Sabtu, 23 Mei 2015

Latihan Bersama KRI SIM dengan Kapal Perang Brasil BRS APA P-121

Laut Meditterania, 20 Mei 2015, KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 adalah salah satu kapal perang kebanggaan Indonesia. Mengemban tugasnya sebagai peace keeper dibawah kibaran bendera United Nations yang tergabung dalam gugus tugas Maritime Task Force (MTF) Konga XXVIII-G/ UNIFIL Lebanon pada pertengahan November 2014 memperoleh kesempatan melaksanakan latihan bersama dengan kapal perang Brasil BRS APA P-121.

BRS APA P-121 adalah kapal perang yang bergabung dalam Gugus Tugas MTF menggantikan BRS Constituicao F-42 beberapa minggu yang lalu dan merupakan kapal jenis Patroli yang mempunyai panjang dan lebar hampir sama dengan KRI SIM-367. Didalam BRS APA P-121 ini onboard MTF Commander Rear Admiral (RADM) Flavio Macedo Brasil.
Latihan yang dilaksanakan ialah serial Miscellaneous Exercise 805 (Miscex 805) Mail Bag Transfer yang dilaksanakan selama kurang lebih dua jam di Area of Maritime Operation (AMO). Latihan ini bertujuan agar unsur – unsur yang sedang melaksanakan operasi di laut mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pengiriman logistik atau barang lainnya antar kapal pada saat pelaksanaan operasi. Sebelum pelaksanaan latihan, kegiatan diawali oleh briefing pelaku oleh Kadepops KRI SIM-367 Mayor Laut (P) Irwin Kurniady dengan penekanan pada keseriusan, ketepatan dan kecepatan bertindak dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab masing – masing dengan tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan.

Guna mendukung kepentingan latihan, dokumentasi (Photo Exercise / Photex) dan Identification Surveillance and Recoqnition (ISR), menjelang pelaksanaan latihan KRI SIM-367 terlebih dahulu menerbangkan BO-105 NV-410 dengan pilot Kapten Laut (P) Pranatha A. Rani dan co-pilot Lettu Laut (P) Alkautsar Nisar.
Kegiatan latihan dilaksanakan dalam dua run. Run pertama dimulai ketika KRI SIM-367 melaksanakan manuver pendekatan untuk menempati posisi di stasiun lambung kiri BRS Apa P-121, disusul penembakan gun line dari KRI SIM-367, pengiriman haul line, pertukaran beberapa barang yang dimasukkan dalam “mail bag”, melepas haul line dan membentuk kembali formasi garis tunggal. Pada run kedua, BRS Apa P-121 melaksanakan manuver pendekatan dari lambung kanan KRI SIM-367 untuk kemudian melakukan rentetan kegiatan yang sama. Dalam latihan ini “tim Mailbag Transfer KRI SIM-367” mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan lancar sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Latihan diakhiri dengan dengan breakaway procedure dimana kedua kapal bergerak saling menjauh pada waktu yang bersamaan menggunakan sudut kemudi yang sudah ditentukan untuk kemudian menempati kembali zona patroli masing – masing di AMO. (PPTNI/ABP)



  Pribuminews  

Indonesia Should Play a Role in Yemen Conflict

Jakarta is well placed to mediate a resolution.[European Commission DG Echo]

Saudi warplanes continue pounding Houthi strongholds across Yemen. Even though the Saudis have warned civilians to leave these areas, civil casualties continue to rise. By mid May, it was reported that at least 1527 people had died, 646 of them civilians.

After two months, the conflict shows no sign of ending. Saudi-led attacks have not been able to repel the Houthi forces. Ahead of another bid for talks, civilian casualties are only like to rise. Calls for an immediate ceasefire voiced by the Iranians, suspected of supporting the Houthi movement, have been ignored by Saudi Arabia and its coalition.

Efforts to reach a peaceful resolution are likely to be hampered by the fact that Saudi Arabia has the support of the majority of Arab countries, including Qatar, the United Arab Emirates, Kuwait, Bahrain, Sudan, Jordan, Morocco, and Egypt. U.S. support is another factor behind the lack of international pressure. Washington and other Western countries appear unlikely to take an active role in peace negotiations before Saudi Arabia’s mission has been completed.

In the meantime, civilians will continue to pay the price.

 A Role for Indonesia? 


Given competing interests, few expect that the United States, the West, or even Arab countries will be able to do much to achieve a peaceful resolution anytime soon. This is prompting some parties to look for alternatives, even among those without experience mediating conflicts in the Middle East. One potential player is Indonesia. It has been asked by the Organisation of Islamic Countries (OIC) and several other parties to play a more active role in ending the conflict in Yemen. But can and should Indonesia fulfill this responsibility? In fact, Jakarta could play an important mediating role in the ongoing Yemen conflict, for several reasons.

First, as the world’s largest Muslim populated country, Indonesia enjoys positive diplomatic ties with all countries involved in the conflict, especially Iran, Saudi Arabia, and Yemen. This would see Jakarta well placed for involvement in conflict mediation.

Second, although Indonesia is geographically remove from the conflict, it wants peace in both Saudi Arabia and Yemen. There are thousands of Indonesian students in Yemen, and approximately 221,000 Indonesians visit Saudi Arabia on pilgrimage each year. These numbers should motivate Indonesia to play a greater role in ending the conflict in Yemen.

Third, Indonesia is still widely seen as a moderate Muslim country. This factor is important, not only because it puts the West at greater ease, but also because the conflict in Yemen is inseparable from the rivalry between Sunni and Shia. Arab countries, the majority of them are Sunni, worry that the advances of the Shia Houthi movement could threaten their security. Jakarta could use its moderate credentials to mediate the two sides.

GIven this potential, Indonesia should respond to the calls for it play a more active role in mediating the conflict. There is no need for Jakarta to wait for the UN. It could take advantage of the OIC to immediately draft peace resolutions. Success on this occasion could open the door for Indonesia to play a more active role in the future, not just in Yemen, but also in the wider Middle East.

Muhammad Zulfikar Rakhmat is a postgraduate student majoring International Politics at the University of Manchester. Media Wahyudi Askar is a postgraduate student majoring International Development, Public Policy and Management at the University of Manchester


 ★ thediplomat  

[World] Mi-26, Helikopter Pengangkut Segalanya

Rusia berencanya merancang tujuh hingga delapan buah helikopter Mi-26 tahun ini, dengan sejumlah modifikasi, termasuk untuk para pembeli asing. RBTH telah memilih tiga benda paling luar biasa yang pernah diangkut oleh helikopter Mi-26 sepanjang pengabdiannya. http://nl.media.rbth.ru/web/id-rbth/images/2015-05/big/RIAN_02621702.HR_468.jpg[Ria Novosti / Vladimir Astapkovich] 

Perusahaan pengembang Mi-26 menyebutkan, permintaan untuk helikopter kargo kelas berat di pasar helikopter global terus meningkat. Meski telah berusia 30 tahun, Mi-26 masih menjadi bintang di kalangan helikopter kargo hingga saat ini. Hal itu dikarenakan ukurannya yang mengesankan dan kemampuan Mi-26 mengangkut berbagai macam benda raksasa.

 Chinook 

"Sapi terbang", julukan yang diberikan para pilot untuk helikopter Mi-26, telah memecahkan banyak rekor. Helikopter ini sudah pernah mengudara di Somalia, Kamboja, Indonesia, memadamkan api di Yunani, bahkan digunakan di bekas wilayah Yugoslavia sebagai bagian dari operasi PBB dalam menjaga perdamaian.

Mi-26 bahkan pernah mengangkut pesawat angkatan bersenjata Amerika yang rusak. Pada 2002, NATO meminta perusahaan aviasi Rusia Vertical-T untuk mengangkut helikopter transportasi militer mereka, CH-47 Chinook, yang ditembak jatuh di pegunungan Afganistan.

Untuk menekan jumlah kerugian militer, mereka memutuskan untuk menarik helikopter tersebut dari medan tempur dan memperbaikinya. Meski perbaikan terhitung cukup mahal, secara statistik Amerika tak perlu mengategorikan helikopter tersebut sebagai 'bangkai korban tembakan'. Evakuasi helikopter rusak tersebut merupakan tugas yang cukup sulit. Amerika telah mencoba mengangkat helikopter itu menggunakan helikopter Chinook lain, namun gagal. Akhirnya mereka memutuskan meminta bantuan dari Rusia.

Pilot Rusia menghabiskan waktu tiga jam untuk menghubungkan kabel-kabel pengangkut ke Chinook, kemudian terbang sejauh 400 kilometer menuju markas pasukan udara AS di Bagram. Sepanjang perjalanan, Mi-26 melakukan dua kali pendaratan untuk pengisian bahan bakar.

 Tu-134 

Pada 2 Februari 2012, Mi-26 memecahkan rekor dengan mengangkut pesawat jet terbesar dalam sejarah Soviet, Tu-134. Pesawat tersebut hendak dikirim dari Sankt Petersburg ke lokasi uji coba di Nizhny Novgorod untuk digunakan oleh pasukan khusus dalam operasi antiteroris.

Agar bisa diangkut, "Whistler" (sebutan untuk Tu-134 karena karakteristik suara mesinnya) harus melepas mesin pesawat dan sayapnya. Sayap Tu-134 sendiri memiliki panjang 30 meter dan berat keseluruhan badan pesawat mencapai lebih dari 40 ton. Kargo seberat itu sangat berbahaya jika diangkut di luar helikopter, karena hembusan angin yang menerpa pesawat dapat mengakibatkan helikopter meluncur ke bawah. Mi-26 berhasil mengangkat Tu-134, akan tetapi helikopter harus terbang mundur karena mereka tak bisa membalikan badan pesawat Tu-134 melawan angin. Untungnya, para pilot berhasil memperbaiki posisi pesawat setelah beberapa saat dan pengangkutan pesawat berjalan sesuai rencana. Selama operasi berlangsung, pihak berwenang menutup jalan tol Sankt Petersburg-Pskov demi keselamatan para pengemudi. Para pengguna jalan tol yang bermacet ria berkesempatan menyaksikan duet luar biasa tersebut, namun mereka tak bisa menebak siapa mengangkut apa, karena Mi-26, berdasarkan ukurannya, jauh lebih sederhana dibanding Tu-134.

 Mi-26 

Bulan ini, Mi-26T melakukan operasi transportasi yang unik, yakni mengangkut 'kembarannya' sendiri. Helikopter tersebut mengangkut badan pesaswat Mi-26 dengan model yang sama yang berbobot 14 ton. Helikopter tersebut harus dikirim dari Ioshkar Ola ke Rostov untuk perbaikan. Tak ada alternatif lain untuk mengirim tubuh raksasa Mi-26, kecuali menggunakan sang "sapi terbang", kaerna ia adalah satu-satunya pesawat yang mampu mengangkut kargo sebesar dan seberat itu.

"Operasi pengiriman badan pesawat itu memakan waktu sembilan hari," terang Komandan Rostvertol-Avia Valeriya Chumakova dan layanan pers Russian Helicopters. "Rute yang dilalui ialah Cheboksary, Ulyanovsk, Saransk, Penza, Saratov, Volgograd. Suhu sepanjang rute tersebut bervariasi cukup ekstrem, melalui zona musim panas hingga musim dingin. Namun kami tak menemui kesulitan. Saya sudah lebih dari 15 tahun menangani Mi-26T dan bisa menyatakan dengan yakin bahwa pesawat ini, tak seperti pesawat lain, memang dirancang untuk operasi semacam ini."


  RBTH  

Temukan alat sadap Israel, personel TNI AD diganjar kenaikan pangkat

Ilustrasi [andie_am04]

Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan penghargaan kepada 20 prajurit TNI AD yang berprestasi berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) pada acara Apel Dansat TNI AD Terpusat TA. 2015. Mereka adalah para prajurit yang melaksanakan tugas dengan sangat baik.

"Semoga pemberian reward ini, dapat meningkatkan motivasi dan semangat pengabdian para perwira dan seluruh prajurit untuk selalu berprestasi dengan lebih baik lagi," kata Jenderal Gatot seperti dikutip dari website Kopassus TNI AD.

Prajurit yang dapat Prestasi kenaikan pangkat luar biasa adalah:

1. Personel Kostrad (1 anggota Yon 328) menemukan alat sadap Israel di perbatasan lebanon.

2. Personel kodam IM (2 orang Denintel kodam IM) gugur dalam monitor kelompok bersenjata di Aceh Utara.

3. Personel Kopassus atas nama Serka Sutrisno (Grup- 2 Kopassus) menurunkan tokoh di Papua Lambert Pekikir dan Militer Murib dan 19 pengikutnya. Selain itu tiga orang dipimpin Sertu Slamet (Sat- 81 dan Grup-2 Kopassus) melumpuhkan Timika Wonda dan mendapatkan 2 pucuk senjata.

4. Personel kodam 1/ BB (babinsa) berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat dari tahun 2011 melalui kelompok petani delam pertahanan pangan.

5. Personel Kodam II/Sriwijaya (babinsa) berhasil melumpuhkan perampok bersenjata api tanpa memperdulikan keselamatan dirinya.

6. Personel Kodam IV/ Diponegoro berhasil menggagalkan pengolahan pupuk subsidi 744 ton menjadi non subsidi dan dipasarkan di luar jawa.

7. Personel Kodam XIV Patimura, babinsa yang berhasil mengamankan 8 pucuk senjata pabrikan dari kelompok masyarakat.

8. Personel Kodam XVII/ Cendrawasih berhasil melumpuhkan Timika Wonda.

9. Personel kodam XVII korem 713, berhasil kontak tembak di mulia dan melumpuhkan tokoh OPM Alusius Wonda dan mendapat 1 pucuk senjata. [ian]

  merdeka  

Jumat, 22 Mei 2015

[World] Sistem Misil Antipesawat Terbaru Rusia Buk-M3

Diklaim mengungguli rudal S-300 Ilustrasi Buk M3 [sohanews2]

Sistem pertahanan misil terbaru Rusia Buk-M3 baru selesai melalui tahap uji coba negara. Jangkauan sistem misil antipesawat tersebut mencapai 70 kilometer, 25 kilometer lebih jauh dibanding pendahulunya. Selain itu, dalam sejumlah parameter sistem baru ini mengungguli sistem misil pertahanan udara jarak jauh S-300, demikian disampaikan narasumber dari Kementerian Pertahanan Rusia pada TASS, Rabu (20/5).

“Hasil uji coba negara mengindikasikan bahwa sejumlah karakteristik sistem Buk-3M telah memenuhi persyaratan teknis dan setara dengan S-300, bahkan dalam beberapa parameter sistem ini lebih unggul dari S-300,” kata sang narasumber.

Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahananan Rusia, kemampuan Buk-3M dalam menghancurkan target mencapai 0,9999, dan hal tersebut tak dimiliki oleh S-300. “Artinya, sistem ini pasti mampu menghancurkan target dengan satu misil,” tutur narasumber dari Kementerian Pertahanan.

Sistem Buk-M3 rencananya akan mulai dioperasikan sebelum akhir 2015, dan dikirim ke pasukan pada 2016. Kompleks sistem pertahanan terbaru ini akan melanjutkan lini sistem pertahanan udara Buk.

  RBTH  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...