Rabu, 28 Maret 2012

☆ Herlina

Srikandi Trikora

Surat penghargaan
Wanita kelahiran Malang, Jawa Timur, 24 Februari 1941, ini tak lain adalah penerima gelar Srikandi Trikora yang dianugerahi pending emas oleh Presiden Soekarno pada 22 desember 1963. Penghargaan ini diterima karena keberaniannya terjun di belantara Irian Barat semasa Operasi Trikora.

Pengalaman itulah yang membuat namanya terukir sebagai salah seorang tokoh dalam sejarah operasi lintas udara di Tanah Air. Keberaniannya tak lepas dari kesukaannya berpetualang. Setelah menamatkan SMA, antara tahun 1959-1961 ia keliling Indonesia, termasuk sampai Maluku.

Ketika pada tahun 1961 Presiden Soekarno mengobarkan semangat Trikora, ia ikut terpanggil. Pendiri Mingguan Karya yang berkantor di Ternate inipun mendaftar sebagai salah seorang Sukarelawati. Di wilayah Kodam XIV Pattimura namanya sudah tak asing lagi, karena ia kerap menulis di mingguan tersebut.

Saat itu situasi di Maluku sendiri, sebagai garis depan, kian memanas menyusul dibentuknya Dewan Papua boneka Belanda. Semagat juang Herlina meledak, lalu memimpin penduduk di sekitar tempat ia tinggal dan melakuakan demonstrasi menentang Dewan Papua dan mengajak bersatu untuk merebut Irian Barat.

Merasa kurang hanya berdemo, diam-diam ia mengajukan permohonan kepada Panglima Kodam XIV Pattimura agar dapat di terjunkan di Irian Barat. Ia tak pumya pengalaman terjun, tetapi tak masalah baginya diterjunkan sebagai barang. Panglima Kodam XIV Pattimura akhirnya meluluskan permintaannya, dengan syarat semua ini akan menjadi rahasia antara Herlina dan dirinya.

Kemudian dipersiapkanlah perlengkapan terjun untuknya. Selama beberapa hari, Pangdam memberi contoh cara memakai perlengkapan terjun, cara melepas, dan cara mengendalikan tali-tali parasut. Ia juga mengenalkan secara singkat bagian penting mana saja yang harus diingat. Herlina memperhatikannya dengan seksama.

Ketika saat pernerjunan itu tiba, sang Sukarelawati kemudian dipersiapkan lengkap dengan pakaian militer. "Pergi, pergilah Tuhan berserta kau, Herlina. Ini adalah permintaan kau," begitu pesan Panglima Kodam XIV Pattimura.

Malam itu ada 20 orang yang diterjunkan. Di malam yang dingin, di terpa angin kencang, sesuai perintah, Herlina mengatupkan tangan didada. Seperti dituturkannya kemudian, tiba-tiba dirinya merasa tersentak, dan parasut pun mengembang. Ia melayang-layang sebelum akhirnya jatuh ditempat yang berlumpur. Untuk beberapa saat ia sempat tak sadarkan diri.

Herlina Srikandi Trikora (foto supermarine)
Setelah sadar, iapun segera mencari sesama rekan terjunnya. Untuk itu selama beberapa hari ia hanya makan dari bekal yang ala kadarnya. pada hari keenam bekal dan minumannya nyaris habis, dan mulailah ia berjuang menaklukan belantara Irian seorang diri.

Ia mengaku memperoleh pengalaman luar biasa di sana. Misalnya saja, pada suatu hari lima orang laki penduduk asli, mengenakan koteka membawa tombak mendekatinya. Semula ia takut sekali, namun dengan keberanian yang dipaksakan ia ulurkan tangan memberi cermin bundar kepada mereka. Pemberiannya itu ternyata membikin mereka senang.

Selama beberapa hari mereka menemani Herlina. Ia sempat menyisihkan garam, rokok, tembakau, korek api, dan sisa nasi goreng dari bekalnya kepada mereka. Sebaliknya penduduk asli memberinya ikan dan hewan buruan untuk dimakan. Seminggu kemudian, penduduk asli memberi isyarat untuk beranjak pergi dan pada hari ke-21 sampailah mereka ke tepian pantai. Disana mereka kemudian melihat sebuah rumah yang dihuni nelayan.

Keberuntungan masih berpihak kepada Herlina. Dirumah itu ia diterima baik dan diajak makan bersama. Sang nelayan lalu menyampaikan pesan, bahwa berbahaya berjalan sendiri di pulau yang banyak serdadu Belanda. Maka, keesokannya harinya, setelah sholat subuh, Herlina pun diantar pergi dengan perahu layar menuju kota kecil Wahai, di wilayah Pulau Seram. Setelah berlayar dua hari, sampailah ia kembali ke wilayah Republik Indonesia. Dari Wahai ia lalu pergi ke Amahai, ibukota Seram, dan melanjutkan perjalanan ke Ambon dengan  motor boat.(mar)


Sumber :
    ▹ Majalah Angkasa, edisi koleksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.