Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2026

TNI AL Pertimbangkan Penggunaan Drone Bawah Air untuk Tingkatkan Pertahanan Maritim

  KSOT hasil rancangan & produk PT  PAL KSOT-001 dalam ujicoba di Laut (Sekpres)

Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana Muhammad Ali menguraikan rencana untuk berkolaborasi dengan industri pertahanan dalam negeri untuk mengembangkan drone bawah laut, yang bertujuan untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan pengawasan maritim negara.

"Teknologi bawah laut berkembang pesat. Angkatan Laut Indonesia terus mempelajari cara untuk memanfaatkan drone bawah laut untuk mendukung operasi pengawasan dan pengintaian di wilayah maritim kita," kata Ali di sini pada Rabu (9 September).

Menurut Kepala Angkatan Laut, drone bawah laut sangat efektif untuk tujuan pemantauan karena dapat dengan mudah menavigasi selat sempit di perairan strategis Indonesia, termasuk Jalur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.

Ali mencatat bahwa jangkauan jelajahnya yang lebih luas akan memungkinkan drone untuk mendeteksi pergerakan kapal asing dan mengantisipasi masuknya kapal secara ilegal ke perairan Indonesia.

Teknologi ini juga dapat digunakan untuk memetakan kontur dasar laut kepulauan. Dengan memperoleh data kelautan yang akurat, Angkatan Laut bertujuan untuk membuat peta bawah laut terperinci yang menunjukkan arus laut, pola pasang surut, dan kondisi dasar laut, termasuk terumbu karang dan bangkai kapal.

Operasi-operasi ini, tambah Ali, dapat dilakukan tanpa biaya tinggi yang terkait dengan pengerahan kapal permukaan berawak sekaligus memastikan keselamatan personel.

Sementara itu, Alman Helvas Ali, seorang analis pertahanan dari Marapi Consulting, menekankan dalam siaran pers baru-baru ini bahwa pemerintah harus memahami secara menyeluruh karakteristik kompleks perairan Indonesia sebelum memperluas infrastruktur pertahanan maritimnya.

"Di wilayah barat, laut kita cenderung dangkal, sedangkan wilayah timur terdiri dari perairan dalam. Setiap wilayah memiliki kepadatan air, salinitas, dan suhu yang berbeda," jelasnya.

Ia mencatat bahwa data oseanografi ini harus terus diperbarui agar Angkatan Laut dapat memaksimalkan efektivitas sistem senjata utamanya, seperti kapal selam dan kapal permukaan. Namun, analis tersebut mengakui bahwa Angkatan Laut dan industri dalam negeri belum memiliki teknologi khusus yang dibutuhkan untuk mendukung operasi pemetaan bawah air tingkat lanjut secara optimal.

Ia menyarankan agar Angkatan Laut mempertimbangkan untuk berkolaborasi dengan pemain industri pertahanan global. Selain menyediakan opsi pengadaan yang lebih cepat, kemitraan internasional semacam itu juga dapat membantu meningkatkan kemampuan teknologi sektor pertahanan dalam negeri Indonesia.

   👷  antara  

Selasa, 08 September 2026

Prabowo Ingin TNI AL Perbanyak Pengadaan Kapał LCM dan LCVP

 Untuk antisipasi berbagai macam bencana Ilustrasi KRI TNI AL [TNI AL]

Presiden RI Prabowo Subianto berencana menambah lebih banyak kapal-kapal berjenis kapal pendarat mekanis (landing craft mechanized/LCM) dan kapal pendarat kendaraan dan personel (landing craft, vehicle, personnel/LCVP). Hal itu mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak gugusan pulau-pulau yang kecil.

Prabowo menjelaskan keberadaan kapal-kapal itu berguna untuk mengirimkan bantuan dan personel ke pulau-pulau kecil manakala daerah tersebut terdampak bencana. Hal itu belajar dari pengalaman pengiriman bantuan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana gempa belum lama ini.

"Catatan bagi kita, bagi Angkatan Laut ya, saya kira dari sekarang kita perlu pesan lebih banyak LCVP ya, dan LCM, saya kira kita butuh lebih banyak karena pulau-pulau kita banyak dan kecil-kecil, supaya (terbuka) aksesnya," kata Prabowo saat memimpin rapat terbatas (ratas) secara virtual di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026), membahas penanggulangan bencana gempa NTT.

Pembahasan mengenai rencana pembelian LCM dan LCVP itu diawali dengan permintaan tambahan kapal untuk kepentingan mitigasi bencana di NTT, yang disampaikan oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Permintaan kapal itu kemudian dijelaskan lebih rinci oleh Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VII Laksda Joni Sudianto.

"Saat ini, kami di Kodaeral VII ada dua kapal patroli, Pak. Namun, posisinya dua kapal tersebut ada di Surabaya. Kami mohon dapatnya ada paling tidak dua kapal patroli jenis FPB yang stand by di Kupang sehingga apabila terjadi sesuatu dan butuh bantuan kita bisa gerakkan dua kapal tersebut," kata Joni dalam laporan kepada Prabowo.

Mendapat saran itu, Prabowo yang duduk didampingi Kabaloghan Kemenhan Marsdya Yusuf Jauhari langsung memerintahkan jajarannya untuk mencatat permohonan dari Dankodaeral VII tersebut. "Baik, ya tolong dicatat," ujar Prabowo yang juga didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi dan Seskab Letkol Inf Teddy Indra Wijaya.

Prabowo mengatakan, pengerahan itu nanti di bawah perintah langsung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. "Ya nanti kita koordinasi dengan Panglima TNI ya. Di sini ada Kepala (Badan) Logistik (Pertahanan) nanti bisa dikirim ya? Jadi dua kapal patroli jenis FPB 57 ya. Itu cukup? Dua kapal itu cukup?" ucap Prabowo kepada Joni.

Menurut Joni, dua kapal patroli FPB 57 cukup untuk kebutuhan mitigasi dampak bencana. "Di NTT dan NTB sendiri kondisinya pulau-pulau kecil sehingga apabila kapalnya terlalu besar kesulitan untuk fasilitas labuhnya sehingga menurut kami dengan analisis operasional dua kapal FPB sudah cukup Bapak Presiden," ujar Joni VII menjawab pertanyaan Prabowo.

Dalam rapat yang sama, Prabowo juga menanyakan keberadaan LCM kepada Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali. "Di LPD itu dua LCM, biasanya stand by di dalam LPD. Sekarang, ada KRI Semarang, kalau tidak salah dia ada di sana (perairan NTT)," kata Ali menjawab pertanyaan RI 1.

Ali menyebutkan, total ada dua kapal yang bersiaga di perairan NTT untuk penanganan pascabencana disekitar wilayah Manggarai. Keduanya adalah KRI Semarang-594 dan satu LST berjenis Frosch.
 

  Republika  

Jumat, 28 Agustus 2026

Visi Strategis MRO di Bandara Kertajati Bagi Pertahanan Negara

  👷 🛩  Ilustrasi (Japos) 

Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) tidak semestinya dipandang sekadar sebagai proyek untuk meningkatkan utilisasi bandara. Lebih jauh, Kertajati memiliki peluang menjadi bagian dari strategi membangun kemandirian industri kedirgantaraan nasional.

MRO merupakan mata rantai penting dalam industri penerbangan. Pesawat yang diproduksi di dalam atau luar negeri tetap membutuhkan perawatan, perbaikan, modernisasi, penyediaan suku cadang, rekayasa, serta dukungan teknis sepanjang siklus hidupnya. Negara yang hanya mampu membeli pesawat, tetapi tidak mampu merawat dan meningkatkan kemampuannya secara mandiri, pada akhirnya tetap memiliki ketergantungan strategis.

Karena itu, pengembangan Kertajati perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas: sebagai upaya membangun ekosistem industri, sumber daya manusia, teknologi, dan jasa kedirgantaraan yang dapat memperkuat kepentingan ekonomi sekaligus pertahanan nasional.

 *Belajar dari MRO Negara Berkembang Lain*

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa pusat MRO yang berhasil tidak lahir hanya karena memiliki hanggar dan landasan yang memadai. Daya saingnya dibangun melalui kombinasi tenaga kerja terampil, sertifikasi internasional, kemampuan rekayasa, ketersediaan suku cadang, dukungan logistik, lembaga pendidikan, industri komponen, dan kepastian regulasi.

Brasil memberikan pelajaran penting. Melalui Embraer, negara tersebut tidak hanya membangun kemampuan manufaktur pesawat, tetapi juga mengembangkan jaringan services and support yang mencakup pemeliharaan, perbaikan, peningkatan kemampuan, suku cadang, pelatihan, dan dukungan teknis.

Ekosistem kedirgantaraan di sekitar Embraer, kota São José dos Campos, juga menunjukkan pentingnya konsentrasi industri. Pusat riset, perguruan tinggi, perusahaan rekayasa, pemasok komponen, dan fasilitas pengujian berkembang dalam satu lingkungan. Kekuatan seperti itu sulit dibangun jika MRO hanya dipandang sebagai kegiatan perawatan pesawat.

Pengalaman Helibras di Brasil juga memperlihatkan bagaimana kemampuan pemeliharaan dapat berkembang menjadi kemampuan industri yang lebih luas melalui integrasi, modernisasi, pelatihan, dan dukungan sepanjang siklus hidup helikopter.

Di Asia, Malaysia dan Singapura memberikan pelajaran berbeda. Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam MRO pesawat komersial dengan dukungan tenaga terlatih, jaringan penerbangan regional, dan kepatuhan terhadap standar internasional. Singapura, melalui ST Engineering Aerospace, membangun jaringan MRO yang melayani berbagai pasar internasional.

Keduanya menunjukkan satu hal: menjadi pusat MRO regional bukan terutama persoalan ukuran wilayah atau jumlah hanggar. Yang menentukan adalah kualitas layanan, sertifikasi, keandalan, kemampuan teknis, logistik, serta kepercayaan pelanggan.

Maroko juga menarik untuk dicermati. Negara tersebut mengembangkan industri kedirgantaraan dengan menggabungkan MRO, manufaktur komponen, rekayasa, pendidikan vokasi, dan investasi asing. Dari sini terlihat bahwa MRO dapat menjadi pintu masuk menuju industri yang lebih dalam, termasuk produksi komponen dan pengembangan kemampuan rekayasa.

Meksiko menunjukkan pola serupa melalui pengembangan kawasan kedirgantaraan yang menghubungkan MRO, manufaktur komponen, pelatihan, dan jasa rekayasa. Sementara itu, Afrika Selatan memperlihatkan pentingnya kesinambungan kemampuan teknis, riset, serta hubungan antara kebutuhan pertahanan dan industri nasional.

Pengalaman negara-negara tersebut tidak dapat disalin begitu saja. Kondisi Indonesia berbeda. Namun, terdapat pola universal: MRO yang kuat selalu tumbuh dari ekosistem industri yang kuat.

 *Bukan Sekedar Hanggar Pemeliharaan*

Pelajaran dari MRO negara-negara lain sangat relevan bagi Kertajati. Kawasan ini sebaiknya tidak dirancang hanya sebagai tempat pesawat datang, diperbaiki, kemudian pergi kembali.

Kertajati perlu dipikirkan sebagai aerospace cluster yang menghubungkan MRO sipil dan militer dengan pendidikan, pelatihan, engineering, riset, industri komponen, pengujian, sertifikasi, perguruan tinggi, serta jaringan pemasok.

Jika ekosistem tersebut terbentuk, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar. Kertajati tidak hanya menciptakan lapangan kerja bagi teknisi, tetapi juga mendorong tumbuhnya perusahaan komponen, jasa rekayasa, logistik, pendidikan vokasi, dan penelitian.

Investasi asing juga sangat diperlukan. Namun, investasi seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan penciptaan lapangan kerja. Investasi harus menjadi instrumen transfer kemampuan.

Pelatihan teknisi Indonesia, sertifikasi tenaga kerja, pengembangan engineering, keterlibatan industri nasional, peningkatan kemampuan perbaikan komponen, dan penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari desain kerja sama.

Ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa besar modal yang masuk, tetapi berapa besar kemampuan yang menetap di Indonesia setelah investasi tersebut berlangsung.

 *MRO dan Pertahanan*

Perspektif ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan pertahanan.

MRO pertahanan bukan sekadar persoalan efisiensi biaya. Ia berkaitan langsung dengan kesiapan operasional dan kedaulatan negara. Ketergantungan yang terlalu besar pada fasilitas pemeliharaan di luar negeri dapat menjadi persoalan ketika terjadi krisis, konflik, pembatasan ekspor, atau gangguan rantai pasok global.

Karena itu, kemampuan MRO nasional merupakan bagian dari defence industrial base. Setiap pengadaan alutsista semestinya tidak berhenti pada pembelian platform. Negara juga harus memikirkan bagaimana alutsista tersebut dirawat, diperbaiki, dimodernisasi, dan didukung selama puluhan tahun masa pakainya.

Di sinilah kebijakan pengadaan pertahanan perlu dihubungkan dengan kebijakan industri.

Pengadaan, transfer teknologi, pengembangan SDM, pembangunan fasilitas MRO, pengembangan komponen, riset, dan penguatan industri nasional harus dirancang sebagai satu kesatuan. Dengan pendekatan tersebut, setiap pembelian alutsista dapat menjadi kesempatan untuk memperbesar kemampuan industri dalam negeri.

Kertajati berpotensi menjadi salah satu titik temu dari berbagai kepentingan tersebut.

 *Dari Bandara Menjadi Ekosistem*

Dengan pasar penerbangan yang besar dan posisi geografis Indonesia yang strategis, Kertajati memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu simpul MRO di Asia Tenggara. Namun, peluang tersebut tidak boleh dianggap sebagai posisi yang sudah tercapai.

Untuk menjadi pusat MRO regional, Kertajati harus mampu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar fasilitas fisik: kualitas teknisi, sertifikasi internasional, kecepatan pengerjaan, ketersediaan komponen, dukungan rekayasa, kepastian regulasi, dan kepercayaan pelanggan.

Jika kemampuan tersebut berhasil dibangun, pesawat dari negara-negara kawasan dapat dirawat di Indonesia. Devisa yang selama ini keluar untuk MRO luar negeri dapat dikurangi. Pada saat yang sama, Indonesia dapat memperoleh devisa dari ekspor jasa MRO.

Lebih penting lagi, terbentuk kemampuan teknologi yang menetap di dalam negeri.

Karena itu, pembangunan Kertajati sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak pesawat yang dapat ditangani atau berapa besar investasi yang masuk. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: kemampuan apa yang akan dikuasai Indonesia dalam 10, 20, atau 30 tahun mendatang?

Jika jawabannya mencakup teknisi yang semakin unggul, industri komponen yang semakin kuat, kemampuan rekayasa yang semakin mandiri, sertifikasi internasional yang semakin luas, serta kemampuan merawat dan memodernisasi alutsista secara nasional, maka Kertajati benar-benar menjadi proyek strategis.

Kertajati pada akhirnya bukan sekadar persoalan sebuah bandara. Ia adalah kesempatan untuk membangun ekosistem kedirgantaraan Indonesia.

Jika dikembangkan dengan visi jangka panjang, didukung kebijakan yang konsisten, pembiayaan yang jelas, target terukur, serta keputusan resmi yang kuat, Kertajati berpeluang menjadi salah satu fondasi industri kedirgantaraan nasional dan, pada waktunya, berkembang menjadi pusat MRO regional.

Ukuran keberhasilannya bukan sekadar berdirinya hanggar atau besarnya investasi. Ukuran yang sesungguhnya adalah lahirnya kemampuan nasional yang sebelumnya harus dibeli dari luar negeri.

Di situlah makna strategis Kertajati bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Oleh: Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc)

  👷 
Japos  

Jumat, 21 Agustus 2026

Menhan Tiongkok Sepakat Perdalam Kerja Sama Militer dengan Indonesia

  Modernisasi sistem pertahanan nasional Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) bersama Menteri Pertahanan China Laksamana Dong Jun di Gedung Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). (ANTARA/Walda Marison)
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menerima kedatangan Menhan Tiongkok Laksamana Dong Jun di Gedung Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan memperdalam kerja sama militer dengan Indonesia.

"Saat ini kerja sama pertahanan Tiongkok-Indonesia sudah jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Baik dari segi kedalamannya maupun cakupannya kita telah mencapai hasil yang melimpah di berbagai bidang dan semua tingkatan," kata Dong Jun usai kedatangannya disambut oleh Sjafrie di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, dilansir dari Antara, Jumat, 21 Agustus 2026.

Dong Jun mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menggandeng Indonesia dalam memodernisasi sistem pertahanan nasional. Hal tersebut, menurut dia, harus dilakukan agar Indonesia dan Tiongkok mampu menjadi negara yang kuat dan bisa menangkal ragam ancaman di kawasan.

Tidak hanya di bidang modernisasi alutsista saja, Dong Jun memastikan kedua negara akan menyelami ragam potensi kerja bidang pertahanan. Hal ini, demi memperkuat posisi Indonesia dan Tiongkok di ASEAN maupun dunia.

"Boleh dikatakan, kerja sama kedua negara memiliki prospek yang luas. Kualitas dan efisiensinya terus meningkat," terang Dong Jun.

Oleh karena itu, Dong berharap kerja sama strategis ini bisa terus terjalin dengan baik demi kebaikan Indonesia dan Tiongkok.

"Saya bersama Pak Menhan Sjafrie, kami sama yakin bahwa di bawah kepemimpinan dan arahan kepala negara, kita dapat meningkatkan hubungan kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi. Terima kasih," ungkap Dong Jun.

Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyambut baik ragam rencana kerja sama militer yang akan dijalankan Indonesia dan Tiongkok. Sjafrie berharap kerja sama bidang pertahanan ini dapat semakin mempererat hubungan baik antara Indonesia dengan Tiongkok, yang sudah terjalin sejak 19 tahun lalu.

"Hubungan antara Indonesia dan Tiongkok itu berlangsung dengan sangat akrab dan kita akan komitmen untuk meningkatkan kerja sama ini," kata Sjafrie.

  💥 
Metro TV  

Selasa, 18 Agustus 2026

[Video] Drone Anak Bangsa Untuk Pertahanan Negara

 ⍜  Puluhan drone lokal tampil dalam Expo di Jakarta Ilustrasi drone serbu otomatis digunakan Pasmar (PasMar1)

Puluhan produsen drone lokal tampil di Indonesia Drone Expo 2026 di Kemayoran, Jakarta.

Dari data Kementrian Perindustrian menunjukan produksi drone lokal berpotensi ekonomi yang tinggi

 Berikut video liputan CNN :



 
   Youtube    

Minggu, 16 Agustus 2026

Prajurit Koops TNI Habema Amankan Senjata Kelompok Bersenjata di Gamagai

🛩  Melalui observasi menggunakan drone Prajurit Koops TNI Habema kembali menunjukkan ketangguhan, kewaspadaan, dan profesionalisme melalui pelaksanaan penguasaan wilayah terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap VIII/Intan Jaya pimpinan Apeni Kobogau di sekitar Kampung Gamagai, Distrik Ugimba, Kab. Intan Jaya , Provinsi Papua Tengah, (Habema)

Dalam menjalankan tugas menjaga keamanan, prajurit Koops TNI Habema kembali menunjukkan ketangguhan, kewaspadaan, dan profesionalisme melalui pelaksanaan penguasaan wilayah terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap VIII/Intan Jaya pimpinan Apeni Kobogau di sekitar Kampung Gamagai, Distrik Ugimba, Kab. Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, Papua Tengah, Sabtu (15/08/26).

Patroli tersebut bermula ketika personel Koops TNI Habema diKampung Gamagai melaksanakan pengamanan wilayah. Di tengah kondisi medan yang gelap dan terjal, suhu dingin ekstrim 3 derajat, prajurit tetap menjalankan tugas dengan penuh kewaspadaan. Suara anjing serta cahaya senter yang terpantau di sekitar sungai menjadi petunjuk awal yang kemudian ditindaklanjuti melalui observasi menggunakan drone.

Hasil pemantauan udara menunjukkan adanya tiga orang yang bergerak menyusuri sungai menuju wilayah Distrik Ugimba dan kemudian berhenti di sebuah honai yang diduga menjadi tempat persinggahan. Informasi tersebut segera dilaporkan secara berjenjang untuk menentukan langkah selanjutnya. Koordinasi yang cepat dan terukur kemudian dilakukan dengan menambah kekuatan personel dari TK Gamagai untuk melaksanakan penyergapan.

Pada sabtu dini hari, personel melaksanakan penguasaan wilayah terhadap honai yang menjadi lokasi persinggahan kelompok tersebut. Saat penindakan dilakukan, kelompok yang diduga OPM tersebut memilih melarikan diri menuju kawasan hutan dan ketinggian, yang mengarah ke Kampung Kulapa.

Dari hasil pemeriksaan, personel berhasil mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok besenjata OPM, antara lain satu senjata rakitan, satu pistol revolver standar, tujuh butir munisi, satu kotak munisi senapan angin, satu panah beserta lima anak panah, dua noken, satu bendera Bintang Kejora, satu senter, serta sembilan baterai.

Kapen Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menyampaikan bahwa keberhasilan penguasaan wilayah tersebut merupakan hasil dari kesiapsiagaan, kecermatan, dan koordinasi personel di lapangan. “Prajurit Koops TNI Habema akan terus melaksanakan tugas secara selektif, terukur, profesional, dan mengutamakan keselamatan masyarakat dalam menjaga keamanan wilayah Papua,” ujarnya.

Keberhasilan tersebut menjadi gambaran nyata ketangguhan prajurit Koops TNI Habema dalam melaksanakan tugas di tengah medan Papua yang berat dan penuh tantangan. Patroli tersebut dilaksanakan secara selektif, terukur, profesional, dan tetap mengutamakan keselamat masyarakat serta nilai-nilai kemanusiaan, para prajurit terus hadir untuk menjaga keamanan dan memberikan rasa aman bagi masyarakat di Wilayah Papua.

Operasi di Kampung Gamagai juga menunjukkan bahwa keberhasilan dalam menghadapi situasi keamanan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan, tetapi oleh kesiapsiagaan, kecermatan, koordinasi, dan kemampuan prajurit mengambil keputusan secara terukur di lapangan. Di balik beratnya medan dan panjangnya waktu penugasan, para prajurit tetap menjalankan amanah dengan satu tujuan menjaga keamanan wilayah, melindungi masyarakat, dan memastikan tugas negara terlaksana dengan penuh tanggung jawab. (***)

  🛩 Lintas Papua  

Rabu, 12 Agustus 2026

Kemhan Dorong Indonesia Menuju Kedaulatan Teknologi Pertahanan

🛩  Bukan Sekadar Beli Drone! Ilustrasi drone pada pameran Indonesia Drone Expo 2026 (IDM)

Era perang modern telah mengalami perubahan mendasar. Teknologi sistem tanpa awak atau unmanned systems kini bukan lagi sekadar pelengkap kekuatan militer, melainkan telah menjadi bagian penting dari ekosistem pertahanan yang menghubungkan sensor, data, komunikasi, kecerdasan buatan (AI), sistem komando hingga unsur manusia sebagai pengguna.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kabatekhhan Kemhan) Laksamana Muda TNI Arif Harnanto dalam acara Indonesia Drone Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8).

Mengusung tema “Advancing Indonesia’s Defense Capabilities through Unmanned Systems”, Arif mengemukakan perkembangan sistem tanpa awak harus dipandang sebagai bagian dari transformasi pertahanan nasional, bukan sebatas perlombaan memiliki drone sebanyak-banyaknya.

Satu pesan utama yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini adalah bahwasanya sistem tanpa awak bukan hanya sekadar sebuah sistem yang tidak diawaki,” kata Arif.

Menurutnya, sistem tanpa awak harus terintegrasi dengan jaringan sensor, data, komunikasi, komando, kecerdasan buatan, serta unsur pelaksana atau pengguna sehingga seluruh komponen dapat bekerja sebagai satu kesatuan.

Ukuran keberhasilan pembangunan sistem tanpa awak, lanjut Arif, tidak dapat hanya dilihat dari jumlah drone yang dimiliki Indonesia.

Keberhasilan kita tidak cukup diukur dari berapa banyak drone yang sudah kita miliki. Keberhasilan harus diukur dari kemampuan kita untuk mengintegrasikannya, mengoperasikannya, mempertahankannya, serta memproduksi serta mengembangkan sistem tersebut secara mandiri,” ujarnya.

Arif menjelaskan perkembangan teknologi drone juga telah mengubah karakter operasi modern.

Sistem tanpa awak memungkinkan sebuah kekuatan memperluas jangkauan pengindraan hingga mempertahankan pengawasan dalam waktu lebih lama.

Perubahan tersebut semakin cepat karena teknologi drone kini tidak lagi hanya dikuasai negara dengan industri pertahanan besar.

Ketersediaan komponen komersial, perangkat lunak terbuka, sensor berukuran kecil, komunikasi digital, AI, serta teknologi manufaktur membuat siklus inovasi berlangsung semakin singkat.

Arif menilai kondisi tersebut menciptakan tantangan serius bagi industri pertahanan konvensional.

Pasalnya, siklus pengembangan teknologi dapat bergerak lebih cepat dibandingkan siklus pengadaan sistem pertahanan konvensional.

Sistem yang hari ini kita anggap sudah unggul dapat menjadi usang dalam waktu yang sangat singkat,” tegasnya.

 Indonesia Tak Bisa Hanya Mengandalkan Platform Besar

Bagi Indonesia, kebutuhan terhadap sistem tanpa awak semakin strategis karena karakter geografis nasional yang sangat luas.

Ribuan pulau, jalur laut strategis, kawasan perbatasan, wilayah udara yang besar hingga lingkungan bawah laut membutuhkan kemampuan pengawasan yang luas dan berkelanjutan.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai membutuhkan kombinasi sistem berawak dan tanpa awak, platform besar dan kecil, sensor tetap maupun bergerak, serta sistem strategis yang dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan waktu relatif singkat.

Sistem tanpa awak dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengawasan perbatasan, maritime domain awareness, intelijen hingga pengawasan dan pengintaian atau ISR.

Namun, Arif mengingatkan agar pembangunan teknologi tidak dimulai dari pertanyaan mengenai drone apa yang harus dibeli.

Pertanyaannya haruslah berupa sebuah pertanyaan, bukan ‘drone apa yang akan kita beli,’ tetapi pertanyaan yang lebih tepat adalah ‘masalah operasi apa yang harus kita selesaikan,’ dan ‘efek apa yang ingin dihasilkan,’ serta ‘sistem apa untuk menghasilkan efek tersebut,’” jelasnya.

  🛩
IDM 

Jumat, 31 Juli 2026

Indonesia Berencana Tambah Fregat dan Kapal Selam Baru dari Italia

 🤝  Direncanakan kembali mengambil jatah AL ItaliaKapal PPA ketiga direncanakan akan mengambil jatah AL Italia.  (Seaforces)

Indonesia dilaporkan berencana untuk mengakuisisi satu kapal fregat serbaguna PPA dan satu kapal selam U212 NFS dari inventaris Angkatan Laut Italia (Marina Militare), keduanya dibangun oleh Fincantieri.

Jika diselesaikan, kedua platform tersebut diharapkan akan dikirimkan pada akhir tahun 2027 atau awal tahun 2028.

PPA adalah kapal perang multiperan yang sangat mumpuni yang dirancang untuk pertahanan udara, peperangan anti-kapal selam, peperangan anti-kapal permukaan, dan misi keamanan maritim.

Kapal selam U212 NFS dikenal sebagai Wiro Sableng (occar)

Sementara U212 NFS adalah salah satu kapal selam konvensional tercanggih di dunia, dilengkapi dengan Sistem Propulsi Independen Udara (AIP) untuk daya tahan bawah air yang lebih lama dan peningkatan kemampuan siluman.

Akuisisi yang dilaporkan ini menyoroti upaya berkelanjutan Indonesia untuk memodernisasi angkatan lautnya dengan cepat di tengah meningkatnya tantangan keamanan di Indo-Pasifik.


   👷  antaraThe National Defence   

Jumat, 24 Juli 2026

Menteri PU Beber Daftar Jalan Tol Jadi Landasan Pesawat Tempur

✈   Untuk  kondisi daruratPesawat F16 mendarat di jalan tol trans Sumatera (Dispenau)

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo membeberkan daftar jalan tol yang bakal menjadi landasan darurat bagi pesawat tempur. Adapun lokasi lintasan tersebut, mayoritas berada di Barat Indonesia.

"Ada beberapa ruas jalan tol yang memang kita diamanatkan bisa dipakai penerbangan pesawat jet tempur manakala dalam kondisi darurat. Ini dalam kondisi darurat ya, jadi ada disclaimer dulu," ujar Dody di Kantor Kementerian PU Jakarta, Rabu (22/7).

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan sejumlah ruas jalan tol yang bisa dimanfaatkan sebagai landasan pesawat tempur. Meskipun begitu, Dody menegaskan bahwa penggunaan jalan tol tersebut hanya dilakukan dalam kondisi darurat.

Dody mengungkapkan salah satu jalan tol yang telah diuji coba untuk pendaratan pesawat tempur adalah Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka).

Ke depan, Dody mengatakan jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi), serta Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan akan bisa digunakan untuk pendaratan pesawat tempur.

Sejumlah jalan tol di Sumatera juga akan dimanfaatkan sebagai lokasi pendaratan darurat untuk pesawat tempur, salah satunya tol yang berada di Lampung yakni Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka).

Selanjutnya, di ujung Sumatera ada Tol Sigli-Banda Aceh yang diperkirakan bisa dimanfaatkan menjadi landasan darurat pesawat tempur.

"Kemarin yang sudah kita coba kan di Lampung ya. Kemudian Pak Menhan, minta lagi yang di ujung Sumatera, mungkin nanti Aceh Sigli yang kita akan coba di situ. Terus kemudian, Situbondo, di Prosiwangi itu kita siapkan," tandas Dody. (ldy/ins)

  ✈  CNN  

Selasa, 14 Juli 2026

TNI AL Tunggu Keputusan Menhan Soal Penggunaan Rudal BrahMos

➶ Direncanakan sebagai rudal pertahanan pantaiRudal BrahMos dari India akan digunakan sebagai rudal pertahanan pantai (missilethreat)

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) Republik Indonesia soal penggunaan rudal BrahMos.

"Untuk kerja sama dengan Indonesia, ini masih dalam penanganan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan," kata Tunggul saat jumpa pers di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

Tunggul belum bisa menjelaskan lebih lanjut soal rencana TNI AL dalam menggunakan rudal yang disebut cocok untuk pertahanan pantai itu.

Kendati demikian, dia menyambut baik kesepakatan kerja sama antara India dan Indonesia dalam pengembangan rudal BrahMos.

Dengan adanya kerja sama ini, dia meyakini pertahanan Indonesia akan semakin kuat.

Kontrak kerja sama pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos antara BrahMos Aerospace dan Kementerian Pertahanan RI diumumkan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi dalam rangkaian kunjungan kenegaraan PM Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7).

Dalam kesempatan yang sama, diumumkan pula perjanjian kerja sama pengadaan rudal udara-ke-udara (air-to-air missile/AAM) antara Bharat Dynamics Limited (BDL) dan Republikorp.

Kedua dokumen tersebut menjadi bagian dari 16 kerja sama yang diumumkan dalam kunjungan kenegaraan PM Modi ke Indonesia.

Indonesia telah membidik akuisisi rudal BrahMos sejak beberapa tahun terakhir. Beberapa hari sebelum kunjungan PM Modi, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty menyatakan pembahasan mengenai kerja sama pengadaan BrahMos telah memasuki tahap yang sangat maju dan diharapkan segera mencapai kesepakatan.

  antara  

Kamis, 02 Juli 2026

[Teror] KKB Bakar Pesawat dan Bunuh Pilot di Yakuhimo

Pilot berasal dari ASPesawat AMA diduga dibakar KKB di Yahukimo. (dok. Istimewa)

Pesawat milik PT AMA dengan nomor register PK-RCY yang diduga dibakar kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dilaporkan membawa 7 penumpang. Seorang pilot bernama Nicholas F. Goselin dikabarkan meninggal dunia di lokasi kejadian.

"Laporan awal dari Kepala UPBU Kelas I Wamena yang menyebutkan bahwa pilot pesawat atas nama Nicholas F. Goselin dilaporkan meninggal dunia," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemehub, Lukman F. Laisa dalam keterangannya, dilansir detikSulsel, Kamis (2/7/2026).

Lukman belum merinci kronologi kejadian tersebut. Pesawat awalnya berangkat dari Bandar Udara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

"Pesawat berangkat dari Bandar Udara Wamena pada pukul 06.30 WIT dengan membawa 1 orang pilot dan 7 penumpang," ujarnya.

Lukman juga belum memastikan penyebab pilot tersebut meninggal dunia. Pihaknya masih menunggu penyelidikan lebih lanjut dari aparat berwenang.

"Saat ini, PT AMA bersama UPBU Kelas I Wamena dan instansi terkait masih melakukan pendalaman serta verifikasi kronologi kejadian untuk memastikan seluruh fakta di lapangan," imbuhnya. (yld/idh)

  💂 detik  

Selasa, 30 Juni 2026

BRIN dan Pindad Jajaki Kolaborasi Riset

  🤝  Perkuat Industri Pertahanan RCWS hasil kerjasama Pindad (Pindad)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) menerima kunjungan PT Pindad dalam rangka penjajakan kerja sama penelitian dan pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan (hankam), pada Senin (22/6).

Pertemuan yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun Bandung tersebut menjadi forum diskusi awal untuk mengidentifikasi potensi kolaborasi riset yang dapat mendukung penguatan industri pertahanan nasional.

Kepala OREI BRIN Budi Prawara dalam sambutannya memperkenalkan struktur organisasi, pusat-pusat riset yang berada di bawah OREI, serta berbagai kompetensi yang dimiliki para periset.

Salah satu unit yang menjadi fokus pembahasan adalah Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) yang memiliki sejumlah aktivitas riset strategis yang dinilai berpotensi untuk dikolaborasikan dengan PT Pindad.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN, Yanuandri Putrasari, memaparkan berbagai kapasitas dan pengalaman riset PRMC yang relevan untuk mendukung litbang hankam.

Menurutnya, kompetensi PRMC mencakup bidang mesin, elektro, informatika, dan sistem kendali yang terintegrasi dalam pengembangan teknologi mekatronika cerdas.

PRMC memiliki berbagai kelompok riset yang fokus pada sistem instrumentasi cerdas, mesin cerdas dan sistem otonom, dinamika dan kendali cerdas, biomekatronika, robotika dan sistem cerdas, serta fluida plasma cerdas. Kapasitas ini sangat relevan untuk mendukung pengembangan teknologi pertahanan nasional,” jelas Yanuandri.

Ia menambahkan bahwa sejumlah hasil riset yang telah dikembangkan PRMC berpotensi untuk di hilirisasi dan dikolaborasikan bersama industri pertahanan.

Salah satunya adalah pengembangan mesin nasional dua silinder 1.000 cc yang dirancang untuk mendukung industri otomotif dalam negeri.

Teknologi tersebut telah mencapai tingkat kesiapan teknologi yang memungkinkan pengembangan lebih lanjut menuju tahap penerapan industri.

PRMC juga memiliki rekam jejak riset di bidang sistem persenjataan dan sistem otonom, antara lain robot penjinak bom MoroLIPI, lengan robot bersenjata, Remote Controlled Weapon System (RCWS), turret kaliber 20 mm, Electronic Optical Tracking (EOT), serta berbagai teknologi pendukung sistem kendali dan stabilisasi,’’ papar Yanuandri.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan RCWS menjadi salah satu contoh teknologi yang memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan industri pertahanan.

Sistem tersebut dirancang sebagai platform persenjataan yang dapat diintegrasikan pada kendaraan tempur, kapal tempur, maupun wahana lainnya. Beberapa tahapan pengujian performa RCWS juga pernah dilakukan bersama PT Pindad.

Kolaborasi dengan industri sangat penting agar hasil-hasil riset tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang siap digunakan dan memberikan kontribusi nyata bagi kemandirian teknologi nasional,” ujar Yanuandri.

Bersamaan dengan itu, Vice President Inovasi dan Pengembangan Bisnis PT Pindad, Rakhmad Aryo, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama yang dapat mendukung pengembangan produk dan teknologi pertahanan nasional.

Menurutnya, PT Pindad membutuhkan dukungan dari lembaga riset untuk memperkuat kemampuan inovasi dan pengembangan teknologi strategis.

Diskusi yang berlangsung antara kedua pihak membahas berbagai aspek teknis dan peluang sinergi, mulai dari sistem otonom, teknologi persenjataan, sistem kendali cerdas, hingga pengembangan komponen dan subsistem yang mendukung alat utama sistem persenjataan. nasional.

Melalui pertemuan ini, BRIN dan PT Pindad berharap dapat menindaklanjuti pembahasan menuju kerja sama yang lebih konkret, sehingga hasil-hasil riset nasional dapat semakin berkontribusi dalam memperkuat ekosistem industri pertahanan Indonesia sekaligus mendukung kemandirian teknologi bangsa.

  🤝  BRIN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...