Senin, 02 Februari 2026

Indonesia Tak Lagi Kirim Pasukan MTF ke Misi PBB di Lebanon

https://i.ytimg.com/vi/75rHtBdnImc/maxresdefault.jpgKRI Sultan Iskandar Muda Tiba di Tanah Air Usai 14 Bulan Misi di Lebanon (Kompas)

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan bahwa Indonesia tak akan lagi mengirimkan kontingen untuk Satuan Tugas (Satgas) Maritime Task Force (MTF) dalam misi United Nations Interim Force (UNIFIL) di Lebanon.

Mungkin kita tidak akan mengirim lagi untuk misi Maritime Task Force untuk UNIFIL,” ungkap Ali di Geladak Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Iskandar Muda (SIM)-367, Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/2/2026).

Oleh karena itu, Satgas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P di bawah komando Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah menjadi pasukan terakhir untuk misi perdamaian tersebut.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang tidak akan melanjutkan misi UNIFIL.

Ini yang terakhir. Memang, dari PBB sendiri tidak melanjutkan untuk misi MTF ini,” jelas dia.

Adapun Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 akhirnya tiba di Tanah Air pada Minggu (1/2/2026) setelah menyelesaikan misi perdamaian selama 1 tahun 2 bulan di Lebanon.

Kapal perang korvet kelas Ship Integrated Geometrical Modularity Approach (SIGMA) ini diawaki Satuan Tugas (Satgas) Maritime Force (MTF) TNI Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut siaran pers yang diterima Kompas.com, KRI Sultan Iskandar Muda membawa pulang 120 prajurit, terdiri atas 105 prajurit KRI dan 15 personel komponen pendukung.

Komponen pendukung tersebut meliputi pilot, flight engineer, air crew, perwira kesehatan, perwira intelijen, perwira psikologi, perwira penerangan, personel Kopaska, serta penyelam.

Selama bertugas di Lebanon, Satgas melaksanakan patroli maritim dan pengamanan perairan sesuai mandat United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Sejak menjalankan misi pada 17 Januari 2025, KRI Sultan Iskandar Muda telah melaksanakan 33 kali tugas operasi (on task), dengan 70 persen di antaranya berupa patroli di Laut Mediterania.

Selain itu, KRI Sultan Iskandar Muda juga melaksanakan diplomasi angkatan laut melalui 150 kali latihan bersama dengan berbagai angkatan laut negara sahabat.

Atas pelaksanaan tugas tersebut, KRI Sultan Iskandar Muda menerima sejumlah penghargaan internasional, antara lain Letter of Appreciation dari Maritime Task Force Commander Rear Admiral Richard Kesten dan Rear Admiral Stephan Plath (Jerman), UN Medal dari UNIFIL Force Commander Major General Diodato Abagnara (Spanyol), LAF Medal dari LAF Navy Commander Admiral Mustafa Al-Ali (Lebanon), Medali Duta Budaya RI dari Duta Besar RI untuk Lebanon H.E. Dicky Komar, serta Tanzani Medal dari Tanzania Contingent Commander.

Penugasan KRI Sultan Iskandar Muda sebagai bagian dari Satgas MTF Konga XXVIII-P/UNIFIL disebut sejalan dengan program Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat pertahanan dan keamanan negara, menjalankan politik luar negeri bebas aktif, serta meningkatkan peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.

  πŸ›‘ Kompas  

Minggu, 01 Februari 2026

[Global] Malaysia’s Littoral Combat Ship Set Sail for the First Time

KD Maharaja Lela 2501 finally sea trial (LUNAS)

The Royal Malaysian Navy’s first Littoral Combat Ship, LCS 1 Maharaja Lela, performed its “first sea going” on 28 January, with the frigate sailing under its own power for the first time after a week of pierside testing.

During this test, Maharaja Lela departed Lumut Naval Shipyard with guidance from tugboats, sailing without the tugboats in the nearby waters off Pangkor Island before returning to the shipyard. Representatives of the Royal Malaysian Navy were present for the test, as was Lumut Naval Shipyard chief executive officer Ir. Azhar Jumaat.

The test followed Malaysian Defense Minister Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin’s announcement earlier that day of the “first sea going” during a parliament briefing. According to the minister, the “first sea going” will test Maharaja Lela’s propulsion systems, electricity generation, and air conditioning systems, ensuring that it can sail at sea for the start of official sea trials in early April.

Mohamed Khaled told lawmakers that the planned delivery date of Maharaja Lela has been delayed by four months to December 2026. LCS 2 Raja Muda Nala’s delivery date has been delayed to August 2027 as well, while delivery dates for the remaining three ships remain unchanged. He said Maharaja Lela was currently 82.9 percent complete as of December 25 2025, instead of 96.52 percent according to the original schedule.

The minister said the delays were caused by delayed deliveries from original equipment manufacturers, as well as inspection and replacement of wiring and piping following a design audit by Naval Group. He added that to compensate for the delays, Lumut Naval Shipyard now has three shifts working on LCS 1.

According to Mohamed Khaled, RM 8.3 billion has now been spent on the program, 74% of the RM 11.2 billion budgeted under the contract that restarted work on the program in 2023. He added that all payments are now made based on actual progress made on the ships, with new oversight structures featuring greater involvement from the Royal Malaysian Navy.

  KD Maharaja Lela (2501) main specifications  
πŸ‘· Displacement: 3,100 tons full load
πŸ‘· Length: 111 m (364 ft 2 in)
πŸ‘· Beam: 16 m (52 ft 6 in)
πŸ‘· Draught: 3.85 m (12 ft 8 in)
πŸ‘· Propulsion: CODAD
πŸ‘· Speed: 28 knots (52 km/h)
πŸ‘· Range: 5,000 nautical miles (9,300 km) at 15 knots (28 km/h)
πŸ‘· Complement: 138 sailors

  Weapon systems:

πŸ’₯ Main gun: 1 × Bofors 57 mm gun (in stealth cupola)
πŸ’₯ Secondary gun: 2 × MSI DS30M 30 mm cannon
πŸ’₯ SAM: N/A
πŸ’₯ ASM: 8 × Naval Strike Missile SSM/Atmaca
πŸ’₯ Torpedo: 2 × triple SEA torpedo launcher

  πŸ‘· 
Naval News  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...