Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2026

Roket WAFAR RD70 Karya Anak Bangsa di Uji Coba di Tepi Laut Selatan

🚀produksi PTDI bersama PT SAS Roket Wafar RD70 (dispen Kormar)

Komandan Pasmar 2 Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto menyaksikan uji coba penembakan roket Wrap Around Fin Aerial Rocket (Wafar) RD70 di Lapangan Tembak Nanggala Depohar 60 Desa Poko, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kamis (18/06/2026)

Roket Wafar RD70 merupakan karya anak bangsa, diproduksi dan dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Komoditas ini merupakan bagian vital dari alutsista TNI dan sedang dikembangkan menuju kemandirian penuh melalui proyek roket berpemandu.

Roket produksi PT Dirgantara Indonesia dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

Dengan teknologi canggih, roket ini memiliki daya ledak tinggi dan presisi yang akurat, menjadikannya efektif untuk operasi militer dalam berbagai kondisi medan. PTDI memastikan bahwa setiap roket diproduksi dengan standar kualitas tinggi 

  🚀  Pelopor Wiratama  

Rabu, 22 April 2026

PTDI Garap Pesawat - Roket Bidik Posisi Mitra Pertahanan Utama Kawasan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3JuPuL4EfKlJ18ulYvHRUCMjvdNt4l_7BjIV8b9xpCIm7Vn4v2GK5kWwEx0V8iMvSwbpda-CkzepoRhJwXa6CyV6jhmz42yNyOZvFWgFhaE2c94amydyQoPFaBB98Eb68qmsSuNeWfTi4/s1600/Pesawat+N-219_n219.jpgPesawat N219 (PTDI)
PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) membidik posisi sebagai mitra pertahanan utama Malaysia dan kawasan Asia Pasifik secara lebih luas, melalui skema solusi end-to-end dan pengembangan alutsista mutakhir, termasuk sistem roket 70 mm, guna memperkuat kemandirian industri pertahanan di kawasan.

Strategi "total solusi" ini menjadi pembeda utama PTDI dibandingkan kompetitor global lainnya dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa ini. Di mana PTDI juga tidak lagi sekadar menjual badan pesawat, melainkan menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang militer Negeri Jiran tersebut.

"Partisipasi PTDI dalam DSA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kehadiran kami di Malaysia sebagai mitra jangka panjang," ujar Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal dalam keterangan di Bandung, Selasa.

Menurut Arif, rekam jejak PTDI di Malaysia sudah sangat mengakar. Sejak 1999, Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah mengoperasikan tujuh unit pesawat CN235-220.

Dengan adaptasi teknologi, PTDI sukses dalam program modifikasi tiga unit pesawat TUDM menjadi pesawat pengintai maritim atau Maritime Surveillance Aircraft (MSA) pada 2023.

Selain memperkuat lini CN235, PTDI kini membidik pasar Malaysia untuk pesawat NC212i, pesawat N219, hingga sistem roket 70 mm.

Pendekatan ini mencakup layanan purnajual komprehensif mulai dari pemeliharaan (MRO), Service Life Extension Program (SLEP), hingga dukungan suku cadang dan perbaikan struktur.

Dengan rekam jejak operasional pesawat CN235-220 di TUDM serta pengalaman dalam berbagai program layanan purnajual, PTDI terus berkomitmen menghadirkan solusi yang andal dan berkelanjutan, tidak hanya pada produk pesawat tapi juga sistem pertahanan lainnya seperti roket,” ujar Arif.

Kehadiran PTDI di bawah payung Holding Defend ID ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pameran pertahanan terbesar Asia Pasifik tersebut.

Melalui kolaborasi strategis ini, PTDI optimistis dapat mengoptimalkan platform pesawat buatan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan spesifik keamanan regional..

  antara  

Senin, 23 Februari 2026

Kontrak Kerjasama Rocket Launcher Badan Teknologi Pertahanan Kemhan RI

Pengembangan rocket laubcer (Batekhan Kemhan RI)

Badan Teknologi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melaksanakan penandatanganan kontrak kerjasama pengembangan dan pengadaan sistem rocket launcher sebagai bagian dari upaya strategis penguatan Alutsista nasional. 13/02/2026.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen Kemhan RI dalam meningkatkan kemandirian industri pertahanan, memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri, serta mendukung modernisasi sistem persenjataan TNI secara berkelanjutan.

Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong percepatan transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem riset dan inovasi pertahanan nasional.

Dengan sinergi yang solid antara pemerintah dan mitra strategis, pembangunan kekuatan pertahanan negara terus dilaksanakan secara terukur, profesional, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem pertahanan negara yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.

Bertekad Kuat, Berteknologi Maju, untuk Pertahanan Negara yang Mandiri.

  🤝 
Batekhan  

Sabtu, 07 Februari 2026

PT DI dan Sari Bahari Teken “Letter of Intent” Produksi Bersama Roket 70 dan 80 MM

  Akan dijual ke pasar Internasional PT Dirgantara Indonesia dan PT Sari Bahari menekan letter of intent produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm di sela acara Singapore Airshow 2026. (Foto: Dok. PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (DI) dan industri pertahanan dalam negeri, PT Sari Bahari, meneken letter of intent (LoI) untuk produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm.

Penandatanganan dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di Singapura, Rabu (4/2) waktu setempat. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI Arif Faisal dan Vice President Director PT Sari Bahari Putra Prathama Nugraha di booth PT DI A-L31.

Kesepakatan mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional.

Kerja samanya kolaborasi produksi antara PT DI dan Sari Bahari, penjualannya nanti joint marketing,” kata Putra Prathama kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (5/2).

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Arif Faisal menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman PT DI.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen PT DI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik dalam maupun luar negeri. (nma)

  🚀 
IDM  

Rabu, 26 November 2025

[Video] Rhan 122B Arjuna

➶ Sukses diujicobaMLRS Arjuna (Medef)

MLRS Arjuna adalah Kendaraan Peluncur Multi Roket (Multiple Launch Rocket System) buatan Indonesia yang dirancang oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana, menggunakan peluncur roket R-Han-122B dan berbasis truk KAMAZ 8x8.

Sistem ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 66% dan merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan kemandirian di sektor industri pertahanan.

Rhan 122B Arjuna menggunakan truk KAMAZ 8x8 sebagai sasisnya.

Dilengkapi dengan peluncur roket R-Han-122B kreasi lokal, dibuat oleh PT SAS Aero Sishan bersama PT Dahana dengan TKDN mencapai 66%.

Ransus ini merupakan wujud kemandirian industri pertahanan Indonesia

  Berikut video X Markicap :  


  Garuda MIliter  

Minggu, 16 November 2025

[Global] Defence Technology Institute (DTI) Akan Serahkan Peluncur Roket dan Rudal Serbaguna D11A

  Setelah selesai ujicoba akhir November Peluncur roket multi-laras serbaguna D11A untuk roket 122mm dan 306mm (Sompong Nondhasa)

Defence Technology Institute (DTI) milik pemerintah Thailand menyerahkan Peluncur Roket dan Rudal Serbaguna D11A pertama kepada Royal Thai Army (RTA) untuk penyebaran operasional.

Seorang pejabat DTI mengatakan kepada Janes di pameran Defense & Security 2025 di Bangkok bahwa platform pertama yang diserahkan telah menerima akreditasi dari RTA untuk menembak pada jarak hingga 40 km.

Unit pertama ini akan dipasok ke RTA pada akhir November setelah serangkaian uji coba pengguna dan uji coba dalam beberapa tahun terakhir, yang dilakukan oleh Resimen Artileri ke-71 RTA di Lopburi.

Bersamaan dengan itu, DTI sedang mengembangkan dan membangun prototipe D11A kedua, yang dipamerkan di pameran Defense & Security 2025 dan memiliki kemampuan untuk menembakkan roket pada jarak antara 150 km dan 300 km.

Pengujian prototipe kedua ini dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026, meskipun kendala potensial adalah kurangnya fasilitas pengujian lokal yang memiliki ruang yang diperlukan untuk menguji peluncur roket pada jarak yang lebih jauh.

Pejabat DTI mengatakan pengujian prototipe D11A kedua dapat dilakukan di luar Thailand, tetapi ia menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.

Pejabat tersebut mengonfirmasi bahwa RTA memiliki rencana untuk membeli enam unit D11A pertama, dengan potensi akuisisi lanjutan di tahun-tahun mendatang. Meskipun DTI berkomitmen untuk membangun dua prototipe pertama, produksi unit lanjutan kemungkinan akan dilakukan oleh fasilitas manufaktur RTA sendiri.

  🚀 
Jane's  

Senin, 06 Oktober 2025

MLRS Arjuna

➶ Kendaraan Peluncur Mulri Roket LokalMLRS Arjuna (Medef)

MLRS Arjuna adalah Kendaraan Peluncur Multi Roket (Multiple Launch Rocket System) buatan Indonesia yang dirancang oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana, menggunakan peluncur roket R-Han-122B dan berbasis truk KAMAZ 8x8.

Sistem ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 66% dan merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan kemandirian di sektor industri pertahanan.

Fitur Utama MLRS Arjuna:

➶​ Basis Kendaraan: Menggunakan truk KAMAZ 8x8 sebagai sasisnya.
➶​ Sistem Peluncur: Dilengkapi dengan peluncur roket R-Han-122B.
➶​ Produk Dalam Negeri: Dibuat oleh PT SAS Aero Sishan & PT Dahana dengan TKDN mencapai 66%.
➶​ Kemandirian Pertahanan: Merupakan wujud kemandirian industri pertahanan Indonesia dan penggunaan teknologi anak bangsa, seperti yang dilaporkan akun Instagram tersebut.

 
Garuda MIliter  

Rabu, 20 Agustus 2025

Yonarmed 1 Kostrad Hujani Lautan Ambal dengan Roket

Astros II Mk6 Yonarmed 1 Kostrad (Penkostrad)

Dalam rangka mengasah kemampuan prajurit Artileri Medan (Armed) melaksanakan Latihan Menembak Senjata Berat Teknis (Latbakjatratnis) Roket Astros II MK 6 Ta. 2025, Kegiatan berlangsung di Daerah Latihan Ambal, Kebumen, Jawa Tengah, Rabu (13/08/2025).

Mayor Arm Fauzi Raspati Al’ansyori, S.Sos., selaku Danyonarmed 1 Kostrad mengatakan “Tujuan utama dari Latihan Menembak Senjata Berat Teknis (Latbakjatratnis) adalah untuk meningkatkan dan menguji kemampuan tempur prajurit dalam mengoperasikan Alutsista yang dimiliki”.

Latihan ini berfokus pada kesiapsiagaan operasional satuan, terutama dalam hal penguasaan teknis dan taktis penggunaan alutsista di lapangan. Dengan adanya latihan ini, diharapkan setiap prajurit mampu menguasai prosedur penembakan dengan benar, mencapai akurasi sasaran yang optimal dan bekerja sama dalam tim secara efektif,” ujarnya. (Penajusta) (Penkostrad)

  🚀 
Penkostrad  

Kamis, 07 Agustus 2025

PT SAS dan ITB Jalin Kemitraan Strategis Teknologi Pertahanan

  Termasuk “Bajra” ransus peluncur mortir mekatronik “Bajra” kendaraan peluncur mortir mekatronik (indomiliter)

PT SAS Aero Sishan, perusahaan holding industri pertahanan nasional menjalin kemitraan strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk pengembangan beberapa alpalhankam, antara lain sistem kendaraan pengangkut/peluncur mortir “Bajra”, sistem dukungan tempur berbasis Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dipersenjatai (weaponized drone, combatan drone), sistem roket kendali (Folded Fin Aerial Rocket) 70 mm dan 122 mm, serta sistem senjata berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligent).

Kemitraan strategis dituangkan lewat MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang ditandatangani di Bandung pada 31 Juli 2025. Dilansir dari laman resmi ITB, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi Institut Teknologi Bandung (DKST-ITB) berkomitmen untuk menjadi pusat pengembangan inovasi yang terintegrasi, memfasilitasi kolaborasi antara peneliti, dan pelaku industri serta tidak hanya fokus pada penelitian, tetapi juga mendorong pemanfaatan hasil penelitian untuk menciptakan solusi yang relevan bagi industri.

Kerja sama ini sudah dirintis sejak 2024 dan selama lima tahun ke depan PT SAS dan ITB berkomitmen mengerahkan segala sumber daya untuk riset dan pengembangan alpalhankam sesuai kesepakatan. Melalui kerja sama ini diharapkan dapat membantu program hilirisasi yang sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Kami percaya bahwa kolaborasi dengan institusi akademik seperti ITB adalah langkah strategis untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional, khususnya di sektor strategis. Kemitraan ini bukan hanya soal transfer teknologi, tapi juga tentang membangun kemandirian melalui riset dan pengembangan bersama, serta menyiapkan talenta unggul yang akan menjadi tulang punggung industri pertahanan Indonesia di masa depan,” ujar Rasyid Ridha, Direktur Utama PT SAS Aero Sishan.

PT SAS sebelum ini telah terlibat aktif dalam sejumlah proyek strategis bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI, termasuk pengembangan rocket guided launcher 70 mm.

Selain itu, PT SAS juga berkontribusi dalam Konsorsium Roket Nasional untuk pengembangan roket balistik RHan-122B. Keterlibatan ini mencerminkan peran PT SAS sebagai mitra teknologi dalam pengembangan sistem persenjataan dalam negeri, khususnya pada aspek sistem peluncur.

Kerja sama terbaru dengan Institut Teknologi Bandung melalui Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST-ITB) menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional. Dengan rekam jejak DKST-ITB dalam mendorong riset terapan dan hilirisasi teknologi, kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan solusi pertahanan berbasis riset serta memperkuat kemandirian teknologi dalam sektor pertahanan.

Dari beberapa produk yang disebut dalam kemitraan strategis, salah satunya adalah kendaraan pengangkut mortir “Bajra”, yang sepintas merupakan mortir swagerak (self propelled) yang dipasang pada platform kendaraan 4×4. Kendaraan ini tidak hanya membawa amunisi, melainkan juga dilengkapi peluncur mortir mekatronik kaliber 81 atau 120 mm di bagian belakang. (Haryo Adjie)

 💥 
indomiliter  

Rabu, 23 Juli 2025

TNI Bakal Dilengkapi Roket Canggih 70mm Buatan Lokal

  Kolaborasi PT SAS dan PTDI Ilustrasi peluncur roket kaliber 70 mm (Indomiliter)

Industri pertahanan dalam negeri kembali menorehkan kemampuan gemilang melalui pengembangan terintegrasi sistem peluncur dan roket berpemandu kaliber 70mm hasil sinergi strategis PT SAS Aero Sishan, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dan Balitbang Kemhan. Inovasi merah putih ini tidak hanya menandai kemajuan teknologi pertahanan mandiri, tetapi juga menjadi solusi presisi untuk kebutuhan operasional TNI, dengan fitur unggulan seperti akurasi tinggi, jangkauan optimal, dan kompatibilitas dengan berbagai platform tempur modern yang akan memperkuat deterensi pertahanan nasional.

Pengembangan dimulai dari modifikasi peluncur roket 70mm non-pemandu yang kini disempurnakan menjadi versi guided rocket launcher. Peluncur ini akan dipasang di kendaraan tempur dan sedang dipersiapkan untuk tahap uji coba menggunakan roket uji 70mm buatan PTDI. SAS sendiri berperan memasok beberapa komponen penting untuk roket tersebut.

Tak hanya peluncur roket, SAS dan PTDI juga sepakat memperluas kerja sama dalam pengembangan roket FFAR (Fin Folding Aerial Rocket) serta Guided Rocket “Merah Putih”, roket nasional yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri. Kedua perusahaan yang bergerak di industri pertahanan ini juga bekerja sama dalam pengembangan fasilitas pabrik roket di Tasikmalaya yang ditargetkan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

PT SAS berkomitmen mendukung kemandirian solusi teknologi di industri pertahanan. Lewat kerja sama ini, kami ingin membuktikan bahwa anak bangsa mampu merancang dan memproduksi roket dengan teknologi presisi, daya jelajah tinggi, dan sesuai dengan kebutuhan medan tempur modern,” ujar Rasyid Ridha, Direktur Utama PT SAS Aero Sishan.

Produk hasil pengembangan PT SAS dan PTDI, seperti launcher, roket non-pemandu 70mm dan guided rocket Merah Putih 70mm, akan dipasarkan bersama. PT SAS sendiri selanjutnya akan mendukung pemeliharaan untuk launcher dan roketnya.

Proyek pengembangan roket berpemandu diharapkan bisa menjadi Program Strategis Nasional untuk pertahanan negara.Ini akan menjadi bukti kemampuan teknis Indonesia di bidang alutsista, yang diharapkan dapat memperkuat posisi industri pertahanan dalam negeri sebagai pemain penting di kawasan Asia Tenggara.

  🚀 
Warta Ekonomi  

Senin, 07 Juli 2025

PTDI Kembangkan Sistem Roket dan Senjata Terintegrasi

 🤝 Kerjasama dengan LIG Nex1 maupun PT SAS Aero Sishan 
https://militarnyi.com/wp-content/uploads/2022/07/Screenshot_3-4-1.jpgRudal Poniard/K-LIG Nex1 (LIG Nex1) 🚀

PT
Dirgantara Indonesia (PTDI) saat ini terus mengembangkan sistem roket dan senjata terintegrasi bekerja sama dengan LIG Nex1 Korea Selatan dan PT SAS Aero Sishan dari Indonesia.

Menurut Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, berbagai kerja sama ini menegaskan komitmen PTDI dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan membangun sinergi global demi mendukung sistem pertahanan yang tangguh dan berdaya saing.

"Kerja sama dengan LIG Nex1 dari Korea Selatan maupun PT SAS Aero Sishan dari dalam negeri merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring aliansi teknologi, membuka peluang transfer teknologi, serta memperkuat rantai pasok nasional. Dalam rangka peningkatan TKDN, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat memberi nilai tambah bagi ekosistem industri pertahanan nasional dan berkontribusi langsung terhadap penguatan kapasitas teknologi dalam negeri," ujar Arif dalam siaran medianya ditulis Bandung, Selasa (1/7/2025).

Untuk penandatangan kerja sama dengan perusahaan pertahanan dari Korea Selatan LIG Nex1, disaksikan oleh Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Donny Ermawan Taufanto, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada 12 Juni 2025 lalu.

Dalam kerja sama itu disepakati kerja sama strategis yang mencakup kegiatan joint marketing, penjualan, produksi bersama, serta integrasi sistem senjata, meliputi torpedo ringan dan rudal anti kapal selam, sonobuoy, roket berpemandu kaliber 70 mm, roket berpemandu kaliber 130 mm, serta bom berpemandu GPS Korea (Korean GPS-Guided Bomb).

"Seluruh kegiatan pemasaran dan penjualan bersama sistem senjata ini akan difokuskan di wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara (ASEAN)," kata Arif.

Perjanjian ini dikukuhkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), yang dilakukan secara simbolis langsung oleh Arif dan Executive Vice President Global Business Group – LIG Nex1, Paik Hyung Shik, dalam gelaran Indo Defence 2024 Expo & Forum hari kedua.

Kolaborasi ini sebut Arif, mempertegas eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan sistem pertahanan moderen yang saling menguntungkan dan berorientasi ke masa depan.

"PTDI juga telah sepakati MoU dengan PT SAS Aero Sishan untuk pengembangan unit peluncur roket 70mm dan pengadaan roket uji, serta pengembangan, produksi, pemasaran dan pemeliharaan roket FFAR 70 mm dan Guided Rocket Merah Putih," ungkap Arif.

Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas integrasi sistem senjata secara lokal guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional, serta mendorong terwujudnya kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 Rekam Jejak Alutsista PTDI 

https://www.indonesian-aerospace.com/images/media/news//news_1315/news_1315.jpg?t=1751138700Roket FFAR PT DI (PT DI)

PTDI memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan roket dan telah memiliki lisensi resmi dari Thales Belgium untuk memproduksi motor rocket berkaliber 70 mm.

Sejak tahun 1985, PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43 ribu unit Folding Fin Aerial Rocket (FFAR) dan Wrap Around Fin Aerial Rocket (WAFAR) 70 mm dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 20-40 persen, dimana untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10 ribu unit per tahun.

Sedangkan untuk warhead, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40 ribu unit dengan TKDN mencapai 60-85 persen, yang kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit per tahun.

Seluruh program pengembangan roket ini dilakukan di Kawasan Produksi 3, Tasikmalaya, yang telah ditetapkan sebagai Centre of Excellence untuk munisi roket udara kaliber 70 mm dan akan terus dikembangkan dengan teknologi terbaru seperti guided rocket, anti-drone warhead dan sistem sejenis lainnya.

Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Motor Rocket RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Motor Rocket RD-702 dan Motor Rocket RD-701.

Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk roket PTDI telah memenuhi standar keamanan dan kualitas, serta layak digunakan untuk mendukung TNI dalam menjaga kedaulatan negara.

  🚀 Liputan 6  

Minggu, 15 Juni 2025

Industri Dalam Negeri Kolaborasi Kembangkan Roket SLT

 Di Indo Defence 
https://cdn.antaranews.com/cache/1200x800/2025/06/13/IMG-20250613-WA0040_3.jpg🤝 (antara)

P
erusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang Pertahanan PT Dahana bekerja sama dengan perusahaan swasta dalam negeri Hariff Defense mengembangkan roket Senjata Lawan Tank (SLT) untuk diproduksi secara masal.

Kerja sama itu terjalin dengan ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) dalam pameran alat utama sistem senjata Indo Defence di Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat.

Berdasarkan siaran pers resmi yang diterima Antara di Jakarta, dijelaskan bahwa Senjata Lawan Tank (SLT) itu merupakan senjata berukuran kecil dan ringan yang dirancang untuk keperluan pelatihan militer.

Roket SLT ditembakkan melalui peluncur (launcher) yang dapat digunakan berulang kali menjadikannya solusi yang efisien untuk latihan tembak.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgd0WeEecaN9hHTXUT-uXqGHRI49ymJcf0YcyzSimk6NL4Wp5JmCDf7g3an0upiNUVUZPbYkcYqDK6-c_kMT1OQ-KrECifl8pB-6kTE-ngEF48TkbZkcq4gcJZgskMRj7SYlyUyR-VQ3jkqBfHyeiGipeVW2xDt6SbP2xzpNBvhuxiW9JPhe-WwLKtkdlKe/s1364/Hariff_1.jpgSLT (Senjata Lawan Tank) Hariff Defense (Hariff defense) 🚀

Pada pengembangan tahap pertama, roket ini dapat meluncur hingga 600 meter. Dengan adanya kerja sama ini, roket SLT ini dapat dikembangkan menjadi Guided Missile sebelum menjadi Smart Missile buatan Indonesia.

President Director, PT Hariff Dipa Persada (Hariff Defense), Adi Nugroho menjelaskan, kerja sama ini melambangkan kuatnya sinergitas antara industri pertahanan milik negara dan swasta dalam negeri.

"Kolaborasi ini mencerminkan bahwa kami, anak bangsa, berkomitmen penuh untuk memperkuat pertahanan nasional lewat sinergi antara perusahaan swasta nasional dan BUMN,” kata Adi Nugroho.

Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan roket SLT hasil karya anak bangsa ini bisa menjadi produk yang berkualitas dan dapat bersaing dengan produk dari luar negeri.
 
  🚀  antara  

Jumat, 13 Juni 2025

PTDI Gandeng Mitra Global dan Nasional

 Kembangkan Sistem Roket dan Senjata Terintegrasihttps://www.indonesian-aerospace.com/images/media/press/press_305/press_305.jpg?t=1749786159(PTDI)

Dalam ajang Indo Defence 2024 Expo & Forum yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapabilitas nasional di bidang teknologi roket. Melalui penandatanganan sejumlah kerja sama strategis dengan mitra dari dalam dan luar negeri, PTDI mendorong kolaborasi untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan mempercepat penguasaan teknologi sistem senjata roket.

PTDI memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan roket dan telah memiliki lisensi resmi dari Thales Belgium untuk memproduksi motor rocket berkaliber 70 mm. Sejak tahun 1985, PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43.000 unit Folding Fin Aerial Rocket (FFAR) dan Wrap Around Fin Aerial Rocket (WAFAR) 70 mm dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 20%-40%, dimana untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10.000 unit per tahun. Sedangkan untuk warhead, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40.000 unit dengan TKDN mencapai 60%-85%, yang kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit per tahun. Seluruh program pengembangan roket ini dilakukan di Kawasan Produksi 3, Tasikmalaya, yang telah ditetapkan sebagai Centre of Excellence untuk munisi roket udara kaliber 70 mm dan akan terus dikembangkan dengan teknologi terbaru seperti guided rocket, anti-drone warhead dan sistem sejenis lainnya.

Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Motor Rocket RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Motor Rocket RD-702 dan Motor Rocket RD-701. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk roket PTDI telah memenuhi standar keamanan dan kualitas, serta layak digunakan untuk mendukung TNI dalam menjaga kedaulatan negara.
 Teken Kerja Sama Sistem Senjatahttps://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2025/01/bba401d6-a1fb-41be-b1a6-94c78b6824ad.jpgRoket FFAR PT DI (Ist)

Disaksikan oleh Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Donny Ermawan Taufanto, PTDI dan LIG Nex1, perusahaan pertahanan terkemuka asal Korea Selatan, menyepakati kerja sama strategis yang mencakup kegiatan joint marketing, penjualan, produksi bersama, serta integrasi sistem senjata, meliputi torpedo ringan dan rudal anti kapal selam, sonobuoy, roket berpemandu kaliber 70 mm, roket berpemandu kaliber 130 mm, serta bom berpemandu GPS Korea (Korean GPS-Guided Bomb). Seluruh kegiatan pemasaran dan penjualan bersama sistem senjata ini akan difokuskan di wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Perjanjian ini dikukuhkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), yang dilakukan secara simbolis oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Executive Vice President Global Business Group – LIG Nex1, Paik Hyung Shik, dalam gelaran Indo Defence 2024 Expo & Forum hari kedua.

Kolaborasi ini mempertegas eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan dalam pengembangan sistem pertahanan modern yang saling menguntungkan dan berorientasi ke masa depan.
 Kembangkan Roket Merah Putih
Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dalam negeri, PTDI juga telah sepakati MoU dengan PT SAS Aero Sishan untuk pengembangan unit peluncur roket 70mm dan pengadaan roket uji, serta pengembangan, produksi, pemasaran dan pemeliharaan roket FFAR 70 mm dan Guided Rocket Merah Putih. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas integrasi sistem senjata secara lokal guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional, serta mendorong terwujudnya kemandirian Alutsista.

Berbagai kerja sama ini menegaskan komitmen PTDI dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan membangun sinergi global demi mendukung sistem pertahanan yang tangguh dan berdaya saing.

Kerja sama dengan LIG Nex1 dari Korea Selatan maupun PT SAS Aero Sishan dari dalam negeri merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring aliansi teknologi, membuka peluang transfer teknologi, serta memperkuat rantai pasok nasional. Dalam rangka peningkatan TKDN, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat memberi nilai tambah bagi ekosistem industri pertahanan nasional dan berkontribusi langsung terhadap penguatan kapasitas teknologi dalam negeri,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.

  🚀 PTDI  

Sabtu, 18 Januari 2025

PTDI dan Thales Belgia Bersiap Kerjasama Produksi Roket Lagi di Tasikmalaya

Roket produksi PTDI (PTDI) ➶

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Thales Belgia bersiap kembali melakukan kerjasama produksi roket. Kedua pihak sudah melihat-lihat kawasan produksi III PTDI di Tasikmalaya, Rabu, 15 Januari 2024.

PTDI dan Thales Belgia berniat mengaktifkan kembali kolaborasi yang pernah terjalin, termasuk produksi roket. Yang dimaksud, adalah roket keperluan senjata militer.

Delegasi Thales Belgium dipimpin oleh Domain Director Thales Belgium, Thomas Colinet, diterima oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal beserta jajaran Manajemen PTDI.

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyebutkan, kunjungan ini merupakan tindak lanjut pertemuan PTDI dan Thales di Bali International Airshow 2024.

Kedua pihak mendorong mempererat kembali kerja sama yang pernah terjalin sejak tahun 1980-an. Tidak hanya itu, keberlanjutan kerja sama ini juga menunjukkan kesiapan kami dalam memenuhi kebutuhan roket di Indonesia,” ujar Moh Arif Faisal.

 Sejarah kerjasama 
PTDI memiliki sejarah panjang dalam pengembangan roket. Pada tahun 1985-1996, IPTN (sekarang PTDI) memperoleh lisensi resmi dari Forges de Zeebrugge S.A. (FZ) Belgium (sekarang Thales Belgium) untuk memproduksi motor rocket berkaliber 2,75 inch (70 mm).

Kerja sama ini akan dibangkitkan kembali melalui rencana penandatanganan framework agreement yang mencakup joint marketing, sales dan produksi roket kaliber 2,75 inch (70 mm) dimulai dari pasar domestik dan terbuka peluang di pasar regional.

PTDI menggunakan kode RD dan WD untuk produk yang dipasarkan di Indonesia. PTDI telah berhasil mengintegrasikan roket 2,75 inch (70 mm) ke berbagai platform udara milik TNI AD, TNI AU dan TNI AL, baik rotary wing maupun fixed wing.

Beberapa platform yang telah teruji kompatibel dengan roket ini meliputi helikopter AS555 Fennec, BO105, Bell 212, NBell 412, NAS332 Superpuma, serta pesawat F-16 dan Embraer Supertucano. Selain itu, roket ini juga dapat diaplikasikan pada helikopter Apache, Mi-35P dan S70 Blackhawk.

Sejak tahun 1985, PTDI memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43.000 unit roket FFAR dan WAFAR 2,75 inch (70 mm) dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 20% hingga 40%.

 Kapasitas produksi 
Untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10.000 unit/tahun. Sedangkan untuk warhead-nya, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40.000 unit dengan TKDN 60% hingga 85%, yang kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit/tahun.

Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Rocket Motor RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Rocket Motor RD-702 Mod.4, dan Rocket Motor RD-701.

Thales Belgium berencana untuk menginisiasi kerja sama dimulai dari perakitan produk roket 2,75 inch (70 mm) di fasilitas PTDI, yang kemudian dilanjutkan bertahap menuju transfer produksi dari Thales Belgium ke PTDI yang diharapkan dapat mendongkrak nilai TKDN roket PTDI menjadi di atas 40%.

Dalam pertemuan hari ini, PTDI dan Thales Belgium juga berdiskusi terkait arah kerja sama untuk pengembangan unguided rocket dan guided rocket. ***

  Pikiran Rakyat  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...