Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2026

TNI AL: Inginkan Rudal Aster 30 Buat Kapal PPA

🚀   Mampu Tangkis Rudal BalistikRudal Aster 30 versi standar mempunyai jangkauan 100-120 km (Seaforces) 

Pemasangan rudal Aster 30 pada dua kapal perang Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) bakal mendongkrak kemampuan pertahanan udara TNI AL. Senjata ini menggeser kapasitas tempur armada laut Indonesia dari perlindungan jarak dekat menjadi penangkis rudal balistik (anti-ballistic missile).

Head of Naval Systems MBDA, Stefano Bertuzzi, menyebut Aster 30 sebagai satu-satunya amunisi di portofolio perusahaan yang sanggup merontokkan ancaman rudal balistik di udara.

“Satu-satunya senjata yang kami punya untuk mengatasi ancaman rudal balistik cuma Aster. Kami tidak punya senjata lain untuk kebutuhan itu,” kata Bertuzzi di Paris, Prancis, Senin (5/10).

Bertuzzi menjelaskan, kemampuan mencegat rudal balistik butuh pemandu berakurasi tinggi. Pengembangan varian terbaru Aster 30 B1NT membekali rudal dengan komponen pencari sasaran (seeker) berbasis gelombang radio frekuensi tinggi (Ku-band) buatan Thales.

“Pengembangan utama pada B1NT ada di bagian pemandunya. Kami mengganti pemandu lama dengan seeker radio gelombang Ku-band buatan Thales. Perubahan ini meningkatkan akurasi tembakan secara signifikan,” ujar Bertuzzi.

Ia menambahkan, varian B1NT bahkan sanggup memburu sasaran balistik hingga jarak 1.500 kilometer. Kehadiran pemandu baru tersebut membuat rudal lebih responsif menyasar objek bergerak cepat.

“Varian B1NT dirancang mampu mencegat sasaran balistik sampai jarak 1.500 kilometer. Jadi, Aster memang solusi utama untuk menangkal rudal balistik,” tutur Bertuzzi.

Meski punya kemampuan teruji, pemboyongan rudal ini harus berhadapan dengan ketatnya antrean produksi di Eropa.

MBDA memberlakukan aturan prioritas pemesanan (first contract, first served), yang menempatkan pemesan awal seperti Prancis dan Italia di daftar teratas. Pembuatan komponen seeker Thales sendiri butuh waktu di atas dua tahun.

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengincar amunisi penangkis serangan udara ini sejak 10 tahun lalu.

Keputusan memboyong dua kapal PPA, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, dari galangan Fincantieri Italia kini membuka jalan bagi MBDA dan Indonesia untuk menuntaskan negosiasi kontrak rudal Aster 30.


   👷  IDM   

Rabu, 07 Oktober 2026

MBDA Menawarkan SM39 Blok 2 Mod 2 untuk Kapal Selam Scorpène Indonesia

   🚀 Rudal Exocet SM39 (MBDA)

Selama rangkaian acara EURONAVAL 2026 Press Tour yang diselenggarakan oleh Asosiasi Industri Maritim Prancis (GICAN), MBDA mengkonfirmasi bahwa perusahaan tersebut menawarkan rudal anti-kapal Exocet yang diluncurkan dari kapal selam untuk kapal selam Scorpène Evolved masa depan Indonesia.

Menanggapi pertanyaan dari Naval News, MBDA mengatakan bahwa mereka menawarkan SM39 Block 2 Mod 2, varian Exocet terbaru yang diluncurkan dari kapal selam yang saat ini sedang dalam produksi penuh.

Perusahaan tersebut juga mengkonfirmasi bahwa kontrak yang sedang berjalan untuk dua kapal selam Scorpène Evolved sudah mencakup kemampuan untuk meluncurkan SM39, seperti yang dilaporkan Naval News sebelumnya.

MBDA mengatakan pihaknya menawarkan SM39 dan bukan SM40 generasi berikutnya yang masih dalam pengembangan, karena jadwal produksi kapal selam Indonesia.

Kapal selam Scorpène Evolved pertama dan kedua buatan Indonesia dijadwalkan akan dikirimkan pada tahun 2032 dan 2033 , dan MBDA ingin memastikan bahwa Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) dapat melengkapi kapal-kapal tersebut dengan rudal anti-kapal yang diluncurkan dari kapal selam pada saat atau segera setelah pengiriman jika diperlukan. Sementara itu, SM40, yang masih dalam tahap pengembangan, mungkin tidak akan tersedia tepat waktu untuk memenuhi jadwal yang disebutkan di atas.

Namun, MBDA menekankan bahwa Indonesia masih dapat memperoleh SM40 di masa mendatang.

Perusahaan tersebut mengatakan hanya diperlukan penyesuaian minimal untuk menggunakan rudal yang lebih baru, karena SM39 dan SM40 menggunakan kapsul penyimpanan dan peluncuran yang sama dan keduanya sesuai dengan tabung torpedo kapal selam standar 533 mm.

SM40 memiliki jangkauan 120 km dan dilengkapi dengan pencari J-band generasi baru yang awalnya dirancang untuk MM40 B3c. MBDA memperkirakan Indonesia akan secara resmi memesan SM39 pada awal tahun 2027.

   👷  Naval News.   

Senin, 14 September 2026

[Global] Malaysia Berencana Akuisisi Rudal Supersonik BrahMos dari India

  Perkuat Jet Su-30MKMPesawat SU30 MKI menembakan rudal BrahMos (IAF)

Pemerintah Malaysia dilaporkan tengah mempertimbangkan rencana akuisisi sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dari India untuk memperkuat armada pertahanannya.

Hal tersebut dikatakan oleh Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dalam wawancaranya bersama media India, NDTV.

Anwar menyampaikan, pembahasan mengenai potensi pembelian persenjataan tersebut telah didiskusikan dalam pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Meski demikian, Anwar menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final yang diambil oleh pemerintah Malaysia.

 Diserahkan ke TUDM

Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada pihak militer yang memiliki keahlian di bidangnya, khususnya Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM).

“Kami telah berdiskusi, namun posisi saya umumnya menyerahkan kepada departemen atau lembaga terkait yang memiliki keahlian di angkatan udara untuk melanjutkan pembahasan,” ujar Anwar.

Ia menambahkan bahwa diskusi tahap awal telah berjalan dan dirinya mendukung penuh kerja sama tersebut guna memperkuat hubungan bilateral kedua negara yang berlandaskan rasa saling percaya.

Para analis memprediksi varian yang menjadi incaran utama Malaysia adalah BrahMos versi air-launched (peluncuran udara). Rudal ini rencananya akan diintegrasikan untuk memperkuat jet tempur Sukhoi Su-30MKM milik TUDM.

BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik dengan mesin ramjet. Sistem persenjataan ini dikembangkan melalui usaha patungan antara Defense Research and Development Organisation (DRDO) asal India dan NPO Mashinostroyeniya dari Rusia di bawah naungan BrahMos Aerospace.

Varian rudal ini memiliki fleksibilitas tinggi karena dapat diluncurkan dari kapal selam, kapal perang, pesawat tempur, hingga pelancar bergerak di darat (transporter erector launcher).

 Uji Coba Pertama oleh Jet Su-30MKI pada 2017

Uji coba peluncuran rudal jelajah supersonik BrahMos varian udara dari pesawat tempur Sukhoi Su-30MKI milik Angkatan Udara India sukses dilaksanakan untuk pertama kalinya pada 22 November 2017.

Uji coba bersejarah yang berlangsung di Teluk Bengkulu tersebut menjadi tonggak penting dalam membuktikan kemampuan integrasi rudal berdaya jelajah tinggi ini pada jet tempur buatan Rusia.

Pengembangan teknologi sistem persenjataan tersebut terus berlanjut hingga India menggelar uji peluncuran terhadap target darat pada 17 Desember 2019.

Keberhasilan uji coba tersebut membuktikan fleksibilitas rudal BrahMos-A dalam menghancurkan target strategis di darat maupun di lautan secara akurat dengan kecepatan supersonik.

Kemampuan kombinasi ini semakin ditingkatkan melalui uji coba penembakan rudal BrahMos versi jangkauan diperluas pada 29 Desember 2022.

Peluncuran dari Su-30MKI yang berhasil menghantam sasaran kapal perang sejauh 450 km tersebut secara resmi menandai kesiapan operasional penuh persenjataan ini di skuadron IAF. (AF)

  ✈️
Airspace Review    

Sabtu, 29 Agustus 2026

Indonesia Resmi Akuisisi Cakir dan Sistem Rudal Lain dari Turki

Hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi98REfk8fkH0al7ymdIvmybcn1PQAaN2m5mVeY-EvPzRSsFSFCbXJtN3Ety7Ws2JftsNyUaxX88yGBCJwZxVpthuV0V29QYJl1JWXHiJLxsNqDdf3e9hc01WaQHkpnBh2KC2pXJ5Xa72sERlfTi3n9K7T2dw7_rGMHikU7OcSk9XMmYe7RQu9J9jR3n07A/s587/Cakir.jpgRudal permukaan ke permukaan Cakir (infographic Roketsan) 

Indonesia telah resmi mengakuisisi rudal Cakir dan sistem rudal lainnya dari Turki. Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan, negaranya telah mengakuisisi rudal Cakir produksi Roketsan. Ke depannya, basis produksi bersama direncanakan akan didirikan antara Roketsan dan perusahaan Indonesia.

"Kami telah membeli rudal Cakir dan beberapa rudal lainnya," kata Rizal di Ankara dikutip Jumat (28/8/2026).

Dilaporkan Havahaber, menurut Rizal, pengadaan sistem rudal tidak terbatas pada pembelian produk, tetapi mewakili tahap yang lebih dalam dalam kerja sama industri pertahanan antara kedua negara. Dia menyatakan, Indonesia sangat mempercayai kemampuan teknologi Turki di industri pertahanan.

Rizal pun mengumumkan, usaha patungan telah didirikan antara Roketsan dan sebuah perusahaan Indonesia. "Bahwa basis produksi untuk roket dan rudal direncanakan akan didirikan di Indonesia dalam lingkup ini," katanya.

Menurut Rizal, langkah itu sekaligus menggeser kerja sama dari pengadaan ke produksi bersama dan berbagi teknologi. Dia menilai, hubungan antara kedua negara telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah. Bagi Rizal, perkembangan tersebut sebagai indikasi kerja sama strategis yang luas, tidak hanya di industri pertahanan.

Dikutip dari Ssbulten, Rizal melanjutkan, Indonesia juga telah menunjukkan minat pada proyek pesawat tempur udara KAAN dan drone Kizilelma. Indonesia bermaksud menjadi salah satu negara pertama yang berkomitmen untuk pengadaan sistem tersebut.

Perkembangan itu menunjukkan permintaan internasional terhadap produk industri pertahanan Turki dan kapasitas produksi bersama. Memperdalam kerja sama dengan Indonesia menciptakan pasar baru dan peluang kerja sama jangka panjang untuk ekspor industri pertahanan Turki.

"Saya dapat mengatakan bahwa hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah," jelas Rizal.

  ✈ Republika 

Rabu, 26 Agustus 2026

Indonesia Ingin Perluas Kerjasama Pertahanan Dengan Türkiye

Melalui KAAN, Kizilelma, proyek 4 fregat, kapal selam & helikopter https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan keputusan baru mereka untuk membeli rudal Kaan dan Kızılelma dari Türkiye, dan menyatakan bahwa kerja sama ini tidak akan terbatas pada pembelian tersebut saja.

Indonesia, dengan menyatakan "Ini tidak akan berhasil hanya dengan Kaan dan Kızılelma," mengumumkan keputusan barunya terkait Türkiye.

Menurut laporan di GDH Haber, Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, juga menyatakan bahwa niat untuk pengadaan fregat, KAAN dan KIZILELMA tetap ada, dan bahwa dalam program empat fregat tersebut, dua kapal akan dibangun di Turki dan dua kapal akan dibangun di Indonesia sebagai bagian dari produksi dan pengembangan bersama.

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, memberikan wawancara kepada Mevlüt İşli, di mana beliau membahas kondisi terkini kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia serta memberikan penilaian mengenai proyek-proyek baru.

Purnama menyatakan bahwa kerja sama antara kedua negara tidak terbatas pada pasokan produk; transfer teknologi, pengembangan bersama, produksi bersama, dan usaha patungan juga menjadi target.

Purnama menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara pertama yang menyatakan niatnya untuk membeli Pesawat Tempur Nasional KAAN dan KIZILELMA, yang belum beroperasi dan masih dalam tahap pengembangan.

Indonesia telah mengumumkan niatnya untuk membeli sistem KIZILELMA dan KAAN. Kami menyebut ini sebagai kesepakatan bersejarah antara kedua negara di industri pertahanan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbYDS-slQ6m5N134iPkFs9HuSE-JStKMomXBb3XyxCqQTrTTn9gTYqIAqL78oscLYfgSPw0P-OfvI8n3Sq-GKAci0K_F9_aonCw2JkFWTjn7f-Z4Q-O5wwJxws7bI4MK5NGWMQEMsKDZnoYuPXK1yacrv-NV4fS0MgNoKVGEZNiRzyRGhZcswFwzb7XzA2/s1667/IMG_0729.jpegProses produksi kapal fregat dan KCR pesanan Indonesia (sc Keri’s reborn)

Purnama menyatakan bahwa pendekatan ini menunjukkan kepercayaan Indonesia terhadap kemampuan Turki dalam teknologi dan industri pertahanan. Ia juga menekankan bahwa kerja sama antara Turki dan Indonesia dalam teknologi pertahanan canggih memiliki kepentingan strategis bagi kedua negara.

Purnama menyatakan bahwa KIZILELMA dan kendaraan udara tak berawak lainnya sangat penting bagi Indonesia, menekankan bahwa Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, perlu melindungi wilayah udaranya serta perbatasan darat dan lautnya yang luas.

Purnama mengumumkan penandatanganan perjanjian pengadaan dan pembangunan fregat dari Turki, dengan menguraikan model produksinya: Dua akan dibangun di Turki, dan dua lainnya akan dibangun di Indonesia melalui produksi dan pengembangan bersama.

Purnama menyatakan bahwa salah satu tujuan utama kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia adalah untuk menciptakan ekosistem industri pertahanan bersama di kedua negara.

Dalam konteks ini, ia mencatat bahwa TUSAŞ telah didirikan di Indonesia dengan nama "TUSAŞ Indonesia," dan bahwa HAVELSAN, ASELSAN, dan ROKETSAN juga telah membuka kantor di negara ini.

Purnama menyebutkan bahwa selama kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdoğan ke Indonesia pada tahun 2025, perjanjian ditandatangani antara perusahaan Turki dan Indonesia untuk mendirikan usaha patungan di bidang drone, roket, dan rudal.

Ia menambahkan bahwa Indonesia membeli rudal ÇAKIR dan beberapa rudal lainnya dari Turki. Mengenai upaya untuk mentransfer produksi roket dan rudal ke Indonesia, Purnama mengatakan, "Kami memiliki usaha patungan antara ROKETSAN dan sebuah perusahaan Indonesia untuk mendirikan basis produksi roket dan rudal di Indonesia."

  ✈  Yeniakit  

Selasa, 25 Agustus 2026

Pabrik Rudal RI-China: Siapa Kuasai Teknologinya?

 🚀 Rudal yang dirakit di dalam negeri tetap dapat dikendalikan dari luar jika kendali atas teknologinya tidak pernah berpindah. Kapal perang TNI AL, KRI Sampari 628 tembakkan rudal C-705 buatan China, dalam Operasi TNI Terintegrasi 2026 (Dispenal)

Rudalnya mungkin keluar dari pabrik di Indonesia. Namun ketika sistem pemandu bermasalah atau perangkat lunaknya perlu diperbarui, dapatkah insinyur Indonesia menanganinya tanpa izin mitra China? Di situlah ukuran kedaulatan teknologi sebenarnya.

Pertemuan menteri luar negeri dan pertahanan Indonesia-China pada 21 Agustus 2026 membahas pabrik bersama di Indonesia untuk memproduksi amunisi, misil, dan roket. Transfer teknologi juga masuk pembicaraan, dengan target operasi pada 2027. Rencana ini menjanjikan, tetapi istilah “transfer teknologi” belum menjawab teknologi apa yang benar-benar akan dikuasai Indonesia.

Dalam hukum kekayaan intelektual, lisensi hanya memberi izin menggunakan teknologi dalam batas tertentu. Kepemilikan tetap berada pada pemberi lisensi. Pengalihan hak memberikan ruang kendali lebih luas, sedangkan pengembangan bersama bergantung pada pembagian hak yang tertulis dalam kontrak.

Indonesia tidak harus memiliki seluruh paten China. Tuntutan yang lebih penting adalah kedaulatan operasional: hak untuk memproduksi, memperbaiki, memodifikasi, mengaudit, dan mengembangkan sistem tanpa terus meminta izin pemasok.

Jika Indonesia hanya membuat badan rudal sementara sistem pemandu, sensor, komponen propulsi, dan kode sumber tetap tertutup, pabrik itu hanya memindahkan lokasi perakitan.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan menyediakan ukuran yang lebih tegas daripada slogan alih teknologi. Jika proyek ini berbentuk pengadaan produk luar negeri, Pasal 43 ayat (5) mewajibkan partisipasi industri nasional, alih teknologi, serta jaminan tidak adanya potensi embargo, kondisionalitas politik, dan hambatan penggunaan.

Jika bentuknya kerja sama industri, Pasal 48 mengarahkannya untuk mempercepat penguasaan teknologi pertahanan dan mensyaratkan persetujuan Komite Kebijakan Industri Pertahanan. Karena itu, pemerintah perlu menjelaskan arsitektur hukumnya: pengadaan, perusahaan patungan, perjanjian antarpemerintah, atau gabungan ketiganya.

Prototipe Rudal Nasional RN01 rekayasa lokal dengan basic rudal C705 China. (Mulatama)

Klasifikasi tersebut menentukan kewajiban para pihak, pengawasan, dan pertanggungjawaban anggaran. Bila kesepakatannya berupa perjanjian internasional yang menimbulkan akibat luas dan mendasar terkait beban keuangan negara atau memerlukan perubahan undang-undang, Pasal 11 ayat (2) UUD 1945 mensyaratkan persetujuan DPR. Tidak semua kerja sama teknis memenuhi ambang itu, tetapi label “teknis” tidak boleh menghapus pengawasan Komisi I DPR.

Masalah hukumnya bertemu dengan politik luar negeri. Bebas aktif tidak mengharuskan Indonesia menjauhi China. Prinsip itu menuntut kebebasan menentukan sikap tanpa dikunci ketergantungan kepada satu kekuatan.

Jika suku cadang, pembaruan perangkat lunak, atau modifikasi dapat dihentikan pemasok, ruang keputusan politik Indonesia ikut menyempit. Dalam ketegangan Laut China Selatan, ketergantungan teknis dapat berubah menjadi daya tekan diplomatik.

Publik tentu tidak perlu diberi akses ke cetak biru atau kode sumber karena menyangkut rahasia pertahanan. Namun kerahasiaan bukan cek kosong. Pemerintah tetap harus membuka kerangka akuntabilitas: teknologi yang dialihkan, hak modifikasi, target penguasaan insinyur Indonesia, kandungan lokal, mekanisme audit, serta sanksi jika kewajiban mitra tidak terpenuhi.

Keberhasilan proyek ini bukan sekadar jumlah rudal yang diproduksi. Ukurannya adalah kemampuan Indonesia merawat dan mengembangkannya ketika hubungan politik berubah. Rudal yang dirakit di dalam negeri tetap dapat dikendalikan dari luar jika kendali atas teknologinya tidak pernah berpindah. ***

*) Oleh : Muhammad Fakhri Hadisyah Putra, Mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  🚀 Times Indonesia  

Minggu, 23 Agustus 2026

Jet Tempur J-10 Tak Dibahas Dalam Pertemuan Indonesia-China

  Namun akan memproduksi bersama rudal dan roket Pesawat J10 C  (DSA)

Indonesia akan membangun pabrik amunisi bersama China dengan skema transfer teknologi. Fasilitas tersebut akan memproduksi sejumlah jenis amunisi, termasuk rudal dan roket, dengan operasional ditargetkan mulai pada 2027.

Selain mengungkap rencana pembangunan pabrik amunisi, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin juga memberikan klarifikasi mengenai jet tempur J-10 China yang sebelumnya disebut-sebut berpotensi masuk dalam agenda pengadaan alutsista Indonesia.

Ia memastikan tidak ada pembicaraan mengenai kemungkinan Indonesia membeli J-10 dalam pertemuan 2+2 bersama China.

“
Tidak ada pembicaraan,” ujar Sjafrie ketika ditanya mengenai kemungkinan pembelian jet tempur tersebut.

Sebelumnya, rencana pengadaan J-10 sempat menjadi perhatian setelah Sjafrie pada Oktober 2025 mengatakan jet tempur tersebut akan segera menghiasi langit Indonesia.

Namun, pemerintah kemudian belum merealisasikan rencana tersebut.

Adapun kerja sama pertahanan Indonesia-China kali ini lebih menitikberatkan pada penguatan industri pertahanan dan peningkatan kemampuan produksi di dalam negeri melalui transfer teknologi.

  ★  IDN Times  
 

Sabtu, 22 Agustus 2026

Transfer Teknologi Pertahanan dari Tiongkok Dimulai 2027

 ⚓️ 🚀 Bersama Pindad  Kapal perang TNI AL, KRI Sampari 628 tembakkan rudal C-705 dalam Operasi TNI Terintegrasi 2026 (Dispenal)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok akan mencakup transfer teknologi untuk mendukung pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.

Pelaksanaan kerja sama tersebut ditargetkan mulai berjalan paling lambat pada 2027.

Hal itu disampaikan Sjafrie setelah mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan atau 2+2 RI-Tiongkok bersama Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, dan Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Sjafrie menjelaskan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dilakukan kedua negara.

"Kerja sama kita dengan Tiongkok dalam industri pertahanan adalah melanjutkan apa yang sudah kita lakukan dan apa yang akan kita kerjakan," kata Sjafrie saat ditemui awak media setelah pertemuan.

Menurut Sjafrie, kerja sama tersebut mencakup pengembangan fasilitas produksi amunisi, misil, roket, dan sejumlah kebutuhan industri pertahanan lainnya.

Untuk sejumlah teknologi yang belum dikembangkan di Indonesia, Tiongkok akan memberikan dukungan melalui transfer teknologi. Langkah tersebut ditujukan agar Indonesia dapat membangun kemampuan produksi dan fasilitas industri pertahanan secara bersama-sama di dalam negeri.

"Yang belum kita buat, dia bantu dan dia akan kirim transfer teknologi agar supaya kita bisa membangun pabrik bersama-sama di Indonesia. Ini yang kita lakukan industri pertahanan," ujarnya.

 Paling Lambat 2027

Sjafrie menekankan transfer teknologi menjadi salah satu hal yang diangkat Indonesia dalam kerja sama industri pertahanan dengan Tiongkok. Indonesia, kata dia, ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan teknologi yang telah dikembangkan Tiongkok.

"Jadi yang saya angkat adalah mengenai bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh Tiongkok," kata Sjafrie.

Ketika ditanya mengenai waktu dimulainya pembangunan teknologi misil dan fasilitas terkait di Indonesia, Sjafrie menyebut pelaksanaannya ditargetkan paling lambat 2027.

"Ini paling lambat 2027 sudah jalan," tegasnya.

Dalam kerja sama tersebut, PT Pindad akan menjadi pihak Indonesia yang terlibat. Hal itu ditegaskan Sjafrie ketika ditanya apakah pembangunan tersebut akan melibatkan Pindad.

"Ya, Pindad. Pasti Pindad," jawabnya.

Adapun, kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok sebelumnya telah mencakup PT Pindad dan perusahaan pertahanan Tiongkok.

Berdasarkan informasi Kementerian Pertahanan RI, PT Pindad telah menandatangani nota kesepahaman dengan dua perusahaan pertahanan asal Tiongkok, Norinco dan Sany Group, pada Mei 2025. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan bersama, produksi bersama, serta penjajakan kandungan lokal di Indonesia. (Fajar Nugraha)

  👷  Metro TV  

Jumat, 07 Agustus 2026

TNI AU Kerahkan 5 Alutsista Baru dalam Latihan Gabungan TNI

  Di Dabo Singkep, Kepri Alutsista terbaru TNI AU dalam latihan gabungan TNI di Kepri (Dispenau)

TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan lima alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8/2026).

Berdasarkan siaran pers dari Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau), kelima alutsista itu terdiri dari empat jet tempur Rafale dan satu pesawat angkut A400M.

“Pada latihan tersebut, TNI AU mengerahkan berbagai unsur udara yang meliputi pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat intai, helikopter, pesawat tanpa awak serta pasukan gerak cepat untuk mendukung pelaksanaan operasi gabungan secara terpadu,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana.

Foto yang dirilis TNI AU turut memperlihatkan empat jet tempur Rafale tampak mengawal satu pesawat angkut strategis A400M yang terbang dalam formasi di atas langit Dabo Singkep.

Sementara itu, berdasarkan keterangan Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), TNI menampilkan simulasi peperangan modern dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep.

Dalam latihan itu, TNI AL menembakkan rudal C-705 dari KRI Sampari-628 dan mengoperasikan Unmanned Surface Vehicle (USV) atau drone laut untuk menyerang sasaran musuh.

Latihan dipimpin Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Panglima TNI dan para kepala staf angkatan.

Skenario yang dimainkan menggambarkan operasi gabungan TNI dalam menghadapi ancaman modern dengan melibatkan kekuatan darat, laut, udara, hingga peperangan siber.

Operasi diawali dengan serangan udara menggunakan pesawat tempur Rafale dan F-16 yang membawa bom MK-82.

Setelah itu, Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) melaksanakan operasi khusus untuk membuka jalan bagi serangan berikutnya.

Di laut, TNI AL mengerahkan USV kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991, disusul operasi ranjau laut serta infiltrasi Komando Pasukan Katak (Kopaska) yang mensimulasikan sabotase kabel bawah laut.

Dalam skenario yang sama, satuan siber juga melakukan serangan untuk melumpuhkan sistem kelistrikan lawan.

Setelah sasaran dinyatakan lumpuh, KRI Sampari-628 menembakkan rudal C-705 ke target di darat.

TNI AL juga mengerahkan Bantuan Tembakan Kapal dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Raden Eddy Martadinata-331.

Korps Marinir turut memberikan dukungan tembakan menggunakan Multi Launcher Rocket System (MLRS).

Sementara itu, TNI AD mengerahkan pasukan lintas udara yang diterjunkan dari pesawat Hercules C-130, drone pengintai, drone tempur, serta satuan Artileri Medan untuk mendukung operasi gabungan.

“Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, serta hasil peninjauan langsung di lapangan, TNI telah menunjukkan kesiapan yang meyakinkan dalam menjalankan tugas menjaga, memelihara, dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bunyi keterangan.

Menurut dia, kemampuan yang diperagakan mencerminkan peningkatan kesiapan tempur, baik dari sisi alutsista, kualitas prajurit, maupun dukungan amunisi.

Sjafrie juga menilai penggunaan alutsista buatan dalam negeri dalam latihan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal Indonesia terhadap berbagai ancaman.

Latihan Integrasi TNI 2026 dirancang untuk menguji kemampuan operasi gabungan antarmatara, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi dinamika peperangan modern.

 Berikut video liputan IDN Times :


 ✈️ 
Kompas  

Kamis, 06 Agustus 2026

TNI Gelar Latihan Operasi Gabungan di Kepri

 ⚓️ 🚀 Libatkan Hampir 13.000 Personel Kapal perang TNI AL, KRI Sampari 628 tembakkan rudal C-705 dalam Operasi TNI Terintegrasi 2026 (Dispenal)

Tentara Nasional Indonesia menggelar skenario Operasi TNI Terintegrasi 2026 di Daerah Latihan TNI AL Dabo Singkep, Kepulauan Riau dengan menampilkan kemampuan tempur Perisai Trisula Nusantara dari Matra Darat, Laut dan Udara. Dalam simulasi tersebut, berbagai Alutsista dikerahkan, termasuk drone kamikaze AKM KI-50 buatan dalam negeri, serta penembakan rudal C-705 dari KRI Sampari-628. Latihan ini dipimpin oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin beserta Panglima TNI dan para Kepala Staf Angkatan. Rabu (5/8).

Latihan terintegrasi ini menggabungkan antara teknologi dan strategi peperangan di era modern. Operasi diawali dengan pertahanan udara dari TNI AU yang mengerahkan pesawat tempur terbaru Rafale dan F-16 dengan muatan bom MK-82, kemudian dilanjutkan Operasi Khusus Matra Udara dari Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat).

Dari segi laut, TNI AL mengerahkan Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991 dengan sasaran di laut dilanjutkan dengan operasi peranjauan, serta infiltrasi pasukan khusus yang juga melaksanakan sabotase kabel bawah air oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska). Latihan ini juga melibatkan peperangan siber yang salah satunya diasumsikan pelumpuhan terhadap instalasi listrik musuh.

Setelah daerah musuh dipastikan lumpuh dari serangan siber, maka peluru kendali C-705 yang ada di KRI ditembakkan dengan sasaran musuh di darat sehingga fasilitas musuh lumpuh. Tidak hanya rudal, TNI juga menembakkan Bantuan Tembakan Kapal (BTK) dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Raden Eddy Martadinata-331 serta tembakan Multi Launcher Rocket System (MLRS) dari Korps Marinir.

Selain unsur udara dan laut, operasi juga didukung oleh pasukan Lintas Udara (Linud) TNI AD juga melaksanakan penerjunan tempur dari Pesawat Hercules C-130. TNI AD juga mengerahkan intai drone tempur serta pasukan Artileri Medan. Seluruh rangkaian latihan dirancang untuk meningkatkan kesiapan tempur dan kemampuan operasi gabungan dalam menghadapi ancaman modern.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, serta hasil peninjauan langsung di lapangan, TNI telah menunjukkan kesiapan yang meyakinkan dalam menjalankan tugas menjaga, memelihara, dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, kemampuan yang ditampilkan dalam latihan ini menjadi bukti nyata meningkatnya kesiapan tempur TNI, baik dari aspek alutsista, kualitas prajurit, maupun dukungan amunisi.

Menhan juga menegaskan bahwa revitalisasi pertahanan negara pada tahun 2026 mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Berbagai kemampuan tempur yang diperagakan dalam latihan, termasuk penggunaan produk industri pertahanan dalam negeri, menjadi bukti bahwa Indonesia terus memperkuat kemandirian pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal dalam menghadapi berbagai ancaman.

Operasi TNI Terintegrasi 2026 menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme prajurit melalui latihan yang mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan dan teknologi terkini. Materi latihan menitikberatkan pada kecepatan pengambilan keputusan, koordinasi, serta efektivitas pelaksanaan operasi gabungan sesuai skenario yang telah direncanakan.

 Berikut video liputan dari antara :  


  🎥  TNI AL  

Jumat, 17 Juli 2026

[Global] Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal Supersonik

🛩 Turki Pamer Kekuatan Baru di Langit NATO Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal (Baykar)

Hanya beberapa hari setelah para pemimpin NATO membicarakan masa depan peperangan drone di Ankara, Turki langsung memperlihatkan bahwa negara itu bukan sekadar tuan rumah pertemuan. Ankara juga ingin menjadi salah satu penentu arah teknologi tempur nirawak di dalam aliansi militer tersebut.

Pesawat tempur nirawak Bayraktar KIZILELMA S2 berhasil meluncurkan rudal udara-ke-permukaan supersonik JET-230 buatan Roketsan dan mengenai sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer. Uji tembak itu bukan hanya menambah jenis senjata yang dapat dibawa KIZILELMA. Keberhasilan tersebut memperlihatkan kemampuan Turki menggabungkan pesawat, rudal, radar, sensor, perangkat lunak misi, dan sistem kendali ke dalam satu rantai serangan yang sebagian besar dibangun oleh industri pertahanannya sendiri.

Baykar mengumumkan keberhasilan tersebut pada Senin (13/7/2026). Menurut laporan Anadolu Agency pada Selasa (14/7/2026), pesawat produksi seri bernomor ekor S2 meninggalkan pusat pengujian Baykar di Çorlu pada 8 Juli menuju Pangkalan Jet Utama Kelima di Merzifon. Pada 11 Juli, KIZILELMA lepas landas dengan membawa dua JET-230 di bawah sayap, kemudian menembakkan salah satunya ke sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer.

Uji coba itu datang hanya empat hari setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meluncurkan inisiatif NATO Drone Edge dalam Forum Industri Pertahanan NATO di Ankara pada 7 Juli. Rutte mengatakan drone telah mengubah karakter peperangan modern dan menjadi faktor penentu di medan perang. Negara-negara NATO kemudian berkomitmen menginvestasikan lebih dari 40 miliar dolar AS untuk kemampuan antidrone dalam lima tahun serta melatih lima kali lebih banyak operator drone hingga akhir 2027.

Urutan waktunya mengandung pesan politik yang sulit diabaikan. Ketika NATO sedang mencari cara memperbesar kemampuan drone dan antidrone, Turki memperlihatkan sebuah pesawat tempur nirawak produksi seri yang sudah mampu membawa rudal supersonik jarak jauh.

Namun, superioritas yang sedang dibangun Ankara bukan sekadar terletak pada seberapa jauh rudalnya dapat terbang. Keunggulan yang lebih penting berada pada kemampuan Turki menguasai hampir seluruh mata rantai teknologi yang dibutuhkan untuk menemukan, mengenali, mengunci, dan menyerang sasaran.

Melampaui Kecepatan Suara

Senjata supersonik bergerak melampaui kecepatan suara. Baykar juga belum memublikasikan spesifikasi lengkap JET-230, termasuk jenis sistem pencari sasaran, bobot hulu ledak, metode pemanduan terminal, dan kecepatan maksimumnya. Jarak lebih dari 120 kilometer merupakan jarak penembakan yang telah diperlihatkan dalam uji coba, bukan berarti batas jangkauan maksimal senjata tersebut sudah diketahui secara independen.

Rudal yang paling dekat sebagai pembanding adalah UAV-230 atau IHA-230 buatan Roketsan. Perusahaan menyebut rudal balistik udara-ke-permukaan tersebut memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer, bergantung pada kecepatan dan ketinggian platform ketika senjata dilepaskan.

UAV-230 berbobot sekitar 225 kilogram, membawa hulu ledak 42 kilogram, menggunakan pemanduan inersial berbantuan GNSS, dan dirancang untuk menyerang radar pertahanan udara, pusat komunikasi, kendaraan lapis baja ringan, pusat komando, serta sasaran di darat ataupun laut. Setelah dijatuhkan dari pesawat, rudal mengalami fase jatuh bebas sebelum motor berbahan bakar padatnya menyala.

Konstruksi seperti itu memungkinkan rudal memanfaatkan ketinggian dan kecepatan awal pesawat peluncur. Semakin cepat dan tinggi platform terbang ketika melepaskan rudal, semakin besar energi awal yang dapat digunakan untuk memperluas jangkauan.

Namun, spesifikasi UAV-230 tidak dapat langsung dianggap sebagai spesifikasi JET-230. Keduanya mungkin berada dalam jalur pengembangan yang sama, tetapi Baykar dan Roketsan belum membuka cukup data untuk memastikan bahwa bobot, hulu ledak, sistem pemanduan, serta kemampuan antijamming keduanya identik.

Dari Pembawa Bom Menjadi Penyerang Jarak Jauh

Sebelum membawa JET-230, KIZILELMA telah diuji menggunakan sejumlah bom dan rudal berpemandu Turki, termasuk TOLUN, TEBER-82, KGK, LGK-82, dan rudal udara-ke-udara GOKDOGAN. Penambahan JET-230 mengubah kualitas ancaman yang dapat diberikan pesawat tersebut.

Bom berpemandu konvensional umumnya menuntut pesawat mendekat ke wilayah sasaran. Kondisi itu meningkatkan risiko platform masuk ke dalam jangkauan radar, rudal permukaan-ke-udara, dan sistem peperangan elektronik lawan.

Sebagai perbandingan, MAM-L, salah satu munisi yang membuat drone Turki dikenal di berbagai konflik, memiliki jangkauan sekitar 15 kilometer menurut Roketsan. JET-230 dalam pengujian terbaru mengenai sasaran dari jarak lebih dari 120 kilometer. Artinya, tanpa menyamakan fungsi kedua senjata, jarak serang yang diperlihatkan JET-230 setidaknya delapan kali lebih jauh daripada jangkauan MAM-L.

Lompatan itu memungkinkan KIZILELMA menjalankan serangan stand-off, yakni melepaskan senjata dari luar jangkauan efektif sebagian pertahanan udara lawan. Pilot manusia tidak perlu diterbangkan menuju wilayah dengan tingkat ancaman tinggi. Apabila pesawat hilang, kerugiannya tetap mahal, tetapi tidak disertai risiko tewas atau tertangkapnya penerbang.

Konsep tersebut sangat relevan untuk misi penekanan pertahanan udara. KIZILELMA dapat diarahkan untuk membidik radar, pusat komunikasi, pos komando, kapal, atau fasilitas strategis sebelum pesawat berawak memasuki wilayah operasi.

KIZILELMA juga dapat digunakan sebagai umpan untuk memaksa radar lawan menyala. Begitu radar memancarkan sinyal dan posisinya terdeteksi, sistem lain dapat menyerangnya. Dalam skenario berbeda, beberapa pesawat nirawak bisa dikirim dalam gelombang awal untuk menguras rudal pertahanan udara musuh sebelum jet berawak melanjutkan serangan.

Di sinilah arti penting pesawat tempur nirawak menjadi lebih besar daripada drone bersenjata konvensional. Platform tersebut bukan hanya dirancang untuk mengawasi wilayah atau menjatuhkan bom ke sasaran yang pertahanannya lemah. Ia dipersiapkan menjadi bagian dari operasi udara kompleks yang sebelumnya hampir sepenuhnya menjadi wilayah jet tempur berawak.

Superioritas Turki Ada pada Ekosistemnya

Spesifikasi Drone KIZILELMA Turki. - (Erdy Nasrul/Republika)

Turki memang belum mengungguli Amerika Serikat dalam keseluruhan teknologi penerbangan tempur. Amerika masih memiliki jaringan satelit, pesawat siluman operasional, kapal induk, pesawat pengisian bahan bakar, sistem komando global, dan anggaran pertahanan yang tidak dapat ditandingi Ankara.

Namun, di sektor pesawat tempur nirawak, Turki telah menempatkan diri di kelompok terdepan. Yang membuat kemajuannya menonjol bukan satu produk tertentu, melainkan kemampuan beberapa perusahaan nasional mengembangkan komponen yang saling melengkapi.

Baykar memproduksi wahana terbang dan perangkat lunak kendalinya. Roketsan menyediakan rudal. ASELSAN mengembangkan radar serta sensor elektro-optik. TUBITAK SAGE memproduksi senjata udara-ke-udara. Perusahaan-perusahaan itu tidak lagi berdiri sebagai pemasok produk terpisah, tetapi membentuk ekosistem pertempuran.

Pada November 2025, KIZILELMA menggunakan radar AESA MURAD buatan ASELSAN untuk mendeteksi dan mengunci sasaran udara bermesin jet. Pesawat itu kemudian menembakkan rudal GOKDOGAN buatan TUBITAK SAGE dan mengenai sasaran di luar jangkauan visual. Baykar menyebutnya sebagai keberhasilan pertama pesawat tempur nirawak menghancurkan sasaran udara bermesin jet dengan rudal udara-ke-udara BVR. Karena klaim “pertama di dunia” berasal dari produsen, klaim tersebut tetap perlu diposisikan sebagai pernyataan Baykar, bukan penilaian independen universal.

Sebulan kemudian, dua prototipe KIZILELMA melakukan penerbangan formasi rapat secara otonom menggunakan algoritma armada cerdas. Kemampuan tersebut diarahkan agar beberapa pesawat nirawak dapat mengatur posisi, berpatroli, dan menjalankan misi bersama di bawah satu komando.

Pada Mei 2026, Baykar dan perusahaan pertahanan Italia Leonardo juga menguji kerja sama KIZILELMA dengan pesawat M-346 dalam program K-SWARM. Uji coba tersebut memindahkan konsep kerja sama pesawat berawak dan nirawak dari lingkungan simulasi menuju penerbangan langsung.

Rangkaian itu memperlihatkan arah pengembangan yang jelas. KIZILELMA tidak disiapkan hanya sebagai pesawat yang dikendalikan operator dari darat. Platform ini diarahkan menjadi rekan tempur otonom bagi pesawat berawak, anggota armada drone, pembawa rudal udara-ke-udara, serta peluncur senjata jarak jauh.

Sementara itu, sistem TOYGUN buatan ASELSAN menyediakan pencitraan dan penargetan elektro-optik yang dipasang menyatu dengan badan pesawat. Menurut ASELSAN, sistem tersebut dikembangkan untuk platform yang sangat memperhitungkan penampang radar dan hambatan aerodinamis serta dapat mendukung misi udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan.

Dengan radar MURAD, sensor TOYGUN, rudal GOKDOGAN, dan JET-230, Turki sedang membangun rantai serangan dari sensor hingga senjata. Pesawat dapat menemukan sasaran, membangun gambaran situasi, meneruskan data, memilih senjata, dan melepaskan serangan dengan ketergantungan yang lebih kecil pada pemasok luar negeri.

Inilah superioritas yang paling sulit ditiru: bukan membuat satu drone, tetapi membuat ekosistem yang memungkinkan drone tersebut berperang.

Terbesar Kedua

Turki kerap disebut sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat. Pernyataan itu perlu dibuat lebih presisi.

NATO menyatakan Turki memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di dalam aliansi, terutama berdasarkan jumlah personel. NATO kembali menggunakan keterangan tersebut menjelang Konferensi Tingkat Tinggi di Ankara pada Juli 2026.

Namun, “terbesar kedua” tidak otomatis berarti “terkuat kedua” dalam seluruh indikator militer. Kekuatan militer juga ditentukan oleh anggaran, kesiapan tempur, senjata nuklir, jumlah pesawat modern, kemampuan intelijen, armada laut, logistik jarak jauh, teknologi antariksa, dan pengalaman operasi gabungan.

Inggris dan Prancis, misalnya, memiliki senjata nuklir serta kemampuan proyeksi kekuatan global. Sejumlah anggota NATO lain mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur generasi kelima. Karena itu, tidak terdapat peringkat resmi NATO yang menetapkan Turki sebagai negara “terkuat kedua” secara keseluruhan.

Keunggulan Ankara justru lebih tepat digambarkan sebagai gabungan antara jumlah personel yang besar, lokasi strategis, pengalaman operasi, dan industri pertahanan yang tumbuh cepat, terutama pada drone, rudal, radar, peperangan elektronik, kendaraan lapis baja, dan kapal perang.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan menyebut perkembangan industri pertahanan Turki sebagai sebuah “revolusi industri pertahanan” ketika berpidato di kompleks ASELSAN pada 22 April 2026. Ia mengatakan NATO dapat belajar dari cara Turki menggabungkan produksi dan inovasi.

Uji JET-230 memberi bentuk nyata pada pujian tersebut. Turki tidak lagi hanya menyediakan tentara dalam jumlah besar untuk menjaga sisi selatan NATO. Negara itu juga mulai menawarkan teknologi yang sedang sangat dibutuhkan aliansi.

Kemandirian Turki Belum Sempurna

Meski demikian, narasi bahwa seluruh sistem KIZILELMA sepenuhnya bebas dari teknologi asing juga harus disikapi hati-hati. Sebagian besar avionik, radar, sensor, senjata, perangkat lunak, dan struktur pesawat memang dikembangkan perusahaan Turki. Namun, mesin jet masih menjadi salah satu titik ketergantungan penting dalam program tersebut.

Baykar sebelumnya mengakui mesin sebagai teknologi kritis dan menargetkan pengembangan mesin dalam negeri untuk KIZILELMA. Haluk Bayraktar mengatakan perusahaan berinvestasi pada teknologi mesin karena kemampuan itu diperlukan agar Turki benar-benar mandiri dalam memproduksi pesawat tempur nirawak.

Keterbatasan lain terlihat pada konfigurasi uji JET-230. Dua rudal dipasang di bawah sayap. Senjata eksternal menambah hambatan udara dan dapat memperbesar pantulan radar, sehingga keuntungan karakteristik siluman pesawat berpotensi berkurang.

Dengan kata lain, konfigurasi KIZILELMA yang membawa senjata besar di luar badan pesawat harus dipahami sebagai kompromi. Pesawat memperoleh jarak serang dan daya hancur lebih besar, tetapi mungkin kehilangan sebagian keunggulan observabilitas rendahnya.

Keberhasilan mengenai sasaran uji juga belum sama dengan keberhasilan menembus pertahanan udara terintegrasi dalam peperangan nyata. Sasaran dalam pengujian telah ditentukan, ruang udara dikendalikan, dan tidak ada bukti terbuka bahwa rudal harus menghadapi pengacauan elektronik, pencegatan, sasaran yang melakukan manuver, atau jaringan pertahanan berlapis.

Karena itu, uji coba tersebut membuktikan integrasi dasar pesawat dan senjata, tetapi belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam perang berintensitas tinggi.

Status produksi seri juga tidak serta-merta berarti platform telah mencapai kesiapan tempur penuh. Baykar sebelumnya menyatakan produksi telah dimulai dan KIZILELMA ditargetkan masuk inventaris pada 2026, tetapi proses pengujian, sertifikasi, pelatihan operator, pematangan doktrin, serta integrasi ke sistem komando tetap menentukan kapan pesawat itu benar-benar siap digunakan secara luas.

Drone Turki Bukan Lagi Sekadar Produk Murah

Baykar telah membangun ekspansi internasional dari keberhasilan Bayraktar TB2 dan AKINCI. Perusahaan itu melaporkan memperoleh pendapatan ekspor sebesar 2,2 miliar dolar AS pada 2025, sementara 88 persen dari total pendapatannya berasal dari pasar luar negeri. Baykar juga menyebut telah menandatangani kontrak ekspor dengan puluhan negara.

Data tersebut berasal dari perusahaan dan perlu dibaca sebagai laporan korporasi. Namun, besarnya porsi ekspor menunjukkan bahwa industri drone Turki tidak sepenuhnya bergantung pada pesanan pemerintah dalam negeri.

Pada tahap awal, daya tarik drone Turki terletak pada harga yang relatif terjangkau, kemudahan pengoperasian, serta kesediaan Ankara menjualnya kepada negara yang sulit memperoleh sistem serupa dari Amerika atau Eropa.

KIZILELMA membawa Turki menuju kelas pasar yang berbeda. Pesawat tempur nirawak bermesin jet, radar AESA, rudal BVR, sensor tertanam, dan senjata stand-off tidak lagi bersaing hanya dengan drone pengintai atau pembawa bom ringan. Platform itu mulai memasuki wilayah yang bersinggungan dengan jet tempur, loyal wingman, dan sistem udara tempur masa depan.

Artinya, Ankara sedang bergerak dari pemasok drone alternatif menjadi produsen arsitektur peperangan udara.

Pesan untuk NATO dan Indonesia

Bagi NATO, keberhasilan JET-230 memperlihatkan bahwa salah satu sumber teknologi drone paling aktif di dalam aliansi kini berada di Ankara, bukan hanya di Washington atau pusat-pusat industri Eropa Barat.

Hal itu memberi Turki daya tawar tambahan. Negara-negara NATO memerlukan drone dalam jumlah besar, sistem antidrone, rudal presisi, radar, dan kemampuan produksi cepat. Turki memiliki kapasitas untuk menawarkan sebagian kebutuhan tersebut ketika aliansi sedang meningkatkan pembelanjaan pertahanannya.

Bagi Indonesia, perkembangan KIZILELMA juga bukan kabar yang jauh. Pada Mei 2026, Republikorp Group dan Baykar menandatangani kesepakatan kerja sama pengembangan UCAV generasi baru yang berkaitan dengan KIZILELMA. Menurut keterangan yang diberitakan Antara pada Jumat (8/5/2026), kerja sama itu mencakup transfer teknologi, produksi dan integrasi lokal, fasilitas pemeliharaan, pengembangan sumber daya manusia, serta riset teknologi masa depan. Kesepakatan tersebut merupakan kerja sama pengembangan, bukan bukti bahwa Indonesia telah membeli sejumlah KIZILELMA.

Karena itu, uji JET-230 dapat menjadi gambaran mengenai jenis teknologi yang kelak berpotensi masuk dalam ruang kerja sama industri Indonesia-Turki. Namun, manfaatnya bagi Indonesia akan bergantung pada kedalaman transfer teknologi, akses terhadap perangkat lunak, hak integrasi senjata, kemampuan pemeliharaan, dan seberapa besar industri nasional dilibatkan, bukan semata-mata pada pembelian platform.

Turki belum menggantikan Amerika Serikat sebagai kekuatan udara dominan NATO. KIZILELMA juga belum membuktikan dirinya dalam pertempuran melawan pertahanan udara modern.

Tetapi Ankara telah memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada sebuah demonstrasi sesaat: konsistensi mengubah drone sederhana menjadi pesawat tempur nirawak, mengubah munisi jarak dekat menjadi rudal stand-off, serta mengubah industri yang pernah bergantung pada impor menjadi ekosistem yang mulai diperebutkan pasar dunia.

JET-230 yang melesat dari bawah sayap KIZILELMA membawa pesan yang lebih jauh daripada 120 kilometer. Di dalam NATO, Turki tidak lagi puas hanya menjadi negara dengan tentara terbesar kedua. Ankara ingin menjadi negara yang ikut menentukan seperti apa perang udara masa depan. (Eddy Nasrul)

  🛩
Republika  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...