Tampilkan postingan dengan label BATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BATAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Maret 2024

Teknologi Cat 'Siluman' Potensial Diterapkan di Produk Pindad

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7zGw2XOPRl2L3YA4VKHL3lteAG6nDl6uvxpzSG_oPpD0eiwM24QVQsaAneNnTGF3iMozCo26996rOqlkxguCBELIEouHh1v5K02JSOTWlHHrg75pOtS1KnbQ-cr1tpUHEL7CsakZetb0eOPRXa-DBNQ5JweP9-5MhfdNnzyESnUzrwlrV7v2mCaiT3V18/s1152/MT%20Harimau_AAbE3Se.jpgMT Harimau (Pindad)

C
at antideteksi radar (CADR) hasil riset Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), yang kini sudah jadi bagian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bakal diterapkan pada produk-produk PT Pindad.

Hal itu menyusul Perjanjian Kerja Sama CADR antara BRIN, PT. Pindad, dan PT Sigma Utama, di Ruang Auditorium PT. Pindad, Bandung, Rabu (20/3).

Riset cat yang pada dasarnya adalah aplikasi bahan smart magnetic atau magnetik pintar yang digunakan sebagai pigmen tersebut kini ada di Pusat Riset Material Maju (PRMM) BRIN.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT. Pindad Sigit P. Santosa mengingatkan pentingnya strategi khusus agar kerja sama ini bisa diterapkan dan menjadi prioritas khusus.

"Kerja sama riset ini menjadi capaian luar biasa yang akan menjadi teaching lab dari masing-masing periset yang juga langsung masuk hilirisasi, industri kemitraan, serta dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)," ungkapnya, dikutip dari situs BRIN.

Sigit juga berharap kerja sama yang terjalin tidak hanya di sisi science memory saja, tetapi terus berlanjut di item-item produksi di PT Pindad.

Direktur Utama PT. Sigma Utama Benny F Simanjuntak mengungkap CADR juga bisa berfungsi sebagai panel surya. Meskipun, masih butuh riset lanjutan.

"Dalam hal ini, cat yang digunakan pada CADR juga bisa berfungsi sebagai solar panel," ungkapnya.

 Sejarah dan cara kerja 

https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjlpM17tT0X0MLDy2IKe2ZwHDdtW8ZIHoM5F7hoIAhGyMQsV7uAlkrSWwuyngbhxKaB9EHt3Q6kvb2ybg5lxRspa6Ph8d5IuHtUYgeCWnEJSLKSdUl71lQNBfhXgV4kEXEBRbqVrwc6JW7lSn8_Z4wKvuerUceyeJ1MvofOaz_3gqhOu9vRRPpYL8WdBg=w1600-h800Melansir Antara, Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) Batan Wisnu Ari Adi, pada 2019, mengatakan teknologi antiradar itu mulai diteliti dan dikembangkan sejak 2015.

Pada 2017, suatu prototipe skala pilot berupa cat antideteksi radar telah diaplikasikan pada potongan plat kapal logam dari alumunium dan besi yang tidak dapat dideteksi oleh radar pada frekuensi tertentu.

Teknologi antiradar itu menggunakan bahan smart magnet dalam cat anti deteksi radar. Bahan ini merupakan bahan maju buatan yang memiliki sifat seperti gelombang elektromagnetik.

Penyusunnnya adalah kombinasi unsur logam tanah jarang dan unsur logam transisi yang struktur magnetiknya hanya bisa diuji dengan menggunakan teknologi nuklir.

"Ini merupakan teknologi milenial yang mampu menyerap gelombang radar pada frekuensi tertentu," ujar Wisnu.

Teknologi anti radar itu mengacu pada Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang merupakan dokumen perencanaan yang memberikan arah prioritas pembangunan iptek untuk jangka waktu 28 tahun, yakni 2017-2045.

Berdasarkan program fokus riset teknologi pertahanan dan keamanan, terkait dengan teknologi pendukung daya gerak, ada target riset berupa kapal perang antiradar.

Selain itu, terkait dengan teknologi pendukung pertahanan dan keamanan, target riset berupa material khusus alutsista 'coating' antiradar.

Sedangkan berdasarkan program fokus riset material maju terkait dengan teknologi pengolahan mineral strategis berbahan baku lokal, target berupa "pilot plant" pengolahan logam tanah jarang menjadi logam strategis.

 Uji coba 

https://scontent.fcgk30-1.fna.fbcdn.net/v/t39.30808-6/432773034_727728079556564_651286896431558921_n.jpg?_nc_cat=105&ccb=1-7&_nc_sid=5f2048&_nc_ohc=AmfMtrY8XbEAX8KJqm2&_nc_ht=scontent.fcgk30-1.fna&oh=00_AfBmb9MTDzebyG63Q5AM0wboP3RyMfsBJom5RjSusbzHlg&oe=6607CEDBBATAN sempat berhasil melakukan uji coba teknologi antideteksi radar ini pada Kapal Patkamla Sadarin milik TNI Angkatan Laut di Pantai Mutiara.

"Kita bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut untuk mencoba memanfaatkan cat antiradar ini yang kita kembangkan bersama-sama," kata Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Djumain Appe di Penjaringan, Jakarta Utara, 2019.

Pada uji coba itu, kapal telah dilapisi cat antiradar dan bermanuver di lautan, namun tidak tertangkap radar.

Cat itu berfungsi untuk menyerap gelombang radar yang mendeteksi keberadaan kapal sehingga gelombang elektromagnetik tersebut tidak kembali pada radar lawan dan akhirnya keberadaan kapal yang dilapisi cat khusus itu tidak terdeteksi alias jadi 'siluman'. (tim/arh)

  💥 CNN  

Minggu, 05 Juni 2022

[Video] BATAN Kembangkan Teknologi Cat Anti Deteksi Radar

 Untuk alutsista TNI Teknologi cat anti deteksi radar berbasis smart magnet ini diujicobakan pada kapal Patkamla Sadarin milik TNI Angkatan Laut (TNI AL) di Pantai Mutiara, Jakarta.

Dengan menggunakan teknologi ini, cat dapat menyerap gelombang radar sehingga keberadaan kapal tidak terdeteksi.

  Berikut video dari Youtube : 


  ♔ Youtube  

Sabtu, 30 Maret 2019

BATAN Bikin Cat Antideteksi Radar

Berbasis smart magnet https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW9QeMJz4Aw1gBCPyBJBSIZElEhYTcq58_mlln_DdW5l2R2hJlD8wkM58rl2oQdqU0-6rR55_sfh0exqGC4nd7peZJbST2eg9_dbUMJqbxjMJGRMj7MKOHKA16PcQJNAOhvR1DJ_SqWUqW/s1600/Screenshot_2019-03-30+BATAN+Bikin+Cat+Antideteksi+Radar%252C+Indonesia+Setara+Negara+Maju+%25E2%2580%2593+VIVA.pngBATAN uji coba inovasi cat antideteksi radar  ☆

Badan Tenaga Nuklir Nasional atau BATAN berhasil mengembangkan teknologi siluman atau teknologi antideteksi radar berbasis smart magnet, dengan memanfaatkan material logam tanah jarang atau LTJ.

BATAN menguji coba Teknologi anti deteksi radar itu pada kapal Patkamla Sadarin TNI Angkatan Laut di Pantai Mutiara, Jakarta, Jumat 29 Maret 2019.

Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM BATAN), Wisnu Ari Adi mengatakan, penelitian cat antideteksi radar ini merupakan pengembangan dari kemampuan BATAN dalam mengolah pasir monasit menjadi LTJ.

Penelitian ini dimulai pada 2015, dua tahun kemudian, BATAN berhasil membuat purwarupa skala pilot, berupa cat antideteksi radar yang diaplikasikan pada potongan plat kapal logam dari alumunium dan besi yang tidak dapat dideteksi oleh radar pada frekuensi X-band (8-12 GHz).

Wisnu menuturkan, teknologi ini merupakan teknologi terkini dan hanya dimiliki oleh negara-negara maju.

Ini merupakan teknologi melenial yang mampu menyerap gelombang radar pada frekuensi tertentu. Teknologi ini hanya dimiliki oleh negara-negara maju dan tidak bersifat komersial, karena merupakan bahan yang sangat strategis untuk pertahanan nasional suatu negara,” ujar Wisnu.

Menurut Wisnu, teknologi siluman ini adalah salah satu hasil penelitian BATAN yang berupa bahan smart magnet untuk cat antideteksi radar. Bahan ini merupakan bahan maju buatan yang memiliki sifat seperti gelombang elektromagnetik yang tersusun dari kombinasi unsur LTJ dan unsur logam transisi yang struktur magnetiknya hanya bisa diuji dengan menggunakan teknologi nuklir.

Di kawasan Asia Tenggara, hanya BATAN yang mampu melakukan pengujian bahan dengan menggunakan teknologi berkas neutron. Teknik pengujian ini mampu menjelaskan berbagai interaksi magnetik dan elektrik yang terjadi di dalam bahan,” katanya.

Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe mengatakan, penelitian ini memberi dampak sangat luas dalam mendorong tumbuhnya industri logam tanah jarang.

Penelitian ini mendorong terbangunnya industri logam tanah jarang di Indonesia, juga melalui pengembangan penelitian cat anti deteksi radar berbasis bahan smart magnet ini dapat meningkatkan kemampuan alutista TNI Angkatan Laut dalam rangka mendukung pertahanan nasional,” ujarnya.

Jumain mengatakan, kegiatan riset tidak hanya terfokus kepada riset saja, namun juga mendorong hasil riset tersebut hingga mampu menggulirkan roda inovasi yang memiliki dampak luas kepada masyarakat dan negara. Banyak hasil riset saat ini hanya berujung pada skala laboratorium saja dan tidak dilirik oleh industri atau tidak mampu bersaing di pasar.

Jumain menuturkan, pengembangan teknologi siluman ini kerja sama antara BATAN dengan perusahaan cat PT. Sigma Utama Paint, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan TNI Angkatan Laut. Kegiatan ini mendapat pendanaan dari Program Inovasi Industri Kemenristekdikti, yang selama dua tahun ini telah menunjukkan kemampuan membuat produk bernilai strategis yaitu cat antideteksi radar yang bisa dimanfaatkan dalam mendukung pertahanan nasional.

Ia menghargai peneliti dan pelaku industri yang telah membantu hilirisasi hasil penelitian. Termasuk, soal inovasi cat antideteksi radar.

Untuk itu, pemerintah akan terus mendorong kerja sama seperti ini dengan menciptakan lingkungan yang kondusif melalui berbagai program dan regulasi, seperti pendanaan inovasi, kemudahan dalam pertanggungjawaban riset dan pengembangan,” kata dia. (asp)

  VIVAnews  

Jumat, 21 Desember 2018

BATAN Kembangkan Cat Anti Radar

Diuji Coba Tahun DepanIlustrasi [BS@photowork]

Kepala Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) BATAN, Prof. Dr. Ridwan mengatakan alutsista di Indonesia dapat tidak terdeteksi radar lewat penggunaan cat spesifik yang dikembangkan BATAN.

Kita bisa memasuki daerah pertahanan lawan tanpa diketahui lawan, caranya dengan membuat sistem pertahanan kita tidak terlacak oleh radar,” kata Ridwan kepada wartawan dalam acara Ekspose Produk Inovasi sebagai Capaian Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Jawa Barat, Rabu.

Dia mengatakan pihaknya telah mengembangkan bahan cat anti radar untuk kapal. “Kita menghasilkan cat anti radar yang sudah berhasil,” ujarnya.

Cat tersebut dibuat dengan menggunakan 85 persen bahan lokal dan dia berharap dapat membuat cat itu dengan 100 persen bahan lokal tanpa ada impor.

Ridwan mengatakan agar tidak terdeteksi radar, kapal dilapisi cat spesifik tersebut secara menyeluruh. Cat itu berfungsi untuk menyerap gelombang radar yang mendeteksi keberadaan kapal sehingga gelombang elektromagnetik tersebut tidak kembali pada radar lawan dan akhirnya keberadaan kapal yang dilapisi cat khusus tersebut tidak terdeteksi. Cat itu menyebabkan kapal seperti “siluman” karena tidak terdeteksi radar.

Pihaknya akan melakukan uji coba kapal “siluman” dengan sistem anti radar itu pada pertengahan Januari 2019.

Dia mengatakan pihaknya juga berkeinginan untuk mengembangkan cat untuk sistem anti radar pada kapal terbang untuk pertahanan udara.

Dia berharap pemerintah akan membuat suatu lembaga khusus untuk penelitian itu di bawah Kementerian Pertahanan RI yang dapat dipakai untuk alutsista negara baik di darat, laut dan udara.

Lembaga itu kemudian akan fokus mengembangkan bahan cat yang sesuai spesifikasi masing-masing alutsista demi keamanan dan pertahanan negara Indonesia.

   antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...