Tampilkan postingan dengan label LEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2026

PT Len Targetkan Instalasi 13 Radar GCI

🛰 Rampung Pada 2027📡 Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional. (antara)

PT Len Industri (Persero) menargetkan instalasi 13 unit radar ground control intercept (GCI) yang akan digunakan untuk mendukung sistem pertahanan udara nasional, selesai pada 2027.

“Khusus radar sedang berjalan … [targetnya] tahun depan,” kata Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri Dwi Sulistiani di Bandung, Jawa Barat, Selasa.

Ia menjelaskan sejauh ini instalasi radar telah rampung di dua lokasi. “Ini memang mendukung pertahanan di kawasan timur, khususnya, yang notabene ini menjadi fokus dari Kementerian Pertahanan,” kata dia.

Menurut dia, tantangan aktivasi radar tidak hanya berkaitan dengan perangkat dan teknologi, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung meliputi fasilitas operasional bagi prajurit, tempat tinggal, fasilitas pemantauan, serta ruang kendali operasi.

Namun Dwi menilai bahwa dalam pelaksanaannya, holding industri pertahanan Indonesia (Defend ID) itu mendapat dukungan Kementerian Pertahanan serta pemangku kepentingan lain, termasuk pemerintah daerah.

“Di dalam aktivasi radar ini tentunya harus bisa komunikasi, minimal di lingkup matra udara itu sudah. Tantangannya memang kita harus menuntaskan dengan matra yang lain, salah satunya laut,” ujarnya.

Radar GCI merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Perancis. GCI tercatat menjadi radar dengan jangkauan terjauh di Indonesia, yakni lebih dari 400 kilometer.

Radar itu disebut memiliki kemampuan mendeteksi, mengukur jarak, dan mengidentifikasi objek pesawat dengan keakuratan tinggi serta dilengkapi kemampuan mengidentifikasi objek yang menjadi kawan maupun lawan/musuh atau identification friend or foe (IFF).

Pada Juli lalu, PT Len memperkenalkan implementasi radar GCI generasi terkini pertama di Indonesia yang dipasang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kemampuan deteksi jarak jauh tercatat mencapai radius 515 kilometer. 
 

  📡
antara  

Kamis, 08 Oktober 2026

Len Bidik Empat Teknologi Strategis

🛰 Dari Semikonduktor hingga Radar📡 Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional. (antara)

PT Len Industri (Persero) membidik penguasaan empat teknologi strategis yang dinilai penting untuk memperkuat industri pertahanan nasional. Fokusnya mencakup semikonduktor, kecerdasan buatan, radar, serta satelit dan penginderaan jauh.

Direktur Utama PT Len Industri Joga Dharma Setiawan mengatakan tantangan terbesar bukan sekadar mengadopsi teknologi, tetapi memastikan kemampuan tersebut bisa dikembangkan, dikuasai, diintegrasikan, dan diindustrialisasikan di dalam negeri.

“35 tahun perjalanan Len bukan hanya tentang lamanya kami hadir, tetapi tentang bagaimana teknologi dan kemampuan rekayasa yang kami bangun dapat menjawab kebutuhan strategis Indonesia,” kata Joga dalam Len Techno Day 2026 di ITB Innovation Park Bandung, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 7 Oktober.

Sebagai induk Holding BUMN Industri Pertahanan DEFEND ID, Len diarahkan menjadi penghubung antara hasil riset dan kebutuhan industri, bukan hanya pengguna teknologi.

Empat bidang yang dibidik juga memiliki penggunaan ganda untuk sektor pertahanan maupun sipil.

Pada semikonduktor, Len mengarahkan pengembangan mikrocip untuk mendukung perangkat elektronik pertahanan dan industri otomotif.

Di bidang kecerdasan buatan, pengembangan mencakup AI agentik, AI generatif, visi komputer, dan pemrosesan bahasa alami. Teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung otomasi sistem.

Untuk radar, Len mengembangkan antara lain Ground Controlled Interception atau GCI, radar pertahanan udara, radar pelacak lokasi senjata, serta radar untuk pemantauan cuaca dan wilayah pesisir.

Sementara teknologi satelit dan penginderaan jauh dikembangkan melalui sistem intelijen citra untuk membantu pemantauan wilayah dan penanganan bencana.

Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan pengembangan teknologi strategis membutuhkan ekosistem yang menghubungkan industri, riset, dan sumber daya manusia. “Len memiliki peran penting dalam membangun ekosistem teknologi yang menghubungkan industri, riset dan pengembangan, serta talenta,” kata Sigit.

Menurut Sigit, dalam tiga hingga empat tahun ke depan sedikitnya 15.000 talenta ditargetkan mendapat pelatihan di bidang semikonduktor.

Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata menilai penguasaan teknologi strategis tidak hanya terkait pertahanan, tetapi juga ketahanan ekonomi. “Kedaulatan teknologi menjadi bagian penting dari ketahanan nasional,” ujarnya.

Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menambahkan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan riset dasar dan sumber daya manusia agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi bisa masuk ke tahap industrialisasi.

Len Techno Day 2026 diikuti sekitar 150 peserta dari unsur pemerintah, TNI, BPI Danantara, BUMN, perguruan tinggi, peneliti, dan mitra teknologi.
 

  📡
VOI  

Senin, 10 Agustus 2026

Len Industri akan Boyong Standar Rekayasa Sistem Pertahanan ke Ekosistem EV

  PT Len Industri mengadaptasi rekayasa sistem pertahanan untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik nasional, memastikan integrasi dan keandalan tinggi. (dok PT LEN)

PT Len Industri (Persero) berencana mengadaptasi kompetensi rekayasa sistem (systems engineering) yang selama ini digunakan dalam proyek strategis dan sistem mission-critical untuk mendukung pengembangan ekosistem mobilitas listrik nasional.

Sebagai induk holding BUMN industri pertahanan DEFEND ID, Len menyebut pengalaman mengintegrasikan berbagai teknologi dengan tuntutan keselamatan dan keandalan tinggi dapat menjadi acuan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang lebih terintegrasi.

Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan mengatakan tantangan dalam modernisasi infrastruktur nasional saat ini salah satunya adalah fragmentasi sistem.

Menurutnya, peran system integrator diperlukan untuk mengelola kompleksitas tersebut melalui penerapan systems engineering yang disiplin.

“Tantangan utama dalam modernisasi infrastruktur nasional adalah fragmentasi sistem. Sebagai System Integrator, peran kami adalah mengelola kompleksitas tersebut melalui disiplin systems engineering yang ketat,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (10/8/2026).

Len menyatakan kompetensi tersebut telah diterapkan dalam sejumlah proyek strategis nasional yang membutuhkan tingkat presisi, otomatisasi, dan keandalan operasional tinggi.

Pengalaman tersebut antara lain mencakup integrasi sistem Command, Control, Communication, Computer, and Intelligence (C4I) di sektor pertahanan serta pengelolaan sistem kelistrikan pada proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala nasional.

Menurut Len, pendekatan systems engineering tidak hanya berorientasi pada pemenuhan spesifikasi teknis.

Metodologi tersebut mencakup integrasi berbagai komponen agar dapat bekerja secara harmonis, termasuk sinkronisasi sensor, pengambilan keputusan secara real-time, serta aspek keselamatan.

Joga mengatakan pengalaman Len dalam membangun sistem dengan tuntutan keandalan tinggi menjadi fondasi untuk mendukung modernisasi mobilitas dan infrastruktur energi nasional.

“Dari pengalaman puluhan tahun mengintegrasikan sistem teknologi pertahanan dan infrastruktur kritikal dengan toleransi kesalahan nol [zero-error], kami membawa standar keselamatan dan keandalan tertinggi untuk memastikan bahwa seluruh ekosistem teknologi Indonesia, mulai dari manajemen daya hingga konektivitas data, dapat beroperasi secara akuntabel dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.

 Ekosistem Kendaraan Listrik

Len selanjutnya akan membawa standar tersebut sebagai referensi desain dalam pengembangan ekosistem mobilitas listrik.

Penerapannya mencakup integrasi manufaktur komponen, jaringan pengisian daya, hingga sistem pelayanan purnajual kendaraan listrik.

Perusahaan menilai integrasi antarkomponen menjadi penting seiring berkembangnya ekosistem kendaraan listrik yang tidak hanya bergantung pada kendaraan, tetapi juga infrastruktur pengisian daya dan sistem manajemen energi.

Dengan pendekatan tersebut, Len ingin memastikan berbagai komponen dalam ekosistem kendaraan listrik dapat beroperasi dengan standar keselamatan dan keandalan yang terintegrasi.

Systems Engineering juga dinilai dapat menjadi pendekatan untuk menghubungkan aspek teknologi, energi, dan konektivitas data dalam satu ekosistem.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Len memperluas kompetensi sebagai system integrator dari sektor pertahanan ke sektor strategis lainnya.

Perusahaan menyebut pengalaman mengelola sistem mission-critical dapat dimanfaatkan untuk mendukung transformasi digital dan energi nasional.

Len menargetkan penerapan standar rekayasa sistem tersebut dapat membantu membangun ekosistem mobilitas listrik nasional yang lebih aman, terstandarisasi, dan berkelanjutan.

  👷 
Bisnis  

Sabtu, 18 Juli 2026

Len Perkuat Kapabilitas Ground Control Interception Radar

🛰 Untuk Mendukung Kesiapsiagaan Pertahanan Udara Nasional📡 Radar Hanud TNI AU (LEN)

PT Len Industri (Persero) terus memperkuat kapabilitas teknologi pertahanan udara nasional melalui implementasi Ground Control Interception (GCI) Radar, sebuah sistem radar generasi terkini yang dirancang untuk mendukung kemampuan pengawasan ruang udara dan Ground Control Intercept secara terintegrasi.

PT Len Industri (Persero) menerima kunjungan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sebagai bagian dari kegiatan company visit. Dalam kesempatan tersebut, Len memperkenalkan berbagai kapabilitas teknologi strategis yang dimiliki perusahaan, termasuk Radar Ground Control Intercept (GCI) yang saat ini tengah diimplementasikan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Direksi PT Len Industri (Persero) dan PT Pefindo sebagai bentuk pengenalan kompetensi Len dalam mengembangkan teknologi pertahanan nasional.

Radar GCI ini merupakan implementasi pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi terkini untuk mendukung kemampuan air surveillance dan Ground Control Intercept. Sistem ini dirancang untuk menghadirkan pengawasan ruang udara yang lebih efektif, meningkatkan situational awareness secara komprehensif, serta memperkuat pengendalian operasi pertahanan udara melalui penyajian informasi yang cepat, akurat, dan terintegrasi.

Dari sisi kapabilitas, Radar GCI memiliki kemampuan deteksi hingga 515 kilometer, update rate setiap 6 detik, serta fast time to target, sehingga mampu menyajikan informasi situasional secara real-time untuk mendukung pengambilan keputusan operasional yang cepat dan presisi. Keunggulan tersebut diperkuat melalui teknologi stacked beam yang meningkatkan efektivitas deteksi terhadap berbagai objek udara dalam beragam kondisi operasi.

Selain unggul dari sisi performa, Radar GCI juga dirancang dengan konsep mobilitas tinggi melalui konfigurasi ISO Container 20 feet dan kemampuan fast deployment, sehingga sistem dapat dipindahkan serta dioperasikan secara cepat sesuai kebutuhan operasi di berbagai wilayah.

Di balik keandalan sistem Radar GCI, terdapat kolaborasi puluhan engineer PT Len Industri (Persero) dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sipil, elektro, radio frequency (RF), jaringan, perangkat lunak, hingga mekanik. Bersama-sama, mereka mengawal setiap tahapan, mulai dari pembangunan site, instalasi, integrasi, pengujian, hingga memastikan radar siap beroperasi secara optimal.

Dalam operasionalnya, Radar GCI juga terintegrasi dengan sistem pertahanan udara TNI Angkatan Udara sehingga informasi pengawasan dapat diterima secara cepat untuk mendukung pengendalian operasi pertahanan udara.

Melalui penguasaan teknologi radar, kemampuan integrasi sistem, implementasi, pengawalan operasional, hingga dukungan pemeliharaan, PT Len Industri (Persero) terus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Implementasi Radar GCI menjadi salah satu wujud nyata komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi pertahanan udara yang modern, terintegrasi, dan andal, sekaligus memperkuat posisi Len sebagai perusahaan teknologi pertahanan nasional yang mendukung terwujudnya Indonesia yang berdaulat.
 

  📡
LEN  

Kamis, 16 Juli 2026

PT Len Industri (Persero) Perkuat Hilirisasi Mineral dan Pasok Alutsista

  Melalui Pengembangan Advanced Materials CMS AXYS LEN telah banyak digunakan KRI TNI AL (LEN)

PT Len Industri (Persero) menegaskan komitmennya dalam memperkuat hilirisasi industri nasional melalui pengembangan advanced materials sebagai fondasi lahirnya produk-produk teknologi strategis bernilai tambah tinggi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang berlangsung di Auditorium Wisma Danantara, Jakarta, pada 9–10 Juli 2026, sekaligus penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) (MIND ID), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (PERMINAS).

Forum yang diselenggarakan Danantara tersebut mempertemukan kementerian, BUMN, pelaku industri, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem advanced materials nasional. Melalui kolaborasi lintas sektor, forum ini mendorong percepatan hilirisasi mineral agar tidak berhenti pada pengolahan bahan baku, tetapi berkembang menjadi material maju dan produk teknologi bernilai tambah tinggi yang mampu memperkuat daya saing industri nasional.

Sebagai induk Holding Industri Pertahanan DEFEND ID, PT Len Industri (Persero) memanfaatkan forum ini untuk menunjukkan implementasi nyata advanced materials melalui berbagai teknologi strategis yang telah dikembangkan perusahaan. Produk yang dipamerkan meliputi Combat Management System (CMS), Radar Multimission, Ground Control Station (GCS) & AUTACS, Night Vision Goggle (NVG), Laser Point, serta kendaraan taktis listrik SPRINT. Beragam inovasi tersebut menunjukkan bagaimana hasil hilirisasi material dapat diwujudkan menjadi sistem teknologi yang mendukung sektor pertahanan, keamanan, maupun industri nasional.

Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., yang menjadi pembicara dalam sesi dialog, menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi harus diukur dari kemampuan menghasilkan produk teknologi yang berdampak bagi perekonomian nasional.

“Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan mineral tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi mampu diolah menjadi material maju yang melahirkan produk-produk teknologi bernilai tinggi. Di sinilah kolaborasi pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset menjadi kunci untuk membangun ekosistem advanced materials yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Joga.

Ia menjelaskan bahwa sebagai induk Holding Industri Pertahanan DEFEND ID, Len bersama PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dahana terus mengembangkan berbagai solusi teknologi berbasis elektronika, komunikasi, radar, energi, transportasi, kemaritiman, dan transformasi digital. Berbagai pengembangan tersebut tidak hanya mendukung kebutuhan pertahanan negara, tetapi juga memberikan manfaat bagi sektor sipil melalui penerapan dual-use technology.

  👷 
LEN  

Selasa, 02 Juni 2026

Kesepakatan Rp 61 Triliun dari Prancis

🛰 Salah satunya bangun pabrik radar📡 (Bakom.ri)

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari memaparkan sejumlah hasil kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis yang menghasilkan kesepakatan bisnis dan investasi senilai US$ 3,5 miliar atau sekitar Rp 61,25 triliun.

Menurut Qodari, kunjungan tersebut sejak awal diarahkan untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Prancis melalui kerja sama konkret di sektor pertahanan, pendidikan, energi, dan pengembangan mineral kritis.

"Jadwal resmi memang hanya ke Prancis," kata Qodari dalam konferensi pers PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Jakarta, seperti dikutip CNNIndonesia.

Ia menjelaskan lawatan itu merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada 2025.

Qodari mengatakan pemerintah sebelumnya telah menetapkan sejumlah target kerja sama yang ingin dicapai selama kunjungan tersebut, termasuk penguatan sektor pertahanan melalui transfer teknologi.

"Yang pertama adalah di bidang ketahanan, karena kita semua tahu bahwa pemerintah Indonesia telah memperoleh sejumlah alat utama sistem persenjataan atau alutsista dari Prancis. Karena itu diperlukan transfer teknologi untuk penguasaan alutsista tersebut," ujarnya.

Selain pertahanan, pemerintah juga mendorong penguatan kerja sama pendidikan, khususnya di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).

"Jadi tidak sebatas membeli saja, tapi juga melakukan transfer teknologi," kata Qodari. Dari rangkaian pertemuan tersebut, Indonesia dan Prancis menyepakati sejumlah kerja sama strategis.

Berikut rinciannya,

 1.Kadin dan MEDEF Bentuk Dewan Bisnis

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama MEDEF International meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC). Forum tersebut akan menjadi wadah dialog tingkat tinggi antara pelaku usaha kedua negara untuk memperkuat investasi dan perdagangan bilateral. Melalui FI-HLBC, kedua negara menargetkan peningkatan nilai perdagangan hingga tiga kali lipat pada 2035 dari posisi saat ini sebesar US$ 2,6 miliar.

 2.Pertamina Gandeng Schlumberger.

PT Pertamina menandatangani kerja sama dengan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara untuk pengembangan teknologi migas dan energi bersih. Kolaborasi tersebut mencakup penerapan enhanced oil recovery (EOR), pengembangan migas nonkonvensional, digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta program penurunan emisi melalui carbon capture and storage (CCS), efisiensi energi, dan pengembangan panas bumi.

 3.Perluas Kemitraan dengan TotalEnergies.

Pertamina juga memperluas kerja sama dengan perusahaan energi Prancis, TotalEnergies. Kesepakatan tersebut mencakup sektor hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, hingga pengembangan bisnis rendah karbon. Kedua perusahaan juga akan menjajaki proyek kilang hijau, CCS/CCUS, dan berbagai pengembangan energi masa depan.

 4.Danantara-Thales Bangun Pabrik Radar.

Di sektor pertahanan, Danantara melalui PT Len Industri memvalidasi Letter of Intent (LoI) dengan perusahaan pertahanan Prancis, Thales. Kesepakatan itu mencakup rencana pembangunan pabrik radar "Made in Indonesia", pengembangan tactical data link, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, serta program pelatihan radar. (DH)
 

  📡
IDN Financials  

Jumat, 29 Mei 2026

Laba Bersih BUMN Industri Pertahanan Melonjak 430 %

 👷 💰  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEia519IVCSEIsIIkRG4DQSKhu37pvsZ2BjqCFRCVq4oRsZBaIw3tlbgA6FqsenAwyRhjqn2gZ8YE2-HK-clkTGDhBC51y-dYZuGd3ry37tOGiJtpMx2gPHCc2DzlUUIGqM-ZC_yxLSdmoDlUev5TsxXZATMBPOgQ1khfAHR-jSGOXH5gTuHgdgiYiVjJho/s1026/FB_IMG_1776325613789.jpgIlustrasi kapal produksi PAL (PAL)

DEFEND ID mencetak kinerja gemilang. Holding BUMN industri pertahanan itu, membukukan lonjakan laba bersih konsolidasian sebesar 430,1 persen pada tahun buku 2025 dengan nilai mencapai Rp 913,05 miliar.

Data yang ada menunjukkan pertumbuhan eksponensial dari laba tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 172,24 miliar ini dipicu oleh efisiensi operasional dan optimalisasi proyek strategis nasional.

Direktur Utama Len Industri DEFEND ID Joga Dharma Setiawan menyampaikan hal tersebut dalam keterangan yang dikutip Kamis (28/5/2026).

Capaian performa keuangan tersebut resmi ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) tahun buku 2025 di Bandung, Selasa (26/5/2026). Rapat dihadiri Badan Pengelola (BP) BUMN dan PT Danantara Asset Management selaku pemegang saham.

Sepanjang 2025, holding yang mengintegrasikan kapabilitas industri matra darat, laut, udara, amunisi, hingga elektronika pertahanan ini mengantongi total nilai kontrak raksasa sebesar Rp 113,85 triliun.

Jumlah tersebut ditopang oleh kontrak bawaan (carry over) senilai Rp 94,78 triliun dan perolehan kontrak baru sebesar Rp 19,07 triliun.

Bagusnya, struktur fundamental perusahaan juga mencatatkan penguatan signifikan. Nilai aset DEFEND ID melonjak 18,3 persen menjadi Rp 66,05 triliun, diiringi pertumbuhan ekuitas sebesar 8,2 persen ke angka Rp 15,23 triliun.

 Tingkat Kesehatan Keuangan Kategori BBB+

Sementara itu, berdasarkan hasil evaluasi, tingkat kesehatan keuangan holding berada pada kategori BBB+ dengan pendapatan usaha riil menyentuh Rp 20,71 triliun.

Kekuatan manufaktur holding ini didukung penuh oleh 11.022 sumber daya manusia, dengan porsi lebih dari 60 persen ditempatkan khusus di bidang produksi dan teknis (engineering).

Menyikapi tren positif ini, PT Len Industri (Persero) DEFEND ID menegaskan arah baru korporasi melalui cetak biru "Astacita Len Industri".

Fokus tersebut diarahkan pada penguasaan delapan teknologi masa depan, meliputi kecerdasan buatan (artificial intelligence), semikonduktor, sistem komando dan kendali (command & control system), radar, perang elektronik, siber, satelit, elektro-optik, hingga sistem otonom (autonomous system).

Joga Dharma Setiawan menyampaikan bahwa capaian perusahaan sepanjang tahun 2025 menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi Len sebagai perusahaan teknologi strategis nasional.

"Kinerja positif yang berhasil dicapai pada tahun 2025 merupakan hasil dari transformasi bisnis, penguatan sinergi ekosistem industri pertahanan, serta komitmen seluruh insan perusahaan dalam mendorong kemandirian teknologi nasional," kata Yoga Dharma Setiawan.

  ⍟ Emiten News  

Minggu, 24 Mei 2026

Kemampuan Link PT Len Meningkat karena Bisa Terhubung Antarpesawat Tempur TNI AU

 Berkat “Offset” Rafale Link ID dari PT Len (infographic: Len)

Kemampuan PT Len Industri (Persero) dalam hal interoperabilitas meningkat berkat pengadaan 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation, Prancis.

Interoperabilitas merupakan kemampuan berbagai sistem, perangkat, atau aplikasi yang berbeda untuk berkomunikasi, bertukar data, dan menggunakan informasi tersebut dalam militer.

Sebelumnya, kemampuan link dari PT Len hanya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat
surveillance atau patroli.

Setelah ini, interoperabilitas Link ID yang dimiliki PT Len bisa terhubung ke komunikasi antarpesawat tempur TNI Angkatan Udara.

Sepasang Rafale TNI AU (Skuadron 12)

“Kemampuan Link ID yang dimiliki Len sebelumnya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat surveillance. Ke depan, kemampuan tersebut akan berkembang hingga mampu mendukung komunikasi data link antarpesawat tempur, sehingga memperkuat integrasi sistem pertahanan udara nasional secara lebih menyeluruh,” tulis siaran pers PT Len, dikutip Rabu (20/5).

Peningkatan kemampuan interoperabilitas ini merupakan bagian dari program training
offset jet tempur Rafale.

Offset
merupakan kewajiban produsen senjata asing, dalam hal ini Dassault Aviation, untuk memberikan kompensasi atau investasi timbal balik seperti alih teknologi, produksi lokal suku cadang, atau pelatihan kepada negara pembeli.

“
Momentum ini juga menegaskan peran strategis PT Len Industri (Persero) sebagai induk holding industri pertahanan DEFEND ID dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguasaan teknologi dan penguatan interoperabilitas antarsistem pertahanan,” kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan dalam keterangannya..

  ★  
IDM  

Selasa, 19 Mei 2026

Radar GCI Buatan Bandung Perkuat Sistem Pertahanan Udara RI

🛰 LEN Industri📡 Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional. (antara)

Radar Ground Control Intercept (GCI) buatan PT Len Industri Bandung resmi mulai dioperasikan sebagai bagian dari penguatan sistem pengawasan udara nasional Indonesia, Senin (18/5/2026).

Radar ini merupakan unit kedua dari total 13 sistem radar yang disiapkan pemerintah untuk memperkuat pertahanan udara.

Peresmian dan pengoperasian radar tersebut dilakukan dalam rangka penyerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis nasional dari Kementerian Pertahanan kepada TNI di Apron Pandawa, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang turut disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa penambahan alutsista ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat daya tangkal atau deterrent pertahanan nasional.

"Kita ingin memastikan keamanan wilayah udara, laut, dan daratan Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pertahanan yang kuat adalah syarat utama menjaga stabilitas dan kedaulatan bangsa," ujar Prabowo dalam keterangan resmi di Bandung.

Radar GCI tersebut dirancang untuk memperkuat sistem pengawasan udara nasional melalui kemampuan deteksi dini serta pengendalian intersepsi yang terintegrasi.

Penyerahan sistem radar dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT Len Industri, Joga Dharma Setiawan, yang didampingi Direktur Bisnis & Kerja Sama Irwan Ibrahim.

Joga menyebut pengoperasian Radar GCI menjadi bukti nyata kontribusi industri pertahanan dalam negeri dalam memperkuat sistem pertahanan nasional yang modern dan terintegrasi.

"Radar GCI ini tidak hanya memperkuat kemampuan pengawasan ruang udara nasional, tetapi juga menunjukkan kemampuan industri dalam negeri dalam menguasai teknologi strategis pertahanan. Kami berkomitmen terus mendukung interoperabilitas sistem pertahanan nasional melalui pengembangan teknologi yang andal dan berkelanjutan," kata Joga.

Selain penguatan sistem radar, program modernisasi pertahanan juga mencakup pengadaan pesawat tempur Rafale yang turut meningkatkan kemampuan interoperabilitas komunikasi dan data link melalui program pelatihan dan offset industri pertahanan.

Sebelumnya, teknologi Link ID yang dikembangkan PT Len difokuskan untuk komunikasi antar kapal perang dan pesawat surveillance. Ke depan, teknologi ini akan dikembangkan untuk mendukung komunikasi data link antar pesawat tempur guna memperkuat integrasi sistem pertahanan udara nasional.

Selain Radar GCI dan Rafale, penyerahan alutsista strategis nasional pada hari yang sama juga mencakup sejumlah platform pertahanan modern seperti A400M MRTT, Falcon 8X, Meteor, dan Hammer. Seluruh perangkat tersebut diharapkan memperkuat kesiapan operasional TNI dalam menghadapi dinamika ancaman global di masa mendatang.
 

  📡
Harian Jogja  

Sabtu, 25 April 2026

Inggris-Indonesia Sepakati Kerja Sama Strategis di Bidang Pertahanan Maritim hingga Pendidikan

KRI BPD 322 frigate pertama PAL, hasil kerjasama Babcock (PAL)

Perusahaan pertahanan Inggris, Babcock International Group (Babcock), bersama Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Kamar Dagang Inggris (Britcham), dan para mitra di Indonesia meluncurkan Maritime Partnership Programme (MPP).

Ini merupakan sebuah kesepakatan strategis guna memperdalam kerja sama Inggris–Indonesia di bidang pertahanan maritim, perikanan, kapabilitas industri, serta pengembangan keterampilan.

Chief Executive Babcock, David Lockwood OBE mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis utama bagi Babcock.

"Kemitraan ini akan mewujudkan komitmen tersebut, dan kami menantikan kelanjutan hubungan yang kuat dan berkelanjutan," kata David di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey CVO OBE, mengatakan bahwa Maritime Partnership Programme memberikan manfaat nyata bagi masyarakat berupa lapangan kerja, peluang, dan pertumbuhan.

Program ini mencerminkan komitmen bersama Inggris dan Indonesia terhadap stabilitas dan kemakmuran di Indo-Pasifik, menjunjung tinggi kebebasan navigasi serta mendukung tatanan internasional berbasis aturan.

"Melalui program ini, kita bersama-sama memperkuat ketahanan maritim, mendukung industri, dan membuka peluang yang lebih luas bagi generasi pemimpin Indonesia berikutnya. Kemitraan ini dibangun atas ambisi bersama danakan memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan Inggris. Diplomasi, kolaborasi, dan prestasi!" ujarnya.

Ketua Kamar Dagang Inggris di Indonesia, Ian Betts, menyambut baik peluncuran UK–Indonesia Maritime Partnership Programme. Menurutnya program tersebut menjadi tonggak penting dalam memperdalam hubungan ekonomi dan industri antara kedua negara.

Ian menambahkan, Investasi Babcock, termasuk perannya dalam memperkuat kapabilitas fregat Indonesia melalui program Arrowhead 140, menunjukkan kuatnya keahlian maritim Inggris sekaligus komitmen jangka panjang terhadap ambisi maritim Indonesia.

Kemitraan tersebut dinilai melampaui sektor pertahanan, dengan mendorong pengembangan industri lokal, transfer keterampilan, serta pertumbuhan ekosistem maritim yang lebih luas di Indonesia. Hal ini mencerminkan visi bersama untuk infrastruktur maritim yang tangguh, berkelanjutan, dan aman di kawasan Indo-Pasifik.

Peluncuran Maritime Partnership Programme turut dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Inggris untuk Aviasi, Maritim, dan Dekarbonisasi Keir Mather, Chief Executive Babcock David Lockwood OBE, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey CVO OBE, serta perwakilan sektor bisnis, pejabat pemerintah senior, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Babcock diketahui menandatangani empat Nota Kesepahaman (MoU) strategis dengan universitas-universitas terkemuka, mitra industri, dan pemangku kepentingan utama dari program MPP. MoU ini mencakup pengembangan tenaga kerja, pendidikan, beasiswa, serta kapabilitas industri guna mendukung tujuan maritim Indonesia dan implementasi MPP.

Salah satu MoU yang ditandatangani yakni terkait Beasiswa Chevening. Babcock berkomitmen mendanai total 30 beasiswa Chevening Pemerintah Inggris bagi mahasiswa Indonesia, yang akan diberikan secara bertahap selama periode tiga tahun untuk mendukung calon pemimpin masa depan di sektor maritim dan industri.

Selain itu, Babcock juga menyepakati kemitraan dengan enam universitas di Inggris dan Indonesia untuk memperkuat kapasitas pendidikan dan keterampilan maritim yang selaras dengan prioritas MPP, membuka peluang pendidikan, penelitian, dan inovasi.

Konsorsium ini terdiri dari Newcastle University, University of Strathclyde, University of Edinburgh, University of Glasgow, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Selain itu Babcock dan PT Len Industri juga sepakat berkolaborasi dalam pengembangan teknologi angkatan laut dan maritim, termasuk potensi pemanfaatan fasilitas DEFEND ID.

Kemudian Babcock juga menjajaki kerja sama pembuatan kapal dengan PT Citra Shipyard, pengembangan keterampilan, transfer teknologi, dan rantai pasok.

MoU tersebut juga mencerminkan strategi yang terarah untuk berinvestasi di seluruh spektrum pembangunan maritim Indonesia, serta melanjutkan kesepakatan maritim senilai £4 miliar antara Inggris dan Indonesia yang ditandatangani pada November 2025.

Inisiatif ini juga memperkuat komitmen Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Sir Keir Starmer di London pada 20 Januari 2026.

  📝  Investor Trust  

Kamis, 12 Maret 2026

LEN Pamerkan CMS Mandhala Mk2 & TDL Link ID

 👷 Dengan TKDN yang tinggi PT Len Industri memamerkan teknologi Combat Management System (CMS) Mandhala Mk2 di hadapan Kementerian Pertahanan di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (ANTARA/HO PT Len)

PT Len Industri memamerkan teknologi Combat Management System (CMS) Mandhala Mk2, sebuah sistem cerdas yang bertindak sebagai "otak" pengendali sistem tempur kapal perang TNI Angkatan Laut pada Kementerian Pertahanan.

Peragaan teknologi inti ini, langsung dilihat oleh Kepala Badan Logistik Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Marsdya TNI Yusuf Jauhari di Jakarta, sebagai bagian dari upaya modernisasi alutsista berbasis inovasi anak bangsa.

"Pengembangan teknologi CMS, NDDU (Navigation Data Distribution Unit), dan TDL (Tactical Data Link) ini merupakan bagian dari komitmen Len untuk mendukung modernisasi alutsista sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional," kata Direktur Utama Len Joga Dharma Setiawan dalam keterangan di Bandung, Rabu.

CMS Mandhala Mk2 berfungsi mengintegrasikan seluruh instrumen mulai dari sensor, radar, sistem komunikasi, navigasi, hingga persenjataan ke dalam satu platform terpadu. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan taktis dilakukan secara real time di tengah palagan operasi tempur.

Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemenhan RI Marsdya TNI Yusuf Jauhari menilai demonstrasi ini menjadi bukti nyata kemajuan teknologi pertahanan yang dikelola oleh engineer lokal.

"Forum seperti ini sangat penting karena memberikan ruang bagi industri pertahanan nasional untuk menunjukkan kemajuan teknologi yang telah dicapai. Kami juga mengapresiasi industri, termasuk Len, yang telah membuka ruang bagi para engineer Indonesia untuk berkarya dan berinovasi," kata Yusuf.

Selain "otak" kapal, Len juga memperkenalkan Tactical Data Link (TDL) LINK ID. Teknologi ini menjadi jembatan komunikasi data taktis antarplatform militer, mulai dari kapal perang, pesawat, hingga kendaraan tempur, guna mendukung operasi gabungan lintas matra yang lebih aman dan efektif.

Untuk urusan akurasi posisi, raksasa pertahanan ini menyiagakan Navigation Data Distribution Unit (NDDU) CENTRINAV. Alat ini berfungsi memastikan seluruh sistem di kapal, termasuk persenjataan dan radar surveilans, beroperasi secara sinkron dengan tingkat akurasi data navigasi yang tinggi.

Joga menambahkan bahwa seluruh produk ini dirancang dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi serta jaminan layanan purna jual domestik.

"Kami terus mengembangkan teknologi yang mampu mengintegrasikan sensor, komunikasi, navigasi, hingga sistem persenjataan dalam satu sistem terpadu, sehingga dapat meningkatkan efektivitas operasi militer," tutur Joga.

  👷 
antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...