Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2026

Indonesia Mengincar Integrasi Rudal untuk Kapal Selam Scorpene Generasi Berikutnya

  👷 🤝 🚀  Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)

Kapal selam Scorpene ketiga dan keempat Indonesia berpotensi dikirimkan dengan kemampuan peluncuran rudal dari tabung torpedo yang terintegrasi penuh sejak awal, didukung oleh kemampuan integrasi sistem kapal selam PT PAL yang terus berkembang.

Berbicara kepada Janes dalam sebuah wawancara baru-baru ini di Surabaya, CEO PT PAL Kaharuddin Djenod mengatakan ini akan memberi Jakarta pilihan untuk memasukkan integrasi rudal ke dalam konstruksi dan konfigurasi dasar kapal selam generasi berikutnya, daripada memperlakukannya sebagai kemampuan laten atau tertunda.

Kemampuan seperti itu bukanlah hal baru bagi keluarga Scorpene, yang telah lama dirancang untuk mengerahkan rudal anti-kapal yang diluncurkan dari tabung seperti SM39 Exocet MBDA selain torpedo 533 mm.

Namun, program ekspor saat ini dan sebelumnya – termasuk kontrak Indonesia untuk dua kapal selam Scorpene Evolved – tidak selalu mencakup integrasi dan sertifikasi rudal penuh dalam kontrak dasar.

Dengan latar belakang ini, komentar Djenod menunjukkan bahwa Angkatan Laut Indonesia mungkin berupaya memastikan bahwa kapal selam ketiga dan keempat dikirimkan dengan kemampuan rudal yang terintegrasi penuh ke dalam arsitektur sistem tempur sejak awal, termasuk pengendalian tembakan, perangkat lunak, dan pekerjaan sertifikasi yang diperlukan.

Djenod mengatakan kemampuan integrasi sistem PT PAL yang semakin berkembang akan mendukung pendekatan ini.

Perusahaan ini telah secara progresif memperluas perannya dalam integrasi sistem tempur, termasuk pekerjaan untuk menggabungkan sistem torpedo buatan dalam negeri ke platform kapal selam otonom.

Dengan memanfaatkan kompetensi ini, PT PAL berharap untuk lebih memperkuat kemampuan integrasinya di bawah program kapal selam masa depan, yang berpotensi memungkinkan persyaratan integrasi senjata yang lebih canggih untuk dipenuhi secara domestik.

Hal ini akan memungkinkan kapal selam masa depan untuk memiliki kemampuan tersebut pada saat mulai beroperasi, daripada bergantung pada peningkatan lanjutan atau keputusan pengadaan senjata terpisah, tambah Djenod.


   👷  Jane's  

Rabu, 10 Juni 2026

Yonarmed 22 Latihan Incountry Training Transfer of Knowledge Trak MLRS ITBM

 Tahun 2026 (Yonarmed 22)

DDanyonarmed 22/Kesumawira, Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., memimpin acara pembukaan latihan Incountry Training Transfer of Knowledge Trak MLRS ITBM (Indonesia Tactical Ballistic Missile) secara resmi dimulai.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperdalam pengetahuan, meningkatkan kompetensi teknis, serta memperkuat pemahaman operasional dalam pengoperasian dan pemeliharaan sistem MLRS ITBM.

Melalui transfer ilmu dan pengalaman yang berkelanjutan, diharapkan seluruh peserta mampu menguasai teknologi yang ada secara optimal guna mendukung kesiapan satuan dalam menjalankan setiap tugas yang diemban.

  🚀 
 Yonarmed 22   

Senin, 08 Juni 2026

Indonesia Minati Rudal Pertahanan M-SAM II Korea

 Menerbitkan Letter of Intent (LOI) untuk Sistem Rudal MSAM-II Rudal M-SAM Korea (Defence)

Badan Logistik Pertahanan Indonesia telah menerbitkan surat pernyataan niat atau Letter of Intent (LOI) kepada LIG Defense & Aerospace untuk pengadaan sistem pertahanan udara MSAM-II (rudal permukaan-ke-udara jarak menengah).

LOI tertanggal 18 Mei 2026 tersebut diberikan kepada Janes oleh sumber industri. Surat tersebut menandakan niat Indonesia untuk melakukan pengadaan langsung MSAM-II guna memperkuat arsitektur pertahanan udara nasionalnya.

Surat tersebut menetapkan pengadaan dua baterai dalam konfigurasi operasional penuh, termasuk stasiun kontrol penembakan, radar multifungsi, sistem peluncuran vertikal, dan kendaraan pemuat rudal.

LOI menyatakan bahwa akuisisi tersebut tunduk pada alokasi anggaran dan pengaturan pembiayaan yang telah dikonfirmasi, termasuk perjanjian pinjaman sesuai dengan peraturan Kementerian Keuangan.

Surat tersebut juga menguraikan persyaratan untuk jaminan penawaran dan kinerja, jaminan pembayaran di muka, dan pembayaran berdasarkan tonggak pencapaian, yang menunjukkan ketergantungan pada pembiayaan eksternal.

MSAM-II, juga dikenal sebagai Cheongung II, adalah sistem rudal permukaan-ke-udara semi-mobile yang dikembangkan oleh Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan dan diproduksi oleh LIG Defense & Aerospace.

Sistem ini berbasis pada platform KIA Military Vehicles KM1500 8×8 dan dilengkapi dengan rudal Cheongung.

Setiap baterai biasanya terdiri dari empat hingga enam kendaraan pengangkut-pemasang-peluncur, kendaraan radar multifungsi, pusat kendali tembakan, pengangkut ulang, dan kendaraan pembangkit listrik.

Rudal Cheongung memiliki panduan radar pelacak aktif, motor roket propelan padat satu tahap, dan hulu ledak fragmentasi berdaya ledak tinggi yang dipicu oleh sumbu jarak dekat.

Jangkauan maksimum sistem diperkirakan mencapai 40 km, dengan ketinggian serangan hingga 20 km.

LOI juga menyerukan pelatihan, dukungan logistik terintegrasi, suku cadang, peralatan pendukung darat, dokumentasi teknis, dan paket offset dan transfer teknologi.

  🚀 
Jane’s  

Selasa, 02 Juni 2026

Indonesia Dilaporkan Berencana Akuisisi 24 Unit Pesawat Tempur J-10CE Buatan China

 Berikut rudal PL 15E Pesawat J10 C  (DSA)

Indonesia dilaporkan telah memutuskan untuk menggandakan rencana akuisisi pesawat tempur multiperan J-10CE buatan China dari 12 menjadi 24 pesawat, mempercepat transformasi mendalam dalam keseimbangan kekuatan udara Asia Tenggara seiring Jakarta memperluas ketergantungan pengadaannya di luar ketergantungan tradisional yang berpusat pada Barat.

Dilaporkan pada 1 Juni oleh jurnalis penerbangan dan pertahanan terkemuka Alan Warnes segera meningkatkan pengawasan regional karena laporan tentang dimasukkannya rudal jarak jauh PL-15E memperkenalkan dinamika keterlibatan udara jarak jauh baru ke salah satu teater yang paling padat secara strategis di dunia.

Warnes menyatakan bahwa ia "mendapat informasi yang dapat diandalkan dari sumber-sumber TNI AU di Indonesia" bahwa pesanan tersebut telah meningkat secara signifikan, menunjukkan bahwa Jakarta mungkin sudah beralih dari diskusi pengadaan eksploratif menuju implementasi struktur kekuatan operasional.

Signifikansi strategis dari akuisisi yang dilaporkan ini melampaui jumlah pesawat karena J-10CE mewakili pesawat tempur generasi keempat ke atas yang paling matang dan berorientasi ekspor milik China, yang saat ini bersaing langsung dengan ekosistem pesawat tempur Barat dan Rusia di seluruh Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Upaya Indonesia untuk mendapatkan J-10CE juga menandakan kalibrasi ulang geopolitik yang besar karena secara historis Jakarta menyeimbangkan akuisisi antara jalur modernisasi Barat, Rusia, dan domestik tanpa mengintegrasikan platform penerbangan tempur garis depan China secara besar-besaran ke dalam postur kekuatan militernya.

Integrasi rudal PL-15E yang dilaporkan menimbulkan konsekuensi regional yang lebih besar karena kemampuan panduan radar aktif jarak jauh rudal tersebut telah menjadi salah satu teknologi kedirgantaraan China yang paling dipasarkan secara strategis setelah perdebatan internasional yang luas seputar kinerja operasionalnya selama bentrokan udara India-Pakistan tahun 2025.

Strategi modernisasi Indonesia yang lebih luas, "Perisai Trisula Nusantara," semakin mencerminkan doktrin pertahanan yang berfokus pada pencegahan terdistribusi, arsitektur penolakan udara berlapis, dan proyeksi kekuatan respons cepat di seluruh wilayah kepulauan yang luas membentang dari Selat Malaka hingga Papua.

Lintasan modernisasi pesawat tempur Jakarta berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas militer Tiongkok di zona Laut China Selatan yang diperebutkan di dekat wilayah maritim Natuna, Indonesia, di mana kepentingan ekonomi dan strategis yang tumpang tindih terus menimbulkan gesekan antara aktor-aktor regional.

Hubungan pertahanan Indonesia-China yang sedang berkembang juga dipantau secara cermat di Washington, Paris, Seoul, Ankara, dan Moskow karena strategi diversifikasi pengadaan Jakarta semakin memengaruhi persaingan pasar pertahanan Indo-Pasifik yang lebih luas dan pola keselarasan regional jangka panjang.

Indonesia sudah mengoperasikan inventaris penerbangan tempur yang sangat beragam termasuk F-16AM/BM/C/D, Su-27 SK/SKM, Su-30 MK2, dan pesawat tempur Rafale, yang berarti potensi penambahan pesawat J-10CE akan menciptakan salah satu ekosistem pesawat tempur paling heterogen secara operasional di Asia.

Kerangka akuisisi yang dilaporkan juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di Asia Tenggara mengenai kerentanan rantai pasokan jangka panjang, paparan sanksi, ketergantungan suku cadang, dan ketidakpastian geopolitik yang terkait dengan ketergantungan berlebihan pada satu pemasok pertahanan tunggal.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Indonesia yang memvalidasi angka 24 pesawat yang diperluas atau penyertaan paket PL-15E, laporan tersebut selaras dengan upaya Jakarta yang semakin terlihat untuk mempercepat kesiapan tempur sebelum persaingan kekuatan regional semakin intensif selama akhir tahun 2020-an.
 di Prancis.

 Perubahan Struktural dalam Strategi Kekuatan Udara Regional

J10C n Rafale (AA)

Upaya Indonesia untuk memperoleh J-10CE semakin menunjukkan perhitungan strategis bahwa kemampuan kedirgantaraan China yang berkembang pesat tidak dapat lagi diabaikan dari keseimbangan militer Asia Tenggara, bahkan ketika sensitivitas geopolitik terus meningkat.

Laporan awal pada pertengahan tahun 2025 menunjukkan bahwa Jakarta awalnya mengevaluasi pesawat J-10B bekas dari inventaris Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina sebagai solusi berbiaya rendah untuk meningkatkan jumlah skuadron dengan cepat sambil mempertahankan fleksibilitas pengadaan.

Kerangka awal berubah secara signifikan setelah Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkonfirmasi paket pengadaan pesawat tempur senilai lebih dari US$ 9 miliar,

Usulan akuisisi tersebut segera menarik perhatian global karena Indonesia akan menjadi negara kedua setelah Pakistan yang dikonfirmasi mengoperasikan J-10CE, sehingga meningkatkan kredibilitas China sebagai pemasok pesawat tempur berteknologi tinggi di pasar Indo-Pasifik.

Keterbukaan Indonesia terhadap pengadaan peralatan kedirgantaraan dari Tiongkok juga menunjukkan bagaimana pembatasan ekspor, keterbatasan transfer teknologi, dan komplikasi pembiayaan dari sistem Barat semakin memengaruhi perhitungan strategis negara-negara di kawasan ini.

Pesawat J-10CE sendiri memegang posisi strategis penting dalam portofolio ekspor pertahanan China karena menggabungkan radar AESA, sistem peperangan elektronik modern, dan integrasi rudal canggih dalam paket yang lebih terjangkau.

Ketertarikan Jakarta pada pesawat tersebut juga menyoroti kebutuhan mendesak Indonesia untuk mengganti armada tempurnya yang sudah tua sekaligus memperluas perlindungan anti-proliferasi di wilayah maritim yang luas dan rentan terhadap tekanan zona abu-abu serta agresi jarak jauh.

Para pengamat regional memberikan perhatian khusus pada apakah angka 24 pesawat yang dilaporkan hanyalah batch operasional awal dalam rencana pengadaan jangka panjang yang sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 42 pesawat.

Model pengadaan yang terdiversifikasi di Indonesia juga mengurangi kerentanan terhadap pembatasan atau gangguan ekspor karena integrasi berbagai pemasok mempersulit kekuatan eksternal mana pun untuk menggunakan ketergantungan logistik sebagai alat tekanan politik.

Peningkatan jumlah pesawat yang dilaporkan bukan sekadar akuisisi aset tempur, tetapi juga menandakan pergeseran Indonesia menuju postur pertahanan strategis yang lebih otonom untuk memaksimalkan fleksibilitas operasional seiring intensifikasi persaingan kekuatan besar.

 Integrasi PL-15E Mengubah Dinamika Pertempuran Jarak Jauhn


Rudal PL-15E( (DSA)

Penyertaan rudal PL-15E meningkatkan pentingnya strategis akuisisi J-10CE karena kemampuan tempur di luar jangkauan visual semakin menentukan keputusan dominasi udara modern sebelum pilot mendapatkan kontak visual dengan target.

China memasarkan versi ekspor PL-15E dengan jangkauan sekitar 145 kilometer, meskipun para analis pertahanan regional terus memperdebatkan apakah kinerja sebenarnya selama operasi tempur mungkin jauh melebihi parameter yang diumumkan secara resmi.

Perhatian internasional terhadap rudal tersebut meningkat tajam setelah konflik India-Pakistan pada tahun 2025 ketika keluarga PL-15 menjadi pusat perdebatan mengenai efektivitas rudal jarak jauh terhadap platform Barat modern.

Meskipun banyak detail operasional konflik tersebut masih diperdebatkan dan dipengaruhi oleh pertimbangan politik, peristiwa tersebut tetap meningkatkan kesadaran global tentang teknologi rudal Tiongkok dan daya saingnya dibandingkan dengan sistem Barat.

Bagi Indonesia, integrasi PL-15E akan memberikan lapisan kemampuan strategis baru yang mampu memperluas zona serangan udara jauh melampaui kemampuan beberapa pesawat tempur lama yang masih digunakan di kawasan ini.

Pencari target radar aktif, profil serangan kecepatan tinggi, dan arsitektur integrasi berbasis jaringan menjadikan PL-15E sangat relevan bagi Indonesia karena mendukung operasi pertahanan udara maritim di berbagai jangkauan operasional yang sangat luas.

Angkatan udara regional yang beroperasi di dekat wilayah udara Indonesia kemungkinan perlu mengevaluasi kembali asumsi taktis terkait jarak aman, kemampuan bertahan dari peperangan elektronik, dan periode peringatan dini dalam skenario krisis di masa mendatang.

Akuisisi ini juga mempersulit perencanaan operasional kekuatan udara para pesaing karena kombinasi rudal jarak jauh dengan pesawat yang dilengkapi radar AESA menciptakan lingkungan penolakan udara yang lebih kompleks dan sulit diprediksi.

Ketertarikan Indonesia pada teknologi rudal canggih China juga menunjukkan bahwa ekosistem persenjataan kini sama pentingnya dengan platform pesawat tempur dalam menentukan arah kemampuan tempur jangka panjang suatu negara.

Komponen PL-15E bukan sekadar paket senjata biasa, tetapi melambangkan evolusi doktrin militer menuju peperangan udara berbasis jaringan jarak jauh dalam lanskap pertahanan Asia Tenggara yang semakin modern.

 Strategi Multi-Pemasok Indonesia Mencerminkan Persaingan Indo-Pasifik


Sepasang Rafale terbang di atas Bekasi (Skuadron 12)

Arsitektur pengadaan pertahanan Indonesia semakin mencerminkan tren yang lebih luas di Indo-Pasifik seiring dengan upaya negara-negara kekuatan menengah untuk membangun ketahanan strategis melalui beragam pembelian militer dari blok-blok geopolitik yang bersaing.

Upaya Jakarta untuk mendapatkan pesawat Rafale dari Prancis, kelanjutan negosiasi F-15EX dengan Amerika Serikat, dan kerja sama dengan Korea Selatan dan Turki menunjukkan strategi lindung nilai yang sangat luas untuk memaksimalkan akses ke teknologi.

Angkatan Udara Indonesia kini tampaknya semakin fokus pada pembangunan struktur kekuatan berlapis yang mampu mengintegrasikan sistem Barat, Asia, dan mungkin juga platform lokal ke dalam arsitektur kontra-pemberontakan jangka panjang yang fleksibel.

Pendekatan seperti itu membawa kompleksitas logistik yang signifikan karena menjaga kesiapan operasional armada tempur multi-sumber daya membutuhkan investasi tinggi dalam pemeliharaan, pelatihan pilot, manajemen suku cadang, dan interoperabilitas sistem misi.

Namun, para perencana pertahanan Indonesia tampaknya bersedia menanggung kompleksitas tersebut karena keragaman pemasok dapat mengurangi risiko gangguan ekspor, tekanan geopolitik, dan kerentanan terhadap sanksi selama krisis internasional.

Lingkungan pengadaan saat ini juga terjadi seiring dengan percepatan modernisasi militer China dan peningkatan operasi udara dan laut di Laut China Selatan, di mana Indonesia semakin menghadapi tekanan strategis di sekitar Natuna.

Oleh karena itu, strategi pengadaan Indonesia tidak mencerminkan keselarasan dengan blok tertentu, melainkan pendekatan pragmatis untuk mempertahankan otonomi strategis sekaligus memperkuat kredibilitas pencegahan dalam menghadapi tantangan keamanan regional yang semakin kompleks.

Industri pertahanan Barat juga memantau dengan cermat keputusan Jakarta karena Indonesia adalah salah satu pasar pertahanan terpenting di Asia Tenggara untuk penjualan di masa depan yang melibatkan teknologi kedirgantaraan, maritim, dan rudal.

Keberhasilan J-10CE dalam menembus pasar Indonesia berpotensi meningkatkan kredibilitas China sebagai pemasok alternatif yang mampu bersaing langsung dengan produsen kedirgantaraan Barat di pasar pertahanan negara berkembang tersebut.

Perkembangan kebijakan pengadaan Jakarta pada akhirnya mencerminkan tidak hanya prioritas modernisasi nasional tetapi juga sifat multipolar yang semakin meningkat dari persaingan industri pertahanan global dalam lingkungan keamanan Indo-Pasifik.
.

 
DSA  

Senin, 01 Juni 2026

India Menandatangani Kesepakatam Rudal BrahMos dengan Vietnam

 Indonesia dalam tahap akhir kesepakatan serupa Rudal jelajah supersonik BrahMos (Kamal Kishor/REUTERS)

India telah menandatangani kesepakatan dengan Vietnam di mana India akan memasok rudal BrahMos yang telah dikembangkan bersama dengan Rusia.

Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh mengatakan, India juga berada dalam tahap akhir untuk kesepakatan serupa dengan Indonesia.

Mengutip Reuters, Sabtu (30/5/2026), Singh mengatakan, India memiliki komitmen yang kuat terhadap negara-negara ASEAN, tanpa mengungkapkan detail lebih lanjut tentang kesepakatan terkait BrahMos.

Singh berbicara di forum pertahanan utama Asia, Shangri-La Dialogue.

India, yang telah membangun manufaktur pertahanan dalam negeri untuk penggunaan lokal dan ekspor, telah menjual rudal jelajah supersonik ke Filipina.

Sebelumnya Reuters mengutip sebuah sumber melaporkan, kesepakatan dengan Vietnam bisa bernilai sekitar 60 miliar rupee ($629 juta), termasuk pelatihan dan dukungan logistik.

  🚀 
Kontan  

Senin, 18 Mei 2026

Penampakan 11 Pesawat Baru Dipamerkan Prabowo: Jet Rafale hingga Falcon

Sejumlah alutsista diserahkan Presiden ke TNI di Halim, Jakarta (Kompas)

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan menerima alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa jet-jet tempur, pesawat kargo, dan radar, Senin (18/5/2026).

Alutsista yang diterima meliputi 6 pesawat tempur Rafale yang dilengkapi dengan rudal Meteor dan Smart Weapon Hammer; 4 pesawat Falcon 8X; 1 pesawat A400M MRTT; serta Radar GCI GM403.

Presiden Prabowo Subianto memamerkan sejumlah alutsista yang secara resmi telah diserahterimakan ke TNI. Berdasarkan pantauan Kompas.com, deretan alutsista tersebut dipamerkan di apron Base Ops Halim Perdanakusuma, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Susunan alutsista dibentuk menyerupai segitiga. Di posisi paling depan tampak pesawat tempur Rafale buatan Prancis. Kehadirannya menandai penambahan kekuatan baru TNI AU, terutama untuk kemampuan tempur udara ke udara dan udara ke darat.

Di sisi kanan Rafale dipajang rudal Meteor serta Smart Weapon Hammer yang menjadi persenjataan utama pesawat tersebut.

Tak jauh dari Rafale, empat pesawat Falcon 8X turut dipamerkan. Pesawat berbadan ramping itu disiapkan untuk mendukung mobilitas strategis, pelaksanaan misi komando, hingga pengawasan udara.

Sementara di dua sudut paling belakang ditempatkan dua pesawat angkut A400M, termasuk satu unit yang sebelumnya telah diserahterimakan pada November 2025.

Pesawat angkut ini diproyeksikan memperkuat kemampuan angkut strategis TNI, termasuk distribusi pasukan dan logistik.

Selain itu, A400M MRTT memiliki kemampuan pengisian bahan bakar di udara yang memungkinkan pesawat tempur beroperasi lebih jauh dan lebih lama.

Sementara itu, Radar GCI GM403 menjadi bagian lain dari alutsista yang diterima pemerintah.

Radar berkelir hijau itu berfungsi mendeteksi ancaman udara dari jarak jauh sekaligus membantu memandu pesawat tempur untuk menghadapi sasaran yang memasuki wilayah udara Indonesia.

Dalam serah terima dari Pemerintah ke TNI ini dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Koordinator (Menko) Politik dan Keamanan (Polkam) Djamari Chaniago, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Seskab Teddy Indra Wijaya. Kemudian, Menteri Perhubungan (Mehub) Dudy Purwagandhi, Menlu Sugiono, Wakil Panglima Jenderal Tandyo Budi Revita, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Ketua Komisi I DPR Utut Adianto.

   ★ 
Kompas  

Jumat, 08 Mei 2026

Ada Jejak Republikorp di Balik Kemesraan Alutsista Indonesia dan Turki

Drone tempur Kizilelma (Baykar)

Hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin erat. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara terus melebar, mulai dari kendaraan tempur, sistem nirawak, hingga pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.

Salah satu kerja sama terbaru terlihat dari pengembangan Bayraktar KIZILELMA, pesawat tempur tanpa awak atau unmanned combat aircraft (UCAV) buatan Baykar, perusahaan pertahanan dan dirgantara asal Turki.

Dalam kerja sama ini, perusahaan Indonesia yang menjadi bagian penting adalah Republikorp Group. Perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan ini namanya semakin sering muncul dalam sejumlah kerja sama alutsista strategis, terutama sejak era Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada 2019-2024.

Adapun kerja sama KIZILELMA dilakukan antara Baykar dan PT Republik Aero Dirgantara, anak usaha Republikorp Group. Melansir situs resmi Republikorp, kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang telah dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia.

Dengan kerja sama terbaru ini, kemitraan Baykar dan Republikorp diperluas ke pengembangan UCAV generasi baru melalui Bayraktar KIZILELMA. Pengembangan operasional KIZILELMA ditargetkan dapat memperkuat kemampuan pesawat tempur nirawak Indonesia mulai 2028.

Kerja sama tersebut juga tidak hanya mencakup pengadaan pesawat. Kolaborasi dengan Baykar turut meliputi transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, fasilitas MRO (maintenance, repair, and overhaul), pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.


  Kilas Balik Kerja Sama Militer Indonesia-Turki 
MT Harimau (Pindad)

Kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki sudah berjalan lebih dari satu dekade. Salah satu kerja sama yang cukup awal terlihat pada pengembangan tank ukuran medium. Kerjasama ini mulai dirintis sekitar 2010, ketika Indonesia dan Turki menjajaki kerja sama industri pertahanan.

Proyek tersebut melibatkan PT Pindad yang mewakili Indonesia dan FNSS Defence Systems dari Turki.Realisasi pengembangan kendaraan tempur ini mulai berjalan lebih konkret pada 2014. Dari kerja sama tersebut, lahir medium tank Harimau, yang juga dikenal dengan nama Kaplan MT.

Harimau merupakan tank kelas medium yang dikembangkan untuk TNI Angkatan Darat. Tank ini memiliki bobot lebih ringan dibanding main battle tank, tetapi tetap dilengkapi kemampuan tempur untuk mendukung operasi darat. Sebagai gambaran, main battle tank yang digunakan Indonesia saat ini adalah Leopard 2 buatan Jerman.

Leopard 2 masuk dalam kategori tank tempur utama dengan bobot lebih berat dibanding tank medium seperti Harimau. Sementara itu, Harimau dirancang sebagai kendaraan tempur dengan mobilitas yang lebih fleksibel. Tank ini dapat digunakan di berbagai medan, termasuk wilayah dengan kondisi infrastruktur yang lebih terbatas.

Sejak dimulainya kerja sama pembuatan tank Harimau, hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin intens. Intensitas kerja sama tersebut semakin terlihat pada masa Kementerian Pertahanan dipimpin Prabowo.

Turki tampak menjadi salah satu mitra yang cukup menonjol dalam agenda modernisasi alutsista Indonesia. Salah satu alasannya, kerja sama dengan Turki banyak dikaitkan dengan skema transfer teknologi dan produksi lokal.


  Republikorp Masuk ke Banyak Proyek Strategis 
Drone Akinci (ist)

Di tengah semakin intensnya kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki, nama Republikorp mulai semakin sering muncul.

Perusahaan swasta nasional ini terlibat dalam sejumlah kerja sama strategis, terutama yang berkaitan dengan pengembangan alutsista, produksi lokal, transfer teknologi, hingga pembangunan fasilitas pendukung di dalam negeri.

Melansir dari situs resmi Republikorp, sedikitnya ada beberapa kerja sama besar yang melibatkan perusahaan tersebut sejak 2025 hingga 2026. Cakupannya luas, mulai dari jet tempur, rudal, sistem intelijen, kendaraan tempur, kapal patroli, amunisi, hingga modernisasi sistem pertahanan TNI.

Turki menjadi salah satu negara yang paling menonjol dalam kerja sama tersebut. Namun, jejak Republikorp tidak berhenti di sana.

Perusahaan ini juga menggandeng perusahaan pertahanan besar dari Qatar dan Uni Emirat Arab dalam proyek bernilai miliaran dolar AS. Menariknya, Republikorp bukan perusahaan swasta yang selama ini dikenal luas sebagai produsen persenjataan utama di Indonesia.

Dalam industri pertahanan nasional, sejumlah perusahaan swasta seperti PT Sentra Surya Ekajaya, PT Sari Bahari, PT Infoglobal Teknologi Semesta, PT Palindo Marine, PT Lundin Industry Invest, hingga PT Famatex sudah lebih dulu dikenal sebagai bagian dari ekosistem produsen alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) di dalam negeri.

Mereka memiliki kapabilitas pada bidang masing-masing, mulai dari kendaraan taktis, munisi, bom latih, sistem elektronik pertahanan, kapal militer, kapal patroli, hingga perlengkapan pendukung pertahanan lainnya.

Namun, dalam waktu relatif singkat, Republikorp justru terlibat dalam sejumlah kerja sama pertahanan strategis bernilai besar. Muncul pertanyaan besar, kapasitas apa yang membuat Republikorp memperoleh kepercayaan sebesar ini dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan.

Pertanyaan ini penting karena proyek pertahanan bukan proyek biasa. Di dalamnya ada aspek keamanan nasional, transfer teknologi, penggunaan sumber daya negara, dan janji besar soal kemandirian industri pertahanan.

Berikut sejumlah proyek besar yang melibatkan Republikorp dalam kerja sama industri pertahanan dengan beberapa negara.


  Dari Jet Tempur KAAN, Rudal, hingga Sistem Intelijen 
Pesawat Gen V KAAN (TAI)

Dalam kerja sama dengan Turki, Republikorp terlibat dalam beberapa proyek strategis sejak awal 2025. Pada Februari, Baykar Makina dan PT Republikorp menandatangani JVA yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

Kerja sama ini diarahkan untuk produksi lokal sistem pesawat tanpa awak di Indonesia, termasuk hingga 60 set Bayraktar TB3 dan hingga 9 set Bayraktar AKINCI, dengan cakupan manufaktur, perakitan, perawatan, transfer teknologi, pelatihan, hingga pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri.

Setelah itu, Republikorp melalui anak usahanya, PT Republik Technetronic Nusantara (RTN), menandatangani Framework Agreement dengan PAVO Group asal Turki pada Juli 2025. Kerja sama ini berkaitan dengan penyediaan sistem intelijen untuk TNI di berbagai matra.

Sistem yang masuk dalam kerja sama tersebut mencakup data fusion, pengawasan, pengamanan komunikasi, serta infrastruktur pendukung pengambilan keputusan. Dengan kerja sama ini, Republikorp masuk ke sektor teknologi komando, intelijen, dan komunikasi militer.

Sehari setelahnya, Republikorp menjalin joint venture dengan Roketsan. Kerja sama ini melahirkan PT Republik Roketsan Indonesia yang diarahkan untuk mengembangkan industri rudal nasional. Melalui joint venture tersebut, kedua pihak menyepakati pengembangan dan produksi empat sistem rudal secara bertahap di dalam negeri, yakni ÇAKIR, ATMACA, HİSAR, dan SUNGUR.

Produksi tahap awal akan dimulai dari ÇAKIR. Kemudian pada 25 Juli 2025, Kementerian Pertahanan meresmikan perjanjian strategis dengan Turkish Aerospace Industries (TUSAS) terkait pengadaan 48 unit jet tempur generasi kelima KAAN.

Dalam proyek KAAN, PT Republik Aero Dirgantara (RAD) ditunjuk sebagai mitra utama bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Peran PT RAD mencakup pembangunan fasilitas maintenance, repair, and overhaul atau MRO KAAN, serta operasionalisasi pusat pelatihan dan simulator.

Deretan kerja sama tersebut memperlihatkan luasnya cakupan Republikorp dalam proyek dengan Turki. Tidak hanya pada platform udara seperti KAAN dan KIZILELMA, tetapi juga rudal, sistem intelijen, komunikasi aman, hingga fasilitas pendukung operasional alutsista.


  Gandeng Barzan Holdings untuk Modernisasi TNI  
(Ist)

Selain Turki, Republikorp juga menjalin kerja sama dengan Barzan Holdings, perusahaan industri pertahanan milik negara Qatar.

Kerja sama tersebut diteken pada 20 Januari 2026 dalam ajang Doha International Maritime Defence Exhibition & Conference atau DIMDEX 2026. Dalam kerja sama ini, Republikorp berperan sebagai mitra strategis pertahanan Indonesia.

Kedua pihak sepakat membentuk perusahaan khusus atau joint venture dengan total nilai kerja sama mencapai US$ 2,3 miliar atau setara Rp 39,9 triliun (asumsi kurs Rp 17.360/US$1).

Cakupan kerja sama Republikorp dan Barzan Holdings meliputi overhaul serta peningkatan sistem-sistem kritikal di sektor maritim dan darat.

Joint venture tersebut diarahkan untuk mendorong modernisasi skala besar guna meningkatkan kesiapan operasional TNI.

  Kerja Sama Jumbo dengan EDGE 
Rabdan 8x8, diberitakan diminati marinir (ist)

Republikorp juga menjalin kerja sama besar dengan EDGE, perusahaan pertahanan asal Uni Emirat Arab. Kemitraan tersebut diteken pada 18 November 2025 dengan total nilai yang bombastis mencapai US$ 7 miliar atau setara Rp 121,52 triliun.

Kerja sama dengan EDGE mencakup transfer teknologi, produksi lokal di dalam negeri, pengembangan sistem bersama, serta program modernisasi terpadu TNI. Dari sisi nilai dan cakupan, proyek ini menjadi salah satu kerja sama terbesar yang melibatkan Republikorp.

Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup beberapa alutsista strategis. Di antaranya rudal pertahanan udara SKYKNIGHT, kendaraan tempur infanteri RABDAN 8x8, kapal patroli cepat atau fast patrol vessel, serta pembangunan fasilitas produksi amunisi kaliber kecil

 👷 CNBC  

Rabu, 06 Mei 2026

[Global] Turkiye Luncurkan Rudal Balistik Yildirimhan Jangkauan 6.000 Km

🚀 Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida Rudal Yildirimhan (Republika)

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Nasional Turki meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Yildirimhan di Pameran Pertahanan dan Dirgantara Internasional SAHA 2026, Istanbul, Selasa (5/5/2026). Hal itu menandai pengenalan publik salah satu sistem rudal jarak jauh tercanggih di Turki.

Rudal antarbenua tersebut mampu mencapai kecepatan Mach 25 dan memiliki jangkauan yang dilaporkan sejauh 6.000 kilometer (km). Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida sebagai bahan bakar dan ditenagai oleh empat mesin propulsi roket.

Perusahaan pertahanan Turki dan lembaga publik memamerkan platform dan teknologi yang baru dikembangkan di pameran yang berlangsung pada 5-9 Mei 2026 itu. Dilaporkan Anadolu, peluncuran rudal terjadi ketika Turki terus memperluas kemampuan industri pertahanannya, termasuk drone, teknologi rudal, pertahanan udara, penerbangan, dan platform terkait ruang angkasa.

  Produk baru 
Beberapa teknologi Turki dipamerkan untuk pertama kalinya di SAHA 2026. Munisi keliling cerdas Mizrak produksi Baykar yang dikembangkan secara nasional dan orisinal, dengan jangkauan lebih dari 1.000 km dan kemampuan otonom berbasis AI, diluncurkan di pameran itu. UAV Kamikaze K2 dan munisi keliling Sivrisinek milik Baykar juga akan dipamerkan untuk pertama kalinya.

Aselsan juga memperkenalkan lima produk baru dan versi terbaru dari enam produk kepada ekosistem pertahanan global, termasuk kemampuan serangan baru untuk Blue Homeland Turkiye. Teknologi itu akan menambah kemampuan baru pada sistem pertahanan udara Steel Dome, serta sistem-sistem baru yang akan menjadi pengubah permainan dalam serangan udara.

Platform Sistem Senjata Energi Terarah Alka-Kaplan Hybrid, yang dikembangkan atas kerja sama Roketsan dan FNSS dan dikenal sebagai senjata laser, turut dipresentasikan di SAHA 2026 dengan kemampuan tambahan. STM memamerkan sistem udara dan angkatan lautnya yang dikembangkan untuk kebutuhan medan perang modern.

STM membawa UAV kamikaze jarak jauh, versi baru UAV kamikaze sayap tetap Alpagu dengan kemampuan yang ditingkatkan, sistem drone pencegat yang menghadirkan pendekatan inovatif untuk pertahanan udara. Juga, ada sistem pengintaian pengawasan mini yang dirancang untuk memberikan intelijen dan aliran data secara real-time. Pameran itu dihadiri lebih 140 delegasi negara..


  🚀 
Republika  

Jumat, 01 Mei 2026

Peluncuran Rudal Exocet B3 KRI GNR 332

 ⚓️ 🚀 Latopslagab 2026 KRI GNR 332 menembakkan rudal Exocet B3 dalam Latopslagab 2026 menghancurkan target (eks KRI Teluk Hading) (Kodiklat)

Dalam menghadapi era peperangan modern, TNI melaksanakan Latihan Operasi Serangan Gabungan (Latopslagab) secara masif di Perairan Karimun Jawa, Kamis (23/4).

Latihan ini melibatkan 20 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan pesawat tempur F-16 TNI AU yang berhasil menghancurkan sasaran eks-KRI Teluk Hading dengan cepat melalui serangan terintegrasi.

Kegiatan diawali dengan penembakan Rudal Exocet MM40 Block 3 oleh unsur KRI, dilanjutkan Operasi Udara Lawan Laut (OULL) oleh tiga pesawat F-16 yang menjatuhkan bom MK-12 dengan presisi tinggi.

Selain itu, dilaksanakan pula Artillery Duel oleh Striking Force TNI AL yang berhasil menghancurkan sasaran darat di Pulau Gundul.

Latihan ini merupakan demonstrasi kekuatan nyata (show of force) dan bukti interoperabilitas matra laut dan udara. Selain menguji kemampuan teknis, kegiatan ini juga berfungsi sebagai daya tangkal (deterrence) guna menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  🚀  Garuda Militer  

Kamis, 30 April 2026

ALIT Jajaki Kerja Sama TNI AU di Bidang UAV dan Ruang Angkasa Indonesia

🛩  🚀 🤝  Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. saat menerima audiensi Chairman ALIT China di Mabesau (22/4/2026) guna membahas pengembangan teknologi UAV dan kolaborasi ruang angkasa Indonesia. (Dispenau)

Perusahaan pertahanan terkemuka asal China, Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT), resmi menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada Rabu (22/4/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Markas Besar TNI AU ini fokus pada pengembangan teknologi dirgantara mutakhir, mencakup penguatan armada pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, hingga program ruang angkasa.

Langkah ini merupakan bagian dari visi strategis untuk memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) guna mewujudkan kekuatan TNI AU yang AMPUH.

 Key Takeaways (Ringkasan Utama):  

💥 Pertemuan Strategis: Audiensi antara Chairman ALIT China dengan Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. pada 22 April 2026 di Mabesau.
💥 Fokus Kolaborasi: Pengembangan pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara, dan program ruang angkasa (space program).

💥 Visi TNI AU: Langkah memperkuat Alpalhankam menuju visi TNI AU yang AMPUH.
💥 Skuadron Baru: Pembentukan Skuadron UAV 53 di Lanud Anang Busra Tarakan yang direncanakan mengoperasikan drone CH-4.
💥 Kemampuan Alutsista: UAV CH-4B milik TNI AU telah dilengkapi kemampuan serang dengan rudal AR-2 dan sistem komunikasi satelit.

 Pertemuan Pimpinan ALIT China dan Wakasau di Mabesau. 

Chairman of Aerospace Long-March International Trade Co., Ltd. (ALIT) dilaporkan TNI AU lewat rilis akun Instagramnya pada 23 April 2026, baru saja melakukan audiensi dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S. di Ruang CC Wakasau, Markas Besar TNI AU, Rabu (22/4/2026).

TNI AU menyebut Pertemuan strategis ini membahas sejumlah peluang kerja sama antara TNI AU dan ALIT Co., Ltd. dalam pengembangan teknologi dirgantara, dengan fokus utama pada bidang pesawat tanpa awak, sistem pertahanan udara, dan space program.

"Audiensi ini juga merupakan kesempatan perkenalan pimpinan CEO yang baru, sekaligus menjadi langkah penting dalam membangun kolaborasi yang solid dan berkelanjutan guna memperkuat Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) TNI AU, sejalan dengan visi mewujudkan TNI AU yang AMPUH," terang rilis akun Instagram @militer.udara dalam unggahannya.

 Profil ALIT: Divisi Ekspor Teknologi Roket dan Rudal China 

Dilansir dari rilis resmi Kemhan pada 20 Februari 2012, Aerospace Long March International Trade & co., Ltd. (ALIT), adalah salah satu perusahaan berada di bawah State Administration for Science, technology and Industry for National Defence (SASTIND), China yang memproduksi roket dan rudal serta ruang angkasa termasuk ICBM dan Roket peluncur satelit Long March.

Selain itu, ALIT merupakan divisi ekspor dari China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC).

 Perbandingan Varian UAV CH-4 untuk Ekspor 

Berdasarkan data operasional, ALIT menawarkan dua varian utama untuk pasar internasional:

💢Fitur Varian CH-4A Varian CH-4B Konfigurasi Utama Pengintaian
(Reconnaissance) Serang (Strike-Oriented)
💢 Daya Tahan Terbang 30 Jam 14 Jam
💢 Muatan Senjata - 760lb (345kg)
💢Kemampuan Khusus Pengamatan Jarak Jauh Penyerangan Presisi.


 Rekam Jejak Produk ALIT di Indonesia 

Sebelum melakukan penjajakan kerja sama terbaru ini, ALIT sebenarnya sudah menjual produk pertahanan udara kepada Indonesia.

Terkait operasionalnya, Asian Military Review edisi 16 September 2022 memberikan laporan mendalam sebagai berikut:

"Angkatan Udara Indonesia (TNI AU) mengakuisisi sejumlah UAV CH-4B yang tidak diungkapkan jumlahnya, yang telah dilengkapi dengan sistem komunikasi satelit untuk memperluas jangkauan operasinya hingga 1.080 mil laut (2.000 km).

TNI AU diyakini sebagai angkatan udara Asia Tenggara pertama yang memiliki kemampuan UAV bersenjata, setelah menerima rudal berpemandu presisi AR-2 untuk armada CH-4B pada April 2021.

Sebuah pod peperangan elektronik, kemungkinan untuk misi komunikasi atau pengumpulan intelijen sinyal, juga telah diamati terpasang pada setidaknya salah satu UAV CH-4 milik TNI AU," terang Asian Military Review dalam artikelnya.

 Persiapan Skuadron UAV 53 Tarakan dan Operasional CH-4 

Antara edisi 10 Oktober 2025 lalu melaporkan Pangkalan Udara Anang Busra Tarakan akan membangun Skuadron Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau skuadron 53 dan naik status Lanud dari tipe B menjadi tipe A.

Skuadron 53, yang direncanakan diresmikan pada 2026 oleh pimpinan TNI AU, akan mengoperasikan drone militer jenis CH-4.

Terkait spesifikasi dan peran strategis drone ini, Komandan Lanud Anang Busra memberikan penjelasan detail:

CH-4 dapat dipersenjatai dengan rudal atau bom, sehingga memiliki fungsi ganda, baik untuk intelijen, pengintaian, dan pengawasan (ISR) maupun sebagai drone serang,” kata Komandan Lanud Anang Busra, Marsekal Pertama TNI Andreas A. Dhewo.

Beliau menambahkan mengenai pentingnya penempatan unit ini di wilayah perbatasan:

Dengan kemampuan drone ini, kami dapat memantau wilayah secara efektif dan memberikan respons cepat terhadap potensi ancaman,” tambahnya.

Keberadaan Skuadron 53 di Tarakan diharapkan dapat memperkuat pengawasan udara di wilayah Kalimantan Utara, khususnya untuk mencegah dan mengidentifikasi aktivitas penyelundupan di perbatasan.

Drone CH-4 ini dilaporkan memiliki jangkauan terbang hingga 5.000 kilometer dan mampu beroperasi di udara selama 30 hingga 40 jam negara.***

  🛩
Time Moments  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...