Jumat, 03 Juli 2015

TNI Hibahkan 10 Kapal untuk Bakamla

Ilustrasi KRI TNI AL

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menandatangani nota kesepahaman dengan Kepala Badan Keamanan Laut, Laksamana Madya Desi Albert Mamahit, Kamis (2/7). Melalui memorandum of understanding tersebut, TNI akan mengalihtugaskan sepuluh kapal milik TNI Angkatan Laut kepada Bakamla.

Mamahit mengatakan, penyerahan sepuluh kapal itu akan dilakukan secara bertahap, dimulai pada akhir tahun ini dan direncanakan selesai tahun 2016.

"Jumlah kapal kami masih terbatas, jadi kami menggunakan aset-aset TNI AL," ujarnya di Ruang Tamu Panglima TNI, Jakarta.

Mamahit memaparkan, saat ini Bakamla baru memiliki 19 kapal. Rinciannya, tiga kapal besar berukuran 48 meter dan 15 kapal jenis catamaran berukuran 12 sampai 15 meter.

Selama ini, menurut Mamahit, operasi pengamanan laut selalu dilakukan secara bersama-sama dengan lembaga negara lain yang memiliki irisan kewenangan di wilayah perairan Indonesia.

Lembaga-lembaga itu adalah TNI AL, Polisi Air, Ditjen Bea dan Cukai, Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikaan serta Korps Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai. Di darat, Bakamla juga berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung dan Ditjen Imigrasi.

"Jadi sebenarnya pada saat beroperasi kami belum menemukan masalah karena mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan," kata Mamahit.

Sementara itu, Moeldoko mendukung penguatan kapasitas Bakamla. Ia berkata, Bakamla harus dapat memperkokoh pengelolaan wilayah laut nasional, khususnya dalam konteks penegakan hukum di laut.

"Secara operasional Bakamla perlu disinergikan dengan instansi terkait, termasuk dengan TNI karena kami juga memiliki tugas mengelola keamanan laut," ujarnya.

Selain pengalihtugasan 10 kapal, nota kesepahaman yang ditandatangani Moeldoko dan Mamahit juga mengatur tentang bantuan TNI memberikan pendidikan dan latihan bagi personel Bakamla, pertukaran data atau informasi serta penugasan prajurit TNI dalam operasi yang dikomandoi Bakamla. (hel)

  CNN  

Pemerintah Siapkan Pesawat Angkut A400 dan C17‎ ‎Gantikan Hercules

Pesawat angkut militer C-17. (Ist)

Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya TNI Angkatan Udara masih mengandalkan dua skuadron pesawat angkut lawas jenis Hercules sebagai tulang punggung pengiriman logistik ke daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Padahal, pesawat tersebut sudah berumur lebih dari 50 tahun dan di negara lain sudah lama dimuseumkan.

Pascamusibah jatuhnye Hercules di Medan, Sumatera Utara, banyak dorongan agar TNI meng-grounded pesawat-pesawat lawas. Tujuannya, selain untuk meminimalisir kejadian serupa juga untuk peremajaan dan penguatan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) nasional.

Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Djundan Eko Bintoro, menegaskan, rencana untuk menggantikan peran pesawat angkut jenis Hercules sudah ada dalam rencana strategis (Renstra) dua 2015-2019.

Pada renstra dua 2015-2019 akan ada perkuatan dengan memperbaharui skuadron angkut dengan pesawat (Airbus) A400 atau C17,” kata Djundan, Kamis (2/7).

Seperti halnya Hercules, Pesawat Airbus A400 merupakan pesawat angkut militer yang juga bermesin empat turboprop. Pesawat tersebut pertamakali melakukan penerbangan uji coba perdana di Sevilla, Spanyol pada akhir 2009 lalu. Pesawat ini dirancang oleh divisi militer Airbus untuk mengganti atau melengkapi pesawat yang digunakan dalam peran angkutan udara taktis.

Sedangkan pesawat jenis C-17 merupakan sebuah pesawat angkut militer Amerika Serikat yang diproduksi oleh Boeing Integrated Defense Systems dan sudah dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Angkatan Udara Britania Raya dan Angkatan Udara Australia.

  Brita Satu  

Anggaran Alutsista Indonesia Minim

Hanya Rp 12 Triliun pertahun Alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI kembali disorot setelah pesawat Hercules C130 jatuh di Medan, Sumatera Utara.

Publik mengkritik pemerintah yang memilih hibah alusista dari negara lain ketimbang membeli baru.

TNI memang terus berusaha melakukan pemeliharaan dan memodernisasi alutsistanya. Tapi anggaran yang disediakan hanya sekitar Rp 12 triliun.

"Dari Rp 102 triliun anggaran TNI, yang nyata dipakai untuk alutsista cuma Rp 12 triliun," kata anggota Komisi I DPR TB Hasanudin di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (2/7/2015).

Jika dilihat secara keseluruhan, anggaran pertahanan tampak besar. Namun dari Rp 102 triliun anggaran yang ada, hanya 77 persen untuk anggaran TNI. Itu pun dibagi untuk Mabes TNI dan tiga matra yang ada.

"Nah, Angkatan Udara contohnya. Anggarannya Rp 13 triliun, Rp 3,5 triliun untuk gaji, Rp 6 triliun belanja barang seperti latihan, beli suku cadang, perawatan. Cuma Rp 3,7 triliun belanja modal. Itu yang untuk beli alutsista," jelas purnawirawan Jenderal TNI ini.

Angka ini sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan kebutuhan modernisasi alutsista TNI. Untuk AU, anggaran tersebut hanya mampu untuk membeli dua unit F-16 baru yang harga satuannya Rp 1,5 triliun.

"Sedangkan anggaran untuk Angkatan Laut Rp 4,02 triliun, dan untuk Angkatan Darat Rp 4,9 triliun," kata dia.

Karena itu, Hasanudin berharap, Presiden Joko Widodo segera merealisasikan rencana menaikkan anggaran untuk TNI hingga 1,5 persen dari pendapatan domestik bruto Indonesia. Jika begitu, anggaran TNI akan mencapai Rp 150 triliun per tahun.

"Nah itu jangan dipakai untuk macam-macam. Anggaran Rp 50 triliun itu dilarikan ke alutsista. Kan lumayan, naik jadi Rp 62 triliun untuk alutsista," kata dia.

Anggaran pertahanan TNI memang sangat kecil. Bahkan jika dana aspirasi untuk dewan diloloskan dengan pagu Rp 20 miliar per dewan di APBN, anggaran pembelian senjata TNI sama dengan total pagu dana Usulan Program Pembangunan Daerah Pemilihan: sekitar Rp 12 triliun.(TII)

  metrotvnews  

[World] Menhan Rusia Ingin Upgrade IL 38 MPA

Akan meng-upgrade semua armada Il 38 MPA menjadi Il 38 N http://www.navyrecognition.com/images/stories/news/2015/june/Russian_Navy_Il-38N_78.jpgBatch pertama pesawat yang telah selesai di upgrage menjadi IL 38N siap untuk dikirim ke Angkatan Laut Rusia. [Nikolai Savinykh] ☆

Kantor berita resmi Rusia, TASS melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia berencana untuk meng-upgrade seluruh armada Ilyushin Il-38 Maritime Patrol Aircraft (MPA). Deklarasi tersebut dikatakan oleh komandan penerbangan angkatan laut Rusia Igor Kozhin Selasa.

"Kontrak ini dalam tahap pembahasan. Tidak mungkin untuk menyebutkan nama tokoh tertentu pada saat ini (jumlah pesawat dan tanggal), tetapi seluruh armada pesawat akan menjalani upgrade," katanya.

Il-38 MPA merupakan pesawat khusus peperangan anti-kapal selam, nantinya akan ditingkatkan menjadi Ilyushin-38N, dengan sistem radar pencarian generasi yang baru bersama sistem target penjejak Novella-P-38.

Kozhin mengatakan semua pesawat upgrade akan dicat abu-abu gelap sesuai dengan standar Kementerian Pertahanan. Rencananya, Angkatan Laut Rusia akan memilih pesawat jenis patroli ini menggantikan pesawat Il-20 dan Il-38 pada 2015-2016, yang diklaim sebagai pesawat anti-kapal selam yang jauh lebih baik dari pesawat sejenis dipasaran. "Pesawat ini akan melakukan penerbangan perdananya pada tahun 2020," kata Kozhin menambahkan pada hari Selasa.

Batch pertama (upgrade 5 unit pesawat Il-38 menjadi Il-38N) hampir selesai. Ilyushin melaporkan bahwa kelima pesawat Il-38N (nomor 78) sedang melakukan tes penerbangan akhir di Zhukovsky. Pesawat akan segera dikirim ke Angkatan Laut Rusia. [navyrecognition]

  ★ Garuda Militer  

[World] Argentina Upgrade MBT TAM bersama Israel

Tank TAM merupakan medium tank dan menjadi tank utama [MBT] di Argentina. 74 unit MBT TAM Argentina akan ditingkatkan bersama Israel

K
ontrak senilai $ 111 juta dollars telah ditandatangani oleh Menteri pertahanan Argentina bersama koleganya dari Israel untuk meng-upgrade Main Battle Tank [MBT] TAM sebanyak 74 unit pada tanggal 26 Juni lalu.

Perjanjian tersebut meliputi pelaksanaan dan penyediaan semua perlengkapan yang diperlukan untuk modernisasi dan upgrade 74 unit MBT TAM, yang merupakan tank tempur utama Angkatan Darat Argentina. Selain itu, Argentina akan mendapat ilmu baru dari proses  transfer teknologi dari Israel, supaya mampu untuk mengembangkan sendiri melalui proyek bersama dengan lisensi, Usaha ini memungkinkan Argentina menjual produk bersama ini ke pasar luar negeri.

Sekretaris Sains, Teknologi dan Produksi Pertahanan, Santiago Rodriguez, mengatakan, "Modernisasi MBT TAM hanyalah sebagai simbol, yang nantinya dirancang dan diproduksi secara lokal di Argentina," dan menjelaskan bahwa "Jalur produksi akan diproduksi di pabrik Boulogne, Argentina, Dimana komponen akan diproduksi secara lokal."

Modernisasi MBT TAM ini mencakup kemampuan meluncurkan rudal anti tank LAHAT, kamera termal jarak pendek baru untuk pengemudi, dan televisi untuk penembak dan komandan, dengan dilengkapi laser. On-board sistem komputasi akan ditingkatkan. Empat detektor laser juga akan ditambahkan sebagai unit tambahan.

Tanque Argentino Mediano ("Medium Tank Argentina"), atau TAM, merupakan tank tempur utama dalam pelayanan Angkatan Darat Argentina. Karena kurangnya pengalaman dan sumber daya untuk merancang tank, maka Departemen Pertahanan Argentina mengontrak dan berkerjasama dengan perusahaan Jerman Thyssen-Henschel, untuk bersama sama medesain MBT. MBT TAM merupakan perkembangan dari chassis IFV Marder.

TAM akhirnya memenuhi persyaratan Angkatan Darat Argentina untuk kendaraan ringan, cepat dan modern dengan siluet yang rendah dengan daya tembak yang cukup. Pembangunan TAM dimulai pada tahun 1974 dengan membuat tiga unit prototipe pada awal tahun 1977. Angkatan Darat Argentina memutuskan untuk memesan sebanyak 200 unit, dimana produksi masal dimulai pada tahun 1979. Datangnya krisis ekonomi, proses produksi dihentikan pada tahun 1983. Pada tahun 1994 produksi di mulai kembali sampai pesanan 200 unit tercapai di pabrik seluas 9.600 meter persegi. [armyrecognition]

  Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...