Tampilkan postingan dengan label Trikora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trikora. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 September 2023

Saat Pengiriman 2 Kapal Selam RI dari Uni Soviet Diintai Pesawat AS

RI Pasopati, kapal selam generasi awal dari Satuan Hiau Kencana TNI AL mengikuti Hari Armada, Jumat 5 Desember 1975 di Surabaya (Kompas)

Pembelian 12 kapal selam kelas Whiskey (W) dari Uni Soviet pada periode 1959 hingga 1960-an menjadi titik awal pembangunan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) atau kini yang bernama TNI Angkatan Laut.

Pembelian kapal selam ini mempunyai tujuan strategis, salah satunya untuk mendukung operasi pembebasan Irian Barat yang kala itu masih dalam kekuasaan Belanda.

Akan tetapi, pengadaan kapal selam tersebut ternyata tidak berjalan mulus.

Ketika dalam pengiriman menuju Tanah Air, pergerakan kapal selam pesanan Indonesia ini dipantau oleh pesawat pengintai Angkatan Laut Amerika Serikat. Dan, peristiwa pengintaian ini tidak terjadi sekali saja.

 Pengintaian pertama 
Kapal selam kelas Whiskey ALRI pada Operasi Trikora (Hiu Kencana)

Pengintaian pertama terjadi setelah 112 personel ALRI selesai menjalani pelatihan pengoperasian dua kapal selam yang dipesan Indonesia dari Uni Soviet pada 1959.

Sebanyak 112 personel tersebut sebelumnya menjalani seleksi di Malang, Jawa Timur. Salah satu pesertanya ialah Mayor Laut RP Poernomo yang kala itu menjabat Komandan Kapal RI Pati Unus.

Poernomo diperintahkan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya R Soebijakto untuk menjalani pendidikan awak kapal selam.

Dikutip dari buku berjudul "Mission Accomplished" karya Atmadji Sumarkidjo, setelah merampungkan tahap seleksi, mereka berangkat menggunakan kapal sipil berbendera Denmark, MV Heinrich Jessen menuju sebuah pelabuhan di Laut Adriatik, Eropa.

Dari sana mereka melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api melewati negara-negara Blok Timur hingga sampai ke Pelabuhan Gdanz, Polandia. Poernomo baru sadar. Ia dan personel lainnya tidak menjalani pelatihan di Uni Soviet, melainkan di kapal selam Uni Soviet yang berpangkalan di Polandia.

Pendeknya, latihan demi latihan mereka lakoni. Mereka juga menyerap pendidikan teori dan praktik pengoperasian kapal selam.

Puncak pendidikan ini adalah tahap ujian akhir yang diselenggarakan di Laut Baltik. KSAL Laksamana Madya R Soebijakto rela datang dari Jakarta untuk menyaksikan langsung ujian akhir calon pengawak kapal selam ALRI masa depan.

Tahap ujian akhir dipimpin seorang Laksamana dan sejumlah perwira kapal selam Uni Soviet. Materi ujian akhir di antaranya, trimming bergerak menggunakan snorkel hingga crash dive secara cepat dan tepat.

Para peserta didik pun sukses menjalani ujian akhir, sampai-sampai seorang Laksamana Uni Soviet yang memimpin jalannya ujian akhir menyampaikan pujian atas kemampuan peserta didik Indonesia.

Setelah pendidikan rampung, seluruh personel akhirnya pulang ke Tanah Air menggunakan kapal, minus Poernomo dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM). Keduanya pulang menggunakan dua kapal selam yang sebelumnya sudah dipesan Indonesia.

Ketika dalam pengiriman menuju Indonesia, dua kapal selam tersebut masih menggunakan nomor lambung Angkatan Laut Uni Soviet, masing-masing S-79 dan S-91. Kelak dua kapal selam ini dinamai RI Tjakra dan RI Nanggala.

Pada saat pengiriman inilah, dua kapal selam kelas W ini diintai oleh pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat.

 Pengintaian kedua 
KRI Tjandrasa-408, Kapal selam kelas Whiskey ALRI (Militer.id)

Dua tahun berselang, tepatnya pada 1961, Indonesia kembali mendapatkan empat kapal selam kelas W dari Uni Soviet.

Sama seperti pengiriman pertama, ketika dalam perjalanan menuju Tanah Air, empat kapal selam tersebut juga dipantau langsung oleh pesawat Armada VII AS.

Komandan kapal selam KRI Nagananda Tjipto Wignjoprajitno menuturkan, empat kapal selam ini sebetulnya sengaja meninggalkan Pelabuhan Vladivostok, Uni Soviet, tepat ketika perayaaan Natal pada 25 Desember 1961.

Mereka memprediksi patroli Armada VII AS di Laut Jepang sedang dalam tingkat minimal ketika libur hari Natal datang. Apalagi, ketika berangkat, cuaca sedang cukup buruk. Ombak lautan cukup tinggi dan hujan sangat lebat.

Kondisi ini memungkinkan konvoi kapal ALRI dan kapal sipil yang mengangkut kru ALRI tidak terdeteksi Armada VII AS.

Permasalahan pun datang. Salah satu kapal selam tidak bisa melakukan snorkeling atau menyelam penuh ketika melintasi Selat Taiwan.

Saat itulah, sebuah pesawat jenis P-3C melintas dan mengambil gambar-gambar pergerakan mereka. Sejak itu, pergerakan mereka mulai diintai ketat hingga memasuki Laut Sulawesi.

Setelah masuk ke Indonesia, kapal-kapal tersebut kemudian diserahkan dan memperkuat armada ALRI.

Selanjutnya, Indonesia kembali mendatangkan enam kapal selam kelas W setelah sebelumnya sudah memiliki enam unit.

Total ada 12 kapal selam yang pernah dimiliki Indonesia ketika kampanye Tri Komando Rakyat atau Trikora bergema untuk membebaskan Irian Barat dari selimut kekuasaan Belanda.

 ⚓️  Kompas  

Minggu, 27 Agustus 2023

Ketika Kapal Selam Tjandrasa Kucing-kucingan dengan 2 Kapal Perang Belanda

KRI Tjandrasa-408 (Militer.id)

Kapal selam Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), RI Tjandrasa-408 pernah kucing-kucingan dengan dua kapal perang Belanda dalam Operasi Cakra II sekitar pertengahan Agustus 1962.

Peristiwa ini terjadi ketika RI Tjandrasa tengah mengemban misi operasi pembebasan Irian Barat dari kekuasaan Belanda.

Saat itu, RI Tjandrasa mulai mendekati Kepulauan Mapia yang menjadi daerah kekuasaan Belanda.

Tepat sekitar pukul 22.00, RI Tjandrasa tiba-tiba menangkap sebuah cahaya lampu dari kejauhan. Jarak lampu cahaya tersebut hanya sekitar 4 mil dari posisi mereka.

Para awak RI Tjandrasa semula mengira bahwa lampu cahaya tersebut berasal dari sebuah kapal nelayan. Perkiraan itu tak lepas karena deteksi sonar RI Tjandrasa tidak jelas.

Akan tetapi, setelah diikuti terus-menerus, sonar RI Tjandrasa tiba-tiba menang kap echo yang semakin lama semakin jelas.

Tak tanggung-tanggung, sonar RI Tjandrasa menangkap dua kapal perang yang dating sekaligus.

"Tidak mungkin kapal nelayan bersama-sama mengarah ke suatu tempat," cerita Letnan Subagijo, seorang perwira torpedo RI Tjandrasa, dikutip dari buku berjudul "Mission Accomplished" karya Atmadji Sumarkidjo.

Setelah mengetahui "sosok" di balik lampu cahaya tersebut, sentral perwira jaga yang telah mendapat laporan langsung mengeluarkan perintah agar RI Tjandrasa "menyelam cepat".

Ketika posisi RI Tjandrasa semakin dekat, juru sonar melaporkan bahwa mereka menangkap suara baling-baling dari kapal perang. Hal ini diperkuat dengan momen RI Tjandrasa yang dapat menangkap suara ping sonar mereka.

Selanjutnya, RI Tjandrasa terus menyelam ke kedalaman 100 meter dengan kecepatan setengah dan haluan zig-zag menuju arah utara Kepulauan Mapia.

Namun, usaha ini ternyata belum membuahkan hasil. Posisi RI Tjandrasa masih terdeteksi oleh kapal perang musuh.

RI Tjandrasa pun menambah kecepatan dan kedalaman sampai mencapai 150 meter. Pada kedalaman ini, barulah deteksi sonar kapal perang Belanda sudah tidak terdengar lagi dan berlahan sasaran kian menjauh.

Subagijo memperkirakan bahwa cuaca di atas permukaan cukup membantunya. Apalagi, langit gelap dan kebetulan ombak cukup besar.

"Mungkin operator sonar mereka agak mabuk," katanya.

"Jadi dia tidak bisa berkonsentrasi mencari jejak kami...," ujar Subagijo.

Sejalan dengan menjauhnya bahaya di depan mata, RI Tjandrasa berlahan mengurangi kecepatan dengan tetap berlayar konstan menuju utara untuk menghilangkan jejak.

 Pertemuan Perdana  Frigat Belanda Hr. Ms. Evertsen F803 (NIMH)

Subagijo mengaku momen tersebut merupakan pertama kalinya mereka bertemu musuh sesungguhnya.

"Terus terang saja, ada dua perasaan bercampur. Yang satu, semangat tinggu untuk bisa menggunakan senjata torpedo ke musuh. Perasaan kedua, ya Allah, mudah-mudahan diberi perlindungan...," kata Subagijo.

Sementara itu, dari deteksi sonar RI Tjandrasa diketahui bahwa kapal yang mengejar mereka ada dua buah.

Menurut informasi yang mereka kantongi, di kawasan tersebut terdapat tiga kapal perang Belanda yang berpatroli.

Ketiga kapal perang ini ialah frigat HrMs Evertsen, HrMs Kortenaar, dan HrMs Utrecht. Di atas kertas, dua kapal perang Belanda ini lebih mudah menjepit posisi RI Tjandrasa.

Namun, echo sonar musuh terkadang mendeteksi dan kadang menghilang. Ditambah, ombak laut di atas permukaan besar. Hal ini yang diduga oleh pihak ALRI membuat kapal perang Belanda ragu untuk menyerang.

Sebaliknya, RI Tjandrasa hanya berusaha menghindar. Sebab, tugas yang mereka emban hanya bersifat reconnaissance atau pengintaian.

Setidaknya, RI Tjandrasa kucing-kucingan dengan dua kapal perang Belanda selama dua jam.

 ⚓️  Kompas  

Minggu, 11 September 2022

Legenda Kopassus Bungkam Tak Mau Bocorkan Rahasia Negara

Dianugerahi medali "Bintang Sakti" pada 1987 Legenda Kopassus Kolonel Inf. Agus Hernoto. [Foto/istimewa]

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan pasukan elite TNI AD yang selalu melahirkan prajurit-prajurit pemberani dan patriotik di medan operasi. Salah satu prajurit yang melegenda karena aksi heroiknya adalah Kolonel Inf. Agus Hernoto.

Sepak terjangnya di palagan pertempuran mampu membuat gentar dan ciut nyali musuh. Keberanian dan sikap teguhnya dalam menjalankan misi operasi, menjadikan Agus Hernoto sebagai legenda Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang bernama Kopassus.

Tidak hanya itu, keberanian pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 1 Agustus 1930 menyabung nyawa dalam mengemban tugas operasi membuatnya disegani dan dihormati oleh para senior serta komandannya di Korps Baret Merah.

Bahkan, tokoh militer dan intelijen Jenderal TNI (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani atau dikenal dengan sebutan Benny Moerdani rela dikeluarkan dari Kopassus karena membela Agus Hernoto. Saat itu, Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimoeljo memindahkan Agus Hernoto ke Staf Umum Angkatan Darat III Bagian Organisasi karena cacat seusai pulang dari operasi.

Dalam buku biografinya berjudul "Kolonel Inf. Agus Hernoto: Legenda Pasukan Komando dari Kopassus Sampai Operasi Khusus” diceritakan, Agus Hernoto yang saat itu berpangkat Letnan Dua (Letda) mendapat tugas untuk memimpin Operasi Banteng I untuk membebaskan Irian Barat sekarang Papua dari cengkeraman Belanda.

Operasi Banteng I merupakan operasi infiltrasi atau penyusupan ke belakang garis musuh melalui udara. Operasi militer ini sebagai tindak lanjut dari Tri Komando Rakyat (Trikora) yang dikumandangkan Presiden Soekarno pada 9 Desember 1961.

Operasi ini terbilang berbahaya dan taruhannya adalah nyawa. Panglima Mandala Mayjen TNI Soeharto yang melepas keberangkatan pasukan di Lapangan Udara Lahat, Amahai, Ambon, menyebut misi ini sebagai one way ticket (misi tanpa ada jaminan bisa selamat kembali pulang).

Aksi berani prajurit Kopassus juga membuat heran Belanda. Mereka tidak menyangka, tentara Indonesia berani melakukan penerjunan di pedalaman hutan rimba Papua yang ganas di pagi buta. Bagi mereka hanya orang-orang gila dan punya nyali nekat yang berani melakukan misi ini.

Selanjutnya, Benny Moerdani melakukan perekrutan dan Agus mengajukan diri untuk ikut dalam operasi tersebut. Agus kemudian terpilih menjadi komandan karena pernah mengikuti pendidikan komando di Amerika Serikat.

Saat Kapten Benny Moerdani bertanya siapa yang mau jadi komandan dan terlibat dalam operasi ini, saya lihat Pa Agus salah satu dari segelintir yang maju. Sementara yang lain hanya saling menatap satu sama lain,” kata Pratu Tambeng Tamto, anak buah Agus Hernoto dikutip SINDOnews Minggu (4/9/2022).

Tepat pukul 03.30 dini hari waktu setempat, tiga pesawat Dakota C-47 dipimpin Mayor Udara Y.E. Nayoan, Komandan Skuadron 2 Transport lepas landas mengangkut pasukan yang akan diterjunkan di daerah Fakfak. Meski sempat mendapat serangan dari pesawat Neptune Belanda, Agus Hernoto dan pasukannya berhasil melakukan penerjunan.

Menjelang pagi, pasukan Agus mendarat di sebelah utara Fakfak. Namun nahas, daerah penerjunan merupakan hutan belantara yang belum terjamah manusia. Akibatnya, tidak sedikit pasukan Agus yang tersangkut di pohon dengan ketinggian 20-30 meter. Tali yang dibawa pasukannya ternyata tidak cukup membantu mereka untuk turun. ”Beberapa prajurit ada yang patah kakinya karena meloncat dari pohon yang tinggi,” ucap Tambeng.

Lebatnya hutan rimba di belantara Papua membuat mereka tidak dapat membedakan siang dan malam. Kondisi medan yang sulit diperparah dengan rusaknya radio komunikasi. Akibatnya, komunikasi Agus dan pasukannya dengan komando pusat di Ambon terputus. Kondisi ini membuat Agus bersama anak buahnya bertahan dengan perbekalan seadanya.

Setelah sebulan bertahan dan melakukan konsolidasi di Kampung Urere, Agus dan pasukannya memutuskan untuk bergerak. Namun baru saja meninggalkan kampung tersebut tiba-tiba tentara Belanda menyerang. Serangan mendadak itu membuat lima anak buahnya gugur.

Pertempuran demi pertempuran melawan tentara Belanda semakin intensif. Satu persatu anak buahnya gugur ditembak musuh. Dua anggotanya kembali gugur saat kontak tembak di dekat Kampung Nemboektep.

  Kehilangan Satu Kaki karena Diamputasi 
Presiden Soeharto menyalami Kolonel Inf. Agus Hernoto. [Foto/istimewa]

Agus dan pasukannya yang terus bergerak menemukan sebuah gubuk. Saat tengah beristirahat, tentara Belanda kembali menyerang Agus secara mendadak. Beberapa anak buah Agus gugur dalam pertempuran tersebut. Karena kekuatan tidak sebanding, Agus bersama pasukannya kembali masuk ke hutan.

Namun demikian, tentara Belanda terus mengejar dan mengepung sisa pasukan yang dipimpin Agus. Nahas, timah panas menembus kaki kiri Agus. Tidak hanya itu, pecahan granat juga menancap di punggung kanannya. Seketika Agus tersungkur.

Beberapa anak buahnya mencoba membopong dan menyelamatkan Agus, komandannya. Di tengah situasi kritis, Agus memaksa anak buahnya untuk meninggalkannya sendiri. Agus tak ingin pergerakan pasukan terhambat karena harus menyelamatkannya.

Beberapa hari kemudian, pasukan Belanda yang melakukan pembersihan daerah pertempuran menemukan Agus bersimbah darah. Agus kemudian dibawa ke Kamp Militer Belanda. Di Kamp tersebut, Agus mengalami penyiksaan yang cukup berat.

Agus diinterogasi agar memberitahu kapan TNI akan menyerang Papua. Bahkan, di tengah interogasi luka tembak di kakinya ditusuk bayonet agar Agus mau membocorkan lokasi pasukannya. Namun Agus bergeming dan memegang prinsip tidak mau membocorkan informasi. “Lebih baik mati daripada membocorkan rahasia negara,” kenang Agus.

Siksaan demi siksaan dialami Agus, hingga membuat kaki kirinya yang hancur karena tertembak peluru yang masih bersarang membusuk hingga muncul belatung. Saat itu, tentara Belanda memutuskan untuk mengamputasi atau memotong kaki kirinya Agus. Tindakan ini membuat Agus kehilangan sebagian kaki kirinya dan cacat selama-lamanya.

Upaya TNI merebut Papua dari tangan Belanda membuahkan hasil. Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia dan menyerahkan wilayah tersebut kepangkuan Ibu Pertiwi. Agus kemudian diterbangkan kembali ke Jakarta untuk menjalani perawatan medis RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Karena jasa-jasanya kepada negara, Presiden ke 2 RI Soeharto menganugerahi Agus sebuah medali "Bintang Sakti" pada 1987. Sebuah penghargaan kepada mereka yang yang menunjukkan keberanian dan ketabahan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam pelaksanaan tugas operasi militer. (cip)

 💂  sindonews  

Minggu, 05 Juni 2022

Mengulik Perjuangan PGT dalam Operasi Serigala di Irian Barat

💂 Trikora [Dok TNI]

Perjuangan 120 Prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dikerahkan dalam mengemban misi Operasi Tri Komandan (Trikora) pada 17 Mei 1962, menyisakan peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Pengerahan Operasi Militer secara besar-besaran pada (Trikora) tersebut untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia atas Irian Barat dari Belanda, termasuk keberadaan PGT AURI yang diterjunkan di dataran Irian Barat (Klamono – Sorong dan Teminabunan – Sorong Selatan) melalui Operasi Serigala.

Pada Operasi Srigala tersebut menjadi momen yang sangat penting karena PGT pimpinan Manuhua berhasil mewujudkan perintah Presiden Soekarno, yakni “Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air di Indonesia”. Tim PGT AU ini menjadi kelompok pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di tanah Papua.

Pada saat itu, para prajurit diturunkan dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules. Pesawat Hercules C-130 take off dari Lapangan Udara Laha Ambon pukul 01.00 dini hari. Situasi pada saat itu cuaca sedang buruk dan pemandangan menjadi sangat gelap, sehingga tidak terlihat daratan.

Karena cuaca tidak mendukung, pasukan yang terjun pun berserakan dan berjatuhan. Beberapa saat mereka turun, merekan pun disambut dengan suara tembakan dari darat yang dilakukan oleh tentara Belanda.

Pada akhirnya, beberapa dari anggota PGT harus gugur dalam pertempuran tersebut. Bahkan beberapa di antaranya juga ada yang sempat ditahan oleh Belanda. Sementara itu, sisa pasukan yang masih bertahan harus bergerilya masuk ke hutan.

Mereka pun terus dikejar dan dikepung oleh tentara Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih canggih. Tidak hanya itu, pasukan PGT juga mendapat serangan udara dari pesawat Neptune Belanda.

Dua hari kemudian pada tanggal 19 Mei 1962, Indonesia kembali menerjunkan 81 pasukan PGT dengan sandi ‘Operasi Serigala’ ke daerah Teminabuan-Sorong. Operasi Serigala ini berada di bawah pimpinan Letnan Muda Udara II Suhadi dan tetap menggunakan pesawat C-130 Hercules untuk membawa para pasukan.

Pada tanggal 19 Mei 1962, Sebanyak 81 prajurit Kopasgat diterjunkan dari pesawat angkut C-130 Hercules. Hercules C-130 menjadi pilihan pesawat yang membawa 81 prajurit lantaran pesawat ini mampu terbang di atas ketinggian 30.000 feet dengan kecepatan 300 NM sehingga mampu mengatasi ancaman dari pesawat tempur Neptune milik Belanda.

Tepat pukul 02.30, satu persatu prajurit melompat dari Hercules C-130 di tengah kegelapan malam Papua. Lagi dan lagi pasukan yang diterjunkan harus mengahadapi kerasnya alam Papua. Tidak sedikit pasukan yang tersangkut di pohon serta tercebur di rawa-rawa.

Bahkan ada pula pasukan mendarat tepat di markas Belanda di kampung Wersar seperti yang dialami PU I Lili Sumarli, PU I Gunarso dan Kapten Udara (KU) II Alex Sangido serta KU II Wangko. Akibatnya, pertempuran di malam hari tidak terhindarkan. Dalam pertempuran tersebut Kapten Udara (KU) II Alex Sangido dan KU II Wangko ditemukan gugur.

Sementara itu, tentara Belanda yang mendapat serangan mendadak dari Pasukan Gerak Tjepat ini pun langsung kocar-kacir melarikan diri. Setelah berhasil menguasai Kampung Wersar, SMU Mengko kemudian salah satu prajurit PGT mengeluarkan Bendera Merah Putih dari ranselnya. Kemudian prajurit PGT menebang pohon setinggi 4 meter dan bendara Merah Putih pun diikat serta ditancapkan.

Penancapan Bendera Merah Putih itu disaksikan oleh para pasukan PGT yang berkumpul di sekitarnya. Mereka kemudian memberikan hormat. Lokasi ini menjadi tempat bersejarah karena untuk pertama kalinya Bendera Merah Putih berkibar di Irian Barat.

 💂 
IDM 

Rabu, 24 November 2021

Belasan Prajurit RPKAD Gugur saat Operasi Naga di Papua

 Misi Rahasia BocorPasukan RPKAD kini bernama Kopassus yang diterjunkan dalam Operasi Trikora pembebasan Irian Barat. [Foto/Istimewa]

Kopassus merupakan pasukan elite yang memiliki kemampuan khusus. Salah satunya perang rahasia atau clandestine operation. Karena keahliannya itulah, prajurit Korps Baret ini seringkali mengemban tugas-tugas berat dan beroperasi di belakang garis musuh.

Namun keberhasilan sebuah operasi, tidak hanya ditunjang oleh keahlian dari seorang prajurit Komando. Perencanaan yang matang, pengenalan medan operasi dan sarana penunjang juga merupakan faktor penentu kesuksesan misi operasi. Hal itu dibuktikan dalam Operasi Naga pembebasan Irian Barat sekarang bernama Papua dari tangan Belanda pada 1962.

Meski dianggap berhasil menekan Belanda, operasi perintis yang dipimpin Kapten Leonardus Benyamin (LB) Moerdani atau dikenal Benny Moerdani harus dibayar mahal. Belasan prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) kini bernama Kopassus gugur di belantara hutan Papua. Minimnya data intelijen, penggunaan peta yang tidak akurat, dan beratnya medan operasi dinilai sebagai penyebab operasi tidak berjalan sesuai rencana.

Dalam buku berjudul “Benny Moerdani yang Belum Terungkap” diceritakan, Operasi tersebut dirancang oleh Benny Moerdani yang saat itu masih berusia 29 tahun. Kepala Staf Operasi Tertinggi Mayor Jenderal TNI Ahmad Yani ketika itu tidak punya pilihan karena tak seorang pun perwira senior yang berani memimpin operasi ini.

Operasi Naga, merupakan operasi yang cukup berat karena harus menggagalkan rencana Belanda mendirikan “negara boneka” di Papua. Operasi ini juga merupakan perwujudan dari Tri Komando Rakyat (Trikora) yang diumumkan Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961. Ketika itu, Indonesia hendak memperkuat diplomasi dalam perundingan dengan Belanda di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Brigjen TNI (Purn) Aloysius Benedictus Mboi yang saat itu masih berpangkat Letnan Satu menceritakan bagaimana operasi itu digelar.

Ketika itu, dihadapan pasukan Naga di Pulau Seram, Panglima Mandala Mayor Jenderal Soeharto mengatakan, jika penerjunan ini cukup berisiko.

Sebentar lagi saudara-saudara akan berangkat untuk diterjunkan di daerah Merauke dalam rangka operasi merebut Irian Barat. Dua tim sebelum kalian sudah diterjunkan beberapa minggu lalu sampai hari ini tidak ada kontak dengan mereka. Kemungkinan kalian tidak kembali lebih dari 50%. Saya beri waktu tiga menit, kalau ada di antara kalian yang ragu-ragu, yang tidak mau berangkat silakan keluar barisan,” kenang Ben Mboi dalam buku biografi “Kepemimpinan Militer: Catatan dan Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto”

Tepat pukul 03.00 dini hari, 23 Juni 1962 sebanyak 213 prajurit Kopassus diterjunkan dari tiga pesawat C-130 Hercules di atas Merauke, Papua. Meski pilot TNI AU sudah berusaha terbang serendah mungkin agar saling berdekatan tapi tiba-tiba datang angin kencang yang menyebabkan para penerjun terpencar. Akibatnya, penerjunan memakai parasut statis jenis D1 buatan Rusia itu menjadi kacau.

Kekacauan semakin diperparah karena peta yang digunakan tidak akurat. Akibatnya, Pasukan Naga ini diterjunkan 30 Km lebih ke arah utara dari dropping zone yang ditentukan. Kondisi Papua yang masih gelap gulita membuat para penerjun tidak mengetahui kondisi hutan di bawahnya. Tidak sedikit penerjun yang tersangkut di pohon dengan ketinggian 30-40 meter. Akibatnya, mereka kesulitan untuk turun, apalagi tali yang disediakan hanya 20 meter.

Ben Mboi menuturkan, dirinya nyangkut di atas pohon dengan ketinggian 10 meter. Dengan berbagai upaya, akhirnya Ben Mboi berhasil turun dengan selamat meski harus berpencar dengan anggota lainnya. ”Dengan menggunakan pisau, saya melepaskan diri dari ikatan payung terjun dan memakai tali untuk terun,” ucapnya.

Sayangnya, tidak semua bernasib baik, beberapa prajurit Kopassus gugur tergantung dan beberapa orang lainnya juga gugur tenggelam di rawa-rawa akibat ransel yang dibawa terlalu berat hingga mencapai 30 Kg. “Petanya masih peta lama buatan 1937. Tujuan Benny sebenarnya pantai selatan Irian Barat yang lebih dekat ke pusat pertahanan Belanda,” tutur Ben Mboi.

Meski penerjunan tidak sesuai rencana, namun, pada hari kedua Kapten Benny Moerdani berhasil mengonsolidasikan pasukannya sebanyak 60 orang. Mereka dalam kondisi siap tempur karena memiliki komandan, radio, cadangan amunisi dan logistik yang cukup, pasukan Naga kemudian bergerilya.

Benny Moerdani kemudian memimpin pasukan Korps Baret Merah sedangkan Kapten Soepeno memimpin pasukan Baret Hijau (Raiders 530). Namun, saat operasi baru dimulai, Benny dikejutkan dengan siaran dari radio Australia yang menyiarkan ada tiga pesawat Hercules yang menerjunkan pasukan di Merauke. Bahkan, radio tersebut menyebutkan jumlah pasukan dan nama-nama pemimpinnya termasuk Benny Moerdani. “Operasi rahasia ini bocor,” kata Benny.

Dalam buku berjudul “Kopassus untuk Indonesia” Jilid II diceritakan, perjalanan pasukan Naga menuju pusat pertahanan Belanda di Merauke menemui banyak rintangan. Tidak hanya alam tapi juga harus bertempur dengan Koninklijke Mariniers, pasukan elite Belanda. Pertempuran sengit salah satunya terjadi pada 28 Juni 1962. Dua perahu motor Belanda tiba-tiba menyerang pasukan Benny Moerdani di Sungai Kumbai. Namun Benny dan pasukannya berhasil memukul mundur dua perahu motor tersebut. Sayangnya, dalam kontak senjata tersebut dua anggotanya bernama Kopral Emin dan Prada Hardjito gugur.

Bahkan, Agus Hernoto sahabat dekat Benny Moerdani harus kehilangan kedua kakinya dalam operasi pembebasan tersebut. Agus mengalami cacat seumur hidup setelah kakinya diamputasi karena luka tembak.

Pertempuran sengit antara pasukan Naga dengan tentara Belanda di belantara hutan Papua terus terjadi. Bahkan, Belanda sempat mengumumkan untuk siapa saja yang bisa meringkus hidup atau mati Kapten Benny Moerdani akan diberi hadiah 500 gulden. Upaya penangkapan berkali-kali tidak berhasil. ”Yang dipakai Benny adalah strategi kucing. Kalau bertemu ya bertempur. Kalau tidak ya kucing-kucingan. Tujuan kami sebagai umpan supaya Belanda memecah konsentrasi pasukannya yang di Biak dan terbukti berhasil,” ucap Ben Mboi.

Operasi Naga akhirnya berakhir dengan ditandai New York Agreement pada 15 Agustus 1962. Amerika Serikat memaksa Belanda menyerahkan Irian Barat ke Indonesia. Belanda menyerah karena menyadari tidak akan menang berperang melawan Indonesia.

Dari seluruh pasukan Naga yang diterjunkan, Kopassus mencatat delapan prajuritnya gugur karena jatuh di rawa, seorang terbunuh penduduk setempat, seorang gugur karena sakit dan tujuh orang lainnya hilang. Menariknya, di tengah keterbatasan tersebut pasukan pimpinan Benny Moerdani ini mampu mengikat 500 tentara Belanda yang harus didatangkan dari Biak untuk mempertahankan Merauke.

Sementara Ben Mboi menyebut, korban gugur Operasi Naga tercatat sebanyak 36 orang dan 20 orang hilang. ”Kalau dipresentasikan kurang lebih 25% lebih baik dari yang diperkirakan Soeharto,” kata Ben Mboi. (cip)

  ♗ sindonews  

Rabu, 20 Mei 2020

Mengenang 58 Tahun Operasi Serigala

 https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2015/06/04/2358c112-3bdd-42cb-94d2-5cfb88cf48c2_169.jpg?w=700&q=90Ilustrasi penerjunan pasukan [detik]

Ternyata tepat tanggal 19 Mei 1962 adalah hari bersejarah bagi Indonesia khususnya pulau Papua. Tepat di tanggal ini, bendera Merah Putih berhasil berkibar di tanah Papua. Proses pengibaran Sang Saka Merah Putih ini harus melewati perjuangan yang berat.

Pada tanggal 17 Mei 1962, 27 anggota Pasukan Gerak Tjepat (PGT) telah diterjunkan ke daerah Kiamono-Sorong. Pada saat itu, para prajurit diturunkan dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules.

Berdasarkan informasi dari Instagram TNI AU Selasa 19 Mei 2020, pesawat Hercules C-130 take off dari Lapangan Udara Laha Ambon pukul 01.00 dini hari. Situasi pada saat itu sedang hujan dan pemandangan menjadi sangat gelap, sehingga tidak terlihat daratan.

Karena cuaca tidak mendukung, pasukan yang terjun pun berserakan. Beberapa saat setelah mereka turun, mereka pun langsung disambut dengan tembakan dari darat oleh tentara Belanda.

Setelah semua pasukan PGT mendarat, merekapun langsung melawan tentara Belanda dan pertempuran sengit tak terelakkan. pada akhirnya, beberapa dari anggota PGT harus gugur dalam pertempuran tersebut. Bahkan beberapa diantaranya juga ada yang sempat ditawan oleh Belanda.

Sementara itu, sisa pasukan yang masih bertahan harus bergerilya masuk ke hutan. Mereka terus dikejar dan dikepung oleh tentara Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih canggih. Tidak hanya itu, pasukan PGT juga mendapat serangan udara dari pesawat Neptune Belanda.

Sisa pasukan PGT hanya mampu bertahan selama satu bulan saja dan akhirnya mereka tertangkap tentara Belanda. Meski begitu, tentara Indonesia yang tidak mengenal kata menyerah mengirimkan pasukan PGT lagi.

Dua hari kemudian pada tanggal 19 Mei 1962, Indonesia kembali menerjunkan 81 pasukan PGT dengan sandi ‘Operasi Serigala’ ke daerah Teminabuan-Sorong. Operasi Serigala ini berada di bawah pimpinan Letnan Muda Udara II Suhadi dan tetap menggunakan pesawat C-130 Hercules untuk membawa para pasukan.

 ♖ VIVAnews  

Rabu, 23 November 2016

Operasi Jatayu

Kisah Menegangkan Penerjunan Pasukan AURI di Hutan Rimba PapuaPleton 2 dan 4 Resimen Tim Pertempuran Pasukan Gerak Tjepat (RTP PGT) di tahun 1962 masih kering pengalaman tempur. Prajuritnya dikenal masih bau kencur. Tak masalah toh, karena yang penting semangat bertempur sudah begitu tinggi. Begitu menyelesaikan pendidikan terjun di Margahayu, Bandung mereka diperintahkan untuk terjun di bagian penutup dari fase infiltrasi ke Irian Barat.

Seperti diakui Peltu (Pur) Rusmin dan Peltu (Pur) Joseph Dole Lehera, setidaknya mereka sudah tujuh kali terjun statik saat mengikuti pendidikan para di Margahayu. Mereka adalah bagian dari sekitar 130 anggota baru PGT yang disiapkan untuk melaksanakan operasi, setelah sebelumnya digojlok di pusat pendidikan tamtama AURI di Lanud Panasan, Solo, dan Jombang, Jawa Timur.

Di Margahayu saat itu sudah disiapkan dua kompi PGT. Karena innocence, di antara mereka malah saling ngeledek, menjadikan operasi ini sebagai bahan guyonan. “Siapa yang tidak berani terjun, sekarang pulang kampung, pakai BH saja”. Hari itu, 5 Agustus 1962, dicatat Lehera yang sudah status konsinyir di Margahayu. Selama masa konsinyir, mereka dimanjakan dengan menu makanan yang sehat dan bergizi. Di hari-hari itu pula, pikiran dan emosi mereka mulai digiring ke situasi perang dengan mewajibkan menonton film perang di sebuah bioskop di komplek Margahayu. Esoknya dilaksanakan apel besar. Sejak saat itu, barak-barak dijaga ketat. Tidak diperbolehkan lagi keluyuran, sehingga terpaksa membatalkan janji dengan pacar.

Sambil menunggu hari keberangkatan, Mako terus melengkapi setiap prajurit dengan bekal pokok. Sejumlah obat dimasukkan ke dalam ransel, seperti obat antiracun, obat antimalaria, dan obat penjernih air. Termasuk bekal makanan kering dan cornet beef. Sekitar satu kompi dari mereka kemudian diberangkatkan lebih dulu dengan menggunakan kapal laut dari Tanjung Priok ke Ambon.

Itulah awal dari dilaksanakannya Operasi Jatayu oleh PGT, yang sesuai PO Pangla No. 15/PO/SR/7/1962 tertanggal 9 Agustus 1962, harus dilaksanakan pada 13 Agustus. Infiltrasi ini merupakan penutup fase infiltrasi udara yang telah dilaksanakan sejak bulan April. Operasi Jatayu juga dimaksudkan sebagai pamungkas untuk memaksa Belanda menandatangani perjanjian New York.

Untuk menjalankan Operasi Jatayu, Komando Mandala menyiapkan enam Hercules. Setiap sasaran didukung oleh dua pesawat. Sebelum pasukan diterjunkan, terlebih dahulu dilakukan penerbangan penipuan untuk mengamankan dan mensukseskan operasi kelak. Keenam Hercules akan dikawal oleh tiga pembom strategis Tu-l6 Badger, satu Il-28 Beagle, dua B-25/26, empat P-51 Mustang dan dua UF-1 Albatross yang berperan sebagai pesawat SAR. Operasi akan dilakukan secara serentak dengan sasaran di daerah Klamono-Sorong, Kaimana, dan Merauke. Mayjen Soeharto sebagai Panglima Mandala memimpin langsung Operasi Jatayu bersama Komodor Udara Leo Wattimena.

Pada pukul 22.00 WIT tanggal 12 Agustus, Mayjen Soeharto dengan menggunakan pesawat komando Convair-240 yang diterbangkan Kolonel Udara Tituler Partono, terbang di sekitar timur Pulau Seram. Operasi lintas udara yang akan menerjunkan pasukan pada tengah malam pukul 02.00 ini, dipecah ke dalam tiga kelompok dengan rincian sebagai berikut.

➶ Operasi Elang, melibatkan dua C-130B Hercules yang diterbangkan Letkol Udara Slamet dengan wingman Kapten Udara Sukardi dan kopilot LU I Siboen. Pesawat akan berangkat dari Laha untuk menerjunkan 132 anggota PGT di daerah Klamono-Sorong. Pasukan dipimpin oleh Kapten Udara Radix Sudarsono, yang mulai meniti karier di PGT sebagai perwira pembinaan jasmani (binjas). Kedua Hercules dikawal oleh satu Il-28 dengan penerbang LU II Wakidjan.

➶ Operasi Gagak dengan sasaran Kaimana dan Merauke, juga menggunakan dua Hercules yang dipimpin Mayor Udara Pribadi dan wingman Mayor Udara TZ Abidin. Pesawat berangkat dari Letfuan dengan membawa 141 anggota Batalion 454 Banteng Raiders Diponegoro di bawah pimpinan Mayor Inf Untung Samsoeri. Mereka akan diterjunkan di sekitar Kaimana. Operasi ini dikawal oleh sebuah pembom B-25 dan satu Mustang.

➶ Operasi Alap Alap dilaksanakan dari dua Hercules dengan flight leader Mayor Udara Nayoan dan wingman Kapten Udara Santoso Suharto. Pesawat berangkat dari Amahai dengan membawa 132 anggota PGT yang akan diterjunkan di daerah Merauke. Pasukan yang dipimpin LU II Matitaputty itu bertugas untuk memperkuat pasukan RPKAD yang telah diterjunkan terlebih dahulu pada 23 Juni dalam Operasi Naga dipimpin Mayor Benny Moerdani. Selain mendapat pengawalan dari pesawat tempur dan pembom, juga diberangkatkan pesawat Catalina dan Albatross untuk tugas SAR.

Menurut catatan Sukardi, Operasi Jatayu adalah operasi lintas udara terbesar yang pernah dilaksanakan AURI dalam satu malam, setidaknya hingga saat itu.

Menurut kesaksian para pelaku, seperti ditulis dalam buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat, mereka diangkut menggunakan truk-truk sipil yang didatangkan entah dari mana. Truk berangkat dari Margahayu dengan mengambil rute jalur Puncak, kemudian langsung ke Halim. Di Halim mereka ditampung di mashalling area yang sekarang dijadikan Lapangan golf Halim. Istirahat semalam, besoknya mereka diangkut lagi dengan truk yang sama ke Pelabuhan Tanjung Priok. Di sini sudah menunggu KM Ambulombo, yang biasa digunakan untuk mengangkut jemaah haji ke tanah suci Mekkah.

Kalau ada yang tanya kamu-kamu kemana, bilang saja mboten sumerep (tidak tahu),” ujar Pelda (Pur) I Wayan Kurnia menirukan ucapan komandan PGT Kapten Wiriadinata saat itu. Ketika mau naik kapal, Wayan sempat dicandai oleh ABK kapal yang mengatakan, … oooo jadi ini yang mau diterjunkan di Irian.

Kapal pun bergerak meninggalkan Jakarta. Bersama PGT. PU I Hardja Sumarja melihat keanehan di permukaan laut baik di depan maupun di belakang kapal. Benda aneh yang ia lihat muncul dari bawah permukaan air itu seperti cerobong pembuangan asap di pabrik. Penasaran dengan benda aneh itu, ia pun menanyakannya kepada ABK kapal. “Karena bawa pasukan satu batalion, kapal ini dikawal oleh kapal selam depan dan belakang,” ujar si ABK. Ooo… kalau begitu yang dilihat Hardja pastilah periskop.

Setibanya di Ambon, pasukan ditempatkan di Laha sebagai pangkalan aju. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selama beberapa di Ambon selain menata lagi semua perlengkapan yang diberikan. Dua Hercules dengan nomor T-1304 dan T-1305 disiapkan untuk membawa mereka. Segalanya di cek oleh kru pesawat, mulai dari kondisi mesin, baling-baling, jumlah bahan bakar dan sebagainya hingga diyakini benar-benar oke. Karena beberapa jam ke depan mereka akan menerjunkan pasukan para di daerah operasi.

Malam itu juga mereka kembali diingatkan oleh Letkol Udara Dewanto. “Putih tembak, hitam jangan!” Artinya kalau bertemu pasukan Belanda boleh menembak, tapi bila bertemu penduduk Irian, jangan ditembak. Tak lama kemudian, Panglima Mandala Mayjen Soeharto berpidato di depan semua pasukan, memberikan taklimat terakhir sebelum keberangkatan.

Saudara-saudara semua adalah pasukan pilihan dan orang-orang pemberani. Tugas saudara-saudara berat dan penuh risiko. Bersama saudara-saudara mala mini diterjunkan kurang lebih satu batalion pasukan-pasukan pilihan seperti saudara-saudara sekalian di tiga sasaran yang berbeda. Sekali lagi, tugas kalian sangat berat tapi sangat mulia. Nasib negeri ini terletak di atas pundak kalian….

Apakah kalian sanggup,” tanya Panglima.
Sanggup,” jawaban pasukan serentak.
Apakah kalian berani,” tanya Panglima lagi.
Beraniiiii!
Walaupun penuh risiko?
Siaaaaaap!
Berangkatlah. Selamat berjuang, kita pasti menang,” tutup Panglima berwibawa.

Setiap anggota dibekali senapan G3, empat granat tangan, dua peluru mortir, ransel, kelambu, rantang, pacul, pisau lempar, tali 30 meter, uang 600 gulden New West Guinea, empat kaleng makanan, sagu, beras untuk satu minggu, ponco, dua stel pakaian dinas lapangan, alat survival, dan 500 butir peluru.

Masing-masing melakukan persiapan. Parasut dibagikan, tanpa parasut cadangan. KU I Sapri dari Kompi Bantuan yang dipimpin RM Sutikno (gugur di Malaysia) tenggelam dalam kesibukan untuk menyiapkan rekan-rekannya. Sudiro diminta memasang pita palang merah di lengannya. Ia mencoba mencari makanan, namun tidak kebagian, dan hanya bisa memperoleh minuman. Sebaliknya ada yang tidak mau membawa makanan, karena katanya di dropping zone sudah pasukan kawan yang menunggu.

Dua Hercules yang mengangkut prajurit PGT ini diterbangkan oleh Letkol Udara Slamet dan Kapten Udara Sukardi dikawal sebuah ll-28 yang diterbangkan oleh LU II Wakidjan.

Saat sedang melaksanakan cockpit check bersama awak pesawatnya, tiba-tiba perwira intel Kapten Udara Heru Atmodjo berbisik ke telinga Kapten Sukardi. “Di, wis dienteni (sudah ditunggu) Neptune,” bisiknya sambil menepuk pundak Sukardi dan berlalu. Para penerbang AURI sebenarnya mengetahui bahwa setiap akan melaksanakan penerbangan untuk infiltrasi udara, Belanda sudah mengetahuinya. Persoalannya kini adalah bagaimana taktik dan strategi dari para penerbang untuk menghadapi situasi kritis yang sudah diduga.

Dini hari itu menjelang pukul 02.00, udara dingin yang menusuk tulang diacuhkan oleh segenap kru dan anggota pasukan. Obo-obor penerbangan landasan baru saja dinyalakan. Hari itu, 13 Agustus 1962, pasukan PGT akan diterbangkan menggunakan dua Hercules menuju medan operasi di Klamono di wilayah Sorong. Menurut Sukardi, ini adalah penerjunan akhir sebelum dilaksanakannya penerjunan besar-besaran di Biak yang rencananya akan dilakukan pada 15 Agustus. Diharapkan pada 17 Agustus, Sang Merah Putih sudah berkibar di seluruh wilayah Irian Barat.

Sukardi berkali-kali memalingkan kepalanya ke pesawat di sebelah kirinya yang merupakan flight leader. Meski gelap, ia masih bisa melihat siluet komandannya. Maksudnya adalah untuk mengetahui apakah sudah saatnya untuk start engine. Prosedur radio silent sudah dimulai sejak dari pangkalan keberangkatan. Sukardi juga meminta kepada ground control untuk memberitahukannya soal ini.

Flight leader sengaja mengarahkan pesawat tidak langsung ke sasaran, tetapi melambung ke arah Biak dengan maksud mengelabui sistem pertahanan Belanda. Setibanya di atas leher kepala burung, kedua Hercules berbelok ke kiri, segaris dengan arah ke Klamono, Sorong. Leader mulai meminta pesawat kedua untuk menurunkan ketinggian hingga 3.000 dan 4.000 kaki. Komunikasi dilakukan melalui radio telegrafis yang cukup aman meski memakan waktu.

Lokasi penerjunan yang tidak terlalu jauh dari pangkalan udara Jeffman di Sorong, cukup berisiko bagi Hercules. Di sini berpangkalan pesawat tempur Belanda seperti Neptune, Firefly, dan Hunter. Namun karena dilindungi secara penuh oleh pesawat tempur, maka kedua Hercules dengan percaya diri memasuki daerah sasaran.

Sampai pada fase yang menentukan untuk penerjunan, konsentrasi mereka semakin meninggi.

Cuaca di sekitar lokasi penerjuan sangat baik dengan cahaya bulan dan bintang bertaburan di langit. Namun karena silent, mereka tidak bisa saling melihat karena haram menyalakan lampu navigasi. Hanya kepercayaan kepada sesama teman (battle buddy) yang tetap dipegang, bahwa masing-masing pasti terbang di ketinggian yang tepat. Leader terbang pada ketinggian 1.600 kaki di atas pepohonan dengan radio altimeter dalam posisi on. Pesawat kedua mengekor di belakang pada ketinggian 1.900 kaki. Separasi tidak hanya aman untuk pesawat tapi juga bagi pasukan yang diterjunkan.

Menjelang pukul 04.00, pasukan yang dibagi ke dalam tiga peleton mulai diterjunkan di sebuah kampung yang bernama Maladopak di wilayah Sorong. Peleton pertama diterjunkan di Klamono yang berjarak 36 km selatan Sorong. Peleton kedua diterjunkan di Kladuk, timur Sorong. Sedangkan peleton ketiga diterjunkan di Kalaili, daerah paling timur kota Sorong.

Cuaca pada saat penerjunan diliputi hujan lebat dan gelap gulita. Mungkin karena cuaca tidak bersahabat dan misi one way ticket, mereka dipaksakan exit saat ketinggian pesawat cukup tinggi. Dari udara sasaran terlihat seperti daratan. Ternyata mereka exit di atas awan. Apa yang mereka lihat sebagai daratan ternyata awan putih. Semuanya mengakui bahwa saat melayang di udara, melihat di bawah putih semua yang ternyata awan hujan. Mereka pun kemudian menembus hujan sebelum tiba di bawah. Sudiro sendiri yang bawaannya cukup banyak, exit mengikuti parasut yang membawa logistik termasuk obat-obatan.

Hampir semua anggota yang diterjunkan mendarat di pohon yang tingginya rata-rata 40 m. Untuk mencapai tanah mereka harus berjuang dengan susah payah. Banyak di antara mereka yang cedera karena memaksakan loncat ke bawah. Yang sudah berpengalaman tidak langsung loncat, tapi menjatuhkan terlebih dulu helm untuk mengukur ketinggiannya dari tanah. Mereka berusaha turun menggunakan tali sepanjang 30 m yang menjadi bekal.

Tali sebesar jari orang dewasa ini digulung rapi lalu diikatkan di pinggang kiri. Karena pohon yang begitu tinggi, tali inipun belum bisa membawa mereka ke tanah. Bagi yang tidak panik, menyambungkannya dengan tali parasut yang dipotong dengan pisau sehingga bisa turun dengan aman. Ada juga yang tidak berani turun dan memilih bertahan di atas pohon sampai waktunya dirasa aman. Karena sewaktu diterjunkan mereka jatuh terpencar, hingga diperlukan waktu berhari-hari untuk dapat berkumpul kembali.

Sewaktu akan mendarat, parasut yang digunakan Komandan Kompi Radix Sudarsono tersangkut di sebuah pohon tinggi dengan posisi kepala ke bawah. Hal ini bisa terjadi karena setiap anggota PGT yang diterjunkan dilengkapi dengan leg bag, yaitu plunje zak (tas lonjong untuk perbekalan) yang digantung di paha kiri, dan sewaktu akan mendekati tanah diturunkan dengan tali. Namun benda ini tampaknya membikin celaka.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmAu-5QTIfvNEuRdLfmdjy9ygWczPPDYur1hvN455ZzNEKU56p-7Z2hg_afs_ua2vPW-R3QHOHzqZ0v_bXBgWzVzfkjHH_Bn7i08_DkN1YwyKXVuORWanrD7EHnWIIk4LCrgnZZN_SkcU/s1600/251149_10150217429714222_763314221_6905740_4089385_n.jpgPagi harinya, daerah penerjunan ditembaki oleh Neptune setelah melihat parasut yang tersangkut di pohon. Mereka berusaha berlindung di balik pepohonan yang diameternya bisa tiga pelukan orang dewasa. Selama satu minggu Radix, sang komandan kompi hidup sendirian. Selama dalam pengembaraan di hutan yang luas dan gelap, Radix terjebak oleh halusinasinya sendiri. Dalam kondisi yang lemah dan lapar, ia seakan-akan melihat kampung yang indah tetapi hati nuraninya mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin.

Ternyata hati nuraninya betul. Setelah dilihat beberapa saat, pemandangan indah yang dilihatnya ternyata adalah jurang yang terjal. Sedikit putus asa, akhirnya Radix menembakkan senjatanya ke udara. Padahal sebelumnya sudah disampaikan, untuk menjaga kerahasiaan, dilarang menembakkan senjata. Tembakannya itu segera disambut dengan tembakan-tembakan lain yang dilepaskan oleh anggotanya.

Rasa putus asa itu juga sempat menghinggapi I Wayan Kurnia. Empat hari ia bertahan di titik penerjunan tanpa berani pergi, berharap ada isyarat dari rekan yang lain. Di hari keempat itu ia mendengar isyarat tembakan, yang rupanya dari rekannya Cipto.

Setelah selamat turun dari pohon, hal pertama yang mereka pikirkan adalah secepat mungkin bertemu teman. Namun tidak semudah membalik telapak tangan. Mencari teman adalah perjuangan tersendiri yang harus mereka lalui.

Setelah meminum kopi susu kemarin malam dan nasi yang dibawanya, Sukirno pun melanjutkan perjalanan. Lalu ia mendengar suara …. kresek… kresek. “Siapa itu,” teriaknya. Rupanya temannya. Mereka pun berangkulan dan menangis syahdu. Keduanya melanjutkan perjalanan sampai sore.

Tolooooooong, tolong….. ada suara berteriak minta tolong. “Siapa,” teriak Sukirno. “Ujang,” jawabnya yang ternyata PU I Udjang Ahmad. Ia rupanya jatuh ke dasar jurang dan tidak sanggup lagi naik karena terluka. Mereka pun akhirnya berkumpul setelah bertemu lagi dengan PU I Saleh, PU I Temon, dan PU I Emong Rukman.

Berlima mereka terlelap di sebuah gua kecil sampai akhirnya kelompok kecil ini bertemu dengan kelompok yang lebih besar.

Demikian juga halnya yang dialami regu yang dipimpin Koptu Suroto. Pada hari pertama, Suroto hanya menemukan satu anggotanya yang bernama Lubis. Ketika ditemukan, Lubis masih tersangkut di pohon yang ketinggiannya sekitar 40 m. Karena badannya sangat lemah, Lubis meluncur ke bawah tanpa menggunakan tali. Akibatnya ia terjatuh dan terluka cukup parah. Karena kondisinya yang cukup parah dan tidak mendapatkan tindakan medis yang tepat, tak lama kemudian ia pun meninggal. Almarhum Lubis dimakamkan di tempat itu juga. Beberapa hari kemudian mereka baru dapat berkumpul kembali.

Mereka berjalan ke arah selatan, yaitu ke pantai yang diperkirakan banyak terdapat makanan. Setelah menempuh perjalanan selama 10 hari, mereka bertemu dengan induk pasukan yang dipimpin Radix Sudarsono. Batalion Radix baru bisa melakukan konsolidasi sekitar dua minggu setelah penerjunan. Kompas yang mereka bawa tidak banyak membantu, malah membingungkan karena jarumnya menunjuk ke segala arah seperti orang bingung. Untung ada anggota memiliki kompas yang masih berfungsi dengan baik.

Sesekali memang mereka dibantu penduduk setempat yang kebetulan ditemui untuk menunjukkan arah. Itupun sangat sulit menemukan warga setempat. Menurut I Wayan Kurnia, kondisinya beda dengan di Kalimantan. “Kalau di Kalimantan kita bisa cepat ketemu orang Dayak, namun kalau di hutan Irian jangan harap bisa cepat, bisa berhari-hari baru bisa ketemu orang,” kenangnya.

Persepsi soal jarak antara penduduk asli dengan anggota PGT ini berbeda jauh. Bagi penduduk asli yang hidup nomaden dan survive di tengah hutan belantara, berjalan kaki adalah hal rutin yang mereka lakukan jika berpindah tempat atau bepergian. Dalam kamus mereka sepertinya tidak ada istilah jauh. Kondisi inilah yang banyak dialami anggota PGT ketika bertanya kepada warga yang ditemui tentang lokasi dan tempat. Lagi pula kumpulan warga yang disebut kampong itu, sebenarnya tak lebih dari dua sampai lima rumah saja.

Masih jauhkah,” tanya Wayan kepada warga.

Tarada, tarada jauh, ada naik ada turun, torang sampe,” balas si warga. Namun setelah berjalan naik turun gunung selama empat hari, kenapa tidak sampai-sampai?

Pasukan selanjutnya dibawa Radix berjalan menuju Klamono. Sesampainya di kota, pasukan ini mendapati kabar bahwa telah terjadi gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda. [Angkasa]

  Tribunnews  

Jumat, 16 Januari 2015

Peringatan Hari Dharma Samudera, Mengenang Heroisme Pertempuran Laut Aru

http://jurnalmaritim.com/wp-content/uploads/2015/01/RI-Macan-Tutul_01-300x216.jpgKRI Macan Tutul (Foto: Wikipedia)□

Pertempuran Laut Aru yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1962, mengisahkan heroisme KRI Macan Tutul dalam menjalankan tugas Trikora. Dalam pertempuran itu, KRI Macan Tutul yang ditumpangi Komodor Yos Sudarso harus tenggelam setelah terjebak dalam kepungan kapal Destroyer Belanda.

“Pertempuran itu sungguh heroik meskipun saat itu kita hanya memiliki misi pendaratan ke selatan Kaimana, tentunya kita hanya minim torpedo yang dibawa,” ujar Kasubdisjarah Mabesal, Kolonel Laut (P) Rony E Turangan saat ditemui JMOL di kantornya, Kamis (15/1/2015).

KRI Macan Tutul yang melakukan patroli sekaligus misi pendaratan bagi sukarelawan asal Irian ke Kaimana itu berangkat bersama KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau, 3 kapal cepat torpedo yang dimiliki ALRI pada masa itu.

Misi itu merupakan bagian dari Operasi Trikora yang didengungkan oleh Bung Karno pada 19 Desember 1961. Isi seruan itu ialah kibarkan Sang saka marah putih di Irian, Gagalkan pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda, dan bersiaplah untuk mobilisasi umum guna menjaga persatuan dan kesatuan.

“KRI Macan Tutul sudah membawa bendera merah putih untuk dibawa oleh sukarelawan agar ditancapkan ke Irian, selain itu sudah bersiap juga mengambil segenggam tanah Irian untuk dibawa ke pimpinan ALRI sebagai bukti pendaratan,” sambung Rony.

Lebih lanjut, pria asal Manado itu menuturkan sebelum KRI Macan Tutul menjalankan tugas itu, pesawat dan kapal Destroyer Belanda telah mengetahui iring-iringan tersebut.

“Komodor Yos Sudarso yang dalam peristiwa itu menjabat sebagai Asops akhirnya mengambil tindakan untuk melakukan perlawanan kepada kapal-kapal Belanda itu demi menyelamatkan 2 kapal kita lainnya,” tandasnya.
Menjawab Kontroversihttp://jurnalmaritim.com/wp-content/uploads/2015/01/220px-Yos_Sudarso.jpgKomodor Yos Sudarso (Foto: Wikipedia)□

Meskipun beredar kabar, bahwa pertempuran itu diketahui oleh Komodor Sudomo yang saat itu menjabat sebagai gugus tugas pertempuran laut, namun dirinya tidak membantu KRI Macan Tutul yang tengah terdesak.

Anggapan bahwa Sudomo meloloskan diri dalam pertempuran itu dibantah oleh Rony, menurutnya Yos Sudarso memiliki pangkat yang lebih tinggi dari Sudomo.

“Yos Sudarso memang memerintahakan kapal Sudomo untuk mundur dan kembali ke markas, memang misi sebenarnya bukan melakukan pertempuran, tetapi karena kondisi akhirnya Yos Sudarso mengambil inisiatif untuk melakukan perlawanan,” ucapnya.

Pertempuran sengit sempat terjadi, saat Yos Sudarso mengambil oper pimpinan dan segera memerintahkan serangan tembakan balasan. Dengan tindakan seperti itu maka tembakan musuh terpusat pada KRI Macan Tutul.

“Jadi ketika tanda lampu dihidupkan oleh kapal Belanda dan kemudian melakukan pengejaran kepada iring-iringan ini, KRI Macan Tutul melakukan zig-zag agar dua kapal lainnya dapat lolos. Selain itu juga melakukan tembakan, namun karena terkepung dengan 3 Destroyer Belanda akhirnya KRI Macan Tutul terkena torpedo bertubi-tubi hingga tenggelam.
Kobarkan Semangat PertempuranMelalui Radio Telefoni, Yos Sudarso menyampaikan pesan tempurnya “Kobarkan Semangat Pertempuran” sesaat sebelum KRI Macan Tutul tenggelam. Akhirnya Yos Sudarso beserta 25 awak kapal gugus sebagai kusuma bangsa. Diantara awak kapal yang gugur antara lain Kapten Memet dan Kapten Wiratno.

“Baru setelah itu, Bung Karno membentuk Komando Mandala yang berpusat di Makassar yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Sesuai pesan Yos Sudarso akhirnya pertempuran berlanjut hingga penyerahan Irian Barat ke Indonesia,” tutup Rony.

  ⚓️ JMOL  

Selasa, 06 Mei 2014

Simon Randa, kisah pahlawan tak dikenal di belantara Irian

52 Tahun Infiltrasi PGT (5)

Ada satu nama yang sulit dilupakan para prajurit Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT), yang bertempur di Irian Barat. Namanya Simon Randa, seorang pegawai kehutanan Belanda di Irian yang kini bernama Papua.

Simon Randa aslinya orang Toraja. Dia menjadi pegawai kehutanan Belanda, namun hatinya merah putih.

Saat konfrontasi tahun 1962, hampir semua warga Papua dibina Belanda. Mereka pun mau jadi umpan untuk menjebak tentara Indonesia yang diterjunkan di Irian Barat. Hasilnya ratusan tentara Indonesia tewas dan ditangkap karena pengkhianatan.

Simon adalah salah satu yang langka. Dia selalu berusaha membantu gerilyawan RI. Simon dan anak buahnya mengirimkan tembakau dan makanan ala kadarnya pada gerilyawan RI yang tersebar di Sorong.

Hal ini dikisahkan dalam buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat, Bertahan dan Diburu di Belantara Irian. Buku Terbitan Majalah Angkasa ini ditulis Beny Adrian dan diluncurkan di Jakarta, Jumat (25/4) lalu di Jakarta.

Ketika mendengar berita tercapai kesepakatan perundingan di New York antara Belanda dan Indonesia, Simon segera memerintahkan anak buahnya mencari enso-enso (sebutan untuk merah putih dalam bahasa Moi). Dia berhasil menemukan beberapa di antaranya.

Ditampungnya para gerilyawan itu di rumahnya dan anak buahnya.

Tim PBB mencium soal Simon dan datang ke rumah. Sesuai isi kesepakatan New York, baru tanggal 1 Oktober 1962, pasukan Indonesia boleh masuk kota. PBB pun memerintahkan pasukan Indonesia kembali masuk hutan sejauh 6 km dari Klasaman, atau dikenal dengan KM12.

Apa jawaban Simon?

"Lebih baik saya dan keluarga ditembak mati PBB daripada bapak dan anak buah kembali masuk hutan. Selama saya masih hidup bapak dan anak buah tidak akan saya izinkan masuk hutan," tegas Simon.

PBB pun melunak. Tiga orang perwira diizinkan berasa di Klasaman untuk mengatur administrasi. Sisanya mundur ke KM12. Simon bisa menerima keputusan ini.

Kemudian para petinggi perwakilan tentara Indonesia meninjau KM12. Mereka juga menggelar pertemuan dengan utusan PBB untuk mengembalikan gerilyawan Indonesia. Semua dilakukan di rumah Simon Randa yang sederhana.

Saat itulah komandan delegasi Indonesia Brigjen Achmad Wiranatakusuma memeluk Simon Randa. Berterima kasih atas kepahlawanan Simon.

Wiranatakusuma bertanya pada Simon, apakah bersedia menampung 300 gerilyawan Indonesia dari seluruh Irian sebelum dipulangkan? PBB berjanji untuk mencukupi makanan dan logistik pasukan.

Dengan mantap Simon menjawab bersedia. Saat ternyata makanan dari PBB tak cukup, Simon pula yang memberikan makanan tambahan.

Begitu mulia hati Simon, pahlawan yang namanya tak tertulis dalam buku sejarah.[ren]


  ♞ Merdeka  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...