Rabu, 03 September 2014

Presiden SBY akan Saksikan Kesepakatan Batas Laut di Singapura


http://images.detik.com/customthumb/2014/09/02/10/sby.jpeg?w=460Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono sudah tiba di Singapura. Di negara ini, presiden akan menyaksikan penandatanganan perjanjian Delimitation of the Territorial Seas in the Eastern Part of the Strait of Singapore yang dilakukan Menlu Marty Natalegawa, Rabu (2/9) besok.

"Yang pasti yang utama, Bapak akan menyaksikan penandatanganan batas wilayah laut," kata staf khusus presiden bidang luar negeri, Teuku Faizasyah di Hotel Shangri-La Singapura, Selasa (2/9/2014).

Pria yang akrab disapa Faiz ini menjelaskan, momentum penandatanganan perjanjian delimitasi batas maritim diharapkan akan semakin meningkatkan hubungan bilateral dengan Singapura. Selain itu, apa yang dilakukan kedua negara dalam menyelesaikan masalah batas maritim, bisa jadi panutan dunia internasional.

"Kiranya dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain di kawasan yang masih dihadapkan pada tantangan serupa," tutur Faiz.

SBY juga direncanakan untuk bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong serta Presiden Tony Tan Keng Yam. Pertemuan ini untuk mengkaji bentuk kerjasama yang sudah terjalin dalam 10 tahun terakhir ini.

"Jadi berangkat dari sana, nanti hal-hal apa yang bisa ditindaklanjuti pemerintahan yang akan datang," tandasnya.

  detik  

Antara Birahi Hegemoni dan Libido Keangkuhan


http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/140901161956-792.jpgLatma Garuda Shield 2014
M
engapa Vladimir Putin begitu marah merah darah dan melakukan ekspansi “sukarelawan beralutsista” ke Ukraina, tak lain karena kehausan hegemoni Barat yang hendak mengucilkan Rusia dari sekutu emosionalnya dalam bingkai Uni Sovyet dulu. Sudah banyak negara pecahan Uni Sovyet dan sekutunya yang tergabung dalam Pakta Warsawa ditarik Barat untuk bergabung atau setidaknya tidak berkawan secara militer dengan Rusia. Ukraina ini adalah klimaks birahi hegemoni Barat yang dilawan secara marah merah darah oleh Rusia. Marah maksimal ini karena tidak tertutup kemungkinan senjata berhulu ledak nuklir menjadi pamungkas segala cerita kesombongan hegemoni dan keterkucilan itu.

Sebelumnya Barat juga mau mengobrak abrik Suriah dengan lagu fitnahnya, biasalah konteks perang informasi memang diperlukan saat ini untuk penggiringan opini publik. Dibilang rezim barbar, punya senjata kimia, terlalu lama berkuasa dst dst, dilempar ke kantor berita dunia. Bashar Al Assad tidak goyah. Lalu Barat beralih ke model proxy war dengan membentuk laskar gabungan internasional yang kemudian dikenal bernama ISIS untuk gempur Assad. Kucuran dana dari beberapa negara termasuk Arab Saudi mengalir bersama aliran alutsista gurun pasir untuk menggempur Damaskus.

Sementara itu rombongan kapal perang AS termasuk kapal induknya dibantu oleh sepupunya Inggris bermanuver di pantai Suriah untuk menakut-nakuti. Putin merasa sahabatnya itu ingin dihabisi seperti model gempuran ke Khadafy sebelumnya. Tanpa banyak koar, dia luncurkan armada kapal perang dan kapal selam nuklir ke laut Tengah termasuk penasihat militer ke Suriah. Saling gertak terjadi dan gertak yang mendirikan bulu roma dilakukan Putin : Jika ente menghabisi Assad maka kami akan memulai perang besar berwajah nuklir di Timur Tengah.

Obama mengambil sikap mengalah, takut juga kayaknya, lalu seperti biasa agar tidak kehilangan muka dibilanglah agar persyaratan pemusnahan senjata kimia disegerakan dengan melibatkan PBB. Biarin aja yang penting salah satu krisis terbesar sejak insiden Teluk Babi di Kuba berhasil diredakan. Putin tampil sebagai Man of The Year tentu versi warga dunia yang benci Barat. Dampaknya puluhan ribu laskar di timur Suriah yang sudah berada pada puncak birahi menghancurkan, tiba-tiba libidonya dipadamkan begitu saja. Tentu tak terima, lalu terjadilah senjata berbalik arah, menghancurkan apa yang ada di sekitarnya, kepalang tanggung: ayo dirikan khilafah dan daulah.

Giliran di Asia Pasifik, gelora Cina yang dipastikan akan menjadi kekuatan ekonomi nomor wahid di dunia setelah tahun 2018 sedang giat-giatnya membangun kekuatan militer dengan doktrin serbu dan kuasai. Berbagai klaim teritori di Astim dan Asteng mulai dibarakan, diapikan, didemamkan. AS pun kelabakan lalu menggandeng “bule Asia” Australia untuk siap tampung dan siap bantu. Maka mengalirlah Marinir AS ke Darwin termasuk mengisi alat pandang dengar dan alat pukul di Cocos dan Christmas. Jepang pun disuruh perkuat angkatan bela dirinya. Negara-negara ASEAN didekati dengan intensif termasuk musuh yang pernah mempermalukannya, Vietnam.

Negara-negara di Asia Tenggara diajaknya untuk memperkuat militernya dan sekaligus melakukan latihan gabungan. AS seperti sedang mencari pijakan untuk mencari kawan lebih banyak. Soalnya negara ini dalam setiap “peristiwa militer dunia” selalu pakai model keroyokan seperti di Irak seri satu dan seri dua. Bisa kita lihat hari-hari terakhir ini. Dengan Malaysia baru-baru ini dilakukan latihan bersama melibatkan jet siluman F22 Raptor AS bersama Mig 29, Sukhoi, F18 Malaysia. Marinir AS juga melakukan latgab serbu pantai di Sabah melibatkan beberapa kapal perang kedua negara.

Kemudian saat ini di Indonesia sedang berlangsung latihan bersama antara TNI AD (Penerbad) dengan US Army melibatkan jenis helikopter paling canggih di dunia, Apache. Berikutnya di Jepang akan dilakukan latihan gabungan berskala besar dengan AS. Dengan Filipina sudah ditempatkan penasehat militer AS termasuk penggunaan Clark dan Subis untuk jalur hilir mudik armada laut AS.

Strategi bulan sabit diterapkan AS untuk mengurung Cina, mulai dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Taiwan, Jepang dan Korsel. Meski Indonesia tidak terlibat dalam konflik di Laut Cina Selatan namun posisi geografi Indonesia termasuk jalur ALKInya tentu akan berimbas dalam “mekanisme” pertempuran terbuka jika terjadi. Lagak gaya AS bersama Australia yang selalu mengedepankan kesombongan militer sesungguhnya menimbulkan antipati di kamar hati seluruh umat manusia yang menempatkan nurani sebagai wajah diri.

Itulah sebabnya, sesuai hukum Allah, Sunatullah, segala sesuatu diciptakan secara berpasangan. Ada siang ada malam, ada pria ada wanita, ada hak ada kewajiban, ada barat ada timur. Maka menjaga keseimbangan itu sangat diperlukan sebelum semuanya menjadi berat sebelah. Kondisi dunia saat ini memang sedang berat sebelah, semuanya di hegemoni oleh Barat. Sikap sangar Rusia tentu dalam rangka menghardik ketidakseimbangan itu, demikian juga Cina yang mulai menampakkan api naganya dan memanaskan suhu di sekitarnya.

Sama juga dengan peristiwa politik di Indonesia. Berbagai manuver dilakukan untuk menggoyahkan lawan dan memperkuat barisan. Pemenang Pilpres ingin menambah pasukan koalisinya dengan strategi devide et impera. Sementara koalisi merah putih merapatkan barisan dengan komando SBY untuk menjadi kekuatan penyeimbang. Memang harus ada keseimbangan untuk melawan hegemoni. Sebab kalau itu tidak dilakukan maka jalan demokrasi akan berubah menjadi demo jual asset, demo beli drone, demo umbar omongan di media, demo berlagak miskin, demo menjadi makelar. Sekali lagi perlu kekuatan penyeimbang dalam ruang demokrasi sembari berdoa : Ihdinassirotol mustakim.

****

Jagvane / 03 Sept 2014

   Analisisalutsista  

[Foto] Puluhan Tank Leopard Tiba di Indonesia

Persiapan HUT TNI http://cdn.metrotvnews.com/dynamic/photos/2014/09/02/6349/tank.jpg?w=1111Petugas berada di samping tank Leopard asal Jerman yang terparkir setelah diturunkan dari kapal di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (2/9).

Sebanyak 52 tank yang terdiri dari 24 tank Leopard dan 28 tank Marder itu selanjutnya akan dibawa ke Surabaya untuk memeriahkan parade militer saat HUT TNI pada 5 Oktober mendatang. ANTARA/Wahyu Putro A/i


  Metronews  

Korsel Tempatkan Indonesia Sebagai Mitra Strategis Industri Pertahanan

Kerjasama dalam kemitraan strategis http://3.bp.blogspot.com/-Y_dkBIEsGYE/T0IrRn0Xp2I/AAAAAAAAAi4/ryZKkBLKh70/s400/1.pngPemerintah Korea Selatan (Korsel) menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis dalam kerjasama di bidang industri pertahanan. Korsel memandang, kerjasama di bidang industri pertahanan sangat penting kedua negara guna meningkatkan hubungan kerjasama dalam kemitraan strategis yang telah terjalin baik selama ini.

“Sekarang Pemerintah Korea sangat menilai tinggi potensi akan perkembangan industri pertahanan Indonesia, sehingga Pemerintah Korea telah menunjuk Indonesia sebagai mitra strategis di bidang industri pertahanan”, ungkap Director General Defence Industry Promotion Bureau, Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Lee Jung Yong selaku Ketua Delegasi Korsel dalam Pertemuan Technical Meeting The Third Indonesia-Korea Defence Industry Cooperation Committee (DICC) Meetting, Selasa (2/9) di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.Technical Meeting ini merupakan pertemuan pendahuluan dalam rangka The Third Indonesia-Korea DICC yang akan berlangsung hari Kamis tanggal 4 September 2014 di Kemhan, Jakarta. Hadir selaku Ketua Delegasi Indonesia dalam Technical Meeting ini, Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kemhan RI Dr. Timbul Siahaan.

Lebih lanjut Director General Defence Industry Promotion Bureau, DAPA, mengatakan, bahwa hubungan kerjasama Korsel dan Indonesia telah terjalin sangat baik sampai dengan saat ini. Untuk melanjutkan kerjasama yang baik ini, pihaknya berharap kerjasama di bidang industri pertahanan kedua negara dapat terus berlanjut.

Korsel melihat industri pertahanan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk berkembang di masa depan, apalagi Indonesia merupakan negara yang berpengaruh di kawasan ASEAN.

Untuk itu, Korsel membuka peluang dan kesempatan seluas – luasnya untuk masa depan kerjasama kedua negara di bidang industri pertahanan. Korsel menginginkan kerjasama industri pertahanan kedua negara tidak hanya sekadar penjualan dan pembelian, namun lebih dari itu Korsel juga menginginkan adanya kerjasama yang lebih luas di bidang penelitian dan pengembangan teknologi industri pertahanan.

Sementara itu, Dirjen Pothan Kemhan RI menyambut baik keinginan Korsel untuk meningkatkan kerjasama dengan Indonesia di bidang penelitian dan pengembangan teknologi industri pertahanan. Kerjasama di bidang industri pertahanan antara Indonesia dan Korsel saat ini terus meningkat dan mencapai kemajuan yang sangat baik. Indonesia dan Korsel telah membentuk hubungan yang baik dalam kerjasama industri pertahanan yang meliputi perencanaan untuk pembangunan bersama, produksi bersama dan pengadaan, Oleh karena itu, menurutnya melalui pertemuan ini diharapkan akan lebih meningkatkan lagi kerjasama industri pertahanan kedua negara berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, dan penghormatan penuh kedaulatan dan keutuhan wilayah.

Dalam Technical Meeting ini, selain hadir pejabat Kemhan dan TNI, dalam Delegasi Indonesia juga turut serta perwakilan dari industri pertahanan dalam negeri antara lain PT. DI, PT. Infoglobal, PT. Farin Industri, PT. Garda Persada, PT. T&E Simulation dan PT.PAL. Sementara itu, dalam Delegasi Korsel juga turut perwakilan industri pertahanan Korsel antara lain Han Hwa, LIG Nex1 dan Samsung Techwin.

Keikutsertaan sejumlah perwakilan dari industri pertahanan dari negara tersebut diharapkan akan dapat turut pula mendukung peningkatan kerjasama industri pertahanan Indonesia - Korsel.

  DMC  

Indonesia angkat isu penyadapan di forum dunia


http://img.antaranews.com/new/2013/06/big/2013062808.jpgTifatul Sembiring (ANTARA FOTO Ujang Zaelani)

Indonesia yang diwakili Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring akan mengangkat isu penyadapan ilegal dalam forum dunia "Internet Governance Forum" di Istambul, Turki 2-5 September ini.

Menkominfo dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa Indonesia sangat mendukung upaya saling menghormati privasi antar-negara.

"Penyadapan ilegal melalui Internet adalah sesuatu yang menyedihkan. Kita tidak dapat membayangkan tetangga membuat lubang kecil di kamar kita dan mengetahui rahasia rumah kita. Hal ini membuat kita saling curiga," kata Menkominfo.

Menteri justru lebih mendukung penggunaan Internet untuk keperluan produktif demi pengembangan ekonomi yang lebih baik.

Selain itu Indonesia juga mendukung upaya pencapaian target-target "WSIS World Summit on Information Society" untuk akses Internet yang lebih produktif dalam pengembangan ekonomi.

"Tapi Internet produktif itu harus tetap memerhatikan kearifan lokal, serta sesuai dengan aturan negara yang bersangkutan," katanya.

IGF tahun ini mengambil tema "Connecting Continents for Enhanced Multi-Stakeholder Internet Governance" yang menurut Tifatul sesuai untuk kondisi saat ini.

Ia sendiri menyatakan Pemerintah Indonesia mendukung pendekatan multi-stakeholder, penggunaan Internet dalam lingkup hukum nasional.

"Kami mendukung upaya untuk saling menghormati antarnegara dan stakeholder," katanya.

Menurut dia Indonesia juga sudah meluncurkan program Internet sehat dan aman yang didukung oleh multi-stakeholder.

Ia menegaskan bahwa Indonesia mendukung penuh upaya pengembangan SDM dan pengembangan teknologi lokal baik telekomunikasi, komputer, hingga aplikasi konten.

"Ini penting agar kita tidak selalu bergantung kepada negara-negara lain," katanya.


  Antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...