Tampilkan postingan dengan label Kohanudnas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kohanudnas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2025

Pangkohanudnas Terima Paparan Hasil Pelatihan Battalion Level Commanders of BUK Air Defense bagi Personel TNI AD

  Di Belarusia (Kohanudnas)

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono P., S.I.P. menerima paparan hasil pelatihan Battalion Level Commanders of BUK Air Defense Training bagi personel TNI AD yang dilaksanakan di Belarusia.

Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Kohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025), sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan modernisasi kemampuan satuan pertahanan udara TNI AD.

Dalam paparan disampaikan bahwa sistem pertahanan udara BUK merupakan salah satu unsur strategis dalam menjaga kedaulatan wilayah udara nasional.

Personel yang telah mengikuti pelatihan internasional tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan satuan Arhanud, khususnya dalam aspek taktik penggelaran, integrasi sistem radar peringatan dini, serta penerapan prosedur komando dan pengendalian tingkat batalyon dalam menghadapi spektrum ancaman udara modern.

Pangkohanudnas menegaskan bahwa hasil pelatihan ini harus ditindaklanjuti secara nyata melalui penguatan doktrin, prosedur, dan kesiapan satuan di lapangan.

Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari Belarusia dinilai memberikan nilai tambah dalam pengembangan kemampuan pertahanan udara nasional. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Staf Kohanudnas Mayjen TNI Trias Wijanarko, S.I.P., M.H.I. beserta para pejabat utama Kohanudnas.

  🚀 
Kohanudnas  

Minggu, 30 Januari 2022

Kasau Resmikan Koopsudnas

Kohanudnas dilikuidasi https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj1Q0pxHUhbQHJDBqAQwZBeL9Ro-g8r4JKBgL0ME7hfpuBJRPYCBmsNkhiYT0i739sA7JpqeY5TAyEztJoNQtHLv5U2Iyv2S1w4Yi_SPy3x0c7yDtl0fUOFI9U2rG5lxGCqmIfqXCi8hU5MCHTsfqbjPuDUVvbtTkZl5Z2VmSMmfeb_stuWmkmFMp-2rQ=s643Logo Koopsudnas

K
epala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo melikuidasi organisasi Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dan meresmikan organisasi baru Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas).

Upacara peresmian itu berlangsung di Mako Koopsudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat.

Kasau juga mengukuhkan Marsekal Madya TNI Andyawan Martono Putra sebagai Panglima Koopsudnas, sedangkan Marsekal Muda TNI Novyan Samyoga yang sebelumnya menjabat Panglima Kohanudnas menjabat sebagai Kepala Staf Koopsudnas.

Organisasi yang baru itu akan berada di bawah operasi Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, sementara untuk pembinaan berada di bawah Kasau.

TNI AU juga mengubah nama atau alih kodal Komando Operasi AU (I, II, dan III) menjadi Komando Operasi Udara, Korps Paskhas menjadi Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat), Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) menjadi Komando Sektor Koopsudnas. Ketiga organisasi itu akan berada di bawah Koopsudnas.

"Peresmian ini telah menetapkan Koopsudnas sebagai 'leading sector' yang bertanggung jawab terhadap operasi pertahanan udara yang sebelumnya dilaksanakan oleh Kohanudnas," kata Marsekal Fadjar.

Menurut dia, alih komando, integrasi, dan perubahan ini selaras dengan kebijakan umum pertahanan negara pada 2020-2024, termasuk pembangunan postur TNI, khususnya TNI AU.

Fadjar menjelaskan, TNI AU diarahkan memiliki daya tangkas strategis dan mobilitas tinggi guna menjaga kedaulatan negara serta melindungi kepentingan nasional Indonesia.

Seiring kompleksitas tantangan dan perkembangan teknologi matra udara, TNI AU pun dituntut untuk mampu menghadapi berbagai macam bentuk ancaman. "Seperti, ancaman kinetik maupun nonkinetik yang dapat hadir sewaktu-waktu," kata Fadjar.

Di samping itu, Fadjar menilai, keputusan ini merupakan langkah strategis yang sangat menentukan dalam mewujudkan "unity of command" atau kesatuan komando.

"Khususnya untuk meningkatkan fokus dan koordinasi dalam 'asset employment' beserta pengerahan kekuatan matra udara," katanya pula.

Kasau mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa atas perubahan organisasi TNI AU.

"Harapan kami, organisasi ini bisa berkembang semakin besar dan modern dengan akan datangnya beberapa alutsista baru," kata Marsekal Fadjar.

  antara  

Sabtu, 17 April 2021

Membangun Kembali Satuan Rudal TNI AU

Rudal SA 2 AURI buatan Uni Sovyet [indomiliter] ★

Pada tahun 1960-an TNI Angkatan Udara pernah dipersenjatai dengan Peluru Kendali (Rudal) SAM 75 buatan Uni Soviet.

Alutsista ini dipersiapkan untuk mendukung rencana Operasi Trikora pada saat itu. Keberadaan Rudal SAM 75 di Indonesia saat itu membuat negara – negara tetangga sangat segan, bahkan Indonesia mendapat julukan “Macan Asia”.

Hal ini karena SAM 75 memiliki efek detterent yang tinggi dan telah terbukti handal dalam menghancurkan berbagai sasaran di udara (battle proven). SAM 75 resmi dinon-aktifkan di awal tahun 1980-an, setelah berjaya dalam memayungi langit Nusantara selama 20 tahun.

Deteksi dan identifikasi terhadap ancaman di udara telah dapat dilaksanakan oleh radar hanud Kohanudnas yang tergelar lengkap melingkupi seluruh wilayah Indonesia.

Namun untuk upaya penindakan hingga saat ini masih sangat kurang memadai. Hal ini karena terbatasnya jumlah dan disposisi pesawat tempur sergap sebagai sarana penindak serta tidak adanya rudal sebagai sarana penindak di jarak menengah.

 Penambahan Rudal Nasams 
Rudal Nasams TNI AU [Kemhan]

Oleh sebab itu TNI AU sangat membutuhkan hadirnya Satuan Rudal sebagai satuan penindak ancaman udara pada jarak menengah.

Saat ini TNI AU telah memutuskan untuk menambahkan Nasams sebagai pengganti rudal SAM 75 guna memperkuat system pertahanan udara.

Kontrak dan proses pengadaan Nasams sedang berlangsung dan saat ini alutsista tersebut sudah berada di Teluk Naga, Tangerang.

Nasams adalah sebuah system pertahanan udara terintegrasi yang menggunakan rudal sebagai sarana penghancur sasaran di udara, dengan dukungan Radar dan Command Post sebagai sarana deteksi dan eksekusi target.

Kemampuan Nasams mengeliminasi sasaran di udara meliputi cruise missile, air to ground missile, fighter / fighter bomber, unmanned aerial vehicle dan helicopter. Kemampuan ini sudah banyak terbukti dan teruji di beberapa medan pertempuran dan digunakan oleh beberapa negara di dunia.

Nasams didesain untuk memberikan perlindungan terhadap asset–asset penting dan obyek vital bernilai strategis dari serangan udara. Nasams juga dilengkapi dengan kemampuan deteksi, identifikasi dan tracking terhadap target serta kemampuan mendeteksi adanya jammer yang dapat mengganggu operasional system Nasams. Secara garis besar, Nasams terdiri atas Radar, Rudal dengan peluncurnya, Command Post dan sarana komunikasi.

 
Kemhan  

Rabu, 10 Maret 2021

Radar Pasif Bantu Tingkatkan Keamanan Nasional

Melihat Tanpa Terlihat Radar Pasif LAPI ITB [indomiliter] 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertahanan (Balitbang) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Republik Indonesia berhasil mengembangkan prototipe radar pasif untuk memperkuat keamanan udara dan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Perangkat elektronik buatan Indonesia tersebut berfungsi untuk mendeteksi target dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh target itu sendiri.

Adapun pengembangan alat utama sistem senjata (alutsista) ini merupakan bagian dari kebutuhan radar nasional khususnya kebutuhan radar pasif untuk Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Kepala pusat penelitian dan pengembangan (Kapuslitbang) alat peralatan pertahanan (Alpalhan) Balitbang Kemhan Brigjen TNI Rosidin mengatakan, radar pasif yang Balitbang kembangkan ini mampu menangkap semua pergerakan target di udara tanpa terdeteksi oleh pihak lawan.

Radar pasif ini sistem pendeteksinya menggunakan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dari target itu sendiri,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas.com, di Kantor Balitbang Kemhan, Jakarta, Senin (1/3/2021).

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Matra Udara Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan Kolonel Tek Bambang Edy menambahkan, radar pasif dapat menentukan lokasi target dengan memanfaatkan sumber sinyal, dari frekuensi televisi, radio, dan pesawat. Metode tersebut dinamakan dengan passive location.

Dalam kesempatan yang sama, Kabalitbang Kemhan Marsekal Madya (Marsda) TNI Julexi Tambayong mengatakan, salah satu kelebihan dari radar pasif ini mampu mendeteksi keberadaan “pesawat siluman” (stealth).

 Disebar ke seluruh tanah air 
Remote station, merupakan pendeteksi signal radar pasif hasil kerjasama dengan Balitbang Kemhan [Kemhan] 

Seperti diketahui, pesawat siluman dirancang untuk mengalihkan pantauan radar dengan menggunakan teknologi siluman sehingga sulit untuk dideteksi.

Dengan teknologi tersebut, pesawat siluman dapat dengan mudah menyusup ke wilayah suatu negara untuk dapat melakukan kegiatan spionase maupun serangan tiba-tiba (stealth attack).

Pesawat siluman ini dengan teknologinya tidak bisa terdeteksi keberadaannya oleh radar aktif biasa. Kalaupun bisa dideteksi, malah radar (radar aktif) tersebut menjadi sasarannya. Keberadaan radar pasif ini dapat mengisi celah yang tidak terjangkau oleh radar aktif di area perbatasan. Maka dari itu, nanti akan kami buat mobile untuk disebar ke (seluruh) NKRI,” ujarnya.

Ia menyebutkan, radar pasif memiliki keunggulan yang tidak dimiliki radar aktif, yakni ukurannya yang kecil sehingga mudah dikerahkan, tahan terhadap deteksi electronic support measure (ESM), dan sulit dilumpuhkan.

Alat ini juga dapat dioperasikan dengan remote dan stand alone. Secara susunan, radar pasif terdiri dari empat unit perangkat, yakni satu master station dan tiga remote station.

Adapun master station adalah pusat kendali dari radar pasif yang berada di dalam truk. Sementara itu, remote station merupakan perangkat pendeteksi sinyal yang dilengkapi dengan antena, tower mast, data link, dan receiving signal processing.

 Mendeteksi 70 km 
Monitor kendali untuk radar pasif [Fikri] 

Agar berfungsi maksimal, keempat perangkat tersebut harus diletakkan dengan jarak masing-masing minimal 15 kilometer (km) antar titik.

Tujuannya untuk meningkatkan akurasi dalam menentukan target dalam bentuk tiga dimensi (3D). Berdasarkan uji coba di lapangan, radar pasif memiliki jangkauan sejauh 70 kilometer (km).

Sekretaris Balitbang Kemhan Brigjen TNI Abdullah Sani menyebutkan, pengembangan yang dilakukan oleh pihaknya bukan tanpa halangan.

Menurutnya, komponen yang tidak dijual di dalam negeri menjadi masalah utama Balitbang dalam mengembangkan alutsista.

Oleh karena itu, Kemhan membuka peluang kerja sama dengan pelaku industri pertahanan baik itu dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) untuk membantu meningkatkan pengembangan radar pasif yang saat ini masih berupa prototipe menuju first article (FA).

Diharapkan dengan kerja sama tersebut, mampu membuat kualitas radar pasif setara dengan produsen luar dan memiliki kemampuan sesuai kebutuhan user.

Sebagai informasi, radar pasif merupakan salah satu dari tiga alutsista telah dibuat Kemhan untuk memaksimalkan sistem pertahanan nasional. Dua alutsista lainnya adalah Kendaraan Peluncur Roket R-HAN 122B dan Mobile Command Control Vehicle (MCCV).

  ☠
Kompas  

Minggu, 07 Februari 2021

[Video] TNI AL Pantau Konvoi Kapal Perang Amerika

Melintas di Selat Malaka Foto: Kapal Induk AS USS Nimitz dan dua kapal induk AS lainnya dipantau TNI AL saat melintas di sekitar perairan Indonesia (Instagram TNI AL)

P
enampakan kapal induk Amerika Serikat (AS) di perairan Indonesia ramai dibahas warganet. Salah satu kapal yang disorot ialah kapal perang milik AS, USS Nimitz (CVN 68).

Kadispenal Laksma TNI Julius Widjojono membenarkan kabar tersebut. Dia mengatakan kapal induk milik militer AS tersebut melintas dengan menaati hukum internasional.

"Benar (USS Nimitz melintas). Sedang melakukan hak lintas transit. Hukum internasional mereka patuhi," kata Laksma Julius saat dimintai konfirmasi, Sabtu (6/2/2021).

Dia membenarkan saat ditanya USS Nimitz melaju menuju Laut Natuna Utara. Dia mengatakan TNI AL tetap menjalankan operasi keamanan laut Indonesia.

Julius mengatakan kapal perang AS tersebut juga sudah berkomunikasi dengan otoritas di Indonesia, dalam hal ini TNI AL.

"Betul ke LCS. Operasi keamanan laut (TNI AL) sudah terprogram dan terencana, baik operasi mandiri dan atau operasi di bawah kendali Panglima TNI," ujarnya.

Sementara itu, Koarmada I menjelaskan KRI secara konsisten hadir di seluruh perairan Indonesia terutama di lokasi strategis seperti Selat Malaka. Upaya ini dilakukan sesuai instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono.

"Kehadiran KRI di perairan yurisdiksi nasional pada setiap sektor operasinya adalah kegiatan yang secara terus-menerus dilaksanakan oleh TNI AL. Khususnya di wilayah kerja Koarmada I ini sebagai bukti dalam mengamankan kepentingan nasional, menegakkan hukum, dan kedaulatan RI," kata Pangkoarmada I Laksda TNI Abdul Rasyid K seperti dilihat di situs resmi TNI AL.

Koarmada I berkoordinasi dengan Kohanudnas atas kehadiran kapal induk AS tersebut. Diketahui ada tiga kapal induk yang melintas di sekitar perairan Indonesia, yakni USS Princeton (CG-59), USS Nimitz (CVN-68), dan USS Sterett (DDG-104).

Ketiga kapal AS tersebut berada di perairan internasional timur Sumatera. Pergerakan dan aktivitasnya dipantau secara terus menerus oleh Puskodal Guskamla Koamada I dan ditindaklanjuti pemantauan oleh KRI yang sedang melaksanakan operasi di Selat Malaka dan operasi pengamanan perbatasan Indonesia-Singapura di Selat Singapur BKO Guskamla Koarmada I.

Unsur KRI tersebut antara lain KRI Todak-631, KRI Halasan-630, KRI Krait-827, KRI Pari-849 dan KRI Sikuda-863, serta Pesawat Udara Patmar Cassa P-8203 saat melintas disepanjang Selat Malaka.

Dilaporkan ketiga kapal induk tersebut melintas di Perairan Tanjung Medang Pulau Rupat pada Jumat (5/2) sekitar pukul 08.45 WIB. Ketiga kapal tersebut melaksanakan Hak Lintas Transit di Selat Malaka.

Koarmada I menjelaskan, pada akhir pelaksanaan passing dengan Konvoi Kapal Perang US Navy dilaksanakan komunikasi menggunakan flash light, disampaikan pesan 'Bon Voyage' sebagai bentuk diplomasi Angkatan Laut saat konvoi kapal tersebut berada di perairan yurisdiksi nasional Indonesia.

Sementara itu, Danguskamla Koarmada I Laksma TNI Yayan Sofiyan, memantau langsung setiap dinamika daerah operasi wilayah kerja Koarmada I dari Kapal Markas Guskamla Koarmada I KRI Halasan-630 dari perairan Tanjung Balai Asahan Selat Malaka. (jbr/haf)


  detik  

Kamis, 03 September 2020

Radar Oerlikon 472 Paskhas Terintegrasi Radar Kohanudnas

Mampu Mendeteksi Serangan Udara Musuhhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUjgfVAz9r5-t45dEA8YJObjfdBaOUDdwuATxHYx4Gm5Gy8cIBH4z_07NyoDyR_ChGWxlNijQcO71iexrcZmUcP4r0XtndZVgTXFrVByBnshyphenhyphenYicIlBM6qQa7_J1qRJZ5sM_-c2bfYwM-Y/s802/Oerlikon+472+Paskhas+Terintegrasi+Radar+Kohanudnas.png[dokumen paskhas]

Denhanud 472 Paskhas yang berkedudukan di bawah Wing II Paskhas yang berada di Lanud Sultan Hasanuddin Makassar melaksanakan latihan Puncak Wing II Paskhas (Hardha Marutha II).

Peran Baterai Hanud dalam Operasi Perebutan dan pengendalian Pangkalan Udara (OP3U) adalah melaksanakan Air Landed dan menggelar Pertahanan Udara dengan menggunakan senjata Oerlikon Skyshield MK-2 buatan Swiss.

Senjata ini sangatlah modern dan telah terintegrasi dengan Radar yang ada di Jajaran Kohanudnas sehingga sebelum sasaran tertangkap radar yang ada di Oerlikon, Terlebih dahulu akan ditangkap oleh radar yang ada di Jajaran Kohanudnas dan dapat di monitor dari Command Post Oerlikon sehingga dengan mudah senjata ini akan dapat mendeteksi, mengunci dan menembak pesawat musuh.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikZQops9VPrGYP-uXOwuESLytw9rbFnf8f8UGQKLAkx5G1UpXv1_Mk6N1TG1IOEMeEGu6_ehJXzfvJQYI9S11P1vTwsZZvIDZ1UfMcKXE2p9b2vQ0T_lIkcstZY8yTJMxuW69z1q_Q4Ikf/s802/Radar+Kohanudnas+Paskhas.pngRadar Kohanudnas [paskhas]

Untuk pengelabuan Posisi titik gelar Hanud itu sendiri digunakan GPS Jammer yang mempunyai kemampuan untuk mengacak sinyal frekuensi GPS dari satelit sehingga perangkat GPS tidak bisa menerima sinyal GPS. Hal ini mengakibatkan perangkat GPS tidak dapat mentransmisikan data Positioning, Navigation and Timing (PNT) yang dibutuhkan oleh perangkat navigasi lainnya untuk Pointing Target.

Radar Oerlikon dengan daya deteksi yang sangat luas dan tersamar dengan baik siap mempertahankan Pangkalan Udara dari serangan udara musuh.

 ♖ Paskhas  

Selasa, 12 Februari 2019

Kohanudnas Menanti Realisasi Renstra TNI

Di bulan Februari ini, persisnya tanggal 9 Februari 2019, Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) berusia 57 tahun. Meski sudah berusia lebih dari setengah abad, namun masih banyak orang awam yang kurang paham mengenai posisi Kohanudnas.

Kerab kali, Kohanudnas disangka sebagai salah satu komando utama (kotama) TNI AU. Meski fungsinya seputar matra udara, Kohanudnas sebetulnya merupakan kotama operasi TNI. Walapun tak dapat dipungkiri, bahwa sebagian besar personelnya memang berasal dari TNI AU.

Kotama TNI yang saat ini dipimpin oleh Marsekal Muda TNI Imran Baidirus (menjabat Panglima Kohanudnas sejak Desember 2017) ini membawahi empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas). Keempatnya adalah Kosekhanudnas I (berpusat di Jakarta), Kosekhanudnas II (Makassar), Kosekhanudnas III (Medan), dan Kosekhanudnas IV (Biak).

Kohanudnas bertugas menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan atas wilayah udara nasional secara mandiri. Atau bekerja sama dengan Komando Utama Operasional lainnya. Dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan serta kepentingan lain dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu juga menyelenggarakan pembinaan administrasi dan kesiapan operasi unsur-unsur pertahanan udara (hanud) TNI AU dan melaksanakan siaga operasi untuk unsur-unsur hanud dalam jajarannya, dalam rangka mendukung tugas pokok TNI.

Salah satu aset utama Kohanudnas adalah radar peringatan dini (early warning radar) yang dioperasikan oleh satuan-satuan radar (Satrad) yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Ada empat sektor hanud.

Idealnya, Kohanudnas juga dibekali satuan pesawat tempur sergap (interceptor) sendiri. Saat ini, kebutuhan unsur sergap tersebut harus “dipinjam” dari kotama TNI AU yaitu Koopsau (Komando Operasi TNI AU).

Ke depannya, ada rencana reorganisasi yang cukup signifikan. Kohanudnas akan bertransformasi menjadi Kotama TNI AU. Beberapa waktu lalu TNI AU telah mengajukan sejumlah rancangan restrukturisasi dan validasi organisasi baru kepada Markas Besar TNI yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI AU periode 2015-2019.

Salah satu pengajuan yang masih menunggu pengesahan adalah penggabungan Kohanudnas dengan Koopsau. Rencananya (jika disetujui), Kohanudnas yang sekarang adalah Kotamaops Mabes TNI, akan ditarik kembali ke TNI AU dan berubah menjadi Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas).

Di bawah TNI AU, Koopsudnas yang akan dipimpin perwira tinggi bintang tiga TNI AU itu akan membawahi tiga Koopsau/Koopsud yaitu Koopsau I, II, III dan empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) yaitu Kosekhanudnas I, II, III, dan IV.

Sementara untuk koordinasi terhadap unsur-unsur artileri pertahanan udara matra lain di luar TNI AU, misalnya unsur Arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD maupun rudal hanud di kapal-kapal perang TNI AL, akan dilakukan Koopsudnas.

Tampaknya rencana ini, selain untuk memperpendek rantai komando penyergapan pesawat asing yang melanggar wilayah udara nasional, juga untuk mempersiapkan TNI AU mengoperasikan rudal jarak menengah-jauh.

Memang sudah lama Indonesia belum lagi memiliki dan mengoperasikan rudal hanud tipe jarak menengah-jauh. Sejak dipensiunkannya rudal hanud jarak jauh S-75 Dvina buatan Uni Soviet (kode NATO: SA-2 Guideline), sekitar awal dekade 1980-an. [yls]

  RMOL  

Kamis, 23 Agustus 2018

Panglima TNI Tinjau Peralatan Antidrone Kohanudnas

Peralatan Antidrone milik Kohanudnas

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP., meninjau peralatan antidrone Kohanudnas di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (16/8) dengan disambut beberapa pejabat Kohanudnas seperti Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional (Kaskohanudnas) Marsma TNI Arief Mustofa, MM., Asisten Operasi (Asops) Kas Kohanudnas Kolonel Pnb Yostariza, S.E., Komandan Satuan Komunikasi dan Elektronika (Dansatkomlek) Kohanudnas Mayor Lek Rano Maharano dan lainnya. Peninjauan dilakukan untuk mengetahui kemampuan peralatan antidrone Kohanudnas guna pelaksanaan tugas-tugas pengamanan yang dilaksanakan TNI di ibukota terkait penggunaan drone dalam rangka pengamanan rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.

Dansatkomlek Kohanudnas Mayor Lek Rano Maharano kepada Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP.,menjelaskan spesifikasi antidrone yang dimiliki Kohanudnas. Dijelaskan antidrone Kohanudnas mempunyai beberapa subsistem meliputi radar aktif, radar pasif, kamera dan jammer yang terintegrasi menjadi satu sistem antidrone. Masing-masing subsistem antidrone mempunyai kemampuan guna mengendalikan pesawat drone yang beroperasional di wilayah udara yang diamankan kegiatannya oleh TNI.

Ditambahkan Dansatkomlek Kohanudnas, “Apabila jammer antidrone diaktifkan terhadap pesawat drone maka terdapat tiga alternatif tindakan yang dapat dilakukan pertama go home, yaitu drone dipulangkan ke operator drone dan operator drone sudah tidak dapat mengendalikan dronenya. Kedua, land artinya drone dapat diturunkan di tempat di mana drone tersebut sedang terbang dan operator tidak dapat mengendalikan dronenya dan ketiga GPS, yaitu jammer antidrone bekerja mengacaukan GPS dari drone yang terbang, walaupun operatornya dapat mengendalikan dronenya secara visual.

Ke depan Panglima TNI berharap melalui peralatan antidrone Kohanudnas tersebut tugas-tugas pengamanan yang dilaksanakan TNI terkait penggunaan drone yang cukup massif di masyarakat dapat dicegah, khususnya penggunannya yang tidak pada tempatnya, saat ada kegiatan-kegiatan nasional/TNI. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan/merugikan serta berdampak luas tidak terjadi.

  TNI AU  

Rabu, 27 Desember 2017

Indonesia Dipastikan Akan Ambil Alih FIR dari Singapura

✈️ Tahun 2019✈️ FIR Singapore adapted from gis icao int [global indonesian voice]

Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) memastikan Flight Information Region (FIR) sektor A yang mencakup Batam, Natuna akan diambil alih Indonesia dari Singapura pada 2019 mendatang.

Menurut UU No 1 Tahun 2009 tentang penerbangan itu 15 tahun harus sudah diambil alih atau sekitar 2024, tapi Presiden Joko Widodo (Jokowi) minta FIR wilayah A sudah diambil 2019 mendatang,” kata Pangkohanudnas Marsekal Madya Yuyu Sutisna di Makohanudnas, Jakarta Timur, Sabtu 23 Desember 2017.

Saat ini, pemerintah melalui Menko Kemaritiman telah membentuk tiga tim, terdiri dari Tim Teknis yang mencakup airnav, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kohanudnas yang menyiapkan sarana dan prasarana untuk pengambilalihan ini. Kemudian, Tim Regulasi yang menyiapkan peraturan dan Tim Diplomasi untuk berunding dengan Singapura dan Malaysia.

Kalau tidak ada masalah yang sangat krusial, FIR untuk sektor B dan C dengan ketinggian 20.000 feet (dikontrol Malaysia) sudah diambil alih pada Maret 2018,” ujarnya.

Mantan Pangkoopsau I ini menjelaskan, FIR merupakan pelayanan untuk keselamatan penerbangan sehingga tidak ada kaitannya secara langsung dengan wilayah kedaulatan.

Jadi melayani pesawat yang terbang demi keselamatan. Artinya, wilayah udara bisa saja dikontrol orang lain, kita juga bisa mengontrol wilayah udara punya negara lain,” ujarnya.

Meski begitu, kaitannya dengan operasi yang paling menderita adalah Kohanudnas, sebab untuk melakukan tugas dan latihan harus izin dengan Singapura selaku pengontrol ruang udara Indonesia.

Contoh kita mau latihan di Natuna, karena Natuna FIR di bawah Singapura. Itu izinnya ke Singapura. Saya mau latihan di sini dengan ketinggian sekian, kalau enggak dikasih ya enggak bisa,” katanya.

Pada pelaksanaan Angkasa Yuda 2016 lalu, kata Yuyu, TNI AU sempat melakukan gladi dengan meluncurkan rudal kiwi disaksikan Presiden Jokowi.

Saat itu cuaca terang, ketika melepas rudal kiwi ada pesawat melintas. Memang tidak akan sampai (beda ketinggian) tapi namanya senjata kan bisa saja error. Sebelumnya saya minta ditutup tapi enggak dikasih (Singapura). Dua hari kita minta enggak dikasih,” katanya.

Menanggapi penolakan itu, dirinya kemudian menelpon langsung pihak Singapura menegaskan bahwa pihaknya tetap akan melakukan latihan dan meluncurkan rudal. “Setelah itu baru dikasih. Itu pengalaman 2016 lalu,” ucapnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) ini menambahkan, karena ruang udara dikontrol oleh negara tersebut maka tidak jarang terjadi pelanggaran.

Jadi kalau ada pesawat dari Singapura mau ke Filiphina, karena izin melintasnya untuk keselamatan penerbangan ke Singapura. Mereka minta izinnya ke negara tersebut, sementara izin melintas teritorial kita enggak ada dan tidak dilaksanakan. Akibatnya, pelanggaran tinggi,” ucapnya.

  ✈️ Sindonews  

Senin, 25 Desember 2017

Kohanudnas Bangun Pertahanan Anti Pesawat Tanpa Awak

Paskhas AU dengan rudal QW3 [Indonesian Military]

Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) tengah mengembangkan pertahanan anti pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Kebijakan ini sebagai langkah antisipasi munculnya ancaman dari pesatnya teknologi.

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsekal Madya Yuyu Sutisna mengaku, selama ini tidak ada pesawat nirawak milik negara-negara lain yang melintas masuk ke wilayah udara Indonesia secara ilegal.

"Selama saya jadi Panglima, tidak ada UAV yang melintas ke wilayah kita," ujarnya di Makohanudnas, Jakarta Timur, Sabtu 23 Desember 2017.

Meski begitu, sebagai penjaga kedaulatan wilayah udara Kohanudnas tengah mempersiapkan pertahanan menghadapi ancaman tersebut.

"Kita mau mengadakan anti drone. Ada pertahanan burupa buble, sehingga dia (UAV) tidak bisa masuk karena frekuensinya diganggu. Ada juga dibelokkan ke tempat pesawat mengontrol," ujarnya.

Pria yang menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) ini menambahkan, saat ini pertahanan yang dimiliki masih bersifat taktis. "Kalau yang taktis sudah ada di Paspampres. Yang besar sedang dalam proses," tegasnya.

Yuyu menjelaskan, pesawat UAV biasanya menggunakan transponder atau perangkat otomatis yang menerima, memperkuat dan mengirimkan sinyal dalam frekuensi tertentu.

"Biasanya menggunakan transponder. Kita tahu dia kemana, Yang beroperasi ini pesawat nirawak yang hanya sampai 200 kilo dengan radio frekuensi. Sehingga tidak masuk wilayah kita," kata Yuyu.

   Sindonews  

Senin, 03 Juli 2017

“Sekecil Apapun Pelanggaran Udara, Akan Kita Tindak”

http://nusantarapos.co.id/wp-content/uploads/2017/07/IMG-20170702-WA0017-939x540-939x540.jpgMBT Leopard 2RI @ Natuna [TNI AD] ★

P
anglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsda TNI Yuyu Sutisna, S.E, M.M., Sabtu (1/7/2017) memerintahkan unsur-unsur kekuatan udara nasional di wilayah Indonesia Timur menindak tegas pesawat asing pelanggar wilayah udara nasional.

Sekecil apapun pelanggaran wilayah udara yang tidak sesuai peraturan kita tindak, walaupun situasi libur lebaran,” tegas Pangkohanudnas dari Jakarta, mengetahui laporan sebuah pesawat KC-130 Amerika Serikat rute Darwin-Jepang, yang melintas di luar jalur ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) III di atas Kepulauan Maluku, Sabtu (1/7/2017) pagi.

Menurut Pangkosekhanudnas IV Biak Marsma TNI H. Dumex Dharma, S.AP., M.Si., dalam laporan kronologis disebutkan pesawat KC-130 rute Darwin-Jepang tersebut tertangkap pada manual display TDAS (Transmisi Data Air Situation) Posek Kosekhanudnas IV, Biak sekitar pukul 07.30. Pesawat dengan call sign Sumo 99 itu tertangkap Radar memiliki dokumen perizinan yang berbeda dengan pesawat yang ada. Oleh karena itu, dengan komunikasi radio pesawat diarahkan oleh pihak MCC (Military Civil Coordination) melalui MATSC (Makassar Air Traffic Service Center) untuk melintas mengikuti garis ALKI III. Apabila tidak, pesawat dilarang terbang di wilayah Indonesia.

Bahkan Pangkohanudnas memerintahkan unsur-unsur kekuatan udara seperti pesawat tempur Sukhoi di Makassar untuk bersiaga melakukan tindakan intercept dan force down di Lanud Pattimura, Ambon. Pilot pesawat Sumo 99 akhirnya memilih mentaati perintah ATC untuk terbang dalam garis ALKI III, setelah diberikan peringatan sebelumnya hingga keluar dari wilayah udara NKRI.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal dan Pesawat Udara Asing dalam Melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan Melalui Alur Laut Kepulauan yang Ditetapkan, menggariskan setiap pesawat udara wajib mentaati alur lintas yang ditetapkan. Apabila melanggar akan dikenakan sangsi sesuai peraturan yang berlaku. (*)

  Nusantara post  

Kamis, 06 April 2017

Kohanudnas Akan Pegang Kodal Sistem Pertahanan Udara Titik

Personel Denhanud 472 Paskhas memperagakan penggunaan Optical Sight meriam Oerlikon Skyshield. [Ery]

IIndonesia memiliki beberapa alutsista (alat utama sistem senjata) pertahanan udara titik yang tersebar di beberapa Pangkalan Udara (lanud) dan berada di bawah kodal (komando dan pengendalian) Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas TNI Angkatan Udara. Sesuai dengan kebijakan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, rencananya kodal sistem pertahanan udara titik tersebut ke depannya akan berada di bawah Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional).

Ada beberapa sistem pertahanan udara. Sistem pertahanan udara ini adalah sistem pertahanan udara titik, yang rencananya ke depan Denhanud ini akan di bawah Kohanudnas. Sehingga terintegrasi sistem pertahanan ini semuanya ada di Kohanudnas,” terang Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma TNI Jemi Trisonjaya di Markas Denhanud 472 Paskhas, Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Rabu (29/3/2017).

Sistem pertahanan udara titik merupakan sistem pertahanan yang hanya berada di sekitar lanud. Ada beberapa lokasi sistem pertahanan udara titik di Indonesia, yakni di Jakarta, Pontianak dan Makassar.

Ke depan, seperti yang saya sampaikan, kebijakan KSAU menginginkan pertahanan titik ini ada di bawah Kohanudnas. Nanti akan di kaji, kemudian akan bersinergi apa bila nanti sistem pertahanan udara ini sudah di bawah Kohanudnas,” jelas Jemi.

Menurut Kadispenau, dengan berada di bawah Kohanudnas, komando dan pengendalian sistem pertahanan udara titik akan lebih maksimal. terkait dengan pembinaan, akan tetap dilakukan oleh Paskhas, namun untuk operasional akan berada di bawah kodal Kohanudnas.

Alutsista ini ada yang dari Swiss, ada yang dari Cina, ada yang dari Korea Selatan. Kita sudah ada pelatihan, kemudian sudah ada teknisinya juga yang disekolahkan di sana dan mereka bisa melaksanakan perbaikan,” papar Jemi.

Author: Fery Setiawan

  ★ angkasa  

Selasa, 09 Februari 2016

54 tahun Komando Pertahanan Udara Nasional

✈ TNI ujung tombak penegakan hukum di udara✈ Dokumentasi personel Komando Pasukan Khas TNI AU dan Polisi Militer TNI AU mengamankan pesawat asing Boeing 737 yang didaratkan paksa pada Latihan Sriti Gesit, di Pangkalan Udara TNI AU Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Rabu (2/4). Latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan TNI AU dan Komando Pertahanan Udara Nasional TNI dalam memantau pergerakan pesawat asing yang melanggar wilayah udara Indonesia tanpa izin. (ANTARA FOTO/Sahrul Tikupadang)

Komando Pertahanan Udara Nasional TNI adalah ujung tombak operasional TNI una melaksanakan penegakan hukum di udara dan mengatur seluruh potensi kekuatan udara bangsa Indonesia.

Komando Pertahanan Udara Nasional TNI adalah komando utama TNI yang posisinya unik. Secara operasional dia ada di bawah komando panglima TNI namun pembinaan ada di bawah kepala staf TNI AU.

Komando Pertahanan Udara Nasional TNI bisa dibilang inti kekuatan udara nasional secara fisik, dan dia dapat mengerahkan kekuatan fisik yang dimiliki TNI AU dan semua matra TNI untuk mematahkan kekuatan asing yang membahayakan kepentingan nasional dari aspek udara.

Komando ini terbagi menjadi empat wilayah operasi, yaitu Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I di Jakarta, Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II di Medan, Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional III di Makassar, dan Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional IV di Biak, Papua.

Hari ini Komando Pertahanan Udara Nasional TNI berulang tahun ke-54, yang upacara puncaknya digelar di markas komandonya, di dalam Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional TNI, Marsekal Muda TNI Abdul Muis, memimpin upacara itu dan membacakan amanat Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

"Bukan hanya sebagai mata dan telinga dalam mengawasi berbagai pergerakan pesawat udara yang melintasi wilayah Indonesia, tetapi juga memiliki kemahiran dan kecakapan khusus untuk menghancurkan lawan dan menanggulangi segala bahaya apapun," kata Muis.

Saat ini negara Indonesia menghadapi isu-isu penting terkait kedaulatan nasional yang harus disikapi bersama oleh seluruh komponen bangsa.

Saat kebijakan Keterbukaan Udara ASEAN diberlakukan, maka wilayah udara nasional harus benar-benar mendapatkan fokus oleh pemangku kepentingan terkait, terutama segenap prajurit Komando Pertahanan Udara Nasional.

"Wilayah angkasa Indonesia semakin terbuka, lalu lintas udara semakin dinamis, yang kesemuanya menimbulkan konsekuensi dan bahkan pertaruhan bagi kedaulatan negara yang pada giliranya menuntut peran dan kontribusi penting segenap jajaran Komando Pertahanan Udara Nasional TNI," katanya.

Secara pribadi, Muis mengatakan, walaupun peringatan hari ulang tahun kali ini diselenggarakan secara sederhana namun sama sekali tidak mengurangi makna sakral dan kekhidmatan dari peringatan itu sendiri.
 

  Antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...