Tampilkan postingan dengan label Drone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drone. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2026

Lanud Manuhua Dukung Kesiapan Operasional Pesawat CH-4

🛩  Di wilayah Kodau III Lanud Manuhua menjadi base operasi UCAV CH-4 (Dispenau) 

Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara III (Pangkodau III) Marsda TNI Dr. Azhar Aditama D., S.Sos., M.M., M.Han., meninjau langsung pembangunan fasilitas pendukung operasional pesawat CH-4 di Lanud Manuhua, Biak, didampingi Komandan Lanud Manuhua Marsma TNI Rohmat Kusmayadi, S.Sos., M.Soc.Sc.

Pembangunan yang telah dimulai sejak September 2025 ini mencakup sejumlah fasilitas, di antaranya landasan pacu (runway) sepanjang 2 KM dengan lebar 30 meter, hanggar, serta menara pengawas lalu lintas udara (tower). Seluruh fasilitas tersebut dipersiapkan untuk menunjang kebutuhan operasional pesawat CH-4, baik dalam aktivitas penerbangan maupun penempatan dan pemeliharaan pesawat.

Dalam peninjauan ini, Pangkodau III melihat secara langsung perkembangan pembangunan serta kondisi fasilitas yang tengah dikerjakan. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan dan mampu mendukung kesiapan infrastruktur dalam rencana pengoperasian pesawat CH-4 di wilayah Kodau III.

Turut hadir dalam peninjauan tersebut Asisten Logistik (Aslog) Kaskodau III Kolonel Tek Yekti Sulistyo N., S.T., Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Kaskodau III Kolonel Lek Febri Eko Hadi P., S.E., serta Komandan Detasemen Markas (Dandenma) Kodau III Mayor Kal Febri Saputro, S.S.T.Han. Proyek Elang Hitam membawahi eks-BPPT dan LAPAN.

  🛩
Kodau III  

Selasa, 22 September 2026

Pesawat Militer Thailand hingga Korea Servisnya di Bandung

 🛩 👷 🛩 Mock up mesin NTP (detik)

PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP), anak usaha PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, mengembangkan bisnis perawatan mesin pesawat hingga menjangkau pasar Asia Pasifik.

VP Business Development & Marketing NTP Nicki Subianto mengatakan kapabilitas NTP bahkan digunakan untuk mendukung kebutuhan mesin pesawat militer Malaysia hingga Korea.

NTP merupakan perusahaan yang bergerak di bidang maintenance, repair, and overhaul (MRO) mesin pesawat di Bandung. Selain mesin pesawat, perusahaan juga bergerak di bidang perawatan mesin gas turbin, steam turbin industrial, hingga rotating equipment.

Dalam pameran TNI Fair 2026, NTP menampilkan sejumlah mesin dan mock-up engine yang dapat ditangani perusahaan, salah satunya mesin yang digunakan pada pesawat CN235 dan NC212 buatan PTDI.

"Jadi, kami perlihatkan apa saja engine-engine yang kami mampu lakukan. Ini mulai dari brosurnya, engine apa saja yang bisa kami lakukan. Nama engine-nya Honeywell TPE331. Yang ini dipasang di pesawat buatannya PTDI. Ini produk unggulan PTDI, ini nama pesawatnya CN235, ini nama pesawatnya CASA 212," kata dia saat ditemui detikcom di TNI Fair di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).

Keunggulan mesin milik NTP disebut telah mendapatkan sertifikasi Authorized Maintenance Center (AMC) dari original equipment manufacturer (OEM) untuk sejumlah jenis mesin. Menurut NTP, untuk tipe engine tertentu yang ditampilkan, perusahaan menjadi satu-satunya AMC di Indonesia.

"Kita Authorized Maintenance Center. Kita diautorisasi oleh OEM langsung, dan di Indonesia kita satu-satunya," katanya.

Selain sertifikasi dari OEM, NTP juga mengantongi sertifikasi internasional, termasuk dari Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat (AS). Sertifikasi tersebut memungkinkan NTP melayani kebutuhan operator dari sejumlah negara.

"Kita juga tersertifikasi di Thailand, Nepal, Kanada. Sampai ke beberapa negara lain. Yang kalau mereka butuh, kita bisa compliance," ujarnya.

 Militer Malaysia hingga Korea

Pasar NTP saat ini tidak hanya dari dalam negeri. NTP telah melayani sejumlah pelanggan di kawasan Asia Pasifik, meskipun mayoritas bisnisnya masih berasal dari sektor militer.

NTP memiliki kontrak jangka panjang dengan Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM). Selain Malaysia, perusahaan juga memiliki pelanggan dari Thailand dan Korea.

Untuk Thailand, pelanggan NTP antara lain Royal Thai Air Force dan Royal Thai Navy. Sementara di Korea, NTP melayani Korean Coast Guard dan Korean Air Force.

"Kalau Korea, ada Korean Coast Guard, ada Korean Air Force. Itu juga engine-nya ini, ke kami," ujarnya.

 Kembangkan Mesin Drone

Tak berhenti di bisnis MRO, NTP juga mulai mengembangkan mesin untuk drone atau pesawat tanpa awak. Menurut NTP, pengembangan tersebut dilakukan melihat pertumbuhan penggunaan drone dan UAV (Unmanned Aerial Vehicle/pesawat udara tanpa awak) di industri penerbangan.

"Ke depannya kami akan mulai dengan manufacturing engine drone. Kita coba, karena kan drone sedang booming. Dunia penerbangan sedang booming dengan drone, UAV, pesawat tanpa awak," terangnya.

NTP juga tengah mengembangkan engine Rolls-Royce Allison 556 untuk pesawat Hercules. Pengembangan tersebut saat ini masih dalam tahap pengerjaan. (ada/ara)

  🛩 detik  

Senin, 21 September 2026

Drone Elang Hitam Kejar Sertifikasi di Tahun 2027

🛩  Diusulkan masuk Proyek Strategis Nasional UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Lama tak terdengar kabarnya, Elang Hitam yang digadang-gadang menjadi drone MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) pertama karya anak bangsa, dipamerkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di ajang TNI Fair di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 19-20 September 2026.

Drone ini dipajang di area pameran luar ruangan di booth Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI yang menampilkan sejumlah industri pertahanan dalam negeri. Dari tampilan ukurannya, drone ini tampak lebih kecil karena yang dipajang adalah mockup 1:2.

VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan mengatakan, saat ini status drone MALE Elang Hitam sudah diusulkan masuk dalam proyek strategis nasional dan dalam tahap mengejar sertifikasi dari Kementerian Pertahanan di tahun 2027.

“Jadi drone MALE Elang Hitam ini baru kita usulkan masuk dalam proyek strategis nasional. Kita sudah uji terbang perdana pada Agustus 2025 lalu di Bandara Kertajati, Majalengka, tapi belum mendapatkan sertifikasi dari Kemhan. Targetnya sampai tahun depan,” ujar Heber kepada Airspace Review di lokasi pameran.

Heber menambahkan, proses pengembangan drone Elang Hitam menghadapi beberapa kendala, khususnya terkait anggaran. Sejauh ini pengembangan dan pemeliharaan drone ini menggunakan dana mandiri dari PTDI.

“Pengembangannya tetap berjalan, tapi tidak bisa gaspol. Kami telah memasukkan usulannya ke Danantara juga untuk tambahan investasi pengembangannya,” ungkap Heber.

 Target Operasional Tahun 2028

Berbicara soal target operasional di tahun 2028, menyesuaikan dengan rencana strategis dari Kemhan, PTDI optimistis dapat mengejar sertifikasi drone MALE ini.

Namun, diakui memang, PTDI harus membangun prototipe lagi untuk uji terbang dan lain-lain sesuai dengan rancang bangunnya dan ini membutuhkan tambahan anggaran.

Saat ini PTDI baru membuat dua drone Elang Hitam. Yang pertama adalah drone mockup yang ditampilkan saat peluncuran (rollout) perdana pada tahun 2019, dan yang kedua adalah prototipe yang digunakan untuk uji coba terbang perdana pada 2025.

“Sampai sekarang kami tetap pelihara prototipe uji terbang ini. Mulai dari engine, flight control systemnya, ground control station, dan sistem onboard di drone tersebut,” urai Heber.

Mengenai isu bahwa pengembangan drone Elang Hitam telah dialihkan untuk pangsa pasar sipil, Heber mengatakan hal itu tidak sepenuhnya benar.

Ditegaskan bahwa spek MALE Elang Hitam yang dikembangkan PTDI adalah untuk kebutuhan militer.

Adapun pengembangan untuk kebutuhan sipil, merupakan peluang pasar yang bisa dikerjasamakan lebih lanjut, misalnya dengan Kementerian Kehutanan atau badan-badan lain.

“Kebutuhan sipil ini adalah peluang dari pangsa pasar MALE yang ada, jadi tidak dialihkan dari kebutuhan militer ke sipil,” tegas Heber.

 Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Drone Elang Hitam

Elang Hitam merupakan pesawat udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau UAV) berkemampuan MALE yang dikembangkan oleh PTDI bersama konsorsium nasional guna memperkuat kemandirian teknologi pertahanan Indonesia.

Dirancang khusus untuk menjalankan misi Intelligent, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) serta dapat dilengkapi dengan persenjataan (weaponized), drone ini memegang peran strategis dalam mengawasi kawasan perbatasan, wilayah terluar, hingga pengamanan jalur maritim dari berbagai ancaman penyusupan dan kegiatan ilegal.

Dari segi desain dan ukuran, Elang Hitam hadir dengan dimensi yang tergolong besar untuk kelas drone tempur dan pengawas.

Wahana ini memiliki panjang 8,73 meter, tinggi 3,27 meter, serta bentang sayap mencapai 16 meter dengan luas area sayap sebesar 12,8 meter persegi.

Dengan bobot maksimum lepas landas (Max Gross Take-Off Weight) dan pendaratan sebesar 1.300 kg, drone ini mampu menampung kapasitas bahan bakar hingga 420 liter serta membawa muatan atau payload hingga 300 kg untuk mengangkut berbagai sensor radar maupun sistem persenjataan.

Kemampuan jelajah dan efisiensi terbang Elang Hitam juga sangat andal untuk mendukung operasi ketahanan panjang.

Drone ini sanggup bertahan di udara (endurance) hingga kurun waktu kurang dari 30 jam dengan radius operasional Line of Sight (LOS) mencapai 250 km.

Elang Hitam dirancang untuk beroperasi pada ketinggian jelajah 3.000 hingga 5.000 meter dengan ketinggian maksimum (ceiling) mencapai 7.200 meter.

Dalam hal kecepatan, drone ini memiliki kecepatan jelajah antara 50 hingga 180 km/jam serta mampu memacu kecepatan jelajah maksimum hingga 235 km/jam.

Untuk pengoperasian di landasan, Elang Hitam membutuhkan jarak lepas landas dan pendaratan kurang dari 1.000 meter pada kondisi bobot maksimum di permukaan laut.

Kombinasi spesifikasi unggulan ini menjadikan Elang Hitam sebagai simbol kemajuan sekaligus benteng pengawas kedaulatan wilayah Republik Indonesia di udara. (RNS).

  🛩
Airspace Review  

Sabtu, 29 Agustus 2026

Indonesia Resmi Akuisisi Cakir dan Sistem Rudal Lain dari Turki

Hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi98REfk8fkH0al7ymdIvmybcn1PQAaN2m5mVeY-EvPzRSsFSFCbXJtN3Ety7Ws2JftsNyUaxX88yGBCJwZxVpthuV0V29QYJl1JWXHiJLxsNqDdf3e9hc01WaQHkpnBh2KC2pXJ5Xa72sERlfTi3n9K7T2dw7_rGMHikU7OcSk9XMmYe7RQu9J9jR3n07A/s587/Cakir.jpgRudal permukaan ke permukaan Cakir (infographic Roketsan) 

Indonesia telah resmi mengakuisisi rudal Cakir dan sistem rudal lainnya dari Turki. Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan, negaranya telah mengakuisisi rudal Cakir produksi Roketsan. Ke depannya, basis produksi bersama direncanakan akan didirikan antara Roketsan dan perusahaan Indonesia.

"Kami telah membeli rudal Cakir dan beberapa rudal lainnya," kata Rizal di Ankara dikutip Jumat (28/8/2026).

Dilaporkan Havahaber, menurut Rizal, pengadaan sistem rudal tidak terbatas pada pembelian produk, tetapi mewakili tahap yang lebih dalam dalam kerja sama industri pertahanan antara kedua negara. Dia menyatakan, Indonesia sangat mempercayai kemampuan teknologi Turki di industri pertahanan.

Rizal pun mengumumkan, usaha patungan telah didirikan antara Roketsan dan sebuah perusahaan Indonesia. "Bahwa basis produksi untuk roket dan rudal direncanakan akan didirikan di Indonesia dalam lingkup ini," katanya.

Menurut Rizal, langkah itu sekaligus menggeser kerja sama dari pengadaan ke produksi bersama dan berbagi teknologi. Dia menilai, hubungan antara kedua negara telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah. Bagi Rizal, perkembangan tersebut sebagai indikasi kerja sama strategis yang luas, tidak hanya di industri pertahanan.

Dikutip dari Ssbulten, Rizal melanjutkan, Indonesia juga telah menunjukkan minat pada proyek pesawat tempur udara KAAN dan drone Kizilelma. Indonesia bermaksud menjadi salah satu negara pertama yang berkomitmen untuk pengadaan sistem tersebut.

Perkembangan itu menunjukkan permintaan internasional terhadap produk industri pertahanan Turki dan kapasitas produksi bersama. Memperdalam kerja sama dengan Indonesia menciptakan pasar baru dan peluang kerja sama jangka panjang untuk ekspor industri pertahanan Turki.

"Saya dapat mengatakan bahwa hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah," jelas Rizal.

  ✈ Republika 

Rabu, 26 Agustus 2026

Indonesia Ingin Perluas Kerjasama Pertahanan Dengan Türkiye

Melalui KAAN, Kizilelma, proyek 4 fregat, kapal selam & helikopter https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan keputusan baru mereka untuk membeli rudal Kaan dan Kızılelma dari Türkiye, dan menyatakan bahwa kerja sama ini tidak akan terbatas pada pembelian tersebut saja.

Indonesia, dengan menyatakan "Ini tidak akan berhasil hanya dengan Kaan dan Kızılelma," mengumumkan keputusan barunya terkait Türkiye.

Menurut laporan di GDH Haber, Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, juga menyatakan bahwa niat untuk pengadaan fregat, KAAN dan KIZILELMA tetap ada, dan bahwa dalam program empat fregat tersebut, dua kapal akan dibangun di Turki dan dua kapal akan dibangun di Indonesia sebagai bagian dari produksi dan pengembangan bersama.

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, memberikan wawancara kepada Mevlüt İşli, di mana beliau membahas kondisi terkini kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia serta memberikan penilaian mengenai proyek-proyek baru.

Purnama menyatakan bahwa kerja sama antara kedua negara tidak terbatas pada pasokan produk; transfer teknologi, pengembangan bersama, produksi bersama, dan usaha patungan juga menjadi target.

Purnama menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara pertama yang menyatakan niatnya untuk membeli Pesawat Tempur Nasional KAAN dan KIZILELMA, yang belum beroperasi dan masih dalam tahap pengembangan.

Indonesia telah mengumumkan niatnya untuk membeli sistem KIZILELMA dan KAAN. Kami menyebut ini sebagai kesepakatan bersejarah antara kedua negara di industri pertahanan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbYDS-slQ6m5N134iPkFs9HuSE-JStKMomXBb3XyxCqQTrTTn9gTYqIAqL78oscLYfgSPw0P-OfvI8n3Sq-GKAci0K_F9_aonCw2JkFWTjn7f-Z4Q-O5wwJxws7bI4MK5NGWMQEMsKDZnoYuPXK1yacrv-NV4fS0MgNoKVGEZNiRzyRGhZcswFwzb7XzA2/s1667/IMG_0729.jpegProses produksi kapal fregat dan KCR pesanan Indonesia (sc Keri’s reborn)

Purnama menyatakan bahwa pendekatan ini menunjukkan kepercayaan Indonesia terhadap kemampuan Turki dalam teknologi dan industri pertahanan. Ia juga menekankan bahwa kerja sama antara Turki dan Indonesia dalam teknologi pertahanan canggih memiliki kepentingan strategis bagi kedua negara.

Purnama menyatakan bahwa KIZILELMA dan kendaraan udara tak berawak lainnya sangat penting bagi Indonesia, menekankan bahwa Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, perlu melindungi wilayah udaranya serta perbatasan darat dan lautnya yang luas.

Purnama mengumumkan penandatanganan perjanjian pengadaan dan pembangunan fregat dari Turki, dengan menguraikan model produksinya: Dua akan dibangun di Turki, dan dua lainnya akan dibangun di Indonesia melalui produksi dan pengembangan bersama.

Purnama menyatakan bahwa salah satu tujuan utama kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia adalah untuk menciptakan ekosistem industri pertahanan bersama di kedua negara.

Dalam konteks ini, ia mencatat bahwa TUSAŞ telah didirikan di Indonesia dengan nama "TUSAŞ Indonesia," dan bahwa HAVELSAN, ASELSAN, dan ROKETSAN juga telah membuka kantor di negara ini.

Purnama menyebutkan bahwa selama kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdoğan ke Indonesia pada tahun 2025, perjanjian ditandatangani antara perusahaan Turki dan Indonesia untuk mendirikan usaha patungan di bidang drone, roket, dan rudal.

Ia menambahkan bahwa Indonesia membeli rudal ÇAKIR dan beberapa rudal lainnya dari Turki. Mengenai upaya untuk mentransfer produksi roket dan rudal ke Indonesia, Purnama mengatakan, "Kami memiliki usaha patungan antara ROKETSAN dan sebuah perusahaan Indonesia untuk mendirikan basis produksi roket dan rudal di Indonesia."

  ✈  Yeniakit  

Selasa, 18 Agustus 2026

[Video] Drone Anak Bangsa Untuk Pertahanan Negara

 ⍜  Puluhan drone lokal tampil dalam Expo di Jakarta Ilustrasi drone serbu otomatis digunakan Pasmar (PasMar1)

Puluhan produsen drone lokal tampil di Indonesia Drone Expo 2026 di Kemayoran, Jakarta.

Dari data Kementrian Perindustrian menunjukan produksi drone lokal berpotensi ekonomi yang tinggi

 Berikut video liputan CNN :



  ★
   Youtube    

Minggu, 16 Agustus 2026

Prajurit Koops TNI Habema Amankan Senjata Kelompok Bersenjata di Gamagai

🛩  Melalui observasi menggunakan drone Prajurit Koops TNI Habema kembali menunjukkan ketangguhan, kewaspadaan, dan profesionalisme melalui pelaksanaan penguasaan wilayah terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap VIII/Intan Jaya pimpinan Apeni Kobogau di sekitar Kampung Gamagai, Distrik Ugimba, Kab. Intan Jaya , Provinsi Papua Tengah, (Habema)

Dalam menjalankan tugas menjaga keamanan, prajurit Koops TNI Habema kembali menunjukkan ketangguhan, kewaspadaan, dan profesionalisme melalui pelaksanaan penguasaan wilayah terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap VIII/Intan Jaya pimpinan Apeni Kobogau di sekitar Kampung Gamagai, Distrik Ugimba, Kab. Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, Papua Tengah, Sabtu (15/08/26).

Patroli tersebut bermula ketika personel Koops TNI Habema diKampung Gamagai melaksanakan pengamanan wilayah. Di tengah kondisi medan yang gelap dan terjal, suhu dingin ekstrim 3 derajat, prajurit tetap menjalankan tugas dengan penuh kewaspadaan. Suara anjing serta cahaya senter yang terpantau di sekitar sungai menjadi petunjuk awal yang kemudian ditindaklanjuti melalui observasi menggunakan drone.

Hasil pemantauan udara menunjukkan adanya tiga orang yang bergerak menyusuri sungai menuju wilayah Distrik Ugimba dan kemudian berhenti di sebuah honai yang diduga menjadi tempat persinggahan. Informasi tersebut segera dilaporkan secara berjenjang untuk menentukan langkah selanjutnya. Koordinasi yang cepat dan terukur kemudian dilakukan dengan menambah kekuatan personel dari TK Gamagai untuk melaksanakan penyergapan.

Pada sabtu dini hari, personel melaksanakan penguasaan wilayah terhadap honai yang menjadi lokasi persinggahan kelompok tersebut. Saat penindakan dilakukan, kelompok yang diduga OPM tersebut memilih melarikan diri menuju kawasan hutan dan ketinggian, yang mengarah ke Kampung Kulapa.

Dari hasil pemeriksaan, personel berhasil mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok besenjata OPM, antara lain satu senjata rakitan, satu pistol revolver standar, tujuh butir munisi, satu kotak munisi senapan angin, satu panah beserta lima anak panah, dua noken, satu bendera Bintang Kejora, satu senter, serta sembilan baterai.

Kapen Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menyampaikan bahwa keberhasilan penguasaan wilayah tersebut merupakan hasil dari kesiapsiagaan, kecermatan, dan koordinasi personel di lapangan. “Prajurit Koops TNI Habema akan terus melaksanakan tugas secara selektif, terukur, profesional, dan mengutamakan keselamatan masyarakat dalam menjaga keamanan wilayah Papua,” ujarnya.

Keberhasilan tersebut menjadi gambaran nyata ketangguhan prajurit Koops TNI Habema dalam melaksanakan tugas di tengah medan Papua yang berat dan penuh tantangan. Patroli tersebut dilaksanakan secara selektif, terukur, profesional, dan tetap mengutamakan keselamat masyarakat serta nilai-nilai kemanusiaan, para prajurit terus hadir untuk menjaga keamanan dan memberikan rasa aman bagi masyarakat di Wilayah Papua.

Operasi di Kampung Gamagai juga menunjukkan bahwa keberhasilan dalam menghadapi situasi keamanan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan, tetapi oleh kesiapsiagaan, kecermatan, koordinasi, dan kemampuan prajurit mengambil keputusan secara terukur di lapangan. Di balik beratnya medan dan panjangnya waktu penugasan, para prajurit tetap menjalankan amanah dengan satu tujuan menjaga keamanan wilayah, melindungi masyarakat, dan memastikan tugas negara terlaksana dengan penuh tanggung jawab. (***)

  🛩 Lintas Papua  

Jumat, 14 Agustus 2026

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV)PT PAL Indonesia

 Membangun kemampuan teknologi di dalam negeri USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (Corcomm PAL)

Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.

“Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.

“Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.

Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

“Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

  ★ PAL Indonesia  

Frogs Kenalkani Drone Cleaning dan Militer di Indonesia

   Drone domestik Drone senjata Teknologi Drone Cleaning dan Militer. (Foto/ Dok SindoNews)

Teknologi drone di Indonesia terus berkembang untuk kebutuhan yang semakin beragam. Tak lagi sebatas dokumentasi udara, drone kini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari industri, pertanian, surveillance, pemetaan, hingga pertahanan.

Perkembangan tersebut turut terlihat di Indonesia Drone Expo 2026 yang berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta.

Frogs Indonesia membawa sejumlah produk drone, di antaranya drone cleaning terbaru dan lini drone militer yang menjadi sorotan.

Salah satu produk yang diperkenalkan Frogs Indonesia adalah Nakula Series, drone yang dikembangkan untuk kebutuhan industrial cleaning dan pemeliharaan aset.

Kehadirannya menunjukkan bagaimana teknologi UAV mulai diarahkan untuk membantu pekerjaan yang memiliki tantangan akses, termasuk pembersihan area gedung dan fasad.

Nakula Series membawa sistem pembersihan dengan kemampuan pompa hingga 10 liter per menit.

Drone ini juga dilengkapi sejumlah sensor, termasuk LiDAR 360° dan terrain radar, yang mendukung kebutuhan penerbangan ketika beroperasi di sekitar objek dan permukaan bangunan.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari tren pemanfaatan drone untuk pekerjaan industri.

Jika sebelumnya drone banyak digunakan untuk mengambil gambar atau memperoleh data dari udara, kini fungsinya semakin berkembang menjadi perangkat yang dapat membantu menjalankan pekerjaan tertentu di lapangan.

Rahman, Chief Technology Frogs Indonesia yang membidangi riset, pengembangan, dan desain produk, menjelaskan bahwa pengembangan Nakula Series turut mengacu pada teknologi drone cleaning yang telah diterapkan di berbagai negara.

“Teknologi drone cleaning sebenarnya sudah mulai diterapkan di beberapa negara. Kami melihat teknologi tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dan disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia, terutama dari sisi desain, sistem cleaning, serta kondisi operasional di lapangan,” jelas Rahman, Selasa (11/08/2026).

Selain drone cleaning, Frogs Indonesia menampilkan lini drone militer yang terdiri dari mortar dropper, kamikaze drone, dan interceptor drone.

Masing-masing dikembangkan dengan fungsi yang berbeda dalam kebutuhan pertahanan.

Mortar dropper dirancang untuk membawa dan melepaskan muatan mortar dari udara.

Sementara Kamikaze drone merupakan drone yang dirancang untuk membawa muatan dalam misi serangan terhadap sasaran tertentu.

Adapun interceptor drone dikembangkan untuk menghadapi ancaman drone lain.

Konsep ini berkaitan dengan teknologi Counter-UAS (C-UAS) yang semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan drone dalam berbagai kebutuhan operasional.

Kehadiran lini drone militer Frogs Indonesia turut menarik perhatian pengunjung di Indonesia Drone Expo 2026.

Sejumlah pengunjung datang untuk melihat lebih dekat dan menanyakan fungsi serta pengembangan dari mortar dropper, kamikaze drone, hingga interceptor drone yang ditampilkan.

Dalam gelaran Indonesia Drone Expo 2026, Selasa (11/08/2026), CEO Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, mengatakan bahwa pengembangan berbagai produk drone tersebut merupakan bagian dari upaya Frogs Indonesia untuk terus memperluas pemanfaatan teknologi UAV sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kami ingin teknologi drone yang dikembangkan Frogs Indonesia tidak berhenti pada kemampuan terbang, tetapi memiliki fungsi yang benar-benar dapat menjawab kebutuhan di lapangan. Termasuk di sektor pertahanan, kami melihat ada peluang besar untuk terus mengembangkan teknologi UAV yang dapat mendukung kebutuhan nasional,” ujar Adhitya.

Pengembangan drone militer ini juga menjadi bagian dari langkah Frogs Indonesia untuk terus menghadirkan teknologi UAV bagi kebutuhan pertahanan.

Ke depan, Frogs Indonesia berharap pengembangan tersebut dapat ikut mendukung penguatan teknologi pertahanan dalam negeri.

Selain drone cleaning dan lini drone militer, Frogs Indonesia turut membawa sejumlah produk lainnya, di antaranya Sekar Agri untuk sektor pertanian serta Palapa S1 untuk kebutuhan surveillance dan pemetaan.

Indonesia Drone Expo 2026 merupakan ajang industri yang berfokus pada perkembangan teknologi drone dan Unmanned Aerial Systems (UAS).

IDE menjadi wadah bagi perusahaan untuk menampilkan produk dan use case, sekaligus memberikan ruang bagi pelaku industri untuk melihat solusi teknologi dan peluang baru dalam pemanfaatan drone.

Pada penyelenggaraan 2026 ini, IDE mengusung tema “Unleashing the Power of Intelligent Aerial Systems”. Tema tersebut menggambarkan dorongan terhadap pemanfaatan sistem udara cerdas yang semakin luas, termasuk untuk kebutuhan industri, pertanian, logistik, hingga pertahanan.

Kehadiran Frogs Indonesia di IDE 2026 memperlihatkan bagaimana teknologi drone terus berkembang mengikuti kebutuhan di lapangan. Dari drone cleaning, pertahanan, hingga pertanian dan pemetaan, setiap produk membawa fungsi yang berbeda untuk kebutuhan yang semakin beragam. (wbs)

  ★
sindonews  

Rabu, 12 Agustus 2026

Kemhan Dorong Indonesia Menuju Kedaulatan Teknologi Pertahanan

🛩  Bukan Sekadar Beli Drone! Ilustrasi drone pada pameran Indonesia Drone Expo 2026 (IDM)

Era perang modern telah mengalami perubahan mendasar. Teknologi sistem tanpa awak atau unmanned systems kini bukan lagi sekadar pelengkap kekuatan militer, melainkan telah menjadi bagian penting dari ekosistem pertahanan yang menghubungkan sensor, data, komunikasi, kecerdasan buatan (AI), sistem komando hingga unsur manusia sebagai pengguna.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kabatekhhan Kemhan) Laksamana Muda TNI Arif Harnanto dalam acara Indonesia Drone Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8).

Mengusung tema “Advancing Indonesia’s Defense Capabilities through Unmanned Systems”, Arif mengemukakan perkembangan sistem tanpa awak harus dipandang sebagai bagian dari transformasi pertahanan nasional, bukan sebatas perlombaan memiliki drone sebanyak-banyaknya.

“Satu pesan utama yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini adalah bahwasanya sistem tanpa awak bukan hanya sekadar sebuah sistem yang tidak diawaki,” kata Arif.

Menurutnya, sistem tanpa awak harus terintegrasi dengan jaringan sensor, data, komunikasi, komando, kecerdasan buatan, serta unsur pelaksana atau pengguna sehingga seluruh komponen dapat bekerja sebagai satu kesatuan.

Ukuran keberhasilan pembangunan sistem tanpa awak, lanjut Arif, tidak dapat hanya dilihat dari jumlah drone yang dimiliki Indonesia.

“Keberhasilan kita tidak cukup diukur dari berapa banyak drone yang sudah kita miliki. Keberhasilan harus diukur dari kemampuan kita untuk mengintegrasikannya, mengoperasikannya, mempertahankannya, serta memproduksi serta mengembangkan sistem tersebut secara mandiri,” ujarnya.

Arif menjelaskan perkembangan teknologi drone juga telah mengubah karakter operasi modern.

Sistem tanpa awak memungkinkan sebuah kekuatan memperluas jangkauan pengindraan hingga mempertahankan pengawasan dalam waktu lebih lama.

Perubahan tersebut semakin cepat karena teknologi drone kini tidak lagi hanya dikuasai negara dengan industri pertahanan besar.

Ketersediaan komponen komersial, perangkat lunak terbuka, sensor berukuran kecil, komunikasi digital, AI, serta teknologi manufaktur membuat siklus inovasi berlangsung semakin singkat.

Arif menilai kondisi tersebut menciptakan tantangan serius bagi industri pertahanan konvensional.

Pasalnya, siklus pengembangan teknologi dapat bergerak lebih cepat dibandingkan siklus pengadaan sistem pertahanan konvensional.

“Sistem yang hari ini kita anggap sudah unggul dapat menjadi usang dalam waktu yang sangat singkat,” tegasnya.

 Indonesia Tak Bisa Hanya Mengandalkan Platform Besar

Bagi Indonesia, kebutuhan terhadap sistem tanpa awak semakin strategis karena karakter geografis nasional yang sangat luas.

Ribuan pulau, jalur laut strategis, kawasan perbatasan, wilayah udara yang besar hingga lingkungan bawah laut membutuhkan kemampuan pengawasan yang luas dan berkelanjutan.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai membutuhkan kombinasi sistem berawak dan tanpa awak, platform besar dan kecil, sensor tetap maupun bergerak, serta sistem strategis yang dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan waktu relatif singkat.

Sistem tanpa awak dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengawasan perbatasan, maritime domain awareness, intelijen hingga pengawasan dan pengintaian atau ISR.

Namun, Arif mengingatkan agar pembangunan teknologi tidak dimulai dari pertanyaan mengenai drone apa yang harus dibeli.

“Pertanyaannya haruslah berupa sebuah pertanyaan, bukan ‘drone apa yang akan kita beli,’ tetapi pertanyaan yang lebih tepat adalah ‘masalah operasi apa yang harus kita selesaikan,’ dan ‘efek apa yang ingin dihasilkan,’ serta ‘sistem apa untuk menghasilkan efek tersebut,’” jelasnya.

  🛩
IDM 

Jumat, 07 Agustus 2026

TNI AU Kerahkan 5 Alutsista Baru dalam Latihan Gabungan TNI

  Di Dabo Singkep, Kepri Alutsista terbaru TNI AU dalam latihan gabungan TNI di Kepri (Dispenau)

TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan lima alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8/2026).

Berdasarkan siaran pers dari Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau), kelima alutsista itu terdiri dari empat jet tempur Rafale dan satu pesawat angkut A400M.

“Pada latihan tersebut, TNI AU mengerahkan berbagai unsur udara yang meliputi pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat intai, helikopter, pesawat tanpa awak serta pasukan gerak cepat untuk mendukung pelaksanaan operasi gabungan secara terpadu,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana.

Foto yang dirilis TNI AU turut memperlihatkan empat jet tempur Rafale tampak mengawal satu pesawat angkut strategis A400M yang terbang dalam formasi di atas langit Dabo Singkep.

Sementara itu, berdasarkan keterangan Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), TNI menampilkan simulasi peperangan modern dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep.

Dalam latihan itu, TNI AL menembakkan rudal C-705 dari KRI Sampari-628 dan mengoperasikan Unmanned Surface Vehicle (USV) atau drone laut untuk menyerang sasaran musuh.

Latihan dipimpin Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Panglima TNI dan para kepala staf angkatan.

Skenario yang dimainkan menggambarkan operasi gabungan TNI dalam menghadapi ancaman modern dengan melibatkan kekuatan darat, laut, udara, hingga peperangan siber.

Operasi diawali dengan serangan udara menggunakan pesawat tempur Rafale dan F-16 yang membawa bom MK-82.

Setelah itu, Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) melaksanakan operasi khusus untuk membuka jalan bagi serangan berikutnya.

Di laut, TNI AL mengerahkan USV kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991, disusul operasi ranjau laut serta infiltrasi Komando Pasukan Katak (Kopaska) yang mensimulasikan sabotase kabel bawah laut.

Dalam skenario yang sama, satuan siber juga melakukan serangan untuk melumpuhkan sistem kelistrikan lawan.

Setelah sasaran dinyatakan lumpuh, KRI Sampari-628 menembakkan rudal C-705 ke target di darat.

TNI AL juga mengerahkan Bantuan Tembakan Kapal dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Raden Eddy Martadinata-331.

Korps Marinir turut memberikan dukungan tembakan menggunakan Multi Launcher Rocket System (MLRS).

Sementara itu, TNI AD mengerahkan pasukan lintas udara yang diterjunkan dari pesawat Hercules C-130, drone pengintai, drone tempur, serta satuan Artileri Medan untuk mendukung operasi gabungan.

“Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, serta hasil peninjauan langsung di lapangan, TNI telah menunjukkan kesiapan yang meyakinkan dalam menjalankan tugas menjaga, memelihara, dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bunyi keterangan.

Menurut dia, kemampuan yang diperagakan mencerminkan peningkatan kesiapan tempur, baik dari sisi alutsista, kualitas prajurit, maupun dukungan amunisi.

Sjafrie juga menilai penggunaan alutsista buatan dalam negeri dalam latihan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal Indonesia terhadap berbagai ancaman.

Latihan Integrasi TNI 2026 dirancang untuk menguji kemampuan operasi gabungan antarmatara, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi dinamika peperangan modern.

 Berikut video liputan IDN Times :


 ✈️ 
Kompas  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...