Kamis, 02 April 2015

[World] Kapal Selam Misil Balistik Rusia Dikerahkan Lakukan Tugas Siaga Tempur

Menurut keterangan Kepala Komandan Angkatan Laut Rusia Viktor Chirkov, pengerahan kapal selam Rusia untuk tugas operasional telah ditingkatkan 1,5 kali lipat dibanding 2013. Kapal selam (ilustrasi)Kapal selam misil balistik memainkan peran penting dalam pertahanan militer sebuah negara. Foto: PhotoXPress "Kami mengerahkan kapal selam misil balistik dan kapal selam nuklir multifungsi di Samudra Pasifik untuk menjamin keamanan nasional kami. Pada periode Januari 2014 hingga Maret 2015, jumlah kapal selam yang ditugaskan untuk misi ini meningkat hampir 50 persen dibanding tahun 2013," tutur Chirkov.

"Jumlah kapal selam yang disiagakan oleh Rusia memang cenderung meningkat, karena pada 2014 dan awal 2015 terdapat lebih banyak latihan militer," kata pemimpin All-Russia Fleet Support Movement Kapten Mikhail Nenashev pada surat kabar Vzglyad.Brasio.

Menurut Kepala Submarine Sailors' Club Kapten Igor Kurdin, pernyataan Chirkov ditujukan agar Barat menyadari kekuatan pertahanan maritim Rusia. "Calon musuh kami memantau hal-hal semacam ini dengan jeli. Jika kepala komandan menyampaikan sebuah pernyataan bohong, tak butuh waktu lama bagi Psaki (juru bicara Gedung Putih -red.) untuk mengoarkan, 'Komandan militer Rusia memberi informasi yang menyesatkan. Mereka tak punya kapal sebanyak itu, dan mereka sebenarnya tak bisa apa-apa'. Atau mungkin ia akan tetap diam. Tapi yang jelas, percayalah bahwa mereka memantau kita dengan seksama," kata Kurdin pada Vzglyad.

Kapal selam misil balistik memainkan peran penting dalam pertahanan militer sebuah negara. Tak seperti silo (gudang bawah tanah) peluru kendali atau pesawat pembom, kapal selam secara praktikal tak terlihat selama mereka melakukan tugas siaga tempur. Operasional kapal tersebut akan sangat menentukan keamanan militer nasional.

Angkatan Laut Rusia saat ini memiliki 15 kapal selam misil balistik: sepuluh buah kapal ditempatkan di Armada Utara dan lima buah di Armada Pasifik. Dari jumlah tersebut, Armada Utara memiliki tujuh kapal yang beroperasi, terdiri dari satu kapal selam proyek 955 Borey (Angin Utara), satu kapal proyek 941 Akula (Hiu), dan lima proyek 667BDRM Dolphin (Lumba-lumba). Sementara, Armada Pasifik memiliki dua buah kapal selam proyek 955 Borey dan tiga kapal selam proyek 667BDR Kalmar (Cumi-cumi) yang sebentar lagi akan memasuki masa purnabakti (salah satu dari kapal tersebut saat ini sedang diperbaiki). Kesimpulannya, ada empat kapal selam siap tempur yang dimiliki Armada Pasifik.

Secara keseluruhan, Angkatan Laut Rusia memiliki 11 kapal selam misil balistik yang siap bertempur.

Kurdin mengenang masa ketika Rusia tak memiliki satu pun kapal selam yang berlayar di laut, namun tetap memiliki kapal yang bersiaga di dermaga dekat markas mereka. "Mereka siap menyerang. Kita dapat menembakan misil bahkan ketika masih berlabuh. Namun, ada masa ketika tak ada kapal yang beroperasi di laut karena rendahnya kemampuan operasional kapal, senjata, atau kru," kata Kurdin.

Sementara, Mikhail Nenashev menyebutkan, ketika masa-masa sulit di tahun 1990-an sekalipun, Rusia selalu memiliki setidaknya satu kapal selam balistik yang melakukan tugas siaga tempur di laut.

Kini, Rusia mampu menempatkan setidaknya dua kapal selam misil balistik di laut sepanjang waktu, masing-masing satu dari Armada Utara dan Armada Pasifik. Saat menghadapi ancaman serangan, Rusia akan menempatkan tiga kapal selam dari tiap armada untuk jangka panjang. "Dulu AL kami pernah dihadapkan pada kesulitan ekonomi dan keuangan. Tapi kini, Rusia dapat menempatkan kapal selam nuklir untuk menjaga keamanan nasional. Mereka akan berada di laut selama dibutuhkan, demi pertahanan dan keamanan Rusia," kata Nenashev menyimpulkan.

  RBTH  

[World] Akhiri Embargo ke Mesir, AS Kirim Pesawat F-16

https://img.okezone.com/content/2015/04/01/18/1127555/akhiri-embargo-ke-mesir-as-kirim-20-jet-f-16-Gp6hbBxTFD.jpgPresiden Amerika Serikat, Barack Obama (Foto:Reuters)

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memutuskan untuk mengakhiri embargo senjata kepada Mesir yang sudah berlangsung dua tahun.

Sebagai langkah nyatanya, AS akan mengirimkan 12 jet tempur jenis F-16, 20 Misil Boeing Harpoon, dan 125 tank jenis Abrams.

“Presiden Obama telah mengakhiri embargo senjata ke Mesir, ini adalah bagian dari kepentingan AS di Mesir,”ujar Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional (National Security Council/NSC), Bernadette Meehan, seperti dilansir Thomas Reuters, Rabu (1/4/2015).

AS pernah mengembargo Mesir pada masa pemerintahan Presiden Morsi sebagai bentuk protes atas kekacauan politik di Mesir.

Presiden Obama telah menelefon Presiden Mesir Abdel Fattah al Sisi pada Selasa 31 Maret untuk membicarakan situasi terakhir di Timur Tengah.

Di masa Presiden Sisi, Mesir kini menjadi sekutu utama AS dalam memerangi aksi terorisme khususnya di wilayah Timur Tengah. Mesir menjadi negara yang mendukung serangan udara yang dipimpin oleh Arab Saudi di Yaman.

Presiden Obama juga menjanjikan akan memberikan bantuan senilai USD1,3 miliar (sekira Rp16,9 triliun) kepada Mesir untuk melawan aksi terorisme di sana.(ful)

  Okezone  

Operasi Woyla, 3 Menit paling menegangkan dalam sejarah Kopassus

Berita Pembajakan di Media [okezone]

"Komando! Komado! Semua tiarap! Tiarap!"

Teriakan itu mengejutkan semua orang di dalam kabin pesawat DC-9. Jam menunjukkan pukul 02.45 waktu Bangkok. Secara cepat tim penyergap antiteror menerobos masuk pesawat.

Tembakan senapan serbu semiotomatis terdengar menyalak beberapa kali. Drama penyanderaan pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Thailand itu berakhir dalam waktu tiga menit.

Aksi pembebasan sandera Garuda Woyla melambungkan nama pasukan khusus Indonesia. Hari ini tepat 34 tahun peristiwa itu berlangsung.

Drama penyanderaan pesawat Garuda GA-206 'Woyla' rute Jakarta-Medan itu dimulai Sabtu 28 Maret 1981. Setelah transit di Palembang, tiba-tiba seorang pria berpistol memasuki ruangan kokpit.

Kapten Pilot Herman Rante dipaksa mengalihkan penerbangan ke Colombo, Srilanka. Namun Herman menjelaskan bahan bakar pesawat tak cukup. Akhirnya pesawat mendarat di Penang, lalu kemudian menuju Bandara Don Muang, Bangkok.

Pihak intelijen Indonesia menyebut kelima orang pembajak berasal dari kelompok Komando Jihad. Mereka adalah Zulfikar T Djohan Mirza, Sofyan Effendy, Wendy Mohammad Zein, Mahrizal dan Mulyono.

Pembajak menuntut pemerintah Indonesia membebaskan 80 anggota Komando Jihad yang dipenjara karena beberapa kasus. Antara lain penyerangan Mapolsek Pasir Kaliki, Teror Warman di Raja Paloh dan aksi lainnya sepanjang 1978-1980. Selain itu, mereka juga meminta uang USD 1,5 juta.

Presiden Soeharto menjawab tuntutan itu dengan aksi militer. Asintel Panglima ABRI Mayjen Benny Moerdani menjelaskan keberhasilan operasi militer adalah 50:50.

Masalahnya saat itu seluruh kekuatan ABRI sedang menggelar latihan gabungan di Ambon. Begitu juga dengan para prajurit Kopasandha. Para pasukan yang sudah melakukan latihan antiteror malah sedang mengikuti Latgab di Ambon.

Perwira paling senior di Markas Baret Merah itu tinggal Letkol Sintong Panjaitan. Perwira menengah tersebut tak ikut ke Ambon karena kakinya patah saat mengikuti latihan terjun payung. Untuk berjalan saja, Sintong harus dibantu tongkat.

Kini dia yang harus memimpin operasi pembebasan sandera itu. Uniknya, Sintong akhirnya memaksakan diri berjalan tanpa tongkat begitu Komandan Kopasandha Brigjen Yogie S Memet memerintahkannya memimpin operasi.

"Masak komandan memimpin operasi militer pakai tongkat," kata Sintong.

Dalam waktu singkat Sintong memilih pasukan yang tersedia di Mako Kopasandha. Seluruh prajurit baret merah yang kelak bernama Kopassus ini bersemangat mengikuti operasi tersebut.

Sintong sadar. Waktu melatih pasukan ini cuma beberapa hari. Selama tim berlatih di Hanggar Garuda, pemerintah Indonesia terus melobi Kerajaan Thailand agar diperbolehkan menggelar operasi militer.

Tanggal 30 Maret 1981 pasukan bertolak ke Bangkok. Sambil menunggu jam 'J' mereka terus berlatih.

Akhirnya lampu hijau diberikan pemerintah Thailand. Pasukan Komando Indonesia diberi izin melakukan operasi militer di Bandara Don Muang. Disepakati waktu penyerangan adalah jam 03.00.

Namun diputuskan waktu penyerangan dimajukan. Dengan sigap para prajurit itu melakukan tugasnya. Lima orang pembajak ditembak mati. Tak ada satu pun sandera yang terluka.

Namun Kapten Pilot Herman Rante dan seorang anggota Kopasandha, Capa Ahmad Kirang juga tertembak. Mereka meninggal beberapa hari kemudian saat dalam perawatan.

Seluruh pasukan antiteror mendapat Bintang Sakti. Sebuah penghargaan tertinggi dalam dunia militer Indonesia. Mereka juga mendapat kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat.

Kelak Kopassus menamakan pasukan antiterornya dengan nama Sat-81 Gultor. Angka 81 ini diambil dari tahun terjadinya peristiwa Woyla.

  merdeka  

[World] China Bangun Tembok Raksasa di Laut China Selatan

http://cdn2.img.sputniknews.com/images/101505/61/1015056138.jpgAS menuduh China membangun tembok raksasa di Laut China Selatan yang disengketakan. (© AP Photo/ Roley Dela Pena, Pool)

Pemerintah Amerika Serikat telah menuduh Beijing melakukan reklamasi di Laut China Selatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. AS menyatakan, China telah membangun tembok pasir raksasa di wilayah Laut China Selatan yang disengketakan.

Tembok raksasa itu dibangun di atas wilayah seluas sekitar empat kilometer persegi. AS khawatir, tembok raksasa itu sebagai bagian untuk menguatkan klaim teritorial China di kawasan maritim itu.

Berbicara pada Konferensi Angkatan laut di Australia, pejabat Armada Pasifik AS, Laksamana Harry Harris Jr, mengatakan, China telah membangun tembok pasir di terumbu karang yang hidup. ”Paving berdiri ke atas dengan beton. China sekarang telah menciptakan pulau buatan seluas lebih dari empat kilometer persegi,” katanya.

“Tapi apa yang benar-benar menarik banyak perhatian di sini dan saat ini adalah reklamasi lahan belum pernah terjadi sebelumnya, dan saat ini sedang dilakukan oleh China,” ujar Harris.

Terumbu yang terendam di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan, katanya, telah berubah menjadi pulau buatan dengan bangunan, dermaga dan landasan pacu. China sendiri mengklaim sebagian besar wilayah laut di Laut China Selatan. Tapi klaim itu ditentang Filipina, Vietnam, Taiwan, Brunei, dan Malaysia.

Menurut Haris, kekhawatiran utama AS terkait proyek raksasa China itu adalah soal tujuan proyek yang diduga untuk basis militer China di Laut China Selatan. "China akan menjadi indikator kunci apakah wilayah ini menuju konfrontasi atau kerjasama,” katanya, seperti dilansir Russia Today, semalam (31/3/2015).(mas)

  sindonews  

Rabu, 01 April 2015

7 Personel Polisi yang Dikirim ke Yaman Punya Berbagai Keahlian

Anton Charliyan

Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Anton Charliyan menilai tujuh personel Polri yang akan berangkat ke Yaman memiliki berbagai keahlian. Menurutnya, mereka ke Yaman dalam rangka menjalankan tugas suci.

"Kami kirimkan mereka (tujuh personel Polisi) yang memiliki berbagai keahlian sehingga bisa menjalankan tugas sesuai keahliannya di Yaman," kata Brigjen Anton dalam konferensi pers di Kantor Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Rabu (1/4).

Ketujuh personel polisi nantinya akan bergabung dengan Tim Percepatan Evakuasi WNI dari Yaman yang dibentuk oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk menyelamatkan warga Indonesia di Yaman.

Ketujuhnya terdiri dari lima polisi pria dan dua polisi wanita. Tim dipimpin Ketua Satgas Kombes Khrisna Murti dengan anggota AKBP Topik Ismail, Kompol Abdul Aziz, Kompol Iksan, Iptu Dede Runanto. Serta dua polwan, AKBP Lisda dan Kompol Elia Susanti.

Ketujuhnya merupakan gabungan personel dari Satuan Mabes Polri, seperti Divhubinter, Baharkam Polri, Badan Intelijen dan Keamanan, Lemdikpol serta Tim Dokter Kepolisian.

Brigjen Anton mengungkapkan, mereka ke sana dalam rangka misi perdamaian dan tugas suci. Karenanya, dia meminta seluruh warga Indonesia mendoakan agar ketujuh personel ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

"Saya mohon seluruh rakyat Indonesia mendoakan mereka akan bisa menjalankan tugas dengan baik. Juga warga Indonesia di Yaman juga dalam kondisi yang baik," katanya.

Sementara Kepala Biro Misi Internasional Divisi Hubungan Internasional Polri, Brigjen Widyo menjelaskan, tujuh personel polisi tersebut dilengkapi oleh berbagai perlengkapan untuk keselamatan diri.

"Personel ini sudah memiliki kompetensi. Kami lengkapi dengan perlengkapan keselamatan diri untuk mencegah antisipasi gangguan keamanan tim yang akan berangkat," kata Brigjen Widyo.

Sebagaimana diketahui, kelompok Al Houthi telah berhasil menggulingkan kekuasaan pemerintah yang sah di Ibu Kota Sana'a sehingga memaksa Presiden Yaman Abduh Rabbuh Mansur Al Hadi mengalihkan pemerintahan ke kota Aden di Yaman Selatan.

Situasi keamanan di negara tersebut semakin mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan WNI ketika koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap basis-basis kelompok Al Houthi.

  ♆
Berita Satu  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...