Senin, 25 Juli 2016

Media Sosial Sudah Menjadi Keharusan

Twitter TNI AU

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispen TNI AU) telah berganti tampuk kepemimpinan dari Marsma TNI Dwi Badarmanto ke tangan Marsma TNI Wieko Sofyan.

Pria berusia paruh baya itu cukup ramah menerima kedatangan VIVA.co.id. Dengan disertai canda tawa, dia bercerita mengenai visi dan misinya setelah dua bulan menjabat.

Marsma Wieko juga membocorkan beberapa isu terkait dengan pro kontra Project Loon, sampai kriteria pesawat yang diinginkan pihak TNI AU. Yang terpenting, dia membeberkan rahasia dapur media sosial milik TNI AU, terutama akun Twitter yang banyak diperbincangkan di dunia maya.

Berikut wawancara lengkap dengan Marsma Wieko di kantornya beberapa waktu lalu.

Baru dua bulan menjabat Kadispen AU, apa misi ke depan?

Misi tidak khusus secara pribadi, tapi meneruskan apa yang sudah dirintis pendahulu saya, menjadikan institusi yang bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang TNI AU.

Ada Strategi Baru?

Saya hanya mencoba berkreasi. Dari media sosial yang kita punya, akan diperkenalkan TNI AU, mungkin ke depan bisa live, memperkenalkan salah satu tokoh di TNI AU, insitusi atau satuan-satuan di lapangan udara.

Apa urgensinya menggunakan media sosial?

Media sosial itu sudah menjadi keharusan, sudah menjadi tuntutan sekarang ini.

Bagaimana proses memposting konten di media sosial TNI AU?

Ada tim di TNI AU. Per minggu kita selalu evaluasi, mana yang harus kita waspadai, mana yang harus kita luruskan, mana yang perlu kita tingkatkan. Pimpinan verifikasi, dalam hal ini pimpinan Kepala Satuan AU.

Mencoba menggiring opini publik?

Secara langsung mungkin enggak, ya tentu ada mengarah ke sana, apalagi kalau memang pemberitaan tersebut berkaitan dengan nama baik TNI AU, personil TNI AU, kegiatan TNI AU kita mencoba untuk tentu untuk bisa meluruskan.

TNI AU kan biasanya tegas tapi di Twitter itu terkesan humanis. Mengapa seperti itu?

Itu kebijakan pimpinan, bagaimana agar bisa lebih dekat lagi kepada masyarakat, berbaur, syukur-syukur masyarakat bisa bergabung dengan TNI AU. Tapi tetap ada batasannya. Gaul tapi tidak menghilangkan karakter sebagai institusi militer.

Timnya ada berapa orang untuk mengelola medsos itu?

Resminya sih memang ada 5. Tapi berubah-ubah. Rata-rata kami pilih karena mereka aktif di medsos. Ada yang masih muda, ada yang umur 40. Urus Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube.

Tak berniat dikembangkan?

Ya itu dilihat dari kebutuhannya juga nanti. Ke depan harusnya ada tim khusus karena kemajuan teknologi tidak bisa abaikan, harus ada yang benar-benar concern. Yang jelas dampak medsos cukup signifikan. Ketertarikan untuk bergabung ke TNI AU meningkat. Pernah dapat penghargaan juga dari The Marketeers. Padahal tak ada training khusus untuk tim medsos.

Kalau misal ada kejadian, kecelakaan pesawat, itu bagaimana tugas tim medsos?

Itu memang sesuatu yang kita waspadai. Ada SOP-nya. Jalurnya, ada yang mencari informasi kejadian sebenarnya, ada yang mencari personel yang terkait kejadian, cari info alutsistanya, itu baru disampaikan kepada saya selaku Dispen untuk menginformasikan keluar. Ada batasan penyampaian keluar, apalagi dalam bentuk foto.

Soal Alutsista, antisipasi kemajuan pesawat bagaimana karena kemarin banyak kecelakaan?

Keinginan ke depan, alutsista yang kita miliki itu adalah yang terbaik. Kami ingin pesawat baru, bukan pesawat hibah. Tapi kita hanya bisa berharap karena kebijakan itu ada di Kemenhan.

Tapi ada rencana beli yang baru?

Ya, pesawat tempur. Sukhoi 35 dari Rusia, yang akan menggantikan pesawat F5. Meskipun sampai sekarang, yang saya dengar dari Kemenhan, masih ada beberapa yang hal yang mesti diselesaikan.

Project loon di perbatasan, kabarnya belum dapat persetujuan dari AU?

Semua yang berkaitan dengan masalah ketinggian harus dikomunikasikan kepada TNI AU, dalam hal ini pangkalan terdekat, atau Kementerian Perhubungan karena berkaitan dengan keamanan penerbangan. Drone juga sama. Tapi jika kemajuan teknologi tidak buruk, harusnya diatur, diarahkan. Kalau tidak diatur bahaya.

Ada info, TNI AU merekrut pasukan penerbang drone?

Kita punya satuan untuk mengelola masalah potensi dirgantara, salah satunya adalah aeromodeling, drone adalah aeromodeling. Menurut saya, suatu hal menarik dan strategis untuk dikembangkan. TNI AU mencoba mewadahi, nantinya bisa dikembangkan. Drone bisa dibuat alutsista. Kita punya beberapa, beroperasi di perbatasan, Jayapura, Natuna.

Ngomong-ngomong, pesawat yang bagus produksi mana?

Masalah bagus relatif. Kita juga pertimbangkan masalah politis. Sementara ini pesawat dikuasai dua negara, AS dan Rusia. Bung Karno pilih pesawat Rusia, Orde Baru masuk ke produksi Barat (AS). Yang jelas, hubungan diplomatik cukup menentukan. Kita juga punya pesawat buatan PT DI tapi bukan pesawat tempur. (umi)

   Vivanews  

Hawk 200 TT 0214 Kembali ke Pekanbaru

Hawk TNI AU selesai perbaikan

Hari ini, jika cuaca mendukung, pesawat Hawk 200 dengan nomor TT 0214 dari Lanud Rusmin Nuryadin (Rsn) Pekanbaru, akan kembali dari Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Malang menuju skadron 12, Lanud Rsn, Pekanbaru.

Berdasarkan rilis yang diterima MVoice beberapa menit lalu, pesawat ini telah menjalani tes flight hari terakhir, Kamis (21/7).

Pesawat dari Lanud Rsn ini mengalami perbaikan di Lanud Abdulrachman Saleh, selama sepuluh bulan.

Hawk 200 telah menjalani tes flight sebanyak tiga kali dan dinyatakan berhasil, dengan ketinggian mencapai 15 ribu feet dan kecepatan rata rata 1.000 hingga 2.000 km per jam.

Pesawat ini telah menjalani major servicing dua yang merupakan perawatan tingkat berat setelah berada diangka 2.000 jam terbang.

Komandan Depohar 30 Lanud Abdulrachman Saleh, Kolonel (Tek) M Yani Rudiansyah, ST SIP menjelaskan, pesawat Hawk 200 dengan nomer pesawat TT-0214 telah berada di Depohar 30 sathar 32 sejak tanggal 13 Oktober 2015 sampai 21 Juli 2016.

Menurut rencana hari ini kalau tidak ada kendala cuasa akan kembali ke Pekanbaru Skadron 12 Pekanbaru,” jelasnya.

Sementara itu, Dansathar 32 Letkol (Tek) Dody Kurniadi perawatan pesawat ini meliputi major servicing dua yang notabene membongkar bagian-bagian penting dari pesawat.

Sehingga memakan waktu pengerjaan yang cukup panjang,” jelasnya.

   malangvoice  

[World] BRP Tarlac participates in its first successful operation

Navy seizes 3 suspected Abu Sayyaf boats in Tawi-Tawi BRP Tarlac

Naval forces seized three speedboats believed owned by the Abu Sayyaf group and took three people into custody Thursday during intensified naval operations against high-sea kidnappings in the waters between Tawi-Tawi and Malaysia.

The Joint Task Force Tawi-Tawi, with its Amphibious Ready Group led by Col. Fernando Gomez, launched the amphibious operations targeting the supporters of Abu Sayyaf group and seized three ‘jungkong’ boats at Panguan Island off Sitangkai town about 10 a.m.

The military said ‘jungkong’ watercraft are Malaysian-style speedboats designed to cut through shallow waters.

The ARG includes BRP Tarlac, the Navy's newest ship. It has a helicopter, a Marine special operations unit and a Navy special warfare detachment on board.

The ARG also apprehended three people who could not produce pertinent identification documents and confiscated a shotgun and ammunition during the raid on the suspected Abu Sayyaf hideout on Panguan Island.

The JTFT is verifying if the seized jungkong speedboats and the three suspects are connected to the recent spate of cross-border.

The military earlier identified the Muktadil Group, a local pirate group linked to the Abu Sayyaf Group, as being responsible for the cross-border abductions.
 

  Philstar  

Kisah Marsekal TNI Agus Supriatna Bertaruh Nyawa dalam "Belly Landing" 1986

A-4 Skyhawk TNI AU [wikimedia] 

Insiden belly landing tahun 1986 merupakan momen yang tidak bisa hilang dari benak Marsekal TNI Agus Supriatna. Inilah peristiwa itu yang akan selalu dikenangnya sebagai batas kehidupan.

Momen itu terekam dalam buku biografi Agus berjudul "'Dingo' Menembus Batas Limit Angkasa" yang diluncurkan secara resmi di Wisma Angkasa, Jalan Wijaya 13, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (23/7/2016).

Suatu siang, Agus yang memiliki nama panggilan "Thunder-73" menerbangkan pesawat A-4 Skyhawk di Madiun, Jawa Timur. Pangkatnya kala itu masih Letnan Dua.

Ketika hendak mendarat, ia mendapatkan peringatan lewat radio bahwa landing gear sebelah kiri pesawatnya hilang.

Setelah dia cek ternyata benar. Berkali-kali ia mencoba memencet tombol darurat, tetapi roda pesawat tidak kunjung terbuka.

"Komandan Lanud saat itu, FX Suyitno, lalu memberi saya perintah, "Agus, kamu sekarang ke selatan. Di sana ada ladang tebu yang sudah clear. Tinggalkan pesawat (eject)'," kenang Agus dalam sambutan acara peluncuran buku.

Agus menolak untuk meninggalkan pesawat. Ia tidak mau melakukan hal yang sama seperti tahun 1983, di mana kaki kanannya patah karena melakukan eject.

Dengan lantang, Agus mengatakan kepada Komandan Lanud bahwa dia akan melakukan belly landing.

Belly landing merupakan teknik pendaratan pesawat dalam keadaan darurat tanpa menggunakan roda. Mendengar itu, sang komandan marah.

"Danlanud marahin saya. Dia bilang, 'Kamu itu tahu apa enggak bahayanya kalau belly landing? Kamu landing kasar sedikit saja, meledak. Mati kamu. Tapi saya jawab, 'Siap, tidak masalah. Saya akan tetap belly landing'," cerita Agus.

"Danlanud juga sempat tanya, 'Kamu tahu dari mana cara belly landing? Memang sudah pernah lihat?' Saya jawab, 'Di film, Komandan'," lanjut dia.

Meski dimarahi sedemikian rupa, Agus tidak mengendurkan niat. Dia tetap yakin bisa mendarat darurat dengan selamat.

Setelah menenangkan diri, Agus memutar-mutarkan pesawatnya di udara sampai bahan bakarnya nyaris habis. Ia memperkirakan, peluang pesawat meledak atau terbakar semakin kecil jika bahan bakar pesawat habis.

Setelah indikator bahan bakar menunjukkan batas kuning, Agus bersiap mendarat darurat di ladang tebu yang telah dipersiapkan.

"Saat tinggal 30 second bahan bakar akan habis, saya landing. Saya sempat mikir, kok ini lama sekali, saya lihat spion ada percikan api. Ternyata engine-nya mati karena bahan bakar habis, lalu pesawat berhenti," ujar Agus.

Pendaratan darurat itu akhirnya berhasil. "Thunder-73" selamat dari maut. Agus membuka kanopi pesawat dan turun tanpa cedera.

Sang komandan yang tadinya marah berubah jadi bangga. Agus dipeluk dan kepalanya diusap-usap oleh sang komandan.

Para senior lainnya pun demikian. Oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara kala itu, Marsekal TNI Oetomo, Agus diikutkan menonton airshow di luar negeri sebagai hadiah.

Kini, 30 tahun berlalu, ia berada di puncak tertinggi kepangkatan TNI. Ia menganggap momen itu sebagai bentuk bahwa dirinya mampu menembus batas.

"Saya pernah baca tulisan orang China tahun 1841. Manusia itu sudah ada jalannya masing-masing. Tinggal manusia menjalankan saja. Kalau menjalankannya begini, akan ke arah sini, kalau menjalankannya bagaimana, akan ke arah sana. Makanya, belly landing itu ibarat limit di dalam hidup saya," ujar Agus.
 

  Kompas  

Minggu, 24 Juli 2016

TNI AL Bikin Kawanan Perompak tak Berkutik

Ilustrasi patroli TNI AL

Anggota TNI AL berhasil membekuk kawanan perompak yang selama ini beraksi di Teluk Balikpapan, Sabtu (23/7) pukul 04.30 Wita.

Mereka adalah Agus (23), Aco (28), Ipan (28), Muri (38) dan Iyan (37). Kelimanya baru saja menggondol tali tross sepanjang 70 meter.

Penangkapan bermula saat tiga anggota Pos TNI AL Balikpapan terdiri dari Edi Rohmadi, Asrori dan Hamdan melakukan patroli menyusuri Kampung Baru Tengah, Kampung Baru Ujung, Pelabuhan Kariangau dan perairan Penajam Paser Utara pukul 04.00 Wita.

Setengah jam kemudian, mereka mengintai sebuah speedboat berwarna biru tanpa lampu penerangan dari arah hulu kawasan Teluk Balikpapan kemudian keluar menuju arah Kampung Baru.

Curiga, petugas kemudian meminta kelimanya berhenti dan menepi. Sempat berusaha melarikan diri, namun speedboat yang mereka tumpangi kalah cepat. Saat diperiksa, petugas menemukan tali tross sepanjang 70 meter yang ditengarai baru saja dicuri.

Danlanal Balikpapan Letkol Laut (P) Irwan Siagian mengungkapkan, upaya terduga pelaku melarikan diri gagal karena muatan tali tross yang cukup berat. Kelimanya pun diamankan.

Selain tali berharga jutaan rupiah itu, sebuah kotak accu juga ikut diamankan. "Diamankan tanpa perlawanan," ucapnya.

Kini, kelimanya tengah diperiksa intensif di Lanal Balikpapan. Danlanal menjelaskan, penangkapan ini adalah hasil penyelidikan tim intelijen TNI AL.

Apalagi dalam beberapa hari terakhir, pihaknya banyak menerima laporan pencurian. “Banyak yang mengeluh sering kehilangan barang berharga," terang Danlanal.

Irwan curiga, bukan tak mungkin mereka terlibat dalam rentetan aksi kejahatan lainnya. "Penindakan hukumnya kami akan serahkan ke Polres Balikpapan," tuturnya.

Hasil pendalaman sementara, lokasi perompakan terjadi di kapal PT Massa yang beroperasi di Sungai Riko, kawasan hulu Teluk Balikpapan. Danlanal mengatakan sudah 3 kali kawanan ini melakukan perompakan.

Terhadap perompakan, Irwan menegaskan, Lanal Balikpapan tidak akan tinggal diam terhadap potensi ancaman gangguan laut. Belakang ini, sambung dia, pihaknya juga sedang mendalami adanya indikasi kawanan perompak “berseragam”.

"Saya sudah perintahkan kepada jajaran untuk terus melakukan patroli," ungkapnya. Menurutnya, titik rawan perompakan ada di perairan menuju hulu Samarinda dan Teluk Balikpapan. (*/frz/riz/k18/sam/jpnn)

   JPNN  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...