Tampilkan postingan dengan label Masa Integrasi Timor Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Integrasi Timor Timur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2025

Kisah Intelijen Kopassus 100 Prajurit Berambut Gondrong Bergerak di Pedalaman Timor Timur

Satgas Intelijen Kopassus dipimpin Mayor TNI Yunus Yosfiah yang beranggotakan 100 personel berambut gondrong diturunkan di pedalaman Timor-Timur awal 1975. (Foto/Ist)

SATGAS Intelijen Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dipimpin Mayor TNI Yunus Yosfiah yang beranggotakan 100 personel diturunkan di wilayah pedalaman Timor-Timur (Timtim) pada awal 1975 silam.

Satgas ini dibagi menjadi tiga tim yang diberi sandi nama perempuan yakni, Susi, Tuti dan Umi. Setiap tim beranggotakan 100 personel sebagai bagian dari tim Operasi Flamboyan.

Tim Susi dipimpin Mayor Infanteri Yunus Yosfiah dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sunarto.

Sedangkan Tim Tuti dipimpin Mayor Infanteri Tarub dengan wakilnya Kapten Infanteri Agus Salim Lubis.

Sementara Tim Umi dipimpin Mayor Infanteri Sofian Effendi dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sutiyoso.

Satgas Intelijen Kopassus ini merupakan pasukan intelijen tempur dalam Operasi Flamboyan.

Ketiga tim tersebut disusupkan dengan penyamaran. Setiap personel memiliki ciri khas berambut gondrong, berpakaian sipil, kemeja dan celana jeans. Dilengkapi dengan topi dan selendang khas Timor Portugis.

Di kemudian hari, ketiga tim ini dikenal dengan sebutan The Blue Jeans Soldiers yang melegenda.

Letjen TNI (Purn) Sutiyoso mengabadikan perjuangannya dalam tugas di medan operasi Timor Timur dalam buku “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando”.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengisahkan ketika menjalankan tugas rahasia ke perbatasan Timor Portugis atau Timor-Timur (Timtim) yang saat ini disebut Timor Leste.

Sutiyoso yang saat itu berpangkat Kapten dipanggil Ketua G-1/Intelijen Hankam Mayjen TNI LB Moerdani untuk menjalankan tugas penting ke Timor Timur.

Dia ditugasi oleh LB Moerdani untuk memantau perkembangan situasi politik dan keamanan daerah tersebut yang semakin genting. Sutiyoso ditugaskan secara klandestin atau rahasia pra Operasi Sandiyudha terbatas yang kemudian dikenal dengan sandi Operasi Flamboyan.

 Nama Samaran
Semua anggota Satgas diberi nama samaran. Sebagai Kasi Intel Satgas, Sutiyoso memilih nama Manix. Nama tersebut terinspirasi dari film mata-mata. Hingga akhirnya Sutiyoso dikenal dengan panggilan Kapten Manix.

Tepat pada 27 Agustus 1975 Tim Umi yang dipimpin Mayor Infanteri Sofian Effendi dengan Wakil Komandan Kapten Infanteri Sutiyoso kemudian diterbangkan ke Kupang untuk selanjutnya ke Atambua, kota terdekat Indonesia ke Timor Portugis.

Setibanya di Atambua, upaya penyusupan yang rencananya dilakukan melalui Kefamenanu untuk menguasai Ambeno dibatalkan.

Hingga akhirnya Tim Umi diperintahkan melanjutkan perjalanan ke Motaain sebuah desa pantai di wilayah RI yang hanya berjarak 3 Km sebelah barat Kota Batugede, wilayah Timor Portugis.

Dalam situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya Tim Umi diperintahkan untuk menyusup jauh ke daerah pedalaman pegunungan di selatan Viquque.

Saya dan pasukan mungkin tidak dapat kembali setelah melakukan penyerangan Viquque yang terletak jauh dari basis. Tapi sebagai seorang prajurit, kita selalu siap melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya apapun risikonya,” kenang Sutiyoso.

Karena keterbatasan pasukan, Tim Umi saat di Kotabot kemudian dibagi dua, Tim Umi di bawah Mayor Inf Sofian Effendi menyusup ke Tilomar.

Sedangkan Tim Umi dipimpin Sutiyoso menyusup ke Suai. Inilah penyusupan terjauh saat Operasi Flamboyan.

Menjelang tengah malam, ketika mendekati Suai, pasukan kemudian dibagi dua mengingat ada dua sasaran yang menjadi target yakni markas polisi dan markas tentara.

Sutiyoso menyasar markas tentara. Sedangkan, pasukan kecil dipimpin Letnan Bambang bergerak menuju markas polisi.

Tepat pukul 01.00 waktu setempat, Sutiyoso memberi isyarat dengan melepas tembakan. Kedua tim kemudian secara serentak melakukan penyerangan ke markas polisi dan tentara.

Terjadi perlawanan sengit. Setelah pertempuran selama 20 menit, Sutiyoso melepas tembakan sebagai isyarat untuk mundur sesuai strategi hit and run.

Saat itu, Sutiyoso mendapat laporan Sersan Parman yang bertugas sebagai penembak roket launcher tertembak di kakinya. Begitu pula pembantunya Sarwono tertembak sehingga satu jari tangannya putus. Termasuk empat anggota lainnya yang tertembak.

Praktis upaya pergerakan Tim Umi yang dipimpin Sutiyoso untuk kembali ke Kotabot terhambat karena harus bertempur dan membopong empat anggotanya yang tertembak.

Di tengah kejaran pasukan musuh, pertempuran sengit terus terjadi. Sutiyoso dengan tiga anggota kemudian membopong mereka yang terluka sambil memanggul senjata.

Bahkan, anggota yang dipapah Sutiyoso meminta supaya dia ditinggal dan dibekali granat. Tapi Sutiyoso tidak tega.

Mereka terus bergerak. Sutiyoso bersama timnya belum makan. Rasa lapar dan haus mulai menyerang. Hingga di suatu tempat yang cukup aman, Sutiyoso kemudian membuka radio dan meminta dikirim bantuan helikopter.

Namun karena terbang terlalu tinggi sehingga isyarat kepulan asap yang dibuat Sutiyoso tidak terlihat. Tapi Sutiyoso tidak mau menyerah, Kolonel Dading kembali dihubungi untuk mengirim helikopter lagi.

Namun lagi-lagi helikopter tidak dapat melihat titik kepul asap yang dibuat pasukan Sutiyoso.

Akhirnya, Sutiyoso menembakkan pistol dengan tembakan isyarat warna hijau. Meski upaya tersebut berhasil. Namun hal itu juga membuat pasukan Fretilin mengetahui keberadaan pasukan Sutiyoso.

Di tengah serangan pasukan Fretilin, Sutiyoso meletakkan senjata dan ransel untuk membopong anggotanya yang terluka naik ke helikopter. Setelah berjuang keras, keempat anggota yang tertembak berhasil dievakuasi menggunakan helikopter.

Sutiyoso dan pasukannya kembali bergerak mencari jalan menuju perbatasan. Namun karena Fretilin sudah menyebar di mana-mana sehingga perjalanan yang semula direncanakan selama 10 hari harus ditempuh dalam waktu 15 hari.

Selama 5 hari Sutiyoso dan personel Tim Umi yang tersisa sudah kehabisan logistik. Ditambah lagi makanan tidak ada, begitu juga air minum. Di tengah keletihan, rasa lapar dan haus yang luar biasa itu, Sutiyoso tidak mau mengendorkan kewaspadaan.

Dalam upaya melepaskan diri dari kejaran Fretilin, Sutiyoso juga melarang anggotanya untuk melepaskan tembakan kecuali sangat diperlukan untuk mempertahankan diri karena peluru mereka masing-masing tinggal 20 butir dari semula 250 butir.

Sutiyoso bersama pasukannya bergerak menyusuri jalur pantai mengingat beberapa jalur telah di sekat oleh Fretilin. Satu per satu pasukannya bergerak pada malam hari.

Akhirnya mereka selamat sampai di perbatasan dan masuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua anggota pasukan selamat meski kondisinya terlihat amat kurus tak terkecuali Sutiyoso karena selama lima hari tidak makan. (shf)

  💥 sindonews  

Minggu, 30 Oktober 2022

Kisah Pertempuran di Natarbora

Dikepung Fretilin hingga 3 Anggota TNI Gugurhttps://pict.sindonews.net/dyn/732/pena/news/2022/10/30/14/926823/kisah-pertempuran-terberat-di-natarbora-dikepung-fretilin-hingga-3-anggota-tni-gugur-glb.jpgPertempuran di Natarbora, Timor Timur yang sekarang menjadi negara Timor Leste, diakui Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen merupakan pertempuran terberat. (Foto/Ilustrasi/SINDOnews)

Operasi pertempuran di Natarbora, Timor Timur yang sekarang menjadi negara Timor Leste, diakui Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen merupakan pertempuran terberat. Pasalnya dalam pertempuran melawan Fretilin tersebut, tiga anggota TNI gugur.

Seperti dikutip dari buku Kivlan Zen, Dari Fitnah Ke Fitnah, pria kelahiran 24 Desember 1946 ini menceritakan awal mula timnya terkepung di daerah rawa Natarbora, di pantai selatan Timor Timur.

"Pada 7 Juli 1987, kami mengisi logistik di tepi jalan antara Sungai Letter S melewati Barique dengan pengawalan di sebuah bukit di atas jalan," kata Kivlan Zen, Minggu (30/10/2022).

Pos pengintai melihat rombongan besar Fretilin dari Aituha melintas ke Gunung Aitana. Pos Kotis dan beberapa tim mengikuti rombongan besar itu ke arah Gunung Aitana selama tiga hari.

"Dukungan logistik menipis, maka bagi tim yang masih memiliki logistik berupa beras dan lauk kering, dikumpulkan dan diserahkan ke tim Letda Putut Winarno, Letd Suyono, Letda Syarifudin Harahap, Letda Raji'un, dan Sertu Chandra Hasan untuk tetap membuntuti rombongan besar Fretilin," jelas Kivlan.

Akhirnya rombongan tersebut menuju rawa Siwalan di Natarbora yang penuh sagu dan berdiam di sana. Berdasarkan info Tenaga Bantuan Operasi (TBO) asli orang Timor Timur yang menggunakan bahasa Tetun, terdengar suara teriakan Xanana ada di dalamnya.

"Semua tim yang mengisi dukungan logistik di selatan Barique siap menusuk dan menyerang rombongan Xanana dari arah barat rawa siwalan Natarbora," ucap Kivlan.

Kivlan dan Poskotis berada di dalam rawa bersama tim Putut Winarno Cs tidak bisa mengendalikan komunikasi dengan radio PRC 77 dengan lima tim yang membuntuti Xanana dan rombongannya.

Pada 8 Juli 1987 sekitar pukul 16.00 tiba-tiba 5 tim tersebut terkepung di rawa siwalan Natarbora. Sedangkan tim yang mengisi dukungan logistik di jalan raya Barique-Natarbora belum selesai mengisi logistik.

"Terjadi tembak-menembak di rawa yang rapat pohon siwalannya. Dua orang prajurit anggota tim Sertu Chandra Hasan gugur. Kejadian ini membuat Sertu Chandra Hasan marah dan ia berdiri menantang Fretilin," jelasnya.

"Karena posisinya berdiri, membuatnya menjadi sasaran tembak dan akhirnya Sertu Chandra juga gugur," tambah Kivlan.

Kivlan kemudian memerintahkan agar senjata dan radio jangan sampai direbut Fretilin. Sementara pasukan yang sudah mengisi logistik segera merapat memberikan bantuan kepada tim Putut Winarno Cs. Terjadilah pertempuran besar di rawa sagu melawan ribuan Fretilin sampai malam gelap.

"Baru kali ini aku mengalami pertempuran besar dibantu tembakan pesawat terbang, helikopter, tembakan Armed, dan tembakan kapal. Dari pihak Fretilin banyak yang meninggal selama perang tersebut," tuturnya.

Jenazah Sertu Chandra hasan dan 2 prajurit yang gugur dievakuasi ke Dili menggunakan helikopter untuk dimakamkan di TMP Dili.

"Selesai pertempuran besar itu, seluruh anggota Batalyon 303 melakukan pembersihan sampai ke pantai Lautan Hindia melalui rawa bakau dan bermalam di pantai," tutupnya. (maf)

 ♖
Sindonews  

Senin, 22 November 2021

Operasi Kuta

Taktik Membongkar Dokumen Rahasia PortugalJenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani bersama Danjen Kopassus Brigjen TNI Sintong Panjaitan. [Foto/Ist]

Revolucao dos Cravos atau Revolusi Anyelir pada 25 April 1974 di Portugal menjadi sorotan Jakarta. Bukan apa-apa, Portugal memiliki koloni yang juga tetangga Indonesia yaitu Timor Timur (dulu disebut Timor Portugis, kini Timor Leste).

Revolusi Anyelir menjadikan Portugal melepas beberapa koloni mereka, antara lain Angola dan Mozambik di Afrika. Soeharto melihat bukan tidak mungkin saat itu Portugal juga bakal memberikan kemerdekaan untuk Timor Timur.

Tak dimungkiri, meletusnya Revolusi Anyelir menjadikan situasi di Portugal mengalami perubahan drastis. Kudeta tak berdarah itu menentang rezim Caetano-Salazar yang disebut dengan kediktatoran otoriter (Estado Novo) atau negara baru yang membanggakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, namun sarat dengan penindasan.

Pemerintahan Salazar kemudian digantikan oleh Jenderal Spinola yang kemudian diangkat menjadi Presiden Portugal. Spinola mengusulkan program dekolonisasi untuk wilayah-wilayah jajahannya,” kata Daud Aris Tanudirjo dalam buku "Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 8", dikutip pada Senin (22/11/2021).

Revolusi Anyelir juga berdampak pada Timor Timur. Sebulan sejak terjadinya revolusi itu, sentimen rakyat bergolak saat Portugal melarang pembentukan partai politik pribumi. Ada tiga pilihan politik yang diberikan untuk rakyat Timor Timur: bergabung dengan persemakmuran yang dibentuk Portugis, meminta kemerdekaan penuh, atau bergabung dengan Indonesia.

Menurut Zaky Anwar dalam buku "Hari-Hari Terakhir Timor Timur: Sebuah Kesaksian", kebijakan dekolonisasi yang telah direncanakan oleh Portugal tidak mempunyai kesatuan konsep yang pasti. Hal ini mengakibatkan janji-janji untuk mengembalikan hak-hak sipil dan demokrasi, serta kebebasan membentuk partai politik di Timor Timur tidak sepenuhnya dapat dijalankan.

Perkembangan situasi di Timor Portugis semakin membingungkan. Jakarta terutama, menjadi semakin waspada ketika pada bulan Januari terjadi persetujuan antara kedua partai yang mendukung kemerdekaan: keduanya memusatkan oposisi terhadap Apodeti yang pro-Indonesia,” kata Ken Conboy, lulusan Georgetown University School of Foreign Service dalam bukunya "Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia".

Sebelumnya pada kuarta ketiga 1974, Jenderal Ali Moertopo telah membentuk suatu operasi intelijen yang lebih luas untuk Timor Timur. Dinamai Operasi Komodo, tim intelijen itu berisi selusin personel deputi III sipil dan militer yang ditugaskan ke Bakin. Sebagian beragama Katolik dan Protestan agar memiliki kesamaan latar belakang dengan kebanyakan penduduk Timor.

Namun, kata Ken, Operasi Komodo bukan satu-satunya. Seorang perwira intelijen senior pada Departemen Pertahanan dan Keamanan, Jenderal LB Moerdani , telah menyetujui operasi rahasia tandingan bersandi Flamboyan.

  Siasat Benny Moerdani di Operasi Kuta 

Merespons situasi di Timor Timur, Portugal mengirimkan atase militer mereka, Mayor Antonio Joao Soares. Laporan yang diterima Jakarta, Soares akan tiba pada 14 Agustus 1974. Dia transit sehari di Jakarta sebelum kemudian terbang ke Dili melalui Kupang.

Keesokan harinya atau pada 15 Agustus sebuah surat resmi dari Konsulat Portugal tiba di Jakarta. Surat ini memberitahu Soares akan menuju Kupang via Bali. Dari Kupang dia akan naik pesawat menuju Dili yang telah disediakan Gubernur Militer Timor.

Benny Moerdani yang sangat penasaran ingin mengetahui isi tas kerja sang mayor menugaskan Kolonel Dading Kalbuadi untuk mendapatkan akses. Benny memberikan tiga pilihan: mengambil tas secara paksa, melakukan penodongan pura-pura, atau melakukan aksi sulap,” kata Ken.

Dading mengambil opsi ketiga yaitu ‘memainkan aksi sulap’. Salah satu prajurit intelijen dalam Satsus Intel itu yakni Hans Hamzah. Menurut Ken, Hamzah merupakan sedikit dari anggota Satsus Intel yang seorang Tionghoa. Dia memiliki kemampuan hebat soal bahasa. Hamzah menguasai 6 bahasa dan ahli membuka kunci.

Aksi sulap pun dirancang. Hans Hamzah menyamar menjadi Kepala Cabang Maskapai Merpati Airlines ketika Soares berada di bandara, bersiap terbang ke Kupang. Saat Soares melapor, Hamzah berimprovisasi bahwa visa sang atase harus mendapat persetujuan dari imigrasi.

Praktis Soares berang dan menyebut dirinya sedang dalam misi diplomatik. Tetapi Hamzah bergeming. Dia lantas menawarkan bantuan untuk mengantar langsung Soares ke kantor imigrasi agar dapat cap pengesahan.

Soares melunak. Oleh Hamzah dia dibawa ke kantor Imigrasi menggunakan mobil dalam perjalanan 16 kilometer. Kepala kantor imigrasi telah setuju diajak bekerja sama soal ini. Begitu Soares datang, dia mempersilakan masuk ruangannya dan meminta untuk mengisi dokumen.

Hamzah menyarankan agar koper Soares ditinggal saat masuk ruangan. Untuk meyakinkan, dia menyebut koper itu akan dijaga petugas bersenjata. Soares awalnya ragu, tapi kemudian setuju.

Satsus Intel anak buah Dading Kalbuadi bergerak cepat. Hamzah dengan kelihaiannya membuka kunci koper. Semua dokumen lantas dipotret oleh anggota lain yang ahli fotografi. Pekerjaan itu dengan cepat dituntaskan.

Operasi ini kelak dikenal dengan Sandi Kuta. Keesokan harinya atau pada 17 Agustus, Dading dan anggota Satsus Intel kembali ke Jakarta dan menerima pujian atas kerja mereka.

Dokumen rahasia yang dibawa Mayor Soares mengonfirmasi bahwa Portugal berniat untuk melepaskan Timor Timur dan meninggalkan begitu saja. Salah satu surat penting memerintahkan agar sang Gubernur Militer Timor mengungsikan semua pasukan Portugal ke Ilhe de Atauor atau Pulau Kambing, sekitar 16 kilometer di utara Timor.

Pada 23 Agustus, petugas-petugas Konsulat Indonesia di Dili diungsikan melalui laut. Pada akhir bulan itu, personel pasukan khusus yang ditugaskan di Flamboyan mendapat izin memulai serangan militer lintas batas,” tutur Ken Conboy.

Dalam pandangan Rori Permadi, Indonesia melalui kekuatan ABRI masuk ke Timor Timur dengan dalih memulihkan situasi dan mencegah konflik berkepanjangan. Langkah itu tidak lepas dari konstelasi politik internasional di masa Perang Dingin.

Di masa ini ABRI mendapat persetujuan dari negara-negara Barat liberalis yang tidak ingin melihat Timor Timur merdeka di bawah pimpinan Fretilin dan berubah menjadi Cuba of Asia.

Negara-negara tersebut tidak menginginkan adanya kekuatan komunis yang dapat membahayakan pengaruh liberalis terutama di wilayah Asia Pasifik,” kata Rori dikutip dari buku "Disintegrasi Pasca Orde Baru: Negara, Konflik Lokal, dan Dinamika Internasional". (rca)
 

  sindonews  

Senin, 19 April 2021

☆ Kisah Pratu Suparlan, Habisi Puluhan Musuh Sendirian (1983)

Meski ditembak berkali-kali Pratu Suparlan tetap bertahan hidup hingga meledakkan diri dengan granathttps://cdn-2.tstatic.net/kupang/foto/bank/images/pratu-suparlan-kopasus.jpgPratu Suparlan © istimewa

Keberanian dan Kepahlawanan Pratu Suparlan ini berawal saat dia ditugaskan dalam operasi Timor Timur (saat ini Timor Leste) pada 9 Januari 1983. Kala itu, Suparlan yang tergabung dalam unit Nanggala L-II Kopassandha, pimpinan Letnan Poniman Dasuki tengah melakukan patroli di KV 34-34/Komplek Liasidi. Daerah tersebut sangat rawan karena merupakan sarang dari pemberontak Fretilin, sayap militer Timor Timur terlatih karena memiliki pengalaman perang di Angola, Mozambik dan sebagainya sehingga dikenal sangat sadis dan kejam.

Saat sedang berpatroli, tiba-tiba 300-an Fretilin lengkap dengan senapan serbu, GLM, mortir menghadang tim kecil yang tengah berpatroli tersebut. Kontak tembak antara pasukan kecil yang berjumlah 9 orang, terdiri dari 4 Kopassus dan 5 Kostrad dengan ratusan Fretilin pun terjadi. Pertempuran berlangsung tidak seimbang dimana Fretilin berada di ketinggian sedangkan Pratu Suparlan berada di pinggir jurang. Satu persatu anggota pasukan kecil ini gugur dimangsa peluru Fretilin.

Menyadari hal ini, Dantim kemudian memerintahkan pasukan untuk meloloskan diri ke celah bukit. Namun waktu yang tersedia hanya sedikit. Saat itulah, keberanian dan kepahlawanan Pratu Suparlan untuk menyelamatkan teman-temannya kemudian membuang senjatanya dan mengambil senapan mesin milik temannya yang telah gugur. Tanpa gentar sedikitpun, Pratu Suparlan menerjang ke arah musuh.

Saat bersamaan hujan peluru senapan mesin musuh juga mengoyak tubuh Pratu Suparlan, hingga baju lorengnya berubah warna menjadi merah karena darah yang mengalir dari tubuhnya. Bagai banteng ketaton, Pratu Suparlan mengamuk membalas dengan rententan peluru hingga amunisinya habis.

Bukannya roboh, Pratu Suparlan justru menghunus pisau komandonya lalu mengejar musuhnya ke semak belukar hingga berhasil menewaskan 6 pasukan Fretilin. Hingga tiba pada ambang kesanggupannya, Pratu Suparlan terduduk dan tak lagi mampu menggenggam pisau komandonya. Mengetahui prajurit Kopassus tersebut kehabisan daya, pasukan Fretilin mengerumuninya dan memberikan tembakan di lehernya.

Di antara sisa-sisa tenaganya, Pratu Suparlan mencabut pin granat yang diambil dari kantongnya. Sambil berteriak Allahu Akbar, Pratu Suparlan melompat ke arah kerumunan pasukan Fretilin di depannya. Ledakan keras membahana mengiringi robohnya puluhan prajurit komunis bersama seorang prajurit Kopassus bernama Pratu Suparlan. Sang Prajurit Komando itu gugur demi Ibu Pertiwi yang dicintainya.

 ♖ Sindonews  

Sabtu, 10 April 2021

Ketika 7 Orang Anggota Pasukan Langit Kostrad Hadapi Ratusan KKB

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2021/04/08/606e78fd4d570-viva-militer-anggota-yonif-para-raider-501-bajra-yudha_663_372.jpgIlustrasi Kostrad [youtube]

Salah satu satuan elite milik Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) yang kenyang dengan pengalaman tempur, adalah Batalyon Infanteri Lintas Udara 501/Bajra Yudha (Yonif Linud 501/BY). Ada sebuah kisah menegangkan saat sembilan anggota Yonif Linud 501/BY dikepung ratusan pemberontak.

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, sembilan orang anggota satuan elite yang kini bernama Yonif Para Raider 501/Bajra Yudha (Yonif PR 501/BY), untuk menjemput dan mengawal Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kala itu, Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani.

Saat itu, perintah datang dari Wakil Komandan Yonif (Wadanyon) Linud 501/BY, Mayor Inf Wibisono, kepada Sersan Dua (Serda) Trilis, 9 Maret 1984.

Setelah perintah datang, Serda Trilis membawa delapan orang lainnya untuk ikut bersamanya menjemput Benny Moerdani. Trilis beserta anak buahnya menaiki empat kendaraan, untuk menjemput Moerdani di Distrik Viqueque.

Bukan perkara mudah untuk mencapai Distrik Viqueque. Sebab, Trilis dan delapan pasukan Yonif Linud 501/BY harus melewati hutan belantara dan jalan tanah. Belum lagi, ancaman dari anggota kelompok pemberontak Front Revolusi Kemerdekaan Rakyat Timor-Leste (Fretilin).

Benar saja, pada 10 Maret 194 sekitar pukul 04.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA) sembilan orang anggota Yonif Linud 501/BY itu dikepung ratusan milisi Fretilin. Tanpa basa-basi, para anggota pemberontak itu pun langsung menembaki kendaraan berikut sembilan orang prajurit TNI itu.

Serda Trilis tewas akibat terkena tembakan. Mengerahui pimpinannya tewas, delapan orang prajurit TNI lainnya pun turun dari kendaraan dan membalas tembakan milisi Fretilin. Sayang, beberapa saat kemudian Prajurit Satu (Pratu) Imam juga tewas.

Tujuh orang anggota Yonif Linud 501/BY yang tersisa, tetap mencoba bertahan. Di sisi lain, anggota Fretilin yang unggul jumlah meneriakkan perintah untuk menghabisi para prajurit TNI yang tersisa.

Ratusan anggota Fretilin semakin bergerak maju hingga jarak dengan pasukan Yonif Linud 501BY tinggal berjarak 10 meter. Siapa sangka, saat maut hendak mendatangi ketujuh prajurit TNI Angkatan Darat itu, tembakan mortir meledak dan menewaskan beberapa anggota Fretilin.

Ternyata, tembakan mortir itu datang dari helikopter milik Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang datang dari udara. Seketika ratusan anggota Fretilin jadi sasaran empuk tembakan udara helikopter Korps Marinir. Ratusan anggota Fretilin tercerai berai dan lari tunggang langgang masuk hutan.

Pada akhirnya, ketujuh orang anggota Yonif Linud 501/BY berhasil selamat dari kepungan anggota Fretilin. Ketujuh prajurit dan jenazah dua orang anggota Yonif Linud 501/BY kemudian dievakuasai ke Kalikai.

 ♖ Vivanews  

Kamis, 23 Maret 2017

“Merica, Lontong dan Nangka” dari “Kampret”

Di Operasi Timor TimurOV-10F Bronco yang diterbangkan Kapten Yuni Purworiadi saat membawa Kapten Soenyoto yang bertugas mendokumentasikan operasi udara di Timor Timur. [Kolonel (Pur) Soenyoto]

Kampret berarti kelelawar. Namun di kalangan TNI AU, Kampret adalah sandi bagi pesawat tempur taktis OV-10F Bronco milik TNI AU yang melaksanakan Operasi Udara Tempur Taktis di Provinsi Timor Timur (Timtim) pada awal 1980-an.

Lazimnya dalam sebuah operasi militer, nama resmi Bronco yang arti sebenarnya adalah anak kuda, tidak digunakan. Dalam operasi ini Bronco dipanggil Kampret.

Hari itu di apron Lanud Bacau, Timtim para teknisi TNI AU tengah menyiapkan sebuah OV-10F. Kegiatan dilakukan menyusul laporan dari garis depan yang menyatakan bahwa gerilyawan Fretilin yang diberi sandi Celeng semakin meningkatkan kegiatannya di perbukitan untuk merampas logistik dan senjata ABRI.

Kapten Inf Prabowo Subianto dari unsur TNI AD terlihat berbincang dengan para perwira ABRI lainnya.

Sambil berjalan menuju pesawat, Kapten Soenyoto yang bertugas di Dinas Penerangan TNI AU, mendapat penjelasan dari penerbang OV-10F Kapten Pnb Yuni Purworiadi.

Ia menjelaskan bagaimana saya menjadi “penerbang” yang akan duduk di kursi belakang. Kampret memiliki dua kokpit tandem, di mana Soenyoto akan duduk mengikuti misi operasi. Penerbang itu menjelaskan pula bagaimana cara meninggalkan pesawat menggunakan kursi lontar (ejection procedure) bila dalam misi itu Bronco tertembak.

Sebagai personel Dispenau yang akan mendokumentasikan Operasi Tuntas di Timtim, Soenyoto membawa “senjata” berupa kamera video Panasonic berbobot empat kilogram dan sebuah kamera foto.

Pasukan di darat sudah melihat Kampret belum?” tanya Kapten Yuni Purworiadi melalui radio kepada kompi-kompi tempur di darat saat pesawat mulai terbang menuju sasaran.

Hutan sangat lebat sehingga pemandangan dari dalam kokpit Bronco tertutup barisan pepohonan. Baik Kapten Yuni maupun Soenyoto tidak mampu melihat gerakan pasukan darat.

Kami belum melihat Kampret, baru dengar suaranya saja,” jawab pasukan di darat.

OV-10F kembali berputar mengulangi rute awal dan menambah sedikit ketinggian terbang.

Oke, kami sudah melihat Kampret, maju saja terus ke arah pohon besar di depan,” timpal pasukan darat.

Kampret saat itu terbang membawa Merica (sandi untuk peluru senapan mesin kaliber 7,62mm, Lontong (sandi untuk roket FFAR), dan Nangka (sandi untuk dua bom di bawah sayap).

Di mana Celeng-nya?” tanya pilot yang kemudian dijawab pasukan darat mereka berada di bawah pohon besar di depan.

Oke, sekarang saya sudah melihatnya,” lanjut Kapten Yuni.

Para Celeng bergerak dalam kelompok kecil dua-tiga orang. Mereka biasanya menyerang dengan tiba-tiba dan setelah itu lari. Gerakan mereka cepat karena sudah menguasai medan.

Fisik mereka juga sangat kuat. Tanpa mengenakan sepatu mereka bisa bergerak cepat di medan berbatu tajam. Untuk menghambat gerak Celeng, pasukan darat memagarinya dengan teknik pagar betis dibantu operasi udara taktis seperti yang sedang dilakukan si Kampret ini.

Setelah jarak Bronco terhadap pohon besar sudah dekat, OV-10F kemudian terbang menukik disusul ucapan Kapten Yuni, “Ini saya kirimkan Merica untuk Celeng-celeng itu. Laporkan hasilnya!

Sambil terus menukik OV-10F memberondongkan senapan mesin satu rentetan. Setelah itu pilot melakukan pull-up 60 derajat secara tiba-tiba. Kamera video yang dipegang Soenyoto pada saat pull-up bertambah menjadi 20 kg. ini terjadi karena tekanan gravitasi sekitar %G mengakibatkan bertambahnya beban lima kali lipat.

Kampret, bagus sekali. Terus lakukan seperti itu sampai Celeng kocar-kacir,” teriak pasukan darat.

OV-10F pun mengulangi lagi lintasan penerbangan seperti penembakan pertama. “Oke, ini Merica lagi, lebih banyak,” kata pilot. Setelah itu terdengar lagi rentetan tembakan yang lebih panjang ke arah pohon besar di bawah.

Pada lintasan Kampret yang ketiga Kapten Yuni memberi aba-aba lagi kepada pasukan darat. “Sekarang saya kirimkan Lontong.” Setelah itu pesawat menukik lagi dan terlihat dari sayap kiri dan kanan roket FFAR melesat dengan suara mendesis.

Dua roket mengarah ke pohon besar di arah depan dan setelah itu hilang dari pandangan karena Kampret melakukan pull-up.

Terdengar di radio pesawat suara sorak sorai pasukan darat yang tentunya menyaksikan bagaimana para Celeng kocar-kacir karena dilempari Lontong.

Pusing ya Pak Nyoto? Kalau mau muntah, muntah saja, kan bawa kantong plastik,” Yuni memberi instruksi kepada Soenyoto yang merasa lemas.

Baguslah kalau tidak pusing. Kita lanjutkan lagi satu lintasan untuk mengirim Nangka,” kata Kapten Yuni.

Di lintasan ketujuh yang menjadi lintasan terakhir sebelum kembali ke Lanud Baucau, Kampret mengirim dua Nangka ke sasaran.

Bom seberat 250 kg itu sebagai salam perpisahan kepada para Celeng. “Saya kirimkan dua Nangka. Awas jangan dekat-dekat pohon besar itu,” ujar Kapten Yuni kepada pasukan di darat.

Kampret menukik lagi dan melepaskan dua bom 250 kg dari sayap kiri dan kanan. Setelah itu Kampret melakukan pull-up dan terdengar suara gemuruh ledakan bom.

OK, Kampret pulang. Tolong laporkan hasilnya,” pinta Yuni kepada pasukan darat.

Tak lama berselang kami pun mendarat di Lanud Baucau. Saat kanopi pesawat dibuka, pertanyaan pertama para teknisi kepada Soenyoto adalah soal muntah.

Muntah tidak?” tanya mereka tak sabar. “Oh, tidak. Biasa saja,” jawab Soenyoto dengan sedikit menyombongkan diri.

Namun, ketika para teknisi meminta Soenyoto untuk turun dari pesawat, ternyata Soenyoto tak bisa mengangkat kedua kaki untuk berdiri akibat dengkul terasa lemas sekali.

Aduh, tunggu sebentar ya. Kaki masih lemas nih tidak bisa diangkat karena tujuh kali pull-up,” ujarnya.

Author: Kolonel (Pur) Soenyoto/Remigius S.

   angkasa  

Rabu, 14 Desember 2016

Kisah Heroik Tim Sadelor Para Raider-305

Saat Operasi di Timor-Timur [Pen. Kostrad] ★

D
i balik nama besar Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider-305/‘Tengkorak’, terdapat sebuah kisah heroik nan mambanggakan dari ‘Tim Sadelor’ yang dipimpin Serda Paidjan saat menjalankan Operasi di Timor-Timur. Nama ‘Sadelor’ merupakan akronim dari ‘Satuan Delapan Orang’, dan keberhasilan tim ini menjalankan tugas mampu menginspirasi prajurit-prajurit lainnya di satuannya, Yonif Para Raider-305.

Alkisah, bermula saat Paidjan lulus pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) Kilat Infanteri Kostrad (Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat) pada tahun 1987. Saat itu, banyak yang meremehkan prajurit-prajurit yang lulus dari Secaba yang disebut ‘Secaba Timun’ ini.

Merasa tertantang, Paidjan kemudian bertekad untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang-orang yang meremehkan lulusan Secaba adalah sebuah pandangan yang salah.

Beberapa bulan kemudian Yonif Para Raider-305/Tengkorak mendapat perintah untuk melancarkan Operasi di Timor-Timur, dan Paidjan. Saat itu Batalyon ini dikomandani oleh Letkol Inf. Amir Abdul Kadir dan Mayor Inf. Adam Damiri sebagai Wakilnya.

Saat melaksanakan latihan pra-tugas, terbersit di pikiran Paidjan untuk mewujudkan tekadnya, membuktikan bahwa lulusan Secaba angkatannya bukan Secaba Timun. Namun ia pun tak sendiri, Paidjan dibantu oleh beberapa orang rekannya.

Muncul ide untuk membentuk satuan kecil yang andal untuk menjadi tim pemukul Batalyon Tengkorak dalam melaksanakan Operasi tersebut, walaupun pada saat itu Batalyon ini telah membentuk tim khusus yang dipimpin Kapten Inf. Joko Setiono dengan nama ‘Tengkorak’.

 Berangkat Ke Medan Pertempuran 

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Batalyon ini pun akhirnya diberangkatkan ke medan pertempuran menggunakan Kapal TNI Angkatan Laut (AL).

Demi mewujudkan tekadnya, akhirnya Paidjan bersama tujuh orang rekannya memberankan diri untuk meminta persetujuannya kepada Danyon dan Wadanyon tentang idenya untuk membentuk satuan pemukul guna mendukung kesuksesan misi Batalyon ini di medan laga.

Ide Paidjan untuk membentuk tim pemukul terinspirasi dari Yonif Para Raider-502, yang pernah membentuk tim pemukul dalam satuan kecil yang tenar dengan nama ‘Dua Belas Jagoan’ dan terbukti efektif.

Sementara itu, tim pemukul yang dikomandoi Paidjan berjumlah delapan orang yang memiliki tekad yang sama, kesatuan hati, memiliki kapabilitas dan siap untuk menderita.

Melalui diskusi dan perbincangan, akhirnya Danyon pun menyetujui usulan Paidjan. Keputusan Danyon didukung oleh para Danki (Komandan Kompi) yang merelakan anggotanya bergabung dengan Paidjan.

Bukan sembarang tim, Tim Sadelor berisikan prajurit-prajurit yang andal pada bidangnya masing-masing. Paidjan dipercaya oleh rekan-rekannya sebagai Komandan Tim sekaligus sebagai penembak runduk. Sertu Beni Indik M dan Serda Saikan memiliki kecakapan pada bidang kesehatan/medis. Serda Suhardi berperan sebagai penembak sekaligus supir. Koptu Waras Suwardi, Koptu Siswandi dan Kopda Sutrisno berperan sebagai tayanrad. Tak ketinggalan Kopda Wasis juga ikut andil dalam tim ini.

 Patahkan Mitos 

Meskipun banyak yang meragukan dan memandang sebelah mata tim yang dibentuk Paidjan, namun Tim Sadelor berhasil mematahkan anggapan remeh tentang mereka. Terbukti setibanya di Dili dan berkumpul di Baucau, tim Sadelor pun mampu lakukan gerak penyisiran ke arah pos masing-masing.

Tim Sadelor menjadi tim yang pertama memperoleh hasil, yakni satu pucuk Mousser, satu GPK tewas dan satu GPK lainnya berhasil ditawan. Tak putus sampai di situ, disusul dengan pertempuran perjumpaan (purpa), tim ini kembali menawan satu GPK dan satu pucuk senapan Getmi.

Keberhasilan Tim Sadelor dalam menaklukkan lawannya sontak menjadi inspirasi bagi tim lainnya. Banyak Dantim yang kemudian bertanya-tanya dan berdiskusi dengan Paidjan mengenai taktik dan teknik yang ia jalankan sehingga tim yang ia bentuk meraup keberhasilan dalam operasi tersebut.

Berkat adanya Tim Sadelor, Yonif Para Raider-305 menjadi Satuan yang memperoleh hasil nyata terbanyak dalam penugasan di Timor-Timur kala itu. [Majalah Darmaputra]

  Angkasa  

Sabtu, 02 Januari 2016

Kisah pasukan elite TNI AU

Selamatkan brankas BI & uang miliaran Ilustrasi Pasukan Paskhas di Timor Timur [TNI AU}

P
ara prajurit TNI yang bertugas di saat-saat terakhir lepasnya Timor Timur, punya banyak kisah menarik. Selain mempertaruhkan nyawa, hati mereka pun remuk redam menyaksikan Provinsi ke-28 Indonesia itu akan lepas.

Salah satu momen yang belum banyak diketahui adalah saat pasukan elite TNI AU menyelamatkan brankas uang milik Bank Indonesia di Dili. Saat itu aksi bumi hangus dan jarah menjarah di Dili nyaris tak bisa dikendalikan. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1999.

Wakil Gubernur Dili, Marsma TNI Musiran didatangi oleh seorang pegawai Bank Indonesia. Pegawai itu meminta agar brankas BI segera diselamatkan. Sudah ada upaya beberapa orang yang mencoba membongkarnya paksa. Bahkan dengan menembaki brankas tersebut. Untungnya belum bisa dibuka.

Cerita itu tertuang dalam buku Biografi Marsma (Pur) Nanok Soeratno, Kisah Sejati Prajurit Paskhas yang ditulis Beny Adrian dan diterbitkan PT Gramedia.

Singkat cerita Musiran meneruskan permintaan itu. Disusunlah satu operasi untuk membawa uang milik negara dengan pesawat Hercules keluar dari Dili.

Berapa jumlah uang milik BI itu? Tak diketahui pasti, tapi diperkirakan jumlahnya sangat besar. Untuk mengangkutnya saja butuh dua kali penerbangan Hercules.

Ada yang menyebut uang itu memang sengaja disiapkan pemerintah untuk menghadapi kemungkinan jika pihak Pro-Integrasi menang. Tapi semua hanya dugaan. Pihak TNI AU yang ditugaskan tak banyak bertanya.

Pada hari yang ditentukan, tibalah truk-truk sewaan ke Bandara Komoro Dili. Sekeliling area sudah dijaga. Para personel Paskhas, pasukan elite TNI AU ikut memasukkan peti-peti kayu itu ke dalam pesawat Hercules.

Kapten Psk Eka Bagus menjadi saksi peristiwa itu. Dia dan pasukannya awalnya tak tahu apa isi kotak-kotak kayu tersebut.

Namun tiba-tiba sebuah peti tak sengaja terjatuh. "Braaak!!" Alangkah kagetnya Eka saat isinya ternyata lembaran uang yang masih dalam kondisi baru.

"Masya Allah," kata Eka kaget.

Tindakan pertama yang dilakukannya adalah meningkatkan pengamanan di sekitar Bandara. Tentu sangat berisiko jika ada yang tahu ada duit miliaran rupiah di sana.

Evakuasi brankas dan uang milik BI itu sukses digelar dari Bandara Komoro. Eka dan pasukannya tak tahu lagi kisah selanjutnya. Mereka hanya tahu uang itu kemudian diterbangkan ke Kupang.

"Harusnya BI berterima kasih pada TNI AU," kata Marsma Musiran.

  merdeka  

Minggu, 20 Desember 2015

☆ Janji Mayjen Benny Moerdani pada AS sebelum TNI gempur Dili

Operasi Militer Seroja 1975Ketika Jenderal Benny merapat ke Dili ©2015 buku hari "h": 7 desember 1975

6 Desember 1975, Presiden Soeharto menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat Gerald Ford. Salah satu yang mendapat pembahasan utama adalah kekalahan AS dalam perang Vietnam.

Saat itu dunia meyakini adanya 'efek domino'. Jika satu negara non-komunis jatuh ke tangan komunis, maka negara di sekitarnya akan ikut pula menjadi komunis. Hal ini terbukti setelah Vietnam, Kamboja pun jatuh ke tangan Khmer Merah.

Presiden Soeharto memaparkan kondisi di Timor Portugal. Sejumlah partai kiri menguasai negara bekas jajahan Portugis tersebut. Indonesia mengisyaratkan akan menggunakan kekuatan militer untuk mencegah negara itu jatuh ke tangan komunis dan menjadi pangkalan Uni Soviet di Asia Tenggara.

Tidak ada sanggahan dari Presiden Gerald Ford. Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbitkan Kata.

Namun Menlu AS Henry Kissinger meminta agar Indonesia tak menggunakan alutsista buatan AS. Termasuk pesawat C-130 Hercules yang menjadi andalan TNI AU untuk menerjunkan satu brigade pasukan elite Angkatan Darat.

"Kalau tidak ada Hercules, apa ada alternatif lain?" balas Menlu Adam Malik.

Di tempat lain Istana Merdeka, Kepala National Security Council Letnan Jenderal Brent Scowcroft menggelar pertemuan dengan Asisten Intelijen Hankam/ABRI Mayor Jenderal Benny Moerdani. Masalah yang dibahas sama, pertanyaan Jenderal Scowfort pun sama.

"Do we have other choice?" jawab Benny, sama seperti jawaban Adam Malik pula.

Saat itu kekuatan TNI AU memang sangat terbatas. Pesawat canggih era 1960an seperti MiG dan TU-16 tak bersisa satu pun gara-gara Indonesia memutuskan hubungan dengan Blok Timur.

Selesai pertemuan sekitar pukul 11.30 WIB, Presiden AS meninggalkan ruangan. Menlu Kisinger berbicara pada Benny.

"Timor adalah masalah kalian, tapi lakukan penyerbuan setelah pesawat kepresidenan AS meninggalkan wilayah udara Indonesia," pesan Kisinger.

Benny menyanggupinya. Penyerbuan itu memang direncanakan kurang dari 24 jam setelah Presiden AS meninggalkan Indonesia.

Di bandara yang sama dengan pesawat AS tinggal landas, Pasukan Nanggala dari Grup I Kopassus sudah bersiap naik Hercules. Mereka akan terbang ke Madiun untuk bergabung dengan Batalyon 501 Linud Kostrad.

Benny sempat memberikan briefing pada para perwira yang akan berangkat.

"Para perwira, saya serahkan perebutan Dili pada kalian. Saya percaya kalian akan berhasil, tetapi saya tahu di antara kalian ada yang akan gugur besok," kata Benny dingin.

7 Desember 1975, pasukan gabungan Nanggala dan Batalyon 501 Linud Kostrad diterjunkan di atas Kota Dili. Operasi Lintas Udara itu tercatat sebagai penyerbuan terbesar di Asia Tenggara.

Benny benar. Dili bisa direbut hari itu juga. Namun 19 anggota Kopasandha dan 35 prajurit Yonif Linud 501 gugur pada invasi hari pertama. Perang gerilya di Timor Timur terus berlanjut hingga puluhan tahun kemudian.
 

  merdeka  

Sabtu, 19 Desember 2015

Cerita di balik Operasi Seroja

Ada buaya dan hansip tak nyata https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqvYCyhclZzbnYwdGmoUu2CKxsQW_ZtVzDQgSpWRZZg7fIHZWcuTltQVSu4rotDU42YKl9N6_8QGJKbQvCDzBO5kLvMnrfHhEVuto6gyNovUue1Vv3Yq4sLY4cYFxnvJlELf_Z6K4I0fVO/s1600/cerita-di-balik-operasi-seroja-ada-buaya-dan-hansip-tak-nyata.jpgLuhut Pandjaitan di Timor-Timur. ©facebook.com/Luhut Binsar Pandjaitan

Operasi Seroja di Kota Dili, Timor-Timor pada 1975 silam menyisakan berbagai cerita menarik bagi para prajurit. Bermodalkan informasi tidak utuh pasukan Kopassus berhasil menjalankan tugasnya.

Mantan Komandan Grup Satu dan Komandan Satuan Tugas Nanggala V, Letnan Jenderal Sugito mengaku sulit melupakan momen penerjunan di Kota Dili. Dia ingat betul informasi yang diberikan intelijen sempat buatnya kalang kabut saat berada di medan perang.

"Informasi mengenai musuh, medan sangat terbatas. Keterangan mengenai medan banyak yang salah. Terdapat sungai Komoro selalu banjir, banyak buaya, dan binatang berbisa ternyata kering dan tidak ada apa-apa," kenang Sugito dalam acara peringatan 40 tahun penerjunan di Kota Dili, di Mako Kopassus, Jakarta, Senin (7/12).

Apalagi, kata dia, informasi mengenai kekuatan dan senjata yang digunakan musuh tak diberikan pada Satuan Intelijen Pertahanan dan Keamanan. Selain itu, pasukan yang dipimpinnya juga tak diberikan informasi detail mengenai sepak terjang musuh.

"Yang dikatakan hanya tidak perlu takut. Karena yang dihadapi kira-kira di sana setara hansip," ujar dia.

Menurut dia, operasi ini sebuah tragedi kemanusiaan lantaran banyak prajurit yang gugur dalam medan perang. Mereka diberikan tugas pokok untuk merebut tiga titik yaitu, pusat pemerintahan Kota Dili, pelabuhan dan bandara udara.

"Selama persiapan kami lakukan latihan secara sederhana. Kondisi pasukan terbatas dan kekurangan. Walau demikian latihan dilakukan oleh seluruh anggota dengan semangat dan kesungguhan yang tinggi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada," jelasnya.

Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan juga memiliki kenangan yang tak bisa dilupakan saat operasi Seroja. Dia masih ingat betul momen terbang selama enam jam dari Lanud Iswahyudi, Madiun menuju Kota Dili, Timor-timor.

Dari ceritanya, saat itu para prajuritnya sampai harus menahan buang air. Tapi ada saja yang tidak sanggup menahannya.

"Kami di pesawat terbang hampir enam jam. Mungkin maaf banyak yang buang air kecil di celana, buang air besar di celana," kata Luhut saat peringatan 40 tahun penerjunan di Kota Dili di Mako Kopassus, Jakarta, Senin (7/12).

Prajurit Kopassus dihadapkan pada situasi yang menuntut kesiagaan. Saat hendak terjun dari pesawat, musuh langsung mengarahkan tembakan ke prajurit Kopassus.

"Ada tembakan, pesawat belok. Ada (prajurit) yang masuk di laut. Ini suatu momen yang benar-benar membuat kita teringat semua bagaimana operasi dilakukan. Gagah berani, tapi tidak terencana dengan baik," ujar Jenderal (HOR) Purnawirawan ini.

Luhut juga menggambarkan kelelahan prajuritnya yang setiap hari harus menggendong ransel seberat 35 kilogram, lengkap dengan persenjataan. Mantan komandan Kompi A Satgas Nanggala V di Kota Dili ini meminta para perwira saat ini mengambil pembelajaran dari tugas militer pendahulunya.

"Ini pembelajaran mungkin bagi para perwira yang masih sekarang berkarya, perencanaan satu operasi harus dilakukan dengan baik. Hal itu tidak kami dapatkan," tandasnya.

 ♖ merdeka  

Jumat, 18 Desember 2015

Cerita prajurit Kopassus tak dapat pelayanan untuk operasi Seroja

Operasi Seroja di kota Dili Operasi Seroja 1975

Mantan Komandan Satuan Tugas Nanggala V Letjen TNI (Purn) Soegito menceritakan kenangannya saat penerjunan dalam rangka operasi Seroja di Kota Dili, Timor Timur pada 1975 lalu. Salah satu momennya, yaitu prajurit Kopassus sekitar 263 orang tidak mendapatkan pelayanan dan perawatan untuk berperang.

"Pada siang hari Sabtu 6 Desember 1975, seluruh anggota Nanggala V berada di Lanud Iswahyudi di Madiun. Mereka harus menunggu sampai mau dibawa ke sasaran. Di Lanud tidak mendapat perawatan dan pelayanan yang semestinya untuk bertempur. Untuk makan kita 263 orang, petugas Nanggala harus mencari dan beli sendiri di seluruh rumah makan di Madiun," kata Soegito di Mako Kopassus, Jakarta, Senin (7/12).

Tak hanya itu, dirinya juga meminta uang lauk pauk prajurit untuk bisa melaksanakan latihan. "Sungguh sangat menyedihkan saya sebagai komandan harus melakukan tindakan yang tidak populer menarik uang lauk pauk anggota," kata dia.

"Selama persiapan kami lakukan latihan secara sederhana. Kondisi pasukan terbatas dan kekurangan. Walau demikian latihan dilakukan oleh seluruh anggota dengan semangat dan kesungguhan yang tinggi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada," sambung dia.

Para prajurit harus membawa parasut, senjata lengkap, payung cadangan dan tas ransel seberat 38 kilogram. Hal itu membuat prajurit kelelahan di dalam pesawat Hercules dengan perjalanan selama 6 jam menuju Dili.

"Sekitar pukul 10 malam, anggota harus masuk ke pesawat. Akan diterjunkan pukul 04.30 WIB atau 5.30 waktu setempat. Bisa dibayangkan bagaimana nikmatnya duduk berdesakan di lantai pesawat terbang selama 6 jam, dengan dibebani payung utama, cadangan, senjata lengkap dan ransel berisi perbekalan sebesar 35 kilogram di bawah payung cadangan. Tentu itu meninggalkan perasaan letih dan pasrah," kenang dia.

Lebih jauh, dia menceritakan hendak melakukan penerjunan, sontak para prajurit kaget adanya suara senjata musuh serta peluru menyasar di tubuh. Sementara salah satu crew pesawat tewas tertembak oleh musuh.

"Kaget melihat musuh yang dianggap katanya setara hansip. Namun alhamdulillah tiga jam setelah penerjunan, tiga sasaran dapat diduduki. Diketahui hari itu Mayor Atang, Muji Raharjo tertembak leher. Sementara 13 orang anggota gugur, 5 orang anggota hilang diyakini mereka tercebur di laut. Karena dua jenazah didapati di pantai Dili. 72 batal terjun, ke Kupang," kata dia yang dulu masih berpangkat Letkol. [hhw]

  merdeka  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...