Tampilkan postingan dengan label BUMNIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUMNIS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juli 2026

Prabowo Ungkap PT PAL, Pindad, PTDI Nyaris Dijual ke Asing

KRI BPD 322 frigate pertama PAL (PAL)

Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan strategis yang bergerak di industri pertahanan sempat ingin dijual ke pihak asing.

Ia secara khusus menyebut tiga perusahaan industri pertahanan, yakni PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

"Banyak sekali perusahaan yang seolah-olah tadinya mau dijual, tadinya mau dijual ke asing. Saya larang! Tadinya industri pertahanan yang mau dijual, PT PAL, mau dijual, PT Pindad mau dijual, PTDI mau dibunuh, mau dijual, kita bangkitkan! Sekarang kita akan bangkitkan semua perusahaan-perusahaan itu," kata Prabowo saat meresmikan lima bendungan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026).

Prabowo kemudian memaparkan perkembangan industri pertahanan nasional yang disebutnya mulai menunjukkan hasil. Menurut dia, PT PAL kini telah memiliki kemampuan membangun berbagai kapal perang modern, termasuk kapal selam.

"PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal-kapal perang yang hebat-hebat. PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal selam. PT PAL akan bikin kapal-kapal canggih," ujarnya.

Sementara itu, PT Pindad disebutnya baru memperoleh kontrak ekspor dari Arab Saudi untuk penyediaan senjata.

"Pindad sekarang baru saja saya dapat laporan dapat kontrak dari Arab Saudi. Semua senapan dan senapan mesin tentara Arab Saudi akan dibangun oleh PT Pindad. Senjata kita teruji," kata Prabowo.

Meski demikian, Prabowo tidak menjelaskan lebih lanjut kapan rencana penjualan BUMN strategis tersebut sempat muncul maupun pihak yang dimaksud akan menjadi calon pembelinya.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengatakan pemerintahannya telah menutup 240 BUMN bermasalah. Jumlah itu akan bertambah hingga 250 perusahaan pada akhir Juli 2026, hingga 800 BUMN yang tidak efisien.

"31 Desember 2026 akan tutup jumlahnya 800 BUMN yang tidak efisien, yang tidak pernah untung, yang merugi terus, kita tutup," kata Prabowo.

Menurutnya, langkah tersebut telah menghasilkan efisiensi anggaran yang signifikan. Pemerintah mengklaim berhasil menghemat hampir Rp 70 triliun hanya dari pengurangan biaya operasional dan gaji direksi perusahaan-perusahaan yang ditutup.

"Dari gaji direksi saja sampai sekarang, overhead dan gaji kita sudah bisa menghemat mendekati Rp 70 triliun. Rp 70 triliun sudah kita hemat, saudara-saudara," ujarnya. (mkh/mkh)

  📝  CNBC 

Kamis, 11 Juni 2026

PT PAL Siapkan Empat Kapal Raksasa Tahun Ini

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian dan kapal LPD pesanan Filipina merupakan 2 kapal yang akan diluncurkan tahun ini di Surabaya (PAL)

PT PAL Indonesia menandai lima tahun perjalanan transformasi Industri Maritim 4.0 (IM4) dengan capaian sejumlah proyek strategis nasional dan target peluncuran empat kapal berukuran besar pada tahun 2026 ini.

Kaharuddin Djenod Direktur Utama PT PAL Indonesia mengatakan, transformasi yang dijalankan sejak 2021 itu untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dan mempercepat penyelesaian berbagai proyek strategis nasional.

“Kami telah tunjukkan bahwa insan-insan PT PAL mampu bersatu dan membangun bersama dalam satu kekuatan yang luar biasa. Kami berhasil menghasilkan Frigate Merah Putih, menghasilkan Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT), dan tahun ini kita akan melaunching empat kapal raksasa,” katanya, Minggu (7/6/2026).

Ia menjelaskan, percepatan pengerjaan proyek-proyek tersebut tidak lepas dari implementasi transformasi IM4 yang berfokus pada modernisasi proses bisnis, peningkatan efisiensi produksi, dan penguatan daya saing industri maritim nasional.

Tidak hanya berdampak pada perusahaan, ia mengatakan bahwa proyek-proyek yang dikerjakan PAL juga memberikan efek ekonomi yang luas.

Dalam setiap pembangunan kapal, PT PAL melibatkan berbagai industri dalam negeri, mulai dari galangan kapal, manufaktur komponen, jasa pendukung, hingga pelaku usaha kecil yang menjadi bagian rantai pasok industri maritim.

“Setiap proyek yang dikerjakan PT PAL tidak hanya menghasilkan produk strategis bagi negara, tetapi juga menggerakkan ekonomi. Di dalamnya terdapat ribuan tenaga kerja yang terlibat serta industri pendukung yang ikut bertumbuh,” kata Kaharuddin.

Pada momentum peringatan HUT ke-46 PT PAL Indonesia, Kaharuddin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan atas kontribusi mereka selama lima tahun perjalanan transformasi perusahaan. Menurutnya, berbagai pencapaian yang diraih merupakan hasil kerja keras, inovasi, dan kolaborasi seluruh insan perusahaan.

“Hasil kerja keras satu tahun terakhir adalah hasil dari semua usaha-usaha, inovasi-inovasi dari semua,” ucapnya.

Dengan mengusung tema “United, Transformed, Unstoppable”, peringatan ulang tahun galangan tersebut menurutnya jadi penegasan komitmen perusahaan untuk melanjutkan transformasi, memperkuat industri maritim nasional, serta meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian dan kemandirian industri pertahanan Indonesia. (ris/iss).

  📝  Suara Surabaya  

Sabtu, 23 Mei 2026

Pembangunan Kapal LPD Hanya Enam Bulan, AHY Puji Transformasi Industri Maritim PT PAL

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur dan kapal LPD pesanan Filipina yang dalam 5 bulan sudah mulai terlihat bentuknya di Surabaya (ss PAL)

Menteri Koordinator (Menko) Infrastruktur dan Pembangunan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau PT PAL Indonesia untuk memperkuat sinergi pengembangan industri galangan kapal nasional dan ekosistem maritim.

AHY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat mengapresiasi efisiensi produksi yang memangkas waktu pembangunan kapal secara signifikan. Kunjungan berlangsung di galangan kapal PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis (21/5/2026).

AHY menyoroti pemangkasan durasi pembangunan kapal jenis Landing Platform Dock (LPD), yaitu kapal pengangkut pasukan dan kendaraan tempur.

“Dulu membangun satu LPD (Landing Platform Dock) memerlukan waktu kurang lebih dua tahun. Sekarang, berkat transformasi dan modernisasi yang dilakukan, bisa dikerjakan hanya dalam enam bulan. Artinya, dalam durasi yang sama, kita bisa membangun empat LPD,” kata AHY di PT PAL Indonesia, Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Ia menyatakan tujuan pemerintah sejalan dengan visi mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dan berdaulat.

“Kami memiliki tujuan yang sama sesuai visi dan misi Presiden, yakni mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dan berdaulat melalui penguatan sektor industri yang berkelanjutan. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh insan PT PAL dan bangga melihat transformasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.

AHY menyebut permintaan internasional terhadap produk PT PAL terus meningkat, baik untuk kapal perang maupun kapal niaga.

Penguatan industri galangan kapal dinilai memberikan efek gentar (deterrence effect) dalam menjaga keutuhan wilayah RI sebagai negara kepulauan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menyebut kunjungan tersebut sebagai momentum memperkuat sinergi antara pemerintah dan industri maritim nasional.

“PT PAL terus berkomitmen dalam menumbuhkan dan memperkuat industri maritim nasional. Tidak hanya kapal sebagai pendukung konektivitas, namun jembatan antar pulau merupakan infrastruktur industri maritim yang perlu diperkuat dan dikembangkan,” kata Kaharuddin Djenod di Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Kaharuddin menyatakan pengembangan industri maritim perlu didukung peningkatan teknologi, kompetensi sumber daya manusia, dan kolaborasi strategis.

Dalam kunjungan kerja ini, AHY juga merespons proyek tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) di Pantai Utara Jawa, yang cetak birunya ditargetkan selesai pada 2027.

  📝  Berita Jatim  

Jumat, 22 Mei 2026

PT PAL Jadi Pilar Kemandirian Maritim dan Pertahanan Indonesia

KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian sistem tempur dan kapal LPD pesanan Filipina yang dalam beberapa bulan sudah mulai terlihat bentuknya di Surabaya (ss Markicap)

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya peran PT PAL Indonesia mengambil peran sebagai pilar kemandirian maritim dan pertahanan nasional.

Hal tersebut dilakukan saat melakukan kunjungan kerja ke PT PAL Indonesia, Jawa Timur, Surabaya, Kamis (21/05/2026).

Dalam kunjungannya, AHY menilai transformasi yang dilakukan PT PAL Indonesia telah membawa industri strategis nasional itu naik kelas hingga mampu bersaing di tingkat internasional.

Menurutnya, sejak awal berdiri, PT PAL Indonesia menjadi simbol harapan bangsa untuk mewujudkan kedaulatan maritim Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Ia menilai penguatan industri maritim sangat penting untuk menjaga wilayah laut sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi nasional.

Lebih lanjut, AHY menyebut kemampuan PT PAL Indonesia kini tidak hanya terbatas pada desain dan manufaktur kapal, melainkan telah berkembang menjadi pusat produksi untuk kebutuhan sipil, komersial, hingga pertahanan negara.

Transformasi tersebut, lanjut AHY, turut tercermin dari meningkatnya kapasitas produksi perusahaan. Ia menyebut proses pembangunan kapal kini dapat dilakukan lebih cepat dibanding sebelumnya.

“Dulu pengerjaannya membutuhkan waktu lebih lama, sekarang dalam waktu sekitar enam bulan sudah bisa dikerjakan lebih cepat dengan kapasitas yang semakin besar,” ujarnya. Menurut AHY, peningkatan produktivitas PT PAL Indonesia juga membawa dampak positif terhadap perekonomian nasional melalui penciptaan lapangan kerja baru dan penguatan industri dalam negeri.

AHY menegaskan bahwa penguatan PT PAL Indonesia menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan kemandirian maritim Indonesia di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.

  📝  Lentera  

Jumat, 15 Mei 2026

PAL Indonesia Perkuat Pertahanan Maritim Lewat KCR 60 meter

⚓ 💁KRI Sampari tembakan rudal C705 (Dispenal)

PAL Indonesia terus memperkuat peran dalam mendukung pertahanan maritim nasional. Melalui Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter, perusahaan mendorong penguatan kedaulatan laut Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan armada laut yang cepat dan responsif. Kapal ini dirancang untuk patroli, pengamanan perbatasan, dan operasi tempur maritim.

Kapal Cepat Rudal 60 meter dikembangkan insinyur PT PAL sejak awal 2000-an. Kehadirannya menjadi bukti berkembangnya industri pertahanan nasional yang mandiri.

Pembangunan kapal melibatkan berbagai industri pendukung dalam negeri. Komponen mencakup manufaktur, kelistrikan, perpipaan, sensor, dan sistem persenjataan.

COO PT PAL, Diana Rosa, menekankan pentingnya kolaborasi industri. Menurutnya, penguatan pertahanan tidak bisa dibangun oleh satu perusahaan saja.

KRI HLS bayang2i Kapal Induk (DispenaI)

“Penguatan industri maritim membutuhkan kolaborasi galangan, teknologi, dan sumber daya manusia,” ujar Diana, dikutip dari PAL Indonesia, Kamis, 14 Mei 2026. Ia menyebut KCR 60 meter bagian dari konsolidasi industri maritim nasional.

Diana menegaskan setiap proyek strategis harus memberi dampak luas bagi industri nasional. Dampaknya meliputi peningkatan kandungan lokal, transfer pengetahuan, dan penciptaan lapangan kerja.

“PT PAL ingin memastikan proyek strategis memperkuat daya saing industri nasional,” katanya. Ia berharap Indonesia mampu bersaing di tingkat regional dan global.

Ketangguhan KCR 60 meter dibuktikan melalui latihan gabungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Kapal ini menunjukkan kemampuan manuver dan akurasi sistem persenjataan.

Melalui pengembangan KCR 60 meter, PT PAL menegaskan komitmen kemandirian industri maritim. Langkah ini penting untuk menjaga kedaulatan bangsa dan daya saing pertahanan nasional.
 

  💂
 RRI  

Selasa, 28 April 2026

Sjafrie Ingin Industri Pertahanan Nasional Punya Mentalitas Produsen


UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana, diharapkan dapat diproduksi massal . (PTDI)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin meminta industri pertahanan nasional memiliki mentalitas produsen.

Hal itu disampaikan Menhan Sjafrie saat menghadiri rapat kerja dan leadership development program DEFEND ID 2026 di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/4).

“Saya ingin industri pertahanan kita memiliki mentalitas produsen. Hilangkan ego sektoral dan pastikan kita bergerak dalam satu irama sebagai tulang punggung kedaulatan bangsa,” kata Sjafrie, dikutip dari siaran pers Biro Infohan Kemhan, Senin (27/4).

Dalam arahannya, Sjafrie mendorong agar seluruh entitas di bawah DEFEND ID terus berinovasi untuk mencapai kemandirian teknologi.

“Kita tidak sedang membangun industri biasa. Kita sedang membangun fondasi kemandirian bangsa yang menuntut kepemimpinan kuat, arah yang jelas, dan keberanian untuk melangkah maju bersama,” tutur Sjafrie.

“Dulu kita berjalan di bawah, hari ini kita mulai berdiri di atas. Tugas kita bukan hanya menjaga posisi itu tetapi memastikan kita tidak pernah kembali bergantung,” kata Menhan RI.

Sementara itu, Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan menyatakan komitmen untuk membawa DEFEND ID sebagai penguasa teknologi, bukan sekadar pengguna.

Adapun kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) ke-4 DEFEND ID. Kegiatan diselenggarakan selama tiga hari, diikuti oleh ratusan pejabat Eselon I yang bertujuan untuk memperkuat sinergi dan kepemimpinan di sektor industri pertahanan nasional. (nma).

  🛩
IDM  

Sabtu, 14 Februari 2026

Defend ID Bakal Serap Rp 30 Triliun

  Untuk modernisasi alutsista di 2026 (Defend.id)

PT Len Industri (Persero)/ Defend ID, holding BUMN industri pertahanan memproyeksikan menyerap Rp 30 triliun di tahun 2026 untuk pengembangan alat utama sistem senjata (Alutista).

Sebagai informasi, pemerintah mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar Rp 337 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah postur fiskal Indonesia.

Direktur Utama PT Len Industri, Joga Dharma Setiawan mengatakan sebagian dari anggaran tersebut akan digunakan untuk modernisasi alutsista, peningkatan kapasitas fasilitas pendukung produksi, research & inovation, dan skema spend to invest untuk kemandirian industri pertahanan.

Dia menyebut bahwa anggaran modernisasi alutsista 2026 berada dalam kerangka Kementerian Pertahanan yang telah disetujui Rp 187,1 triliun dengan arahan pemanfaatan untuk modernisasi alutsista, penguatan organisasi, personel, serta dukungan industri nasional.

"Dalam konteks modernisasi alutsista Defend ID menargetkan kurang lebih Rp30 triliun di tahun 2026," katanya kepada Bisnis, Rabu (11/2/2026).

Di sisi lain, dalam rapat bersama Komisi VI, Joga membahas mengenai kinerja operasional dan keuangan BUMN industri pertahanan, rencana kerja dan roadmap industri pertahanan, riset dan pengembangan, serta kolaborasi antar ekosistem industri pertahanan.

Joga menjelaskan bahwa Defend ID akan memanfaatkan 30% dari anggaran tersebut yang digunakan untuk pengembangan peralatan dan investasi.

"Mungkin Defend ID di 30-an persen gitu. Tapi itu bukan untuk peralatan semuanya, ya. Itu termasuk untuk investasi," tuturnya.

Joga menegaskan akan menggunakan komponen dalam negeri agar menekan ketergantungan produk luar negeri atau impor. Nantinya Defend ID menunjang sekitar 60%-70% kebutuhan Kementerian Pertahanan.

"Jadi memang kita harus buat sendiri. Jadi tadi didukung kita memang harus buat sendiri. Misalnya untuk amunisi, propelannya harus kita buat sendiri," terangnya.

Joga menyampaikan guna memaksimalkan penggunaan komponen dalam negeri, Defend ID merencanakan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara intens.

Sebab, kata Joga, BRIN juga fokus melakukan riset di sektor pertahanan, tidak hanya di bidang energi hingga kesehatan.

"Strategi ke depannya kita harus lebih komprehensif pengembangan sumber daya manusia dan lebih banyak kolaborasi dengan BRIN. Karena BRIN sekarang mendukung kuat untuk preset-presetnya untuk pengembangan industri pertahanan," tandasnya..

  👷 
Bisnis  

Selasa, 10 Februari 2026

Transformasi Industri Pertahanan Harus Dipercepat

  Untuk wujudkan kemandirian nasional KRI BPD 322, FMP pertama produksi PAL Indonesia kerjasama Babcock (PAL)

Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh, menegaskan pemerintah perlu mempercepat transformasi industri pertahanan nasional agar Indonesia tidak lagi bergantung pada produk luar negeri.

Menurutnya, penguatan industri pertahanan merupakan bagian penting dari strategi besar kemandirian nasional sekaligus upaya menjaga ketahanan negara.

“Kita tidak boleh terus-menerus berada pada posisi pembeli berbagai produk sistem pertahanan dari luar negeri. Indonesia harus naik kelas menjadi produsen dan bahkan eksportir alat pertahanan,” ujar Oleh Soleh.

Ia menekankan langkah tersebut harus dimulai dari konsistensi penerapan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, khususnya terkait kewajiban penggunaan produk dalam negeri.

Optimalisasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap pengadaan alutsista dinilai menjadi salah satu kunci utama.

Selain itu, diperlukan penyusunan roadmap jangka panjang industri pertahanan nasional yang terintegrasi antara Kementerian Pertahanan, BUMN, swasta, serta lembaga riset.

Pemerintah juga didorong memberikan insentif fiskal dan nonfiskal, seperti kemudahan perpajakan dan dukungan terhadap riset serta pengembangan teknologi.

“Transfer of technology yang dilakukan harus terukur, bukan sekadar perakitan, tetapi benar-benar menguasai desain dan rekayasa,” kata legislator dari Dapil Jawa Barat XI tersebut.

Oleh Soleh menilai tren anggaran pertahanan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penguatan modernisasi alutsista.

Skema pembiayaan kreatif seperti kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) dan penyertaan modal negara (PMN) kepada BUMN strategis juga telah berjalan.

Sejumlah BUMN industri pertahanan seperti PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia disebut telah menunjukkan peningkatan kapasitas produksi. Hal itu terlihat dari kemampuan memproduksi kendaraan taktis, kapal perang, hingga pesawat CN-235 dan NC-212.

Namun, ia mengingatkan agar pembiayaan tidak hanya difokuskan pada pembelian produk jadi, melainkan juga diarahkan untuk memperbesar kapasitas produksi nasional dan investasi teknologi.

“Ke depan, pembiayaan harus memperkuat industri dalam negeri, bukan sekadar membeli produk jadi dari luar,” tegasnya.

Terkait kemungkinan pengadaan tanpa impor, Oleh Soleh menyebut Indonesia sudah mampu memproduksi beberapa jenis alutsista dan suku cadang tertentu secara lokal, seperti kendaraan taktis, amunisi, kapal patroli, serta layanan perawatan dan overhaul (MRO).

Meski demikian, untuk sistem berteknologi tinggi seperti radar canggih, jet tempur generasi terbaru, dan sistem pertahanan udara jarak jauh, kolaborasi internasional masih diperlukan.

Ia juga menilai peran BUMN industri pertahanan saat ini cukup signifikan, tetapi perlu diperkuat melalui konsolidasi dan sinergi rantai pasok.

Keterlibatan badan usaha milik swasta (BUMS) juga perlu diperluas agar industri pertahanan tidak hanya bertumpu pada beberapa perusahaan besar.

Selain itu, Oleh Soleh menyoroti pentingnya dukungan sektor perbankan dan lembaga keuangan nasional. Menurutnya, industri pertahanan merupakan sektor strategis yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang dengan risiko yang terukur. (Ykb)

  👷 
IDM  

Rabu, 14 Januari 2026

DEFEND ID Mantapkan Strategi Operasional 2026

  Bidik Kontrak Rp 132 Triliun (Defend.id)

Holding Industri Pertahanan DEFEND ID yang dipimpin oleh PT Len Industri (Persero) menegaskan langkah agresifnya dalam memperkuat daya saing industri pertahanan nasional melalui penetapan strategi operasional perusahaan tahun 2026. Strategi ini dirancang secara terarah, adaptif, dan berkelanjutan guna memastikan DEFEND ID tetap relevan di tengah dinamika industri pertahanan dan nonpertahanan, baik di tingkat nasional maupun global.

Direktur Utama Holding DEFEND ID, Joga Dharma Setiawan, menyampaikan bahwa perumusan strategi 2026 dilakukan secara komprehensif dengan mengacu pada Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), aspirasi pemegang saham, serta analisis menyeluruh terhadap kondisi internal dan eksternal perusahaan.

“Strategi 2026 kami rumuskan ke dalam Corporate Strategic Scenario (CSS) dan diterjemahkan ke dalam tujuh pilar utama, mulai dari penguatan bisnis, inovasi produk dan layanan, hingga transformasi proses bisnis, SDM, dan teknologi informasi sebagai penggerak utama bisnis,” ujar Joga.

Tujuh pilar strategis tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan bisnis DEFEND ID sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan di tengah tantangan global yang kian kompleks. Pendekatan ini dirancang agar perusahaan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar, kebutuhan teknologi, serta tuntutan efisiensi yang semakin tinggi.

Untuk memastikan target 2026 dapat tercapai, DEFEND ID telah menyiapkan sejumlah langkah operasional strategis. Langkah tersebut meliputi optimalisasi proyek pertahanan dan nonpertahanan, percepatan realisasi kontrak baru, peningkatan burn rate operasional, penguatan struktur keuangan, serta streamlining anak usaha guna menciptakan struktur bisnis yang lebih efisien dan bankable.

“Kami juga fokus pada penguatan kapasitas produksi, digitalisasi proses bisnis, serta peningkatan kompetensi SDM agar seluruh lini perusahaan bergerak lebih agile dan produktif,” lanjut Joga.

Sebelum strategi tersebut ditetapkan, DEFEND ID melakukan evaluasi internal secara menyeluruh. Evaluasi ini mencakup analisis kinerja keuangan, efisiensi biaya, struktur permodalan, kapabilitas sumber daya manusia, kesiapan teknologi, hingga efektivitas proses bisnis di seluruh entitas holding. Hasil evaluasi tersebut menjadi pijakan utama dalam menyusun strategi perbaikan dan penguatan di setiap lini usaha.

Dari sisi peluang, DEFEND ID melihat prospek bisnis yang signifikan seiring meningkatnya belanja pertahanan nasional, hadirnya proyek strategis pemerintah, serta peluang ekspansi ke sektor komersial dan nonpertahanan. Kawasan Asia Pasifik dan Afrika menjadi fokus utama pengembangan pasar.

“Pasar Asia Pasifik dan Afrika menjadi fokus kami, seiring dengan peluang kontrak pertahanan baru dan proyek lintas kementerian, seperti Kementerian Pertahanan, Perhubungan, ESDM, hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika,” jelas Joga.

  💥 
Pikiran Rakyat  

Senin, 24 November 2025

PTDI Gandeng Scytalys

 Kembangkan pesawat N219 MSA 🛩 N219  (PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menggandeng Scytalys, perusahaan pengembang piranti lunak dan integrasi sistem berbasis Yunani, untuk mengembangkan pesawat N219 MSA (Maritime Surveillance Aircraft) untuk memenuhi kebutuhan Badan Keamanan Laut (Bakamla).

“Setelah nantinya PTDI mendapat penugasan untuk memenuhi kebutuhan pesawat MSA bagi Bakamla RI, maka ini akan menjadi footprints baru juga untuk PTDI, karena ini merupakan pesawat N219 dengan konfigurasi MSA pertama yang akan kami desain,” kata Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dikutip dari siaran pers PTDI, Sabtu, 22 November 2025.

PTDI bersama Scytals menandatangani framework agreement (FA) untuk memulai pengembangan pesawat N219 MSA, pesawat perintis dengan platform pengawasan maritim. Pesawat tersebut nantinya akan dirancang memenuhi kebutuhan Bakamla untuk melakukan pemantauan perairan strategis hingga mendukung penguatan sistem keamanan laut Indonesia.

Framework agreement ditandatangani Gita Amperiawan dan CEO Scytalys George Menexis, serta disaksikan oleh Kepala Bakamla Laksdya TNI Irvansyah serta Duta Besar RI-Yunani Bebeb Abdul Kurnia Nugraha Djundjunan di kantor KBRI Athena, Yunani, Jumat, 21 November 2025.

Pada program pengembangan N219 MSA tersebut, PTDI berlaku sebagai prime contractor yang bertugas menyiapkan konfigurasi teknis pesawat dan memastikan rancangan akhir pesawat memenuhi tuntutan misi pengawasan yang dijalankan Bakamla. Sementara Scytalys akan menyediakan dan mengintegrasikan MIMS Airborne Mission System yang menjadi otak kendali kemampuan surveillance pesawat.

Lingkup kerja sama FA antara PTDI dan Scytalys mencakup promosi dan penjajakan bersama untuk pesawat N219 yang akan dimodifikasi menggunakan sistem misi Scytalys, serta pengembangan materi pemasaran terpadu untuk mendukung keberlangsungan program.

“Selanjutnya PTDI dan Scytalys akan segera mengadakan FGD bersama Bakamla RI, yang akan menjadi forum penting untuk menyinkronkan seluruh kebutuhan teknis, skenario operasi, dan prioritas misi agar desain final pesawat mampu sepenuhnya menjawab tantangan operasional di lapangan,” kata Gita Amperiawan.

Bakamla saat ini tengah mengajukan kebutuhan resmi pada Kementerian PPN RI/Bappenas untuk rencana pengadaan empat unit pesawat N219 MSA berikut seluruh perangkat pendukung yang mencakup MSA kit, pelatihan personel, penyediaan suku cadang, ground rupport equipment (GSE), serta paket fleet readiness untuk lima tahun yang meliputi pemeliharaan dan asistensi teknis.

“Karena ada produk dalam negeri, kita maksimalkan penggunaan produk dalam negeri, yang dalam hal ini PTDI bisa memenuhi kebutuhannya,” kata Kepala Bakamla Laksdya TNI Irvansyah, dikutip dari siaran pers.

Pesawat N219 MSA nantinya dirancang memiliki kemampuan pengawasan modern, mulai dari tactical datalink dan mission console untuk memastikan pengolahan data secara real-time, hingga mengusung radar dengan jangkauan 160 Nautical Miles (NM) serta sistem EO/IR yang mampu mendeteksi objek pada jarak hingga 20 kilometer.

Pesawat N219 MSA nantinya juga akan dilengkapi Automatic Identification System (AIS), serta hand-held camera untuk memperkuat kemampuan identifikasi dan dokumentasi visual dalam operasi pengawasan. Pesawat tersebut dirancang memiliki radius operasi mencapai 200 NM dan endurance lebih dari lima jam sehingga diyakini mampu memberikan fleksibilitas tinggi untuk misi patroli maritim jarak menengah dan pemantauan wilayah perairan. Program pengembangan N219 MSA ditargetkan memasuki tahap penugasan dan penandatanganan kontrak pada akhir tahun 2026.

  🛩 Tempo  

Sabtu, 08 November 2025

PT DI Kembangkan Drone MALE dan Rudal Nasional

🛩  Dikunjungi Kemenko Polkam UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana, drone MALE proyek bersama nasional (PTDI)

Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) dari Kedeputian Bidang Koordinasi Pertahanan Negara dan Kesatuan Bangsa melaksanakan kunjungan ke industri pertahanan dalam negeri PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/11).

Kunjungan tersebut dipimpin Asisten Deputi Koordinasi Kekuatan, Kemampuan, dan Kerja Sama Pertahanan Kemenko Polkam Brigjen TNI (Mar) Kresno Pratowo.

Kresno menyampaikan bahwa kunjungan bertujuan memantau isu-isu strategis terkait peningkatan dan pengembangan industri pertahanan nasional, sebagai bagian dari pengawalan program prioritas pemerintah dalam RPJMN 2025–2029, khususnya program nasional 2, yakni memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara serta mendorong kemandirian bangsa.

“Melalui pemantauan ini, kami ingin memastikan bahwa pengembangan industri pertahanan nasional berjalan sejalan dengan arah kebijakan pemerintah, terutama dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang pertahanan,” ujar Kresno, dikutip dari siaran pers Kemenko Polkam, Jumat (7/11).

Rudal nasional RN01 (Indonesia Defence Review)
Dalam kesempatan itu, jajaran Kemenko Polkam diterima Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko dan Direktur Produksi PT DI.

PT DI memaparkan bahwa mereka memiliki empat pilar utama, antara lain aircraft design & production, aerostructure, aircraft & engine services, engineering & weapon system.

“Keempat pilar tersebut menjadi fondasi dalam kegiatan desain, produksi, perawatan, dan pengembangan sistem pertahanan berbasis teknologi tinggi,” tulis siaran pers Kemenko Polkam.

Saat ini, PT Dirgantara Indonesia juga mengandalkan tiga pesawat produksi nasional, yakni CN235-220, NC212i, dan N219.

PT DI juga tengah mengembangkan berbagai proyek unggulan seperti pesawat N219 Amphibi, Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) atau persawat nirawak tipe medium altitude long endurance (MALE) dan program rudal nasional.

Dalam setiap proses produksinya, PT Dirgantara Indonesia terus berupaya meningkatkan daya saing global dengan fokus pada peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta penguasaan technology readiness level (TRL) dan manufacturing readiness level (MRL) hingga siap produksi. (nma)

  🛩
IDM  

Minggu, 03 Agustus 2025

Drone Elang Hitam Sukses Terbang 24 Jam di 20 Ribu Kaki

🛩  Ambisi kuat Indonesia kuasai drone MALE Drone Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Indonesia mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan teknologi pertahanan. Pesawat tanpa awak Elang Hitam (Black Eagle) buatan anak bangsa sukses menjalani uji terbang di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, pada Senin (28/7/2025).

Elang Hitam merupakan drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang dirancang oleh konsorsium nasional, dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai integrator utama. Dalam uji terbang tersebut, drone berhasil mengudara selama 24 jam nonstop dan mampu terbang di ketinggian maksimal 20 ribu kaki, menunjukkan performa yang sesuai dengan standar internasional.

"Uji terbang ini adalah bukti bahwa Indonesia menguasai teknologi kunci dalam pengembangan drone MALE. Termasuk dalam hal desain sistem, kendali terbang otomatis, hingga komunikasi jarak jauh," ujar Mohammad Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi, dan Pengembangan PTDI, dikutip dari detikJabar.

 Spesifikasi Elang Hitam 
Dilansir dari berbagai sumber, drone Elang Hitam memiliki spesifikasi teknis yang mumpuni untuk mendukung misi pengawasan dan pertahanan. Drone jenis MALE (Medium Altitude Long Endurance) ini memiliki dimensi panjang 8,3 meter, tinggi 1,02 meter, dan bentang sayap 16 meter.

Berat kosongnya mencapai 575 kg, dengan kapasitas muatan hingga 300 kg, berat bahan bakar 420 kg, dan berat maksimum saat lepas landas 1.115 kg. Ditenagai mesin Rotax 915 iS berkekuatan 110-150 horsepower dengan konfigurasi empat silinder, turbocharged, dan baling-baling tipe pusher, Elang Hitam mampu mencapai ketinggian jelajah 3.000-5.000 meter (maksimum 7.200 meter), kecepatan maksimum 235 km/jam, dan kecepatan jelajah sekitar 225 km/jam.

Drone ini memiliki daya tahan terbang hingga 24-30 jam nonstop dengan radius operasi 250 km, membutuhkan landasan pacu 700 meter untuk lepas landas dan 500 meter untuk mendarat. Dilengkapi sistem kendali terbang otomatis, ground control station (GCS), dan teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) berbasis satelit, Elang Hitam juga mendukung arsitektur modular dengan muatan seperti kamera, radar, dan potensi misil udara-ke-permukaan untuk misi militer.

 Siap Jalankan Misi Militer dan Kemanusiaan 
Elang Hitam dikembangkan guna mendukung berbagai misi strategis, mulai dari pengawasan wilayah perbatasan hingga pengintaian medan musuh. Selain fungsi militer, drone ini juga dirancang untuk misi kemanusiaan seperti pemantauan bencana alam dan pencarian korban di area sulit dijangkau.

Dalam sesi uji coba, Elang Hitam didampingi oleh pesawat Kodiak milik PTDI untuk mengevaluasi daya jelajah dan stabilitas kendali otomatis yang dimilikinya. Uji coba ini dinilai berhasil dan membuka jalan bagi produksi massal serta operasional penuh dalam waktu dekat.

 Dari Gagal Terbang ke Sukses Mengudara 
Proyek pengembangan Elang Hitam telah dimulai sejak 2015. Drone ini dikembangkan melalui kerja sama konsorsium yang mencakup berbagai institusi strategis, antara lain; PTDI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini tergabung dalam BRIN, Kementerian Pertahanan RI, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), PT Len Industri (Persero) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, proyek ini sempat menghadapi tantangan serius. Pada 2021, uji terbang Elang Hitam mengalami kegagalan. Imbasnya, pada 2020–2023 fokus pengembangan sempat dialihkan oleh BRIN dari sektor militer ke sipil karena kendala teknis dan prioritas anggaran.

Kebangkitan proyek ini dimulai lagi pasca Rapat Pleno KKIP pada Oktober 2024, yang memutuskan kelanjutan pengembangan drone untuk kebutuhan militer, dengan PTDI mengambil peran sentral sebagai pemimpin integrasi.

 Indonesia Makin Mandiri dalam Teknologi Pertahanan 
Keberhasilan Elang Hitam menandai kemajuan signifikan Indonesia dalam industri pertahanan nasional. Drone ini memperkuat posisi Indonesia di jajaran negara yang mampu mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak secara mandiri.

"Ke depan, kami berharap Elang Hitam bisa memenuhi kebutuhan pengintaian dan intelijen TNI, sekaligus menjadi produk ekspor unggulan Indonesia," tutup Arif.

Dengan suksesnya uji terbang ini, Elang Hitam membuka babak baru dalam sejarah kemandirian pertahanan Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan anak bangsa tak kalah dari negara maju lainnya. (afr/afr)

 Berikut video dari Youtube : 


  🛩
detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...