Tampilkan postingan dengan label UCAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UCAV. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2026

Lanud Manuhua Dukung Kesiapan Operasional Pesawat CH-4

🛩  Di wilayah Kodau III Lanud Manuhua menjadi base operasi UCAV CH-4 (Dispenau) 

Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara III (Pangkodau III) Marsda TNI Dr. Azhar Aditama D., S.Sos., M.M., M.Han., meninjau langsung pembangunan fasilitas pendukung operasional pesawat CH-4 di Lanud Manuhua, Biak, didampingi Komandan Lanud Manuhua Marsma TNI Rohmat Kusmayadi, S.Sos., M.Soc.Sc.

Pembangunan yang telah dimulai sejak September 2025 ini mencakup sejumlah fasilitas, di antaranya landasan pacu (runway) sepanjang 2 KM dengan lebar 30 meter, hanggar, serta menara pengawas lalu lintas udara (tower). Seluruh fasilitas tersebut dipersiapkan untuk menunjang kebutuhan operasional pesawat CH-4, baik dalam aktivitas penerbangan maupun penempatan dan pemeliharaan pesawat.

Dalam peninjauan ini, Pangkodau III melihat secara langsung perkembangan pembangunan serta kondisi fasilitas yang tengah dikerjakan. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan dan mampu mendukung kesiapan infrastruktur dalam rencana pengoperasian pesawat CH-4 di wilayah Kodau III.

Turut hadir dalam peninjauan tersebut Asisten Logistik (Aslog) Kaskodau III Kolonel Tek Yekti Sulistyo N., S.T., Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Kaskodau III Kolonel Lek Febri Eko Hadi P., S.E., serta Komandan Detasemen Markas (Dandenma) Kodau III Mayor Kal Febri Saputro, S.S.T.Han. Proyek Elang Hitam membawahi eks-BPPT dan LAPAN.

  🛩
Kodau III  

Senin, 21 September 2026

Drone Elang Hitam Kejar Sertifikasi di Tahun 2027

🛩  Diusulkan masuk Proyek Strategis Nasional UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Lama tak terdengar kabarnya, Elang Hitam yang digadang-gadang menjadi drone MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) pertama karya anak bangsa, dipamerkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di ajang TNI Fair di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 19-20 September 2026.

Drone ini dipajang di area pameran luar ruangan di booth Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI yang menampilkan sejumlah industri pertahanan dalam negeri. Dari tampilan ukurannya, drone ini tampak lebih kecil karena yang dipajang adalah mockup 1:2.

VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan mengatakan, saat ini status drone MALE Elang Hitam sudah diusulkan masuk dalam proyek strategis nasional dan dalam tahap mengejar sertifikasi dari Kementerian Pertahanan di tahun 2027.

“Jadi drone MALE Elang Hitam ini baru kita usulkan masuk dalam proyek strategis nasional. Kita sudah uji terbang perdana pada Agustus 2025 lalu di Bandara Kertajati, Majalengka, tapi belum mendapatkan sertifikasi dari Kemhan. Targetnya sampai tahun depan,” ujar Heber kepada Airspace Review di lokasi pameran.

Heber menambahkan, proses pengembangan drone Elang Hitam menghadapi beberapa kendala, khususnya terkait anggaran. Sejauh ini pengembangan dan pemeliharaan drone ini menggunakan dana mandiri dari PTDI.

“Pengembangannya tetap berjalan, tapi tidak bisa gaspol. Kami telah memasukkan usulannya ke Danantara juga untuk tambahan investasi pengembangannya,” ungkap Heber.

 Target Operasional Tahun 2028

Berbicara soal target operasional di tahun 2028, menyesuaikan dengan rencana strategis dari Kemhan, PTDI optimistis dapat mengejar sertifikasi drone MALE ini.

Namun, diakui memang, PTDI harus membangun prototipe lagi untuk uji terbang dan lain-lain sesuai dengan rancang bangunnya dan ini membutuhkan tambahan anggaran.

Saat ini PTDI baru membuat dua drone Elang Hitam. Yang pertama adalah drone mockup yang ditampilkan saat peluncuran (rollout) perdana pada tahun 2019, dan yang kedua adalah prototipe yang digunakan untuk uji coba terbang perdana pada 2025.

“Sampai sekarang kami tetap pelihara prototipe uji terbang ini. Mulai dari engine, flight control systemnya, ground control station, dan sistem onboard di drone tersebut,” urai Heber.

Mengenai isu bahwa pengembangan drone Elang Hitam telah dialihkan untuk pangsa pasar sipil, Heber mengatakan hal itu tidak sepenuhnya benar.

Ditegaskan bahwa spek MALE Elang Hitam yang dikembangkan PTDI adalah untuk kebutuhan militer.

Adapun pengembangan untuk kebutuhan sipil, merupakan peluang pasar yang bisa dikerjasamakan lebih lanjut, misalnya dengan Kementerian Kehutanan atau badan-badan lain.

“Kebutuhan sipil ini adalah peluang dari pangsa pasar MALE yang ada, jadi tidak dialihkan dari kebutuhan militer ke sipil,” tegas Heber.

 Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Drone Elang Hitam

Elang Hitam merupakan pesawat udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau UAV) berkemampuan MALE yang dikembangkan oleh PTDI bersama konsorsium nasional guna memperkuat kemandirian teknologi pertahanan Indonesia.

Dirancang khusus untuk menjalankan misi Intelligent, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) serta dapat dilengkapi dengan persenjataan (weaponized), drone ini memegang peran strategis dalam mengawasi kawasan perbatasan, wilayah terluar, hingga pengamanan jalur maritim dari berbagai ancaman penyusupan dan kegiatan ilegal.

Dari segi desain dan ukuran, Elang Hitam hadir dengan dimensi yang tergolong besar untuk kelas drone tempur dan pengawas.

Wahana ini memiliki panjang 8,73 meter, tinggi 3,27 meter, serta bentang sayap mencapai 16 meter dengan luas area sayap sebesar 12,8 meter persegi.

Dengan bobot maksimum lepas landas (Max Gross Take-Off Weight) dan pendaratan sebesar 1.300 kg, drone ini mampu menampung kapasitas bahan bakar hingga 420 liter serta membawa muatan atau payload hingga 300 kg untuk mengangkut berbagai sensor radar maupun sistem persenjataan.

Kemampuan jelajah dan efisiensi terbang Elang Hitam juga sangat andal untuk mendukung operasi ketahanan panjang.

Drone ini sanggup bertahan di udara (endurance) hingga kurun waktu kurang dari 30 jam dengan radius operasional Line of Sight (LOS) mencapai 250 km.

Elang Hitam dirancang untuk beroperasi pada ketinggian jelajah 3.000 hingga 5.000 meter dengan ketinggian maksimum (ceiling) mencapai 7.200 meter.

Dalam hal kecepatan, drone ini memiliki kecepatan jelajah antara 50 hingga 180 km/jam serta mampu memacu kecepatan jelajah maksimum hingga 235 km/jam.

Untuk pengoperasian di landasan, Elang Hitam membutuhkan jarak lepas landas dan pendaratan kurang dari 1.000 meter pada kondisi bobot maksimum di permukaan laut.

Kombinasi spesifikasi unggulan ini menjadikan Elang Hitam sebagai simbol kemajuan sekaligus benteng pengawas kedaulatan wilayah Republik Indonesia di udara. (RNS).

  🛩
Airspace Review  

Sabtu, 29 Agustus 2026

Indonesia Resmi Akuisisi Cakir dan Sistem Rudal Lain dari Turki

Hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi98REfk8fkH0al7ymdIvmybcn1PQAaN2m5mVeY-EvPzRSsFSFCbXJtN3Ety7Ws2JftsNyUaxX88yGBCJwZxVpthuV0V29QYJl1JWXHiJLxsNqDdf3e9hc01WaQHkpnBh2KC2pXJ5Xa72sERlfTi3n9K7T2dw7_rGMHikU7OcSk9XMmYe7RQu9J9jR3n07A/s587/Cakir.jpgRudal permukaan ke permukaan Cakir (infographic Roketsan) 

Indonesia telah resmi mengakuisisi rudal Cakir dan sistem rudal lainnya dari Turki. Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan, negaranya telah mengakuisisi rudal Cakir produksi Roketsan. Ke depannya, basis produksi bersama direncanakan akan didirikan antara Roketsan dan perusahaan Indonesia.

"Kami telah membeli rudal Cakir dan beberapa rudal lainnya," kata Rizal di Ankara dikutip Jumat (28/8/2026).

Dilaporkan Havahaber, menurut Rizal, pengadaan sistem rudal tidak terbatas pada pembelian produk, tetapi mewakili tahap yang lebih dalam dalam kerja sama industri pertahanan antara kedua negara. Dia menyatakan, Indonesia sangat mempercayai kemampuan teknologi Turki di industri pertahanan.

Rizal pun mengumumkan, usaha patungan telah didirikan antara Roketsan dan sebuah perusahaan Indonesia. "Bahwa basis produksi untuk roket dan rudal direncanakan akan didirikan di Indonesia dalam lingkup ini," katanya.

Menurut Rizal, langkah itu sekaligus menggeser kerja sama dari pengadaan ke produksi bersama dan berbagi teknologi. Dia menilai, hubungan antara kedua negara telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah. Bagi Rizal, perkembangan tersebut sebagai indikasi kerja sama strategis yang luas, tidak hanya di industri pertahanan.

Dikutip dari Ssbulten, Rizal melanjutkan, Indonesia juga telah menunjukkan minat pada proyek pesawat tempur udara KAAN dan drone Kizilelma. Indonesia bermaksud menjadi salah satu negara pertama yang berkomitmen untuk pengadaan sistem tersebut.

Perkembangan itu menunjukkan permintaan internasional terhadap produk industri pertahanan Turki dan kapasitas produksi bersama. Memperdalam kerja sama dengan Indonesia menciptakan pasar baru dan peluang kerja sama jangka panjang untuk ekspor industri pertahanan Turki.

"Saya dapat mengatakan bahwa hubungan Turki-Indonesia saat ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah," jelas Rizal.

  ✈ Republika 

Rabu, 26 Agustus 2026

Indonesia Ingin Perluas Kerjasama Pertahanan Dengan Türkiye

Melalui KAAN, Kizilelma, proyek 4 fregat, kapal selam & helikopter https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, mengumumkan keputusan baru mereka untuk membeli rudal Kaan dan Kızılelma dari Türkiye, dan menyatakan bahwa kerja sama ini tidak akan terbatas pada pembelian tersebut saja.

Indonesia, dengan menyatakan "Ini tidak akan berhasil hanya dengan Kaan dan Kızılelma," mengumumkan keputusan barunya terkait Türkiye.

Menurut laporan di GDH Haber, Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, juga menyatakan bahwa niat untuk pengadaan fregat, KAAN dan KIZILELMA tetap ada, dan bahwa dalam program empat fregat tersebut, dua kapal akan dibangun di Turki dan dua kapal akan dibangun di Indonesia sebagai bagian dari produksi dan pengembangan bersama.

Duta Besar Indonesia untuk Ankara, Achmad Rizal Purnama, memberikan wawancara kepada Mevlüt İşli, di mana beliau membahas kondisi terkini kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia serta memberikan penilaian mengenai proyek-proyek baru.

Purnama menyatakan bahwa kerja sama antara kedua negara tidak terbatas pada pasokan produk; transfer teknologi, pengembangan bersama, produksi bersama, dan usaha patungan juga menjadi target.

Purnama menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara pertama yang menyatakan niatnya untuk membeli Pesawat Tempur Nasional KAAN dan KIZILELMA, yang belum beroperasi dan masih dalam tahap pengembangan.

Indonesia telah mengumumkan niatnya untuk membeli sistem KIZILELMA dan KAAN. Kami menyebut ini sebagai kesepakatan bersejarah antara kedua negara di industri pertahanan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbYDS-slQ6m5N134iPkFs9HuSE-JStKMomXBb3XyxCqQTrTTn9gTYqIAqL78oscLYfgSPw0P-OfvI8n3Sq-GKAci0K_F9_aonCw2JkFWTjn7f-Z4Q-O5wwJxws7bI4MK5NGWMQEMsKDZnoYuPXK1yacrv-NV4fS0MgNoKVGEZNiRzyRGhZcswFwzb7XzA2/s1667/IMG_0729.jpegProses produksi kapal fregat dan KCR pesanan Indonesia (sc Keri’s reborn)

Purnama menyatakan bahwa pendekatan ini menunjukkan kepercayaan Indonesia terhadap kemampuan Turki dalam teknologi dan industri pertahanan. Ia juga menekankan bahwa kerja sama antara Turki dan Indonesia dalam teknologi pertahanan canggih memiliki kepentingan strategis bagi kedua negara.

Purnama menyatakan bahwa KIZILELMA dan kendaraan udara tak berawak lainnya sangat penting bagi Indonesia, menekankan bahwa Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, perlu melindungi wilayah udaranya serta perbatasan darat dan lautnya yang luas.

Purnama mengumumkan penandatanganan perjanjian pengadaan dan pembangunan fregat dari Turki, dengan menguraikan model produksinya: Dua akan dibangun di Turki, dan dua lainnya akan dibangun di Indonesia melalui produksi dan pengembangan bersama.

Purnama menyatakan bahwa salah satu tujuan utama kerja sama industri pertahanan antara Turki dan Indonesia adalah untuk menciptakan ekosistem industri pertahanan bersama di kedua negara.

Dalam konteks ini, ia mencatat bahwa TUSAŞ telah didirikan di Indonesia dengan nama "TUSAŞ Indonesia," dan bahwa HAVELSAN, ASELSAN, dan ROKETSAN juga telah membuka kantor di negara ini.

Purnama menyebutkan bahwa selama kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdoğan ke Indonesia pada tahun 2025, perjanjian ditandatangani antara perusahaan Turki dan Indonesia untuk mendirikan usaha patungan di bidang drone, roket, dan rudal.

Ia menambahkan bahwa Indonesia membeli rudal ÇAKIR dan beberapa rudal lainnya dari Turki. Mengenai upaya untuk mentransfer produksi roket dan rudal ke Indonesia, Purnama mengatakan, "Kami memiliki usaha patungan antara ROKETSAN dan sebuah perusahaan Indonesia untuk mendirikan basis produksi roket dan rudal di Indonesia."

  ✈  Yeniakit  

Selasa, 18 Agustus 2026

[Video] Drone Anak Bangsa Untuk Pertahanan Negara

 ⍜  Puluhan drone lokal tampil dalam Expo di Jakarta Ilustrasi drone serbu otomatis digunakan Pasmar (PasMar1)

Puluhan produsen drone lokal tampil di Indonesia Drone Expo 2026 di Kemayoran, Jakarta.

Dari data Kementrian Perindustrian menunjukan produksi drone lokal berpotensi ekonomi yang tinggi

 Berikut video liputan CNN :



  ★
   Youtube    

Jumat, 14 Agustus 2026

Frogs Kenalkani Drone Cleaning dan Militer di Indonesia

   Drone domestik Drone senjata Teknologi Drone Cleaning dan Militer. (Foto/ Dok SindoNews)

Teknologi drone di Indonesia terus berkembang untuk kebutuhan yang semakin beragam. Tak lagi sebatas dokumentasi udara, drone kini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari industri, pertanian, surveillance, pemetaan, hingga pertahanan.

Perkembangan tersebut turut terlihat di Indonesia Drone Expo 2026 yang berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta.

Frogs Indonesia membawa sejumlah produk drone, di antaranya drone cleaning terbaru dan lini drone militer yang menjadi sorotan.

Salah satu produk yang diperkenalkan Frogs Indonesia adalah Nakula Series, drone yang dikembangkan untuk kebutuhan industrial cleaning dan pemeliharaan aset.

Kehadirannya menunjukkan bagaimana teknologi UAV mulai diarahkan untuk membantu pekerjaan yang memiliki tantangan akses, termasuk pembersihan area gedung dan fasad.

Nakula Series membawa sistem pembersihan dengan kemampuan pompa hingga 10 liter per menit.

Drone ini juga dilengkapi sejumlah sensor, termasuk LiDAR 360° dan terrain radar, yang mendukung kebutuhan penerbangan ketika beroperasi di sekitar objek dan permukaan bangunan.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari tren pemanfaatan drone untuk pekerjaan industri.

Jika sebelumnya drone banyak digunakan untuk mengambil gambar atau memperoleh data dari udara, kini fungsinya semakin berkembang menjadi perangkat yang dapat membantu menjalankan pekerjaan tertentu di lapangan.

Rahman, Chief Technology Frogs Indonesia yang membidangi riset, pengembangan, dan desain produk, menjelaskan bahwa pengembangan Nakula Series turut mengacu pada teknologi drone cleaning yang telah diterapkan di berbagai negara.

“Teknologi drone cleaning sebenarnya sudah mulai diterapkan di beberapa negara. Kami melihat teknologi tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dan disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia, terutama dari sisi desain, sistem cleaning, serta kondisi operasional di lapangan,” jelas Rahman, Selasa (11/08/2026).

Selain drone cleaning, Frogs Indonesia menampilkan lini drone militer yang terdiri dari mortar dropper, kamikaze drone, dan interceptor drone.

Masing-masing dikembangkan dengan fungsi yang berbeda dalam kebutuhan pertahanan.

Mortar dropper dirancang untuk membawa dan melepaskan muatan mortar dari udara.

Sementara Kamikaze drone merupakan drone yang dirancang untuk membawa muatan dalam misi serangan terhadap sasaran tertentu.

Adapun interceptor drone dikembangkan untuk menghadapi ancaman drone lain.

Konsep ini berkaitan dengan teknologi Counter-UAS (C-UAS) yang semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan drone dalam berbagai kebutuhan operasional.

Kehadiran lini drone militer Frogs Indonesia turut menarik perhatian pengunjung di Indonesia Drone Expo 2026.

Sejumlah pengunjung datang untuk melihat lebih dekat dan menanyakan fungsi serta pengembangan dari mortar dropper, kamikaze drone, hingga interceptor drone yang ditampilkan.

Dalam gelaran Indonesia Drone Expo 2026, Selasa (11/08/2026), CEO Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, mengatakan bahwa pengembangan berbagai produk drone tersebut merupakan bagian dari upaya Frogs Indonesia untuk terus memperluas pemanfaatan teknologi UAV sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kami ingin teknologi drone yang dikembangkan Frogs Indonesia tidak berhenti pada kemampuan terbang, tetapi memiliki fungsi yang benar-benar dapat menjawab kebutuhan di lapangan. Termasuk di sektor pertahanan, kami melihat ada peluang besar untuk terus mengembangkan teknologi UAV yang dapat mendukung kebutuhan nasional,” ujar Adhitya.

Pengembangan drone militer ini juga menjadi bagian dari langkah Frogs Indonesia untuk terus menghadirkan teknologi UAV bagi kebutuhan pertahanan.

Ke depan, Frogs Indonesia berharap pengembangan tersebut dapat ikut mendukung penguatan teknologi pertahanan dalam negeri.

Selain drone cleaning dan lini drone militer, Frogs Indonesia turut membawa sejumlah produk lainnya, di antaranya Sekar Agri untuk sektor pertanian serta Palapa S1 untuk kebutuhan surveillance dan pemetaan.

Indonesia Drone Expo 2026 merupakan ajang industri yang berfokus pada perkembangan teknologi drone dan Unmanned Aerial Systems (UAS).

IDE menjadi wadah bagi perusahaan untuk menampilkan produk dan use case, sekaligus memberikan ruang bagi pelaku industri untuk melihat solusi teknologi dan peluang baru dalam pemanfaatan drone.

Pada penyelenggaraan 2026 ini, IDE mengusung tema “Unleashing the Power of Intelligent Aerial Systems”. Tema tersebut menggambarkan dorongan terhadap pemanfaatan sistem udara cerdas yang semakin luas, termasuk untuk kebutuhan industri, pertanian, logistik, hingga pertahanan.

Kehadiran Frogs Indonesia di IDE 2026 memperlihatkan bagaimana teknologi drone terus berkembang mengikuti kebutuhan di lapangan. Dari drone cleaning, pertahanan, hingga pertanian dan pemetaan, setiap produk membawa fungsi yang berbeda untuk kebutuhan yang semakin beragam. (wbs)

  ★
sindonews  

Jumat, 17 Juli 2026

[Global] Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal Supersonik

🛩 Turki Pamer Kekuatan Baru di Langit NATO Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal (Baykar)

Hanya beberapa hari setelah para pemimpin NATO membicarakan masa depan peperangan drone di Ankara, Turki langsung memperlihatkan bahwa negara itu bukan sekadar tuan rumah pertemuan. Ankara juga ingin menjadi salah satu penentu arah teknologi tempur nirawak di dalam aliansi militer tersebut.

Pesawat tempur nirawak Bayraktar KIZILELMA S2 berhasil meluncurkan rudal udara-ke-permukaan supersonik JET-230 buatan Roketsan dan mengenai sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer. Uji tembak itu bukan hanya menambah jenis senjata yang dapat dibawa KIZILELMA. Keberhasilan tersebut memperlihatkan kemampuan Turki menggabungkan pesawat, rudal, radar, sensor, perangkat lunak misi, dan sistem kendali ke dalam satu rantai serangan yang sebagian besar dibangun oleh industri pertahanannya sendiri.

Baykar mengumumkan keberhasilan tersebut pada Senin (13/7/2026). Menurut laporan Anadolu Agency pada Selasa (14/7/2026), pesawat produksi seri bernomor ekor S2 meninggalkan pusat pengujian Baykar di Çorlu pada 8 Juli menuju Pangkalan Jet Utama Kelima di Merzifon. Pada 11 Juli, KIZILELMA lepas landas dengan membawa dua JET-230 di bawah sayap, kemudian menembakkan salah satunya ke sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer.

Uji coba itu datang hanya empat hari setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meluncurkan inisiatif NATO Drone Edge dalam Forum Industri Pertahanan NATO di Ankara pada 7 Juli. Rutte mengatakan drone telah mengubah karakter peperangan modern dan menjadi faktor penentu di medan perang. Negara-negara NATO kemudian berkomitmen menginvestasikan lebih dari 40 miliar dolar AS untuk kemampuan antidrone dalam lima tahun serta melatih lima kali lebih banyak operator drone hingga akhir 2027.

Urutan waktunya mengandung pesan politik yang sulit diabaikan. Ketika NATO sedang mencari cara memperbesar kemampuan drone dan antidrone, Turki memperlihatkan sebuah pesawat tempur nirawak produksi seri yang sudah mampu membawa rudal supersonik jarak jauh.

Namun, superioritas yang sedang dibangun Ankara bukan sekadar terletak pada seberapa jauh rudalnya dapat terbang. Keunggulan yang lebih penting berada pada kemampuan Turki menguasai hampir seluruh mata rantai teknologi yang dibutuhkan untuk menemukan, mengenali, mengunci, dan menyerang sasaran.

Melampaui Kecepatan Suara

Senjata supersonik bergerak melampaui kecepatan suara. Baykar juga belum memublikasikan spesifikasi lengkap JET-230, termasuk jenis sistem pencari sasaran, bobot hulu ledak, metode pemanduan terminal, dan kecepatan maksimumnya. Jarak lebih dari 120 kilometer merupakan jarak penembakan yang telah diperlihatkan dalam uji coba, bukan berarti batas jangkauan maksimal senjata tersebut sudah diketahui secara independen.

Rudal yang paling dekat sebagai pembanding adalah UAV-230 atau IHA-230 buatan Roketsan. Perusahaan menyebut rudal balistik udara-ke-permukaan tersebut memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer, bergantung pada kecepatan dan ketinggian platform ketika senjata dilepaskan.

UAV-230 berbobot sekitar 225 kilogram, membawa hulu ledak 42 kilogram, menggunakan pemanduan inersial berbantuan GNSS, dan dirancang untuk menyerang radar pertahanan udara, pusat komunikasi, kendaraan lapis baja ringan, pusat komando, serta sasaran di darat ataupun laut. Setelah dijatuhkan dari pesawat, rudal mengalami fase jatuh bebas sebelum motor berbahan bakar padatnya menyala.

Konstruksi seperti itu memungkinkan rudal memanfaatkan ketinggian dan kecepatan awal pesawat peluncur. Semakin cepat dan tinggi platform terbang ketika melepaskan rudal, semakin besar energi awal yang dapat digunakan untuk memperluas jangkauan.

Namun, spesifikasi UAV-230 tidak dapat langsung dianggap sebagai spesifikasi JET-230. Keduanya mungkin berada dalam jalur pengembangan yang sama, tetapi Baykar dan Roketsan belum membuka cukup data untuk memastikan bahwa bobot, hulu ledak, sistem pemanduan, serta kemampuan antijamming keduanya identik.

Dari Pembawa Bom Menjadi Penyerang Jarak Jauh

Sebelum membawa JET-230, KIZILELMA telah diuji menggunakan sejumlah bom dan rudal berpemandu Turki, termasuk TOLUN, TEBER-82, KGK, LGK-82, dan rudal udara-ke-udara GOKDOGAN. Penambahan JET-230 mengubah kualitas ancaman yang dapat diberikan pesawat tersebut.

Bom berpemandu konvensional umumnya menuntut pesawat mendekat ke wilayah sasaran. Kondisi itu meningkatkan risiko platform masuk ke dalam jangkauan radar, rudal permukaan-ke-udara, dan sistem peperangan elektronik lawan.

Sebagai perbandingan, MAM-L, salah satu munisi yang membuat drone Turki dikenal di berbagai konflik, memiliki jangkauan sekitar 15 kilometer menurut Roketsan. JET-230 dalam pengujian terbaru mengenai sasaran dari jarak lebih dari 120 kilometer. Artinya, tanpa menyamakan fungsi kedua senjata, jarak serang yang diperlihatkan JET-230 setidaknya delapan kali lebih jauh daripada jangkauan MAM-L.

Lompatan itu memungkinkan KIZILELMA menjalankan serangan stand-off, yakni melepaskan senjata dari luar jangkauan efektif sebagian pertahanan udara lawan. Pilot manusia tidak perlu diterbangkan menuju wilayah dengan tingkat ancaman tinggi. Apabila pesawat hilang, kerugiannya tetap mahal, tetapi tidak disertai risiko tewas atau tertangkapnya penerbang.

Konsep tersebut sangat relevan untuk misi penekanan pertahanan udara. KIZILELMA dapat diarahkan untuk membidik radar, pusat komunikasi, pos komando, kapal, atau fasilitas strategis sebelum pesawat berawak memasuki wilayah operasi.

KIZILELMA juga dapat digunakan sebagai umpan untuk memaksa radar lawan menyala. Begitu radar memancarkan sinyal dan posisinya terdeteksi, sistem lain dapat menyerangnya. Dalam skenario berbeda, beberapa pesawat nirawak bisa dikirim dalam gelombang awal untuk menguras rudal pertahanan udara musuh sebelum jet berawak melanjutkan serangan.

Di sinilah arti penting pesawat tempur nirawak menjadi lebih besar daripada drone bersenjata konvensional. Platform tersebut bukan hanya dirancang untuk mengawasi wilayah atau menjatuhkan bom ke sasaran yang pertahanannya lemah. Ia dipersiapkan menjadi bagian dari operasi udara kompleks yang sebelumnya hampir sepenuhnya menjadi wilayah jet tempur berawak.

Superioritas Turki Ada pada Ekosistemnya

Spesifikasi Drone KIZILELMA Turki. - (Erdy Nasrul/Republika)

Turki memang belum mengungguli Amerika Serikat dalam keseluruhan teknologi penerbangan tempur. Amerika masih memiliki jaringan satelit, pesawat siluman operasional, kapal induk, pesawat pengisian bahan bakar, sistem komando global, dan anggaran pertahanan yang tidak dapat ditandingi Ankara.

Namun, di sektor pesawat tempur nirawak, Turki telah menempatkan diri di kelompok terdepan. Yang membuat kemajuannya menonjol bukan satu produk tertentu, melainkan kemampuan beberapa perusahaan nasional mengembangkan komponen yang saling melengkapi.

Baykar memproduksi wahana terbang dan perangkat lunak kendalinya. Roketsan menyediakan rudal. ASELSAN mengembangkan radar serta sensor elektro-optik. TUBITAK SAGE memproduksi senjata udara-ke-udara. Perusahaan-perusahaan itu tidak lagi berdiri sebagai pemasok produk terpisah, tetapi membentuk ekosistem pertempuran.

Pada November 2025, KIZILELMA menggunakan radar AESA MURAD buatan ASELSAN untuk mendeteksi dan mengunci sasaran udara bermesin jet. Pesawat itu kemudian menembakkan rudal GOKDOGAN buatan TUBITAK SAGE dan mengenai sasaran di luar jangkauan visual. Baykar menyebutnya sebagai keberhasilan pertama pesawat tempur nirawak menghancurkan sasaran udara bermesin jet dengan rudal udara-ke-udara BVR. Karena klaim “pertama di dunia” berasal dari produsen, klaim tersebut tetap perlu diposisikan sebagai pernyataan Baykar, bukan penilaian independen universal.

Sebulan kemudian, dua prototipe KIZILELMA melakukan penerbangan formasi rapat secara otonom menggunakan algoritma armada cerdas. Kemampuan tersebut diarahkan agar beberapa pesawat nirawak dapat mengatur posisi, berpatroli, dan menjalankan misi bersama di bawah satu komando.

Pada Mei 2026, Baykar dan perusahaan pertahanan Italia Leonardo juga menguji kerja sama KIZILELMA dengan pesawat M-346 dalam program K-SWARM. Uji coba tersebut memindahkan konsep kerja sama pesawat berawak dan nirawak dari lingkungan simulasi menuju penerbangan langsung.

Rangkaian itu memperlihatkan arah pengembangan yang jelas. KIZILELMA tidak disiapkan hanya sebagai pesawat yang dikendalikan operator dari darat. Platform ini diarahkan menjadi rekan tempur otonom bagi pesawat berawak, anggota armada drone, pembawa rudal udara-ke-udara, serta peluncur senjata jarak jauh.

Sementara itu, sistem TOYGUN buatan ASELSAN menyediakan pencitraan dan penargetan elektro-optik yang dipasang menyatu dengan badan pesawat. Menurut ASELSAN, sistem tersebut dikembangkan untuk platform yang sangat memperhitungkan penampang radar dan hambatan aerodinamis serta dapat mendukung misi udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan.

Dengan radar MURAD, sensor TOYGUN, rudal GOKDOGAN, dan JET-230, Turki sedang membangun rantai serangan dari sensor hingga senjata. Pesawat dapat menemukan sasaran, membangun gambaran situasi, meneruskan data, memilih senjata, dan melepaskan serangan dengan ketergantungan yang lebih kecil pada pemasok luar negeri.

Inilah superioritas yang paling sulit ditiru: bukan membuat satu drone, tetapi membuat ekosistem yang memungkinkan drone tersebut berperang.

Terbesar Kedua

Turki kerap disebut sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat. Pernyataan itu perlu dibuat lebih presisi.

NATO menyatakan Turki memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di dalam aliansi, terutama berdasarkan jumlah personel. NATO kembali menggunakan keterangan tersebut menjelang Konferensi Tingkat Tinggi di Ankara pada Juli 2026.

Namun, “terbesar kedua” tidak otomatis berarti “terkuat kedua” dalam seluruh indikator militer. Kekuatan militer juga ditentukan oleh anggaran, kesiapan tempur, senjata nuklir, jumlah pesawat modern, kemampuan intelijen, armada laut, logistik jarak jauh, teknologi antariksa, dan pengalaman operasi gabungan.

Inggris dan Prancis, misalnya, memiliki senjata nuklir serta kemampuan proyeksi kekuatan global. Sejumlah anggota NATO lain mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur generasi kelima. Karena itu, tidak terdapat peringkat resmi NATO yang menetapkan Turki sebagai negara “terkuat kedua” secara keseluruhan.

Keunggulan Ankara justru lebih tepat digambarkan sebagai gabungan antara jumlah personel yang besar, lokasi strategis, pengalaman operasi, dan industri pertahanan yang tumbuh cepat, terutama pada drone, rudal, radar, peperangan elektronik, kendaraan lapis baja, dan kapal perang.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan menyebut perkembangan industri pertahanan Turki sebagai sebuah “revolusi industri pertahanan” ketika berpidato di kompleks ASELSAN pada 22 April 2026. Ia mengatakan NATO dapat belajar dari cara Turki menggabungkan produksi dan inovasi.

Uji JET-230 memberi bentuk nyata pada pujian tersebut. Turki tidak lagi hanya menyediakan tentara dalam jumlah besar untuk menjaga sisi selatan NATO. Negara itu juga mulai menawarkan teknologi yang sedang sangat dibutuhkan aliansi.

Kemandirian Turki Belum Sempurna

Meski demikian, narasi bahwa seluruh sistem KIZILELMA sepenuhnya bebas dari teknologi asing juga harus disikapi hati-hati. Sebagian besar avionik, radar, sensor, senjata, perangkat lunak, dan struktur pesawat memang dikembangkan perusahaan Turki. Namun, mesin jet masih menjadi salah satu titik ketergantungan penting dalam program tersebut.

Baykar sebelumnya mengakui mesin sebagai teknologi kritis dan menargetkan pengembangan mesin dalam negeri untuk KIZILELMA. Haluk Bayraktar mengatakan perusahaan berinvestasi pada teknologi mesin karena kemampuan itu diperlukan agar Turki benar-benar mandiri dalam memproduksi pesawat tempur nirawak.

Keterbatasan lain terlihat pada konfigurasi uji JET-230. Dua rudal dipasang di bawah sayap. Senjata eksternal menambah hambatan udara dan dapat memperbesar pantulan radar, sehingga keuntungan karakteristik siluman pesawat berpotensi berkurang.

Dengan kata lain, konfigurasi KIZILELMA yang membawa senjata besar di luar badan pesawat harus dipahami sebagai kompromi. Pesawat memperoleh jarak serang dan daya hancur lebih besar, tetapi mungkin kehilangan sebagian keunggulan observabilitas rendahnya.

Keberhasilan mengenai sasaran uji juga belum sama dengan keberhasilan menembus pertahanan udara terintegrasi dalam peperangan nyata. Sasaran dalam pengujian telah ditentukan, ruang udara dikendalikan, dan tidak ada bukti terbuka bahwa rudal harus menghadapi pengacauan elektronik, pencegatan, sasaran yang melakukan manuver, atau jaringan pertahanan berlapis.

Karena itu, uji coba tersebut membuktikan integrasi dasar pesawat dan senjata, tetapi belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam perang berintensitas tinggi.

Status produksi seri juga tidak serta-merta berarti platform telah mencapai kesiapan tempur penuh. Baykar sebelumnya menyatakan produksi telah dimulai dan KIZILELMA ditargetkan masuk inventaris pada 2026, tetapi proses pengujian, sertifikasi, pelatihan operator, pematangan doktrin, serta integrasi ke sistem komando tetap menentukan kapan pesawat itu benar-benar siap digunakan secara luas.

Drone Turki Bukan Lagi Sekadar Produk Murah

Baykar telah membangun ekspansi internasional dari keberhasilan Bayraktar TB2 dan AKINCI. Perusahaan itu melaporkan memperoleh pendapatan ekspor sebesar 2,2 miliar dolar AS pada 2025, sementara 88 persen dari total pendapatannya berasal dari pasar luar negeri. Baykar juga menyebut telah menandatangani kontrak ekspor dengan puluhan negara.

Data tersebut berasal dari perusahaan dan perlu dibaca sebagai laporan korporasi. Namun, besarnya porsi ekspor menunjukkan bahwa industri drone Turki tidak sepenuhnya bergantung pada pesanan pemerintah dalam negeri.

Pada tahap awal, daya tarik drone Turki terletak pada harga yang relatif terjangkau, kemudahan pengoperasian, serta kesediaan Ankara menjualnya kepada negara yang sulit memperoleh sistem serupa dari Amerika atau Eropa.

KIZILELMA membawa Turki menuju kelas pasar yang berbeda. Pesawat tempur nirawak bermesin jet, radar AESA, rudal BVR, sensor tertanam, dan senjata stand-off tidak lagi bersaing hanya dengan drone pengintai atau pembawa bom ringan. Platform itu mulai memasuki wilayah yang bersinggungan dengan jet tempur, loyal wingman, dan sistem udara tempur masa depan.

Artinya, Ankara sedang bergerak dari pemasok drone alternatif menjadi produsen arsitektur peperangan udara.

Pesan untuk NATO dan Indonesia

Bagi NATO, keberhasilan JET-230 memperlihatkan bahwa salah satu sumber teknologi drone paling aktif di dalam aliansi kini berada di Ankara, bukan hanya di Washington atau pusat-pusat industri Eropa Barat.

Hal itu memberi Turki daya tawar tambahan. Negara-negara NATO memerlukan drone dalam jumlah besar, sistem antidrone, rudal presisi, radar, dan kemampuan produksi cepat. Turki memiliki kapasitas untuk menawarkan sebagian kebutuhan tersebut ketika aliansi sedang meningkatkan pembelanjaan pertahanannya.

Bagi Indonesia, perkembangan KIZILELMA juga bukan kabar yang jauh. Pada Mei 2026, Republikorp Group dan Baykar menandatangani kesepakatan kerja sama pengembangan UCAV generasi baru yang berkaitan dengan KIZILELMA. Menurut keterangan yang diberitakan Antara pada Jumat (8/5/2026), kerja sama itu mencakup transfer teknologi, produksi dan integrasi lokal, fasilitas pemeliharaan, pengembangan sumber daya manusia, serta riset teknologi masa depan. Kesepakatan tersebut merupakan kerja sama pengembangan, bukan bukti bahwa Indonesia telah membeli sejumlah KIZILELMA.

Karena itu, uji JET-230 dapat menjadi gambaran mengenai jenis teknologi yang kelak berpotensi masuk dalam ruang kerja sama industri Indonesia-Turki. Namun, manfaatnya bagi Indonesia akan bergantung pada kedalaman transfer teknologi, akses terhadap perangkat lunak, hak integrasi senjata, kemampuan pemeliharaan, dan seberapa besar industri nasional dilibatkan, bukan semata-mata pada pembelian platform.

Turki belum menggantikan Amerika Serikat sebagai kekuatan udara dominan NATO. KIZILELMA juga belum membuktikan dirinya dalam pertempuran melawan pertahanan udara modern.

Tetapi Ankara telah memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada sebuah demonstrasi sesaat: konsistensi mengubah drone sederhana menjadi pesawat tempur nirawak, mengubah munisi jarak dekat menjadi rudal stand-off, serta mengubah industri yang pernah bergantung pada impor menjadi ekosistem yang mulai diperebutkan pasar dunia.

JET-230 yang melesat dari bawah sayap KIZILELMA membawa pesan yang lebih jauh daripada 120 kilometer. Di dalam NATO, Turki tidak lagi puas hanya menjadi negara dengan tentara terbesar kedua. Ankara ingin menjadi negara yang ikut menentukan seperti apa perang udara masa depan. (Eddy Nasrul)

  🛩
Republika  

Minggu, 12 Juli 2026

Retractable Landing Gear BRIN

🛩 Kunci Efisiensi dan Daya Jelajah PTTA Elang Hitam Proses pengujian Retractable Landing Gear (BRIN)

Sistem retractable landing gear yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan efisiensi aerodinamika Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) nasional. Teknologi roda pendaratan lipat ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) setelah pesawat lepas landas, sehingga mendukung durasi terbang lebih panjang dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kekuatan Struktur BRIN, Arif Krisbudiman, menjelaskan bahwa sistem pendaratan pada PTTA kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE UAV) dirancang tidak hanya untuk menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, tetapi juga mendukung efisiensi aerodinamika selama penerbangan. Karena itu, struktur landing gear harus ringan, kuat, dan mampu bekerja secara presisi.

“Pada pesawat tanpa awak kelas MALE UAV, setiap komponen dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan durasi terbang panjang. Salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap kinerja tersebut ialah sistem pendaratan yang ringan, kuat, dan aerodinamis,” ujar Arif dalam Kelas Periset Edisi 16, Rabu (20/5).

Berbeda dengan fixed landing gear yang tetap terbuka selama penerbangan, sistem retractable landing gear memungkinkan roda pendaratan dilipat ke dalam badan pesawat setelah lepas landas. Mekanisme tersebut membuat hambatan aliran udara dapat ditekan sehingga efisiensi aerodinamika pesawat meningkat selama mengudara.

Selain menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, sistem ini juga dirancang untuk menyerap gaya benturan ketika roda menyentuh landasan. Untuk mendukung fungsi tersebut, BRIN mengembangkan mekanisme lipat presisi melalui aktuator otomatis. Struktur sistem juga dirancang tetap ringan, tetapi mampu menahan beban dinamis selama operasi penerbangan.

Komponen landing gear dilengkapi sistem suspensi oleo-pneumatic shock absorber untuk meredam energi benturan, serta sistem pengereman otomatis guna meningkatkan keselamatan saat pesawat berada di landasan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pendaratan tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga menjaga kestabilan struktur pesawat secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan material aluminium berkekuatan tinggi dan komposit ringan yang memiliki rasio kekuatan terhadap berat optimal. Pemilihan material tersebut memungkinkan pengurangan bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan, sehingga pesawat dapat membawa muatan lebih besar, memperpanjang durasi terbang, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Pendekatan desain itu juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pengembangan teknologi penerbangan berkelanjutan. Karena itu, bentuk landing gear dirancang seramping mungkin agar tidak menambah hambatan udara ketika terlipat di dalam badan pesawat.

Melalui desain aerodinamis tersebut, PTTA MALE dikembangkan untuk memiliki kemampuan jelajah hingga 30 jam dengan ketinggian operasi maksimum mencapai 7.200 meter.

Untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem, BRIN melakukan serangkaian pengujian di Laboratorium Kekuatan Struktur BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong. Pengujian dilakukan menggunakan metode shock absorber test untuk mengetahui karakteristik redaman, serta drop test guna mengukur beban benturan dan tegangan pada titik kritis struktur landing gear. Seluruh pengujian tersebut mengacu pada standar Federal Aviation Regulations (FAR) 23.

Menurut Arif, pengujian tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi desain dan simulasi digital sehingga sistem yang dikembangkan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam berbagai kondisi operasi.

Pengembangan retractable landing gear merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat penguasaan teknologi komponen strategis PTTA nasional. Kemampuan merancang dan memproduksi komponen secara mandiri dinilai penting sebagai fondasi menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan mitra industri, BRIN juga mendorong hilirisasi riset agar teknologi PTTA dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pertahanan dan pengawasan wilayah hingga penanggulangan bencana dan layanan sipil.

“Penguasaan teknologi struktur ringan dan sistem pendaratan merupakan langkah penting menuju pesawat tanpa awak nasional yang andal, efisien, dan kompetitif. Ini menjadi kontribusi nyata riset dalam mendukung kedaulatan teknologi Indonesia,” tutup Arif.

  🛩
BRIN  

Selasa, 12 Mei 2026

Republikorp Dan Baykar Lanjutkan Kemitraan Strategis

  Melalui Penandatanganan Kerja Sama Bayraktar Kizilelma 
Drone tempur Kizilelma (Baykar)

Republikorp Group dan Baykar kembali memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Türkiye melalui penandatanganan perjanjian pengembangan Bayraktar KIZILELMA Unmanned Combat Aircraft (UCAV) pada ajang SAHA 2026 di İstanbul.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia. Kini, kemitraan diperluas menuju pembangunan ekosistem industri dirgantara berkelanjutan dan pengembangan UCAV generasi baru.

Melalui kolaborasi antara Baykar dan PT Republik Aero Dirgantara, pengembangan operasional Bayraktar KIZILELMA ditargetkan memperkuat kemampuan UCAV Indonesia mulai 2028. Kerja sama mencakup transfer teknologi, pengembangan SDM, fasilitas MRO, pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.

Chairman Republikorp Group, Norman Joesoef, menegaskan, “Bersama Baykar, kami membangun ekosistem aerospace dan unmanned systems yang berkelanjutan, mulai dari produksi, maintenance, pengembangan SDM, hingga riset teknologi masa depan.”

CEO Baykar, Haluk Bayraktar, juga menekankan pentingnya kemitraan ini, “Pengembangan Bayraktar KIZILELMA menjadi tonggak baru dalam hubungan strategis Indonesia dan Türkiye.”

Kerja sama ini menandai transformasi berkelanjutan hubungan Indonesia–Türkiye menjadi kemitraan strategis industri pertahanan yang berorientasi pada transfer teknologi, pembangunan kapasitas nasional, dan inovasi industri pertahanan masa depan.

 👷 Republikorp  

Jumat, 08 Mei 2026

Ada Jejak Republikorp di Balik Kemesraan Alutsista Indonesia dan Turki

Drone tempur Kizilelma (Baykar)

Hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin erat. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara terus melebar, mulai dari kendaraan tempur, sistem nirawak, hingga pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.

Salah satu kerja sama terbaru terlihat dari pengembangan Bayraktar KIZILELMA, pesawat tempur tanpa awak atau unmanned combat aircraft (UCAV) buatan Baykar, perusahaan pertahanan dan dirgantara asal Turki.

Dalam kerja sama ini, perusahaan Indonesia yang menjadi bagian penting adalah Republikorp Group. Perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan ini namanya semakin sering muncul dalam sejumlah kerja sama alutsista strategis, terutama sejak era Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada 2019-2024.

Adapun kerja sama KIZILELMA dilakukan antara Baykar dan PT Republik Aero Dirgantara, anak usaha Republikorp Group. Melansir situs resmi Republikorp, kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang telah dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia.

Dengan kerja sama terbaru ini, kemitraan Baykar dan Republikorp diperluas ke pengembangan UCAV generasi baru melalui Bayraktar KIZILELMA. Pengembangan operasional KIZILELMA ditargetkan dapat memperkuat kemampuan pesawat tempur nirawak Indonesia mulai 2028.

Kerja sama tersebut juga tidak hanya mencakup pengadaan pesawat. Kolaborasi dengan Baykar turut meliputi transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, fasilitas MRO (maintenance, repair, and overhaul), pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.


  Kilas Balik Kerja Sama Militer Indonesia-Turki 
MT Harimau (Pindad)

Kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki sudah berjalan lebih dari satu dekade. Salah satu kerja sama yang cukup awal terlihat pada pengembangan tank ukuran medium. Kerjasama ini mulai dirintis sekitar 2010, ketika Indonesia dan Turki menjajaki kerja sama industri pertahanan.

Proyek tersebut melibatkan PT Pindad yang mewakili Indonesia dan FNSS Defence Systems dari Turki.Realisasi pengembangan kendaraan tempur ini mulai berjalan lebih konkret pada 2014. Dari kerja sama tersebut, lahir medium tank Harimau, yang juga dikenal dengan nama Kaplan MT.

Harimau merupakan tank kelas medium yang dikembangkan untuk TNI Angkatan Darat. Tank ini memiliki bobot lebih ringan dibanding main battle tank, tetapi tetap dilengkapi kemampuan tempur untuk mendukung operasi darat. Sebagai gambaran, main battle tank yang digunakan Indonesia saat ini adalah Leopard 2 buatan Jerman.

Leopard 2 masuk dalam kategori tank tempur utama dengan bobot lebih berat dibanding tank medium seperti Harimau. Sementara itu, Harimau dirancang sebagai kendaraan tempur dengan mobilitas yang lebih fleksibel. Tank ini dapat digunakan di berbagai medan, termasuk wilayah dengan kondisi infrastruktur yang lebih terbatas.

Sejak dimulainya kerja sama pembuatan tank Harimau, hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin intens. Intensitas kerja sama tersebut semakin terlihat pada masa Kementerian Pertahanan dipimpin Prabowo.

Turki tampak menjadi salah satu mitra yang cukup menonjol dalam agenda modernisasi alutsista Indonesia. Salah satu alasannya, kerja sama dengan Turki banyak dikaitkan dengan skema transfer teknologi dan produksi lokal.


  Republikorp Masuk ke Banyak Proyek Strategis 
Drone Akinci (ist)

Di tengah semakin intensnya kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki, nama Republikorp mulai semakin sering muncul.

Perusahaan swasta nasional ini terlibat dalam sejumlah kerja sama strategis, terutama yang berkaitan dengan pengembangan alutsista, produksi lokal, transfer teknologi, hingga pembangunan fasilitas pendukung di dalam negeri.

Melansir dari situs resmi Republikorp, sedikitnya ada beberapa kerja sama besar yang melibatkan perusahaan tersebut sejak 2025 hingga 2026. Cakupannya luas, mulai dari jet tempur, rudal, sistem intelijen, kendaraan tempur, kapal patroli, amunisi, hingga modernisasi sistem pertahanan TNI.

Turki menjadi salah satu negara yang paling menonjol dalam kerja sama tersebut. Namun, jejak Republikorp tidak berhenti di sana.

Perusahaan ini juga menggandeng perusahaan pertahanan besar dari Qatar dan Uni Emirat Arab dalam proyek bernilai miliaran dolar AS. Menariknya, Republikorp bukan perusahaan swasta yang selama ini dikenal luas sebagai produsen persenjataan utama di Indonesia.

Dalam industri pertahanan nasional, sejumlah perusahaan swasta seperti PT Sentra Surya Ekajaya, PT Sari Bahari, PT Infoglobal Teknologi Semesta, PT Palindo Marine, PT Lundin Industry Invest, hingga PT Famatex sudah lebih dulu dikenal sebagai bagian dari ekosistem produsen alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) di dalam negeri.

Mereka memiliki kapabilitas pada bidang masing-masing, mulai dari kendaraan taktis, munisi, bom latih, sistem elektronik pertahanan, kapal militer, kapal patroli, hingga perlengkapan pendukung pertahanan lainnya.

Namun, dalam waktu relatif singkat, Republikorp justru terlibat dalam sejumlah kerja sama pertahanan strategis bernilai besar. Muncul pertanyaan besar, kapasitas apa yang membuat Republikorp memperoleh kepercayaan sebesar ini dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan.

Pertanyaan ini penting karena proyek pertahanan bukan proyek biasa. Di dalamnya ada aspek keamanan nasional, transfer teknologi, penggunaan sumber daya negara, dan janji besar soal kemandirian industri pertahanan.

Berikut sejumlah proyek besar yang melibatkan Republikorp dalam kerja sama industri pertahanan dengan beberapa negara.


  Dari Jet Tempur KAAN, Rudal, hingga Sistem Intelijen 
Pesawat Gen V KAAN (TAI)

Dalam kerja sama dengan Turki, Republikorp terlibat dalam beberapa proyek strategis sejak awal 2025. Pada Februari, Baykar Makina dan PT Republikorp menandatangani JVA yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

Kerja sama ini diarahkan untuk produksi lokal sistem pesawat tanpa awak di Indonesia, termasuk hingga 60 set Bayraktar TB3 dan hingga 9 set Bayraktar AKINCI, dengan cakupan manufaktur, perakitan, perawatan, transfer teknologi, pelatihan, hingga pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri.

Setelah itu, Republikorp melalui anak usahanya, PT Republik Technetronic Nusantara (RTN), menandatangani Framework Agreement dengan PAVO Group asal Turki pada Juli 2025. Kerja sama ini berkaitan dengan penyediaan sistem intelijen untuk TNI di berbagai matra.

Sistem yang masuk dalam kerja sama tersebut mencakup data fusion, pengawasan, pengamanan komunikasi, serta infrastruktur pendukung pengambilan keputusan. Dengan kerja sama ini, Republikorp masuk ke sektor teknologi komando, intelijen, dan komunikasi militer.

Sehari setelahnya, Republikorp menjalin joint venture dengan Roketsan. Kerja sama ini melahirkan PT Republik Roketsan Indonesia yang diarahkan untuk mengembangkan industri rudal nasional. Melalui joint venture tersebut, kedua pihak menyepakati pengembangan dan produksi empat sistem rudal secara bertahap di dalam negeri, yakni ÇAKIR, ATMACA, HİSAR, dan SUNGUR.

Produksi tahap awal akan dimulai dari ÇAKIR. Kemudian pada 25 Juli 2025, Kementerian Pertahanan meresmikan perjanjian strategis dengan Turkish Aerospace Industries (TUSAS) terkait pengadaan 48 unit jet tempur generasi kelima KAAN.

Dalam proyek KAAN, PT Republik Aero Dirgantara (RAD) ditunjuk sebagai mitra utama bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Peran PT RAD mencakup pembangunan fasilitas maintenance, repair, and overhaul atau MRO KAAN, serta operasionalisasi pusat pelatihan dan simulator.

Deretan kerja sama tersebut memperlihatkan luasnya cakupan Republikorp dalam proyek dengan Turki. Tidak hanya pada platform udara seperti KAAN dan KIZILELMA, tetapi juga rudal, sistem intelijen, komunikasi aman, hingga fasilitas pendukung operasional alutsista.


  Gandeng Barzan Holdings untuk Modernisasi TNI  
(Ist)

Selain Turki, Republikorp juga menjalin kerja sama dengan Barzan Holdings, perusahaan industri pertahanan milik negara Qatar.

Kerja sama tersebut diteken pada 20 Januari 2026 dalam ajang Doha International Maritime Defence Exhibition & Conference atau DIMDEX 2026. Dalam kerja sama ini, Republikorp berperan sebagai mitra strategis pertahanan Indonesia.

Kedua pihak sepakat membentuk perusahaan khusus atau joint venture dengan total nilai kerja sama mencapai US$ 2,3 miliar atau setara Rp 39,9 triliun (asumsi kurs Rp 17.360/US$1).

Cakupan kerja sama Republikorp dan Barzan Holdings meliputi overhaul serta peningkatan sistem-sistem kritikal di sektor maritim dan darat.

Joint venture tersebut diarahkan untuk mendorong modernisasi skala besar guna meningkatkan kesiapan operasional TNI.

  Kerja Sama Jumbo dengan EDGE 
Rabdan 8x8, diberitakan diminati marinir (ist)

Republikorp juga menjalin kerja sama besar dengan EDGE, perusahaan pertahanan asal Uni Emirat Arab. Kemitraan tersebut diteken pada 18 November 2025 dengan total nilai yang bombastis mencapai US$ 7 miliar atau setara Rp 121,52 triliun.

Kerja sama dengan EDGE mencakup transfer teknologi, produksi lokal di dalam negeri, pengembangan sistem bersama, serta program modernisasi terpadu TNI. Dari sisi nilai dan cakupan, proyek ini menjadi salah satu kerja sama terbesar yang melibatkan Republikorp.

Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup beberapa alutsista strategis. Di antaranya rudal pertahanan udara SKYKNIGHT, kendaraan tempur infanteri RABDAN 8x8, kapal patroli cepat atau fast patrol vessel, serta pembangunan fasilitas produksi amunisi kaliber kecil

 👷 CNBC  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...