Rencana pembelian tank Leopard 2 dari Jerman disikapi serius oleh
Indonesia. Pemerintah Jerman mengakui, akhir Juli lalu Jakarta telah
menyampaikan permohonan resmi untuk mengirimkan empat unit tank Leopard
2A4 yang diproduksi tahun 80-an ke Indonesia untuk diujicoba. Informasi
tersebut berasal dari jawaban Kementrian Pertahanan atas permintaan
parlemen Jerman, Bundestag.
Selain itu Indonesia juga meminta Berlin mengirimkan empat unit
kendaraan tempur infanteri jenis Marder 1A3. Pemerintah Jerman mengaku
pihaknya hingga kini belum bisa memberikan keputusan atas permintaan
tersebut.
Hingga kini Indonesia juga belum mengajukan penawaran resmi terkait
pengadaan sistem persenjataan tersebut. "Kami belum menerima penawaran
apapun," kata Christian Schmidt, Sekretaris Negara di Kementrian
Pertahanan.
Rencana Indonesia memodernisasi alat tempurnya dan mendatangkan 100
unit tank bekas jenis Leopard 2 sudah disampaikan ke pemerintah Jerman
secara lisan Januari lalu. Niat ini kemudian dibahas secara informal
saat kunjungan Kanselir Angela Merkel, awal Juli ke Jakarta. Merkel
sendiri tidak mengakui adanya pembahasan terkait rencana tersebut.
Leopard 2A4 yang dipesan Indonesia untuk ujicoba itu diproduksi tahun
1984 dan sudah tidak digunakan lagi oleh Bundeswehr. Angkatan darat
Jerman itu kini memakai model terbaru Leopard 2A5 dan A6 sebanyak 350
unit.
Kementrian Pertahanan mengkalim, pihaknya memang masih menyimpan
ratusan unit Leopard 2A4, namun sebagian besar akan dikembangkan menjadi
jenis persenjataan baru seperti tank pembersih ranjau atau tank pembuat
jembatan (AVLB). Selain itu sejumlah unit Leopard 2A4 yang berasal dari
tahun produksi yang sama sudah atau akan dipinjamkan ke negara-negara
tetangga Eropa. Pemerintah Indonesia terkesan belum mendapat informasi
tersebut.
 |
Marder 1A3 |
Sebaliknya sebanyak 409 unit Marder 1A3 masih dugunakan Bundeswehr saat
ini di Afghanistan. Dalam waktu dekat kendaraan tempur infanteri itu
akan digantikan dengan tipe Puma yang lebih modern.
Sebab itu pula rekomendasi terkait pembelian tank Leopard 2A4 yang
dikeluarkan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu
terlihat lebih realistis, meski bukan tanpa cela. DPR antara lain
meminta pemerintah untuk membeli tank baru dari Krauss Maffei-Wegmann
melalui pemerintah Jerman. Selain itu Senayan juga mendesak agar
pemerintah mengajukan klausul transfer teknologi dalam kontrak
pembelian.
Di parlemen Jerman, Bundestag, mulai muncul penolakan terhadap rencana
pembelian Leopard oleh Indonesia. Partai Hijau bahkan meminta pemerintah
untuk menolak permohonan Indonesia mengirimkan empat unit tank untuk
ujicoba yang diajukan 23 Juli lalu. "Sekali diizinkan, pemerintah tidak
akan mungkin menolak pembelian lanjutan dalam jumlah besar oleh
Indonesia," kata Katja Keul, Ketua Fraksi Partai Hijau di Bundestag.
Ekspor Leopard 2 ke Indonesia menjadi sumber kontroversi di Jerman
lantaran sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang diduga dilakukan
militer Indonesia (TNI). Sejumlah anggota parlemen mengkhawatirkan,
tank-tank tersebut akan dipakai untuk memberantas pemberontakan di
Papua. "Kalau pemerintah Jerman ingin mematuhi komitmennya, maka mereka
harus menolak ekspor senjata ke Indonesia, " tambah Keul.
Politikus Partai Hijau itu juga menekankan, Jerman tidak dapat
mengekspor senjata kepada negara ketiga di luar anggota NATO dan Uni
Eropa, selama tidak ada alasan strategis. "Aturan pengecualian seperti
itu tidak berlaku dalam kasus ini," katanya.
Kekhawatiran tersebut sempat ditampik oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono saat kunjungan Merkel juli lalu. Yudhoyono dalam sebuah jumpa
pers menegaskan, senjata yang akan dibeli "tidak akan kami gunakan untuk
menembaki rakyat kami." Menurut Yudhoyono, Indonesia sudah tidak
meremajakan sistem alutistanya sejak 20 tahun terakhir, "kami berhak
membangun kekuatan pertahanan minimal," tukasnya.(rzn//dpad/afpd)