Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Agustus 2026

Indonesia Resmi Akuisisi Cakir dan Sistem Rudal Lain dari Turki

Hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi98REfk8fkH0al7ymdIvmybcn1PQAaN2m5mVeY-EvPzRSsFSFCbXJtN3Ety7Ws2JftsNyUaxX88yGBCJwZxVpthuV0V29QYJl1JWXHiJLxsNqDdf3e9hc01WaQHkpnBh2KC2pXJ5Xa72sERlfTi3n9K7T2dw7_rGMHikU7OcSk9XMmYe7RQu9J9jR3n07A/s587/Cakir.jpgRudal permukaan ke permukaan Cakir (infographic Roketsan) 

Indonesia telah resmi mengakuisisi rudal Cakir dan sistem rudal lainnya dari Turki. Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan, negaranya telah mengakuisisi rudal Cakir produksi Roketsan. Ke depannya, basis produksi bersama direncanakan akan didirikan antara Roketsan dan perusahaan Indonesia.

"Kami telah membeli rudal Cakir dan beberapa rudal lainnya," kata Rizal di Ankara dikutip Jumat (28/8/2026).

Dilaporkan Havahaber, menurut Rizal, pengadaan sistem rudal tidak terbatas pada pembelian produk, tetapi mewakili tahap yang lebih dalam dalam kerja sama industri pertahanan antara kedua negara. Dia menyatakan, Indonesia sangat mempercayai kemampuan teknologi Turki di industri pertahanan.

Rizal pun mengumumkan, usaha patungan telah didirikan antara Roketsan dan sebuah perusahaan Indonesia. "Bahwa basis produksi untuk roket dan rudal direncanakan akan didirikan di Indonesia dalam lingkup ini," katanya.

Menurut Rizal, langkah itu sekaligus menggeser kerja sama dari pengadaan ke produksi bersama dan berbagi teknologi. Dia menilai, hubungan antara kedua negara telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah. Bagi Rizal, perkembangan tersebut sebagai indikasi kerja sama strategis yang luas, tidak hanya di industri pertahanan.

Dikutip dari Ssbulten, Rizal melanjutkan, Indonesia juga telah menunjukkan minat pada proyek pesawat tempur udara KAAN dan drone Kizilelma. Indonesia bermaksud menjadi salah satu negara pertama yang berkomitmen untuk pengadaan sistem tersebut.

Perkembangan itu menunjukkan permintaan internasional terhadap produk industri pertahanan Turki dan kapasitas produksi bersama. Memperdalam kerja sama dengan Indonesia menciptakan pasar baru dan peluang kerja sama jangka panjang untuk ekspor industri pertahanan Turki.

"Saya dapat mengatakan bahwa hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah," jelas Rizal.

  Republika 

Minggu, 23 Agustus 2026

Jet Tempur J-10 Tak Dibahas Dalam Pertemuan Indonesia-China

  Namun akan memproduksi bersama rudal dan roket Pesawat J10 C  (DSA)

Indonesia akan membangun pabrik amunisi bersama China dengan skema transfer teknologi. Fasilitas tersebut akan memproduksi sejumlah jenis amunisi, termasuk rudal dan roket, dengan operasional ditargetkan mulai pada 2027.

Selain mengungkap rencana pembangunan pabrik amunisi, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin juga memberikan klarifikasi mengenai jet tempur J-10 China yang sebelumnya disebut-sebut berpotensi masuk dalam agenda pengadaan alutsista Indonesia.

Ia memastikan tidak ada pembicaraan mengenai kemungkinan Indonesia membeli J-10 dalam pertemuan 2+2 bersama China.

Tidak ada pembicaraan,” ujar Sjafrie ketika ditanya mengenai kemungkinan pembelian jet tempur tersebut.

Sebelumnya, rencana pengadaan J-10 sempat menjadi perhatian setelah Sjafrie pada Oktober 2025 mengatakan jet tempur tersebut akan segera menghiasi langit Indonesia.

Namun, pemerintah kemudian belum merealisasikan rencana tersebut.

Adapun kerja sama pertahanan Indonesia-China kali ini lebih menitikberatkan pada penguatan industri pertahanan dan peningkatan kemampuan produksi di dalam negeri melalui transfer teknologi.

  ★  IDN Times  
 

Sabtu, 22 Agustus 2026

Transfer Teknologi Pertahanan dari Tiongkok Dimulai 2027

 ⚓️ 🚀 Bersama Pindad  Kapal perang TNI AL, KRI Sampari 628 tembakkan rudal C-705 dalam Operasi TNI Terintegrasi 2026 (Dispenal)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok akan mencakup transfer teknologi untuk mendukung pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.

Pelaksanaan kerja sama tersebut ditargetkan mulai berjalan paling lambat pada 2027.

Hal itu disampaikan Sjafrie setelah mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan atau 2+2 RI-Tiongkok bersama Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, dan Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Sjafrie menjelaskan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dilakukan kedua negara.

"Kerja sama kita dengan Tiongkok dalam industri pertahanan adalah melanjutkan apa yang sudah kita lakukan dan apa yang akan kita kerjakan," kata Sjafrie saat ditemui awak media setelah pertemuan.

Menurut Sjafrie, kerja sama tersebut mencakup pengembangan fasilitas produksi amunisi, misil, roket, dan sejumlah kebutuhan industri pertahanan lainnya.

Untuk sejumlah teknologi yang belum dikembangkan di Indonesia, Tiongkok akan memberikan dukungan melalui transfer teknologi. Langkah tersebut ditujukan agar Indonesia dapat membangun kemampuan produksi dan fasilitas industri pertahanan secara bersama-sama di dalam negeri.

"Yang belum kita buat, dia bantu dan dia akan kirim transfer teknologi agar supaya kita bisa membangun pabrik bersama-sama di Indonesia. Ini yang kita lakukan industri pertahanan," ujarnya.

 Paling Lambat 2027

Sjafrie menekankan transfer teknologi menjadi salah satu hal yang diangkat Indonesia dalam kerja sama industri pertahanan dengan Tiongkok. Indonesia, kata dia, ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan teknologi yang telah dikembangkan Tiongkok.

"Jadi yang saya angkat adalah mengenai bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh Tiongkok," kata Sjafrie.

Ketika ditanya mengenai waktu dimulainya pembangunan teknologi misil dan fasilitas terkait di Indonesia, Sjafrie menyebut pelaksanaannya ditargetkan paling lambat 2027.

"Ini paling lambat 2027 sudah jalan," tegasnya.

Dalam kerja sama tersebut, PT Pindad akan menjadi pihak Indonesia yang terlibat. Hal itu ditegaskan Sjafrie ketika ditanya apakah pembangunan tersebut akan melibatkan Pindad.

"Ya, Pindad. Pasti Pindad," jawabnya.

Adapun, kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok sebelumnya telah mencakup PT Pindad dan perusahaan pertahanan Tiongkok.

Berdasarkan informasi Kementerian Pertahanan RI, PT Pindad telah menandatangani nota kesepahaman dengan dua perusahaan pertahanan asal Tiongkok, Norinco dan Sany Group, pada Mei 2025. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan bersama, produksi bersama, serta penjajakan kandungan lokal di Indonesia. (Fajar Nugraha)

  👷  Metro TV  

Selasa, 14 Juli 2026

Marinir Uji Fungsi Roket 122 mm Buatan Serbia di Baluran

 ➶  (Dispen Marinir)

Korps Marinir TNI Angkatan Laut menggelar uji fungsi amunisi roket kaliber 122 milimeter (mm) buatan Serbia di Pusat Latihan Pertempuran Korps Marinir (Puslatpurmar) 5 Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (11/7/2026).

Pengujian dilakukan oleh Laboratorium Induk Senjata TNI Angkatan Laut (Labinsenal) dengan melibatkan Batalyon Roket 2 Marinir sebagai pelaksana penembakan.

Menurut siaran pers Dinas Penerangan (Dispen) Korps Marinir, sejumlah roket 122 mm ditembakkan ke sasaran dan seluruhnya mencapai target serta meledak di daerah sasaran.

Hasil penembakan selanjutnya dievaluasi untuk menilai fungsi dan kelayakan amunisi.

Pengujian ini dilaksanakan untuk memastikan amunisi yang digunakan memenuhi fungsi dan kelayakan serta siap mendukung kebutuhan operasional satuan dalam pelaksanaan tugas,” kata Kepala Staf Korps Marinir (Kas Kormar) Mayor Jenderal TNI (Mar) Suherlan, dikutip Senin (13/7/2026).

Menurut dia, uji fungsi amunisi merupakan bagian dari upaya memastikan kesiapan material tempur dan sistem persenjataan Korps Marinir sebelum digunakan dalam pelaksanaan tugas.

Turut hadir Waasintel Pangkormar Kolonel Marinir Teguh Santoso, Waaslog Pangkormar Kolonel Marinir Imron Safei, Aslog Danpasmar 2 Kolonel Marinir Bakti Dasasasi Penanggungan, dan Kadismat Kormar Kolonel Marinir Tommy Dwijanto.

  Kompas  

Sabtu, 20 Juni 2026

Roket WAFAR RD70 Karya Anak Bangsa di Uji Coba di Tepi Laut Selatan

🚀produksi PTDI bersama PT SAS Roket Wafar RD70 (dispen Kormar)

Komandan Pasmar 2 Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto menyaksikan uji coba penembakan roket Wrap Around Fin Aerial Rocket (Wafar) RD70 di Lapangan Tembak Nanggala Depohar 60 Desa Poko, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kamis (18/06/2026)

Roket Wafar RD70 merupakan karya anak bangsa, diproduksi dan dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Komoditas ini merupakan bagian vital dari alutsista TNI dan sedang dikembangkan menuju kemandirian penuh melalui proyek roket berpemandu.

Roket produksi PT Dirgantara Indonesia dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

Dengan teknologi canggih, roket ini memiliki daya ledak tinggi dan presisi yang akurat, menjadikannya efektif untuk operasi militer dalam berbagai kondisi medan. PTDI memastikan bahwa setiap roket diproduksi dengan standar kualitas tinggi 

  🚀  Pelopor Wiratama  

Rabu, 22 April 2026

PTDI Garap Pesawat - Roket Bidik Posisi Mitra Pertahanan Utama Kawasan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3JuPuL4EfKlJ18ulYvHRUCMjvdNt4l_7BjIV8b9xpCIm7Vn4v2GK5kWwEx0V8iMvSwbpda-CkzepoRhJwXa6CyV6jhmz42yNyOZvFWgFhaE2c94amydyQoPFaBB98Eb68qmsSuNeWfTi4/s1600/Pesawat+N-219_n219.jpgPesawat N219 (PTDI)
PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) membidik posisi sebagai mitra pertahanan utama Malaysia dan kawasan Asia Pasifik secara lebih luas, melalui skema solusi end-to-end dan pengembangan alutsista mutakhir, termasuk sistem roket 70 mm, guna memperkuat kemandirian industri pertahanan di kawasan.

Strategi "total solusi" ini menjadi pembeda utama PTDI dibandingkan kompetitor global lainnya dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa ini. Di mana PTDI juga tidak lagi sekadar menjual badan pesawat, melainkan menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang militer Negeri Jiran tersebut.

"Partisipasi PTDI dalam DSA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kehadiran kami di Malaysia sebagai mitra jangka panjang," ujar Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal dalam keterangan di Bandung, Selasa.

Menurut Arif, rekam jejak PTDI di Malaysia sudah sangat mengakar. Sejak 1999, Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah mengoperasikan tujuh unit pesawat CN235-220.

Dengan adaptasi teknologi, PTDI sukses dalam program modifikasi tiga unit pesawat TUDM menjadi pesawat pengintai maritim atau Maritime Surveillance Aircraft (MSA) pada 2023.

Selain memperkuat lini CN235, PTDI kini membidik pasar Malaysia untuk pesawat NC212i, pesawat N219, hingga sistem roket 70 mm.

Pendekatan ini mencakup layanan purnajual komprehensif mulai dari pemeliharaan (MRO), Service Life Extension Program (SLEP), hingga dukungan suku cadang dan perbaikan struktur.

Dengan rekam jejak operasional pesawat CN235-220 di TUDM serta pengalaman dalam berbagai program layanan purnajual, PTDI terus berkomitmen menghadirkan solusi yang andal dan berkelanjutan, tidak hanya pada produk pesawat tapi juga sistem pertahanan lainnya seperti roket,” ujar Arif.

Kehadiran PTDI di bawah payung Holding Defend ID ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pameran pertahanan terbesar Asia Pasifik tersebut.

Melalui kolaborasi strategis ini, PTDI optimistis dapat mengoptimalkan platform pesawat buatan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan spesifik keamanan regional..

  antara  

Senin, 23 Februari 2026

Kontrak Kerjasama Rocket Launcher Badan Teknologi Pertahanan Kemhan RI

Pengembangan rocket laubcer (Batekhan Kemhan RI)

Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melaksanakan penandatanganan kontrak kerjasama pengembangan dan pengadaan sistem rocket launcher sebagai bagian dari upaya strategis penguatan Alutsista nasional. 13/02/2026.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen Kemhan RI dalam meningkatkan kemandirian industri pertahanan, memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri, serta mendukung modernisasi sistem persenjataan TNI secara berkelanjutan.

Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong percepatan transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem riset dan inovasi pertahanan nasional.

Dengan sinergi yang solid antara pemerintah dan mitra strategis, pembangunan kekuatan pertahanan negara terus dilaksanakan secara terukur, profesional, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem pertahanan negara yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.

Bertekad Kuat, Berteknologi Maju, untuk Pertahanan Negara yang Mandiri.

  🤝 
Batekhan  

Sabtu, 07 Februari 2026

PT DI dan Sari Bahari Teken “Letter of Intent” Produksi Bersama Roket 70 dan 80 MM

  Akan dijual ke pasar Internasional PT Dirgantara Indonesia dan PT Sari Bahari menekan letter of intent produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm di sela acara Singapore Airshow 2026. (Foto: Dok. PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (DI) dan industri pertahanan dalam negeri, PT Sari Bahari, meneken letter of intent (LoI) untuk produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm.

Penandatanganan dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di Singapura, Rabu (4/2) waktu setempat. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI Arif Faisal dan Vice President Director PT Sari Bahari Putra Prathama Nugraha di booth PT DI A-L31.

Kesepakatan mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional.

Kerja samanya kolaborasi produksi antara PT DI dan Sari Bahari, penjualannya nanti joint marketing,” kata Putra Prathama kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (5/2).

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Arif Faisal menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman PT DI.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen PT DI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik dalam maupun luar negeri. (nma)

  🚀 
IDM  

Rabu, 26 November 2025

[Video] Rhan 122B Arjuna

➶ Sukses diujicobaMLRS Arjuna (Medef)

MLRS Arjuna adalah Kendaraan Peluncur Multi Roket (Multiple Launch Rocket System) buatan Indonesia yang dirancang oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana, menggunakan peluncur roket R-Han-122B dan berbasis truk KAMAZ 8x8.

Sistem ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 66% dan merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan kemandirian di sektor industri pertahanan.

Rhan 122B Arjuna menggunakan truk KAMAZ 8x8 sebagai sasisnya.

Dilengkapi dengan peluncur roket R-Han-122B kreasi lokal, dibuat oleh PT SAS Aero Sishan bersama PT Dahana dengan TKDN mencapai 66%.

Ransus ini merupakan wujud kemandirian industri pertahanan Indonesia

  Berikut video X Markicap :  


  Garuda MIliter  

Minggu, 16 November 2025

[Global] Defence Technology Institute (DTI) Akan Serahkan Peluncur Roket dan Rudal Serbaguna D11A

  Setelah selesai ujicoba akhir November Peluncur roket multi-laras serbaguna D11A untuk roket 122mm dan 306mm (Sompong Nondhasa)

Defence Technology Institute (DTI) milik pemerintah Thailand menyerahkan Peluncur Roket dan Rudal Serbaguna D11A pertama kepada Royal Thai Army (RTA) untuk penyebaran operasional.

Seorang pejabat DTI mengatakan kepada Janes di pameran Defense & Security 2025 di Bangkok bahwa platform pertama yang diserahkan telah menerima akreditasi dari RTA untuk menembak pada jarak hingga 40 km.

Unit pertama ini akan dipasok ke RTA pada akhir November setelah serangkaian uji coba pengguna dan uji coba dalam beberapa tahun terakhir, yang dilakukan oleh Resimen Artileri ke-71 RTA di Lopburi.

Bersamaan dengan itu, DTI sedang mengembangkan dan membangun prototipe D11A kedua, yang dipamerkan di pameran Defense & Security 2025 dan memiliki kemampuan untuk menembakkan roket pada jarak antara 150 km dan 300 km.

Pengujian prototipe kedua ini dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026, meskipun kendala potensial adalah kurangnya fasilitas pengujian lokal yang memiliki ruang yang diperlukan untuk menguji peluncur roket pada jarak yang lebih jauh.

Pejabat DTI mengatakan pengujian prototipe D11A kedua dapat dilakukan di luar Thailand, tetapi ia menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.

Pejabat tersebut mengonfirmasi bahwa RTA memiliki rencana untuk membeli enam unit D11A pertama, dengan potensi akuisisi lanjutan di tahun-tahun mendatang. Meskipun DTI berkomitmen untuk membangun dua prototipe pertama, produksi unit lanjutan kemungkinan akan dilakukan oleh fasilitas manufaktur RTA sendiri.

  🚀 
Jane's  

Senin, 06 Oktober 2025

MLRS Arjuna

➶ Kendaraan Peluncur Mulri Roket LokalMLRS Arjuna (Medef)

MLRS Arjuna adalah Kendaraan Peluncur Multi Roket (Multiple Launch Rocket System) buatan Indonesia yang dirancang oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana, menggunakan peluncur roket R-Han-122B dan berbasis truk KAMAZ 8x8.

Sistem ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 66% dan merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan kemandirian di sektor industri pertahanan.

Fitur Utama MLRS Arjuna:

➶​ Basis Kendaraan: Menggunakan truk KAMAZ 8x8 sebagai sasisnya.
➶​ Sistem Peluncur: Dilengkapi dengan peluncur roket R-Han-122B.
➶​ Produk Dalam Negeri: Dibuat oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana dengan TKDN mencapai 66%.
➶​ Kemandirian Pertahanan: Merupakan wujud kemandirian industri pertahanan Indonesia dan penggunaan teknologi anak bangsa, seperti yang dilaporkan akun Instagram tersebut.

 
Garuda MIliter  

Rabu, 20 Agustus 2025

Yonarmed 1 Kostrad Hujani Lautan Ambal dengan Roket

Astros II Mk6 Yonarmed 1 Kostrad (Penkostrad)

Dalam rangka mengasah kemampuan prajurit Artileri Medan (Armed) melaksanakan Latihan Menembak Senjata Berat Teknis (Latbakjatratnis) Roket Astros II MK 6 Ta. 2025, Kegiatan berlangsung di Daerah Latihan Ambal, Kebumen, Jawa Tengah, Rabu (13/08/2025).

Mayor Arm Fauzi Raspati Al’ansyori, S.Sos., selaku Danyonarmed 1 Kostrad mengatakan “Tujuan utama dari Latihan Menembak Senjata Berat Teknis (Latbakjatratnis) adalah untuk meningkatkan dan menguji kemampuan tempur prajurit dalam mengoperasikan Alutsista yang dimiliki”.

Latihan ini berfokus pada kesiapsiagaan operasional satuan, terutama dalam hal penguasaan teknis dan taktis penggunaan alutsista di lapangan. Dengan adanya latihan ini, diharapkan setiap prajurit mampu menguasai prosedur penembakan dengan benar, mencapai akurasi sasaran yang optimal dan bekerja sama dalam tim secara efektif,” ujarnya. (Penajusta) (Penkostrad)

  🚀 
Penkostrad  

Kamis, 07 Agustus 2025

PT SAS dan ITB Jalin Kemitraan Strategis Teknologi Pertahanan

  Termasuk “Bajra” ransus peluncur mortir mekatronik “Bajra” kendaraan peluncur mortir mekatronik (indomiliter)

PT SAS Aero Sishan, perusahaan holding industri pertahanan nasional menjalin kemitraan strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk pengembangan beberapa alpalhankam, antara lain sistem kendaraan pengangkut/peluncur mortir “Bajra”, sistem dukungan tempur berbasis Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dipersenjatai (weaponized drone, combatan drone), sistem roket kendali (Folded Fin Aerial Rocket) 70 mm dan 122 mm, serta sistem senjata berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligent).

Kemitraan strategis dituangkan lewat MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang ditandatangani di Bandung pada 31 Juli 2025. Dilansir dari laman resmi ITB, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi Institut Teknologi Bandung (DKST-ITB) berkomitmen untuk menjadi pusat pengembangan inovasi yang terintegrasi, memfasilitasi kolaborasi antara peneliti, dan pelaku industri serta tidak hanya fokus pada penelitian, tetapi juga mendorong pemanfaatan hasil penelitian untuk menciptakan solusi yang relevan bagi industri.

Kerja sama ini sudah dirintis sejak 2024 dan selama lima tahun ke depan PT SAS dan ITB berkomitmen mengerahkan segala sumber daya untuk riset dan pengembangan alpalhankam sesuai kesepakatan. Melalui kerja sama ini diharapkan dapat membantu program hilirisasi yang sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Kami percaya bahwa kolaborasi dengan institusi akademik seperti ITB adalah langkah strategis untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional, khususnya di sektor strategis. Kemitraan ini bukan hanya soal transfer teknologi, tapi juga tentang membangun kemandirian melalui riset dan pengembangan bersama, serta menyiapkan talenta unggul yang akan menjadi tulang punggung industri pertahanan Indonesia di masa depan,” ujar Rasyid Ridha, Direktur Utama PT SAS Aero Sishan.

PT SAS sebelum ini telah terlibat aktif dalam sejumlah proyek strategis bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI, termasuk pengembangan rocket guided launcher 70 mm.

Selain itu, PT SAS juga berkontribusi dalam Konsorsium Roket Nasional untuk pengembangan roket balistik RHan-122B. Keterlibatan ini mencerminkan peran PT SAS sebagai mitra teknologi dalam pengembangan sistem persenjataan dalam negeri, khususnya pada aspek sistem peluncur.

Kerja sama terbaru dengan Institut Teknologi Bandung melalui Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST-ITB) menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional. Dengan rekam jejak DKST-ITB dalam mendorong riset terapan dan hilirisasi teknologi, kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan solusi pertahanan berbasis riset serta memperkuat kemandirian teknologi dalam sektor pertahanan.

Dari beberapa produk yang disebut dalam kemitraan strategis, salah satunya adalah kendaraan pengangkut mortir “Bajra”, yang sepintas merupakan mortir swagerak (self propelled) yang dipasang pada platform kendaraan 4×4. Kendaraan ini tidak hanya membawa amunisi, melainkan juga dilengkapi peluncur mortir mekatronik kaliber 81 atau 120 mm di bagian belakang. (Haryo Adjie)

 💥 
indomiliter  

Rabu, 23 Juli 2025

TNI Bakal Dilengkapi Roket Canggih 70mm Buatan Lokal

  Kolaborasi PT SAS dan PTDI Ilustrasi peluncur roket kaliber 70 mm (Indomiliter)

Industri pertahanan dalam negeri kembali menorehkan kemampuan gemilang melalui pengembangan terintegrasi sistem peluncur dan roket berpemandu kaliber 70mm hasil sinergi strategis PT SAS Aero Sishan, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dan Balitbang Kemhan. Inovasi merah putih ini tidak hanya menandai kemajuan teknologi pertahanan mandiri, tetapi juga menjadi solusi presisi untuk kebutuhan operasional TNI, dengan fitur unggulan seperti akurasi tinggi, jangkauan optimal, dan kompatibilitas dengan berbagai platform tempur modern yang akan memperkuat deterensi pertahanan nasional.

Pengembangan dimulai dari modifikasi peluncur roket 70mm non-pemandu yang kini disempurnakan menjadi versi guided rocket launcher. Peluncur ini akan dipasang di kendaraan tempur dan sedang dipersiapkan untuk tahap uji coba menggunakan roket uji 70mm buatan PTDI. SAS sendiri berperan memasok beberapa komponen penting untuk roket tersebut.

Tak hanya peluncur roket, SAS dan PTDI juga sepakat memperluas kerja sama dalam pengembangan roket FFAR (Fin Folding Aerial Rocket) serta Guided Rocket “Merah Putih”, roket nasional yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri. Kedua perusahaan yang bergerak di industri pertahanan ini juga bekerja sama dalam pengembangan fasilitas pabrik roket di Tasikmalaya yang ditargetkan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

PT SAS berkomitmen mendukung kemandirian solusi teknologi di industri pertahanan. Lewat kerja sama ini, kami ingin membuktikan bahwa anak bangsa mampu merancang dan memproduksi roket dengan teknologi presisi, daya jelajah tinggi, dan sesuai dengan kebutuhan medan tempur modern,” ujar Rasyid Ridha, Direktur Utama PT SAS Aero Sishan.

Produk hasil pengembangan PT SAS dan PTDI, seperti launcher, roket non-pemandu 70mm dan guided rocket Merah Putih 70mm, akan dipasarkan bersama. PT SAS sendiri selanjutnya akan mendukung pemeliharaan untuk launcher dan roketnya.

Proyek pengembangan roket berpemandu diharapkan bisa menjadi Program Strategis Nasional untuk pertahanan negara.Ini akan menjadi bukti kemampuan teknis Indonesia di bidang alutsista, yang diharapkan dapat memperkuat posisi industri pertahanan dalam negeri sebagai pemain penting di kawasan Asia Tenggara.

  🚀 
Warta Ekonomi  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...