Tampilkan postingan dengan label PT-DI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT-DI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2026

Roket WAFAR RD70 Karya Anak Bangsa di Uji Coba di Tepi Laut Selatan

πŸš€produksi PTDI bersama PT SAS Roket Wafar RD70 (dispen Kormar)

Komandan Pasmar 2 Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto menyaksikan uji coba penembakan roket Wrap Around Fin Aerial Rocket (Wafar) RD70 di Lapangan Tembak Nanggala Depohar 60 Desa Poko, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kamis (18/06/2026)

Roket Wafar RD70 merupakan karya anak bangsa, diproduksi dan dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Komoditas ini merupakan bagian vital dari alutsista TNI dan sedang dikembangkan menuju kemandirian penuh melalui proyek roket berpemandu.

Roket produksi PT Dirgantara Indonesia dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

Dengan teknologi canggih, roket ini memiliki daya ledak tinggi dan presisi yang akurat, menjadikannya efektif untuk operasi militer dalam berbagai kondisi medan. PTDI memastikan bahwa setiap roket diproduksi dengan standar kualitas tinggi 

  πŸš€  Pelopor Wiratama  

Senin, 15 Juni 2026

Turkish Aerospace Jajaki Pembangunan Fasilitas Perakitan Pesawat di Indonesia

    πŸ€ ✈  πŸš
Acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 di BRI Tower Bandung, Selasa (9/6/2026) (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)

Kerja sama antara Indonesia dan Turkish Aerospace diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional melalui rencana pembangunan fasilitas perakitan pesawat serta manufaktur komponen penerbangan. Rencana strategis ini mengemuka dalam acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 yang diselenggarakan di Bandung pada Selasa (9/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Langkah ini diambil guna mendorong investasi baru di sektor penerbangan, penyediaan bahan baku, hingga manufaktur komponen. Pihak Turkish Aerospace menilai Indonesia memiliki landasan sejarah dan potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Managing Director Turkish Aerospace Indonesia, Adi Aviantoro menyatakan bahwa sektor dirgantara nasional sempat mengalami kelesuan setelah sebelumnya memiliki dasar industri yang kuat. Kehadiran investasi baru ini diharapkan mampu memberikan suntikan modal bagi kebangkitan aviasi domestik.

"Indonesia ini secara sejarah memang background industrinya sudah diarahkan ke arah industri aerospace. Kemudian ada jeda masa waktu ketika industri aerospace itu lesu. Mulai tahun 2022, setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, kami harapkan industri aerospace dan pendukungnya mulai berkembang, terutama di industri manufaktur," kata Adi saat ditemui di sela acara.

Menurut Adi, basis industri yang kuat di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, menjadi daya tarik utama bagi pihak Turki untuk menanamkan modalnya.

"Turki melihat Indonesia sudah mempunyai potensi ke arah industri aerospace. Oleh karenanya memang Turki berinvestasi di Indonesia untuk industri pesawat terbang yang sudah ada basisnya di Indonesia, terutama di Bandung," ujarnya.

Saat ini, pengembangan fundamental berfokus pada penguatan manufaktur komponen sebelum kapasitas produksi pesawat terbang ditingkatkan secara massal guna mendukung industri di Turki.

"Sekarang ini yang harus kita perkuat secara fundamental adalah mengembangkan industri part manufacturing yang kemudian akan berkembang ke arah pesawat terbang yang akan mendukung industri pesawat terbang di Turki. Tapi kita di Indonesia sekarang ini lebih fokus kepada industri part manufacturing," katanya.

Meskipun pendirian fasilitas perakitan pesawat sudah masuk dalam rencana jangka panjang, besaran nilai investasi keseluruhan saat ini masih berada dalam tahap pengkajian mendalam.

"Selain membuat perusahaan Turkish Aerospace Indonesia, Turki juga berinvestasi untuk ke depannya membuat fasilitas assembly pesawat terbang. Sampai saat ini kita masih dalam studi untuk menyimpulkan besaran nilai investasi," ujar Adi.

Kawasan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka menjadi salah satu kandidat kuat lokasi fasilitas perakitan tersebut, menyusul pemberian fasilitas serupa kepada GMF.

"Saat ini kita ada beberapa pilihan yang belum diputuskan. Kemarin sudah didengar mengenai GMF yang diberikan fasilitas di Kertajati. Mungkin arahan ke depannya juga arahnya akan ke Kertajati," katanya.

Adi menambahkan bahwa Bandung memiliki kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni berkat keberadaan universitas dengan jurusan penerbangan.

"Bandung harusnya paling siap karena didukung dari universitas yang jurusannya penerbangan yang ada di Bandung. Kemudian ada industrinya, industri penerbangan memang pusatnya dari dulu ada di Bandung," ujarnya.

Pada tahap awal operasional, perusahaan akan memprioritaskan pengembangan helikopter komersial, meskipun Turkish Aerospace juga memproduksi pesawat sayap tetap serta helikopter militer.

"Sementara ini kita masih fokus untuk helikopter yang komersial. Produk Turkish Aerospace ada yang fixed wing and rotary wing. Yang rotary wing itu ada yang militer dan ada yang komersial, sekarang ini kita fokus untuk yang komersial," kata Adi.

Kendala utama yang saat ini dihadapi oleh industri penerbangan domestik adalah ketergantungan pada impor bahan baku, yang diharapkan dapat diatasi melalui dukungan finansial yang kuat.

"Saat ini memang kesulitan yang paling utama adalah raw material. Tapi dengan adanya dukungan finansial, maka mudah-mudahan kendala ini bisa diatasi. Kemudian raw material bisa kita sediakan untuk para supplier di Indonesia. Akhirnya secara financing sudah tidak ada masalah untuk pengadaan material," ujarnya.

Di sisi lain, Chairman Indonesian Aircraft Components Manufacturers Organization (INACOM), J. Adi Sasongko menilai kehadiran perusahaan asal Turki ini mampu menggerakkan ekosistem industri komponen lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.

"Kita beruntung sekarang ini kita ketemu Turkish Aerospace Indonesia yang mencoba membangun ekosistem. Harapannya kita bisa didukung oleh industri yang banyak tersebar di seluruh Indonesia untuk mensupport Turkish Aerospace Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan Amerika Serikat yang berhasil mengembangkan industri penerbangannya melalui peningkatan kapabilitas dari industri komponen otomotif.

"Saya rasa industri aviasi ini sangat besar peluangnya. Seperti di Amerika, industri aviasi dibuat pertama kali dengan mengonversi industri komponen otomotif untuk di-upgrade menjadi industri komponen pesawat. Harapannya kita bisa mengikuti seperti Amerika," ujarnya.

Meskipun mengidentifikasi adanya hambatan pada sistem regulasi dan birokrasi domestik, Adi Sasongko menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menghentikan langkah pengembangan.

"Birokrasi dan regulasi itu tetanggaan, sama-sama ruwet. Kita tidak akan menunggu birokrasi maupun regulasi sampai benar-benar ideal. Karena kalau kita menunggu ideal mungkin tidak akan pernah datang," katanya.

Sektor transportasi udara dinilai memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

"Sebenarnya kita merupakan pasar yang sangat besar. Mulai Sabang sampai Merauke membutuhkan transportasi udara yang begitu banyak. Dengan 17.000 pulau, harusnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang yang beterbangan di atas kita ini kebanyakan pesawat impor semua," tutupnya.

  ★  Mata Lokal   

Sabtu, 13 Juni 2026

Korea Selatan Ajak PT DI Jadi Rantai Pasok Jet Tempur KF-21

  ✈ 🀝
Produksi pesawat tempur KF-21 Boramae (Asiae)

Korea Aerospace Industries (KAI) menyampaikan harapan agar PT Dirgantara Indonesia (PTDI) nantinya dapat menjadi bagian dari rantai pasok jet tempur KF-21 Boramae yang menjadi proyek pengembangan bersama antara Korea Selatan dengan Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Team Leader International Business Development, Asia Team 2, KAI, Park Seonghee kepada waratawan Indonesia pada acara ‘Indonesian Next-Generation Journalist Network’ yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Sacheon, Korea Selatan, Kamis (11/6).

Park menyampaikan bahwa KAI dan PT DI telah menandatangani perjanjian kerja sama strategis di bidang pertahanan. Perjanjian tersebut mencakup tidak hanya program KF-21, tetapi juga pesawat latih dasar KT-1B, serta berbagai program rotary aircraft.

Park menjelaskan bahwa KF-21 yang satu dari enam purwarupanya akan dikirim ke Indonesia, telah mendapatkan sejumlah minat yang besar dari sejumlah calon pelanggan. Beberapa negara bahkan sudah mulai melakukan pembahasan mengenai program ini.

Terkait program KT-1, kami juga berencana memindahkan lini produksi ke Indonesia sehingga fasilitas produksi di Indonesia dapat digunakan untuk mendukung program ekspor tambahan di masa depan,” kata Park.

Pada kesempatan yang sama, Director International Business Development Asia KAI, Jo Junhyun menyampaikan bahwa KAI sedang menjalankan program penguatan struktur pesawat KT-1B dan sebagian besar pekerjaan tersebut telah dikerjakan oleh PT DI.

Terkait KF-21 yang satu dari enam prototipenya telah disepakati akan dikirim ke Indonesia, KAI berharap nantinya pemerintah Indonesia akan melalukan pengadaan sebanyak 48 pesawat.

Saat ini pembicaraan masih berfokus pada tahap pertama. Namun, kami juga telah memperluas diskusi mengenai pengadaan tambahan KF-21 di masa mendatang. Kami memiliki komitmen yang kuat untuk terus memperluas kerja sama dengan Indonesia,” tambah Jo.

Bersamaan dengan penyerahan prototipe, Seoul dilaporkan kantor berita Yonhap telah bernegosiasi dengan Jakarta untuk menandatangani kesepakatan ekspor 16 unit jet tempur KF-21, yang akan menjadi penjualan luar negeri pertama jet tempur buatan dalam negeri tersebut.

   ★  antara d 

Sabtu, 30 Mei 2026

PTDI Catat Kinerja Positif dan Perkuat Struktur Kepemimpinan Perusahaan

 Dengan peningkatan laba bersih sebesar 345,97%Produksi pesawat N219 di PTDI (Tempo)

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025 Holding DEFEND ID yang diselenggarakan pada Selasa (26/05), di Hotel Shangri-La Jakarta, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai salah satu member Holding DEFEND ID mencatatkan kinerja positif dengan peningkatan laba bersih sebesar 345,97% dibandingkan realisasi tahun buku 2024. Capaian tersebut mencerminkan peran strategis PTDI sebagai garda terdepan industri dirgantara nasional dalam mendukung kemandirian pertahanan negara, penguatan ekosistem dirgantara nasional, serta penyediaan solusi teknologi dirgantara yang berdaya saing global, baik untuk segmen militer maupun nonmiliter.

Selain mencatatkan capaian finansial dan operasional yang positif, PTDI juga berhasil membukukan capaian Key Performance Indicator (KPI) sebesar 100,65 dari target skor 100, yang didorong oleh penguatan indikator nilai ekonomi dan sosial, inovasi model bisnis, kepemimpinan teknologi, peningkatan investasi, serta pengembangan talenta dan sumber daya manusia unggul di sektor dirgantara.

Pada kesempatan RUPS ini juga disetujui perubahan susunan pengurus Perusahaan sebagai bagian dari upaya penyempurnaan struktur organisasi guna mendukung arah pengembangan dan penguatan Perusahaan ke depan. Salah satu perubahan yang ditetapkan adalah perubahan nomenklatur jabatan anggota-anggota Direksi, yaitu jabatan Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan menjadi Direktur Niaga & Pengembangan yang dijabat oleh Moh. Arif Faisal, jabatan Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & SDM menjadi Direktur Keuangan & SDM yang dijabat oleh Dhias Widhiyati, serta mengangkat Ony Arifianto sebagai pejabat baru Direktur Teknologi & Manajemen Risiko. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat fokus Perusahaan dalam pengembangan bisnis, penguasaan teknologi, dan pengelolaan risiko di tengah dinamika industri dirgantara yang semakin kompetitif.

Selain itu, RUPS juga menetapkan perubahan susunan Dewan Komisaris, khususnya pada posisi Wakil Komisaris Utama yang kini dijabat oleh Bagus Puruhito menggantikan Bonar H. Hutagaol, serta menetapkan pengangkatan Erwin Dimas sebagai Komisaris.

Direktur Niaga & Pengembangan PTDI, Moh. Arif Faisal menyampaikan bahwa capaian kinerja tahun 2025 menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi PTDI sebagai industri strategis nasional yang adaptif, kompetitif, dan berbasis penguasaan teknologi tinggi. ”Capaian kinerja PTDI sepanjang tahun 2025 merupakan hasil dari penguatan kapabilitas bisnis, engineering dan produksi, serta kolaborasi strategis bersama seluruh ekosistem industri pertahanan nasional dalam Holding DEFEND ID. Ke depan, PTDI akan terus memperkuat penguasaan teknologi dirgantara nasional guna mendukung kemandirian pertahanan dan daya saing industri Indonesia di tingkat global,” ujar Moh. Arif Faisal.

Memasuki tahun berikutnya, PTDI akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan kualitas eksekusi proyek, penguatan manajemen kas, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian program-program strategis Perusahaan guna mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
 

  πŸ›©
PTDI  

Rabu, 22 April 2026

PTDI Garap Pesawat - Roket Bidik Posisi Mitra Pertahanan Utama Kawasan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3JuPuL4EfKlJ18ulYvHRUCMjvdNt4l_7BjIV8b9xpCIm7Vn4v2GK5kWwEx0V8iMvSwbpda-CkzepoRhJwXa6CyV6jhmz42yNyOZvFWgFhaE2c94amydyQoPFaBB98Eb68qmsSuNeWfTi4/s1600/Pesawat+N-219_n219.jpgPesawat N219 (PTDI)
PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) membidik posisi sebagai mitra pertahanan utama Malaysia dan kawasan Asia Pasifik secara lebih luas, melalui skema solusi end-to-end dan pengembangan alutsista mutakhir, termasuk sistem roket 70 mm, guna memperkuat kemandirian industri pertahanan di kawasan.

Strategi "total solusi" ini menjadi pembeda utama PTDI dibandingkan kompetitor global lainnya dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa ini. Di mana PTDI juga tidak lagi sekadar menjual badan pesawat, melainkan menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang militer Negeri Jiran tersebut.

"Partisipasi PTDI dalam DSA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kehadiran kami di Malaysia sebagai mitra jangka panjang," ujar Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal dalam keterangan di Bandung, Selasa.

Menurut Arif, rekam jejak PTDI di Malaysia sudah sangat mengakar. Sejak 1999, Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah mengoperasikan tujuh unit pesawat CN235-220.

Dengan adaptasi teknologi, PTDI sukses dalam program modifikasi tiga unit pesawat TUDM menjadi pesawat pengintai maritim atau Maritime Surveillance Aircraft (MSA) pada 2023.

Selain memperkuat lini CN235, PTDI kini membidik pasar Malaysia untuk pesawat NC212i, pesawat N219, hingga sistem roket 70 mm.

Pendekatan ini mencakup layanan purnajual komprehensif mulai dari pemeliharaan (MRO), Service Life Extension Program (SLEP), hingga dukungan suku cadang dan perbaikan struktur.

Dengan rekam jejak operasional pesawat CN235-220 di TUDM serta pengalaman dalam berbagai program layanan purnajual, PTDI terus berkomitmen menghadirkan solusi yang andal dan berkelanjutan, tidak hanya pada produk pesawat tapi juga sistem pertahanan lainnya seperti roket,” ujar Arif.

Kehadiran PTDI di bawah payung Holding Defend ID ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pameran pertahanan terbesar Asia Pasifik tersebut.

Melalui kolaborasi strategis ini, PTDI optimistis dapat mengoptimalkan platform pesawat buatan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan spesifik keamanan regional..

  antara  

Jumat, 10 April 2026

SCYTALYS Bersama PTDI Meningkatkan Sistem Misi Taktis untuk Pesawat N219 dan CN-235

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5gtN99C5GEKN_PwdJRS_kl7oICsHAuZrQfCAMPdB0KgMbGbIfRX65lS3jqxMn9o-LfR4dWOpIkuO4rdqjKkSlFmBZ-nDyV4rJMuv4rHNr5V-eduIdQw0BxmMf618yndBSExhq-SYQnXAYNu-8ypfD9cUxKH3rdnc20t1r_TLqGV9i_Wf-vyU3w8tuY5g/s1920/FB_IMG_1775812223366.jpgSCYTALYS menandatangani MoU dengan PT Dirgantara Indonesia untuk mengintegrasikan sistem MIMS Airborne miliknya ke dalam pesawat N219 dan CN-235, meningkatkan kemampuan pengawasan maritim dan memperluas peluang di pasar Asia-Pasifik (Scytalys))
SCYTALYS
(bagian dari EFA GROUP) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), menandai langkah strategis penting untuk memperkuat kehadiran kedua perusahaan di sektor Pesawat Patroli Maritim. Kerja sama ini berkaitan dengan integrasi sistem SCYTALYS ke dalam varian pengawasan maritim pesawat N219 dan CN-235 milik PTDI.

Perjanjian tersebut mencakup integrasi Sistem Manajemen dan Integrasi Misi Udara (MIMS Airborne) SCYTALYS ke dalam pesawat N219 dan CN-235 PTDI, meningkatkan kemampuan pengawasan dan patroli maritim kedua platform tersebut dan membuka prospek baru di pasar Asia-Pasifik. Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani oleh Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, Bapak Moh Arif Faisal, dan Presiden SCYTALYS, Bapak Dimitris Karantzavelos, selama Singapore Airshow 2026.

MIMS Airborne adalah sistem C2 modular canggih yang berbasis pada desain arsitektur terbuka. Sistem ini mengintegrasikan dan mengelola secara real-time berbagai sensor dan subsistem penting termasuk radar, EO/IR, ESM/ELINT, navigasi penerbangan, dan komunikasi taktis/strategis menghasilkan Gambaran Operasional Bersama (Common Operational Picture/COP) yang terintegrasi. Dengan mengintegrasikan MIMS Airborne, N219 dan CN-235 menjadi node C4ISR yang sepenuhnya berpusat pada jaringan, sehingga secara signifikan meningkatkan efektivitas operasionalnya.

Moh Arif Faisal, Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, menyatakan: “Kerja sama ini akan meningkatkan kemampuan operasional pesawat N219 dan CN-235 dan akan menciptakan peluang baru bagi produk unggulan PTDI melalui solusi misi khusus yang kompetitif yang memenuhi persyaratan operasional pengguna.”

Bapak Dimitris Karantzavelos, Presiden SCYTALYS, menyatakan: “Penandatanganan MoU dengan PTDI menandai langkah penting menuju penguatan lebih lanjut kehadiran internasional SCYTALYS dan memajukan solusi misi inovatif. Integrasi sistem MIMS Airborne ke dalam pesawat N219 dan CN-235 menegaskan keunggulan teknologi kami dan kemampuan kami untuk memberikan solusi misi khusus yang andal, interoperabel, dan sesuai kebutuhan. Kerja sama kami dengan PTDI membuka prospek baru bagi ekspansi SCYTALYS di pasar Asia-Pasifik, dan kami berharap dapat melanjutkan kemitraan yang dinamis dan sangat menjanjikan ini.

 Tentang SCYTALYS

SCYTALYS adalah perusahaan pengembangan dan integrasi perangkat lunak pertahanan terkemuka, yang didirikan pada tahun 1993 di Yunani, yang mengkhususkan diri dalam desain, pengembangan, instalasi, dan pengujian. Perusahaan ini mempekerjakan 110 staf, sebagian besar adalah insinyur yang sangat terampil. Perusahaan ini memiliki kantor di tiga lokasi internasional (Yunani, AS, Singapura) untuk melayani pelanggan di 14 negara di seluruh dunia. SCYTALYS memiliki pengalaman luas dalam program domestik yang mendukung Angkatan Bersenjata Yunani, dan melalui sejarah panjangnya dalam inovasi teknik, keandalan, efisiensi, dan kualitas layanan, perusahaan ini telah menjadi mitra pilihan perusahaan dan organisasi multinasional di sektor Dirgantara, Pertahanan, dan Keamanan, yang menyediakan solusi interoperabilitas canggih. Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir yang telah teruji di lapangan, perusahaan ini merancang dan mengembangkan solusi dan produk canggih di bidang Tautan Data Taktis, Sistem Komando & Kontrol Misi dan Taktis, Sistem C4I, Pelatihan, Pengujian dan Simulasi, Pengawasan, dan Pengintaia.

  Scytalys  

Rabu, 08 April 2026

Korsel Sepakat Serahkan Satu Prototipe Jet Tempur KF-21 ke Indonesia

 PTDI akan merakit dan memelihara pesawat yang dipesan
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI) 

Kabar gembira bagi pertahanan Indonesia. Pemerintah Korea Selatan secara resmi menyetujui transfer satu unit prototipe jet tempur KF-21 Boramae (prototipe kelima) beserta data dan teknologi pengembangan ke Indonesia.

Kesepakatan bernilai total sekitar 600 miliar won (sekitar Rp 8,4 triliun) ini menjadi angin segar bagi penguatan armada TNI Angkatan Udara menjelang produksi massal pesawat tempur generasi 4.5 tersebut.

Menurut laporan dari parlemen Korea Selatan dan DAPA (Defense Acquisition Program Administration), transfer ini mencakup:

1. 350 miliar won untuk prototipe KF-21 single-seat yang telah digunakan untuk uji radar AESA dan pengisian bahan bakar di udara.

2. 174,2 miliar won untuk biaya partisipasi (gaji personel riset Indonesia) dan transfer teknologi.

3. 75,8 miliar won untuk penyediaan data pengembangan.

Total nilai transfer ini setara dengan kontribusi akhir Indonesia dalam proyek bersama senilai 600 miliar won.

Hingga saat ini, Indonesia telah membayar 536 miliar won, dan sisanya 64 miliar won akan dilunasi paling lambat Juni 2026. Setelah pelunasan penuh, transfer pesawat prototipe dan data teknis akan segera dilakukan.

Proyek KF-21 Boramae merupakan kerja sama pengembangan jet tempur antara Korea Selatan dan Indonesia sejak 2015. Awalnya Indonesia berkomitmen menanggung 20% biaya pengembangan (sekitar 1,6 triliun won), dengan imbalan transfer teknologi dan satu prototipe.

Namun karena kendala ekonomi, kesepakatan direvisi menjadi 600 miliar won pada 2025, disertai penyesuaian ruang lingkup transfer teknologi.

Jet tempur KF-21 Boramae dirancang sebagai pesawat tempur multirole generasi 4.5 dengan kemampuan supercruise, radar AESA canggih, dan senjata modern. Indonesia berencana memesan puluhan unit KF-21 untuk menggantikan armada tua dan memperkuat pertahanan udara nasional.

Kesepakatan ini juga membuka peluang lebih besar bagi industri pertahanan dalam negeri, termasuk PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam perakitan dan pemeliharaan.

Menteri Pertahanan RI (saat itu) Prabowo Subianto sebelumnya telah membahas penguatan kerja sama pertahanan dengan Korea Selatan, termasuk potensi pembelian 16 unit KF-21 Block 2.

Transfer prototipe ini diharapkan mempercepat adaptasi teknologi dan pelatihan pilot TNI AU. Pihak Kementerian Pertahanan RI belum memberikan komentar resmi terkait jadwal kedatangan prototipe tersebut.

Namun, langkah ini menandakan komitmen kuat kedua negara untuk melanjutkan proyek strategis KF-21 Boramae demi kedaulatan pertahanan udara Indonesia.

  ★ KBS World  

Sabtu, 07 Februari 2026

PT DI dan Sari Bahari Teken “Letter of Intent” Produksi Bersama Roket 70 dan 80 MM

  Akan dijual ke pasar Internasional PT Dirgantara Indonesia dan PT Sari Bahari menekan letter of intent produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm di sela acara Singapore Airshow 2026. (Foto: Dok. PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (DI) dan industri pertahanan dalam negeri, PT Sari Bahari, meneken letter of intent (LoI) untuk produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm.

Penandatanganan dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di Singapura, Rabu (4/2) waktu setempat. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI Arif Faisal dan Vice President Director PT Sari Bahari Putra Prathama Nugraha di booth PT DI A-L31.

Kesepakatan mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional.

Kerja samanya kolaborasi produksi antara PT DI dan Sari Bahari, penjualannya nanti joint marketing,” kata Putra Prathama kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (5/2).

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Arif Faisal menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman PT DI.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen PT DI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik dalam maupun luar negeri. (nma)

  πŸš€ 
IDM  

Jumat, 06 Februari 2026

PTDI Mengincar Tambahan Pesanan Domestik untuk Program N219 dan CN235

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDrf0KzhTtDd-klCMlg6y7WWCRgTqkrQ5UBzWpumxlIH4jQ5xbSfSVLgXScGEE-7G0XA7oTWlu2SKA0UJGcTPFIPtTgT5jNZM4pzmX556uoTcjok3Bhcq0PDkVswSCoQ-qP5IKrE40M7Q/s1200/Eay8Ho9UYAEF22p.jpgN219 (Akangaviation)
I
ndonesian Aerospace, juga dikenal sebagai PTDI, yakin tahun ini akan melihat momentum pesanan yang signifikan di seluruh portofolio produknya dari pemerintah negara asalnya.

Yang terpenting, ini akan mencakup komitmen untuk pesawat angkut turboprop ganda N219 yang dikembangkan di dalam negeri.

Pesawat N219 yang dirancang dan diproduksi secara lokal merupakan program penting bagi PTDI.

Berbicara kepada FlightGlobal di pameran udara Singapura, Gita Amperiawan, direktur utama PTDI, mengatakan perusahaan mengantisipasi komitmen 30 unit dari Kementerian Pertahanan negara tahun ini.

Pesanan lebih lanjut sekitar tiga pesawat diharapkan untuk layanan transportasi regional dari sebuah provinsi di Indonesia yang tidak disebutkan namanya, tergantung pada pendanaan pemerintah pusat, katanya.

Kesepakatan ini akan memberikan momentum baru untuk pesawat 19 tempat duduk bertenaga Pratt & Whitney Canada PT6.

Sementara itu, PTDI sedang mempersiapkan pengiriman N219 pertama ke Angkatan Darat Indonesia akhir tahun ini, sebagai bagian dari pesanan enam pesawat yang dimulai sejak tahun 2023. Perusahaan ini juga memiliki tiga pesanan dari Angkatan Laut Indonesia.

Amperiawan menyoroti pentingnya program ini bagi perusahaan, dengan mencatat bahwa pesawat ini “dirancang dan dibangun 100% oleh insinyur Indonesia” dan merupakan produk pertama mereka yang menjalani proses sertifikasi tipe lengkap. Sebelumnya, PTDI telah memproduksi pesawat lain berdasarkan lisensi, termasuk CASA C212.

PTDI juga sedang mengembangkan varian amfibi dari N219, yang diharapkan Amperiawan akan “siap memasuki pasar” sekitar tahun 2028.

Selain itu, perusahaan pembuat pesawat ini mengharapkan bagian pertama dari pesanan bertahap dari Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pesawat turboprop ganda CN235 – sebuah program yang dikembangkan bersama dengan Airbus Defence & Space.

Kami beruntung pemerintah benar-benar mendukung industri pertahanan Indonesia,” katanya. “Ini akan menjadi pesanan terbesar dalam sejarah kami.”

Batch awal diperkirakan terdiri dari sekitar 30 unit, dengan komitmen lanjutan juga diantisipasi.

Sementara itu, diskusi terus berlanjut antara Indonesia dan Turki mengenai offset industri untuk akuisisi pesawat tempur generasi kelima Turkish Aerospace (TAI) Kaan oleh Indonesia.

Jakarta akan mengakuisisi 48 unit jet TAI berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pada Juni 2025. Meskipun pengiriman awal akan dilakukan dari Turki, PTDI berharap untuk melakukan perakitan akhir sejumlah pesawat yang belum ditentukan serta mengintegrasikan konten lokal.

  Flight Global  

Kamis, 05 Februari 2026

PTDI Pamerkan CN235-220 Anti Kapal Selam

@ Singapore Airshow 2026 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6dIstnRHykDM1QwqO0f2ncvGgBDz6MMelX9D4MjhTuzIMaG4Zk9w_noh40NchSpOKEq2WjtGU6LYH1wc7i_rHkQnLXzPihgEQGxNhjOInJSlQS38tLD1qsiQ5ITIhUrNZ1drYRx8PD6l5rbd1BYVixJgifD5ySnZQNMEstEZKqcIEcvb3IS2Szi_cRss/s1194/AX-2339_2026-02-05T02-51-50.696Z.pngCN235 special mision (PTDI)
PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali berpartisipasi dalam ajang pameran kedirgantaraan internasional Singapore Airshow 2026 di Changi Exhibition Centre, Singapura, 3-8 Februari 2026. Pada pameran ini, PTDI menampilkan sejumlah produk unggulan dengan konfigurasi misi khusus (special mission), salah satunya pesawat CN235-220 Anti-Submarine Warfare (ASW) alias anti kapal selam.

Selain CN235-220 ASW, PTDI juga memamerkan pesawat N219 dengan konfigurasi Maritime Surveillance Aircraft (MSA), serta produk engineering services berupa Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE Elang Hitam dan roket FFAR 70 mm. Seluruh produk tersebut ditampilkan di Booth A-L31.

Partisipasi PTDI pada Singapore Airshow 2026 turut diperkuat dengan kehadiran dua anak perusahaan, yakni PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP) yang menampilkan kapabilitas Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) mesin pesawat dan layanan engineering, serta IPTN North America, Inc. (INA, Inc.) yang mendukung kegiatan pemasaran dan penguatan jejaring PTDI di pasar Amerika.

  Cocok wilayah Asia-Pasifik  
Pesawat CN235-220M ASW yang ditampilkan PTDI merupakan platform patroli maritim yang dirancang untuk mendukung pengawasan wilayah laut dan peningkatan kesadaran domain maritim. Pesawat ini dilengkapi Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne hasil kolaborasi PTDI dengan Scytalys, perusahaan pengembang perangkat lunak dan integrasi sistem berbasis Yunani.

CN235-220M ASW dibekali berbagai sensor, antara lain radar pengawasan maritim, sistem pengelolaan misi terintegrasi, serta sistem pertahanan diri berupa chaff dan flare. Data dari seluruh sensor tersebut diolah untuk menghasilkan Common Tactical Picture (CTP) yang ditampilkan kepada kru misi dan pilot guna mendukung pengambilan keputusan operasional.

Sebagai platform pesawat misi khusus, seri CN235 telah dioperasikan oleh sejumlah pengguna internasional, termasuk Turkish Navy, Turkish Coast Guard, Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), serta Korea Coast Guard. Saat ini, PTDI juga terus menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah calon pengguna di kawasan Asia Pasifik.

Pada pameran yang sama, PTDI turut menampilkan N219 MSA sebagai solusi pengawasan maritim untuk wilayah perairan strategis. Dalam konfigurasi tersebut, N219 MSA dilengkapi radar pengawasan maritim ultra-light dengan jangkauan hingga 160 nautical miles, kemampuan Track While Scan (TWS) lebih dari 200 target, serta sistem Electro Optical/Infrared (EO/IR), Automatic Identification System (AIS), dan tactical datalink.

Dari sisi performa, N219 MSA dirancang memiliki radius operasi hingga 200 nautical miles, endurance di area operasi lebih dari dua jam, serta total waktu misi lebih dari 5,5 jam, sehingga mendukung misi patroli maritim dan Search and Rescue (SAR).

Menurut Adi Prastowo, Manager Komunikasi Perusahaan & Hubungan Kelembagaan PTDI, Selasa, 3 Februari 2026, keikutsertaannya dalam Singapore Airshow 2026, PTDI menargetkan perolehan kontrak penjualan pesawat serta pengembangan kerja sama strategis guna memperkuat portofolio bisnis dan keberlanjutan program pesawat PTDI di pasar domestik maupun internasional. ***

  Pikiran Rakyat  

Rabu, 04 Februari 2026

PTDI Unjuk Kapabilitas Pesawat Special Mission

Di Singapore Airshow 2026(PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali berpartisipasi dalam pameran bergengsi Singapore Airshow 2026, yang akan diselenggarakan pada tanggal 3-8 Februari 2026 di Changi Exhibition Centre, Singapura. Berlokasi di Booth A-L31, PTDI menampilkan beragam produk unggulan dengan konfigurasi misi khusus (special mission), diantaranya pesawat CN235-220 Anti-Submarine Warfare (ASW), N219 Maritime Surveilllance Aircraft (MSA), serta produk engineering services berupa Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) MALE Elang Hitam dan roket FFAR 70mm.

Partisipasi PTDI pada pameran ini turut diperkuat dengan kehadiran dua Anak Perusahaan, yakni PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP) yang menampilkan kapabilitas Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) mesin pesawat, serta layanan engineering pendukung industri kedirgantaraan, dan IPTN North America, Inc. (INA, Inc.) yang berperan dalam mendukung kegiatan pemasaran serta penguatan jejaring PTDI di pasar Amerika. Kehadiran PTDI juga dilengkapi dengan dukungan dari ekosistem industri nasional yang berkontribusi dalam pengembangan produk pesawat PTDI agar selaras dengan kebutuhan customer. Melalui keikutsertaan pada Singapore Airshow 2026, PTDI menargetkan perolehan kontrak penjualan pesawat serta pengembangan kerja sama strategis guna memperkuat portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan (sustainability) program pesawat PTDI, baik di pasar domestik maupun global.

  Kapabilitas PTDI dalam Mengembangkan Platform ASW Terintegrasi
PTDI menampilkan pesawat CN235-220M ASW sebagai platform patroli maritim modern yang dirancang untuk memperkuat Maritime Domain Awareness (MDA) dan kapabilitas pertahanan laut. Pesawat ini juga dibekali Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne dari Syctalys–Perusahaan pengembangan software dan integrasi sistem terkemuka berbasis Yunani–yang melakukan integrasi dan pengelolaan berbagai sensor secara terpadu guna mendukung operasi pengawasan, deteksi, identifikasi, dan klasifikasi target di wilayah perairan.

Pesawat CN235-220M ASW kolaborasi PTDI dan Scytalys dilengkapi dengan sistem sensor dan subsistem canggih, termasuk radar pengawasan maritim, serta sistem pertahanan diri berupa chaff & flare. Seluruh data sensor diolah untuk menghasilkan Common Tactical Picture (CTP) yang ditampilkan kepada kru misi dan pilot guna meningkatkan kesadaran situasional serta mendukung fungsi komando dan kendali.

Sebagai platform pesawat special mission yang versatile, CN235 series telah dioperasikan secara luas oleh sejumlah customer internasional, antara lain Turkish Navy dan Turkish Coast Guard di TΓΌrkiye, Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), Korea Coast Guard, serta beberapa operator lainnya di kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah. Sejalan dengan rekam jejak operasional tersebut, saat ini PTDI juga terus aktif menjajaki peluang dengan sejumlah calon customer di kawasan Asia Pasifik.

  N219 MSA: Solusi Pengawasan Maritim Adaptif
Pada Singapore Airshow kali ini, PTDI juga akan menampilkan pesawat N219 dengan konfigurasi Maritime Surveillance Aircraft (MSA) sebagai solusi pengawasan maritim yang adaptif terhadap beragam kebutuhan operasional dan karakteristik wilayah perairan. Dalam konfigurasi tersebut, N219 MSA dirancang untuk meningkatkan kapabilitas pengumpulan data dan pemantauan aktivitas maritim melalui pemanfaatan berbagai sensor dan sistem misi, antara lain maritime surveillance radar ultra-light dengan jangkauan hingga 160 nautical miles, kemampuan Track While Scan (TWS) dengan kapasitas pemantauan lebih dari 200 target, serta Electro Optical/Infrared (EO/IR), Automatic Identification System (AIS), hand held camera, dan tactical datalink. Seluruh sistem tersebut akan terintegrasi melalui mission consoles dan mission computer.

Dari sisi performa, N219 MSA dirancang memiliki radius of action hingga 200 nautical miles, endurance di area operasi lebih dari 2 jam, serta total waktu misi lebih dari 5,5 jam, sehingga mampu mendukung patroli dan pengawasan wilayah perairan, termasuk misi Search and Rescue (SAR). Pengembangan konfigurasi N219 MSA ini juga dilaksanakan melalui kolaborasi PTDI dengan Scytalys yang berperan sebagai mitra dalam pengembangan dan integrasi Mission Integration and Management System (MIMS) Airborne pada pesawat N219 MSA.

Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam memperluas peran dan kontribusi di ekosistem industri kedirgantaraan dan pertahanan global, partisipasi PTDI dalam Singapore Airshow 2026 menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kapabilitas Perusahaan dalam mengembangkan dan mengintegrasikan platform kedirgantaraan berteknologi tinggi yang adaptif terhadap kebutuhan pengguna. Melalui penampilan kapabilitas ASW dan MSA terintegrasi pada beberapa platform unggulan, serta berbagai layanan engineering dan solusi pertahanan lainnya, PTDI menegaskan perannya sebagai mitra strategis yang andal bagi pemangku kepentingan nasional maupun internasional dalam mendukung penguatan pertahanan, keamanan maritim, dan stabilitas kawasan.
 

  πŸ›©
PTDI  

Selasa, 03 Februari 2026

[Video] A Defense Mission with H225M Helicopters

  Upload by Strategis Global Industri Logistics 

SGI
successfully handled the shipment of two H225M helicopters from Marseille, France to Bandung, Indonesia.

These helicopters are the result of a strategic collaboration between PT Dirgantara Indonesia and Airbus Helicopters. Before departure, each unit underwent a thorough inspection by PTDI and SGI teams to ensure full compliance with technical and safety standards. Once cleared, the helicopters were carefully transported by truck to Port Fos-sur-Mer in France.

Supported by the Indonesian Defense AttachΓ© in France, Air Marshal Anang Surdwiyono, the final pre-shipment process was completed smoothly on the day of departure. From there, the helicopters began an almost two-month journey aboard a specific vessel, crossing continents before arriving safely at Tanjung Priok Port, Jakarta. Immediately upon arrival, they were delivered to PTDI’s facility in Bandung.

On September 15, an official flight test and review were conducted at Monas, Central Jakarta, attended by PTDI President Director Gita Amperiawan, Indonesia’s Minister of Defense Sjafrie Sjamsoeddin, and Head of the Defense Logistics Agency, Air Marshal Yusuf Jauhari.

As emphasized by the Minister of Defense, the H225M plays a strategic role as a command and control platform—supporting military operations as well as humanitarian missions. Its arrival marks an important milestone in strengthening Air Force operational readiness, modernizing defense capabilities, and advancing national industry independence through PTDI.

Behind this successful delivery, SGI played a crucial role as the forwarding partner—ensuring precise coordination, uncompromised safety, and seamless execution across borders. Because in defense logistics, every detail matters, and every mission must succeed.

 Video from Youtube : 


  πŸŽ₯ Youtube 

Jumat, 26 Desember 2025

BRIN Dorong N219 Jadi Solusi Konektivitas Wilayah Terpencil

  πŸ›© πŸ‘· Integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium(PTDI)

PT Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem kedirgantaraan nasional melalui kolaborasi riset yang lebih erat dengan industri.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala BRIN, Prof Arif Satria, saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Rabu (24/12/2025).

Arif menekankan pentingnya integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu menjawab kebutuhan nyata industri (industry-led research).

Kita harus memastikan bahwa setiap riset di bidang kedirgantaraan memiliki dampak ekonomi dan nilai tambah nyata bagi industri nasional,” ujar Arif dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Arif, PTDI merupakan pusat gravitasi inovasi teknologi tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, BRIN akan mendukung penuh melalui skema pendanaan riset, penggunaan fasilitas laboratorium bersama, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM) periset.

  Fokus pada Pesawat N219
Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah meninjau perkembangan pesawat N219 Nurtanio, hasil kolaborasi antara BRIN dan PTDI. Pesawat bermesin ganda ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan transportasi di wilayah terpencil di Indonesia.

Arif menyebutkan bahwa N219 memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi di kelasnya, terutama kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL).

"N219 mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek, kurang dari 800 meter, bahkan yang tidak beraspal sekalipun. Ini solusi kunci untuk wilayah seperti pegunungan Papua atau daerah 3T lainnya," ujarnya.

Selain itu, pesawat ini memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dengan kapasitas 19 penumpang. Berkat sistem quick change, konfigurasi kabin dapat diubah dengan cepat untuk misi angkut kargo, evakuasi medis (medevac), hingga patroli maritim.

  Sinergi Riset dan Industri
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menyambut baik dukungan dari BRIN. Ia menyatakan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk-produk dirgantara Indonesia.

"Dengan dukungan riset dari BRIN, kami optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kedirgantaraan," kata Gita.

PTDI merupakan satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara yang memiliki kemampuan lengkap mulai dari desain, manufaktur, hingga perawatan pesawat. Selain N219, PTDI juga telah sukses memasarkan produk unggulan lain seperti CN235 dan NC212i ke pasar internasional.
 

  πŸ›© 
Republika  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...