Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2023

Silas Papare, Pernah Jadi Intel Belanda

☆ Akhirnya Berjuang untuk Indonesia(Sumber: lanud-silaspapare.tni-au.mil.id)

Lahir dari keluarga sederhana tidak membuat Silas Papare menjadi pemuda yang biasa-biasa saja. Kegigihannya memperjuangkan pengembalian Papua dalam pangkuan NKRI, membuat nama Papare tak hanya melegenda, tapi juga dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Melansir Kompas, Silas Papare lahir tahun 1918 di Serui, Papua. Saat berusia sembilan tahun, Papare menempuh pendidikan di Sekolah Desa (Volkschool) selama tiga tahun. Setamatnya dari sana, ia tak langsung melanjutkan pendidikannya. Papare mengambil jeda untuk membantu keluarganya.

Setahun kemudian, ia memutuskan kembali ke bangku pendidikan di sekolah juru rawat di Serui. Meski tidak pernah spesifik mengenyam pendidikan militer, kelihaiannya menyerap ilmu dan menguasai medan menarik perhatian Belanda. Papare kemudian direkrut menjadi tenaga intelijen Belanda.

Bekerja sebagai intel, Silas Papare dikenal berprestasi. Mengutip Tirto, karir cemerlang Papare bahkan pernah diganjar penghargaan oleh pemerintah Belanda dan militer AS.

Salah satu kapal perang bernama Silas Papare (TNI AL)

Sekian lama berkiprah sebagai intel Belanda, Papare menanggalkan profesinya saat mendengar Indonesia merdeka. Kala itu, ia berbalik melawan Belanda untuk memperkuat pertahanan NKRI. Hingga pada Desember 1945, Papare bersama pemuda Irian Barat bergabung dalam Batalyon Papua merencanakan pemberontakan.

Namun, informasi itu bocor dan gagal dilaksanakan. Papare ditangkap dan dipenjara oleh Belanda. Setelah bebas, ia kembali merencanakan pemberontakan. Upayanya kembali gagal dan dia diasingkan. Kemudian pada November 1946, Papare mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Aksi tersebut membuatnya kembali ditahan Belanda. Hingga pada Oktober 1949, Papare berhasil melarikan diri ke Yogyakarta dan membentuk Badan Perjuangan Irian.

Impian terbesar Silas Papare adalah mengakhiri kekuasaan Belanda dan mempertahankan kemerdekaan tanah leluhurnya. Pada 15 Agustus 1962, Papare dipercaya mewakili RI menandatangangi persetujuan New York. Akhirnya, Irian Barat resmi menjadi wilayah Republik Indonesia pada 1 Mei 1963.

Tanggal 7 Maret 1978, Silas Papare meninggal dunia. Untuk mengenang jasanya, pemerintah mengeluarkan Keppres No 77/TK/1993 untuk menganugerahinya gelar Pahlawan Indonesia pada 14 September 1993. Kini nama Silas Papare diabadikan menjadi nama pangkalan udara di Jayapura, Papua. (un)
 

Jumat, 30 September 2022

✩ Pierre Tendean, Mengenal Sosok Pahlawan Revolusi dan Kisahnya

https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2022/09/25/pierre-tendean-mengenal-sosok-pahlawan-revolusi-dan-kisahnya_169.jpeg?w=700&q=90Pierre Tendean, Mengenal Sosok Pahlawan Revolusi dan Kisahnya | Foto: Kapten Pierre Tendean (Dok. Ilustrator detikcom)

Pierre Tendean adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia. Kapten Pierre Tendean termasuk daftar tokoh yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal G30S/PKI.

Untuk mengenal lebih lanjut tentang sosok Pierre Tendean, simak informasi lengkapnya berikut ini.

  Biografi Kapten Pierre Tendean 

Pierre Tendean lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Jakarta. Dikutip dari buku 'Wajah dan sejarah perjuangan pahlawan nasional' oleh Departemen Sosial R.I. Direktorat Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan, ia adalah anak bungsu di antara tiga bersaudara. Ayahnya, dr. A.L. Tendean berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara dan ibunya, Cornell M. E, seorang keturunan darah Perancis.

Pierre Tendean menempuh pendidikan di Akademi Militer Jurusan Teknik. Semasa masih menjalani pendidikan di Koprak Taruna, Pierre Tendean pernah turut dalam operasi militer untuk menumpas pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera.

Setelah lulus dari Akmil pada tahun 1962, Pierre Tendean menjabat Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Komando Daerah Militer II/Bukit Barisan di Medan. Setahun kemudian dirinya dipanggil untuk mengikuti pendidikan intelijen. Pada 1963, Pierre Tendean pun turut bertugas menyusup ke daerah Malaysia ketika Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.

Pada tanggal 15 April 1965, Pierre Tendean diangkat menjadi ajudan Jenderal A.H Nasution yang kala itu menjadi Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab).Dalam menjalankan tugasnya sebagai ajudan, Letnan Satu Pierre Tendean harus gugur karena dibunuh dalam peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September 1965 oleh orang-orang PKI.

  Kisah Pierre Tendean dalam Tragedi G30S/PKI 

Pemberontakan G30S/PKI dimulai pada tanggal 30 September 1965 dengan menculik dan kemudian membunuh petinggi-petinggi TNI Angkatan Darat untuk melumpuhkan angkatan. Kejadian tersebut berlangsung selama dua hari sampai tanggal 1 Oktober 1965.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, pasukan G30S/PKI mendatangi kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Pasukan Cakrabirawa berhasil memasuki rumah tersebut dan melepaskan sejumlah tembakan hingga mengenai, anak Jenderal Nasution bernama Ade Irma Suryani. Atas desakan isterinya, Jenderal Nasution pun berhasil lolos.

Mendengar keributan dan tembakan, Pierre Tendean yang tertidur pun terbangun. Mengetahui kejadian pasukan Cakrabirawa yang tengah menembak ke arah Nasution yang sedang berlari, Tendean pun berusaha menolong sang Jenderal. Akhirnya Pierre Tendean pun ditangkap oleh pasukan tersebut karena dikira dirinya adalah Jenderal Nasution.

Bersama dengan perwira TNI Angkatan Darat lainnya, Pierre Tendean diculik dan kemudian dibunuh oleh PKI. Setelah mengalami siksaan yang cukup berat, Pierre Tendean ditembak. Jasadnya lalu dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Pondok Gede, Jakarta, yang dikenal dengan sebutan Lubang Buaya.

  Pierre Tendean, Sosok Pahlawan Revolusi 

Akibat peristiwa pemberontakan G30S/PKI, Kapten Pierre Tendean harus gugur bersama para petinggi TNI Angkatan Darat dan beberapa korban lainnya. Mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut pun ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.

Pahlawan Revolusi adalah salah satu gelar kehormatan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia kepada sejumlah perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang telah gugur dalam peristiwa G30S/PKI atau Gerakan 30 September 1965.

Sebagaimana dilansir situs Kemdikbud, mereka ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan beberapa Keputusan Presiden pada tahun 1965. Selanjutnya, sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, gelar Pahlawan Revolusi pun diakui sebagai Pahlawan Nasional. (wia/imk)

 ✩
detik  

✰ Biografi Brigjen Katamso

Korban Peristiwa G30S di Yogyakartahttp://arpus.sragenkab.go.id/wp-content/uploads/PAMERAN-VIRTUAL_KATAMSO-232x300-232x300.jpgBrigjen Katamso, salah satu Pahlawan Revolusi, korban peristiwa G30S di Yogyakarta.(Dok.arpus.sragenkab.go.id)

Sejarah kelam tragedi Gerakan 30 September atau peristiwa G30S ternyata juga di Yogyakarta.

Peristiwa pada 30 September 1965 ini dilatarbelakangi pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan tujuan mengubah ideologi bangsa Indonesia.

Korban yang gugur berasal dari para petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Angkatan Darat AD, dan beberapa korban lainnya.

Mereka yang telah gugur kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi lewat Keputusan Presiden di tahun 1965.

Salah satu Pahlawan Revolusi korban peristiwa G30S adalah Brigadir Jenderal TNI Anumerta Katamso Darmokusumo atau yang dikenal dengan Brigjen Katamso.

  Biografi Singkat Brigjen Katamso 

Katamso Darmokusumo adalah sosok kelahiran Sragen, Jawa Tengah pada 5 Februari 1923.

Ayah Brigjen Katamso bernama Ki Sastrosudarmo, yang mempunyai latar belakang sosial sebagai golongan menengah.

Brigjen Katamso meninggal dunia 2 Oktober 1965 dini hari dan menjadi korban peristiwa G30S di Yogyakarta.

Brigjen Katamso memiliki istri bernama RR Sriwulan Murni dan dalam pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai tujuh anak.

Semasa hidup ia sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan terhenti lantaran masuknya penjajah Jepang.

Kemudian Katamso memutuskan melanjutkan pendidikan sebagai tentara PETA di Bogor.

Dari pendidikan militer tersebut, Katamso Darmokusumo memulai karir militernya hingga menjadi Komandan Korem 072/Pamungkas.

Saat menyandang jabatan itulah, Katamso gugur dalam peristiwa G30S di Yogyakarta.

Ia diculik dari rumahnya dan dibawa menuju Kentungan untuk dieksekusi dan jasadnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur bersama jasad Kolonel Sugiyono.

Jasad Brigjen Katamso baru ditemukan pada 21 Oktober 1965 dan kemudian disemayamkan di TMP Semaki, Yogyakarta.

Brigjen Katamso kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi berdasarkan Keputusan Presiden RI No.118/KOTI/Tahun 1965 tanggal 19 Oktober 1965.

Selain itu meski pangkat terakhirnya sebelum gugut adalah Kolonel Inf., namun karena gugur dalam tugas maka Katamso diberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi Brigadir Jenderal TNI Anumerta.

  Karir Militer Brigjen Katamso 

Katamso memulai karir militernya dengan mengikuti pendidikan PETA (Pembela Tanah Air), yaitu kesatuan militer bentukan Jepang.

Setahun kemudian, Katamso diangkat menjadi Shodanco atau prajurit dari masyarakat yang pernah sekolah tingkat menengah pertama.

Setelah Indonesia merdeka, Katamso tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan diberi tugas sebagai komandan kompi atau kapten di Klaten.

Badan Keamanan Rakyat (BKR) kemudian berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945.

Setelahnya, terjadi agresi militer Belanda di mana pasukan yang dipimpinnya sering bertempur untuk mengusir Belanda dari Indonesia.

Sesudah pengakuan kedaulatan, Katamso diserahi tugas untuk menumpas pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah.

Pada 1957, Katamso kembali mengikuti pendidikan Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di Bandung.

Selesai pendidikan pada tahun 1958, Katamso dipercaya untuk menjabat sebagai Komandan Batalyon "A” Komando Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani dan terlibat dalam usaha memadamkan pemberontakan PRRI/Permesta.

Setelah operasi itu selesai, Katamso kembali diangkat menjadi Asisten Operasi Resimen Tim Pertempuran II Diponegoro di Bukittinggi.

Tahun 1959, ia diangkat menjadi Letnan Kolonel dan di tahun yang sama, Katamso jua diangkat menjadi Kepala Staf Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus.

Katamso juga sempat menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Team Tempur I (Tegas) di Riau.

Sebelum gugur, jabatan terakhir Kolonel Katamso adalah sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta.

 ♖
Kompas  

Selasa, 17 Agustus 2021

Kisah Heroik Kapten Muslihat Melawan Penjajah

 Tetap berdiri meski peluru sudah menembus perut 
https://pict-b.sindonews.net/dyn/620/pena/news/2021/08/15/173/511180/mengenang-kisah-heroik-kapten-muslihat-membebaskan-kota-bogor-dari-penjajah-nct.jpgKapten Tubagus Muslihat. [Foto: kotabogor.go.id/Dok]

K
apten Muslihat mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Kota Bogor. Kapten Muslihat sangat dikenal di Kota Bogor karena dijadikan sebagai nama jalan.

Jalan Kapten Muslihat terletak jauh dari Stasiun Bogor, dimana setiap hari ramai dilalui manusia dan kendaraan.

Jalan utama penghubung Stasiun Bogor dengan Istana Bogor ini menyimpan sejarah panjang perjuangan rakyat Bogor melawan penjajah. Di antara pejuang-pejuang kemerdekaan Kota Bogor, salah satu Kapten Muslihat yang memiliki nama asli Tubagus Muslihat.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, tokoh pejuang Bogor berusaha membentuk pemerintahan baru agar segera lepas dari penjajahan Jepang. Namun sebelum membentuk pemerintahan di Bogor, para pemuda dan pejuang di Kota Bogor harus merebut kekuasaan dari tangan Jepang.

Aksi ini dimulai pada 19 Agustus 1945, ketika para pejuang yang dipimpin R Ijok Mohamad Sirodz meminta pemerintah militer Jepang menyerahkan gedung Bogor Shucokan (keresidenan) dan mengibarkan Merah Putih untuk menggantikan Bendera Jepang, Hinomaru.

Pelatihan perwira PETA yang dipimpin oleh Nippon membawa angin segar bagi kaum pribumi pada awal kemerdekaan. Pelatihan tersebut melahirkan sejumlah tokoh penting yang membuat perjuangan semakin berkibar seperti, Ibrahim Adji, Doele Adboellah, Muslihat. dan Dasoeki Basri. Khusus untuk Muslihat, ia kemudian menjadi salah satu yang berperan besar. Pada saat berita proklamasi tersebar, ia bersama Moehammad Sirodj bertindak cepat untuk meminta Nippon menyerahkan gedung Bogor Shuchokhan kepada para pemuda.

Ketika mendengar kabar bahwa kota Hirosima dan Nagasaki dibom oleh sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, tentara Jepang membubarkan PETA dan menyuruh anggota PETA yang ada di asrama untuk kembali ke kampung masing- masing. Hampir dua bulan setelah proklamasi, setelah banyaknya kekacauan dimana-mana.

Di Kota Bogor, banyak peristiwa berdarah yang terjadi. Salah satu veteran Kota Bogor Ma’mun Permadi (86), sebagaimana dikutip dari kotabogor.go.id, menceritakan, tepatnya 25 Desember 1945 pertempuran besar terjadi antara rakyat Bogor dengan penjajah yang dipimpin Kapten Muslihat. Dengan menggunakan persenjataan seadaanya, seperti bambu runcing, golok, pedang, mereka menyerang markas-markas yang diduduki Inggris.

Kontak senjata pecah, suara tembakan dan pekikan "Merdeka" terdengar di setiap pertempuran. Pasukan Inggris dan para pejuang saling tembak-menembak. Kapten Muslihat dengan sangat berani keluar dari tempat persembunyiannya untuk melakukan penyerangan terbuka. Dia menembaki para penjajah yang membuat sebagian tentara Inggris tumbang.

Dalam baku tembak itu, timah panas musuh menembus perut Kapten Muslihat. Sang Kapten tetap berdiri menembaki para penjajah. Timah panas kedua kembali menembus pinggang membuat Kapten Muslihat tumbang hingga tersungkur. Darah bercucuran dan mengalir membuat kaos putih yang dikenakan berubah menjadi merah.

Kapten Muslihat gugur di usia 19 tahun dan meninggalkan istri yang tengah mengandung. Saat itu teringat sekali pesannya, harta yang dimilikinya agar diberikan kepada yang tidak mampu dan jika istrinya melahirkan anak laki-laki agar diberi nama Tubagus Merdeka,” ujar Ma’mun.

Berbagai pertempuran terjadi kala itu tidak hanya di satu wilayah Bogor, melainkan di berbagai wilayah. Seperti pertempuran di Kota Paris (Pasar Mawar) yang berlangsung pada malam hari, dimana di lokasi ini terdapat komplek hunian orang-orang Belanda (Kamp para interniran).

Selain itu terjadi juga pertempuran di daerah Cemplang pada 1945 antara pejuang RI melawan pasukan tentara Gurkha (tentara bayaran sekutu) yang berjumlah 12 orang. Pertempuran juga terjadi di daerah Maseng, Caringin Bogor pada 1945. Disana pejuang sampai membangun sebuah monumen untuk mengenang perjuangan para pahlawan.

Kapten Tubagus Muslihat lahir di Pandeglang, Banten, 26 Oktober 1926 dan meninggal dunia di Bogor 25 Desember 1945 pada usia 19 tahun. Tubagus Muslihat mengawali kiprahnya sebagai pejuang Bogor dengan bergabung di pasukan pembela tanah air (PETA).

Tubagus Muslihat berhasil lulus dan diterima sebagai tentara PETA dengan pangkat, ia dimasukan kedalam kategori pemuda-pemuda cakap dan berani, kemudian dipilih menjadi Shudanco (Komandan Seksi atau Peleton) bersamaan dengan Ibrahim Ajie, M Ishak Juarsa, Rahmat Padma, Tarmat, Suwardi, Abu Usman, Rujak, dan Bustami.

Tubagus Muslihat memulai karirnya di Bogor pada tahun 1942 di sebuah Balai Penelitian Kehutanan, Gunung Batu Bogor. Meskipun belum sebulan Tubagus Muslihat bekerja, dia lebih memilih untuk keluar dan bergabung dengan pasukan PETA.(thm)

  ★ sindonews  

Selasa, 25 Juli 2017

☆ Sentot Ali Basya

Panglima Perang Diponegoro yang Dijuluki Napoleon Jawa Lukisan Sentot Ali Basya. (minanglamo) 

Di usianya yang masih belasan tahun, Sentot Ali Basya atau Sentot Ali Basya Abdullah Mustafa Prawirodirjo sudah ikut andil dalam jihad.

Ia merupakan salah satu buyut dari Sultan Hamengku Buwono I. Kakeknya ini, seorang Sultan di Kerajaan Mataram Islam sekarang dikenal dengan Yogyakarta.

Sementara itu gelar "Basya" atau "Pasha" adalah diilhami oleh gelar para panglima di Turki Utsmani. Dimana Turki di zaman itu menjadi kebanggaan Umat Islam seluruh dunia.

Sentot Ali Basya diangkat menjadi panglima perang di barisan pasukan Pangeran Diponegoro ketika berumur 17 tahun. Prestasi di umur muda ini pernah juga diperoleh seorang sahabat bernama Usamah bin Zaid yang ditunjuk untuk memimpin perang melawan Romawi.

Namun, meski pun ia masih muda ternyata mampu pula mengukir dengan tinta emas keberhasilan dalam berjihad melawan Belanda. Sampai-sampai ia digelari "Napoleon Jawa". Padahal kalau melihat zaman sekarang, anak yang berumur 17 tahu baru duduk di bangku SMA.

Sentot Ali Basya seorang panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (De Java Oorlog). Pangeran Diponegoro memimpin perang berlangsung selama lima tahun.

Perang ini dimulai tanggal 20 Juli 1825 hingga 28 Maret 1830 M. Perang ini merupakan perang Sabilillah yang bertujuan mengusir penjajah untuk menegakkan kemerdekaan dan keadilan.

Dia merupakan salah satu komandan pertempuran dari pasukan-pasukan Diponegoro. Medan pertempuran di sekitar Yogyakarta, Kedu, Bagelen, dan Surakarta.

Akan tetapi, ada daerah lain seperti Banyumas, Wonosobo, Banjarnegara, Weleri, Pekalongan, Tegal, Semarang, Demak, Kudus, Purwodadi, Parakan, Magelang, Madiun, Pacitan, Kediri, Bonjonegoro, Tuban, dan Surabaya. Tempat-tempat ini merupakan medan gerilya untuk melakukan sabotase-sabotase terhadap Belanda.

Dalam melancarkan serangan kepada penjajah Belanda Sentot Ali Basya bersama Pangeran Diponegoro menggunakan taktik perang gerilya. Taktik perang ini senantiasa berpindah-pindah.

Demikian pula kedudukan markas besar pun tidak menetap di satu tempat. Pasukan Diponegoro ini telah memenangkan hati dan pikiran rakyat. Sehingga pasukan ini mudah bergerak serta mudah pula mendapatkan suplai logistik untuk kebutuhan pasukan.

Oleh karena itu, di sepanjang garis Yogyakarta – Solo – Madiun – Surabaya (Jurusan Timur) dan Yogyakarta – Magelang – Wonosobo – Bagelen – Banyumas (Jurusan Utara dan Barat) terdapat markas-markas pertempuran yang sebagian besar dipimpin oleh para Ulama.

Di antaranya, Kiai Mojo dari Solo, Kiai Imam Rafi’I dari Bagelen, Kiai Imam Nawawi dari Ngluning Purwokerto, Kiai Hasan Basori dari Banyumas dan masih banyak kiai-kiai yang lain.

Dalam pasukan yang dipimpim Sentot Ali Basya ada sesuatu yang unik. Ia mempunyai pasukan sebanyak 1000 orang yang menyandang senjata dan senantiasa memakai jubah dan surban. Bahkan sistem struktur pasukannya seperti pasukan Turki Utsmani.

Gerakan pasukan Diponegoro sangat cepat dan lincah karena mereka memiliki kemahiran dan keberanian yang luar biasa yang disemangati perang Sabilillah. Hal ini membuat Belanda harus mengirim banyak Jenderal, Kolonel, dan Mayor yang dikirim ke jawa. Mereka adalah Jenderal De Kock. Jenderal Van Geen, Jenderal Holsman, Jenderal Bisschof. Karena pemerintahan Belanda menganggap lamban dalam menyelesaikan perang Sabil di Jawa.

Dalam menumpas gerakan Jihad menumpas gerakan jihad di Jawa. Jenderal De Kock menggunakan berbagai macam cara. Ada yang secara frontal perang secara fisik dan ada pula halus.

Jendral De Kock menghalalkan segala cara untuk bisa menangkap para pemimpin gerakan jihad di Jawa. Diharapkan dengan pimpinannya ditangkap maka bawahannya akan ikut hancur. Bahkan, Belanda sering melakukan penghianatan ketika terjadi perundingan tidak menguntungkan pihak pemerintah Belanda.

Belanda membujuk Prawirodiningrat, Bupati Madiun. Ia adalah kakak dari Sentot Ali Basya. Agar ia mau mengajak adiknya berunding dengan Belanda. Bupati Madiun itu menerima tawaran Belanda untuk membujuk Sentot Ali Basya.

Sentot Ali Basya terlalu percaya kepada sang kakak dan lebih lagi terlalu percaya akan "Senyum" kolonialisme.

Panglima Sentot menerima tawaran Belanda, ia memasuki kota Yogyakarta dengan mendapatkan upacara militer penuh sebagai seorang jenderal tepat pada tanggal 24 oktober 1829. Sentot Ali Basya masuk perangkap Belanda, ia disergap kemudian dijadikan tawanan perang.

Kemudian Napoleon Jawa itu dipaksa Belanda untuk bertempur menghadapi Imam Bonjol. Belanda menjalankan siasat "divide et impera" politik adu domba.

Di Sumatera Barat ia gunakan kesempatan itu untuk mengadakan kontak dengan anak buah Imam Bonjol.Ia menggabungkan diri ke dalam pasukan Paderi untuk melanjutkan perang Sabil.

Namun, pada akhirnya Belanda mencium rencana itu, Sentot Ali Basya ditangkap dan dikirim ke Batavia. Di Batavia ini Gubernur Jenderal Belanda mengeluarkan beslit (surat keputusan) sebagai tawanan perang dan diasingkan ke Bengkulu.

Sumber:
★ wikipedia
★ an-najah
★ diolah dari berbagai sumber (nag,nag)

  sindonews  

Selasa, 20 Desember 2016

✰ Ilmuwan Indonesia Bikin Satelit Radar Mikro

Pertama di Dunia https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzOdYQGfJj2XBiScEV1866TCtnXL9DbUNnkTdNgT8SMh7sceC6seoyDMkIeYqmNtVIibaqJ-qQKSBWtwuyzwuCu05lFDj4fL_Lff9MtZgrKIU-bhXlkY8o2Vz6HxFPx6AhpWkpZToLy5A2/s1600/Satelit+mikro+berbobot+150+kilogram+dengan+muatan+Circularly+Polarized-Synthetic+Aperture+Radar+%2528CP-SAR%2529%252C+Kamis+%252816122016%2529%252C+di+Josaphat+Microwave+Remote+Sensing+Laboratory+%2528JMRSL%2529%252C+Universitas+Chiba%252C+Jepang.+Ini+satelit+mikro+pertama+yang+membawa+sens.jpgSatelit mikro berbobot 150 kilogram dengan muatan Circularly Polarized-Synthetic Aperture Radar (CP-SAR), Kamis (16/12/2016), di Josaphat Mic✰rowave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Universitas Chiba, Jepang. Ini satelit mikro pertama yang membawa sensor radar. 🌟

I
ndonesia rupanya punya banyak orang pintar dan berprestasi. Salah satunya adalah Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Josaphat adalah ilmuwan asal Indonesia yang menjadi orang pertama yang membuat satelit radar mikro pertama di dunia.

Josaphat merupakan profesor radar di Chiba University, Jepang. Dia telah merampungkan pembuatan satelit mikro serta sensor circurlarly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR). Satelit dan sensor ini dirancang dan dibangun di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University. Rencananya, satelit ini akan diluncurkan di Indonesia pada 2019 mendatang.

Meski disebut mikro, tapi satelit ini memiliki berat 150 kilogram dan menjadi satelit berbobot ringan pertama di dunia yang membawa sensor radar. Selama ini, satelit radar memiliki berat lebih dari 1 ton. "Bertahun-tahun saya kembangkan teknologi mutakhir lain untuk memperkecil dan mengurangi beratnya hingga sepersepuluh lebih," ujar Josaphat kepada Tempo melalui pesan singkat, Jumat, 16 Desember 2016.

Keunggalan satelit ini ada pada teknologi polarisasi melingkar yang bisa mengurangi getaran wahana pembawa radar dan pengaruh rotasi Faraday di ionosfer. Dengan cara ini, citra yang didapat lebih akurat ketimbang radar konvensional. Teknologi itu adalah temuan Josaphat sendiri dan telah dipatenkan.

Josaphat menjelaskan, CP-SAR merupakan sensor radar yang bekerja di gelombang L band atau 1,270 gigahertz (GHz). Gelombangnya memiliki panjang 23 sentimeter. Itulah yang membuat radar ini dapat menembus awan, kabut, asap, hutan, dan bisa penetrasi ke dalam tanah.

Selain L band, sensor juga dapat menangkap frekuensi C band (5,3 GHz), X band (9,4 GHz), dan Ku band (13,2 GHz), sesuai dengan target yang akan diamati. Semakin tinggi frekuensi, makin detail citra yang akan diperoleh.

"Dapat menembakkan gelombang mikro (microwave) dan menerimanya kembali untuk diolah menjadi citra radar. Bisa dipakai pada siang dan malam hari," tutur pria kelahiran Bandung, 25 Juni 1970, ini. Ketimbang citra kamera biasa, kata dia, radar ini menghasilkan informasi soal intensitas, fase, dan polarisasi suatu objek, sehingga dapat diperoleh informasi lebih detail.

Karena itu, menurut Josaphat, satelit dan sensor ini tepat sekali untuk pengamanan lalu lintas laut (sea surveillance), penjagaan lintas batas negara, penjagaan nelayan ilegal, pemantauan kebakaran hutan, gunung meletus, pemeliharaan infrastruktur. "Sampai prediksi pergeseran tanah akibat gempa dan tanah longsor," kata Josaphat, yang pernah menjadi peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama 10 tahun.

Josaphat mengembangkan sensor satelit mikro CP-SAR ini sejak 2007 untuk berbagai keperluan pengamatan permukaan bumi, bulan, hingga planet Mars dan Venus. Selain di satelit mikro, ujarnya, sensor ini juga dapat dipasang di pesawat nirawak, pesawat, dan satelit besar. Serta kendaraan biasa untuk keperluan pengamatan permukaan tanah dan perubahannya.

Selama ini, Josaphat dan tim laboratoriumnya telah menggunakan sensor CP-SAR untuk beberapa penelitian. Di antaranya, penurunan tanah di kota Jakarta, tanah longsor, kebakaran lahan gambut, dan pengaruh sedimentasi terhadap reklamasi di Teluk Jakarta. Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory selama ini telah bekerja sama dengan berbagai badan ruang angkasa di dunia, seperti NASA dan Seoul University untuk pengambangan radar pengamatan bulan, Mars, dan Venus. Juga dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk membuat sensor SAR berfrekuensi tinggi. Serta, LAPAN dan JAXA (Badan Antariksa dan Penerbangan Jepang) untuk membuat satelit mikro SAR.

Dia berencana memberi nama satelit ini sebutan "Tanah Air". "Harapannya satelit ini dapat bermanfaat bagi Indonesia, khususnya dalam mengamati sumber daya alam dan melindungi warganya dari bencana alam," ujarnya. "Satelit ini pun mewujudkan mimpi saya waktu umur lima tahun. Saat itu, saya berjanji kepada Ayah yang juga anggota Angkatan Udara dan pelatih di Komando Pasukan Khas, untuk membuatkan satelit pengamatan."

  🌟 Tempo  

Jumat, 02 Desember 2016

☆ Miaad Madaad

'Singa Betina' Pembasmi ISIS di Mosul Madaad disebut sebagai satu-satunya wanita yang ikut memberangus ISIS di kota kelahiran Saddam Hussein itu. [Al Arabiya]

Nama Miaad Madaad mungkin masih terdengar asing bagi publik internasional. Wanita ini memang bukan seorang politisi, pejabat, atau publik figur yang dikenal secara luas. Madaad adalah anggota dari pasukan gabungan Irak yang beroperasi di Mosul.

Madaad adalah anggota dari “Lions of the Tigris,” milisi Sunni yang turut ambil bagian dalam operasi pembebasan Mosul. Madaad disebut sebagai satu-satunya wanita yang ikut memberangus ISIS di kota kelahiran Saddam Hussein itu.

Lions of the Tigris beroperasi di wilayah Shayyalah al-Imam, salah satu desa di pinggiran Mosul yang beberapa waktu lalu baru saja direbut kembali dari tangan ISIS.

"Terakhir kali (ISIS) mereka datang ke rumah saya dan mengancam saya, saya melemparkan batu pada mereka dan memanggil mereka anjing," katanya kepada Reuters sembari mencengkeram senapan serbu AK-47 dan bersumpah untuk mengalahkan ISIS, seperti dilansir Al Arabiya pada Kamis (1/12).

Dia mengaku memutuskan bergabung dengan “Lions of the Tigris" setelah mertua dan saudara iparnya dieksekusi oleh kelompok pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi tersebut. Sebelum ikut berperang, dia mengaku sempat melarikan diri, dan menjadi tahanan sejumlah milisi di Irak.

"Saat saya dan suami saya melarikan diri ke wilayah Kurdi yang relatif stabil awal tahun ini, saya ditangkap oleh para pejuang Kurdi dimana mereka mencurigai saya sebagai seorang anggota ISIS," tukasnya.

Operasi pembebasan Mosul sendiri mulai berlangsung sejak pertengahan bulan lalu. Operasi ini melibatkan ribuan pasukan yang terdiri dari tentara Irak, unit militer Kurdi, milisi Sunni dan Syiah, serta dibantu oleh koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS). (esn)

  SINDOnews  

Selasa, 15 November 2016

☆ Kisah Heroik Marsda TNI (Purn) Soedarman

✈ Melakukan Serangan Fajar ke Mapanget [tni-au.mil.id]

Tiada keinginan untuk memukul saudara sendiri, mungkin inilah pertanyaan yang menggambarkan pertentangan batin atas sejumlah gempuran perwira AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, sekarang TNI Angkatan Udara) sarang Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada tahun 1958. Namun bagaimanapun, serangan atas mereka harus tetap dilakukan untuk menstabilkan keamanan nasional.

Awal tahun 1958, sebagian wilayah Sulawesi dan Maluku diibaratkan seperti daerah mati. Wilayah ini dikuasai oleh Angkatan Udara Revolusioner (kekuatan udara Permesta). Pada saat itu mereka memiliki cukup banyak pesawat militer yang kerap mengganggu penerbangan AURI. Suatu ketika pun pernah terjadi ketegangan di ruang udara Sulawesi dan Maluku, sehingga tak ada satupun pesawat udara yang berani terbang siang hari, kecuali P-51 Mustang.

Menanggapi hal tersebut, AURI pun geram dan tak mau tinggal diam. Mereka melakukan pengepungan setahap demi setahap untuk mempersempit gerak pasukan udara Permesta. Seperti halnya PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), Permesta pada dasarnya merupakan saudara sendiri.

Basis mereka tersebar mulai dari Mapanget, Tasuka, Gorontalo, Morotai hingga Jailolo. Namun dimana kekuatan tersebut terkonsentrasi, tak seorangpun prajurit AURI ada yang mengetahuinya.

Pada 14 Mei 1958, sesuai dengan kesepakatan sejumlah (kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh AURI) mengadakan pertemuan singkat di sebuah bangunan sederhana dekat lapangan terbang Maumere, Flores. Kedatangan mereka ketempat itu adalah untuk membicarakan mengenai rencana penyerangan Permesta pada lima lokasi itu.

Di antaranya yang hadir adalah Mayor Udara Leo Wattimena yang menjadi pimpinan operasi sekaligus pimpinan para penempur cocor merah, Mustang. Selain itu hadir pula Kapten Udara Sri Muljono Herlambang dan Kapten Udara Suwondo yang memimpin tim pesawat pembom taktis B-25 Mitchell.

Sebagai pimpinan, Leo mengarahkan bawahannya untuk harus mencapai udara sebelum matahari terbit. Pasukannya terdiri dari empat pesawat pembom dan lima pesawat pemburu P-51 Mustang. Sasaran pertama dari dua pesawat B-25 ini adalah Mapanget dan Tasuka. Kedua daerah ini menurut arahan Leo, harus diserang secara bersamaan. Setelah itu kedua pesawat ini harus kembali ke pangkalan awal untuk mengisi bahan bakar, bom dan amunisi, untuk melakukan serangan berikutnya ke Morotai dan Jailolo.

Pada hari berikutnya, misi menggempur Permesta pun tiba. Tepat pukul 04:20 waktu setempat pesawat-pesawat itu melontarkan diri ke udara menuju Minahasa. Selang waktu sejenak, setelah Mustang dan Mitchell AURI telah membumbung tinggi di angkasa, sebuah pesawat B-26 Invander AUREV berkali-kali melintas wilayah itu.

Sesampainya di atas Pulau Lambe, kedua kelompok pesawat pembom kemudian memisahkan diri. Kelompok pertama terdiri dari tiga Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono Herlambang, Soewoto Sukendar dan Soedarman yang dikawal Mustang Leo Wattimena, Dewanto dan Rusman menuju Mapanget (kini Bandara Sam Ratulangi). Sedangkan kelompok berikutnya terdiri dari sebuah B-25 yang dipiloti Suwondo dengan pengawalan dari P-51 Narayana dan Luly Wardiman yang melaju ke Tasuka.

Saat yang mendebarkan pun tiba. Tepat pukul 07:00 waktu setempat, tanpa disadari para pemberontak Permesta, mereka pun tiba-tiba muncul dari balik gunung. Begitupun para personel yang ada di pangkalan udara Mapanget itu pun kebingungan. Begitu pula yang ada di Jailolo.

Belom sempat mereka menyiapkan sistem penangkis serangan udara untuk meredam gempuran, gelombang pertama kuda besi Mustang berhasil melakukan straffing. Kedua pangkalan dihujani peluru senapan mesin kaliber 0.50.

Di Mapanget, tak lama setelah PSU-PSU itu dibabat, Mustang berikutnya yang dipiloti Rusman menyerang PBY-Catalina pemberontak yang diparkir di platform. Tembakan dengan cepat dan tepat merobek-robek pesawat amfibi itu hingga hancur dan terbakar. Rusman pun bergegas mencari sasaran empuk lainnya untuk dilumpuhkan.

Sukses diberi serangan gertakan oleh Mustang, B-25 kemudian memasuki lokasi pemboman, yang diawasi Leo dari ketinggian. Bom pembuka pun dijatuhkan oleh Mitchell yang dipiloti Sri Mulyono dengan bombardier Kapten Saleh Basarah. Namun sayang, bom konvensional seberat 2.000 kg kurang tepat menghantam sasaran, karena jatuh hanya di tepi landasan.

Menyadari hal itu, Herlambang pun segera mengontak Soedarman sebagai eksekutor bom berikutnya, untuk melakukan low level bombing. Cocor merah bernomor ekor M-423 yang ditunggangi Soedarman menukik dari ketinggian 3.000 kaki menuju target dari arah utara.

Saya tahu betul dengan terbang low level kami pasti disambut tembakan senjata-senjata penangkis serangan udara. Dan ternyata memang benar. Itulah risikonya tugas,” ungkap Soedarman.

Namun Soedarman tak menghiraukan itu. Meski dihujani peluru tajam, pesawat yang ia kemudikan tetap melaju rendah hingga ketinggian 110 kaki (35 meter). Masuk pasa final approach, Soedarman terbang dengan kecepatan penuh untuk menghindari pancaran peluru yang susul-menyusul.

Menjelang Short final itu pula, saya arahkan vizier senjata tepat ke tengah-tengah landasan. Masuk landasan, bom pertama saya jatuhkan, namun saya tetap berkonsentrasi pada vizier untuk bom-bom berikutnya. Saya tak menghiraukan bahwa kami telah masuk kubu tembakan musuh,” terangnya pada Angkasa mengenang masa itu.

Beberapa derik setelah bom pertama dihempaskan, pesawat Soedarman terasa seperti terguncang-guncang. Pesawat yang ia nahkodai itu terhunus peluru lawan, dan tetap ia tak menghiraukan itu. Baru setelah bom kedua berhasil melebutkan target pada tengah landasan, Soedarman mulai mengajak pesawatnya untuk menanjak kembali dan mencari perlindungan di deretan pohon kelapa.

Dalam radionya Leo memberikan evaluasi singkat. “Okay, penyerangan berhasil. Kita dapat enam pesawat dan landasan berhasil dirusak. Sekarang kembali ke pangkalan masing-masing untuk persiapkan serangan selanjutnya,” ujar Leo.

Atas keberaniannya dalam serangan ke sarang permesta tersebut, Soedarma dan segenap Personel AURI yang berjibaku bersamanya dianugerahi tanda jasa Satyalancana Sapta Marga. Begitulah kilas kisah perjuangan dan dedikasi Marsda TNI (Purn) pada tanah air dalam menekan gerak gerombolan Permesta di timur Indonesia.

Author: Sumardjo | rewrite: Fery Setiawan

  Angkasa  

Kamis, 10 November 2016

☆ Pejuang Tionghoa yang Terlupakan di Pertempuran 10 November 1945

Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6jM2mC3gPLjDJO4F2t0KvaKOFVR7OlidLoM_rWg49KkoQ4BWNSu4OxS00rOH3ynqcsEuV7n4XoY8YvKpILByEie4W4VekuxD1ySW8JW19TIoBa8_OgFe6ElLvU9iCHVMkIgFMrCph4cQY/s1600/para-pejuang-tionghoa-dalam-pertempuran-10-november-1945.jpgPejuang Tionghoa dalam pertempuran 10 November. ©buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran 

15 Februari 2017, rakyat Indonesia dihadapkan dengan Pilkada Serentak yang digelar di 7 provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten. Pesta demokrasi regional ini bertujuan untuk mencari pemimpin terbaik yang bakal mengabdi pada daerahnya.

Sebagai sebuah proses demokrasi, Pilkada sejatinya adalah proses politik biasa yang tidak mencemaskan warga. Namun sayang, belakangan isu Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA) menyeruak muncul menodai proses demokrasi yang tengah berjalan. Kasus penistaan agama dan diskriminasi terhadap kaum minoritas, khususnya etnis keturunan Tionghoa, seakan menjadi problematika yang terus berulang.

Khusus untuk masyarakat entis Tionghoa, sejatinya mereka memiliki peran besar dalam perkembangan bangsa Indonesia. Salah satunya keterlibatan mereka dalam usaha meraih kemerdekaan Indonesia.

Dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia (2014) karya Iwan Sentosa, dijelaskan bagaimana heroisme warga Tionghoa pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEa6AnpD0EMNXu0UB8zKQuN_y63BKOLNWvclHp5mjK0ciQ3urztBfXHaaisK1vtiwmTheIWWC-3kjASQN4OYAvK9aciIKouXWFXslQfGVsh4DWnOtrUkdxMctA-yF4gk28As70SpgSRqPT/s1600/500789-sadsa.jpgIlustrasi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur (Youtube)

Keterlibatan warga Tionghoa itu direkam oleh Harian Merdeka edisi 17 Februari 1946. Lewat laporan khususnya bertajuk Pendoedoek Tionghoa Membantoe Kita, Harian Merdeka memuji peran warga Tionghoa dalam pertempuran pasukan Indonesia melawan pasukan Britania Raya (sekutu) yang ditunggangi Belanda.

Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Dalam pertempuran itu, warga Tionghoa menyebut diri sebagai TKR Chungking dan membawa bendera Kuo Min Tang sebagai identitasnya. Perlengkapan tempur yang digunakan juga sedikit berbeda dengan pejuang lainnya, mereka menggunakan Fritz Helmet yang digunakan pasukan Wehrmacht (Jerman), lengkap dengan senapan Karaben (Kar) 98-K yang didapatkan dari Nazi Jerman pada 1930-an.

Tak hanya ikut dalam pertempuran, warga Tionghoa juga terlibat dalam pengobatan terhadap pejuang yang terluka. Korps medis ini diberi nama Barisan Palang Merah Tionghoa. Satuan ini diberangkatkan dari RS Militer di Malang dan mendapat tugas untuk memasok ransum bagi para pejuang yang berada di garis depan.

Para pemuda Tionghoa dari Malang juga bergabung dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin langsung oleh Bung Tomo. Mereka adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek, Auwyang berperan sebagai ahli amunisi dan peledak yang didapat dari pertempuran antara China dengan Jepang.

Selama berlangsungnya pertempuran mempertahankan Surabaya dari serangan pasukan sekutu, warga Tionghoa telah mendirikan 10 pos dengan 10 dokter ditambah tenaga medis lainnya. Seluruh biaya ditanggung sepenuhnya oleh organisasi Chung Hua Chung Hui. Tak hanya sebagai tenaga medis, beberapa di antaranya ikut terlibat dalam serbuan 'berani mati' saat penyerbuan ke sarang serdadu sekutu dan Gurkha.

Guna memperoleh kemenangan besar, pasukan sekutu banyak menjatuhkan bom dan menembaki beberapa lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian para pejuang. Tindakan itu membuat banyak korban berjatuhan, termasuk warga sipil yang tak ikut mengangkat senjata.

Serangan demi serangan yang sebagian besar diarahkan ke warga membuat rakyat Indonesia marah, tak terkecuali warga Tionghoa, mengingat sebagian besar korban merupakan orang Tionghoa. Apalagi, pos kesehatan yang didirikan juga ikut diserang sekutu.

Dari pertempuran ini, diperkirakan 1.000 penduduk Tionghoa tewas dan melukai 5.000 orang lainnya. Secara keseluruhan, jumlah korban tewas mencapai 20.000 orang Indonesia sementara sekutu hanya 1.500 orang. [tyo]

  Otonomi  

☆ Jejak Langkah Laksamana Udara S. Soerjadarma

Sebagai Perintis dan Pendiri AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) Soerjadarma tidak hanya berperan dalam mengembangkan TNI AU atau dunia kedirgantaraan nasional pada bidang kemiliteran, namun juga sebagai pelopor pada penerbangan komersial. Tidaklah berlebihan jika dikatakan, Soerjadarma telah menjadikan dirgantara sebagai bagian dari jiwa dan kehidupannya Soerjadarma merupakan tokoh besar dalam catatan sejarah TNI Angkatan Udara (TNI AU). Ia merupakan tokoh perintis sekaligus pendiri AURI, yang selama 16 tahun – dari 9 April 1946 sampai Februari 1962 – menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU). Pada 18 Februari 1960 jabatannnya ditingkatkan menjadi Menteri Kepala Staf Angkatan Perang/KASAP (setingkat Panglima TNI saat ini). Ketika dilantik sebagai KASAU pada 9 April 1946, Soerjadarma berusia 33 tahun 4 bulan dengan pangkat Komodor Udara (pangkat Angkatan Udara setingkat Brigadir Jendral pada TNI Angkatan Darat).

Sejak awal kelahirannya, tokoh AURI yang dikenal dengan mottonya “Kembangkan Terus Sayapmu Demi Kejayaan Tanah Air Tercinta, Jadilah Perwira Sejati Pembela Tanah Air”, mungkin telah ditakdirkan sebagai warga negara Indonesia yang bertugas merintis tumbuh kembangnya AURI. Hal ini terbukti dari semangat juang dan pengorbanannya nya dalam mengatasi berbagai tantangan dan hambatan, dalam meraih cita-citanya serta kemauan keras hatinya untuk menjadi penerbang militer sebagai profesi hidupnya.

 Asal-usul meniti karier 

Soerjadarma yang dilahirkan di Banyuwangi pada 6 Desember 1912 merupakan anak R. Suryaka Soerjadarma, yang memiliki garis keturunan Keraton Kanoman Cirebon. Pendidikan Umum dijalani di Europese Lagere School (ELS) dan Hagere Burgere School (HBS) di Bandung, kemudian pindah ke Koning Willem School (KWS) III di Batavia sampai lulus.

Sejak kecil Soerjadarma bercita-cita menjadi penerbang. Namun pada waktu itu di Indonesia belum ada sekolah penerbang sipil, yang ada adalah sekolah penerbang militer. Sedangkan persyaratan untuk dapat mengikuti pendidikan penerbang harus seorang Opsir lulusan Koniklijke Militaire Academie (KMA) Breda, Belanda.

Tahun 1931, Soerjadarma mengikuti pendidikan di Akademi Militer Belanda (KMA) Breda. Ia merupakan salah satu dari empat puluh bumiputera yang diterima di KMA pada era Hindia Belanda. September 1934 ia lulus dan dilantik sebagai perwira pertama dengan pangkat Letnan Dua. Pada awalnya Soerjadarma ditugaskan di Nijmigem Belanda kemudian pada Oktober 1934 dipindahkan ke Batalyon Infanteri-I di Magelang.

Dua tahun kemudian, tepatnya Desember 1936 dipindahkan ke Luchtvaart Afdeling (bagian penerbangan) KNIL di Bandung. Selanjutnya mengikuti pendidikan afiliasi kursus persenjataan. Pada Desember 1937, pangkatnya naik menjadi Letnan Satu dan masuk Sekolah Penerbang KNIL.

Juli 1938, Letnan Satu Soerjadarma mengikuti pendidikan Warnamer School dan ditugaskan sebagai navigator pada Vliegtuing Group Glenn Martin di Lanud Andir, Bandung. Januari 1941 ditugaskan sebagai instruktur pada Vliegen Waarnemer School di Kalijati, dan setahun kemudian menjabat sebagai Wakil Komandan Satuan 2 VLG pada Grup 7 kesatuan pengebom di Lanud “Z” (Vlieg Baziz Z) Sumatera.

Tugas utamanya mengamankan iring-iringan armada kapal perang Belanda dari serangan kapal selam Jepang, melakukan pengintaian terhadap kapal-kapal selam Jepang dan menyerang iring-iringan armada kapal perang Jepang serta Angkatan Laut Jepang yang dipusatkan di sebelah barat Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

 Pengalaman Operasi Udara 

Soerjadarma memiliki segudang pengalaman dalam operasi-operasi udara Angkatan Udara Belanda, terutama ketika Belanda terdesak oleh invasi Jepang. Ia terkenal akan keberaniannya sebagai navigator dengan tiga pesawat pengebom Glenn Martin B-10, yang mengebom armada Jepang di Tarakan tanpa disertai fighter escort.

Pada 13 Februari 1942 bersama kawan-kawannya berhasil memimpin pengeboman atas kapal penjelajah (cruiser) Jepang. Namun kemudian mereka diserang balik pesawat-pesawat Zero, sehingga hanya pesawat pengebom yang dipiloti Soerjadarma yang berhasil kembali ke homebase meskipun dalam keadaan rusak.

Karena jasanya tersebut, Pemerintah Belanda menganugerahi Medals for Distinguished Service During Combat untuk Jan Lukkien Sang Komandan Skadron sungguhpun sebetulnya peran Soerjadarma sangat besar dalam mengambil keputusan bersama Kapten Lukkien. Waktu itu Soerjadarma berusia 30 tahun dengan pangkat Kapten. Atas jasanya, kerajaan Belanda juga memberikan anugerah bintang Willems Orde, namun penghargaan itu ditolaknya dengan alasan kawan-kawan yang gugur dalam operasi itulah sebenarnya yang lebih berhak menerimanya.

Tugas di kesatuan 2VLG Grup 7 dilaksanakan secara gemilang dan tuntas sampai dengan pendaratan tentara Jepang di Indonesia pada 8 Maret 1942. Pada saat Jepang melakukan invasi, Soerjadarma tidak ikut tentara Belanda mengungsi menuju Australia. Untuk “mengamankan dirinya” dari kemungkinan ditangkap Jepang, dengan bantuan Komisaris Polisi Yusuf teman baiknya, Soerjadarma diterima menjadi anggota Kepolisian Bandung dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Administrasi Kantor Pusat Bandung.

Tugas di kepolisian ia jalani sampai Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada awalnya Soerjadarma ragu dengan tawaran ini, mengigat ia telah banyak menjatuhkan bom terhadap kapal-kapal Jepang selama Perang Dunia II. Sehingga jika pihak Jepang mengetahui bahwa dia dulu adalah perwira Belanda dan pernah menjatuhkan bom di atas kapal-kapal Jepang pasti tidak akan diterima bahkan mungkin dipenjara. Namun ternyata Soerjadarma berhasil lolos dari lubang jarum. Ia lolos dari penelitian Jepang yang cukup ketat dan ia diterima sebagai polisi Jepang pada bagian Ekonomi.

 Merintis AURI dan Kedirgantaraan 

Pada awal masa kemerdekaan, Soerjadarma bersama Arudji Kartawinata, diperintah Bung Karno untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Bandung, sekaligus sebagai ketuanya. Usaha pertama yang ditempuh BKR bersama rakyat adalah merebut pangkalan-pangkalan udara Jepang dan berbagai bekas pangkalan udara Jepang tersebut, terutama di Pulau Jawa, dan dibentuk organisasi-organisasi BKR-Oedara (BKR-O). Tidak lama kemudian, pada September 1945, Soerjadarma di panggil Jenderal Oerip Soemohardjo ke Markas Tertinggi Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) di Yogyakarta untuk mereorganisasi BKR dan BKR-Oedara.

Author: Kolonel Sus M. Akbar Linggaprana

  Angkasa  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...