Sabtu, 13 Februari 2016

[Dunia] Ramalan Putin Tahun 2007 Terbukti

Tentang Ulah AS dan NATO Putin n PAKFA

Seorang profesor hukum internasional dan analis terkemuka Amerika Serikat (AS), Francis Boyle, mengakui bahwa ramalan Presiden Rusia; Vladimir Putin, tahun 2007 tentang perilaku AS dan NATO terbukti pada saat ini.

Sembilan tahun silam, Putin berpidato di Konferensi Keamanan Munich, Jerman. Saat itu, Putin memperingtakan bahwa kebijakan tidak bertanggung jawab AS telah menyebarkan ketidakstabilan dan bisa memicu perang baru di seluruh dunia.

Saya membaca pidato (Putin) 2007 dan cukup banyak setuju dengan segala sesuatu yang dia katakan. Sekarang konfrontasi AS/NATO melawan Rusia telah menjadi lebih buruk dan lebih berbahaya,” kata profesor dari Universitas Illinois itu kepada Sputniknews, Jumat (12/2/2016).

Dalam pidato sambutannya di konferensi tahun 2007 itu, Putin menuduh AS memprovokasi perlombaan senjata nuklir baru. Dia juga menuduh NATO memperluas pengaruhnya di Eropa. Selain itu, Putin juga menuduh AS membuat Timur Tengah lebih tidak stabil. Bahkan, Putin juga menyebut Washington mengabaikan PBB dan mengandalkan penggunaan kekuatan sepihak.

Menurut Boyle, mayoritas yang diramalkan Putin itu mulai terbukti. ”Dengan pengerahan pasukan NATO sampai ke perbatasan Rusia untuk pertama kalinya, kita berada di ambang krisis rudal, kebalikan dari krisis rudal Kuba. Dan kedua, dengan pengeboman di Suriah, apa ada sesuatu yang salah di sana,” kata Boyle.

Profesor Boyle melanjutkan, ketegangan yang tumbuh di seluruh Timur Tengah dan di seluruh Eropa Timur saat ini dihasilkan oleh kebijakan destabilisasi AS yang kondisinya mirip dengan tahun 1914 dan 1939, tahun pecahanya dua perang dunia.

Dia mencatat tekad Pemerintahan Obama tak jauh beda dengan tekad Pemerintah George W. Bush, yang tetap mengendalikan sumber utama hidrokarbon di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Bush dan Obama telah menargetkan sisa cadangan hidrokarbon dari Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara untuk penaklukan lebih lanjut,” ujarnya.

Sejarawan dan komentator politik AS, Patrick Smyth, sepakat bahwa pidato Putin tahun 2007 terkonfirmasi dengan banyak perkembangan selama sembilan tahun terakhir.

Putin disangkal unggul sebagai negarawan sebelah hampir di semua, sezamannya. Dia memilih tempat dengan baik. Konferensi Munich adalah tempat yang sangat baik, di mana dia menantang Amerika dan NATO atas penyebaran krisis Eropa dan krisis Timur Tengah,” ujar Smyth. (mas)

  ★ sindonews  

Thailand Pesan Pesawat PT DI

PT DI Mulai Berkilau Thailand membeli satu unit pesawat CN235-220 untuk kepolisiannya. Sebelum itu, Thailand membeli C212-400, lima unit NC212, dan dua unit NC235. (CNN Indonesia/Resty Armenia)

Manajer Penetrasi Pasar dan Jaringan PT Dirgantara Indonesia Dadhik Kresnadi mengatakan pemerintah Thailand kembali membeli satu unit pesawat buatan mereka. Negeri Gajah Putih memang telah beberapa kali memesan pesawat PTDI.

"Kami sekarang sudah punya kontrak dengan Thailand untuk pembuatan satu unit CN235-220 untuk Royal Thai Police," ujar Dadhik kepada CNNIndonesia.com, Jumat (11/2).

Thailand, menurut Dadhik, berulang kali memesan pesawat PTDI karena merasa cocok. Pesawat yang belum lama ini dipesan Thailand berjenis CN235-220 MPA (multi purpose aircraft). Pesawat itu akan digunakan Kepolisian Thailand untuk mengangkut personel mereka.

Sebelumnya, Thailand juga membeli pesawat C212-400 untuk hujan buatan (rain-making). Pesawat tersebut telah dikirim ke Thailand tahun 2015.

Dadhik menyatakan pemerintah Thailand mau merogoh kocek untuk membeli pesawat-pesawat buatan PTDI karena dinilai sesuai kebutuhan pertahanan mereka dan cocok dengan medan negaranya.

Selain itu, letak geografis Indonesia dan Thailand yang berdekatan bisa mempermudah servis pendukung setelah pembelian pesawat (aftersales support).

"Itu membuat pemerintah Thailand terus berminat untuk membeli produk kami, karena cocok untuk kebutuhan mereka dan secara geografis dekat dengan pembuatnya, yaitu PTDI,” ujar Dadhik.

Berdasarkan data PTDI, Thailand juga pernah membeli lima unit pesawat NC212 dan dua unit pesawat NC235 untuk kebutuhan angkutan sipil.

Kemarin, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi pun menawarkan lagi pesawat produksi PTDI kepada pemerintah Thailand. Tawaran ini disampaikan saat ia menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Thailand, Don Pramudwinai, di Kementerian Luar Negeri RI.

"Dalam hal perdagangan pesawat, kami sudah mempunyai sejarah baik. Thailand pernah beli pesawat dari PT Dirgantara Indonesia, dan tadi saya menawarkan Thailand untuk membeli pesawat Indonesia lagi," ujar Retno.

Indonesia menawarkan pesawat ini sebagai salah satu upaya meningkatkan hubungan perdagangan dengan Thailand yang menurun tahun lalu.

 PTDI Klaim Ungguli Pabrik Alutsista Udara Se-ASEAN

Manajer Penetrasi Pasar dan Jaringan PT Dirgantara Indonesia Dadhik Kresnadi mengklaim bahwa perusahaannya paling unggul dalam persaingan pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista) udara di negara-negara Asia Tenggara.

"PTDI itu tertinggi di Asean. Kalau Malaysia cuma bikin komponen, bukan Airbus," ujar Dadhik di Hanggar Helikopter PTDI, Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/2).

Dadhik mengungkapkan, dalam jangka waktu lima tahun belakangan, terdapat peningkatan jumlah permintaan pembuatan alutsista udara yang sangat signifikan, yakni sekitar 50 persen. Selain itu, tuturnya, pemasukan perusahaan mengarah ke tren positif.

"Yang perlu digarisbawahi, mulai 2012 PT DI sudah untung, jadi pembukuan sudah biru. Indikatornya itu. Kan percuma kalau jual banyak tapi utang juga banyak," katanya.

Dadhik menyebutkan, selain menjual pesawat fixed wings dan airbus helicopter, PTDI juga mengekspor seluruh komponen alutsista udara produksinya ke berbagai negara. "Istilahnya, makloon komponen. Semua komponen kami jual ke luar negeri," ujarnya.

Sementara Kepala Divisi Pusat Perakitan Akhir dan Pengiriman PTDI Husni Waluyo mengatakan perusahaannya telah mendapat pengakuan dunia sebagai pabrik yang mampu membuat komponen-komponen alutsista udara yang kritikal.

"Pengakuan dunia PTDI bisa bikin komponen yang paling kritikal, paling sulit. Yang paling sulit saja kami bisa produksi, apalagi yang biasa atau mudah kan," katanya.

Dikutip dari profil perusahaan PTDI, produk utama yang dihasilkan perusahaan BUMN ini adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. Perusahaan yang dipimpin oleh Budi Santoso ini juga telah menyerahkan lebih dari 400 pesawat kepada 49 operator sipil dan militer, di dalam dan luar negeri.

PT DI memproduksi berbagai jenis pesawat CN235 dengan type certificate untuk penumpang sipil, kargo, pembuat hujan, transportasi militer, patroli matitim, survei, pengawas pantai, dan masih banyak jenis lainnya.

  ★ CNN  

Katalog Kapal Indonesia

Ilustrasi kapal maritim produksi bangsa Indonesia Ilustrasi KRI dengan panjang 40-60 meter desain GM

Bila anda pengemar cerita mini seri, artikel ini merupakan seri lanjutan dari episode lalu mengenai kapal produksi bangsa Indonesia yang mulai berkilau di masa poros maritim yang di embuskan pemerintah Jokowi.

Artikel lalu yang berjudul "Mari Mengambar" sempat membahas beberapa kapal pesenan TNI AL kedepan seperti kapal OPV (Offshore Patrole Vessel) sebanyak 2 unit, lalu Kapal rumah sakit sekelas KRI dr Soeharso sebanyak 2 unit dan penantian kapal MRLF (Multi Role Light Frigate) PKR 10514 berkembang biak menjadi minimal 6 unit, malah dalam rapat dengan anggota komisi DPR, KASAL menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan 25 unit kapal sekelas PKR 10514. Tentunya dalam beragam versi maupun panjang tergantung dari fungsi kapal tersebut kedepan.

Melihat berita terakhir, Seolah menyambut angin poros maritim, Bakamla maupun KKP pun menyatakan ingin membangun armada kapal dengan kapal besar (bukan kelas ringan yang hanya mampu bermain di pesisir pantai, dan takut menghadapi ombak besar).

Tentunya berita ini disambut gembira galangan kapal di nusantara. Pada tahun 2015, terdengar kabar bahwa galangan kapal di Indonesia banyak mendapat proyek kapal sehingga ada yang menolak pesanan baru sampai pesenan kapal yang lama selesai di kerjakan.

Melihat perkembangan kapal di Indonesia, terlihat jelas dari beberapa tahun lalu. Dengan angin poros maritim yang dihembuskan sang nahkoda, seakan membuat kreasi anak bangsa bersemangat berkarya dengan bantuan dari luar yang di kenal ToT lebih mewarnai kanvas cat perkapalan Indonesia. Dengan kapasitas yang berbeda, mulai bermuculan kapal dengan penampakan yang cukup membanggakan hati. Selain kapal perang/militer, juga di luncurkan beberapa kapal produksi anak bangsa yang memenuhi kebutuhan kapal di nusantara. Ada kapal pengangkut sapi, kapal Ro-ro penghubung antar pulau maupun kapal perintis dan lain-lain.

Biasanya Bangsa ini rajin membeli dari luar dan menjadi pasar barang asing, sekarang dengan kebijakan pemerintah, dianjurkan semua kapal yang mampu diproduksi di dalam negeri menjadi prioritas utama dalam pengadaan kapal kedepan.

Terlihat penampakan beragam kapal baru yang mulai meramaikan perairan nusantara, apalagi bu Susi akan memesan sekitar 3000 lebih kapal untuk nelayan.

Bersamaan dengan kebutuhan kapal banyak, instansi yang terkait turut pula memperbaharui kapalnya dengan sistem yang lebih maju, sehingga dapat memonitor keamanan di perairan nusantara, berikut dibawah desain kapal kebutuhan Bakamla, KKP dan TNI AL yang dikreasikan oleh pakar ahli gambar abal-abal legendaris GM.
Bakamla Ilustrasi kapal Bakamla desain GM

Badan Keamanan Laut (Bakamla) terus memperkuat kemampuannya dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia.

Terdengar kabar bahwa Bakamla akan menambah kapalnya dengan kapal cukup besar dengan panjang 110 meter. Berita ini cukup menggembirakan dan melebihi panjang kapal produksi PT PAL, PKR 10514 pesenan TNI AL. Rencananya kapal Bakamla ini akan diproduksi Palindo Shipyard, Batam.

Berikut ilustrasi kapal Bakamla hasil kreasi pakar GM, dengan menambahkan alutsista sebagai pertahanan dirinya. Sebagai gambaran terkini, Bakamla sampai detik ini hanya diperbolehkan menggunakan senjata mesin kaliber 12,7 mm pada kapalnya. Namun melihat kebrutalan para maling nusantara, yang berani melawan petugas di lapangan, bukan hal luar biasa bila kedepannya Bakamla sebagai Indonesia Coast Guard akan meningkatkan persenjataannya seperti negara lainnya.

Sebagai badan keamanan dalam negeri, Bakamla juga diminta untuk membantu bila nantinya dalam kondisi perang, dengan mempersiapkan peluncur rudal di kapalnya. Berita terakhir, salah satu pejabat menyatakan Bakamla sebagai komponen cadangan mempersiapkan kapal yang ada sebanyak 6 unit dengan peluncur peluru kendali dan senjata kaliber 12,7 mm pada kapalnya. Enam kapal itu dengan nomor seri 48 mulai dari 01-06.

Dia menjelaskan, penempatan alutsista di kapal Bakamla sudah sesuai aturan dari Menteri Pertahanan (Menhan) Nomor 7 Tahun 2010 tentang pedoman perizinan, pengawasan dan pengendalian senjata api standar militer di luar lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019, Bakamla menargetkan memiliki 30 kapal. Rinciannya, kapal berukuran 16 meter sebanyak 14 unit. Kapal ukuran 80 meter sebanyak 10 unit dan kapal 110 meter sebanyak empat unit.

Pengadaan kapal berukuran besar itu sangat penting, karena ada kecenderungan kapal-kapal asing melakukan illegal fishing dengan melakukan aksi di garis perbatasan. Sementara, kapal milik TNI AL yang beroperasi masih terbatas.

Di perairan utara Sumatera banyak aksi people smuggling, sehingga kapal berukuran 110 meter bila rampung akan di operasikan disana.
KKP Ilustrasi kapal markas kreasi GM

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan nahkoda bu Susi kembali meramaikan berita poros maritim, memesan kepada PT PAL Indonesia, kapal markas atau kapal induk perikanan yang merupakan pertama di Indonesia.

Kapal ini bisa dipakai untuk misi pengawasan, pengintaian dan pemantauan maritim. Selain itu, kapal ini bisa mendukung aktivitas pencurian ikan atau illegal fishing karena bisa membawa kapal patroli di dalamnya.

Desain kapal tersebut telah disetujui bu Susi, sebetulnya penyempurnaan dari desain kapal perang jenis Strategis Sealift Vessel (SSV) yang dirancang untuk memenuhi pesanan militer Filipina.

Selain sebagai markas, kapal yang dirancang memiliki panjang 140 meter ini bisa dipakai sebagai rumah sakit terapung hingga sarana karantina dan penelitian. Kapal ini juga dilengkapi teknologi canggih pemantau ikan. Kapal juga bisa dipakai penyedia sarana bahan bakar dan sarana koordinasi dan posko bagi instansi.

Pemberantasan pencurian ikan atau illegal fishing menjadi salah satu agenda prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2016. Makanya, KKP akan memperkuat armada kapal untuk memberantas pencurian ikan lewat pengadaan kapal baru sebanyak 10 unit.

Asep Burhanudin, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP menjelaskan, armada kapal baru terdiri dari empat unit kapal pengawas berukuran 60 meter, lima unit speedboat, serta satu unit kapal pengawas atau kapal markas berukuran 140 meter. Kapal tersebut akan memperkuat armada KKP saat ini yang mencapai 31 kapal.

Empat unit kapal pengawas berukuran 60 meter akan dibangun melalui program Sistem Kapal Inspeksi Perikanan Indonesia (SIKPl) dan direncanakan selesai pada Apri1 2016. “Nantinya, keempat kapal tersebut akan digunakan untuk menutup akses illegal fishing, antara lain di Selat Malaka, Laut Natuna, Laut Arafuru, dan Laut Sulawesi,” jelas Asep mengutip berita detik online, Rabu (6/1).

Selanjutnya untuk implementasi Sistem Pemantauan Kapal Perikanan (SPKP) atau Vessel Monitoring System (VMS), dari 3.277 unit kapal perikanan di atas 30 gross tonnage (GT) yang terdaftar di Ditjen Perikanan Tangkap KKP, telah dipasang transmitter VMS online sebanyak 2.864 unit.
OPV Desain OPV by GM

OPV (Offshore Patrole Vessel) merupakan kapal baru yang akan dipesan TNI AL. Seperti berita di media sebelumnya, TNI AL akan memesan sebanyak 2 unit kapal jenis OPV.

Namun sayang sampai hari ini GM belum mendapat gambaran kapal apa yang akan dipesan TNI AL. Atas inisiatif dan kreasi legendaris GM yang anda lupakan, maka didesain kapal OPV dengan panjang 60, 75 dan 90 meter. Desain ini merujuk kapal OPV besutan Damen dengan perkawinan silang model Sigma yang penyempurnaannya melihat kebutuhan dan kapasitasnya.

Bila melihat fungsi kapal OPV sebagai kapal patroli modern, maka kapal tidak dipersenjatai peluru kendali, namun membutuhkan alat sensor dan radar terkini untuk memantau keberadaan kapal di laut. Selain sebagai kapal patroli juga di siapkan landasan helikopter, sehingga bila anda menjadi pejabat ingin turut turun gunung, dapat dengan waktu relatif cepat menghampiri kapal OPV tersebut. Kebutuhan landasan helikopter cukup mutlak, selain untuk memantau perairan sekitar juga bisa digantikan dengan drone/helikopter tanpa awak.

Melihat kehandalan PT PAL yang berhasil mendesain berbagai kapal, tidak menutup kemungkinan kapal akan dipesan dari galangan kapal BUMNIS ini, atau mungkin mencoba galangan kapal lokal di Surabaya yang berhasil membuat kapal patroli 60 meter untuk Kementrian Perhubungan.

Semua itu terserah Mas Boy ungkap Emon.
Brosur Kapal Maritim Katalog KRI TNI AL [GM]

Melihat beberapa kapal yang berhasil di luncurkan di perairan nusantara, tidak ada salahnya kita mempunyai katalog kapal maritim. Bermula dari kapal imut-imut hasil karya anak negeri sampai kapal besar.

Nantinya bila kebijakan tak diubah lagi, Indonesia sedang mempersiapkan kapal dengan panjang 150 meter dengan ahli perkapalan bersama akademis ITS di Surabaya. Bila berhasil di produksi akan menjadi kapal jenis Destroyer pertama di Indonesia (#ngarep.com).

Melihat perkembangan akhir ini yang terus berubah, galangan kapal lokal lainnya juga akan berlomba mewarnai kanvasnya dengan inovasi kreasi yang akan membanggakan bangsa Indonesia.

Selain itu juga PT Lundin akan menerbitkan kapal Trimaran pesenan TNI AL, juga beredar penampakan image kapal Trimaran dengan warna khas Bakamla. Semoga hasil keringat kreasi anak bangsa ini terus di hargai dan berkembang menjadi ikon perkapalan dunia. Negara ini luas lautnya, sudah seharusnya kita berjaya di laut ...

  ★ Garuda Militer  

Koarmatim Gelar Latpratugas Pengamanan Perbatasan Laut Indonesia-Philipina

Ilustrasi pendaratan amphibi TNI AL

Guna mencegah terjadinya pelanggaran tindak pidana di perairan wilayah laut perbatasan Indonesia-Philipina, Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) menggelar Latihan Pratugas Satgas (Latpratugas) Operasi (Ops) Pengamanan Terbatas (Pamtas).

(Latpratugas) Operasi (Ops) Pengamanan Terbatas (Pamtas)Tahun 2016 dibuka Pangarmatim,Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto di gedung Mandalika Komando Latihan (Kolat) Koarmatim Surabaya. Kamis (11/2).

Latpratugas Ops Pamtas tahun ini mengambil tema “Satgas Ops Pamtas Koarmatim Melaksanakan Operasi Pamtas Wilayah Laut Indonesia-Philipina Guna Wujudkan Keamanan di Wilayah Laut Indonesia yang Berbatasan dengan Wilayah Laut Philipina Guna Mencegah dan Menindak Pelaku Tindakan Illegal Dalam Rangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Pangarmatim selaku Komandan Latihan (Danlat) Pratugas didampingi oleh Wadanlat Pratugas Kolonel Laut (P) Fadelanyang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Satuan Kapal Bantu (Dansatban) Koarmatim akan melibatkan sebanyak 390 Prajurit Koarmatim serta 4 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Jajaran Koarmatim.

Latihan akan dilaksanakan selama 14 hari mulai 11- 25 Februari 2016 dengan daerah latihan di perairan Laut Jawa. Latihan akan dibagi menjadi 4 tahap diantaranya meliputi tahap I Perencanaan, tahap II Persiapan, Tahap III Pelaksanaan dan tahap IV Pengakhiran.

Dikatakan Pangarmatim, tujuan Latihan ini adalah menyiapkan dan membekali Satgas Ops Pamtas Koarmatim dalam menjaga wilayah antara Laut Indonesia-Philipina agar memiliki kemampuandan keterampilan secara terintegrasi dalam rangka tercapainyakesiagaan operasiguna menunjang pelaksanaaan tugas operasi berlangsung sesuai rencana,berhasil dan berdayaguna.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas dan beberapa wilayah laut tersebut ada 10 wilayah laut yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, salah satunya adalah perbatasan Indonesia-Philipina. Hal tersebut tentunya memberikan konsekuensi bahwa TNI Angkatan Laut harus mampu mengelola, memanfaatkan dan menjaga wilayah perairan dengan baik, mengingat daerah perbatasan merupakan pintu masuk suatu negara.

Pangarmatim lebih lanjut mengatakan latihan ini merupakan salah satu upaya TNI Angkatan Laut untuk meningkatkan pembinaan kemampuan dan pembinaan kekuatan guna menjaga kesiapan tempur Alutsista beserta pengawaknya, agar memiliki kesiapan yang optimal.

Sedangkan sasaran dalam latihan ini adalah tercapainya keterpaduan, Komando, Kendali dan Komunikasi dalam kerjasama taktis, memahami penerapan hukum humaniter internasional dan HAM serta terwujudnya profesionalisme prajurit baik perorangan maupun satuan operasional.

Adapun prosedur operasi tempur antara lain, perang anti kapal selam, perang anti kapal permukaan, perang anti Kapal Cepat Rudal (KCR) dan Kapal Cepat Torpedo (KCT), peperangan anti Udara, peperangan elektronika, bantuan tembakan kapal, Nubika dan Medical Evacuation.

Pangarmatim menekankan bahwa keberhasilan latihan ini akan sangat menentukan hasil operasi sesungguhnya yang akan dilaksanakan Koarmatim kedepan, dan berpesan kepada seluruh Prajurit yang terlibat dalam latihan untuk mengikuti latihan dengan serius dan penuh tanggung jawab, sehingga para Prajurit memiliki kesiapan yang memadai sebagai bekal dalam melaksanakan tugas operasi pengamanan perbatasan Indonesia-Philipina. (hjr)

  ★ Kominfo  

Indonesia Produksi Pesawat Tempur

Mulai produksi pada 2020 dan berlanjut sampai 20 tahun Pesawat tempur IF-X/KF-X (wasco)

Indonesia melalui perusaahan industri pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia akan mulai memproduksi pesawat tempur Indonesian Fighter Xperiment (IFX) pada 2020 hingga 20 tahun mendatang atau pada 2040.

"Pesawat ini mulai produksi pada 2020 dan berlanjut sampai 20 tahun," kata Direktur Utama PT DI Budi Santoso di kantor PT DI, Bandung, Kamis.

Produksi pesawat tempur tersebut untuk kebutuhan militer Indonesia sebanyak dua skuadron dan untuk penjualan ke negara lain.

Ia mengatakan kontrak kerja sama tahap dua yang dilakukan Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dengan Defence Acquisition Program Administration (DAPA) Korea Selatan dan PT DI dengan Korean Aerospace Industries (KAI) pada Januari lalu merupakaan permulaan pengembangan pembuatan pesawat purwarupa.

Pembuatan purwarupa pesawat Korean Fighter Xperiment/Indonesian Fighter Xperiment dilakukan mulai 2016 hingga 2019 di Korea Selatan dan di Indonesia.

Pembuatan dua unit pesawat purwarupa akan dilakukan di Korea Selatan dan satu unit pesawat sisanya dirakit di Indonesia.

Pengerjaan pembuatan pesawat tersebut juga melibatkan ilmuwan dan teknisi dari Indonesia dalam jumlah yang berbeda-beda di setiap unit.

Namun Budi mengatakan akan ada 300 orang Indonesia yang mempelajari pengerjaan pesawat tempur KF-X/IF-X.

Budi juga menjelaskan bahwa pesawat tempur kerja sama Indoensia-Korea Selatan tersebut merupakan generasi 4.5 dengan jenis semi-stealth.

"Kita menggunakan geometri stealth, kalau materialnya belakangan," kata Budi.

Dalam perjanjian pembagian biaya yang disepakati kedua negara, Indonesia membiayai 20 persen dari total keseluruhan biaya eksperimen. Sementara Korea Selatan mendanai 80 persen sisanya. Namun Indonesia tetap mendapatkan 90 persen teknologi pembuatan tersebut.

  ★ republika  

[Video] Latihan TNI Berpeluru Tajam Korpaskhas

Dopper Prajurit Bikin Heboh Asing, Kapuspen TNI: Berarti Kita Bagus Ilustrasi (Andhika Akbarayansyah/detikcom)

B
erlatih dopper menggunakan peluru tajam yang dilakoni prajurit TNI bikin ngeri media luar negeri. Pihak TNI merespons bangga soal pandangan tersebut.

"Ya berarti kan kita bagus. Latihannya bagus," ucap Kapuspen TNI Mayjen Tatang Sulaiman sewaktu ditanya soal gegernya media asing memberitakan isi video latihan dopper ala TNI.

Dia menyampaikannya di sela-sela acara kunjungan media dari Kemenkopolhukam ke PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Jalan Padjajaran, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/2/2016) kemarin. Menurut Tatang, latihan dopper dengan suasana ekstrem tersebut merupakan praktik lumrah bagi prajurit Angkatan Darat, Udara dan Laut.

"Itu memang asli peluru tajam. Kami berharap dalam medan sebenarnya, prajurit (TNI) tidak takut dengan demikian (peluru tajam)," ujarnya.

"Latihan dopper dari dulu modelnya memang begitu. Dopper ialah melatih bagaimana seorang prajurit bisa menghadapi tembakan dari musuh," tutur Tatang menambahkan.

Dia punya alasan kenapa memakai peluru tajam saat TNI berlatih dopper. "Situasinya kan harus memungkinkan demikian. Ya karena kalau pakai peluru hampa, latihannya enggak serius atau asal-asalan," kata Tatang.

Selama ini, sepengetahuan Tatang, peragaan dopper oleh kesatuan AD, AU dan AL, berlangsung aman tanpa insiden fatal atau prajurit tertembak hingga nyawa melayang.

"Belum pernah (kejadian meninggal)," ucap Tatang mengklaim.
Latihan Dopper Memang Brutal, Tapi Kami Bukan Sok Pamer Kekuatan Pasukan Paskhas (Dikhy Sasra/detikcom)Nyata tanpa rekayasa. Bukan pula adegan film action nan mendebarkan. Ini tayangan visual sesungguhnya kala peluru tajam bertubi-tubi seliweran di sisi kanan dan kiri tubuh prajurit Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI AU yang tengah berlatih dopper.

Cara TNI latihan tersebut menjadi sorotan media asing. Mereka menilai pola berlatih militer ala TNI tergolong ekstrem. Ngeri.

"Latihan dopper memang terlihat brutal. Tapi bukan maksud kami sok-sokan dan pamer kekuatan," ucap Kepala Penerangan (Kapen) Korps Paskhas Letkol Sus Rifaid di Markas Komando (Mako) Paskhas TNI AU, Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/2/2016).

Rifaid memperlihatkan rekaman momen latihan dopper di hutan daerah Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Maret 2015. Menurut Rifait, setiap tahunnya sekitar 250 personel Paskhas dari golongan perwira, bintara dan tamtama melaksanakan Pendidikan Komando yang salah satu materinya berupa latihan dopper.

"Dopper ini dilakukan menjelang akhir pendidikan selama lima bulan. Latihan dopper wajib diikuti prajurit Paskhas," ucap Rifaid.

Gambaran isi video milik Korpaskhas TNI AU ini menampilkan dua pria selaku regu tembak berdiri di ketinggian sekitar 10 meter. Keduanya membidikkan senjata api laras panjang Avtomat Kalashnikova 1947 (AK-47) ke arah bawah atau gelanggang lumpur yang dilewati tiga prajurit Paskhas.

Rentetan suara tembakan silih berganti saat tiga prajurit berhelm sambil membawa senjata api laras panjang itu merayap sejauh 25 meter. Percikan lumpur nampak 'menari-nari' terkena peluru tajam kaliber 7,62. Mendapat 'serangan' tersebut membuat prajurit peserta latihan dopper sigap bergerak cepat merayap dalam kubangan lumpur.

"Prajurit peserta pendidikan itu tanpa rompi antipeluru. Sementara penembak mengarahkan pelurunya secara zigzag atau menyilang. Peluru tidak lurus ke depan kepala prajurit, tetapi diarahkan ke samping tubuh kiri dan kanannya," kata Rifaid.

Dia menegaskan, latihan dopper menggunakan peluru tajam ini praktiknya tidak sembarangan. Sebelum ikut dopper, para prajurit sudah dijejali berbagai materi kemampuan darat, laut dan udara sepanjang masa pendidikan.

"Brutal juga ada perhitungannya, enggak asal-asalan. Safetynya sudah diperhatikan secara keseluruhan. Sebelum menggelar dopper, pelaksana mengukur ketebalan dan mengkaji tanah serta lumpur. Jangan ada batu, sehingga peluru tak mental liar. Kalau ada batu, pecahan sepihan batu terkena peluru bisa melukai prajurit. Jadi kami pastikan peluru menancap kuat dalam lumpur," tutur Rifaid.

Korpaskhas merupakan salah satu pasukan elite TNI AU. Soal latihan dopper, sambung Rifaid, bukan sesuatu luar biasa di kalangan personel berjuluk baret jingga ini. "Berlatih dopper itu bukan hal istimewa. Sejak lama latihan tersebut menjadi rutinitas prajurit Paskhas. Sehingga sejak awal mereka menjadi prajurit bernyali, kuat mental dan berani saat berhadapan dengan pertempuran sebenarnya," ujar Rifaid.
Latihan Dopper Merupakan Suatu Kebahagiaan Latihan dopper menggunakan senjata api berisi peluru tajam merupakan aktivitas biasa di kalangan TNI. Bukan maksud memamerkan aksi kekerasan, bukan pula sengaja mengumbar tindakan brutal. Bagi prajurit Paskhas TNI AU, dihujam bertubi-tubi tembakan di samping kiri kanan tubuh justru menyimpan kesan tak terlupakan.

"Dopper itu latihan wajib yang harus diikuti prajurit Paskhas saat masa Pendidikan Komando. Nah, latihan dopper ini merupakan masa-masa kebahagian bagi prajurit Paskhas," ujar Kepala Penerangan (Kapen) Korps Paskhas Letkol Sus Rifaid di Markas Komando (Mako) Paskhas TNI AU, Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/2/2016).

Selama lima bulan mengikuti Pendidikan Komando, sambung Rifaid, prajurit baret jingga dari golongan perwira, bintara dan tamtama, sudah pasti merasakan langsung desingan suara tembakan serta berjumpa peluru tajam di hadapan mata. Latihan dopper berlangsung menjelang akhir pendidikan.

"Memang latihan dooper ini menguji mental. Namun prajurit Paskhas harus bertekad satu langkah ke depan, ngapain harus mundur menjadi prajurit Paskhas gara-gara kegiatan (latihan dopper) sepele ini. Begitulah rasa bahagianya," tutur Rifaid.

Dia menjelaskan, selama ini tidak ada peserta yang mengundurkan diri karena menolak ikut latihan dopper. Kondisi tersebut membuktikan prajurit Korpaskhas memang benar-benar memiliki rasa percaya diri tinggi dan berani.

Rifaid menegaskan, tentu saja latihan dopper berdampak terhadap prajurit sewaktu menghadapi pertempuran sesungguhnya di medan perang. "Musuh boleh tahu apa yang kita miliki, tapi musuh tidak akan pernah tahu apa niat dan keinginan kami," ujarnya.

"Latihan dopper besar sekali manfaatnya. Sebab prajurit Paskhas mentalnya sudah terbentuk dengan mengikuti materi pendidikan berupa latihan dopper ini. Kondisi seperti itulah membuat kami berani dan ksatria," kata Rifaid menambahkan.

Lebih lanjut Rifaid menuturkan, sepanjang latihan dopper di lingkungan Korpaskhas, hingga kini tidak pernah terjadi insiden prajurit terkena tembakan peluru tajam yang dimuntahkan penembak.

"Belum pernah ada sampai sekarang. Buktinya tiap tahunnya tetap ada dopper," ucap Rifaid.
Cara Penembak Uji Nyali Pasukan di Latihan DopperPenembak bersenjata api laras panjang memuntahkan banyak peluru tajam saat prajurit Korpaskhas TNI AU merayap-rayap di lumpur. Wajar saja prajurit baret jingga itu dagdigdug menghadapi tembakan yang merangsek lumpur di sebelah kanan kiri tubuhnya. Rupanya sang penembak memiliki keterampilan khusus sewaktu memberondong peluru agar tidak mencelakakan prajurit yang mengikuti latihan dopper.

"Kalau melihat langsung (di lokasi latihan), tentu mengerikan. Tembakannya menggunakan peluru tajam," ucap Kepala Penerangan (Kapen) Korps Paskhas Letkol Sus Rifaid di Markas Komando (Mako) Paskhas TNI AU, Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/2/2016).

Menurut Rifaid, latihan dopper bertujuan menguji kemampuan prajurit Paskhas yang meliputi uji keberanian, ketahanan fisik, mental dan menumbuhkan kepercayaan diri. Dia menegaskan, tentunya pelatih sekaligus penembak tidak membidik tubuh prajurit. Sepintas bila menyaksikan video latihan dropper oleh Korpaskhas yang muncul di YouTube, penembak nampak beraksi brutal menembaki prajurit.

"Enggak asal-asalan atau sembarangan menembak, ada tekniknya. Tembakan itu bukan mengarah ke prajuritnya, tetapi diarahkan ke lumpur yang berada di samping kanan dan kiri tubuh prajurit yang lagi bergerak merayap," tutur Rifaid.

Saking memiliki kemampuan menguasai senjata api tempur, arah tembakan yang dilancarkan personel Paskhas ini bergerak acak dan zigzag tanpa harus senjata disandarkan ke penyangga. "Personel Paskhas ini sudah sangat terlatih menembak," katanya.

Rifaid menjelaskan, setiap berlangsungnya latihan dopper, para penembak harus mengikuti proses seleksi. Misal dari 20 orang yang ikut, nantinya bisa empat orang lolos seleksi. "Pastinya, para penembak yang melatih itu punya prestasi menembak. Mereka juga dites kejiwaan. Ya karena menembak itu bukan pekerjaan mudah. Penembak enggak mesti sniper," ujar Rifaid.

Para prajurit Paskhas yang berada di lumpur, tentu mempunyai teknik khusus saat merayap. Sehingga, sambung Rifaid, peluru tajam tidak menyasar bagian tubuh prajurit "Terpenting konsentrasi," kata Rifaid.

Rifaid memperlihatkan rekaman momen latihan dopper di hutan daerah Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Maret 2015. Menurut Rifaid, setiap tahunnya sekitar 250 personel Paskhas dari golongan perwira, bintara dan tamtama melaksanakan Pendidikan Komando yang salah satu materinya berupa latihan dopper.

"Latihan dopper wajib diikuti prajurit Paskhas," ucap Rifaid.

Gambaran isi video milik Korpaskhas TNI AU ini menampilkan dua pria selaku regu tembak berdiri di ketinggian sekitar 10 meter. Keduanya membidikkan senjata api laras panjang Avtomat Kalashnikova 1947 (AK-47) ke arah bawah atau gelanggang lumpur yang dilewati tiga prajurit Paskhas.

Rentetan suara tembakan silih berganti saat tiga prajurit berhelm sambil membawa senjata api laras panjang itu merayap sejauh 25 meter. Percikan lumpur nampak 'menari-nari' terkena peluru tajam kaliber 7,62. Mendapat 'serangan' tersebut membuat prajurit peserta latihan dopper sigap bergerak cepat merayap dalam kubangan lumpur.

"Prajurit peserta pendidikan itu tanpa rompi antipeluru. Sementara penembak mengarahkan pelurunya secara zigzag atau menyilang. Peluru tidak lurus ke depan kepala prajurit, tetapi diarahkan ke samping tubuh kiri dan kanannya," kata Rifaid.
Kalau Gunakan Peluru Karet Tidak Melatih Mental PrajuritPenggunaan peluru tajam saat berlatih dopper bertujuan melatih mental dan keberanian prajurit TNI. Bagi Korpaskhas TNI AU, rentetan tembakan peluru tajam saat berlatih dopper guna membentuk para prajurit tangguh dan terlatih.

"Kalau pakai peluru hampa atau karet, justru tidak melatih mental prajurit Paskhas. Enggak dahsyat kalau pakai peluru hampa. Kalau begitu, pakai saja mercon," ucap Kepala Penerangan (Kapen) Korps Paskhas Letkol Sus Rifaid di Markas Komando (Mako) Paskhas TNI AU, Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (13/2/2016).

Maka itu, Rifaid menambahkan, maksud menggunakan peluru tajam itu untuk membiasakan prajurit lebih sigap dan siap menghadapi pertempuran sesungguhnya. "Paskhas ini dibentuk menjadi prajurit profesional dan militan. Tentu saja prajurit Paskhas ini melalui seleksi ketat, seperti fisik, mental, kesehatan jasmani, psikologi dan akademik," tuturnya.

Rifaid menjelaskan, latihan dopper wajib diikuti prajurit Paskhas sewaktu melaksanakan Pendidikan Komando. Korpaskhas ialah salah satu pasukan khas TNI AU yang mengantongi kemampuan tiga matra yaitu darat, laut dan udara.

Setiap prajurit baret jingga ini harus memiliki persyaratan dasar Para-Komando. Kemampuan mumpuni personel Korpaskhas menjadi andalan garda terdepan menjaga NKRI.

Rifaid mengungkapkan, sepanjang pelaksanaan latihan dopper di lingkungan Korpaskhas, hingga kini tidak pernah terjadi insiden prajurit terkena tembakan peluru tajam yang dimuntahkan penembak. "Belum pernah ada sampai sekarang. Buktinya tiap tahunnya tetap ada dopper," kata Rifaid menegaskan.
Cerita Mendebarkan Prajurit Paskhas Diberondong Peluru Tajam Saat Dopper"Komando!" teriak Serka Ahmad Yusup. Dia dan sejumlah rekannya dari personel Korpaskhas TNI AU bernafas lega selepas bergerak cepat merayap saat mengikuti latihan dooper. Mereka lolos diberondong peluru tajam yang bertubi-tubi dimuntahkan senjata tempur AK-47.

Begitulah pengalaman tak terlupakan bagi pria berusia 30 tahun ini. "Perasaannya campur aduk waktu latihan dopper. Namanya juga orang, pastilah takut. Peluru tajam loh yang kami hadapi," ucap Ahmad di Markas Komando (Mako) Paskhas TNI AU, Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/2/2016).

Pria asli Tegal tersebut bergabung dengan Korpaskhas sejak 2005. Dia kini bertugas sebagai Staf Penerangan Korpaskhas.

Ahmad mempertaruhkan nyawanya selagi berlatih dopper di kawasan hutan, Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebelum masuk arena berlumpur, dia dan prajurit lainnya mengambil ancang-ancang tiarap lalu merayap.

Sekejap saja rentetan suara tembakan peluru tajam meluncur berkali-kali menghujam lumpur. "Wah, mati nih kalau kena (peluru tajam)," ungkap Ahmad dalam hatinya kala itu.

Posisi pelatih sekaligus penembak berada di atas. Dua penembak sambil berdiri melancarkan tembakan secara acak dan zigzag. Ahmad pun melihat langsung peluru-peluru tajam 'mendekat' di samping kanan dan kiri tubuhnya. Suasana tanpa rekayasa tersebut sungguh menegangkan.

Jantung Ahmad dagdigdug kencang. Dia harus tiba di ujung titik akhir agar letusan tembakan berhenti. Sejauh 25 meter pria tersebut harus cepat merayap ke garis finish.

"Enggak terhitung berapa butir peluru tajam yang ditembakkan pelatih. Selama merayap itu, saya terus berdoa," ujarnya.

Lantaran sudah dilatih kemampuan teknik merayap, Ahmad yakin bisa melewati rintangan mendebarkan. Rasa takut pun ia lawan. "Cara melawan takut itu, kita harus percaya diri dan menjalankan teknik latihan yang diberikan pelatih. Tentu enggak lupa juga tetap berdoa. Saya pun yakin pelatih (penembak) orang-orang profesional," tutur bapak satu anak ini.

Bagaimana perasaannya setelah berhasil latihan dooper?

"Sangat-sangat bahagia. Ya sebab, latihan tersebut berisik tinggi dibandingkan latihan lainnya. Salah teknik sedikit cara merayap, bisa bahaya," ucap Ahmad.

Ekspresi girang spontanitas menyergap Ahmad setelah tiba di garis akhir dooper. "Saya langsung teriak, 'komando!'. Teman lainnya juga beteriak serupa. Ya senang sekali karena berhasil," kata Ahmad.
Video Dopper Ekstrem Itu Digelar Paskhas di Garut 3 Tahun LaluKorps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI AU sudah mengetahui soal media asing yang heboh membahas pola latihan dopper terutama menyoroti tembakan berisi peluru tajam.

Video yang menjadi perbincangan media asing itu sebenarnya bukan gambar latihan dopper yang dilakukan personel Kopassus. Tayangan itu justru visual latihan dopper para prajurit tangguh dari Paskhas di area hutan daerah Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

"Itu video Paskhas saat latihan di Garut, waktunya sekitar tiga tahun lalu," kata Kepala Penerangan (Kapen) Korps Paskhas Letkol Sus Rifaid di Markas Komando (Mako) Paskhas TNI AU, Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/2/2016).

Dalam sebuah latihan dopper, diskenariokan pasukan TNI yang siap siaga menyerang musuh. Namun, tanpa diduga musuh ternyata lebih dulu menyerang. Pasukan pun merayap menghindari serangan yang bertubi-tubi. Hujan peluru musuh tidak menyurutkan nyali pasukan TNI. Mereka berbalik menyerang meski harus merayap di atas tanah berlumpur. Skenario ini disebut dopper.

Rifaid mengatakan, wajar bila media asing 'kaget' dengan latihan dopper yang sebenarnya sudah hal biasa di kalangan TNI. "Kalau kata media asing latihan ini brutal, ya wajar. Tapi bagi kami yaitu prajurit Paskhas latihan dopper pakai peluru tajam itu bukan merupakan sesuatu luar biasa," ucap Rifaid.

Dia menegaskan, latihan dopper yang wajib dilakukan prajurit Paskhas ini bukan bermaksud pamer kemampuan serta memperlihatkan aksi kesombongan. Selain itu, Rifaid menambahkan, kegiatan dopper pun bukan mempraktikkan tindakan kekerasan serta mengumbar kebrutalan.

"Berlatih dopper ini justru mendidik. Jadi, latihan tersebut lebih kepada menguji kemampuan prajurit yang meliputi uji keberanian, ketahanan fisik, mental dan menumbuhkan kepercayaan diri. Memang rasa takut pasti ada, tapi bisa dikikis oleh dasar yang dimiliki prajurit untuk berani melakukan dropper," tutur Rifaid.

Korpaskhas ialah salah satu pasukan khas TNI AU yang mengantongi kemampuan tiga matra yaitu darat, laut dan udara. Setiap prajurit baret jingga ini harus memiliki persyaratan dasar Para-Komando. (bbn/mad)

 Berikut Video dari Youtube : 


  detik  

[Video] Latihan TNI Berpeluru Tajam Marinir

Latihan Dopper TNI Berpeluru Tajam yang Bikin Heboh Ilustrasi oleh Andhika Akbarayansyah/detikcom

Beberapa waktu lalu, beredar luas video latihan dopper anggota TNI yang diduga dari kesatuan Kopassus. Mereka menarik perhatian media asing karena menggunakan peluru tajam. Ekstrem!

Adalah media Inggris Daily Mail dan beberapa media lain yang mengabarkan soal video tersebut sekitar bulan Desember 2015. Di Indonesia, sorotan media asing tersebut menjadi viral.

Menurut media-media tersebut, latihan tersebut cukup ekstrem. Ada enam orang yang merangkak di tengah area berlumpur. Kemudian mereka dihujani tembakan dari sisi atas oleh dua pelatih bersenjata laras panjang. Dar! der! dor! Peluru tajam meluncur di sisi kanan dan kiri para prajurit.

Belum jelas di mana video itu diambil. Namun diyakini para prajurit yang berlatih adalah tim Kopassus, pasukan elite khusus dari Indonesia.

detikcom mengkonfirmasi soal video tersebut ke jajaran TNI. Ternyata, memang benar adanya. Bahkan latihan dopper berpeluru tajam hampir dilakukan di sejumlah kesatuan. Terutama satuan elite. Video yang beredar itu adalah latihan dopper oleh prajurit Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI AU di daerah Garut, Jawa Barat.

Selain Kopassus dan Korpaskhas ada juga Korps Marinir yang melakukan hal serupa. detikcom mendapatkan dokumentasi video saat mereka berlatih dopper. Benar saja, latihan tersebut memang ekstrem. Peluru tajam bertebaran di mana-mana saat para prajurit melakukan dopper.

Dalam sebuah latihan dopper, diskenariokan pasukan TNI yang siap siaga menyerang musuh. Namun, tanpa diduga musuh ternyata lebih dulu menyerang. Pasukan pun merayap menghindari serangan yang bertubi-tubi. Hujan peluru musuh tidak menyurutkan nyali pasukan TNI. Mereka berbalik menyerang meski harus merayap di atas tanah berlumpur. Skenario ini disebut dopper.

"Ini untuk siswa yang masih baru. Ini rutin tiap tahun ada. Untuk prajurit, setiap tiga bulan sekali, untuk memelihara mental dan daya tempur prajurit. Untuk yang di batalion rutin," kata Kadispen Korps Marinir Letkol Marinir Suwandi kepada detikcom, Kamis (11/2/2016).

Video yang dilansir Daily Mail tadi menjadi viral dan heboh di YouTube. Banyak yang berkomentar terlalu ekstrem, namun tak sedikit yang mendukungnya karena bagian dari tes mental dan ketahanan fisik prajurit. Karena itu, cukup membanggakan.

Di jejaring sosial YouTube, beredar sejumlah video latihan dopper dari kesatuan lainnya. Semua menjadi daya tarik tersendiri bagi para netizen.

 Latihan Ekstrem Dopper Berpeluru Tajam Untuk Meningkatkan Nyali Marinir 
Latihan Ekstrem Dopper Berpeluru Tajam Untuk Meningkatkan Nyali MarinirKorps Marinir Angkatan Laut sudah melakukan latihan dopper peluru tajam sejak lama. Mereka ingin membuat para prajurit lebih bernyali dan mental yang selalu siap siaga.

"Untuk nyali dan ketika dinas terus dipelihara tiap 3 bulan. Untuk memelihara mental, daya tempur dan keberanian," kata Kadispen Korps Marinir Letkol Marinir Suwandi saat berbincang dengan detikcom.

Dari video yang ditunjukkan Suwandi, terlihat bagaimana kerasnya para pasukan Marinir berlatih. Prajurit berbaret ungu berjalan merangkak di jalur yang sudah ditentukan, lalu di sisi kiri dan kanannya terjadi hujan peluru. Mereka harus terus melaju di tengah tembakan pelatih.

Dalam sebuah latihan dopper, diskenariokan pasukan TNI yang siap siaga menyerang musuh. Namun, tanpa diduga musuh ternyata lebih dulu menyerang. Pasukan pun merayap menghindari serangan yang bertubi-tubi. Hujan peluru musuh tidak menyurutkan nyali pasukan TNI. Mereka berbalik menyerang meski harus merayap di atas tanah berlumpur. Skenario ini disebut dopper.

Marinir kadang berlatih dopper di Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur, lalu di Padang Cermin, Piabung, Lampung serta di puslatpur Purboyo, Pantai Selatan Malang. Sebetulnya, tidak ada lapangan khusus dopper, namun tim bisa membuat arena tersebut, dalam waktu singkat bila diperlukan.

"Kalau di Marinir sudah lama ada itu, karena tiap prajurit Marinir harus ada kualifikasi komando. Sejak dia menjadi prajurit Marinir dan semua prajurit Marinir untuk kualifikasi dopper harus merasakan itu," terangnya.

 Dopper Disebut Ekstrem Oleh Asing, Marinir: Ada Latihan yang Lebih Bahaya 
Penembak Dopper Tak Boleh Sembarangan, Prajurit Bisa Kena Peluru TajamDaily Mail menyebut latihan dopper TNI menggunakan peluru tajam sebagai salah satu aksi ekstrem. Ternyata, bagi Korps Marinir Angkatan Laut, itu hanyalah latihan biasa. Ada latihan lain yang lebih berbahaya.

"Di kita itu jadi kegiatan rutin yang harus dilaksanakan dalam membina kemampuan prajurit. Jadi bisa dibilang hal biasa. Itu latihan dasar kalau untuk komando," terang Kadispen Korps Marinir Letkol Marinir Suwandi, saat dikonfirmasi detikcom.

Menurut Suwandi, Marinir ada latihan lain yang lebih ekstrem. Misalnya latihan pendaratan khusus di laut, sebab harus berhadapan dengan alam. Lalu, latihan menembak di laut dan pantai. Ada juga yang ditembaki pelatih dari perahu karet atau dari pantai.

"Ya memang dopper cukup bahaya, tapi ada materi lain yang nggak kalah menantang dan berbahayanya dari dopper," bebernya.

"Jadi latihan menembak atau ditembaki di air. Karena Marinir itu medianya laut dan darat. Semacam dopper tapi di laut atau rawa," sambungnya.

Bagi Marinir, dopper itu adalah latihan dasar dalam suatu aplikasi pertempuran. Nantinya, aplikasi tersebut bisa dikembangkan bermacam-macam. "Jadi dopper dasarnya, jadi untuk bisa menghadapi di segala medan," imbuhnya.

Apakah Marinir pernah latihan dopper dengan pasukan asing?

"Nggak pernah. Mereka tahu ya seharusnya (soal latihan dopper prajurit Indonesia). Kalau latihan dengan negara lain ada, tapi materinya bukan itu. Latihan bersama biasanya patroli, operasi amfibi," jawabnya.

Penembak Dopper Tak Boleh Sembarangan, Prajurit Bisa Kena Peluru Tajam

Korps Marinir menerapkan aturan ketat bagi penembak dopper. Menggunakan peluru tajam, para penembak harus orang-orang pilihan. Salah sedikit, prajurit atau siswa bisa kena tembakan.

Dalam video yang beredar di YouTube dan yang ditunjukkan pada detikcom, latihan dopper memang cukup berbahaya. Prajurit harus merangkak cepat di tengah kubangan lumpur sambil dihujani tembakan dari sisi kanan dan kiri. Posisi tembakan berada di jalur sendiri. Sedikit saja si penembak atau prajurit lengah, maka peluru tajam bisa bersarang di tubuh.

Begitu pun dengan latihan Marinir. Mereka menggunakan peluru tajam untuk menembaki prajurit dari sisi kanan dan kiri. Meski begitu, latihan ini dianggap sesuatu yang biasa. Ada materi lain yang lebih berbahaya dan biasa dilakukan mereka.

Bagaimana dengan penembaknya? Apakah harus ada syarat khusus?

Kadispen Korps Marinir Letkol Marinir Suwandi memiliki penjelasan tersendiri.

"Penembaknya harus punya kualifikasi, nggak semua prajurit punya kualifikasi penembak dopper. Karena psikologis, fisik, kemampuannya ada kriteria sendiri," terang Suwandi saat berbincang dengan detikcom.

Suwandi menegaskan, untuk menjadi pelatih dopper tidak bisa sembarangan. Mereka harus melalui serangkaian tes. Dia mencontohkan, dari 150 orang, hanya 20 orang yang lolos. "Tiap tahun ada tes. Saya dulu termasuk salah satu pelatihnya," imbuhnya.

Menurut Suwandi, penembak dan peserta latihan kadang bisa sama-sama tegang. Namun dengan latihan rutin, hal itu bisa dihilangkan.

Apakah pernah ada prajurit yang tertembak?

Suwandi menyebut ada. Namun insiden itu biasanya terjadi karena kelengahan prajurit dan tidak mengikuti instruksi dengan benar. Meski ada yang terkena peluru, namun tidak ada yang meninggal dunia.

"Kalau salah sedikit atau tidak melakukan instruksi dengan benar bisa fatal. Karena jarak peluru dengan badan paling cuma satu jengkal. Kalau dia gerak salah sedikit, nengok, atau bahkan berkedip bisa fatal. Walau nggak mati, bisa kena," terangnya.

"Ada beberapa kejadian kayak gitu (tertembak) karena prajurit atau siswa lengah. Dari dari beberapa periode belakangan nggak lagi, tapi emang pernah ada, karena ada prajurit yang lengah atau tidak mengikuti instruksi pelatih. Tapi nggak ada yang sampai meninggal. Kuncinya satu, disiplin sama mengikuti instruksi pelatih," sambungnya.

 Video Latihan Dopper Ekstrem Korps Marinir 

Di antara kesatuan yang berlatih dopper menggunakan peluru tajam, ada Korpaskhas dan Korps Marinir. detikcom mendapat dokumentasi video saat latihan ekstrem tersebut.

Bagaimana penampakannya?

Untuk Korps Marinir, detikcom melihat video dokumentasi latihan dopper saat berlangsung di Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur. Tim juga kadang berlatih di Lampung Padangcermin, Piabung serta di puslatpur Purboyo, Pantai Selatan Malang. Sebetulnya, tidak ada lapangan khusus dopper, namun tim bisa membuat arena tersebut, dalam waktu singkat bila diperlukan.

Kadispen Korps Marinir Letkol Marinir Suwandi, latihan dopper ditujukan untuk siswa baru dan dilakukan setiap tahun. Bagi prajurit Marinir, mereka wajib melakukannya setiap tiga bulan sekali.

"Setiap tiga bulan sekali untuk prajurit, untuk memelihara mental dan daya tempur prajurit. Untuk yang di batalion rutin," kata Suwandi saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (11/2/2016).

Dari video yang ditunjukkan Suwandi, terlihat bagaimana kerasnya para pasukan Marinir berlatih. Prajurit berbaret ungu berjalan merangkak di jalur yang sudah ditentukan, lalu di sisi kiri dan kanannya terjadi hujan peluru. Mereka harus terus melaju di tengah tembakan pelatih.

Menurut Suwandi, penggunaan peluru tajam bertujuan agar para prajurit terbiasa menghadapi situasi sebenarnya. Sebab, jika tidak terbiasa, maka mereka akan gugup bila saatnya pertempuran tiba.

"Prajurit itu sengaja dihadapkan di hal-hal yang menantang dan berbahaya. Dengan catatan terjamin keselamatannya. Nggak asal-asalan nembaknya," terangnya.

Dalam sebuah latihan dopper, diskenariokan pasukan TNI yang siap siaga menyerang musuh. Namun, tanpa diduga musuh ternyata lebih dulu menyerang. Pasukan pun merayap menghindari serangan yang bertubi-tubi. Hujan peluru musuh tidak menyurutkan nyali pasukan TNI. Mereka berbalik menyerang meski harus merayap di atas tanah berlumpur. Skenario ini disebut dopper.

Di jejaring sosial YouTube, beredar sejumlah video latihan dopper dari kesatuan lainnya. Semua menjadi daya tarik tersendiri bagi para netizen. Bahkan media-media asing ikut meramaikannya dengan menyebut latihan tersebut 'ekstrem'!. (elz/mad)

 Video Dooper Marinir dari Youtube : 


  ♘ detik