Sabtu, 19 Januari 2013

Wiranto: Prabowo Dipecat dari Militer karena Penculikan

http://img.okeinfo.net/dynamic/content/2013/01/18/62/748188/GjC4UNa7IG.jpg?w=400Jakarta | Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah meloloskan sepuluh partai untuk ikut Pemilu 2014 nanti. Satu diantaranya adalah partai Hanura. 

Partai besutan mantan Jendral TNI, Wiranto ini telah melakukan konsolidasi organisasi jauh hari sebelumnya. Itu kenapa Hanura tidak kesulitan memenuhi berbagai syarat verifikasi yang jauh lebih berat dari sebelumnya. 

Untuk kesekian kalinya, mantan Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid ini berniat mencalonkan diri sebagai presiden.

Pemimpin Redaksi MNC News, Arya Sinulingga berkesempatan melakukan wawancara dengan Wiranto. Dia bercerita banyak hal, dari mulai mengapa tak ambil kesempatan untuk jadi presiden saat Soeharto lengser hingga menuturkan penculikan yang diduga dilakukan Prabowo dan kenapa mantan Panglima Kostrad itu dipecat. 

Berikut hasil wawancara Arya dengan Wiranto dalam acara One on One, MNC News.

Arya Sinulingga : Hanura menjadi partai peserta pemilu di 2014. Menurut anda faktor apa yang membedakan Hanura dengan partai lain yang tidak lolos? Banyak partai lama tidak lolos.

Wiranto : Memang persyarataan kali ini lebih ketat dibandingkan dengan verifikasi beberapa tahun lalu. Ada peningkatan persentase, baik dari tingkat provinsi, kabupaten kota, hingga kecamatan. Partai-partai yang tidak lengkap sulit untuk melengkapi itu. Hanura kebetulan sudah dua tahun ini melaksanakan konsolidasi organisasi. Bukan karena kami mengantisipasi. Tapi kami menangkap politik tanpa organisasi yang solid dan merakyat tidak mungkin menang.

Kedua, kita mempunyai hampir seribu kader di seluruh Indonesia tersebar di seluruh walikota yang tentunya mereka merupakan garda depan untuk membangun organisasi yang lengkap. Sehingga, mudah bagi kami menggembangkan organisasi yang ada.

Arya Sinulingga : Hanura lebih kuat di daerah dibanding di pusat. Apa karena itu Hanura bisa lolos?

Wiranto : Iya betul. Walaupun DPR pusat kami nomor sembilan.Tapi untuk DPRD kami nomor lima. Hampir seribu, itu yang memudahkan kami untuk bergerak.

Arya Sinulingga : Anda mengajak partai-partai yang tidak lolos untuk ikut Hanura. Tapi, apa mereka bisa mengikuti platfrom Hanura?

Wiranto : Ya mau tidak mau ya harus mengikuti. Karena memang konsep kami membangun Hanura memang berdasarkan dari satu keinginan agar para calon pemimpin dididik partai politik. Partai politik yang memiliki otoritas mendidik calon pemimpin sesuai dengan konstitusi kita. Mereka sudah kita biasakan untuk menggunakan hati nurani jangan sampai terjebak kepada adidium di partai politik bahwa partai politik itu kotor, bahwa di wilayah politik itu menghalalkan semua cara. Kalau ini terus kita biarkan, ya sama saja kita mendidik calon pemimpin dengan cara-cara yang kotor.

Arya Sinulingga : Bagaimana sikap Hanura dengan RUU Kamnas? Kabarnya Hanura lagi menunggu jawaban anda.

Wiranto : Begini sebenarnya RUU Kamnas itu memang perlu ya. Negara tanpa undang-undang keamanan nasional itu sama saja kita membiarkan negeri kita telanjang tanpa suatu upaya-upaya untuk menggamankan situasi negri ini yang merupakan persyarataan untuk kita bisa membangun. Sebab tidak mungkin kita membangun tanpa keadaan yang aman. Tidak mungkin kita membangun negara dalam keadaan yang tidak kondusif.

Maka mesti kita masuk ke wilayah yang aman itu. Nah ini butuh undang-undang itu. Hanya saja undang-undang itu jangan hanya kemudian memberangus demokrasi yang sedang berjalan. Jangan sampai undang-undang itu kita buat bertabrakan dengan demokrasi yang sedang kita bangun. Kami bermain di situ jadi kami hanya mencermati beberapa pasal-pasal dari undang-undang Kamnas yang kami anggap harus ada suatu modifikasi sehingga tidak bertabrakan dengan proses demokrasi yang sedang kita bangun.

Arya Sinulingga : Soal demokrasi, dulu ketika presiden Soeharto akan turun, ada sebuah surat yang sama seperti Supersemar. Sepucuk surat untuk mengambil kekuasaan. Kenapa anda tidak mengambil kesempatan itu?

Wiranto : Sebenarnya begini, itu kan  intruksi presiden. Kepanjangan dari Tap MPR nomor 5 bahwa presiden dalam keadaan krisis di negeri ini berhak untuk melakukan langkah-langkah khusus. Maka beliau menerbitkan surat perintah itu. Intinya memberikan kekuasaan kepada saya untuk melakukan kebijakan tingkat nasional apapun yang diperlukan dan membantu apa yang saya lakukan. Dan saya sebagai panglima komando operasi keselamatan negara waktu itu.

Artinya apa, dengan surat itu kita memang bisa menggumumkan darurat militer di wilayah internasional, kemudian mendirikan pemerintahaan sementara. Kemudian baru dipercepat seperti yang dilakukan di Thailand. Tetapi waktu itu, pertimbangannya begini. Apa manfaatnya kalau kita lakukan itu? Setelah kita kaji, maka ternyata manfaatnya kecil. Kita akan mendapatkan reaksi yang luar biasa. Baik internal domestik maupun internasional. Akan memberikan cap Indonesia masuk ke rezim militer. Biasanya rezim militer tidak diterima dalam komunitas internasional. Akan ada suatu embargo ekonomi. Padahal dalam negeri sendiri saya melanjutkan pemerintahaan yang sedang jatuh dengan sepucuk surat dari presiden yang baru di jatuhkan. Berarti akan ada anggapan bahwa saya melanjutkan pemerintahan yang lama.

Arya Sinulingga : Legitimasinya kurang?

Wiranto :
Pasti akan berhadapan, berlawanan dengan rakyat. Tidak pernah ada seorang pemimpin yang melawan rakyat. Itu kan yang terjadi di domestik apalagi keadaan ekonomi sedang terpuruk waktu itu kan. Kita butuh bantuan internasional.

Pada saat internasional tidak membantu yang terjadi di Indonesia seperti apa. Belum lagi korban, mahasiswa akan bertambah. Karena itu saya putuskan bahwa pada saat saya kembali ke markas ya staf saya bertanya apa saya akan ambil alih, saya katakan tidak, mari kita antarkan sesuai konstitusi yang ada.

Arya Sinulingga : Sebagai aktivis, waktu itu kami kaget Prabowo tiba-tiba press confrence. Kami semua kebingungan. Ada rahasia sejarah yang sampai hari ini masyarakat tidak tahu bagaimana bisa Prabowo tertinggal di sini, sementara anda pergi ke Jawa Timur pada saat itu. Bagaimana bisa terjadi?

Wiranto : Pak Prabowo ikut.

Arya Sinulingga : Ikut?

Wiranto : Tetapi begini ya, saya jelaskan supaya jelas kepada masyarakat. Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu tidak punya kewenangan komando walaupun namanya panglima cadangan strategis. Tugasnya hanya membina, pasukan pemukul cepat, strategis sebagai cadangan. ABRI  waktu itu yang menggerakan hanya atas komando panglima ABRI.

Jadi kalau Panglima Kostrad menggerakan pasukan atas perintah dia, tidak akan dituruti oleh pasukan. Karena yang diikuti hanya pangglima ABRI. Panglima Kostrad adalah sebagai satu komando pembina dari unit-unit yang nanti akan diserahkan kepada panglima. Jadi jangan sampai disalah artikan bahwa seorang Panglima Kostrad bisa berbuat apa saja dengan pasukan.

Arya Sinulingga: Kenapa Prabowo di pecat oleh militer pada waktu itu? Apa latarbelakangnya?

Wiranto : Itu bukan karena permasalahan pasukan. Kelanjutan dari masaah penculikan.

Arya Sinulingga : Apa memang terbukti Prabowo melakukan penculikan?

Wiranto : Ya, kalau tidak ada tentunya tidak dipecat.

Arya Sinulingga : Kenapa tidak ditangkap atau dipenjara, kalau memang terbukti?

Wiranto : Prosesnya kan ada. Kalau saya jelaskan satu jam tidak cukup. Karena ada satu pemilahan antara misscontrol dari seorang panglima. Satu lagi over reaksi dari suatu perintah. Semua ada prosedurnya. Dewan kehormatan kemudian memeriksa, kemudian memberikan suatu kesimpulan dan memberikan rekomendasi.

Arya Sinulingga : Apakah karena mantu dari Soeharto dia tidak dipenjara?

Wiranto : Oh tidak, justru waktu itu Pak Harto sendiri dan Pak Habibie menyerahkan kepada ABRI. Saya juga tidak mengambil keputusan pribadi. Tapi saya terakhir berikan pada Dewan Kehormatan Perwira yang terdiri dari banyak perwira bintang empat dan bintang tiga.

Arya Sinulingga : Dengan tindakan itu, sebenarnya seharusnya di penjara atau tidak?

Wiranto : Ya kenyataanya memang Dewan Kehormatan Perwira menyarankan supaya ada pemberhentian dari dinas militer.

Arya Sinulingga : Padahal kasusnya sangat berat. Penculikan itu kan menghilangkan orang?

Wiranto : Orangnya kan ada. Dibebaskan semua.

Arya Sinulingga : Sejarah ini penting diketahui oleh generasi muda. Ini kenapa kita tanya kepada sumber utamanya, yaitu anda.

Wiranto : Prabowo itu karena masalah penculikan kemudian diberhentikan dari milter. Kemudian anak buahnya yang melaksanakan proses penculikan itu diberikan hukuman sesuai dengan tingkatan keterlibatan mereka.

Arya Sinulingga : Saya pernah lihat foto anda saat sedang berbicara ada Pak SBY di belakangnya.

Wiranto :
Dia kepala staff Sospol waktu itu. Saat saya menyatakan menggundurkan diri dari proses pencalonan presiden dan wakil presiden, saya memilih untuk mengamankan proses daripada masuk proses.

Arya Sinulingga : SBY kader anda di militer, bagaimana anda melihat kepemimpinan SBY. Seperti yang kita ketahui banyak kejadian beberapa waktu lalu. KPK melawan polisi. Lalu ada menteri yang satu dengan menteri lain ribut. Ini masalah kepemimpinan. Apa ini ciri leadership militer?

Wiranto : Begini, militer ini merupakan sebuah intitusi yang punya ciri khas. Tetapi tidak semua militer seragam di dalam berfikir dalam melakukan langkah-langkah yang di sebut leadership. Maka dalam militer pun di bagi-bagi. Seperti saya saat masuk akademi militer, itu psikotes pertama adalah pantas tidak seorang ini menjadi seorang militer. Lalu, tiga tahun kita masuk akademi militer.

Setelah hampir lulus, kita di psikotes lagi dia masuk golongan manusia penempur atau bukan. Fighter or not fighter. Yang bukan fighter masuklah bagian perlengkapan, bagian kesehatan, yang tempur dia masuk ke infantri, kavaleri. Lalu kita bertugas masuk skuad hampir lulus di tes lagi, psikotes lagi. Jadi seorang stafer atau commander untuk persiapan nanti ke panglima atau ke staf.

Dengan demikian di militer pun sudah sadar bahwa tidak semua anggota militer mempunyai suatu karakter yang sama. Sehingga kemudian di situlah ada psikotes kemudian di arahkan. Tetapi di sipil kan tidak ada.

Arya Sinulingga : Untuk SBY sendiri bagaimana?

Wiranto : Ya, saya sendiri tidak punya hak. Tidak punya referensi beliau bagian mana ini. Tapi, karakter seorang komandan itu macam-macam, karakter pemimpin juga macam-macam. Ada yang cepat menggambil keputusan tanpa berfikir belakangan. Ada yang berfikir lambat, lama menggambil keputusan. Bahkan ada yang tidak menggambil keputusan karena takut ada resiko. Kita tinggal pilih aja masuk kategori mana?

Arya Sinulingga : Seringkali banyak energi terbuang karena berbagai pertentangan di negeri ini. Itu bagaimana?

Wiranto : Yang saya ketahui, karena saya pernah mendampingi tiga presiden. Presiden Soeharto, Habibie sepanjang karier beliau sebagai presiden saya mendampingi terus menerus, kemudian Presiden Abdurrahman Wahid saya mendampigni beliau. Paling tidak saya punya referensi bagaimana pemimpin yang pas untuk memimpin untuk negara yang sedemikian luas, besar, dan banyak penduduknya. 

Saya melihat Presiden itu kurang lebih dari antara lima hingga delapan keputusan, everyday, setiap hari. Kalau dia menunda satu hari dua keputusan, besok sudah akan bertambah. Menunda lagi besok akan bertambah lagi. Dan keputusan-keputusan yang di ambil dalam keadaan terlambat. Sayangnya tidak pernah ada di Indonesia ini kursus presiden. Tidak pernah ada sekolah jadi presiden. Ini yang saya pertanyakan, bagaimana ini? Calon presiden sudah cukup banyak kan, apa tidak kursus dulu supaya tidak kaget terpilih menjadi presiden.

Arya Sinulingga :
Jadi apa SBY kaget juga saat jadi presiden?

Wiranto : Hahahaha tanya sendiri.

Arya : Sebagai calon presiden, menurut anda apa kekurangan Presiden saat ini? Apa yang perlu dibenahi?

Wiranto : Sangat subyektif jika saya membicarakan kelemahan seorang kepala negara.

Yang bisa saya katakan negara ini dalam kompetisi global memerlukan sutu keputusan-keputusan yang cepat untuk kita tidak ketinggalan dengan dinamika global yang sangat cepat. Sebab, ketika kita terlambat mengambil keputusan, kita kehilangan peluang-peluang kompetisi global.

Cukup banyak keputusan-keputusan yang bisa lebih cepat. Misalnya seperti beberapa kasus-kasus korupsi yang saat ini merebak ya, harusnya cepat diputuskan walaupun dalam tanda kutip, presiden mencampuri urusan-urusan badan-badan lain.

Arya Sinulingga : Selain itu, masalah apa yang juga harus ada campur tangan Presiden?

Wiranto : Misalnya saja keputusan tentang masalah PSSI, ini saya juga agak gemas. Satu cabang olahraga yang digemari seluruh rakyat Indonesia yang kemudian ada duel kepengurusan. Ada duel penyelenggara kompetisi yang masing-masing tidak mau mengalah. Kemudian membuat masyarakat menjadi gemas. Dan celakanya lagi membuat olahraga nasional kita sangat terpuruk.

Ini berarti kan bukan permasalahan organisasi. Sudah masalah bangsa Indonesia. Nah, bagaimana pemerintah kenapa tidak cepat. Kenapa tidak ada langkah cepat. Pak Agung Laksono kan jadi suatu tim peyelamat, tapi ya dibenarkan kok mengambil langkah yang cukup kuat. Ini kan contoh. 

Arya Sinulingga : Anda akan kembali maju sebagai calon presiden di 2014 yang ketiga kalinya. Apa tidak bosan nih jadi capres?

Wiranto : Perjuangan tak kenal bosan ya. Kalau saya mencalonkan diri lagi ini bukan masalah bosan atau tidak bosan. Tetapi, ada perjuangan yang belum selesai. Jadi, kalau saya sudah mencalonkan diri dua kali tidak berhasil kemudian saya males atau trauma. Perjuangan saya untuk menjadi presiden saja padahal tidak. Tidak hanya semata-mata jadi presiden tapi ingin menjadi bagian dari negeri ini untuk bisa berubah.

Arya Sinulingga : Sebenarnya anda dulu salah atau tidak memilih Golkar sebagai basis?. Sebab Golkar dulu sangat terpuruk di masyarakat. Jangan-jangan itu faktor anda kalah?

Wiranto : Ya, bisa saja seperti itu ya. Tetapi kan faktor-faktor kekalahan bisa dari yang lain. Bisa dari masalah partainya, bisa dari publiknya, bisa dari masalah penyelenggaran yang tidak fair. Macam-macam lah. Tetapi saya tidak akan menyalahkan siapapun. Yang pasti kekalahan bagi saya merupakan suatu pembelajaran supaya kedepannya saya bisa lebih berhitung, lebih berhati-hati untuk melaksanakan atau berkompetisi di 2014.

Arya :  Apa evaluasi anda terhadap kekalahan dulu?

Wiranto : Begini, masyarakat Indonesia itu secara politis masih belum diberikan pembelajaran. Itu kan tugasnya partai politik ya sebenarnya. Memberikan pembelajaran politik supaya saat pemilu masyarakat tidak salah memilih pemimpin yang punya kompetensi. Kalau kita tidak punya pemahaman untuk memilih pemimpin yang punya kekutan, punya kompetensi, punya kualitas ini kan yang rugi negara juga yang rugi masyarakat. 

Masalahnya adalah, sekarang kita kan masuk pemilihan langsung, tatkala masyarakat kita secara ekonomis masih banyak yang miskin, sehingga tawaran-tawaran dalam tanda kutip money politic

Arya : Itu selalu terjadi ?

Wiranto : Ya, itu selalu terjadi. Maka itu kita perlu batasi dan inilah tugas dari KPU, Panwaslu, sekarang ada lagi badan kehormatan penyelenggara pemilu. Ini yang harus  membumi untuk mencegah berkembangnya praktek-praktek itu. Ini yang membuat kompetisi itu tidak fair. Output dari dua pemilu itu tidak berkualitas.

Arya : Sekarang kan pemilu agak berbeda dengan sebelumnya, sekarang incumbent tidak ada lagi. Artinya apakah ini ada peluang pemilu kali ini lebih fair?

Wiranto : Ya saya berharap begitu. Sekarang ditambah lagi kecuali KPU dan Panwaslu, ada badan kehormatan. Mudah-mudahan ada satu kontrol yang lebih ketat dalam penyelenggaraan pemilu sehingga masuk ke koridor yang benar. Walaupun tetap mesti diuji ya. Baru di Indonesia punya badan independent pemilu sampai tiga. Di negara lain enggak ada. Apakah ini suatu kelebihan atau kelemahan mari kita coba koreksi.(ahm)

Okezone

Cerita Seorang Prajurit Dari Tapal Batas (2)


Saya kurang tahu, apakah ini "Kisah Nyata" atau "Fiksi" semata-mata, namun apa salahnya dishare juga. Mungkin bisa menjadi bahan bacaan menjelang tidur.



 

Ilustrasi
Pandangannya menerawang jauh ke arah ujung langit. Mungkin kata-kataku tadi menyentakkan nuraninya. Di hatinya masih terpatri kenangan tiga tahun silam. Ya, teringat dengan istrinya yang waktu itu baru saja dinikahinya. Belum genap seminggu bergaul, dengan sangat terpaksa ia harus meninggalkan istrinya itu, untuk kembali menjalankan tugas, lebih cepat dari permintaan cutinya. Sebab ada tugas mendadak, ia kembali dipanggil masuk barak. Hingga kini ia hanya memendam kerinduan yang mendalam terhadap istrinya. Terakhir ia sempat ke Medan pulang kampung menengok istrinya itu yang kini sudah tinggal di rumah ibunya. Ya, cuma sekali itu dalam kurun tiga tahun terakhir ini, sebab tugas demi tugas terus memanggilnya.

“Istriku sehat, ia senang mendengar kabarku. Wah aku sudah jadi ayah, Yung. Tak terasa sudah tua juga kita sebentar lagi. Tak terasa, sudah kakek-kakek saja kita. Makanya kau cepat-cepat menikah, Buyung, sebelum kau terlambat, nanti tua kau tak ada lagi gadis yang mau he… he…,” tuturnya dengan logat Medan kental yang selalu menyapaku ketika ia menceritakan kabar istrinya kepadaku.

Aku kadang hanya senyum kecil membalasnya. Setidaknya di tempat tugas ini aku masih memiliki seorang sahabat. Mungkin ia beruntung memiliki istri yang memahami kondisi dan pekerjaan suaminya. Memang harus begitu menjadi istri seorang tentara. Apalagi masa-masa perang dan keamanan negara terancam, sang istri pun harus siap dengan risiko apa pun. Doa restu dan dukungan moral istri adalah sebuah kekuatan yang tak terkira kuatnya membantu tegarnya semangat sang suami dalam menjalankan tugas negara.

Cerita tentang Ramses, aku teringat dengannya di Secaba dulu. Dia adalah temanku sesama pendidikan dulu. Aku satu kompi dengan-nya, malahan aku satu kamar dengannya. Ia mudah bergaul dan aku sangat akrab dengannya. Senasib sepenanggungan. Ia sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Di barak aku seperti mendapatkan seorang kakak laki-laki yang dulu selalu kuimpikan. Jika ada kesempatan, aku selalu mengajaknya pulang ke kampung halamanku di Bukittinggi, karena jarak Padangpanjang dengan kampungku tidak terlalu jauh. Ia juga akrab dengan keluargaku, dengan ayahku. Ia termasuk tentara yang disiplin. Di antara kami ia yang paling kuat. Tubuhnya tegap dan tinggi kekar. Segala lomba adu kekuatan stamina di barak mulai adu panco, push-up, sampai lomba lari, ia nomor satu. Tak ada yang mampu mengalahkannya. Kami sering memanggilnya Letnan Samson. Tapi masalah cewek dia paling apes. Setiap kali dia naksir cewek, cintanya selalu kandas. Dalam pertemanan ia termasuk orang yang sangat setia dengan yang namanya kawan. Pernah suatu kali kami sama-sama jatuh cinta dengan seorang perawat di rumah sakit tentara. Karena ia lebih menghargai pertemanan ia malah mengalah dan melepaskan sang perawat itu menjadi pacarku.

Aku bangga dengannya, punya sahabat dan saudara seperti Ramses. Semenjak tamat Secaba kami memang tidak lagi bersama-sama, cuma kebetulan kami disatukan kembali dalam tugas di tapal batas ini. Jadilah kami senasib sepenanggungan sambil reunian. Bedanya cuma ia lebih laku dibandingkan denganku, ia sudah beristri dan malah sudah menjadi ayah, sementara aku masih betah menjadi lajang.

Cerita itu turun seperti air hujan yang tercurah dari langit dan terus mengalir menuju ceruk, kanal dan sungai-sungai di tepian bukit menuju muara. Daun yang gugur berganti dengan tunas-tunas baru yang mendesak. Musim hujan yang sembab berganti dengan kemarau yang kering. Siklus hidup terus berjalan seperti roda yang berputar. Waktu demi waktu telah kulalui di setiap tempat tugas dengan penuh rasa tanggung jawab meski jemu kadang meraja. Hari-hari berganti, siang menjadi malam, pagi menjelma, musim demi musim bergulir, seperti air mengalir tetapi pemandangan yang kulihat masih tetap sama.


Rutinitas yang aku lalui masih sama, tak ada yang berubah. Kehidupanku sebagai prajurit di tapal batas tak jauh berubah. Masih sama seperti tahun sebelumnya. Yang berubah mungkin aku tak lagi bersama Ramses, temanku itu, saudaraku itu, si Letnan Samson. Ia sudah tak lagi satu tim denganku, tidak lagi bersamaku di sini di pos jaga ini. Setengah tahun yang lalu ia ditarik ke sebuah pos jaga baru di wilayah timur laut. Lebih jauh ke arah timur provinsi ini. Aku sudah tidak lagi berkomunikasi dengannya; aku sudah kehilangan kontak dengannya. Tetapi itu semua sudah aturan. Lagi aku tegaskan, inilah kehidupan tapal batas. Sewaktu-waktu keadaan dapat berubah. Kemarin aku masih dapat berkumpul dengan sahabat lama tetapi mungkin besok kami sudah digilirkan, berpisah bahkan tak bertemu lagi. Aku masih tetap di pos jaga ini.

Memasuki bulan ketiga keadaan cukup berubah. Ancaman wilayah tapal batas mulai meningkat. Untuk itu kami mesti meningkatkan penjagaan dan kewaspadaan. Ini bermula dari semakin memanasnya situasi di beberapa tempat di Papua. Aktivitas orang-orang bersenjata tak dikenal mulai berani menyerang kawasan vital milik pemerintah.

Beberapa waktu yang lalu terjadi penembakan demi penembakan terhadap tim penjaga aset pemerintah di Papua. Belum dipastikan pihak mana yang bertanggung jawab. Disinyalir pihak Tentara Pembebasan Papua Barat (TPN) atau pihak OPM. Belum lagi ulah residivis bersenjata yang memanfaatkan masyarakat pribumi. Mereka mengeruk untung di tapal berbatasan. Mereka kadang melakukan penyelundupan dan perdagangan gelap. Persoalan lebih berat lagi, ada sinyalemen yang mengatakan di balik aksi itu semua ada oknum tentara yang membeking. Lagi-lagi rumor tidak sedap itu aku dengar. Beberapa minggu yang lalu pos jaga TNI di distrik Skamto kembali diserang oleh OPM. Meski tak ada korban jatuh di pihak TNI, ini menandakan aktivitas kelompok bersenjata itu sudah kembali berani main petak umpet dengan TNI.

Desember yang sembab di penghujung tahun. Lagi kuncup-kuncup hujan menyumbul di antara ceruk-ceruk kabut langit kelam Papua. Dingin dan sembab bertahta di mana-mana. Pohon- pohon tinggi menjulang di kaki-kaki bukit dan jurang-jurang yang dalam. Kabut menyelinap dalam-dalam. Kami satu regu baru saja melakukan patroli. Kami melewati sebuah sungai dan terus menyusuri pinggirannya dengan senjata laras di tangan, dengan sikap siaga kami terus bergerak. Beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk pribumi. Tidak ada hal-hal yang mencurigakan dari mereka. Mereka bukan OPM atau TPN. Kali ini ada hal ganjil rasanya, ya ganjil bagiku karena memang sama sekali aku tak mendapati Ramses di sampingku. Aku merasa kehilangan dia, bagaimana kabarnya, entahlah.

Kami melewati sebuah tebing yang curam, tebing itu kuyakini merupakan tapal batas dengan negara tetangga Papua Nugini. Dengan sangat hati-hati kami menyelidiki keadaan sekitar masih sepi, hanya suara gemericik air sungai. Aku selaku pimpinan regu memerintahkan Serka Bambang untuk mengamati suasana dari atas puncak tebing. Entah mengapa tiba-tiba saja ada hal aneh yang aku rasakan, bukan karena tidak ada Ramses di reguku tetapi sebuah hal lain. Naluri prajuritku menuntunku untuk waspada. Aku memberikan aba-aba agar semua anggota regu yang kupimpin tetap dalam kondisi waspada........


Benar saja di atas tebing ini kami memperhatikan gerak-gerik beberapa warga pribumi, senjata mereka lengkap. Kami yakin mereka bukanlah kelompok sembarangan, sebab di antara mereka juga terdapat beberapa orang berbadan tegap dan memakai sepatu laras dan berseragam layaknya tentara dan terlatih. Tapi siapa mereka, belum dapat kupastikan apakah dari pihak TNI atau kelompok separatis bersenjata.

Dari atas tebing kami masih terus memperhatikan dengan sangat hati-hati. Jelas mereka tengah melakukan sesuatu, tapi apa, belum bisa kami pastikan. Butuh jarak lebih dekat lagi agar kami dapat mengamati gerak-gerik mereka dengan leluasa.

“Bang, kamu arah samping, sisir sebelah selatan. Aku dan yang lain menyisir sebelah utara, dan kamu Rob, tetap berjaga dari atas sini. Lindungi kami. Kita akan amati apa yang mereka lakukan,” tegasku setengah berbisik.

Semuanya paham akan maksudku. Kami menyisir pelan-pelan, menyelinap di antara semak belukar, mendekat ke arah kelompok yang mencurigakan itu. Darahku berdegup kencang. Meski hal semacam ini sering kualami, namun aksi pengintaian kali ini sungguh sangat mencemaskan dan dramatik. Sebab, aku tahu hal ini berisiko tinggi dengan terjadinya kontak senjata.

Ternyata mereka berasal dari kelompok bersenjata, tapi di antara mereka ada yang mengenakan atribut prajurit TNI. Siapa mereka, dan apa yang mereka lakukan? Belum hilang rasa penasaranku,

Tang!.Tang!..Tang!! Retetet...! Retetet...! Retetet...!

Tiba-tiba bunyi tembakan memecah keheningan hutan ini. Aku berlindung dan memerintahkan anggotaku untuk berlindung. Aku yakin keberadaan kami sudah diketahui oleh mereka.

Tang!.Tang!..Tang!! Retetet...! Retetet...! Retetet...!

Tang!.Tang!..Tang!! Retetet...! Retetet...! Retetet...!

Rentetan tembakan kembali menyalak, aku membalas. Beberapa yang lain juga membalas. Lama terjadi kontak senjata. Posisi kami di atas tebing; mereka di bawah. Jelas kami sangat diuntungkan. Ditambah dengan latihan perang yang kami miliki, dengan mudah kami dapat memukul mundur serangan demi serangan dari kelompok itu.

Beberapa anggota kelompok itu tertembak. Beberapa orang terkapar tak bernyawa, luka tembak di kepala. Satu orang lagi masih bernyawa sementara dua orang anggota berhasil kabur. Keberuntungan berpihak kepada reguku. Sama sekali tak ada anggota reguku yang terluka. Kami menyisiri keadaan sekitar untuk memastikan aman, mengumpulkan korban.


Sungguh aku tak menyangka, sungguh aku tak menduga temanku Ramses, sahabatku si Letnan Samsonku itu, orang yang aku banggakan, orang yang menyulut semangatku menjadi TNI, ternyata kini terlibat dalam aksi yang memalukan ini. Ia yang kini berada di depanku dengan satu luka tembak di kakinya. Ia ternyata diam-diam terlibat sebagai anggota TNI yang membeking aksi perdagangan gelap ini.

“Munafik, jadi selama ini kata-katamu kepadaku hanya kedok semata,” ujarku.

Ia tak berkata lagi. Pandangannya jauh terhunus ke langit sesak. Hujan masih menggelegar. Sore menjelang gelap itu semua begitu lembayung dalam lembab. Entah rasa apa yang muncul dan bergejolak di benakku. Ia yang kini terkapar di hadapanku adalah lawanku yang juga sahabatku.

“Kenapa, Ram, kenapa kaulakukan semua ini? Kenapa?”

Aku mengangkat kerah bajunya, aku emosi, aku kalut, aku marah padanya. Ia tersenyum kecut.

“Kau tahu, Yung, aku tak tahan lagi, Yung. Aku bosan hidup bersemedi dengan segala kesengsaraan dan sama sekali aku tak mendapatkan apa-apa. Ah persetan dengan pengabdian. Hidup tetap tak punya apa-apa. Gaji kecil itu yang kuharapkan, aku muak aku bosan,” ujarnya dengan nafas sesak.

“Kini kau bukan sahabatku, Ramses. Aku baru sadar ternyata selama ini kata-katamu padaku hanyalah dusta semata.”

“Alah persetan dengan janji di barak dulu, persetan dengan segalanya, dengan tanah Pertiwi ini. Apa lagi yang kita harapkan, Yung? Menjadi tentara dengan gaji kecil hidup sengsara di tapal batas ini? Ingat, Yung, istri kita, anak kita, keluarga kita butuh uang, butuh biaya. Jika cuma mengandalkan gaji seorang tentara mana mungkin kita bisa memenuhinya semua. “Hehe… hehe… di tapal batas ini memangnya ada sahabat, Yung? Dasar prajurit idealis kere kau, Yung,” ujarnya mengejek.

Aku marah, aku panas dengan perkataan Ramses tadi, aku tampar ia dua kali. Ia sama sekali tak membalasnya. Pipinya pecah darah segar membasahi mulutnya, lalu bercampur dengan air hujan membasahi bajunya. Aku menatapnya dalam-dalam. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya lagi dalam kondisi seperti ini, saling berhadapan dengan senjata laras berhadapan. Pilu, hancur hatiku hilang seorang sahabat di hatiku. Aku betul-betul telah dikhianati oleh seorang sahabat yang nyata-nyata dulu aku kagumi. Aku sadar dari peristiwa itu, kehidupan di tapal batas memang bisa memutarbalikkan semua yang ada. Termasuk arah dan jalan pikiran seorang prajurit.

Peristiwa itu telah terjadi dua tahun silam. Hujan demi hujan di tapal batas telah menghanyutkan segala kenangan yang baik dan buruk. Yang baik menjadi kenangan, yang buruk biarlah tersimpan atau terkubur dalam-dalam, tidak lagi untuk diingat. Semenjak peristiwa itu aku tidak lagi mendengar kabar dari sahabatku itu yang sudah aku anggap sebagai musuhku. Ia tidak hanya menjadi pengkhianat dari persahabatanku, tetapi juga telah berkhianat atas negara dan bangsa ini. Harusnya ia kubunuh saja dulu sewaktu di hutan pinggir sungai perbatasan dulu. Akan tetapi nyatanya aku tak mampu. Aku tak tega melihat bayangan istrinya dan anaknya yang masih mengharapkannya.

Aku dan anggota reguku menyimpan rahasia tentang kejadian baku tembak itu. Membungkus rahasia peristiwa baku tembak itu dalam-dalam di palung hati kami masing-masing. Dalam hati aku berniat akan melupakan Ramses dalam hidupku. Aku tak mau lagi mengingat si pengkhianat itu dalam hidupku. Semenjak itu Ramses pun tak lagi aku dengar kabarnya. Ia sudah menghilang seperti ditelan bumi.


Hujan semakin menjadi-jadi, petir menggila, menebarkan lidah api menjilat-jilat ke beberapa pohon. Suaranya bergemuruh hebat menyentakkan setiap indra pendengaran makhluk hidup. Barangkali ini misi terakhirku di tanah Cendrawasih ini. Sesudah keadaan aman aku berencana akan meminta izin untuk menjenguk keluargaku, ayah dan ibuku. Aku rindu mereka. Sudah beberapa hari aku di kota Jayapura. Keadaan sudah dapat dikatakan aman. Aktivitas gangguan keamanan sudah tidak sering lagi terjadi. Meskipun ada letup-letup kecil namun sudah dapat diredam oleh TNI dibantu oleh Polda setempat.

Siang menjelang sore itu, itulah misi terakhirku sebelum aku cuti pulang menuju kampung halaman. Misi patroli udara dan menjemput beberapa personil TNI di beberapa distrik di kabupaten Keerom sekaligus mengantarkan beberapa peralatan radar dan alat komunikasi yang sudah diperbaiki untuk beberapa pos jaga. Dengan menggunakan heli TNI AU jenis super puma SA330 kami berangkat dari landasan terbang milik TNI di Jayapura. Heli yang dikendalikan oleh pilot dan copilot, masing-masing Mayor Pnb. HXXX dan Lettu Pnb.GXXXXX terbang dengan kondisi normal. Cuaca sedikit mendung tetapi tidak mengisyaratkan akan memburuk. Selain aku, memang ada beberapa awak yaitu teknisi alat radio, sementara tugasku memastikan pengiriman barang sampai tepat waktu sekaligus mengangkut beberapa personil untuk dibawa ke Jayapura. Entah mengapa di perjalanan tiba-tiba aku teringat dengan mimpiku, mimpi yang sangat menakutkan, mimpi tengah menaiki heli yang sama dan mengalami kecelakaan. Tidak hanya itu. Aku juga teringat dengan kata-kata Ramses bahwa dalam kurun waktu 18 tahun terakhir sudah tercatat 45 pesawat TNI yang jatuh. Ah, lagi-lagi apa peduliku terhadap si pengkhianat itu. Aku mencoba mengelak dari pemikiran dan petakut ini.

Bunyi mesin heli meraung-raung. Beberapa saat heli yang dikemudikan mulai sedikit oleng. Hujan yang tadi gerimis tiba-tiba berubah menjadi lebat. Kabut gelap dan angin ribut memaksa heli terbang dengan kondisi tak stabil. Ada rasa kuatir menyelinap di hatiku paling dalam. Pilot dan copilot masih berusaha menghubungi landasan dan markas, tapi lagi-lagi hubungan terputus.

Tiba-tiba kepanikan terjadi. Mesin heli mendadak mati. Di ketinggian ini jelas sebuah hal yang sangat menakutkan telah terjadi. Tubuh heli seperti di sedot alam. Inilah gaya gravitasi itu. Kami ditarik kuat dan akan jatuh terhempas.

Prakkkkk....!!

Tubuh heli gaek buatan Prancis tahun 78 itu menghempas sebuah pohon besar. Baling-balingnya menyebat apa saja lalu berhenti dan patah. Tak lama kemudian tubuh heli ringsek dan lagi terhempas ke tanah. Dua teknisi terlempar keluar. Copilot GXXXX tetap berada di bangkunya namun tubuhnya terjepit di antara kerangka heli. Ah, tubuh Pilot HXXX. Dia terlempar menghantam kaca heli dan jatuh ke tanah. Tubuhnya terhimpit oleh heli, sangat mengenaskan. Aku gamang di antara sadar dan tak sadar. Di manakah kami, aku tidak tahu. Yang jelas belum memasuki wilayah distrik Asro, barangkali masih di perbukitan. Ah, jangan tanya bagaimana keadaanku, aku sungguh tak tahu, tiba-tiba saja pandanganku gelap dan semuanya hilang. Aku sadar telah mendapati diriku berada di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Aku tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit pusat itu. Setelah berhasil dievaluasi oleh Tim SAR dan anggota TNI saat itu juga aku langsung dirujuk dan diterbangkan dari Papua menuju Jakarta dengan pesawat khusus.

Setelah mengetahui secara pasti heli super puma SA330 milik TNI hilang dan jatuh, tim SAR langsung melakukan penyisiran di wilayah yang diduga kuat sebagai tempat jatuhnya heli. Tak lama Tim SAR menemukan puing heli dan mengevakuasi korban. Satu-satunya korban yang selamat dalam peristiwa itu adalah aku. Selebihnya ditemukan dalam kondisi yang sudah tak bernyawa.

Aku ditemukan dalam kondisi kritis di antara sadar dan tak sadar. Tapi dalam ingatanku jelas salah seorang Tim SAR yang memapah tubuhku itu adalah Ramses, temanku dari Medan yang juga anggota TNI itu. Di ruangan itu aku terbujur tak berdaya. Tubuhku masih lemah, lengan dan kakiku dibalut perban dan baru saja selesai dioperasi. Di sampingku sudah berdiri ayahku yang sengaja didatangkan pihak TNI dari kampung halamanku. Ia sama sekali tidak memperlihatkan raut sedih. Ia terlihat tegar dan mengusap keningku.

“Ayah harap kau tegar, Yung!”

“Terima kasih, Ayah. Ibu di mana, Yah?”

“Ia di kampung tidak bisa ikut. Ia sehat-sehat saja. Jika kau pulih nanti kita pulang ke rumah. Ia rindu sama kamu, Nak,” ujar ayah.

Entah mengapa aku melihat ada mendung di wajah ayah. Aku seperti berdosa pada diriku sendiri. Wajahnya, meski ia berjuang menutupi kegundahan di hatinya akan apa yang menimpaku, keadaan hidupku kini, tetapi aku jelas sekali melihat ada kegalauan di matanya. Membaca sebuah kegetiran pada dirinya. Semangatnya, jiwa nasionalismenya yang dulu menggebu-gebu, kini kian pudar seiring raut wajahnya yang semakin senja.


Tak lama, di sela perbincangan itu muncul sosok kekar dan tegap. Pandanganku tertuju pada lelaki yang baru saja masuk ke ruangan itu. Ia membalas menatapku. Ia Ramses si sahabatku, si pengkhianat itu.

“Gimana kabar kau, Buyung. Aku sengaja datang kemari hanya untuk melihat sahabatku, Yung,” ujarnya.

Dalam hatiku berkecamuk antara benci dan rindu. Berani-beraninya ia mengatakan aku sahabatnya. Jika aku sehat ingin rasanya aku tembak dia sekarang juga. Tanpa merasa berdosa ia menampakkan diri lagi di hadapanku. Tak punya rasa malu. Pelan aku menarik nafas. Mata kami beradu. Ia memelukku. Matanya berkaca-kaca.

“Kita impas, Yung. Maafkan aku, Yung,” ujarnya.

Aku paham kata-katanya, ia sudah membayar hutangnya, atas kesalahan masa silam dengan menyelamatkan nyawaku dengan ikut sebagai Tim SAR dalam pencarian heli yang jatuh itu. Penghujung tahun itu hujan menderas, menggila menyetubuhi bumi dengan segala rintiknya. Di penghujung Desember yang sendu dan sembab ini semuanya tiba-tiba berubah menjadi mendung lalu berat dan menggugurkan bayi-bayi gerimis. Jika kuingat hujan aku selalu teringat posku di tapal batas; aku teringat aroma tanah Cendrawasih; aku teringat peristiwa di pinggiran sungai di perbatasan itu. Aku sungguh belum bisa memaafkan Ramses. Ia lebih dari sekedar sahabat yang berkhianat. Ia adalah pengkhianat bangsa dan negara ini.


*** END

Diposkan Erwin Parikesit (Kaskuser)

Mantan Pangkostrad Sebut Ada 'Kudeta' Saat Reformasi

Jakarta | Mantan Pangkostrad Letjen (Purn) Djadja Suparman membeberkan adanya rencana penggulingan kekuasaan sebanyak dua kali di awal era reformasi dengan memanfaatkan gerakan mahasiswa.

"Selama proses transisi itu ada sekolompok orang yang menggerakkan massa untuk menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto dan Presiden Habibie secara inkonstitusional. Mereka memanfaatkan gerakan mahasiswa untuk memuluskan aksinya," kata Djadja dalam acara peluncuran dan diskusi buku biografinya yang diberi judul "Jejak Kudeta" di Jakarta, Jumat (18/1)

Dalam acara yang dimoderatori mantan presenter dan aktivis Irma Hutabarat itu hadi pula pengamat politik J Kristiadi dan sejumlah tokoh dan jenderal senior seperti mantan Wakasad Letjen (Purn) Kiki Syahnakri dan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli.

Dalam paparannya Djadja mengungkapkan bahwa rencana kudeta itu jelas ada namun pada akhirnya gagal di penghujung perjalanan. Dirinya juga beberapa kali mengalami tekanan untuk tidak mematuhi perintah Panglima TNI saat itu, Jenderal Wiranto.

"Saya tegas-tegas menolak untuk ikut melakukan kudeta karena bertentangan dengan Sumpah Prajurit dan Sapta Marga. Belum lagi ada gerakan untuk memecah perwira tingi TNI dengan membagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok reformis dan kelompok yang status quo," katanya.

Lebih jauh ia mengemukakan bahwa telah terjadi upaya untuk menghancurkan TNI secara kasat mata serta keterlibatan pihak asing dalam proses reformasi dan demokratisasi yang ingin menggeser Pancasila.

"Beruntung TNI berhasil mengatasi perpecahan internalnya walau dihujat dimana-mana. Hal itu lebih baik ketimbang TNI berkhianat terhadap rakyat dan negara," tegas Djaja.

Buku "Jejak Kudeta" merupakan rangkuman catatan harian Djadja sejak permata kali bertugas di tentara hingga akhir pengabdiannya sebagai Inspektur jenderal TNI. Djadja sempat bolak balik mengganti judul buku selama 20 kali sebelum sampai pada yang terakhir.

Menurut Djadja, yang paling berkesan dan mencekam dalam karir militernya adalah ketika menjabat sebagai Pangdam Brawijaya, Pangdam Jaya, dan Pangkostrad.

"Di masa itulah jiwa kepemimpinan militer saya diuji betul, termasuk kesetiaan terhadap Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan mempertahankan ideologi Pancasila. Jadi buku ini sebagai pembelajaran bagi siapa saja untuk tetap mempertahankan NKRI," katanya.

Sementara itu, mantan Wakasad Letjen (Purn) Kiki Syahnakri mengatakan ada dua hal penting dari peluncuran buku biografi tersebut, yaitu adanya suatu keberanian yang patut dihargai untuk menulis buku yang cukup berat seperti ini, karena memperkaya perspektif sejarah dari peristiwa tersebut.

"Namun demikian, perlu juga kesiapan diri menerima serangan dari pihak lain, mengingat peristiwa politik memiliki beragam dimensi yang melingkupinya. Jadi kalau tidak cukup mengulasnya dari berbagai perspektif maka akan mengundang beragam kritik," kata Kiki Syahnakri.


Republika

Drama Penyanderaan di Aljazair, WNI Sudah Dibebaskan

 Apa akar persoalan ini. 

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2013/01/18/188498_kilang-gas-amena-di-aljazair_209_157.JPG
Kilang gas Amena di Aljazair
Pemerintah negara-negara Barat tengah harap-harap cemas menunggu kabar resmi dari Aljazair. Warga negara mereka tengah disandera gerombolan bersenjata yang berafiliasi dengan al-Qaeda di negeri itu. Informasi memang masih simpang siur. Korban tewas dilaporkan mencapai lebih dari 30. 

Insiden ini bermula pada Rabu pagi, menjelang subuh pekan ini. sekitar 20 orang militan bersenjata yang dipimpin Mokhtar Belmokhtar menyerbu kilang gas alami di In Amenas, sekitar 1.600 kilometer dari ibukota Alger.  Nama kelompok penyerbu ini memang masih belum jelas. Sejumlah media menulis namanya sebagai "brigade bertopeng". Beberapa media lain menyebutnya "brigade darah."

Meski nama kelompok ini simpang siru, Mokhtar Belmokhtar sesungguhnya bukan nama asing di dunia milter Barat. Pria yang matanya buta sebelah ini telah malang-melintang selama dua dekade di dunia penculikan, penyelundupan, dan pembunuhan orang Barat di Afrika Barat dan Utara. Oleh intelijen Prancis dia dijuluki sebagai "the uncatchable" atau Yang Tidak Bisa Ditangkap.

Berlatih tempur di Afganistan sejak usia 19 tahun, pria yang kini berusia 40-an tahun ini adalah salah satu komandan tinggi di al-Jama'ah al-Islamiyah al-Musallaha atau Kelompok Bersenjata Islam. Dia juga dijuluki Mr. Marlboro karena memonopoli penyelundupan rokok di wilayah Sahel untuk membiayai jihad versi dia.

Kelompok bersenjata ini kemudian menyandera 41 orang pekerja berkewarganegaraan asing dan sekitar 200 pekerja Aljazair. Kedutaan Besar Republik Indonesia dalam pernyataannya resmi Kamis kemarin menyampaikan bahwa sebanyak 105 orang dibebaskan oleh penyandera, termasuk di antaranya seorang WNI berinisial AA yang kini tengah kembali ke tanah air.

Warga asing yang ditahan di antaranya berasal dari Amerika, Inggris, Jepang, Prancis, Norwegia, dan Irlandia. Sejak penyerbuan kelompok Mokhtar, kilang gas itu dikepung bala tentara Aljazair. 

Sebelumnya, pemerintah negara tersebut menegaskan bahwa mereka tidak akan melakukan negosiasi apapun dengan para teroris itu. "Kami katakan di hadapan para teroris kemarin, sama seperti sekarang, tidak akan ada negosiasi, pemerasan, tak ada ampun untuk teroris," kata Menteri Komunikasi, Mohamed Said.

Benar saja, tidak ada basa-basi. Baku tembak terus terjadi antara kubu pemerintah dan kelompok teroris ini. Kelompok ini lantas meminta untuk memindahkan para sandera ke luar negeri. Melihat gelagat hendak kabur, pasukan Aljazair menghajar.

Empat dari lima mobil Jeep dihancurkan, ternyata di dalamnya ada para sandera. Sumber pemerintah Aljazair yang tidak disebutkan namanya kepada Reuters, mengatakan bahwa 30 sandera tewas terbunuh. Beberapa di antaranya adalah warga Jepang, Inggris dan Prancis. Sebelas anggota kelompok itu dibunuh.

Akibat peristiwa ini, PM Jepang Shinzo Abe memutuskan untuk tidak berlama-lama berada di Indonesia, yang menjadi salah satu tujuan kunjungan kenegaraan ke Asia Tenggara. Beberapa acara pidato dan pertemuan terpaksa dibatalkan.

Masih simpang siur informasi soal jumlah korban tewas. Beberapa media internasional mengabarkan jumlah berbeda, seperti Daily Mail yang mengumumkan 35 sandera yang mangkat. Para kepala negara pusing tujuh keliling, was-was warga negaranya menjadi korban.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, memperingatkan rakyatnya untuk bersiap pada kemungkinan terburuk. Sampai saat ini, Inggris belum mendapatkan informasi bahwa penyanderaan telah berakhir. Dia berpendapat, seharusnya Aljazair merundingkan dulu dengan mereka sebelum menyerang. Sampai saat ini, Cameron mengaku belum dapat kabar apapun dari Aljazair.

Keberatan yang sama disampaikan oleh kepala negara Amerika Serikat, Jepang, dan Norwegia. Diduga saat ini masih ada 22 sandera lainnya di kilang gas. Tentara Aljazair masih terus mengepung lokasi tersebut.

 Karena Mali 

Drama penyanderaan ini buah dari penyerbuan pasukan Prancis ke Mali, negara tetangga Aljazair, untuk mengusir al-Qaeda. Mokhtar menuntut hengkangnya pasukan Prancis dari Mali yang ikut dalam operasi pemberantasan al-Qaeda di negara tersebut.

Agresi Prancis bermula saat Presiden interim Mali Dioncounda Traore meminta bantuan pada pemerintahan di Paris, setelah ribuan pasukan al-Qaeda merebut kota Konna dari tangan pemerintah.

Sebelumnya antara pemerintah Mali dan kelompok separatis Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (MNLA) bertempur sengit sejak Januari 2012. Tuntutan MNLA sendiri adalah kemerdekaan atau otonomi penuh utara Mali.

MNLA awalnya didukung oleh kelompok Islam Ansar Dine, kelompok yang disebut radikal oleh pemerintah setempat. Namun belakangan kedua kelompok ini pecah setelah adanya perbedaan visi soal pembentukan negara Islam. MNLA kalah dalam bentrokan senjata dengan Ansar Dine yang dibekingi oleh kelompok Jihad Afrika Barat (MOJWA) yang merupakan sempalan Al-Qaeda di negara Islam Maghreb (AQIM).

Kini, perang berubah menjadi antara Mali dan AQIM. Al-Qaeda cabang Maghreb (Libya, Aljazair, Maroko, Tunisia, Mauritius) adalah yang paling kuat dan paling kaya di antara "waralaba" al-Qaeda lainnya.

Merasa punya utang masa kolonial -Mali pernah dijajah Prancis-akhirnya Presiden Francois Hollande menyetujui permohonan tersebut.

Konflik kali ini sebenarnya adalah hasil dari keacuhan pemerintah Mali. Sebelumnya selama berbulan-bulan, para diplomat dan politisi Barat, termasuk Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan Presiden Prancis Francois Hollande telah mendesak Mali untuk melakukan serangan militer terhadap kelompok ini.

Namun, anjuran ini tak dihiraukan. Mali mengaku enggan terseret dalam pertempuran yang dipimpin Barat dan terjadinya pertumpahan darah di tanah air.

Pemerintah Aljazair awalnya malas meladeni kelompok ini dan tidak mengusik mereka, namun terus mendorong mereka ke wilayah selatan Sahara. Sebagai gantinya, kelompok Ansar Dine yang juga terdapat di negara ini tidak menyerang fasilitas energi yang vital bagi Aljazair.

Namun, "mesranya" hubungan kedua pihak terusik saat pemerintahan Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika memberikan izin bagi pesawat tempur Prancis melintasi wilayah mereka untuk menggempur kelompok militan di Mali. Bouteflika juga menutup perbatasan selatan dengan Mali Utara, sekaligus juga menutup penyaluran bahan bakar dari Aljazair kepada kelompok ini. .

"Hal ini menunjukkan bahwa Aljazair tidak akan lagi membiarkan para teroris berbuat semau mereka," kata Francois Heisbourg, ahli di International Institute of Strategic Studies di London, Inggris, dilansir TIME.

Hal inilah yang membuat kelompok Mokhtar geram dan menyerang fasilitas energi di negara tersebut. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa kemungkinan kelompok Mokhtar ini berasal dari Mali Utara yang mencoba cara lain memenangkan perang. 

Kemampuan kelompok Mokhtar ini luar biasa, menguasai medan dan taktik tempur. "Mereka memiliki aset yang luar biasa dengan mobilitas komando yang ekstrem. Mereka bergerak di malam hari tanpa lampu, dengan kecepatan tinggi, tanpa terdeteksi," kata Jean-Pierre Filiu, ahli soal Aljazair 
dari Institute of Political Studies di Paris.

Perjanjian untuk tidak menyerang fasilitas energi juga batal. Kelompok Mokhtar menyerang kilang minyak di In Amenas. Fasilitas ini sangat penting bagi Aljazair, karena menyumbang 60 persen pemasukan negara dan 95 persen ekspor di sektor gas.

Fasilitas yang memompa sekitar seperlima gas alam Aljazair ini adalah penyuplai gas terbesar ketiga ke Eropa dan penyalur utama gas ke Amerika Serikat. Menurut Departemen Energi AS, Aljazair juga memiliki 12,2 miliar barel cadangan minyak bumi, ke tiga terbesar di Afrika setelah Libya dan Nigeria.

Segelintir kelompok perlawanan ini masih terus bertahan di lokasi tersebut. Puluhan sandera yang ketakutan masih dalam cengkeraman mereka. Belum jelas identitas dan dari negara mana saja sandera berasal.

Pemerintah Aljazair menolak berunding, sesuai dengan larangan untuk membayar tebusan kepada yang disebut pemerintah Mali sebagai teroris itu. Sebelumnya PBB memang mencanangkan larangan membayar itu tahun 2010. Larangan ini didukung penuh oleh Aljazair yang melihat kekuatan dan kekayaan AQIM yang semakin besar.

Dari komplek kilang gas, sandera mengisahkan horor yang terjadi. Beberapa sandera mengaku diikatkan kalung bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Mereka juga harus berlindung dari peluru yang berdesing di atas kepala mereka. 
"Situasinya semakin memburuk. Kami khawatir karena baku tembak terus terjadi," kata seorang sandera asal Irlandia pada Al Jazeera.

© VIVA.co.id

Jumat, 18 Januari 2013

Esensi Beralutsista

Postur negara yang ideal sesungguhnya mirip dengan postur jasmani manusia yang kekar, kuat dan berpenampilan menarik. Punya olah pikir, olah daya, olah rasa dan sekaligus tolak bala. Kemampuan tolak bala ini dalam konsep postur manusia adalah kemampuan melawan segala macam ancaman yang datang dari dalam tubuh itu sendiri berupa penyakit maupun orang-orang yang mengajak gelut oleh suatu sebab. Negara juga tak jauh beda, untuk mempertahankan eksitensinya, mengamankan jalan hidupnya dan memberdayakan sumber daya yang ada di dalamnya diperlukan organisasi militer untuk mengawal dan mempertahankannya. Organisasi militer merupakan satu kesatuan yang utuh dengan nadi negara dalam membangun eksistensi termasuk membangun kesejahteraan.

Esensi beralutsista adalah memahami kebutuhan salah satu organ tubuh itu, tangan dan kaki, untuk mampu menjalankan fungsinya sebagai anggota gerak yang diandalkan jika suatu saat diperlukan melindungi organ tubuh yang lain. Militer dan alutsista adalah instrumen yang tak dapat dipisahkan. Jadi sangat lucu jika militer kuat secara postur fisik orangnya, jago bela diri, tahan uji di hutan tetapi alutsistanya masih sekelas S60 (maksudnya sekelas tahun 60an). Makanya mendandani militer kita merupakan kewajiban mutlak seirama dengan kemajuan ekonomi yang telah kita dapatkan saat ini. Hanya orang-orang yang sableng saja yang mengatakan tidak perlu kita memiliki militer yang kuat. Atau mereka yang memang punya tujuan hendak membonsai militer karena memang dibayar untuk itu atau karena punya kebencian yang mendalam.

Diantara semua argumen yang disuarakan pihak sableng itu untuk tidak menganggap penting mempersenjatai tentara dengan alutsista modern karena sepanjang perjalanan bangsa ini relatif tidak ada ancaman terhadap eksistensi bangsa. Tidak ada perang terbuka dengan negara tetangga. Ini beda dengan India dan Pakistan yang sudah lebih dari sekali terlibat perang terbuka. Perang terbuka tahun 1971 akhirnya melahirkan negara Bangladesh yang sebelumnya bernama Pakistan Timur. Merasa dipermalukan India, Pakistan memperkuat militer dan persenjataannya termasuk senjata nuklir. India juga tak mau kalah dengan membangun militernya secara besar-besaran termasuk kekuatan nuklirnya.

Adalah sebuah kekeliruan jika kita mengabaikan pembangunan kekuatan militer oleh sebab yang disebut tadi, tidak ada ancaman. Ada atau tidak ada ancaman perjalanan bangsa ini mesti dikawal dengan kekuatan militer yang memadai karena militer itu senyawa dengan perjalanan eksitensi bangsa. Militer itu organ tubuh negara, bagian yang tak terpisahkan ketika bangsa ini membangun kesejahteraan dan ketahanan ekonominya. Seirama dengan itu memperkuat militer dengan alutsista modern adalah kesetaraan yang mesti dikedepankan tanpa bermaksud mentang-mentang.

Maka dengan kelapangan cara pandang, selayaknya kita terus menerus mempersiapkan kekuatan militer dengan memberinya gizi yang setara dengan kemajuan ekonomi yang didapat. Tidak terbantahkan memang, perjalanan pertumbuhan ekonomi selama 9 tahun terakhir cukup membungakan hati sehingga pada akhirnya kita bisa membangun kekuatan militer setelah sekian lama puasa alutsista. Jangan lupa perjalanan pemerintahan SBY selama 9 tahun ini prioritas tamanya adalah pembangunan ekonomi. Artinya selama 6 tahun pertama belum ada yang signifikan dalam belanja alutsista kita, ya se adanya saja. Baru 3 tahun terakhir ini belanja alutsista dijalankan dengan argo penuh untuk mempercepat modernisasi alutsista TNI.

Tahun 2014 nanti ketika SBY mengakhiri perjalanan pemerintahnya dengan 2 kali masa jabatan, pada saat itu sudah banyak aluistsista yang berdatangan. Meski begitu untuk ukuran kekuatan ideal, belanja alutsista sampai tahun 2014 belumlah masuk kategori gahar. Kedatangan berbagai jenis alutsista baru itu hanya untuk menutupi kekurangan alutsista yang sangat bersahaja dan kurang gizi. So sampai tahun 2014 sejatinya kita baru sampai pada tahap memulihkan “kesehatan gizi” alutsista, kita baru sembuh, saudaraku.

Itulah sebabnya cerita pengadaan alutsista di periode berikutnya tahun 2015-2019 dengan figur kepemimpinan yang baru adalah kunci menuju kekuatan kesetaraan dengan negara sekitarnya. Oleh sebab itu perlu selalu dikumandangkan cara pandang pemerintahan eksiting sekarang ini untuk disambung dengan kebijakan yang sama dan sebangun dengan next government. Meneruskan program penguatan alutsista TNI. Jangan sampai ketika gizi alutsista sudah sampai pada taraf kesehatan gizi lantas dibiarkan lagi karena menganggap sudah cukup. Teknologi apapun dalam ruang kekinian termasuk teknologi alutsista merupakan “makhluk ciptaan” yang berusia pendek. Hari ini kita membeli atau memproduksi satu jenis alutsista dengan teknologi terkini, lima tahun lagi sudah ada edisi tercanggihnya. Nah itulah salah satu argumen mengapa kita harus terus memperbaharui alutsista.

Bangsa ini akan terus menapaki jalan kehidupannya, melintas dalam pembaharuan waktu dan upaya mensejahterakan sumber daya manusianya. Kita akan terus menjalani ruang waktu ini bersama konektivitas dan hubungan antar bangsa yang dinamis dan simbiosis. Peran militer adalah untuk mengawal dan menjaga kewibawaan hubungan yang dinamis itu utamanya memelihara kewibawaan bernegara dari rangsangan pihak luar yang hendak bersitegang. Negara yang punya militer kuat, tentu dengan kemajuan ekonomi yang signifikan, memberikan nilai tambah dalam spirit nasionalisme. Spirit kebangsaan itu sudah ada dalam naluri anak bangsa. Kebanggaan itu akan semakin sempurna manakala kita punya kekuatan militer dengan alutsista yang canggih. Itulah sejatinya esensi beralutsista.


*******


Jagvane/ 17 Januari 2013

Wamenhan Meninjau Kesiapan KCR Ke-3


Jakarta | Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Kabaranahan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan sejumlah pejabat Kemhan serta TNI lainnya, Kamis (17/1), melakukan kunjungan kerja ke Batam, dalam rangka meninjau kesiapan Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 ketiga, yang akan diserahkan pada akhir bulan ini.

Kapal yang diberi nama KRI Beladau-643 tersebut, memiliki spesifikasi teknologi tinggi dengan panjang 44 meter, lebar 8 meter, tinggi 3,4 meter dan sistem propulasi fixed propeller 5 daun serta mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot.

KCR - 40 terbuat dari baja khusus bernama High Tensile Steel pada bagian hulunya (lambung). Baja High Tensils Steel ini merupakan produk dalam negeri dari PT. Krakatau Steel. Sementara untuk bagian atasnya, kapal ini menggunakan Aluminium Alloy sehingga memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi saat berlayar. Kapal yang sepenuhnya di buat di PT. Palindo Marine Shipyard itu, juga dilengkapi sistem persenjataan modern (Sewaco/Sensor Weapon Control), diantaranya meriam kaliber 30 mm enam laras sebagai Close in Weapon System (CIWS) atau sistem pertempuran jarak dekat dan Rudal C-705 buatan China

Selain melihat secara langsung KRI Beladau-643, Wamenhan beserta rombongan juga berkesempatan meninjau Combat Boat hasil produksi PT Palindo Marine Shipyard bekerjasama dengan Balitbang Kemhan RI, yang pengerjaannya sudah memasuki tahap penyelesaian

DMC

Komando Pasukan Katak Turun ke Basement UOB

 Diduga setidaknya dua orang terjebak di basement bangunan kantor itu

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2013/01/18/188590_air-banjir-masuk-dalam-basement-gedung-uob--sudirman_209_157.jpg
Air Banjir masuk basement UOB
Jakarta | Enam mobil pompa milik Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Regional DKI Jakarta hari ini membantu proses evakuasi karyawan UOB yang diduga masih terjebak di basement gedung perkantoran yang beralamat di Jalan Sudirman tersebut. Tim pasukan elit dari TNI Angkatan Laut pun dikerahkan.

Hal itu diungkapkan Kepala Pemadam Kebakaran Regional DKI Jakarta, Paimin Napitupulu, kepada VIVAnews pada Jumat 18 Januari 2013. Masing-masing mobil mengerahkan pompa yang dibawa untuk menyedot air yang masih menggenangi basement 3 tingkat tersebut.

Menurut Paimin, proses penyedotan air berlangsung sekitar dua jam, jika tidak ada rembesan air dari sungai Ciliwung.

Hingga pukul 16.00 WIB, proses evakuasi masih terus berlangsung. Ada empat personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) diterjunkan untuk terus mencari karyawan UOB yang hingga ini belum ada tanda-tanda telah ditemukan. Sedangkan 25 personel yang merupakan gabungan dari Marinir dan Damkar tetap berjaga di lokasi.

Diduga, setidaknya ada dua orang terjebak di basement ini. Pukul 08.00 tadi, sesosok tubuh kaku dievakuasi dari basement dan langsung dilarikan ke rumah sakit, tanpa diketahui kondisinya.

Vivanews

Pesawat Tanpa Awak Awasi Perbatasan

 Novyan: Bisa Melacak Perdagangan Ilegal

Pontianak | Tak gampang mengawasi seluruh teritori Kalbar, terutama wilayah perbatasan Kalbar-Sarawak, Malaysia Timur yang rawan penetrasi pesawat asing atau gerakan lawan.

“Dalam waktu dekat ini kita akan dapat bantuan kekuatan satu skuadron pesawat tanpa awak. Kita berharap 2013 ini sudah datang dan siap dioperasikan,” ungkap Danlanud Supadio Kolonel Pnb Ir Novyan Samyoga saat berkunjung ke Redaksi Rakyat Kalbar di Graha Pena Kalbar Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (17/1) sore.

Teknologi maju yang akan digunakan Angkatan Udara khususnya di Kalbar yang berpangkalan di Lanud Supadio sudah menjadi kebutuhan baik pertahanan udara maupun menjaga kedaulatan Republik Indonesia.

Karena itu TNI AU tidak punya pilihan lain selain menempatkan satu skuadron pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV) di Lanud TNI AU Supadio Pontianak.

UAV yang tidak tertangkap radar itu merupakan yang pertama di Kalimantan dan ditempatkan di Supadio. Novyan mengatakan keberadaan pesawat pengintai UAV akan sangat membantu menjaga pertahanan NKR I khususnya di Kalbar.

Pasalnya, tambah Danlanud, Meksiko dan Amerika saja yang sudah didukung dengan segala peralatan dipasang masih menggunakan pagar kawat. Sementara perbatasan Indonesia-Malaysia tidak ada sama sekali perlindungan tersebut.

“Kita harapkan nanti pesawat pengintai itu tidak hanya mengawasi keamanan juga perdagangan ilegal. Terutama perdagangan barang haram seperti narkoba. Selain itu juga kejahatan internasional yang semakin rawan di perbatasan,” kata Novyan.

Ia menambahkan, pesawat tanpa awak itu tidak hanya mengawasi perbatasan darat tetapi juga laut. Pengawasan akan dilakukan sejauh efek side pesawat tersebut. Seperti diketahui, Kepulauan Natuna termasuk salah satu wilayah yang bisa dijangkau dari Supadio.

“Pesawat yang akan beroperasi nanti diperkirakan kemampuannya sekitar 400 km di perbatasan laut. Saat ini kita masih menunggu kedatangan UAV tersebut. Semuanya berdasarkan perintah Menteri Pertahanan,” jelas mantan ajudan wakil presiden tahun 2009 ini.

Novyan Samyoga juga mengakui Kalbar rawan di bidang keamanan dan pertahanan sebagaimana wilayah perbatasan umumnya. Tetapi untuk keamanan ranahnya Polri, sementara TNI fokus pada pertahanan.

“Kita bisa membantu Polri dengan catatan ada permintaan. Tetapi pada intinya kami tugasnya dalam hal keamanan. Kita bersyukur skuadron UAV ini hanya ada di Kalbar, karena kita berada di perbatasan,” jelasnya.

Novyan menambahkan, untuk di Kalimantan, skuadron tanpa awak ini hanya dioperasikan di Kalbar. Walaupun idealnya perlu beberapa skuadron udara. Tetapi memang kondisi ekonomi belum memungkinkan.

“Tetapi yang paling rawan di Kalbar. Pesawat tanpa awak itu hanya mengawasi wilayah NKRI, tidak boleh ke Malaysia. Keuntungannya, melalui pesawat itu kita bisa mengamati Malaysia tergantung sensitivitas sensor yang dimiliki,” tutur lulusan AKABRI Udara tahun 1989 itu.

Pesawat itu juga tidak bisa ditangkap radar militer. Termasuk radar untuk penerbangan yang ada di Bandara Supadio tidak bisa melacak atau menjejaki UAV itu. (kie)

Equatornews

RI-Finlandia Kerja Sama Kontra-Terorisme

Jakarta | Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro, menerima kunjungan kehormatan delegasi The Foreign Affairs Committee of Finland (Komisi Luar Negeri Parlemen Finlandia ), di kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jumat (18/1). Delegasi Finlandia dipimpin Timo Soini dan Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Kai Sauer.

Purnomo mengatakan, kunjungan delegasi Finlandia dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan khusus kerja sama bilateral kedua negara. Ia menjelaskan, sejak Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Finlandia pada 1954, belum ada kerjasama di bidang pertahanan.

"Secara khusus, pertemuan ini juga menjajaki kerjasama di bidang pertahanan, khususnya pendidikan dan pelatihan prajurit," kata Purnomo.

Ia menyebut, Finlandia memiliki pusat pelatihan pasukan penjaga perdamaian, yaitu Finnish Defence Forces International Centre (FINCENT) yang berlokasi di Kota Tuusula. Indonesia, menurut dia, bisa memanfaatkan kelebihan Finlandia dalam hal pendidikan untuk meningkatkan prajurit TNI.

"Kami juga bertukar pandang tentang isu keamanan global, misi perdamaian dan isu keamanan global, yang kedua negara ikut berperan aktif di dalamnya."

Purnomo melanjutkan, cakupan kerja sama juga terkait pembahasan isu keamanan dunia maya. Pasalnya kedua negara juga merasa ancaman dunia maya menjadi isu global yang harus ditangani bersama. "Kami berbagi pengalaman dalam hal cyber security dan solusi bagaimana cara mengatasinya."

Delegasi Komisi Luar Negeri Parlemen Finlandia mengunjungi Indonesia mulai 15 hingga 19 Januari 2013. Selain bertemu Komisi I DPR, mereka juga mengunjungi Indonesia Peace and Security Center (IPSC), Sentul.

Pimpinan delegasi Timo Soini menyatakan, pihaknya tertarik menjalin kerjasama dengan IPSC di bidang operasi kerjasama perdamaian dan kontra-terorisme. "Selain kerjasama kontra-terorisme, kami juga menyatakan dukungan kepada Indonesia yang ingin mewujudkan rencana sebagai 10 besar Troops Contributing Countries," katanya.


Republika