Siapkan Unit Satuan Udara dan SDM
Ilustrasi KN Bakamla
Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dan satuan khusus untuk operasional kendaraan nirawak atau drone dari Australia.
Terbaru, Bakamla RI telah menggelar rapat pembahasan teknis terkait rencana hibah drone dari Australia melalui Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water (DCCEEW), pada Kamis (30/4).
Direktur Operasi Udara Maritim Bakamla RI Laksma Bakamla Toni menekankan pentingnya kesiapan teknis serta kesesuaian spesifikasi drone dengan kebutuhan operasional Bakamla RI dalam mendukung pengawasan keamanan dan keselamatan laut nasional.
Rapat tersebut merupakan lanjutan dari kunjungan delegasi Australia Border Force (ABF) di Kantor Bakamla Kalisari, Jakarta Timur, Selasa (28/4).
“Bakamla RI menyampaikan bahwa pengembangan unit satuan udara masih terus berjalan, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur pendukung,” tulis siaran pers Humas Bakamla.
Dalam pertemuan di Kantor Bakamla Kalisari, pemimpin tim ahli drone ABF Isaac Palmer menyampaikan pengalaman dan pendekatan Australia dalam pengembangan serta pemanfaatan sistem drone guna mendukung operasi keamanan laut.
Delegasi ABF juga memaparkan konsep program yang komprehensif, meliputi penyediaan platform drone, pelatihan SDM, dukungan peralatan, hingga pemeliharaan dan keberlanjutan jangka panjang.
Diketahui, Australia berencana menghibahkan drone ke Bakamla RI untuk keamanan laut. Rencana itu pertama kali dibahas saat Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla RI Laksda TNI Samuel H. Kowaas menerima courtesy call atau kunjungan kehormatan dari Deputy Commissioner National Operations ABF Tim Fitzgerald di Markas Besar Bakamla RI, Jakarta Pusat, 27 Januari 2026. (nma)
⚓️ π Latopslagab 2026
KRI GNR 332 menembakkan rudal Exocet B3 dalam Latopslagab 2026 menghancurkan target (eks KRI Teluk Hading) (Kodiklat)
Dalam
menghadapi era peperangan modern, TNI melaksanakan Latihan Operasi Serangan Gabungan (Latopslagab) secara masif di Perairan Karimun Jawa, Kamis (23/4).
Latihan ini melibatkan 20 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan pesawat tempur F-16 TNI AU yang berhasil menghancurkan sasaran eks-KRI Teluk Hading dengan cepat melalui serangan terintegrasi.
Kegiatan diawali dengan penembakan Rudal Exocet MM40 Block 3 oleh unsur KRI, dilanjutkan Operasi Udara Lawan Laut (OULL) oleh tiga pesawat F-16 yang menjatuhkan bom MK-12 dengan presisi tinggi.
Selain itu, dilaksanakan pula Artillery Duel oleh Striking Force TNI AL yang berhasil menghancurkan sasaran darat di Pulau Gundul.
Latihan ini merupakan demonstrasi kekuatan nyata (show of force) dan bukti interoperabilitas matra laut dan udara. Selain menguji kemampuan teknis, kegiatan ini juga berfungsi sebagai daya tangkal (deterrence) guna menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
π Garuda Militer
π© π π€
Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. saat menerima audiensi Chairman ALIT China di Mabesau (22/4/2026) guna membahas pengembangan teknologi UAV dan kolaborasi ruang angkasa Indonesia. (Dispenau)
Perusahaan pertahanan terkemuka asal China, Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT), resmi menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada Rabu (22/4/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Markas Besar TNI AU ini fokus pada pengembangan teknologi dirgantara mutakhir, mencakup penguatan armada pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, hingga program ruang angkasa.
Langkah ini merupakan bagian dari visi strategis untuk memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) guna mewujudkan kekuatan TNI AU yang AMPUH.
Key Takeaways (Ringkasan Utama):
π₯ Pertemuan Strategis: Audiensi antara Chairman ALIT China dengan Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. pada 22 April 2026 di Mabesau.
π₯ Fokus Kolaborasi: Pengembangan pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, dan program ruang angkasa (space program).
π₯ Visi TNI AU: Langkah memperkuat Alpalhankam menuju visi TNI AU yang AMPUH.
π₯ Skuadron Baru: Pembentukan Skuadron UAV 53 di Lanud Anang Busra Tarakan yang direncanakan mengoperasikan drone CH-4.
π₯ Kemampuan Alutsista: UAV CH-4B milik TNI AU telah dilengkapi kemampuan serang dengan rudal AR-2 dan sistem komunikasi satelit.
Pertemuan Pimpinan ALIT China dan Wakasau di Mabesau.
Chairman of Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT) dilaporkan TNI AU lewat rilis akun Instagramnya pada 23 April 2026, baru saja melakukan audiensi dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. di Ruang CC Wakasau, Markas Besar TNI AU, Rabu (22/4/2026).
TNI AU menyebut Pertemuan strategis ini membahas sejumlah peluang kerja sama antara TNI AU dan ALIT Co., Ltd. dalam pengembangan teknologi dirgantara, dengan fokus utama pada bidang pesawat tanpa awak, sistem pertahanan udara, dan space program.
"Audiensi ini juga merupakan kesempatan perkenalan pimpinan CEO yang baru, sekaligus menjadi langkah penting dalam membangun kolaborasi yang solid dan berkelanjutan guna memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) TNI AU, sejalan dengan visi mewujudkan TNI AU yang AMPUH," terang rilis akun Instagram @militer.udara dalam unggahannya.
Profil ALIT: Divisi Ekspor Teknologi Roket dan Rudal China
Dilansir dari rilis resmi Kemhan pada 20 Februari 2012, Aerospace Long March International Trade & co., Ltd. (ALIT), adalah salah satu perusahaan berada di bawah State Administration for Science, technology and Industry for National Defence (SASTIND), China yang memproduksi roket dan rudal serta ruang angkasa termasuk ICBM dan Roket peluncur satelit Long March.
Selain itu, ALIT merupakan divisi ekspor dari China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC).
Perbandingan Varian UAV CH-4 untuk Ekspor
Berdasarkan data operasional, ALIT menawarkan dua varian utama untuk pasar internasional:
π’Fitur Varian CH-4A Varian CH-4B
Konfigurasi Utama Pengintaian (Reconnaissance) Serang (Strike-Oriented)
π’ Daya Tahan Terbang 30 Jam 14 Jam
π’ Muatan Senjata - 760lb (345kg)
π’Kemampuan Khusus Pengamatan Jarak Jauh Penyerangan Presisi.
Rekam Jejak Produk ALIT di Indonesia
Sebelum melakukan penjajakan kerja sama terbaru ini, ALIT sebenarnya sudah menjual produk pertahanan udara kepada Indonesia.
Terkait operasionalnya, Asian Military Review edisi 16 September 2022 memberikan laporan mendalam sebagai berikut:
"Angkatan Udara Indonesia (TNI AU) mengakuisisi sejumlah UAV CH-4B yang tidak diungkapkan jumlahnya, yang telah dilengkapi dengan sistem komunikasi satelit untuk memperluas jangkauan operasinya hingga 1.080 mil laut (2.000 km).
TNI AU diyakini sebagai angkatan udara Asia Tenggara pertama yang memiliki kemampuan UAV bersenjata, setelah menerima rudal berpemandu presisi AR-2 untuk armada CH-4B pada April 2021.
Sebuah pod peperangan elektronik, kemungkinan untuk misi komunikasi atau pengumpulan intelijen sinyal, juga telah diamati terpasang pada setidaknya salah satu UAV CH-4 milik TNI AU," terang Asian Military Review dalam artikelnya.
Persiapan Skuadron UAV 53 Tarakan dan Operasional CH-4
Antara edisi 10 Oktober 2025 lalu melaporkan Pangkalan Udara Anang Busra Tarakan akan membangun Skuadron Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau skuadron 53 dan naik status Lanud dari tipe B menjadi tipe A.
Skuadron 53, yang direncanakan diresmikan pada 2026 oleh pimpinan TNI AU, akan mengoperasikan drone militer jenis CH-4.
Terkait spesifikasi dan peran strategis drone ini, Komandan Lanud Anang Busra memberikan penjelasan detail:
“CH-4 dapat dipersenjatai dengan rudal atau bom, sehingga memiliki fungsi ganda, baik untuk intelijen, pengintaian, dan pengawasan (ISR) maupun sebagai drone serang,” kata Komandan Lanud Anang Busra, Marsekal Pertama TNI Andreas A. Dhewo.
Beliau menambahkan mengenai pentingnya penempatan unit ini di wilayah perbatasan:
“Dengan kemampuan drone ini, kami dapat memantau wilayah secara efektif dan memberikan respons cepat terhadap potensi ancaman,” tambahnya.
Keberadaan Skuadron 53 di Tarakan diharapkan dapat memperkuat pengawasan udara di wilayah Kalimantan Utara, khususnya untuk mencegah dan mengidentifikasi aktivitas penyelundupan di perbatasan.
Drone CH-4 ini dilaporkan memiliki jangkauan terbang hingga 5.000 kilometer dan mampu beroperasi di udara selama 30 hingga 40 jam negara.***
⚓️ Indonesia Disebut jadi Mitra Strategisa
Kapal selam oyashio class Jepang, dikabarkan diminati Indonesia (wikipedia)
Pemerintah Jepang telah melakukan perubahan signifikan terhadap kebijakan transfer peralatan dan teknologi pertahanan. Kebijakan baru ini menghapus pembatasan lama yang sebelumnya hanya mengizinkan transfer untuk lima kategori terbatas.
Kelimanya adalah operasi penyelamatan, transportasi, peringatan dini, pengawasan, dan penanggulangan ranjau. Hal ini disampaikan Kuasa Usaha ad interim Jepang untuk Indonesia, Myochin Mitsuru.
Dengan dihapusnya pembatasan tersebut, Jepang kini dapat mentransfer berbagai jenis peralatan pertahanan. Termasuk pesawat tempur dan kapal pengawal, tanpa dibatasi oleh tujuan penggunaan tertentu.
Meski demikian, Myochin menegaskan, setiap transfer tetap akan dievaluasi secara ketat berdasarkan kasus per kasus. Jepang tetap menerapkan mekanisme pengendalian, khususnya untuk memastikan bahwa peralatan yang ditransfer tidak digunakan untuk konflik bersenjata.
Tak hanya itu, Jepang juga akan memastikan peralatan tersebut tidak disalurkan kepada pihak ketiga yang berpotensi menimbulkan instabilitas. Dalam hal ini, transfer hanya dapat dilakukan kepada negara-negara yang memiliki perjanjian kerja sama pertahanan dengan Jepang.
“Indonesia merupakan salah satu dari sekitar 17 negara yang memiliki perjanjian tersebut dengan Jepang. Sehingga memungkinkan adanya kerja sama transfer peralatan dan teknologi pertahanan,” ujar Myochin Mitsuru di Jakarta, Kamis, 24 April 2026.
Myochin menambahkan, perubahan kebijakan ini dilatarbelakangi oleh dinamika global. Hal ini, menurutnya, menuntut kerja sama antarnegara dalam menjaga stabilitas keamanan.
“Tidak ada negara yang bisa bertahan sendirian. Jadi, kita membutuhkan kerjasama,” ucapnya.
Dalam konteks tersebut, Jepang memandang Indonesia sebagai mitra penting yang memiliki kesamaan pandangan strategis. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan pertahanan kedua negara.
Kendati demikian, langkah ini tidak berarti Jepang meninggalkan prinsip pascaperang sebagai negara yang menjunjung perdamaian. Sebaliknya, menurutnya, penguatan kerja sama pertahanan justru bertujuan untuk mencegah konflik dan menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana, diharapkan dapat diproduksi massal . (PTDI)
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin meminta industri pertahanan nasional memiliki mentalitas produsen.
Hal itu disampaikan Menhan Sjafrie saat menghadiri rapat kerja dan leadership development program DEFEND ID 2026 di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/4).
“Saya ingin industri pertahanan kita memiliki mentalitas produsen. Hilangkan ego sektoral dan pastikan kita bergerak dalam satu irama sebagai tulang punggung kedaulatan bangsa,” kata Sjafrie, dikutip dari siaran pers Biro Infohan Kemhan, Senin (27/4).
Dalam arahannya, Sjafrie mendorong agar seluruh entitas di bawah DEFEND ID terus berinovasi untuk mencapai kemandirian teknologi.
“Kita tidak sedang membangun industri biasa. Kita sedang membangun fondasi kemandirian bangsa yang menuntut kepemimpinan kuat, arah yang jelas, dan keberanian untuk melangkah maju bersama,” tutur Sjafrie.
“Dulu kita berjalan di bawah, hari ini kita mulai berdiri di atas. Tugas kita bukan hanya menjaga posisi itu tetapi memastikan kita tidak pernah kembali bergantung,” kata Menhan RI.
Sementara itu, Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan menyatakan komitmen untuk membawa DEFEND ID sebagai penguasa teknologi, bukan sekadar pengguna.
Adapun kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) ke-4 DEFEND ID. Kegiatan diselenggarakan selama tiga hari, diikuti oleh ratusan pejabat Eselon I yang bertujuan untuk memperkuat sinergi dan kepemimpinan di sektor industri pertahanan nasional. (nma).
Industri lokal akan produksi amunisi kaliber besar
Caesar TNI AD diberitakan akan ditambah (Dispenad)
Kerja sama pertahanan jadi salah satu fokus kerjasama strategis antara Indonesia dan Perancis. Dari tiga pilar modernisasi alutsista RI-Prancis--laut, udara, dan darat--sektor darat belum masuk tahap kontrak. Sistem artileri swagerak CAESAR disebut jadi kandidat utama.
Sumber dari Istana ΓlysΓ©e yang dikutip La Tribune menyebut Indonesia telah menyampaikan minat menambah pembelian CAESAR.
Pemerintah Prancis juga mulai menyiapkan aspek teknis. Pada Februari 2026, Armament AttachΓ© DGA mengunjungi fasilitas PT Pindad di Bandung untuk mengecek kesiapan produksi, termasuk amunisi kaliber besar dan kendaraan pendukung.
Langkah ini merupakan lanjutan dari MoU antara PT Pindad dan KNDS pada Indo Defence 2025.
Kerja sama mencakup perakitan sistem artileri hingga produksi amunisi di dalam negeri.
Skema yang dibahas bukan sekadar pembelian, tapi juga produksi lokal. Pemerintah mendorong setiap pengadaan alutsista disertai alih teknologi dan manufaktur.
"Komitmen kami adalah untuk melakukan transfer perakitan, manufaktur, dan teknologi terhadap Indonesia dalam rangka memberikan kontribusi pada roadmap pemerintah Indonesia untuk kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Gerard, Chief Representative KNDS Indonesia.
Saat ini Indonesia menjadi operator CAESAR terbesar di Asia Tenggara dengan 56 unit. Penambahan unit dinilai lebih efisien jika dibarengi produksi dalam negeri.
Jika proyek ini berjalan, industri pertahanan dalam negeri berpeluang memproduksi amunisi kaliber besar yang selama ini masih bergantung pada impor.
Pertemuan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan Prabowo dijadwalkan kembali ke Prancis untuk membahas tindak lanjut kerja sama.
"Dan seperti kita ketahui bersama bahwa hubungan pribadi antar kedua Presiden merupakan sesuatu yang sangat dekat, yang akan merupakan sebuah modal besar dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis," ujar Sugiono.
(fdl/fdl)
♞ detik
Menempatkan skuadron pesawat tempur
Ilustrasi SU35 Rusia, dikabarkan akan di beli Indonesia (TASS)
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) memperkuat pertahanan udara nasional sekaligus modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan menempatkan skuadron pesawat tempur di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono saat ditemui di Kendari, Senin, mengatakan bahwa penempatan kekuatan udara tersebut rencananya akan dipusatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Haluoleo.
"Kami memilih wilayah Sultra karena posisinya sangat strategis bagi Angkatan Udara, yang dapat diibaratkan sebagai gerbang menuju wilayah Indonesia Timur," kata Tonny Harjono usai menghadiri kegiatan Semarak Dirgantara di eks MTQ Kendari.
Ia menjelaskan bahwa rencana tersebut saat ini masih dalam tahap persiapan dan pembahasan mendalam, termasuk mengenai spesifikasi jenis pesawat tempur berteknologi terbaru yang akan disiagakan.
Selain kehadiran skuadron tempur, TNI AU juga berencana memperkuat satuan Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) serta menambah jumlah personel secara signifikan di wilayah Sulawesi Tenggara.
Marsekal Tonny menegaskan, dalam pengembangan kekuatan ini, TNI AU berkomitmen memberdayakan sumber daya manusia (SDM) lokal. Putra-putri terbaik daerah akan diberikan prioritas untuk bergabung menjadi prajurit dan nantinya diprioritaskan untuk mengabdi kembali di daerah asal.
"Kami ingin ke depan satuan tempur semakin lengkap, personel bertambah, dan masyarakat lokal turut berperan aktif dalam pengabdian di TNI AU," ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Menurutnya, pengembangan pangkalan udara ini akan berdampak positif pada peningkatan konektivitas daerah.
Ia berharap peningkatan fasilitas pangkalan TNI AU ini dapat sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong status pangkalan udara menjadi berskala internasional, sehingga membuka akses Sultra ke jaringan global.
"Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu membuka akses Sultra ke dunia luar, baik dari sisi pertahanan maupun transportasi udara," ungkap Andi Sumangerukka.
Ia menambahkan, kolaborasi ini merupakan bentuk kepercayaan pemerintah pusat terhadap potensi Sultra, yang diharapkan tidak hanya memperkuat kedaulatan udara tetapi juga memicu kemajuan di berbagai sektor strategis lainnya.
π Gandeng TNI
Rudal Merapi (UAD)
Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Prof Muchlas, mengungkapkan perkembangan signifikan dalam proyek pengembangan rudal anti-pesawat Merapi-R yang digarap bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Rudal tersebut bahkan dinilai berpotensi menjadi embrio sistem pertahanan udara mirip “Iron Dome” versi Indonesia.
Prof Muchlas menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari tim peneliti, uji fungsi rudal Merapi-R telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.
“Secara uji fungsi, Rudal Merapi siap dikembangkan menjadi senjata untuk keperluan perang, bahkan sangat taktis untuk dikembangkan menjadi embrio Iron Dome versi Indonesia,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (30/3/2026).
Meski demikian, dia menegaskan bahwa tidak semua spesifikasi teknis dapat dipublikasikan secara terbuka.
Hal ini berkaitan dengan aspek strategis dan keamanan nasional. Namun, sejumlah spesifikasi umum telah diungkap kepada publik.
"Spesifikasi tidak dapat disampaikan secara terbuka, tetapi secara umum telah dirilis," ucapnya.
Rudal Merapi-R diketahui merupakan jenis rudal panggul atau Man Portable Air Defence System (MANPADS)/dengan kaliber 70 mm.
Sistem ini dirancang untuk digunakan secara mobile oleh prajurit di lapangan. Dengan bobot sekitar 10 kilogram, rudal ini tergolong ringan dan mudah dibawa.
Dari sisi performa, rudal ini memiliki jangkauan efektif hingga 3.000 meter dan mampu melesat dengan kecepatan lebih dari 650 kilometer per jam.
Sistem pemandunya menggunakan teknologi penjejak inframerah (infrared seeker) dengan fitur fire and forget, yang memungkinkan rudal mengunci target secara otomatis setelah diluncurkan.
Secara desain, Merapi-R dilengkapi sirip lipat (canard dan fin-tail) yang akan terbuka setelah keluar dari tabung peluncur, guna menjaga stabilitas dan akurasi saat menuju sasaran.
Pengembangan rudal ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga, yakni tim CIRNOV UAD bersama PT Dahana, Dislitbangad, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi ini menjadi bukti kontribusi perguruan tinggi dalam penguatan teknologi pertahanan nasional.
Dia berharap pengembangan Merapi-R dapat terus berlanjut hingga tahap produksi dan operasional, sehingga mampu memperkuat sistem pertahanan udara Indonesia di masa depan.
Project Leader sekaligus Kepala CIRNOV UAD, Prof Hariyadi menyampaikan bahwa penyempurnaan akan selalu dilakukan agar kualitas produk riset itu dapat memenuhi standar industri pertahanan dan keamanan (hankam) dan digunakan oleh TNI sebagai suatu persembahan anak bangsa kepada negara Indonesia tercinta.
Untuk modernisasi angkatan udaranya
Ilustrasi SU35 Rusia, dikabarkan akan di beli Indonesia (TASS)
Korea Utara dilaporkan tengah mempertimbangkan akuisisi jet tempur kelas berat Su-35 dari Rusia. Langkah ini diambil untuk memperkuat pertahanan udara mereka secara signifikan.
Kesepakatan potensial ini mencakup pembelian sekitar 12 hingga 14 unit pesawat, menurut laporan Military Watch Magazine, dengan nilai kontrak diperkirakan mencapai angka 1 miliar dolar AS.
Rusia sendiri telah meningkatkan kapasitas produksi Su-35, sehingga peluang ekspor ke negara mitra terbuka lebih lebar.
Kehadiran Su-35 diproyeksikan oleh Pyongyang untuk menggantikan armada lama Angkatan Udara Korea Utara yang saat ini masih mengandalkan pesawat tua MiG-29 dan Su-25.
Meski kedua pesawat tersebut pernah menjadi legenda di masanya, pembaruan teknologi dibutuhkan untuk menghadapi dinamika konflik modern.
Akuisisi Su-35 dinilai akan membawa lompatan teknologi yang drastis bagi negara di Semenanjung Korea tersebut.
Su-35 merupakan jet tempur generasi 4++ yang memiliki kemampuan tempur luar biasa. Pesawat dibekali dengan berbagai fitur canggih, jauh melampaui armada tempur udara Korea Utara saat ini.
Radar modern yang digunakan Su-35 mampu mendeteksi dan melacak banyak target sekaligus dari jarak yang sangat jauh.
Pesawat juga dilengkapi mesin berteknologi Thrust Vectoring sehingga memberikan kelincahan ekstrem (supermaneuverability) di udara.
Untuk berperang, Su-35 dilengkapi rudal udara ke udara dan udara ke permukaan generasi terbaru dengan akurasi tinggi.
Jika kesepakatan ini terwujud, Korea Utara akan bergabung dengan daftar operator internasional jet tempur ini.
Faktor kedekatan Pyongyang dengan Moskow, dinilai dapat memuluskan rencana ini untuk direalisasikan. (AF)
✈️ Airspace Review.
Dorong Kemandirian Industri Pertahanan
(Kemhan)
Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI), Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto, menerima kunjungan CEO Aerospace Long-March International, Li Dong, dalam pertemuan yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (23/4/2026).
Pertemuan tersebut membahas upaya penguatan kerja sama di bidang teknologi pertahanan, dengan fokus pada pengembangan sistem pertahanan terintegrasi berbasis teknologi kedirgantaraan dan luar angkasa.
Dalam diskusi, kedua pihak menekankan pentingnya pendekatan sistemik guna menjaga kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah luas dan kompleks.
Selain itu, kerja sama ini juga diarahkan untuk mendorong kemandirian industri pertahanan nasional.
Salah satu poin utama yang dibahas adalah peluang penerapan skema transfer teknologi, yang dinilai strategis untuk meningkatkan kapasitas industri dalam negeri.
Melalui langkah ini, Indonesia diharapkan dapat memperkuat kemampuan pengembangan dan produksi sistem pertahanan secara mandiri di masa depan. (ard)
π€ Metropolitan Postr
Kenali KI50: Drone Kamikaze Delta Wing Buatan Dalam Negeri
Drone kamikaze KI50 dalam Latopslagab 2026 (Dispenal)
Kemunculan drone kamikaze HDS NSS (Next-gen Strike System) buatan Malaysia yang berdesain ala ‘Shahed-136’ di Defence Services Asia (DSA) 2026, telah memantik perhatian netizen di Tanah Air, pasalnya, Indonesia sebenarnya lebih dulu menampilkan, bahkan telah menguji coba drone kamikaze (loitering munition) bersayap delta tersebut.
Punya dimensi mini mirip HDS NSS, drone kamikaze yang dimaksud adalah KI50 Loitering Attack Drone, produk pengembangan dari Batekhan Kemhan dan PT AKM Teknologi Nuswantara, yang telah digunakan oleh TNI AL dalam latihan pertempuran.
Drone Kamikaze ini telah beberapa kali menjalani uji coba dan sudah masuk produksi massal.
Sketsa desain drone KI50 (ist)
Dari spesifikasi yang beredar di media sosial, disebut KI50 punya lebar bentang sayap (wingspan) 1,5 meter, sebagai perbandingan HDS NSS punya Malaysia lebar bentang sayapnya 1,2 meter. Panjang badan keseluruhan KI50 adalah 1,2 meter dan berat maksimum saat lepas landas (MTOW) mencapai 12 kg.
Drone kamikaze yang dioperasikan TNI AL ini mengandalkan propusli elektrik, sistem pemandu mengadopsi Global Navigation Satellite Systems (GNSS).
Bicara aspek serangan, KI50 mengusung hulu ledak HE (High Explosive) fragmentation dengan berat 3 kg. Diluncurkan dengan catapult (ketapel), KI50 mampu melesat dengan kecepatan jelajah 90 km per jam, dan kecepatan saat serangan lebih dari 130 km per jam.
Beroperasi di ketinggian rendah, ketinggian terbang KI50 adalah 150 meter dan mampu mengudara (endurance) terbang selama kurang lebih 40 menit. (Bayu Pamungkas)
♖ Indomiliter
Indonesia minati kapal ITS Giuseppe Garibaldi, dapat hibah dan diharapkan tiba sebelum HUT TNI. (Marina militare)
PT PAL Indonesia mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis untuk menyambut kedatangan kapal induk Giuseppe Garibaldi. Kapal hibah dari Italia tersebut dijadwalkan tiba di Indonesia pada Oktober 2026.
Senior Executive Vice President Transformasi Manajemen PT PAL Indonesia, Laksda TNI (Purn) A.R. Agus Santoso, mengatakan persiapan tidak hanya pada aspek pemeliharaan. PT PAL juga mengirimkan personel ke luar negeri untuk mempelajari rencana operasional kapal tersebut.
“PT PAL mengirimkan personel untuk memahami rencana pemeliharaan saat kapal induk itu dioperasionalkan,” ujarnya. Ia menjelaskan, keberadaan kapal induk membutuhkan kesiapan galangan kapal yang memadai.
Hal ini penting untuk memastikan proses pemeliharaan dapat dilakukan secara optimal di dalam negeri. Menurut Agus, saat ini PT PAL menjadi galangan kapal dengan kapasitas terbesar di Indonesia.
Oleh karena itu, perusahaan dituntut menyiapkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kapal induk. “Sementara ini galangan kapal dengan kapasitas tertinggi di Indonesia adalah PT PAL,” katanya.
Persiapan yang dilakukan meliputi peningkatan fasilitas dockspace, termasuk penyesuaian panjang dan kapasitasnya. Langkah ini penting agar mampu menampung kapal induk berukuran besar seperti Giuseppe Garibaldi.
Selain itu, PT PAL juga mengajukan pembangunan fasilitas floating dock baru. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung pemeliharaan kapal berukuran besar dan memperkuat kapasitas galangan.
“Floating dock baru diajukan untuk mendukung kapal baru. Karena kapasitas yang ada saat ini belum mencukupi,” ujarnya.
Ia menambahkan, fasilitas lama juga akan ditingkatkan dengan penambahan kapasitas. Upaya ini dilakukan agar seluruh kebutuhan pemeliharaan kapal dapat terpenuhi secara maksimal.
Kapal induk Giuseppe Garibaldi diharapkan sudah berada di Indonesia sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026. Kehadirannya diyakini akan memperkuat armada TNI Angkatan Laut.
Dengan berbagai persiapan tersebut, PT PAL optimistis mampu menjadi pusat pemeliharaan kapal induk di Indonesia. Langkah ini sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.
KRI BPD 322 frigate pertama PAL, hasil kerjasama Babcock (PAL)
Perusahaan pertahanan Inggris, Babcock International Group (Babcock), bersama Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Kamar Dagang Inggris (Britcham), dan para mitra di Indonesia meluncurkan Maritime Partnership Programme (MPP).
Ini merupakan sebuah kesepakatan strategis guna memperdalam kerja sama Inggris–Indonesia di bidang pertahanan maritim, perikanan, kapabilitas industri, serta pengembangan keterampilan.
Chief Executive Babcock, David Lockwood OBE mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis utama bagi Babcock.
"Kemitraan ini akan mewujudkan komitmen tersebut, dan kami menantikan kelanjutan hubungan yang kuat dan berkelanjutan," kata David di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey CVO OBE, mengatakan bahwa Maritime Partnership Programme memberikan manfaat nyata bagi masyarakat berupa lapangan kerja, peluang, dan pertumbuhan.
Program ini mencerminkan komitmen bersama Inggris dan Indonesia terhadap stabilitas dan kemakmuran di Indo-Pasifik, menjunjung tinggi kebebasan navigasi serta mendukung tatanan internasional berbasis aturan.
"Melalui program ini, kita bersama-sama memperkuat ketahanan maritim, mendukung industri, dan membuka peluang yang lebih luas bagi generasi pemimpin Indonesia berikutnya. Kemitraan ini dibangun atas ambisi bersama danakan memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan Inggris. Diplomasi, kolaborasi, dan prestasi!" ujarnya.
Ketua Kamar Dagang Inggris di Indonesia, Ian Betts, menyambut baik peluncuran UK–Indonesia Maritime Partnership Programme. Menurutnya program tersebut menjadi tonggak penting dalam memperdalam hubungan ekonomi dan industri antara kedua negara.
Ian menambahkan, Investasi Babcock, termasuk perannya dalam memperkuat kapabilitas fregat Indonesia melalui program Arrowhead 140, menunjukkan kuatnya keahlian maritim Inggris sekaligus komitmen jangka panjang terhadap ambisi maritim Indonesia.
Kemitraan tersebut dinilai melampaui sektor pertahanan, dengan mendorong pengembangan industri lokal, transfer keterampilan, serta pertumbuhan ekosistem maritim yang lebih luas di Indonesia. Hal ini mencerminkan visi bersama untuk infrastruktur maritim yang tangguh, berkelanjutan, dan aman di kawasan Indo-Pasifik.
Peluncuran Maritime Partnership Programme turut dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Inggris untuk Aviasi, Maritim, dan Dekarbonisasi Keir Mather, Chief Executive Babcock David Lockwood OBE, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey CVO OBE, serta perwakilan sektor bisnis, pejabat pemerintah senior, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Babcock diketahui menandatangani empat Nota Kesepahaman (MoU) strategis dengan universitas-universitas terkemuka, mitra industri, dan pemangku kepentingan utama dari program MPP. MoU ini mencakup pengembangan tenaga kerja, pendidikan, beasiswa, serta kapabilitas industri guna mendukung tujuan maritim Indonesia dan implementasi MPP.
Salah satu MoU yang ditandatangani yakni terkait Beasiswa Chevening. Babcock berkomitmen mendanai total 30 beasiswa Chevening Pemerintah Inggris bagi mahasiswa Indonesia, yang akan diberikan secara bertahap selama periode tiga tahun untuk mendukung calon pemimpin masa depan di sektor maritim dan industri.
Selain itu, Babcock juga menyepakati kemitraan dengan enam universitas di Inggris dan Indonesia untuk memperkuat kapasitas pendidikan dan keterampilan maritim yang selaras dengan prioritas MPP, membuka peluang pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Konsorsium ini terdiri dari Newcastle University, University of Strathclyde, University of Edinburgh, University of Glasgow, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Selain itu Babcock dan PT Len Industri juga sepakat berkolaborasi dalam pengembangan teknologi angkatan laut dan maritim, termasuk potensi pemanfaatan fasilitas DEFEND ID.
Kemudian Babcock juga menjajaki kerja sama pembuatan kapal dengan PT Citra Shipyard, pengembangan keterampilan, transfer teknologi, dan rantai pasok.
MoU tersebut juga mencerminkan strategi yang terarah untuk berinvestasi di seluruh spektrum pembangunan maritim Indonesia, serta melanjutkan kesepakatan maritim senilai £4 miliar antara Inggris dan Indonesia yang ditandatangani pada November 2025.
Inisiatif ini juga memperkuat komitmen Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Sir Keir Starmer di London pada 20 Januari 2026.