Rabu, 23 Juli 2014

[World News] Rusia Tawarkan Radar dan Misil ke Filipina

Rusia Tawarkan Radar dan Misil kepada FilipinaRusia Tawarkan Radar dan Misil kepada Filipina

Rusia sedang melakukan negosiasi kerjasama teknis militer dengan Filipina di tengah ketegangan yang meningkat di Barat Laut Filipina. “Kami sepenuhnya memahami masalah Filipina yang harus menghadapi persoalan perbatasan maritim yang pelik,” ujar Deputi Direktur Layanan federal Rusia untuk Kerjasama Teknik Militer, Konstantin Biryulin, kepada Manila Bulletin dalam sebuah wawancara eksklusif Jumat.

“Kami memiliki masalah yang sama di Rusia dan kita tahu bagaimana menanganinya. Itulah mengapa kita memiliki proposal tentang peralatan yang dapat membantu mengendalikan masalah di daerah tersebut”.

Selain mencari cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan mengembangkan hubungan Rusia-Filipina, Biryulin mengatakan salah satu tujuan dari kunjungannya untuk menegosiasikan kerjasama teknis militer dengan Departemen Pertahanan Nasional (DND). Kerja sama tersebut meliputi khususnya, penjualan perangkat keras militer Rusia.

“Sayangnya upaya kami belum membawa hasil yang diinginkan,” katanya. Rusia sebelumnya, sebenarnya telah bidding ikut menawarkan penyediaan jet tempur ke Filipina, namun kontrak itu dikantongi oleh perusahaan Korea.

Menurut Biryulin, kedua pihak telah sepakat untuk menggelar pembicaraan tentang kerjasama militer di Rusia beberapa waktu mendatang dan diharapkan membawa hasil.

“Kita perlu mempertimbangkan pendapat dari lembaga Rusia yang lain, karena ruang lingkup tanggung jawab (Departemen Pertahanan) DND Anda, jauh lebih luas daripada kementerian pertahanan Rusia,” jelasnya. “Karena di sini, DND anda juga mengurus masalah tanggap darurat.”

“Itulah mengapa kita perlu mencari nasihat dari Kementerian Tanggap Darurat Rusia,” tambah Biryulin. “Segera setelah kami kembali, kami akan melanjutkan konsultasi dengan berbagai instansi, dalam satu sampai dua bulan kami akan mengirimkan masukan kami ke Filipina.”

Dia mengatakan Rusia dapat mempertimbangkan menawarkan Filipina meliputi “pasokan stasiun radar dan sarana mencegat dan penghancuran bagi pelaku pelanggar perbatasan.” Mengenai karakteristik teknis, peralatan Rusia memiliki standar yang sama dengan standar Barat.

“Produsen kami fleksibel dalam menyesuaikan produk mereka, agar dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan”, ujar pejabat Rusia tersebut.[JKGR]

  Manila buletin  

[World Article] Spesifikasi Bom "Panah" Israel Penggempur Gaza

Bom flechette Spesifikasi Bom Spesifikasi Bom "Panah" Israel Penggempur Gaza (Foto: AP)

Dalam melakukan serangan udara ke Gaza, Israel dikabarkan menggunakan bom yang diisi dengan mortar kecil berbentuk seperti panah dari besi. Militer Israel melepaskan bom tersebut di Gaza 17 Juli 2014 lalu.

Menurut laporan dari Guardian, seorang perempuan berusia 37 tahun terluka akibat akibat serangan darat pertama Israel di Gaza tersebut.

Pihak militer Israel (IDF) tidak membantah menggunakan bom panah kecil atau biasa disebuah flechette itu. Mereka juga menyatakan, hanya menggunakan senjata yang dinyatakan legal oleh hukum internasional.

Apa arti bom flechette tersebut? Bom ini dibawa oleh tank-tank Israel yang melepaskan tembakan artileri berisi flechette.

"Flechette ini memiliki panjang 37,5 milimeter. Ketika artileri itu ditembakkan, ribuan dari panah kecil besi itu menyebar hingga 300 meter jauhnya dan melebar hinggar 90 meter," ujar seorang aktivis Israel, seperti dikutip B'Tselem, Selasa (22/7/2014).

Menurut Guardian, satu peluru artileri tank Israel yang berdiameter 105 milimeter, bisa berisi 8.000 flechette. Kemampuan merusaknya pun sangat luar biasa.

Begitu panah kecil flechette mengenai target dan memasuki tubuh korban, sirip dari panah itu akan lepas dan menyebabkan luka terpisah.

Senjata ini digunakan di pertempuran dengan lokasi padat target. Umumnya, flechette akan diarahkan kepada banyak prajurit musuh.
Ilegalkah Penggunaan Bom "Panah" Israel? Warga Gaza melihat flechette (Foto: AP)Warga Gaza melihat flechette (Foto: AP)

Militer Israel (IDF) ternyata bukan sekali ini saja menggunakan bom "panah" flechette. Pada serangan Israel ke Gaza 2008 lalu, senjata itu juga pernah digunakan.

Pada serangan 2008 lalu, bom flechette ini menewaskan seoranga fotografer Reuters Fadel Shana. Serangan juga menyebabkan dua orang warga sipil Palestina lainnya.

Sementara pada 2001 dan 2003 bom serupa juga diduga digunakan ke arah warga sipil Palestina. Beberapa orang warga Palestina juga tewas dalam serangan tersebut.

Penggunaan flechette juga diteruskan pada operasi Cast Lead di 2009. Jelas sekali terlihat dalam serangan tersebut menyebabkan warga Palestina yang tewas.

Tetapi apakah legal penggunaan dari flechette. Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki penilaiannya sendiri terkait penggunaan flechette. Penilaian berdasarkan konflik Israel dan Palestina di Gaza pada 2008 hingga 2009.

Menurut Dewan HAM PBB, flechette tidak mampu memisahkan target yang mereka incar. Hal ini terjadi artileri yang membawa mereka meledak.

"Senjata ini tidak cocok digunakan di lingkungan urban, di mana banyak warga sipil," laporan Dewan HAM saat usai konflik 2008-2009.

Laporan yang bernama Laporan Goldstone itu menyebutkan, flechette tidak dilarang berdasarkan aturan internasional. Namun menurut Hakim Richard Goldstone, -yang memimpin penyelidikan laporan itu- prinsip-prinsip proporsionalitas dan tindakan pencegahan yang diperlukan dalam serangan, membuat penggunaannya ilegal.

Israel tentunya membantah laporan dari Goldstone tersebut. Mereka menyebutkan penggunaan adalah legal dan mereka menilai pihaknya tidak melanggar aturan Hukum Penggunaan Senjata dalam Konflik.

Pemerintah Israel juga menyebutkan bahwa senjata itu digunakan oleh militer di dunia dalam beberapa konflik. Israel pun menyebutkan bahwa flechette buatan Amerika Serikat (AS) menjadi pilihan utama Negara Yahudi, dibanding senjata lainnya.(faj)

   okezone  

[World News] Pelayaran Perdana KDB Daruttaqwa

KDB Daruttaqwa (photo : Brunei Mindef)KDB Daruttaqwa (Brunei Mindef)

Kapal Patroli DARUTTAQWA Royal Brunei Navy (RBN) menandai tonggak sejarah ketika memulai pelayaran perdananya, Selasa 15 Juli, 2014, bertolak dari laut Jerman. Kapal Patroli DARUTTAQWA diawaki 13 officer serta 48 awak kapal, dengan komandan Letnan Kolonel (L) Khairil bin Haji Abdul Rahman.

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Brunei Darussalam di Republik Federal Jerman, Yang Mulia Pehin Datu Penglima Kolonel (R) Dato Paduka Haji Abdul Jalil bin Haji Ahmad, serta Head of Project Naval Overseer (PNO), Letnan Kolonell (L) Azlan bin Haji Ahmad, hadir untuk mengucapkan selamat tinggal, kepada para kru kapal yang akan bertolak ke Brunei Darussalam.

Pihak tuan rumah yang ikut menyambut di Luerssen Wharf adalah Managing Director Fr Luerssen Werft (FLW), Peter Luerssen. Acara ditutup dengan sesi foto bersama kapal DARUTTAQWA dengan para perwira dan awak Kapal Patroli DARUTTAQWA.

Untuk memberkati pelayaran perdananya, sebuah doa selamat diucapkan oleh Kopral Sahrul Al-Hasri bin Hamzah, diikuti oleh Azan sesaat kapal dilayarkan oleh Sersan (L) Aliuddin bin Sarbini.

Pelayaran perdana Kapal Patroli DARUTTAQWA dari Lemwerder, Bremen – Jerman, akan singgah di Valencia (Spanyol), Jeddah (Arab Saudi), Mumbai (India) dan Singapura. DARUTTAQWA akan berlayar di Laut Utara, Selat Inggris, Samudera Atlantik, Selat Gibraltar, Laut Mediterania melalui Terusan Suez, Teluk Aden, Samudera Hindia, Selat Malaka dan Laut China Selatan, selama lebih dari 46 hari dan diperkirakan akan bersandar di Pangkalan Angkatan Laut di Muara, Brunei Darussalam, Sabtu, 30 Agustus, 2014.(JKGR)


  ★ mindef  

Selasa, 22 Juli 2014

Pangkostrad Letjen Gatot Nurmatyo Jadi KSAD Baru

KSAD Baru Pangkostrad Letjen Gatot Nurmatyo Jadi KSAD Baru  Letjen TNI Gatot Nurmantyo, menerima hormat saat defile upacara penyerahan pasukan dalam serah terima jabatan Pangdam V Brawijaya pada Brigjen TNI Murdjito, di lapangan Kodam V Brawijaya, Surabaya, 2 Desember 2011. TEMPO/STR/Fully Syafi

Jakarta Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Mayor Jenderal Fuad Basya membenarkan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal Gatot Nurmantyo bakal dilantik sebagai pengganti Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman. ”Benar. Beliau yang akan menggantikan Pak Budiman,” kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 22 Juli 2014.

Meski begitu, Fuad belum mengetahui jadwal kepastian pelantikan terhadap Letjen Gatot Nurmantyo. Menurut dia, presiden yang dapat menentukan waktu pelantikannya. Setelah pelantikan, dia melanjutkan, akan dilakukan serah terima yang waktunya diatur oleh Panglima TNI Moeldoko. “Pelantikan, ya, kami tidak tahu karena itu terserah presiden,” ujar dia.

Jenderal Budiman membenarkan pemberhentian dirinya pada akhir pekan ini. Kabar tersebut dia peroleh melalui sambungan telepon dari Panglima TNI, Senin malam, 21 Juli 2014, saat dia menggelar acara buka puasa bersama wartawan. Budiman sendiri tak tahu-menahu alasan pemberhentiannya.

Fuad menjelaskan, pemberhentian Jenderal Budiman oleh Presiden berdasarkan masa karier yang hanya tersisa sekitar dua tahun. Presiden, kata dia, melihat umur Budiman sebaiknya berhenti menjadi Kepala Staf TNI AD. “Dia kelahiran 1956, sudah mau pensiun,” kata dia.

  ★ Tempo  

Lanud Tarakan Terlibat Operasi “Garda Wibawa 14” Ambalat

Komandan Lanud Tarakan Letkol Pnb Tiopan Hutapea, S.Sos, menerima Kedatangan Pesawat Boeing 737-200 AI-7303 Intai Strategis yang dipimpin Kapten Pnb I Kadek Wiliantara beserta 13 Crew dalam rangka Operasi Garda Wibawa-14 Perairan Ambalat, di apron Bandara Juwata Kota Tarakan, Kamis (17/07).

Menurut Komandan Lanud Tarakan Letkol Pnb Tiopan Hutapea, S.Sos, TNI dan TNI Angkatan Udara menggelar Operasi Garda Wibawa-14 untuk meningkatkan pengamanan di Perairan Ambalat sebagai bentuk dari upaya pengamanan Negara dalam menyikapi adanya klaim wilayah perbatasan oleh Malaysia di Perairan Ambalat.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, telah memerintahkan untuk menggelar Operasi Gabungan dengan sandi Garda Wibawa-14 yang bertujuan untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI serta pengamanan wilayah perbatasan laut dan udara dengan Malaysia.

Perairan Ambalat masih menjadi persoalan tersendiri bagi Indonesia dan Malaysia. Malaysia sebagai Negara Littoral (bukan Negara Kepulauan), masih menganggap perairan kaya cadangan energi itu sebagai wilayah Malaysia, namun Indonesia sebagai Negara Kepulauan telah meratifikasi UNCLOS 1982 bersama Malaysia, menetapkan titik pangkal pengukuran batas wilayah perairan ada di atas Karang Unarang.

  ★ TNI  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...