Tampilkan postingan dengan label World. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label World. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2026

[Global] Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal Supersonik

🛩 Turki Pamer Kekuatan Baru di Langit NATO Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal (Baykar)

Hanya beberapa hari setelah para pemimpin NATO membicarakan masa depan peperangan drone di Ankara, Turki langsung memperlihatkan bahwa negara itu bukan sekadar tuan rumah pertemuan. Ankara juga ingin menjadi salah satu penentu arah teknologi tempur nirawak di dalam aliansi militer tersebut.

Pesawat tempur nirawak Bayraktar KIZILELMA S2 berhasil meluncurkan rudal udara-ke-permukaan supersonik JET-230 buatan Roketsan dan mengenai sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer. Uji tembak itu bukan hanya menambah jenis senjata yang dapat dibawa KIZILELMA. Keberhasilan tersebut memperlihatkan kemampuan Turki menggabungkan pesawat, rudal, radar, sensor, perangkat lunak misi, dan sistem kendali ke dalam satu rantai serangan yang sebagian besar dibangun oleh industri pertahanannya sendiri.

Baykar mengumumkan keberhasilan tersebut pada Senin (13/7/2026). Menurut laporan Anadolu Agency pada Selasa (14/7/2026), pesawat produksi seri bernomor ekor S2 meninggalkan pusat pengujian Baykar di Çorlu pada 8 Juli menuju Pangkalan Jet Utama Kelima di Merzifon. Pada 11 Juli, KIZILELMA lepas landas dengan membawa dua JET-230 di bawah sayap, kemudian menembakkan salah satunya ke sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer.

Uji coba itu datang hanya empat hari setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meluncurkan inisiatif NATO Drone Edge dalam Forum Industri Pertahanan NATO di Ankara pada 7 Juli. Rutte mengatakan drone telah mengubah karakter peperangan modern dan menjadi faktor penentu di medan perang. Negara-negara NATO kemudian berkomitmen menginvestasikan lebih dari 40 miliar dolar AS untuk kemampuan antidrone dalam lima tahun serta melatih lima kali lebih banyak operator drone hingga akhir 2027.

Urutan waktunya mengandung pesan politik yang sulit diabaikan. Ketika NATO sedang mencari cara memperbesar kemampuan drone dan antidrone, Turki memperlihatkan sebuah pesawat tempur nirawak produksi seri yang sudah mampu membawa rudal supersonik jarak jauh.

Namun, superioritas yang sedang dibangun Ankara bukan sekadar terletak pada seberapa jauh rudalnya dapat terbang. Keunggulan yang lebih penting berada pada kemampuan Turki menguasai hampir seluruh mata rantai teknologi yang dibutuhkan untuk menemukan, mengenali, mengunci, dan menyerang sasaran.

Melampaui Kecepatan Suara

Senjata supersonik bergerak melampaui kecepatan suara. Baykar juga belum memublikasikan spesifikasi lengkap JET-230, termasuk jenis sistem pencari sasaran, bobot hulu ledak, metode pemanduan terminal, dan kecepatan maksimumnya. Jarak lebih dari 120 kilometer merupakan jarak penembakan yang telah diperlihatkan dalam uji coba, bukan berarti batas jangkauan maksimal senjata tersebut sudah diketahui secara independen.

Rudal yang paling dekat sebagai pembanding adalah UAV-230 atau IHA-230 buatan Roketsan. Perusahaan menyebut rudal balistik udara-ke-permukaan tersebut memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer, bergantung pada kecepatan dan ketinggian platform ketika senjata dilepaskan.

UAV-230 berbobot sekitar 225 kilogram, membawa hulu ledak 42 kilogram, menggunakan pemanduan inersial berbantuan GNSS, dan dirancang untuk menyerang radar pertahanan udara, pusat komunikasi, kendaraan lapis baja ringan, pusat komando, serta sasaran di darat ataupun laut. Setelah dijatuhkan dari pesawat, rudal mengalami fase jatuh bebas sebelum motor berbahan bakar padatnya menyala.

Konstruksi seperti itu memungkinkan rudal memanfaatkan ketinggian dan kecepatan awal pesawat peluncur. Semakin cepat dan tinggi platform terbang ketika melepaskan rudal, semakin besar energi awal yang dapat digunakan untuk memperluas jangkauan.

Namun, spesifikasi UAV-230 tidak dapat langsung dianggap sebagai spesifikasi JET-230. Keduanya mungkin berada dalam jalur pengembangan yang sama, tetapi Baykar dan Roketsan belum membuka cukup data untuk memastikan bahwa bobot, hulu ledak, sistem pemanduan, serta kemampuan antijamming keduanya identik.

Dari Pembawa Bom Menjadi Penyerang Jarak Jauh

Sebelum membawa JET-230, KIZILELMA telah diuji menggunakan sejumlah bom dan rudal berpemandu Turki, termasuk TOLUN, TEBER-82, KGK, LGK-82, dan rudal udara-ke-udara GOKDOGAN. Penambahan JET-230 mengubah kualitas ancaman yang dapat diberikan pesawat tersebut.

Bom berpemandu konvensional umumnya menuntut pesawat mendekat ke wilayah sasaran. Kondisi itu meningkatkan risiko platform masuk ke dalam jangkauan radar, rudal permukaan-ke-udara, dan sistem peperangan elektronik lawan.

Sebagai perbandingan, MAM-L, salah satu munisi yang membuat drone Turki dikenal di berbagai konflik, memiliki jangkauan sekitar 15 kilometer menurut Roketsan. JET-230 dalam pengujian terbaru mengenai sasaran dari jarak lebih dari 120 kilometer. Artinya, tanpa menyamakan fungsi kedua senjata, jarak serang yang diperlihatkan JET-230 setidaknya delapan kali lebih jauh daripada jangkauan MAM-L.

Lompatan itu memungkinkan KIZILELMA menjalankan serangan stand-off, yakni melepaskan senjata dari luar jangkauan efektif sebagian pertahanan udara lawan. Pilot manusia tidak perlu diterbangkan menuju wilayah dengan tingkat ancaman tinggi. Apabila pesawat hilang, kerugiannya tetap mahal, tetapi tidak disertai risiko tewas atau tertangkapnya penerbang.

Konsep tersebut sangat relevan untuk misi penekanan pertahanan udara. KIZILELMA dapat diarahkan untuk membidik radar, pusat komunikasi, pos komando, kapal, atau fasilitas strategis sebelum pesawat berawak memasuki wilayah operasi.

KIZILELMA juga dapat digunakan sebagai umpan untuk memaksa radar lawan menyala. Begitu radar memancarkan sinyal dan posisinya terdeteksi, sistem lain dapat menyerangnya. Dalam skenario berbeda, beberapa pesawat nirawak bisa dikirim dalam gelombang awal untuk menguras rudal pertahanan udara musuh sebelum jet berawak melanjutkan serangan.

Di sinilah arti penting pesawat tempur nirawak menjadi lebih besar daripada drone bersenjata konvensional. Platform tersebut bukan hanya dirancang untuk mengawasi wilayah atau menjatuhkan bom ke sasaran yang pertahanannya lemah. Ia dipersiapkan menjadi bagian dari operasi udara kompleks yang sebelumnya hampir sepenuhnya menjadi wilayah jet tempur berawak.

Superioritas Turki Ada pada Ekosistemnya

Spesifikasi Drone KIZILELMA Turki. - (Erdy Nasrul/Republika)

Turki memang belum mengungguli Amerika Serikat dalam keseluruhan teknologi penerbangan tempur. Amerika masih memiliki jaringan satelit, pesawat siluman operasional, kapal induk, pesawat pengisian bahan bakar, sistem komando global, dan anggaran pertahanan yang tidak dapat ditandingi Ankara.

Namun, di sektor pesawat tempur nirawak, Turki telah menempatkan diri di kelompok terdepan. Yang membuat kemajuannya menonjol bukan satu produk tertentu, melainkan kemampuan beberapa perusahaan nasional mengembangkan komponen yang saling melengkapi.

Baykar memproduksi wahana terbang dan perangkat lunak kendalinya. Roketsan menyediakan rudal. ASELSAN mengembangkan radar serta sensor elektro-optik. TUBITAK SAGE memproduksi senjata udara-ke-udara. Perusahaan-perusahaan itu tidak lagi berdiri sebagai pemasok produk terpisah, tetapi membentuk ekosistem pertempuran.

Pada November 2025, KIZILELMA menggunakan radar AESA MURAD buatan ASELSAN untuk mendeteksi dan mengunci sasaran udara bermesin jet. Pesawat itu kemudian menembakkan rudal GOKDOGAN buatan TUBITAK SAGE dan mengenai sasaran di luar jangkauan visual. Baykar menyebutnya sebagai keberhasilan pertama pesawat tempur nirawak menghancurkan sasaran udara bermesin jet dengan rudal udara-ke-udara BVR. Karena klaim “pertama di dunia” berasal dari produsen, klaim tersebut tetap perlu diposisikan sebagai pernyataan Baykar, bukan penilaian independen universal.

Sebulan kemudian, dua prototipe KIZILELMA melakukan penerbangan formasi rapat secara otonom menggunakan algoritma armada cerdas. Kemampuan tersebut diarahkan agar beberapa pesawat nirawak dapat mengatur posisi, berpatroli, dan menjalankan misi bersama di bawah satu komando.

Pada Mei 2026, Baykar dan perusahaan pertahanan Italia Leonardo juga menguji kerja sama KIZILELMA dengan pesawat M-346 dalam program K-SWARM. Uji coba tersebut memindahkan konsep kerja sama pesawat berawak dan nirawak dari lingkungan simulasi menuju penerbangan langsung.

Rangkaian itu memperlihatkan arah pengembangan yang jelas. KIZILELMA tidak disiapkan hanya sebagai pesawat yang dikendalikan operator dari darat. Platform ini diarahkan menjadi rekan tempur otonom bagi pesawat berawak, anggota armada drone, pembawa rudal udara-ke-udara, serta peluncur senjata jarak jauh.

Sementara itu, sistem TOYGUN buatan ASELSAN menyediakan pencitraan dan penargetan elektro-optik yang dipasang menyatu dengan badan pesawat. Menurut ASELSAN, sistem tersebut dikembangkan untuk platform yang sangat memperhitungkan penampang radar dan hambatan aerodinamis serta dapat mendukung misi udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan.

Dengan radar MURAD, sensor TOYGUN, rudal GOKDOGAN, dan JET-230, Turki sedang membangun rantai serangan dari sensor hingga senjata. Pesawat dapat menemukan sasaran, membangun gambaran situasi, meneruskan data, memilih senjata, dan melepaskan serangan dengan ketergantungan yang lebih kecil pada pemasok luar negeri.

Inilah superioritas yang paling sulit ditiru: bukan membuat satu drone, tetapi membuat ekosistem yang memungkinkan drone tersebut berperang.

Terbesar Kedua

Turki kerap disebut sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat. Pernyataan itu perlu dibuat lebih presisi.

NATO menyatakan Turki memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di dalam aliansi, terutama berdasarkan jumlah personel. NATO kembali menggunakan keterangan tersebut menjelang Konferensi Tingkat Tinggi di Ankara pada Juli 2026.

Namun, “terbesar kedua” tidak otomatis berarti “terkuat kedua” dalam seluruh indikator militer. Kekuatan militer juga ditentukan oleh anggaran, kesiapan tempur, senjata nuklir, jumlah pesawat modern, kemampuan intelijen, armada laut, logistik jarak jauh, teknologi antariksa, dan pengalaman operasi gabungan.

Inggris dan Prancis, misalnya, memiliki senjata nuklir serta kemampuan proyeksi kekuatan global. Sejumlah anggota NATO lain mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur generasi kelima. Karena itu, tidak terdapat peringkat resmi NATO yang menetapkan Turki sebagai negara “terkuat kedua” secara keseluruhan.

Keunggulan Ankara justru lebih tepat digambarkan sebagai gabungan antara jumlah personel yang besar, lokasi strategis, pengalaman operasi, dan industri pertahanan yang tumbuh cepat, terutama pada drone, rudal, radar, peperangan elektronik, kendaraan lapis baja, dan kapal perang.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan menyebut perkembangan industri pertahanan Turki sebagai sebuah “revolusi industri pertahanan” ketika berpidato di kompleks ASELSAN pada 22 April 2026. Ia mengatakan NATO dapat belajar dari cara Turki menggabungkan produksi dan inovasi.

Uji JET-230 memberi bentuk nyata pada pujian tersebut. Turki tidak lagi hanya menyediakan tentara dalam jumlah besar untuk menjaga sisi selatan NATO. Negara itu juga mulai menawarkan teknologi yang sedang sangat dibutuhkan aliansi.

Kemandirian Turki Belum Sempurna

Meski demikian, narasi bahwa seluruh sistem KIZILELMA sepenuhnya bebas dari teknologi asing juga harus disikapi hati-hati. Sebagian besar avionik, radar, sensor, senjata, perangkat lunak, dan struktur pesawat memang dikembangkan perusahaan Turki. Namun, mesin jet masih menjadi salah satu titik ketergantungan penting dalam program tersebut.

Baykar sebelumnya mengakui mesin sebagai teknologi kritis dan menargetkan pengembangan mesin dalam negeri untuk KIZILELMA. Haluk Bayraktar mengatakan perusahaan berinvestasi pada teknologi mesin karena kemampuan itu diperlukan agar Turki benar-benar mandiri dalam memproduksi pesawat tempur nirawak.

Keterbatasan lain terlihat pada konfigurasi uji JET-230. Dua rudal dipasang di bawah sayap. Senjata eksternal menambah hambatan udara dan dapat memperbesar pantulan radar, sehingga keuntungan karakteristik siluman pesawat berpotensi berkurang.

Dengan kata lain, konfigurasi KIZILELMA yang membawa senjata besar di luar badan pesawat harus dipahami sebagai kompromi. Pesawat memperoleh jarak serang dan daya hancur lebih besar, tetapi mungkin kehilangan sebagian keunggulan observabilitas rendahnya.

Keberhasilan mengenai sasaran uji juga belum sama dengan keberhasilan menembus pertahanan udara terintegrasi dalam peperangan nyata. Sasaran dalam pengujian telah ditentukan, ruang udara dikendalikan, dan tidak ada bukti terbuka bahwa rudal harus menghadapi pengacauan elektronik, pencegatan, sasaran yang melakukan manuver, atau jaringan pertahanan berlapis.

Karena itu, uji coba tersebut membuktikan integrasi dasar pesawat dan senjata, tetapi belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam perang berintensitas tinggi.

Status produksi seri juga tidak serta-merta berarti platform telah mencapai kesiapan tempur penuh. Baykar sebelumnya menyatakan produksi telah dimulai dan KIZILELMA ditargetkan masuk inventaris pada 2026, tetapi proses pengujian, sertifikasi, pelatihan operator, pematangan doktrin, serta integrasi ke sistem komando tetap menentukan kapan pesawat itu benar-benar siap digunakan secara luas.

Drone Turki Bukan Lagi Sekadar Produk Murah

Baykar telah membangun ekspansi internasional dari keberhasilan Bayraktar TB2 dan AKINCI. Perusahaan itu melaporkan memperoleh pendapatan ekspor sebesar 2,2 miliar dolar AS pada 2025, sementara 88 persen dari total pendapatannya berasal dari pasar luar negeri. Baykar juga menyebut telah menandatangani kontrak ekspor dengan puluhan negara.

Data tersebut berasal dari perusahaan dan perlu dibaca sebagai laporan korporasi. Namun, besarnya porsi ekspor menunjukkan bahwa industri drone Turki tidak sepenuhnya bergantung pada pesanan pemerintah dalam negeri.

Pada tahap awal, daya tarik drone Turki terletak pada harga yang relatif terjangkau, kemudahan pengoperasian, serta kesediaan Ankara menjualnya kepada negara yang sulit memperoleh sistem serupa dari Amerika atau Eropa.

KIZILELMA membawa Turki menuju kelas pasar yang berbeda. Pesawat tempur nirawak bermesin jet, radar AESA, rudal BVR, sensor tertanam, dan senjata stand-off tidak lagi bersaing hanya dengan drone pengintai atau pembawa bom ringan. Platform itu mulai memasuki wilayah yang bersinggungan dengan jet tempur, loyal wingman, dan sistem udara tempur masa depan.

Artinya, Ankara sedang bergerak dari pemasok drone alternatif menjadi produsen arsitektur peperangan udara.

Pesan untuk NATO dan Indonesia

Bagi NATO, keberhasilan JET-230 memperlihatkan bahwa salah satu sumber teknologi drone paling aktif di dalam aliansi kini berada di Ankara, bukan hanya di Washington atau pusat-pusat industri Eropa Barat.

Hal itu memberi Turki daya tawar tambahan. Negara-negara NATO memerlukan drone dalam jumlah besar, sistem antidrone, rudal presisi, radar, dan kemampuan produksi cepat. Turki memiliki kapasitas untuk menawarkan sebagian kebutuhan tersebut ketika aliansi sedang meningkatkan pembelanjaan pertahanannya.

Bagi Indonesia, perkembangan KIZILELMA juga bukan kabar yang jauh. Pada Mei 2026, Republikorp Group dan Baykar menandatangani kesepakatan kerja sama pengembangan UCAV generasi baru yang berkaitan dengan KIZILELMA. Menurut keterangan yang diberitakan Antara pada Jumat (8/5/2026), kerja sama itu mencakup transfer teknologi, produksi dan integrasi lokal, fasilitas pemeliharaan, pengembangan sumber daya manusia, serta riset teknologi masa depan. Kesepakatan tersebut merupakan kerja sama pengembangan, bukan bukti bahwa Indonesia telah membeli sejumlah KIZILELMA.

Karena itu, uji JET-230 dapat menjadi gambaran mengenai jenis teknologi yang kelak berpotensi masuk dalam ruang kerja sama industri Indonesia-Turki. Namun, manfaatnya bagi Indonesia akan bergantung pada kedalaman transfer teknologi, akses terhadap perangkat lunak, hak integrasi senjata, kemampuan pemeliharaan, dan seberapa besar industri nasional dilibatkan, bukan semata-mata pada pembelian platform.

Turki belum menggantikan Amerika Serikat sebagai kekuatan udara dominan NATO. KIZILELMA juga belum membuktikan dirinya dalam pertempuran melawan pertahanan udara modern.

Tetapi Ankara telah memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada sebuah demonstrasi sesaat: konsistensi mengubah drone sederhana menjadi pesawat tempur nirawak, mengubah munisi jarak dekat menjadi rudal stand-off, serta mengubah industri yang pernah bergantung pada impor menjadi ekosistem yang mulai diperebutkan pasar dunia.

JET-230 yang melesat dari bawah sayap KIZILELMA membawa pesan yang lebih jauh daripada 120 kilometer. Di dalam NATO, Turki tidak lagi puas hanya menjadi negara dengan tentara terbesar kedua. Ankara ingin menjadi negara yang ikut menentukan seperti apa perang udara masa depan. (Eddy Nasrul)

  🛩
Republika  

Senin, 22 Juni 2026

[Global] Turki Pertama Kalinya Ekspor Kapal Perang ke negara NATO

  Hisar OPV https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKXSMurhhqDVEBoLznXwmMicF1cr6x82rDwISm0V4S631cY2RwKX19x6kZt0GQ12ydRALy-Rjv944E3o64FR9jVGYkdp-RpkjMDQohb_I5dA204qx12cLGqQGoKqFjXuRU6kcWrt2iVf68FxOVOWka4hOQh6nMyQTCfFpj1-3yTcuARXQcgUF5ADZ0Jpyt/s2048/IMG_0636.webp Kapal Hisar OPV pesanan Romania dalam sea trial (Asfat)

Turki mengekspor kapal perang ke negara anggota NATO dan Uni Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarahnya melalui perjanjian penjualan yang ditandatangani dengan Rumania.

Itu diungkapkan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Minggu.

Berbicara pada upacara penyerahan Kapal Patroli Lepas Pantai CAm. Roman kepada Komando Angkatan Laut Rumania dan upacara pengoperasian dan pengibaran bendera platform Komando Angkatan Laut Turki di Istanbul,

Erdogan menyoroti kemampuan industri pertahanan angkatan laut Turki yang berkembang.

“Dengan perjanjian penjualan yang kami tandatangani dengan Rumania, Turki mengekspor kapal perang ke negara anggota NATO dan Uni Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarahnya,” katanya, dilansir Anadolu.

Erdogan mengatakan Turki telah membangun lebih dari 140 platform angkatan laut untuk berbagai wilayah di seluruh dunia dan menggambarkan sektor pembuatan kapal militer negara itu sebagai sektor yang mengalami “masa paling intensif dan produktif” dalam sejarah 103 tahun republik tersebut.

Ia mengatakan Turki termasuk di antara negara-negara yang mampu membangun jumlah kapal perang terbanyak secara bersamaan.

Presiden juga menekankan kerja sama pertahanan dengan negara-negara mitra, mengatakan Turki menganggapnya sebagai kewajiban untuk berbagi kemampuan industri pertahanannya dengan negara-negara sahabat.

“Tujuan Turki bukanlah untuk menimbulkan ketegangan di kawasan kita, tetapi untuk memperkuat perdamaian, keadilan, ketenangan, dan stabilitas,” kata Erdogan.

Ia juga mengatakan lingkungan internasional tetap sangat bergejolak, menambahkan bahwa negara-negara yang kurang kuat di lapangan mungkin akan kesulitan untuk mengamankan tempat mereka di meja perundingan.

 Spesifikasi kapal Hisar OPV :

- Panjang : 99.56 m
- Lebar : 14 m
- Draft : 3.77 m
- Kecepatan : 24 knots
- Beban : 2300 tons

(ahm)


   sindonews   

Sabtu, 09 Mei 2026

[Global] Spanyol Lirik Jet Tempur KAAN Turki

Tangguhkan F-35 dan menilai sebagai simbol ketergantungan terhadap Amerika https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Negosiasi awal antara Spanyol dan Turki mengenai jet tempur generasi kelima KAAN di ajang SAHA Expo 2026 berkembang menjadi salah satu manuver geopolitik pertahanan paling strategis di NATO. Pembicaraan itu tidak sekadar menyangkut transaksi militer, melainkan membuka babak baru dalam persaingan pengaruh teknologi tempur udara di jantung aliansi Atlantik.

CEO Turkish Aerospace Industries (TUSAS), Mehmet Demiroglu, mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara Spanyol telah meminta informasi resmi mengenai KAAN. Menurut dia, komunikasi antarpemerintah kini memasuki tahap penjajakan awal yang melibatkan evaluasi teknis dan politik.

Langkah Madrid dinilai sangat signifikan karena muncul setelah Spanyol menangguhkan jalur akuisisi F-35 buatan Amerika Serikat pada Agustus 2025. Penundaan program Future Combat Air System (FCAS) Eropa hingga dekade 2040-an membuat Spanyol menghadapi kekosongan kemampuan udara siluman di tengah penuaan armada F/A-18 Hornet dan AV-8B Harrier.

Dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol juga semakin kritis terhadap ketergantungan teknologi militer pada Washington. Pemerintah Madrid disebut keberatan terhadap kontrol ITAR Amerika Serikat yang membatasi akses perangkat lunak, integrasi persenjataan, hingga fleksibilitas operasional nasional pada platform F-35. Di kalangan pertahanan Spanyol, F-35 bahkan mulai dipandang sebagai “kotak hitam” yang terlalu bergantung pada kendali teknologi Amerika.

Media Spanyol, El Espanol mencatat bahwa F-35, satu-satunya pesawat tempur generasi kelima Barat yang saat ini tersedia, tidak menawarkan transfer teknologi kepada mitra, kecuali kepada Israel.

Semua operator F-35 lainnya tidak dapat mengintegrasikan sistem mereka sendiri ke dalam pesawat, dan platform tersebut membutuhkan layanan yang hanya dapat disediakan oleh Amerika Serikat untuk kemampuan operasional penuh. Dalam skenario gesekan diplomatik atau masa perang, ketergantungan ini dapat membuat pesawat tidak dapat beroperasi.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Turki untuk masuk ke pasar strategis Eropa melalui KAAN. Ankara menawarkan kombinasi pesawat tempur siluman generasi kelima, fleksibilitas integrasi subsistem, partisipasi industri lokal, serta skema transfer teknologi yang lebih terbuka dibanding platform Barat, sebagaimana diberitakan Turkiye Today dan sejumlah media asing pada Kamis (7/5/2026).

Program KAAN sendiri kini berkembang menjadi simbol kebangkitan industri dirgantara strategis Turki. Pesawat itu dirancang memiliki karakteristik utama jet generasi kelima seperti desain siluman, internal weapons bay, sensor fusion, peperangan berbasis jaringan, hingga kemampuan supercruise. Program tersebut dipercepat Ankara setelah Turki dikeluarkan dari konsorsium F-35 akibat pembelian sistem pertahanan udara Rusia S-400 yang memicu sanksi Amerika Serikat.

Keberhasilan penerbangan perdana KAAN mengubah persepsi banyak analis Barat yang sebelumnya meragukan kemampuan Turki mengembangkan jet tempur generasi kelima secara mandiri. Ankara kini mempercepat pengembangan ekosistem tempur udara nasional mulai dari drone KIZILELMA, ANKA, Hürjet, hingga KAAN sebagai tulang punggung kekuatan udara masa depan Turki.

Minat terhadap KAAN juga mulai muncul dari sejumlah negara di luar Eropa, termasuk Indonesia. Republika.co.id sebelumnya melaporkan Indonesia resmi menandatangani rencana pembelian 48 unit KAAN dalam ajang IDEF 2025 di Istanbul. Kesepakatan itu menjadi kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah industri militer Turki sekaligus memperlihatkan meningkatnya kepercayaan internasional terhadap program KAAN.

Indonesia memilih KAAN bukan hanya karena faktor teknologi siluman generasi kelima, tetapi juga karena peluang transfer teknologi dan penguatan industri pertahanan nasional. Republika.co.id melaporkan kerja sama Ankara-Jakarta mencakup partisipasi industri, pengembangan kemampuan dirgantara domestik, serta peluang integrasi dengan ekosistem pertahanan udara Indonesia di masa depan. Skema tersebut dinilai jauh lebih menarik dibanding model pembelian jet tempur Barat yang cenderung tertutup dalam aspek teknologi strategis.

Bagi Indonesia, KAAN juga dipandang relevan untuk menghadapi dinamika keamanan Indo-Pasifik yang semakin kompleks. Kemampuan stealth, peperangan berbasis jaringan, sensor canggih, dan operasi tempur modern membuat KAAN diproyeksikan menjadi bagian penting modernisasi kekuatan udara TNI AU dalam jangka panjang.

Jika Spanyol benar-benar melangkah menuju akuisisi KAAN, maka dampaknya akan melampaui sekadar transaksi militer biasa. Keberhasilan Turki menembus pasar NATO dan Uni Eropa dengan jet tempur generasi kelima buatan sendiri berpotensi mengubah peta industri pertahanan global sekaligus memperkuat posisi Ankara sebagai kekuatan dirgantara baru dunia.

 Tak Selamanya Lockheed Martin

Munculnya jet tempur generasi kelima Turki, TAI KAAN, mulai mengubah peta industri pertahanan global yang selama ini didominasi oleh Lockheed Martin F-35 Lightning II. Jika sebelumnya pasar jet tempur stealth praktis hanya dikuasai Amerika Serikat, kini sejumlah negara mulai melirik alternatif baru yang dinilai lebih fleksibel secara politik maupun teknologi.

Secara desain, KAAN dan F-35 sama-sama mengusung teknologi stealth, sensor fusion, kemampuan peperangan elektronik, dan operasi berbasis jaringan. Namun keduanya lahir dari filosofi strategis yang berbeda.

F-35 dirancang sebagai bagian dari ekosistem militer global Amerika Serikat. Jet ini terintegrasi erat dengan sistem komando, perangkat lunak, logistik, dan pembaruan data yang dikendalikan Washington. Karena itu, negara pengguna F-35 tetap bergantung pada persetujuan AS untuk pemeliharaan tertentu, integrasi senjata, hingga pembaruan software strategis.

Sebaliknya, KAAN diposisikan Turki sebagai simbol “kedaulatan teknologi pertahanan”. Ankara menawarkan jet ini dengan pendekatan yang lebih terbuka terhadap transfer teknologi, kerja sama industri, dan fleksibilitas integrasi sistem persenjataan lokal negara pembeli. Di sinilah letak daya tarik utama KAAN.

Sejumlah negara mulai melihat bahwa pembelian jet tempur kini bukan hanya soal kemampuan tempur, tetapi juga soal independensi geopolitik. Banyak negara tidak ingin seluruh sistem pertahanannya terkunci dalam kontrol satu kekuatan besar.

Spanyol, misalnya, mulai membuka pembicaraan awal terkait KAAN di tengah kegelisahan Eropa terhadap ketergantungan jangka panjang pada industri pertahanan AS. Media pertahanan Eropa menyebut Madrid tertarik pada peluang transfer teknologi serta ruang partisipasi industri domestik yang lebih luas dibanding skema F-35.

Indonesia juga menjadi salah satu negara yang disebut memiliki ketertarikan terhadap KAAN. Selain faktor hubungan strategis dengan Turki yang terus menguat, Jakarta dinilai melihat peluang memperoleh akses teknologi dan kerja sama industri yang lebih besar. Dalam sejumlah laporan media nasional, kerja sama pertahanan Indonesia–Turki berkembang cepat, mulai dari drone, kendaraan tempur, hingga pengembangan industri strategis.

Berbeda dengan F-35 yang memiliki harga operasional sangat tinggi, KAAN juga diproyeksikan menawarkan biaya yang lebih kompetitif untuk negara berkembang maupun middle power yang ingin memiliki jet tempur generasi kelima tanpa harus sepenuhnya bergantung pada Washington.

Faktor lain yang membuat KAAN menarik adalah perubahan lanskap geopolitik global. Banyak negara kini berusaha menerapkan strategi “multi-alignment”, yakni menjaga hubungan dengan Barat tanpa sepenuhnya bergantung pada satu blok kekuatan. Dalam konteks itu, Turki dipandang berada di posisi unik: anggota NATO, tetapi tetap memiliki kebijakan luar negeri yang relatif independen.

KAAN akhirnya bukan sekadar proyek pesawat tempur. Ia mulai dipandang sebagai simbol munculnya pusat kekuatan teknologi militer baru di luar dominasi tradisional Amerika Serikat, Rusia, dan China.

  Republika 

Rabu, 06 Mei 2026

[Global] Turkiye Luncurkan Rudal Balistik Yildirimhan Jangkauan 6.000 Km

🚀 Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida Rudal Yildirimhan (Republika)

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Nasional Turki meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Yildirimhan di Pameran Pertahanan dan Dirgantara Internasional SAHA 2026, Istanbul, Selasa (5/5/2026). Hal itu menandai pengenalan publik salah satu sistem rudal jarak jauh tercanggih di Turki.

Rudal antarbenua tersebut mampu mencapai kecepatan Mach 25 dan memiliki jangkauan yang dilaporkan sejauh 6.000 kilometer (km). Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida sebagai bahan bakar dan ditenagai oleh empat mesin propulsi roket.

Perusahaan pertahanan Turki dan lembaga publik memamerkan platform dan teknologi yang baru dikembangkan di pameran yang berlangsung pada 5-9 Mei 2026 itu. Dilaporkan Anadolu, peluncuran rudal terjadi ketika Turki terus memperluas kemampuan industri pertahanannya, termasuk drone, teknologi rudal, pertahanan udara, penerbangan, dan platform terkait ruang angkasa.

  Produk baru 
Beberapa teknologi Turki dipamerkan untuk pertama kalinya di SAHA 2026. Munisi keliling cerdas Mizrak produksi Baykar yang dikembangkan secara nasional dan orisinal, dengan jangkauan lebih dari 1.000 km dan kemampuan otonom berbasis AI, diluncurkan di pameran itu. UAV Kamikaze K2 dan munisi keliling Sivrisinek milik Baykar juga akan dipamerkan untuk pertama kalinya.

Aselsan juga memperkenalkan lima produk baru dan versi terbaru dari enam produk kepada ekosistem pertahanan global, termasuk kemampuan serangan baru untuk Blue Homeland Turkiye. Teknologi itu akan menambah kemampuan baru pada sistem pertahanan udara Steel Dome, serta sistem-sistem baru yang akan menjadi pengubah permainan dalam serangan udara.

Platform Sistem Senjata Energi Terarah Alka-Kaplan Hybrid, yang dikembangkan atas kerja sama Roketsan dan FNSS dan dikenal sebagai senjata laser, turut dipresentasikan di SAHA 2026 dengan kemampuan tambahan. STM memamerkan sistem udara dan angkatan lautnya yang dikembangkan untuk kebutuhan medan perang modern.

STM membawa UAV kamikaze jarak jauh, versi baru UAV kamikaze sayap tetap Alpagu dengan kemampuan yang ditingkatkan, sistem drone pencegat yang menghadirkan pendekatan inovatif untuk pertahanan udara. Juga, ada sistem pengintaian pengawasan mini yang dirancang untuk memberikan intelijen dan aliran data secara real-time. Pameran itu dihadiri lebih 140 delegasi negara..


  🚀 
Republika  

Senin, 27 April 2026

[Global] Korea Utara Lirik Su-35 dari Rusia

  Untuk modernisasi angkatan udaranya  
Ilustrasi SU35 Rusia, dikabarkan akan di beli Indonesia (TASS)
Korea Utara dilaporkan tengah mempertimbangkan akuisisi jet tempur kelas berat Su-35 dari Rusia. Langkah ini diambil untuk memperkuat pertahanan udara mereka secara signifikan.

Kesepakatan potensial ini mencakup pembelian sekitar 12 hingga 14 unit pesawat, menurut laporan Military Watch Magazine, dengan nilai kontrak diperkirakan mencapai angka 1 miliar dolar AS.

Rusia sendiri telah meningkatkan kapasitas produksi Su-35, sehingga peluang ekspor ke negara mitra terbuka lebih lebar.

Kehadiran Su-35 diproyeksikan oleh Pyongyang untuk menggantikan armada lama Angkatan Udara Korea Utara yang saat ini masih mengandalkan pesawat tua MiG-29 dan Su-25.

Meski kedua pesawat tersebut pernah menjadi legenda di masanya, pembaruan teknologi dibutuhkan untuk menghadapi dinamika konflik modern.

Akuisisi Su-35 dinilai akan membawa lompatan teknologi yang drastis bagi negara di Semenanjung Korea tersebut.

Su-35 merupakan jet tempur generasi 4++ yang memiliki kemampuan tempur luar biasa. Pesawat dibekali dengan berbagai fitur canggih, jauh melampaui armada tempur udara Korea Utara saat ini.

Radar modern yang digunakan Su-35 mampu mendeteksi dan melacak banyak target sekaligus dari jarak yang sangat jauh.

Pesawat juga dilengkapi mesin berteknologi Thrust Vectoring sehingga memberikan kelincahan ekstrem (supermaneuverability) di udara.

Untuk berperang, Su-35 dilengkapi rudal udara ke udara dan udara ke permukaan generasi terbaru dengan akurasi tinggi.

Jika kesepakatan ini terwujud, Korea Utara akan bergabung dengan daftar operator internasional jet tempur ini.

Faktor kedekatan Pyongyang dengan Moskow, dinilai dapat memuluskan rencana ini untuk direalisasikan. (AF)

  ✈️
  Airspace Review.  

Minggu, 19 April 2026

[Teror] Tentara Prancis Gugur di Lebanon

  👹 Presiden Macron Marah BesarIlustrasi Kendaraan UNIFIL Perancis (CNN) 🛡

Satu tentara Prancis yang bertugas dalam misi Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL) gugur pada Sabtu (18/4) waktu setempat.

Presiden Prancis Emmanuel Macron murka dan mengutuk keras terkait kematian tentaranya tersebut.

Pemerintah Prancis kemudian menyatakan bahwa tentaranya gugur kemungkinan besar karena serangan dari Hizbullah, milisi proksi Iran, dikutip dari Reuters.

Dalam percakapan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, Presiden Macron mengutuk insiden itu sebagai "serangan yang tidak dapat diterima."

Selain membuat satu tentara Prancis gugur, serangan yang diduga dari Hizbullah itu menyebabkan tiga personel UNIFIL terluka, dua di antaranya luka parah.

UNIFIL mengatakan penilaian awal menunjukkan bahwa tembakan berasal dari aktor non-negara, diduga Hizbullah, dan bahwa penyelidikan telah dilakukan atas apa yang disebutnya sebagai "serangan yang disengaja."

Macron juga mengatakan bukti sejauh ini mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran dan mendesak otoritas Lebanon untuk bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan patroli tersebut diserang saat menjalankan misi untuk membuka jalan menuju pos UNIFIL yang telah terisolasi oleh pertempuran di daerah tersebut.

UNIFIL menyatakan prajurit itu gugur tembakan senjata ringan langsung di Desa Ghandouriyeh, Lebanon selatan.

Tentara Lebanon mengutuk penembakan itu dan mengatakan telah membuka penyelidikan. Presiden Aoun menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan penyelidikan segera, sementara Perdana Menteri Salam juga mengutuk serangan itu.

Kematian tentara Prancis menambah korban gugur dari pasukan internasional dalam misi UNIFIL. Sebelumnya, tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia gugur akibat serangan dari Israel ke pos jaga di Lebanon selatan.

UNIFIL pertama kali dikerahkan pada tahun 1978 dan tetap berada di sana selama konflik berturut-turut, termasuk perang tahun 2024 di mana posisinya berulang kali menjadi sasaran tembakan. (bac)

  👹 CNN  

Kamis, 16 April 2026

[Global] Kamboja Terima Korvet Rudal Tipe 056C Pertama dari China

https://www.armyrecognition.com/templates/yootheme/cache/4d/Cambodia_receives_first_Type_056C_missile_corvette_from_China_at_Ream_Naval_Base_925_001-4d4542cf.webpKorvet type 056C terbaru Kamboja (Army Recognition)

Kamboja telah menerima korvet rudal Tipe 056C pertama buatan China di Pangkalan Angkatan Laut Ream, menandai peningkatan signifikan dalam kemampuan tempur maritim Angkatan Laut Kerajaan Kamboja..

Dikirim oleh China dan secara resmi diserahkan pada 8 April 2026, kapal ini memperkenalkan potensi peperangan permukaan yang mampu meluncurkan rudal, menggeser Kamboja dari armada yang berfokus pada patroli menuju operasi tempur angkatan laut terintegrasi di perairan pesisir..

Kapal korvet, dengan nomor lambung 622, tiba pada 4 April 2026, dengan awak lengkap, menyelesaikan fase pertama dari hibah dua kapal yang diumumkan pada tahun 2024, dengan unit kedua dijadwalkan tiba pada bulan Juni..

Pengiriman ini, menyusul pembukaan kembali Pangkalan Angkatan Laut Ream setelah perluasan yang didanai China, meningkatkan kesiapan operasional Kamboja dan memperkuat kemampuannya untuk melakukan patroli keamanan maritim dan operasi angkatan laut terkoordinasi di Teluk Thailand.

 
👷
Army Recognition  

Selasa, 14 April 2026

[Global] Rusia Aplikasikan Rudal R77-1 ke Sistem Peluncur Darat Terbaru

Pesawat SU-30Mk2 TNI AU dengan rudal R77 (dispenau)

Rusia dilaporkan telah mengoperasikan sistem pertahanan udara (SAM) terbaru yang memanfaatkan teknologi rudal udara ke udara jarak menengah-jauh (BVR) R-77-1.

R-77-1 adalah adalah versi penyempurnaan menyeluruh dari rudal R-77 standar (RVV-AE) yang dalam kode NATO disebut AA-12 Adder.

Berkat peningkatan profil aerodinamis dan mesin roket yang lebih efisien, jangkauannya meningkat signifikan menjadi sekitar 110 km (saat diluncurkan di udara) dibandingkan versi awal yang 80 km.

Dilengkapi dengan seeker radar aktif tipe 9B-1248 (Izdeliye 424), R-77-1 lebih tahan terhadap gangguan elektronik (jamming) dan memiliki kemampuan mengunci target dengan penampang radar (RCS) yang lebih kecil.

Dari sisi dimensi, R-77-1 sedikit lebih panjang dan lebih berat dibandingkan pendahulunya. Ekstensi ini memberikan ruang tambahan untuk sistem elektronik baru dan bahan bakar roket yang lebih banyak.

Kehadiran sistem ini terungkap melalui dokumentasi yang menunjukkan unit peluncur tersebut telah disiagakan di wilayah Oryol untuk memperkuat perlindungan objek vital.

Sistem peluncur baru menggunakan pilon pesawat yang telah dimodifikasi dan dipasang pada platform darat untuk meluncurkan empat rudal R-77-1 sekaligus.

Langkah ini menunjukkan kemampuan industri pertahanan Rusia dalam melakukan integrasi teknologi lintas platform secara cepat dan efisien.

Berdasarkan spesifikasi teknis, penggunaan R-77-1 pada platform darat ini mampu menjangkau target pada ketinggian hingga 9 km (sekitar 29.500 kaki).

Sistem ini dirancang untuk menciptakan lapisan pertahanan tambahan dalam menghadapi ancaman rudal jelajah maupun wahana udara tak berawak (UAV).

Meskipun dioptimalkan untuk peluncuran darat, rudal ini tetap mempertahankan akurasi tinggi yang menjadi ciri khas keluarga besar rudal Vympel.

Penggelaran sistem ini di wilayah Oryol, yang berjarak sekitar 160 km dari perbatasan, dinilai sebagai jawaban Rusia atas dinamika ancaman udara yang terus berkembang.

Selain memperkuat kepadatan sistem SAM yang sudah ada, aplikasi rudal R-77-1 di darat menjadi bukti fleksibilitas doktrin militer Rusia dalam memanfaatkan inventaris senjatanya.

Media menilai, inovasi ini sekaligus menghidupkan kembali riset jangka panjang mengenai sistem pertahanan titik yang mandiri dan memiliki daya getar tinggi. (RNS)

  🚀 
 Airspace Review  

Kamis, 09 April 2026

[Teror] Kendaraan UNIFIL Tertembak di Lebanon

  👹 Kemlu panggil dubes israelIlustrasi Kendaraan UNIFIL Italia (Ist) 🛡

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Italia memanggil duta besar Israel, Rabu (8/4), setelah insiden di Lebanon yang mengakibatkan kendaraan Italia untuk penjaga perdamaian Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) rusak akibat tembakan peringatan dari Israel.

Menteri Luar Negeri Antonio Tajani, dalam sebuah unggahan di platform X, mengatakan bahwa dia baru saja menginstruksikan duta besar Israel untuk Italia untuk dipanggil ke Kemlu Italia guna mengklarifikasi apa yang terjadi di Lebanon.

Tajani juga menekankan bahwa militer Italia tetap tidak akan "tersentuh".

Langkah itu diambil setelah Menlu Tajani mengatakan kepada parlemen Italia bahwa konvoi pasukan UNIFIL Italia terkena tembakan selama terjadinya peningkatan ketegangan.

"Tembakan peringatan Israel merusak salah satu kendaraan kami. Untungnya, tidak ada korban luka yang dilaporkan, tetapi konvoi itu (UNIFIL Italia) harus kembali," kata Tajani seperti dilaporkan Kantor Berita ANSA.

Semula, kata Tajani, konvoi tersebut membawa personel ke Beirut untuk repatriasi.

Dia juga memperingatkan tentang intensifikasi operasi Israel, dengan mengatakan bahwa telah terjadi pemboman Israel terdahsyat sejak dimulainya kembali perang dan 150 pesawat dilaporkan terlibat di seluruh Lebanon.

  👹 anews  

Sabtu, 21 Maret 2026

[Global] Iran Tembak 2 Rudal Jarak Jauh ke Pangkalan Diego Garcia

Ilustrasi rudal jelajah Iran (Ist)

Iran menembakkan dua rudal balistik ke arah pangkalan militer gabungan Amerika Serikat-Inggris Diego Garcia di Samudra Hindia pada Jumat (20/3).

Kedua rudal tersebut tidak mengenai sasaran pangkalan miiter yang jaraknya sekitar 4.000 kilometer dari wilayah Iran.

Dilansir AFP, salah satu rudal tersebut gagal di udara. Sementara rudal kedua menjadi sasaran pencegat SM-3 yang ditembakkan dari kapal perang AS.

Meski tak kena sasaran, laporan menyebut peluncuran rudal tersebut menunjukkan bahwa Iran punya rudal dengan jangkauan yang lebih jauh daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Sebab Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bulan lalu mengeklaim bahwa Teheran telah membatasi jangkauan rudalnya hanya hingga 2.000 kilometer.

Gedung Putih dan Kedutaan Besar Inggris di Washington, serta Kementerian Pertahanan Inggris, belum berkomentar.

Diego Garcia di Kepulauan Chagos adalah satu dari dua pangkalan yang diizinkan Inggris, untuk digunakan oleh AS sebagai "operasi pertahanan" melawan Iran.

AS diketahui telah menempatkan pesawat pembom dan peralatan militer lainnya di pangkalan Diego Garcia. Pangkalan itu merupakan pusat utama operasi Asia, termasuk saat aksi pemboman AS di Afghanistan dan Irak.

Inggris sebelumnya sepakat untuk mengembalikan Kepulauan Chagos kepada Mauritius, usai menguasainya sejak tahun 1960-an dan mempertahankan sewa untuk pangkalan di Diego Garcia.

Presiden AS Donald Trump mengecam keputusan tersebut. (dna)

  🚀 
CNN  

Jumat, 20 Maret 2026

[Global] IRGC Bantah Netanyahu, Iran Klaim Produksi Rudal Berlanjut

Ilustrasi rudal balistik Iran (@IISS)

Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan Teheran masih terus memproduksi rudal. Penegasan tersebut membantah pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut Iran sudah tidak memiliki kapasitas tersebut.

Juru bicara IRGC Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan, industri rudal Iran tetap berjalan bahkan di tengah kondisi perang. Pernyataan itu disampaikan dalam laporan yang dikutip surat kabar pemerintah Iran, IRAN, pada Jumat (20/3/2026).

"Skor industri rudal kami adalah 20 dan tidak ada kekhawatiran dalam hal ini karena kami memproduksi rudal bahkan dalam kondisi perang, yang luar biasa, dan tidak ada masalah khusus dalam penimbunan," ujar Naeini, seperti dikutip Al Jazeera.

Dalam sistem pendidikan Iran, nilai 20 merupakan skor tertinggi atau sempurna.

Pernyataan ini sekaligus menjadi respons atas klaim Netanyahu sehari sebelumnya. Dalam konferensi pers di Israel pada Kamis, Netanyahu menyebut Iran tidak lagi mampu memproduksi rudal balistik.

"Kami menang, dan Iran sedang dihancurkan," kata Netanyahu.

Lebih lanjut, Naeini menegaskan konflik yang tengah berlangsung belum akan berakhir dalam waktu dekat. Ia menyebut masyarakat Iran masih siap menghadapi kelanjutan perang hingga ancaman benar-benar hilang.

"Orang-orang ini mengharapkan perang berlanjut sampai musuh benar-benar kelelahan," ujarnya. "Perang ini harus berakhir ketika bayang-bayang perang telah sirna dari negara ini."

Sebagai informasi, ketegangan antara Iran dan Israel dalam beberapa waktu terakhir terus meningkat dan diwarnai saling serangan, baik secara langsung maupun melalui proksi di kawasan Timur Tengah. Situasi ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas, terutama karena melibatkan kemampuan militer strategis seperti rudal balistik dari kedua pihak. (tfa/tfa)

  🚀 
CNBC  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...