Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2026

TNI AL Pamerkan Teknologi Hidrografi di Monaco

  Garapan UI dan ITB Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto menjelaskan produk teknologi hidrografi unggulan Indonesia kepada delegasi asing dalam pameran IHO Assembly 2026 di Monaco. (Foto: Dok. Pushidrosal))

TNI AL melalui Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) hadir sebagai delegasi Indonesia dalam sidang 4th Session of the IHO Assembly 2026 di Monaco. Dalam forum internasional ini, Pushidrosal membawa produk teknologi hasil inovasi dalam negeri.

Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto memimpin langsung delegasi Indonesia di Auditorium Rainier III, Monaco, pada 19-23 April. Pertemuan ini merupakan forum pengambil keputusan tertinggi dalam International Hydrographic Organization (IHO) atau Organisasi Hidrografi Internasional.

 Inovasi HidroSDB35 dan Almanak Nautika

Dua produk unggulan yang menjadi fokus pameran adalah HidroSDB35 dan Almanak Nautika Indonesia. Teknologi ini merupakan hasil penelitian mandiri antara personel Pushidrosal dengan akademisi dari Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendukung data pemetaan laut nasional.

Budi menjelaskan, kehadiran produk tersebut membuktikan kemampuan teknologi Indonesia di bidang hidro-oseanografi atau ilmu pemetaan laut.

Produk ini mencerminkan kemandirian teknologi nasional. Hal ini menunjukkan kontribusi nyata Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dunia,” ujar Budi, dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (22/4).

Ia menambahkan, keterlibatan para pakar domestik menjadi kunci dalam inovasi ini. “Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan putra-putri terbaik bangsa untuk menghasilkan perangkat pendukung keselamatan pelayaran,” lanjutnya.

 Tentukan Kebijakan Strategis Maritim

Selain pameran teknis, delegasi Indonesia berperan aktif dalam merumuskan rencana strategis IHO periode 2027–2032. Forum ini membahas laporan kegiatan organisasi serta menetapkan anggaran tiga tahunan untuk kepentingan hidrografi global.

Partisipasi aktif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional sesuai instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, yang menekankan pentingnya peran Indonesia dalam mendukung keselamatan pelayaran dunia serta memperkuat kedaulatan maritim.

Melalui forum ini, TNI AL memastikan pemanfaatan informasi hidrospasial atau data keruangan laut dapat terintegrasi secara modern. Langkah tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan navigasi kapal-kapal yang melintasi perairan internasional. (at)

 ⚓️ 
IDM  

Selasa, 28 Oktober 2025

Pindad Kembangkan Bahan Baku Industri Alutsista Nasional

  Kerjasama Triple Helix bersama BPDP, dan ITB (ist)

Kerjasama triple helix dijalankan antara PT Pindad Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam rangka pengembangan fasilitas produksi industri pertahanan yang berdaya saing yang dilaksanakan di area Divisi Munisi PT Pindad, Turen, Malang pada kamis, 16 Oktober 2025.

Penandatanganan dua kerja sama strategis ini bertujuan untuk membangun kemandirian PT Pindad sebagai industri pertahanan dalam negeri melalui kolaborasi strategis antara pemerintah dengan akademisi dan industri.

Penandatangan kerja sama strategis ini disaksikan secara langsung oleh Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Dida Gardera, dihadiri oleh Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman; Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara dan Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa.

Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Dida Gardera menyampaikan bahwa Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sangat mendukung kerja sama ini.

Kerja sama ini merupakan salah satu langkah strategis Pemerintah dalam upaya mendorong pengembangan dan kemandirian Industri Pertahanan berbasis sumber daya alam yang kita miliki. Hal ini juga telah sejalan dengan prioritas 5 RPJMN Tahun 2025 – 2029 tentang melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri berbasis Sumber Daya Alam untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” Jelas Dida Gardera.

Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa menekankan pentingnya sinergi antara industri, akademia, dan pemerintah untuk mendorong pembangunan sektor industri strategis, khususnya terkait amunisi.

Kerja sama strategis ini merupakan tonggak bersejarah dalam membangun kemandirian industri pertahanan dalam negeri yang berdaya saing untuk mendukung stabilitas kemanan dan eknomi nasional melalui kerja sama antara PT Pindad, BPDP, dan ITB. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa national defense tidak harus dimulai dari import, tetapi national defense dimulai dari local technology, local scientist, dan local industry,” Jelas Sigit.

Penandatangan pertama dilaksanakan antara Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa dengan Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman. Kerja sama antara PT Pindad dan BPDP terkait dukungan pendanaan dan fasilitasi program strategis nasional untuk percepatan pengembangan infrastruktur industri pertahanan di dalam negeri.

PT Pindad menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi menjadi perusahaan pertahanan nasional yang modern dan berdaya saing global. BPDP memperkuat peran strategisnya dalam mendukung pembiayaan proyek industri bernilai strategis nasional. Sementara ITB menunjukkan perannya sebagai pusat riset unggulan yang aktif mendukung pengembangan teknologi nasional melalui kolaborasi lintas sektor.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya, dan menjadi wujud nyata dari penerapan konsep triple-helix collaboration, di mana pemerintah dan lembaga pendanaan berperan sebagai fasilitator kebijakan dan sumber dukungan finansial, akademia sebagai pusat riset dan inovasi teknologi, serta industri sebagai motor implementasi dan komersialisasi hasil inovasi. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci untuk membangun kemandirian industri pertahanan yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.

Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman menyampaikan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari upaya memperkuat hilirisasi berbasis sumber daya perkebunan, sekaligus memastikan nilai tambah industri strategis terjadi di dalam negeri.

Pembangunan Pabrik Bahan Baku Industri Alutsista Merah Putih ini bukan semata pembangunan infrastruktur industri. Pembangunan ini mencerminkan visi bersama untuk memperkuat kemandirian bangsa dalam teknologi strategis nasional, memperkuat daya saing industri dalam negeri, serta membuka ruang bagi pengembangan sumber daya manusia dan hilirisasi produk-produk bernilai tambah,” ujar Eddy.

BPDP menegaskan bahwa dukungan pendanaan dilakukan berdasarkan prinsip akuntabilitas, tata kelola yang baik, serta berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi negara.“Sebagai Badan Pengelola Dana, penting bagi kami memastikan pendanaan dikembangkan secara transparan dan berorientasi pada manfaat pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat,” lanjut Eddy.

Dengan adanya pabrik bahan baku industri alutsista ini, diharapkan terwujud:

👌 Peningkatan nilai tambah dari sumber daya dalam negeri untuk sektor industri pertahanan.
👌 Pengurangan ketergantungan impor komponen strategis pertahanan.
👌 Pengembangan tenaga kerja terampil serta riset teknologi nasional di bidang industri strategis.
👌 Dampak ekonomi regional melalui investasi dan pengembangan fasilitas industri di Malang dan sekitarnya

Melalui kerja sama ini, Indonesia diharapkan mampu memperkuat kemampuan manufaktur pertahanannya secara mandiri, mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen strategis, serta memperluas kemampuan riset dan inovasi berbasis sumber daya nasional. Langkah ini juga selaras dengan agenda pemerintah dalam memperkuat stabilitas nasional, menciptakan lapangan kerja berkeahlian tinggi, dan meningkatkan ketahanan ekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

  🤝 
Sawit Indonesia  

Selasa, 21 Oktober 2025

Radar GCI Retia Czech

  12 Radar pesanan Kemhan  Radar GCI Retia Ceko akan perkuat Indonesia (defeence magazine)

Radar GCI Retia adalah bagian dari kerja sama Indonesia dengan Ceko untuk pengadaan 12 unit radar Ground Controlled Interception (GCI) yang akan dioperasikan secara interoperabel dengan 13 radar GCI Thales Prancis.

Radar ini berfungsi untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengarahkan pesawat tempur untuk mencegat ancaman udara, berperan penting dalam sistem pertahanan udara nasional dan Network Centric Warfare (NCW).

  Fungsi dan kemampuan  
📡 Mendeteksi ancaman udara: Dapat mendeteksi objek di udara dengan akurasi tinggi.

📡 Identifikasi kawan atau lawan (IFF): Dilengkapi fungsi Identification Friend or Foe (IFF) untuk mengidentifikasi objek secara tepat.

📡 Mengendalikan pesawat tempur: Memberikan arahan dan pengawalan kepada pesawat tempur untuk melakukan pencegatan (interception).

📡 Membangun Network Centric Warfare (NCW): Berperan krusial dalam doktrin peperangan berbasis jaringan komunikasi real-time untuk menghubungkan data dari markas ke unit tempur.

  Kerjasama dengan perusahaan lain  
🤝 Mitra kerja sama:
Retia (Ceko) merupakan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pengadaan radar GCI.

🤝 Interoperabilitas: Radar buatan Retia akan bekerja sama dan terintegrasi dengan radar buatan Thales Prancis.

🤝 Kapasitas nasional: PT Len Industri (Persero) berperan dalam produksi dan perakitan komponen radar, seperti "octopath," serta menjadi mitra dalam proyek ini.

  Peta jalan pengembangan  
👷 Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan), terus mengembangkan teknologi radar GCI melalui berbagai tahapan litbang.

👷 Kemhan juga bekerja sama dengan PT Len Industri dan institusi lain seperti LAPI ITB untuk penelitian dan pengembangan prototipe.

  🛰 
Garuda Militer  

Jumat, 15 Agustus 2025

PT SAS Aero Sishan Kembangkan Alutsista Terintegrasi

  Kolaborasi Tripe Helix Presentasi Direktur PT SAS Aero Sishan pada KSTI 2025 di Bandung (ist)

Direktur PT SAS Aero Sishan, Roland Wala hadir sebagai pembicara di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang berlangsung pada 7–9 Agustus 2025 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB.

Dalam sesi startup pitch bertema “Sistem Pertahanan Terintegrasi (Integrated Defense Systems)”, Roland memaparkan inovasi terbaru PT SAS dalam mewujudkan konsep pertahanan terintegrasi.

Pada acara Konversi Sains, Teknologi & Industri Indonesia (KSTI) ITB 2025, PT SAS Aero Sishan menampilkan infografis produk utama dari PT SAS Aero Sishan yang sedang dalam tahap pengembangan & prototipe.

Pada sesi di acara KSTI 2025, direktur SAS memaparkan proyek riset & pengembangan alutsista terbarunya melalui kolaborasi model Tripe Helix yang melibatkan berbagai mitra riset dari Industri, Institut, Universitas, Balitbang Kemhan & TNI yang dikembangkan secara berkala, dengan rentang waktu 2025-2027.

  Beberapa produk & proyek PT SAS di antaranya : 
💥 Kendaraan Launcher Missile Rhan 450

PT SAS berkontribusi dalam konsorsium roket nasional untuk pengembangan roket Rhan-450.

Dalam presentasi terlihat image kendaraan peluncur roket Rhan-450. Dari media militer, diyakini kendaraan peluncur roket ini menggunakan sasis truk Kamaz.

💥 Kendaraan MLRS Rhan 122B - DS-240 Arjuna (TKDN 66%)

PT SAS berkontribusi juga dalam pengembangan roket balistik Rhan-122B. Bentuk prototipe kendaraan peluncur ini beda dari yang biasa di tampilkan media terdahulu. Nampak sepintas sejenis dengan kendaraan peluncur roket marinir.

Dilengkapi sistem autoloader dan dikendalikan melalui komputer balistik, menjamin akurasi tembakan yang tinggi di medan pertempuran.

Keterlibatan ini mencerminkan peran PT SAS sebagai mitra teknologi dalam pengembangan sistem persenjataan dalam negeri, khususnya pada aspek sistem peluncur.

💥 Kendaraan Mortar System Kal. 81 mm & 120 mm
(TKDN 77%)

Dari beberapa produk yang disebut dalam kemitraan strategis, salah satunya adalah kendaraan pengangkut mortir “Bajra”, yang sepintas merupakan mortir swagerak (self propelled) yang dipasang pada platform kendaraan 4×4.

Kendaraan ini tidak hanya membawa amunisi, melainkan juga dilengkapi peluncur mortir mekatronik kaliber 81 atau 120 mm di bagian belakang.

💥 Weaponized Drone (TKDN 55%)

Uji Demo Weaponied Drone Tahap ll-ll TA. 2024 dilaksanakan di Pusdiklatpasus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat. (17/10/2024).

Drone ini dikendalikan oleh dua operator, yaitu operator drone dan operator senjata, yang bekerja sama untuk melaksanakan misi secara efektif.

Operator Drone bertanggung jawab untuk mengendalikan pergerakan dan navigasi drone. Mereka memantau lingkungan sekitar dan memastikan drone dapat beroperasi dengan aman, menghindari rintangan dan mencapai lokasi target.

Sedangan operator Senjata bertugas engendalikan sistem senjata dan bertanggung jawab untuk menilai target dan melakukan tembakan. Mereka menggunakan perangkat lunak canggih untuk menganalisis data dan memastikan bahwa setiap tembakan dilakukan dengan akurat dan efektif.

💥 Kendaraan Taktis Full Tracked


Kendaraan taktis ini dikembangkan bersama Balitbang Kemhan pada tahun ajaran 2025 menggunakan track system.

Sebagai kendaran taktis multiperan, rantis ini dikembangkan dengan beberapa varian seperti Launcher Rocket kaliber 70 mm, Surveilance, Recovery, Angkut Personil, & Logistik.

💥 Kendaraan Launcher Rocket kal. 70 mm

Sebagai sistem peluncur roket berpemandu menggunakan roket kaliber 70 mm, dikembangkan bersama PT Dirgantara Indonesia.

Sistem ini dirancang untuk meningkatkan akurasi dan daya tembak dalam menghadapi target yang bergerak.

Dengan pemandu yang presisi, sistem ini memberikan tembakan tepat sasaran dari udara maupun darat dalam pertempuran.

💥 Proyek Modernisasi Meriam Cannon Arhanud TNI AD

Program pengembangan tahun ajaran 2025-2027, Prototipe modernisasi meriam kaliber kecil merupakan kolaborasi Triple Helix.

Program ini bertujuan menggantikan alutsista yang rusak dengan sistem full elektrik penggerak mpdern. Dengan menambahkan kemampuan seperti Weapon Control System dan Optronic Camera.

  💥  Garuda MiLiter  

Selasa, 12 Agustus 2025

Drone Tempur Strategis Pertama Indonesia

🛩  Elang Hitam UAV MALE UAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia memasuki jajaran elit pengembang drone MALE dengan keberhasilan uji terbang UAV Elang Hitam buatan dalam negeri—yang dirancang untuk terbang selama 24 jam di ketinggian 20.000 kaki dan membentuk masa depan kekuatan udara regional.

Elang Hitam (Elang Hitam) adalah wahana udara nirawak (UAV) Medium Altitude Long Endurance (MALE) pertama yang dikembangkan di dalam negeri, dirancang untuk menyediakan solusi lokal bagi negara untuk pengawasan strategis, pengintaian, dan operasi drone yang berpotensi bersenjata.

  Pengantar Elang Hitam 
Elang Hitam merupakan lompatan teknologi besar bagi sektor kedirgantaraan dan pertahanan Indonesia.

Diklasifikasikan sebagai UAV kelas MALE, drone ini dirancang untuk terbang di ketinggian hingga 20.000 kaki dan dapat tetap mengudara hingga 24 jam—menempatkannya di kelas operasional yang sama dengan drone internasional canggih seperti MQ-9 Reaper (AS), Bayraktar Akinci (Turki), dan Heron TP (Israel).

Drone ini dirancang untuk mendukung berbagai misi jangka panjang, termasuk pengawasan perbatasan, patroli maritim, pengumpulan intelijen, akuisisi target, dan penilaian kerusakan pertempuran, dengan potensi peningkatan di masa mendatang untuk kemampuan serang menggunakan amunisi berpemandu presisi.

 Siapa yang Membangun Elang Hitam? 
Drone Elang Hitam merupakan hasil kolaborasi nasional multi-lembaga yang dipelopori oleh PT Dirgantara Indonesia (PT Dirgantara Indonesia).

Proyek strategis ini didukung oleh konsorsium pengembangan drone domestik yang meliputi:

👷​ Kementerian Pertahanan Indonesia
👷​ TNI-AU
👷​ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
👷​ Institut Teknologi Bandung (ITB)

Desain, rekayasa, dan integrasi sistem Elang Hitam sepenuhnya dipimpin oleh para insinyur dan institusi Indonesia, menjadikannya tonggak penting dalam kemandirian teknologi nasional.

 Fitur Teknis Utama 
UAV Elang Hitam menggabungkan beberapa subsistem canggih, termasuk:

🛩 Sistem Kontrol Penerbangan Otomatis: Memungkinkan lepas landas, terbang, dan mendarat secara otonom.
🛩 Sistem Komunikasi Jarak Jauh: Memungkinkan komando dan kendali waktu nyata dari stasiun darat dalam jarak yang sangat jauh.
🛩 Desain Arsitektur Terbuka: Mendukung peningkatan modular, interoperabilitas sistem, dan integrasi muatan dan sensor baru.
🛩 Daya Tahan 24 Jam: Cocok untuk misi jangka panjang di darat dan laut.
🛩 Ketinggian Langit-Langit: Hingga 20.000 kaki, memungkinkan pengintaian di ketinggian tinggi sambil tetap berada di luar jangkauan sebagian besar ancaman berbasis darat.

Fitur-fitur ini menjadikan Elang Hitam sebagai platform drone MALE yang kredibel dengan kemampuan strategis yang selaras dengan persyaratan operasional Angkatan Udara Indonesia.

 Di Mana Diuji? 
Uji terbang pertama Elang Hitam yang berhasil dilakukan pada 28 Juli di Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Uji coba ini menandai titik validasi penting bagi program ini, yang menunjukkan kelaikan udara pesawat, kemampuan terbang otonom, dan integrasi sistem—yang semuanya penting untuk sertifikasi dan penerapan di masa mendatang.

 Mengapa Elang Hitam Penting 
Menurut Direktur Pemasaran, Teknologi, dan Pengembangan PT DI, Mohammad Arif Faisal, uji terbang ini lebih dari sekadar tonggak teknis—ini merupakan deklarasi kesiapan Indonesia untuk memproduksi drone strategisnya sendiri.

Ini bukan sekadar uji terbang,” ujar Arif.

Ini bukti bahwa Indonesia kini mampu memproduksi UAV strategis menggunakan teknologi dalam negeri.

Seiring negara-negara di Indo-Pasifik menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang dan mengadopsi doktrin kekuatan udara baru, Elang Hitam memposisikan Indonesia sebagai inovator UAV regional, yang mampu mengoperasikan drone dalam negeri alih-alih bergantung pada impor yang mahal.

Hal ini juga mencerminkan strategi nasional yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada sistem militer asing dan memperkuat kemandirian dalam manufaktur pertahanan.

  Apa Langkah Selanjutnya untuk Elang Hitam? 
Elang Hitam akan menjalani uji terbang lanjutan dan proses sertifikasi yang ketat untuk memvalidasi rangka pesawat, avionik, tautan data, dan sistem kendalinya.

Setelah menyelesaikan fase ini, platform tersebut akan memasuki tahap produksi massal dan layanan operasional di Angkatan Bersenjata Indonesia.

Ke depannya, Indonesia mungkin akan menjajaki varian bersenjata Elang Hitam, yang memposisikannya tidak hanya sebagai alat pengintaian tetapi juga sebagai UCAV (unmanned combat aerial vehicle) berkemampuan tempur untuk misi serangan presisi.

Dengan meningkatnya minat regional terhadap drone MALE yang terjangkau, keberhasilan produksi bahkan dapat membuat Elang Hitam ditawarkan untuk ekspor, terutama ke pasar Asia Tenggara dan Afrika.

Drone Elang Hitam merupakan langkah awal Indonesia ke arena UAV strategis, yang menandakan ambisi bangsa untuk menjadi pemimpin regional dalam sistem tak berawak dan produsen platform kedirgantaraan canggih yang berdaulat.

Keberhasilan pengembangan dan uji terbangnya menandai babak baru dalam kemampuan pertahanan Indonesia—yang ditentukan oleh inovasi dalam negeri, otonomi strategis, dan rekayasa kedirgantaraan yang berwawasan ke depan.

Saat peperangan pesawat tak berawak terus mendefinisikan ulang pertempuran modern, Elang Hitam siap untuk terbang.

 Tren Regional & Konteks Strategis 
Di seluruh Asia Tenggara, hanya Indonesia yang berhasil meluncurkan program pengembangan UAV MALE sejati, dengan penerbangan Elang Hitam menandai tonggak penting.

Negara-negara lain masih menggunakan ukuran UAV taktis atau mengimpor sistem MALE asing. Misalnya, Malaysia membeli drone Anka-S Turki untuk melengkapi pengawasan maritim di Laut Cina Selatan.

Pergerakan menuju program UAV lokal didorong oleh:

  💥 Keharusan keamanan nasional dan keinginan untuk berpatroli di zona maritim yang luas.
  💥 Upaya untuk mengurangi ketergantungan pengadaan asing.
  💥 Kemitraan strategis, seperti perjanjian produksi bersama Indonesia-Turki, yang mendukung transfer teknologi dan industrialisasi pertahanan (Wikipedia)

Negara-negara dengan lembaga litbang akademis sedang mengalami kemajuan di bidang UAV kecil, tetapi peningkatan skala ke sistem kelas MALE membutuhkan kapabilitas industri yang luas, pengembangan avionik, integrasi sistem misi, sertifikasi, dan infrastruktur manufaktur.

 Prospek 
Indonesia memimpin Asia Tenggara dalam kapabilitas drone MALE.

Malaysia dan Thailand masih sangat bergantung pada impor atau memproduksi drone taktis alih-alih platform kelas MALE. Jika Elang Hitam berhasil melalui sertifikasi dan memasuki tahap produksi, Indonesia berpotensi menjadi eksportir UAV MALE pertama di Asia Tenggara, yang akan membantu mempercepat otonomi pertahanan regional.

Lanskap UAV Asia Tenggara sedang berada di titik balik—program drone MALE lokal masih jarang, tetapi keberhasilan Indonesia dengan Elang Hitam dapat membuka jalan bagi upaya pengembangan drone lokal yang lebih mendalam dalam dekade mendatang.

  🛩
DSA  

Kamis, 07 Agustus 2025

PT SAS dan ITB Jalin Kemitraan Strategis Teknologi Pertahanan

  Termasuk “Bajra” ransus peluncur mortir mekatronik “Bajra” kendaraan peluncur mortir mekatronik (indomiliter)

PT SAS Aero Sishan, perusahaan holding industri pertahanan nasional menjalin kemitraan strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk pengembangan beberapa alpalhankam, antara lain sistem kendaraan pengangkut/peluncur mortir “Bajra”, sistem dukungan tempur berbasis Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dipersenjatai (weaponized drone, combatan drone), sistem roket kendali (Folded Fin Aerial Rocket) 70 mm dan 122 mm, serta sistem senjata berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligent).

Kemitraan strategis dituangkan lewat MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang ditandatangani di Bandung pada 31 Juli 2025. Dilansir dari laman resmi ITB, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi Institut Teknologi Bandung (DKST-ITB) berkomitmen untuk menjadi pusat pengembangan inovasi yang terintegrasi, memfasilitasi kolaborasi antara peneliti, dan pelaku industri serta tidak hanya fokus pada penelitian, tetapi juga mendorong pemanfaatan hasil penelitian untuk menciptakan solusi yang relevan bagi industri.

Kerja sama ini sudah dirintis sejak 2024 dan selama lima tahun ke depan PT SAS dan ITB berkomitmen mengerahkan segala sumber daya untuk riset dan pengembangan alpalhankam sesuai kesepakatan. Melalui kerja sama ini diharapkan dapat membantu program hilirisasi yang sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Kami percaya bahwa kolaborasi dengan institusi akademik seperti ITB adalah langkah strategis untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional, khususnya di sektor strategis. Kemitraan ini bukan hanya soal transfer teknologi, tapi juga tentang membangun kemandirian melalui riset dan pengembangan bersama, serta menyiapkan talenta unggul yang akan menjadi tulang punggung industri pertahanan Indonesia di masa depan,” ujar Rasyid Ridha, Direktur Utama PT SAS Aero Sishan.

PT SAS sebelum ini telah terlibat aktif dalam sejumlah proyek strategis bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI, termasuk pengembangan rocket guided launcher 70 mm.

Selain itu, PT SAS juga berkontribusi dalam Konsorsium Roket Nasional untuk pengembangan roket balistik RHan-122B. Keterlibatan ini mencerminkan peran PT SAS sebagai mitra teknologi dalam pengembangan sistem persenjataan dalam negeri, khususnya pada aspek sistem peluncur.

Kerja sama terbaru dengan Institut Teknologi Bandung melalui Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST-ITB) menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional. Dengan rekam jejak DKST-ITB dalam mendorong riset terapan dan hilirisasi teknologi, kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan solusi pertahanan berbasis riset serta memperkuat kemandirian teknologi dalam sektor pertahanan.

Dari beberapa produk yang disebut dalam kemitraan strategis, salah satunya adalah kendaraan pengangkut mortir “Bajra”, yang sepintas merupakan mortir swagerak (self propelled) yang dipasang pada platform kendaraan 4×4. Kendaraan ini tidak hanya membawa amunisi, melainkan juga dilengkapi peluncur mortir mekatronik kaliber 81 atau 120 mm di bagian belakang. (Haryo Adjie)

 💥 
indomiliter  

Minggu, 03 Agustus 2025

Drone Elang Hitam Sukses Terbang 24 Jam di 20 Ribu Kaki

🛩  Ambisi kuat Indonesia kuasai drone MALE Drone Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan teknologi pertahanan. Pesawat tanpa awak Elang Hitam (Black Eagle) buatan anak bangsa sukses menjalani uji terbang di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, pada Senin (28/7/2025).

Elang Hitam merupakan drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang dirancang oleh konsorsium nasional, dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai integrator utama. Dalam uji terbang tersebut, drone berhasil mengudara selama 24 jam nonstop dan mampu terbang di ketinggian maksimal 20 ribu kaki, menunjukkan performa yang sesuai dengan standar internasional.

"Uji terbang ini adalah bukti bahwa Indonesia menguasai teknologi kunci dalam pengembangan drone MALE. Termasuk dalam hal desain sistem, kendali terbang otomatis, hingga komunikasi jarak jauh," ujar Mohammad Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi, dan Pengembangan PTDI, dikutip dari detikJabar.

 Spesifikasi Elang Hitam 
Dilansir dari berbagai sumber, drone Elang Hitam memiliki spesifikasi teknis yang mumpuni untuk mendukung misi pengawasan dan pertahanan. Drone jenis MALE (Medium Altitude Long Endurance) ini memiliki dimensi panjang 8,3 meter, tinggi 1,02 meter, dan bentang sayap 16 meter.

Berat kosongnya mencapai 575 kg, dengan kapasitas muatan hingga 300 kg, berat bahan bakar 420 kg, dan berat maksimum saat lepas landas 1.115 kg. Ditenagai mesin Rotax 915 iS berkekuatan 110-150 horsepower dengan konfigurasi empat silinder, turbocharged, dan baling-baling tipe pusher, Elang Hitam mampu mencapai ketinggian jelajah 3.000-5.000 meter (maksimum 7.200 meter), kecepatan maksimum 235 km/jam, dan kecepatan jelajah sekitar 225 km/jam.

Drone ini memiliki daya tahan terbang hingga 24-30 jam nonstop dengan radius operasi 250 km, membutuhkan landasan pacu 700 meter untuk lepas landas dan 500 meter untuk mendarat. Dilengkapi sistem kendali terbang otomatis, ground control station (GCS), dan teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) berbasis satelit, Elang Hitam juga mendukung arsitektur modular dengan muatan seperti kamera, radar, dan potensi misil udara-ke-permukaan untuk misi militer.

 Siap Jalankan Misi Militer dan Kemanusiaan 
Elang Hitam dikembangkan guna mendukung berbagai misi strategis, mulai dari pengawasan wilayah perbatasan hingga pengintaian medan musuh. Selain fungsi militer, drone ini juga dirancang untuk misi kemanusiaan seperti pemantauan bencana alam dan pencarian korban di area sulit dijangkau.

Dalam sesi uji coba, Elang Hitam didampingi oleh pesawat Kodiak milik PTDI untuk mengevaluasi daya jelajah dan stabilitas kendali otomatis yang dimilikinya. Uji coba ini dinilai berhasil dan membuka jalan bagi produksi massal serta operasional penuh dalam waktu dekat.

 Dari Gagal Terbang ke Sukses Mengudara 
Proyek pengembangan Elang Hitam telah dimulai sejak 2015. Drone ini dikembangkan melalui kerja sama konsorsium yang mencakup berbagai institusi strategis, antara lain; PTDI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini tergabung dalam BRIN, Kementerian Pertahanan RI, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), PT Len Industri (Persero) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, proyek ini sempat menghadapi tantangan serius. Pada 2021, uji terbang Elang Hitam mengalami kegagalan. Imbasnya, pada 2020–2023 fokus pengembangan sempat dialihkan oleh BRIN dari sektor militer ke sipil karena kendala teknis dan prioritas anggaran.

Kebangkitan proyek ini dimulai lagi pasca Rapat Pleno KKIP pada Oktober 2024, yang memutuskan kelanjutan pengembangan drone untuk kebutuhan militer, dengan PTDI mengambil peran sentral sebagai pemimpin integrasi.

 Indonesia Makin Mandiri dalam Teknologi Pertahanan 
Keberhasilan Elang Hitam menandai kemajuan signifikan Indonesia dalam industri pertahanan nasional. Drone ini memperkuat posisi Indonesia di jajaran negara yang mampu mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak secara mandiri.

"Ke depan, kami berharap Elang Hitam bisa memenuhi kebutuhan pengintaian dan intelijen TNI, sekaligus menjadi produk ekspor unggulan Indonesia," tutup Arif.

Dengan suksesnya uji terbang ini, Elang Hitam membuka babak baru dalam sejarah kemandirian pertahanan Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan anak bangsa tak kalah dari negara maju lainnya. (afr/afr)

 Berikut video dari Youtube : 


  🛩
detik  

Selasa, 29 Juli 2025

Elang Hitam Terbang Perdana

🛩  Ambisi kuat Indonesia kuasai drone MALE Drone Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Sebuah drone tempur buatan dalam negeri akhirnya mengudara.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi melaksanakan uji terbang pesawat tanpa awak jenis Medium Altitude Long Endurance (PTTA MALE) bernama Elang Hitam di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Senin, 28 Juli 2025.

Uji coba ini bukan sekadar manuver teknis, melainkan penanda ambisi Indonesia untuk mandiri dalam teknologi strategis pertahanan udara.

Uji terbang dilakukan dengan pengawalan pesawat Kodiak milik PTDI yang bertindak sebagai chaser aircraft, guna memantau kinerja dan menjamin aspek keselamatan. Bagi PTDI, ini adalah fase penting dari proses panjang menuju sertifikasi resmi dan pengakuan sistem udara nirawak nasional.

Proyek Elang Hitam bukan kerja satu badan. Ia dibangun lewat skema konsorsium nasional yang melibatkan sejumlah institusi strategis seperti Kementerian Pertahanan RI, TNI AU, PT Len Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta BRIN yang membawahi eks-BPPT dan LAPAN.

PTDI sendiri bertindak sebagai lead integrator—pengendali utama yang memimpin seluruh tahapan mulai dari desain konseptual, prototyping, hingga pengujian.

Ini bukan sekadar uji terbang, tapi pembuktian penguasaan teknologi kunci, termasuk sistem kendali otomatis dan komunikasi jarak jauh yang jadi syarat utama PTTA kelas MALE,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI di kutip Selasa (29/7/2025).

Konsep ini akan menjadi fondasi pengembangan drone strategis ke depan.” imbuhnya.

Sebagai drone MALE pertama buatan Indonesia dengan bobot lebih dari satu ton, Elang Hitam dirancang mampu mengudara selama 24 jam pada ketinggian 20.000 kaki.

Arsitektur sistemnya modular dan terbuka, memungkinkan adaptasi misi, baik militer seperti pengintaian dan pengawasan perbatasan, maupun sipil seperti mitigasi bencana dan patroli maritim.

Dengan teknologi yang dikembangkan secara independen, Elang Hitam tak sekadar menjadi produk, tetapi simbol transisi Indonesia dari pengguna teknologi ke negara perancang. Dalam kancah global, hanya segelintir negara—seperti Amerika Serikat, Turki, dan India—yang mampu merancang dan memproduksi drone MALE sendiri.

Langkah ini juga menindaklanjuti arahan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang menekankan pentingnya membangun ekosistem pertahanan nasional berbasis kolaborasi antarlembaga.

Elang Hitam, dengan segala kerumitannya, menjadi cerminan potensi ekosistem tersebut jika dikelola secara berkelanjutan.

Pesawat ini bukan akhir, tapi awal dari lompatan teknologi kita. Elang Hitam adalah fondasi industri drone strategis Indonesia,” tegas Arif Faisal.

Jika sukses melewati semua tahapan sertifikasi, Indonesia akan resmi bergabung ke dalam barisan elite negara produsen drone MALE.

Tantangannya kini bukan lagi membangun, melainkan memastikan keberlanjutan: dari lini produksi, pembiayaan, hingga keberpihakan kebijakan negara.***

 Berikut video dari Youtube : 


  🛩 Bandung Oke  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...