Sabtu, 27 Desember 2014

[World] AS Tambah Kontraktor Militer Swasta di Irak

Kontraktor swasta membantu militer AS mengerjakan tugas seperti perbaikan kendaraan hingga penyediaan konsumsi tentara. (Reuters/Lucas Jackson)

Pemerintah AS bersiap menambah jumlah kontraktor swasta di Irak sebagai bagian rencana Presiden Barack Obama mengalahkan militan ISIS yang mengancam pemerintah Baghdad.

"Sudah pasti akan ada sejumlah kontraktor yang dikerahkan untuk dukungan tambahan," ujar seorang pejabat senior Amerika Serikat yang menolak disebutkan namanya.

Jumlah kontraktor yang akan dikerahkan di Irak - diluar sekitar 1.800 kontraktor yang kini bekerja di Irak mewakili Departemen Luar Negeri AS - akan tergantung pada seberapa luas lokasi yang dicakup tentara AS yang menjadi penasehat pasukan keamanan Irak, dan sejauh mana mereka dari fasilitas diplomatik AS.

Namun, persiapan menambah kontraktor ini menggarisbawahi komitmen Obama terhadap Irak yang semkin tinggi.

Kontraktor swasta yang mengerjakan tugas yang sebelumnya ditangani oleh militer sendiri biasanya dikerahkan ke medan perang yang melibatkan tentara dan diplomat AS.

Kontraktor ini bertugas dari kemanan hingga perbaikan kendaraan serta layanan makanan.

Setelah ISIS merebut sejumlah besar wilayah Irak dan kota Mosul pada Juni, Obama memerintahkan tentara AS untuk kembali ke negara itu.

Bulan lalu, dia mengijinkan penambahan tentara hingga dua kali lipat, sekitar 3.100 orang, tetapi tidak berniat meningkatkan tugas mereka ke medan pertempuran.

Saat ini terdapat 1,700 tentara AS di Irak dan Menteri Pertahanan Chuck Hagel minggu lalu memerintahkan pengerahan 1.300 tentara tambahan.

Ketergantungan militer AS pada warga sipil terlihat ketika Hagel berkunjung ke Baghdad, saat dia dan rombongan diterbangkan di atas ibukota Baghdad dengan mengendarai helikopter yang dioperasikan oleh kontraktor Departemen Luar Negeri.
Tentara AS kembali dikerahkan ke Irak sebagai penasehat militer negara itu dalam memerangi kelompok militan ISIS. (Reuters/Ahmed Saad)

Pejabat senior AS mengatakan masalah yang muncul adalah ketika tentara AS berdatangan ke Irak, jumlah kontraktor Deplu AS ini tidak lagi cukup dalam mendukung kebutuhan tentara dan diplomat.

Juru bicara Deplu AS mengatakan bahwa setelah berkurang pada akhir 2011, jumlah kontraktor itu di Irak meningkat sedikit, kurang dari lima persen, sejak Juni.

 Kontroversial 

Sebagai contoh, pada Juli Deplu AS meningkatkan jumlah personel yang bertugas melindungi konsulat negara itu di Erbil yang diancam oleh serangan ISIS, dari 39 menjadi 57 orang.

Tim ini disewas dari Triple Canopi, bagian dari konglomerat Constellis Group, yang merupakan kontraktor keamanan terbesar Deplu AS.

Kehadiran para kontraktor di Irak, terutama perusahaan keamanan swasta, menjadi kontroversi sejak terjadi serangkaian insiden kekerasan ketika AS menduduki negara itu, dan mencapai puncaknya ketika 14 orang warga Irak tak bersenjata tewas di tangan pegawai perusahaan keamanan Blackwater pada 2007.

Pada Oktober lalu, tiga bekas pegawai itu dinyatakan bersalah dalam dakwaan pembunuhan tak berencana dan satu orang lagi dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan, yang menyebabkan reformasi dalam penanganan kontraktor oleh pemerintah AS.

Seorang pejabat AS lainnya mengatakan tentara Irak tidak mempergunakan kontraktor swasta untuk membantu mereka menjalankan tugas keamanan.

Kini semua kontraktor pemerintah AS yang ada di Irak bekerja di bawah Departemen Luar Negeri.

Penarikan tentara AS dari Irak pada 2011 mengharuskan departemen ini memperkerjakan sejumlah kecil kontraktor untuk membantu melindungi fasilitas-fasilitas diplomatik, dan layanan lain seperti makanan dan logistik.
Militer Amerika Serikat memimpin koalisi internasional yang melakukan serangan udara untuk hancurkan ISIS. (Reuters/Shawn Nickel)

Jumlah kontraktor swasta untuk Pentagon, yang pada akhir 2008 mencapai 163 ribu, hampir menyamai jumlah tentara AS di Irak saat itu, berkurang tajam setelah penarikan militer AS.

Juru bicara Pentagon Mark Wright mengatakan saat ini hanya sedikit kontraktor yang ada di Irak dan mereka bertanggungjawab kepada Deplu.

Pada akhir 2013 Pentagon masih menyewas enam ribu kontraktor di Irak yang sebagian besar mendukung penjualan senjata AS ke pemerintah Baghdad.

Namun ada pertanda trend ini akan berbalik. Pada Agustus Pentagon menyebarkan pengumuman terbuka bahwa badan ini mencari bantuan dari perusahaan swasta untuk membantu Departemen Pertahanan dan Badan Kontra Terorisme Irak.

Iklan ini tampaknya merupakan persiapan jika komandan militer perlu meningkatkan jumlah kontraktor di Irak.

Pengumuman tersebut tidak menyebutkan secara pasti jumlah kontraktor atau imbalan yang akan dibayar untuk layanan tersebut.(yns)

  ☠ CNN  

TNI Butuh Senjata dan SDM untuk Amankan Perbatasan RI - RDTL

Danrem 161/Wira Sakti, Brigjen TNI Achmad Yuliarto yang ditemui di Lanud El Tari usai mengantar Menhan RI, mengatakan, ada 14 pos perbatasan yang sudah roboh dan segera membutuhkan perbaikan terutama di tiga titik wilayah perbatasan yakni perbatasan dengan Oekusi, Bijaesunan dan Humaniana.

Pos pemantau perbatasan di Pulau Batek juga membutuhkan perhatian selain masalah persenjataan untuk pengamanan wilayah perbatasan dan kekuatan personil.

Sementara untuk pengamanan perbatasan di wilayah laut, Danlantamal VII Kupang, Laksma Teddy Muhibah Pribadi yang ditemui di tempat yang sama, mengatakan, pada intinya untuk pengamanan wilayah laut, yang dibutuhkan adalah masalah SDM personil TNI AL dan kelengkapan peralatan.

Apalagi saat ini perhatian terhadap masalah maritim menjadi perhatian presiden RI, Joko Widodo sehingga kelengkapan peralatan persenjataan menjadi sangat penting.

"Masih dibutuhkan sarana prasarana seperti alat komunikasi, alat deteksi serta persenjataan. Juga kondisi kapal yang baik dan jumlah personil. Intinya hampir sama dengan TNI AD," kata Teddy.

Danlanud El Tari, Kol Pnb Andi Wijaya yang ditemui di tempat yang sama juga menambahkan hal yang sama. Kelengkapan peralatan dan persenjataan serta SDM yang baik dari personil TNI menjadi hal penting dalam mendukung pengamanan wilayah perbatasan.

  ☠ Tribunnews  

[World] AS kirimkan sistem pertahanan radar kedua ke Jepang

(AN/TPY-2)

Amerika Serikat telah mengirimkan sistem radar pertahanan rudal kedua kepada Jepang, kata Pentagon Jumat.

Sistem Pengintaian Radar Angkatan Laut/Transportable baru (AN/TPY-2) bertujuan untuk "meningkatkan cakupan sensor pertahanan rudal balistik dari Jepang dan Amerika Serikat," kata Departemen Pertahanan dalam satu pernyataan.

Amerika Serikat telah menyatakan ingin sekutunya untuk meningkatkan pertahanan rudal mereka untuk membantu melindungi terhadap perang Korea Utara.

Program rudal nuklir balistik dan Korea Utara adalah keprihatinan keamanan utama di wilayah Pasifik dan luarnya.

"Kami akan terus menekankan pentingnya mengembangkan sistem pertahanan rudal balistik kawasan," kata Wakil Kepala Staf Gabungan James Winnefeld pada awal tahun ini, menekankan bahwa kerja sama akan "menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan negara-negara masing-masing bertindak sendiri."

"Ini adalah topik yang sangat sensitif secara politis untuk beberapa kawasan sekutu kami, namun kemajuan di daerah ini hanya akan meningkatkan rasa percaya diri kami dalam menghadapi provokasi Korea Utara terus-menerus," tambahnya.

Dijuluki Kyogamisaki Communications Site, radar baru akan berlokasi di Kyogamisaki, sekitar 375 mil (600 kilometer) barat Tokyo. Di sini juga telah ada sistem radar Shariki, di Jepang utara.

Fasilitas ini telah diuji dan dibangun di Jepang oleh militer AS bekerjasama dengan Jepang, kata Pentagon, demikian AFP.(Uu.H-AK/)

  ☠ Antara  

Akan Dibentuk Yonif Mekanis 741 dan Yon Zipur 18

Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Pur) Ryamizard Ryacudu, didampingi oleh Dirjen Strahan, Mayor Jenederal TNI Yoedi Swastanto, SA Keamanan Mayor Jenderal TNI Wijaksono, Dirrenbanghan, Marsma TNI M Safii, Karo TU, Brigjen TNI Ida Bagus Purwa Laksana dan rombongan lainnya, mengunjungi Kodam IX/Udayana untuk memberikan pengarahan kepada para Perwira TNI Garnizun Denpasar pada (26/12) bertempat di Aula Makodam IX/Udayana.

Pada kesempatan tersebut Menhan tiba di Makodam IX/Udayana pada pukul 09.00 Wita diawali dengan penerimaan hormat berjajar dari Regu Jaga Makodam IX/Udayana yang pada intinya Komandan Regu Jaga melaporkan situasi Markas Kodam IX/Udayana Dalam keadaan aman, Menhan disambut oleh Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI, Torry Djohar Banguntoro, didampingi oleh para pejabat utama Kopdam IX/Udayana antara lain, Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Ruslian Hariadi, Irdam IX/Udayana, Danrem 163/wira Satya, Danridam IX/Udayana, Dan Lanal Denpasar, Danlanud Ngurah Rai, Para Asisten dan para Kabalak Kodam IX/Udayana. Menhan diarahkan menuju Ruang Tamu Pangdam IX/Udayana untuk melaksanakan transit sebelum memberikan pengarahan kepada para Perwira TNI garnizun Denpasar yang terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Selanjutnya Menhan menuju lantai tiga Aula Makodam IX/Udayana untuk memberikan pengarahan yang diawali dengan laporan Pangdam IX/Udayana. Pada kesempatan tersebut Pangdam IX/Udayana mengawali laporannya dengan mengucapkan selamat hari raya Galungan dan Kuningan kepada umat Hindu yang merayakannya, ucapan selamat hari Natal kepada umat Kristiani dan ucapan selamat datang kepada Menhan beserta rombongan di Kodam IX/Udayana. Pangdam melaporkan jumlah Perwira TNI (Darat, Laut dan Udara) yang mengikuti pengarahan Menhan pada hari ini berjumlah 516 orang dari satuan TNI yang berada di Garnizun Denpasar, selanjutnya Pangdam juga melaporkan tentang pembentukan satuan Yonif Mekanis 741 dan Batalyon Zipur 18 yang ada di wilayah Kodam IX/Udayana, hambatan yang ada antara lain, tidak adanya mobil Escape, Mobil Ambulance dan terbatasnya perlengkapan Matan, untuk itu permohonan Pangdam adalah percepatan pembangunan Pangkalan Yonif mekanis 741 dan dukungan peralatan pengamatan dan penyelamatan (Matan).

Selanjutnya Menhan mengawali pengarahannya dengan mengucapkan selamat tahun baru 2015 dengan harapan di tahun 2015 akan menjadi lebih baik lagi. Menhan juga menyampaikan tujuan tatap muka seperti ini adalah bertujuan untuk memperkuat dan memperkokoh kebersamaan dan semangat pengabdian sebagai komponen utama pertahanan Negara, Indonesia cinta damai namun lebih cinta kemerdekaan. Selanjutnya Menhan juga memaparkan tentang dinamika perkembangan global yang pada intinya terdapat dua tantangan, yaitu tantangan nyata antara lain terorisme, Wabah penyakit, Bencana Alam, Prompakan, Pencurian SDB, Pelanggaran Perbatasan, Perang Siber dan Intelijen serta penyalahgunaan Narkotika, sedangkan yang bersifat tidak nyata adalah Konplik Terbuka dan Perang Konvensional.Kemudian penekanan Menhan antara lain, Peralihan pemerintahan berlangsung aman dan damai, Loyalitas harus tegak lurus, tidak ada loyalitas ganda, Silaturahmi harus tetap terjalin dengan para pimpinan, Jangan lupa jasa-jasa pemimpin terdahulu, Tingkatkan terus kesadaran bela Negara, Jaga kekompakan antara sesama prajurit, sesama matra dan dengan instansi pemerintahan, Sebagai Komandan harus mampu memotivasi para bawahannya guna meningkatkan kinerja, Tingkatkan terus pemberdayaan wilayah pertahanan daerah, Galakkan upaya bela Negara, Pelihara dan hormati kearifan lokal dan hindari pernyataan yang kontra produktif yang dapat meresahkan masyarakat.

Demikian pengarahan Menhan dapat berjalan dengan lancar dan dilanjutkan dengan ramah tamah, Sholat Jumat di Mushola Kodam IX/Udayana. Selanjutnya Menhan sempat mengadakan foto bersama dengan para Pejabat Kodam IX/Udayana dan meninggalkan Makodam IX/Udayana.

Demikmian Pendam IX/Udayana.

  ☠ kodam-udayana  

[World] Pangkalan Militer Rusia di Krimea Telah Beroperasi

Pangkalan Laut Militer Krimea (KVMB), yang sempat menjadi bagian Armada Laut Hitam Rusia hingga 1996, telah kembali dibentuk dan mulai beroperasi. Hal tersebut diungkapkan oleh juru bicara Pangkalan Militer Laut Hitam Rusia kepada kantor berita TASS. Berdasarkan rencana, kapal frigat seri pertama Admiral Essen akan datang ke Armada Laut Hitam Rusia menjelang akhir tahun depan. Foto: TASS

“Markas besar gabungan tersebut terletak di Sevastopol. Hingga 19 Maret lalu, kota ini menjadi markas besar Angkatan Laut Ukraina. Satuan gabungan ini akan dipimpin oleh Kolonel AL Rusia Yuriy Zemskiy, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala satuan operasional armada laut Rusia di Laut Mediterania,” ujar sang juru bicara.

Seperti yang diumumkan oleh Kepala Pangkalan Laut Militer Krimea Kolonel Aleksey Komarov, brigade pertahanan garis pantai terpisah di kota Perevalnoye dan brigade senjata roket pasukan penjaga pantai terpisah di kota Sevastopol telah terbentuk sejak Senin (1/12).

“Satuan-satuan baru ini telah diaktifkan menjadi bagian kelompok tempur pertahanan serangan kelompok kapal musuh dari Laut Hitam,” terang Komarov.

 Kapal Baru Armada Laut Hitam 

Divisi Kapal Perang Armada Laut Hitam yang dibentuk kembali pada awal bulan ini rencananya akan dilengkapi oleh kapal-kapal baru proyek 11356 pada pertengahan 2015 nanti. Hal tersebut diumumkan oleh Komandan Divisi 30 Kolonel Oleg Krivorog. “Pada musim panas 2015 mendatang, kami akan kedatangan kapal-kapal tipe frigat proyek 11356 Admiral Grigorevich. Kapal tersebut akan bergabung dengan Armada Laut Hitam,” kata Krivorog.

Berdasarkan rencana, kapal frigat seri pertama Admiral Essen akan datang ke Armada Laut Hitam Rusia menjelang akhir tahun depan. Selang satu tahun, Divisi 30 juga akan kedatangan kapal fregat Admiral Makarov, diikuti kapal Admiral Butakov dan Admiral Istomin.

“Kapal-kapal baru Divisi 30 akan diawaki secara khusus oleh pelaut-pelaut kontrak. Meski kapal-kapal itu belum ada, persiapan awak untuk kapal-kapal itu sudah berlangsung dengan intens,” terang Krivorog.

Musim panas lalu, Resimen Artileri Pasukan Penjaga Pantai 8 telah dibentuk di Krimea. Mereka dilengkapi dengan tank Msta-S, sistem peluncur roket multilaras Tornado-G, dan kompleks peluncur roket antitank kelas berat Khrizantema, yang berjumlah lebih dari 60 unit.

Dalam satuan darat Armada Laut Hitam, terdapat Brigade Pasukan Marinir Terpisah 810 di Sevastopol dan Batalion Pasukan Marinir Terpisah 510 di Feodosiya, yang dibentuk musim panas lalu dengan menggabungkan batalion pasukan marinir Angkatan Laut Ukraina 510 dan Angkatan Laut Ukraina 1. Selain itu terdapat sejumlah sistem pertahanan udara, subidivisi pasukan zeni, pasukan pertahanan serangan kimia, dan lain-lain.

  ☠ RBTH  

[Video] Yonkav 8 Tank Divif 2 Kostrad

Yonkav 8 Kostrad menampilkan video resminya melalui youtube

  ☠ Youtube  

Kisah Tentara Jepang 30 Tahun Sembunyi di Hutan

Nakamura saat ditangkap tentara TNI AU (foto:Istimewa)

CERITA perang selalu bicara tentang penderitaan dan kepahlawanan. Cerita Teruo Nakamura, tentara Jepang yang bertugas di Kepulauan Morotai, Kepulauan Maluku Utara, Indonesia, mungkin masuk dalam keduanya.

Bagaimana kisah tentara Jepang itu? Cerita Pagi akan mengulasnya. Kisah kepahlawanan itu dimulai saat masa pendudukan Jepang di Indonesia, yang disusul dengan menyerahnya Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kepada Jepang, pada 8 Maret 1942.

Nakamaru yang lahir di Taiwan (saat itu Taiwan merupakan wilayah jajahan Jepang), pada 8 Oktober 1919, terkena wajib militer dan menjadi bagian dari Unit Sukarela Takasago Angkatan Darat Kekaisaran Jepang tahun 1943.

Dia ditempatkan di Pulau Morotai, Indonesia, tahun 1944. Pada tahun itu, tepatnya bulan September 1944, pasukan sekutu yang terdiri dari tentara Amerika Serikat dan Australia menyerang Morotai, pada tahun 1945.

Serangan sekutu itu menghancurkan kekuatan Jepang di Pulau Morotai. Dalam serangan itu, Nakamaru dinyatakan tewas oleh Kekaisaran Jepang. Kabar kematiannya diumumkan pada bulan Maret 1945, karena jejaknya tak pernah ditemukan.

Bahkan setelah beberapa tentara dari kelompoknya ditemukan di hutan tahun 1950, Nakamaru masih tetap tidak diketahui rimbanya. Keberadaannya baru terungkap setelah seorang warga Morotai yang sedang berburu babi melihatnya di hutan.

Melalui warga itu jugalah diketahui bagai mana kehidupan Nakamaru selama di hutan. Dia dikabarkan tinggal di dalam gubuk seluas 2×2 meter yang terbuat dari kayu, dan beratap rumbia. Di gubuk itu ditemukan tumpukan kayu yang sudah melengkung.

Kayu itu melengkung karena dijadikan tempat tidur, dan rencananya akan digunakan membakar dirinya sendiri, jika suatu saat dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa di dalam hutan. Di langit-langit gubuknya, ditemukan satu buah senjata bekas perang.

Senjata itu sangat terawat, dan masih bisa digunakan. Di lantai gubuknya, dia menyimpan 14 peluru aktif. Di dalam gubuk itu juga ditemukan satu botol besar yang berisi minyak babi untuk merawat senjata, dan bumbu makanan.

Sedangkan di kompleks gubuk itu, Nakamura menanam berbagai macam tanaman umbi-umbian, seperti ubi dan singkong. Dia juga membangun pagar kayu untuk melindungi gubug dan pekarangannya dari binatang buas, dan pendatang dari luar.

Nakamura berhasil dibujuk keluar setelah tim gabungan yang terdiri dari tentara Indonesia, dan pihak Kedutaan Jepang menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo, pada 18 Desember 1974. Saat mendengar itu, Nakamaru berdiri tegap hormat.

Pada saat itulah, Nakamura disergap tim dan ditodongkan senjata. Tanpa perlawanan, tentara Jepang terakhir di Indonesia itu menyerah. Dia lalu digiring ke Rumah Sakit (RS) Pelni, Jakarta, untuk menjalani perawatan.

Setelah dinyatakan sehat, Nakamura kembali ke Taiwan, tanpa singgah terlebih dahulu ke Jepang. Dia meninggal karena menderita kanker paru-paru lima tahun kemudian, di Taiwan, 15 Juni 1979.(san)

  ☠ sindonews  

[World] Selamanya Muda

Ketika harga pesawat baru meroket ke tingkat belum pernah terjadi sebelumnya, Angkatan Udara Israel (IAF) berhasil mempertahankan pesawat tua dan terus menggunakannya dari tahun ke tahun. Israeli Air Force – F-15I

Pasar pesawat terus menerus makin mahal. Platform dan teknologi terus maju dan mencapai harga yang bagi negara tertentu hanya akan menjadi mimpi untuk memilikinya. Angkatan Udara Israel lebih memilih untuk memperpanjang masa hidup pesawat daripada membeli yang baru. Tentu saja IAF tetap wajib menjaga keselamatan penerbangan dan relevansi operasional pesawatnya yang mungkin secara umur sudah uzur.

Memperluas rentang kehidupan pesawat dan memperbaiki sistem adalah salah satu kemampuan luar biasa IAF yang sejauh ini belum ada negara lain mampu melakukannya. Ketika angkatan udara lain mempensiun sebuah pesawat, IAF masih bisa mengoperasikan pesawat sejenis dalam waktu bertahun-tahun. Anehnya bukannya semakin loyo, pesawat tua itu justru semakin garang. Pesawat-pesawat negara ini seperti selalu muda. Apa rahasianya ?
Seperti Anggur Yang Baik Israeli Air Force – F-16I

Proses memperpanjang masa hidup pesawat dan memperbaiki pesawat adalah sistem yang berbeda dan benar-benar teripsah. Dua unit yang bertanggung jawab atas proses ini: yang pertama adalah unit pemeliharaan udara, yang mengkhususkan diri dalam urusan badan pesawat. Yang kedua adalah satuan elektronik, yang berkaitan dengan sistem elektronik pesawat, yang dianggap sebagai jantung dari pesawat.

Proses memperpanjang rentang hidup termasuk perbaikan umum, bertujuan untuk memastikan bahwa pesawat terbang dengan aman selama beberapa tahun lagi. Perawatan ini termasuk pada badan pesawat, komponen mekanik, kepala rotor, dan sistem kabel. Di sisi lain, proses upgrade dilakukan oleh unit kedua. Dalam rangka untuk menyesuaikan pesawat untuk kebutuhan operasional saat ini, unit menginstal sistem militer terbaru di bidang mempersenjatai, bela diri, radar, komunikasi, display dan banyak lagi.

Dengan kata lain, proses pertama adalah ”pengobatan” untuk pesawat untuk memungkinkan untuk tetap hidup, sedangkan proses kedua adalah tentang meningkatkan pesawat untuk membuatnya bekerja lebih baik. Dengan kata lain, pesawat itu sebenarnya seperti anggur. Jika dirawat dengan baik, maka semakin baik juga kinerjanya.
Hidup Panjang Dan Makmur Ketika pemerintah Israel membeli pesawat baru, helikopter atau platform lainnya dari produsen, yang biasanya dari AS, ia akan menerima semua informasi yang relevan tentang barang itu. Jet tempur yang dirancang untuk terbang selama 30-40 tahun tanpa perlu perbaikan signifikan, kecuali perawatan rutin dan pemeriksaan.

“Produsen tahu kapan pesawat akan mengalami kerusakan, kelelahan dan ketika bagian dari pesawat menjadi berbahaya untuk digunakan. Tujuan kami adalah untuk memahami perkiraan dan membangun rencana perbaikan untuk memastikan aman penerbangan dan biaya pemeliharaan yang wajar“, kata Kolonel S‘, Komandan Satuan Pemeliharaan Aerial. “Pesawat dan helikopter kami masih memiliki beberapa bagian asli, karena mereka bekerja dengan baik. Kita dapat mengantisipasi korosi, retak dan masalah lain yang disebabkan oleh kelelahan, dan berurusan dengan mereka sebelum mereka menjadi bahaya keamanan“.

Sampai dekade sebelumnya, itu adat untuk melakukan upgrade setelah 15-20 tahun, untuk me-refresh sistem operasional dan memperbaiki masalah keamanan. Hari ini, beberapa pesawat melalui kedua atau babak ketiga, seperti Sikorsky CH-53 helikopter, yang saat ini menjalani perbaikan untuk memungkinkan mereka untuk terbang dengan aman selama bertahun-tahun yang akan datang. Di tahun 90-an, helikopter tersebut mengalami proses yang sama, yang memberi mereka kemampuan untuk terus terbang hingga saat ini. Hal ini, tentu saja, hanya satu contoh dari banyak.
Pesawat Tua, Tantangan Baru Israeli Air Force – A-4N

Tantangan yang dihadapi ketika pesawat itu dibeli dengan kondisi sekarang sudah jauh berbeda. Dan hal ini dipahami sepenuhnya oleh IAF. Agar pesawat yang dibangun empat dekade yang lalu dapat melakukan misi relevan dengan perang modern, perlu peningkatan kemampuan yang signifikan “Tantangan operasional IAF sangat unik dan sistem elektronik canggih, yang sebagian besar eksklusif untuk IAF, memberikan keuntungan yang dibutuhkan”, kata Kolonel A, Komandan Unit Elektronik.

“Bersama dengan banyak upgrade elektronik kita lakukan, dunia elektronik maju dengan cepat dan sistem yang kita instal hari ini mungkin menjadi terlalu menantang atau bahkan tidak relevan besok, dan oleh karena itu unit harus mempertahankan tingkat profesionalismetinggi“.(VIT/JejakTapak)

Mayjen Daniel Tjen

Jenderal Tionghoa yang Pegang Jabatan Penting di Mabes TNI Mayjen Daniel Tjen

EMPAT pos pemeriksaan dan penjagaan terlebih dulu harus dilalui sebelum sampai di kantor Mayjen TNI Daniel Tjen di lantai 6 Gedung B-3, Markas Besar (Mabes) TNI, Cilangkap, Jakarta. Bagi orang luar, tentu tidak cukup hanya dengan pasang wajah manis setiap melintas di masing-masing pos tersebut.

Setiap tamu memang harus menyebutkan tujuan dan keperluan secara jelas mengapa akan menemui Daniel. Tanpa itu, sulit rasanya bisa menemui satu-satunya perwira tinggi TNI berdarah Tionghoa yang masih aktif tersebut.

Sesampai di depan ruangan sang jenderal, dua prajurit TNI kembali akan ’’menginterogasi’’ orang yang akan bertemu komandannya. Setelah memastikan tujuan dan maksud kedatangan tamu, salah seorang prajurit masuk ke ruang dan menyampaikan kepada atasannya tersebut.

’’Mohon izin, Jenderal,’’ ujar prajurit tersebut tegas, Jumat siang (19/12).

Membaca namanya, Daniel Tjen, orang yang belum pernah bertemu mungkin bisa menebak bahwa sang jenderal berdarah Tionghoa. Benar saja, kesan itu mendapat penegasan ketika berhadapan langsung dengan prajurit TNI kelahiran Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung, 24 Juni 1957, tersebut.

Ya, jenderal bertinggi badan 168 cm itu memang terlahir dari orang tua berketurunan Tionghoa. Mendiang ayahnya, Tjen D. Tjoeng, adalah salah seorang karyawan di pabrik timah di Pulau Bangka. Di antara enam bersaudara, Daniel adalah satu-satunya yang memilih jalan hidup yang ’’out of the box’’. Yakni, menjadi tentara. Lima saudaranya, sebagaimana umumnya warga Tionghoa, menjadi pedagang atau pekerja di perusahaan swasta.

’’Masa kecil saya sama dengan anak-anak lain yang lahir di kampung. Kami tidak berpikir untuk menjadi tentara,’’ kenang Daniel.

Hingga SMA, bapak dua anak itu masih tinggal di pulau yang berada di pesisir timur Sumatera Selatan tersebut. Baru ketika kuliah, dia melanjutkan pendidikan dokter di sebuah universitas di ibu kota.

’’Waktu kuliah itu pun masih belum terpikir (mau jadi tentara). Yang ada bagaimana saya bisa menjadi dokter,’’ tambahnya.

Namun, seiring perjalanan waktu, dunia militer justru menarik perhatian Daniel. Tepatnya sesaat setelah dia lulus pendidikan dokter pada 1984. Ketika itu, Daniel melihat sejumlah seniornya sukses masuk menjadi tentara melalui jalur wamil (wajib militer).

’’Pada tahun-tahun itu, sistem di TNI sudah berjalan baik, tidak ada sekat suku atau agama. Mereka yang terbaik yang akan dipromosikan,’’ tuturnya.

Daniel pun ikut mendaftar tentara lewat jalur wamil pada 1984. Setahun kemudian, dia lulus sekolah calon perwira (secapa) dan mendapat tugas pertama di Kodam IX/Udayana. Tepatnya di Batalyon 745 yang bermarkas di Lospalos, Timor Timur (sekarang Timor Leste). Dia langsung bertugas dalam operasi militer.

Daniel bertugas selama 2,5 tahun di kota berpenduduk sekitar 28 ribu jiwa itu. Selanjutnya, dia pindah tugas ke ibu kota Timor Leste, Dili. Selama sekitar 3,5 tahun dia bertugas di wilayah yang kemudian lepas dari RI pada 1999 tersebut.

’’Enam tahun penugasan di daerah operasi militer itu banyak menempa saya,’’ ungkapnya. Keluar masuk hutan dengan hanya berjalan kaki sudah biasa bagi dia waktu itu. Sebagai dokter militer, Daniel tidak berbeda dengan prajurit pada umumnya.

’’Makan hanya dengan nasi putih dan sedikit sambal, nikmatnya sudah luar biasa. Makanan di hotel bintang lima nggak ada apa-apanya,’’ ucapnya lantas tersenyum.

Daniel merasa pengalamannya di daerah operasi militer itu sangat berkesan. Sebab, tidak semua dokter militer pernah bertugas di daerah operasi.

Meski juga menguasai penggunaan senjata, sebagai tenaga medis, Daniel memang lebih banyak memainkan peran soft power saat bertugas. Tidak hanya mengurusi kesehatan prajurit TNI dan keluarganya, dia juga melayani masyarakat umum.

Misalnya, saat bertugas di Lospalos, Daniel tiba-tiba dibangunkan pada tengah malam oleh penduduk setempat. Mereka meminta tolong kepada Daniel untuk membantu persalinan seorang warga. Rumah pasien itu berlokasi di seberang hutan yang cukup jauh dari tempat tinggal Daniel.

Tanpa pikir panjang, sebagai satu-satunya dokter di rumah sakit kabupaten, Daniel pun berangkat. Padahal, lokasi desa tempat si ibu yang akan melahirkan dikenal sebagai salah satu sarang Fretilin, kelompok pemberontak.

’’Saat itu, saya berpikir mau membantu karena niat baik saja, tidak melihat apakah warga yang meminta bantuan itu GPK (gerombolan pengacau keamanan) atau bukan,’’ ujarnya.

Daniel bersama dua penduduk yang meminta bantuan itu langsung meluncur ke lokasi.

Mereka menembus hutan dengan mengendarai ambulans yang lampu depannya sudah mati. ’’Jadi, ya satu tangan pegang setir, satu lagi pegang senter. Tapi, bersyukur, semua berjalan baik saat itu,’’ ungkapnya lantas tertawa.

Selepas dari Timor Leste, Daniel menjalani tour of duty jabatan dan penugasan. Dia sempat bertugas di Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad), di Kodam III/Siliwangi, hingga akhirnya di Direktorat Kesehatan Mabes TNI-AD. Dengan cepat, dia menjabat wakil direktur kesehatan AD, lalu promosi menjadi wakil kepala pusat kesehatan (Wakapuskes) TNI.

Di jabatan itulah pangkat kemiliteran Daniel naik menjadi bintang satu alias brigadir jenderal (brigjen). Mulai November lalu, dia pun resmi menjabat Kapuskes TNI. Saat Daniel menjadi direktur kesehatan TNI-AD, prestasi membanggakan berhasil diraih Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. RS milik TNI-AD itu menjadi rumah sakit pertama di dunia yang terakreditasi secara internasional.

Akreditasi dilakukan Join Commission International (JCI). Di Indonesia, rumah sakit pemerintah yang berstandar internasional adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS Sanglah Bali, RS Fatmawati Jakarta, dan RSUP Sardjito Jogjakarta.

Menurut Daniel, akreditasi itu penting karena menjadi jalan bagi RS Gatot Soebroto sebagai rumah sakit berkelas internasional. Dia kemudian mengungkapkan keprihatinannya atas fakta bahwa 2 persen GDP (gross domestic product) Singapura berasal dari sektor kesehatan yang disumbang orang-orang Indonesia.

”Saya bersyukur memiliki teman-teman yang merupakan orang-orang hebat hingga Indonesia bisa diakui secara internasional seperti sekarang,” tandas Daniel.

Karir militer Daniel tidak hanya cemerlang di lingkungan TNI. Di dunia internasional, dia juga mendapat pengakuan. Saat ini dia dipercaya duduk sebagai co-chairman di International Committee of Military Medicine (ICMM).

Organisasi di bawah PBB yang berkantor pusat di Brussel, Belgia, itu menaungi satuan kesehatan militer dari 114 negara. Dia terpilih saat kongres terakhir di Riyadh, Arab Saudi. ”Tahun depan, jika tidak ada halangan, saya akan menjadi chairman-nya,” kata Daniel.

Kepercayaan itu bakal diberikan seiring penunjukan Mabes TNI sebagai tuan rumah kongres ICMM. Kepercayaan tersebut tidak didapat begitu saja. Indonesia harus lebih dahulu menjalani open bidding (seleksi terbuka) dengan sejumlah negara. Saingan terberat saat itu adalah Tiongkok dan Singapura.

”Dua negara yang militernya relatif lebih hebat dari kita itu ternyata kalah oleh kita,” katanya dengan bangga.

Menjadi chairman ICMM, bagi Daniel, bukan sekadar penghargaan atas sebuah jabatan berkelas internasional. Namun, dia memandang jabatan tersebut bisa menjadi peluang Indonesia untuk semakin memajukan peran militer di kancah internasional. Khususnya di lingkup kesehatan militer.

”Ini strategis. Jangan dibayangkan perang era sekarang tembak-tembakan dan senjata. Sesuai perkembangan, kini ada perang asimterik, ada perang proxy, di mana bidang kesehatan menjadi salah satu bagian penting,” ungkapnya.

Selain Daniel, beberapa warga keturunan Tionghoa pernah meniti karir di bidang kemiliteran hingga berpangkat jenderal. Namun, mereka sudah memasuki masa pensiun. Di antaranya, Brigjen TNI (pur) Tedy Jusuf, Laksamana Pertama TNI (pur) Dr dr Harmin Sarana, dan Laksamana Muda TNI (pur) Jahja Daniel Dharma atau yang lebih dikenal sebagai John Lie.

”Saya tidak pernah merasa dibeda-bedakan selama bertugas di milter. Yang saya alami dan rasakan di militer selama ini hanya dua, yakni enak dan enak banget. Tidak ada yang lain,” tegas Daniel, lalu kembali tersenyum.

  batampos  

[World] Sepanjang 2015, Rusia Akan Lakukan Empat Ribu Latihan Militer

Prioritas dalam latihan militer angkatan bersenjata Rusia pada 2015 adalah penyempurnaan persiapan staf militer dari berbagai angkatan dalam hal kepemimpinan untuk mengatur unit-unit bawahannya dengan menggunakan sistem manajemen otomatis dan alat komunikasi paling mutakhir. Hal itu disampaikan oleh bagian Humas dan Informasi Kementerian Pertahanan Rusia. http://nl.media.rbth.ru/web/id-rbth/images/2014-12/big/TASS_8750605_468.jpgPelatihan tahun depan akan menjadi langkah selanjutnya untuk keberlangsungan proses penetrasi inovasi skala besar dalam bidang militer Rusia. Foto: TASS

Pada 2015 mendatang, Rusia telah merencanakan sekitar empat ribu kegiatan persiapan militer untuk berbagai tingkat dan skala kegiatan, termasuk latihan bersama dengan unit dan subdivisi tempur negara anggota Collective Security Treaty Organization (CSTO) dan Shanghai Cooperation Organization (SCO). Kegiatan persiapan militer terbesar untuk tahun depan adalah latihan militer Center 2015 dan latihan militer bersama antara angkatan bersenjata Rusia dan Republik Belarusia yang bernama Shchit Soyuza 2015.

Tahun depan juga akan diselenggarakan Perlombaan Militer Internasional yang pertama di Rusia, termasuk Kejuaraan Dunia Tank Biathlon 2015 serta lebih dari sepuluh kompetisi internasional di antara pasukan angkatan darat dan lintas udara (Airborne), angkatan udara, angkatan laut, spesialis artileri, divisi Zeni, dan pasukan lainnya. Ajang kompetisi tersebut dapat menjadi sarana bagi para spesialis kemiliteran untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan kualitas persiapan anggota masing-masing.

Salah satu hal penting dalam persiapan subdivisi angkatan bersenjata di tahun 2015 nanti adalah peralihan ke program pendidikan khusus baru yang diarahkan untuk persiapan anggota militer sesuai dengan jenis dan divisi pasukan tersebut.

Beberapa hal penting dalam kegiatan pasukan tersebut adalah persiapan lintas angkatan (darat, laut, udara, dan lain-lain), serta pengorganisasian koordinasi unit dan divisi tempur di medan perang.

Praktik pengujian satuan dan unit militer yang dilakukan secara mendadak akan terus dilanjutkan, seiring dengan kegiatan-kegiatan seputar penyempurnaan mars barisan dan penyusunan ulang pasukan ke pusat uji coba militer yang tak dikenal, termasuk simulasi adu tembak.

Pelatihan tahun depan akan menjadi langkah selanjutnya untuk keberlangsungan proses penetrasi inovasi skala besar dalam bidang militer Rusia serta berfungsi sebagai pengembangan lanjutan dan penyempurnaan persiapan angkatan bersenjata Rusia.

  ♜ RBTH  

Jumat, 26 Desember 2014

[World] Iran Latihan Perang Besar-besaran di Teluk Persia

Manuver militer Iran di Selat Hormuz. | (Reuters)

Militer Iran telah memulai latihan perang besar-besaran di dekat Selat Hormuz, di pintu masuk Teluk Persia pada Kamis (25/12/2014).

Latihan perang besar-besaran itu dilaporkan langsung stasiun televisi pemerintah Iran. Kepala Pasukan Angkatan Darat Iran, Jenderal Ahmad Reza Pourdastan, mengatakan bahwa manuver besar-besaran ini “bertujuan untuk mentransfer pengalaman kepada generasi muda tentara Iran.”

Menurut laporan Al Arabiya, latihan perang akan berlangsung selama seminggu dengan area lebih dari 850 ribu mil persegi di bagian utara Samudra Hindia, Laut Oman dan area sekitarnya. Wilayah-wilayah itulah yang menjadi lalulintas dari seperlima pasokan minyak dunia.

Pada tahan awal latihan perang Iran itu melibatkan unit darat yang fokus di wilayah tenggara Iran, mulai hari ini hingga Jumat besok.

Kendati demikian, militer Iran tidak menjelaskan jumlah personel dan jenis kendaraan dan peralatan tempur yang digunakan dalam latihan perang besar-besaran tersebut.(mas)

 Pasukan Iran Mendeteksi Pesawat Mata-mata Asing 
A Sukhoi Su-24MK of IRIAF flighting over Shahid Dastghaib International Airport.Latihan militer besar-besaran Iran di sekitar Selat Hormuz diintai oleh sejumlah pesawat mata-mata negara lain. Iran mengeluarkan peringatan untuk mengusir pesawat-pesawat tersebut.

Militer Iran telah mendeteksi dan mengeluarkan peringatan kepada beberapa pesawat asing yang dicegat pada hari pertama latihan militer besar-besaran. Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan pada hari Kamis (25/12/2014), mengutip Komandan Pertahanan Udara Iran, Farzad Esmaili. Farzad Esmaili mengatakan pesawat yang tidak disebutkan asal negaranya itu berkeliaran di daerah tersebut.

Esmaili menekankan bahwa Pertahanan Angkatan Udara Iran memiliki kontrol penuh atas wilayah di mana latihan yang sedang dilakukan.

Latihan militer Iran dengan sandi 'Muhammad Rasullullah' yang melibatkan Tentara Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Pertahanan Udara dan Angkatan Laut, dimulai pada hari Kamis dan berlangsung hingga 31 Desember 2014.

Menurut Tasnim, dua hari pertama latihan Iran akan ditujukan terutama untuk latihan kekuatan di darat.

Selama latihan pada hari Kamis, Iran menerbangkan dua versi drone buatan dalam negeri Mohajer (Migraint) yakni Mohajer2-N (M2-N) dan Mohajer 4 (M4). Kedua versi dari drone Mohajer dapat menangani berbagai tugas sipil dan pertempuran, termasuk pengintaian udara pengintaian, pencarian dan penyelamatan, kartografi dan misi patroli polusi minyak. Drone Mojaher juga dapat dipersenjatai dengan rudal. Versi M2-N diresmikan akhir bulan November di International Iran Kish Airshow.

  ⚓️ Sindonews | Sputniknews  

Kisah Kopassus & Chris John kibarkan bendera raksasa di Monas

Bendera merah putih raksasa di monas

Bendera Merah Putih raksasa berkibar dengan gagahnya di Tugu Monumen Nasional, Jakarta. Bendera ini memiliki panjang 58 meter, lebar 38 meter dan luas 2.250 meter persegi akan menyambut seluruh pengunjung monas.

Pemerintah Jokowi menobatkan hari ini sebagai Hari Bela Negara.

Pengibaran bendera tersebut dipimpin oleh petinju kelas dunia, Johannes Christian John atau akrab disapa Chris John. Bendera mulai dikibarkan dengan aksi terjun dengan seutas tali dari puncak monas oleh tiga anggota Kopassus, yakni Letda (inf) Jatmiko, Serda Marpaung dan Serda Joko.

"Ini menjadi informasi penting kepada pemerintah dan rakyat, untuk mensosialisasikan bela negara. Bahwa, bela negara bukan cuma perang," ujar Direktur Bela Negara Mabes TNI, Laksamana Pertama M Faisal di Silang Monas, Jakarta, Jumat (19/12).

Bendera raksasa tersebut dipasang menghadap ke selatan. Pemasangan bendera itu sempat menjadi pusat perhatian para pengunjung monas, dan menyempatkan diri melihat seluruh atraksi yang ditampilkan pasukan TNI dan pramuka.

Pemasangan bendera ini dihadiri oleh Menko Polhukam Tedjo Edy Purdjiatno, Menhan Ryamizard Ryacudu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Mereka turut menaikkan bendera tersebut dengan seutas tali yang disiapkan bersama-sama dengan menteri kabinet kerja serta pasukan TNI.[ian]

  ⚓️ Merdeka  

[World] S. Korea Envisions Light Aircraft Carrier

South Korea's Navy plans to build the second ship of the Dokdo class large-deck landing ships as a light carrier to fly vertical takeoff aircraft, with a long-term goal of building two aircraft carriers by 2036. (US Navy)

The South Korean Navy believes it can deploy two light aircraft carriers by 2036 and expand its blue-water force to cope with the rapid naval buildups of China and Japan, according to a Navy source.

The service has been exploring ways of securing light aircraft carriers based on an interim feasibility study, the source said.

“It’s a hope,” the Navy source said on condition of anonymity. “There are no fixed requirements at the moment, but we’ve been studying ways of launching light aircraft carriers over the next two decades.”

Rep. Chung Hee-soo of the ruling Saenuri Party revealed the contents of a program in a feasibility report last week.

“To cope with potential maritime disputes with neighboring countries, we need to secure aircraft carriers as soon as possible,” Chung, a member of the National Assembly’s Defense Committee, said during a confirmation hearing Oct. 11 for Adm. Choi Yoon-hee, new chairman of the Joint Chiefs of Staff. “For more active international peacekeeping operations, our Navy should have carriers.”

According to Chung, the Navy envisions three phases:

■ The first is to equip the second ship of the Dokdo-class landing platform helicopter ship (LPH) with a ski ramp to operate short-range or vertical take-off and landing (VTOL) aircraft.

The flight surface of the landing ship is already sprayed with urethane, which can withstand the heat created by the aircraft during operations.

Dokdo, with the addition of a ski ramp, could be deployed before 2019, according to the report, which suggests the Navy procure used VTOL jets from the US, UK and Spain if needed.

■ Second, the Navy could build an amphibious assault ship, similar to the Spanish Navy’s Juan Carlos, before 2019.

■ Finally, the service aims to build two 30,000-ton light aircraft carriers between 2028 and 2036, the report said. The carrier is to have specifications similar to the Italian aircraft carrier Cavour, which can support about 30 aircraft.

“We should have capabilities to deter North Korea, and at the same time, we need minimal capabilities to respond to potential threats from neighboring countries,” Choi replied to Chung, apparently referring to the naval buildups of China and Japan.

China commissioned its first aircraft carrier last year, with three more carriers planned. Japan, whose Navy is classed as a self-defense force, has controversially unveiled a 20,000-ton helicopter destroyer akin to a small aircraft carrier.

 More Aegis Ships and Jets 

During the National Assembly last week, the Navy unveiled mid- to long-term procurement plans to further strengthen its naval power.

The service plans to commission three more 7,600-ton KDX-III Aegis destroyers by 2023 to develop a strategic mobile fleet. The service has three KDX-III destroyers fitted with Lockheed Martin-built SPY-1D radar capable of tracking incoming ballistic missiles and enemy aircraft.

“The construction of new Aegis ships could be completed earlier than scheduled,” Adm. Hwang Gi-chul, chief of naval operations, testified. “And the new Aegis ships will have better stealth functions than those with the existing ships.”

The Navy will also launch six, 5,900-ton next-generation destroyers — dubbed KDDX — after 2023.

The development of an attack submarine is on track, according to the Navy. The service plans to commission six more 1,800-ton Type 214 submarines to bring the 214 fleet to nine subs by 2023. After that, it will deploy nine, 3,000-ton heavy attack submarines codenamed KSS-III. The KSS-III is to be equipped with a vertical launch tube to fire a 1,500-kilometer cruise missile that can hit key targets in North Korea.

Other procurement plans include the FFX program to build a dozen new frigates with advanced sensors and a wide variety of weaponry. The FFX program is intended to replace the aging fleet of existing Ulsan class frigates and Pohang class corvettes with multimission frigates.

The 2,300- to 3,000-ton FFX vessels are to be built in two batches with an objective of putting up to 24 ships into service by 2026.

The Navy also puts a priority on acquiring reconnaissance and surveillance aircraft. In particular, the service laid out plans to buy the Lockheed S-3 Vikings retired from front-fleet service aboard aircraft carriers by the US Navy in January 2009.

The service will purchase 18 S-3 jets and modify them into a new configuration meeting the Navy’s operational requirements. If adopted, it will be the first fixed-wing jet patrol aircraft operated by the South Korean Navy, which flies 16 P-3CK turboprop patrol aircraft.

“The S-3 introduction will offer a great opportunity for the ROK Navy to operate a carrier-based jet, as the service envisions deploying aircraft carriers in the future,” Kim Dae-young, a research member of the Korea Defense & Security Forum, a private defense think tank here. “From the operational perspective, the S-3 is expected to be used for various purposes, such as patrol, surface warfare and aerial refueling.”

In order to beef up its anti-submarine operation, the Navy will procure six more new naval helicopters by 2022.

In January, AgustaWestland won a $ 560 million contract to supply the South Korean Navy with six AW159 Lynx Wildcat helicopters equipped with an active dipping sonar for anti-submarine role.

  ⚓️ defensenews