Senin, 02 April 2012

Dua Tentara Australia Itu Pro Malaysia

Pada 21 Maret 1966, empat pasukan elit memata-matai perbatasan Indonesia-Malaysia.

Kenneth Hudson (atas),
          Robert Moncrieff (bawah) (The Australian)
VIVAnews - Bermula dari konfrontasi Indonesia-Malaysia, saat Presiden Soekarno merasa terancam dan tidak setuju dengan pendirian konfederasi Malaysia. Australia pun mengirimkan pasukan elit Special Air Service Regiment (SASR).

Seperti dilansir The Sydney Herald Morning, 16 Maret 2010, pada periode Juli 1964 sampai Juli 1966, pasukan khusus Australia dan Inggris diam-diam dikirim ke wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Misi intelijen yang diemban dari mulai mengumpulkan informasi sampai menyerang tentara Indonesia itu bersifat sangat rahasia , dengan sandi 'Operasi Claret'.

Misi rahasia itu baru terungkap hingga sekitar tahun 1980an. Dan pasukan elit Australia dan Inggris itu memberikan bantuan kepada Malaysia mendukung pembentukan konfederasi.

Tiga pasukan superelit itu dilaporkan tewas di Kalimantan Barat pada 1 April 1966. Letnan Ken Hudson, Prajurit Bob Moncrieff, dan Paul Denehey. Nama terakhir, Paul Denehey dilaporkan tewas karena amukan gajah.

Sedangkan dua nama pertama, Ken Hudson dan Bob Moncrieff dilaporkan tewas saat menyeberang Sungai Sekayan. Dua jasad inilah yang akhirnya ditemukan 44 tahun kemudian.

Pada 21 Maret 1966, empat pasukan elit SARS sedang berpatroli dengan misi memata-matai di area sekitar 3 kilometer perbatasan. Mereka berada di wilayah Indonesia.

Sekitar pukul 3 dini hari pagi terjadi hujan deras. Mereka mencari tempat berteduh, dan yang terlihat saat itu adalah area di seberang sungai. Tiba-tiba arus sungai meningkat seperti banjir bandang.

Di dalam kegelapan itu keempatnya tersapu arus sungai. Dua dari mereka, Frank Ayling dan Bruce Gabriel berhasil menyelamatkan diri dan berada sekitar 500 meter ke daratan. Dua lainnya, tidak ditemukan.

Pencarian pun dilakukan. Karena mereka berada di teritori Indonesia, mereka memiliki kemampuan terbatas. Apalagi menuju daerah pegunungan. Selama 11 hari pencarian, patroli tidak membuahkan hasil.

Akhirnya, 44 tahun kemudian kedua jasad itu ditemukan. Jasad dua tentara itu ternyata telah dikebumikan di sebuah kawasan terpencil yang hanya dapat dijangkau dengan kano.

Titik terang muncul setelah mengumpulkan informasi dari tetua suku Dayak yang berdiam di kawasan itu. Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, mengatakan, penemuan itu tak luput dari campur tangan militer Indonesia. "Sekarang sudah positif teridentifikasi," kata Rudd.

[ismoko.widjaya@vivanews.com]

Misi Rahasia Tentara Australia di Kalimantan

Dua tentara Australia terseret arus saat berpatroli di perbatasan Indonesia-Malaysia.

VIVAnews - Kerangka dua tentara Australia yang tewas dalam operasi rahasia di Indonesia 44 tahun lalu, ditemukan. Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd mengatakan identitas keduanya telah dipastikan.

Kepada Parlemen Australia, Rudd mengatakan sisa-sisa jasad Letnan Kenneth Hudson (yang tewas dalam usia 30 tahun) and Prajurit Robert Moncrieff (tewas dalam usia 21 tahun), dari kesatuan Angkatan Udara Khusus (SASR) akan dikembalikan ke Australia.

Dua tentara Australia itu terseret derasnya air sungai saat melintasi perairan Kalimantan Barat yang masuk wilayah Indonesia pada 21 Maret 1966.

"Keduanya tak ditemukan dalam pencarian saat itu," kata Rudd. "Kini jasad mereka bisa pulang dan mendapatkan peristirahatan terakhir di Australia."

Dua tentara Australia itu dikirim ke Kalimantan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Misi rahasia itu berpusat di perbatasan Indonesia - Malaysia. Dua negeri jiran ini memang saling berperang pada 1965 sampai 1966.

Jenazah Hudson dan Moncrieff ditemukan oleh tim investigasi Angkatan Darat yang dipimpin Brian Manns tahun lalu.

Menurut Manns, kedua tentara itu tewas saat berpatroli di Kalimantan Barat -- untuk menjamin keselamatan Federasi Malaysia selama konfrontasi dengan Indonesia.

"Patroli itu melintasi sungai malam hari," kata dia, seperti dimuat laman ABC.net, Rabu 17 Maret 2010.

Namun, sungai tiba-tiba meluap. Dua prajurit itu tak pernah kembali.

Ketika jasad keduanya ditemukan pada 1966, tak jelas apa yang menyebabkan mereka tewas.

"Mereka ditemukan mengapung di sungai, jelas sempat tenggelam, tak ada bukti trauma fisik. Maka diasumsikan mereka tewas karena tenggelam.

Aparat Indonesia lalu menarik mereka dari sungai, kemudian penduduk lokal menguburkan keduanya selayak mungkin.

Manns mengatakan tim investigasi melakukan banyak penelitian sebelum bertolak ke Indonesia.

"Kami membuat dua kunjungan. Kunjungan awal pada bulan Mei tahun lalu," katanya.

"Pada saat kami kembali pada bulan Oktober sekitar lima bulan kemudian, kami cukup beruntung menemukan beberapa saksi mata warga Indonesia yang saat itu mengambil mayat kedua tentara," kata dia.

Penjelasan dari saksi-saksi kunci itulah yang membuat tim yakin bahwa dua mayat itu adalah Letnan Moncrief Hudson dan Prajurit Robert Moncrieff.

Setelah yakin dua jenazah itu adalah tentara khusus Australia (SAS), keduanya akan dipulangkan.

"Mereka akan kembali ke Australia, Angkatan Darat dengan senang hati akan menyerahkan sisa-sisa jenazah ke dua keluarga," katanya.

"Keluarga sudah menunggu saat-saat ini selama 44 tahun -- untuk memastikan keduanya beristirahat secara layak."


[sumber VIVAnews]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.