Selasa, 23 Mei 2017

[Video] Pembuatan KMC Komando

Produksi anak bangsa KMC Komando PT Tesco Indomaritim

Tahukah anda bila PT Tesco Indomaritim telah membuat sekitar 40 unit KMC komando dan 2 unit lainnya dalam penyelesaian yang akan rampung tahun 2017 ini.

PT Tesco Indomaritim telah membangun KMC Komando puluhan unit pesanan TNI AD maupun TNI AL.

Panjang keseluruhan KMC Komando adalah 17,60 meter dengan lebar 4,20 meter dan tinggi 2,15 meter. Kapal ini memiliki kecepatan 45 knots dengan tenaga pendorong water jet dan dilengkapi oleh tanki air tawar dengan volume 500 liter. Awak KMC Komando berjumlah 3 orang dan mampu membawa sekitar 31 prajurit di dalamnya.

Kapal KMC Komando TNI AD NewSelain itu, kapal ini juga dilengkapi oleh kompas, GPS, Radio SSB, Radio HT, Ring Bouy, dan 2 Life Raft. Kapal buatan dalam negeri ini digunakan untuk operasi rawa dan pantai.

Untuk persenjataan, KMC Komando dilengkapi dengan sistem senjata mesin berat (SMB) dengan jenis peluru 17,5 milimeter yang mampu menembak hingga 6 kilometer.

KMC Komando juga memiliki sistem tracking and locking target. Sistem tersebut mengatur penggunaan senjata secara otomatis yang dikendalikan oleh seorang penembak dari dalam ruang kemudi.

 Berikut video pembuatan KMC komando dari Youtube diposkan Muhamad Irfai : 


  Indonesia Teknologi  

Senin, 22 Mei 2017

Danish Naval Defence Solutions Introduced to Indonesia

On the agenda was a meeting with the Chief of Staff of the Indonesian Navy, Admiral Ade Supandi, who visited Denmark in October last year. This was followed by a small seminar, where the Danish companies had the chance to do presentations of Danish naval defence solutions.

Rear Admiral Trojahn and the Danish companies also met with the Indonesian Coastguard BAKAMLA and presented multi-purpose maritime solutions to the Indonesian needs.

On the second day the delegation went to Surabaya, the capital of East Java and an important seaport and centre of commerce for the eastern part of Indonesia. Here, the Chief of Naval Staff and the accompanying Danish companies visited the headquarters of the Eastern Indonesian Fleet and had lunch with representatives from the Surabaya administration office and maritime stakeholders, including the National Naval Design Centre.

https://4.bp.blogspot.com/-hZ2e4QMpo3Q/WSLotmBHqMI/AAAAAAAAKXM/gdeN-e7YSYUJDQJ4LX1PFv6ISsOrIPxHwCLcB/s1600/Danish-naval-chief-Indonesia.jpgAfter the lunch, the Danish company Odense Maritime Technology (OMT) signed a MoU with the Indonesian National Naval Design Centre on cooperation in naval ship designing.

In the afternoon, the delegation visited the PT PAL naval vessels shipyard. It was a great occasion for the Danish companies to see Indonesian naval defence facilities and present Danish naval technologies and solutions.

Source: Embassy of Denmark, Jakarta

  Scandasia  

Angkatan Laut Bangladesh Puji KRI Bung Tomo-357

Komandan kapal perang Bangladesh BNS NIRMUL, Commander Mohammad Saiful Islam beserta puluhan crew-nya mengunjungi KRI Bung Tomo-357 beberapa saat setelah sandar di pelabuhan Beirut. Kunjungan ini merupakan salah satu bentuk Seaman Brotherhood sesama unsur Maritime Task Force UNIFIL untuk membangun kerjasama dan hubungan baik baik saat sandar maupun saat berada di laut. Rabu, (17/5/17)

Kunjungan personel Angkatan Laut Bangladesh ini disambut langsung oleh Komandan KRI Bung Tomo-357 Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo beserta seluruh perwira di geladak heli KRI TOM. Kunjungan Komandan BNS NIRMUL lain dari biasanya karena beberapa prajuritnya membawa makanan khas Bangladesh. Ini merupakan kunjungan balasan Komandan BNS NIRMUL setelah beberapa waktu lalu Komandan KRI Bung Tomo-357 juga melaksanakan kunjungan ke kapal perang Bangladesh tersebut.

Commander Mohammad Saiful Islam beserta crewnya kemudian melaksanakan foto bersama di haluan dilanjutkan dengan ramah tamah di lounge room perwira KRI TOM bagi para perwira BNS NIRMUL. Sementara anggota BNS NIRMUL yang lain melaksanakan ship tour.

Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo selaku Komandan KRI TOM mewakili seluruh prajuritnya merasa sangat terhormat dan berterima kasih atas kunjungan Komandan BNS NIRMUL beserta crew ke KRI Bung Tomo, hal ini disampaikannya saat menerima kedatangan orang nomor satu di kapal perang Bangladesh yang bernomor lambung P 813.

Menurut Commander Mohammad Saiful, KRI Bung Tomo merupakan salah satu kapal perang yang dilengkapi dengan sensor dan persenjataan yang canggih. Di samping itu, kapal perang buatan Inggris yang telah mengabdi selama hampir dua tahun di bawah bendera UNIFIL ini juga didukung oleh prajuritnya yang profesional dalam menjalankan tugas tugas di area of Maritime Operation sehingga nama KRI Bung Tomo-357 selalu berkibar di kalangan unsur MTF.

Sebelum meninggalkan KRI TOM, Komandan BNS NIRMUL dan perwiranya diajak untuk ship tour untuk melihat langsung beberapa sensor dan kontrol persenjataan KRI TOM. Selain itu salah satu tempat yang menarik bagi crew BNS NIRMUL adalah anjungan serta Machinery Control and Switch Board Room. Personel Angkatan Laut Bangladesh ini cukup lama berdialog dengan beberapa prajurit KRI TOM di MCSR tersebut.

Kunjungan diakhiri dengan penyerahan plakat oleh Komandan KRI Bung Tomo-357 kepada Komandan BNS NIRMUL.

  Kongaunifil2017  

Lantamal III Jakarta Sambut Dua Kapal AL Russia

Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) III Jakarta menyambut kedatangan dua Kapal Angkatan Laut Russia RNS Varyag (CGHM-011) dan RNS Pechenga (AOL/AOT) di Dermaga JITC II Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (22/5/2017).

Upacara penerimaan kapal asing tersebut dipimpin Aspers Danlantamal III Kolonel Laut (P) Untung S.M, M.A.P, mewakili Komandan Lantamal III Laksamana Pertama TNI Muchammad Richad, SH, MM., dengan didamping sejumlah pejabat utama Lantamal III lainnya yakni Kadiskes Kolonel Laut (K) Dr. Iswanto, Ka Kuwil Kolonel Laut (S) Rachmat Kurniawan Putra, SE., Kadisharkan Letkol Laut (T) Moch Darwis dan Keprimkopal Mayor Laut (S) Obednego.

RNS Varyag (CGHM-011) yang dikomandani Commander Ulyanenko merupakan kapal berjenis Slava Class Cruiser dengan panjang 186,4 meter, lebar 20,8 meter, draft 8,4 meter, bobot standard 9.531 ton dan kecepatan maksimal 32 knots. Kapal yang diawaki 476 crew diantaranya 62 officers itu memiliki berbagai persenjataan dan peralatan sensor serta perlengkapan lainnya.

Penyambutan kapal perang Rusia.Sedangkan RNS Pechenga (AOL/AOT) adalah kapal dengan jenis Dubna Class Replenishment Tankers dengan komandan kapal Vasiliy Shilyaev. Kapal dengan 70 orang pengawak itu memiliki panjang 130 meter, lebar 20 meter, draft 7,2 meter, bobot 11.685 full load dan kecepatan maksimal 16 knots.

Kegiatan selama berada di Jakarta hingga 25 Mei mendatang antara lain menerima kunjungan murid sekolah Russia, melaksanakan kunjungan kehormatan ke Pangarmabar, Danlantamal III, Walikota Jakarta Utara, mengadakan acara Dinner on board di kapal RNS Varyag dengan mengundang Dubes Russia, Athan Rusia dan pejabat TNI Angkatan laut, melaksanakan olahraga bersama pada pertandingan sepakbola dan bola volly persahabatan di Mako Lantamal III, mengadakan open ship dan diakhiri latihan Passex dengan TNI Angkatan Laut di perairan Teluk Jakarta. (dispen Lantamal III/sir)

  Poskota  

TNI AU Siap Bangun National Network Centric System

https://2.bp.blogspot.com/-LPGKwCJ9pec/WSKyO0CVGlI/AAAAAAABF-Q/JqtQaE6vD6wVlO7IGHGu6XZNCreJtjCWwCLcB/s320/RTAF%2B1.jpgKunjungan C-in-C RTAF Air Chief Marshall Johm Rungswang di Mabesau Cilangkap. Senin (22/5) ☆

TNI Angkatan Udara siap membangun National Network Centric System (NNCS) yang didukung Royal Thailand Air Force (RTAF) yang telah berpengalaman lebih dulu membangun NNCS.

Demikian dikatakan Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP. saat menerima kunjungan balasan C-in-C RTAF Air Chief Marshall Johm Rungswang di Mabesau Cilangkap. Senin (22/5).

Kasau juga menyampaikan terima kasih kepada RTAF yang telah memberikan informasi dan paparan tentang Network Centric Warfare yang sudah di bangun RTAF saat kunjungannya ke Thailand beberapa waktu lalu.

Kasau juga berharap kerjasama bilateral kedua negara khususnya kedua angkatan udara dapat terus ditingkatkan khususnya dalam pertukaran perwira serta latihan bersama antara TNI AU dan RTAF.

Sementara C-in-C RTAF Air Chief Marshall Johm Rungswang menyampaikan terima kasih atas sambutannya yang hangat dan bersahabat serta senang dapat berkunjung ke Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia.

Air Chief Marshall Johm Rungswang berharap selama kunjungannya dapat bertukar pengalaman dalam pengunaan pesawat T-50i Golden Eagle dan pesawat KT1B Wong Bee, serta berharap dapat menyaksikan pesawat T-50i Golden Eagle dan Sukhoi dalam latihan bersama Elang Thainesia pada Juli hingga Agustus mendatang.

Pada kesempatan tersebut Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP., menyematkan Wing Penerbang Kehormatan kepada kepada C-in-C RTAF Air Chief Marshall Johm Rungswang dan delapan Perwira tinggi RTAF lainnya.

  TNI AU  

Kala Meriam Asal Tiongkok Renggut Nyawa Prajurit TNI

TNI harus investigasi menyeluruh. Jangan membuat mereka mati sia-sia http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2017/05/18/591d8acd71812-pemakaman-seorang-prajurit-tni-yang-gugur-saat-latihan-di-natuna_663_382.jpgPemakaman seorang prajurit TNI yang gugur saat latihan di Natuna pada 17 Mei 2017. [ANTARA FOTO/Aji Styawan]

Tentara Nasional Indonesia cepat-cepat menyampaikan keterangan pers ihwal insiden meledaknya sebuah meriam yang menewaskan empat prajurit dalam suatu latihan tempur di Natuna, Kepulauan Riau. Investigasi pun langsung dibentuk untuk mencari tahu apa yang menyebabkan kecelakaan maut itu terjadi sehingga merenggut nyawa sejumlah prajurit TNI itu.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Mulyono, membenarkan kabar yang menyebutkan bahwa meriam Giant Bow yang meledak itu buatan perusahaan militer Tiongkok. “Giant Bow, senjata rudal dari China (Tiongkok),” katanya dalam konferensi pers di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis, 18 Mei 2017.

Mulyono menepis desas-desus soal kualitas buruk kanon itu, terutama karena buatan Tiongkok. Meriam yang malfungsi, katanya, hanya satu. Sementara meriam sejenis yang digunakan dalam latihan pendahuluan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat itu ada sembilan unit. Artinya delapan meriam yang lain baik-baik saja alias berfungsi normal.

Namun dia berterus terang belum mengetahui pasti penyebab satu meriam Giant Bow gagal fungsi sehingga membunuh empat prajuritnya dan melukai delapan yang lain. “Itu yang kami investigasi," kata Mulyono menjawab spekulasi penyebab insiden akibat kelalaian prajurit atau murni senjatanya yang bermasalah.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Alfret Denny Tuejeh, memastikan senjata itu berfungsi normal sebelum digunakan latihan, meski belum mengetahui pasti penyebab gagal fungsi.

Namun secara teknis, Meriam 23mm/Giant Bow yang digunakan dalam latihan tersebut masih dalam kondisi baik dan dipelihara dengan baik di satuan Yonarhanud-1/K (Batalion Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Kostrad),” kata Denny dikutip dari laman resmi TNI Angkatan Darat, Tniad.mil.id, pada Kamis siang.

 Konflik kawasan 
Dewan Perwakilan Rakyat mengingatkan TNI agar tak menganggap enteng insiden yang disebut hanya satu senjata yang malafungsi. Bukan urusan satu atau seribu senjata. Masalahnya adalah satu meriam itu bagian dari sistem besar pertahanan nasional.

Masalah lagi karena insiden itu terjadi di Natuna, kawasan strategis sekaligus dianggap ujung tombak pertahanan Indonesia terutama dari sengkarut sengketa Laut Tiongkok Selatan. Indonesia memang tak terlibat dalam sengketa wilayah itu. Tetapi, selain Tiongkok, empat negara (Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan Malaysia) yang bersengketa adalah negara tetangga Indonesia.

Alutsista (alat utama sistem persejataan TNI) dan peralatan tempur yang disiagakan harus dalam kondisi prima dan siaga tempur saat krisis terus meningkat di Laut China Selatan," kata Ketua Komisi Pertahanan DPR, Abdul Kharis Almasyhari, melalui keterangan tertulis pada Kamis, 18 Mei 2017.

Parlemen menganggap fatal kalau ternyata alutsista TNI yang ditempatkan di kawasan strategis itu bermasalah. Karena di sanalah pertahanan paling depan dan paling vital jika sewaktu-waktu terjadi kontak senjata antara negara-negara yang bersengketa di Laut Tiongkok Selatan.

Tiongkok memang negara paling berkepentingan di kawasan itu. Sementara Indonesia menggunakan senjata yang dibuat negeri Tirai Bambu sebagai bagian sistem pertahanan, dan ternyata bermasalah.

"Pasti yang dikasih bekas-bekasnya, atau rusak-rusaknya. Tak mungkin dia (Tiongkok) pasang (menjual) alatnya (senjata buatannya) yang dia tak bisa lawan," kata Elnino M Husein Mohi, anggota Komisi Pertahanan DPR, dalam kesempatan terpisah di kompleks Parlemen di Jakarta.

Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR, Tubagus Hasanuddin, berpendapat lebih bijak. Meriam Giant Bow, katanya, sebenarnya bukan senjata usang. Soalnya kanon itu dibeli TNI pada 2008 yang berarti sudah sembilan tahun. “Masih layak, atau menurut hemat saya, sangat layak.

Lagi pula, kata Hasanuddin, senjata TNI Angkatan Darat yang berusia 50 tahun masih lazim digunakan sampai sekarang. "Jadi, kalau disebut usang, memang belumlah,” ujarnya.

Purnawirawan mayor jenderal TNI itu berjanji bahwa Komisi I DPR secepatnya meminta penjelasan Angkatan Darat berdasarkan hasil investigasi. Hasil penyelidikan amat penting sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya bagi TNI maupun pemerintah.

Alfret Denny Tuejeh memastikan aparatnya sudah mengerahkan tim untuk menginvestigasi peristiwa malafungsi meriam Giant Bow. Tapi dia tak menyebutkan hasil penyelidikan itu akan diumumkan kepada publik. “Hasil investigasi yang dilakukan oleh tim dari TNI AD,” katanya dikutip dari laman Tniad.mil.id, “nantinya akan dilaporkan kepada Panglima TNI.

 Diklaim senjata spektakuler 
Meriam termasuk senjata andalan yang digunakan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI Angkatan Darat. TNI memiliki 18 unit meriam Giant Bow yang tersebar di Satuan Arhanud se-Indonesia. Sembilan di antaranya ditempatkan di Markas Batalion Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Kostrad di Serpong, Tangerang, Banten.

Meriam jenis Giant Bow yang disebutkan mengalami gagal fungsi dalam gladi bersih Latihan PPRC di Tanjung Datuk Natuna Kepulauan Riau, Rabu (17/5/2017)

Tak ada keterangan spesifik—minimal yang disampaikan kepada publik—yang menjelaskan alasan TNI membeli senjata itu dari perusahaan militer Norinco yang berbasis di Tiongkok. Namun berdasarkan ulasan singkat di laman Komando Daerah Militer Cendrawasih, Kodam17cenderawasih.mil.id, TNI rupanya kesengsem dengan klaim keunggulan senjata itu.

TNI bahkan menyebut meriam Giant Bow “memiliki kecepatan tembak yang spektakuler” dan “senjata yang sangat efektif untuk melawan sasaran udara yang terbang rendah”. Giant Bow salah satu senjata yang dikategorikan twin gun karena memiliki laras ganda.

Meriam itu juga memiliki mobilitas yang sangat tinggi dalam pengoperasiannya alias mudah digerakkan dan ditempatkan di berbagai medan. Kecepatan luncur proyektilnya 970 meter per detik. Jarak tembaknya, maksimum 1.500 meter untuk sudut vertikal dan maksimum 2.000 meter untuk sudut horizontal. Secara teori, meriam itu dapat menembakkan 1.500–2.000 proyektil dalam waktu satu menit saja.

Meriam Giant Bow ini sendiri mampu menjatuhkan berbagai jenis helikopter tempur dan pesawat,” sebagaimana dikutip dari laman itu.

http://4.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/SiYIYZRuRQI/AAAAAAAABvw/hx8T3sp2Q8A/s400/BCV+Giant+Bow+by+Bobo.bmpBCV Giant Bow TNI AD [Angkasa]

Keunggulan lain senjata perontok pesawat dan helikopter tempur itu dapat dioperasikan dalam tiga mode, yaitu mode otomatis penuh, mode semi otomatis, dan mode manual. Dalam mode otomatis penuh, Giant Bow dikendalikan melalui perangkat pada kendaraan BCV (Battery Command Vehicle) sebagai firing control system untuk penembakan. Mode semi otomatis berarti dikendalikan dengan dukungan tenaga listrik dari baterai pada meriam. Sedangkan pada mode manual dikendalikan awak meriam sebanyak tujuh personel.

Sebagai salah satu senjata modern, Giant Bow juga memang dapat disandingkan dengan kendaraan BCCV (Battery Command and Control Vehicle). Dapat dikendalikan sebanyak empat sampai delapan pucuk secara bersamaan dari jarak jauh.

Dalam pengoperasian dengan BCCV, setiap pucuk tidak memerlukan jasa juru tembak, tetapi semua keputusan tembakan dilakukan secara terpusat dari truk komando BCCV.

 Karakteristik Giant Bow: 

http://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2017/05/2-3.jpgBCCV Giant Bow TNI AD [indomiliter]

Produksi: Norinco, Cina
Kaliber: 23 milimeter
Jenis amunisi: HEI-T dan API-T
Jumlah laras: dua buah
Kecepatan awal: 970 meter per detik
Jarak maksimal vertikal: 1500 meter
Jarak masksimal horizontal: 2000 meter
Rata-rata tembakan: 600–2000 butir per menit
Sudut elevasi: –5 sampai 90 derajat
Lebar siap tempur roda terlipat: 2,88 meter
Lebar siap angkut: 1,83 meter
Sudut putar: 360 derajat
Berat total: 1.250 kilogram
Tinggi dalam keadaan terkunci: 1,22 meter
Tinggi siap angkut: 1,83 meter

 Menembak Liar 
TNI Diingatkan agar Alutsista Tak Jadi Peti Mati PrajuritPenyebab satu meriam Giant Bow itu malfungsi masih misteri. Soalnya sebelum digunakan latihan tempur, semua meriam berfungsi baik. Saat tak digunakan atau ketika disimpan di markas pun selalu diperiksa dan dirawat rutin.

Para prajurit yang dilatih untuk mengawaki atau mengoperasikan senjata itu pun rutin berlatih. Mereka pun dipilih diberangkatkan ke Natuna karena sudah terlatih, bukan prajurit yang sama sekali tak pernah menyentuh meriam itu.

Kita selalu lakukan pengecekan sebelum digunakan. Pelaksanaan (latihan pendahuluan hari pertama Pasukan Pemukul Reaksi Cepat di Natuna) tidak ada masalah," kata Alfret Denny Tuejeh di Jakarta pada Kamis.

Entah akibat faktor apa satu meriam itu malah bermasalah kemudian. Denny mengatakan, "Meriam itu tiba-tiba tidak berfungsi dan menembak sembarangan, jadi liar.” Tembakan liar itu mengarah ke sejumlah prajurit sehingga empat meninggal dunia dan delapan luka-luka.

Denny menjelaskan lebih spesifik bagian yang bermasalah pada meriam itu, yakni pembatas laras tembak. Pembatas itu tak berfungsi sehingga arah tembakan berubah lalu mengenai sejumlah prajurit di lokasi.

 Berikut ini identitas korban: 

Meninggal dunia

1. Kapten Arh Heru Bayu
2. Prajurit Kepala Edy
3. Prajurit Satu Marwan
4. Prajurit Satu Ibnu

Luka-luka

1. Sersan Dua Alfredo Siahaan
2. Sersan Satu Blego
3. Prajurit Dua Wahyu Danar
4. Prajurit Satu Bayu Agung
5. Prajurit Satu Ridai
6. Prajurit Satu Didik
7. Prajurit Kepala Edi Sugianto
8. Pembantu Letnan Dua Dawid (ren)

 Diingatkan agar Alutsista Tak Jadi Peti Mati Prajurit 
Meriam jenis Giant Bow yang disebutkan mengalami gagal fungsi dalam gladi bersih Latihan PPRC di Tanjung Datuk Natuna Kepulauan Riau, Rabu (17/5/2017)Meriam Giant Bow TNI AD [VIVA.co.id/istimewa]

Tentara Nasional Indonesia diingatkan agar alat utama sistem persenjataan (alusista) yang dimiliknya tak menjadi senjata makan tuan bagi prajurit.

Insiden malfungsi sebuah meriam jenis Giant Bow buatan Tiongkok yang menewaskan empat prajurit di Natuna, Kepulauan Riau, harus menjadi peringatan agar TNI cermat memilih senjata.

"Yang jadi pertaruhan bukan pertahanan kita saja tapi keselamatan prajurit harus jadi prioritas. Jangan sampai alutsista jadi peti mati bagi prajurit," kata anggota Komisi Bidang Pertahanan DPR, Charles Honoris, saat dihubungi VIVA.co.id pada Senin, 22 Mei 2017.

DPR menunggu hasil investigasi insiden saat latihan pendahuluan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna itu untuk mengetahui penyebab malfungsi karena faktor kelalaian prajurit atau memang senjatanya yang bermasalah.

"Apa betul karena alutsista bermasalah atau ada human error (kelalaian prajurit TNI). Sebelum investigasi, saya tak bisa banyak berkomentar," kata Charles.

 Bukan faktor buatan Tiongkok 

TNI sedang menginvestigasi peristiwa malfungsi meriam Giant Bow. Namun penyelidikan bukan karena alasan senjata itu produksi Tiongkok.

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Alfret Denny Tuejeh, malfungsi senjata militer bisa terjadi pada produksi mana pun.

"Insiden di Natuna ini memang akan diinvestigasi, tetapi dalam rangka untuk mengetahui secara pasti penyebab kejadian ini. Bukan karena meriamnya produk China (Tiongkok). Produk negara mana pun kalau terjadi insiden serupa," ujar Alfret melalui pesan tertulis kepada VIVA.co.id pada 19 Mei 2017.

TNI, kata Alfret, selalu mengkaji kelayakan setiap alutsista. Ia memastikan TNI menyampaikan hasil investigasi kepada publik. Namun, ia menegaskan, investigasi sama sekali bukan untuk menyoroti kualitas alutsista asal Tiongkok.

 Kualitas Senjata disorot 

Kualitas alutsista produk Tiongkok kerap disorot. Sebuah peluru kendali (rudal) jenis C705 produksi Tiongkok terlambat meluncur ketika digunakan dalam latihan gabungan militer XXIV/2016 pada September 2016. Peristiwa itu bahkan disaksikan Presiden Joko Widodo.

Peristiwa termutakhir ialah sebuah meriam Giant Bow, produksi Tiongkok juga, malfungsi sehingga menembak liar tak terkendali lalu mengenai para prajurit saat latihan pendahuluan PPRC di Natuna pada 17 Mei 2017.

  Viva  

[Video] Sekilas KAL 28 Propeller

Buatan PT Tesco Indomaritim Dari website PT Tesco, diberitakan TNI AL telah memesan sebanyak 13 unit yang telah rampung 12 unit dan 1 dalam pembangunan yang akan tuntas tahun 2017 ini.

Kapal dengan panjang 28 meter, Berat sekitar 70 ton mampu di pacu dengan mesin pendorong jenis propeller hingga 28 knot.


Berikut video di upload Muhamad Irfai dari Youtube :

  Garuda Militer  

Drone BPPT Sukses Terbang Selama Tujuh Jam

Drone Alap alap PA4 BPPT [sapub] 

Tim peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan sukses menerbangkan drone buatan mereka selama tujuh jam tanpa henti dalam uji coba pesawat udara nir-awak yang dinamakan Alap-alap PA4 itu di Pangandaran, Jawa Barat, Minggu.

Keterangan melalui layanan pesan telepon seluler yang dikirimkan Humas BPPT, Minggu, menyebutkan, selama terbang selama tujuh jam itu, drone Alap-alap menjelajah wilayah sejauh 623 km, menempuh jarak terjauh 100 km pada ketinggian 5.000 kaki.

Dalam misi tes ketahanan itu, Alap-alap PA 4 selesai melakukan misi pemetaan seluas 750 ha, sesuai dengan misi yang diembannya, yaitu pemetaan udara dan pengawasan dari udara.

Kepala program Drone BPPT Joko Purwono, seperti dikuti pesan itu, menyatakan, gimbal (rumah kamera) yang dibawa drone itu dapat memonitor visual dari udara secara daring.

Disebutkan, keunggulan drone Alap-alap PA4 adalah dapat melakukan pemetaan pada lokasi sejauh 50-80 km. Kemampuan pemetaan lebih dari 2.600 hektare perjam terbang dengan resolusi 13 cm/pixel.

Menurut Joko, drone Alap-alap PA4 sangat efisien dalam membantu pengawasan kawasan hutan, karena hutan seluas satu juta ha dapat dipetakan dalam 76 hari terbang.

Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan disebut perlu memiliki skuadron drone Alap-alap untuk membantu mengawasi kawasan hutan di Sumatera dan Kalimantan yang luasnya jutaan hektare. Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu W Pandoe menyatakan, pihaknya akan berupaya keras untuk mewujudkan agar drone hasil karya BPPT itu dapat dimanfaatkan oleh institusi pemerintah yang memerlukan, baik untuk keperluan militer maupun sipil.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional dijadikan BPPT sebagai tonggak agar drone itu dapat dimanfaatkan untuk kedaulatan Tanah Air.

  antara  

TNI-AD Tarik Seluruh Meriam Giant Bow

Meriam Giant Bow Kostrad TNI AD

Investigasi insiden yang mengakibatkan empat prajurit Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Divisi Infanteri 1 Kostrad berlanjut. Polisi Militer TNI-AD (Pomad) masih menggali data mengenai insiden tersebut. Berdasar laporan terakhir, meriam Giant Bow yang mengalami gangguan berada dalam kondisi baik.

Insiden itu terjadi ketika latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) Rabu lalu (17/5).

Berdasar informasi di lokasi kejadian, sejumlah perubahan dilakukan pasca kejadian. TNI AD tak hanya mengerahkan petugas untuk mengidentifikasi insiden tersebut. Tapi juga menarik mundur seluruh meriam Giant Bow yang semula turut serta dalam latihan.

Total ada sembilan Giant Bow yang ditarik. Selain Giant Bow yang mengalami gangguan, delapan lainnya turut ditarik mundur. Meski demikian, Mabes TNI-AD memastikan bahwa alutsista tersebut tetap siap siaga. ”Yang diidentifikasi hanya satu,” terang Kadispen AD Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh kemarin. Dia menekankan kembali bahwa alutsista itu berada dalam kondisi baik. Sebab, Yon Arhanud 1/ Divisi Infanteri 1 memeriksa peralatan tersebut sebelum dibawa ke Natuna.

Dipelihara dengan baik di satuan Yon Arhanud 1/Divisi Infanteri 1 Kostrad,” ungkap dia kepada Jawa Pos kemarin (18/5). Namun, Denny belum bisa memastikan insiden tersebut bersumber dari malfungsi alutsista atau kesalahan prajurit. Berkaitan dengan hal itu, POM TNI-AD mendapat tugas untuk menginvestigasi insiden tersebut. ”Tim dari TNI-AD masih, sedang, dan terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya,” terangnya. Hasil investigasi tersebut bakal dihimpun dan dilaporkan langsung kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai pemegang komando PPRC TNI.

Meriam Giant Bow II 2x23mm diatas truk Isuzu Elf NPS 4×4 milik Batalyon Arhanud Ringan 1 Kostrad TNI AD [vidio]

Denny memastikan, setiap korban yang terdampak insiden di lokasi latihan PPRC TNI diurus dengan baik. Itu merupakan bentuk tanggung jawab TNI-AD terhadap para korban peristiwa tersebut. Jenazah empat prajurit yang gugur dalam latihan yang puncaknya diselenggarakan hari ini (19/5) tersebut sudah berada di tengah keluarga masing-masing. ”Rabu malam (17/5) jenazah empat prajurit TNI-AD telah diberangkatkan menuju daerah asal masing-masing,” ujarnya.

Jenazah Danrai Kapten Arh Heru Bayu dibawa ke keluarganya di Padang, Sumatera Barat. Jenazah Pratu Marwan dibawa ke Pekanbaru, Riau. Lalu, jenazah Praka Edy ke Palopo dan jenazah Pratu Ibnu Hidayat ke Semarang. Seluruhnya dimakamkan secara militer sebagai bentuk penghormatan dari TNI-AD kepada prajurit.

Sementara itu, kondisi delapan korban luka terus dipantau. Laporan terakhir menyebutkan, kondisi empat korban luka ringan membaik. Mereka adalah Pratu Ridai, Pratu Didik, Praka Edi Sugianto, dan Pelda Dawid. ”Mereka berobat jalan,” kata Denny. Bahkan, Pelda Dawid yang berasal dari Pusat Penerangan (Puspen) TNI sudah keluar dari rumah sakit. Empat korban lainnya, Serda Alfredo Siahaan, Sertu Blego, Prada Wahyu Danar, serta Pratu Bayu Agung, masih dirawat secara intensif di RS Kartika Husada Pontianak. Mereka mengalami luka berat.

Meski insiden di Natuna merenggut empat nyawa prajurit TNI-AD, puncak latihan PPRC hari ini dilaksanakan sesuai dengan agenda. Kemarin seluruh prajurit TNI yang terlibat memang sudah tidak berlatih. Namun, persiapan dilakukan dengan matang. Sebab, bukan hanya panglima TNI dan kepala staf masing-masing angkatan yang dijadwalkan hadir. Presiden Joko Widodo pun turut menyaksikan langsung agenda tersebut. Bersama Gatot, Presiden Jokowi akan memimpin seremoni pembaretan gubernur-gubernur yang turut hadir.

   Jawapos  

Minggu, 21 Mei 2017

TNI AD Pimpin Klasemen Sementara Lomba Tembak Militer AASAM 2017

Australian Army Skill at Arms Meetinghttps://2.bp.blogspot.com/-eIRX754GDpE/WSAcwX5XxhI/AAAAAAAAKVA/PRI2vldPhVow9q9fIIWKyBHjhGFp_yG7wCPcB/s1600/18489741_1307664166008015_6011042038702694347_o.jpgTim sniper TNI AD pada ajang AASAM 2017 [AASAN 2017]

Prajurit Kostrad TNI AD kembali mendominasi perolehan medali kejuaraan internasional dalam kompetisi Australia Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017 yang berlangsung di Puckapunyal Military Area, Victoria, Melbourne, Australia.

Hingga 20 Mei 2017 pukul 19.00 WIB, Indonesia masih bertengger di posisi puncak dalam klasemen sementara dengan perolehan medali 13 Emas, 2 Perak, dan 4 Perunggu. Adapun tuan rumah Australia, menduduki peringkat kedua dengan perolehan 5 Emas, 11 Perak dan 8 Perunggu.

The Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017 telah digelar sejak 5 Mei 2017 dan berakhir pada 26 Mei 2017, di Area Militer Puckapunyal, Victoria, Australia. Kompetisi ini diikuti militer berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dilansir dari situs resmi penyelenggara AASAM 2017, www.army.gov.au, tujuan diselenggarakannya AASAM adalah untuk meningkatkan kemampuan operasional prajurit Angkatan Darat melalui keterampilan peperangan yang ketat, penuh rintangan dan combat yang difokuskan pada kemampuan prajurit.

AASAM adalah keterampilan bertarung tempur pada kompetisi senjata yang mencakup sistem senjata ringan yang dipakai saat ini, yang bersaing pada tingkat individu dan unit. Adapun pelatihan ini difokuskan pada penerapan senjata yang akurat yang mendasari keberhasilan operasional dan misi.

AASAM menguji secara cermat kemampuan dan keahlian petembak yang bersaing secara individual dan berkelompok, untuk memberikan patokan (benchmark) untuk memvalidasi standar petembak, peralatan, sistem pelatihan untuk individu dan tim, yang bersaing secara internasional.

Sebelumnya, pada AASAM 2016 tahun lalu Prajurit Kostrad TNI AD juga berhasil mendominasi perolehan medali yang juga berlangsung di Puckapunyal Military Area, Victoria, Melbourne, Australia yang diselenggarakan pada 3-30 Mei 2016. Pada saat itu, kontingen TNI AD yang bertanding di Melbourne tersebut berjumlah 19 orang dengan komandan kontingen Mayor Inf. Safrudin yang menjabat sebagai Kasi Operasi Staf Operasi Divisi Infanteri 1 Kostrad.

 Berikut klasemen sementara perolehan medali dalam ajang AASAM 2017 


1. Indonesia : 13 Emas, 2 Perak, 4 Perunggu.
2. Australia : 5 Emas, 11 Perak, 8 Perunggu.
3. Jepang : 4 Emas, 2 Perak, 2 Perunggu.
4. Uni Emirat Arab : 2 Emas.
5. Anzac : 1 Emas, 1 Perak.
6. Philipina : 1 Emas, 2 Perak, 2 Perunggu.
7. US Army : 1 Emas.
8. UK (INGGRIS) : 1 Perak, 1 Perunggu.
9. Canada : 1 Perak, 3 Perunggu.
10. Malaysia : 1 Perak, 1 Perunggu.
11. Thailand : 1 Perak, 1 Perunggu.
12. US Marines : 2 Perunggu.
13. Korea : 1 Emas, 2 Perak, 1 Perunggu.
14. Singapura : 1 Perak.
15. Kamboja : nihil.
16. Timor Leste : nihil.
17. Tonga : nihil.
18. PNG : nihil.
19. Perancis : nihil.
20. New Zealand : nihil.

   Tempo  

[Dunia] Cina Habisi 20 Mata-mata AS

Cederai Operasi CIASejumlah polisi Cina menjaga Kedutaan Besar AS di Beijing.

Sedikitnya 20 informan badan intelijen Amerika Serikat (CIA) dibunuh atau dipenjara oleh pemerintah Cina dalam kurun 2010 hingga 2012, sebut laporan surat kabar New York Times.

Belum jelas apakah CIA telah diretas atau terdapat orang-orang di dalam CIA yang membocorkan informasi ke Cina.

Yang terang, sebagaimana dikatakan empat mantan pejabat CIA kepada surat kabar tersebut, berbagai informasi dari dalam birokrasi pemerintah Cina mulai mengering pada 2010. Sejumlah informan pun menghilang pada awal 2011.

Salah seorang informan bahkan ditembak di sebuah lapangan di sebuah gedung pemerintahan Cina sebagai peringatan kepada yang lain.

Untuk menyelidiki hal ini, CIA dan Biro Investigasi Federal (FBI) beraksi dalam sebuah operasi yang diberi nama Honey Badger.

New York Times mengatakan penyelidikan itu berpusat pada seorang mantan agen CIA, namun tidak cukup bukti untuk menangkapnya. Dia kini bermukim di sebuah negara Asia.

CIA tidak berkomentar atas laporan ini.

 Mencederai operasi CIA 

Matt Apuzzo, seorang wartawan New York Times yang menulis laporan tersebut, mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah AS tidak tahu bagaimana Cina bisa mengetahui informan-informan CIA.

"Ada perdebatan di dalam pemerintah AS mengenai apakah ada orang di dalam CIA yang membocorkan informasi, atau apakah agen-agen CIA ceroboh dan ketahuan, atau apakah Cina mampu menembus komunikasi (CIA)," papar Apuzzo.

Hilangnya sejumlah mata-mata merusak jaringan CIA di Cina. Padahal, perlu waktu bertahun-tahun untuk membangunnya. Imbasnya, seperti dilaporkan harian tersebut, hal tersebut mencederai operasi-operasi intelijen di masa mendatang.

Pemerintah Cina menawarkan 10.000 yuan (hampir Rp 20 juta) hingga 500.000 yuan (hampir Rp 1 miliar) bagi orang yang bersedia memberi informasi untuk membongkar mata-mata asing.

Rangkaian peristiwa membuat intelijen AS di Cina berjalan lamban dan ini dipertanyakan sejumlah pejabat pemerintahan Barack Obama. Beberapa kalangan di tubuh pemerintah menilai hal ini merupakan kekacauan keamanan terburuk selama beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, sejak 2013 pemerintah Cina tampaknya kehilangan kemampuan untuk mendapati agen intelijen AS dan CIA mulai membangun jaringannya lagi.

"Selama bertahun-tahun Cina dan AS terkunci dalam pertempuran mata-mata di balik layar. Selama mengerjakan laporan ini, kami menemukan bahwa intelijen Cina mampu menembus kantor badan keamanan AS (NSA) di Taiwan," kata Apuzzo.

Laporan ini diterbitkan pada saat ada kevakuman pejabat tinggi dalam hubungan diplomatik kedua negara. Pemerintahan Donald Trump telah menunjuk Terry Branstad, gubernur Negara Bagian Iowa, sebagai duta besar AS untuk Cina, namun dia belum hijrah ke Beijing.

Cui Tiankai, duta besar Cina untuk AS belum berkomentar. Namun, dalam siaran pers baru-baru ini dia menyebut "momentum positif saat ini yang dinikmati hubungan Cina-AS."

   BBC  

Latihan Siaga Tempur Laut Koarmabar Tahun 2017 Digelar

Tingkatkan Profesionalitas Prajurit TNI-AL http://media.viva.co.id/thumbs2/2015/04/09/306750_latihan-sar-koarmabar-2015_663_382.jpgIlustrasi [viva] ☆

Sebagai prajurit TNI, bertugas untuk menjaga keamanan NKRI. Berlatih dan terus berlatih untuk meningkatkan profesionalisme menjadi prioritas agar bisa menghadapi ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam.

Hal itu diungkapkan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, saat melepas unsur-unsur KRI yang mengikuti Latihan Siaga Tempur Laut Koarmabar tahun 2017 di laut Natuna, Kepulauan Riau, di Pelabuhan Batuampar, Sabtu (20/5/2017) sore.

Menurutnya, TNI tiada hari tanpa berlatih, sehingga bisa dengan siap saat ditugaskan membela negara, terutama menghadapi rintangan pada wilayah barat Indonesia.

Koarmabar memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan latihan secara bertingkat dan berlanjut untuk membentuk kesiapsiagaan unsur-unsur Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) dalam menghadapi operasi.

Dijelaskan, latihan ini bertujuan untuk melatih dan menguji kemampuan tempur SSAT guna memelihara dan meningkatkan kemampuan tempur secara individu maupun terintegrasi sekaligus melaksanakan pengendalian laut di wilayah operasi Koarmabar.

"Kita memiliki sasaran yang sangat strategis, yaitu agar tercapainya pemantapan kemampuan unsur-unsur Koarmabar, terwujudnya kesiapan unsur-unsur Koarmabar, serta tercapainya peningkatan kemampuan dan kesiapan tempur jajaran Koarmabar," jelas Aan.

Latihan ini, dilaksanakan mulai tanggal 18 Mei hingga 22 Mei 2017 di perairan Kepulauan Riau yang merupakan wilayah kerja Koarmabar (Batam, Tanjunguban dan laut Natuna). Untuk pelaksanaannya, akan dibagi menjadi dua tahap.

"Pertama ialah Tahap Pangkalan atau Harbour Phase yang meliputi kegiatan pembekalan tentang penerbangan, kesehatan dan operasi militer, pelayanan kesehatan, olahraga persahabatan dan interaksi sosial yang dikemas dalam berbagai kegiatan. Kedua Tahap Laut atau Sea Phase yang meliputi kegiatan latihan tempur dan manuver lapangan oleh unsur atau kapal di perairan laut Natuna," lanjutnya.

Sebagaimana yang diketahui tambah Aan, Natuna yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan terjadi permasalahan dengan Negara Vietnam.

"Namun persoalan ini sebenarnya tidak mengancam. Ini biasa terjadi karena daerah perbatasan. Hal ini juga akan diselesaikan oleh Kementrian Luar Negeri. Namun selama dilakukan perundingan kita terus lakukan patroli. Jika eskalasi naik, kita sudah siap, karena latihan yang terus dilakukan. Yang jelas, saat ini tiga hingga empat kapal terus disiagakan di perairan Natuna," paparnya.

 Koarmabar Serang Pertahanan Musuh, Pertahankan Wilayah Indonesia 

Konflik di wilayah Natuna sebagai daerah perbatasan dengan negara tetangga yang dipisahkan Laut Cina Selatan semakin meningkat, sehingga Koarmabar melaksanakan operasi siaga tempur laut dan siaga keamanan laut.

Laut China Selatan (LCS) merupakan daerah operasi yang mengalami kontinjensi akibat gelar kekuatan lawan untuk mengklaim kepemilikan suatu wilayah yang disebut sebagai “Nine Dash Line”.

Adanya klaim dari pihak lawan atas kepemilikan suatu wilayah itu, mengakibatkan kontinjensi mengalami peningkatan karena intensitas pelanggaran wilayah semakin tinggi oleh pihak lawan.

Dengan meningkatnya kontinjensi, Presiden RI memerintahkan Panglima TNI untuk melaksanakan operasi tempur di wilayah yang sering dilanggar oleh kekuatan lawan.

Mendapat perintah dari Presiden RI, Panglima TNI perintahkan Pangarmabar selaku Pangkogaslagan untuk melaksanakan operasi penghancuran kekuatan armada laut lawan, dalam rangka menegakkan kedaulatan pada wilayah yang dilanggar kekuatan lawan.

Upaya mempertahankan daerah yang menjadi milik Indonesia itu, merupakan skenario yang dilakukan dalam Latihan Siaga Tempur Laut Koarmabar 2017 yang digelar, dimulai sejak Sabtu (20/5/2017), hingga Selasa (22/5/2017).

Hal itu diungkapkan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, saat melepas melepas unsur-unsur KRI yang mengikuti Latihan Siaga Tempur Laut Koarmabar tahun 2017 di laut Natuna, Kepulauan Riau, di Pelabuhan Batuampar, Sabtu (20/5/2017) sore.

"Ini merupakan skenario yang kita lakukan dalam latihan. Mengingat, saat ini ada persoalan yang terjadi di Natuna sebagai daerah perbatasan," ungkapnya.

Pangamabar juga menegaskan, TNI tiada hari tanpa berlatih, sehingga bisa dengan siap saat ditugaskan membela negara, terutama menghadapi rintangan pada wilayah barat Indonesia.

Koarmabar memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan latihan secara bertingkat dan berlanjut untuk membentuk kesiapsiagaan unsur-unsur Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) dalam menghadapi operasi.

  Batam Today  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...