Sabtu, 07 Maret 2015

Pindad Uji Coba Munisi 105 MM Howitzer

Perkuat Alutsista TNIPT Pindad menggelar demo produk Munisi Kaliber Besar (MKB) 105 mm Howitzer. Demo bersama TNI AD dilakukan di Lapangan Tembak milik Dinas Penelitian dan Pengembangan (Ditlitbang) TNI AU di Desa Pandawangi, Kecamatan Tempeh, Lumajang, Jumat (6/3/2015).

Dari hasil uji coba, kemampuan dari 105 mm Howitzer bisa meluncur sejauh 11 kilometer dengan dampak ledakan 25 meter persegi. Munisi Howitzer ini diharapkan membantu pergerakan prajurit dalam operasi militer ke markas musuh.

Dalam demo (uji coba) tersebut, ada 3 jenis Howitzer 105 mm yang diuji coba ditembakan terdapat 3 jenis yakni, Practice Cadtrige, Smoke Hell dan High Explosice (HE). "Ada tiga jenis Howitzer yang kita uji cobakan kali ini, dan semuanya merupakan karya anak bangsa," kata Kadiv Munisi PT Pindad I wayan Sutaman usai menggelar uji coba.

Dalam uji coba munisi jenis 105 mm Howitzer ini, hadiri petinggi TNI AD untuk melihat secara langsung yakni Wakasad Log Brigjen Jani, Dirpalad Brigjend Basuki Abdullah dan Danpusenarmed Brigjend Sonhaji.

Menurut Danpusenarmed Brigjend Sonhaji Howitzer munisi ini adalah produk anak negeri yang tidak kalah dengan munisi dari luar. "Selain murah dan sangat efektif membantu dalam pertempuran dan operasi militer," ungkap pamen intang satu tersebut.

Sementara itu Kadiv Munisi PT Pindad Malang mengaku akan pengembangan munisi terus dilakukan oleh pihaknya untuk membantu TNI. "Tahun depan kita akan buat munisi untuk tank baik ukuran kecil maupun besar serta untuk munisi marinir," pungkas I Wayan.

  detik  

RI Berencana Beli Sukhoi Su-35, Rusia Siap Alih Teknologi

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Agus Supriatna menyebut tengah mengincar beberapa alutsista baru untuk mengganti pesawat F-5 Tiger buatan Amerika Serikat yang kian uzur. Dari sekian banyak alutsista, salah satu yang memikat hatinya jet tempur asal Rusia, Sukhoi Su-35.

Terkait dengan rencana tersebut, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin, membenarkan sudah dihubungi perwakilan Indonesia mengenai rencana peremejaan alat tempur TNI AU. Ditemui di kediamannya pada Kamis, 5 Maret 2015, Galuzin menyebut alutsista yang akan dibeli Indonesia yakni Sukhoi Su-35.

"Kami berharap kesepakatan pembelian Sukhoi Su-35 bisa terjadi," ungkap Galuzin.

Menurut diplomat yang pernah ditempatkan di Jepang itu, ia ingin segera bertemu dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, guna merealisasikan pembelian alutsista tersebut. Bahkan, dia mengaku akan sangat terbuka jika Indonesia ingin membahas isu-isu yang lebih teknis.

"Kami terbuka untuk berdiskusi bersama rekan kami dari Indonesia (mengenai rencana pembelian jet tempur ini). Kami siap untuk alih teknologi," ujar Galuzin.

Ketika dikonfirmasi oleh VIVA.co.id ke Kementerian Pertahanan mengenai rencana pembelian jet tempur Su-35, juru bicara Brigadir Jenderal, Djundan Eko, tidak menampik kemungkinan itu.

Djundan menyebut jet tempur Su-35 memang masuk ke dalam daftar belanja untuk anggaran tahun 2015-2019. Kendati begitu, dia menjelaskan bahwa pembelian alutsista harus melalui kajian terlebih dahulu.

"Sebelum TNI AU memutuskan untuk membeli suatu alutsista, harus melalui kajian dulu. Baru setelah itu diajukan kepada kami," ujar Djundan.

Saat ini, dia menyebut belum menerima kajian atau pengajuan daftar alutsista.

"Mungkin masih dalam proses. Tetapi, kami belum membicarakan mengenai hal itu di Kemhan," imbuh dia.

TNI AU mengincar jet tempur Su-35 untuk dimasukkan ke dalam anggaran 2015. Jet tersebut masuk ke dalam daftar yang dia incar karena dapat memenuhi kebutuhan alutsita TNI AU dan lebih mudah dioperasikan.

Satu unit Su-35 diprediksi bernilai USD$65 juta atau setara Rp 844 miliar. Nominal itu lebih murah dibandingkan jet tempur buatan Amerika Serikat, F-16 yang harga jualnya per unit mencapai USD$165 juta atau Rp2,1 triliun.

Su-35 merupakan model terbaru dari Su-27M Flanker, di mana terdapat peningkatan terhadap kemampuan superioritas tempur udara dan didesain agar bisa menembak berbagai target dengan menggunakan peluru kendali maupun non-kendali.

Menurut laman Russia Beyond The Headlines (RBTH), dalam 20 tahun terakhir, Indonesia telah membeli beberapa pesawat tempur multifungsi dari Rusia, yakni Su-27 dan Su-30, 10 helikopter Mi-35, 14 helikopter Mi-17, 48 kendaraan lapis baja BTR-80A dan 9.000 senapan Kalashnikov Ak-102.

  Vivanews  

[World] Sistem Pertahanan Udara S-300V4 Dilengkapi Rudal Jarak Jauh

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/66/Tor-M1_and_S-300V_SAM,_2008.jpg/640px-Tor-M1_and_S-300V_SAM,_2008.jpgS-300V4 [wikipedia]

Sistem pertahanan udara S-300V4 untuk militer Rusia telah dilengkapi dengan rudal jarak jauh terbaru, demikian disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada TASS, Kamis (5/3). "Jangkauan misil ini mencapai 400 kilometer,"terang sumber dari kementerian tesebut.

Misil baru ini telah berhasil melalui tahap uji coba negara tahun lalu. Sistem S-300V4 milik Distrik Militer Barat akan menjadi yang pertama mendapatkan misil ini.

Sistem S-300V4 masuk dalam perbendaharaan senjata Angkatan Darat Rusia pada 2014. Mereka menerima dua set sistem canggih tersebut, yang 2,5 kali lebih efisien dibanding sistem sebelumnya.

Akhir tahun lalu, produsen sistem pertahan udara Almaz Antey menyampaikan pada TASS bahwa misil jarak jauh terbaru untuk S300V4 tengah dikembangkan, tanpa memberi detil lebih lanjut.

  RBTH  

Kisah Supersemar dan Soekarno ngamuk di Istana Bogor

http://2.bp.blogspot.com/-JNiRils6RBo/VOtAMr0dgbI/AAAAAAAAG8o/drgJuBHnN7Y/s280/kisah-supersemar-dan-soekarno-ngamuk-di-istana-bogor-lipsus-istana-bogor-3.jpgDi balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno.

Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?

Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno.

Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).

Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa.

Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.

Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud.

Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit.

Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.

Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang.

Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.

Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan.

Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno.

Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.

Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa.

Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor.

Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.

  Merdeka  

[World] Perselisihan AS dan Rusia Hanya Menguntungkan Teroris

Direktur Federal Security Service Rusia (FSB) telah mengungkapkan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Amerika dalam memerangi ISIS. Para pakar menyebutkan memburuknya hubungan Rusia dan AS akibat konflik di Ukraina hanya menguntungkan para teroris di Timur Tengah. imagePakar: Kita harus sadar kita perlu bekerja sama, di luar masalah politik yang sedang kita hadapi. Kredit: Reuters★

"Rusia dan AS telah berulang kali mendiskusikan rencana kerja sama dan berkesimpulan bahwa hal ini tak boleh dipolitisasi," demikian diungkapkan oleh Direktur FSB Aleksander Bortnikov, mengomentari hasil konferensi internasional mengenai pemberantasan ekstremisme yang berlangsung di Washington, 17-19 Februari lalu.

"Kita harus sadar kita perlu bekerja sama, di luar masalah politik yang sedang kita hadapi," kata Bortnikov.

Bortnikov mengungkapkan kesediaan Rusia untuk bekerja sama melawan ISIS, yang kini telah menguasai beberapa wilayah Suriah dan Irak. "Ini benar-benar masalah serius dan kita harus bersatu menghadapinya," ujarnya.

Para pakar menyebutkan, kerja sama dalam memerangi terorisme dewasa ini tengah mengalami kemunduran serius. Kerja sama Rusia dan AS semakin minim, padahal pemimpin kedua negara sama-sama khawatir mengenai penyebaran pengaruh ISIS yang berlangsung pesat.

 Ancaman ISIS bagi Rusia 

Jika dilihat sekilas, ISIS memang tidak memberi ancaman langsung bagi Rusia. "Bagi ISIS, lebih penting untuk menyebarkan pengaruh di Timur Tengah, dengan tidak ada atau tidak stabilnya rezim politik di sana," kata Leonid Isayev, seorang pengamat Asia dan dosen senior di Higher School of Economics' Department of Political Science.

Namun, pernyataan ISIS tahun lalu mengenai rencana mereka untuk merebut Chechnya, menurut Isayev merupakan salah satu upaya untuk meneror Rusia.

ISIS, bagaimanapun, merupakan ancaman serius bagi Rusia, karerna ribuan pejihad dari wilayah bekas Uni Soviet seperti Rusia, Asia Tengah, dan Kaukasus Selatan, telah bergabung dengan kelompok teroris tersebut.

"Para muslim yang telah terpengaruh ideologi radikal dan memiliki pengalaman tempur itu kemudian kembali ke kampung halaman," kata Dmitry Suslov, Wakil Direktur Higher School of Economics' Complex and International Studies Center.

 Enggan Bekerja Sama? 

Masalahnya, saat ini Moskow dan Washington sama-sama kesulitan untuk sepakat bekerja sama, bahkan dalam memerangi ancaman bersama sekelas ISIS. Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut.

Alasan pertama adalah perbedaan strategi. "Kebijakan Amerika di Timur Tengah tak memiliki pendekatan yang sistematis. Belum selesai membasmi al-Qaeda di Irak, AS beralih ke Libya, kemudian setelah itu melakukan intervensi konflik Suriah," kata Isayev.

Amerika malah berusaha mengintervensi urusan internal negara-negara tersebut dan mencampuri proses demokrasi di sana. Sementara, strategi Rusia untuk memerangi terorisme berbasis pada dukungan untuk rezim yang sedang berkuasa, tanpa memandang aspek demokrasi dan hak asasi manusia di negara-negara tersebut.

Alasan kedua yang mempersulit terciptanya kerja sama untuk membebaskan Timur Tengah dari teroris adalah keengganan Washington untuk menjadikan Moskow sebagai mitra.

"Logika konfrontasi membuat mereka enggan bekerja sama dan perlu menimbang-nimbang dengan seksama apakah hal tersebut benar-benar perlu," kata Suslov.

"Selain itu, kedua pihak memiliki penilaian yang berbeda mengenai penyebab munculnya ancaman terorisme ini. Rusia menganggap pihak yang paling bersalah atas kemunculan ISIS adalah AS. Kebijakan AS yang diterapkan pada Suriah dilihat sebagai pengulangan dari situasi pada tahun 1980-an, ketika Amerika mendukung muhajidin Afganistan untuk melawan Uni Soviet."

Kemunculan kembali tren untuk mengotak-kotakan wilayah juga mempersulit persatuan untuk melawan terorisme. "Kompetisi membuat kita sulit untuk bekerja sama, alih-alih kita jadi mudah dipermainkan oleh kelompok radikal," kata Isayev.

 Masih Ada Harapan 

Menurut Suslov, pernyataan Bortnikov mengenai kemungkinan kerja sama tersebut mengindikasikan bahwa perselisihan Moskow dan Washington hanya menguntungkan para teroris.

"Ini menandai kita tengah memasuki fase 'konfrontasi dewasa', ketika perbedaan pendapat mengenai beberapa isu (Ukraina) tidak menghalangi kita untuk melakukan dialog mengenai isu lain, bahkan mungkin malah bekerja sama," kata Suslov.

  RBTH  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...