Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2026

Danantara Bakal Investasi Jumbo

  Garap Alutsista hingga Mobil Nasional 
BP BUMN dan Danantara mendorong pengembangan industri alutsista dan mobil nasional melalui peningkatan kapasitas produksi, pemanfaatan teknologi terkini, serta penguatan investasi.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengatakan, setiap proyek yang dikembangkan harus menggunakan teknologi terkini dan didukung investasi yang memadai.

Dony menekankan, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengikut, tetapi mampu menghadirkan fasilitas produksi dengan kualitas terbaik.

"Apa pun yang kita masuk, kita mesti the latest technology dan kita akan invest gede-gedean. Kita nggak mau cuma jadi follower. Ini akan menjadi satu manufaktur yang terbaik dan the latest technology," ujar Dony saat pertemuan dengan CTO Danantara Sigit Puji Santosa serta jajaran Direksi PT LEN dan PT Pindad di Wisma Danantara, mengutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.

Maung MV3 mulai digunakan para menteri (ist)

Dony menyampaikan bahwa Danantara akan mendukung pengembangan proyek-proyek tersebut, termasuk melalui peningkatan kapasitas produksi. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan nasional sekaligus memberikan manfaat bagi negara.

"Nanti kita akan support aja semuanya. Ini juga bagus buat Pindad, kan jelas offtake-nya, ada margin-nya, terutama buat negara ya," ujar Dony.

Selain pengembangan industri alutsista, mobil nasional juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri dalam negeri. Pengembangan tersebut diharapkan didukung teknologi modern dan fasilitas produksi yang berkualitas, sekaligus membuka kesempatan bagi talenta terbaik Indonesia untuk berkarya.

Melalui dukungan investasi dan kolaborasi antarpihak, BP BUMN dan Danantara mendorong peningkatan kapasitas serta kemandirian industri nasional agar semakin mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

  👷  CNBC  

Jumat, 16 Oktober 2026

PT PAL Perkuat Kemandirian Pertahanan Maritim

  Lewat kapal perang dan kapal selam modern
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama KSOT. (PAL)

PT PAL Indonesia (Persero) terus bergerak menuju kemandirian industri pertahanan melalui peningkatan kemampuan manufaktur, engineering, dan penguasaan teknologi.

Langkah tersebut tercermin dalam pembangunan Frigate Merah Putih KRI Balaputradewa-322 dan program kapal selam Scorpène bersama Naval Group.

Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia (Persero), Wiyono Komodjojo, mengatakan kedua program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan, tetapi juga menjadi bagian dari proses memperkuat kemampuan industri pertahanan maritim Indonesia.

Melalui program tersebut, PT PAL memperluas pengalaman dan kapasitas dalam manufaktur, rekayasa, pengembangan teknologi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari produk yang dihasilkan. Kita juga perlu melihat peningkatan produktivitas, kapasitas industri, dan kemampuan nasional yang dapat digunakan untuk program berikutnya,” ujar Wiyono dalam forum persiapan rapat pleno Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di Jakarta, Selasa (6/10).

KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)

Menurut Wiyono, pembangunan alutsista perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun kemampuan industri nasional. Setiap program pertahanan dapat menjadi ruang pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan teknologi, kapasitas manufaktur, kemampuan engineering, dan kompetensi sumber daya manusia.

Dengan pendekatan tersebut, sambung dia, kemampuan yang dibangun melalui satu program dapat menjadi modal untuk mengerjakan program berikutnya. Proses ini secara bertahap membentuk kapasitas industri yang semakin kuat sekaligus memperdalam penguasaan teknologi di dalam negeri.

“Industri pertahanan perlu terus meningkatkan kapasitas produksi, kualitas sumber daya manusia, riset, dan penguasaan teknologi. Upaya itu membutuhkan ekosistem yang saling terhubung,” tambah Wiyono.

Karena itu, kemandirian industri pertahanan membutuhkan kebijakan yang konsisten dan investasi jangka panjang. Pengembangan riset, tenaga ahli, teknologi, dan industri pendukung juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar setiap program memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan industri nasional.

Dalam forum tersebut, PT PAL hadir sebagai perwakilan industri pertahanan maritim dan memaparkan pengembangan teknologi serta kemampuan industri dalam negeri. Forum persiapan rapat pleno KKIP tersebut menjadi ruang untuk membahas penguatan ekosistem industri pertahanan nasional guna mendukung transformasi pertahanan berbasis teknologi.

  👷  Info Ekonomi  

Minggu, 20 September 2026

PTDI Akan Garap 15% Airframe Jet Tempur KF-21

  Dorong Kontrak Pengadaan 16 Unit untuk TNI AU
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah mengantongi Industrial Collaboration Agreement (ICA) dengan Korea Aerospace Industries (KAI) asal Korea Selatan untuk memproduksi 15% bagian airframe (kerangka pesawat) jet tempur KF-21 Boramae bagi TNI Angkatan Udara (TNI AU).

ICA ini merupakan kelanjutan dari selesainya Fase EMD (Engineering and Manufacturing Development) KF-21 antara PTDI dan KAI pada Mei lalu, yang memungkinkan pesawat untuk selanjutnya memasuki fase produksi massal dan tahap komersialisasi.

Saat ini PTDI dan KAI bersama-sama mendorong tercapainya kontrak pengadaan 16 unit KF-21 oleh Kementerian Pertahanan untuk TNI AU dengan perkiraan nilai mencapai 2,9 miliar dolar AS (sekitar Rp 51,65 triliun). Target pengiriman tiga pesawat pertama diproyeksikan pada akhir 2028 atau awal 2029.

VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan, menyampaikan hal tersebut dalam perbincangan dengan Airspace Review di ajang TNI Fair yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Sabtu (19/9).

Ia menjelaskan, melalui kesepakatan ICA dengan KAI, PTDI akan memperoleh nilai tambah yang sangat krusial dalam memperkuat kapasitasnya sebagai entitas industri dirgantara nasional. “Dengan membeli KF-21 ini, ada nilai tambah yang sudah kami susun dalam ICA tersebut yang akan didapatkan oleh PTDI untuk meningkatkan kemampuan menuju kemandirian industri dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, PTDI akan menerima kucuran investasi sekitar 100-an juta dolar AS (lebih dari Rp 1,78 triliun) guna memaksimalkan fasilitas produksi di hanggar milik Kementerian Pertahanan di Bandung. Investasi tersebut, merupakan bagian dari total nilai kontrak yang akan didapat Indonesia.

“Semua permesinannya akan direvitalisasi, plus diberikan kemampuan komposit oleh KAI. Ini yang paling diincar industri penerbangan, yaitu Automated Fiber Placement (AFP),” ungkap Heber.

Sebagai tambahan informasi, AFP merupakan teknologi fabrikasi otomatis berbasis lengan robotik untuk menyusun dan menempelkan pita serat karbon (carbon fiber tows/prepreg) ke cetakan (mandrel/mold) dengan tingkat presisi dan kecepatan tinggi.

Guna mendukung penguasaan teknologi ini, KAI selain akan melengkapi berbagai fasilitas yang dibutuhkan tersebut, juga akan memberikan pelatihan kualifikasi secara intensif bagi puluhan teknisi dan insinyur PTDI.

"Ini merupakan benefit yang luar biasa tentunya bagi PTDI, di mana kita membeli 16 unit jet tempur KF-21 dan sekaligus mendapatkan nilai-nilai tambah tersebut," pungkas Heber.

 Dimulai pada 2010

Program KF-X/IF-X resmi dimulai pada 2010 melalui penandatanganan kesepakatan awal antara Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan untuk merancang jet tempur generasi 4,5 secara bersama.

Indonesia sepakat menanggung 20 persen biaya pengembangan dengan imbalan alih teknologi (transfer of technology) serta hak memproduksi pesawat untuk kebutuhan TNI AU.

Perjalanan panjang proyek kolaborasi ini melalui berbagai tahapan krusial, mulai dari fase pengembangan konsep (Technology Development), desain detail, hingga penyelesaian rancangan akhir (Critical Design Review).

Seiring berjalannya waktu, penamaan program ini berevolusi dan resmi diperkenalkan ke publik sebagai KF-21 Boramae saat peluncuran unit prototipe pertamanya pada April 2021.

Meskipun dinamika negosiasi ulang serta penyesuaian porsi pendanaan sempat mewarnai perjalanan kemitraan ini, kedua negara tetap mempertahankan komitmen utama untuk menyelesaikan program pengujian.

Keberhasilan penerbangan perdana prototipe KF-21 pada Juli 2022 menjadi bukti nyata pencapaian teknis dari kerja sama strategis Korea Selatan dan Indonesia.

Kini, dengan tuntasnya Fase EMD dan dimulainya kesepakatan produksi komponen airframe oleh PTDI, sejarah panjang KF-X/IF-X memasuki babak baru yang makin konkret.

Pencapaian ini menegaskan transformasi hubungan kedua negara dari sekadar kerja sama riset menjadi kemitraan manufaktur pertahanan tingkat lanjut. (RNS)

  ★ Airspace Review   

Jumat, 28 Agustus 2026

Visi Strategis MRO di Bandara Kertajati Bagi Pertahanan Negara

  👷 🛩  Ilustrasi (Japos) 

Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) tidak semestinya dipandang sekadar sebagai proyek untuk meningkatkan utilisasi bandara. Lebih jauh, Kertajati memiliki peluang menjadi bagian dari strategi membangun kemandirian industri kedirgantaraan nasional.

MRO merupakan mata rantai penting dalam industri penerbangan. Pesawat yang diproduksi di dalam atau luar negeri tetap membutuhkan perawatan, perbaikan, modernisasi, penyediaan suku cadang, rekayasa, serta dukungan teknis sepanjang siklus hidupnya. Negara yang hanya mampu membeli pesawat, tetapi tidak mampu merawat dan meningkatkan kemampuannya secara mandiri, pada akhirnya tetap memiliki ketergantungan strategis.

Karena itu, pengembangan Kertajati perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas: sebagai upaya membangun ekosistem industri, sumber daya manusia, teknologi, dan jasa kedirgantaraan yang dapat memperkuat kepentingan ekonomi sekaligus pertahanan nasional.

 *Belajar dari MRO Negara Berkembang Lain*

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa pusat MRO yang berhasil tidak lahir hanya karena memiliki hanggar dan landasan yang memadai. Daya saingnya dibangun melalui kombinasi tenaga kerja terampil, sertifikasi internasional, kemampuan rekayasa, ketersediaan suku cadang, dukungan logistik, lembaga pendidikan, industri komponen, dan kepastian regulasi.

Brasil memberikan pelajaran penting. Melalui Embraer, negara tersebut tidak hanya membangun kemampuan manufaktur pesawat, tetapi juga mengembangkan jaringan services and support yang mencakup pemeliharaan, perbaikan, peningkatan kemampuan, suku cadang, pelatihan, dan dukungan teknis.

Ekosistem kedirgantaraan di sekitar Embraer, kota São José dos Campos, juga menunjukkan pentingnya konsentrasi industri. Pusat riset, perguruan tinggi, perusahaan rekayasa, pemasok komponen, dan fasilitas pengujian berkembang dalam satu lingkungan. Kekuatan seperti itu sulit dibangun jika MRO hanya dipandang sebagai kegiatan perawatan pesawat.

Pengalaman Helibras di Brasil juga memperlihatkan bagaimana kemampuan pemeliharaan dapat berkembang menjadi kemampuan industri yang lebih luas melalui integrasi, modernisasi, pelatihan, dan dukungan sepanjang siklus hidup helikopter.

Di Asia, Malaysia dan Singapura memberikan pelajaran berbeda. Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam MRO pesawat komersial dengan dukungan tenaga terlatih, jaringan penerbangan regional, dan kepatuhan terhadap standar internasional. Singapura, melalui ST Engineering Aerospace, membangun jaringan MRO yang melayani berbagai pasar internasional.

Keduanya menunjukkan satu hal: menjadi pusat MRO regional bukan terutama persoalan ukuran wilayah atau jumlah hanggar. Yang menentukan adalah kualitas layanan, sertifikasi, keandalan, kemampuan teknis, logistik, serta kepercayaan pelanggan.

Maroko juga menarik untuk dicermati. Negara tersebut mengembangkan industri kedirgantaraan dengan menggabungkan MRO, manufaktur komponen, rekayasa, pendidikan vokasi, dan investasi asing. Dari sini terlihat bahwa MRO dapat menjadi pintu masuk menuju industri yang lebih dalam, termasuk produksi komponen dan pengembangan kemampuan rekayasa.

Meksiko menunjukkan pola serupa melalui pengembangan kawasan kedirgantaraan yang menghubungkan MRO, manufaktur komponen, pelatihan, dan jasa rekayasa. Sementara itu, Afrika Selatan memperlihatkan pentingnya kesinambungan kemampuan teknis, riset, serta hubungan antara kebutuhan pertahanan dan industri nasional.

Pengalaman negara-negara tersebut tidak dapat disalin begitu saja. Kondisi Indonesia berbeda. Namun, terdapat pola universal: MRO yang kuat selalu tumbuh dari ekosistem industri yang kuat.

 *Bukan Sekedar Hanggar Pemeliharaan*

Pelajaran dari MRO negara-negara lain sangat relevan bagi Kertajati. Kawasan ini sebaiknya tidak dirancang hanya sebagai tempat pesawat datang, diperbaiki, kemudian pergi kembali.

Kertajati perlu dipikirkan sebagai aerospace cluster yang menghubungkan MRO sipil dan militer dengan pendidikan, pelatihan, engineering, riset, industri komponen, pengujian, sertifikasi, perguruan tinggi, serta jaringan pemasok.

Jika ekosistem tersebut terbentuk, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar. Kertajati tidak hanya menciptakan lapangan kerja bagi teknisi, tetapi juga mendorong tumbuhnya perusahaan komponen, jasa rekayasa, logistik, pendidikan vokasi, dan penelitian.

Investasi asing juga sangat diperlukan. Namun, investasi seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan penciptaan lapangan kerja. Investasi harus menjadi instrumen transfer kemampuan.

Pelatihan teknisi Indonesia, sertifikasi tenaga kerja, pengembangan engineering, keterlibatan industri nasional, peningkatan kemampuan perbaikan komponen, dan penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari desain kerja sama.

Ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa besar modal yang masuk, tetapi berapa besar kemampuan yang menetap di Indonesia setelah investasi tersebut berlangsung.

 *MRO dan Pertahanan*

Perspektif ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan pertahanan.

MRO pertahanan bukan sekadar persoalan efisiensi biaya. Ia berkaitan langsung dengan kesiapan operasional dan kedaulatan negara. Ketergantungan yang terlalu besar pada fasilitas pemeliharaan di luar negeri dapat menjadi persoalan ketika terjadi krisis, konflik, pembatasan ekspor, atau gangguan rantai pasok global.

Karena itu, kemampuan MRO nasional merupakan bagian dari defence industrial base. Setiap pengadaan alutsista semestinya tidak berhenti pada pembelian platform. Negara juga harus memikirkan bagaimana alutsista tersebut dirawat, diperbaiki, dimodernisasi, dan didukung selama puluhan tahun masa pakainya.

Di sinilah kebijakan pengadaan pertahanan perlu dihubungkan dengan kebijakan industri.

Pengadaan, transfer teknologi, pengembangan SDM, pembangunan fasilitas MRO, pengembangan komponen, riset, dan penguatan industri nasional harus dirancang sebagai satu kesatuan. Dengan pendekatan tersebut, setiap pembelian alutsista dapat menjadi kesempatan untuk memperbesar kemampuan industri dalam negeri.

Kertajati berpotensi menjadi salah satu titik temu dari berbagai kepentingan tersebut.

 *Dari Bandara Menjadi Ekosistem*

Dengan pasar penerbangan yang besar dan posisi geografis Indonesia yang strategis, Kertajati memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu simpul MRO di Asia Tenggara. Namun, peluang tersebut tidak boleh dianggap sebagai posisi yang sudah tercapai.

Untuk menjadi pusat MRO regional, Kertajati harus mampu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar fasilitas fisik: kualitas teknisi, sertifikasi internasional, kecepatan pengerjaan, ketersediaan komponen, dukungan rekayasa, kepastian regulasi, dan kepercayaan pelanggan.

Jika kemampuan tersebut berhasil dibangun, pesawat dari negara-negara kawasan dapat dirawat di Indonesia. Devisa yang selama ini keluar untuk MRO luar negeri dapat dikurangi. Pada saat yang sama, Indonesia dapat memperoleh devisa dari ekspor jasa MRO.

Lebih penting lagi, terbentuk kemampuan teknologi yang menetap di dalam negeri.

Karena itu, pembangunan Kertajati sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak pesawat yang dapat ditangani atau berapa besar investasi yang masuk. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: kemampuan apa yang akan dikuasai Indonesia dalam 10, 20, atau 30 tahun mendatang?

Jika jawabannya mencakup teknisi yang semakin unggul, industri komponen yang semakin kuat, kemampuan rekayasa yang semakin mandiri, sertifikasi internasional yang semakin luas, serta kemampuan merawat dan memodernisasi alutsista secara nasional, maka Kertajati benar-benar menjadi proyek strategis.

Kertajati pada akhirnya bukan sekadar persoalan sebuah bandara. Ia adalah kesempatan untuk membangun ekosistem kedirgantaraan Indonesia.

Jika dikembangkan dengan visi jangka panjang, didukung kebijakan yang konsisten, pembiayaan yang jelas, target terukur, serta keputusan resmi yang kuat, Kertajati berpeluang menjadi salah satu fondasi industri kedirgantaraan nasional dan, pada waktunya, berkembang menjadi pusat MRO regional.

Ukuran keberhasilannya bukan sekadar berdirinya hanggar atau besarnya investasi. Ukuran yang sesungguhnya adalah lahirnya kemampuan nasional yang sebelumnya harus dibeli dari luar negeri.

Di situlah makna strategis Kertajati bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Oleh: Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc)

  👷 
Japos  

Minggu, 05 Juli 2026

Menhan Groundbreaking Pabrik Munisi PT Pindad di Tanah Bumbu

  Perkuat Kemandirian Industri Pertahanan Nasional (Pindad)
Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, melaksanakan groundbreaking pembangunan Pabrik Munisi PT Pindad di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Sabtu (4/7/2026).

Pembangunan fasilitas produksi munisi tersebut merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

Kehadiran pabrik baru ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi munisi dalam negeri, memenuhi kebutuhan alat pertahanan secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat sistem logistik pertahanan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah, TNI, PT Pindad, serta seluruh mitra strategis yang telah bersinergi mewujudkan pembangunan pabrik munisi tersebut.

”Pembangunan industri pertahanan nasional merupakan investasi strategis untuk menjaga kedaulatan negara, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah,” ujar Menhan Sjafrie.

Selain memperkuat kemampuan pertahanan negara dan meningkatkan daya saing industri strategis nasional, pembangunan Pabrik Munisi PT Pindad di Batulicin diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi Kalimantan Selatan melalui pembukaan lapangan pekerjaan, peningkatan investasi, serta pengembangan SDM lokal.

Groundbreaking ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan industri pertahanan Indonesia yang modern, mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam membangun kekuatan pertahanan nasional yang tangguh.

  👷 
Media Suara Mabes  

Senin, 15 Juni 2026

Turkish Aerospace Jajaki Pembangunan Fasilitas Perakitan Pesawat di Indonesia

    🤝 ✈  🚁
Acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 di BRI Tower Bandung, Selasa (9/6/2026) (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)

Kerja sama antara Indonesia dan Turkish Aerospace diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional melalui rencana pembangunan fasilitas perakitan pesawat serta manufaktur komponen penerbangan. Rencana strategis ini mengemuka dalam acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 yang diselenggarakan di Bandung pada Selasa (9/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Langkah ini diambil guna mendorong investasi baru di sektor penerbangan, penyediaan bahan baku, hingga manufaktur komponen. Pihak Turkish Aerospace menilai Indonesia memiliki landasan sejarah dan potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Managing Director Turkish Aerospace Indonesia, Adi Aviantoro menyatakan bahwa sektor dirgantara nasional sempat mengalami kelesuan setelah sebelumnya memiliki dasar industri yang kuat. Kehadiran investasi baru ini diharapkan mampu memberikan suntikan modal bagi kebangkitan aviasi domestik.

"Indonesia ini secara sejarah memang background industrinya sudah diarahkan ke arah industri aerospace. Kemudian ada jeda masa waktu ketika industri aerospace itu lesu. Mulai tahun 2022, setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, kami harapkan industri aerospace dan pendukungnya mulai berkembang, terutama di industri manufaktur," kata Adi saat ditemui di sela acara.

Menurut Adi, basis industri yang kuat di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, menjadi daya tarik utama bagi pihak Turki untuk menanamkan modalnya.

"Turki melihat Indonesia sudah mempunyai potensi ke arah industri aerospace. Oleh karenanya memang Turki berinvestasi di Indonesia untuk industri pesawat terbang yang sudah ada basisnya di Indonesia, terutama di Bandung," ujarnya.

Saat ini, pengembangan fundamental berfokus pada penguatan manufaktur komponen sebelum kapasitas produksi pesawat terbang ditingkatkan secara massal guna mendukung industri di Turki.

"Sekarang ini yang harus kita perkuat secara fundamental adalah mengembangkan industri part manufacturing yang kemudian akan berkembang ke arah pesawat terbang yang akan mendukung industri pesawat terbang di Turki. Tapi kita di Indonesia sekarang ini lebih fokus kepada industri part manufacturing," katanya.

Meskipun pendirian fasilitas perakitan pesawat sudah masuk dalam rencana jangka panjang, besaran nilai investasi keseluruhan saat ini masih berada dalam tahap pengkajian mendalam.

"Selain membuat perusahaan Turkish Aerospace Indonesia, Turki juga berinvestasi untuk ke depannya membuat fasilitas assembly pesawat terbang. Sampai saat ini kita masih dalam studi untuk menyimpulkan besaran nilai investasi," ujar Adi.

Kawasan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka menjadi salah satu kandidat kuat lokasi fasilitas perakitan tersebut, menyusul pemberian fasilitas serupa kepada GMF.

"Saat ini kita ada beberapa pilihan yang belum diputuskan. Kemarin sudah didengar mengenai GMF yang diberikan fasilitas di Kertajati. Mungkin arahan ke depannya juga arahnya akan ke Kertajati," katanya.

Adi menambahkan bahwa Bandung memiliki kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni berkat keberadaan universitas dengan jurusan penerbangan.

"Bandung harusnya paling siap karena didukung dari universitas yang jurusannya penerbangan yang ada di Bandung. Kemudian ada industrinya, industri penerbangan memang pusatnya dari dulu ada di Bandung," ujarnya.

Pada tahap awal operasional, perusahaan akan memprioritaskan pengembangan helikopter komersial, meskipun Turkish Aerospace juga memproduksi pesawat sayap tetap serta helikopter militer.

"Sementara ini kita masih fokus untuk helikopter yang komersial. Produk Turkish Aerospace ada yang fixed wing and rotary wing. Yang rotary wing itu ada yang militer dan ada yang komersial, sekarang ini kita fokus untuk yang komersial," kata Adi.

Kendala utama yang saat ini dihadapi oleh industri penerbangan domestik adalah ketergantungan pada impor bahan baku, yang diharapkan dapat diatasi melalui dukungan finansial yang kuat.

"Saat ini memang kesulitan yang paling utama adalah raw material. Tapi dengan adanya dukungan finansial, maka mudah-mudahan kendala ini bisa diatasi. Kemudian raw material bisa kita sediakan untuk para supplier di Indonesia. Akhirnya secara financing sudah tidak ada masalah untuk pengadaan material," ujarnya.

Di sisi lain, Chairman Indonesian Aircraft Components Manufacturers Organization (INACOM), J. Adi Sasongko menilai kehadiran perusahaan asal Turki ini mampu menggerakkan ekosistem industri komponen lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.

"Kita beruntung sekarang ini kita ketemu Turkish Aerospace Indonesia yang mencoba membangun ekosistem. Harapannya kita bisa didukung oleh industri yang banyak tersebar di seluruh Indonesia untuk mensupport Turkish Aerospace Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan Amerika Serikat yang berhasil mengembangkan industri penerbangannya melalui peningkatan kapabilitas dari industri komponen otomotif.

"Saya rasa industri aviasi ini sangat besar peluangnya. Seperti di Amerika, industri aviasi dibuat pertama kali dengan mengonversi industri komponen otomotif untuk di-upgrade menjadi industri komponen pesawat. Harapannya kita bisa mengikuti seperti Amerika," ujarnya.

Meskipun mengidentifikasi adanya hambatan pada sistem regulasi dan birokrasi domestik, Adi Sasongko menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menghentikan langkah pengembangan.

"Birokrasi dan regulasi itu tetanggaan, sama-sama ruwet. Kita tidak akan menunggu birokrasi maupun regulasi sampai benar-benar ideal. Karena kalau kita menunggu ideal mungkin tidak akan pernah datang," katanya.

Sektor transportasi udara dinilai memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

"Sebenarnya kita merupakan pasar yang sangat besar. Mulai Sabang sampai Merauke membutuhkan transportasi udara yang begitu banyak. Dengan 17.000 pulau, harusnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang yang beterbangan di atas kita ini kebanyakan pesawat impor semua," tutupnya.

  ★  Mata Lokal   

Jumat, 12 Juni 2026

Indonesia Targetkan 300 Ribu Unit Mobnas

  Proyek Mobil Nasional  
Kendaraan lapis baja Maung MV3 buatan Pindad (Pindad)

Pemerintah Indonesia semakin serius memperkuat kemandirian industri otomotif dalam negeri.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung progres pembangunan proyek National Car (Mobil Nasional) di Subang, Jawa Barat, pada Rabu (10/6/2026).

Proyek strategis ini ditargetkan menjadi pusat manufaktur otomotif terintegrasi dengan kapasitas produksi mencapai 300.000 kendaraan per tahun.

Dalam kunjungannya, Menteri Sjafrie didampingi oleh Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo B. Revita dan Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Marsda Yusuf Jauhari. Ia menegaskan industri manufaktur strategis merupakan pilar penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional serta penguasaan teknologi.

"Kawasan Mobil Nasional ini adalah instalasi strategis yang berperan penting dalam memperkuat industri nasional, penguasaan teknologi, dan pengembangan ekosistem manufaktur yang terintegrasi," ujar Sjafrie, seperti dikutip Antara, Rabu.

Pemerintah memproyeksikan kawasan seluas 539 hektare (Ha) ini tidak hanya menjadi pabrik perakitan, tetapi juga mencakup pusat rekayasa kendaraan, fasilitas pengujian, hingga pusat riset dan pengembangan (R&D). Selain itu, proyek ini diproyeksikan mampu menyerap 2.000 tenaga kerja ahli dan lulusan universitas.

 Tahapan Pembangunan dan Target Produksi

Kendaraan lapis baja listrik Pandu Maung MV3 buatan Pindad (Pindad)

Direktur Utama PT Pindad Sigit Santosa menjelaskan, pembangunan akan dilakukan dalam tiga fase sepanjang 2026 hingga 2028. Pada tahap awal, konstruksi difokuskan pada lahan seluas 60 Ha dengan target kapasitas produksi sebesar 50.000 unit per tahun pada 2028. Setelah itu, kapasitas akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai target maksimal 300.000 unit per tahun.

"Kami telah berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia selama beberapa tahun terakhir, mulai dari perencana, teknisi, hingga tenaga ahli untuk mendukung skala besar pembangunan industri ini," tutur Sigit.

Selain mendorong kebangkitan industri otomotif konvensional, proyek ini juga menjadi ujung tombak Indonesia dalam memperkuat kemampuan teknologi kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) serta menciptakan rantai pasok lokal yang lebih luas di wilayah Subang dan sekitarnya.

Upaya pengembangan mobil nasional merupakan langkah strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor kendaraan dan komponen otomotif asing. Dengan memanfaatkan keunggulan geografis Subang yang strategis sebagai hub industri baru di Jawa Barat, proyek ini diharapkan mampu mengakselerasi transfer teknologi otomotif global ke dalam negeri.

Selain itu, sejalan dengan tren global transisi energi, proyek ini dirancang untuk menjawab tantangan masa depan melalui pengembangan kendaraan listrik yang berkelanjutan.

Keterlibatan PT Pindad sebagai pelaksana utama mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendayagunakan BUMN untuk menggerakkan ekosistem industri manufaktur yang mandiri, kompetitif, dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.

  ♞ Investor  

Senin, 08 Juni 2026

Batam Sambut Delegasi Militer 19 Negara

 Intip Industri Galangan Kapal Nasional https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1UCNN7HPJU9LXLNSAWdqzQXtFQUZDwRkrtJZPl3hPt-pXc9-TijEGg1vq5d2ebRyfeX7Up7-G7mjmx8oU_uIEVeCkMncUF_UFeVQNjEZJyQM9zIbe1V6uN2uIXPcjg5PkzEaaJaBo0DFPONnqFIJVzlW_mpZLtRYsPfkUFp2qr39p6ckSB2tbjEDaWsw/s1280/FB_IMG_1776743894473.jpgIlustrasi Galangan kapal di Batam (Aselsan)

Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota (Walkot) Batam Li Claudia Chandra menerima kunjungan kehormatan 22 atase pertahanan yang berasal dari 19 negara sahabat dalam rangkaian Defence Attache Tour 2026 di Kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan itu menjadi momentum untuk mengenalkan posisi strategis Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, pusat investasi, serta wilayah perbatasan yang berperan penting dalam mendukung stabilitas dan kerja sama.

Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) itu juga merupakan agenda tahunan untuk memperkenalkan perkembangan industri pertahanan nasional, khususnya sektor galangan kapal.

Adapun negara yang berpartisipasi adalah Rusia, Brunei Darussalam, Prancis, Selandia Baru, Inggris, Kenya, Laos, Pakistan, Jepang, Myanmar, Jerman, Polandia, Uni Emirat Arab, Serbia, China, Yordania, Australia, dan Maroko. Li Claudia Chandra pun mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada Batam sebagai salah satu tujuan kunjungan para atase pertahanan negara sahabat.

Li Claudia menjelaskan, Batam memiliki posisi strategis sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara tetangga. Kondisi tersebut menjadikan aspek keamanan sebagai faktor penting dalam mendukung pertumbuhan investasi dan pembangunan daerah.

 Stabilitas dan keamanan kawasan

Kepala Delegasi Kemenhan Troy Hutagalung mengatakan, pihaknya mendampingi 22 atase pertahanan dari 19 negara sahabat yang mengikuti program tersebut.

Troy menjelaskan, para atase pertahanan memiliki peran penting sebagai mitra bilateral dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan.

Oleh karena itu, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan kemampuan industri pertahanan nasional, tetapi juga mempererat hubungan persahabatan dan kerja sama antarnegara. (ADV)

  ⍟ Kompas  

Jumat, 05 Juni 2026

Indonesia Memajukan Perdagangan dan Kerjasama Strategis dengan Turkiye

Berupaya mencapai volume perdagangan bilateral sebesar 10 miliar dolar AS https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Menteri Luar Negeri Turkiye, Hasan Fidan, mengatakan Ankara dan Jakarta siap untuk mengejar kerja sama yang lebih konkret di sektor-sektor kunci kedua negara. Pada hari Rabu bahwa pertemuannya di Indonesia sangat produktif, mencakup berbagai isu mulai dari kerja sama pertahanan dan energi hingga kecerdasan buatan dan industri makanan halal.

Dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosial NSosyal setelah kunjungan resminya, Fidan mencatat bahwa diskusi dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono berfokus pada kerja sama yang sedang berlangsung dan inisiatif bersama di masa depan antara kedua negara.

“Setelah kunjungan kami ke Singapura, pertemuan hari ini di mitra strategis kami, Indonesia, sangat produktif dalam hal memajukan agenda multidimensional kami,” kata Fidan.

Menurut Fidan, pembicaraan tersebut membahas kerja sama di bidang industri pertahanan, transportasi, energi, kecerdasan buatan, dan sektor makanan halal, serta langkah-langkah yang dapat lebih memperkuat hubungan bilateral.

Ia mengatakan kedua belah pihak juga meninjau proyek-proyek yang bertujuan untuk mencapai target perdagangan bilateral sebesar 10 miliar dolar AS yang ditetapkan oleh Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden Prabowo Subianto.

“Kami mengevaluasi secara detail proyek-proyek yang akan membantu kami mencapai target volume perdagangan sebesar 10 miliar dolar AS,” kata Fidan, menambahkan bahwa visi yang ditunjukkan oleh kedua pemerintah menunjukkan kesiapan mereka untuk mengejar kerja sama yang lebih konkret dan efektif di masa mendatang.

Pada April 2025, Presiden Erdoğan mencatat bahwa mereka membahas langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan volume perdagangan hingga mencapai target 10 miliar dolar AS secara seimbang dan saling menguntungkan dalam konferensi pers bersama dengan mitranya dari Indonesia, Prabowo Subianto, di mana kedua pemimpin berjanji untuk lebih meningkatkan kerja sama.

Sementara itu, Subianto memuji peran Ankara dalam urusan regional dan mengatakan Indonesia ingin ikut serta dalam proyek KAAN dan kapal selam.

“Saya mengundang perusahaan-perusahaan Turki untuk berinvestasi. Sebagai pemimpin Global Selatan dan mitra strategis, Indonesia dan Turki harus memikul tanggung jawab untuk membentuk tatanan global baru,” katanya, dan menambahkan, “Indonesia tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek KAAN dan kapal selam.”

Diskusi tersebut juga mencakup isu-isu regional dan internasional, khususnya perkembangan di Timur Tengah dan dinamika strategis yang berkembang di kawasan Asia-Pasifik.

Fidan mengatakan kedua pihak bertukar pandangan tentang berbagai isu global dan menegaskan kembali koordinasi erat mereka dalam masalah Palestina.

Ia menekankan bahwa Turki dan Indonesia akan melanjutkan kerja sama intensif mereka sebagai dua negara sahabat yang berbagi nilai dan tujuan yang sama.

  ✈ Daily Sabah 

Selasa, 02 Juni 2026

Kesepakatan Rp 61 Triliun dari Prancis

🛰 Salah satunya bangun pabrik radar📡 (Bakom.ri)

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari memaparkan sejumlah hasil kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis yang menghasilkan kesepakatan bisnis dan investasi senilai US$ 3,5 miliar atau sekitar Rp 61,25 triliun.

Menurut Qodari, kunjungan tersebut sejak awal diarahkan untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Prancis melalui kerja sama konkret di sektor pertahanan, pendidikan, energi, dan pengembangan mineral kritis.

"Jadwal resmi memang hanya ke Prancis," kata Qodari dalam konferensi pers PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Jakarta, seperti dikutip CNNIndonesia.

Ia menjelaskan lawatan itu merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada 2025.

Qodari mengatakan pemerintah sebelumnya telah menetapkan sejumlah target kerja sama yang ingin dicapai selama kunjungan tersebut, termasuk penguatan sektor pertahanan melalui transfer teknologi.

"Yang pertama adalah di bidang ketahanan, karena kita semua tahu bahwa pemerintah Indonesia telah memperoleh sejumlah alat utama sistem persenjataan atau alutsista dari Prancis. Karena itu diperlukan transfer teknologi untuk penguasaan alutsista tersebut," ujarnya.

Selain pertahanan, pemerintah juga mendorong penguatan kerja sama pendidikan, khususnya di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).

"Jadi tidak sebatas membeli saja, tapi juga melakukan transfer teknologi," kata Qodari. Dari rangkaian pertemuan tersebut, Indonesia dan Prancis menyepakati sejumlah kerja sama strategis.

Berikut rinciannya,

 1.Kadin dan MEDEF Bentuk Dewan Bisnis

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama MEDEF International meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC). Forum tersebut akan menjadi wadah dialog tingkat tinggi antara pelaku usaha kedua negara untuk memperkuat investasi dan perdagangan bilateral. Melalui FI-HLBC, kedua negara menargetkan peningkatan nilai perdagangan hingga tiga kali lipat pada 2035 dari posisi saat ini sebesar US$ 2,6 miliar.

 2.Pertamina Gandeng Schlumberger.

PT Pertamina menandatangani kerja sama dengan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara untuk pengembangan teknologi migas dan energi bersih. Kolaborasi tersebut mencakup penerapan enhanced oil recovery (EOR), pengembangan migas nonkonvensional, digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta program penurunan emisi melalui carbon capture and storage (CCS), efisiensi energi, dan pengembangan panas bumi.

 3.Perluas Kemitraan dengan TotalEnergies.

Pertamina juga memperluas kerja sama dengan perusahaan energi Prancis, TotalEnergies. Kesepakatan tersebut mencakup sektor hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, hingga pengembangan bisnis rendah karbon. Kedua perusahaan juga akan menjajaki proyek kilang hijau, CCS/CCUS, dan berbagai pengembangan energi masa depan.

 4.Danantara-Thales Bangun Pabrik Radar.

Di sektor pertahanan, Danantara melalui PT Len Industri memvalidasi Letter of Intent (LoI) dengan perusahaan pertahanan Prancis, Thales. Kesepakatan itu mencakup rencana pembangunan pabrik radar "Made in Indonesia", pengembangan tactical data link, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, serta program pelatihan radar. (DH)
 

  📡
IDN Financials  

Sabtu, 30 Mei 2026

Prabowo Bawa Pulang Capaian Kerja Sama Rp 61,25 T

 🤝 Hasil Lawatan ke Prancis PAL Indonesia akan membangun dua unit kapal selam Scorpene Evolved berkonfigurasi LiB di Surabaya. (Naval Group)

Presiden Prabowo Subianto tiba di Tanah Air setelah kunjungan kenegaraan ke Prancis. Prabowo membawa pulang capaian kerja sama bernilai Rp 61,25 triliun. Dikutip dari keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Sabtu (30/5/2026), Indonesia dan Prancis memperkuat kerja sama di berbagai bidang strategis, termasuk ekonomi, investasi, perdagangan, dan pertahanan.

Salah satu capaian utama kunjungan tersebut adalah peluncuran France-Indonesia High Level Business Council yang mempertemukan para pemimpin dunia usaha kedua negara. Forum tersebut turut menghasilkan sejumlah kesepakatan komersial baru.

"Momentum peluncuran dewan bisnis tersebut menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai USD 3,5 miliar atau Rp 61,25 triliun (asumsi kurs Rp 17.500/USD) yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan," tulis Bakom.

Selain agenda kenegaraan, Prabowo juga menyempatkan bertemu dan bersilaturahmi dengan diaspora Indonesia di Paris, termasuk melaksanakan salat Idul Adha bersama masyarakat Indonesia. Kepulangan Presiden Prabowo menandai berakhirnya rangkaian kunjungan kenegaraan di Prancis.

 Perkuat Kemitraan Ekonomi

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyambut baik pembentukan France-Indonesia High Level Business Council Rosan menilai forum tersebut menjadi tonggak penting dalam mempererat kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Prancis.

Peresmian dewan bisnis tingkat tinggi itu berlangsung pada 28 Mei 2026 dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto serta Presiden Prancis Emmanuel Macron.

"Forum ini tidak hanya menjadi wadah dialog antara pelaku usaha, tetapi juga menjadi mesin penggerak untuk mendorong investasi, perdagangan, dan kerja sama strategis yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara," ujar Rosan melalui keterangan tertulis yang dirilis oleh Biro Pers Media dan Informasi.

Forum tersebut mempertemukan 30 pemimpin perusahaan dan pelaku industri utama dari kedua negara yang secara keseluruhan memiliki kapitalisasi pasar mencapai USD 1,3 triliun. Dewan bisnis ini dipimpin bersama oleh Chair France-Indonesia Business Council MEDEF International yang juga CEO Danone, Antoine de Saint-Affrique, serta Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.

Menurut Rosan, peluncuran dewan bisnis ini juga menghasilkan empat kesepakatan komersial baru dengan nilai total USD 3,5 miliar. Kesepakatan tersebut mencakup sektor ketahanan energi, perdagangan, hingga kerja sama pertahanan.

"Kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia terus meningkat. Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif," kata Rosan.

Seperti diketahui, dilihat di siaran langsung kanal YouTube Sekretariat Presiden, pesawat Garuda Indonesia GA-1 yang ditumpangi Prabowo mendarat di Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta tadi pagi. Prabowo turun dari pesawat sekitar pukul 10.19 WIB.

Prabowo disambut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hingga Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita. Prabowo sempat berbincang-bincang. (whn/dhn)

  🤝  detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...