Tampilkan postingan dengan label PT-DI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT-DI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 April 2026

PTDI Garap Pesawat - Roket Bidik Posisi Mitra Pertahanan Utama Kawasan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3JuPuL4EfKlJ18ulYvHRUCMjvdNt4l_7BjIV8b9xpCIm7Vn4v2GK5kWwEx0V8iMvSwbpda-CkzepoRhJwXa6CyV6jhmz42yNyOZvFWgFhaE2c94amydyQoPFaBB98Eb68qmsSuNeWfTi4/s1600/Pesawat+N-219_n219.jpgPesawat N219 (PTDI)
PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) membidik posisi sebagai mitra pertahanan utama Malaysia dan kawasan Asia Pasifik secara lebih luas, melalui skema solusi end-to-end dan pengembangan alutsista mutakhir, termasuk sistem roket 70 mm, guna memperkuat kemandirian industri pertahanan di kawasan.

Strategi "total solusi" ini menjadi pembeda utama PTDI dibandingkan kompetitor global lainnya dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa ini. Di mana PTDI juga tidak lagi sekadar menjual badan pesawat, melainkan menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang militer Negeri Jiran tersebut.

"Partisipasi PTDI dalam DSA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kehadiran kami di Malaysia sebagai mitra jangka panjang," ujar Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal dalam keterangan di Bandung, Selasa.

Menurut Arif, rekam jejak PTDI di Malaysia sudah sangat mengakar. Sejak 1999, Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah mengoperasikan tujuh unit pesawat CN235-220.

Dengan adaptasi teknologi, PTDI sukses dalam program modifikasi tiga unit pesawat TUDM menjadi pesawat pengintai maritim atau Maritime Surveillance Aircraft (MSA) pada 2023.

Selain memperkuat lini CN235, PTDI kini membidik pasar Malaysia untuk pesawat NC212i, pesawat N219, hingga sistem roket 70 mm.

Pendekatan ini mencakup layanan purnajual komprehensif mulai dari pemeliharaan (MRO), Service Life Extension Program (SLEP), hingga dukungan suku cadang dan perbaikan struktur.

Dengan rekam jejak operasional pesawat CN235-220 di TUDM serta pengalaman dalam berbagai program layanan purnajual, PTDI terus berkomitmen menghadirkan solusi yang andal dan berkelanjutan, tidak hanya pada produk pesawat tapi juga sistem pertahanan lainnya seperti roket,” ujar Arif.

Kehadiran PTDI di bawah payung Holding Defend ID ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pameran pertahanan terbesar Asia Pasifik tersebut.

Melalui kolaborasi strategis ini, PTDI optimistis dapat mengoptimalkan platform pesawat buatan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan spesifik keamanan regional..

  antara  

Jumat, 10 April 2026

SCYTALYS Bersama PTDI Meningkatkan Sistem Misi Taktis untuk Pesawat N219 dan CN-235

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5gtN99C5GEKN_PwdJRS_kl7oICsHAuZrQfCAMPdB0KgMbGbIfRX65lS3jqxMn9o-LfR4dWOpIkuO4rdqjKkSlFmBZ-nDyV4rJMuv4rHNr5V-eduIdQw0BxmMf618yndBSExhq-SYQnXAYNu-8ypfD9cUxKH3rdnc20t1r_TLqGV9i_Wf-vyU3w8tuY5g/s1920/FB_IMG_1775812223366.jpgSCYTALYS menandatangani MoU dengan PT Dirgantara Indonesia untuk mengintegrasikan sistem MIMS Airborne miliknya ke dalam pesawat N219 dan CN-235, meningkatkan kemampuan pengawasan maritim dan memperluas peluang di pasar Asia-Pasifik (Scytalys))
SCYTALYS
(bagian dari EFA GROUP) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), menandai langkah strategis penting untuk memperkuat kehadiran kedua perusahaan di sektor Pesawat Patroli Maritim. Kerja sama ini berkaitan dengan integrasi sistem SCYTALYS ke dalam varian pengawasan maritim pesawat N219 dan CN-235 milik PTDI.

Perjanjian tersebut mencakup integrasi Sistem Manajemen dan Integrasi Misi Udara (MIMS Airborne) SCYTALYS ke dalam pesawat N219 dan CN-235 PTDI, meningkatkan kemampuan pengawasan dan patroli maritim kedua platform tersebut dan membuka prospek baru di pasar Asia-Pasifik. Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani oleh Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, Bapak Moh Arif Faisal, dan Presiden SCYTALYS, Bapak Dimitris Karantzavelos, selama Singapore Airshow 2026.

MIMS Airborne adalah sistem C2 modular canggih yang berbasis pada desain arsitektur terbuka. Sistem ini mengintegrasikan dan mengelola secara real-time berbagai sensor dan subsistem penting termasuk radar, EO/IR, ESM/ELINT, navigasi penerbangan, dan komunikasi taktis/strategis menghasilkan Gambaran Operasional Bersama (Common Operational Picture/COP) yang terintegrasi. Dengan mengintegrasikan MIMS Airborne, N219 dan CN-235 menjadi node C4ISR yang sepenuhnya berpusat pada jaringan, sehingga secara signifikan meningkatkan efektivitas operasionalnya.

Moh Arif Faisal, Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, menyatakan: “Kerja sama ini akan meningkatkan kemampuan operasional pesawat N219 dan CN-235 dan akan menciptakan peluang baru bagi produk unggulan PTDI melalui solusi misi khusus yang kompetitif yang memenuhi persyaratan operasional pengguna.”

Bapak Dimitris Karantzavelos, Presiden SCYTALYS, menyatakan: “Penandatanganan MoU dengan PTDI menandai langkah penting menuju penguatan lebih lanjut kehadiran internasional SCYTALYS dan memajukan solusi misi inovatif. Integrasi sistem MIMS Airborne ke dalam pesawat N219 dan CN-235 menegaskan keunggulan teknologi kami dan kemampuan kami untuk memberikan solusi misi khusus yang andal, interoperabel, dan sesuai kebutuhan. Kerja sama kami dengan PTDI membuka prospek baru bagi ekspansi SCYTALYS di pasar Asia-Pasifik, dan kami berharap dapat melanjutkan kemitraan yang dinamis dan sangat menjanjikan ini.

 Tentang SCYTALYS

SCYTALYS adalah perusahaan pengembangan dan integrasi perangkat lunak pertahanan terkemuka, yang didirikan pada tahun 1993 di Yunani, yang mengkhususkan diri dalam desain, pengembangan, instalasi, dan pengujian. Perusahaan ini mempekerjakan 110 staf, sebagian besar adalah insinyur yang sangat terampil. Perusahaan ini memiliki kantor di tiga lokasi internasional (Yunani, AS, Singapura) untuk melayani pelanggan di 14 negara di seluruh dunia. SCYTALYS memiliki pengalaman luas dalam program domestik yang mendukung Angkatan Bersenjata Yunani, dan melalui sejarah panjangnya dalam inovasi teknik, keandalan, efisiensi, dan kualitas layanan, perusahaan ini telah menjadi mitra pilihan perusahaan dan organisasi multinasional di sektor Dirgantara, Pertahanan, dan Keamanan, yang menyediakan solusi interoperabilitas canggih. Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir yang telah teruji di lapangan, perusahaan ini merancang dan mengembangkan solusi dan produk canggih di bidang Tautan Data Taktis, Sistem Komando & Kontrol Misi dan Taktis, Sistem C4I, Pelatihan, Pengujian dan Simulasi, Pengawasan, dan Pengintaia.

  Scytalys  

Rabu, 08 April 2026

Korsel Sepakat Serahkan Satu Prototipe Jet Tempur KF-21 ke Indonesia

 PTDI akan merakit dan memelihara pesawat yang dipesan
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI) 

Kabar gembira bagi pertahanan Indonesia. Pemerintah Korea Selatan secara resmi menyetujui transfer satu unit prototipe jet tempur KF-21 Boramae (prototipe kelima) beserta data dan teknologi pengembangan ke Indonesia.

Kesepakatan bernilai total sekitar 600 miliar won (sekitar Rp 8,4 triliun) ini menjadi angin segar bagi penguatan armada TNI Angkatan Udara menjelang produksi massal pesawat tempur generasi 4.5 tersebut.

Menurut laporan dari parlemen Korea Selatan dan DAPA (Defense Acquisition Program Administration), transfer ini mencakup:

1. 350 miliar won untuk prototipe KF-21 single-seat yang telah digunakan untuk uji radar AESA dan pengisian bahan bakar di udara.

2. 174,2 miliar won untuk biaya partisipasi (gaji personel riset Indonesia) dan transfer teknologi.

3. 75,8 miliar won untuk penyediaan data pengembangan.

Total nilai transfer ini setara dengan kontribusi akhir Indonesia dalam proyek bersama senilai 600 miliar won.

Hingga saat ini, Indonesia telah membayar 536 miliar won, dan sisanya 64 miliar won akan dilunasi paling lambat Juni 2026. Setelah pelunasan penuh, transfer pesawat prototipe dan data teknis akan segera dilakukan.

Proyek KF-21 Boramae merupakan kerja sama pengembangan jet tempur antara Korea Selatan dan Indonesia sejak 2015. Awalnya Indonesia berkomitmen menanggung 20% biaya pengembangan (sekitar 1,6 triliun won), dengan imbalan transfer teknologi dan satu prototipe.

Namun karena kendala ekonomi, kesepakatan direvisi menjadi 600 miliar won pada 2025, disertai penyesuaian ruang lingkup transfer teknologi.

Jet tempur KF-21 Boramae dirancang sebagai pesawat tempur multirole generasi 4.5 dengan kemampuan supercruise, radar AESA canggih, dan senjata modern. Indonesia berencana memesan puluhan unit KF-21 untuk menggantikan armada tua dan memperkuat pertahanan udara nasional.

Kesepakatan ini juga membuka peluang lebih besar bagi industri pertahanan dalam negeri, termasuk PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam perakitan dan pemeliharaan.

Menteri Pertahanan RI (saat itu) Prabowo Subianto sebelumnya telah membahas penguatan kerja sama pertahanan dengan Korea Selatan, termasuk potensi pembelian 16 unit KF-21 Block 2.

Transfer prototipe ini diharapkan mempercepat adaptasi teknologi dan pelatihan pilot TNI AU. Pihak Kementerian Pertahanan RI belum memberikan komentar resmi terkait jadwal kedatangan prototipe tersebut.

Namun, langkah ini menandakan komitmen kuat kedua negara untuk melanjutkan proyek strategis KF-21 Boramae demi kedaulatan pertahanan udara Indonesia.

  ★ KBS World  

Sabtu, 07 Februari 2026

PT DI dan Sari Bahari Teken “Letter of Intent” Produksi Bersama Roket 70 dan 80 MM

  Akan dijual ke pasar Internasional PT Dirgantara Indonesia dan PT Sari Bahari menekan letter of intent produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm di sela acara Singapore Airshow 2026. (Foto: Dok. PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (DI) dan industri pertahanan dalam negeri, PT Sari Bahari, meneken letter of intent (LoI) untuk produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm.

Penandatanganan dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di Singapura, Rabu (4/2) waktu setempat. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI Arif Faisal dan Vice President Director PT Sari Bahari Putra Prathama Nugraha di booth PT DI A-L31.

Kesepakatan mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional.

Kerja samanya kolaborasi produksi antara PT DI dan Sari Bahari, penjualannya nanti joint marketing,” kata Putra Prathama kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (5/2).

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Arif Faisal menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman PT DI.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen PT DI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik dalam maupun luar negeri. (nma)

  🚀 
IDM  

Jumat, 06 Februari 2026

PTDI Mengincar Tambahan Pesanan Domestik untuk Program N219 dan CN235

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDrf0KzhTtDd-klCMlg6y7WWCRgTqkrQ5UBzWpumxlIH4jQ5xbSfSVLgXScGEE-7G0XA7oTWlu2SKA0UJGcTPFIPtTgT5jNZM4pzmX556uoTcjok3Bhcq0PDkVswSCoQ-qP5IKrE40M7Q/s1200/Eay8Ho9UYAEF22p.jpgN219 (Akangaviation)
I
ndonesian Aerospace, juga dikenal sebagai PTDI, yakin tahun ini akan melihat momentum pesanan yang signifikan di seluruh portofolio produknya dari pemerintah negara asalnya.

Yang terpenting, ini akan mencakup komitmen untuk pesawat angkut turboprop ganda N219 yang dikembangkan di dalam negeri.

Pesawat N219 yang dirancang dan diproduksi secara lokal merupakan program penting bagi PTDI.

Berbicara kepada FlightGlobal di pameran udara Singapura, Gita Amperiawan, direktur utama PTDI, mengatakan perusahaan mengantisipasi komitmen 30 unit dari Kementerian Pertahanan negara tahun ini.

Pesanan lebih lanjut sekitar tiga pesawat diharapkan untuk layanan transportasi regional dari sebuah provinsi di Indonesia yang tidak disebutkan namanya, tergantung pada pendanaan pemerintah pusat, katanya.

Kesepakatan ini akan memberikan momentum baru untuk pesawat 19 tempat duduk bertenaga Pratt & Whitney Canada PT6.

Sementara itu, PTDI sedang mempersiapkan pengiriman N219 pertama ke Angkatan Darat Indonesia akhir tahun ini, sebagai bagian dari pesanan enam pesawat yang dimulai sejak tahun 2023. Perusahaan ini juga memiliki tiga pesanan dari Angkatan Laut Indonesia.

Amperiawan menyoroti pentingnya program ini bagi perusahaan, dengan mencatat bahwa pesawat ini “dirancang dan dibangun 100% oleh insinyur Indonesia” dan merupakan produk pertama mereka yang menjalani proses sertifikasi tipe lengkap. Sebelumnya, PTDI telah memproduksi pesawat lain berdasarkan lisensi, termasuk CASA C212.

PTDI juga sedang mengembangkan varian amfibi dari N219, yang diharapkan Amperiawan akan “siap memasuki pasar” sekitar tahun 2028.

Selain itu, perusahaan pembuat pesawat ini mengharapkan bagian pertama dari pesanan bertahap dari Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pesawat turboprop ganda CN235 – sebuah program yang dikembangkan bersama dengan Airbus Defence & Space.

Kami beruntung pemerintah benar-benar mendukung industri pertahanan Indonesia,” katanya. “Ini akan menjadi pesanan terbesar dalam sejarah kami.”

Batch awal diperkirakan terdiri dari sekitar 30 unit, dengan komitmen lanjutan juga diantisipasi.

Sementara itu, diskusi terus berlanjut antara Indonesia dan Turki mengenai offset industri untuk akuisisi pesawat tempur generasi kelima Turkish Aerospace (TAI) Kaan oleh Indonesia.

Jakarta akan mengakuisisi 48 unit jet TAI berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pada Juni 2025. Meskipun pengiriman awal akan dilakukan dari Turki, PTDI berharap untuk melakukan perakitan akhir sejumlah pesawat yang belum ditentukan serta mengintegrasikan konten lokal.

  Flight Global  

Kamis, 05 Februari 2026

PTDI Pamerkan CN235-220 Anti Kapal Selam

@ Singapore Airshow 2026 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6dIstnRHykDM1QwqO0f2ncvGgBDz6MMelX9D4MjhTuzIMaG4Zk9w_noh40NchSpOKEq2WjtGU6LYH1wc7i_rHkQnLXzPihgEQGxNhjOInJSlQS38tLD1qsiQ5ITIhUrNZ1drYRx8PD6l5rbd1BYVixJgifD5ySnZQNMEstEZKqcIEcvb3IS2Szi_cRss/s1194/AX-2339_2026-02-05T02-51-50.696Z.pngCN235 special mision (PTDI)
PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali berpartisipasi dalam ajang pameran kedirgantaraan internasional Singapore Airshow 2026 di Changi Exhibition Centre, Singapura, 3-8 Februari 2026. Pada pameran ini, PTDI menampilkan sejumlah produk unggulan dengan konfigurasi misi khusus (special mission), salah satunya pesawat CN235-220 Anti-Submarine Warfare (ASW) alias anti kapal selam.

Selain CN235-220 ASW, PTDI juga memamerkan pesawat N219 dengan konfigurasi Maritime Surveillance Aircraft (MSA), serta produk engineering services berupa Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE Elang Hitam dan roket FFAR 70 mm. Seluruh produk tersebut ditampilkan di Booth A-L31.

Partisipasi PTDI pada Singapore Airshow 2026 turut diperkuat dengan kehadiran dua anak perusahaan, yakni PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP) yang menampilkan kapabilitas Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) mesin pesawat dan layanan engineering, serta IPTN North America, Inc. (INA, Inc.) yang mendukung kegiatan pemasaran dan penguatan jejaring PTDI di pasar Amerika.

  Cocok wilayah Asia-Pasifik  
Pesawat CN235-220M ASW yang ditampilkan PTDI merupakan platform patroli maritim yang dirancang untuk mendukung pengawasan wilayah laut dan peningkatan kesadaran domain maritim. Pesawat ini dilengkapi Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne hasil kolaborasi PTDI dengan Scytalys, perusahaan pengembang perangkat lunak dan integrasi sistem berbasis Yunani.

CN235-220M ASW dibekali berbagai sensor, antara lain radar pengawasan maritim, sistem pengelolaan misi terintegrasi, serta sistem pertahanan diri berupa chaff dan flare. Data dari seluruh sensor tersebut diolah untuk menghasilkan Common Tactical Picture (CTP) yang ditampilkan kepada kru misi dan pilot guna mendukung pengambilan keputusan operasional.

Sebagai platform pesawat misi khusus, seri CN235 telah dioperasikan oleh sejumlah pengguna internasional, termasuk Turkish Navy, Turkish Coast Guard, Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), serta Korea Coast Guard. Saat ini, PTDI juga terus menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah calon pengguna di kawasan Asia Pasifik.

Pada pameran yang sama, PTDI turut menampilkan N219 MSA sebagai solusi pengawasan maritim untuk wilayah perairan strategis. Dalam konfigurasi tersebut, N219 MSA dilengkapi radar pengawasan maritim ultra-light dengan jangkauan hingga 160 nautical miles, kemampuan Track While Scan (TWS) lebih dari 200 target, serta sistem Electro Optical/Infrared (EO/IR), Automatic Identification System (AIS), dan tactical datalink.

Dari sisi performa, N219 MSA dirancang memiliki radius operasi hingga 200 nautical miles, endurance di area operasi lebih dari dua jam, serta total waktu misi lebih dari 5,5 jam, sehingga mendukung misi patroli maritim dan Search and Rescue (SAR).

Menurut Adi Prastowo, Manager Komunikasi Perusahaan & Hubungan Kelembagaan PTDI, Selasa, 3 Februari 2026, keikutsertaannya dalam Singapore Airshow 2026, PTDI menargetkan perolehan kontrak penjualan pesawat serta pengembangan kerja sama strategis guna memperkuat portofolio bisnis dan keberlanjutan program pesawat PTDI di pasar domestik maupun internasional. ***

  Pikiran Rakyat  

Rabu, 04 Februari 2026

PTDI Unjuk Kapabilitas Pesawat Special Mission

Di Singapore Airshow 2026(PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali berpartisipasi dalam pameran bergengsi Singapore Airshow 2026, yang akan diselenggarakan pada tanggal 3-8 Februari 2026 di Changi Exhibition Centre, Singapura. Berlokasi di Booth A-L31, PTDI menampilkan beragam produk unggulan dengan konfigurasi misi khusus (special mission), diantaranya pesawat CN235-220 Anti-Submarine Warfare (ASW), N219 Maritime Surveilllance Aircraft (MSA), serta produk engineering services berupa Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE Elang Hitam dan roket FFAR 70mm.

Partisipasi PTDI pada pameran ini turut diperkuat dengan kehadiran dua Anak Perusahaan, yakni PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP) yang menampilkan kapabilitas Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) mesin pesawat, serta layanan engineering pendukung industri kedirgantaraan, dan IPTN North America, Inc. (INA, Inc.) yang berperan dalam mendukung kegiatan pemasaran serta penguatan jejaring PTDI di pasar Amerika. Kehadiran PTDI juga dilengkapi dengan dukungan dari ekosistem industri nasional yang berkontribusi dalam pengembangan produk pesawat PTDI agar selaras dengan kebutuhan customer. Melalui keikutsertaan pada Singapore Airshow 2026, PTDI menargetkan perolehan kontrak penjualan pesawat serta pengembangan kerja sama strategis guna memperkuat portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan (sustainability) program pesawat PTDI, baik di pasar domestik maupun global.

  Kapabilitas PTDI dalam Mengembangkan Platform ASW Terintegrasi
PTDI menampilkan pesawat CN235-220M ASW sebagai platform patroli maritim modern yang dirancang untuk memperkuat Maritime Domain Awareness (MDA) dan kapabilitas pertahanan laut. Pesawat ini juga dibekali Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne dari Syctalys–Perusahaan pengembangan software dan integrasi sistem terkemuka berbasis Yunani–yang melakukan integrasi dan pengelolaan berbagai sensor secara terpadu guna mendukung operasi pengawasan, deteksi, identifikasi, dan klasifikasi target di wilayah perairan.

Pesawat CN235-220M ASW kolaborasi PTDI dan Scytalys dilengkapi dengan sistem sensor dan subsistem canggih, termasuk radar pengawasan maritim, serta sistem pertahanan diri berupa chaff & flare. Seluruh data sensor diolah untuk menghasilkan Common Tactical Picture (CTP) yang ditampilkan kepada kru misi dan pilot guna meningkatkan kesadaran situasional serta mendukung fungsi komando dan kendali.

Sebagai platform pesawat special mission yang versatile, CN235 series telah dioperasikan secara luas oleh sejumlah customer internasional, antara lain Turkish Navy dan Turkish Coast Guard di Türkiye, Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), Korea Coast Guard, serta beberapa operator lainnya di kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah. Sejalan dengan rekam jejak operasional tersebut, saat ini PTDI juga terus aktif menjajaki peluang dengan sejumlah calon customer di kawasan Asia Pasifik.

  N219 MSA: Solusi Pengawasan Maritim Adaptif
Pada Singapore Airshow kali ini, PTDI juga akan menampilkan pesawat N219 dengan konfigurasi Maritime Surveillance Aircraft (MSA) sebagai solusi pengawasan maritim yang adaptif terhadap beragam kebutuhan operasional dan karakteristik wilayah perairan. Dalam konfigurasi tersebut, N219 MSA dirancang untuk meningkatkan kapabilitas pengumpulan data dan pemantauan aktivitas maritim melalui pemanfaatan berbagai sensor dan sistem misi, antara lain maritime surveillance radar ultra-light dengan jangkauan hingga 160 nautical miles, kemampuan Track While Scan (TWS) dengan kapasitas pemantauan lebih dari 200 target, serta Electro Optical/Infrared (EO/IR), Automatic Identification System (AIS), hand held camera, dan tactical datalink. Seluruh sistem tersebut akan terintegrasi melalui mission consoles dan mission computer.

Dari sisi performa, N219 MSA dirancang memiliki radius of action hingga 200 nautical miles, endurance di area operasi lebih dari 2 jam, serta total waktu misi lebih dari 5,5 jam, sehingga mampu mendukung patroli dan pengawasan wilayah perairan, termasuk misi Search and Rescue (SAR). Pengembangan konfigurasi N219 MSA ini juga dilaksanakan melalui kolaborasi PTDI dengan Scytalys yang berperan sebagai mitra dalam pengembangan dan integrasi Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne pada pesawat N219 MSA.

Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam memperluas peran dan kontribusi di ekosistem industri kedirgantaraan dan pertahanan global, partisipasi PTDI dalam Singapore Airshow 2026 menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kapabilitas Perusahaan dalam mengembangkan dan mengintegrasikan platform kedirgantaraan berteknologi tinggi yang adaptif terhadap kebutuhan pengguna. Melalui penampilan kapabilitas ASW dan MSA terintegrasi pada beberapa platform unggulan, serta berbagai layanan engineering dan solusi pertahanan lainnya, PTDI menegaskan perannya sebagai mitra strategis yang andal bagi pemangku kepentingan nasional maupun internasional dalam mendukung penguatan pertahanan, keamanan maritim, dan stabilitas kawasan.
 

  🛩
PTDI  

Selasa, 03 Februari 2026

[Video] A Defense Mission with H225M Helicopters

  Upload by Strategis Global Industri Logistics 

SGI
successfully handled the shipment of two H225M helicopters from Marseille, France to Bandung, Indonesia.

These helicopters are the result of a strategic collaboration between PT Dirgantara Indonesia and Airbus Helicopters. Before departure, each unit underwent a thorough inspection by PTDI and SGI teams to ensure full compliance with technical and safety standards. Once cleared, the helicopters were carefully transported by truck to Port Fos-sur-Mer in France.

Supported by the Indonesian Defense Attaché in France, Air Marshal Anang Surdwiyono, the final pre-shipment process was completed smoothly on the day of departure. From there, the helicopters began an almost two-month journey aboard a specific vessel, crossing continents before arriving safely at Tanjung Priok Port, Jakarta. Immediately upon arrival, they were delivered to PTDI’s facility in Bandung.

On September 15, an official flight test and review were conducted at Monas, Central Jakarta, attended by PTDI President Director Gita Amperiawan, Indonesia’s Minister of Defense Sjafrie Sjamsoeddin, and Head of the Defense Logistics Agency, Air Marshal Yusuf Jauhari.

As emphasized by the Minister of Defense, the H225M plays a strategic role as a command and control platform—supporting military operations as well as humanitarian missions. Its arrival marks an important milestone in strengthening Air Force operational readiness, modernizing defense capabilities, and advancing national industry independence through PTDI.

Behind this successful delivery, SGI played a crucial role as the forwarding partner—ensuring precise coordination, uncompromised safety, and seamless execution across borders. Because in defense logistics, every detail matters, and every mission must succeed.

 Video from Youtube : 


  🎥 Youtube 

Jumat, 26 Desember 2025

BRIN Dorong N219 Jadi Solusi Konektivitas Wilayah Terpencil

  🛩 👷 Integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium(PTDI)

PT Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem kedirgantaraan nasional melalui kolaborasi riset yang lebih erat dengan industri.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala BRIN, Prof Arif Satria, saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Rabu (24/12/2025).

Arif menekankan pentingnya integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu menjawab kebutuhan nyata industri (industry-led research).

Kita harus memastikan bahwa setiap riset di bidang kedirgantaraan memiliki dampak ekonomi dan nilai tambah nyata bagi industri nasional,” ujar Arif dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Arif, PTDI merupakan pusat gravitasi inovasi teknologi tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, BRIN akan mendukung penuh melalui skema pendanaan riset, penggunaan fasilitas laboratorium bersama, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM) periset.

  Fokus pada Pesawat N219
Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah meninjau perkembangan pesawat N219 Nurtanio, hasil kolaborasi antara BRIN dan PTDI. Pesawat bermesin ganda ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan transportasi di wilayah terpencil di Indonesia.

Arif menyebutkan bahwa N219 memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi di kelasnya, terutama kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL).

"N219 mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek, kurang dari 800 meter, bahkan yang tidak beraspal sekalipun. Ini solusi kunci untuk wilayah seperti pegunungan Papua atau daerah 3T lainnya," ujarnya.

Selain itu, pesawat ini memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dengan kapasitas 19 penumpang. Berkat sistem quick change, konfigurasi kabin dapat diubah dengan cepat untuk misi angkut kargo, evakuasi medis (medevac), hingga patroli maritim.

  Sinergi Riset dan Industri
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menyambut baik dukungan dari BRIN. Ia menyatakan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk-produk dirgantara Indonesia.

"Dengan dukungan riset dari BRIN, kami optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kedirgantaraan," kata Gita.

PTDI merupakan satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara yang memiliki kemampuan lengkap mulai dari desain, manufaktur, hingga perawatan pesawat. Selain N219, PTDI juga telah sukses memasarkan produk unggulan lain seperti CN235 dan NC212i ke pasar internasional.
 

  🛩 
Republika  

Kamis, 25 Desember 2025

PT DI Menerima Kunjungan Kepala dan Wakil Kepala BRIN

  🛩 👷 🤝(PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menerima kunjungan kerja Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, bersama Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian, disambut langsung oleh Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi dan manajemen PTDI di hanggar Final Assembly Line (FAL) PTDI, Bandung.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan BRIN meninjau sejumlah produk dan program strategis PTDI, antara lain pesawat CN235, N219, program MALE UCAV serta UAS Wulung, sekaligus mendengarkan paparan mengenai perkembangan dan timeline program N219 Amphibious dan MALE UCAV sebagai bagian dari program strategis nasional.

Pengembangan N219 Amphibious dilakukan melalui kerja sama PTDI dengan Momentum (USA) dalam penyediaan float kit.

Sementara itu, pada program MALE UCAV, PTDI akan mengeksplorasi potensi kerja sama dengan ALIT (China) dalam pengintegrasian sistem persenjataan (weapon integration), serta dengan Milkor (Afrika Selatan) dalam pengembangan prototipe airframe berbahan komposit penuh (full composite airframe prototyping) beserta subsistem yang telah teruji.

Melalui kunjungan ini, PTDI berharap memperoleh dukungan BRIN dalam bentuk pemanfaatan fasilitas pengujian dan kepakaran (expertise), pelaksanaan design review untuk subsistem dan teknologi kunci, pengembangan teknologi strategis, penyediaan fasilitas kualifikasi komponen dalam negeri, serta dukungan anggaran guna mempercepat pengembangan program MALE UCAV.

Kami berharap pengembangan pesawat N219 tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pemerintah, tetapi juga dapat menembus pasar komersial. Dengan meningkatnya keterlibatan pasar swasta, skala ekonomi dapat tercapai sehingga harga menjadi lebih kompetitif. Setelah pasar domestik terpenuhi, pengembangan dapat diperluas ke kawasan Asia Tenggara hingga Afrika yang memiliki banyak wilayah terpencil. BRIN siap mendukung PTDI melalui kolaborasi riset, pemanfaatan fasilitas pengujian, serta penugasan peneliti agar pengembangan dapat berjalan lebih efektif dan produktif, sebagai langkah menuju era baru PTDI di pasar domestik dan global,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria.


  🛩 
PTDI  

Kamis, 04 Desember 2025

PTDI Tuntaskan Pesawat NC212i NavTrain untuk TNI AU

Pesanan KemhanNC212i NavTrain PTDI

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali menunjukkan progres nyata dalam pemenuhan kontrak 9 (sembilan) unit pesawat NC212i dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI untuk end user TNI AU, melalui pelaksanaan ferry flight pesawat NC212i unit ke-7 dari Hanggar Delivery Center PTDI, Bandung menuju Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Pesawat NC212i ini dikirimkan dengan konfigurasi Navigation Training (NavTrain) yang dirancang khusus untuk mendukung pelatihan awak udara, sekaligus memperkuat kontribusi PTDI dalam meningkatkan kesiapan operasional dan kemampuan pendidikan TNI AU.

Pesawat NC212i konfigurasi NavTrain ini dilengkapi dengan meja dan panel instrumen navigasi, kursi instruktur dan trainee, perangkat komunikasi dan serta sistem navigasi yang memungkinkan pelatihan prosedur penerbangan secara langsung di dalam pesawat.

Kehadiran fitur tersebut menjadikan NC212i NavTrain sebagai platform yang efektif bagi awak udara, khususnya calon navigator dan crew misi, sehingga mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia TNI AU dalam menghadapi berbagai skenario operasi.

Direktur Produksi PTDI, Dena Hendriana bersama tim program NC212i meninjau langsung persiapan ferry flight pesawat NC212i yang kemudian akan dioperasikan oleh Skadron Udara 4.

Pesawat dengan tail number AX-2134 ini diterbangkan oleh Mayor Pnb Kurniawan S. sebagai Pilot In Command Ferry dan Kapten Pnb Wahyu Nur Syarifudin sebagai Copilot. Sebelumnya, pesawat ini telah melalui proses Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) Acceptance pada tanggal 3 Desember 2025, guna memastikan seluruh aspek kualitas dan kelaikan operasional memenuhi standar pertahanan yang berlaku.

Dengan pengiriman ini PTDI telah menuntaskan 7 (tujuh) unit dari total 9 (sembillan) unit NC212i yang disepakati dalam kontrak dengan Kemhan RI, sementara unit ke-8 (delapan) direncanakan akan dikirim pada kuartal pertama 2026.

Seperti unit sebelumnya, pesawat ini juga sudah dilengkapi dengan baling-baling buatan MT Propeller, Jerman, yakni MTV-27 yang telah disertifikasi oleh EASA.
 

  🛩
PTDI  

Rabu, 03 Desember 2025

PTDI Selesai Laksanakan Pemeliharaan & Perawatan Helikopter Bell 412 EP TNI AD

Helikopter Bell 412 EP selesai harwat di Bandung (PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) melaksanakan ferry flight satu unit helikopter Bell 412 EP yang telah selesai menjalani program Pemeliharaan dan Perawatan (Harwat).

Unit yang diberangkatkan dari Apron Hanggar Helikopter PTDI Bandung menuju Pangkalan Udara Pondok Cabe ini merupakan bagian dari total empat unit helikopter Bell 412 series milik TNI AD yang dipercayakan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI kepada PTDI untuk dilakukan perawatan berkala.

Selanjutnya, helikopter tersebut akan melanjutkan penerbangan menuju home base Skadron 12 Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) di Way Tuba, Lampung, untuk mendukung misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Pengoperasian ini merupakan tindak lanjut dari penugasan Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, selaras dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait percepatan penanganan kesulitan masyarakat serta pemulihan infrastruktur terdampak di wilayah Aceh dan Sumatera Barat.

Selain helikopter Bell 412, operasi dukungan logistik bagi wilayah terdampak juga diperkuat dengan penggunaan helikopter H225M Caracal milik TNI AU yang dikerahkan untuk membawa berton-ton bantuan bagi korban banjir di Sumatera-Aceh, serta mempercepat distribusi bantuan ke daerah yang sulit dijangkau.

Pemanfaatan alutsista produksi PTDI tersebut menunjukkan bahwa produk pesawat dan helikopter PTDI tidak hanya mampu mendukung misi operasi militer, tetapi juga dapat memberikan kontribusi maksimal dalam misi penanganan darurat bencana.

  ✪
PTDI  

Jumat, 28 November 2025

PTDI Mulai Modernisasi C-130 TNI AU

 Perkuat Kapasitas MRO Militer NasionalHercules A-1321 TNI AU menjalani modernisasi di Bandung (Pikiran Rakyat)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi memulai program besar modernisasi 9 unit pesawat angkut berat C-130 Hercules milik TNI AU melalui seremoni Aircraft Induction di hanggar Aircraft Services (ACS), Rabu (26/11/2025).

Kedatangan unit pertama langsung dibarengi penandatanganan Berita Acara (BA) serah terima pesawat antara TNI AU, Kemhan RI, dan PTDI, yang menandai dimulainya proses revitalisasi menyeluruh.

Agenda tersebut dihadiri Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal, Kasatgas Modernisasi C-130 Kol. Arif Djoko, serta tim teknis dari Kemhan dan TNI AU.

Di tahap awal ini, PTDI langsung menggarap dua pekerjaan inti: Center Wing Box Replacement (CWBR) dan Avionic Upgrade Program (AUP). Keduanya adalah elemen modernisasi krusial untuk memperpanjang usia pakai pesawat sekaligus meningkatkan kapabilitas avioniknya.

Menurut Arif Faisal, PTDI telah menyiapkan aliansi teknis dengan Kohartamatau—mulai dari penggunaan SDM gabungan PTDI–TNI AU, pemanfaatan special tools dan ground support equipment, hingga optimalisasi fasilitas bonding dan composite.

Hal tersebut merupakan upaya PTDI dalam menyiapkan fasilitas teknis, peralatan khusus, serta qualified personnel agar proses modernisasi 9 unit C-130 berjalan lancar,” ujarnya.

  Tonggak Kemandirian Teknologi Dirgantara
Program modernisasi ini merupakan tindak lanjut kontrak antara PTDI dan Baloghan Kemhan RI. Dengan seluruh pengerjaan dilakukan di Bandung, Pemerintah menegaskan langkah strategis mengurangi ketergantungan pada fasilitas luar negeri.

Dampaknya bukan hanya efisiensi waktu pemeliharaan, tetapi juga peningkatan kapasitas bangsa dalam mengelola Alutsista strategis.

Bagi PTDI, pekerjaan C-130 ini adalah investasi jangka panjang. Modernisasi di dalam negeri membuka ruang penguatan kemampuan MRO (Maintenance, Repair, Overhaul), pengembangan produksi komponen, hingga peningkatan kompetensi teknis yang akan memperluas kapabilitas Indonesia dalam layanan pesawat angkut militer.

Kol. Fitra A. Yani dari Baloghan Kemhan RI menegaskan arah kebijakan yang sedang dibangun pemerintah. “Salah satu kebijakan Pemerintah adalah pemberdayaan industri pertahanan kita. Besar harapan pemeliharaan dapat dilaksanakan oleh industri pertahanan nasional, dalam hal ini PTDI,” katanya.

  Menatap Kapabilitas Global
Keberhasilan modernisasi C-130 nanti diharapkan menjadi standar baru bagi industri MRO pertahanan nasional. Jika PTDI berhasil membuktikan ketepatan waktu, kualitas, dan peningkatan performa pesawat, posisinya sebagai pusat pemeliharaan Alutsista udara berkompetensi global akan semakin menguat.

Dengan dimulainya Aircraft Induction ini, Indonesia memasuki fase baru kemandirian industri dirgantara: lebih kompetitif, lebih strategis, dan semakin siap menghadapi kebutuhan pertahanan masa depan. ***
 

   👷 
Bandung Oke  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...