Sabtu, 28 Maret 2015

[World] Manuver militer China di sekitar Natuna

imageKapal Induk Liaoning milik Angkatan Laut China berjaga di sekitar Natuna★

Pekan lalu beredar kabar China sudah menyiapkan armada kapal perang baru untuk bergabung dalam barisan armada perang Negeri Tirai Bambu.

Kekuatan Angkatan Laut China bisa dipetakan menjadi tiga bagian:

★ Armada Laut Utara dengan pangkalan di Laut Kuning dan markasnya di Qindao, Provinsi Shandong.
★ Armada Laut Timur pangkalannya di Laut China Timur dengan markas di Ningbao, Provinsi Zhejiang.
★ Armada Laut Selatan pangkalannya di Laut China Selatan dan markasnya di Zhanjiang, Provinsi Guangdong.

Dalam survei dua pekan lalu, rakyat China bahkan percaya armada Angkatan Laut mereka mampu mengalahkan pasukan Amerika di Laut China Selatan. Wilayah di Laut China Selatan, termasuk Kepulauan Natuna, selama ini menjadi sumber perebutan negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, Brunei, Taiwan, dan Indonesia.

Dalam survei dilakukan oleh Pusat Perth USAsia, lembaga peneliti Indo-Pasifik, sebanyak 86 persen rakyat Negeri Panda meyakini armada perang mereka mampu menguasai Laut China Selatan.

Dan ketika ditanya jika militer Amerika campur tangan di Laut China Selatan, sebanyak 74 persen responden menyatakan armada perang China tetap mampu mengalahkan Negeri Paman Sam itu.

Apa saja manuver militer China di Laut China Selatan? Berikut ulasannya.

 1. Perluas jangkauan kapal patroli 

Armada kapal perang China rutin berpatroli di Laut China Selatan. Mereka sekaligus menggelar latihan perang di wilayah yang menjadi sengketa dengan beberapa negara Asia Tenggara itu.

Dalam pelatihan itu mereka mengasah kemampuan bermanuver, pengawalan, respon cepat, dan perlindungan.

Harian China Ocean tahun lalu mengabarkan China telah menempatkan kapal patroli sipil berbobot 5.000 ton di perairan Laut China Selatan. Kapal itu ditempatkan di Sansha, Kepulauan Paracel.

Negeri Tirai Bambu itu secara bertahap akan membangun sistem patroli reguler di Sansha guna melindungi kepentingan maritim mereka.

Patroli oleh pihak China di Laut Cina Selatan umumnya dilakukan oleh kapal-kapal patroli sipil, meskipun angkatan laut China secara rutin melakukan latihan militer di sana.

Salah satu fokus dari patroli tersebut adalah operasi pencarian dan penyelamatan serta “respon cepat, tertib dan efektif untuk keadaan darurat di laut”.

 2. Bangun Pangkalan dekat Kepulauan Natuna 

Langkah China mengklaim secara sepihak Laut China Selatan membuat gerah bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Vietnam, Filipina, bahkan Indonesia. Guna mendukung klaim tersebut, ternyata China secara diam-diam membangun benteng di lautan yang kini menjadi sengketa sejumlah negara.

Hal itu terungkap dalam sebuah foto satelit yang disebarkan salah satu media di Amerika Serikat, Vox. Dalam foto tersebut, terlihat Angkatan Laut China tengah mengirim peralatan pembangunan terhadap sebuah pulau kecil di tengah laut, dan dengan cepat membuatnya lebih besar dibanding ukuran sebelumnya.

Vox meyakini, foto tersebut diambil dari Gugusan Karang dekat Kepulauan Spratly, di mana lokasi tersebut masih menjadi lokasi sengketa antara China, Filipina dan Vietnam. Gambar ini diambil dari Airbus Defence and Space pada 14 November 2014 lalu, dan dibeberkan ke publik awal maret ini.

Dalam foto pertama memperlihatkan kondisi karang akhir Agustus. Ketika itu, seluruh badan pulau seluruhnya masih terendam air dan hanya terdapat sebuah beton yang dibangun AL China. Namun, pada foto kedua terjadi perubahan besar, di mana di lokasi yang sama lebar pulau menjadi 3.000 yard.

 3. Tenggelamkan kapal asing melintas 

Pada Mei tahun lalu pejabat Vietnam mengatakan kapal Cina menabrak dan menenggelamkan kapal ikan Vietnam dekat lokasi pengeboran minyak di Laut Cina Selatan.

Menurut penjaga pantai Vietnam, kapal ikan dikelilingi oleh 40 kapal Cina sebelum akhirnya diserang. Sekitar 10 nelayan yang ada di kapal itu sudah diselamatkan, seperti dilansir BBC, Mei 2014.

Hubungan Vietnam dan Cina semakin tegang dalam sengketa terkait Laut Cina Selatan.

Sebelumnya Cina telah memindahkan pengeboran minyak Haiyang Shiyou 981 ke laut yang juga diklaim oleh Hanoi, yaitu dekat Pulau Paracel.

Vietnam sudah melakukan protes atas tindakan itu.

Sejumlah insiden yang melibatkan kapal dua negara di perairan sengketa juga sudah terjadi beberapa kali.

Penolakan Cina untuk memindahkan pengeboran minyak memicu protes anti-Cina di Vietnam awal bulan Mei itu. Insiden itu menewaskan sedikitnya dua orang dan beberapa pabrik dibakar.

 4. Kirim kapal induk Liaoning ke dekat Malaysia 

Tak hanya darat dan udara, kekuatan laut China juga bak raksasa. Kekuatan tersebut tak lepas dari kepemilikan China atas sebuah kapal induk kelas Kuznetsov yang diberi nama Liaoning. Kapal buatan Uni Soviet ini mampu mengangkut 30-40 jet tempur dan mulai berdinas di AL China sejak 2012 lalu.

Di samping itu, China juga memiliki kapal tempur jenis frigat yang jumlahnya mencapai 47 unit, kapal jenis destroyer 25 unit, dan kapal jenis korvet 23 unit. Sedangkan kapal selam yang dimiliki China berjumlah 10 unit.

  Merdeka  

[World] Pakistan Pamerkan Sistem Pertahanan Udara Baru FM-90 Buatan China

imageSelama parade militer nasional yang diadakan pada hari Senin, 23 Maret 2015, yang pertama dalam kurun tujuh tahun terakhir, Pakistan memamerkan sistem rudal pertahanan udara jarak dekat baru buatan China. Adalah HQ-7B (nama ekspor: FM-90) yang merupakan versi perbaikan dari sistem rudal HQ-7 (FM-80) yang merupakan versi China dari sistem rudal permukaan ke udara Crotale Prancis.

HQ-7B/FM-90 adalah sistem rudal permukaan ke udara segala cuaca yang di fungsikan untuk menjaga situs-situs penting dan sebagai pertahanan udara di medan perang dari target-target udara yang terbang di ketinggian rendah atau sangat rendah. HQ-7B/FM-90 tidak hanya efektif untuk menghacurkan senjata presisi (guided) seperti rudal jelajah, rudal udara ke darat taktis, dan rudal anti-radiasi, tetapi juga mampu mencegat pesawat tempur-bomber, pesawat tempur, UAV dan helikopter serang/tempur.
imageHQ-7B/FM-90 dipamerkan bersama Acquisition and Co-ordination Unit (ACU) acquisition radar

Kapan pembelian sistem rudal oleh Pakistan ini tidak diketahui, juga tidak tercatat di database transfer senjata Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), yang mendata semua transfer senjata di seluruh dunia. HQ-7B/FM-90 dibuat oleh China National Precision Machinery Import & Export Corporation (CPMIEC).

  artileri  

[World] China's assertiveness draws Japan and Indonesia closer

In a move widely viewed as a reaction to China's growing assertiveness, Japan and Indonesia have agreed to bolster defense ties. But can Jakarta also serve as a mediator in the region? DW speaks to analyst Zachary Abuza. image Seeking fresh investment from Asia's two largest economies, Indonesian President Joko Widodo recently finished a four-day visit to Japan, and will be headed to China from March 26 to 27, where he will meet President Xi Jinping and Chinese businessmen in a bid to bolster bilateral economic ties.

During his visit to Tokyo, Jokowi and Japanese PM Shinzo Abe boosted bilateral defense relations by launching a high-level maritime security forum designed to enhance Indonesia's coast guard and infrastructure capabilities. Separately, Jokowi said that while China's maritime claims in the South China Sea had no legal basis in international law, Indonesia was committed to remaining an "honest broker" in the disputes.

In a DW interview, Zachary Abuza, an independent researcher on Southeast Asian security, talks about the key aspects of Jokowi's Japan visit, why Indonesia is seeking to boost defense ties and what role it can play in regional disputes in Asia.
imageWidodo seeks better economic and defense ties with Japan★

DW: What were the key issues discussed during the bilateral summit between Japanese PM Shinzo Abe and Indonesian President Joko Widodo?

Zachary Abuza: This was the first visit by President Widodo outside of ASEAN. That it was Japan and not China first, is a message in itself. The goals of the visit were really twofold: to deepen economic cooperation and to begin more meaningful defense cooperation.

On the economic side, President Widodo is keen to increase trade and investment. In 2013, Indonesia's exports to Japan were $27.1 billion. Although that was above imports from Japan, $19 billion, the rate of exports over the past four years had really slowed in comparison to imports.

For Indonesia, it's really important to diversify their exports beyond natural resources. Jokowi is also trying to increase Japanese investment in Indonesia, including a large investment from Toyota, as well as investment in the country's energy sector, which is really under-developed and a break on growth.

Finally, Jokowi is seeking Japanese investment and expertise in his Maritime Axis doctrine, a cornerstone of his economic program, in which Indonesia plans to develop 24 ports and deep water harbors, as well as ancillary industries such as fisheries processing centers.

President Widodo also set out to improve defense cooperation especially in the maritime domain. To date there is very little, just a single agreement on the exchange of military students. The two sides announced a "maritime forum" and enhanced cooperation between their respective coast guards. This is a very low-level agreement that does nothing to change the security dynamics of the region.

Why would Japan and Indonesia feel the need to collaborate on maritime security?

Because of the growing assertiveness of China. Absent of that, I don't think we would see the two sides moving as close on these issues. Indonesia's territorial dispute with China in the East Sea is parallel to the South China Sea dispute, in which China, through its 9-dashed line claims 90 percent. China's extensive and rapid reclamation projects on six features is really destabilizing. While Indonesia has not been as vocally supportive as Vietnam or the Philippines about Japan's increased maritime patrols in the South China Sea, tacitly, I think Indonesia welcomes them.

I have heard little if any criticism of Japan's more robust security posture under PM Shinzo Abe. In 2010, Indonesia sent a letter to the UN Commission on the Limits of the Continental Shelf that "contested China's position on the South China Sea." China never replied nor has it clarified its position. While Indonesia is quick to downplay any conflict with China, the reality is China claims part of Indonesia's Exclusive Economic Zone (EEZ).

What is this increased collaboration likely to look like?

It will begin with very low-level and non-controversial steps, primarily the development of Indonesia's coast guard. Indonesia has watched as Japan has transferred coast guard craft to Vietnam and the Philippines in order to develop their capabilities. Indonesia's maritime law enforcement services are spread across multiple bureaucracies and agencies.

The two sides need to act on putting into place baseline security agreements, such as for search and rescue, humanitarian assistance & disaster relief (HADR), as well as perhaps cyber defense. These would be the appropriate areas to begin more routine defense cooperation.

Indonesia's defense budget of $8.1 billion has grown substantially since 2004 when President Susilo Bambang Yudhoyono, and much of that was plowed into modernizing Indonesia's surprisingly weak navy, as well as air force. Although both are still undergoing modernization programs, they both remain quite weak.

What can Indonesia do to ease tensions over territorial disputes either in the East or South China Sea?
imageTies between China and Japan have been tense for quite some time★

Indonesia often states that it is a "neutral party" in the South China Sea dispute and has stated its willingness to serve as a broker. But that's not really true. It does support a binding code of conduct, something that China says it supports but seems intent on never concluding.

Moreover, while Jakarta has no claim to any of the features in the South China Sea where China is doing its reclamation, the 9-dashed line, cuts through the EEZ of Natuna Island. Since 2010, Indonesia has asked China through diplomatic channels for clarification, and received no reply.

Indonesia has long indicated that it does not respect the legal basis of the 9-dashed line. Natuna is critical, as its offshore gas fields are some of the most lucrative in the country. In the past year, Indonesia has quietly been building up its military presence on the island. Natuna is quite far from the rest of Indonesia, and there is clearly growing concern about China's land-reclamation that will give it significantly more reach and permanent presence in the South China Sea.

The thing that you have to understand about China's reclamation projects, including port and airfield construction, is that they have very limited utility should fighting erupt; they are very vulnerable. And yet, short of war, they give China enormous capabilities to maintain constant patrols and exploitation of natural resources, while forcing other claimants out.

President Widodo has tried to walk back his comment made on Monday that he does not recognize the legality of China's 9-dashed line, which obviously displeased the Chinese leadership. Indeed, today, the Foreign Minister Retno Marsudi went even further denying that Indonesia had any overlapping claims with China.

Zachary Abuza is an independent researcher on Southeast Asian security and the author of "The Conspiracy of Silence: The Insurgency in Southern Thailand," published by the United States Institute of Peace.

  dw.de  

Kami Lakukan Hal Terbaik untuk Memperkuat Posisi Rusia di Pasar Indonesia

Pameran Indo Defense yang diselenggarakan di Jakarta pada November lalu telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki ketertarikan yang cukup besar terhadap pesawat buatan Rusia, sistem persenjataan Angkatan Laut, kendaran lapis baja, serta sistem pertahanan udara Rusia. Russia Today berbincang dengan Kepala Departemen Regional Rosoboronexport Vladimir Yereshcenko mengenai prospek Rusia di pasar Asia Pasifik dan model senjata terbaru yang ditawarkan oleh industri pertahanan Rusia. imagePesawat amfibia Be-200. [Sergey Subbotin, Ria Novosti]★

 Perluasan Kerja Sama Militer Teknis dengan Indonesia 

Kapal selam disel-elektrik dari Proyek 636 masih sangat diminati oleh Angkatan Laut Indonesia. Proyek tersebut terbilang sukses, dikembangkan dengan sangat canggih dan telah memenuhi semua persyaratan modern.

Rosoboronexport berharap, delegasi Indonesia akan mengunjungi kami dalam waktu dekat. Indonesia saat ini sedang menyusun anggaran belanja senjata untuk lima tahun ke depan, dan kami membuka lebar-lebar kesempatan untuk bekerja sama.

Rosoboronexport melakukan hal terbaik yang dapat dilakukan untuk memperkuat posisi Rusia di pasar Indonesia.

 Prospek Senjata Rusia di Pasar Asia Pasifik 

Saat ini, kawasan Asia Pasifik merupakan pangsa pasar dari hampir separuh jumlah keseluruhan produksi Rosoboronexport. Dengan potensi ekonomi mereka yang terus berkembang, negara-negara di Asia Pasifik semakin tertarik meningkatkan kapabilitas pertahanan mereka.

Tren yang berkembang, saat ini negara di kawasan Asia Pasifik ingin membangun industri pertahanan mereka sendiri dan memanfaatkan program ofset yang ditawarkan oleh negara-negara maju secara optimal. Kami siap untuk memenuhi hal tersebut. Kami sudah sangat berpengalaman dalam membangun perusahaan bersama dan berbagi lisensi, mentransfer teknologi, serta mengimplementasikan beragam proyek unik.

Kami sudah membangun kerja sama dengan sejumlah negara Asia Pasifik. Secara khusus, kami ingin memasuki pasar Filipina dan Brunei, mempererat hubungan kerja sama dengan Thailand, serta mulai berinteraksi dengan Korea Selatan. Negara-negara tersebut selama ini lebih fokus pada produsen senjata dari Barat. Namun, waktu telah mengubah keadaan dan pintu kesempatan kini terbuka lebar bagi kami. Selain itu, kami juga mengembangkan sayap ke Nepal. Kami sudah mengirimkan dua buah helikopter Mi-17 ke negara tersebut. Kami pun hendak memperluas jaringan di Srilanka dan Bangladesh.

 Senjata yang Dibutuhkan Asia Pasifik: Pertahanan Udara dan Perlindungan Angkatan Laut 

Sistem pertahanan udara Rusia mungkin salah satu bidang yang paling menjanjikan dalam kerja sama militer-teknis dengan Malaysia. Belum ada pembicaraan spesifik mengenai transaksi yang akan dilakukan, namun kami bisa merasakan ketertarikan Malaysia terhadap sistem pertahanan udara Rusia cukup besar, terutama pada sistem Igla-S, Pantsir-S1, dan Buk-M2E.

Kami juga melakukan promosi di pasar Malaysia. Minat terhadap kapal patroli dan sistem kontrol garis pantai yang kami tawarkan terbilang konsisten. Pertahanan garis pantai memang merupakan prioritas bagi Malaysia, terutama terkait masalah bajak laut di Selat Malaka.

 Pesawat: Fokus pada Yak-130 dan Be-200 

Di luar fakta bahwa Be-200 merupakan pesawat unik dan tak memiliki padanan ataupun pesaing di seluruh dunia, kami masih agak kesulitan mempromosikannya. Padahal, semua negara membutuhkan pesawat semacam ini. Kami terus melakukan promosi di wilayah Asia Pasifik, karena Be-200 cocok bagi mereka, terutama negara-negara yang memiliki perbatasan maritim yang terbentang panjang.

Di saat yang sama, kami juga optimis Yak-130 akan laku di area Asia Pasifik. Kami baru saja menandatangani kontrak pasokan pesawat ini untuk Bangladesh. Selain itu, kami juga terus melanjutkan promosi aktif untuk menjual Yak-130 ke Malaysia, Srilanka, dan Indonesia.

  RBTH  

Penampakan baru Pindad Badak

imageBadak dengan kubah turet upgrade scorpion [pr1v4t33r]★

Nampak di gambar sebelah penampakan baru IFV Pindad, Badak menggunakan kubah turet seperti kubah turet tank scorpion namun terdapat perubahan sedikit / upgrade.

Sayangnya belum ada berita resmi dari PT Pindad perihal ini.

Apakah kubah turet ini akan diadopsi sebagai sistem pertahanan kendaraan militer Badak produksi PT Pindad dan sudah final ?

Namun sekilas nampak kubah turet ini lebih pas dibanding sebelumnya yang terlihat tinggi dan mudah menjadikannya target.

Berikut evolusi penampakan Badak Pindad :

https://anaswannabe.files.wordpress.com/2014/11/10359221_567169370096353_3291811113282463344_n.jpg?w=604
Prototipe pertama Panser Kanon Pindad, Badak [Audrey]

http://www.shephardmedia.com/media/images/article/8f8588f5.jpg
Panser Kanon Badak menggunakan kubah turet tarantula

  Garuda Militer  

RRC Klaim Natuna Mirip Australia Klaim Pulau Pasir

imagePemerintahan Presiden Joko Widodo diharapkan terus meningkatkan upaya diplomasi terkait posisi Kepulauan Natuna di Provinsi Kepulauan Riau yang kini diklaim Tiongkok sebagai bagian dari yuridiksi Republik Rakyat China (RRC).

Demikian pernyataan ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB), Ferdi Tanoni, yang diterima redaksi Jurnal Maritim melalui surat elektroniknya, kamis kemarin (26/03/2015).

“Saya melihat, klaim RRC atas Kepulauan Natuna itu mirip dengan cara Australia mengklaim secara sepihak gugusan Pulau Pasir (ashmore reef) di selatan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur menjadi bagian dari yuridiksi negeri Kanguru,” katanya.

Tanoni menambahkan, Menko Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo boleh saja mengatakan bahwa posisi Kepulauan Natuna jauh dari Negeri Tirai Bambu, sehingga klaim atas kepemilikan pulau tersebut bagai jauh panggang dari api.

“Namun belajar dari kasus Pulau Pasir, yang letaknya dapat dicapai dengan perahu motor hanya dalam tempo empat jam dari Pulau Rote, namun tetap diklaim oleh Australia sebagai bagian dari yuridksinya. Padahal, jarak antara Pulau Pasir dengan Darwin di Australia Utara mencapai ratusan kilometer,” katanya mencontohkan.

Ia menambahkan jatuhnya beberapa pulau terdepan Indonesia ke tangan asing, sebagai bukti bahwa Indonesia lemah dalam melakukan komunikasi internasional dengan negara-negara lain, serta lemah melakukan diplomasi untuk mempertahankan keutuhan NKRI yang telah diklaim pihak asing sebagai bagian dari yuridiksinya.

Tanoni menilai, kasus lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia serta lepasnya Timor Timur dari NKRI untuk kemudian membentuk diri sebagai sebuah negara merdeka, sebagai bentuk contoh lemahnya diplomasi Indonesia di fora internasional.

“Hampir 85 persen wilayah Laut Timor yang kaya dengan migas itu akhirnya dikuasai oleh Australia. Jika diplomasi pemerintahan kita lemah, bukanlah tidak mungkin Natuna jatuh ke dalam yuridiksi China seperti jatuhnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia,” kata Tanoni.

Catatan Jurnal Maritim, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 2009 secara sepihak menggambar sembilan titik ditarik dari Pulau Spratly di tengah Laut China Selatan, lalu diklaim sebagai wilayah Zona Ekonomi Eksklusifnya. Pemerintah Indonesia di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah memprotes lewat Komisi Landas Kontinen PBB.

Garis putus-putus yang diklaim pembaruan atas peta 1947 itu membuat Indonesia berang. Padahal, RI sudah berencana menjadi penengah negara-negara yang berkonflik akibat Laut China Selatan. Klaim yang bikin repot enam negara ini dipicu kebijakan pemerintahan Partai Kuomintang (kini berkuasa di Taiwan) yang menafsirkan wilayah China mencapai 90 persen di Laut China Selatan.

Presiden Joko Widodo ketika diwawancarai Koran Yomiuri Shimbun menegaskan sembilan titik garis yang selama ini diklaim Tiongkok dan menandakan perbatasan maritimnya itu tidak memiliki dasar hukum internasional apapun.

Pada 1597, Kepulauan Natuna sebetulnya masuk dalam wilayah Kerajaan Pattani dan Kerajaan Johor di Malaysia. Namun pada abad 19, Kesultanan Riau menjadi penguasa, pulau yang berada di jalur strategis pelayaran internasional tersebut di daftar ke PBB sebagai bagian dari yuridiksi Indonesia pada 18 Mei 1956.

Sebuah kajian ilmiah dari Malaysia menyebutkan Natuna secara sah seharusnya milik negeri Jiran. Namun, untuk menghindari konflik lebih panjang setelah era konfrontasi pada 1962-1966, maka Malaysia tidak menggugat status Natuna.

Lepas dari klaim sejarah tersebut, Indonesia sudah membangun pelbagai infrastruktur di kepulauan seluas 3.420 kilometer persegi ini. Etnis Melayu jadi penduduk mayoritas, mencapai 85 persen, disusul etnis Jawa 6,34 persen, lalu Tionghoa 2,52 persen.

Jurnal “The Diplomat” pada 2 Oktober 2014 sudah meramalkan konflik terbuka antara China-Indonesia akan muncul cepat atau lambat terkait klaim kepemilikan atas Natuna.

  JMOL  

Jokowi dan PM Belanda Bahas Keamanan Penerbangan Hingga Water Management

Laporan dari Hainan imagePresiden Jokowi dan PM Belanda Mark Rutte (Laily/Setpres)★

Presiden Joko Widodo bertemu dengan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte sesaat setelah tiba di Hainan, Tiongkok. Ada sejumlah isu penting yang dibahas oleh mereka.

Pertemuan ini digelar di salah satu ruangan Hotel MGM Grand Sanya, Hainan, Tiongkok, Jumat (27/3/2015) malam. Jokowi ditemani oleh Menko Perekonomian, Menteri Luar Negeri, Sekretaris Kabinet hingga Kepala BKPM.

"Tadi ngobrol santai saja dengan PM Belanda, Mark Rutte," kata Jokowi.

Jokowi memberitahu Belanda memiliki posisi penting di mata Indonesia. Hampir seluruh ekspor Indonesia ke Eropa, pasti akan melewati Belanda. Jokowi menyebut Belanda sebagai pintu gerbang masuk ke Eropa.

"Tadi kita bicara masalah keinginan kita untuk peningkatan ekspor ke Eropa karena hampir sebagian besar ekspor kita ke Eropa itu lewat Belanda. Tadi kita ingin agar peningkatan itu bisa dinaikan lagi," papar Jokowi.

Pembahasan berikutnya mengenai keamanan penerbangan. "Dan ketiga masalah untuk keamanan penerbangan kita yang ke Eropa agar karena selama ini Belanda berikan bantuan ke kita untuk masalah ini sehingga kita bisa terbang kembali ke Eropa ini juga harus dijaga supaya jangan sampai persepsi itu jadi turun karena peristiwa-peristiwa yang ada di tanah air," beber Jokowi.

‎Hal lain yang dibicarakan mengenai kerjasama Indonesia-Belanda di bidang water management dan pembangunan pelabuhan. Jokowi ingin kerjasama itu bisa dilanjutkan di sejumlah lokasi yang sudah ditentukan pemerintah.(mok/mpr)

  detik  

[World] AS Buka Dokumen Rahasia, Israel Terbukti Kembangkan Senjata Nuklir

http://www.jejaktapak.com/wp-content/uploads/2015/03/nuklir-netanyahu-e1425291420793.jpgPerdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunjukkan kartun tentang bahaya nuklir

Hubungan Amerika dan Israel berada di titik terendah. Bahkan diam-diam Pentagon merilis dokumen rahasia mengungkapkan tentang program nuklir Israel. Sebuah program yang selama ini ditolak dan dibantah oleh Israel.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menerima undangan kontroversial untuk berbicara di hadapan Kongres AS dan memperingatkan tentang bahaya nuclearized Timur Tengah dan konsekuensi mengerikan untuk seluruh umat manusia.”

Pidato diterima dengan baik bahkan penuh tepuk tangan. Bahkan mengalahkan Presiden Obama.

Entah kebetulan atau tidak pidato Netanyahu bertepatan dengan keputusan Pentagon untuk menyingkap sebuah dokumen rahasia yang membuktikan bahwa meskipun selama ini sangat keras tentang program nuklir negara lain, Israel justru telah menjadi tuan rumah dari senjata tersebut.

Dalam laporan setebal 386 halaman, berjudul “Critical Technological Assessment in Israel and NATO Nations,” dan dikutip Ria Novosti Jumat 27 Maret 2015 disebutkan tentang data pada 1987 dan rincian penting pada program nuklir Israel tidak pernah diakui.

“[Israel] mengembangkan jenis kode yang akan memungkinkan mereka untuk membuat bom hidrogen,” bunyi laporan Departemen Pertahanan tersebut. “Artinya, kode yang detil fisi dan fusi proses pada tingkat mikroskopis dan makroskopis.”

Bahkan laporan ini menyebutkan kemampuan nuklir Israel hampir sejajar dengan kemampuan yang ada di Laboratorium Nasional Amerika dan menyebut laboratorium Israel “setara” dengan instalasi nuklir AS di Los Alamos, Lawrence Livermore, Oak Ridge dan Los Alamos, adalah tempat di mana Robert Oppenheimer melakukan sebagian besar percobaan Proyek Manhattan. ”Sejauh teknologi nuklir Israel kira-kira sama dengan kemampuan AS di sekitar 1955-1960,” tulis laporan itu.

Dokumen Pentagon juga menyatakan bahwa 28 tahun yang lalu, Israel sudah seperti maju dalam pengembangan nuklir sebagai Amerika Serikat telah lama setelah pengujian bom hidrogen pertama.

Momentum rilis dokumen tentu membawa kecurigaan karena situasi hubungan Israel dan AS yang sedang tidak romantis seperti biasanya. Israel mengecam Obama yang dianggap terlalu mengakomodasi program nuklir Iran.

Sebenarnya tiga tahun lalu seorang wartawan AS di bawah Freedom of Information Act telah mengajukan permintaan tentang data tersebut. Namun direspons lambat oleh Pentagon. Padahal putusan oleh hakim Pengadilan Negeri telah memerintahkan Departemen Pertahanan untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Sebuah laporan Wall Street Journal yang diturunkan pada Selasa 24 Maret 2015 juga menuduh Israel sedang mengintip negosiasi nuklir P5 + 1. Sementara kantor perdana menteri Israel membantah klaim ini, surat kabar mengutip para pejabat senior AS yang mengatakan bahwa intelijen Israel sedang menguping pembicaraan internasional.

  Jejaktapak  

[Foto] Peresmian Pesawat Amfibi Terbesar di Dunia

http://statik.tempo.co/?id=380925&width=620
Aviation Industry Corporation of China (AVIC) meresmikan pesawat Amfibi AG600 di Chengdu, Cina, 17 Maret 2015. Pesawat amfibi tersebut akan menjadi pesawat amfiibi terbesar di dunia. (ChinaFotoPress via Getty Images)
http://statik.tempo.co/?id=380927&width=620
Aviation Industry Corporation of China (AVIC) meresmikan pesawat Amfibi AG600 di Chengdu, Cina, 17 Maret 2015. AVIC berencana akan menerbangkan perdana pesawat amfibi terbesar di dunia buatannya pada 2016. (ChinaFotoPress via Getty Images)
http://statik.tempo.co/?id=380928&width=620
Sebuah pesawat amfibi terbesar di dunia, AG600 usai diremsikan Aviation Industry Corporation of China (AVIC) di Chengdu, Cina, 17 Maret 2015. Bobot yang dimiliki pesawat amfibi tersebut yakni 53,5 ton. (ChinaFotoPress via Getty Images)
http://statik.tempo.co/?id=380929&width=620
Pesawat amfibi AG600 saat diremsikan Aviation Industry Corporation of China (AVIC) di Chengdu, Cina, 17 Maret 2015. Pesawat tersebut mampu menampung 12 ton air yang digunakan untuk membantu memadamkan kebakaran. (ChinaFotoPress via Getty Images)
http://statik.tempo.co/?id=380930&width=620
Sejumlah pengunjung menghadiri peresmian pesawat amfibi AG600 di Chengdu, Cina, 17 Maret 2015. Pesawat dengan panjang 40 meter dan tinggi 10 meter, ditenagai empat mesin turboprop yang mampu mencapai kecepatan maksimum 570 km/jam. (ChinaFotoPress via Getty Images)
http://statik.tempo.co/?id=380931&width=620
Sejumlah awak media menghadiri peresmian pesawat amfibi AG600 di Chengdu, Cina, 17 Maret 2015. (ChinaFotoPress via Getty Images)

  Tempo  

Penjajah telah Hilangkan Budaya Maritim Kita

Kasal Laksamana TNI Ade Supandi

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi dalam Kuliah Umum bertajuk “Budaya Maritim dari Perspektif Angkatan Laut” di Auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (26/3/15) menerangkan bahwa penjajah telah banyak menghilangkan budaya maritim kita.

“Meskipun ada beberapa perbedaan tentang berapa lama waktu penjajahan, namun yang terpenting ialah karena lamanya waktu penjajahan itu telah menghilangkan budaya maritim kita,” ujar Ade.

Menurutnya, sebelum masuknya penjajah (Portugis, Spanyol, dan Belanda-red) budaya maritim bangsa nusantara berkembang pesat mulai dari zaman Sriwijaya dan Majapahit, maupun bukti-bukti lainnya.

“Kita tahu orang-orang Bugis telah mampu berlayar hingga Madagaskar, kemudian wilayah imperium Majapahit juga kita ketahui hingga Kamboja dan Filipina, namun saat ini kita tidak mengetahui dimana Gajah Mada membangun kapal sebagai lambang kejayaan maritim itu,” terangnya.

Lulusan AAL tahun 1983 ini menjelaskan bahwa kapal merupakan tools terpenting dalam mencapai kejayaan itu sekaligus tempat pembuatan kapalnya.

Sambungnya, walaupun sebenarnya masuknya penjajahan di Nusantara juga bukan dilakukan oleh negara melainkan oleh perusahaan dagang (VOC-red).

“Kita dulu dijajah belum bukan oleh bentuk negara tetapi lebih tepatnya seperti Kadin (Kamar Dagang Industri)-nya, makannya ada istilah kompeni itu kan dari kata company,” jelasnya.

Dampak dari penjajahan itu, tegas Ade, menyebabkan hilangnya budaya maritim hingga 12 generasi. Maka dari itu, menurutnya bukan hal yang mudah untuk mengembalikan karakter tersebut, melainkan memerlukan waktu yang lama.

“12 generasi kita hilang karakter kemaritimannya, contohnya saat ini hanya sekitar 1 persen atau 2.313.006 jiwa yang memiliki pekerjaan di bidang kemaritiman,” pungkasnya.
Tidak Mudah Membangun Karakter Kemaritiman Laksamana TNI Ade Supandi

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi dalam kuliah umum bertajuk “Budaya Maritim dari Perspektif Angkatan Laut” di Auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (26/3/15) mengingatkan bahwa mudah dalam membangun karakter kemaritiman.

Hal tersebut diungkapkan karena lamanya kita dijajah dan dijauhkan dari karakter kemaritiman. Realita saat ini penduduk Indonesia hanya 1% yang memiliki aktivitas atau bekerja di kemaritiman.

“Hanya ada sekitar 1 persen atau 2.313.006 jiwa yang menjadi pegiat di bidang kemaritiman. Termasuk didalamnya 70.000 personel Angkatan Laut,” ungkap Kasal.

Kondisi itu membuktikan bahwa masyarakat Indonesia memilih untuk menghindari sesuatu yang tidak pasti. Sementara bekerja di laut saat ini masih dianggap penuh dengan ketidakpastian.

“Mereka ingin sesuatu yang instan, sedang bekerja di laut itu tidak pasti. Apalagi bekerja di laut bisa satu tahun atau minimal enam bulan berpisah dengan keluarga,” katanya.

Kendati demikian, Ade tetap optimis jiwa kemaritiman bangsa Indonesia akan berangsur-angsur pulih setelah digagasnya visi poros maritim dunia oleh presiden Joko Widodo.

“Karena dari apa yang disampaikannya mengenai visi-misi poros mariti mdunia, saya rasa itu adalah hal yang harus diimplementasikan di pemerintahan, dan yang paling bawah yaitu pembentukan karakter kemaritiman bangsa, bagi seluruh warga negara Indonesia,” terangnya.

Lebih lanjut, lulusan AAL tahun 1983 ini menjelaskan bahwa karakter kemaritiman itu selalu berorientasi pada outward looking dan kepada masa depan. Indonesia dengan Angkatan Laut-nya sejak dulu sudah mengedepankan karakter tersebut.

“Dulu tahun 1985, kita pernah mengirim armada terbesar ke Filipina dalam rangka menyelesaikan konflik Moro. Saya rasa itu bagian dalam 3 peranan Angkatan Laut yakni, Military Role, Diplomacy Role, dan Constabulary Role,” paparnya.

Di akhir penjelasannya, Ade menegaskan untuk membangun budaya maritim diperlukan tools yang memadai.

“Untuk mengembangkan budaya maritim kita membutuhkan tools, anggaran, dan perencanaan yang baik ke depan. Kita berharap ke depan pembangunan maritim semakin baik, karena satu-satunya realita yang tak bisa kita sangkal, adalah bahwa kita memang hidup di wilayah kepulauan dengan 756 suku bangsa yang ada di dalamnya, dan laut yang begitu luas yang mengelilinginya,” pungkasnya.

Acara kuliah umum ini dilanjutkan dengan penandatangan Nota Kesepakatan Bersama, antara TNI Angkatan Laut dengan Universitas Indonesia, dalam hal kemaritiman.

  ⚓️ JMOL  

[World] AS bentuk pasukan khusus baru Angkatan Darat

Diam-diam Amerika Serikat telah melantik satu divisi komando pasukan khusus terbaru. Pembentukan divisi ini sudah dilakukan sejak 30 September 2014 lalu. Komando Pasukan Khusus Pertama ini berbasis di Fort Bragg, North Carolina. Unit tingkat divisi tersebut menyatukan lebih dari 15.000 Baret Hijau dan pasukan khusus lainnya dalam organisasi sendiri.

Sebelumnya, Komando Operasi Khusus Angkatan Darat telah langsung mengkontrol semua pasukan ini ditambah orang lain di berbagai misi. Ide di balik divis baru ini untuk merakit kekuatan khusus yang dirancang untuk menangani apa yang oleh Pentagon disebut sebagai “perang hybrid.”

Secara sederhana, perang hybrid merupakan perpaduan antara perang model tempur tradisional dengan infanteri, tank dan artileri, dan memecah dari dalam dengan pemberontakan. Mungkin praktisi terbesar dalam perang hybrid ini adalah Rusia.

Lihat saja apa yang terjadi di Ukraina, di mana Rusia sering dituduh terlibat dengan mendukung pemberontak. Bukan hanya peralatan bahkan personel tentara Rusia diturunkan dengan menyamar sebagai pemberontak.

Tugas lain dari Pasukan Khusus Pertama yang dibentuk ini adalah untuk membantu tempur Angkatan Darat dalam kontra perang hybrid -dengan mengirimkan penasihat Baret Hijau untuk melatih, memberi saran dan memimpin pasukan pribumi di negara-negara yang sedang perang. “Ini berdasarkan pendekatan perang hybrid Rusia, serta kebutuhan untuk mitra lain seperti Libya, Suriah dan Irak, di mana kami ingin membantu menstabilkan kekacauan,” kata Kapten Angkatan Laut Robert Newson, seorang juru bicara di Dewan Hubungan Luar Negeri menanggapi pasukan khusus baru ini.

“Reorganisasi ini telah dalam perencanaan sekitar setahun,” jelas Markas Pasukan Khusus Angkatan Darat. “[Pasukan] tidak akan sepenuhnya mampu sampai Juli 2015.”

Pelatihan tentu saja tidak hanya dalam kemampuan tempur. Tetapi juga perang non konvensional yang telah lama menjadi misi utama untuk Pasukan Khusus. Seperti diketahui setelah serangan 9/11, Pentagon mengerahkan Pasukan Khusus dan Army Rangers, Navy SEAL dan Operasi Khusus Angkatan lainnya di seluruh dunia untuk memburu sejumlah tersangka teroris. Mereka sebagian besar mengambil “tindakan langsung” tanpa bekerjasama dengan tentara lokal.

Tapi dari tahun 1940-an sampai 1990-an, Pasukan Khusus kebanyakan mempraktikan perang konvensional. Sementara perang non konvensional justru akan menjadi fokus pasukan khusus baru ini.

”Dengan cara itu, markas baru membawa Pasukan Khusus kembali ke akar-akarnya,” kata Newson, petugas SEAL yang bertugas di Afghanistan, Irak dan Yaman.

Metode perang tidak langsung (non konvensional) ini dinilai sangat ideal dalam situasi di mana kehadiran Amerika bisa terlalu mahal atau menjadi kontra-produktif,” jelas Newson.

1st Special Operations Command akan mempertemukan semua unit yang terbaik pada misi yang tidak konvensional, termasuk Baret Hijau, ahli perang psikologis, spesialis urusan sipil dan personil logistik.

Markas Divisi- tidak akan mencakup pesawat dan helikopter seperti Special Operation Aviation Resimen 160 atau infanteri elit Ranger Resimen ke-75. Unit-unit ini akan bergabung ketika ada tindakan langsung.

Angkatan Darat menginginkan pasukan khusus ini dapat dengan cepat menjadi pasukan Baret Hijau untuk menangani krisis tertentu. Sementara sebelum pasukan dari Baret Hijau benar-benar siap, divisi ini akan diisi oleh pesonel terbaik dari komando pasukan khusus dari Angkatan Laut, Marinir dan Angkatan Udara. Dan rencana selanjutnya pasukan khusus ini nanti akan ada tujuh grup pasukan khusus.

Elemen-elemen akan mengingatkan pada “Jedburghs” ketika Perang Dunia II. Jedburghs adalah lengan paramiliter dari organisasi intelijen Sekutu seperti Kantor Pelayanan -Strategis dari Central Intelligence Agency. Komando Jedburgh menyelinap ke Axis- diduduki Eropa dan Asia untuk bekerja dengan kelompok-kelompok perlawanan dan mengalahkan pasukan pendudukan. [War is Boring]

  jejaktapak  

Jumat, 27 Maret 2015

Sekilas Cerita WNI Tewas Di Suriah

Putra Abu Jibriel Dikabarkan Tewas di Suriah Ilustrasi pertempuran sengit di Suriah. (REUTERS/Thaier Al-Sudani)

Anak Abu Jibril, Ridwan Abdul Hayie dikabarkan tewas saat berperang di Suriah. Ridwan tewas diterjang peluru dari tank pasukan Suriah saat bertempur Kota Idlib, Suriah.

Tewasnya anak keenam Abu Jibril ini dinyatakan oleh putra sulung Jibril, Muhammad Jibril Abdul Rahman dalam laman Facebooknya. "Adikku Ridwan terbunuh syahid Insyaa Allah akibat peluru tank syiah nushairiyah," kata Jibril dalam statusnya.

Ridwan menurutnya tewas saat merebut kota Idlib, Suriah dari pasukan Syiah Nushairiyah. Keluarga menurutnya tidak terlalu meratapi kepergian Ridwan.

"Ummi dan Abah adalah orang yang paling bahagia saat ini, karena beliau telah mempersembahkan salah satu dari anaknya untuk Allah. Semoga Allah memberikan Al Firdaus untuk kita semua," ujarnya.

Sementara itu pengamat terorisme Al Chaidar juga membenarkan bahwa Ridwan, putra Abu Jibril, telah tewas di Idlib, Suriah dalam laman Facebooknya.

Dikutip dari Arrahmah.com, pertempuran untuk merebut jantung Kota Idlib dilancarkan dari tiga sisi. Sisi selatan dan barat daya oleh Jabhah An-Nushrah, sisi utara dan barat laut oleh Jundul Aqsa, dan sisi Timur sepenuhnya oleh Ahrar Syam.

Sementara jalan penghubung dari kota Idlib menuju kota Ariha dijaga oleh gabungan faksi-faksi lain untuk memutus jalur bantuan musuh dan dari upaya mereka melarikan diri. Serangan dibuka oleh tembakan para sniper.(sur)
Kala Muhammad Jibriel Mengenang Ridwan yang Tewas di Suriah ilustrasi sengitnya pertempuran di Suriah. (REUTERS/Wsam Almokdad)

Laman facebook Muhammad Jibriel mengantar kabar duka bagi keluarga dan kerabat. Adiknya yang bernama Ridwan dikabarkan tewas saat ikut dalam barisan sebuah kelompok militan di Suriah.

Status facebook Jibriel sekitar 11 jam lalu memuat kabar yang menceritakan soal detik-detik dirinya dan keluarga menerima kabar dan bagaimana ia mengenang Ridwan sebagai putra ke enam dari keluarga Ustad Abu Jibriel, mantan pentolan Majelis Mujahiddin Indonesia.

“Ummiku tadi bertanya, Abang, apa bener Ridwan telah tiada (syahid Insyaa Allah)? Akupun menjawab, iya ummi, ummi jangan sedih ya. Antara percaya dan tidak, aku dan ummi mulai meneteskan airmata bersama. Aku terdiam sebentar, bayangan-bayangku langsung mengarah pada senyuman adikku ini,” begitu penggalan status Muhammad Jibriel, yang pernah ditahan kepolisian lantaran terlibat dalam mata rantai pendanaan aksi teror.

Menurut status Jibriel, Ridwan merupakan anak ke enam dari sembilan bersaudara. Saat ini umurnya baru menginjak 22 tahun. Dalam ingatan sang kakak, Ridwan adalah seorang yang sederhana, tegas, suka bercanda, dan gemar mengendarai motor besar.

Kabar tewasnya Ridwan juga dikonfirmasi pengamat terorisme Al Chaidar. Menurutnya dari kabar yang ia dengar dari keluarga, putra Ustadz Abu Jibril, telah tewas di Idlib, Suriah. "Saya dapatkan kabar langsung dari keluarga," katanya saat dikonfirmasi CNN Indonesia, Jumat (27/3).

Dikutip dari Arrahmah.com, pertempuran untuk merebut jantung Kota Idlib dilancarkan dari tiga sisi. Sisi selatan dan barat daya oleh Jabhah An-Nushrah, sisi utara dan barat laut oleh Jundul Aqsa, dan sisi Timur sepenuhnya oleh Ahrar Syam.

Sementara jalan penghubung dari kota Idlib menuju kota Ariha dijaga oleh gabungan faksi-faksi lain untuk memutus jalur bantuan musuh dan dari upaya mereka melarikan diri. Serangan dibuka oleh tembakan para sniper.(sip)
Catatan Ridwan Berangkat Perang ke Suriah Ridwan Abdul Hayyie. (Dok. Facebook Al Chaidar)

Ridwan Abdul Hayyie, warga negara Indonesia yang tewas di Suriah kemarin tewas saat merebut Kota Idlib, Suriah. Ia tergabung dalam pasukan Jabhat Al Nusra, salah satu pasukan yang selama ini berperang melawan rezim Bashar Al Assad.

Situs Arrahmah.com bercerita banyak soal keberadaan Ridwan di Suriah. Putra keenam Abu Jibriel ini lahir pada 16 Juni 1993. Ia pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Tahfidzul Qur’an Isykarima Karangpandan, Solo.

Bersama sembilan orang temannya, Ridwan pergi ke Suriah pada Juli 2014 lalu sebagai relawan kemanusiaan Majelis Mujahidin.

Meski bertujuan menjadi relawan, Ridwan ternyata tidak hanya membantu pengungsi di Suriah. Di Kota Idlib, Ridwan juga ikut bertempur melawan pasukan rezim Bashar Al Assad.

Pertempuran terakhir Ridwan melawan pasukan Bashar Al Assad dilakoninya kemarin sore. Pertempuran untuk merebut jantung Kota Idlib dilancarkan dari tiga sisi.

Dari selatan dan barat daya pasukan Jabhah An-Nushrah di mana ada Ridwan didalamnya meringsek masuk. Sementara dari arah utara dan barat laut pasukan Jundul Aqsa yang masuk. Desakan dari sisi Timur sepenuhnya dilakukan oleh pasukan Ahrar Syam.

Dalam perang kali ini, Ridwan tewas diterjang peluru tank pasukan Al Assad. Kabar tewasnya Ridwan ini sudah dibenarkan oleh keluarga.

"Adikku Ridwan terbunuh syahid Insyaa Allah akibat peluru tank syiah nushairiyah saat merebut kota Idlib, Suriah," kata kakak Ridwan, Muhammad Jibriel Abdul Rahman dalam akun Faceboknya.(sur)
Dikenang, Ridwan yang Tewas di Suriah Berdebat Soal Jodoh Laman facebook Muhammad Jibriel Abdul Rahman, pendiri situs berita Arrahmah, bercerita banyak soal sosok Ridwan Ridwan Abdul Hayyie. Sang adik yang dikabarkan tewas dalam sebuah pertempuran di Suriah itu, menurut status Jibriel sekitar 14 jam lalu, merupakan sosok yang tegas, sederhana, dan periang.

Muhammad Jibriel mengenang sebuah perdebatan yang lakukan dengan adiknya, Ridwan beberapa waktu lalu. Temanya: Jodoh.

“Pernah beberapa waktu dia berdebat denganku masalah jodoh. Cantiknya wanita Suriah membuat siapapun anak muda kepengen menjadikan mereka istri. Tapi aku sedikit menolak dan marah. Ku katakan kepadanya untuk istiqomah dan fokus membela kaum muslimin yang tertindas. Dan paling penting dia bisa mendapatkan pahala dari amal jihadnya dan bidadari surga,” kata Muhammad Jibriel dalam statusnya.

Muhammad Jibriel dikenal sebagai orang yang pernah ditahan kepolisian lantaran terlibat dalam mata rantai pendanaan aksi teror.

Menurut Jibriel masih dalam status facebooknya, kedua orang tuanya kini adalah orang yang paling berbahagia. Sebab mereka telah mempersembahkan anaknya untuk perjuangan.

Ridwan Abdul Hayyie, pemuda asal Indonesia berusia 22 tahun dikabarkan tewas dalam sebuah pertempuran untuk merebut jantung Kota Idlib, Suriah, pada Kamis lalu. Ia merupakan anak ke enam dari sembilan bersaudara dari Abu Jibriel, seorang pentolan Majelis Mujahiddin Indonesia.

Menurut kabar yang diperoleh CNN Indonesia, Ridwan bergabung dalam sebuah kelompok pasukan Jabhat Al Nusra. “Tertembak peluru tank pasukan Bashar Al Assad (Presiden Suriah)," kata pengamat terorisme Al Chaidar yang menerima langsung kabar kematian Ridwan dari keluarga Abu Jibriel kepada CNN Indonesia, Jumat (27/3).

Al Chaidar menyatakan, di Suriah Ridwan bukan bergabung dengan ISIS. Ia bergabung dengan pasukan Jabhat Al Nusra. Al Nusra adalah pasukan yang selama ini memerangi rezim Al Assad di Suriah.

Al Nusra juga kerap disebut sebagai Al Qaeda di Suriah. Al Nusra adalah cabang Al Qaeda di negara yang tengah berkonflik itu.

Tokoh penting di Al Nusra menurut Al Chaidar adalah Ayman Al Zawhiri yang juga tokoh Al Qaeda. Pasca kejadian 11 September, pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah 25 juta dolar Amerika.

Dikutip dari Arrahmah.com, pertempuran untuk merebut jantung Kota Idlib dilancarkan dari tiga sisi. Sisi selatan dan barat daya oleh Jabhah An-Nushrah, sisi utara dan barat laut oleh Jundul Aqsa, dan sisi Timur sepenuhnya oleh Ahrar Syam.

Sementara jalan penghubung dari kota Idlib menuju kota Ariha dijaga oleh gabungan faksi-faksi lain untuk memutus jalur bantuan musuh dan dari upaya mereka melarikan diri. Serangan dibuka oleh tembakan para sniper.(sip)
Ridwan Pergi ke Suriah Sebagai Relawan Ridwan Abdul Hayie, pemuda asal Indonesia berusia 22 tahun dikabarkan tewas dalam sebuah pertempuran di Kota Idlib, Suriah, pada Kamis lalu. Ia adalah putra dari Abu Jibriel pentolan dari organisasi Majelis Mujahiddin Indonesia. CNN Indonesia mencoba mencari tahu apa motivasi Ridwan berangkat ke Suriah dan seperti apa detilnya. Kakak kandung Ridwan Muhammad Jibriel Abdul Rahman bersedia menjelaskan dalam sebuah wawancara via telepon dengan jurnalis CNN Indonesia, Sandy Indra Pratama. Berikut petikannya.

Bagaimana cerita awal adik anda berangkat ke Suriah?

Itu berawal pada Ramadhan tahun lalu. Sembilan orang aktivis dan relawan dari Majelis Mujahiddin Indonesia berangkat ke Suriah. Untuk apa? Mereka adalah perwakilan yang diminta untuk menyampaikan bantuan untuk para pejuang di Suriah. Namun rupanya perang berkecamuk dan akhirnya keterlibatan itu tak bisa dipungkiri.

Lantas bagaimana?

Kesembilan aktivis Majelis Mujahiddin Indonesia pulang setelah mereka cukup melihat kondisi di Suriah dan menunaikan tugas mereka. namun Ridwan, adik saya, tinggal di sana. ia tak turut pulang. Apa tujuannya? untuk menjadi semacam perwakilan para relawan Indonesia di Suriah.

Namun perang memang keras di Suriah. Para relawan penyalur bantuan, mau tak mau turut dalam kondisi perang. Beruntung para relawan dari berbagai negara dijaga oleh sebuah kelompok kecil yang merupakan bagian dari Jabath al Nusra.

Lalu seperti apa cerita adik anda saat di Suriah?

Menurut seorang kawan dari Suriah, Ridwan kerap kali berpindah tempat lantaran kondisi perang. Komunikasi pun tak begitu lancar.

Kapan terakhir Ridwan berkomunikasi dengan keluarga?

Secara pribadi kami berkomunikasi sekitar tiga atau empat bulan lalu. Sebenarnya belakangan Ridwan sama sekali tak berkomunikasi. Sudah hampir satu bulan tak berkabar kepada keluarga.

Kabar duka itu lantas datang dari siapa?

Pada Kamis petang waktu Indonesia atau sekitar Kamis pagi buta waktu Suriah, seorang kawan tiba-tiba memberi kabar kalau Idlib sedang digempur. Dia mengatakan Abu Omar dari Indonesia menjadi salah satu korbannya. Saya pikir tak ada lain itu adik saya, Ridwan.

Setelah itu, saya langsung berkabar dengan seluruh keluarga di grup whatsapp. Keluarga tak percaya awalnya. Lantas Ummi telepon saya dan saya katakan berita itu benar adanya. Reaksi keluarga setelah itu sedih tentunya, tapi bercampur bangga juga.

Bagaimana pribadi Ridwan di mata keluarga?

Ia adalah anak kesayangan keluarga. Sebab ia punya sifat yang periang dan mudah mengambil hati orang lain untuk bisa dekat dengannya. Soal firasat, Abah kami pernah bercerita soal Ridwan yang bercerita tentang ia yang pernah bermimpi gugur di medan perang.

Bagaimana rencana setelah ini?

Jika maksudnya pengembalian atau soal pemakaman, kami keluarga berpikir sepertinya tidak. Selain faktor kondisi perang, kondisi terakhir adik kami tidak memungkinkan. Sebab ketika kami meminta foto terakhirnya, kawan di Suriah pun tak tega memberikannya. Ia tewas di tembak peluru tank.

Soal foto yang beredar membawa senjata?

Saya ingin meluruskan bukan artinya semua orang yang mengangkat senjata itu kemudian menjadi ancaman. Kondisi perang memaksa semua orang di Suriah untuk menjaga diri. senjata itu bentuk penjagaan diri. Kami tegaskan juga bahwa adik kami dan keluarga AntiISIS. Jadi jangan disamakan.

  ⚓️ CNN