Tampilkan postingan dengan label Analis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2026

Perancis Beri Keuntungan ke Indonesia

 Lewat pesawat tempur Rafale T-03017 TNI AU (Swidersk Maciejka; fb)

Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian, menilai kehadiran pesawat tempur Rafale di jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI menjadi bukti kuatnya hubungan strategis antara Indonesia dan Prancis.

Transaksi persenjataan seperti ini hanya akan terjadi di antara dua negara yang harmonis dan telah banyak menjalankan kerja sama,” kata Hanif di Jakarta, Selasa.

Menurut Hanif, hubungan Indonesia dan Prancis berkembang signifikan, terutama sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan. Kedekatan diplomatik tersebut dinilai memberi sejumlah keuntungan strategis bagi Indonesia dalam pengadaan jet tempur produksi Dassault Aviation itu.

Salah satu keuntungan yang dinilai istimewa adalah peluang transfer teknologi serta pelibatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri dalam pengembangan Rafale. Tidak semua negara pembeli memperoleh kesempatan tersebut. India, misalnya, sebagai salah satu pembeli terbesar Rafale yang sangat antusias terhadap jet tempur itu, sempat diberitakan tidak mendapatkan akses penuh terhadap source code maupun teknologi sensitif Rafale.

Peluang transfer teknologi ini membuka ruang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional, termasuk dalam mendukung kebutuhan suku cadang, pemeliharaan, hingga pengembangan sistem pendukung pesawat tempur tersebut.

Selain itu, Prancis menunjukkan komitmen dalam mendukung peningkatan kapabilitas pertahanan Indonesia, mulai dari pemenuhan kebutuhan operasional TNI, pengembangan sumber daya manusia, hingga dukungan teknologi dan infrastruktur pertahanan,” ujar Hanif.

Ia menilai, sikap Prancis berbeda dengan sejumlah negara lain yang biasanya membatasi negara pembeli untuk mengembangkan ataupun memperluas pemanfaatan teknologi dari alutsista yang dibeli.

Dengan peluang tersebut, Hanif meyakini Indonesia memiliki kesempatan besar mempelajari kemajuan teknologi industri pertahanan Prancis sekaligus memperkuat kemandirian sektor pertahanan nasional.

Kesempatan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakses teknologi pertahanan yang lebih maju serta memperkuat kemandirian industri pertahanan dalam negeri,” katanya.

Sebelumnya, TNI AU baru saja menerima enam unit Rafale beserta seperangkat rudalnya. Penyerahan secara simbolis dilakukan Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, lalu diteruskan kepada Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5).

Keenam pesawat tersebut akan ditempatkan di Skadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Sementara itu, Indonesia masih menunggu kedatangan 36 unit Rafale lainnya yang saat ini masih dalam proses produksi di fasilitas Dassault Aviation di Prancis.

 Seberapa Besar Untung Indonesia?

Pesawat Rafale T 0304 kursi tandem terbaru TNI AU (Malin J)

Pembelian jet tempur Rafale dari Prancis dinilai bukan sekadar transaksi pembelian alutsista biasa, melainkan bagian dari investasi strategis jangka panjang untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional. Salah satu keuntungan terbesar yang diperoleh Indonesia adalah peluang transfer teknologi (transfer of technology/ToT) yang jarang diberikan secara luas oleh negara pemasok senjata modern.

Melalui kerja sama dengan Dassault Aviation dan industri pertahanan Prancis, Indonesia berkesempatan mempelajari berbagai aspek teknologi penerbangan militer modern, mulai dari sistem avionik, pemeliharaan mesin, integrasi persenjataan, hingga sistem elektronik tempur. Kesempatan tersebut dinilai sangat penting karena penguasaan teknologi pertahanan merupakan fondasi utama menuju kemandirian alutsista nasional.

Keuntungan lain yang dinilai strategis adalah terbukanya peluang bagi teknisi, pilot, dan
engineer Indonesia untuk mendapatkan pelatihan langsung dari pihak Prancis. Dengan keterlibatan sumber daya manusia nasional dalam proses pengoperasian dan pemeliharaan Rafale, kemampuan SDM pertahanan Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Tidak hanya itu, kerja sama Rafale juga membuka peluang pengembangan kemampuan
maintenance, repair, and overhaul (MRO) di dalam negeri. Jika kemampuan pemeliharaan dapat dilakukan secara mandiri di Indonesia, maka ketergantungan terhadap pihak luar akan berkurang, sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang TNI AU.

Dalam jangka panjang, efek pembelian Rafale diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan industri pertahanan nasional, baik dari sisi teknologi, kualitas SDM, maupun keterlibatan perusahaan lokal dalam rantai pasok industri militer modern. Dengan kata lain, keuntungan Indonesia dari Rafale bukan hanya mendapatkan jet tempur canggih, tetapi juga kesempatan mempercepat transformasi industri pertahanan menuju level yang lebih maju dan mandiri.

 Rivalitas Rafale vs F-15EX dan Jet Tempur Lainn


Sepasang Rafale TNI AU (Skuadron 12)

Masuknya Rafale ke jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU menempatkan Indonesia di tengah persaingan besar industri pertahanan global. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara produsen senjata modern berlomba menawarkan jet tempur generasi terbaru kepada Indonesia, mulai dari Rafale buatan Prancis, F-15EX dari Amerika Serikat, Gripen dari Swedia, hingga KF-21 hasil pengembangan Korea Selatan.

Secara kemampuan, masing-masing pesawat memiliki keunggulan berbeda. Rafale dikenal sebagai jet tempur multirole yang fleksibel dengan kemampuan tempur udara, serangan darat, hingga misi maritim dalam satu platform. Sementara F-15EX unggul dalam daya angkut persenjataan, jangkauan tempur, serta kekuatan mesin yang besar. Di sisi lain, Gripen menawarkan biaya operasional yang relatif lebih murah dan efisiensi pemeliharaan, sedangkan KF-21 dipandang sebagai proyek masa depan dengan teknologi generasi baru yang masih terus dikembangkan Korea Selatan.

Di tengah banyaknya pilihan tersebut, Indonesia akhirnya memilih Rafale karena dinilai mampu memenuhi kebutuhan operasional TNI AU sekaligus menawarkan keuntungan strategis di luar aspek militer semata. Prancis dianggap lebih fleksibel dalam kerja sama pertahanan, termasuk membuka peluang transfer teknologi, pelatihan sumber daya manusia, hingga keterlibatan industri pertahanan dalam negeri. Faktor inilah yang membuat Rafale tidak hanya dipandang sebagai pesawat tempur, tetapi juga instrumen penguatan industri pertahanan nasional.

Selain faktor teknis, pembelian alutsista modern juga tidak bisa dilepaskan dari aspek politik dan geopolitik. Dengan membeli Rafale, Indonesia dinilai sedang memperkuat hubungan strategis dengan Prancis dan Eropa, sekaligus menerapkan kebijakan diversifikasi alutsista agar tidak bergantung pada satu negara pemasok saja. Strategi tersebut penting untuk menjaga fleksibilitas diplomasi pertahanan Indonesia di tengah rivalitas global yang semakin kompleks.

Keputusan Indonesia membeli Rafale juga memperlihatkan bahwa persaingan industri pertahanan dunia kini bukan sekadar soal kualitas senjata, tetapi juga soal siapa yang mampu menawarkan kerja sama paling menguntungkan secara politik, teknologi, dan jangka panjang. Dalam konteks itu, Rafale dinilai memberi kombinasi antara kemampuan tempur modern dan peluang strategis bagi pengembangan kekuatan pertahanan nasional.

 Seberapa Canggih Jet Tempur Rafale?


Sepasang Rafale terbang di atas Bekasi (Skuadron 12)

Rafale dikenal sebagai salah satu jet tempur paling canggih di dunia saat ini. Pesawat buatan Dassault Aviation, Prancis, tersebut banyak diminati berbagai negara karena memiliki kemampuan multirole atau mampu menjalankan banyak jenis misi dalam satu platform. Rafale dapat digunakan untuk pertempuran udara, serangan darat, pengintaian, hingga operasi maritim tanpa perlu perubahan besar pada konfigurasi pesawat.

Salah satu keunggulan utama Rafale terletak pada sistem radar dan teknologi elektroniknya. Jet ini dibekali radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang mampu mendeteksi banyak target sekaligus dalam jarak jauh dengan tingkat akurasi tinggi. Selain itu, Rafale memiliki sistem peperangan elektronik SPECTRA yang disebut sebagai salah satu sistem pertahanan elektronik terbaik di dunia karena mampu mendeteksi ancaman radar musuh, mengacaukan sistem lawan, hingga meningkatkan kemampuan bertahan pesawat di medan tempur.

Dalam pertempuran udara, Rafale mampu membawa berbagai jenis rudal modern untuk menghadapi pesawat musuh maupun ancaman jarak jauh. Sementara untuk misi serangan darat, jet ini dapat membawa bom pintar presisi tinggi yang efektif menghancurkan target strategis dengan tingkat akurasi tinggi. Kemampuan tersebut membuat Rafale dinilai fleksibel dan efektif digunakan dalam berbagai skenario operasi militer modern.

Keunggulan lain Rafale adalah kemampuannya menjalankan banyak misi secara bersamaan. Dalam satu penerbangan, pesawat ini bisa melakukan patroli udara, menyerang target darat, sekaligus melakukan pengintaian. Kemampuan inilah yang membuat banyak negara melihat Rafale sebagai jet tempur yang efisien dan bernilai strategis tinggi.

Dari sisi rekam jejak tempur, Rafale telah digunakan Prancis dalam berbagai operasi militer di Afghanistan, Libya, Mali, Irak, hingga Suriah. Pengalaman tempur tersebut menjadi nilai tambah penting karena menunjukkan bahwa Rafale bukan hanya unggul di atas kertas, tetapi juga telah teruji dalam berbagai konflik nyata dengan kondisi operasi yang kompleks. Faktor itulah yang membuat banyak negara, termasuk Indonesia, tertarik menjadikan Rafale sebagai bagian dari modernisasi kekuatan udara mereka
.

 
Republika  

Selasa, 19 Mei 2026

Rafale TNI AU Harus Didukung Industri Pertahanan Dalam Negeri agar Tak Bergantung Asing

Pesawat Rafale T0304 TNI AU (Malin Jayasuriya)

Analis dan Pemerhati Pertahanan dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian, menilai kehadiran pesawat tempur Dassault Rafale harus didukung penguatan industri pertahanan dalam negeri agar Indonesia tidak bergantung pada pihak asing untuk suku cadang dan teknologi pendukung operasional.

"Penguatan kapasitas industri pertahanan nasional menjadi penting agar dukungan pemeliharaan dan sustainment armada TNI AU dapat berjalan secara konsisten, mandiri, dan berkelanjutan," kata Hanif di Jakarta, Selasa (19/5).

Menurut dia, pemerintah perlu memperkuat kemampuan pemeliharaan, perawatan, dan penyediaan suku cadang melalui industri pertahanan nasional guna menjamin operasional alutsista dalam jangka panjang, terutama di tengah ketidakpastian konflik global.

Hanif menilai konflik berkepanjangan berpotensi memengaruhi negara produsen sehingga dapat menghambat produksi maupun distribusi suku cadang Rafale ke Indonesia.

Karena itu, ia berharap kehadiran Rafale dapat mendorong industri pertahanan nasional meningkatkan inovasi dan kapasitas produksinya.

Selain menyoroti aspek industri pertahanan, Hanif juga menilai Rafale menjadi lompatan teknologi penting bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara karena merupakan pesawat tempur generasi 4,5 pertama yang dimiliki Indonesia.

"Akuisisi pesawat tempur Rafale, yang diproyeksikan menjadi backbone kekuatan udara Indonesia di masa depan, menghadirkan lompatan teknologi signifikan dalam pembangunan kekuatan TNI AU," ujarnya.

Hanif menjelaskan Rafale memiliki sejumlah kemampuan strategis, termasuk penggunaan rudal Meteor, rudal stand-off SCALP EG, serta rudal anti-kapal AM39 Exocet yang dinilai mampu meningkatkan daya gentar dan fleksibilitas operasi udara TNI AU.

Namun, ia mengingatkan TNI AU perlu segera mengintegrasikan Rafale beserta perangkat canggihnya dengan doktrin pertahanan yang dianut TNI, disertai penguatan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung.

"Pengadaan ini tetap menjadi langkah penting dalam memperkecil kesenjangan teknologi dan meningkatkan kapabilitas pertahanan udara nasional," kata Hanif.

Sebelumnya, Tentara Nasional Indonesia menerima enam unit Rafale beserta seperangkat rudalnya. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Agus Subiyanto, kemudian diserahkan kepada Kepala Staf TNI AU I Nyoman Suadnyana di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (18/5).

Enam pesawat tersebut akan ditempatkan di Skadron 12, Lanud Roesmin Nurjadin. Saat ini Indonesia masih menunggu pengiriman 36 unit Rafale lainnya yang diproduksi oleh Dassault Aviation di Prancis.

   ★  Koran Jakarta   

Sabtu, 14 Maret 2026

Mengapa Pilihan Indonesia Jatuh pada Rudal BrahMos?

Penampakan Rudal Brahmos versi land based, Indonesia akan mendanai pembelian rudal BrahMos dengan pinjaman luar negeri senilai $ 100 juta. (AMR)

KEPUTUSAN Indonesia mengakuisisi sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dari India menandai pergeseran perlahan doktrin pertahanan maritim nasional dalam tiga dekade terakhir.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Jakarta nampaknya tidak lagi sekadar bermain di zona nyaman alias diplomasi pasif, tapi mulai membangun taring kinetik.

Tentu akuisisi kali ini adalah hasil kalkulasi geostrategis yang cukup matang oleh para punggawa pertahanan nasional di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan raksasa di Indo-Pasifik.

Pilihan pada BrahMos menunjukkan bahwa pemerintah sedang mengejar kemampuan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) untuk mengimbangi asimetri kekuatan militer di kawasan.

Dengan kecepatan yang mencapai Mach3, rudal ini secara teknis berada di kelas tersendiri, melampaui kemampuan rudal subsonik yang selama ini menjadi tulang punggung banyak angkatan laut di Asia Tenggara.

Bagi para perencana pertahanan di Jakarta, nampaknya BrahMos adalah jawaban yang tepat untuk memenuhi kebutuhan "payung supersonik" yang mampu menjangkau titik-titik sempit strategis dari Selat Malaka hingga perairan Natuna.

Secara formal, kesepakatan ini telah dikonfirmasi pada Maret 2026, setelah negosiasi intensif di mana puncaknya terjadi pada kunjungan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke New Delhi pada November 2025.

Indonesia menyusul jejak Filipina sebagai pelanggan ekspor kedua bagi mahakarya hasil kerja sama India dan Rusia ini.

Namun, di balik kecanggihan misil ini, juga terdapat struktur kontrak dan konsekuensi ekonominya, mulai dari skema pembiayaan perbankan hingga kemungkinan terjadinya barter otomotif yang sempat memicu perdebatan di ruang publik Indonesia belum lama ini.

Kendati demikian, dari kacamata geostrategis, memang sangat penting untuk memahami bahwa pembelian Brahmos dilakukan saat dunia sedang membicarakan bagaimana senjata supersonik bisa mengubah peta kekuatan kawasan.

Dan nampaknya Indonesia tidak lagi ingin menjadi penonton dalam perlombaan teknologi di halaman rumah sendiri.

Dengan kata lain, langkah ini dipandang sebagai investasi untuk memastikan kedaulatan Indonesia tidak "diremehkan", apalagi diganggu, karena lemahnya sistem pertahanan.

  Siasat Pembiayaan  
Jika ditelisik lebih dalam, Indonesia tidak hanya membeli barang jadi. Salah satu pilar utama dari kesepakatan ini adalah komitmen transfer teknologi (Transfer of Technology/ToT).

Klausul ToT ini sangat krusial karena mandat Undang-Undang Industri Pertahanan mewajibkan adanya keterlibatan lokal dalam setiap pengadaan alutsista asing.

Dalam konteks BrahMos, entitas strategis seperti PT PAL dan PT Pindad diproyeksikan akan mendapatkan peran dalam integrasi sistem serta manufaktur komponen tertentu secara lokal.

Tentu ini perlu diapreaisi karena menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa dalam jangka panjang, Indonesia memiliki kemandirian dalam merawat dan mengembangkan sistem pemukul jarak jauh secara mandiri.

Nilai kesepakatan final untuk pengadaan tahap awal ini dilaporkan mencapai 450 juta dollar AS (sekitar Rp 7 triliun). Angka tersebut mencakup pengadaan tiga baterai rudal varian pesisir (shore-based anti-ship missile system) dengan jadwal pengiriman selama 36 bulan ke depan.

Struktur pembiayaannya nampaknya dirancang dengan sangat hati-hati untuk menjaga stabilitas fiskal.

Alih-alih bergantung sepenuhnya pada pinjaman luar negeri yang sering kali memiliki persyaratan politik mengikat, Indonesia menggunakan mekanisme kredit ekspor melalui lembaga keuangan India seperti Exim Bank, yang dikoordinasikan dengan bank domestik nasional.

Pilihan menggunakan perbankan domestik juga cukup bisa dipahami karena menunjukkan kedewasaan manajemen ekonomi pertahanan Indonesia saat ini.

Dengan skema ini, ketergantungan pada mata uang asing tertentu dapat dimitigasi, sementara hubungan perbankan antara Jakarta dan New Delhi akan semakin erat ke depannya.

Harga per unit rudal yang berada di kisaran 4,75 juta dollar AS memang tergolong mahal jika dibandingkan dengan rudal subsonik tradisional. Namun, efektivitasnya dalam menembus sistem pertahanan udara kapal perang modern dipastikan akan menjadikannya investasi yang cukup pantas.

Setidaknya dalam kalkulasi militer, pengorbanan beberapa juta dolar untuk melumpuhkan kapal perusak seharga miliaran dolar akan dianggap sebagai bentuk efisiensi operasional yang layak diterima.

Dan karena itu, pemerintah tentu harus menjelaskan semua ini kepada rakyat melalui DPR, agar pembelian ini bisa semakin legitimate secara politik.

Selain pengadaan unit misil, kontrak juga mencakup paket pelatihan intensif bagi operator dari TNI AL dan pembangunan infrastruktur pendukung di titik-titik pangkalan.

New Delhi bahkan mengusulkan pembentukan komite kerja sama industri pertahanan bersama untuk memfasilitasi penelitian dan pengembangan di masa depan.

Artinya, hal ini menegaskan bahwa India tidak hanya melihat Indonesia sebagai pembeli, tapi juga sebagai mitra strategis jangka panjang dalam rantai pasok pertahanan global.

  Track Record Superioritas Supersonik  
Penampakan 1 baterai sistem rudal BrahMos Filiphina, Indonesia dikabarkan akan membeli 1 baterai untuk pertahanan pantai senilai $ 100 juta. (RTVM)
Pertanyaan kritis yang sering muncul belakangan adalah mengapa pilihan jatuh pada BrahMos, bukan rudal lain?

Keunggulan utama BrahMos terletak pada kombinasi antara kecepatan ekstrem dan profil terbang rendah yang sangat sulit dideteksi radar.

Sebagai rudal “dua tahap” dengan mesin “liquid ramjet”, BrahMos mampu mempertahankan kecepatan konstan Mach 3 di sepanjang lintasannya.

Sebagai perbandingan, rudal Harpoon buatan Amerika Serikat bersifat subsonik, yang berarti jauh lebih mudah diintersepsi oleh sistem pertahanan jarak dekat kapal perang modern.

Kecepatan Mach3 memberikan energi kinetik terminal yang luar biasa besar. Secara saintifik, dampak fisik dari hantaman objek yang bergerak secepat satu kilometer per detik mampu melumpuhkan kapal perang besar hanya melalui kekuatan benturan, bahkan jika hulu ledaknya gagal meledak.

Selain itu, kemampuan “sea-skimming” BrahMos (terbang hanya setinggi 3 hingga 10 meter di atas permukaan laut) membuatnya mampu bersembunyi di balik kurvatur bumi dan gangguan radar permukaan hingga jarak yang sangat dekat dengan target.

Apalagi, keandalan BrahMos juga telah teruji dalam kondisi konflik riil, sebuah faktor yang nampaknya juga sangat dipertimbangkan oleh militer Indonesia.

Dalam "Operasi Sindoor" pada Mei 2025, militer India mengerahkan BrahMos secara ekstensif untuk menghancurkan infrastruktur strategis Pakistan dengan presisi yang cukup tinggi.

BrahMos terbukti mampu menembus sistem pertahanan udara buatan China (seperti HQ-9) yang dimiliki Pakistan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi supersonik memang memiliki peluang tembus yang sangat tinggi.

Bahkan, insiden peluncuran tidak sengaja ke wilayah Pakistan pada tahun 2022 membuktikan bahwa rudal Brahmos mampu terbang sejauh 124 kilometer ke dalam wilayah Pakistan tanpa bisa dideteksi oleh radar.

Jika dibandingkan dengan pesaing dari China seperti CM-302, BrahMos memiliki keunggulan akurasi yang jauh lebih tinggi dengan Circular Error Probable (CEP) hanya satu meter, sementara sistem China dilaporkan berada di kisaran 5 hingga 7 meter.

Apalagi menggunakan teknologi buatan China untuk mempertahankan wilayah dari klaim agresi China di Natuna juga dipandang sangat berisiko secara politik dan teknis karena potensi adanya "pintu belakang" (backdoor) pada sistem tersebut.

Sementara itu, rudal Naval Strike Missile (NSM) dari Norwegia memang memiliki fitur siluman. Namun kecepatan subsoniknya tidak memberikan efek intimidasi kinetik sehebat BrahMos dalam doktrin pertahanan Indonesia.

  Antara Perisai Laut dan Armada Pikap?  
Di balik kecanggihan teknologi supersonik, terdapat sisi ekonomi yang memicu polemik domestik yang cukup hangat.

Entah masuk ke dalam paket kerja sama atau tidak, setidaknya akuisisi ini sempat diduga kuat memiliki keterkaitan dengan skema imbal dagang otomotif.

Indonesia setuju untuk mengimpor sekitar 105.000 unit kendaraan pikap dari dua raksasa otomotif India, Mahindra & Mahindra serta Tata Motors, dengan nilai total mencapai Rp 40 triliun.

Kendaraan-kendaraan ini direncanakan untuk memperkuat logistik pedesaan melalui program Koperasi Desa Merah-Putih.

Kebijakan impor massal ini memicu penolakan keras dari asosiasi industri otomotif dalam negeri (seperti Gaikindo) serta organisasi pengusaha seperti Apindo dan Kadin.

Mereka menilai langkah ini kontradiktif dengan semangat hilirisasi dan perlindungan industri manufaktur nasional.

Kekhawatiran utama adalah potensi hilangnya penyerapan tenaga kerja lokal dan pelemahan ekosistem otomotif domestik yang sebenarnya memiliki kapasitas produksi hingga satu juta unit per tahun.

Ada ancaman nyata bahwa ratusan ribu pekerja di sektor otomotif bisa terdampak jika pasar tiba-tiba dibanjiri produk impor dalam jumlah sebesar itu.

Kabar terbaru, rencana tersebut ditunda karena desakan dari berbagai pihak, terutama DPR. Namun jika dilihat dari perspektif pemerintah, langkah ini dianggap sebagai bagian dari "transaksi besar" demi mendapatkan akses ke teknologi militer paling sensitif dari India.

Apalagi, kendaraan India seperti Mahindra Scorpio dipilih karena memiliki spesifikasi 4x4 yang dianggap lebih tangguh dan harga yang lebih murah (selisih sekitar Rp 50 juta per unit) dibandingkan produk rakitan lokal untuk medan berat di pedesaan.

Sebagai bagian dari kewajiban offset, Mahindra dan Tata Motors juga berkomitmen untuk membangun pabrik perakitan atau pusat suku cadang di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Dinamika ini sebenarnya menggambarkan betapa rumitnya manajemen pertahanan di era modern. Kedaulatan wilayah di laut sering kali harus dibayar dengan konsesi ekonomi di sektor lain.

Meskipun memicu friksi internal, barter ini dipandang sebagai jalan tengah untuk memperkuat daya pukul TNI sekaligus melakukan modernisasi infrastruktur pedesaan secara cepat.

Secara geopolitik, kepemilikan BrahMos tentu akan menempatkan Indonesia pada posisi tawar yang jauh lebih kuat di Asia Tenggara.

Bersama Filipina, Indonesia kini menjadi bagian dari "benteng maritim" supersonik di tepi selatan Laut China Selatan.

Penempatan baterai BrahMos di Natuna secara otomatis akan menciptakan zona penolakan akses (A2/AD) yang sangat berbahaya bagi kapal perang asing.

Dengan jangkauan 290 kilometer, setiap kapal yang melakukan intrusi ke ZEE Indonesia akan berada dalam jangkauan misil yang hampir mustahil untuk diintersepsi.

Langkah ini, meskipun tak diakui secara eksplisit oleh Jakarta, nampaknya adalah respons langsung atas taktik "zona abu-abu" China di Laut Natuna Utara.

Selama ini, kapal-kapal penjaga pantai China sering mengawal nelayan mereka masuk ke wilayah kedaulatan Indonesia dengan asumsi bahwa Jakarta tidak akan mengambil tindakan militer secara terbuka.

Sehingga dengan BrahMos, kalkulasi risiko bagi China tentu akan berubah drastis. Risiko kehilangan kapal perang atau kapal penjaga pantai akibat serangan supersonik yang datang secara tiba-tiba dari pesisir akan menjadi deteren psikologis yang sangat kuat.

Hubungan antara Indonesia dan India pun diproyeksikan akan bertransformasi dari sekadar mitra dagang menjadi aliansi strategis yang akan saling mengunci.

India kini mulai muncul sebagai penyedia keamanan alternatif di kawasan, memecah ketergantungan negara-negara ASEAN pada teknologi Amerika Serikat atau China.

Bagi Indonesia, India akan menjadi mitra "selatan-selatan" yang memiliki kepentingan serupa dalam menjaga tatanan kawasan yang berbasis hukum internasional.

Kemitraan ini diprediksi akan terus berkembang ke arah penelitian bersama untuk varian rudal masa depan seperti BrahMos-NG.

Namun di sisi lain, tanggapan dari China diprediksi akan tetap bersifat “meragukan” secara publik, walaupun secara internal Beijing dipastikan akan cukup cemas juga.

Fakta bahwa senjata canggih India kini menjaga jalur energi dan perdagangan vital China di Selat Malaka dan Natuna, diakui atau tidak, akan menjadi pukulan strategis bagi Beijing.

Sementara itu, Amerika Serikat kemungkinan besar akan bersikap pragmatis. Meskipun BrahMos mengandung komponen Rusia, Washington nampaknya cenderung akan memberikan pengecualian sanksi CAATSA (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act) bagi Indonesia karena akuisisi ini masih akan dianggap selaras dengan kepentingan AS untuk membendung ekspansi maritim China di Indo-Pasifik.

  🚀 
Kompas  

Selasa, 03 Maret 2026

Pengamat Nilai Indonesia Tidak Perlu Kembangkan Rudal ICBM

Rudal Seijil Iran, Pihak Barat ingin menghancurkan kemajuan teknologi rudal Iran. (Ist)

Pengamat pertahanan dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi menilai Indonesia tidak membutuhkan pengembangan rudal balistik antarbenua atau ICBM di tengah eskalasi konflik global saat ini.

Menurut Fahmi, TNI AU saat ini sangat mendesak untuk memiliki skadron pesawat peringatan dini udara atau airborne early warning and control (AEW&C).

"Pesawat ini ibarat radar terbang yang mampu mendeteksi pergerakan pesawat siluman, rudal jelajah, dan kapal musuh dari jarak yang tidak bisa dijangkau oleh radar darat (GCI) kita, memberikan situational awareness dan waktu reaksi yang krusial bagi satuan tempur," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Khairul merespons pernyataan Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) perihal pentingnya memperkuat pertahanan udara untuk menjaga wilayah Indonesia dari serangan negara asing.

ICBM, tutur dia, tidak cocok dengan doktrin militerisme di Indonesia yang mengutamakan pertahanan aktif atau defensif yang tidak mempunyai ambisi ekspansionis ke benua lain.

"ICBM, dengan jangkauan ribuan kilometer, pada hakikatnya adalah senjata proyeksi kekuatan (power projection) ofensif yang biasanya didesain untuk membawa hulu ledak nuklir dengan tujuan strategic deterrence berskala global. Pengembangan ICBM sangat bertentangan dengan doktrin pertahanan aktif-defensif Indonesia yang tidak memiliki ambisi ekspansionis ke benua lain," ucapnya.

  Rudal Supersonik 
Rudal hipersonik Fattah milik Iran. Sulit Dideteksi Iron Dome, Rudal Hipersonik Iran Punya Kecepatan 16.000 Km per Jam! (Al Mayadeen)
Alih-alih membuang anggaran riset yang masif untuk ICBM, ujar dia, Indonesia jauh lebih membutuhkan pengembangan dan akuisisi rudal jelajah antikapal atau antiship cruise missiles (ASCM) berkecepatan supersonik serta rudal balistik jarak pendek hingga menengah (SRBM/MRBM) yang sangat presisi.

Fahmi menegaskan TNI AU juga perlu menguatkan kapasitasnya pada kepemilikan pesawat peringatan dini udara yang sangat diperlukan sesuai kebutuhan menghadapi kondisi geopolitik.

Penguatan TNI AU tidak bisa direduksi sekadar pada kuantitas pembelian jet tempur generasi terbaru. Pesawat tempur secanggih apa pun akan buta dan tuli tanpa ekosistem pendukung yang terintegrasi. Fokus utama yang perlu dikejar saat ini adalah membangun arsitektur Network-Centric Warfare (NCW) dan kapabilitas Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) yang mumpuni,” ucapnya.

Selain itu, Fahmi menyebutkan sistem pertahanan Indonesia dapat diperkuat dengan memperbanyak sistem pertahanan udara berbasis darat (Arhanud), yakni baterai rudal surface-to-air missile (SAM) jarak menengah, dan ditempatkan pada titik-titik objek vital nasional secara berlapis.

  🚀 
antara  

Sabtu, 31 Januari 2026

Kedatangan Rafale, Babak Baru Pertahanan Udara Indonesia

T-0301 TNI AU (Swidersk Maciejka; fb)

Akhirnya, tiga jet tempur Rafale mendarat di Indonesia. Ketiganya bernomor ekor T-0301, T-0302, dan T-0303. Huruf T mewakili kategori pesawat tempur, sedangkan awalan angka 03 merupakan kode jenis pesawat untuk Rafale.

Ketiga jet tempur tersebut merupakan bagian dari total 42 jet tempur Rafale pesanan Indonesia yang ditandatangani pada 2022. Saat itu, selain Rafale, Indonesia sepakat untuk membeli dua kapal selam Scorpene dan amunisi dari Perancis dengan nilai kontrak 8,1 miliar dolar AS.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Rico Sirait, Selasa (27/1/2026), mengatakan, tiga unit Rafale tesebut ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. ”Secara administratif dan teknis, proses serah terima telah diselesaikan,” ujar Rico saat dihubungi, Selasa.

Hingga akhir tahun ini, total enam jet tempur Rafale yang akan diterima Indonesia. Sisanya akan dikirim secara bertahap hingga 2030. Di Asia, Indonesia menjadi pengguna Rafale keempat setelah India, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Rafale akan memperkuat jajaran jet tempur yang telah dioperasikan selama ini, yakni T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan, Hawk 100/200 buatan Inggris, F-16 buatan AS, serta Su-27 dan Su-30 besutan Rusia.

Pesawat-pesawat itu ada yang sudah beroperasi dalam waktu lama. TNI AU mengoperasikan T-50i sejak 2014, sedangkan Su-27 dan Su-30 sudah dioperasikan sejak 2003 meski untuk varian Su-30MKI2 baru tiba pada 2013. Adapun Hawk dioperasikan TNI AU sejak 1980 meski varian Hawk 100/200 datang pada 1994.

Sementara jet tempur F-16 dengan berbagai variannya telah menjaga langit Nusantara sejak 1989. Selain itu, ada pesawat antigerilya bermesin turboprop Super Tucano asal Brasil yang didatangkan pada 2012.

Dibandingkan saudara-saudaranya yang tiba lebih dulu, Rafale tergolong lebih canggih karena termasuk jet tempur generasi 4,5. Ada beberapa peningkatan signifikan, seperti penggunaan radar AESA, perangkat perang elektronik canggih, serta dilengkapi dengan berbagai sensor yang tidak ada di generasi sebelumnya. Sementara, jet tempur F-16, Su-27, dan Su-30 termasuk dalam generasi 4.

Kini, kedatangan jet tempur Rafale menegaskan bahwa arah alutsista Indonesia untuk jet tempur memasuki babak baru. Dalam beberapa dekade terakhir, langit Indonesia lebih banyak dijaga jet tempur buatan Barat, terutama AS dan Inggris.

Meski TNI AU kini mengoperasikan jet tempur buatan Rusia, itu baru terjadi setelah rezim Orde Baru runtuh. Sementara, meski juga buatan Barat, Rafale menjadi penanda pergeseran asal produsen alutsista yang akan menjadi tulang punggung pertahanan udara ke depan.

Patut diingat, pembelian jet tempur merupakan keputusan jangka panjang yang mesti menimbang banyak hal, mulai terkait operasi, pemeliharaan dan perawatan, pembinaan sumber daya manusia yang mengawaki serta para teknisi. Ketika sebuah negara membeli sebuah sistem senjata, maka yang diboyong adalah ekosistemnya.

  Peran Rafale  
Menurut pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, Kamis (29/1/2026), penempatan Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin dinilai strategis. Berada di sisi timur Selat Malaka, lokasi itu merupakan salah satu jalur perniagaan paling padat dan sensitif di dunia.

Dari titik ini, Rafale dapat menjalankan peran yang sangat vital dalam memperkuat forward defense posturing Indonesia, yakni memperpendek jarak antara ancaman potensial dan kemampuan respons,” tuturnya.

Sebagai pesawat tempur generasi 4,5 yang berkemampuan omnirole, Rafale dapat menjalankan tugas untuk superioritas udara, serangan presisi, pengintaian, dan operasi antikapal dalam satu penerbangan tunggal (sortie).

Dalam operasi gabungan, Rafale juga mampu menjadi pusat data taktis, yang mengumpulkan dan mendistribusikan informasi ke pesawat lain seperti F-16 dan Sukhoi, serta ke radar atau pusat kendali di darat. Hal ini akan memperbaiki kesadaran situasional seluruh jaringan pertahanan udara

Dalam konteks arsitektur pertahanan berlapis yang selama ini menjadi pendekatan TNI AU, terang Khairul, jet tempur F-16 dan Sukhoi Su-27/30 merupakan penempur utama yang mengemban tugas superioritas udara dan patroli ketinggian.

Di lapis menengah, T-50i berperan sebagai lead-in fighter trainer sekaligus penempur ringan yang menjaga kesiapan operasional harian. Di lapis bawah, Hawk 100/200 dan Super Tucano mengerjakan misi low-intensity, seperti patroli perbatasan atau penegakan hukum udara. Namun, Hawk 100/200 akan memasuki masa purna tugas dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dalam kerangka inilah, kehadiran Rafale menjadi relevan. Ia memperkuat kualitas lapis atas dan menutup celah kapabilitas yang selama ini belum terisi, terutama dalam hal pertempuran jarak jauh (BVR), peperangan elektronika, dan operasi berbasis jaringan,” kata Khairul.

Rico mengatakan, ketiga Rafale tersebut akan memperkuat Skuadron Udara 12 yang berbasis di Pekanbaru. Kehadiran Rafale diharapkan mendongkrak kemampuan tempur matra udara secara signifikan mengingat kemampuannya melakukan berbagai misi dalam satu penerbangan.

Adapun mengenai sisa pesawat dari total kontrak 42 unit, menurut Rico, akan didatangkan secara bertahap. Hal ini menyesuaikan dengan jadwal dalam kontrak serta kesiapan teknis, baik dari sisi produsen maupun infrastruktur pendukung di Tanah Air.

 
Kompas  

Rabu, 28 Januari 2026

Obsesi Indonesia yang Berisiko pada Pesawat Tempur Generasi Kelima

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvY2VQJdvTEFOvacbp_xftc_jl4HEnVfng-RC4gpdHPsUPB7q2DyOCmiojUT0NvPwl1vXdkuPDqWG2tGtYRND7lY5PKkHm6yuHB9mY0_HtBal1hrg8cVasdGkBDuzwgJttEgYLErKjMJdf_ipAVv5wqYUcnHiLTefcMJ7Bt3IRCKQ8OcPV670YODptF7Bw/w1200-h630-p-k-no-nu/316167.jpgPesawat generasi kelima KAAN Turkiye (TAI)

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan minat untuk memperoleh pesawat tempur generasi kelima. Di atas kertas, platform tersebut menjanjikan lompatan signifikan dalam kekuatan udara melalui kemampuan siluman, sensor canggih, dan kemampuan tempur jarak jauh (BVR).

Namun, terlepas dari daya tariknya, pesawat tempur generasi kelima saat ini tidak menjawab kebutuhan operasional Angkatan Udara Indonesia (TNI AU) yang paling mendesak. Daripada mengejar sistem yang sangat kompleks ini terlalu dini, Indonesia akan lebih baik memprioritaskan pesawat tempur generasi 4.5 yang sudah matang dan mengembangkan kemampuan peperangan berbasis jaringan (NCW) yang kuat.

Aspirasi Indonesia untuk mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima bukanlah hal baru. Pada tahun 2020, Jakarta meminta pembelian F-35 dari Amerika Serikat, yang akhirnya ditolak.

Baru-baru ini, pada Juli 2025, Indonesia membeli 48 unit pesawat tempur Kaan buatan Turki. Langkah-langkah ini mencerminkan keinginan untuk tetap relevan secara teknologi di kawasan di mana kekuatan udara canggih semakin penting untuk pencegahan.

Namun, pesawat tempur generasi kelima bukanlah solusi yang berdiri sendiri; Efektivitasnya bergantung pada ekosistem pendukung yang matang, suatu bidang di mana Indonesia saat ini menghadapi kekurangan. Daya tarik utama pesawat tempur generasi kelima terletak pada kemampuan pengamatan yang rendah dan dominasi informasi.

Karakteristik silumannya mengurangi kemampuan deteksi dan mempersempit jendela keterlibatan musuh, sementara fusi sensor mengintegrasikan data onboard dan offboard ke dalam gambaran medan pertempuran yang terpadu. Hal ini memungkinkan paradigma pertempuran generasi kelima yang terkenal: lihat dulu, putuskan dulu, tembak dulu, dan lepaskan diri dulu. Kualitas-kualitas ini membuat pesawat tersebut berharga untuk menembus pertahanan udara musuh yang padat.

Namun, keuntungan ini hanya terwujud ketika pesawat tempur tersebut beroperasi sebagai simpul dalam jaringan yang lebih luas. Mereka dirancang untuk berfungsi bersama pesawat peringatan dini dan kontrol udara (AEW&C), platform intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), sensor berbasis permukaan, dan pesawat tempur lainnya, semuanya terhubung melalui tautan data. Tanpa jaringan ini, sebagian besar keunggulan teoritis pesawat tempur generasi kelima akan hilang.

  Pendukung fundamental yang dibutuhkan  
Saat ini, TNI AU kekurangan banyak pendukung fundamental yang dibutuhkan untuk mendukung operasi generasi kelima. Kapasitas pengisian bahan bakar udara Indonesia masih terbatas, hanya terdiri dari satu pesawat KC-130B yang sudah tua dan satu pesawat A400M. Hal ini sangat membatasi operasi udara berkelanjutan di wilayah kepulauan Indonesia yang luas.

Lebih kritis lagi, Indonesia kekurangan pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control) khusus yang menyediakan cakupan radar jarak jauh dan manajemen pertempuran udara. Di Asia Tenggara, hanya Singapura dan Thailand yang saat ini memiliki kemampuan tersebut, sedangkan Indonesia terus bergantung terutama pada intersepsi yang dikendalikan dari darat (GCI), yang memiliki cakupan terbatas.

Mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima tanpa AEW&C, tautan data taktis yang andal, dan komando-dan-kendali terintegrasi tidak akan secara signifikan meningkatkan efektivitas tempur TNI AU. Sebaliknya, hal itu berisiko mengubah platform yang mahal menjadi aset terisolasi dengan kesadaran situasional yang terbatas, yang justru melemahkan keunggulan yang membenarkan akuisisinya.

Pengalaman operasional baru-baru ini semakin memperkuat keutamaan jaringan dibandingkan generasi platform. Selama bentrokan India-Pakistan pada pertengahan tahun 2025, Angkatan Udara Pakistan memanfaatkan jaringan terintegrasi radar berbasis darat dan pesawat AEW&C Erieye yang terhubung melalui sistem tautan data buatan dalam negeri.

Akibatnya, pesawat tempur J-10CE Angkatan Udara Pakistan—yang diklasifikasikan sebagai pesawat generasi 4.5—mampu menyerang pesawat tempur Angkatan Udara India pada jarak BVR melebihi 200 kilometer. Episode ini menunjukkan bahwa keunggulan informasi dan kesadaran situasional, bukan hanya siluman, sangat menentukan dalam pertempuran udara modern.

Pesawat tempur generasi 4.5 modern dirancang secara eksplisit untuk lingkungan jaringan seperti itu, menekankan penggabungan data, konektivitas, dan interoperabilitas. Rafale F4, misalnya, secara signifikan meningkatkan kemampuan jaringan, memungkinkan pesawat untuk memanfaatkan data dari platform AEW&C, aset ISR, sensor permukaan, dan pesawat tempur lainnya.

Ketika diintegrasikan ke dalam kerangka kerja NCW yang matang, pesawat tersebut tetap sangat mematikan. Mereka dapat melakukan pertempuran udara BVR, misi pertahanan udara, dan serangan presisi jarak jauh tanpa memasuki wilayah udara yang dijaga ketat.

  Misi utama TNI AU  
Set kemampuan ini selaras dengan kebutuhan operasional Indonesia. Misi utama TNI AU adalah pengawasan dan pertahanan wilayah udara Indonesia, tugas yang didominasi oleh operasi patroli, defensive counter-air, dan denial udara dan laut.

Misi-misi ini tidak memerlukan penetrasi siluman ke wilayah musuh, ceruk di mana pesawat tempur generasi kelima menawarkan keunggulannya. Sedangkan armada pesawat tempur generasi 4.5 yang cukup besar, didukung oleh pesawat AEW&C, pengisian bahan bakar di udara, dan jaringan terintegrasi, dapat memberikan pertahanan udara yang kredibel di seluruh kepulauan.

Kekhawatiran bahwa penundaan akuisisi generasi kelima akan membuat Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangganya di kawasan ini mengabaikan masalah yang lebih mendasar. Dalam hal kematangan NCW (National Combat Weapons), Indonesia sudah jauh tertinggal dari Singapura dan Australia. Memperoleh pesawat tempur generasi kelima tanpa terlebih dahulu mengatasi kesenjangan struktural ini tidak akan banyak membantu untuk menutup kesenjangan kemampuan tersebut.

Kendala keuangan semakin memperkuat logika ini. Antara tahun 2025 dan 2029, Indonesia telah mengalokasikan sekitar USD 28 miliar pinjaman luar negeri untuk modernisasi pertahanan, yang akan dibagi antara angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara. Upaya untuk secara bersamaan memperoleh pesawat tempur generasi kelima, pesawat AEW&C, pesawat tanker, tautan data, dan infrastruktur pendukung berisiko menyebarkan sumber daya terlalu tipis dan mengurangi efektivitas secara keseluruhan.

Kematangan teknologi juga penting. Pesawat tempur generasi 4.5 kontemporer adalah sistem yang mudah dipahami, berisiko rendah, dan telah disempurnakan melalui puluhan tahun penggunaan operasional. Sebaliknya, Kaan Turki masih dalam pengembangan, dengan rencana masuk layanan pada tahun 2030-an.

Mengingat kompleksitas program generasi kelima, penundaan dan kekurangan kemampuan adalah hal biasa bahkan di antara kekuatan kedirgantaraan yang mapan, yang menimbulkan risiko tinggi bagi sumber daya Indonesia yang terbatas.

Oleh karena itu, kebutuhan kekuatan udara Indonesia yang paling mendesak bukanlah pesawat tempur generasi kelima, tetapi arsitektur NCW yang koheren dan tangguh.

Investasi awal pada pesawat tempur generasi 4.5, pesawat AEW&C, aset pengisian bahan bakar, tautan data, dan pertahanan udara terintegrasi akan menghasilkan peningkatan efektivitas tempur secara langsung.

Hanya setelah fondasi ini kokoh, Indonesia dapat mengalokasikan sumber daya untuk pesawat tempur generasi kelima, memastikan pesawat tersebut masuk layanan sebagai bagian dari sistem tempur udara modern yang sesungguhnya, bukan sebagai simbol ambisi yang terisolasi.

  Bisnis Update 

Sabtu, 24 Januari 2026

Industri Pertahanan Dalam Negeri Jadi Solusi di Atasi Potensi Embargo Alutsista di Tengah Dinamika Geopolitik

Ranpur Harimau, hasil kerjasama Pindad - FNSS (Pindad)

Kondisi geopolitk belakangan ini terus memanas. Perseteruan antar negara itu perlu diantisipasi dengan terus memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista). Untuk mencegah potensi embargo alutsista di tengah-tengah situasi saat ini, industri pertahanan (inhan) dalam negeri bisa menjadi solusi.

Menurut Direktur Teknik PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) Zaenal, kemandirian inhan dalam negeri bisa mengurangi ketergantungan impor alutsista dari luar negeri. Hal itu menjadi sangat penting untuk memastikan supply chain pertahanan tetap stabil di tengah dinamika geopolitik dan potensi embargo.

Zaenal mengingatkan kembali, pada 1995-2005 Indonesia sudah pernah merasakan embargo senjata yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS).

Akibatnya pemerintah mau tidak mau harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan alutsista dan suku cadangnya. Dia tidak ingin hal serupa terulang.

Kemandirian industri pertahanan karenanya menjadi prasyarat sistem pertahanan yang kuat dan maju. Keuntungan lainnya adalah dampak positif bagi perekonomian dan penguasaan teknologi dalam negeri,” ungkap dia dalam keterangan resmi pada Rabu (21/1).

Presiden Prabowo Subianto, kata Zaenal, pernah menekankan pentingnya kemandirian inhan dalam negeri. Hal itu disampaikan secara terbuka oleh Prabowo saat masih bertugas sebagai menteri pertahanan (menhan). Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan alutsista, melainkan juga demi pergerakan ekonomi.

Anggaran pertahanan yang dialokasikan untuk produk dalam negeri akan berputar kembali di ekonomi nasional dan mendorong inovasi teknologi lokal,” ujarnya.

KRI BPD 322, hasil kerjasama Babcock - PAL. (Deni)
Tidak hanya itu, kemampuan memproduksi alutsista sendiri bisa menciptakan deterrent effect bagi negara lain. Negara dengan inhan yang maju dinilai lebih tangguh karena mampu memasok kebutuhan militernya sendiri tanpa khawatir terhadap akses alutsista dari luar negeri.

Itu meningkatkan posisi tawar Indonesia secara diplomatis. Pemerintah Indonesia telah menempatkan kemandirian pertahanan sebagai visi strategis jangka panjang,” kata dia.

Lebih lanjut, Zaenal menyampaikan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan menjadi payung utama yang mengatur pengelolaan inhan nasional. UU tersebut mengamanatkan kewajiban pelibatan produksi dalam negeri dalam setiap pengadaan alutsista.

Bahkan pada 2020, pemerintah membuka kesempatan lebih luas kepada pihak swasta untuk berpartisipasi dalam unhan lewat UU Cipta Kerja. Melalui regulasi tersebut, perusahaan swasta nasional bisa memperoleh perizinan sebagai industri pertahanan dan memproduksi alutsista dan komponennya.

Sehingga inhan BUMN dan inhan swasta bisa berkolaborasi. Sebab, kapasitas inhan BUMN belum memadai untuk memenuhi kebutuhan. Karena itu, kerja sama antara inhan pelat merah dengan inhan swasta terus berjalan. Sehingga pemenuhan kebutuhan inhan ditopang oleh BUMN dan swasta.

Dengan dukungan kerangka hukum yang kuat itu, ekosistem industri pertahanan nasional memiliki dasar untuk tumbuh, mulai dari tahap penelitian dan pengembangan hingga produksi dan pemasaran alutsista,” jelasnya.

Saat ini, masih kata Zaenal, PT Pindad (Persero) sebagai BUMN strategis telah menghasilkan berbagai varian pistol seperti G2 Combat, MAGNUM. Mereka juga memproduksi senapan serbu seri SS yang terdiri atas SS1, SS2, sampai SS3 yang kini digunakan oleh TNI maupun Polri.

SS series, produksi Pindad (Pindad)
Selain senjata dan amunisi, produksi suku cadang lokal untuk kebutuhan perawatan alutsista juga menunjukkan sudah menunjukkan kemajuan. Berbagai komponen senjata, kendaraan tempur, kapal, dan pesawat mulai dibuat di dalam negeri melalui sinergi BUMN dan swasta.

Contohnya, PT NKRI sebagai perusahaan swasta nasional yang sudah memperoleh lisensi dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk memproduksi komponen senjata dan amunisi, suku cadang presisi untuk pesawat, kapal, dan kendaraan taktis atau rantis.

Dia menyebutkan bahwa pabrik PT NKRI di Bandung, Jawa Barat (Jabar) saat ini menjadi pemasok selongsong peluru, proyektil, hingga parts mekanik bagi kebutuhan industri pertahanan nasional. Selain itu ada, PT Republik Defensindo (Republik Defence) yang memproduksi kendaraan khusus militer.

Kehadiran perusahaan-perusahaan swasta itu menambah kapasitas produksi dalam negeri, terutama di lini komponen dan suku cadang yang mendukung kemandirian pemeliharaan alutsista,” pungkasnya.

Semengtara, Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, melalui kebijakan industri pertahanan dan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah berupaya menyelaraskan kebutuhan TNI dengan kemampuan industri dalam negeri. Ini dilakukan agar pengadaan tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi nasional.

"Pada saat yang sama, pemerintah mendorong agar industri pertahanan, baik BUMN maupun swasta tidak berhenti pada fungsi perakitan. Arah kebijakannya adalah mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kualitas SDM dan penguatan rantai pasok dalam negeri secara bertahap dan berkelanjutan," ujar Khairul.

Tantangan utama industri pertahanan Indonesia saat ini adalah memastikan bahwa kemandirian tidak berhenti pada tingkat perakitan. UU Industri Pertahanan secara eksplisit mengamanatkan penguasaan teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri serta peningkatan kualitas SDM sebagai tujuan jangka panjang.

  👷 
Jawa Pos  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...