Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2026

PT PAL Siapkan Infrastruktur Sambut Kapal Induk Giuseppe Garibaldi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3MoVGQ4NZZ3KV-RZ37sLFHmtVHJ7iZGY5r0Mj681nZ38QGvy6TN66cToFKV3PBr3Cv3mjKGCY2SDMEf_eoQUG7RAlB-B6uYGuYgcZgbgsMPBT1yJi195z7FpzCOwq2T1qJ9h56hPv1aUECf5PaNweMkGxuHWTEoz0goUHdtch7l8GMdrGZdAzs-98eysf/s1265/Kapal%20induk%20Giuseppe%20Garibaldi.jpgIndonesia minati kapal ITS Giuseppe Garibaldi, dapat hibah dan diharapkan tiba sebelum HUT TNI. (Marina militare)

PT PAL Indonesia mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis untuk menyambut kedatangan kapal induk Giuseppe Garibaldi. Kapal hibah dari Italia tersebut dijadwalkan tiba di Indonesia pada Oktober 2026.

Senior Executive Vice President Transformasi Manajemen PT PAL Indonesia, Laksda TNI (Purn) A.R. Agus Santoso, mengatakan persiapan tidak hanya pada aspek pemeliharaan. PT PAL juga mengirimkan personel ke luar negeri untuk mempelajari rencana operasional kapal tersebut.

PT PAL mengirimkan personel untuk memahami rencana pemeliharaan saat kapal induk itu dioperasionalkan,” ujarnya. Ia menjelaskan, keberadaan kapal induk membutuhkan kesiapan galangan kapal yang memadai.

Hal ini penting untuk memastikan proses pemeliharaan dapat dilakukan secara optimal di dalam negeri. Menurut Agus, saat ini PT PAL menjadi galangan kapal dengan kapasitas terbesar di Indonesia.

Oleh karena itu, perusahaan dituntut menyiapkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kapal induk. “Sementara ini galangan kapal dengan kapasitas tertinggi di Indonesia adalah PT PAL,” katanya.

Persiapan yang dilakukan meliputi peningkatan fasilitas dockspace, termasuk penyesuaian panjang dan kapasitasnya. Langkah ini penting agar mampu menampung kapal induk berukuran besar seperti Giuseppe Garibaldi.

Selain itu, PT PAL juga mengajukan pembangunan fasilitas floating dock baru. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung pemeliharaan kapal berukuran besar dan memperkuat kapasitas galangan.

Floating dock baru diajukan untuk mendukung kapal baru. Karena kapasitas yang ada saat ini belum mencukupi,” ujarnya.

Ia menambahkan, fasilitas lama juga akan ditingkatkan dengan penambahan kapasitas. Upaya ini dilakukan agar seluruh kebutuhan pemeliharaan kapal dapat terpenuhi secara maksimal.

Kapal induk Giuseppe Garibaldi diharapkan sudah berada di Indonesia sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026. Kehadirannya diyakini akan memperkuat armada TNI Angkatan Laut.

Dengan berbagai persiapan tersebut, PT PAL optimistis mampu menjadi pusat pemeliharaan kapal induk di Indonesia. Langkah ini sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.


   RRI  

Inggris-Indonesia Sepakati Kerja Sama Strategis di Bidang Pertahanan Maritim hingga Pendidikan

KRI BPD 322 frigate pertama PAL, hasil kerjasama Babcock (PAL)

Perusahaan pertahanan Inggris, Babcock International Group (Babcock), bersama Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Kamar Dagang Inggris (Britcham), dan para mitra di Indonesia meluncurkan Maritime Partnership Programme (MPP).

Ini merupakan sebuah kesepakatan strategis guna memperdalam kerja sama Inggris–Indonesia di bidang pertahanan maritim, perikanan, kapabilitas industri, serta pengembangan keterampilan.

Chief Executive Babcock, David Lockwood OBE mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis utama bagi Babcock.

"Kemitraan ini akan mewujudkan komitmen tersebut, dan kami menantikan kelanjutan hubungan yang kuat dan berkelanjutan," kata David di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey CVO OBE, mengatakan bahwa Maritime Partnership Programme memberikan manfaat nyata bagi masyarakat berupa lapangan kerja, peluang, dan pertumbuhan.

Program ini mencerminkan komitmen bersama Inggris dan Indonesia terhadap stabilitas dan kemakmuran di Indo-Pasifik, menjunjung tinggi kebebasan navigasi serta mendukung tatanan internasional berbasis aturan.

"Melalui program ini, kita bersama-sama memperkuat ketahanan maritim, mendukung industri, dan membuka peluang yang lebih luas bagi generasi pemimpin Indonesia berikutnya. Kemitraan ini dibangun atas ambisi bersama danakan memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan Inggris. Diplomasi, kolaborasi, dan prestasi!" ujarnya.

Ketua Kamar Dagang Inggris di Indonesia, Ian Betts, menyambut baik peluncuran UK–Indonesia Maritime Partnership Programme. Menurutnya program tersebut menjadi tonggak penting dalam memperdalam hubungan ekonomi dan industri antara kedua negara.

Ian menambahkan, Investasi Babcock, termasuk perannya dalam memperkuat kapabilitas fregat Indonesia melalui program Arrowhead 140, menunjukkan kuatnya keahlian maritim Inggris sekaligus komitmen jangka panjang terhadap ambisi maritim Indonesia.

Kemitraan tersebut dinilai melampaui sektor pertahanan, dengan mendorong pengembangan industri lokal, transfer keterampilan, serta pertumbuhan ekosistem maritim yang lebih luas di Indonesia. Hal ini mencerminkan visi bersama untuk infrastruktur maritim yang tangguh, berkelanjutan, dan aman di kawasan Indo-Pasifik.

Peluncuran Maritime Partnership Programme turut dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Inggris untuk Aviasi, Maritim, dan Dekarbonisasi Keir Mather, Chief Executive Babcock David Lockwood OBE, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey CVO OBE, serta perwakilan sektor bisnis, pejabat pemerintah senior, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Babcock diketahui menandatangani empat Nota Kesepahaman (MoU) strategis dengan universitas-universitas terkemuka, mitra industri, dan pemangku kepentingan utama dari program MPP. MoU ini mencakup pengembangan tenaga kerja, pendidikan, beasiswa, serta kapabilitas industri guna mendukung tujuan maritim Indonesia dan implementasi MPP.

Salah satu MoU yang ditandatangani yakni terkait Beasiswa Chevening. Babcock berkomitmen mendanai total 30 beasiswa Chevening Pemerintah Inggris bagi mahasiswa Indonesia, yang akan diberikan secara bertahap selama periode tiga tahun untuk mendukung calon pemimpin masa depan di sektor maritim dan industri.

Selain itu, Babcock juga menyepakati kemitraan dengan enam universitas di Inggris dan Indonesia untuk memperkuat kapasitas pendidikan dan keterampilan maritim yang selaras dengan prioritas MPP, membuka peluang pendidikan, penelitian, dan inovasi.

Konsorsium ini terdiri dari Newcastle University, University of Strathclyde, University of Edinburgh, University of Glasgow, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Selain itu Babcock dan PT Len Industri juga sepakat berkolaborasi dalam pengembangan teknologi angkatan laut dan maritim, termasuk potensi pemanfaatan fasilitas DEFEND ID.

Kemudian Babcock juga menjajaki kerja sama pembuatan kapal dengan PT Citra Shipyard, pengembangan keterampilan, transfer teknologi, dan rantai pasok.

MoU tersebut juga mencerminkan strategi yang terarah untuk berinvestasi di seluruh spektrum pembangunan maritim Indonesia, serta melanjutkan kesepakatan maritim senilai £4 miliar antara Inggris dan Indonesia yang ditandatangani pada November 2025.

Inisiatif ini juga memperkuat komitmen Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Sir Keir Starmer di London pada 20 Januari 2026.

  📝  Investor Trust  

Jumat, 24 April 2026

PT PAL Tawarkan Solusi Armada dan Kolaborasi Industri Maritim kepada Malaysia

 👷  Kapal LPD desain PAL Indonesia (PAL)
PT PAL Indonesia memperkuat langkah ekspansinya di pasar regional melalui partisipasi pada Defence Services Asia Exhibition and Conference (DSA) 2026 yang berlangsung sejak 20–23 April 2026 di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur.

Dalam pameran tersebut, PT PAL memfokuskan promosi pada varian Landing Platform Dock (LPD) yang dinilai relevan untuk mendukung kebutuhan Angkatan Laut Malaysia.

Sebagai negara maritim dengan tantangan geografis yang serupa dengan Indonesia, Malaysia membutuhkan platform yang tidak hanya mampu mendukung operasi militer, tetapi juga disaster relief, humanitarian assistance, evakuasi medis, serta mobilisasi pasukan dan logistik ke wilayah kepulauan.

Selain menawarkan platform, PT PAL juga membuka peluang kerja sama jangka panjang yang berfokus pada penguatan local content atau industri lokal, pengembangan sumber daya manusia, hingga peluang kolaborasi dengan industri Malaysia.

Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia, Wiyono Komodjojo, menyampaikan bahwa pendekatan tersebut menjadi nilai tambah utama PT PAL dalam membangun kerja sama dengan Malaysia.

PT PAL ingin menunjukkan bahwa kerja sama industri pertahanan tidak harus berhenti pada transaksi pembelian kapal, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membangun kemampuan industri nasional, meningkatkan tingkat serapan dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ekosistem maritim Malaysia secara keseluruhan.

Penguatan tersebut menjadi semakin penting di kawasan ASEAN yang memiliki karakter geografis maritim, jalur perdagangan strategis, serta tantangan bersama seperti bencana alam, keamanan laut, dan perlindungan wilayah perairan.

Partisipasi PT PAL di DSA 2026 sekaligus menjadi langkah strategis untuk memperluas peran Indonesia dalam membangun kekuatan maritim ASEAN yang lebih tangguh dan mandiri.

Melalui solusi yang tidak hanya kuat dari sisi platform, tetapi juga didukung transfer teknologi dan kolaborasi industri, PT PAL ingin mendorong terciptanya kawasan yang memiliki kapasitas pertahanan maritim yang lebih terintegrasi, siap menghadapi tantangan regional, dan mampu tumbuh bersama sebagai kekuatan maritim dunia.

 👷  PAL Indonesia  

Minggu, 12 April 2026

Industri Pertahanan Maritim Dorong Pertumbuhan Ekonomi secara Signifikan

KRI BPD 322 frigate pertama PAL (PAL)

PT PAL Indonesia meyakini industri pertahanan maritim bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Direktur Teknologi PT PAL, Briljan Gazalba, menegaskan pembangunan kekuatan pertahanan laut tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.

Dalam konteks tersebut, menurut dia, konsolidasi galangan nasional menjadi langkah straregis untuk memperkuat struktur industri secara menyeluruh.

Integrasi antargalangan, baik BUMN maupun swasta, akan mampu menciptakan efisiensi produksi, standarisasi kualitas, serta peningkatan kapasitas nasional dalam memenuhi kebutuhan alutsista secara mandiri.

Ketika kapal dibangun di dalam negeri, yang bergerak bukan hanya industri galangan, tetapi juga industri baja, permesinan, elektronik, logistik, hingga ribuan tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Inilah multiplier effect yang membuat industri pertahanan memiliki dampak strategis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Briljan pada Diskusi Panel Kuliah Kerja Dalam negeri (KKDN) Pendidikan Reguler Seskoal Angkatan ke-65 Tahun Ajaran 2026, di Jakarta.

Untuk memastikan dampak tersebut dapat berkelanjutan, kata Briljan, transformasi menjadi elemen kunci dalam memperkuat daya saing industri maritim nasional.

Ia menekankan bahwa transformasi tidak hanya berkaitan dengan penguatan teknologi dan fasilitas produksi, tetapi juga mencakup perubahan pola pikir, kesiapan sumber daya manusia, kemampuan integrasi industri, serta kesiapan menghadapi dinamika geopolitik dan ancaman maritim yang semakin kompleks.

Dengan transformasi yang menyeluruh, konsolidasi industri tidak hanya menghasilkan efisiensi, tetapi juga mendorong terciptanya industri maritim nasional yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Briljan juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan perbatasan, terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) sebagai sebagai wilayah yang memiliki dimensi strategis tinggi dalam konteks pertahanan negara.

Karena itu, keberadaan armada maritim yang kuat, andal, dan diproduksi di dalam negeri menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan wilayah Indonesia,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Diskusi Panel KKDN Pendidikan Reguler Seskoal Angkatan ke-65 Tahun Ajaran 2026 mengusung tema “Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara di Laut”.

Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan strategis dari kementerian, pemerintah daerah, industri pertahanan, hingga TNI-Polri.

  📝  Koran BUMN  

Senin, 06 April 2026

Di Usia ke-46, PT PAL Perkuat Daya Saing Industri Maritim Indonesia

KRI BPD 322 frigate pertama PAL (PAL)

Memasuki usia ke-46, PT PAL Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat transformasi industri maritim nasional. Momentum ini sekaligus menjadi penanda arah baru perusahaan, dari galangan kapal menjadi pusat inovasi teknologi maritim terintegrasi.

Selama hampir lima dekade, PT PAL telah berkembang dari industri pembangunan kapal militer dan niaga menjadi penyedia solusi maritim yang lebih komprehensif.

Transformasi tersebut kini difokuskan pada penguasaan teknologi, penguatan rantai pasok, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia guna menghasilkan produk berdaya saing global.

Untuk mendukung arah tersebut, perusahaan terus melakukan modernisasi fasilitas produksi, memperkuat kapabilitas engineering, serta meningkatkan kemampuan integrasi sistem. Langkah ini ditempuh agar setiap produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional.

Dalam mendukung kemandirian industri pertahanan, PT PAL telah menghasilkan berbagai produk strategis, mulai dari kapal kombatan, kapal selam, frigate, kapal rumah sakit, hingga platform energi lepas pantai.

Produk-produk tersebut tidak hanya memperkuat postur pertahanan, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri pendukung dalam negeri.

Sejalan dengan itu, PT PAL juga memperkuat fokus pada riset dan inovasi teknologi pertahanan modern. Salah satu yang dikembangkan adalah Kapal Selam Otonom (KSOT), kapal selam tanpa awak yang dirancang sebagai sistem pengganda kekuatan untuk operasi bawah laut, dengan kemampuan pengawasan dan pengintaian di wilayah perairan strategis.

Pengembangan inovasi juga dilakukan melalui torpedo Piranha dengan sistem pemandu akustik presisi tinggi, serta teknologi laser weapon berbasis energi terarah yang dinilai lebih efisien dan adaptif terhadap dinamika ancaman modern.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyebut inovasi menjadi kunci dalam mendorong transformasi industri maritim nasional.

Kami percaya industri maritim nasional hanya dapat tumbuh jika didukung oleh penguasaan teknologi, kualitas SDM, dan keberanian untuk terus berinovasi.

Saat ini, PT PAL tidak hanya membangun kapal, tetapi juga membangun ekosistem industri yang mampu memperkuat pertahanan, menggerakkan ekonomi, dan menciptakan nilai tambah bagi bangsa,
” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah transformasi dan inovasi tersebut menjadi fondasi dalam menjalankan amanah sebagai National Consolidator industri galangan kapal nasional.

Sebagai National Consolidator, PT PAL tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga mengintegrasikan kekuatan galangan kapal nasional, mulai dari peningkatan kapabilitas industri, penguatan rantai pasok, hingga penguasaan teknologi, agar industri maritim Indonesia semakin mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.

  👷  PAL Indonesia  

Kamis, 12 Maret 2026

PT PAL Perkuat Produksi Kapal Perang Nasional

 ⚓️ Berencana bangun kapal Destroyer KRI BPD 322, Frigate pertama produksi PT PAL (FMI fb)

PT PAL Indonesia terus memperkuat kapasitas industri pertahanan maritim nasional melalui pembangunan berbagai jenis kapal perang. Senior Executive Vice President Transformasi Manajemen PT PAL Indonesia, Agus Santoso, menjelaskan pembangunan kapal perang menjadi fokus utama perusahaan dalam mendukung kekuatan armada laut Indonesia.

Perusahaan galangan kapal milik negara tersebut memproduksi kapal perang yang terbagi dalam dua kategori utama, yakni kapal permukaan dan kapal selam. Selain kapal permukaan, PT PAL juga mengembangkan kapal selam sebagai bagian dari strategi penguatan pertahanan laut.

Kapal perang itu ada dua jenis, yakni kapal permukaan dan kapal selam atau submarine,” ujar Agus Santoso, Selasa, 10 Maret 2026. Untuk kapal permukaan, PT PAL telah mengembangkan kapal fregat Merah Putih yang menjadi salah satu proyek strategis nasional.

Jumlah kapal tersebut direncanakan tidak hanya satu atau dua unit, tetapi dapat bertambah hingga empat unit dalam beberapa tahun mendatang. “Kapal fregat Merah Putih ini nantinya tidak hanya satu atau dua, tapi bisa sampai empat unit,” katanya.

Selain fregat, PT PAL juga menyiapkan pengembangan kapal perang jenis lain. Ke depan, perusahaan berencana membangun kapal kelas destroyer serta kapal kelas korvet sebagai bagian dari penguatan armada laut nasional.

Ke depan kita juga akan membangun kapal destroyer, begitu juga kelas korvet dan seterusnya,” ujarnya. Rencana pengembangan tersebut menjadi bagian dari program jangka panjang industri pertahanan nasional.

Sejumlah kapal perang produksi PT PAL Indonesia telah memperkuat armada TNI Angkatan Laut. Di antaranya KRI Raden Eddy Martadinata (331), KRI Semarang (594), dan KRI Halasan (630).

  👷 
RRI  

Selasa, 10 Maret 2026

Kapal Perang Indonesia Dilengkapi Alutsista Türkiye

KRI BPD 322 frigate pertama PAL (PAL)

Lembaga Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) telah menerbitkan laporan “Tren Transfer Senjata Internasional 2025” dan memperbarui basis data transfer senjata globalnya.

Menurut basis data tersebut, Indonesia telah memperoleh berbagai sensor dan sistem senjata dari Turki untuk program Fregat Merah Putih (FMP). Menurut SIPRI, Indonesia memesan sistem-sistem berikut:

1. Sistem Peluncuran Vertikal MİDLAS (2 unit)
2. Sonar FERSAH-100-N DSH (2 unit)
3. Radar Pengendalian Tembakan AKREP-200-N (4 unit)
4. Radar CENK 400-N (2 unit)
5. Rudal pertahanan udara SİPER Blok-1
6. Radar CENK 350-N (2 unit)

SIPRI juga mencatat bahwa rudal ÇAKIR dan ATMACA akan dipesan untuk fregat kelas ISTIF berserta MIDLAS.

  Kapal pertama : KRI Balaputradewa 
Kapal pertama fregat KRI Balaputradewa (322), diluncurkan pada Januari 2025. Kapal ini juga merupakan kapal pertama yang diproduksi di bawah Program Fregat Merah Putih.

KRI Balaputradewa-322 (BPD) ini merupakan fregat pertama dari dua fregat yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia untuk memperkuat inventaris angkatan laut.

Pernyataan kementerian tersebut berbunyi, "Kapal ini menonjol bukan hanya sebagai platform tempur tetapi juga sebagai demonstrasi nyata tingkat teknologi Indonesia di industri pertahanan dan kemauannya untuk membangun kekuatan angkatan laut yang mampu mencegah serangan dengan kemampuan dan sumber daya nasional. Dirancang dan dibangun sepenuhnya oleh personel dalam negeri, kapal ini menegaskan kapasitas industri pertahanan Indonesia untuk memproduksi kapal perang modern dan memperkuat peran Angkatan Laut sebagai pos terdepan dalam pertahanan maritim."

  📝  Defence Turk  

Selasa, 17 Februari 2026

Angkatan Laut Filipina akan Menerima SSV Baru Tahun Ini

  Setelah PT PAL menunda pengirimannya Pemasangan blok perdana di Surabaya (PALl)

Angkatan Laut Filipina dijadwalkan menerima kapal angkut strategis (SSV) / ​​kapal dok platform pendaratan (LPD) pertama dari dua kapal lanjutan pada akhir tahun ini, setelah penundaan yang terkait dengan kegagalan pencapaian tonggak kontrak oleh pembuat kapal Indonesia, PT PAL.

Kontrak untuk pesanan ulang tersebut ditandatangani pada Juni 2022 senilai $ 100,9 juta (P 5,59 miliar). Seorang pejabat militer yang mengetahui kesepakatan tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada pers, mengatakan bahwa kapal pertama awalnya dijadwalkan untuk dikirim pada minggu pertama November 2025. Namun, karena "beberapa tantangan yang dihadapi oleh pihak pengusul," kapal pertama malah akan dikirim pada November tahun ini, kata pejabat tersebut, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Kapal kedua dijadwalkan untuk dikirim pada November 2027.

Kontrak tersebut mencakup dua kapal dok platform pendaratan berbobot 7.200 ton dan panjang 124 meter, masing-masing dilengkapi dengan dua kapal utilitas pendaratan. Lunas untuk kapal pertama dari dua kapal lanjutan tersebut diletakkan pada Januari 2024, sementara pemotongan baja untuk kapal kedua dilakukan secara bersamaan. Oktober lalu, pembuat kapal Indonesia tersebut mengatakan bahwa mereka beroperasi sesuai dengan batasan kontrak yang telah direvisi.

PT PAL Indonesia memastikan melalui komunikasi intensif dan koordinasi berkelanjutan, setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan secara bertanggung jawab dan transparan sesuai dengan standar kualitas, dan spesifikasi yang telah disepakati oleh kedua belah pihak,” demikian pernyataan yang dikeluarkan saat itu.

Pada tahun 2014, Filipina menandatangani kesepakatan senilai $92 juta dengan PT PAL untuk dua kapal angkut strategis. Kapal-kapal tersebut kemudian diresmikan sebagai BRP Tarlac (LD-601) pada tahun 2016 dan BRP Davao del Sur (LD-602) pada tahun 2017 di bawah Satuan Tugas Amfibi Angkut Laut. Kedua kapal tersebut telah berpartisipasi dalam berbagai latihan dan misi kemanusiaan, termasuk patroli di Laut Cina Selatan. BRP Tarlac melakukan kunjungan pelabuhan pertamanya ke Rusia dan mengambil bagian dalam tinjauan armada internasional di Korea Selatan pada tahun 2018, sementara BRP Davao del Sur dikerahkan ke Oman pada tahun 2020 untuk memulangkan pekerja Filipina di luar negeri di tengah ketegangan AS-Iran.

Filipina telah berkomitmen untuk mengalokasikan sekitar 2 triliun peso Filipina (sekitar 35 miliar dolar AS) selama dekade berikutnya untuk meningkatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

  💥 
Naval News  

Jumat, 06 Februari 2026

PT PAL Indonesia Bakal Jadi Holding Galangan Kapal BUMN

Fregat Merah Putih KRI BPD 322 produksi PAL (FMI fb)

Danantara akan mengonsolidasikan sejumlah BUMN di sektor galangan kapal.

Rencananya PT PAL Indonesia akan menjadi induk perusahaan galangan kapal BUMN.

Hal ini dikonfirmasi oleh Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod saat ditemui di Hotel Ayana Midpalza, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Kaharuddin mengatakan pembahasan terkait konsolidasi tersebut sudah berjalan di internal Danantara sejak tahun lalu.

"Ini juga sekarang sedang dibicarakan di Danantara. Danantara sedang melakukan konsolidasi industri galangan kapal BUMN," ujar Kaharuddin.

Saat ditanya apakah dengan rencana penggabungan tersebut, PT PAL akan menjadi induk galangan kapal BUMN, Kaharuddin membenarkan hal tersebut. Meski begitu, ia mengatakan hal ini masih digodok Danantara.

"Ya, PT PAL dari galang-galang kapal BUMN. Tetapi bentuknya seperti apa, ini masih dalam proses pembahasan di Danantara," katanya.

Kaharuddin menambahkan, perusahaan galangan kapal BUMN selain PAL adalah, PT Industri Kapal Indonesia (Persero) atau IKI, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) atau DKB, PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) atau DKS, PT Dok dan Perkapalan Air Kantung. (hrp/hns)

  🤝  detik  

Jumat, 23 Januari 2026

Indonesia Memperoleh Dua Kapal Frigat Arrowhead 140 Tambahan

  Memperluas Pakta Kekuatan Maritim Inggris-Indonesia  
Fregat Merah Putih KRI BPD 322 (FMI fb)

Perjanjian lisensi baru antara Babcock International dan Indonesia memperkuat modernisasi angkatan laut Jakarta dalam strategi maritim Indo-Pasifik senilai £4 miliar yang berpusat pada proyeksi kekuatan perairan biru, kedaulatan industri pertahanan, dan diversifikasi aliansi jangka panjang.

(DEFENCE SECURITY ASIA) — Babcock International telah mengumumkan perjanjian baru yang memberikan lisensi kepada Indonesia untuk dua kapal frigat Arrowhead 140 tambahan, sebuah perkembangan yang menandai titik balik penting dalam keseimbangan kekuatan maritim Asia Tenggara yang berkembang dan secara tegas menanamkan dorongan modernisasi angkatan laut Jakarta dalam kontes geostrategis Indo-Pasifik yang lebih luas yang semakin ditentukan oleh proyeksi kekuatan perairan terbuka, kedaulatan industri pertahanan, dan diversifikasi aliansi yang terencana.

Perjanjian ini merupakan tonggak pelaksanaan nyata pertama di bawah Program Kemitraan Maritim senilai £ 4 miliar yang ambisius, yang bernilai sekitar US$ 5,08 miliar, yang secara resmi ditandatangani antara Inggris dan Indonesia pada November 2025, menerjemahkan niat strategis menjadi hasil industri dan angkatan laut yang konkret dengan implikasi regional jangka panjang.

Bobot strategis dari perkembangan ini digarisbawahi oleh pernyataan CEO Babcock, David Lockwood, bahwa, “Pesanan kerja pertama ini, dalam kerangka kerja penting ini, menandakan pentingnya kecepatan dan kemajuan yang dibutuhkan untuk mewujudkan transformasi maritim Presiden Prabowo Subianto dan mendukung keberhasilan yang semakin meningkat dari desain ekspor Arrowhead 140 kami,” sebuah pernyataan yang menempatkan tempo operasional dan niat politik di pusat kalibrasi ulang angkatan laut Indonesia.

Sama pentingnya adalah kerangka institusional Babcock tentang kesepakatan tersebut sebagai kesepakatan yang “dibangun di atas dua lisensi Arrowhead 140 yang diekspor pada tahun 2021 dan mengikuti peluncuran fregat kelas Merah Putih pertama di Indonesia baru-baru ini, yang mendukung momentum yang semakin meningkat dalam fregat kami.” menyoroti keberlanjutan daripada pengadaan episodik sebagai ciri khas program tersebut.

Penekanan Presiden Prabowo Subianto yang sudah lama pada kedaulatan maritim, yang berakar pada kewajiban Indonesia untuk mengamankan Zona Ekonomi Eksklusif yang melebihi enam juta kilometer persegi, mengubah fregat-fregat ini dari sekadar tambahan armada menjadi instrumen proyeksi kekuatan nasional, perlindungan sumber daya, dan kredibilitas pencegahan di koridor maritim yang diperebutkan.

Saya bertemu dengan CEO Babcock. Kami senang untuk melanjutkan kemitraan maritim ini. Saya pikir ini sangat penting dan strategis bagi Indonesia. Ini adalah bagian penting dari pembangunan ekonomi maritim kita.

Pemilihan Arrowhead 140 mencerminkan konvergensi yang diperhitungkan antara keterjangkauan, modularitas, dan skalabilitas tempur, memungkinkan Indonesia untuk mengejar ambisi angkatan laut tanpa mengorbankan otonomi industri, disiplin fiskal, atau jalur peningkatan di masa depan dalam era doktrin peperangan angkatan laut yang berkembang pesat.

Dengan memusatkan konstruksi di PT PAL dengan ketentuan transfer teknologi yang ekstensif, program ini secara bersamaan memajukan doktrin Kekuatan Esensial Minimum Indonesia sekaligus membentuk kembali ekosistem industri pertahanan domestik menjadi perusahaan yang lebih tangguh, mampu mengekspor, dan otonom secara strategis.

Secara keseluruhan, perjanjian ini menandakan bahwa modernisasi angkatan laut Indonesia bukan lagi sekadar aspirasi atau bertahap, tetapi secara struktural tertanam dalam strategi transformasi maritim jangka panjang yang dirancang untuk memposisikan kembali negara kepulauan ini sebagai aktor angkatan laut Indo-Pasifik yang menentukan.

Dua fregat Arrowhead 140 saat ini sedang dibangun di galangan kapal milik negara PT PAL Indonesia di bawah program Merah Putih Angkatan Laut Indonesia.

Pada 18 Desember 2025, lambung pertama secara resmi diberi nama dan diluncurkan, menandai tonggak penting dalam program tersebut.

Kapal ini adalah kapal utama dari kelas dua fregat yang sedang dibangun oleh PT PAL Indonesia berdasarkan desain Arrowhead 140 yang dikembangkan oleh Babcock.

Pembangunan KRI Balaputradewa dimulai dengan upacara pemotongan baja pada Desember 2022, diikuti dengan peletakan lunas pada Agustus 2023.

  Dari Konsep Ekspor menjadi Jangkar Industri Strategis 
Perjalanan Arrowhead 140 di Indonesia dimulai pada September 2021 ketika Babcock mendapatkan kontrak desain ekspor pertamanya, menetapkan preseden yang mengubah platform dari konsep fregat serbaguna Eropa menjadi arsitektur angkatan laut yang kompetitif secara global yang disesuaikan untuk kekuatan maritim yang sedang berkembang.

Perjanjian lisensi yang ditandatangani dengan PT PAL di pameran Defence and Security Equipment International memungkinkan Indonesia tidak hanya untuk memperoleh lambung kapal, tetapi juga untuk menginternalisasi kompetensi konstruksi fregat canggih yang sebelumnya terkonsentrasi dalam ekosistem pembuatan kapal Eropa.

Deklarasi CEO Babcock, David Lockwood, pada saat itu bahwa, “Hari ini adalah momen yang sangat menggembirakan bagi Babcock dan fregat kami."

Program ekspor yang berkelanjutan, seiring dengan penandatanganan lisensi desain dengan PAL untuk dua fregat baru bagi Angkatan Laut Indonesia,” mencerminkan signifikansi ganda komersial dan strategis dari transfer kemampuan pembuatan kapal yang berdaulat daripada mengekspor kapal perang jadi.

Berasal dari kelas Iver Huitfeldt Denmark dan disempurnakan sebagai dasar untuk kelas Type 31 Inspiration Angkatan Laut Kerajaan Inggris, Arrowhead 140 mengintegrasikan kemampuan bertahan hidup, kapasitas muatan, dan keterjangkauan siklus hidup ke dalam satu platform yang dioptimalkan untuk interoperabilitas koalisi dan kustomisasi nasional.

Penetapan desain oleh Indonesia sebagai kelas Merah Putih mengangkat fregat-fregat tersebut menjadi simbol identitas nasional, memperkuat narasi politik bahwa modernisasi angkatan laut dan kemandirian industri merupakan komponen yang tak terpisahkan dari kedaulatan negara.

Peluncuran KRI Balaputradewa (322) pada 18 Desember 2025 menandai masuknya Indonesia ke dalam kelompok terbatas negara-negara yang mampu membangun fregat multi-peran besar secara domestik, sebuah tonggak sejarah dengan signifikansi strategis dan industri yang abadi.

Penekanan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada “kedaulatan maritim dan kemandirian industri” selama upacara peluncuran mengartikulasikan peran program tersebut sebagai pilar fundamental postur pertahanan jangka panjang Indonesia, bukan sebagai inisiatif pengadaan yang terpisah.

Dengan menanamkan target kandungan lokal yang tinggi yang konsisten dengan doktrin Kekuatan Esensial Minimum, program ini mengoperasionalkan ambisi Indonesia untuk mengubah pengeluaran pertahanan menjadi kemampuan industri yang berkelanjutan, bukan ketergantungan asing yang berulang.

  Perjanjian Baru & Arsitektur Program Kemitraan Maritim 
Peluncuran FMP KRI BPD 322 (PAL)
Perjanjian yang diumumkan pada 21 Januari 2026 meresmikan penjualan dua lisensi desain Arrowhead 140 tambahan, memperluas kekuatan fregat masa depan Indonesia dari sepasang kapal awal menjadi kemampuan tingkat skuadron yang koheren yang dirancang untuk kehadiran maritim yang berkelanjutan.

Ekspansi ini berada dalam Program Kemitraan Maritim yang lebih luas, kerangka kerja senilai £ 4 miliar yang bernilai sekitar US$ 5,08 miliar, yang mencakup konstruksi angkatan laut, infrastruktur maritim, perikanan. dukungan, dan kerja sama industri jangka panjang.

Surat Pernyataan Niat yang ditandatangani antara Babcock dan perwakilan pemerintahan Presiden Prabowo menandakan keselarasan politik di tingkat tertinggi, memastikan keberlanjutan program di luar siklus pemilihan dan inersia birokrasi.

Dengan berkomitmen pada pembangunan lokal di PT PAL, perjanjian tersebut mengkonsolidasikan transfer teknologi, pengembangan tenaga kerja, dan lokalisasi rantai pasokan sebagai pilar yang tidak dapat dinegosiasikan dari strategi angkatan laut Indonesia.

Integrasi sistem rudal, sensor, dan manajemen tempur Turki mencerminkan strategi diversifikasi Indonesia yang disengaja, mengurangi paparan terhadap persyaratan politik sambil memaksimalkan efektivitas biaya dan fleksibilitas peningkatan.

Arsitektur multi-vendor ini mencerminkan tren pengadaan pertahanan Asia yang lebih luas, di mana integrasi modular menggantikan ketergantungan pemasok monolitik sebagai model manajemen risiko yang lebih disukai.

Dari perspektif Babcock, kesepakatan tersebut mempertahankan pekerjaan desain dan rekayasa bernilai tinggi di Rosyth, melestarikan lapangan kerja terampil sambil memperkuat status Arrowhead 140 sebagai ekspor pertahanan unggulan Inggris.

Secara finansial, analis menilai bahwa dua fregat tambahan tersebut Nilai total program dapat melebihi US$ 1 miliar, setelah integrasi sistem, pelatihan, dan dukungan siklus hidup sepenuhnya diperhitungkan.

  Arsitektur Tempur & Jangkauan Operasional Kapal 
Dengan bobot sekitar 6.000 ton dan panjang 140 meter, Arrowhead 140 memberi Indonesia bentuk lambung yang dioptimalkan untuk daya tahan, kemampuan berlayar, dan fleksibilitas multi-misi di lingkungan pesisir dan perairan lepas.

Arsitektur propulsi CODAD, yang digerakkan oleh empat mesin diesel MTU, memberikan kecepatan mendekati 28 knot dan jangkauan 9.000 mil laut pada kecepatan jelajah, memungkinkan patroli berkelanjutan di seluruh geografi kepulauan Indonesia yang tersebar.

Daya tahan tersebut secara langsung menjawab realitas operasional dalam menjaga lebih dari 17.000 pulau, jalur komunikasi laut yang penting, dan infrastruktur energi lepas pantai yang tersebar di jarak maritim yang luas.

Arsitektur senjata modular kelas Merah Putih memungkinkan konfigurasi persenjataan yang disesuaikan, termasuk Meriam utama 76 mm, sistem peluncuran vertikal untuk rudal permukaan-ke-udara, dan opsi rudal anti-kapal canggih seperti Atmaca atau Exocet.

Kemampuan perang anti-kapal selam diperkuat melalui sonar yang terpasang di lambung kapal, helikopter yang ditempatkan di kapal seperti AS565 Panther atau Seahawk, dan sistem torpedo yang dirancang untuk melawan ancaman bawah laut yang semakin canggih.

Sensor canggih, termasuk radar AESA modern dan sistem manajemen tempur berbasis jaringan, menempatkan fregat sebagai pusat kesadaran domain maritim yang mampu berintegrasi dengan gugus tugas gabungan dan koalisi.

Dibandingkan dengan fregat kelas Sigma Indonesia yang sudah ada, Arrowhead 140 menawarkan margin muatan yang lebih unggul, kapasitas pembangkit listrik, dan potensi pertumbuhan di masa depan.

Kemampuan adaptasi ini memastikan relevansi terhadap ancaman yang terus berkembang, termasuk sistem tak berawak, rudal hipersonik, dan operasi maritim terdistribusi yang mendefinisikan peperangan laut kontemporer.

  Signifikansi Geostrategis 
Frigat Merah Putih KRI BPD 322 (Deni)
Keputusan Indonesia untuk memperluas armada Arrowhead 140 terjadi di tengah persaingan strategis yang semakin intensif di Laut Cina Selatan, di mana klaim yang tumpang tindih dan paksaan di zona abu-abu semakin menguji stabilitas regional.

Peningkatan kemampuan fregat memperkuat kemampuan Indonesia untuk melakukan operasi kehadiran berkelanjutan, menegakkan hak kedaulatan, dan memberikan kontribusi yang berarti bagi arsitektur keamanan maritim regional.

Program ini meningkatkan interoperabilitas dengan mitra seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat, memperkuat otonomi strategis Indonesia sekaligus memperdalam kerja sama pertahanan.

Bagi Inggris Raya, kesepakatan ini merupakan contoh diplomasi pertahanan pasca-Brexit, yang memanfaatkan ekspor angkatan laut untuk mempertahankan pengaruh di seluruh Indo-Pasifik tanpa penempatan pasukan permanen.

Keberhasilan ekspor Arrowhead 140 juga mengimbangi penetrasi pasar pertahanan Tiongkok yang semakin meningkat, khususnya di mana Beijing mempromosikan platform seperti Tipe 054A sebagai alternatif yang hemat biaya.

Pendekatan pengadaan seimbang Indonesia memungkinkan negara ini untuk melakukan modernisasi tanpa berpihak secara eksklusif pada satu blok kekuatan tertentu.

Program ini juga memperkuat pengaruh Jakarta di forum multilateral, di mana kemampuan angkatan laut yang kredibel diterjemahkan menjadi bobot diplomatik.

Secara kolektif, dinamika ini memposisikan kembali Indonesia sebagai kekuatan maritim yang stabil, bukan sebagai negara pantai pinggiran.

 Risiko Industri, Keberlanjutan Fiskal & Jalan ke Depan 
Terlepas dari janjinya, program Arrowhead 140 menghadapi tantangan struktural, termasuk volatilitas rantai pasokan global, kendala tenaga kerja terampil, dan integrasi sistem yang kompleks di berbagai vendor internasional.

Anggaran pertahanan Indonesia, yang berada di kisaran 0,8 persen dari PDB, harus menyelaraskan ekspansi angkatan laut dengan prioritas modernisasi angkatan udara dan darat yang saling bersaing.

Pinjaman luar negeri awal sebesar US$ 1,1 miliar, menggarisbawahi intensitas keuangan pengadaan angkatan laut canggih.

Kemampuan PT PAL untuk meningkatkan produksi sambil mempertahankan kualitas akan menentukan apakah Indonesia muncul sebagai pusat pembuatan kapal regional atau menghadapi hambatan pengiriman.

Keberlanjutan lingkungan dan efisiensi siklus hidup juga menjadi pertimbangan yang muncul karena angkatan laut menghadapi tuntutan operasional yang didorong oleh iklim.

Ekspansi di masa depan menjadi enam atau delapan fregat di bawah fase Minimum Essential Force selanjutnya akan memperkuat transisi Indonesia menuju armada laut lepas yang seimbang.

Kolaborasi trilateral yang melibatkan Inggris, Indonesia, dan Turki dapat lebih mempercepat inovasi dalam sistem peperangan angkatan laut jaringan dan hibrida.

Pada akhirnya, program Arrowhead 140 bukan hanya tentang jumlah kapal, tetapi lebih tentang transformasi kelembagaan.

Seperti yang diamati David Lockwood, perjanjian tersebut mencerminkan “laju dan kemajuan yang dibutuhkan” untuk mewujudkan transformasi maritim, menempatkan Indonesia di garis depan tatanan angkatan laut Asia Tenggara yang terus berkembang. (DSA)

  🤝  DSA  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...