Sabtu, 22 Desember 2012

Indonesia Butuh Regulasi Pengawasan Udara

Panglima TNI
Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, mengatakan hingga saat ini regulasi mengenai pengawasan udara nasional belum komprehensif. Diharapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengawasan Udara Nasional segera disahkan sebagai revisi dari UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Kedaulatan Penerbangan.

"Harus ada penyamaan persepsi tentang pentingnya pertahanan dan kedaulatan udara nasional," kata Panglima TNI saat menjadi inspektur upacara dalam serah terima jabatan Kepala Staf TNI AU (Kasau) di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (21/12).

Keberadaan regulasi yang komprehensif, lanjut Panglima, akan menjadi referensi dalam menyusun strategi penggunaan tepat guna untuk mendukung pertahanan udara. "Saya juga berharap UU Pengawasan Udara Nasional bisa menjadi landasan hukum dalam optimalisasi industri kedirgantaraan walaupun saat ini sudah ada UU Industri Pertahanan," kata dia.

Marsekal Madya TNI Ida Bagus Putu Dunia resmi menggantikan Marsekal Imam Sufaat sebagai Kasau. Sebelum serah terima jabatan ini, Ida Bagus sudah dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (17/12).

Agus Suhartono berharap Ida Bagus mampu meningkatkan kemampuan TNI AU ke depannya, khususnya dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) untuk mencapai kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) hingga 2024. "Saya harap Kasau yang baru dapat meneruskan kepemimpinan Kasau yang lama dan melakukan inovasi-inovasi baru yang dapat meningkatkan kemampuan TNI AU," kata Panglima.

Agus berharap pergantian kepala staf baru ini bisa membuat TNI AU mengambil langkah penyempurnaan strategi keamanan udara dalam koridor pembangunan kekuatan, sesuai dengan kemampuan dan kebijakan MEF.

Terus Meningkat

Menurut dia, strategi keamanan udara merupakan keharusan guna memperoleh gambaran tentang keefektifan dan efisiensi pencapaian sasaran kebijakan pembangunan MEF TNI AU. Apalagi ke depan, perkembangan situasi keamanan regional dan internasional akan terus meningkat dan sewaktu-waktu mengganggu dan mengancam kepentingan nasional.

Selama menjabat sebagai Kasau, Imam Sufaat terbilang sukses memodernisasi alutsista dengan persentase angka penambahan mencapai 60 persen dari kekuatan sebelumnya. Imam yang menjabat Kasau lebih dari tiga tahun ini juga berhasil menambah Satuan Radar dan Batalyon Paskhas di Biak sebagai penambahan kekuatan di Indonesia Timur. Imam pun menambah Skadron VVIP khusus helikopter di Halim Perdanakusuma. Setelah sertijab ini, Imam akan menjalani masa pensiun.

Sementara itu, Ida Bagus menyatakan akan melanjutkan kepemimpinan Kasau yang lama guna meningkatkan profesionalisme prajurit TNI AU dan meningkatkan kemampuan alutsista TNI AU. "Untuk peningkatan alutsista TNI AU ke depan, saya akan langsung konsolidasikan dengan jajaran. Saat ini saya belum melihat dokumen secara keseluruhan," katanya.

Ida Bagus merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1981 dan merupakan pria keturunan Tabanan, Bali. Ia memulai karier sebagai penerbang Wingdik 1 Lanud Adi Sutjipto. Kariernya mulai meroket pada 2011 ketika menjabat gubernur AAU.

Pada Juli 2012 lalu, dia mendapat promosi bintang tiga dengan jabatan komandan sekolah staf dan komando (Dansesko) TNI. Ida Bagus akan menyandang bintang empat dan menjadi putra Bali pertama yang menjadi orang nomor satu di lingkungan AU.

Koran Jakarta

Pesawat TNI AU yang Rusak akan Dihibahkan

Jakarta - Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono memimpin upacara serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU), dari Marsekal TNI Iman Sufaat kepada penggantinya, Marsekal Madya TNI Ida Bagus Putu Dunia.

Sertijab digelar di Pangkalan Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jumat (21/12/2012) pagi.


Dalam sambutannya, Laksamana Agus Suhartono mengungkapkan pentingnya peran yang diemban KASAU.

Panglima TNI juga berharap pejabat yang baru dapat memberikan segala kemampuan yang dimiliki, untuk menata kembali jajaran TNI AU dan meningkatkan kemampuan AU lebih baik lagi.

"Saya harap kepala staf TNI AU yang baru dapat meneruskan kepimpinan yang lama, tentunya diselingi inovasi-inovasi baru yang bisa meningkatkan kemampuan angkatan udara lebih baik lagi," ujar Laksamana Agus Suhartono.

Panglima TNI juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Marsekal TNI Iman Sufaat dan keluarga, yang telah membantu kelancaran tugas di jajaran TNI AU.

Usai pelantikan, Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia mengatakan, ia akan mulai mengevaluasi dan melakukan sosialisi lebih dulu terhadap para anggotanya.

"Saya harus melanjutkan program-program pejabat pendahulu saya. Saya akan melakukan konsolidasi untuk mengadakan evaluasi, kira-kira apa yang perlu diperbaiki. Karena, semboyan kami adalah hari esok harus lebih baik dari sebelumnya," paparnya.

Menanggapi masalah pesawat TNI AU yang sering mengalami kecelakaan, Putu akan terus mengevaluasi pesawat-pesawat TNI AU. Jika sudah tidak layak pakai, Agus mengaku pesawat-pesawat itu akan dihibahkan.

"Kami sudah berusaha melakukan hibah, kami akan terus melakukan evaluasi titik lemah mana yang harus diperbaiki," jelasnya.

Marsekal Madya TNI Ida Bagus Putu Dunia adalah KASAU ke-19, yang merupakan alumni Akademi Angkatan Udara tahun 1981. Sebelumnya, ia dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Senin (17/12/2012).

Tribunnews

1.336 Personel TNI Kembali dari Lebanon

Mereka diterima di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, dalam upacara yang dipimpin Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono. 

Sebanyak 1.336 personel TNI yang tergabung dalam Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) yang bertugas di Lebanon kembali ke Indonesia.

Mereka diterima di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, dalam upacara yang dipimpin Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.


Para personel yang tergabung dalam Satgas Konga UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) itu telah melaksanakan tugas sebagai penjaga perdamaian di Lebanon kurang lebih satu tahun terhitung November 2011.


Mereka terdiri dari beberapa unit yakni Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-F, Military Police Unit (MPU) Konga XXV-D, Force Protection Company (FPC) Konga XXVI-D2, Force Head Quarter Support Unit (FHQSU) Konga XXV-D1, Satgas CIMIC TNI Konga XXXI-B, Milstaff Sector East HQ dan personel Konga Level II Hospital serta Satgas Military Community Outtreach Unit (MCOU) Konga XXX-B.


Panglima TNI Agus Suhartono mengatakan dalam konteks pemeliharaan perdamaian dunia, kepercayaan PBB terhadap pasukan perdamaian Indonesia begitu tinggi.


"Sejak pertama kali bergabung dalam misi perdamaian dunia pada tahun 1957, prajurit Kontingen Garuda selalu menunjukkan kinerja yang membanggakan dan diterima dengan baik oleh masyarakat setempat," kata Agus dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (22/12).


Pada misi PBB periode 2006-2012, TNI telah mengirimkan 1.933 personel yang tersebar di beberapa negara. Predikat terbaik telah disandang oleh Kontingen Garuda Indonesia, yang ditandai dengan pemberian anugerah “The  United Nations Medal In The Service Of Peace” saat melaksanakan penugasan di wilayah Lebanon.


Agus mengatakan penganugerahan medali tersebut merupakan bukti penghargaan dunia terhadap peran aktif Indonesia dalam mewujudkan dan memelihara perdamaian dunia.


"Hal ini merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dalam ikut melaksanakan ketertiban dunia, baik sebagai inisiator penyelesaian konflik antar negara, partisipasi pemberian bantuan kemanusiaan, maupun pengiriman pasukan pemelihara perdamaian, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan luas dan mendapat apresiasi  yang tinggi dari masyarakat Internasional," jelasnya.


Panglima TNI mengharapkan, prestasi, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama penugasan dapat dijadikan modal yang berharga.


Sejumlah pejabat tinggi militer hadir dalam upacara penyambutan kepulangan tersebut, antara lain Kasum TNI, Pangkostrad, para Asisten Panglima TNI dan Angkatan, Pangdam Jaya, serta Kabalakpus TNI.


Berita Satu

Kekuatan TNI AL Banyak Menggunakan Produk Dalam Negeri

KCR 40 Palindo
Jakarta - Pembangunan kekuatan TNI AL, telah dilakukan pemerintah dengan mendukung kebutuhan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) dalam rangka mencapai minimum essential forces (MEF) atau kekuatan pokok minimum melalui industri pertahanan nasional.

Kita pun patut berbangga, kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Soeparno sebab pemenuhan kebutuhan alutsista TNI AL saat ini telah banyak menggunakan beberapa produk hasil industri pertahanan nasional dalam upaya mewujudkan kemandirian nasional.

Namun demikian, untuk mendukung terwujudnya industri pertahanan yang berkemampuan maju, mandiri dan berdaya saing, menurut Kasal, dibutuhkan kerja sama, kebijakan pemerintah dan keterpaduan semua stakeholder termasuk perangkat regulasinya dalam bentuk perundang-undangan tentang industri pertahanan nasional.

“Pertumbuhan dan perkembangan industri nasional erat kaitannya dengan kondisi perekonomian suatu negara, demikian juga sebaliknya,” kata Laksamana TNI Soeparno saat menjadi pembicara kunci pada Seminar Nasional TNI Angkatan Laut di Balai Samudra, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (19/12).

Soeparno juga menjelaskan hasil kajian Badan Pengembangan Lingkungan Strategis yang menyebutkan bahwa kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadi pergeseran paradigma kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu pula dibutuhkan upaya pertahanan negara yang efektif agar mampu menjaga dan melindungi keutuhan wilayah NKRI dari ancaman dalam dan luar negeri.

Menurut Laksamana Soeparno, ada tiga model perkembangan industri pertahanan.

Pertama adalah Autarky model.
Model ini diterapkan oleh negara yang memiliki ambisi untuk mendapatkan kemandirian pertahanan dan ini adalah model ideal industri pertahanan nasional. “Autarky model hanya bisa dicapai oleh negara-negara yang ditopang oleh postur militer besar,” katanya.

Kedua adalah Niche-production model.
Model ini diterapkan oleh negara yang berupaya mengurangi ketergantungan luar negeri. Oleh karena itu, negara memiliki komitmen untuk investasi ke sektor industri pertahanan dengan berupaya tranfer of technology dari negara produsen.

Ketiga adalah Global supply chain.
Model ini cenderung dilakukan oleh negara-negara yang telah memiliki basis militer mapan namun tidak memiliki akses pasar senjata internasional.

Info Publik

Prediksi Alutsista di Tahun 2013

Seperti kita ketahui, tahun 2012 ramai dan gaduh mengenai pengadaan alutsista. Salah satu yang paling menarik perhatian dan simpang siur adalah mengenai pengadaan MBT Leopard II. Dan hingga kini, pengadaan monster lapis baja itu pun masih belum jelas. Lalu, bagaimanakah nanti gegap gempita perkuatan TNI di bidang Alutsista pada tahun 2013?.

Berikut adalah beberapa diantaranya. Namun, kami ingatkan, ini hanyalah prediksi. Segala sesuatunya masih bisa berubah dengan berjuta alasan. Salah satu anekdot di ARC adalah, jika barangnya belum sampai, belum difoto narsis, maka jangan percaya 100% dulu. Tapi, paling tidak inilah sedikit gambaran.


TNI Angkatan Udara

1. Pesawat latih mula Grob. Setelah mengalami kemunduran, diperkirakan pesawat latih Grob G-120TP akan di roll out pada bulan maret. Pada medio Januari-Februari, kemungkinan akan dikirim teknisi dan pilot untuk mengawaki pesawat tersebut.

2. Pesawat latih T-50i dari Korea Selatan juga diperkirakan akan tiba pada 2013. Bahkan foto-foto pesawat calon pengganti Hawk Mk-53 itu sudah beredar dengan kelir aerobatik.

3. Persenjataan Sukhoi diduga juga akan tiba pada tahun 2013. Indikasinya, beberapa pilot dari sarang Thunder telah dikirim untuk berlatih di Rusia. Apa saja jenisnya? sebaiknya kita tunggu saja penampakannya.

4. Disisi lain dari publikasi Kemhan, terungkap rencana pengadaan pengadaan Helikopter super puma (NAS-332C1) VVIP sebanyak 2 unit senilai 460 Milyar, hibah Hercules senilai 440 Milyar serta Upgrading Falcon star untuk F-16 sebanyak 10 unit senilai 270 Milyar.


TNI Angkatan Darat

1. Pada Januari atau selambatnya Februari, senjata anti tank NLAW diperkirakan akan tiba. Saat ini senjata tersebut tengah dipersiapkan untuk pengiriman.

2. Menindak lanjuti kontrak yang telah ditanda tangani, Meriam Caesar 155mm serta roket Astros diperkirakan akan tiba pada pertengahan tahun 2013. Jika tidak ada aral melintang tentunya.

3. Untuk melengkapi kedatangan Caesar, pada 2013 juga akan dilakukan pengadaan pengadaan Radar range finder untuk satuan armed, sebanyak 2 unit senilai 27,8 Milyar. Juga akan dilengkapi Sta Meteo, relay beserta alat kelengkapannya. Rencananya, pengadaan alat-alat diatas akan melibatkan Pindad sebagai penyedia platform, yaitu berupa Rantis Komodo.

4. Diperkirakan alutsista Arhanud juga akan tiba pada tahun 2013. Diantaranya rudal Mistral serta Starstreak. Khusus untuk mistral, akan dilakukan juga pengadaan 56 unit Rantis Komodo sebagai pembawa rudal tersebut.

5. Pengadaan lanjutan Panser Anoa serta helikopter jenis NBell-412.


TNI Angkatan Laut

1. Serah terima KRI Beladau dari jenis KCR-40 diperkirakan akan dilakukan pada awal tahun 2013.

2. Kelanjutan program Multi Role Light Fregate (MLRF) dari jenis Nahkoda Ragam Class. Saat ini Mabes TNI-AL sudah menyiapkan Satgas untuk menjemput serta pelatihan awak kapal tersebut.

3. Uji terbang CN-235 Patroli Maritim pesanan TNI AL buatan PT.DI direncanakan akan berlangsung pada awal tahun 2013. Namun, kemampuan sesungguhnya dari pesawat ini masih belum jelas benar. Tunggu ARC datang dan memfoto pesawat kebanggan buatan dalam negeri ini nanti.

4. Pembangunan Trimaran ke-2 akan dilakukan juga pada 2013. Akan tetapi mengenai bahan maupun spesifikasinya secara jelas belum bisa diperoleh.

5. Data dari Kementrian Pertahanan juga menyebutkan kelanjutan program TNI-AL di tahun 2013. Diantaranya pembangunan platform KCR 60 M Lanjutan senilai 169,78 Milyar, Pengadaan Heli Angkut Bell-412 Tahap 2 lanjutan senilai 88,93 Milyar serta pengadaan Kapal Bantu Cair Minyak Lanjutan senilai 107,50 Milyar. Selain itu ada pula pengadaan Ranpur Amfibi jenis baru untuk Marinir.

Namun demikian beberapa alutsistaa lagi masih menunggu kepastian yang benar-benar pasti. Diantaranya:

  1. Kontrak pengadaan Leopard
  2. Pengadaan heli serang Apache (atau bukan Apache)
  3. ATGM Tambahan jenis lain
  4. Heli AKS untuk TNI-AL
  5. Helikopter Serang Fennec,
  6. Pengadaan meriam KH-179 dan LG Mk3, dan lain sebagainya
Demikian beberapa prediksi yang akan tampil pada tahun 2013 nanti. Kita tunggu saja kejutan-kejutan di tahun 2013. Toh.. hidup terasa kurang seru jika tanpa kejutan.

ARC

☆ Ben Mboi : Dokter, Prajurit Para Komando (2)

Artikel dibawah ini seluruhnya dikutip dari Buku Biografi Ben Mboi - Dokter, Memoar Prajurit, Pamong Praja. Suntingan Sdr. Candra Gautama & Sdr. Riant Nugroho - Terbitan KPG Desember 2011.

Selamat Bejuang Pahlawanku!

Pilot Hercules, Letkol Slamet memberikan ucapan intinya tugas dia hanya sampai disitu, dan mengucapkan:
"Selamat Berjuang, Pahlawan!"
Namun putaran satu kali belum tampak dropping zone, dua kali juga belum, dan pada putaran ketiga terdengar teriakan Overste Slamet, " Disini saja!" Kenapa disini saja? Jawabnya nanti didarat kami ketahui!

Dipintu berdiri Jump-master yang menendang pantat kami keluar pesawat karena saking beratnya beban yang menempel dibadan kami sambil berteriak

"Selamat Berjuang, Pahlawanku!"
Pahlawan yang ditendang pantatnya untuk pergi berjuang! Alangkah ironisnya!
Dari stick saya Serma Teguh Sutarmin terjun duluan, disusul Serma Amwat.

Ketika sampai pada giliran saya, keringat dingin mendadak keluar. Tiba-tiba ada tepukan dibahu kiri saya dari belakang, disertai suara yang sudah lama sekali saya tidak dengar,

"Ben, jangan takut, saya akan selalu turut!"
Ya Tuhan Allah, Yang Mahakuasa! Itu suara arwah almarhum saya, yang saya tidak pernah dengar lagi selama 14 tahun. Segera keringat takut, keringat dingin saya hilang, seperti masuk kembali kembali kedalam tubuh. Saya berjalan kepintu pesawat, terjun dengan penuh ketenangan dan keberanian.

Kami terjun diketinggian 700m kurang lebih jam 03.00 pagi, ketika bulan mati gelap gulita, tetapi langit dipenuhi bintang-bintang. Saya melihat sekeliling, suatu pemandangan yang begitu indah sekali, puluhan payung mengambang dalam keremangan jutaan bintang-bintang dilangit. Romantis sekali kalau tidak mengingat bahwa dibawah sana ada musuh yang menunggu untuk menembak kami.


Begitu payung terbuka, saya lepaskan ransel dan pluzak bergantung bebas dari badan saya agar nantinya jatuh tidak terlalu keras. Sepanjang latihan terjun di Margahayu, saya tidak pernah terjun dengan beban dibadan. Untunglah payung terjun yang kami pakai adalah buatan Russia yang tebal. Bayangkan kalau memakai payung sutra buatang Inggris, dengan beban dibadan saya lebih 60 kg, pasti seperti free-fall saja.

Makin dekat kebawah, makin tampak pohon-pohon, makin lama makin tinggi (makin dekat?). Celaka pikir saya. Latihan turun memakai tali dan snipering di Margahayu hanya simulasi saja. Rencana Kolonel Moeng (Komandan RPKAD) untuk sekali terjun di hutan karet batal dikerjakan karena terhalang hujan.

Saya terjatuh kedalam satu pohon, meluncur diantara cabang-cabang. Bergantung 20 meter dari tanah!. Saya lepaskan diri dari ikatan tali payung terjun, dan dengan tali dan snipering perlahan-lahan turun ke tanah dan duduk disana, sampai kira-kira pukul setengah enam. Kami dibekali dengan 1 pluit, dengan kode panggil 3x, jawab 2x.

Pukul 0600 pagi terkumpul 9 orang, stick saya utuh kecuali Serma Teguh Sutarmin, penerjun pertama. Memang dapat dibayangkan betapa kesulitannya kami untuk konsolidasi, karena kecepatan Dakota waktu latihan berbeda dengan kecepatan Hercules yang menerjunkan kami. Dapat dibayangkan berapa jarak jatuh antara penerjun dengan kecepatan Hercules yang kira-kira 150 meter per detik diatas rimba belantara Papua yang dikelilingi rawa itu.

Saya sudah dibumi Irian Barat. Misi kami baru mulai. Kami harus berperang dengan Belanda. Pekerjaan saya sebagai perwira kesehatan belum ada. Semoga tidak ada yang tercedera. Apa mungkin? Mustahil peperangan tanpa cedera, peperangan tanpa kematian!
Tunggu saja!


Pertempuran di Kampung Kelapa Lima

Setelah kami sudah terkonsolidasi, kami mulai orientasi medan dan mendapati satu kenyataan bahwa kami diterjunkan disebelah barat sungai yang kami yakini Sebagai Sungai Maro. Sungai ini mengalami pasang surut setiap 6 jam. 6 jam mengalir kehulu, dan kemudian megalir ke hilir!. Benar-benar tidak ada perbandingannya di Pulau Jawa. Dengan kata lain, untuk bertemu dengan pasukan, kami harus menyeberang dengan rakit. Menyeberangi sungai yang begitu luasnya.

Setelah konsolidasi stick terjun kami, saya menginventarisasi kekuatan regu kecil kami. Semulanya stick terjun terdiri dari 10 orang. Achyat, Kasmin, Sutiyono, Suyatno, Suyatno pelontar granat, Rumasukun, Ismail pemegang Bren, Serma Kesehatan Amwat dan saya. Lettu Kes Dr. Ben Mboi. Serma Kesehatan Teguh Sutarmin belum juga bergabung, kami menunggu dia.

Kemudian kami membuat rakit dari bambu, dan ketika hari sudah gelap kami menyeberang, berenang sambil mendorong rakit bermuatan perlengkapan kami. Kami langsung masuk ke dalam rawa, dan sepanjang malam tidur disana.

Begitu hari mulai terang, kami mulai bergerak, mencari jalan setapak yang dijelaskan dalam briefing di Amahai. Ternyata jalan setapak tersebut tidak ada! Apa yang salah? Perjanjian di Amahai adalah bahwa apabila sampai dengan tanggal 1 Juli tidak bertemu dengan induk pasukan, maka setiap prajurit yang selamat diharuskan bergerak kearah Merauke. Kita pasti akan bertemu di sekitar Kota Merauke. Namun sampai tanggal 1 Juli kami belum juga bertemu dengan induk pasukan.

Kami menganggap bahwa sungai yang telah kami seberangi ini adalah Sungai Maro. Jadi, kalau kami menyusur sungai dengan sesekali menjauhi pinggiran sungai, pasti kami akan sampai ke Kota Merauke. Maka berjalanlah kami ke arah Baratdaya. Tetapi aneh sekali, pesawat-pesawat terbang yang lewat diatas kami semuanya menuju arah Tenggara.

Ilmu bumi yang saya pelajari mengatakan bahwa disebelah timur Kota Merauke tidak ada kota lagi. Kota Merauke adalah kota yang paling selatan dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Maka kami putuskan untuk mengikuti arah penerbangan pesawat yang lewat, tidak mustahil kami diterjunkan ditempat yang salah. Setelah beberapa hari berjalan, menyeberangi rawa-rawa, kami mendengar bunyi seruling kapal laut. Bunyi itu memastikan kepada kami bahwa Merauke ada di depan kami, di tenggara.


Anda harus membayangkan rapatnya hutan belantara Irian pada masa itu. Tiba-tiba saja kami bertemu dengan seorang tua, yang kemudian kami tahu bernama Bakri, seorang Jawa asal Gresik-Jawa Timur yang pada awal abad ke-20 masuk dalam rombongan migran yang dibawa oleh Belanda ke New Caledonia. Rombongan mereka singgah di Merauke dan tidak dilanjutkan ke New Caledonia. Dia menunjukkan kepada kami beberapa pohon singkong diantara pohon-pohon sagu, dan dia berjanji akan datang membawa makanan.

Terjadilah dialog lucu berikut:

"Kita sekarang ada dimana?" tanya seorang prajurit."Di West New Guinea," jawab Bakri."Busyettt," cetus prajurit saya," Bang*at AURI! Kita mestinya terjun di Irian Barat, malah dijatuhkan di Di West New Guinea!"
Saya jelaskan kepadanya bahwa Irian Barat itu Di West New Guinea dalam bahasa Belanda. Bakri tidak tahu Irian Barat, prajurit yang muda-muda itu tidak kenal Di West New Guinea. Suatu lelucon ditengah perang gerilya.

Kami tidak begitu saja mempercayai Pak Bakri, siapa tau dia voor-spit dan mata-mata Belanda. Karena dia berjanji akan kembali, maka buat berjaga-jaga kami menyiapkan penyergapan andaikata dia datang membawa tentara Belanda. Ternyata Pak Bakri jujur. Dia datang kembali membawa ubi-ubian buat kami. Namun setelahnya, kami menghindari bertemu dia lagi sampai cease-fire beberapa minggu kemudian.

Kami meneruskan perjalanan menuju tepi barat Kali Maro. Kami kaget bukan main, karena sungai ini begitu lebar, mungkin 2-3 km lebarnya. Diseberang terlihat Kota Merauke. Kalau ingin ke Merauke jelas harus ke hulu sungai dulu, dimana lebar sungai lebih sempit dan ada sedikit belokan agar lebih mudah menyeberang. Dan ketika kami ke hulu, kami meliwati tepi luar areal persawahan yang luas. Kemudian setelah cease-fire kami tahu persawahan itu sebagai Kampung Kuprik, dengan penduduk sebagian besar suku Buton dan Jawa, seperti keluarga La Bulla. 

Akhirnya kami sampai ke hulu Kali Maro, dimana lebar sungai hanya lebih kurang 200-300 m. Disitu kami berhenti sambil mengumpulkan rumput serta membungkus ransel dan kelengkapan lain dalam ponco. Kami menunggu saat peralihan air pasang dan surut. Pada saat itu sungai agak tenang, momen terbaik untuk menyeberang. Kami berenang dengan hanya mengenakan celana dalam saja.

Ditengah sungai saya sempat kaget bertemu ular sebesar paha manusia dewasa. Tetapi karena mungkin dia juga sedang mencari penghidupan seperti kami dia melewati depan saya saja. Seorang teman yang terlambat menyeberangi sungai disambar arus naik, terbawa arus kuat ke hulu dan kembali terdampar ditepi barat sungai. Terpaksa kami menginap lagi semalam untuk menunggu prajurit tersebut. Sekarang, kami sudah sampai ke daerah operasi yang benar, sisi timur Sungai Kali Maro.
Hello Merauke, here we come!
Sudah masuk minggu ketiga setelah penerjunan kami tanggal 24 Juni 1962, namun belum kelihatan tanda-tanda daripada induk pasukan, komandan Operasi Naga. Jadi kembali kami lanjutkan perjalanan, kearah Merauke pada sisi timur Sungai Moro.

23 Juli, kurang lebih pukul 15.00 kami dikejutkan dengan suara lonceng sapi. Ternyata ada kawanan sapi yang sedang merumput disekitar kami. Kami sudah berada dipinggir lapangan terbang Merauke. Sadar secara fisik sudah akan memasuki kota, kami berusaha menghindar mencari kemungkinan keberadaan induk pasukan. Tidak mungkin akan ada konsentrasi pasukan kami didalam kota, bayangkan saja kami bergerilya sendiri tanpa peta!

Kami menyusuri pinggiran lapangan terbang yang sunyi senyap, tidak ada pesawat, tidak ada kegiatan yang berlebihan. Kami berusaha tetap berjalan dalam hutan. Begitu sore, kira-kira pukul 17.00 kami berhenti. Tiba-tiba muncul 3 orang pemuda Papua, pemuda setempat, ngobrol sebentar dengan kami lalu pergi. Segera kami curiga dan mempersiapkan diri seperlunya, mengatur sudut agak berpencar! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan satu pistol ditangan dalam perang gerilya, dimana orang tidak akan bertanya siapa dokter, siapa bukan, melainkan tembak saja.

Kira-kira pukul 8 malam mulailah tembakan pertama ke arah kami, disusul rentettan semakin lama semakin gencar. Pertempuran real pertama saya meletus. Berlangsung kira-kira satu jam, namun secara mendadak berhenti. Pagi-pagi 24 Juli terjadi tembakan pancingan lagi kearah kami, pertempuran dilanjutkan sebelum kami sempat konsolidasi. Pertempuran berlangsung sengit kira-kira setengah jam, berhenti setelah terdengar jeritan kesakitan seorang pasukan Belanda yang terkena tembakan. Pasukan Belanda dengan terburu-buru mundur, sambil menyeret anggota pasukannya yang terluka tadi. Dan kami berkumpul.

Konsolidasi kami kehilangan 3 personil : Serma Rumasukun, Serda Ismail, dan Prajurit Sutiyono. Pelda Soepangat putus urat achillesnya kena tembakan musuh. Saya periksa, kalau toh harus dioperasi harus di mobilisasikan, namun akan memperlambat gerakan kelompok yang tinggal 5 orang ini. Kami putuskan, Soepangat ditempatkan dipinggir jalanan setapak Kampung Kelapa Lima dengan harapan pasti nantinya akan ditolong warga, dengan asumsi menjadi tawanan tentara Belanda.

Kami menyingkir dan bersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan besar karena mulai pukul 09.00 pagi hingga 17.00 sore kami dibombardir dengan tembakan mortir. Besoknya kami bergerak kearah timur lagi, mencari induk pasukan. 3 Kawan kami yang hilang tidak diketahui nasibnya, entah gugur, tercecer, atau tertangkap. Entahlah!. Baru setelah cease-fire kemudian diketahui bahwa Rumasukun, Ismail, dan Sutiyono tercecer sampai Papua New Guinea dan ditangkap oleh tentara Australia.

Dua hari kami bertempur secara terus menerus dengan Belanda, saya mengambil kesimpulan bahwa tentara Belanda bertempur cuma ala kadarnya saja, dan sepertinya tidak kepingin mati untuk Irian Barat. Begitu teman-temannya terkena peluru, cedera atau tewas, langsung mereka mengundurkan diri. Sayang, psikologi ini tidak kita baca sebelumnya. Andaikata kita tahu suasana moril musuh ini, strategi dan taktik perang pihak kita mungkin akan lain. 

25 Juli pagi-pagi sekali kami keluar dari persembunyian disekitar hutan kampung Kelapa Lima, langsung menuju arah timur mencari induk pasukan, baik itu RPKAD maupun Raiders 530. Mula-mula kami kearah perbatasan PNG melalui daerah rawa-rawa kering. Makanan kami hanya terdiri dari daun bluntas dan daun nipah. Sesekali kami menangkap Biawak yang cukup banyak diwilayah tersebut. Bila dekat anak Sungai Maro, dengan gampang kami menangkap ikan gabus yang tidur dalam lumpur.

15 Juli 1962, timbul kejadian aneh. Tentara Belanda secara bertubi-tubi seperti menyirami pinggiran Sungai Maro dengan mortir dan peluru senapan mesin. Ini sampai 2 hari penuh dilakukan mereka. Kami yakin, induk pasukan kami berada disekitar sungai tersebut. Maka kami memutuskan menyusuri Kali Maro lagi kehulu.

Terus terang, kami belum pernah bertemu pasukan Raiders Yon 530. Maka hampir saja terjadi salah paham dan baku tembak. Untung kemudian terdengar orang bicara memakai bahasa Jawa diseberang sana. Setelah kami tanya, baru ketahuan mereka anggota Raiders Yon 530. Kami saling mendekat, berpelukan, bersalaman.

"Mana Komandan?" saya bertanya kepada salah seorang dari mereka.
"Komandan Kapten Bambang Soepeno berada sekitar 1-2 km dari sini"

Kami bersama-sama ke tempat Kapten Bambang Soepeno, Komandan Kompi Raiders 530/Brawijaya, yang juga merangkap Wakil Komandan Pasukan Operasi Naga. Saya melapor dan seterusnya bergabung dengan sisa 5 orang pasukan saya.

Sambil beristirahat setelah bergabung dengan Raiders 530, kami masih menunggu Bintara Kesehatan Serma Teguh Sutarmin yang mulai hari pertama tidak kami ketahui nasibnya bagaimana selama 3 hari. Mencarinya sekitar dropping zone dengan menggunakan kode pencarian kami, tapi tetap saja gagal. Sementara itu ada higgins boat patrol Belanda lewat. Kami biarkan saja kapal kecil itu lewat, dengan maksud membiarkannya bertemu dengan induk pasukan kami yang lebih besar. Dan benar saja, pada siang hari setelah 3 hari penerjunan, terjadi kontak senjata dengan pasukan RPKAD yang ternyata terjun lebih jauh ke hulu sungai.

Bersambung ...

profile picutre
Diposkan Oleh Erwin Parikesit (Kaskuser)
Abimanyu Dj

Situasi Politik Korsel Pengaruhi Program KFX/IFX

Meski tetap berusaha optimis, sinar kegalauan tampak tak bisa ditepis dari wajah Prof. Dr. Eddy S. Siradj. Dalam Lokakarya Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI yang berlangsung Kamis (20/12) di Gedung BPPT, Jakarta, dengan bersemangat Kabalitbang Kementerian Pertahanan ini memaparkan panjang lebar kisah perancangan jet tempur masa depan KFX/IFX (Korean-Indonesian Fighter Experiment) yang tengah digarap Indonesia dan Korea Selatan. Proyek prestise bilateral ini dikatakan baru saja menyelesaikan tahapan Technology Development, dan akan masuk ke tahapan Engineering Manufacturing Development. Ia tak bergeming ketika sejumlah peserta lokakarya menanyakan soal kesanggupan teknis dan finansial Indonesia.

“Kebijakan pemerintah untuk bekerja sama dengan Korea Selatan membuat KFX/IFX sudah disepakati pada 2009. Pemerintah optimis, masak saya selaku pelaksana tidak optimis?” tangkis Eddy menjawab pertanyaan kritis pengamat kedirgantaraan Chappy Hakim soal penyelesaian program ini. Mantan KSAU ini juga mempertanyakan kenapa justru bekerja sama dengan Korea? Ia rupanya risau terhadap efek Korea sebagai negara yang masih dalam status perang (dengan Korea Utara). Dalam kondisi seperti itu dikuatirkan Indonesia hanya akan menjadi bagian dari kepentingan Korea. Chappy juga mengkritisi soal KFX/IFX yang masih terbilang varian F-16. “Kenapa kita tidak buat yang benar-benar baru saja sekalian?” tanyanya.

Tapi lain halnya ketika Angkasa menanyakan soal upaya pemotongan anggaran pengembangan KFX untuk 2013 yang telah digelindingkan Pemerintah Korea. Rona wajahnya segera berubah. Ia tiba-tiba agak galau. “Ya itu, memang masalah itu pula yang tengah merundung teman-teman enjinir KFX/IFX di sana. Kini di Korea, untuk penggarapan proyek ini, ada 140 enjinir, 30 persen di antaranya dari Indonesia. Mereka masih sama-sama menunggu keputusan yang akan dibuat Parlemen Korea. Keputusan itu belum ada karena Korea baru akan membentuk parlemen yang baru usai terpilihnya Park Geun-hye sebagai presiden belum lama ini. Kini, kelangsungan KFX/IFX memang praktis tergantung pada situasi politik di sana,” tuturnya.

Seperti diberitakan www.angkasa.co.id, 6 Desember lalu, pemerintah Korea akan memotong anggaran pengembangan KFX untuk 2013 atas pertimbangan perkembangan ancaman dan keamanan regional, serta oleh sebab pembatalan keikutsertaan Turki dalam proyek ini. Di lain pihak, oleh karena China dan Jepang telah sama-sama membuat jet tempur generasi ke-5, Pemerintah Korea belakangan kian tertarik pada pesawat tempur setingkat yang telah lama ditawarkan Boeing, AS, yakni F-15 Silent Eagle. Pengalihan perhatian ini dikuatirkan akan menyedot anggaran yang tak kecil dan akan mengganggu proyek KFX/IFX yang sedang berjalan.

Mendampingi Eddy Siradj, Prof. Dr. Muljo Widodo, salah seorang pimpinan Tim Enjinir Indonesia, menjelaskan, kedua pihak sudah menyelesaikan tahap Feasibility Study dan Technology Development, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selanjutnya kedua tim akan masuk ke tahapan Engineering Manufacturing Development lalu terakhir Production. Kedua tim telah mengurai ada sebanyak 432 core technology yang akan diemban jet tempur generasi 4,5 ini, di mana 48 di antaranya belum dikuasai. Teknologi yang masih harus dipelajari ini umumnya ada di seputar kemampuan menghindar dari radar. Begitu pun kedua pihak sudah saling mengetahui kelebihan masing-masing.

Lain politisi, lain pula yang dipikirkan kaum teknokrat. Dua tahun bekerjasama rupanya telah membuat kedua tim enjinir mengenal cukup mendalam. Di mata tim Indonesia, Korea dinilai  telah memiliki kemampuan membuat hampir semua sub-sistem yang diperlukan KFX. Sementara di mata tim Korea, Indonesia dinilai luar dugaan karena telah menguasai segi Air Combat System yang semula dianggap amat sulit. Jika semua tahapan berjalan lancar, Block 1 dari pesawat ini akan masuk tahapan produksi pada 2020. Setelah itu, kedua negara akan berpisah melakukan sendiri proses upgrading sesuai kebutuhan masing-masing. Namun, sekali lagi, jalan ke arah itu akan ditentukan perkembangan mendatang, setelah Parlemen Korea yang baru terbentuk.

Angkasa

Jumat, 21 Desember 2012

Kapolda Jateng Perintahkan Tembak Mati Teroris

 Tidak akan ada tembakan peringatan untuk para teroris.

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Didiek S Triwidodo, mengatakan tidak akan ada tembakan peringatan untuk para pelaku teror saat perayaan Natal 2012 dan tahun baru 2013. Anggota polisi di Jateng diinstruksi untuk langsung menembak mati pelaku teror.

"Saya perintahkan tembak mati. Tidak ada tembakan peringatan atau tembakan melumpuhkan. Tembak mati langsung. Kalau kena ndase (kepala), ya tembak ndase," kata Didiek usai memimpin apel gelar pasukan Operasi Lilin Candi 2012 di lapangan Kota Barat, Solo, Jumat 21 Desember 2012

Selain itu, untuk mengantisipasi terulangnya teror di pos polisi selama pengamanan Natal dan Tahun Baru, Kepolisian akan mempersenjatai petugas yang berjaga. "Kalau dulu itu kan memang pos polisi hanya berjaga untuk pengaturan lalu lintas jadi tidak dipersenjatai. Sekarang dipersenjatai, kalau ada ancaman, tembak mati pelakunya," tegasnya.

Bahkan, pengamanan di pos polisi akan mendapatkan back up dari petugas TNI untuk ikut melakukan penjagaan. "Setiap pos polisi nanti akan ada petugas TNI yang berjaga," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Ansyaad Mbai, memperingatkan adanya ancaman teroris saat perayaan Natal dan tahun baru. Menurut dia, ada tiga wilayah di Indonesia yang sangat rawan, yaitu, Jawa Tengah, Jakarta, dan Poso di Sulawesi Tengah. (eh)

Kemhan kirim Teknisi PAL

(Kenyot10)
KEMHAN membantah kontrak PKR hanya mendapat nilai proyek 3 persen dari 220 Juta dollar AS. Sekjen Kemhan menjelaskan di media Kompas Cetax hari ini bahwa pihaknya telah mengirim 250 teknisi PT PAL ke Belanda dalam pembuatan kapal PKR 10514 tersebut.

"Tidak bisa dihitung dari nilai uang yang diterima PT PAL sebesar 3 persen dari 220 juta dollar AS. PT PAL dengan 250 teknisinya juga terlibat dalam pembangunan kapal di Belanda. Itu nilainya besar, tidak bisa dihitung semata dari pengerjaan beberapa juta dollar AS di Surabaya," kata Eris.

Dia pun menjelaskan pemilihan Damen Belanda sesuai prosedur. Perusahaan Belanda itu telah mengalahkan saingan dari Rusia maupun Italia. Dengan Anggaran 220 juta dollar AS tersebut termasuk platform kapal maupun meriam permukaan tapi tanpa peluncur rudal dan tabung terpedo.

Anggota Komisi I pun mengkritik pembelian PKR tersebut karena menurutnya ada keganjilan. Kembali Ia pun membandingkan PKR Belanda tersebut dengan Proyek Kornas kerjasama bersama Italia. Menurutnya dengan anggaran tersebut sudah termasuk alutsistanya dan akan di bangun di Surabaya, sehingga skala ToT nya lebih besar di terima Indonesia, ucapnya.

Ingin baca lebih detail silahkan zoom gambar diatas.(GM)

Kompas Cetax

KSAU Diminta Kurangi Ketergantungan Alutsista Luar

http://static.republika.co.id/uploads/images/square/the-new-chief-of-navy-vice-admiral-marsetyo-left-_121217204240-421.jpgJakarta - Marsekal Madya Ida Bagus Putu Dunia resmi menjabat kepala staf angkatan udara (KSAU) ke-19. Serah terima jabatan dipimpin oleh Panglima TNI Marsekal Agus Suhartono di Taxi Way Echo Lanud Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (21/12).

Setelah menjabat sebagai KSAU selama tiga tahun satu bulan 12 hari, Marsekal Imam Sufaat akan menjalani masa pensiun.

Dalam sambutannya, Panglima TNI menyatakan, rotasi jabatan merupakan hal wajar di lingkungan TNI. Ia memberi pesan kepada Ida Bagus untuk memperkuat alutsista dan penyempurnaan strategi keamanan udara sesuai sasaran kebijakan kemampuan pokok minimum kekuatan udara.

"Pentingnya menegakkan kedaulatan udaa nasional dalam rangka mendukung pertahanan udara," kata Panglima TNI. Ia mengimbau agar KSAU nanti juga memikirkan perkembangan dunia kedirgantaraan nasional untuk memperkuat sistem pertahanan udara Indonesia.

Dengan mengutamakan pengembangan dan pembelian industri dalam negeri, diharapkan industri dirgantara Indonesia bisa berkembang. "Diharapkan dengan begitu ketergantungan terhadap alutsista luar negeri bisa dikurangi," ujar Panglima TNI.

Ida Bagus merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1981 dan merupakan pria keturunan Tabanan, Bali. Ia memulai karier sebagai penerbang Wingdik 1 Lanud Adi Sutjipto. Kariernya mulai meroket pada 2011 menjabat gubernur AAU.

Pada Juli lalu, ia mendapat promosi bintang tiga dengan jabatan komandan sekolah staf dan komando (Dansesko) TNI. Berselang lima bulan, Ida Putu akan menyandang bintang empat dan menjadi putra Bali pertama yang menjadi orang nomor satu di lingkungan AU.

Republika

KRI Klewang Kedua Dibangun Tahun Depan

Banyuwangi - PT Lundin Industry Invest, perusahaan pembuat kapal perang asal Banyuwangi, Jawa Timur, akan memulai pembuatan KRI Klewang kedua pada Januari 2013. "Semaga awal 2013 bisa dimulai," kata Direktur PT Lundin, Lizza Lundin, melalui pesan pendek kemarin. KRI Klewang pertama, bernomor 625, terbakar habis di Selat Bali pada 28 September lalu.

Kapal seharga Rp 114 miliar ini diluncurkan pada 31 Agustus 2012. Penyebab kebakaran adalah korsleting listrik pada saat pemasangan mesin dan instalasi listrik di galangan ke kapal. Menurut Lizza, Klewang kedua akan dibuat dengan bahan yang sama, yakni komposit karbon, dan dilengkapi dengan teknologi anti-terbakar. Hal itu, kata Lizza, dilakukan agar insiden terbakarnya Klewang pertama tidak berulang. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Surapati mengatakan Angkatan Laut sedang mengkaji tiga opsi penggantian kapal perang KRI Klewang 625. "Sampai hari ini kami belum memutuskan memilih opsi yang mana," kata Untung.

Opsi pertama, kapal baru dengan material sejenis kapal lama, namun dengan kualitas bahan yang lebih baik.
Opsi kedua, kapal sejenis namun materialnya diganti, dari komposit fiber menjadi baja atau aluminium.
Opsi ketiga, jenis kapal diganti menjadi KCR-60.

Menurut Untung, saat ini Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan, Banten, masih menguji material komposit fiber. Kalau material itu dinilai baik, TNI AL mungkin akan memilih opsi yang pertama. "Tapi, dengan catatan kualitas bahannya kelas satu," kata dia.

Untung memastikan TNI AL tidak mengeluarkan duit sepeser pun dalam pembuatan KRI Klewang baru. Sebab, dalam kontrak, kata Untung, PT Lundin sebagai produsen bersedia bertanggung jawab melakukan penggantian jika terjadi kerusakan kapal. "Alternatif mana pun yang kami pilih, Lundin siap mengganti," kata Untung.

Koran Tempo

☆ Ben Mboi : Dokter, Prajurit Para Komando (1)

Artikel dibawah ini seluruhnya dikutip dari Buku Biografi Ben Mboi - Dokter, Memoar Prajurit, Pamong Praja. Suntingan Sdr. Candra Gautama & Sdr. Riant Nugroho - Terbitan KPG Desember 2011. 

Deklarasi Tri Komando Rakyat

Setelah wisuda, kami berbondong-bondong ke Kementerian Kesehatan di Jl. Kwitang. Sebenarnya sebagai pegawai Kementerian PP&K dengan mudah saya dapat menerima tawaran Prof.Hanifa untuk menjadi asisten kebidanan. Tetapi saya mendaftarkan diri ke Kementerian Kesehatan agar ditempatkan di Flores karena alasan sekian tahun mendapat beasiswa dari Flores. Suatu peluang hilang! Namun saya tidak pernah menganggap pilihan tersebut sebagai satu kerugian. Bagaimanapun, saya mempunyai kewajiban moril untuk membalas jasa rakyat Flores. Dan, karena saya memilih profesi dokter dan telah memilih pegawai negeri, maka diperlukan lolos butuh dari Kementerian PP&K.

Tapi entah apa sebabnya, ada perubahan kebijakan : seluruh dokter angkatan 1961 yang datang mendaftarkan diri ke Kemkes dialihkan ke Program Wajib Militer (Wamil) Angkatan Darat, baik dari UI, UGM, maupun Airlangga. Kebetulan pada masa itu Menteri Kesehatan dirangkap oleh Direktur Kesehatan AD, Mayjen Prof.Dr.Satrio, dulu guru besar Anatomi saya.

Komandan Pusdikkes AD adalah Kolonel Dr. Ronodirdjo dengan Kepala Staf Kolonel Latief. Koloel Latief ini empat tahun kemudiannya terkenal sebagai Komandan Brigade Infanteri I/Jaya Sakti Kodam V Jaya dan dedengkot Gerakan 30 September. Di Kramat Jati terpusat Pendidikan Perwira Cadangan (Pacad) Kesehatan, dan di Salemba Pendidikan Bintara Kesehatan AD. Tetapi kami sehari-hari dipimpin oleh Kapten Mansoer sebagai Komandan Kompi Siswa dibantu oleh Peltu Londa dan Serma Salimin sebagai Sersan Pelatih.

Atmosfer dalam pendidikan cukup santai karena tidak ada orang yang percaya akan meletusnya perang, dan bahwa pasti para dokter akan ditempatkan digaris belakang sekiranya perang benar-benar meletus. Saya terpilih sebagai Ketua Senat Siswa Pacad V. Pengalaman aneh saya sepanjang pendidikan, Komandan sangat takut kepada saya. Kalau saya bertanya, dia sangat gugup. Kalau giliran periksa senjata, kami suka tukar-tukaran senapan Garrand kami. Senapan yang bersih pada saya bisa jadi kotor pada siswa lain. Tiap kali gerakan regu atau peleton, saya selalu diberi tugas Danru atau Danton. Aneh!

Selama latihan ada peristiwa penting yang erat berhubungan dengan pendidikan Pacad kami : Pertama, Deklarasi Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogya tanggal 19 Desember 1961 oleh Presiden Republik Indonesia, Bung Karno. Sikap para siswa Pacad masih tetap sama, tidak mungkin perang! Bagaimana mungkin perang? Bagaimana cara perangnya? Perangkan harus ke Irian Barat, bagaimana caranya? Jadi Pacad ini lebih bertujuan untuk mewamilkan para dokter muda, dan dikirm ke daerah secara setengah paksa. Kalau toh akan perang, pasti dokter-dokter ditempatkan digaris belakang. Kan dokter itu mahal, tidak mungkin secara gampang menjadi umpan peluru. Begitulah logika para siswa Pacad. Tenang-tengan saja!

Kedua, pada 15 Januari 1962 kami dikejutkan dengan berita bahwa di Teluk Etna, Laut Arafuru MTB AL KRI Macan Tutul ditenggelamkan oleh AL Belanda. Ikut gugur Komodor Jos Sudarso, Deputy Operasi Mabes AL. Maka terjadi kegegeran di Pusdik Kramat Jati. Wah serius nih!...perang beneran ini!

Macam-macam cerita beredar, entah mana yang benar, tapi semua pada menyalahkan AURI mengapa tidak bereaksi ketika kelompok MTB itu diserang oleh Frigat-Frigat, Neptune AL Belanda yang telah menunggu selama beberapa hari. Konon KSAL Laksamana RE. Martadinata, sangat marah dan dalam rapat dengan Bung Karno menuntut mundurnya Suryadharma sebagai KSAU. Tanda tanya makin bertambah karena beberapa hari kemudian di bulan Januari yang sama helikopter yang ditumpangi oleh KSAL Laksamana RE. Martadinata, jatuh di Gn. Riung Puncak, Jawa Barat. Semua kejadian itu simpang siur. Ada apa ditubuh tentara kita? Masalah agak terkuak ketika KSAU Suryadharma digantikan oleh Omar Dhani. Ada yang tidak beres dalam tentara kita, tapi itu bukan urusan siswa Pacad Kesehatan. Sampai sekarang pun misteri 15 Januari 1962 tidak pernah terungkap dengan benar.

Entah kalau di Seskoal atau Seskogab. Bagi kami para siswa, ada pengumuman singkat : Kursus Dipecepat! Itu yang bikin kaget. Apa maksud memperpendek kurikulum Pacad? Berarti kami akan menjadi perwira setengah matang, setengah ilmu, setengah keterampilan, plus setengah keberanian.

Bulan Maret Tiba. Kami selesai dengan segala tentamen yang diperlukan dan akan dilantik oleh Wakil KSAD Letjen Gatot Subroto. Saya terpilih menjadi satu dari empat perwakilan menurut agama : Katolik, Protestan, Islam, dan Hindu. Saya menjadi Letnan Satu Dokter dengan Nrp. 6135406.

Menjadi Paratropper

Akhir Maret atau awal April, Lettu Dr. Goh Hoh Sang, Lettu Dr. Djatmiko, Lettu Dr. Asril Aini, Lettu Dr. Rudy Pattiatta, dan saya Lettu Dr. Ben Mboi dipanggil oleh Aspers Kessad, Letkol Dr. Soeparto. “Saudara-saudara terpilih untuk menjadi dokter paratropper pertama. Seterusnya saudara-saudara diperintahkan ke Margahayu dan Batujajar untuk menjalani latihan terjun payung”. Bersama dengan kami berlima, juga ada satu Batalion Raiders ikut berlatih, entah dari Batalion Raiders mana. Pada hari penerjunan kedua, terjadi kecelakaan payung terjun yang kami saksikan untuk pertama kali. Parasut seorang prajurit Raiders gagal terbuka. Dia free fall beneran setinggi 700 meter. Kakinya sampai masuk kedalam tubuhnya. Komandan dari latihan di Batujajar mengumpulkan kami semua dan seluruh anggota Raiders. “Hari ini latihan dihentikan. Siapa yang ingin mundur pada saat ini silahkan mundur!” Kami semua tidak ada yang mau mundur. Kami semua siap meneruskan latihan.

Pada rombongan terjun kami turut juga Mayjen Soeharto, Panglima Kostrad dan juga Panglima Mandala. Kenyataan ini juga membuat kami menjadi semakin berani dan bersemangat melanjutkan latihan terjun sehingga selesai, dan terjun terakhir adalah terjun malam hari yang dianggap sebagai Wing Day. Setelah lulus, kami kembali ke Jakarta dengan bangga memakai Wing Para di dada kiri.

Sepulang dari Margahayu, kami berlima boleh mengambil cuti. Jadi secara teoritis saya boleh pulang bercuti ke Flores. Namun karena letaknya terlalu jauh, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta. Di mess para dokter RSPAD. Saya pakai waktu senggang untuk magang di bagian bedah.

Eh suatu hari di awal Mei saya dipanggil oleh Aspers Dikesad, Letkol Dr. Soeparto.
“Ben Mboi, kamu dinyatakan combat ready!” katanya singkat.
“Ada satu pasukan akan diterjunkan dalam waktu dekat”.
“Mengapa saya Overste?” saya bertanya.
“Kawan kamu si Anu dari PDAD ( Pendidikan Dokter AD ) menolak karena bulan ini akan menikah.”
“Oh ya? Kalau begitu saya jangan diperintah Overste!. Saya melamar!”
Dia diam, dan tampaknya statement saya itu sebagai konfirmasi.

Dari tempat Letkol Soeparto saya ketempat Kapten Haryono, perwira personalia yang mengurus kepentingan para perwira kesehatan sehari-hari.
“Kapten, saya minta dimilsukan sebelum terjun di Irian Barat. Saya tidak mau terjun sebagai Wamil.” (Milsuk adalah militer sukarela).
“Wah, tidak bisa. Untuk menjadi milsuk perlu latihan-latihan lagi. Tidak bisa pindah begitu saja,” dia menjawab.
Dalam hati saya sudah mau pergi mati masih menghadapi birokrasi berbelit-belit. Kapten ini tidak mengerti semangat yang ada dalam jiwa saya. Saya ragu apakah dia pernah mengalami perjuangan dan perang beneran. Saya tidak mau berdebat lagi. Ketika kemudian hari saya pulang dari Irian Barat, selesai Trikora, saya temukan satu telegram yang dikirim pada November 1962, menjelaskan bahwa saya dimilsukkan dan dapat pangkat Kapten. Terus terang, pada sata pendaftaran Pacad, sebenarnya saya berstatus pegawai negeri golongan F-II dengan ikatan dinas lima tahun.

Sesuai peraturan kepangkatan lama, seyogyanya ada penyesuaian kepangkatan saya sebagai Kapten. Tetapi tepat pada angkatan saya, Pacad V, peraturan ini dihapuskan. Entah alasannya apa!. Saya tidak perdebatkan lagi kepangkatan, karena saya lebih dulukan kepejuangan demi kprajuritan saya. Ada prajurit tidak berjuang, ada pejuang yang bukan prajurit. Pangkat is not my issue!.

Tugas saya segera adalah: Pertama, menggabungkan diri dengan pasukan saya di Cijantung. Kedua, menyiapkan perbekalan farmasi dan kedokteran. Ketiga, mencari tahu Bintara Kesehatan yang akan mendampingi saya. Ternyata telah siap Serma Kesehatan Teguh Sutarmin dan Serma Kesehatan Amwat.

Perlengkapan farmasi dan kedokteran semuanya tidak kurang dari satu pluzak ditambah satu tumpuk stensilan tentang flora dan fauna Irian Barat, berisi info tentang tumbuhan dan binatang bermanfaat maupun beracun dalam bahasa lokal, Indonesia, dan Latin. Yang paling mengerikan adalah tiga jenis Ular Papua berbisa yang sangat mematikan. Terkenal dengan nama The Back Papuan Snakes. Celakanya, serum anti bisa ular buatan Kimia Farma tidak mempan. Harus diimport dari Australia. Bagaimana mendapatkannya? Tapi toh serum anti bisa buatan Kimia Farma tetaplah dibawa. Namun, ironisnya lagi, tidak ada ice box untuk serum!. Maka saya katakan, “Ini lebih sebagai berjuang dan berperang.: Syarat-syarat teknis untuk berperang jauh dari cukup.”

Setelah semua persiapan selesai, saya pergi melapor kepada komandan saya nanti: Kapten Inf. Benny Moerdani. Saya diperkenalkan Kapten Benny kepada pasukannya, 1 Peleton Plus berkekuatan 50 orang. Tambah kami bertiga menjadi 53 orang. Perkenalan dilakukan dilapangan tembak, dimana para prajurit sedang berlatih menggunakan senapan AK-47.

Begitu dikatakan seorang dokter, perwira kesehatan akan ikut serta, seluruh pasukan langsung sumringah, naik morilnya. Baru saya menyadari bahwa tugas utama seorang dokter, perwira kesehatan dalam perang gerilya adalah to boost to morale of the troop ketimbang melakuakn tugas-tugas teknis medis. Lebih meningkatkan keberanian berperang daripada melakukan pekerjaan dokter di medan perang itu sendiri.

Sepanjang bulan Mei dan awal Juni, tiap hari pukul lima pagi, saya dijemput, dibawa ke Cijantung untuk ikut latihan-latihan dengan para prajurit, antara lain turun dari pohon dengan menggunakan tali dan snipering.

Pembebasan Irian Barat, The One Way Ticket

Pertengahan Juni 1962, kami pemilik Wing-Para diundang makan malam dirumah Menteri Kesehatan/Direktur Kesehatan AD, Brigjen Dr. Satrio di Jalan Mangunsarkoro. Banyak perwira dari Ditkes AD beserta istri ada disana. Saya datang bersama pacar saya.

Tidak ada pidato seingat saya, tapi tiba-tiba saya menjadi titik tengah karena potongan pertama tumpeng diserahkan kepada saya, baru kepada orang lain. Saya mendengar para ibu-ibu berbisik pelan sesamanya melihat saya menerima tumpeng itu: “Kasihan!”

Mungkin isu akan ada penerjunan disertai dokter sudah diketahui. Pikiran saya juga jauh sekali: The war is becoming real!

Bagi saya perang masih sesuatu yang aneh, tidak ada pengalaman, kecuali melalui vuurdoop (baptis dengan api) pada penutupan dan dopper di Pusdikkes tempo hari. Tapi itukan tembakan yang diatur ketingian dan arahnya, bagaimana dengan perang beneran? tembakan beneran? Pikiran saya berkecamuk.

Perang! Jelas 1000 kali lebih dahsyat! Jadi keberanian di depan Letkol Soeparto itu kadang-kadang diganti oleh ketakutan dan keraguan. Tapi tekad untuk menunjukkan naluri bela negara sentiasa membangkitlan lagi keberanian. Jadi ketakutan dan keberanian silih berganti. Pukul 10 malam jamuan bubar. Saya anggap acara tumpengan tadi seperti mohon doa restu dan berkat Tuhan Allah bagi perjuangan yang akan saya tempuh sebentar lagi. Saya pulang ke asrama RSPAD dengan keyakinan pomimpin kesehatan AD mendoakan operasi ini, apapun namanya.

Masih lekat dalam ingatan saya peristiwa tanggal 22 Juni 1962 pukul 14.00, ketika saya sedang tidur siang. Terdengar ketukan di pintu kamar, seorang Sersan RPKAD melapor:

“Letnan, sejak saat ini Letnan dinyatakan ready for combat, siap tempur. Tidak boleh beritahu siapapun! Kepada saya supaya diberikan alamat orang yang bisa dihubungi di Jakarta, bila ada yang perlu disampaikan. Siapkan perlengkapan, jemputan pukul 17.00 tepat.”

Saya pergi ke asrama St.Ursula RSPAD di jalan Pos 2, asrama pacara saya. Saya menjemput dia untuk mengurus barang-barang saya di RSPAD. Tidak banyak pembicaraan, memang sukar mencari kata-kata. Pada saat perpisahan dia memberikan saya sebuah buku untuk catatan harian selama perang. How thoughtful she was! Saya sendiri tidak pikirkan.

Pukul 17.00 sore tepat, saya dijemput dengan kenderaan Jeep Gaz dan dibawa ke rumah Kapten Benny Moerdani di Cijantung. Disana juga akan bergabung Letda Czi I Gede Awet Sara dari Zipur. Malam itu ada briefing singkat dari Kapten Benny.

“Operasi ini Operasi Naga namanya. Kita akan diterjunkan di Irian Barat bagian selatan. Persisnya dimana, nanti akan dijelaskan”. Begitu briefing singkat komandan operasi.

Para perwira, artinya Letda Czi I Gede Awet Sara (Dandenzipassus), Letda Inf. Soedarto (Dantonpassus), dan saya Lettu Dr. Ben Mboi (Dandenkespassus), semuanya menginap dirumah Kapten Benny, karena tepat pukul 4 dinihari besok akan ke Halim Perdanakusumah dalam satu kenderaan.

Kapten Benny masih bujangan, jadi kami diurus oleh ajudannya. Makan malam biasa-biasa saja, dan saya seperti tidak punya nafsu makan. Sesudah makan langsung tidur, tetapi saya sulit tidur. Muncul macam-macam pikiran yang membuat mata terus terbuka, menerawang. Kalau kita menonton filem-filem perang, seperti filem D Day Normandia, kadang-kadang akan kita rasakan ketegangan para prajurit paratrooper dalam landing boat ke pantai. Tapi perasaan itu tidaklah sama dengan perasaan kalau kita sendiri yang harus menghadapi pertempuran.

Pergi menuju perang seperti Operasi Naga, seolah kita tidak tahu hendak pergi kemana meski pertempurannya pasti. Kita tidak tahu apakah akan terluka atau tidak, akan hidup atau tidak, akan pulang atau tidak, dan katanya hutan belantara dirimba Papua luar biasa lebatnya. Siapa yang tidak takut? Belum lagi binatang buas, dan saya harus menolong/menyembuhkan para prajurit komando itu. Saya sendiripun baru lulus sekolah kedokteran dan Perwira Cadangan AD. Pikiran-pikiran berkecamuk dan saya pun tertidur.

Tidak lama kemudian dibangunkan, sudah pukul 03.00 pagi lewat. Kami mandi, berpakaian, sarapan, dan naik Jeep Gaz Kapten Benny. Kami bersama-sama berangkat pukul 04.00 tepat ke Halim Perdanakusumah. Disana sudah menanti tiga Hercules. Seluruh peleton plus RPKAD yang berjumlah 53 orang dalam satu Hercules. Konvoy Hercules dipimpin Oleh Letkol Pnb. Slamet, dengan Navigator Mayor Nav. Ir. Tan, yang diumumkan sebagai Navigator terbaik AURI. Ketiga Hercules Take off menembus keremangan dinihari.

Pukul 07.00 23 Juni 1963 kami mendarat disuatu lapangan terbang. Ternyata Lanud Iswahjudi Madiun. Rupanya kedua Hercules yang kosong tadi untuk mengangkut Kompi Bambang Soepeno Yon 530/Raider Brawijaya berkekuatan 160 orang. Jadi seluruh personil Operasi Naga berkekuatan 1 Kompi Plus berjumlah 213 orang. Kurang lebih satu jam di Madiun, penerbangan diteruskan. Tidak tahu kemana.

Pukul 12.00 kami mendarat. Ternyata Lanud Mandai di Makassar. Kami semua diperintahkan debarkasi dan menanti perintah selanjutnya. Makan siang di apron Lanud Mandai. Secara kebetulan saya bertemu seorang kawan Kapten Pilot Garuda, namanya Ariffin. Kami sama-sama punya pacar di Asrama Ursula.
“Ben Mboi, tidak telefon calon mertua?” dia bertanya.
“Tidak,” saya jawab. “Tidak tahu nomor teleponnya.”
Saya tidak berani melepon, karena tidak dibenarkan untuk menelpon sesiapapun. It is becoming real, my war is real!

Jump Into The Unknown: The Sky Above, The Mud Below

Setelah makan siang di Mandai, penerbangan dilanjutkan. Destination unknown! Kira-kira pukul setengah lima sore kami mendarat di lapangan terbang tanpa gedung. Amahai, suatu tempat di Pulau Seram. Saya belum pernah mendengar nama Amahai. Kami diperintah debarkasi dan terus pergi mandi di suatu sungai kecil dekat landasan. Belakangan saya tahu, maksudnya adalah karena diperkirakan ada yang akan gugur, maka sebaiknya mandi dulu!.

Setelah mandi makan malam – makan terakhir yang saya tau jam makannya pukul 18.30. Setelah makan sore/malam, para perwira dan bintara dikumpulkan dibawah suatu tenda daun kelapa. Yang memberi briefing tidak tanggung-tanggung! Langsung Panglima Mandala sendiri. Mayjen Soeharto. briefing nya singkat :

“Kalian akan diterjunkan di daerah Merauke, Irian Barat bagian selatan. Mengapa di Merauke?

Pertama : Tiap kali kita menyanyikan dari Sabang sampai Merauke, kita tahu/sadar bahwa Merauke masih diluar Indonesia Merdeka. Tugas kalian adalah secara konkret menarik garis Sabang-Merauke itu, sehingga Merauke de facto bagian NKRI.

Kedua : Di Biak ada tumpukan 10.000 Marinir AL Belanda, sedangkan disana nantinya tujuan Operasi Jayawijaya. Kalian bertugas memancing sebagian pasukan itu keluar dari Biak.

Ketiga : Sampai sekarang, semua pasukan terdahulu yang diterjunkan hilang 100 persen!. Malah dari kalian ini diperkirakan gugur 60 persen, kembali 40 persen. Saya berikan waktu 1 menit untuk mundur. Mundur sekarang, bukan penghianat! Kalau setelah itu, dia adalah penghianat!”
Saya melihat kekiri dan kekanan, tidak ada yang angkat tangan mundur. Saya juga tidak mau mundur!

Briefing kedua diberikan oleh Komandan Gugus Tugas Operasi Naga, Kapten Inf. Benny Moerdani. Briefing nya lebih detail, disertai dengan peta Irian Barat bagian selatan, US Army Map 1937. Saya melihat Kali Maro dan Kali Kumbe. Kami akan diterjunkan disebelah timur Kali Maro, lebih kurang 50 km di utara kota Merauke. Paling lambat tanggal 1 Juli melakukan konsolidasi di suatu titik, ujung dari suatu jalan setapak yang menjurus kearah timur laut dropping zone. Masing-masing kami diberi buku kecil tentang Irian Barat dengan peta yang besarnya 10x15cm.
"Ada pertanyaan?"
"Tidak ada !"
"Sudah jelas semua?"
"Sudah!"
Semua dibekali dengan ransum NAR (Nasi kaleng), masing-masing prajurit mendapat jatah tujuh kaleng untuk tujuh hari akan datang. Harapannya akan bertemu tanggal 1 Juli!.
"Ayo naik pesawat!"
Kami satu persatu menuju pesawat dengan bagasi masing-masing. Kapten Benny memeriksa dari pesawat ke pesawat dan berteriak supaya cepat naik. Didepan pintu embarkasi pesawat tiba-tiba muncul dari kegelapan seorang kawan sesama Pacad angkatan V, Lettu Dr. Liem Tjing Ham. Dia datang membesarkan semangat saya.
"Hou je taai, ya Mboi!"
Katanya dalam bahasa Belanda, artinya ya tabah ya Mboi!

Saya tidak menjawab lagi karena berkecamuk perasaan takut dan rasa haru berpisah. Saya naik kepesawat dengan beban sama berat dengan badan saya, dengan payung terjun buatan Russia yang sama sekali belum pernah kami coba!. 

Stick saya 10 orang. Penerjun pertama, Serma Kesehatan Teguh Sutarmin, kedua Serma Amwat, lalu saya. Menyusul dibelakang Serda Achyat, Serma Kasmin, Serma Rumasukun, Pelda Ismail, Serda Soepangat, Serda Suyatno, dan Serma Sutiyono.

Saya duduk dipesawat sudah dengan memakai seluruh perlengkapan dalam urutan sebagai berikut:

Jungle dress, smock, zwemvest, payung induk punggung, payung cadangan dibawah dagu, ransel dibawah payung cadangan, plujezak kedokteran tergantung dibawah ransel. Pada kopelrim tergantung pistol dan tali dengan snipering. Pemakaian zwemvest adalah sebagai precaution kalau-kalau jatuh ditengah-tengah sungai Maro, yang lebarnya tidak ada bandingannya sama sekali dengan sungai-sungai di Pulau Jawa.

Take off sekitar pukul 11.00 malam waktu Maluku, berarti pukul 12.00 malam waktu Papua. Prajurit-prajurit kawakan RPKAD ada yang ngobrol, malahan bernyanyi-nyanyi. Seperti mau piknik saja. Mungkin karena sebagian senior-senior RPKAD itu adalah bekas pasukan Korps Speciale Troepen zaman Belanda dibawah pimpinan Westerling. Jadi sudah makan asam garam komando pertempuran.

Tetapi sebagian ada juga prajurit komando yang sama dengan saya, baru mengalami vuurdrop dilatihan perang-perangan di Pusdik. Tidak heran kalau ada satu prajurit saking gugupnya, mungkin karena rasa takut, kelepasan membuka payungnya dalam pesawat, sehingga ruang Hercules penuh terisi payungnya. Dia batal terjun.

Saya sendiri langsung duduk dan mulai berdoa rosario. Saya lupa berapa rosario saya habiskan, sampai ada bunyi bel tanda ready to jump, dan pintu terjun menganga lebar.

Bersambung ...

profile picutre
Diposkan Oleh Erwin Parikesit (Kaskuser)
Abimanyu Dj