Kamis, 02 Oktober 2014

[World Article] Para Milisi Donbass, Sukarela Berperang Demi Lindungi Handai Tolan

Sejak awal munculnya gerakan perlawanan bersenjata di daerah Ukraina tenggara, banyak media massa yang menampilkan foto-foto orang berperawakan Kaukasus yang sedang memegang senjata dan tersenyum di depan lensa kamera. Para wartawan pun bertanya-tanya, bagaimana bisa para pendatang dari Kaukasus tersebut berada di antara pejuang milisi Donbass. Para Milisi Donbass, Sukarela Berperang Demi Lindungi Handai TolanPara penduduk di Donbass yang berasal dari berbagai macam latar belakang etnis yang berbeda telah tinggal di wilayah tersebut selama beberapa generasi dan menganggap Donetsk sebagai tanah airnya sendiri. Foto: RIA Novosti

Kami mencoba menganalisis jumlah populasi penduduk yang menetap secara permanen di Donetsk. Berdasarkan data tahun 2013 dari Kelompok Diaspora Nasional Kota di Donetsk, Makiyivka, Gorlovka, dan Kramatorsk, jumlah penduduk tetap di kota-kota tersebut disajikan dalam grafik berikut:
Bangsa Armenia menempati posisi teratas dengan populasi sebanyak 37 ribu orang, bangsa Azerbaijan 21 ribu orang, bangsa Osetia sembilan ribu orang, suku Chechen (bangsa Chechnya) 4.700 orang, penduduk Dagestan 2.700 orang, dan penduduk Georgia sekitar tiga ribu orang. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Donbass merupakan wilayah multietnis di Ukraina. Mereka telah tinggal di wilayah tersebut selama beberapa generasi dan menganggap Donetsk sebagai tanah airnya sendiri.

RBTH pun mewawancarai beberapa perwakilan rakyat Kaukasus yang dengan sukarela menjadi pasukan milisi Ukraina. Berikut hasil perbincangan dengan para pejuang kemerdekaan Donbass yang kami temui.
Zaur (27), suku Dagestan, bergabung sejak Maret 2014 “Saya berasal dari kota Gorlovka, dan saya bergabung di sini ini segera setelah dimulainya gerakan perlawanan Ukraina. Saat gerakan Maidan terjadi, saya langsung paham bahwa duduk diam tidak akan menyelesaikan masalah. Saya harus memilih: tinggal dan melindungi diri sendiri, atau pergi dari sini”.Aslan (31), bangsa Osetia, bergabung sejak Mei 2014 “Saya langsung mendaftarkan diri menjadi milisi perlawanan Ukraina sehari setelah terjadi peristiwa pembantaian di Odessa pada 2 Mei lalu. Saya tidak bisa membiarkan apa yang terjadi di Odessa. Saya bergabung agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi di Donetsk. Orang-orang itu bukan manusia, mereka harus dihentikan dan dilawan menggunakan kekerasan. Mereka tidak mengerti bahasa lain selain kekerasan. Mereka haus akan darah. Orang-orang seperti mereka perlu dihentikan, dan tidak ada pilihan lain selain menggunakan senjata”.

Anggota milisi perjuangan di Donbass tidak hanya terdiri dari penduduk setempat saja, tetapi juga terdiri dari para sukarelawan dari negara lain. Berdasarkan data Republik Rakyat Donetsk, sekitar 93 persen pejuang milisi adalah penduduk setempat, dan 6-7 persen sisanya adalah sukarelawan. Sukarelawan tersebut sebagian besar didominasi oleh orang Rusia yang datang dari berbagai pelosok negara Rusia. Ada yang datang karena ideologinya, datang untuk melindungi sanak keluarganya di Donbass, atau pun karena mereka dulu pernah tinggal di sana dan masih menganggap daerah Ukraina tenggara sebagai tanah airnya sendiri.
Oleg (42), warga Omsk, bergabung sejak Juni 2014 sebagai penembak senapan mesin “Saya lahir di sini, ini adalah tanah air saya. Saya tinggal di Kramatorsk hingga usia saya beranjak 23 tahun, setelah itu saya pindah ke Rusia bersama seluruh keluarga saya. Ketika semua ini terjadi di Ukraina pada musim dingin lalu, saya menelepon teman-teman dan sanak saudara saya. Mereka semua ketakutan. Tidak ada yang tahu apa yang mungkin terjadi pada mereka dan bagaimana ini semua akan berakhir.

Lalu para “Ukry” (sebutan berkonotasi negatif bagi orang Ukraina, dalam bentuk jamak menjadi Ukry) mengirim pasukannya ke sini.

Setelah mulai muncul korban jiwa, saya sadar bahwa perang telah dimulai, dan sekarang bisa dimulai “pembersihan”. Saya langsung datang ke sini. Separuh teman masa kecil saya sudah bergabung lebih dulu dalam gerakan perlawanan ini, sehingga saya tidak mengalami kesulitan ketika mendaftarkan diri. Kami sejak kecil sudah bermain perang-perangan di pekarangan rumah, dan sekarang adalah perang yang sebenarnya.

Orang benar-benar kehilangan nyawa di sini. Memang menyakitkan melihat hal tersebut, akan tetapi tidak ada jalan lain. Bukan kami yang memulai semua ini”.
Nikolay (34), warga Moskow, bergabung di milisi sejak Mei 2014 “Tentu saya bisa saja hanya duduk di rumah, meratapi kenyataan bahwa orang-orang Rusia dan penduduk berbahasa Rusia di Ukraina akan “dihancurkan”. Sebenarnya sejak awal sudah dapat dimengerti, jika mereka berhasil menghancurkan Donbass, maka itu akan berakhir buruk juga untuk Rusia. Saya pikir, keberadaan kami di sini adalah untuk melindungi orang-orang Rusia, para saudara kami asal Ukraina, dan negara Rusia sendiri. Saya yakin kami tidak akan bisa ditundukkan. Seperti zaman Uni Soviet lalu, kami di sini merupakan kumpulan dari seluruh etnis yang ada di Rusia, dan semua sadar apa yang mereka perjuangkan di sini”.

Para sukarelawan datang ke Donbass menggunakan uang mereka sendiri, dan banyak yang berani mengambil resiko menghadapi tuntutan hukum dari tanah air asalnya. Hal tersebut dialami oleh para sukarelawan yang datang dari luar negeri, seperti Serbia, Ceko, Jerman, Italia, Palestina, Prancis, Israel, dan Suriah.
Predrag (34), warga Serbia, bergabung sebagai pejuang milisi sejak Juni 2014 “Ini semua adalah ulah NATO. Kami di Serbia tahu seperti apa NATO sebenarnya. Mereka melakukan hal yang sama kepada kami. Awalnya adalah perang saudara, kemudian datang pesawat tempur dan bala bantuan pasukan NATO. Yugoslavia dipecah-belah dengan gampangnya, bahkan sampai detik ini kami masih belum mampu memulihkan situasi. Sekarang mereka datang ke sini, ke Ukraina dan membidik Rusia. Hal yang terjadi di sini adalah saudara melawan saudaranya sendiri,” kata Predrag menjelaskan.

“Saya lihat para tentara Ukraina, mereka adalah bangsa yang sama dengan yang ada di pihak kami, sama-sama orang Ukraina dan Rusia. Orang-orang yang kami tawan dari pihak musuh sebagian besar adalah bangsa Rusia.

Ini adalah perang saudara yang sebenarnya. Tak ada seorang pun yang berpikir menggunakan GRAD (sistem peluncur roket multilaras dengan luasan tembak yang sangat besar) untuk melawan satu sama lain di Yugoslavia. Sedangkan di sini mereka menggunakannya untuk menghancurkan kota-kota.

GRAD adalah senjata yang mengerikan. Itu dilakukan agar muncul kebencian satu sama lain, sehingga tercipta hasrat untuk membunuh dan keinginan untuk membuat itu semua dirasakan oleh seluruh musuhnya. Saya datang ke sini, dan banyak orang dari Serbia yang datang juga ke sini.

Kami tidak dibayar. Di sini saya diberi makan, seragam, senjata, dan untuk itu saya berterima kasih. Saya hanya tahu, jika di sini terjadi skenario yang serupa dengan yang terjadi di negara kami, maka kita sudah tidak memiliki harapan sama sekali. Akan tetapi jika Rusia ikut berdiri membela, maka kami masih memiliki harapan untuk mengembalikan kemerdekaan.

Hari ini kami melihat Uni Eropa sebagai benalu, sedangkan mereka melihat kita sebagai koloni mereka. Hal tersebut tidak boleh terjadi di sini. Pada awal-awal peperangan, bisa dikatakan kami hanya menggunakan tangan kosong melawan tank-tank musuh. Akan tetapi, sekarang kami sudah berhasil merebut senjata-senjata mereka dan mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi pada kita”.

  RBTH Indonesia  

RI to strengthen defense in South China Sea

To increase its military defenses in the South China Sea, the government is preparing to establish an F16 fighter jet squadron in Pekanbaru, Riau Islands, and an Apache helicopter squadron near the South China Sea.

Defense Minister Purnomo Yusgiantoro said the government had decided upon the measure to safeguard Asia’s largest gas field exploration at Riau Islands’ East Natuna field, formerly known as the Natuna-D Alpha block, which is set for development in the near future.

“Oil and gas production in the South China Sea is immense and we are about to develop the biggest gas field in Asia. We need to secure it as a national strategic object,” Purnomo said Saturday on the sidelines of the launch of five attack missile boats and one fast patrol boat at the Batu Ampar container port in Batam, Riau Islands.

During the event, Purnomo said investment in the country’s defense system had been extensive over the past five years, adding that the amount was three times larger than the investment during the 2005-2009 government administration and five times larger than the 2000-2004 administration.

The former energy and mineral resources minister said the F16 squadron would enhance the existing fighter squadron in Pekanbaru, which is home to a number of Hawk 100 and 200 weapons system jets.

“There will be a LIFT [lead-in fighter trainer] fighter jet, Hawk 100 and 200 jets as well as the latest series of F16 C/D jets. [We need them] because there are many strategic projects in the area,” Purnomo said, while declining to comment on the disputes in the South China Sea.

Indonesia has been warned that the territorial disputes over certain islands in the South China Sea is a real threat that could sooner or later impact this country.

Head of the Maritime Security Coordinating Board (Bakorkamla), Vice Adm. Desi Albert Mamahit, said Indonesia’s waters off Riau Islands were not part of the disputed territory. However, they were very close to the area and China had not yet clarified what claims it would make regarding Indonesia’s exclusive economic zone around them.

“This is clearly a real threat for Indonesia,” said Desi, who is also rector of the Indonesia Defense University.

He said Indonesia needed to be prepared to deal with any move made by any party involved in the disputes.

He said China had claimed ownership over the Paracel Islands and the Spratly Islands by saying the waters around them were traditional Chinese fishing areas, even though they are located thousands of kilometers from the Chinese mainland.

At the same time, a number of ASEAN member states, namely Vietnam, Malaysia, the Philippines and Brunei Darussalam, also claim ownership over territory in the South China Sea.

“This is complicated as there are conflicts between fellow ASEAN member countries and China. It makes it difficult to speak with one voice, although so far ASEAN solidarity has been maintained,” Desi said.

  thejakartapost  

[World Article] Asia arms up to counter growing Chinese might

In this May 24, 2014 photo, China's Harbin (112) guided missile destroyer, left, and DDG-139 Ningbo Sovremenny class Type-956EM destroyer, right, take part in a week-long China-Russia "Joint Sea-2014" navy exercise at the East China Sea off Shanghai, China. Several Asian nations are arming up, their wary eyes fixed squarely on one country: a resurgent China that’s boldly asserting its territorial claims all along the East Asian coast. The scramble to spend more defense dollars comes amid spats with China over contested reefs and waters. Other Asian countries such as India and South Korea are quickly modernizing their forces, although their disputes with China have stayed largely at the diplomatic level. AP/CHINA OUT

Vietnam has nearly doubled its military spending, Japan is requesting its biggest-ever defense budget and the Philippines is rushing to piece together a viable navy.

Several Asian nations are arming up, their wary eyes fixed squarely on one country: a resurgent China that's boldly asserting its territorial claims all along the East Asian coast.

The scramble to spend more defense dollars comes amid spats with China over contested reefs and waters. Other Asian countries such as India and South Korea are quickly modernizing their forces, although their disputes with China have stayed largely at the diplomatic level.

Asian countries now account for about half of the world's arms imports, with China leading the way by quadrupling its annual military budget over the past decade. The growth in military spending has largely kept pace with economic expansion, although it's been pulling ahead in China, Vietnam and several other countries this year.

China's goal is to dislodge the U.S. as the dominant power in the Pacific, said Robert D. Kaplan, chief geopolitical analyst for the U.S.-based intelligence research firm Stratfor. Among the stakes are vital shipping lanes in the South China Sea and potentially lucrative pockets of oil and natural gas under East Asian waters.

"The Chinese bet is that it can increase its military capacity in the South and East China seas faster than Vietnam and the Philippines can do so," Kaplan said. "If China is able to move freely and exercise more control of its adjacent seas, it will become a full-fledged naval power."

Beijing hasn't yet caught up to the U.S., which at $665 billion a year, spends more on its military than the next eight countries combined and triple that of China, according to the Stockholm International Peace Institute, a think tank. Still, China's spending nearly equals the total defense budgets of all 24 other countries in East and South Asia.

Drawing the most attention is China's submarine fleet, which is projected to match U.S. numbers by 2020, at 78 vessels each. Many of the Chinese submarines will be stationed at a giant underwater base on Hainan island, which juts into the South China Sea.

China's moves have spurred a submarine shopping spree across Asia. This year, Vietnam received the third of six submarines it ordered from Russia plus maritime patrol aircraft capable of hunting down Chinese subs. Russia is the top military exporter to Asia, followed by the U.S. and then European countries such as the Netherlands.

Over the summer, Vietnamese and Chinese ships rammed each other repeatedly after China moved an oil rig into waters claimed by both countries. Vietnam's military spending expanded by 83 percent over the past five years, making up 8 percent of government spending.

Similarly, Japan is replacing its entire fleet with more modern submarines, South Korea is adding bigger attack submarines and India plans to build six new subs.

"Submarines are seen as a potential for an underdog to cope with a large adversary," said Siemon Wezeman, a senior researcher at the Stockholm institute. "They can move silently and deny aerial or maritime control."

Compared to Vietnam and Japan, the Philippines is lagging behind. After helplessly watching China build atop reefs in the Spratly Islands, which both countries claim, the Philippines welcomed U.S. troops back to its bases after 20 years away. And it plans to boost spending on maritime patrol aircraft, bombers and other hardware.

"The Philippines is doing a lot of work to invest in military modernization," said Jon Grevatt, Asia Pacific defense analyst at the research group IHS Jane's. "For many years its economy has been growing and for many years it hasn't been able to respond to these requirements."

India, which has territorial disputes with both China and Pakistan, has bought so many tanks and jet fighters that it's become the biggest arms importer in the world. India has opened a 100,000-person-strong mountain corps near disputed stretches of its border with China.

Asked by The Associated Press about the regional arms buildup, Chinese Foreign Ministry spokeswoman Hua Chunying said Thursday that China's growing military budget was "transparent and serves national defense exclusively."

"If you look closely at the details of the events that happened in the East China Sea and South China Sea over the past two years, you will find that it was not China but the countries you mentioned that created tensions and took provocative actions," Hua said. "We have had to take measures necessary to defend our national sovereignty."

She added, "We hope the relevant countries can look at China's growth with a normal mindset, work with China to develop bilateral relations and preserve peace and stability in Asia."

Despite the focus on [removed] hardware, much of the action so far has involved Coast Guard ships that can easily jockey for control of disputed islands and fishing waters.

In June, Japan agreed to donate six Coast Guard vessels to Vietnam, after pledging 10 to the Philippines last year. On its own, Vietnam has nearly doubled its Coast Guard fleet to 68 vessels over the past five years, according to the U.K.-based International Institute for Strategic Studies. And Japan has expanded its main Coast Guard fleet by 41 vessels, for a total of 389 ships.

Japan has used such vessels over the past two years to defend its claims to several uninhabited islands it calls the Senkakus, which the Chinese claim as the Diaoyus.

"Given that all the countries are trying to avoid outright military conflagration, they've been keeping things at the level of paramilitary forces," said Sam Perlo-Freeman, head of the military expenditure program at the Stockholm institute. "They're trying to establish some sort of armed presence without ramping things up to a much more dangerous level."

Japan, however, appears to be preparing itself for possible escalation.

Last month, Japanese Prime Minister Shinzo Abe's government requested his country's biggest-ever military budget - $48 billion - with outlays for P-1 surveillance aircraft, stealth fighters and other U.S.-built hardware.

In July, Abe's Cabinet approved a reinterpretation of the country's constitution allowing it to defend American and other foreign troops under attack. Earlier this month, Japan and India pledged to share defense technologies and hold joint military exercises.

"If China is being more bellicose, it's because they see winds of opportunity," said Bernard Loo Fook Weng, a military studies expert at the S. Rajaratnam School of International Studies in Singapore. "This may all step toward a more violent situation."


  ★ philstar  

Rabu, 01 Oktober 2014

Sukhoi Tampil Pembuka Gladi HUT TNI Ke 69

Sukhoi Tampil Pembuka Gladi HUT TNI Ke 69 di SurabayaMENGAWALI gladi upacara Peringatan ke-69 HUT TNI yang di pusatkan di Dermaga Madura Mako Koarmatim Surabaya, Senin (29/9). Lima pesawat SU-27/30 Sukhoi melintas dengan mengeluarkan asap putih dan melakukan boomburst dan satu Sukhoi dibelakangnya melintas dengan mengeluarkan flare.

Pada peringatan ke-69 HUT TNI kali ini, TNI memamerkan seluruh kekuatan tempur yang dimilikinya, baik peralatan tempur yang dimiliki oleh TNI AD, TNI AL dan TNI AU.

TNI Angkatan Udara memamerkan seluruh kekuatan udaranya yang terdiri dari pesawat helikopter, pesawat angkut, pesawat latih maupun pesawat tempur serta unsur Kohanudnas dan Paskhas.

Pesawat helikopter terdiri dari pesawat Bell G-47 Solloy, EC 120 Colibri, SA-330 Puma dan NAS-332 Super Puma. Pesawat angkut terdiri dari Cassa-212, CN-235, CN-235 Maritime Patrol, CN-295, C-130 Hercules, Boeing 737-200 Maritime Patrol, Boeing 737-200 VIP, dan Being 737-400 VIP.

Sedangkan pesawat latih terdiri dari C-34 Charly, Grob G-120 TP-A, dan KT-1B Wong Bee. Sedangkan unsur pesawat tempur terdiri dari EMB-314 Super Tucano, F-5 Tiger II, Hawk 109/209, F-16 A/B, F-16 C/D, T-50 Golden Eagle dan SU-27/30 Sukhoi.

Sementara Kohanudnas menampilkan Radar C-MOG, radar cuaca mobil, dan ATC mobil, serta Korpaskhas menampilkan Satuan anti terror Den Bravo’90, Rudal Hunter, Rudal QW serta senjata teranyar Skyshield Misille Gun 35 mm MK-2.(dispenau)

  ★ MPI  

[World Article] US Secret Service Kecolongan

Obama dan Pria Bersenjata Satu Lift Paspampres Kecolongan, Obama dan Pria Bersenjata Satu LiftPresiden Obama belum lama ini satu lift dengan pria bersenjata, karena Paspampres-nya kecolongan. | (AP)

Mantan narapidana (Napi) bersenjata yang telah dihukum tiga tahun diketahui menyelinap dan satu lift dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama.

Layanan Rahasia AS Pengawal Presiden atau Paspampres Obama kecolongan dengan insiden itu. Itu merupakan insiden memalukan bagi Paspampres Obama untuk kesekian kalinya.

Sebelumnya, laporan media AS, Washington Post, merilis laporan bahwa kediaman Obama di Gedung Putih diberondong tujuh peluru pada November 2011. Kala itu, ada putri kedua Obama di dalam rumah saat penembakan terjadi.

Sedangkan kejadian Obama satu lift dengan eks Napi bersenjata terjadi 16 September 2014. Laporan itu muncul tiga hari sebelum Gedung Putih diterobos pria bersenjata yang memanjat pagar, yang akhirnya diketahui bahwa penyusup itu merupakan mantan tentara AS.

Laporan terbaru soal Obama satu lift dengan eks Napi bersenjata menjadi “tamparan” baru bagi Layanan Rahasia AS. Laporan itu pertama kali dipublikasikan oleh Washington Examiner. Saat itu, Presiden Obama sedang mengunjungi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, Georgia, untuk briefing pada kasus Ebola.

Pria bersenjata yang tak disebut namanya itu, dikenal sebagai kontraktor keamanan swasta. Entah bagaimana ceritanya Paspampres Obama bisa kecolongan, pria bersenjata itu leluasa mengambil foto dan video Presiden Obama saat satu lift dengannya. “Dia berperilaku tidak profesional,” tulis media AS itu.

Paspampres Obama kala itu telah memerintahkan agar pria tersebut berhenti mengambil foto dan video Obama. Tapi, perintah itu diabaikan. Petugas Paspampres Obama kemudian memeriksa data pria itu sebelum akhirnya senjatanya diserahkan.

Keteledoran Paspampres itu dikritik keras anggota parlemen AS. ”Anda mendapati penjahat yang dihukum, di lengan presiden dan mereka tidak pernah melakukan pemeriksaan latar belakang (penjahat itu)," kata Jason Chaffetz, anggota parlemen dari Partai Republik AS.

”Kata-kata saja tidak cukup kuat untuk melampiaskan kemarahan saya, karena keselamatan Presiden dan keluarganya bisa terancam,” lanjut dia.

”Hidupnya dalam bahaya. Negara ini akan menjadi dunia yang berbeda dari hari ini jika ia mengeluarkan pistolnya,” imbuh dia yang juga dikutip RT, Rabu (1/10/2014).(mas)

  ★ sindo  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...