Tampilkan postingan dengan label LEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LEN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2026

Inggris-Indonesia Sepakati Kerja Sama Strategis di Bidang Pertahanan Maritim hingga Pendidikan

KRI BPD 322 frigate pertama PAL, hasil kerjasama Babcock (PAL)

Perusahaan pertahanan Inggris, Babcock International Group (Babcock), bersama Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Kamar Dagang Inggris (Britcham), dan para mitra di Indonesia meluncurkan Maritime Partnership Programme (MPP).

Ini merupakan sebuah kesepakatan strategis guna memperdalam kerja sama Inggris–Indonesia di bidang pertahanan maritim, perikanan, kapabilitas industri, serta pengembangan keterampilan.

Chief Executive Babcock, David Lockwood OBE mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis utama bagi Babcock.

"Kemitraan ini akan mewujudkan komitmen tersebut, dan kami menantikan kelanjutan hubungan yang kuat dan berkelanjutan," kata David di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey CVO OBE, mengatakan bahwa Maritime Partnership Programme memberikan manfaat nyata bagi masyarakat berupa lapangan kerja, peluang, dan pertumbuhan.

Program ini mencerminkan komitmen bersama Inggris dan Indonesia terhadap stabilitas dan kemakmuran di Indo-Pasifik, menjunjung tinggi kebebasan navigasi serta mendukung tatanan internasional berbasis aturan.

"Melalui program ini, kita bersama-sama memperkuat ketahanan maritim, mendukung industri, dan membuka peluang yang lebih luas bagi generasi pemimpin Indonesia berikutnya. Kemitraan ini dibangun atas ambisi bersama danakan memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan Inggris. Diplomasi, kolaborasi, dan prestasi!" ujarnya.

Ketua Kamar Dagang Inggris di Indonesia, Ian Betts, menyambut baik peluncuran UK–Indonesia Maritime Partnership Programme. Menurutnya program tersebut menjadi tonggak penting dalam memperdalam hubungan ekonomi dan industri antara kedua negara.

Ian menambahkan, Investasi Babcock, termasuk perannya dalam memperkuat kapabilitas fregat Indonesia melalui program Arrowhead 140, menunjukkan kuatnya keahlian maritim Inggris sekaligus komitmen jangka panjang terhadap ambisi maritim Indonesia.

Kemitraan tersebut dinilai melampaui sektor pertahanan, dengan mendorong pengembangan industri lokal, transfer keterampilan, serta pertumbuhan ekosistem maritim yang lebih luas di Indonesia. Hal ini mencerminkan visi bersama untuk infrastruktur maritim yang tangguh, berkelanjutan, dan aman di kawasan Indo-Pasifik.

Peluncuran Maritime Partnership Programme turut dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Inggris untuk Aviasi, Maritim, dan Dekarbonisasi Keir Mather, Chief Executive Babcock David Lockwood OBE, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey CVO OBE, serta perwakilan sektor bisnis, pejabat pemerintah senior, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Babcock diketahui menandatangani empat Nota Kesepahaman (MoU) strategis dengan universitas-universitas terkemuka, mitra industri, dan pemangku kepentingan utama dari program MPP. MoU ini mencakup pengembangan tenaga kerja, pendidikan, beasiswa, serta kapabilitas industri guna mendukung tujuan maritim Indonesia dan implementasi MPP.

Salah satu MoU yang ditandatangani yakni terkait Beasiswa Chevening. Babcock berkomitmen mendanai total 30 beasiswa Chevening Pemerintah Inggris bagi mahasiswa Indonesia, yang akan diberikan secara bertahap selama periode tiga tahun untuk mendukung calon pemimpin masa depan di sektor maritim dan industri.

Selain itu, Babcock juga menyepakati kemitraan dengan enam universitas di Inggris dan Indonesia untuk memperkuat kapasitas pendidikan dan keterampilan maritim yang selaras dengan prioritas MPP, membuka peluang pendidikan, penelitian, dan inovasi.

Konsorsium ini terdiri dari Newcastle University, University of Strathclyde, University of Edinburgh, University of Glasgow, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Selain itu Babcock dan PT Len Industri juga sepakat berkolaborasi dalam pengembangan teknologi angkatan laut dan maritim, termasuk potensi pemanfaatan fasilitas DEFEND ID.

Kemudian Babcock juga menjajaki kerja sama pembuatan kapal dengan PT Citra Shipyard, pengembangan keterampilan, transfer teknologi, dan rantai pasok.

MoU tersebut juga mencerminkan strategi yang terarah untuk berinvestasi di seluruh spektrum pembangunan maritim Indonesia, serta melanjutkan kesepakatan maritim senilai £4 miliar antara Inggris dan Indonesia yang ditandatangani pada November 2025.

Inisiatif ini juga memperkuat komitmen Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Sir Keir Starmer di London pada 20 Januari 2026.

  📝  Investor Trust  

Kamis, 12 Maret 2026

LEN Pamerkan CMS Mandhala Mk2 & TDL Link ID

 👷 Dengan TKDN yang tinggi PT Len Industri memamerkan teknologi Combat Management System (CMS) Mandhala Mk2 di hadapan Kementerian Pertahanan di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (ANTARA/HO PT Len)

PT Len Industri memamerkan teknologi Combat Management System (CMS) Mandhala Mk2, sebuah sistem cerdas yang bertindak sebagai "otak" pengendali sistem tempur kapal perang TNI Angkatan Laut pada Kementerian Pertahanan.

Peragaan teknologi inti ini, langsung dilihat oleh Kepala Badan Logistik Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Marsdya TNI Yusuf Jauhari di Jakarta, sebagai bagian dari upaya modernisasi alutsista berbasis inovasi anak bangsa.

"Pengembangan teknologi CMS, NDDU (Navigation Data Distribution Unit), dan TDL (Tactical Data Link) ini merupakan bagian dari komitmen Len untuk mendukung modernisasi alutsista sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional," kata Direktur Utama Len Joga Dharma Setiawan dalam keterangan di Bandung, Rabu.

CMS Mandhala Mk2 berfungsi mengintegrasikan seluruh instrumen mulai dari sensor, radar, sistem komunikasi, navigasi, hingga persenjataan ke dalam satu platform terpadu. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan taktis dilakukan secara real time di tengah palagan operasi tempur.

Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemenhan RI Marsdya TNI Yusuf Jauhari menilai demonstrasi ini menjadi bukti nyata kemajuan teknologi pertahanan yang dikelola oleh engineer lokal.

"Forum seperti ini sangat penting karena memberikan ruang bagi industri pertahanan nasional untuk menunjukkan kemajuan teknologi yang telah dicapai. Kami juga mengapresiasi industri, termasuk Len, yang telah membuka ruang bagi para engineer Indonesia untuk berkarya dan berinovasi," kata Yusuf.

Selain "otak" kapal, Len juga memperkenalkan Tactical Data Link (TDL) LINK ID. Teknologi ini menjadi jembatan komunikasi data taktis antarplatform militer, mulai dari kapal perang, pesawat, hingga kendaraan tempur, guna mendukung operasi gabungan lintas matra yang lebih aman dan efektif.

Untuk urusan akurasi posisi, raksasa pertahanan ini menyiagakan Navigation Data Distribution Unit (NDDU) CENTRINAV. Alat ini berfungsi memastikan seluruh sistem di kapal, termasuk persenjataan dan radar surveilans, beroperasi secara sinkron dengan tingkat akurasi data navigasi yang tinggi.

Joga menambahkan bahwa seluruh produk ini dirancang dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi serta jaminan layanan purna jual domestik.

"Kami terus mengembangkan teknologi yang mampu mengintegrasikan sensor, komunikasi, navigasi, hingga sistem persenjataan dalam satu sistem terpadu, sehingga dapat meningkatkan efektivitas operasi militer," tutur Joga.

  👷 
antara  

Sabtu, 14 Februari 2026

Defend ID Bakal Serap Rp 30 Triliun

  Untuk modernisasi alutsista di 2026 (Defend.id)

PT Len Industri (Persero)/ Defend ID, holding BUMN industri pertahanan memproyeksikan menyerap Rp 30 triliun di tahun 2026 untuk pengembangan alat utama sistem senjata (Alutista).

Sebagai informasi, pemerintah mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar Rp 337 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah postur fiskal Indonesia.

Direktur Utama PT Len Industri, Joga Dharma Setiawan mengatakan sebagian dari anggaran tersebut akan digunakan untuk modernisasi alutsista, peningkatan kapasitas fasilitas pendukung produksi, research & inovation, dan skema spend to invest untuk kemandirian industri pertahanan.

Dia menyebut bahwa anggaran modernisasi alutsista 2026 berada dalam kerangka Kementerian Pertahanan yang telah disetujui Rp 187,1 triliun dengan arahan pemanfaatan untuk modernisasi alutsista, penguatan organisasi, personel, serta dukungan industri nasional.

"Dalam konteks modernisasi alutsista Defend ID menargetkan kurang lebih Rp30 triliun di tahun 2026," katanya kepada Bisnis, Rabu (11/2/2026).

Di sisi lain, dalam rapat bersama Komisi VI, Joga membahas mengenai kinerja operasional dan keuangan BUMN industri pertahanan, rencana kerja dan roadmap industri pertahanan, riset dan pengembangan, serta kolaborasi antar ekosistem industri pertahanan.

Joga menjelaskan bahwa Defend ID akan memanfaatkan 30% dari anggaran tersebut yang digunakan untuk pengembangan peralatan dan investasi.

"Mungkin Defend ID di 30-an persen gitu. Tapi itu bukan untuk peralatan semuanya, ya. Itu termasuk untuk investasi," tuturnya.

Joga menegaskan akan menggunakan komponen dalam negeri agar menekan ketergantungan produk luar negeri atau impor. Nantinya Defend ID menunjang sekitar 60%-70% kebutuhan Kementerian Pertahanan.

"Jadi memang kita harus buat sendiri. Jadi tadi didukung kita memang harus buat sendiri. Misalnya untuk amunisi, propelannya harus kita buat sendiri," terangnya.

Joga menyampaikan guna memaksimalkan penggunaan komponen dalam negeri, Defend ID merencanakan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara intens.

Sebab, kata Joga, BRIN juga fokus melakukan riset di sektor pertahanan, tidak hanya di bidang energi hingga kesehatan.

"Strategi ke depannya kita harus lebih komprehensif pengembangan sumber daya manusia dan lebih banyak kolaborasi dengan BRIN. Karena BRIN sekarang mendukung kuat untuk preset-presetnya untuk pengembangan industri pertahanan," tandasnya..

  👷 
Bisnis  

Senin, 09 Februari 2026

BRIN dan PT LEN Kembangkan Teknologi NVG dan Thermal Imaging

(LEN)

Melalui BRIN Goes to Industry, Len - BRIN berupaya untuk mempercepat riset, pengembangan, dan hilirisasi teknologi agar siap dimanfaatkan oleh industri strategis nasional.

Salah satunya adalah Teknologi NVG dan Thermal Imaging yang merupakan komponen krusial dalam operasi pertahanan, keamanan, dan perlindungan wilayah strategis Indonesia.

Untuk itu, Len bersama BRIN menghadirkan teknologi "mata malam" pertahanan nasional melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengembangan teknologi Night Vision Goggle dan Thermal Imaging Devices.

Kolaborasi antara Len dan BRIN menjadi penting karena menyatukan kekuatan riset nasional dengan kapabilitas industri strategis dalam satu ekosistem inovasi terintegrasi.

BRIN berperan sebagai pusat unggulan riset dan penguasaan teknologi dasar, sementara Len memiliki pengalaman dan kapasitas dalam rekayasa sistem, industrialisasi, serta integrasi teknologi pertahanan.

Sinergi ini memungkinkan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk siap pakai yang memenuhi kebutuhan pengguna dalam negeri.

Melalui kerja sama ini diharapkan lahir inovasi pertahanan yang andal, kompetitif, dan siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kolaborasi ini menegaskan komitmen bersama dalam membangun kemandirian teknologi, memperkuat ketahanan nasional, serta menjaga kedaulatan Indonesia di tengah dinamika global.

  🤝 
LEN Industri  

Rabu, 04 Februari 2026

LEN Kembangkan Alutsista Modern

Drone Kumbang LEN mampu bawa bom (Fokus Satu)

PT Len Industri (Persero) terus meningkatkan inovasi pengembangan dan integrasi teknologi elektronika pertahanan.

"Len secara aktif berfokus dalam inovasi dan pengembangan kapabilitas untuk mendukunginteroperabilitas alutsista yang menghubungkan berbagai platform darat, laut, dan udara dalam satu sistem operasi terpadu," jelas Senior General Manager Corporate Secretary PT Len Industri (Persero), Dewanda Dwi Putera.

Dengan penguasaan teknologi C4ISR, sistem komando dan kendali, komunikasi militer terenkripsi, combat management system, serta tactical data link, Len Industri memastikan alutsista dari berbagai solusi sistem dan lintas matra dapat saling berkomunikasi dan bertukar data secara real-time, aman, dan andal.

Selain itu, Len Industri terus mengembangkan teknologi pendukung operasi militer, termasuk motor listrik taktis (SPRINT) untuk mobilitas senyap dan efisien di medan operasi, serta pengembangan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk misi pengintaian, pengawasan, dan pendukung keputusan taktis, yang seluruhnya dirancang terintegrasi dalam ekosistem pertahanan nasional guna memperkuat efektivitas operasi dan kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

"Len mungkin tidak selalu tampak di permukaan sebuah produk, tetapi perannya sangat menentukan. Kami bekerja di balik layar sebagai ‘otak’ yang membuat sistem saling terhubung dan bekerja dengan baik," ungkap Putera.

Sementara itu, Senior Vice President Business Development & Global Partnership PT Len Industri (Persero), Sena Maulana, menegaskan kontribusi Len dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Program ASTA CITA, khususnya pada penguatan kemandirian industri strategis, percepatan transformasi teknologi, serta peningkatan ketahanan dan pertahanan nasional.

Inovasi transportasi modern yang dikembangkan Len tidak hanya menjawab kebutuhan operasional jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kapabilitas teknologi jangka panjang yang berdaya saing dan berkelanjutan.

"Peningkatan kekuatan komponen utama pertahanan merupakan salah satu program prioritas Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, untuk mewujudkan sistem pertahanan negara yang kuat, berdaulat, dan berkelanjutan. Menjawab arah kebijakan tersebut, PT Len Industri (Persero) menetapkan ASTA CITA Len sebagai pedoman strategis perusahaan,” jelas Sena.

Program ASTA CITA Len secara substansial selaras dan mendukung ASTA CITA Presiden, dengan fokus pada penguatan kemandirian teknologi pertahanan, peningkatan kapabilitas industri nasional, serta pembangunan sumber daya manusia unggul di bidang sains dan teknologi.

ASTA CITA Len kami arahkan untuk memperkuat kemandirian teknologi pertahanan, meningkatkan kapabilitas industri nasional, serta membangun SDM unggul di bidang sains dan teknologi sebagai fondasi ketahanan bangsa di masa depan,” tutupnya.***(011)

 
Fokus Satu  

Selasa, 09 Desember 2025

Komisi VII Dukung PT LEN Wujudkan Teknologi Pertahanan

Link ID, Tactical Data Link LEN (LEN Industry)

Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke PT LEN Industri (Persero) kota Bandung, Selasa (8/12/2025). Kunker dalam rangka meninjau pengembangan teknologi pertahanan serta kesiapan industri strategis nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa, menegaskan pentingnya PT LEN untuk berdiri kuat sebagai garda depan teknologi pertahanan di bawah kendali negara. Eva menilai, sejumlah infrastruktur digital nasional saat ini masih bergantung pada jaringan luar negeri, termasuk jalur fiber optik yang melewati Singapura.

Kondisi ini, menurutnya, berpotensi melemahkan keamanan data nasional. “Kita dorong PT LEN berdiri kuat di bawah negara karena ini menyangkut pertahanan nasional. Banyak jalur fiber optik lewat Singapura, sehingga keamanan data kita harus diperkuat sebagai bagian dari ketahanan nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, PT LEN tengah mengembangkan berbagai teknologi strategis, mulai dari motor listrik, teknologi untuk Angkatan Udara, hingga teknologi pertahanan seperti tank, yang seluruhnya berada di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan.

Eva juga menekankan pentingnya kedaulatan digital Indonesia, termasuk dalam pembangunan sistem basis data nasional serta infrastruktur fiber optik. “Basis data Indonesia harus aman. Fiber optik harus dibangun dan dikelola oleh negara, bukan negara lain, ini penting agar ketahanan data kita tetap terjaga,” tegasnya.

Terkait kebutuhan anggaran untuk penguatan PT LEN, Eva memastikan DPR RI siap memberikan dukungan penuh.

Segala yang menyangkut ketahanan negara harus diproteksi sedini mungkin, dan tentu membutuhkan anggaran yang memadai. DPR akan mendukung penuh,” katanya.

Direktur PT LEN Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, menyampaikan apresiasi atas dukungan Komisi VII DPR RI yang terus mendorong percepatan pengembangan industri pertahanan dalam negeri.

Kami bersyukur atas dukungan Komisi VII DPR RI, mereka akan merumuskan kebutuhan PT LEN agar pengembangan teknologi bisa semakin cepat. Teknologi pertahanan sangat vital bagi kedaulatan negara, dan dukungan dalam hal R&D sangat kami butuhkan,” jelas Joga.

Saat ini PT LEN tengah mencanangkan pengembangan delapan bidang strategis, meliputi: Semi konduktor, Keamanan siber, Kecerdasan buatan (AI), Radar, Teknologi observasi bumi berbasis satelit dan beberapa bidang unggulan lainnya.

Joga mengakui bahwa komponen radar PT LEN masih mengandalkan impor. Namun ia menegaskan bahwa perusahaan telah berkomitmen untuk memproduksi radar secara mandiri dalam waktu dekat.

Ke depan kita akan produksi sendiri radar sesuai kebutuhan TNI dan sektor sipil seperti BMKG, navigasi penerbangan, dan lainnya, dengan fasilitas yang kita punya,” ujarnya.

Dengan dukungan pemerintah dan DPR RI, PT LEN optimistis mampu mempercepat kemandirian teknologi pertahanan nasional serta memperkuat posisi Indonesia di sektor industri strategis global.

  📡 
RRI  

Jumat, 21 November 2025

Nevesbu Modernisasi MRLF Bung Tomo Class

Bung Tomo class (Nevesbu)

TNI AL sedang melakukan modernisasi besar-besaran di pertengahan masa pakai frigat ringan multiperan kelas Bung Tomo. Menyusul modernisasi KRI Usman Harun yang sedang berlangsung, dua kapal tersisa di kelasnya (KRI Bung Tomo dan KRI John Lie) kini juga akan menjalani modernisasi komprehensif.

PT Len Industri kembali menunjuk Nevesbu sebagai integrator sistem platform untuk program ini.

Pekerjaan ini mencakup seluruh cakupan integrasi sistem platform, mulai dari survei pemetaan kondisi aktual dan pekerjaan desain serta rekayasa yang kompleks hingga dukungan di lokasi selama konstruksi. Dengan proyek ini, Nevesbu semakin memperkuat perannya sebagai mitra pengetahuan strategis, memastikan frigat ringan Angkatan Laut Indonesia yang telah dimodernisasi tetap siap bertugas di tahun-tahun mendatang.

  Memenuhi tuntutan operasional yang terus berkembang  
Modernisasi frigat menjadi keharusan karena sistem yang menua dan tuntutan operasional yang terus berkembang. Seiring dengan semakin kompleks dan canggihnya misi angkatan laut, frigat akan ditingkatkan dengan sistem mutakhir untuk memastikan armada Indonesia tetap menjadi salah satu yang paling tangguh di kawasan.

PT Len Industri bertindak sebagai Integrator Sistem Misi untuk program modernisasi, mengoordinasikan integrasi kapabilitas misi tingkat lanjut.

Thales Netherlands bertindak sebagai Integrator Sistem Tempur dan memasok sebagian besar sistem misi baru.

Nevesbu bertanggung jawab atas Integrasi Sistem Platform, sebuah tugas kompleks yang membutuhkan presisi teknis yang luar biasa dan keahlian interdisipliner.

  Membangun solusi yang telah terbukti  
Modernisasi sedang dilaksanakan secara bertahap. Pengerjaan fregat pertama, KRI Usman Harun, saat ini sedang berlangsung. Nevesbu juga melakukan rekayasa Integrasi Sistem Platform untuk kapal ini dan menyediakan dukungan galangan kapal selama konstruksi. Tahap kedua proyek ini (modernisasi KRI Bung Tomo dan KRI John Lie) dibangun berdasarkan solusi rekayasa dan desain tervalidasi yang dikembangkan untuk KRI Usman Harun.

Karena setiap kapal bersifat unik, modernisasi KRI Bung Tomo dan KRI John Lie dimulai dengan survei terperinci di atas kapal untuk memetakan situasi terkini dan mengidentifikasi perbedaan antar kapal. Nevesbu baru-baru ini mempresentasikan hasil survei pendahuluan KRI Bung Tomo dan menguraikan pendekatannya untuk modernisasi fregat kelas Bung Tomo di pertengahan masa pakai. Pendekatan ini dibangun berdasarkan solusi yang disepakati untuk KRI Usman Harun dengan menerapkan prinsip 'satu solusi untuk kelas'. Tujuan utamanya adalah meningkatkan ketersediaan kapal, memudahkan pelatihan awak, dan meningkatkan kinerja galangan kapal.

  Menyeimbangkan Kompleksitas  
Memodernisasi kapal yang sudah ada sambil mempertahankan filosofi desain aslinya merupakan tantangan yang kompleks. Ini bukan sekadar mengganti satu sistem dengan sistem lain. Dalam beberapa kasus, modifikasi harus dilakukan pada platform dan sistemnya untuk mendukung kemampuan misi yang baru. Sebagai mitra integrasi sistem platform, Nevesbu memastikan interaksi yang lancar antara komponen baru dan yang sudah ada. Tantangannya terletak pada penyediaan desain kapal yang seimbang dan menjaga kelaikan kapal, sembari menavigasi tuntutan disiplin teknis dan persyaratan operasional yang seringkali saling bertentangan.

  Meningkatkan kemampuan menghadapi masa depan  
Dengan memodernisasi kelas Bung Tomo, Angkatan Laut Indonesia tidak hanya memperpanjang umur operasional fregatnya tetapi juga memperkuat postur maritimnya di kawasan. Keterlibatan Nevesbu dalam setiap fase proyek memposisikan perusahaan sebagai mitra pengetahuan tepercaya. Dengan fase berikutnya yang sedang berjalan, Nevesbu terus mendukung Angkatan Laut Indonesia dalam menghadirkan kapal-kapal canggih yang memenuhi tuntutan operasi angkatan laut modern.

   👷 
Nevesbu   

Selasa, 21 Oktober 2025

Radar GCI Retia Czech

  12 Radar pesanan Kemhan  Radar GCI Retia Ceko akan perkuat Indonesia (defeence magazine)

Radar GCI Retia adalah bagian dari kerja sama Indonesia dengan Ceko untuk pengadaan 12 unit radar Ground Controlled Interception (GCI) yang akan dioperasikan secara interoperabel dengan 13 radar GCI Thales Prancis.

Radar ini berfungsi untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengarahkan pesawat tempur untuk mencegat ancaman udara, berperan penting dalam sistem pertahanan udara nasional dan Network Centric Warfare (NCW).

  Fungsi dan kemampuan  
📡 Mendeteksi ancaman udara: Dapat mendeteksi objek di udara dengan akurasi tinggi.

📡 Identifikasi kawan atau lawan (IFF): Dilengkapi fungsi Identification Friend or Foe (IFF) untuk mengidentifikasi objek secara tepat.

📡 Mengendalikan pesawat tempur: Memberikan arahan dan pengawalan kepada pesawat tempur untuk melakukan pencegatan (interception).

📡 Membangun Network Centric Warfare (NCW): Berperan krusial dalam doktrin peperangan berbasis jaringan komunikasi real-time untuk menghubungkan data dari markas ke unit tempur.

  Kerjasama dengan perusahaan lain  
🤝 Mitra kerja sama:
Retia (Ceko) merupakan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pengadaan radar GCI.

🤝 Interoperabilitas: Radar buatan Retia akan bekerja sama dan terintegrasi dengan radar buatan Thales Prancis.

🤝 Kapasitas nasional: PT Len Industri (Persero) berperan dalam produksi dan perakitan komponen radar, seperti "octopath," serta menjadi mitra dalam proyek ini.

  Peta jalan pengembangan  
👷 Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan), terus mengembangkan teknologi radar GCI melalui berbagai tahapan litbang.

👷 Kemhan juga bekerja sama dengan PT Len Industri dan institusi lain seperti LAPI ITB untuk penelitian dan pengembangan prototipe.

  🛰 
Garuda Militer  

Selasa, 23 September 2025

PT Len Industri Perkuat Kolaborasi Pertahanan dengan Vietnam

  Defense Policy Dialogue ke-4 (LEN)

Indonesia dan Vietnam menyelenggarakan Defense Policy Dialogue ke-4 sebagai forum strategis untuk memperkuat hubungan kerja sama pertahanan kedua negara. Dialog ini menjadi momentum penting dalam membangun komunikasi yang lebih erat sekaligus memperkuat sinergi antara institusi militer dan industri pertahanan di kedua negara.

Dalam forum ini, PT Len Industri (Persero) dan Viettel High Technology Industries menegaskan komitmennya untuk melangkah lebih jauh dalam kolaborasi strategis.

Setelah melalui sejumlah penjajakan dan diskusi, kedua perusahaan resmi menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA) sebagai landasan untuk menjajaki kerja sama lebih jauh. Penandatanganan dilakukan oleh Irwan Ibrahim, Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri (Persero), bersama Sr Col Nguyen Vu Ha, Deputy General Director of Viettel Group. Agenda penandatanganan ini disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI, Letnan Jendral TNI Tri Budi Utomo, S.E., serta Deputy Minister of National Defense Vietnam, Senior Lieutenant General Hoang Xuan Chien.

Kesepakatan ini membuka peluang kolaborasi strategis di bidang pengembangan teknologi radar, radio komunikasi militer, serta electric bike. Melalui kerja sama ini, Indonesia dan Vietnam tidak hanya memperkuat hubungan bilateral di sektor pertahanan, tetapi juga menunjukkan komitmen bersama dalam membangun kemandirian teknologi dan membangun fondasi sinergi industri pertahanan yang lebih solid di kawasan.

Langkah ini diharapkan menjadi komitmen kedua negara dalam menciptakan kerja sama pertahanan yang saling menguntungkan, meningkatkan kapasitas teknologi, serta mendukung stabilitas dan keamanan regional.

  📡 
LEN  

Jumat, 19 September 2025

Vietnam Jajaki Pembelian Alutsista dari Indonesia

 💥 Juga ingin menjalin kerja sama dalam program pelatihan militer bersama, pertukaran personel, dan pendidikan. REM-331 dan WSH-991, Kapal PKR & BRS produk PAL Indonesia (Dispenal)

Kepercayaan Vietnam terhadap produk industri pertahanan Indonesia semakin menguat.

Setelah menjadi pengguna bom latih buatan dalam negeri, Vietnam kini secara serius menjajaki kemungkinan pengadaan alat utama sistem persenjataan atau alutsista yang lebih strategis, termasuk kapal perang dari PT PAL Indonesia.

Peningkatan potensi kerja sama ini menjadi salah satu hasil utama pertemuan antara Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Marsekal Madya (Purn) Donny Ermawan dan Wamenhan Vietnam Letnan Jenderal Senior Hoang Xuan Chien di Kompleks Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta, Kamis (18/9/2025). Pertemuan petinggi pertahanan dua negara tersebut berlangsung sekurang-kurangnya 40 menit.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan Brigadir Jenderal Frega Wenas Inkiriwang menyampaikan, pertemuan Wamenhan RI-Vietnam merupakan tindak lanjut konkret dari Dialog Kebijakan Pertahanan (Defence Policy Dialogue) yang telah berlangsung selama dua hari.

Pembicaraan mengerucut pada penjajakan beberapa potensi kerja sama, termasuk pengadaan kapal dengan PT PAL, alat senjata dengan PT Pindad, dan juga kerja sama di bidang elektronika antara PT LEN dan mitranya di Vietnam,” ujar Frega seusai pertemuan.

Dasar dari penjajakan tersebut, lanjut dia, adalah kepuasan Vietnam atas kerja sama yang telah terjalin. Saat ini, Vietnam telah menggunakan bom latih produksi industri pertahanan Indonesia, yakni PT Dahana, untuk memperkuat armada angkatan udaranya. Hubungan tersebut bahkan berkembang dari sekadar jual-beli menjadi kemitraan jangka panjang.

Ada pembicaraan bagaimana nantinya akan ada pendampingan untuk meningkatkan masa pakai (lifetime) bom tersebut. Ini menunjukkan adanya hubungan yang berkelanjutan,” ujarnya.

 Makin luas 
Selain fokus pada industri pertahanan, kedua wakil menteri juga sepakat untuk meningkatkan interaksi dan interoperabilitas di antara angkatan bersenjata kedua negara. Kerja sama akan dijajaki di tingkat Angkatan Darat, Angkatan Laut, maupun Angkatan Udara, yang meliputi program pelatihan militer bersama, pertukaran personel, serta pendidikan.

Partisipasi aktif Vietnam dalam latihan multilateral yang diinisiasi Indonesia, seperti Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) pada Februari 2025 lalu, menjadi bukti nyata dari eratnya hubungan militer kedua negara.

Bapak Wamenhan tadi secara khusus mengapresiasi kontribusi dan partisipasi Vietnam dalam MNEK. Interaksi seperti ini penting untuk membangun hubungan antarpersonel militer,” kata Frega.

Lebih lanjut, Vietnam juga mengusulkan perluasan kolaborasi untuk menjawab tantangan keamanan modern. ”Pihak Vietnam menyampaikan apabila memungkinkan untuk berkolaborasi dalam bidang kedokteran militer, keamanan siber, serta operasi pencarian dan penyelamatan (search and rescue), yang tentunya menjadi kebutuhan sangat konkret saat ini,” tuturnya.

Seluruh penguatan kerja sama ini, menurut Frega, merupakan wujud nyata dari nota kesepahaman (MoU) bidang pertahanan yang akan terus diperpanjang. Sebagai sesama anggota ASEAN, komitmen ini menjadi penting untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan.

Ini menjadi sebuah komitmen nyata bahwa Indonesia dan Vietnam berupaya untuk terus bekerja sama dan berkontribusi dalam mewujudkan stabilitas dan perdamaian, khususnya di Asia Tenggara,” tuturnya.

  Terobosan 
Pengamat militer dari Binus University, Tangguh Chairil, menilai, penjajakan kerja sama pertahanan yang lebih mendalam ini merupakan sebuah langkah positif. Ini menjadi terobosan penting di tengah minimnya kolaborasi industri pertahanan antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

Menurut saya baik karena selama ini kerja sama industri pertahanan antarnegara Asia Tenggara sangat minim. Pernah ada inisiatif ASEAN Defence Industry Collaboration (ADIC), tetapi terkendala karena kapasitas industri pertahanan negara-negara Asia Tenggara sangat berbeda,” tuturnya.

Minimnya kolaborasi tersebut, lanjut dia, juga tecermin dalam rekam jejak hubungan Indonesia dan Vietnam. Ia mencatat, transaksi jual-beli alutsista strategis di antara kedua negara selama ini belum signifikan.

Indonesia-Vietnam juga termasuk yang minim kerja sama industri pertahanan. Jual-beli alutsista antara kedua negara ini juga sangat minim. Indonesia pernah jual pesawat C-212 ke Vietnam tahun 2010-an dan ada transaksi-transaksi minor, tetapi tidak banyak,” katanya menjelaskan.

Oleh karena itu, jika penjajakan pembelian alutsista strategis, seperti kapal perang, kali ini berhasil direalisasikan, hal tersebut akan menandai sebuah lompatan dan babak baru dalam kemitraan pertahanan kedua negara. Langkah ini sekaligus menjadi pengakuan penting bagi kapasitas industri pertahanan Indonesia di tingkat regional.

  💥 
Kompas  

Sabtu, 13 September 2025

Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) Tandatangani MoU untuk Perkuat Kolaborasi Pertahanan Berbasis Satelit

Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) Tandatangani MoU untuk Perkuat Kolaborasi Pertahanan Berbasis Satelit (Telkomsat)

PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Len Industri (Persero) dalam upaya memperkuat sistem pertahanan nasional melalui pengembangan infrastruktur komunikasi dan digital berbasis satelit. Penandatanganan ini dilakukan oleh Direktur Utama Telkomsat, Lukman Hakim Abd Rauf dan Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., yang turut disaksikan oleh Sekretaris Jendral Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sekaligus sebagai Komisaris Utama PT Len Industri (Persero), Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo, S.E.; Komisaris Telkom, Rizal Mallarangeng; dan Direktur Wholesale & International Service Telkom, Honesti Basyir.

Sinergi strategis antar BUMN tersebut mencerminkan dukungan pengembangan teknologi satelit dan sistem pertahanan nasional, yang selaras dengan program Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, yakni memantapkan sistem pertahanan keamanan negara sekaligus mendorong kemandirian bangsa melalui penguasaan teknologi mutakhir.

Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Honesti Basyir, dalam sambutannya menekankan pentingnya konektivitas dalam mendukung ketahanan nasional. “Perkembangan digital, termasuk artificial intelligence, sebesar apapun tetap membutuhkan konektivitas. Indonesia dengan hampir 17.000 pulau menjadikan kebutuhan konektivitas bukan sekadar kepentingan bisnis semata, melainkan bagian dari ketahanan nasional. Momentum penandatanganan MoU ini bukan hanya seremonial, melainkan langkah konkret kolaborasi untuk membangun ekosistem pertahanan berbasis satelit yang mandiri. Kami percaya, kerja sama antara Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) akan menjadi landasan penting untuk mewujudkan kedaulatan digital sekaligus memperkuat sistem pertahanan negara,” ujarnya.

Komisaris Telkom, Rizal Mallarangeng, menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan awal dari langkah strategis yang lebih besar. “Kehadiran MoU antara Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) adalah sebuah awal, bukan akhir. Ini merupakan fondasi untuk mempererat hubungan, tidak hanya dengan Kementerian Pertahanan, tetapi juga dalam mendukung perkembangan PT Len Industri (Persero) sebagai BUMN strategis di sektor pertahanan. Komunikasi adalah elemen paling penting dalam pertahanan. Oleh karena itu, kerja sama ini sangat strategis untuk memperkuat kedaulatan bangsa dan memicu lahirnya inovasi pertahanan berbasis teknologi satelit,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI, Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo, turut menyampaikan apresiasinya. “Kami sangat mengapresiasi adanya sinergi antara Telkomsat dengan PT Len Industri (Persero) untuk menghadirkan inovasi teknologi berbasis satelit yang dapat mendukung misi negara dalam memperkuat sistem pertahanan nasional, bukan hanya di darat, laut, dan udara, namun juga di angkasa,” ujarnya.

Lingkup kerja sama yang diatur dalam MoU ini meliputi komitmen dalam penyediaan kapasitas satelit Merah Putih 2 untuk mendukung dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, kedua pihak bersepakat untuk berkolaborasi dalam pengembangan, pembangunan, pengorbitan, hingga pengoperasian satelit nasional yang mandiri dengan memanfaatkan konstelasi satelit geostationer (GSO) maupun non-geostationer (NGSO).

Tidak hanya itu, kerja sama ini juga diarahkan pada pembangunan teknologi dan fasilitas strategis seperti : command center; wahana peluncuran satelit nasional; pusat riset dan pengembangan; fasilitas produksi satelit nasional; serta pengembangan bisnis satelit di skala regional dan global. Hal ini diharapkan mampu memperkuat daya saing Indonesia dalam ekosistem teknologi satelit internasional.

Melalui MoU ini, Telkomsat dan PT Len Industri (Persero) menegaskan komitmen untuk membangun kerja sama berkelanjutan dalam rangka mendukung sistem pertahanan nasional yang unggul, modern, dan mandiri.

  📡 
Telkomsat  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...