Tampilkan postingan dengan label USV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label USV. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2026

Elan Industri Pertahanan Menggapai Kejayaan di Laut

  👷  KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)

Semboyan sekaligus doktrin TNI Angkatan Laut, yakni Jalesveva Jayamahe, yang berarti ’di laut kita jaya’, sejalan dengan tekad industri pertahanan nasional di sektor kelautan.

Ambisi menguasai laut Nusantara lewat produksi kapal niaga, kapal perang, kapal selam, hingga perawatan kapal induk coba diwujudkan lewat PT PAL Indonesia (Persero), badan usaha milik negara yang bergerak di industri pertahanan laut.

Bermula dari galangan kapal Marine Establishment yang didirikan pemerintah Hindia Belanda pada 1939, perusahaan ini bertransformasi menjadi PT PAL sejak tahun 1980. Selama 46 tahun terakhir, PT PAL menjalankan dua hal strategis dalam industri pertahanan laut, yakni membangun kapal perang dan kapal selam untuk TNI AL. Selain itu, produk strategis untuk menghadapi ancaman pertahanan laut di masa depan.

Direktur Utama PAL Kaharuddin Djenod berpandangan, karakter ancaman di laut mengalami perubahan. Negara tidak lagi hanya menghadapi perang konvensional dengan kapal perang besar, tetapi ada ancaman asimetris yang menuntut pengawasan lebih luas, respons lebih cepat, dan teknologi yang mudah disesuaikan. Untuk itu, industri pertahanan harus bisa memenuhi pesanan yang ada dan membaca kebutuhan yang belum muncul.

PAL menerjemahkan dua hal strategis itu menjadi sejumlah produk baru. Produk itu meliputi kapal selam otonom (KSOT), torpedo Piranha, Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze, dan kapal serbu sangat ringan (KSSR). USV Kamikaze sudah tampil dalam Latihan Gabungan TNI Dabo Singkep 2026. KSOT telah menjalani pengujian. Proyek kapal selam, bahkan yang terkini dengan Perancis, diteruskan.

Penamaan dan Peluncuran Fregat Merah Putih I sebagai KRI Balaputradewa-322 di graving dock Orca PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/12/2025) malam. Balaputradewa merupakan Fregat berkarakter destroyer perdana buatan dalam negeri yang memperkuat industri pertahanan nasional dan memperkuat postur TNI Angkatan Laut. Pendekatan dengan terobosan melalui produk baru, lanjut Djenod, cocok dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Pertahanan laut disesuaikan dengan kondisi geografis, karakter ancaman, dan kemampuan yang ingin diwujudkan. Artinya, tidak semua kebutuhan diwujudkan dengan produk besar dan kompleks.

”Dalam kondisi tertentu, alternatif yang lebih fleksibel, termasuk platform nirawak, justru lebih tepat untuk melengkapi armada TNI AL,” ujar Djenod dalam wawancara tertulis, Jumat (30/10/2026).

Tak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, kapal yang diproduksi PT PAL juga bisa menembus pasar dunia. Saat ini PT PAL sedang mengerjakan dua kapal pesanan Filipina dan satu kapal pesanan Uni Emirat Arab. Sebelumnya, PT PAL sudah memenuhi pesanan dua kapal perang bagi Filipina.

Sejauh ini PT PAL mampu membangun beragam kapal strategis. Namun, diakui Djenod, keberlanjutan PT PAL memerlukan kemauan politik pemerintah secara konsisten. Misalnya, memastikan kebutuhan armada pertahanan nasional diutamakan dipenuhi industri domestik sepanjang kapabilitas, kualitas, dan persyaratan operasional terpenuhi.

”Kepastian pesanan menjadi sangat penting karena industri galangan kapal membutuhkan investasi besar dan waktu pengerjaan yang panjang. Dukungan juga tidak cukup hanya melalui kebijakan industri dan anggaran pengadaan, tetapi perlu diperkuat dengan akses pembiayaan perbankan yang sesuai dengan karakter industri maritim,” kata Djenod.

  👷  Kompas  

Kamis, 29 Oktober 2026

Menhan Tinjau Pembuatan Kapal Perang Fregat, KSOT hingga Kapal Selam Scorpene

  👷 Di PT PAL, Surabaya KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin meninjau sejumlah proyek pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Laut di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, kemarin.

Kunjungan tersebut mencakup proyek kapal perang, kapal selam, hingga kendaraan nirawak untuk mendukung kebutuhan pertahanan maritim Indonesia.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan, sejumlah proyek yang ditinjau Menhan antara lain pembangunan fregat Merah Putih, kapal selam Scorpene, kapal selam tanpa awak atau Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT), serta Unmanned Surface Vehicle (USV) atau kendaraan permukaan tanpa awak.

"Ada beberapa yang dilihat seperti pembangunan kapal Fregat Merah Putih, kemudian kapal selam Scorpene, kemudian ada lagi kapal selam tanpa awak atau KSOT, ada lagi pembangunan kapal USV dan lain-lain," katanya saat ditemui di KRI Sriwijaya-100 yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (28/10/2026).

Ali menjelaskan, kunjungan Menhan tidak hanya dilakukan ke PT PAL Indonesia, tetapi juga ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan sejumlah industri pertahanan dalam negeri lainnya.

Menurut Ali, kunjungan tersebut dapat mendorong kinerja industri pertahanan nasional dalam mendukung modernisasi alutsista TNI.

Selain memantau proyek pembangunan kapal, Ali berharap kunjungan Sjafrie turut memperkuat komitmen PT PAL dalam mengerjakan retrofit atau peningkatan dan pembaruan sistem pada KRI Sriwijaya-100.

"Sekarang kegiatannya cukup padat PT PAL. Makanya kita menunggu kesiapan PT PAL untuk me-retrofit KRI Sriwijaya ini," ujar Ali.

Ali menilai kesiapan industri pertahanan dalam negeri menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista TNI AL. Karena itu, koordinasi antara TNI dan industri pertahanan diperlukan agar program pembangunan maupun peningkatan kemampuan kapal perang dapat berjalan sesuai kebutuhan. (cip)

  👷  Sindonews  

Senin, 12 Oktober 2026

Exail Memulai Produksi Sistem MCM Tak Berawak untuk TNI AL

  Inspector 90 USV. (Exail picture/Naval News)

Exail telah memulai produksi Sistem Terpadu Penanggulangan Ranjau Tanpa Awak/ Unmanned Mine Countermeasures Integrated System (UMIS) yang dipesan oleh Indonesia, sekaligus bersiap untuk mengintegrasikan sistem sonar tarik dan sistem penyapu pihak ketiga.

Produksi sistem ini telah dimulai untuk paket UMIS yang diumumkan pada Juni 2025. Paket tersebut akan mencakup empat kapal permukaan tanpa awak (USV) Inspector 90, bersama dengan ROV pengidentifikasi ranjau Seascan dan sistem pembuangan ranjau sekali pakai K-Ster.

UMIS akan dikerahkan dari dua kapal penanggulangan ranjau laut (MCMV) TNI AL, KRI Pulau Fani (731) dan KRI Pulau Fanildo (732) yang dibangun oleh Abeking & Rasmussen.

Exail mengkonfirmasi bahwa Indonesia telah memilih sistem sonar tarik dan sistem penyapu dari pemasok Eropa yang sebelumnya telah bekerja sama dengan Exail.

Exail akan mengintegrasikan sistem-sistem ini ke dalam paket UMIS dan menyediakan sistem peluncuran dan pemulihan terkait.

Pada awal tahun ini, perusahaan Norwegia Henriksen mengumumkan akan memasok sistem Henriksen Multi Lightweight Influence Sweep (HEMLIS) ke TNI AL, menandai penjualan komersial pertama sistem tersebut di luar Eropa. HEMLIS akan diintegrasikan dengan USV Inspector 90.

Exail mengatakan kontrak dengan Indonesia sudah mencakup pekerjaan integrasi untuk kedua sistem pihak ketiga, serta pelatihan untuk personel Indonesia. Pelatihan akan berlangsung di Prancis dan Indonesia.

  ★ Naval News  

Jumat, 14 Agustus 2026

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV)PT PAL Indonesia

 Membangun kemampuan teknologi di dalam negeri USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (Corcomm PAL)

Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.

“Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.

“Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.

Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

“Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

  ★ PAL Indonesia  

Jumat, 07 Agustus 2026

TNI AU Kerahkan 5 Alutsista Baru dalam Latihan Gabungan TNI

  Di Dabo Singkep, Kepri Alutsista terbaru TNI AU dalam latihan gabungan TNI di Kepri (Dispenau)

TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan lima alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8/2026).

Berdasarkan siaran pers dari Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau), kelima alutsista itu terdiri dari empat jet tempur Rafale dan satu pesawat angkut A400M.

“Pada latihan tersebut, TNI AU mengerahkan berbagai unsur udara yang meliputi pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat intai, helikopter, pesawat tanpa awak serta pasukan gerak cepat untuk mendukung pelaksanaan operasi gabungan secara terpadu,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana.

Foto yang dirilis TNI AU turut memperlihatkan empat jet tempur Rafale tampak mengawal satu pesawat angkut strategis A400M yang terbang dalam formasi di atas langit Dabo Singkep.

Sementara itu, berdasarkan keterangan Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), TNI menampilkan simulasi peperangan modern dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep.

Dalam latihan itu, TNI AL menembakkan rudal C-705 dari KRI Sampari-628 dan mengoperasikan Unmanned Surface Vehicle (USV) atau drone laut untuk menyerang sasaran musuh.

Latihan dipimpin Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Panglima TNI dan para kepala staf angkatan.

Skenario yang dimainkan menggambarkan operasi gabungan TNI dalam menghadapi ancaman modern dengan melibatkan kekuatan darat, laut, udara, hingga peperangan siber.

Operasi diawali dengan serangan udara menggunakan pesawat tempur Rafale dan F-16 yang membawa bom MK-82.

Setelah itu, Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) melaksanakan operasi khusus untuk membuka jalan bagi serangan berikutnya.

Di laut, TNI AL mengerahkan USV kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991, disusul operasi ranjau laut serta infiltrasi Komando Pasukan Katak (Kopaska) yang mensimulasikan sabotase kabel bawah laut.

Dalam skenario yang sama, satuan siber juga melakukan serangan untuk melumpuhkan sistem kelistrikan lawan.

Setelah sasaran dinyatakan lumpuh, KRI Sampari-628 menembakkan rudal C-705 ke target di darat.

TNI AL juga mengerahkan Bantuan Tembakan Kapal dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Raden Eddy Martadinata-331.

Korps Marinir turut memberikan dukungan tembakan menggunakan Multi Launcher Rocket System (MLRS).

Sementara itu, TNI AD mengerahkan pasukan lintas udara yang diterjunkan dari pesawat Hercules C-130, drone pengintai, drone tempur, serta satuan Artileri Medan untuk mendukung operasi gabungan.

“Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, serta hasil peninjauan langsung di lapangan, TNI telah menunjukkan kesiapan yang meyakinkan dalam menjalankan tugas menjaga, memelihara, dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bunyi keterangan.

Menurut dia, kemampuan yang diperagakan mencerminkan peningkatan kesiapan tempur, baik dari sisi alutsista, kualitas prajurit, maupun dukungan amunisi.

Sjafrie juga menilai penggunaan alutsista buatan dalam negeri dalam latihan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal Indonesia terhadap berbagai ancaman.

Latihan Integrasi TNI 2026 dirancang untuk menguji kemampuan operasi gabungan antarmatara, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi dinamika peperangan modern.

 Berikut video liputan IDN Times :


 ✈️ 
Kompas  

Kamis, 06 Agustus 2026

TNI Gelar Latihan Operasi Gabungan di Kepri

 ⚓️ 🚀 Libatkan Hampir 13.000 Personel Kapal perang TNI AL, KRI Sampari 628 tembakkan rudal C-705 dalam Operasi TNI Terintegrasi 2026 (Dispenal)

Tentara Nasional Indonesia menggelar skenario Operasi TNI Terintegrasi 2026 di Daerah Latihan TNI AL Dabo Singkep, Kepulauan Riau dengan menampilkan kemampuan tempur Perisai Trisula Nusantara dari Matra Darat, Laut dan Udara. Dalam simulasi tersebut, berbagai Alutsista dikerahkan, termasuk drone kamikaze AKM KI-50 buatan dalam negeri, serta penembakan rudal C-705 dari KRI Sampari-628. Latihan ini dipimpin oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin beserta Panglima TNI dan para Kepala Staf Angkatan. Rabu (5/8).

Latihan terintegrasi ini menggabungkan antara teknologi dan strategi peperangan di era modern. Operasi diawali dengan pertahanan udara dari TNI AU yang mengerahkan pesawat tempur terbaru Rafale dan F-16 dengan muatan bom MK-82, kemudian dilanjutkan Operasi Khusus Matra Udara dari Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat).

Dari segi laut, TNI AL mengerahkan Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991 dengan sasaran di laut dilanjutkan dengan operasi peranjauan, serta infiltrasi pasukan khusus yang juga melaksanakan sabotase kabel bawah air oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska). Latihan ini juga melibatkan peperangan siber yang salah satunya diasumsikan pelumpuhan terhadap instalasi listrik musuh.

Setelah daerah musuh dipastikan lumpuh dari serangan siber, maka peluru kendali C-705 yang ada di KRI ditembakkan dengan sasaran musuh di darat sehingga fasilitas musuh lumpuh. Tidak hanya rudal, TNI juga menembakkan Bantuan Tembakan Kapal (BTK) dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Raden Eddy Martadinata-331 serta tembakan Multi Launcher Rocket System (MLRS) dari Korps Marinir.

Selain unsur udara dan laut, operasi juga didukung oleh pasukan Lintas Udara (Linud) TNI AD juga melaksanakan penerjunan tempur dari Pesawat Hercules C-130. TNI AD juga mengerahkan intai drone tempur serta pasukan Artileri Medan. Seluruh rangkaian latihan dirancang untuk meningkatkan kesiapan tempur dan kemampuan operasi gabungan dalam menghadapi ancaman modern.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, serta hasil peninjauan langsung di lapangan, TNI telah menunjukkan kesiapan yang meyakinkan dalam menjalankan tugas menjaga, memelihara, dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, kemampuan yang ditampilkan dalam latihan ini menjadi bukti nyata meningkatnya kesiapan tempur TNI, baik dari aspek alutsista, kualitas prajurit, maupun dukungan amunisi.

Menhan juga menegaskan bahwa revitalisasi pertahanan negara pada tahun 2026 mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Berbagai kemampuan tempur yang diperagakan dalam latihan, termasuk penggunaan produk industri pertahanan dalam negeri, menjadi bukti bahwa Indonesia terus memperkuat kemandirian pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal dalam menghadapi berbagai ancaman.

Operasi TNI Terintegrasi 2026 menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme prajurit melalui latihan yang mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan dan teknologi terkini. Materi latihan menitikberatkan pada kecepatan pengambilan keputusan, koordinasi, serta efektivitas pelaksanaan operasi gabungan sesuai skenario yang telah direncanakan.

 Berikut video liputan dari antara :  


  🎥  TNI AL  

Rabu, 05 Agustus 2026

TNI AL Uji Drone Kamikaze dan Kapal Tanpa Awak di Dabo Singkep

 Latihan terintegrasi TNI 2026 USV produksi PAL ikut dalam latihan terintegrasi di Dabo Singkep (PAL)

TNI Angkatan Laut bersiap menguji deretan alutsista canggih dalam Latihan TNI Terintegrasi 2026 di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, pada Rabu (5/8/2026).

Dalam latihan tempur ini, TNI AL memamerkan amunisi nirawak, mulai dari drone Kamikaze udara hingga unmanned surface vessel (USV) atau kapal permukaan tanpa awak berjenis penabrak peledak.

Persiapan manuver lapangan berskala besar tersebut ditinjau langsung oleh Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksamana Muda Denih Hendrata saat menginspeksi ratusan prajurit dan kesiapan alutsista di Dermaga Madura Koarmada II, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (1/8/2026).

“Pengecekan akhir ini memastikan seluruh prajurit dan alutsista yang terlibat dalam latihan operasi amfibi berada dalam kondisi siap tempur,” ujar Denih dalam keterangannya.

Skenario latihan tempur gabungan tiga matra ini dirancang untuk menguji taktik perang modern secara intensif. Selain pengoperasian drone penyerang dan kapal permukaan tanpa awak, para prajurit mengasah kemampuan penembakan artileri, operasi siber, hingga latihan tembak cepat antiserangan udara (anti-air rapid open fire exercise) dengan sasaran wahana udara nirawak (unmanned aerial vehicle).

Di tingkat pasukan khusus, Komando Pasukan Katak (Satkopaska) menyusun taktik infiltrasi, pendaratan senyap, dan sabotase bawah air menggunakan metode lepas-jemput cepat (cast and recovery). Sementara itu, pasukan gabungan Marinir, penyelam, serta penerbang TNI AL menyimulasikan pendaratan amfibi untuk merebut tumpuan pantai musuh.

Denih menekankan pentingnya keterpaduan taktis antara jajaran Koarmada II bersama unsur TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Udara selama latihan berlangsung. “Sinergi antarmatra dan kesiapan teknis menjadi kunci utama keberhasilan Latihan TNI Terintegrasi 2026 ini,” tegasnya.

Rangkaian persiapan ditutup dengan pelepasan kapal perang KRI Prabu Siliwangi-321 dari jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmada II. Kapal perang terbaru TNI AL tersebut bertolak langsung menuju perairan Dabo Singkep untuk memimpin gelombang serangan amfibi.

  ★ Teras Batam  

Sabtu, 28 Maret 2026

TNI AL Bakal Memastikan Penggunaan Drone untuk Jaga Selat Strategis

 ⚓️ Lebih efisien KRI BPD 322, Frigate pertama dan drone kapal selam produksi PT PAL (FMI fb)

TNI AL mulai mengalihkan fokus pengamanan laut dengan memanfaatkan teknologi robotik. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan penggunaan pesawat dan kapal tanpa awak (drone) bakal menjadi kunci efisiensi dalam menjaga wilayah perairan Indonesia yang sangat luas.

Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan pemenuhan jumlah alutsista ideal di tanah air.
Ali mengamini bahwa Indonesia sebenarnya membutuhkan hingga 300 kapal perang untuk mengawal wilayah dari Aceh hingga Papua.

“Kebutuhan 300 kapal itu betul, tapi kita tidak membutuhkan semuanya fregat (kapal tempur besar). Yang kita butuhkan justru banyak kapal-kapal patroli dan kapal kecil untuk menjaga selat-selat serta kawasan pesisir (litoral),” ujar Ali di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (26/3).

 Andalkan Teknologi Tanpa Awak

Ali memproyeksikan penggunaan sistem tanpa awak (unmanned system) secara masif sebagai solusi cerdas di masa depan. Menurutnya, teknologi drone jauh lebih efektif dan hemat biaya untuk mengawasi celah-celah laut strategis dibanding hanya mengandalkan kapal berawak.

“Kita butuh lebih banyak unmanned system. Drone ini sangat efektif dan efisien untuk menjaga perairan kita yang sangat luas karena lebih hemat dalam penggunaan operasional,” jelasnya.

TNI AL membidik tiga jenis armada robotik sekaligus untuk memperkuat pengawasan, seperti kapal tanpa awak (USV) yaitu robot yang bergerak di atas permukaan air untuk patroli.

Kemudian, pesawat tanpa awak (UAV) atau drone udara untuk pengintaian dari langit. Lalu, robot bawah laut (UUV) merupakan perangkat robotik yang beroperasi di bawah air untuk mendeteksi ancaman kapal selam atau ranjau.

 Dorong Produksi Dalam Negeri

Ali menaruh harapan besar agar seluruh perangkat teknologi tanpa awak tersebut lahir dari tangan anak bangsa. Ia mendorong industri pertahanan lokal untuk segera menguasai teknologi robotik laut dan udara ini.

“Harapannya drone-drone ini sudah bisa kita buat di dalam negeri. Baik yang di permukaan, di udara, maupun di bawah laut, semuanya kalau bisa kita bangun sendiri,” tegas Ali.

Selain drone, Ali menyebut kapal-kapal patroli berukuran kecil memiliki peran vital di kawasan pesisir. Kapal jenis ini lebih lincah bermanuver di selat-selat padat dan perairan dangkal yang sulit dijangkau oleh kapal perang berukuran raksasa.

Kehadiran kapal patroli dan drone ini nantinya melengkapi keberadaan kapal-kapal tempur utama seperti KRI Prabu Siliwangi-321 dan KRI Brawijaya-320 yang baru saja memperkuat jajaran armada laut Indonesia. (at)

  👷 
IDM  

Senin, 05 Mei 2025

[Global] Kapal Nirawak Ukraina Tembak Jatuh Su-30 Flanker Rusia

 Pertama kali di dunia 
https://pict.sindonews.net/webp/732/pena/news/2025/05/04/41/1563163/pertama-kali-di-dunia-kapal-nirawak-ukraina-tembak-jatuh-jet-tempur-su30-flanker-rusia-xdh.webpSebuah kapal nirawak Ukraina tembak jatuh jet tempur Su-30 Flanker Rusia. (Foto/Telegram/HUR) 💥

S
ebuah kapal nirawak (drone maritim) Ukraina telah menembak jatuh jet tempur Su-30 Flanker Rusia di atas Laut Hitam pada Jumat lalu. Menurut militer Kyiv, ini menjadi yang pertama di dunia sebuah drone maritim berhasil menjatuhkan jet tempur Flanker Moskow.

Drone maritim atau uncrewed surface vessel (USV), yang dioperasikan oleh "Group 13" intelijen militer Ukraina (HUR), menembak jatuh jet tempur tersebut di dekat pangkalan Angkatan Laut strategis Rusia Novorossiysk di Laut Hitam bagian timur.

"Ini adalah penghancuran pesawat tempur pertama di dunia oleh drone maritim," bunyi pernyataan HUR, yang dilansir Kyiv Independent, Minggu (4/5/2025).

Jet tempur Rusia seharga USD 50 juta (lebih dari Rp 800 miliar) itu dikirim diduga untuk mencegat USV yang mengancam pangkalan Angkatan Laut di Novorossiysk dan Kerch. Ia terbang rendah untuk menyerang USV dengan meriam atau roket tanpa kendali.

Group 13 HUR sebelumnya dikaitkan dengan USV Magura V5 yang dipersenjatai dengan dua rudal AA-12 Archer yang disebut sebagai Sea Dragon. Namun tidak dapat dipastikan jenis rudal yang digunakan untuk menjatuhkan Su-30 Flanker Rusia pada Jumat lalu.

Sekadar diketahui, Magura V5 yang dilengkapi dengan kamera, GPS, dan sistem navigasi otonom dapat beroperasi secara mandiri atau di bawah kendali manusia jarak jauh, menjadikannya alat yang tangguh untuk serangan presisi.

Profilnya yang rendah dan penampang radar yang kecil memungkinkannya untuk menghindari deteksi oleh sistem pertahanan udara tradisional, keuntungan penting di Laut Hitam tempat Angkatan Laut dan Angkatan Udara Rusia memiliki kehadiran yang kuat.

Pengembangan drone maritim tersebut, yang sebagian didukung oleh bantuan teknologi dari sekutu Barat, termasuk Inggris Raya, mencerminkan adaptasi cepat Ukraina terhadap tuntutan peperangan modern.

Sejak diperkenalkan, Magura V5 telah terbukti menenggelamkan atau merusak banyak kapal perang dan kapal pendukung Rusia, termasuk penenggelaman kapal penjelajah Moskva pada tahun 2022, yang merupakan pukulan telak bagi Armada Laut Hitam Rusia.

Rudal R-73, yang dikenal dengan sebutan NATO-nya; AA-11 Archer, adalah rudal udara-ke-udara jarak pendek era Soviet yang mulai beroperasi pada tahun 1984. Dirancang oleh Biro Desain Vympel, rudal ini terkenal karena kemampuan manuvernya yang tinggi dan sistem pelacak inframerah, yang mengunci tanda panas mesin pesawat.

Rudal ini berbobot sekitar 230 pon, memiliki jangkauan hingga 18 mil, dan dapat menyerang target pada sudut hingga 60 derajat dari garis bidik, sehingga sangat efektif terhadap lawan yang gesit. Hulu ledaknya, yang berisi 16 pon bahan peledak berkekuatan tinggi, dirancang untuk menghancurkan pesawat dengan satu serangan.

Menurut laporan media Ukraina, dalam operasi Jumat lalu, teknisi Ukraina memodifikasi R-73, yang biasanya diluncurkan dari jet tempur seperti MiG-29 atau Su-27, untuk ditembakkan dari Magura V5. Adaptasi ini kemungkinan melibatkan rel peluncuran yang dibuat khusus dan sistem penargetan yang disederhanakan yang kompatibel dengan perangkat elektronik di dalam drone.

Keberhasilan integrasi rudal udara-ke-udara ke dalam drone maritim menggarisbawahi kecerdikan Ukraina dalam menggunakan kembali teknologi yang ada untuk melawan Angkatan Udara Rusia yang unggul. (mas)

  🚀 sindonews  

Rabu, 19 Februari 2025

Milanion dan Republikorp (RDI) Akan Memasok Kapal USV untuk TNI AL

 Unmanned Surface Vessel 20 meter (Global Defence Insight) ★

Kemitraan ini telah berkomitmen untuk mengirimkan lima Unmanned Surface Vessel (USV) 20 meter pertama dengan mengintegrasikan Autonomous Conversion Kit canggih Milanion.

Tim gabungan akan bekerja sama erat dengan galangan kapal lokal Indonesia yang telah ditugaskan untuk merancang, membangun, dan memasok kapal, sesuai spesifikasi pelanggan, untuk menyesuaikan dan mengintegrasikan solusi kit konversi canggih guna memenuhi persyaratan pelanggan.

Ilustrasi Unmanned Surface Vessel [© Republikorp]
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Davinder Dogra, CEO Milanion Group, dan Norman Joesoef, CEO Republikorp di IDEX 2025, yang diadakan di ADNEC, Abu Dhabi, tempat Milanion memamerkan berbagai solusi pertahanan dan keamanan yang canggih.

Berdasarkan perjanjian yang baru ditandatangani, kedua perusahaan berkomitmen untuk memperluas kolaborasi mereka dan membangun kerangka kerja untuk mengeksplorasi peluang potensial di Indonesia untuk solusi yang sangat mobile dan canggih, yang disesuaikan dengan persyaratan operasional lokal.

CEO Milanion, Davinder Dogra mengatakan, “Kolaborasi ini merupakan bukti kekuatan pelengkap dari kedua perusahaan kami dan hubungan kami yang terus berkembang akan membuka peluang di domain maritim, darat, dan udara tri-layanan.

Kami yakin bahwa kami dapat menciptakan solusi baru dan inovatif yang akan meningkatkan kemampuan pelanggan berdasarkan kebutuhan lokal.
”

  🛥 Joint Forces  

Jumat, 27 September 2024

TNI AL Jajaki Teknologi Otonom Untuk Bangun Kekuatan Tempur ke Depan

https://www.navalnews.com/wp-content/uploads/2023/08/Ukraine-Sea-Drones-2023-08-29.jpgIlustrasi drone laut Ukraina (Navalnews)

M
arkas Besar TNI Angkatan Laut (Mabesal) menjajaki penggunaan teknologi otonom (autonomous technology) untuk membangun postur kekuatan tempur TNI AL setidaknya sampai 20 tahun ke depan.

Oleh karena itu, TNI AL mengumpulkan berbagai ahli dan pakar untuk membahas teknologi otonom dan tren peperangan berbasis teknologi otonom (autonomous warfare) dalam sebuah forum diskusi kelompok (FGD) di Jakarta, Rabu.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali dalam sambutannya saat membuka acara itu di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Rabu, menyampaikan penggunaan teknologi otonom dalam perang Rusia-Ukraina mengubah cara berperang sekaligus strategi bertempur terutama di laut.

“Ini mengubah cara berperang secara umum, betapa ringkihnya, betapa fragile-nya kapal-kapal di atas air dari gangguan unmanned system. Kita lihat kapal penjelajah Rusia Kelas Moskwa pun terkena serangan dari USV Ukraina,” kata Laksamana Ali.

Dia melanjutkan kapal-kapal dagang dan kapal induk Amerika Serikat di Laut Merah dan Teluk Aden juga menghadapi serangan-serangan drone, salah satunya dari kelompok Houthi Yaman.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFEOXSTekleNDJgoHlnUgow_bkdCO5ypuFsZBYE-k07WEg2kv79yQo7u-1LGXa00eU9VZ0YusmOtxhapilek7Kmgry3NicQKCOQTl_FOjr_6zYNEBMmdwAFVYt80jUiDdJLpwKA4IUwBRHsY_JH1VD3R2r6srcQqQxF0SnuVOgO6pgGnfBm7oE_boHMWxS/s1022/Screen-Shot-2022-10-11-at-3.11.57-PM.pngUSV Ukraina (Navalnews)

“Senjata-senjata drone ini senjata kecil, murah, tetapi punya efek getar tinggi. Ini menjadikan kita harus berpikir bagaimana mengelola alutsista ke depan, menyiapkan perkembangan teknologi untuk memajukan kemampuan tempur unsur-unsur TNI Angkatan Laut,” kata Ali.

TNI AL pada 2024 dalam proses menyusun Rencana Strategis TNI AL 2025–2029 dan Postur Pembangunan Kekuatan TNI AL 2025–2044. Dua dokumen itu, yang menjadi pedoman membangun kekuatan TNI AL dalam jangka menengah dan jangka panjang, ditargetkan rampung disusun pada tahun ini.

FGD yang mengangkat tema “Autonomous Warfare for Revolution Maritime Operation Affair” menghadirkan sejumlah pembicara, yaitu Asisten Khusus Menteri Pertahanan RI Laksamana Madya TNI (Purn.) Didit Herdiawan Ashaf, Ridwan Prasetyarto, Wakil Kepala BRIN Prof. Amarulla Octavian, dan Kepala Badan Pembinaan Hukum (Kababinkum) TNI Laksamana Muda TNI Kresno Buntoro. Kegiatan itu diikuti jajaran pimpinan TNI AL baik di lingkungan Komando Armada RI, Pangkalan Utama TNI AL, maupun Pangkalan TNI AL.

Dalam sesi pertama diskusi, Asisten Menhan itu memaparkan presentasinya berjudul “Autonomous Warfare for Revolution Maritime Operation Affair”, kemudian pakar bidang kecerdasan buatan (AI), Ridwan, memaparkan presentasi berjudul “AI and Multi-Agent System in Autonomous Maritime Warfare”.

Dalam sesi kedua, Wakil Kepala BRIN memaparkan presentasi berjudul “Senjata Cerdas untuk Perang Laut”, dan Kababinkum TNI memaparkan presentasi berjudul “Maritime Autonomous/Unmanned Vessel (MAV): Perspektif Hukum Internasional”.

 
🛥 antara  

Jumat, 03 Maret 2023

Proyek Kedepan PAL Indonesia

⚓️ Menampilkan kapabilitas dan inovasi Miniatur LPD 163 m desain PAL Indonesia dipesan UEA. (TvOne)

PT PAL Indonesia telah menandatangani berbagai perjanjian kerja sama strategis dengan berbagai negara.

Pada bulan lalu di Abu Dahbi, PAL Indonesia telah menyetujui kerjasama dengan perusahaan UEA dalam pengembangan alutsista, seperti diungkap CEO PAL, Kaharuddin Djenot.

Perusahaan strategis UEA mendanai program pemesana kapal LPD 163 meter desain PAL dengan opsi pengembangan lebih lanjut sesuai kebutuhan militer negeri UEA.

“Kerjasama ini menjadi titik awal kerja sama pengembangan alutsista dengan Uni Emirat Arab,” tutur Kaharuddin Djenod.

Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada combat management system & integration, melainkan juga memberikan ruang berkembang bagi kedua belah pihak, khususnya PT PAL Indonesia untuk mengembangkan desain, pengembangan underwater vehicles, dan submarines, serta unmanned surface vehicle.

Sebelumnya juga di kabarkan dari negeri tetangga, Filipina juga telah memesan Strategic Sealift Vessel (SSV) 123 meter pada bulan Juni tahun 2022 sebanyak 2 unit, yang mana diminta ada perubahan minor pada platform kapal sesuai kebutuhan militer Filipina.

Nantinya kapal SSV ini diharapkan akan siap bertugas hingga sea state 6, serta kapabilitas pengoperasian perlengkapan fasilitas kapal pada sea state 4.

Upacara cutting steel atau pemotongan baja kapal frigate Merah Putih yang dilakukan di galangan kapal PT PAL Surabaya. (Ist)

Selain itu PAL Indonesia juga akan memproduksi kapal frigate Merah Putih kerjasama dengan perusahhan Inggris, Babcock.

CEO PT PAL Kaharuddin Djenod mengatakan kepada Jane's, proyek frigate Merah Putih merupakan cermin bahwa status kapal perang tersebut buatan lokal.

Dia pun memastikan seperti diberitakan sindonews, bahwa frigate akan mempunyai panjang 140 meter, bukan lagi 143 meter dan bukan juga 138 meter sebagai varian yang identik Iver Huitfeldt milik AL Denmark.

Proyek frigate Merah Putih disebut sebagai milestone Indonesia menapak level baru dalam kapasitas membangun kapal perang sekaligus kekuatan matra laut.

Dari sisi kapasitas knowledge, PT PAL memang pernah membangun light frigate / PKR 105 kerjasama dengan Damen, tapi prosesnya lebih banyak dilakukan perusahaan asal Belanda, dan hanya sebagian yang dibangun di Tanah Air.

  Focus Group Discussion PAL 
Desain PAL kapal dengan panjng 106 meter (Defend.id)

Pada forum yang di selenggarakan PAL, Focus Group Discussion (FGD), potensi besar dunia maritim Indonesia, CEO PAL mengatakan nantinya UEA akan memesan kembali LPD batch kedua desain PAL.

Selain itu juga akan memesan kapal BRS (Bantuan Rumah Sakit) dan 4 unit kapal Korvet dengan nilai billion dollar.

Juga dalam video yang beredar, nantinya PAL akan menampilkan desain kapal induk Merah Putih, menurut CEO PAL, desain kapal tersebut akan di publikasikan bulan Agustus tahun ini.

Dari berbagai proyek PAL ini, diharapkan menjadikan industri pertahanan yang berlokasi di Surabaya ini dapat menyelesaikan pesanan tepat waktu dan berkualitas.

 ✪ 
Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...