat ini belumlah selesai benar. Kemungkinan besar, seluruh bangunan dan fasilitas akan berdiri megah pada tahun 2014 mendatang.

 ARC
Abarky Indo

Galeri Angkasa Yudha 2012

Bandung - Latihan manouver lapangan (Manlap) TNI AU Angkasa Yudha tahun 2012 digelar di Air Weapon Range (AWR) Buding Lanud H. AS. Hanandjoeddin Tanjung Pandan, P. Belitung, pada Selasa (23/10), diawali dengan Latihan Pos Komando (Latposko) selama 3 (tiga) hari dari tanggal 10-12 Oktober di Seskoau Lembang, Bandung. 

Dalam Latposko melibatkan unsur Komando Pengendali (Kodal), Pengawas Pengendali (Wasdal), unsur pelaku serta melibatkan Satuan Tugas Informasi (Satgas Info).

Sedang dalam Manlap Angkasa Yuhda 2012 melibatkan beberapa unsur satuan TNI AU, baik unsur pesawat tempur, angkut, Helikopter dan pasukan, seperti Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi yang mengerahkan pesawat F-16 Fighting Falcon, Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar dengan pesawat SU-27/30 Sukhoi.



Pesawat angkut melibatkan Skadron Udara 2 dan 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Skadron Udara 4 dan Skadron Udara 32 Lanud Abdurachman Saleh Malang, unsur intai Skadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanuddin serta serta unsur SAR dari Skadron Udara 7 Lanud Atang Sendjaja, Bogor.

 

Sedangkan pasukan yang terlibat terdiri dari satu Tim Pengendali Tempur (Dalpur) Paskhas, Detasemen Bravo, Satuan Tempur (Satpur), Pengendali Pangkalan (Dalan) serta SAR Tempur (Sarpur).

© ARC