Tampilkan postingan dengan label Masa Transisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Transisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Januari 2024

[Video] Palagan Ambarawa 1945

 Diposkan Hendri Teja 

V
ideo ini merupakan bagian dari pertempuran (palagan) Ambarawa yang merupakan salah satu perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tentara Inggris-Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell, mendarat di Semarang untuk mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Mulanya Pemerintah Republik Indonesia menyambut baik. Namun, ketika pasukan Tentara Inggris mempersenjatai para tawanan tentara Belanda di Ambarawa dan Magelang, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) langsung marah besar. Pertempuran pun pecah di Magelang, dan merembet ke Ambarawa.

Letkol Isdiman, pemimpin TKR asal Purwokerto gugur. TKR juga berhasil dipukul mundur. Komandan Divisi V Banyumas, Kolonel Soedirman langsung mengambil alih kepemimpinan. Kepemimpinan Kolonel. Soedirman memberikan napas baru. Bala bantuan TKR terus mengalir dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang dan lain-lain. Akhirnya, tentara Inggris bisa dipukul mundur, dan lari ke Semarang.

Kelak, Kolonel Sudirman diangkat sebagai Panglima TKR, kelak menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pertama.

Footage: War Office Directorate of Public Relations, SEAC Film Unit.

 Berikut video dari Youtube :  


  📹 Youtube  

Minggu, 20 Agustus 2023

Kisah Ratusan Tentara India Membelot Bela Indonesia

 Dalam Pertempuran SurabayaSebuah poster yang dipasang oleh para pejuang Indonesia di Surabaya yang meminta agar pasukan India tidak melawan mereka. Poster itu berbunyi: ?Pandit Jawaharlal Nehru, pemimpin Kongres Nasional India, memerintahkan hari ini (30 September 1945) bahwa pasukan India tidak boleh digunakan untuk menekan perjuangan Indonesia dan pihak nasionalis lainnya.(IWM SE 5979 via BBC INDONESIA)

Sebanyak 600 tentara India yang dikerahkan oleh militer Inggris ternyata membelot dan berpihak dengan pejuang kemerdekaan Indonesia pada Pertempuran Surabaya yang berlangsung sejak 27 Oktober hingga 20 November 1945.

Ketika Sanyog Srivastava Ji mengunjungi monumen nasional Tugu Pahlawan memperingati para prajurit yang gugur dari pertempuran, ia selalu mencari nama-nama tentara India yang tewas berjuang bersama pejuang kemerdekaan Indonesia.

"Ketika Anda pergi ke Monumen Pahlawan, Anda akan menemukan beberapa penjelasan. Dan para warga diaspora India di sini, mereka yang belajar di sekolah Indonesia, mereka sangat akrab (dengan peristiwa ini)," katanya.

Sanyog sudah tinggal di Surabaya hampir 25 tahun bersama keluarganya. Ia mengatakan, Pertempuran Surabaya memiliki makna mendalam bagi warga India maupun Indonesia.

"Keduanya tertekan oleh penjajah asing selama kurun waktu yang lama. Dan ketika tentara India datang ke sini di bawah perintah Inggris, mereka menyadari bahwa mereka menghadapi orang-orang yang senasib dengan mereka,” kata Sanyog dalam wawancara daring dengan BBC Indonesia dari rumahnya di Surabaya.

Dia merasa bahwa sebagian besar ekspatriat India di komunitasnya tidak sepenuhnya tahu tentang sejarah yang mengaitkan India dan Indonesia. Meski demikian, ia berharap lebih banyak orang akan mengetahui tentang cerita tersebut.

"Saya pikir itu akan menciptakan rasa kebersamaan, rasa kemanusiaan, rasa tanggung jawab terhadap kedua negara dalam diaspora India dan bercampur dengan budaya mereka, saling menghormati dan mengembangkan harmoni dan kerja sama," ujar Sanyog.

Sejarah keterlibatan India di Indonesia pada masa modern tak lepas dari peranan Inggris.

Pada awal abad ke-19, Inggris--yang menjajah India selama 89 tahun--kerap mengirim prajurit India, khususnya ke daerah-daerah Asia dan Timur Tengah (Mesir dan Suriah), untuk menyelesaikan konflik. Ada sekitar 250.000 prajurit India yang dapat dikerahkan militer Inggris.

Pengiriman prajurit India ke Indonesia dilakukan Inggris setidaknya dalam dua era.

Pertama, pada Agustus-September 1811, saat Inggris menginvasi Pulau Jawa dengan mengerahkan lebih dari 6.000 prajurit India.

Kedua, pada pengujung Perang Dunia II. Pengerahan brigade pasukan India berkekuatan 4.000 orang pimpinan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby (1899-1945) di Surabaya pada 25 Oktober 1945, memicu Pertempuran Surabaya.

Pada 10 November 1945, seluruh pasukan Divisi Kelima India, pimpinan Mayor Jenderal Sir Robert Mansergh (1900-70), mendarat di Surabaya dengan membawa tank dan pesawat tempur.

Pertempuran Surabaya pada 1945 itulah terakhir kalinya Inggris menggunakan pasukan India untuk menyelesaikan konflik kolonial. Sebab kehadiran pasukan India justru merugikan Inggris karena mereka memilih untuk membantu para pejuang Indonesia.

Tokoh nasionalis sekaligus mantan Menteri Luar Negeri Indonesia kelahiran Surabaya, Dr Roeslan Abdulgani, menyebut peristiwa itu sebagai “bencana yang menentukan jalannya sejarah Surabaya dan juga jalannya perjuangan kemerdekaan seluruh Indonesia”.

 Apa peran tentara India dalam Pertempuran Surabaya?
Para personel Divisi India Kelima militer Inggris mengisi ulang senjata mereka di pinggiran kota Gresik, sekitar 20 kilometer dari Surabaya.(IWM SE 6735 via BBC INDONESIA)

Pasukan Inggris pimpinan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby (1899-1945) tiba di Surabaya, pada 25 Oktober 1945.

Pihak Indonesia marah karena menganggap Belanda membonceng Inggris, guna merebut kembali kekuasaan atas Indonesia.

"Jadi di satu sisi, Inggris membukakan pintu bagi Belanda untuk kembali (ke Indonesia) pada 1946 dan Inggris menjadi pemegang tanggung jawab antara September 1945 dan Maret 1946," kata sejarawan Universitas Oxford yang ahli ahli sejarah modern Indonesia, Profesor Peter Carey.

Saat itu, India masih berada di bawah kekuasaan Inggris dan belum merdeka. Oleh karenanya, ribuan tentara India--yang berasal dari Punjab, Madras, Mahratta dan daerah lainnya--dapat dikerahkan oleh Inggris untuk "menjaga perdamaian" di Surabaya.

"Jadi Divisi India Kelima mendarat di Surabaya di bawah Mayor Jenderal Robert Mansergh, dan di dalamnya terdapat divisi India berisi 6.000 orang lengkap dengan dukungan Angkatan Udara dan Angkatan Laut," kata Profesor Carey.

Namun, pasukan Inggris tak menyangka sekitar 600 tentara India akhirnya membelot dan memilih untuk berjuang bersama para pejuang kemerdekaan Indonesia guna memerangi Belanda dan Inggris.

Divisi India Kelima menerima perintah dari Mansergh untuk menindas keras orang-orang Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan mereka.

"Orang-orang India berkata, 'mengapa kita susah-susah berjuang untuk Inggris ketika kita sendiri menginginkan kemerdekaan dari Inggris?'" jelas Profesor Carey.

Selain semangat nasionalisme yang menyatukan mereka, faktor lain yang memicu kerja sama tak terduga antara sejumlah prajurit India dan pejuang kemerdekaan Indonesia adalah kesamaan agama.

Di tengah pertempuran, terdengar seruan dari pasukan dan warga sipil Indonesia yang membuat sejumlah prajurit India sadar bahwa mereka diminta untuk melawan orang-orang seagama.

Lebih lanjut, berdasarkan buku The Role of Pakistan During the Indonesia Struggle tulisan Zahir Khan yang diterbitkan pada 2004 lalu, tertulis bahwa komandan Divisi 32 Brigade 1, Ghulam Ali, dan tentara lainnya membagikan pakaian serta beras, gula, garam dan kebutuhan pokok lainnya kepada rakyat Indonesia di Surabaya.

Meski demikian, Profesor Peter Carey berargumen bahwa pembelotan ratusan prajurit India dalam Pertempuran Surabaya lebih berkaitan dengan rasa nasionalisme daripada agama.

"Itu bukan hanya faktor agama. Itu lebih merupakan faktor nasionalis yang jauh lebih penting dan disertai semangat anti-kolonialisme."

Seorang tentara India berdiri di depan tank bekas tentara Jepang yang digunakan oleh para pemuda Indonesia dalam Pertempuran Surabaya 1945.(IWM SE 5866 via BBC INDONESIA)

Pertempuran Surabaya menimbulkan ribuan korban jiwa. Sebanyak 27.000 orang tewas--sebagian besar dari mereka merupakan perempuan dan anak-anak. Pada akhirnya, 600 tentara India yang membelot kemudian menyusut dan menyisakan 75 tentara.

Profesor Carey mengatakan, Inggris kehilangan sekitar 800 tentara dan bahwa itu merupakan "pertarungan yang sangat sengit".

Dalam buku berjudul Jejak Revolusi 1945, Sebuah Kesaksian Sejarah yang ditulis oleh PRS Mani, seorang perwira India di Angkatan Darat Inggris yang belakangan menjadi koresponden asing untuk Free Press Journal of Bombay, ia menceritakan momen ketika seorang tentara Rajput asal India yang pernah diterjunkan ke Burma malah berada di ambang kematian ketika dikirim ke Surabaya.

"Seorang Rajput pahlawan di Burma yang sedang berbaring menghadapi maut dengan peluru tentara Indonesia di jantungnya bertanya kepada saya, 'Pak, mengapa kami harus mati untuk Belanda?'" tulis Mani (hlm. 107, 1989).

Dalam catatannya (p. 92-108), Mani mengatakan pasukan India yang membelot dihormati oleh para pemuda Indonesia yang berjuang bersama mereka.

Mani kemudian menulis bahwa ada tekanan nasional dari tokoh India, Jawaharlal Nehru, yang mendesak agar pasukan Inggris segera menarik kembali tentara India dari Indonesia dan mengirim mereka pulang.

Akhirnya, permohonan mereka dikabulkan ketika Angkatan Darat Inggris menarik diri 20 November 1945. Pasukan India secara bertahap dikirim kembali ke negeri asal mereka, kali ini mereka bersiap-siap untuk memperjuangkan kemerdekaan mereka sendiri.

Setelah perang berakhir, Pemerintah Indonesia menganugerahi mereka dengan penghargaan tertinggi negara.

Beberapa prajurit terkenal yang ikut serta selama Pertempuran Surabaya termasuk Mayor Zia ul-Haq, yang kelak menjadi Presiden Pakistan.

 Dampak Pertempuran Surabaya terhadap India dan Indonesia
Sanyog Srivastava Ji dan istrinya berdiri di depan monumen nasional memperingati para pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Surabaya.(SANYOG SRIVASTAVA JI via BBC INDONESIA)

Terkait Pertempuran Surabaya pada 1945, Manojit Das selaku Presiden Asosiasi India di Surabaya (IAS) percaya bahwa orang India-Indonesia harus banyak belajar dari sejarah dan memperkuat hubungan antara kedua negara dan rakyatnya.

"India dan Indonesia memiliki beberapa kesamaan budaya. Serta banyak hal lainnya. Budayanya hampir mirip, dan kita dapat membayangkan bagaimana keduanya adalah dua negara dengan populasi terpadat di dunia," katanya kepada BBC News Indonesia.

Menurut catatan IAS, mereka memiliki sekitar 180 anggota dari 55 keluarga India yang tinggal di Surabaya. Banyak dari mereka adalah ekspatriat yang pindah dari India tetapi ada juga sebagian yang telah tinggal di Indonesia selama tiga hingga empat generasi.

Padahal, ia mengeklaim bahwa keluarga keturunan prajurit Divisi Kelima dan divisi Inggris-India lainnya telah lama meninggalkan Surabaya untuk menetap di negara-negara Asia Tenggara lainnya atau kembali ke India atau Pakistan.

Dia berharap lebih banyak orang dapat mengetahui lebih banyak tentang pasukan India yang ditempatkan di Indonesia dan bagaimana kedua negara itu saling membantu dalam perjuangan kemerdekaan.

Ketika India mengalami krisis pangan, Indonesia mengekspor 10.000 ton beras untuk mengatasi bencana kelaparan di Benggala Barat pada 1947.

"India membantu dalam hal logistik dan bantuan Palang Merah. Mereka membantu menjalankan blokade. India membantu di PBB dalam hal memberi suara di PBB setelah kemerdekaan mereka pada tengah malam Agustus 1947," jelas Profesor Peter Carey.

"India adalah teman dan merupakan salah satu negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia pasca 27 Desember 1949. India adalah sekutu dan teman (bagi Indonesia)," sambungnya.

Salah satu contoh penting adalah kerja sama antara Nehru dan Soekarno selama Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.

"Nehru menulis kepada Edwina Mounbatten dan mengatakan, 'Saya sangat terkesan dengan cara orang Indonesia menangani ini dan menjadi tuan rumah. Saya berani mengatakan bahwa kami tidak dapat melakukannya sebaik mereka," kata Prof. Carey.

Sanyog Srivastava Ji berdiri di samping Duta Besar untuk India Gurjeet Singh pada festival Diwali yang diadakan oleh IAS pada tahun 2015.(SANYOG SRIVASTAVA JI via BBC INDONESIA)

Sanyog Srivastava Ji, yang sempat menjabat sebagai presiden Asosiasi India dari 2012 hingga 2014, mengatakan bahwa Asosiasi India di Surabaya telah ada sejak lama, bahkan sebelum Indonesia memperoleh kemerdekaannya.

Dalam catatan PRS Mani tentang peristiwa yang terjadi sebelum pertempuran, ketika Jenderal AWS Mallaby ditembak, Kundan--presiden Asosiasi India di Surabaya pada waktu itu--berada tepat di sebelahnya. Dia menderita luka-luka ringan (p. 17, 1989).

Sanyog merasa bahwa kaum diaspora India seringkali memiliki rasa kewajiban dan tanggung jawab kuat terhadap komunitas di daerah tempat mereka tinggal.

"Saya pikir, kita semua yang tinggal jauh dari India di negara-negara asing turut serta berkontribusi pada negara yang kita tempati. Dan itu membantu kita untuk berkontribusi.

"Khususnya Indonesia, saya tidak pernah merasa tinggal jauh dari India. Secara budaya kita sangat dekat. Gaya pemikiran kami, rasa hormat kami kepada leluhur kami dan orang lebih tua, tekad kami dan keinginan kami untuk menumbuhkan generasi masa depan sangat mirip,
" ungkap Sanyog.

Dia berharap lebih banyak diaspora India akan belajar tentang kisah pasukan India di Indonesia dan terinspirasi untuk berkontribusi pada masyarakat tempat mereka tinggal dengan cara yang positif.

"Anda memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung dan menjaga negara tempat Anda tinggal. Untuk membantu mengembangkan negara dan membantu orang-orang di negara itu. Dengan begitu, Anda juga membantu bangsa Anda sendiri," kata Sanyog.

  💂 Kompas  

Minggu, 20 Desember 2015

Gagak van Oranje Menyambar Jantung Republik

Operatie KraaiOperatie Kraai 1948 [sukarnoyears]

Hari ini, 19 Desember 67 tahun silam (1948), Republik Indonesia terpaksa mendirikan pemerintahan darurat di Sumatera Barat. Gara-garanya, Belanda dengan menggelar Agresi Militernya yang kedua, merebut ibu kota republik yang saat itu bertempat di Yogyakarta.

Aksi polisionil, begitu sebutan “Negeri van Oranje” saat menggelar operasi besar merebut Yogya. Tapi pihak Indonesia mengenalnya dengan sebutan Agresi Militer Belanda II. Saat ini, momen Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) didirikan pada tanggal yang sama, diperingati sebagai Hari Bela Negara.

Sejak Belanda tahu bahwa bekas koloninya yang lepas pada Perang Dunia II itu memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945, dengan segala cara Belanda berusaha mengikis wilayah dan kekuatan militer republik.

Dari berbagai perjanjian dari Linggarjati hingga Renville, wilayah republik pun kian mengecil, hingga Belanda merasa tinggal merebut jantung republik di ibu kota, Yogya, maka republik pun bakal runtuh. Dilihat dari sudut pandang militer, agresi yang diberi kode “Operatie Kraai” atau Operasi Gagak ini sangat sukses.

Gempuran serangan udara ke Landasan Udara (Lanud) Maguwo (kini Bandara Adisoetjipto) yang disusul pendaratan pasukan elite Korps Speciale Troepen (KST), mengejutkan TNI yang berangsur mundur meninggalkan Yogya.

Hanya dalam waktu singkat tak sampai sehari, Yogya berhasil dikuasai. Pada tengah hari, dua pemimpin RI, Soekarno dan Mohammad Hatta ditahan dan kemudian “dibuang” ke Sumatera (Bangka dan Brastagi). Hanya pimpinan TNI, Jenderal Soedirman yang gagal ditangkap Belanda.

Akan tetapi, pasukan Belanda diingatkan agar tidak menjadikan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sebagai bidikan gempuran. Alasannya, salah satu keluarga Kerajaan Belanda, Putri (kelak Ratu) Juliana, masih ingin menghargai Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai bekas kawan satu sekolahnya.

Keraton diperingatkan tidak boleh dirusak. Tidak boleh dikuasai karena untuk menghargai Sultan (HB IX) Yogya,” cetus penggiat sejarah, Wahyu Bowo Laksono kepada Okezone.

Operatie Kraai terbilang sukses besar. Pimpinan operasi, Letjen Simon Hendrik Spoor yang juga Panglima KNIL (Koninklijke Nederlands Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda, tersenyum lebar saat meletakkan bendera-bendera kecil merah putih biru di petanya, sebagai penanda daerah-daerah yang ditaklukkan.

Operatie Kraai berhasil secara militer. Yogya berhasil kita kuasai dalam waktu sehari. Benar-benar Burung Gagak yang gagah karena berhasil menyambar dalam sekali pukul. Soekarno, Hatta sudah kita tangkap,” seru Spoor, sebagiamana dikutip buku ‘693 KM: Jejak Gerilya Sudirman”.

Tapi sayangnya, Operatie Kraai secara politis malah seolah jadi bumerang buat Belanda sendiri. Maksud Spoor melancarkan serangan jelang Hari Natal demi tak mendapat perhatian dunia ternyata tak kesampaian. Kabar tentang serangan ke ibu kota republik bahkan sudah terdengar di Paris, sebelum operasi mereka rampung.

Pada Agresi Militer II itu, harapannya Belanda adalah ketika Yogya dikuasai, pimpinan republik ditawan, maka republik akan tamat ceritanya. Ternyata dugaan Spoor salah. Pak Dirman tidak tertangkap. Republik juga mendirikan PDRI di Sumbar. Kemudian posisi Belanda jadi terpojok di dunia internasional,” sambung Wahyu.

Posisi Indonesia justru kian menguat dan Belanda, terus kian terpojok ketika para kombatan republik menggelar ofensif balasan, Serangan Oemoem 1 Maret pada 1949 yang menunjukkan pada dunia, bahwa TNI sebagai perangkat militer republik belum habis.

Meski hanya merebut Yogya lagi selama enam jam, tapi itu sudah cukup untuk dunia memaksa Belanda kembali duduk ke meja perundingan. Perjanjian Roem-Roijen kemudian tercapai dan 29 Juni 1949, Yogya kembali ke pangkuan ibu pertiwi. (Sil)

  Okezone  

Sabtu, 19 Desember 2015

Detik-Detik Agresi Militer Belanda II

Operatie KraaiOperatie Kraai [inenomassen.nl]

Berulang kali Republik Indonesia yang masih “bayi” pada enam dekade lalu, diusik agresi bersenjata Belanda yang tak rela melihat bekas koloninya yang dulu bernama Hindia-Belanda itu memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945.

Belanda pun melancarkan dua agresi. Yang pertama terjadi pada Juli 1947 dan yang lebih dahsyat, terjadi hari ini 67 tahun silam atau 19 Desember 1948 yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda II atau “Clash II”.

Yogyakarta yang saat itu merupakan ibu kota republik, jadi sasaran utama. Secara mendadak, Belanda melancarkan serangan dan dalam sehari, ibu kota republik sudah di tangan pasukan agresor pimpinan Letjen Simon Hendrik Spoor, Panglima KNIL (Koninklijke Nederlands Indisch Leger) atau Pasukan Kerajaan Hindia-Belanda.

Oleh pihak Indonesia, serangan mendadak oleh Belanda yang dinamai “Operatie Kraai” atau Operasi Gagak itu disebut tindakan pengecut, lantaran Belanda menyerang dengan tidak lebih dulu menyatakan perang.

Pun begitu, detik-detik serangan itu sedianya sudah bisa diduga sebelumnya. Akan tetapi, peringatan dari perwakilan delegasi Indonesia dalam Komite Tiga Negara (KTN) di Batavia (kini Jakarta), tak bisa diteruskan lantaran komunikasi telah diputus oleh intel Belanda.

Di sisi lain, serangan ke Yogyakarta itu sedianya sudah diajukan untuk dimintai persetujuan ke Parlemen Belanda. Namun baru bisa terlaksana pada Desember 1948, setelah terjadi perdebatan alot di antara para politisi Belanda di Den Haag.

Terlepas dari pro kontra elite politik Belanda, akhirnya parlemen Belanda memutuskan, ‘tindakan pengamanan dan menegakkan ketertiban di Yogya. Setelah itu, Spoor mendapat lampu hijau untuk menjalankan agresi,” ujar penggiat sejarah, Wahyu Bowo Laksono kepada Okezone.

Pengumuman pun dilayangkan lewat radio Belanda, kalau mereka tak lagi terikat Perjanjian Renville pada tanggal 18 Desember jam 12 tengah malam (atau 19 Desember pukul 00.00),” tambahnya.

Namun pengumuman radio Belanda itu baru disiarkan pada Minggu pagi, 19 Desember 1948, ketika Landasan Udara Maguwo, Yogyakarta (Kini Lanud Adisoetjipto), sudah dikuasai pasukan elite Belanda, Korps Speciale Troepen (KST).

Detik-detik akan datangnya serangan itu sedianya sudah mulai dirasakan pihak Indonesia. Kolonel Tahi Bonar Simatupang dalam buku ‘Doorstoot naar Djokja’, bahkan sudah menaruh curiga ketika delegasi Belanda di KTN menyatakan akan ada pengumuman penting pada Minggu pagi, 19 Desember 1948.

Tidak masuk akal, masak mereka mengeluarkan pengumuman penting pada hari Minggu pagi? Sewaktu mereka melakukan agresi 21 Juli 1947, (Gubernur Jenderal Hubertus) van Mook tanpa perasaan mengatakan bahwa beberapa jam sebelumnya, pasukannya sudah melintasi garis demarkasi. Apa tidak mungkin mereka juga akan melakukan pendadakan serupa?,” seru Kol. Simatupang pada Wakil Presiden, Mohammad Hatta.

Apa mereka sudah gila? Bagaimana mungkin mereka berani menyerang republik, sementara anggota KTN bersama semua staf dan wartawan asing masih berada di Kaliurang (utara Yogya)? Tenang-tenang sajalah,” jawab Hatta.

Sabtu, 18 Desember malam, sebuah surat pun sampai ke meja Sekjen Delegasi RI untuk KTN, Mr. Soedjono yang bertuliskan, “Perjanjian harus dihapuskan dan tak lagi mengikat (RI-Belanda) terhitung sejak Minggu, 19 Desember, jam 00.00 waktu Batavia,”.

Soedjono yang terkejut pun segera memerintahkan pejabat penghubung, Joesoef Ronodipoero untuk mengontak Yogya. Sayang, semua saluran komunikasi sudah diputus. Joesoef pun menemui Ketua KTN yang juga diplomat Amerika Serikat (AS), Merle Cochran di Hotel Des Indes (kini sudah dibongkar dan dijadikan Pertokoan Duta Merlin).

Sial, kita harus segera ke Yogya, sekarang!,” cetus Cochran saat diinfokan Joesoef soal situasi tersebut. Namun nahas, upaya mereka ke Yogya dari Landasan Udara Kemayoran, kandas karena tak mendapat izin terbang dari petugas landasan setelah dinyatakan tertutup untuk lalu lintas penerbangan.

Upaya untuk bertemu Delegasi Belanda, Elink Schuurman pun sia-sia. Laporan Joesoef ini juga disampaikan kepada Prof. Soepomo yang pernah jadi teman masa kuliah Schuurman. Tapi Soepomo tak bisa mendapat penjelasan dari Schuurman, lantaran sambungan telefonnya juga sudah diputus intel Belanda.

Di sisi lain, Jenderal Spoor sebagai perwira tertinggi pelaksana operasi mulai memerintahkan persiapan sejak 19 Desember 2015 dini hari. Operatie Kraai yang diusung Spoor, punya tiga misi.

Pertama, menangkap pimpinan sipil dan militer republik. Kedua, menguasi sentra politik dan militer. Ketiga, omsingelen en uitschakelen – melakukan aksi pengepungan sekaligus menghancurkan konsentrasi perlawanan bersenjata tentara republik.

Belanda menyerang dengan kekuatan dua kompi KST dari Lanud Andir (kini Lanud Husein Sastranegara, Bandung), dua batalion baret hijau, T Brigade (Tijger Brigade) pimpinan Letkol van Langen dari Lanud Kalibanteng (Kini Bandara Achmad Yani, Semarang),” tambah Wahyu.

Pasukan darat itu mengepung Yogya dari arah Solo, perbatasan Gombong, Kroya dan Ambarawa. Itu ada tiga divisi KL (Koninklijke Landmacht/AD Belanda), 23 Batalion KNIL, ditambah kavaleri, artileri didukung pesawat angkut dan pesawat tempur,” imbuhnya lagi.

Tapi dari kesaksian pasukan TNI saat itu yang jaga perbatasan (garis demarkasi) Kebumen-Gombong, tidak banyak yang tahu bahwa infantri pelopor Belanda merangsek ke Yogya, menyamar dengan kendaraan PBB sejak 18 Desember malam,” sambung Wahyu.

Sementara di Lanud Andir jelang serangan, Spoor menggelar briefieng singkat kepada para pasukan KST pimpinan Kolonel Van Beek.

Kalian terpilih untuk de laatste actie. Diterjunkan di Maguwo sebelum fajar, kemudian membebaskan Yogya dari tangan ekstremis serta menangkap Soekarno bersama pengikutnya. Saya menaruh kepercayaan. Semoga Tuhan melindungi,” seru Spoor dalam buku ‘Doorstoot naar Djokja’.

Serangan udara pada pukul 05.15 pun mengawali Operatie Kraai. Pesawat Pembom B-25 Mitchell memuntahkan sejumlah bom yang segera disusul tembakan senapan mesin lima pesawat pemburu P-51 “Mustang”, serta sembilan pesawat P-40L “Kittyhawks”.

Pukul 06.45 perlawanan minim dari pasukan dan kadet Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan mudah dilumpuhkan. Tak berapa lama, pasukan KST pun terjun. Singkat kata, Yogyakarta sudah bisa dikuasai pada tengah hari dengan ditangkapnya Soekarno.

Sementara, Wakil Agung Mahkota, Louis Beel, baru menyatakan Belanda tak terikat lagi dengan Perjanjian Renville, lewat Radio Batavia pada pukul 08.00 pagi atau tiga jam 45 menit setelah serangan pertama Belanda dilancarkan ke Maguwo. Adapun berita ini tersebar ke dunia internasional lewat All India Radio di New Delhi, Minggu malam, 19 Desember 1949. (Sil)

  Okezone  

Senin, 15 Juni 2015

Kesaksian dari Pertempuran Lengkong

Pertempuran tak seimbang pecah di Lengkong Besar Bandung. Pasukan Sekutu memukul para pejuang Republik.Tentara Sekutu dari 12th Yorkshire Battalion 5th Parachute Brigade, memeriksa para pemuda untuk mencari pejuang Republik Indonesia, pada 1945. [Imperial War Museums/en.wikipedia.org.]

PRIYATNA Abdurrasyid, ahli hukum ruang angkasa dan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen, salah seorang pemuda yang tersulut semangatnya oleh gaung Proklamasi kemerdekaan. Tanpa pikir panjang tentang bahayanya, dia ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Pengalaman Priyatna berjuang selama revolusi kemerdekaan dituangkan dalam otobiografi Dari Cilampeni ke New York Mengikuti Hati Nurani: H Priyatna Abdurrasyid karya Ramadhan K.H. Dia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), lalu masuk Sekolah Kader Militer di Yogyakarta yang dikepalai Letjen Hidajat Martaatmadja. Pendidikan militer selama tiga bulan itu langsung melatih para siswanya ke lapangan pertempuran sungguhan.

Priyatna mendapat tugas ke Bandung yang telah dikuasai Sekutu. Sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris, India, dan Gurkha bertugas membebaskan tawanan dan interniran serta melucuti pasukan Jepang. Dalam menjalankan tugasnya, mereka berkoordinasi dengan aparat Indonesia dengan membentuk Badan Perhubungan. Di Bandung, pasukan Sekutu menginap di Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.

Sebuah insiden mengubah keadaan damai akibat provokasi-provokasi. Para pejuang melawan. Kontak senjata terjadi sejak 25 November. Pemicunya, tindakan “gegabah” pasukan Sekutu yang menembaki penduduk saat berusaha menyelamatkan diri ke dekat Hotel Homann akibat banjir bandang Sungai Cikapundung pada 25 November. Entah karena tak tahu beda antara penduduk dan pejuang atau ada provokasi dari NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda), berondongan senjata memangsa banyak penduduk. “Menurut berita kemudian, banjir besar tersebut adalah hasil kerja sabotase agen NICA-Belanda dengan jalan membobol pintu air Danau Pakan di Dago atas,” ujar Priyatna.

Para pejuang membuat rencana pembalasan. Priyatna, komandan regu dari Yon II, bertugas mengumpulkan informasi guna penyusunan rencana operasi. Dia mengepos di hotel kecil milik sahabatnya, M. Rais, tak jauh dari hotel tempat menginap pasukan Sekutu. “Jadi saya hafal sekali setiap sudutnya, karena sering main di situ,” ujarnya.

Paginya, beberapa pejuang yang membantu evakuasi penduduk diserang pasukan Sekutu. Ternyata mereka hanya memancing. Keluarnya pasukan Sekutu dari hotel menjadi santapan para pejuang yang sudah menunggu. Setelah senjatanya dirampas, pasukan Sekutu dibenamkan ke sungai Cikapundung yang deras.

Panglima Sekutu di Jawa Barat Brigjen N. MacDonald marah besar. “Pada 27 November Jenderal MacDonald mengeluarkan sebuah ultimatum yang memerintahkan agar wilayah kota dari tengah ke utara harus ditinggalkan orang Indonesia dalam tempo 48 jam,” tulis Benedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution.

Nasution lalu memerintahkan seluruh pasukan menyingkir ke selatan kota Bandung. Meski begitu, perlawanan terus berjalan. Pada 3 Desember, mereka menyergap konvoi pasukan Sekutu yang akan masuk Bandung di jalan antara Padalarang-Cimahi.

Sekutu kemudian membalas. Dengan dalih membebaskan tawanan dan interniran Belanda di Tun Dorp, daerah Lengkong Dalam, mereka membuka ofensif dengan bombardir udara. Tak lama kemudian, datang pasukan darat didukung tank dan panser. Kontak senjata terjadi di Jalan Lengkong Besar, tempat di mana pejuang memusatkan penghadangan.

Berondongan senapan mesin dan muntahan kanon dari tank-tank Inggris memporak-porandakan konsentrasi pasukan Republik. Meski pejuang Indonesia bahkan ada yang berhasil menaiki dan melumpuhkan tank, kekuatan mereka sangat tak sebanding dengan pasukan Sekutu yang modern. Bombardir udara oleh RAF dari AU Inggris makin menghancurkan pasukan pejuang. Serangan itu baru berhenti ketika senja, saat para pejuang sudah mundur sampai di persimpangan Jalan Tegalega.

Akibat pertempuran itu, banyak pejuang tewas. Salah satunya Sugiarto Kunto, sahabat Priyatna, yang gugur terkena pecahan mortir di dagu dan dada. “Sugiarto Kunto gugur tepat di sebelah saya. Di situ pertama kali saya melihat usus-usus manusia nyangkut di pohon-pohon, serta potongan tangan dan kaki yang bergelimpangan,” kenangnya. Untuk mengenang pertempuran tersebut, di sudut simpang tiga Jalan Lengkong Besar dengan Jalan Cikawao, dibangun Monumen Peristiwa Lengkong.

   Historia  

Sabtu, 30 Mei 2015

Nota Provokatif Belanda Jadi Trigger Agresi Militer I

Bala Tentara Belanda bersiap jelang Agresi Militer I (Foto: Wikipedia)

PROVOKASI demi provokasi biasa dijadikan Belanda untuk memancing kekuatan militer Indonesia untuk bertempur di front terbuka. Belanda merasa punya keuntungan dengan jumlah personel sekira 100 ribu pasukan, jika bentrok dengan TNI yang dianggap tak punya peralatan tempur memadai di medan terbuka.

Dan, salah satu provokasi “resmi” jelang melancarkan Agresi Militer I dengan sandi ofensif “Operatie Produkt” pada 21 Juli 1947, Belanda melayangkan nota bernada ancaman nan provokatif dua bulan sebelumnya.

Ya, pada 27 Mei 1947 (68 tahun silam), Belanda mengeluarkan ultimatum yang berisi sejumlah tuntutan. Tuntutan yang dirasa takkan bisa dipenuhi pemerintah RI dan wajib dibalas dalam tempo dua pekan.

Nota yang disampaikan pada pemerintah RI melalui perwakilan Belanda, Dr. P.J.A Idenburg itu berisikan sebagai berikut, seperti dikutip dari ‘Kronik Revolusi Indonesia’:

1. Pembentukan pemerintahan peralihan bersama.
2. Mengadakan garis demiliterisasi dan pengacauan di daerah-daerah Konferensi Malino (Negara Indonesia Timur, Kalimantan, Bali) harus dihentikan.
3. Mengadakan pembicaraan pertahanan negara, di mana sebagian Angkatan Darat, Laut dan Udara Kerajaan Belanda harus tinggal di Indonesia.
4. Pembentukan Kepolisian demi melindungi kepentingan dalam dan luar negeri.
5. Hasil-hasil perkebunan dan devisa diawasi bersama.

Merespons ultimatum itu, Perdana Menteri Sutan Sjahrir pun hanya bisa menafsirkannya antara kapitulasi (menyerah) pada Belanda, atau perang total. Belanda sendiri sedianya sudah mulai bersiap dengan menyiagakan sejumlah pasukan sejak Maret 1947.

Sjahrir tentu menolak dan itu jadi “trigger” atau pemicu tersendiri buat Kepala Staf pasukan Belanda Jenderal Simon Hendrik Spoor, untuk me-launching serangan total yang tentunya sesuai instruksi dari Den Haag.

Namun rencana Spoor sempat tersendat, lantaran pada akhirnya Sjahrir bertekuk lutut pada tuntutan tersebut. Akibatnya, Kabinet Sjahrir pun tumbang lantaran tak lagi dipercaya rakyat. Adapun Belanda, kembali melayangkan ultimatum pada 15 Juli 1947 dengan tuntutan pasukan TNI mundur 10 kilometer dari garis demarkasi.

Lantaran PM Amir Sjarifoeddin yang menggantikan Sjahrir tak memberi jawaban, maka meletuslah ofensif Belanda yang pertama ke berbagai wilayah RI di Sumatera dan Jawa pada 21 Juli 1947.

Terlepas dari sejumlah kejadian yang terjadi dalam agresi itu, pemerintah juga belum berhenti ikut bertarung di arena diplomasi. Sjahrir dan H. Agus Salim diutus ke Sidang Dewan Keamanan PBB, di mana akhirnya diputuskan Belanda harus menghentikan serangan pada 1 Agustus dan gencatan senjata sudah harus terjadi tiga hari setelahnya.

Spoor pribadi sedianya ‘kebelet’ meneruskan gerak ofensif pasukannya hingga Yogyakarta yang kala itu jadi Ibu Kota RI, yang kemudian ditentang pemerintah sipil Belanda.

Seperti termaktub dalam buku ‘Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949’, Spoor bercita-cita menguasai Yogyakarta yang kelak baru bisa dilakukannya pada Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.

Satu fakta menarik bahwa jelang Agresi Militer I itu, markas Tentara Belanda bahkan melancarkan psywar kepada tentaranya sendiri. Mereka menyebarkan selebaran yang tercatat dikeluarkan di Batavia (kini Jakarta) tertanggal 27 Mei 1947, bersamaan dengan keluarnya nota pemerintah Belanda kepada RI.

Selebaran itu dikatakan dikeluarkan pihak RI untuk memecah-belah Belanda antar kesatuan campuran KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda dengan Divisi I “7 December” yang merupakan kesatuan asli Angkatan Darat Belanda (Koninklijke Landmacht).

Tujuannya, agar para personel Divisi “7 December” kian terdongkrak spirit-nya jelang Agresi Militer I. Berikut kira-kira isi selebaran itu jika diterjemahkan dari bahasa Belanda:

“Para Perwira, Prajurit Divisi 7 Desember.

Dengan meningkatnya gejolak pemerintah menyelamatkan pasukan dalam setiap harinya ketika terlibat dan bertemu langsung dengan unit campuran dari KNIL, di mana mayoritas mereka menunjukkan simpati untuk Indonesia, 100 persen tidak dibenarkan, khususnya oleh kita yang empat tahun hidup di bawah cengkeraman Jerman.

Kita telah digolongkan jadi alat untuk dengan kehendak Pemerintah terkait perjuangan kemerdekaan Indonesia, untuk menahan kontak bersenjata. Kami berharap dalam hati terdalam, bahwa orang-orang dari Divisi '7 Desember' yang terkenal itu akan menyingkir demi mencegah pertumpahan darah yang tak perlu dan tidak dibenarkan dengan masyarakat Indonesia.

Semoga waktu yang singkat, kelompok kapitalis dan penjajah bertaubat, dan membiarkan kita menjadi yang pertama berhadapan dengan resistensi yang umumnya pasif dari mereka (TNI), demi Tanah Air kita tercinta dan kesejahteraan negara,”
. (raw)

  ♔ Okezone  

Rabu, 31 Desember 2014

Mereka Terbunuh untuk Uang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTczjW3wpdYqvjTfDV7PPPVcrwcNaE_i3q4YoVA7R4LDPEgwRi_JuXHKcEGWBtZVJRbAHZX-c0MdJV9ToZeVQTTQBLAHnr4IZDGaE42pkwRYTAjmf3FSGdWHKkdCVAK5oM3T_HmGW1oTlt/s1600/6011941_20141227074511.jpgMARINIR TUA. Frans Goenee, mantan prajurit marinir Belanda yang pernah ditugaskan ke Surabaya pada 1949. (foto: marjolein van pagee)

Pada 18 Oktober 2013, fotografer Belanda Marjolein van Pagee menyelenggarakan pameran karya-karyanya di kota Eindhoven. Dalam pembukaan pameran foto yang bertajuk Yellow Flower (Kembang Kuning tersebut, ia mendapuk Frans Goenee, mantan prajurit Korps Marinir Kerajaan Belanda untuk mengisahkan sekelumit pengalamannya selama bertugas di Surabaya pada akhir 1940-an. Marjolein lantas menuliskan kisah Goenne dan beberapa minggu lalu sempat menceritakan kisah penyampaian kata sambutan emosional Goenne itu kepada saya. Demi ilmu pengetahuan, saya kemudian meminta izin kepada Marjolein untuk menerjemahkannya dan memuatnya di Arsip Indonesia. Inilah sekelumit kisah mengharukan itu.

FRANS GOENEE adalah “bintang” dalam acara pembukaan pameran foto saya di International Design Cafe, Eindhoven malam itu. Sebagai mantan marinir yang bertugas di Indonesia selama perang (laiknya kakek saya), malam tadi Goenee telah membagi sebuah kisah menyentuh tentang pengalaman perangnya selama di Indonesia.

Ketika saya memberi sambutan mengenai proyek saya yang berjudul Kembang Kuning –Yellow Flower, saya mendapuk Goenee untuk menyampaikan sepatah dua patah kata tentang apa yang ada dalam benaknya mengenai Kembang Kuning, nama pemakaman orang-orang Belanda di Surabaya.

Goenee bersedia. Ia lantas berdiri di depan dan mengawali pidatonya dengan menceritakan kisah 12 tahun lalu saat ia mengunjungi makam 5 pemuda Belanda yang gugur secara bersamaan. Peristiwa menyedihkan itu terjadi hampir sebulan usai aksi polisionil kedua.

Front Surabaya Barat, 14 Januari 1949. Frans Goenee yang bertugas sebagai sopir truk berkenalan dengan seorang petugas sopir truk lain yang ternyata sama-sama bernama Frans. Karena kesamaan nama depan ini mereka langsung cepat akrab dan bahkan sempat membuat lelucon tentang itu. Tak dinyana, sehari kemudian truk yang dikemudikan Frans teman barunya itu, menginjak ranjau, dan menyebabkan 5 prajurit yang ia bawa tewas seketika. Hanya Frans yang selamat dengan tanpa luka sedikitpun.

Beberapa hari kemudian, kejadian yang hampir sama dialami oleh Frans Goenee. Ceritanya, suatu waktu di jalanan yang penuh lubang, Goenee bersisian dengan truk yang dikemudikan oleh dua marinir muda yang tengah membawa persenjataan berat. Ia lantas menoleh, tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk lewat terlebih dahulu.

”Beberapa saat kemudian…” Goenee terdiam beberapa detik. ”Ah sebenarnya tak seharusnya aku melakukan itu… Ya usai aku menyilahkan mereka untuk berjalan terlebih dahulu, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat mereka menginjak ranjau dan tewas seketika dalam kondisi mengerikan”

Usai menuturkan bagian ini, saya lihat Goenee pun mulai terdiam lagi. Di depan para pengunjung pembukaan pameran, saya melihat air mata mulai membasahi wajahnya. Namun secara pelan ia melanjutkan kata-katanya:

“Kalian harus tahu, kami diberitahu bahwa kepergian kami ke Indonesia adalah untuk restoring peace and order, untuk melindungi para penduduk lokal. Tapi tahukah kalian apa yang kami lihat di sana? Apa yang kami temui? Tahukah tuan tuan sekalian untuk apa sebenarnya pemuda-pemuda kita terbunuh di Indonesia? Untuk uang! Ya, pemerintah Belanda mengirim kami berperang hanya untuk uang! Bukan untuk menyelamatkan nyawa orang orang tak bersalah, tapi untuk menyelamatkan pabrik gula, tambang minyak, dan untuk semua itu mereka semua tewas!”.

Dan pecahlah tangis Goenee malam itu…

Tengorokan saya dan (bisa jadi) orang orang yang menghadiri pameran itu serasa tercekat. Semua mematung, beberapa mata terlihat berkaca-kaca…

Goenee lantas melanjutkan ceritanya tentang marinir yang juga bernama Frans tersebut. Dia mencarinya ketika ia pulang kembali ke Belanda. Hingga suatu hari mereka bisa bertemu setelah bertahun tahun tak bersua. Saat pertemuan itulah, Frans mengatakan pada Goenee “Ya Tuhan, Frans… Kau tahu apa yang mengejutkanku ? Hari ini adalah tanggal 15 Januari, hari ketika aku melindas ranjau dan 5 pemuda itu tewas di jalanan berlubang Surabaya karena ulahku…”

Tanpa ada yang memerintah, usai Goenee bercerita, orang orang yang menghadiri pameran foto saya, semua menghampiri Goenee yang masih terisak: memberi genggaman hangat pada tangannya dan ikut berduka dengan apa yang pernah dialami oleh veteran tua tersebut.[Hendijo/Diposkan Samuel tirta]

  Garuda Militer  

Jumat, 26 Desember 2014

Sniper dari Cirasandi

Sang Penembak Runduk itu dengan tabah dan gagah menghadapi maut yang akan mengambilnya… https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizF8KaRXerdJMcXzLZY3rCkBRZ6Vm-UKM64EIPK-kNnER_PkgGYxySjhzenzANiEtZMuGyGn2Pbu6W8vAjTVwUgk0Ko6-0DVSdmNu35EYWlxPeTPGvUQP010UDV53iPTJRmjYB6oKPG6U/s1600/6011941_20141212095108.jpgAsmin Soetjipta di tengah murid-muridnya saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor (foto: dokumentasi keluarga Asmin Soetjipta)

LELAKI sepuh itu menatap dengan haru selembar foto tua yang ada di tangannya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Ia kemudian menyorongkan foto tersebut kepada saya dalam gerak perlahan. “ Ini satu-satunya peninggalan bapak yang saya miliki. Selain ini, semuanya sudah musnah dibakar tentara Belanda puluhan tahun lalu,” katanya dalam nada sedih.

Mahkun Cipta Subagyo (70), nama lelaki sepuh tersebut, adalah salah satu putra Asmin Soetjipta alias A. Sucipta, pahlawan Cianjur yang namanya sudah terlupakan. Begitu terlupakannya, hingga Pemkab Cianjur sendiri secara salah kaprah mengidentikan namanya dengan Komodor Adisoetjipto (pionir TNI Angkatan Udara) saat memberi nama sebuah ruas jalan di salah satu sudut kota Cianjur.

Kesalahkaprahan ini bukannya tidak pernah ada yang membetulkan. Menurut Rahmat Purawinata (64), saat dulu masih bertugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Cianjur, dirinya pernah mengingatkan soal tersebut ke pihak Pemkab Cianjur dan langsung dituruti dengan mengganti secepatnya nama jalan tersebut dengan Jalan A. Sucipta. Namun begitu ia berhenti dari anggota DPRD Kabupaten Cianjur, nama jalan tersebut balik lagi ke nama asalnya yang salah: Jalan Adi Sucipta.

“Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apa yang menjadi penyebab berubahnya kembali nama jalan itu,” ujar lelaki yang masih memiliki hubungan darah dengan pejuang Asmin Sucipta tersebut.

Lantas siapa sebenarnya Asmin Soetjipta atau A. Sucipta itu?
Berasal dari Banten https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPVg-zF9eXNMXi5dGBBMo_ZoD_6rKm7MUGgERuvtHavnsE8gM-eNOmE3wSXn9W5B0uPPFxfJuvRcsPfhrqIsusSmX1jriPJs-eyqw4DsZkWGmHFwJ7E22Zs8yk0Ef2OBa5I5UQ8Os95PY/s1600/6011941_20141212095115.jpgMahkun Cipta Soebagyo, putra bungsu pejuang Asmin Soetjipta (foto:hendijo)

Secara pasti, Mahkun tak mengetahui tahun berapa Asmin dilahirkan. Ia hanya mengerti bahwa sang ayah bukan orang Cianjur asli namun merupakan seorang pendatang dari Rangkasbitung, Banten. “Ia mengembara ke Cianjur beberapa tahun sebelum Jepang datang ke Indonesia,” ujar pensiunan guru tersebut.

Di Cianjur, Asmin tinggal di Desa Cisarandi (masuk dalam wilayah Kecamatan Warungkondang) dan menjadi guru di Landbouwschool (sekolah pertanian setingkat SMP) Bojongkoneng. Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru, Asmin bersahabat dengan Muhammad To’ib Zamzami, Lurah Desa Cisarandi kala itu. Begitu seringnya Asmin berkunjung ke rumah To’ib hingga lama kelamaan ia pun jatuh cinta kepada putri sang lurah yang bernama Sitti Aisyah. Singkat cerita, menikahlah mereka dan dikarunia dua putra, salah satunya adalah Mahkun.

Sebagai perantau yang datang dari Banten, Asmin dikenal ahli pencaksilat dan memiliki ilmu kanuragaan yang lumayan tinggi. Dengan keahliannya dan kedudukannya sebagai menantu lurah Cisarandi, tidak heran jika Asmin lantas dituakan dan dijadikan “jawara” yang menjaga keamanan desa yang terletak tepat di timur jalan raya Cianjur-Sukabumi tersebut.

Tahun 1945-1946, jalan raya di mulut Desa Cisarandi kerap dilewati oleh konvoi “pasukan ubel-ubel”. Itu nama julukan penduduk setempat untuk tentara-tentara Inggris dari kesatuan Jats, Rajuptana dan Patiala yang berkebangsaan India. Rupanya, saat melewati Cisarandi itulah, para prajurit ubel-ubel itu sering bertindak di luar kontrol: mengganggu gadis-gadis desa setempat dan bahkan tak jarang merampoki harta benda penduduk Cisarandi.

Mengetahui desanya diganggu, Lurah To’ib tentu saja merasa berang. Kepada Asmin, suatu hari To’ib menyampaikan rasa berangnya itu dan mengajak menantunya itu untuk mengadakan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pasukan-pasukan Inggris itu.

“Cipta, kamu bisa cari senjata api ke kota?” tanya To’ib

“Buat apa, Bah?” Asmin malah balik bertanya.

“Ya tentu saja buat nembakin itu tentara ubel-ubel…”

“Oh…Mangga, Bah! Tiasa!”

Besoknya, pagi sekali Asmin sudah berangkat ke wilayah Cianjur kota dengan berjalan kaki. Ketika di Simpang Tiga, dekat Kampung Tangsi (sekarang depan Gedung BRI Cianjur di Jalan A.Sucipta), ia berpapasan dengan beberapa orang serdadu Inggris. Tanpa banyak bicara dan dengan gerakan kilat, ia membekuk salah seorang prajurit yang berjalan paling belakang, melumpuhkannya lalu merampas senapan Lee Enfield milik prajurit itu.

Usai mendapatkan senjata, Asmin pun kabur ke arah jalur rel kereta api yang berada di sebelah timur Kampung Tangsi. Kendati sempat dihadiahi siraman peluru oleh kawan-kawan serdadu yang dirampas senjatanya itu, tak urung Asmin bisa lolos dan dengan menyusuri rel kereta api ia berjalan menuju Cisarandi.

Matahari baru saja naik di atas ubun-ubun. Cahayanya mencorong tajam saat Asmin berjalan di pematang sawah sambil menenteng Lee Enfield hasil rampasannya. Begitu mendekati rumah sang mertua, ia pun berseru dalam nada riang:

“Bah! Bah! Kenging yeuh bedil teh!” teriaknya sambil mengacung-acungkan senjata tersebut.
Komandan Lasykar https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVdIxDKBFabDdXLvNJ1XUAwQmL8Fq3n-BsxsvWZ9KvStrVJswa4kbfvPv7mMfXu88ZyYkkurxcPaN-9iG97R677-cZWcrF_RjjqSXOKHm1Fzmd1bO6SGK3_uGnupjn9mI5rpA8KO7ShvQ/s1600/6011941_20141212095121.jpgJalan Adi Sucipta (seharusnya Jalan Asmin Sucipta) di Cianjur, tempat Asmin merampas senjata Lee Enfield dari serdadu Inggris (foto: hendijo)

Lurah To’ib tentu saja menyambut gembira atas keberhasilan menantunya mendapatkan senjata. Persoalan baru kemudian muncul karena tidak ada satu pun pemuda di Cisarandi yang mahir mempergunakan senjata. Namun Asmin tidak ambil pusing, ia lantas membawa senjata itu ke pejuang-pejuang lasykar lain dan meminta mereka untuk mengajarkannya. Dasar Asmin yang memang memiliki bakat bagus dalam menembak, hanya beberapa minggu dilatih ia berhasil menguasai senjata buatan Inggris itu secara baik.

Ketrampilan Asmin menembak menjadikannya seorang sniper (penembak runduk) yang mumpuni. Berdasarkan keterangan Mahkun yang pernah diceritakan oleh kakeknya, To’ib, dalam suatu penghadangan di jalan raya Sukabumi-Cianjur, Si Dukun (panggilan sayang Asmin untuk Lee Enfield pegangannya) pernah menghabisi 11 serdadu Inggris dari jarak sekitar 500 meter. “Menurut kakek, waktu itu ayah menembaki serdadu-serdadu tersebut dari balik pepohonan di pinggir Sungai Cisarandi…” ujar Mahkun.Sukses memimpin sejumlah penghadangan dan perampasan senjata, oleh anak-anak muda Cisarandi, Asmin lantas didapuk menjadi komandan mereka dengan diberi pangkat: kapten. Selanjutnya pasukan yang dipimpin Asmin berkoordinasi dengan unsur-unsur pasukan Divisi Siliwangi.

Saat para petarung republik aktif memerangi tentara Belanda yang berusaha kembali menguasai wilayah Indonesia pada 1947-1949, pasukan Asmin Soetjipta termasuk di dalamnya. Pada suatu penghadangan di wilayah Bojongkoneng, pasukan Asmin sukses menghabisi satu peleton KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan merampas sejumlah senjata.

Tidak cukup dengan penghadangan, Asmin pun kerap melakukan operasi kecil-kecilan (diikuti hanya oleh 2-3 gerilyawan) ke wilayah kota Cianjur. Menurut Rahmat Purawinata (64), bersama ayahnya (bernama Purawinata), Asmin pernah melakukan operasi sedikit agak nekad di wilayah jalan depan Pasar Bojongmeron.

Ceritanya, di suatu siang bolong, mereka melakukan penyergapan terhadap seorang serdadu Belanda yang tengah berjalan sendiri. Dengan menggunakan botol kecap, Asmin memukul kepala sang serdadu lalu merampas senjatanya. “Setelah sebentar bersembunyi di kawasan Harmoni, mereka lantas kabur ke Cisarandi dengan menyusuri rel kereta api,” ungkap Rahmat.

Aksi-aksi Asmin dan pasukannya tentu saja membuat gerah pihak militer Belanda di Cianjur. Mereka lantas memburu Asmin hingga ke markas pasukannya di Cisarandi. Namun alih-alih menemukan Asmin, yang ada mereka hanya menemukan sejumlah rumah kosong. Demi menumpahkan rasa kesalnya, maka dibakarlah markas pasukan Asmin yang tak lain adalah rumah Lurah To’ib.

“Untuk mencegah kembalinya tentara Belanda, pasukan Asmin kemudian membom Jembatan Cisarandi,” ungkap Mahkun.
Terjebak Muslihat Belanda Tahun 1948, Divisi Siliwangi harus hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun keharusan itu tidak berlaku untuk sebagian kecil petarung republik di wilayah Jawa Barat yang memilih tetap bertarung dengan militer Belanda. Pasukan Asmin adalah salah satu kesatuan yang menolak untuk berangkat hijrah.

Beberapa bulan pasca hijrahnya Divisi Siliwangi ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, suatu hari tiba-tiba Asmin menerima sepucuk surat yang ditandatangani oleh pimpinannya bernama Waluyo. Isinya: perintah agar ia dan pasukannya pergi ke Sukabumi untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan pihak militer Belanda. “Saat pemberangkatan, senjata harap diikat dalam satu kumpulan dan masukan ke truk…” demikian salah satu bunyi perintah itu.

Merasa yakin dengan surat yang ditandatangani oleh pimpinannya, Asmin lantas menuruti perintah surat tersebut. Dengan menggunakan beberapa truk milik KNIL, mereka kemudian diangkut ke Sukabumi. Namun betapa marah dan terkejutnya mereka, begitu sampai di Sukabumi alih-alih dibawa ke meja perundingan, Asmin justru langsung dijebloskan ke penjara sedangkan semua anggota pasukannya dilepaskan begitu saja.

Ada suatu kejadian mengharukan, saat penahanan tersebut. Dua anak buah Asmin bernama Oking dan Satibi menolak dipulangkan oleh militer Belanda. Kendati Asmin sendiri sudah membujuk kedua anak muda itu untuk pulang kembali ke Cianjur, mereka tetap bergeming dengan pendiriannya.

“Tidak bisa, Pak. Pak Asmin adalah komandan kami. Kami akan tetap bersama Pak Asmin, tak peduli dalam kondisi apapun itu…” jawab salah seorang dari kedua anak muda tersebut. Akhirnya ketiga patriot itu dibawa oleh militer Belanda ke penjara di Paledang, Bogor. Setelah diadili secara kilat, mereka lantas divonis hukuman mati.

Mahkun masih ingat, beberapa hari sebelum eksekusi dilaksanakan, ia yang saat itu masih bocah berumur sekitar 5 tahun, bersama sang ibu sempat mengunjungi Asmin di Bogor. Dalam pertemuan itu, Siti Aisyah menyerahkan sepasang pakaian putih yang dipesan sang sumi untuk menghadapi maut.

“Saya ingat, wajah bapak terlihat tidak terawat dan penuh dengan bulu tapi ia terlihat berusaha tetap tersenyum…” kenang Mahkun.

Saat akan berpisah, Asmin pun memeluk dan menciumi istri dan putranya itu. Ia meraih Mahkun kecil agak lama dalam dekapannya. “Saya melihat air matanya meleleh…” ujar Mahkun.

Asmin Soetjipta, Oking dan Satibi beberapa hari kemudian digiring ke Kampung Dereded. Di sanalah Sang Penembak Runduk dan kedua anak buahnya itu menyambut sang maut dengan tabah dan sikap yang gagah.(hendijo)[Diposkan samuel tirta]


  ★ Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...