Kedua pihak sepakat riset sistem pendorong berbasis energi bersih
Kesepakatan riset ditandatangani oleh Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, E Hendrian dan Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero) Diana Rosa di Jakarta, Selasa (27/10/2026). (PAL)
PT PAL Indonesia (Persero) memperkuat kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendorong penerapan hasil riset dalam pengembangan teknologi maritim nasional. Kolaborasi itu diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara riset dan kebutuhan industri, termasuk melalui rencana riset sistem pendorong berbasis energi bersih untuk KRI Sriwijaya-100.
Penguatan kerja sama tersebut dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang Riset dan Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi di Bidang Industri Maritim Indonesia. Kesepakatan ditandatangani oleh Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, E Hendrian dan Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero) Diana Rosa di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Diana Rosa menjelaskan, keterlibatan industri menjadi bagian penting dalam mengarahkan hasil riset agar dapat menjawab kebutuhan pengembangan teknologi nasional. "Bagi kami, hasil riset harus diterjemahkan menjadi teknologi yang aplikatif dan menjawab kebutuhan industri," ucap Diana.
Karena itu, sambung dia, pengembangan sistem pendorong KRI Sriwijaya-100 menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan kemampuan riset dengan pengalaman industri. "Kami berharap kerja sama ini menghasilkan teknologi yang memiliki nilai strategis bagi kemandirian industri maritim Indonesia," ujar Diana.
Ruang lingkup kolaborasi diperluas mencakup riset, pengembangan, serta pemanfaatan hasil riset dan inovasi di bidang industri maritim, energi, dan industri proses. Perluasan tersebut memberikan ruang bagi PT PAL dan BRIN untuk mengembangkan kerja sama lintas bidang yang relevan dengan kebutuhan teknologi kapal dan industri pendukungnya.
Salah satu fokus kerja sama adalah riset sistem pendorong berbasis energi bersih yang direncanakan untuk KRI Sriwijaya-100. Riset tersebut menjadi bagian dari upaya menjajaki pengembangan teknologi propulsi dan energi yang lebih maju, dengan mempertemukan kapasitas riset nasional dan pengalaman PT PAL dalam pembangunan serta pengembangan kapal.
Bagi PT PAL, kolaborasi itu memiliki arti strategis dalam memperkuat kemampuan desain, rekayasa, dan integrasi teknologi di dalam negeri. Keterhubungan antara lembaga riset dan industri diharapkan dapat mendorong hasil penelitian menuju pemanfaatan yang sesuai dengan kebutuhan operasional, sekaligus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang terlibat dalam pengembangannya.
"Kesinambungan kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua pihak untuk menjalankan agenda riset dan inovasi secara berkelanjutan," kata Diana. PT PAL pun berharap, BRIN dapat memperkuat kemampuan nasional dalam mengembangkan serta memanfaatkan teknologi strategis, sekaligus mendukung kemandirian industri maritim Indonesia.
Gandeng Naval Group
ITS Garibaldi ketika dikawal 2 Brawijaya class di perairan Indonesia diresmikan sebagai KRI Sriwijaya 100 (Dispenal)
PT PAL Indonesia (Persero) dan Naval Group juga menandatangani MoU menjajaki maintenance, repair, and overhaul (MRO) kapal selam kelas Nagapasa. Penandatanganan berlangsung pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa.
PT PAL memiliki pengalaman dalam pekerjaan overhaul kapal selam, salah satunya pada KRI Cakra-401. Pekerjaan tersebut mencakup penanganan badan tekan, sistem mekanik dan elektrik, sensor, navigasi, hingga sistem persenjataan. Pengalaman ini menjadi fondasi bagi perusahaan untuk terus mengembangkan keahlian rekayasa dan kapasitas fasilitas dalam menangani kompleksitas pemeliharaan kapal selam.
Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero), Diana Rosa menyebut, penguasaan kemampuan MRO kapal selam merupakan bagian penting dari upaya membangun kemandirian industri pertahanan nasional. "Melalui kolaborasi dengan Naval Group, kami berharap dapat memperkuat keahlian teknis dan kompetensi SDM Indonesia," kata Rosa.
👷 Buatan PT PAL Indonesia
Penampakan KSSR produksi PAL (Dispenal)
Detail baru telah muncul terkait Kapal Serang Sangat Ringan (KSSR), yang dikembangkan oleh PT PAL Indonesia menyusul kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia ke galangan kapal perusahaan di Surabaya, Jawa Timur, pada 27 Oktober lalu.
Baik PT PAL maupun Kementerian Pertahanan belum merilis spesifikasi detail untuk KSSR, termasuk jenis dan asal sensor dan sistem senjata kapal tersebut.
Namun, informasi singkat yang terlihat dalam rekaman resmi TNI AL saat kunjungan Menteri Pertahanan memberikan indikasi pertama tentang dimensi, konfigurasi, dan konsep operasi kapal tersebut.
KSSR berukuran panjang 18 meter dan lebar 4 meter, dengan lambung yang terbuat dari material komposit, dan dirancang dalam setidaknya empat konfigurasi: rudal permukaan-ke-permukaan (SSM), torpedo, rudal permukaan-ke-udara (SAM), dan varian pembawa drone.
Selain itu, keempat konfigurasi tersebut ditampilkan dengan senapan mesin kaliber 0,5 inci atau 12,7 mm yang dipasang di haluan.
Versi SSM dapat membawa empat rudal dalam dua peluncur kembar, sedangkan versi torpedo dapat membawa empat torpedo ringan. Tidak jelas versi mana yang ditampilkan selama kunjungan menteri pertahanan.
Fitur penting lainnya adalah kemampuan pengoperasian jarak jauh KSSR. Informasi yang ditampilkan selama kunjungan menunjukkan bahwa operator dapat mengendalikan kapal dan sistem senjata di dalamnya dari jarak jauh, dengan satu stasiun kendali yang mampu mengoperasikan hingga enam KSSR.
Konfigurasi ini menunjukkan bahwa PT PAL sedang mengembangkan KSSR dengan mempertimbangkan operasi terdistribusi atau berpotensi operasi gaya kawanan, bukan hanya sebagai kapal serang cepat berawak konvensional.
Kementerian Pertahanan Indonesia belum mengungkapkan berapa banyak KSSR yang direncanakan untuk diakuisisi, sementara PT PAL belum mengumumkan target produksi atau jadwalnya.
Namun, jika KSSR dimaksudkan untuk mendukung taktik kawanan tak berawak, kementerian kemungkinan perlu membeli kapal tersebut dalam jumlah yang relatif besar.
Usai modernisasi di GMF
GMF AeroAsia menyerahkan satu unit C-130 Hercules bernomor ekor A-1317 hasil modernisasi (Dispenau)
TNI Angkatan Udara melalui Grup 1 Angkut menerima kembali pesawat C-130H Hercules A-1317 usai menjalani modernisasi di PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia. Penyerahan dilaksanakan di Hanggar Skadron Udara 32, Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Kamis (29/10/2026).
Secara simbolis, VP SBU Defence PT GMF Aero Asia Rajesh Ferdinand Kusuma menyerahkan pesawat kepada Pusalpalhan Kemhan, untuk selanjutnya diserahkan kepada TNI AU yang diwakili Dangrup 1 Angkut Marsma TNI I Gusti Putu Setia Darma, S.T., M.M., M.Han.
A-1317 menjadi pesawat kedua yang kembali setelah menjalani Center Wing Box Replacement (CWBR), Avionics Upgrade Program (AUP), dan Structural Integrity Program (SIP).
Dalam sambutannya, Dangrup 1 Angkut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertahanan atas program modernisasi C-130 Hercules serta PT GMF Aero Asia yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Kerja sama ini menunjukkan pentingnya peran industri nasional dalam mendukung modernisasi alpalhankam di dalam negeri.
Dangrup juga menekankan bahwa modernisasi harus diikuti kemampuan satuan dalam menjaga dan memanfaatkan pesawat secara optimal. Untuk itu, Dangrup berpesan kepada jajaran Skadron Udara 32 agar mengemban tanggung jawab tersebut dengan profesionalisme, disiplin, serta mengutamakan keselamatan terbang dan kerja.
Selanjutnya, dalam sambutan tertulis Kapusalpalhan Baloghan Kemhan Marsma TNI Jon Keneddy Ginting, MMsgSud, QTC, yang dibacakan Kapuslaik Kemhan Marsma TNI Catur Martowo Aji, M.Eng., disampaikan bahwa modernisasi diperlukan karena C-130 Hercules telah mencapai usia operasional tinggi dalam menjadi tulang punggung mobilitas udara TNI. Program ini juga merupakan investasi strategis dalam pembangunan pertahanan negara.
Sementara itu, VP SBU Defence PT GMF Aero Asia menyampaikan bahwa modernisasi tersebut diproyeksikan memperpanjang usia struktur pesawat hingga 15–20 tahun, sekaligus meningkatkan keandalan dan kesiapan operasionalnya. Kepercayaan Kementerian Pertahanan menjadi motivasi bagi GMF untuk terus meningkatkan kapabilitas industri dalam negeri.
👷 Di PT PAL, Surabaya
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin meninjau sejumlah proyek pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Laut di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, kemarin.
Kunjungan tersebut mencakup proyek kapal perang, kapal selam, hingga kendaraan nirawak untuk mendukung kebutuhan pertahanan maritim Indonesia.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan, sejumlah proyek yang ditinjau Menhan antara lain pembangunan fregat Merah Putih, kapal selam Scorpene, kapal selam tanpa awak atau Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT), serta Unmanned Surface Vehicle (USV) atau kendaraan permukaan tanpa awak.
"Ada beberapa yang dilihat seperti pembangunan kapal Fregat Merah Putih, kemudian kapal selam Scorpene, kemudian ada lagi kapal selam tanpa awak atau KSOT, ada lagi pembangunan kapal USV dan lain-lain," katanya saat ditemui di KRI Sriwijaya-100 yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (28/10/2026).
Ali menjelaskan, kunjungan Menhan tidak hanya dilakukan ke PT PAL Indonesia, tetapi juga ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan sejumlah industri pertahanan dalam negeri lainnya.
Menurut Ali, kunjungan tersebut dapat mendorong kinerja industri pertahanan nasional dalam mendukung modernisasi alutsista TNI.
Selain memantau proyek pembangunan kapal, Ali berharap kunjungan Sjafrie turut memperkuat komitmen PT PAL dalam mengerjakan retrofit atau peningkatan dan pembaruan sistem pada KRI Sriwijaya-100.
"Sekarang kegiatannya cukup padat PT PAL. Makanya kita menunggu kesiapan PT PAL untuk me-retrofit KRI Sriwijaya ini," ujar Ali.
Ali menilai kesiapan industri pertahanan dalam negeri menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista TNI AL. Karena itu, koordinasi antara TNI dan industri pertahanan diperlukan agar program pembangunan maupun peningkatan kemampuan kapal perang dapat berjalan sesuai kebutuhan. (cip)
Retrofit kapal selam Nagapasa class
Penjajakan kerjasama retrofit kapal selam Nagapasa class. (PAL)
PT PAL Indonesia (Persero) dan Naval Group menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki kerja sama Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) kapal selam. Penandatanganan berlangsung pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10).
Penjajakan ini membuka peluang pengembangan kemampuan teknis PT PAL dalam menangani perbaikan dan pemeliharaan kapal selam, mulai dari penguasaan teknologi hingga peningkatan kompetensi insinyur dan teknisi. Lingkup kolaborasi selanjutnya akan ditentukan berdasarkan kebutuhan pengguna dan kesepakatan kedua pihak.
PT PAL memiliki pengalaman dalam pekerjaan overhaul kapal selam, salah satunya pada KRI Cakra-401. Pekerjaan tersebut mencakup penanganan badan tekan, sistem mekanik dan elektrik, sensor, navigasi, hingga sistem persenjataan. Pengalaman ini menjadi fondasi bagi perusahaan untuk terus mengembangkan keahlian rekayasa dan kapasitas fasilitas dalam menangani kompleksitas pemeliharaan kapal selam.
Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero), Diana Rosa, mengatakan penguasaan kemampuan MRO kapal selam merupakan bagian penting dari upaya membangun kemandirian industri pertahanan nasional.
“Melalui kolaborasi dengan Naval Group, kami berharap dapat memperkuat keahlian teknis dan kompetensi SDM Indonesia, sehingga PT PAL semakin mampu mendukung kesiapan operasional TNI AL sekaligus membangun kemampuan pemeliharaan kapal selam di dalam negeri,” ujar Rosa.
Pengembangan kapabilitas MRO kapal selam membutuhkan kesinambungan dalam penguasaan teknologi, kesiapan fasilitas, dan peningkatan kompetensi tenaga ahli. Melalui kerja sama ini, PT PAL mendorong penguatan kapasitas industri nasional agar semakin mampu menangani kebutuhan pemeliharaan kapal selam di dalam negeri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap dukungan luar negeri.
Retrofit kapal selam Nagapasa class
PT PAL Indonesia (Persero) dan Naval Group menjajaki kerjasama retrofit kapal selam Nagapasa. Kerjasama ini merupakan bagian dari upaya PT PAL Indonesia (Persero) mendukung kesiapan armada TNI Angkatan Laut melalui penguatan kolaborasi dengan mitra strategis.
🛩 Tinjau Progres Produksi dan Modernisasi Alutsista
Kunjungan kerja Menhan RI ke PT DI di Bandung (PT DI)
Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Wakil Menteri Pertahanan Bidang Logistik, Industri Pertahanan & Teknologi, Marsekal TNI Yusuf Jauhari, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Letjen TNI Gabriel Lema, serta Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kemhan RI, Laksda TNI Sri Yanto, beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI). Rombongan diterima langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi, Wakil Komisaris Utama PTDI, Marsdya TNI (Purn.) Bagus Puruhito, Komisaris PTDI, Yusron Ihza, serta jajaran manajemen PTDI di Hanggar Final Assembly Line (FAL) Fixed Wing PTDI, Bandung.
Pada kesempatan ini, Menhan RI meninjau langsung perkembangan sejumlah program Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang tengah dikerjakan PTDI, meliputi program produksi, peningkatan sistem misi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat. Menhan RI dan rombongan mengawali kunjungannya dengan peninjauan pekerjaan upgrade mission system terhadap pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) milik TNI AL. Selanjutnya, Menhan RI juga meninjau proses produksi pesawat CN235-220 Military Transport (serial number N71) untuk end user TNI AL yang ditargetkan selesai pada awal tahun 2027.
Agenda peninjauan berlanjut ke program modernisasi pesawat C-130 TNI Angkatan Udara (AU), serta pekerjaan rekondisi struktur dan pemeliharaan & perawatan (Harwat) 2 unit pesawat NC212-200 milik TNI AL. Dalam kesempatan yang sama, Menhan RI juga meninjau pekerjaan Service Life Extension Program (SLEP) dan avionics upgrade terhadap 3 unit pesawat CN235-100 milik Uni Emirat Arab (UAE Air Force) yang ditargetkan seluruhnya selesai pada akhir tahun 2027. Pekerjaan ini mencerminkan kapabilitas PTDI dalam memperpanjang usia pakai pesawat sekaligus meningkatkan kemampuan sistem avioniknya melalui program peningkatan dan modernisasi pesawat. Rangkaian peninjauan diakhiri di Hanggar FAL N219.
Kunjungan ini menegaskan peran strategis PTDI dalam mendukung pelaksanaan program Kemhan RI melalui pengembangan kapabilitas produksi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat militer. Berbagai program yang tengah berjalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri kedirgantaraan nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista Indonesia, sekaligus mewujudkan kemandirian pertahanan nasional.
Menggunakan helikopter Kamov
Penampakan helikopter Kamov yang digunakan penerbad (Skadron 31/AYC)
Yonbekang 5/ARY melaksanakan kegiatan latihan Mutunghel sebagai upaya dalam meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan profesionalisme dalam melaksanakan tugas pokok satuan.
Latihan tersebut dilaksanakan bersama dengan Skadron 31/AYC menggunakan Helikopter Kamov.
Melalui latihan yang terencana dan terukur, diharapkan terjalin koordinasi yang semakin solid serta terwujud prajurit yang profesional, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan tugas.
Atas Inovasi Kapal Selam Otonom Tanpa Awak & Torpedo Piranha
Torpedo ‘Piranha’ Buatan Indonesia Senjata Siluman KSOT (PAL)
PT PAL Indonesia (Persero) meraih dua penghargaan ASEAN Outstanding Engineering Achievement Project dalam rangkaian 44th Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 44) di Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
Penghargaan dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) tersebut diberikan atas kesuksesan dalam menghasilkan inovasi Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT) dan Torpedo Piranha hasil kapabilitas rekayasa dan pengembangan teknologi pertahanan oleh PT PAL Indonesia (Persero).
Penghargaan diterima oleh Chief Finance and Human Resources Officer (CFHO) PT PAL Indonesia (Persero), Pramusti Indrascaryo. Pengakuan di tingkat ASEAN ini menjadi apresiasi atas kontribusi insinyur PT PAL dalam mengembangkan inovasi teknologi pertahanan, sekaligus memperkuat posisi industri nasional dalam membangun kemampuan rekayasa secara mandiri.
Kedua produk tersebut dirancang sepenuhnya oleh insinyur Indonesia dan dikembangkan melalui kemampuan rekayasa serta manufaktur PT PAL di dalam negeri. Untuk KSOT sendiri, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50 persen, hal ini sebagai bentuk komitmen PT PAL Indonesia (Persero) untuk keterlibatan industri komponen dalam negeri.
Pramusti menyampaikan, penghargaan tersebut merupakan apresiasi atas kompetensi dan dedikasi para insinyur PT PAL dalam menghasilkan inovasi strategis bagi pertahanan nasional mulai dari penguasaan desain hingga proses produksi.
"Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kemampuan dan dedikasi insinyur PT PAL dalam mengembangkan teknologi pertahanan melalui rekayasa yang dilakukan secara mandiri. Capaian atas KSOT dan Torpedo Piranha sekaligus memotivasi kami untuk terus memperkuat penguasaan teknologi, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, dan menghasilkan inovasi yang mendukung kemandirian industri pertahanan Indonesia," ujar Pramusti.
Selain itu, untuk memastikan keberlanjutan kapabilitas yang ada, PT PAL juga memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan industri.
Kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Hasanuddin, antara lain, mencakup program magang mahasiswa, pendidikan lanjut bagi karyawan, serta riset dan inovasi teknologi.
Sinergi ini mempertemukan kebutuhan industri dengan kapasitas akademik dan riset, sekaligus mempersiapkan talenta yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan teknologi maritim dan pertahanan.
Lebih dari sekadar sebuah produk inovasi, pengembangan KSOT dan Torpedo Piranha merupakan bentuk keberhasilan transformasi di PT PAL Indonesia (Persero) dalam 5 tahun terakhir.
Sebagai Landasan Pacu Alternatif
Pesawat F16 melakukan latihan lepas landas dan pendaratan di Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo di Jawa Timur (Dispenau)
TNI AU melakukan latihan lepas landas dan pendaratan di ruas jalan tol Pasuruan–Probolinggo sepanjang tiga kilometer di Jawa Timur untuk menilai kesesuaiannya sebagai landasan alternatif.
Latihan ini merupakan bagian dari upaya TNI AU untuk menguji kesiapan operasional dan kemampuan kita dalam memanfaatkan infrastruktur yang ada di daerah, khususnya jalan tol, sebagai landasan alternatif untuk operasi angkatan udara.
Harjono mengatakan latihan tersebut melibatkan dua pesawat Embraer EMB-314 Super Tucano dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang dan dua jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Pangkalan Udara Iswahjudi di Madiun.
Pesawat-pesawat tersebut berhasil melakukan lepas landas dan pendaratan di ruas jalan tol selebar 24 meter tersebut. Latihan ini mengikuti misi pelatihan serupa yang dilakukan di Jalan Tol Terbanggi Besar di Lampung pada 11 Februari 2026.
Jalan tol hanya berfungsi sebagai landasan alternatif dalam situasi darurat, menekankan bahwa keselamatan publik dan penggunaan infrastruktur tetap menjadi prioritas utama.
TNI AU telah mengidentifikasi beberapa jalan tol lainnya untuk latihan di masa mendatang, termasuk Jalan Tol Cibinong–Cilincing dan jalan tol yang direncanakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Ke depannya, kami akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum mengenai pengembangan dan pemetaan jalan tol sehingga jalan tol terpilih dapat disiapkan sebagai landasan alternatif untuk mendukung operasi angkatan udara," kata Harjono.
🚀
(Yonarmed 22)
Indonesian Army tested the TRLG-122 laser-guided artillery rocket fired from ROKETSAN’s ITBM-600 MLRS, set to use the BORA TBM and various artillery rockets.
Indonesia has become the first known export customer of ROKETSAN’s TRLG-122 laser-guided artillery rocket with the test from ROKETSAN's MLRS platform.
The small-calibre artillery rocket was fired from the ITBM-600 MLRS, primarily acquired to use the BORA TBM, based on ROKETSAN’s flexible MLRS platform capable of using different types of artillery rockets.
TRLG-122 is the laser-guided variant of the TRG-122 GNSS-guided artillery rocket, also forming the basis for the UAV-122 short-range aeroballistic missile in terms of airframe.
The laser-guided artillery rocket with a CEP of two meters can reach a range of 35 km, and each vehicle can carry up to 24 rounds (12x2 pods).
With the presence of a UAV for terminal guidance, TRLG-122 can be used against point targets or moving ones thanks to laser guidance.
ROKETSAN has also developed the larger TRLG-230, the laser-guided variant of its TRG-230 medium-range artillery rocket with a range of 70 km.
👷 🤝 💰
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)
PT PAL Indonesia (Persero) membidik perluasan pasar industri maritim dan pertahanan di kawasan Timur Tengah. Langkah ini ditempuh melalui penguatan kemitraan strategis dengan Uni Emirat Arab (UEA).
Perluasan pasar tersebut menjadi upaya PT PAL meningkatkan jangkauan bisnis dan memperkuat daya saing internasional. Penjajakan peluang kerja sama dibahas bersama Duta Besar RI untuk UEA, Judha Nugraha, di Surabaya.
Judha menilai, penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan UEA membuka peluang bagi industri maritim dan pertahanan nasional. Peluang tersebut semakin besar setelah berlakunya Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA).
Dalam dua tahun penerapannya, perdagangan bilateral Indonesia–UEA meningkat 26 persen. Sementara itu, investasi UEA ke Indonesia naik hampir 641 persen.
“Capaian ini membuka ruang bagi penguatan kerja sama ekonomi yang lebih luas. Termasuk di sektor industri maritim dan pertahanan,” ujar Judha, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia juga mengapresiasi kemampuan desain dan rekayasa PT PAL yang telah memperoleh kepercayaan mitra internasional. Salah satu pencapaiannya terlihat melalui proyek kapal Landing Platform Dock (LPD) Al-Maryah.
Pengalaman tersebut menjadi modal PT PAL untuk menargetkan peluang bisnis baru di Timur Tengah. Perusahaan berupaya memperluas kemitraan sekaligus meningkatkan penetrasi pasar produk dan layanan industri maritim serta pertahanan.
Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia, Wiyono Komodjojo, mengatakan perluasan pasar internasional membutuhkan dukungan diplomasi dan hubungan industri yang kuat. Kemitraan dengan UEA diharapkan membuka akses bisnis sekaligus memperkuat kemampuan industri nasional.
“Melalui kemitraan internasional, kami ingin memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kapabilitas industri dalam negeri,” kata Wiyono. Ia berharap kerja sama tersebut memberikan nilai tambah bagi kedua negara dan mendukung kebutuhan pertahanan secara berkelanjutan.
Selain memperluas pasar, PT PAL juga menargetkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Direktur Keuangan dan SDM PT PAL Indonesia, Pramusti Indrascaryo, menilai kemitraan internasional dapat mendukung pencapaian target tersebut.
Selain memperluas pasar, PT PAL juga menargetkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Direktur Keuangan dan SDM PT PAL Indonesia, Pramusti Indrascaryo, menilai kemitraan internasional dapat mendukung pencapaian target tersebut.
Menurut Pramusti, kerja sama internasional membuka kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Kolaborasi tersebut juga dapat mendorong penguasaan teknologi guna memperkuat daya saing industri.
Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi dalam desain, produksi, dan riset teknologi. Kerja sama juga berpotensi mencakup layanan pemeliharaan dan perbaikan kapal.
Melalui penjajakan ini, PT PAL menargetkan terbukanya peluang bisnis baru di kawasan Timur Tengah. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperluas akses pasar, meningkatkan kapabilitas industri, dan memperkuat posisi Indonesia dalam industri maritim serta pertahanan global.
🛰 Rampung Pada 2027
📡 Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional. (antara)
PT Len Industri (Persero) menargetkan instalasi 13 unit radar ground control intercept (GCI) yang akan digunakan untuk mendukung sistem pertahanan udara nasional, selesai pada 2027.
“Khusus radar sedang berjalan … [targetnya] tahun depan,” kata Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri Dwi Sulistiani di Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Ia menjelaskan sejauh ini instalasi radar telah rampung di dua lokasi. “Ini memang mendukung pertahanan di kawasan timur, khususnya, yang notabene ini menjadi fokus dari Kementerian Pertahanan,” kata dia.
Menurut dia, tantangan aktivasi radar tidak hanya berkaitan dengan perangkat dan teknologi, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung meliputi fasilitas operasional bagi prajurit, tempat tinggal, fasilitas pemantauan, serta ruang kendali operasi.
Namun Dwi menilai bahwa dalam pelaksanaannya, holding industri pertahanan Indonesia (Defend ID) itu mendapat dukungan Kementerian Pertahanan serta pemangku kepentingan lain, termasuk pemerintah daerah.
“Di dalam aktivasi radar ini tentunya harus bisa komunikasi, minimal di lingkup matra udara itu sudah. Tantangannya memang kita harus menuntaskan dengan matra yang lain, salah satunya laut,” ujarnya.
Radar GCI merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Perancis. GCI tercatat menjadi radar dengan jangkauan terjauh di Indonesia, yakni lebih dari 400 kilometer.
Radar itu disebut memiliki kemampuan mendeteksi, mengukur jarak, dan mengidentifikasi objek pesawat dengan keakuratan tinggi serta dilengkapi kemampuan mengidentifikasi objek yang menjadi kawan maupun lawan/musuh atau identification friend or foe (IFF).
Pada Juli lalu, PT Len memperkenalkan implementasi radar GCI generasi terkini pertama di Indonesia yang dipasang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kemampuan deteksi jarak jauh tercatat mencapai radius 515 kilometer.
🛩 Untuk kebutuhan militer maupun komersial
🛩 Pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (Kamal)
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Gita Amperiawan menyatakan pesawat N219 merupakan hasil karya anak bangsa yang dikembangkan tanpa tenaga pendamping teknis dari luar negeri.
“Pesawat N219 adalah pesawat seratus persen karya anak bangsa. Tingkat kandungan dalam negerinya (TKDN) 44,69 persen,” ucap Gita saat eksplorasi industri pertahanan bersama pers di Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Dia menyebut pengembangan N219 melibatkan kurang lebih 16 industri pertahanan nasional dan empat perguruan tinggi dalam negeri.
Dijelaskannya, N219 merupakan pesawat turboprop bermesin ganda yang memiliki kapasitas 19 penumpang.
Pesawat tersebut dirancang untuk melayani rute penerbangan perintis, termasuk wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur landasan pacu. N219 memiliki kemampuan lepas landas pada landasan sepanjang sekitar 600 hingga 800 meter serta dapat dioperasikan pada landasan yang tidak beraspal (unpaved runway).
Gita menyebut sekitar 100 bandara perintis di Indonesia memiliki landasan pacu dengan panjang kurang dari satu kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 bandara disebut memiliki landasan yang tidak beraspal.
“Ini cocok dengan N219,” katanya.
Pesawat tersebut kini dikembangkan untuk kebutuhan militer dan komersial. Kedua jenis kebutuhan itu memiliki basis yang sama, tetapi dapat dibedakan berdasarkan persyaratan sertifikasi dan kebutuhan khusus.
Ia mencontohkan, untuk kebutuhan militer penyesuaian dapat dilakukan sesuai kebutuhan operasional TNI, termasuk untuk mendukung kegiatan penerjunan personel.
Di sisi lain, PT DI berupaya meningkatkan keterlibatan industri nasional dalam produksi N219. Gita memperkirakan TKDN pesawat tersebut meningkat hingga 65 persen apabila produksi dilakukan secara massal.