Rabu, 28 Juni 2017

[Dunia] Filipina Yakin Konflik Marawi Berakhir

Dalam Dua MingguMiliter Filipina meyakini konflik Marawi akan berakhir dalam dua pekan. (REUTERS/Romeo Ranoco) ★

Sekretaris Kementerian Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana menyatakan, konflik Marawi diperkirakan berakhir satu hingga dua pekan mendatang.

Kemhan juga mengakui terdapat 'sedikit' tekanan untuk mengakhiri konflik bersenjata sejak 23 Mei itu. Sebab, Presiden Rodrigo Duterte dijadwalkan menyampaikan pidato kenegaraan (Sona) pada 24 Juli mendatang.

"Tekanan karena kalau konflik Marawi berlanjut, hal itu tidak akan terlihat bagus untuk sona Presiden," ujar Lorenzana, Selasa (27/6).

Lorenzana juga menyampaikan, Kepala Staf Militer Jenderal Eduardo Ano telah menginformasikan baku tembak akan selesai dalam satu minggu. Informasi itu disampaikan pekan lalu.

Optimisme militer Filipina itu didukung kemajuan terbaru dalam membatasi gerak para militan.

Juru Bicara Militer Filipina Letnan Kolonel Jo-ar Herrera mengatakan, jajarannya telah menutup jalur laut yang selama ini digunakan memasok logistik kepada kelompok militan di Marawi.

Herrera menjelaskan, jalur ini diketahui setelah mengikuti seorang laki-laki yang membawa kapal melewati selatan Danau Lanao untuk menyelundupkan amunisi dan mengeluarkan anggota militan terluka dari daerah konflik.

"Ini kabar bagus karena kami telah menutup jalur ini," ujar Herrera seperti dikutip AFP.

Penutupan jalur laut melalui penambahan sekaligus penguatan kapal jaga di sekitar danau.

Sebelumnya, pihak militer beberapa kali menetapkan tenggat waktu guna mengakhiri konflik, namun terus gagal. Kini, Lorenzana menuturkan, mereka tak perlu lagi menetapkan tenggat waktu karena militan sudah terdesak.

"Kami meyakinkan mereka untuk menyerah sebab tidak akan menang. Tetapi mereka melanjutkan operasinya. Mungkin ini akan berakhir sebelum Sona," tutur Lorenzana.

Ia berkata pemerintah telah mempersiapkan upaya pemulihan dan rehabilitasi Marawi.

Ribuan orang telah dipindahkan sejak konflik bersenjata antara pemerintah dengan kelompok militan ini terjadi. Sebanyak 70 anggota militer tewas dalam konflik ini.

"Ini akan selesai dalam waktu dekat. Kami telah menyiapkan bantuan kepada masyarakat untuk membangun kembali rumah mereka dan memperbaiki infrastruktur," ucap Lorenzana seperti dikutip Inquirer. (les)

 Maute Tawarkan Tukar Sandera Pastor dengan Ibunda 
Maute Tawarkan Tukar Sandera Pastor dengan IbundaAbdullah Maute (rambut panjang) saat sedang berdiskusi dengan tokoh yang disebut sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara, Isnilon Hapilon. (Armed Forces of the Philippines/Handout via Reuters TV)

Pemimpin kelompok militan Maute, Abdullah dan Omar Maute, mau melepaskan satu sandera pastor, Teresito “Chito” Suganob, dengan timbal balik pembebasan sejumlah kerabat mereka, termasuk sang ibu, yang ditangkap oleh militer.

Seorang sumber yang menjadi utusan untuk bertemu dengan Abdullah Maute mengatakan kepada Inquirer bahwa Chito masih dalam keadaan sehat setelah diculik bersama 200 warga sipil lain saat bentrokan pecah di Marawi pada 23 Mei lalu.

Maute bersaudara mau membebaskan Chito jika militer melepaskan sejumlah kerabat mereka, termasuk sang ayah, Cayamora, dan istri keduanya yang ditangkap di Davao pada 11 Juni lalu.

Dua hari kemudian, ibunda dari Maute bersaudara, Ominta "Farhana" Maute, juga diringkus aparat di Lanao del Sur.

Pada 18 Juni, Farida dan Al Jadid Romato, sepupu Maute bersaudara, juga kekasih dari Farida, Abdul Rahman Dimacula, juga ditahan di pelabuhan Kota Iloilo.

Selain membicarakan tawaran tukar tahanan tersebut, Maute bersaudara juga menekankan penolakan mereka bernegosiasi dengan pemerintah dan lebih memilih untuk berdiskusi bersama kelompok pemberontak MILF.

"Jika MILF ingin mengintervensi, mereka siap meninggalkan Marawi. Namun jika tidak, mereka harus siap bertempur sampai titik darah penghabisan," kata sumber tersebut kepada Inquirer.

Kelompok militan Maute sendiri tetap bertekad mempertahankan wilayah mereka di Marawi, meski sudah digempur habis-habisan oleh militer sejak 23 Mei lalu.

Bentrokan itu pecah ketika militer Filipina melancarkan operasi penangkapan Isnilon Hapilon, sosok yang disebut-sebut sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara.

Tak lama setelah bentrokan pecah, Presiden Rodrigo Duterte langsung mendeklarasikan darurat militer. Sejak saat itu, terhitung ratusan orang tewas dalam pertempuran di Marawi, termasuk para militan, aparat, juga warga sipil. (has)

 Filipina Tegaskan Tak Akan Bernegosiasi dengan Maute 
Filipina Tegaskan Tak Akan Bernegosiasi dengan MautePemerintah Filipina menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan militan Maute di Marawi. (REUTERS/Romeo Ranoco)

Juru Bicara Presiden Filipina Ernesto Abella menegaskan, pemerintah tetap pada kebijakan tidak akan bernegosiasi dengan teroris.

Penegasan itu disampaikan menanggapi tawaran pimpinan kelompok militan Maute, Abdullah dan Omar Maute, mengenai barter satu sandera pastor dengan pembebasan sejumlah kerabat militan.

Abella menyebut pemerintah tidak pernah memberikan wewenang kepada pemimpin agama untuk bertemu dan berdialog bersama pemimpin Maute.

"Pembicaraan pemimpin agama dan teroris Minggu kemarin tidak disetujui pemerintah, militer, dan pemimpin politik. Setiap tuntutan yang dibuat tidak berdasar,” kata Abella di Istana Kepresidenan Filipina, seperti dikutip CNN Phillippines, Selasa (27/6).

Pada Senin, koordinator pembebasan warga sipil Dickson Hermoso menuturkan, delapan pimpinan agama Islam berhasil berdialog dengan Abdullah Maute.

Selain pembebasan sandera, mereka juga membahas kemungkinan menyerahnya kelompok militan. Namun, dialog panjang terus dilakukan karena perbedaan keyakinan mereka. Ia enggan menjelaskan detail karena kondisi Marawi masih dinilai "genting".

Kepada CNN Phillippines, Juru Bicara Komite Manajemen Krisis Zia Alonto Adiong menuturkan para utusan memanfaatkan status mereka sebagai tetua Muslim Maranao agar sebanyak mungkin warga sipil dapat keluar dan aman, bukan untuk mengakhiri perang.

Namun, Abella menyatakan, setiap teroris harus membayar kejahatan yang dibuat.

Sebelumnya, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, tidak akan ada lagi dialog bersama kelompok Maute sebab banyak warga sipil menjadi korban karena konflik ini.

Duterte bahkan menantang kelompok Maute untuk bertarung hingga titik darah penghabisan. Sebab, ia telah menginstruksikan militer untuk membawa kepala kelompok militan Maute.

Konflik Marawi telah menelan lebih dari 300 nyawa, termasuk puluhan warga sipil dan pasukan keamanan. Selain itu, sekitar 200 ribu orang juga telah mengungsi ke kota tetangga akibat bentrokan tersebut. (les)

  CNN  

[Dunia] Belanda dan PBB Bertanggung Jawab atas Kematian 300 Muslim

Di Srebrenica https://img.okezone.com/content/2017/06/27/18/1725205/belanda-dan-pbb-bertanggung-jawab-atas-kematian-300-muslim-di-srebrenica-RIRVJAEw2l.jpgPemimpin tentara Serbia-Bosnia, Ratko Mladic di Srebrenica pada 1995. (Art Zamur/Gamma Rapho/Getty Images)

Pengadilan HAM di Den Haag menyatakan pemerintah Belanda dan PBB berbagi tanggung jawab yang sama atas kematian lebih dari 300 Muslim di Srebrenica pada 1995. Keputusan pengadilan tinggi Den Haag ini merupakan kelanjutan dari banding terhadap keputusan pengadilan pada 2014.

Dikatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian Belanda bersalah karena membiarkan para pria Srebrenica itu terbunuh. Padahal saat itu, mereka tahu bahwa para korban, sama seperti mereka, mendatangi pangkalan militer Belanda di Desa Potocari untuk mencari perlindungan dari kepungan pasukan Serbia Bosnia.

Pembiaran itu jelas memangkas harapan mereka untuk bertahan hidup,” terang Hakim Pengadilan Tinggi Den Haag, Gepke Dulek, seperti dikutip dari USA Today, Selasa (27/6/2017).

Dilansir ITV, keputusan tersebut dianggap luar biasa karena PBB selama ini seperti bebas menikmati kekebalan hukumnya. Kini dengan keluarnya keputusan pengadilan yang menyatakan pasukan penjaga perdamaian dunia bersalah, maka tanggung jawab akan dibebankan, baik kepada PBB maupun Pemerintah Belanda.

Pembantaian Srebrenica yang tergolong tragedi pelanggaran HAM berat, genosida, adalah peristiwa pembunuhan lebih dari 8.000 penduduk Muslim Bosnia pada 1995. Korban utamanya terdiri atas pria dan anak laki-laki. Insiden berdarah ini terjadi di kota Srebrenica selama Perang Bosnia. Dan dianggap sebagai salah satu tragedi pembantaian terburuk dalam sejarah Perang Dunia II di Eropa. (Sil)

  Okezone  

Selasa, 27 Juni 2017

Airbus DS Outlines Progress on Armed C295

Paris Air Show 2017CN295 TNI AU ✈️

Airbus Defense and Space (DS) is set to deliver its first armed intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) C295 aircraft to an undisclosed customer in September, Pablo Melero, marketing manager for ISR Military Aircraft at Airbus DS, told Jane's.

The modified aircraft features a forward-looking infrared (FLIR) under the nose, a multimode search radar with maritime and ground surveillance modes, a palletised version of Airbus DS' newest Fully Integrated Tactical System (FITS), which features additional screens for improved situation awareness, and a pair of 12.7 mm manually operated heavy machine guns (HMG) firing through the rear parachuting doors. The exact type of HMG was not disclosed by Airbus DS.
 

  IHS Janes  

Perkiraan Biaya Daur Hidup Alutsista

Oleh: Laksda TNI Agus Setiadji* http://3.bp.blogspot.com/-Ax22nAqeFnY/VCm5_3Lb6BI/AAAAAAAAFUk/E4jpAY6aJS8/s1600/6011941_20140929073541samueltirta.jpgMBT Leopard 2A4 TNI AD [samueltirta]

Keterbatasan alokasi anggaran pertahanan Pemerintah RI selama beberapa dekade turut menjadi faktor utama yang menghambat modernisasi baik di matra darat, laut maupun udara. Setelah tahun 1980-an, tidak dilaksanakan pengadaan-pengadaan alutsista baru yang memiliki nilai strategis dan mampu membuat detterent efect dalam rangka balancing power di kawasan. Pengadaan alutsista terbaru dalam 10-15 tahun belakangan ini hanya sekitar 19% dari total variasi sistem persenjataan TNI (Kemhan, 2014).

Peningkatan pembangunan kekuatan pertahanan, terutama yang berkaitan dengan alutsista tidak bisa dilaksanakan dengan terburu-buru serta tanpa melalui perencanaan strategis. Alat utama sistem senjata adalah peralatan persenjataan yang dimiliki militer dalam bentuk kesisteman yang mempunyai pengaruh terhadap tugas pokok kesatuan dan memiliki efek penggetar sesuai fungsi asasinya.

Berdasarkan proses pembeliannya, alutsista dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu alutsista barang jadi (ready used) dan alutsista berdasarkan pesanan pembeli (tailor made). Alutsista barang jadi merupakan alutsista yang sudah dilaksanakan proses penelitian dan pengujian oleh pabrik pembuat dengan spesifikasi khusus, sehingga proses pengadaannya dimulai pada saat kontrak ditanda tangani.

Walaupun termasuk ready used, jarang sekali ada alutsista baru yang tersedia di gudang (ready stock). Dikarenakan tingkat resiko dan harganya yang mahal, biasanya alutsista ini hanya dibangun/dibuat apabila kontrak sudah efektif. Contoh alutsista barang jadi antara lain Main Battle Tank (MBT), Helikopter, Pesawat tempur, Peluru Kendali dan lain-lain. Sedangkan alutsista tailor made merupakan alutsista yang spesifikasi teknisnya ditentukan oleh pihak pembeli yang dikomunikasikan secara intensif dengan pelaksana kontrak, sehingga pada saat selesai pembangunannya, sudah sesuai kebutuhan operasi (operational requirement) dan spesifikasi teknis yang telah disepakati sebelumnya. Contoh alutsista tailor made adalah kapal perang klas korvet dan Perusak Kawal Rudal (PKR), Kapal Selam, Kapal Cepat Rudal dan lain-lain.

 Analisa LCC 
http://1.bp.blogspot.com/-OjYTiADfGWc/UuvMaQlkFdI/AAAAAAAAD1M/-F-Nzwbw76E/s1600/1551209_20140131090012.jpgPengadaan alutsista harus memperhatikan fungsi yang diawali pada perencanaan, penentuan kebutuhan hingga tahap penghapusan pada daur hidup alutsista (Life Cycle Cost/LCC). LCC adalah proses yang lebih detail daripada sistem logistik, proses LCC dapat menentukan daur hidup alutsista, anggaran yang harus dikeluarkan dalam setiap pengadaan alutsista, mulai tahap awal sampai dengan masa penghapusan. LCC atau perkiraan biaya daur hidup sebuah peralatan, adalah teknik untuk memperkirakan total biaya kepemilikan peralatan selama masa pakainya, terdiri dari acquisition costs dan sustaining costs.

Acquisition cost adalah biaya awal yang dikeluarkan sampai dengan barang diserahkan (commisioning), sedangkan sustaining cost adalah biaya lanjutan agar material bisa bertahan sampai masuk tahap penghapusan. Tujuan LCC adalah untuk membantu pengambilan keputusan pemerintah terhadap manajemen peralatan sistem persenjataan. Pengambilan keputusan pengelola alutsista, dimulai dari tahap perencanaan, penganggaran dan pemilihan, penelitian dan pengembangan, pengadaan, konstruksi militer (Milcon), operasional alutsista termasuk juga pemeliharaan dan perawatan serta pada tahap penghapusan.

Adapun Product Lifecycle Management (PLM), didefinisikan sebagai sebuah proses untuk mengelola seluruh daur hidup produk mulai dari konsep, tahap desain, produksi, pemeliharaan, hingga kondisi produk tidak dapat digunakan kembali (Wikipedia, 2010). Definisi lain menurut Mulyadi (2001), Daur Hidup Produk (Product Life Cycle) adalah waktu suatu produk mampu memenuhi kebutuhan pengguna sejak lahir sampai diputuskan untuk dihentikan pengoperasiannya.

Perkembangan sistem manajemen sumber daya dan pesatnya kemajuan teknologi, menyebabkan LCC dianggap sebagai sebuah konsep yang dapat meningkatkan akurasi perhitungan biaya suatu produk termasuk persenjataan (alutsista). Definisi Life Cycle Cost adalah biaya yang bersangkutan dengan produk selama daur hidupnya, yang meliputi biaya pengembangan (perancanaan, desain, pengujian), biaya produksi, (aktivitas pengubahan sumber daya menjadi produk jadi) serta biaya dukungan logistik (distribusi, penyimpanan, maintenance, dan sebagainya).

 Gelar Alutsista 
https://2.bp.blogspot.com/-AHWe14xO0Xo/WOH2C9gXs_I/AAAAAAAAKIM/_pQfD1mHDhQeSA79nJ6flfmb9AtzXeFkgCPcBGAYYCw/s1600/16124167_1841282369430087_3779688103719993344_n.jpgPerhitungan pengadaan alutsista yang bersifat tailor made lebih rumit, bila dibandingkan dengan alutsista ready used. Pada alutsista yang ready used, sudah tidak memperhitungkan biaya berbagai aspek pendahuluan, antara lain Research and Development (R&D), product development dan production. Biaya yang muncul pada proses tersebut sudah diperhitungkan dalam totalitas nilai harga barang.

Namun demikian resiko pengadaan alutsista barang jadi (ready used), antara lain:
(1) Pembeli tidak bisa menentukan spesifikasi khusus sesuai kebutuhan operasi;
(2) Ketergantungan produksi kepada negara pembuat dan tidak bisa menuntut alih teknologi;
(3) Harga dikendalikan dan ditentukan oleh pihak produsen;
(4) Ketergantungan after sales services.

LCC adalah totalitas biaya yang harus dikeluarkan oleh pemilik/pengguna material, termasuk tahap perencanaan, pengadaan (kebutuhan operasi dan spesifikasi teknis), nilai material, biaya operasional, biaya pemeliharaan dan perawatan, kemungkinan upgrade dalam bentuk peningkatan kemampuan tempur Mid Life Modernization (modernisasi paruh waktu) atau System Lifetime Extension Program (Perpanjangan Usia Pakai) serta tahap penghapusan. LCC peralatan senjata dan alutsista, secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu biaya awal pengadaan material (initial cost) atau biaya pendahuluan (acquisition cost), serta biaya lanjutan (future cost /sustaining cost).

Biaya awal pengadaan (initial cost) dihitung mulai tahap perencanaan sampai dengan saat alutsista diterima (tahap commissioning), sedangkan biaya lanjutan (sustaining cost) mulai dihitung setelah material alutsista tersebut diterima sampai penghapusan.

 Klasifikasi LCC 
https://2.bp.blogspot.com/-r-W8pwwXG0c/WN92Fo2BH_I/AAAAAAAAKH8/sbRVEIdkbXoRn8weqviY333ZuX-iyO7FACPcB/s1600/f16%2BTNI%2BAU%2Bdef.pk.jpgBanyak negara di dunia mengelompokkan LCC menjadi beberapa tahapan, disesuaikan dengan sistem dan metoda penganggaran masing-masing negara, namun secara garis besar tidak terlalu berbeda. Berdasarkan penjelasan Defense Acquisition Guidebook (DAG) yang diterbitkan oleh Defense Acquisition University (DAU) Amerika Serikat, LCC diartikan sebagai nilai totalitas biaya peralatan, yang terdiri dari :
(1) Biaya yang ditimbulkan selama fase awal (konseptual) termasuk fase penelitian dan pengembangan;
(2) Biaya selama proses pengadaan (investment cost);
(3) Biaya operasi dan dukungan pemeliharaan (operational & sustainment); sampai dengan
(4) Biaya penghapusan material. Biaya-biaya tersebut tidak hanya berupa biaya langsung fase acquisition saja, tetapi juga biaya tidak langsung lain di luar perkiraan yang mungkin terjadi (unpredictable cost) (DAU, 2012).

Life Cycle Cost berbeda dengan sistem logistik secara keseluruhan. LCC merupakan bagian dari sistem logistik, yang mengatur hal-hal tentang biaya daur hidup suatu peralatan termasuk alutsista (weapon system). Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah membuat standar definisi tentang katagori dan elemen yang berkaitan dengan sistem Life Cycle Cost alutsista (DoD 5000.04-M). Estimasi LCC yang dibuat oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, ditujukan untuk mengetahui kemungkinan biaya yang harus disiapkan terhadap pengadaan peralatan alutsista.

 Pengujian Alutsista 
https://4.bp.blogspot.com/-uWjgD97HG84/VigdHC8OUMI/AAAAAAAAneI/YdfCa1z-Us0/s400/200813838_700.jpgMenurut aturan tersebut, LCC dibagi menjadi empat kategori kegiatan utama, yaitu: (1) biaya penelitian dan pengembangan (RDT&E); (2) biaya investasi (investment cost) yang meliputi pengadaan, konstruksi militer serta akuisisi yang berkaitan dengan operasional dan maintenance (O&M) dihadapkan kepada kegiatan produksi dan distribusi peralatan; (3) biaya O&S (Operational & Sustaintment); dan (4) biaya penghapusan.

Sementara itu lembaga SPAR Associates Inc di Amerika Serikat, sedikit memisahkan tahap konseptual (penentuan kebutuhan) dari tahap acquisition, serta tetap membagi LCC menjadi empat kelompok, antara lain:

☆ Tahap konseptual (conception stage), adalah tahap aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan, penentuan kebutuhan, penelitian dan pengembangan (R&D) yang meliputi pembuatan spesifikasi teknis (contract specifications), desain, pertimbangan ketersediaan anggaran yang dikaitkan dengan kebutuhan operasi dan kemajuan teknologi;
☆ Tahap akuisisi (acquisition stage), adalah semua tahapan yang berkaitan dengan pembangunan/pengadaan alutsista sesuai dengan yang telah ditentukan pada tahap konseptual;
☆ Tahap operasional dan pemeliharaan (in-service stage), adalah semua aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan operasi alutsista, dukungan logistik selama fase pemeliharaan serta peningkatan kemampuan, yang merupakan tahapan yang paling lama dalam perhitungan Life Cycle Cost (LCC); serta
☆ Tahap penghapusan (disposal stage), merupakan tahapan penghapusan material alutsista.

Biaya awal pengadaan (Acquisition Costs) terdiri dari biaya penelitian dan pengembangan (R&D), Program Management, Engineering, produksi, suku cadang dan ST&TE (Special Tools and Test Equipment), pelatihan awal (initial training) serta data dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian Departemen Pertahanan Amerika Serikat, biaya awal pengadaan (Acquisition Cost) alutsista, biasanya berkisar antara 20 persen hingga 40 persen dari harga Life Cycle Cost secara keseluruhan.

https://4.bp.blogspot.com/-G1CoVk4gqeE/WEGZJ-Lq3fI/AAAAAAAAJus/ZXMccqM0UD0isENvMkvvVM_pCqWtR2YXACLcB/s1600/kri-fatahillah-361-imf-3.jpgSehingga apabila diasumsikan harga fisik sebuah kapal korvet yang sudah jadi sebesar USD 300 juta, maka biaya maksimal (bila harga kapal adalah 20% dari total LCC), yang harus dikeluarkan pemerintah untuk membiayai kapal mulai saat pembelian kapal korvet tersebut hingga tetap dapat beroperasi, sesuai fungsi asasi adalah USD 300,000,000 X 5 = USD 1,500,000,000. Sedangkan biaya minimal (bila harga kapal 40% dari nilai total LCC), adalah sebesar USD 300,000,000 X 2,5 = USD 750,000,000. Artinya bila kita ingin memiliki kapal korvet tersebut, Pemerintah harus memiliki anggaran minimal USD 750 juta dalam menjaga daur hidup satu unit kapal korvet tersebut.

Berdasarkan katagori LCC, biaya pengembangan diperkirakan akan mencakup 25% dari keseluruhan anggaran daur hidup alutsista, biaya produksi membutuhkan persentase anggaran LCC sebesar 25%. Sedangkan pada tahap Operation and Support (O&S) yang merupakan tahapan terpanjang dalam daur hidup alutsista, akan mencakup 45% dari keseluruhan LCC alutsista.

Tahap penghapusan maksimal hanya membutuhkan alokasi 5% dari LCC. Hal spesifik yang perlu menjadikan perhatian adalah bahwa pada peralatan militer, persentase antara System Acquisition dan Operating & Support bervariasi, disesuaikan dengan kompleksitas dan kecanggihan sistem teknologi. Makin canggih dan kompleks alutsista, akan menyebabkan biaya operasional dan perawatan semakin besar.

Berdasarkan pengalaman pengadaan alutsista dari berbagai negara dunia termasuk di Indonesia, pengadaan persenjataan dan alutsista “bekas” terutama yang memiliki kompleksitas dan teknologi tinggi, sebaiknya dihindari. Apabila harus dilaksanakan, sebelumnya harus melalui perhitungan secara seksama, ditinjau dari aspek efektifitas dan efisiensi anggaran, Analisa Sistem Riset Operasi (ASRO), interoperability, communality dan LCC.

Pengadaan alutsista bekas kelihatannya menguntungkan, sederhana dan praktis, namun apabila dihitung berdasarkan aspek LCC, ternyata dapat menimbulkan kerugian bagi pihak pembeli yang besar, antara lain:

★ Pembeli tidak dapat mengikuti perkembangan pembangunan alutsista pada tahap acquisioton phase, sehingga kurang mendapat informasi berkaitan dengan pengetahuan awal operator untuk mengoperasikan dan memelihara alutsista tersebut;
★ Pembeli kehilangan jejak sejarah pembangunan alutsista dalam rangka melanjutkan periode sustaining phase;
★ Spesifikasi teknis, karakter dan daerah operasi alutsista yang dibeli, seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan operasi pembeli;
★ Sangat menyulitkan pelaksanaan Integrated Logistic Support (ILS), karena pembeli tidak mendapat informasi yang akurat tentang perawatan dilaksanakan, sebelum alutsista bekas tersebut diserahkan;
★ Tidak ada kepastian lanjutan daur hidup alutsista, sehingga biaya operasional selanjutnya bisa jadi akan lebih besar;
★ Dalam rangka operasional dan pemeliharaan, pengawak kurang memiliki perasaan kedekatan emosional dengan peralatan, karena menerima dalam kondisi “as it is”;
★ Industri dalam negeri kehilangan kemampuan penguasaan teknologi;
★ Perlu tambahan alokasi anggaran untuk modifikasi dan modernisasi peralatan, agar sesuai kebutuhan operasional pihak pembeli.

 Pertimbangan LCC 
https://1.bp.blogspot.com/-ZpXFYyBlLb8/WRVSnLGweHI/AAAAAAAAKSM/2FkIeYYcouYR65M6q7r459I69T6erekIgCPcBGAYYCw/s1600/C_ZQUuxXYAEpSpo%2Bsweeneygov.jpgAlutsista merupakan sistem kesenjataan yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: pesawat tempur/terbang, helikopter, kapal perang, tank dan kendaraan tempur lainnya, peluru kendali, meriam dan lain-lainnya, perlakuan dan kebijakan terhadap alutsista sangat menentukan kualitas dan daur hidup aluststa. Dalam rangka meningkatkan kekuatan pertahanan suatu negara, dibutuhkan postur yang sesuai dalam menjaga stabilitas pembangunan nasional.

Dihadapkan kepada perkembangan lingkungan strategis dan kondisi alutsista saat ini, maka perlu penyesuaian alokasi anggaran pertahanan, penentuan prioritas dalam mewujudkan postur kekuatan pertahanan, dan penajaman pemilihan alutsista, antara lain melalui: (1) prioritas pengadaan alutsista bernilai strategis; (2) pemanfaatan satelit dan pesawat patroli maritim dalam rangka surveillance system; (3) menambah kemampuan deteksi coverage radar pertahanan udara dan deteksi laut; serta (4) menempatkan pulau-pulau terluar dan perbatasan wilayah sebagai komponen pertahanan strategis terluar, yang dilengkapi dengan alutsista andal.

Kebutuhan alutsista tidak hanya sekedar pengadaan dengan nilai tertentu, sesuai dengan kebutuhan operasi dan spesifikasi teknis yang diharapkan. Pada dasarnya ketersediaan alokasi anggaran pembangunan alutsista juga harus mempertimbangkan Life Cycle Cost (LCC). Kebijakan pengadaan alutsista bukan baru (bekas), kecuali mempersulit penghitungan alokasi anggaran dan merugikan profesionalisme pengawak, juga menghambat upaya penguasaan teknologi pertahanan.

Beberapa kejadian kecelakaan alutsista, sebagian juga diakibatkan oleh kebijakan pembelian alutsista bekas atau alutsista yang sudah terlalu tua. Perhitungan teori daur hidup (lifetime) dan LCC, dapat dimanfaatkan dalam menghitung kebutuhan anggaran pertahanan negara setiap tahunnya. Beberapa negara di dunia saat ini telah merampingkan alutsistanya.

Termasuk Angkatan Laut Malaysia (TLDM), yang telah mengurangi armada kapal perangnya menjadi hanya lima kelompok besar, sehingga menghemat biaya pemeliharaan dan perbaikan, yakni: (1) Littoral Combat Ships (LCS), (2) New Generation Patrol Vessel (NGPV), (3) Littoral Mission Ships (LMS), (4) Multi Role Support Ships (MRSS), dan (5) Submarines.

Hal tersebut dapat menjadi pertimbangan Pemerintah Indonesia dalam rangka memperkuat alutsista dalam aspek pengadaan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas pertahanan negara.

*Penulis adalah Lulusan AKABRI Laut tahun 1985, sekarang menjabat sebagai Sestama Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI

  Maritim News  

Senin, 26 Juni 2017

[Dunia] Jet Tempur Israel Serang 2 Tank Suriah

✈️ Ilustrasi F16 Israel [google]

Pesawat jet tempur Angkatan Udara Israel (IAF) menyerang dua tank tentara Suriah setelah selusin proyektil spillover ditembakkan ke wilayah Israel, kemarin petang. Tembakan dari militer Damaskus itu diluncurkan dari Dataran Tinggi Golan di wilayah Suriah.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan, tidak ada korban akibat serangan dari wilayaah Suriah.

Insiden tersebut merupakan pelanggaran kedaulatan Israel yang tidak dapat diterima,” kata IDF dalm sebuah pernyataan.”Pesawat IDF menargetkan asal peluncuran dan dua tank Suriah,” lanjut pernyataan itu, seperti dilansir Jerusalem Post, Minggu (25/6/2017).

Tentara Israel menginstruksikan petani dan warga sipil di dekat perbatasan Quneitra untuk menghindari ladang terbuka. IDF menegaskan, seraangan pesawat jet tempurnya sebagai pembalasan setelah kurang dari jam wilayah Israel diserang.

IDF menganggap pemerintah Damaskus yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad sebagai pihak yang bertanggung jawab atas selusin tembakan ke wilayah Israel.

Pasukan pemerintah Suriah mengatakan, serangan pesawat tempur Israel mengakibatkan korban sipil dan kerusakan material. Namun, menurut laporan kantor berita Suriah, SANA, tidak ada sasaran militer Suriah yang terkena oleh serangan Israel.

Israel secara ketat melindungi bagian barat Dataran Tinggi Golan, yang dicaplok dari Suriah selama Perang Enam Hari 1967. Namun, Suriah tidak mengakui perebutan wilayahnya oleh Israel dan hingga sekarang wilayah itu terus menjadi sengketa kedua negara. (mas)

  ✈️ Sindonews  

Minggu, 25 Juni 2017

[Video] Yonif Mekanis 202/ Tajimalela

Ksatria Pengaman Ibukota Gambar Batalyon Infanteri Mekanis202.pngSebuah Batalyon Infanteri Mekanis yang berada di bawah komando dari Brigif 1/Jaya Sakti, Kodam Jaya.

Sebelumnya batalyon ini adalah organik dari Kodam III/Siliwangi dan diserahkan ke Kodam Jaya pada tanggal 1 Januari 1964 berdasar SKEP No 126-2/II/1963 tertanggal 26 Desember 1963.

Markas Yonifmek 202 berada di Rawa Lumbu, Bekasi. Pada tahun 2011 Yonifmek 202 di perkuat 45 unit 6x6 Ranpur Anoa buatan PT. Pindad. [wikipedia]

 Berikut ini video Liputan NETtv : 


  Youtube  

[RIP] Pos Jaga Polda Sumut Diserang Teroris

1 Polisi Tewas https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2017/06/25/14/1216480/ini-kronologi-penyerangan-polda-sumut-oleh-dua-terduga-teroris-qVz.jpgKadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto. [Foto/Okezone]

Pos penjagaan di Polda Sumut, Medan, diserang orang tak dikenal dini hari tadi (25/6) pada pukul 03.00 WIB. Serangan itu membuat 1 anggota pelayanan masyarakat Aiptu Martua Sigalingging yang sedang berjaga tewas. Pelaku diduga teroris.

"Pada saat diserang, anggota Aiptu Martua gugur karena ditikam senjata tajam," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto usai Salat Id di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Minggu (25/6/2017).

Setyo mengatakan, pelaku diduga 2 orang. Mereka melompat pagar Mapolda Sumut kemudian menyerang pos jaga nomor 2.

"Kemudian anggota lain, Ginting minta tolong ke Brimob lain yang berjaga di pintu lain," ujarnya.

Setyo menduga, pelaku penyerangan ini sudah merencanakan terlebih dahulu sebelum beraksi. Setyo mengatakan, pelaku diduga anggota teroris.

"Ini kayaknya kelompok mereka (jaringan teroris) atau sel lain," ucapnya. (gbr/rvk)

 Polisi Tembak Pelaku Penyerang 

Aiptu Martua Sigalingging tewas ditikam dua teroris saat berjaga di pos penjagaan Polda Sumatera Utara (Sumut), Medan. Salah satu pelaku penyerangan tersebut tewas ditembak polisi.

"Pelaku ditembak petugas jaga Brimob, karena salah satu personel teriak minta tolong dan petugas tembak pelaku dan jumlah pelaku 2, meninggal ditempat 1 dan satu kritis," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (25/6/2017).

Rina mengatakan saat ini kedua teroris tersebut berada di RS Brimob. Polisi masih mencari identitas para pelaku teror tersebut.

"Ini masih olah TKP dan kami cari identitas. Kedua pelaku laki-laki," terang Rina.

 Lompat Pagar Lalu Tikam Polisi 

Dua orang teroris menyerang pos penjagaan Polda Sumatera Utara (Sumut), Medan dan menikam salah satu petugas Aiptu Martua Sigalingging. Kedua teroris itu masuk ke kawasan Mapolda dengan melompat pagar.

"Diduga pelaku masuk dengan panjat tembok, karena semua pintu dikunci," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (25/6/2017).

Rina mengatakan tak ada kerusakan di Mapolda Sumut akibat serangan teroris tersebut. Aiptu Martua Sigalingging yang saat itu berjaga sempat tewas akibat tikaman pisau.

"Diduga pelaku melakukan serang anggota jaga Aiptu Sigalingging kena tusuk meninggal dunia," terang Rina.

Sebelumnya diberitakan penyerangan di pos penjagaan di Polda Sumut, Medan, terjadi dini hari tadi (25/6) pada pukul 03.00 WIB. Serangan itu membuat 1 anggota polisi, Aiptu Martua Sigalingging yang sedang berjaga tewas.

Pelaku diduga 2 orang. Mereka melompat pagar Mapolda Sumut kemudian menyerang pos jaga nomor 2. (ams/rvk)

  detik  

Pengamat Sarankan Indonesia Pikir Dua Kali untuk Bantu Marawi

https://images.detik.com/community/media/visual/2017/05/26/b5dff60b-710d-4584-bfcc-7d136b919121_169.jpg?w=620Marawi tengah siaga karena adanya kelompok teroris Maute. (REUTERS/Romeo Ranoco)

Indonesia perlu berpikir ulang jika memang benar ingin menerjunkan militernya di Marawi, Filipina. Itu disimpulkan dari pernyataan pengamat terorisme dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (24/6).

Jika pun dari pihak Filipina sudah memberi lampu hijau, keputusan Indonesia untuk terlibat perlu didasarkan kajian yang mendalam tentang segala aspek, baik politik, sosial, ekonomi maupun hal strategis lainnya,” ujar Harits dalam pernyataan tertulisnya.

Sebab, ia melanjutkan, militer Indonesia akan terlibat perang di wilayah negara lain yang berdaulat. Belum lagi ada sejarah panjang dari konflik Marawi, antara masyarakat minoritas Muslim dengan pemerintah pusat Filipina. Harist mengingatkan jangan sampai Indonesia terseret konflik berkepanjangan di Asia Tenggara, yang mungkin ‘ada udang di balik batu.

Mungkin, menurut Harits, ada kekuatan global dan kepentingan strategis di baliknya.

Harits menambahkan, Indonesia sebaiknya tidak ‘dibutakan’ oleh label terorisme yang ditautkan pada kelompok Maute. “Tidak kemudian serta merta menjadikan Indonesia menutup mata dan mengiyakan semua perintah operasi militer di Marawi,” tutur Harits lagi.

Dilihat secara kekuatan militer, Indonesia sangat layak untuk membantu militer Filipina di Marawi. Sebab, kata Harits, selama ini militer Filipina sangat tergantung pada Amerika sehingga perkembangannya lambat. Lain dengan Indonesia yang senjata pun lebih modern.

Bisa dimengerti kenapa Duterte berharap militer Indonesia terlibat membantu,” katanya.

Jika Indonesia benar membantu, secara tidak langsung itu juga bisa berdampak pada serangan-serangan terorisme di Tanah Air. Bisa jadi, Harits menuturkan, bantuan itu menyulut amarah kelompok ISIS di Indonesia dan mereka ‘membalas dendam’ dengan menjadikan aparat militer sebagai sasaran teror. “Ada kompleksitas kepentingan dan efek di dalamnya yang perlu dipertimbangkan dengan masak oleh pemerintah Indonesia,” kata Harits.

Yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia saat ini, bersama dengan pemerintah Malaysia, menurut Harits adalah menjaga perbatasan. Saat ini TNI Polri sendiri, terutama di perbatasan Sulawesi Utara yang berdekatan dengan Marawi, sudah melakukan itu.

Sementara Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan patroli militer demi menangkal peredaran ISIS yang dilakukan Indonesia, Filipina, dan Malaysia bisa dilakukan, hanya saja saat ini masih menunggu pemenuhan prosedur.

Ini sedang digarap, Menhan juga sudah ketemu untuk menggarap itu,” kata Wiranto.

Dukungan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan menteri pertahanannya saja tak cukup membuat Indonesia bisa masuk membantu menghabiskan basis ISIS. "Kalau Presiden boleh, tapi tidak segampang itu. Harus ada rakyat di sana," kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. (rsa)

  CNN  

[Dunia] Korea Utara Kembali Uji Rudal Antarbenua

Korea Utara kembali mengadakan uji coba rudal antarbenua. (KCNA/via REUTERS)

Korea Utara diduga telah melakukan uji coba peluru kendali yang dinilai Amerika Serikat sebagai bagian dari pengembangan program rudal balistik antarbenua.

Dilansir dari Reuters, Jumat (23/6), seorang pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya itu menilai, mesin pendorong dan rudal terbaru Korut ini merupakan rangkaian uji coba misil antarbenua.

Selain dia, pejabat AS lainnya pun membenarkan hal tesebut dan yakin ujicoba itu telah dilakukan dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, dia tidak memberikan informasi tambahan tentang jenis komponen misil yang sedang diuji.

Pengungkapan informasi uji coba tersebut masuk setelah AS mendesak China agar lebih tegas terhadap Korut.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan adanya "konflik besar" dengan Korut jika negara paling terisolasi itu tidak berhenti melakukan uji rudal dan nuklir. Kontras dengan ancaman AS dan sanksi yang terus dijatuhkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap rezim Kim Jong-un, Pyongyang terus melakukan program pengembangan senjatanya.

Adapun bulan lalu dalam sebuah kongres, Kepala Badan Intelijen Pertahanan AS menuding, pembiaran terhadap Korut akan menciptakan senjata nuklir yang bisa mencapai AS. Meski demikian, para ahli menilai, Pyongyang masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memiliki rudal antarbenua yang mumpuni.

Guna mengantisipasi ancaman tersebut, AS terus meningkatkan kemampuan untuk mempertahankan diri dengan melakukan uji coba sistem pertahanan anti-rudal Mei lalu, yang diklaim sukses.

Kendati demikian, uji lanjutan dari rudal tersebut dilaporkan gagal. Pada tes 21 Juni lalu, sistem pertahanan baru yang dikembangkan AS dan Jepang terhadap rudal jarak pendek, gagal mencapai sasaran. (les)

  CNN  

Sabtu, 24 Juni 2017

Penambahan Alutsista Bakamla

Pengamanan Laut Indonesia Daftar alutsista Bakamla [pr1v4t33r]

Beredar info penambahan alutsista Bakamla. Dari data proyek strategis terlampir penambahan kapal dengan ukuran cukup besar yang mempunyai panjang 80 dan 110 meter.

Dalam tabel terlampir penambahan kapal dengan jumlah cukup banyak, seperti kapal ukuran 110 meter bertambah menjadi 2 unit, dimana kapal pertama sedang dalam pengerjaan di galangan kapal Palindo, Batam.

https://1.bp.blogspot.com/-CD_88EXVdA4/WU586x6KnFI/AAAAAAAABT8/9L0vfqfVDyY84zs1fCajcQVv2y7ws6WYwCLcBGAs/s1600/bakamla.jpgSelain itu juga terlampir penambahan kapal ukuran 80 meter tahap dua sebanyak 2 unit dimana pada periode pertama telah disiapkan sebanyak 3 unit.

Untuk pengamanan dari udara, Pemerintah juga menambahkan sebanyak 1 unit pesawat intai untuk pengamanan laut Indonesia. Bila melibatkan industri pertahanan lokal, bisa dipastikan pesawat CN seri produksi PT Dirgantara Indonesia akan memperkuat alutsista Bakamla tersebut.

Luasnya Laut Indonesia, bukan hal mudah untuk mengawasi dan patroli dengan kapal yang telah ada sekarang. Indonesia memerlukan kapal dengan ukuran besar untuk menjaga perairan ZEE, dimana Samudra dengan ombak besar memerlukan kapal yang mampu bertahan diatas sea stage 5 keatas.

  Garuda Militer  

Wiranto Yakin Indonesia Bisa Berhenti Impor Alutsista

Ilustrasi [Jenda Corp]

Menko Polhukam, Wiranto berharap suatu saat Indonesia bisa tidak mengimpor Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutista). Menurutnya, Indonesia bisa membuat industri alutista sendiri.

"Suatu saat kita tidak perlu mengimpor lagi, jadi bisa buat industri di sini," kata Wiranto saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (21/6/2017).

Wiranto menjelaskan hal itu bisa saja dilakukan, karena setiap pembelian senjata ada persyaratan seperti material atau bahan baku yang digunakan harus berasal dari Indonesia.

"Kalau kita beli senjata itu selalu ada transfer teknologi, salah satunya adalah transfer teknologi dan menggunakan contain material dari Indonesia, itu persyaratan yang harus masuk dalam satu kerjasama pembuatan alutista," jelas Wiranto.

https://1.bp.blogspot.com/-tMUeMr1ZEyM/WUhL8zFnjYI/AAAAAAAAKco/XF4F526RKC8r4s9ssMgk5Yq-Wr5c3o76gCLcBGAs/s1600/KRI%2BGM%2B01.pngMeski begitu dia mengakui pembuatan industri alutista tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurutnya jika pembuatan alutista khusus hanya sebatas digunakan untuk konsumsi satu negara karena terlalu mahal ongkos produksinya.

"Misalnya kamu buat pesawat terbang untuk konsumsi dalam negeri pasti rugi, pemerintah pasti tidak mampu untuk mensubsidi, makanya selalu expand ke negara lain dimana dana yang didapat itu bisa untuk menutup industri itu dan mengembalikan industri itu," tuturnya.

Dia menjelaskan Indonesia bisa saja membuat industri Alutista sendiri. Asalkan mampu menyelesaikan permasalahan utama dari industri alutista tersebut, yaitu pasar.

"Jadi tidak mudah ya untuk kemudian membuka industri persenjataan dan kelengkapan perang di Indonesia sendiri kita mesti cari pasar, pasar ini kan sangat ketat ya," tutupnya. (imk/imk)

  detik  

Latihan Pembekalan Dengan Angkatan Laut Jerman

Sehari setelah melaksanakan pengamanan Tripartite Meeting di perairan perbatasan Lebanon Israel, KRI Bung Tomo-357 kembali diminta oleh Angkatan Laut Jerman untuk melaksanakan latihan bersama Mail Bag Transfer. Kali ini KRI Bung Tomo-357 menggelar latihan pembekalan di laut dengan FGS Magdeburg F-261 yang merupakan kapal perang jenis Fregate milik Jerman yang baru saja menggantikan FGS Braunschweig F-260 untuk bergabung dengan Combined Task Force (CTF) 448 MTF UNIFIL. Sebelumnya, FGS Braunschweig F-260 telah beberapa kali melaksanakan latihan manuver bersama dengan KRI Bung Tomo-357. Rabu, (21/6/2017).

Mail Bag Transfer sebagai salah satu bagian dari Replenishment at Sea (RAS) atau pembekalan di laut sangat berperan dalam menjaga kerahasiaan, efisiensi waktu dan akan memperpanjang kehadiran unsur kapal perang yang sedang melaksanakan operasi di laut guna mendukung kepentingan taktis kapal kapal perang. Oleh karena itu, dalam rangka mempertahankan kemampuan dan meningkatkan profesionalisme serta menjaga sinergitas antar unsur MTF yang tiap saat melaksanakan operasi perdamaian di laut Mediterania, maka digelarlah latihan mail bag transfer ini.

Untuk menyukseskan jalannya latihan sebelumnya dilaksanakan pengecekan komunikasi antar pos tempur, kesiapan material dan personel. Setelah berada di zona latihan kedua kapal bermanuvra dengan kecepatan yang telah ditentukan. Station pembekalan berada pada lambung kiri KRI Bung Tomo-357, dimana Kapal perang Fregate TNI AL ini akan mendekat perlahan menuju lambung kanan kapal perang Jerman dengan kecepatan yang telah terkoordinasi dengan baik antar kedua unsur.

Latihan ini berlangsung dua run. Pada run pertama KRI Bung Tomo-357 sebagai kapal pemberi barang. Diawali dengan penembakan Gun Line dari haluan KRI Bung Tomo-357 oleh salah satu Prajurit ke arah haluan FGS Magdeburg F-261 yang berfungsi untuk mengirimkan tali jarak, yang diterima dengan baik oleh salah satu Prajurit angkatan laut Jerman. Selanjutnya proses pengiriman barang dimulai hingga berhasil diterima oleh kapal penerima. Selama proses pengiriman barang, jarak kedua kapal yang sangat dekat dan gelombang laut yang cukup tinggi menuntut ketepatan perhitungan manuvra, keterpaduan tim kapal, kehati-hatian para Prajurit.

Pada run kedua, kapal perang Jerman tetap berada pada posisi lambung kiri KRI Bung Tomo-357. Sebelum ke station pembekalan, FGS Magdeburg F-261 bergerak mendekat dari arah buritan menuju lambung kiri KRI Bung Tomo-357. Saat kedua kapal sejajar, salah satu personel kapal perang Jerman kemudian menembakkan gun line ke arah haluan KRI Bung Tomo-357 dan diterima dengan baik oleh salah seorang Prajurit. Proses pengiriman barang pun dimulai dengan selalu memperhatikan tali jarak yang terbentang di haluan kedua kapal. Barang yang dikirim akhirnya dapat diterima dengan baik oleh tim mail bag transfer KRI Bung Tomo-357.

Latihan mail bag transfer antara KRI Bung Tomo-357 dan FGS Magdeburg F-261 berjalan dengan aman dan lancar. Latihan ini diakhiri dengan penghormatan kedua pihak oleh seluruh Prajurit Satgas Maritim TNI KONGA XXVIII-I/UNIFIL dan Crew FGS Magdeburg, serta manuver Break Away kedua kapal.

  Konga Unifil 2017  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...