Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2026

TNI AU Terima Pesawat Hercules A1317

  Usai modernisasi di GMFGMF AeroAsia menyerahkan satu unit C-130 Hercules bernomor ekor A-1317 hasil modernisasi (Dispenau)

TNI Angkatan Udara melalui Grup 1 Angkut menerima kembali pesawat C-130H Hercules A-1317 usai menjalani modernisasi di PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia. Penyerahan dilaksanakan di Hanggar Skadron Udara 32, Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Kamis (29/10/2026).

Secara simbolis, VP SBU Defence PT GMF Aero Asia Rajesh Ferdinand Kusuma menyerahkan pesawat kepada Pusalpalhan Kemhan, untuk selanjutnya diserahkan kepada TNI AU yang diwakili Dangrup 1 Angkut Marsma TNI I Gusti Putu Setia Darma, S.T., M.M., M.Han.

A-1317 menjadi pesawat kedua yang kembali setelah menjalani Center Wing Box Replacement (CWBR), Avionics Upgrade Program (AUP), dan Structural Integrity Program (SIP).

Dalam sambutannya, Dangrup 1 Angkut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertahanan atas program modernisasi C-130 Hercules serta PT GMF Aero Asia yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Kerja sama ini menunjukkan pentingnya peran industri nasional dalam mendukung modernisasi alpalhankam di dalam negeri.

Dangrup juga menekankan bahwa modernisasi harus diikuti kemampuan satuan dalam menjaga dan memanfaatkan pesawat secara optimal. Untuk itu, Dangrup berpesan kepada jajaran Skadron Udara 32 agar mengemban tanggung jawab tersebut dengan profesionalisme, disiplin, serta mengutamakan keselamatan terbang dan kerja.

Selanjutnya, dalam sambutan tertulis Kapusalpalhan Baloghan Kemhan Marsma TNI Jon Keneddy Ginting, MMsgSud, QTC, yang dibacakan Kapuslaik Kemhan Marsma TNI Catur Martowo Aji, M.Eng., disampaikan bahwa modernisasi diperlukan karena C-130 Hercules telah mencapai usia operasional tinggi dalam menjadi tulang punggung mobilitas udara TNI. Program ini juga merupakan investasi strategis dalam pembangunan pertahanan negara.

Sementara itu, VP SBU Defence PT GMF Aero Asia menyampaikan bahwa modernisasi tersebut diproyeksikan memperpanjang usia struktur pesawat hingga 15–20 tahun, sekaligus meningkatkan keandalan dan kesiapan operasionalnya. Kepercayaan Kementerian Pertahanan menjadi motivasi bagi GMF untuk terus meningkatkan kapabilitas industri dalam negeri.
 

  ✈️  Koopsau  

Rabu, 28 Oktober 2026

Menhan Kunjungi PTDI

 🛩  Tinjau Progres Produksi dan Modernisasi Alutsista Kunjungan kerja Menhan RI ke PT DI di Bandung (PT DI)

Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Wakil Menteri Pertahanan Bidang Logistik, Industri Pertahanan & Teknologi, Marsekal TNI Yusuf Jauhari, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Letjen TNI Gabriel Lema, serta Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kemhan RI, Laksda TNI Sri Yanto, beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI). Rombongan diterima langsung oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi, Wakil Komisaris Utama PTDI, Marsdya TNI (Purn.) Bagus Puruhito, Komisaris PTDI, Yusron Ihza, serta jajaran manajemen PTDI di Hanggar Final Assembly Line (FAL) Fixed Wing PTDI, Bandung.

Pada kesempatan ini, Menhan RI meninjau langsung perkembangan sejumlah program Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang tengah dikerjakan PTDI, meliputi program produksi, peningkatan sistem misi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat. Menhan RI dan rombongan mengawali kunjungannya dengan peninjauan pekerjaan upgrade mission system terhadap pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) milik TNI AL. Selanjutnya, Menhan RI juga meninjau proses produksi pesawat CN235-220 Military Transport (serial number N71) untuk end user TNI AL yang ditargetkan selesai pada awal tahun 2027.

Agenda peninjauan berlanjut ke program modernisasi pesawat C-130 TNI Angkatan Udara (AU), serta pekerjaan rekondisi struktur dan pemeliharaan & perawatan (Harwat) 2 unit pesawat NC212-200 milik TNI AL. Dalam kesempatan yang sama, Menhan RI juga meninjau pekerjaan Service Life Extension Program (SLEP) dan avionics upgrade terhadap 3 unit pesawat CN235-100 milik Uni Emirat Arab (UAE Air Force) yang ditargetkan seluruhnya selesai pada akhir tahun 2027. Pekerjaan ini mencerminkan kapabilitas PTDI dalam memperpanjang usia pakai pesawat sekaligus meningkatkan kemampuan sistem avioniknya melalui program peningkatan dan modernisasi pesawat. Rangkaian peninjauan diakhiri di Hanggar FAL N219.

Kunjungan ini menegaskan peran strategis PTDI dalam mendukung pelaksanaan program Kemhan RI melalui pengembangan kapabilitas produksi, modernisasi, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat militer. Berbagai program yang tengah berjalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri kedirgantaraan nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista Indonesia, sekaligus mewujudkan kemandirian pertahanan nasional.

  🛩 PTDI  

Minggu, 25 Oktober 2026

TNI AU Uji Jalan Tol Di Jawa Timur

  Sebagai Landasan Pacu Alternatif Pesawat F16 melakukan latihan lepas landas dan pendaratan di Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo di Jawa Timur (Dispenau) 

TNI AU melakukan latihan lepas landas dan pendaratan di ruas jalan tol Pasuruan–Probolinggo sepanjang tiga kilometer di Jawa Timur untuk menilai kesesuaiannya sebagai landasan alternatif.

Latihan ini merupakan bagian dari upaya TNI AU untuk menguji kesiapan operasional dan kemampuan kita dalam memanfaatkan infrastruktur yang ada di daerah, khususnya jalan tol, sebagai landasan alternatif untuk operasi angkatan udara.

Harjono mengatakan latihan tersebut melibatkan dua pesawat Embraer EMB-314 Super Tucano dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang dan dua jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Pangkalan Udara Iswahjudi di Madiun.

Pesawat-pesawat tersebut berhasil melakukan lepas landas dan pendaratan di ruas jalan tol selebar 24 meter tersebut. Latihan ini mengikuti misi pelatihan serupa yang dilakukan di Jalan Tol Terbanggi Besar di Lampung pada 11 Februari 2026.

Jalan tol hanya berfungsi sebagai landasan alternatif dalam situasi darurat, menekankan bahwa keselamatan publik dan penggunaan infrastruktur tetap menjadi prioritas utama. TNI AU telah mengidentifikasi beberapa jalan tol lainnya untuk latihan di masa mendatang, termasuk Jalan Tol Cibinong–Cilincing dan jalan tol yang direncanakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ke depannya, kami akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum mengenai pengembangan dan pemetaan jalan tol sehingga jalan tol terpilih dapat disiapkan sebagai landasan alternatif untuk mendukung operasi angkatan udara," kata Harjono.

  ★  antara 
 

Kamis, 22 Oktober 2026

Pesawat N219 Seratus Persen Karya Anak Bangsa

 🛩  Untuk kebutuhan militer maupun komersial 🛩 Pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (Kamal)

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Gita Amperiawan menyatakan pesawat N219 merupakan hasil karya anak bangsa yang dikembangkan tanpa tenaga pendamping teknis dari luar negeri.

“Pesawat N219 adalah pesawat seratus persen karya anak bangsa. Tingkat kandungan dalam negerinya (TKDN) 44,69 persen,” ucap Gita saat eksplorasi industri pertahanan bersama pers di Bandung, Jawa Barat, Selasa.

Dia menyebut pengembangan N219 melibatkan kurang lebih 16 industri pertahanan nasional dan empat perguruan tinggi dalam negeri.

Dijelaskannya, N219 merupakan pesawat turboprop bermesin ganda yang memiliki kapasitas 19 penumpang.

Pesawat tersebut dirancang untuk melayani rute penerbangan perintis, termasuk wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur landasan pacu. N219 memiliki kemampuan lepas landas pada landasan sepanjang sekitar 600 hingga 800 meter serta dapat dioperasikan pada landasan yang tidak beraspal (unpaved runway).

Gita menyebut sekitar 100 bandara perintis di Indonesia memiliki landasan pacu dengan panjang kurang dari satu kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 bandara disebut memiliki landasan yang tidak beraspal.

“Ini cocok dengan N219,” katanya.

Pesawat tersebut kini dikembangkan untuk kebutuhan militer dan komersial. Kedua jenis kebutuhan itu memiliki basis yang sama, tetapi dapat dibedakan berdasarkan persyaratan sertifikasi dan kebutuhan khusus.

Ia mencontohkan, untuk kebutuhan militer penyesuaian dapat dilakukan sesuai kebutuhan operasional TNI, termasuk untuk mendukung kegiatan penerjunan personel.

Di sisi lain, PT DI berupaya meningkatkan keterlibatan industri nasional dalam produksi N219. Gita memperkirakan TKDN pesawat tersebut meningkat hingga 65 persen apabila produksi dilakukan secara massal. 

  🛩 antara  

Senin, 19 Oktober 2026

GMF Terima A-1316 sebagai Proyek CWBR Kelima

 Untuk Modernisasi Armada C-130Pesawat C-130 Hercules A-1316 (GMF)

Komitmen PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) dalam mendukung modernisasi armada C-130 Kementerian Pertahanan terus berlanjut. GMF menerima pesawat C-130 Hercules dengan tail number A-1316 untuk menjalani perawatan Center Wing Box Replacement (CWBR). Pesawat tersebut berangkat dari Lanud Abdurrachman Saleh, Malang, dan tiba di GMF pada Selasa (15/09) untuk kemudian diserahterimakan melalui penandatanganan Berita Acara oleh Production Division Head SBU Defense Industry GMF, Imam Solikhin, dan Pengelola Pengadaan Barang/Jasa (PPBJ) Madya Pus Alpalhan Baloghan Kemhan, Kolonel Kal. Ronny Syah Faiza, M.Han.

Kedatangan A-1316 menjadi proyek CWBR C-130 kelima yang ditangani GMF dari total delapan pesawat yang telah direncanakan. Dengan masuknya A-1316, saat ini terdapat empat pesawat C-130 yang tengah menjalani berbagai pekerjaan perawatan di Hanggar 4 GMF.

Dalam acara serah terima, Kasatgas Modernisasi C-130, Marsma TNI Arif Djoko Nugroho, S.T., mengapresiasi kontribusi GMF dalam menjaga kesiapan skuadron melalui program modernisasi C-130. Berbekal pengalaman dalam menangani proyek CWBR sebelumnya, ia berharap pengerjaan A-1316 dapat diselesaikan tepat waktu. Menyambut hal tersebut, GMF menegaskan komitmen untuk terus mendukung kesiapan pesawat di masing-masing skuadron, sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan dan memperpendek lead time.

Keberlanjutan proyek CWBR C-130 menjadi bagian dari kontribusi GMF dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Pelaksanaannya juga mencerminkan sinergi antara GMF, Kementerian Pertahanan RI, dan TNI Angkatan Udara dalam mengoptimalkan kemampuan industri dalam negeri untuk mendukung pemeliharaan dan modernisasi alutsista.
 

  ✈️
GMF  

Sabtu, 10 Oktober 2026

Bappenas dan Airbus Tingkatkan Kualitas SDM Industri Dirgantara

  Kerjasama dengan ITB Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy (kanan) dan Executive Vice President International Airbus Wouter van Wersch dalam agenda penandatanganan Nota Kesepahaman antara Airbus dengan Airnav Indonesia dan ITB di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (ANTARA/HO-Bappenas)

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan ekosistem dirgantara Indonesia akan diperkuat dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Adapun strategi yang dilakukan ialah mengembangkan kompetensi, pendidikan dan penelitian, serta penguatan kapasitas teknologi dirgantara Indonesia, melalui kerja sama antara Bappenas dengan Airbus untuk memperkuat pengembangan kompetensi, pendidikan dan pelatihan teknis, penelitian bersama, serta eksplorasi pengembangan pusat riset di bidang dirgantara sebagai tindak lanjut Joint Declaration antara kedua belah pihak.

“Kemitraan kita dengan Airbus harus melangkah lebih jauh dari kepentingan komersial dan berkontribusi pada kemampuan teknologi, ketahanan industri, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Karena itu, kerja sama dengan ITB (Institusi Teknologi Bandung) harus mendukung pendidikan pascasarjana, pelatihan teknis yang intensif, dan penelitian bersama sehingga kita dapat memperkuat penguasaan teknologi Indonesia sekaligus membangun ekosistem dirgantara nasional yang lebih kuat,” ucapnya dalam agenda penandatanganan Nota Kesepahaman antara Airbus dengan Airnav Indonesia dan ITB, dari keterangan resmi, Jakarta, Jumat.

Kolaborasi Airbus–ITB juga diharapkan terhubung dengan agenda yang lebih luas, termasuk pengembangan kemampuan industri PT Dirgantara Indonesia, sertifikasi pesawat NC212, pengembangan N219, peningkatan kemampuan A400M, ekosistem maintenance, repair, and overhaul (MRO), serta pengembangan ekosistem dirgantara Kertajati.

Menteri Rachmat Pambudy menegaskan bahwa implementasi kerja sama perlu dilengkapi dengan rencana kerja, target terukur, institusi penanggung jawab, jadwal, serta kebutuhan sumber daya yang jelas.

“Kerja sama ini bukan hanya antara Indonesia dan Airbus, tetapi harus memperkuat keseluruhan ekosistem dirgantara Indonesia. Kita membutuhkan keterlibatan pemasok lokal, transfer teknologi, peningkatan kemampuan tenaga kerja, serta partisipasi Indonesia yang semakin besar dalam rantai pasok dirgantara global. Komitmen tersebut harus kita terjemahkan menjadi implementasi nyata yang sejalan dengan rencana pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045,” kata dia.

Executive Vice President International Airbus Wouter van Wersch menyatakan komitmen pihaknya untuk mengembangkan talenta lokal sebagai fondasi pertumbuhan industri dirgantara.

“Kami percaya Indonesia memiliki kemampuan dan talenta untuk melakukan hal tersebut. Dengan menggabungkan pengembangan industri, pembangunan talenta, dan pengembangan pesawat, kami tidak hanya menyediakan pesawat, tetapi juga membangun kemitraan strategis untuk jangka panjang,” ungkap Wouter.

Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas Vivi Yulaswati menambahkan bahwa kerja sama ini telah ditindaklanjuti hingga Juli 2026 melalui kelompok kerja lintas sektor dan diselaraskan dengan kebutuhan industri, ketersediaan sumber daya, serta peta jalan pengembangan ekosistem dirgantara nasional.

  🤝  antara  

Selasa, 06 Oktober 2026

KSAU Ungkap J10 Akan Tiba

  Enam Bulan Lagi Jet Tempur J-10 Tiba di Indonesia Pesawat J10 C  (DSA)

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Mohammad Tonny Harjono meminta publik bersabar menunggu terkait kedatangan jet tempur Chengdu J-10 asal China. "Tunggu saja," kata Tonny sembari tersenyum kepada Republika di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026)..

Informasi yang didapatkan Republika, jet tempur berjuluk Vigorous Dragon ini bakal tiba di Tanah Air enam bulan dari sekarang. Hanya saja, jumlah unit yang tiba pertama kali ke Indonesia tahun depan, masih belum diketahui..

Di tempat yang sama, anggota Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno Laksono mendukung langkah Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI membeli jet tempur J-10. Dia menganggap, pembelian jet tempur generasi 4,5 dari China bisa untuk memperkuat pertahanan NKRI..

"Kita juga melihat kondisi global, ancaman, kita lihat di Asia Tenggara saja masih ada konflik, negara-negara sesama ASEAN, jadi untuk kita itu memiliki peralatan tempur yang mumpuni dan sanggup mengintersep ancaman-ancaman tersebut," kata Dave..

Menurut dia, Komisi I DPR juga tidak mempermasalahkan ketika akhirnya pemerintah RI memilih alutsista dari China. Bagi Dave, kualitas alutsista dari negara Barat maupun China sekarang sama saja. "Tidak masalah, tidak masalah, selama supplay chain-nya, pelatihannya, supporting unitnya mencukupi tidak masalah," ucap Dave.

  ★  Republika  
 

Senin, 05 Oktober 2026

HUT ke-81 TNI, Modernisasi Alutsista Perkuat Pertahanan Indonesia

   12 Ranpur Amfibi AAV7-M35 batch 1 telah berganti warna, sesuai warna kamuflase terbaru marinir  (Tribunnews)

Penguatan pertahanan nasional terus dilakukan menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.

Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 TNI modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dilakukan di berbagai matra.

Mulai dari penguatan kekuatan laut dan udara hingga peningkatan kemampuan kendaraan tempur Korps Marinir.

Sejumlah alutsista yang menjadi bagian dari penguatan tersebut antara lain KRI Sriwijaya-100, kapal selam Scorpène, kendaraan tempur amfibi AAV M-35, hingga pesawat tempur Rafale.

Peringatan HUT ke-81 TNI pada tahun ini mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”

Penambahan dan modernisasi alutsista tersebut diarahkan untuk mendukung kesiapan TNI dalam menjaga kedaulatan negara sekaligus memperkuat kemampuan dalam membantu masyarakat melalui berbagai operasi selain perang.

Peringatan tahun ini mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.

Pembaruan kekuatan pertahanan diarahkan untuk mendukung kesiapan menjaga kedaulatan sekaligus memperluas kemampuan TNI membantu masyarakat.

Di sektor udara, Indonesia memesan 42 pesawat tempur Rafale dari Dassault Aviation, Prancis. Enam unit telah diterima TNI AU, terdiri atas tiga pesawat yang tiba pada awal 2026 dan tiga lainnya pada Mei 2026.

Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi mengatakan sebanyak 18 Rafale berikutnya akan datang bertahap mulai 2027 hingga 2029.

“Tahun depan, kita akan kedatangan lagi 18 (unit pesawat) secara bertahap. Secara bertahap, sampai dengan diperkirakan pada tahun 2029,” kata Tedi, Minggu (4/10/2026).

Tedi memastikan fasilitas pendukung pengoperasian dan perawatan Rafale telah disiapkan. Pengoperasian pesawat tersebut di Skadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, disebut berjalan baik.

Pengguatan pertahanan juga menyasar kemampuan produksi dalam negeri. Dua kapal selam Scorpène dibangun di galangan PT PAL Indonesia melalui kerja sama dengan Naval Group.

Transfer teknologi dalam program tersebut mendukung kemandirian industri pertahanan nasional.

Di laut, KRI Sriwijaya-100 menambah kekuatan sebagai kapal induk pertama TNI AL.

Korps Marinir juga menerima 12 kendaraan tempur amfibi AAV M-35 dari rencana pengadaan 35 unit.

Rangkaian pengadaan tersebut memperlihatkan pembaruan kekuatan TNI pada berbagai matra.

Penguatan industri nasional turut menjadi bagian dari pembangunan pertahanan dalam periode pemerintahan Prabowo-Gibran.

Kesiapan alutsista dan personel menjadi penopang pelaksanaan tugas pertahanan serta kemanusiaan.

Di tengah modernisasi itu, peringatan HUT TNI disiapkan secara sederhana. Kepala Pusat Pembinaan Mental TNI sekaligus Ketua Panitia Acara Doa Bersama Brigjen TNI Chandra Adibrata mengatakan acara puncak berupa upacara tanpa parade alutsista.

Menurut Chandra, sebagian besar pasukan masih bertugas di daerah, termasuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan serta evakuasi korban Kapal Virgo.

Kebutuhan dukungan prajurit di lapangan menjadi pertimbangan penyelenggaraan peringatan tahun ini.

“Jadi kita banyak melaksanakan kegiatan membantu perbantuan ke SAR dan lain-lain. Jadi makanya kita laksanakan lebih sederhana untuk tahun ini,” katanya. .

  ♞
 SINDOnews   

Minggu, 04 Oktober 2026

BIJB Kertajati Mulai Disiapkan Jadi Kawasan Industri Pertahanan dan Kedirgantaraan

 🛩 👷 Bandara Kertajati (BIJB Kertajati)

Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati jangan langsung berorientasi pada aspek komersial.

Yang terpenting saat ini, menciptakan aktivitas dan keramaian di kawasan bandara, melalui pengembangan industri strategis pertahanan dan kedirgantaraan.

”Yang penting ramai dulu,” ujar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, seusai pertemuan dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di BIJB Kertajati, Kabupaten Majalengka, Minggu 4 Oktober 2026.

Sebelumnya, Gubernur dan pihak Kemenhan telah melakukan pertemuan pada Kamis 1 Oktober 2026 lalu, guna membahas rencana kerja sama pengelolaan BIJB Kertajati untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat industri strategis pertahanan dalam negeri.

Dedi mengatakan, pertemuan dengan Kemhan kali ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan yang sebelumnya dilakukan di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.

Menurut dia, pengelolaan aset negara pada prinsipnya me­rupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam satu kesatuan.

Namun, setiap institusi tetap memiliki tanggung jawab administratif, pencatatan aset, serta kewajiban dan piutang yang berbeda.

Ia menyebut, kerja sama pengelolaan BIJB Kertajati selanjutnya akan dituangkan dalam perjanjian kerja sama antara pihak-pihak terkait.

Dedi menegaskan, pada tahap awal pengembangan BIJB Kertajati, pemerintah tidak perlu terburu-buru memikirkan aspek komersial.

Fokus pertama adalah menghadirkan berbagai aktivitas industri yang dapat menghidupkan kawasan bandara.

”Tahap pertama kita, berpikir PTDI (PT Dirgantara Indonesia) ada di sini, kemudian MRO di sini, bengkel pesawat asing di sini, kemudian industri penunjang di sini,” tuturnya.

Menurut Dedi, apabila berbagai industri dan aktivitas pendukung kedirgantaraan mulai terkonsentrasi di BIJB Kertajati, secara bertahap akan terbentuk ekosistem perdaagangan di kawasan tersebut.

”Kalau semuanya serba ada di BIJB Kertajati, pada akhirnya akan tumbuh siklus perdagangan, khususnya menyangkut aspek kedirgantaraan,” katanya.

Ia menilai aktivitas tersebut tidak akan hanya melibatkan pelaku usaha lokal.

Pergerakan barang, jasa, dan kebutuhan industri, juga akan berkembang lintas daerah hingga antarnegara.

 Persiapan

Sementara itu, Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemhan Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari mengatakan, berbagai langkah persiapan kerja sama tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dan mendapat respons positif.

Yusuf mengatakan, dalam waktu dekat sejumlah kegiaatan dan fasilitas pertahanan akan mulai diarahkan ke BIJB Kertajati.

Salah satunya, pemindahan sekolah penerbang Angkatan Udara beserta mesnya di Sukani.

Selain itu, kata dia, rencana pemindahan Skuadron Udara dari Bandara Halim Perdanakusuma ke BIJB Kertajati juga tengah dipersiapkan.

PTDI beserta perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan PTDI juga akan menjadi bagian dari pengembangan kawasan tersebut.

”Kami berharap di bulan Januari pembangunannya. Sekolah penerbangan November atau Desember jika diizinkan, agar ada kegiatan,” kata Yusuf.

Dengan masuknya berbagai aktivitas industri kedirgantaraan dan pertahanan tersebut, kata dia, BIJB Kertajati diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai bandara, tetapi juga berkembang menjadi kawasan industri strategis yang memiliki ekosistem pendukung dan aktivitas ekonomi secara bertahap.*** .

  🛩 Pikiran Rakyat  

Minggu, 27 September 2026

18 Pesawat Rafale Tiba Tahun 2027

 ✈ Dua pesawat Rafael TNI AU terlacak terbang di ibukota Jakarta (Dispenau)

Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi memastikan pesawat tempur Rafale pesanan Indonesia akan kembali datang tahun 2027.

"Di tahun depan, kita akan kedatangan lagi 18 secara bertahap, ya. Secara bertahap sampai dengan diperkirakan di tahun 2029," kata Tedi saat dijumpai awak media di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu.

Kendati demikian, Tedi tidak menjelaskan secara rinci kapan gelombang ketiga kedatangan Rafale akan terjadi.

Dia hanya memastikan bahwa sejauh ini TNI AU sudah mempersiapkan fasilitas yang layak untuk pengoperasian dan perawatan pesawat tempur Rafale.

Hal tersebut, lanjut dia, terlihat dari pengoperasian pesawat tempur Rafale yang telah berjalan dengan baik di Skadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.

Sebelumnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu pelanggan pesawat tempur jenis Rafale yang diproduksi Dassault Aviation, Prancis.

Tercatat Kementerian Pertahanan telah memborong sebanyak 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Prancis setelah kontrak pembelian tahap ketiga untuk 18 unit terakhir efektif.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan yang kala itu dijabat Brigadir Jenderal TNI Edwin Adrian Sumantha menyampaikan kontrak efektif itu menjadi dasar Dassault Aviation mulai memproduksi 18 unit terakhir jet tempur Rafale pesanan Indonesia.

"Kemenhan RI sebelumnya telah mengefektifkan kontrak pengadaan tahap pertama dengan Dassault Aviation pada September 2022 sejumlah enam unit dan Agustus 2023 sejumlah 18 unit. Totalnya pengadaan pesawat tempur Rafale oleh Kementerian Pertahanan RI berjumlah 42 unit," kata Edwin.

Sejauh ini, TNI AU baru menerima enam pesawat tempur Rafale. Tiga pesawat pertama datang pada gelombang kedatangan pertama yakni pada awal 2026 lalu.

Sisanya datang pada gelombang ke dua pada Mei 2026 dan diterima langsung oleh TNI Presiden Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

  ★  
antara  

Sabtu, 26 September 2026

Menhan Sjafrie Bahas Pengadaan Rafale dan Scorpene

  👷  🤝 Dalam Pertemuan dengan Menteri Pertahanan Perancis Latihan bersama dengan Perancis dalam misi Pegase 2026 (Dispenau)

Menteri Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan kehormatan Menteri Angkatan Bersenjata dan Veteran Prancis HE Chaterine Vautrin di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Annual Defense Minister Dialogue pertama antara Indonesia dan Prancis.

Pertemuan digelar untuk memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara.

“Kita mengharapkan ini menjadi momentum yang paling penting dalam rangka penguatan, tidak hanya kerja sama pertahanan, tetapi juga kerja sama antarbangsa Indonesia dan Prancis,” kata Sjafrie dalam pernyataan bersama.

Menurut Sjafrie, hubungan pertahanan Indonesia dan Prancis terus berkembang, salah satunya melalui kerja sama pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Dia juga menyampaikan apresiasi atas pengadaan 42 jet tempur Rafale produksi Dassault Aviation dan dua kapal selam Scorpene buatan Naval Group.

Dua kapal selam Scorpene tersebut rencananya dibangun bersama PT PAL Indonesia di Surabaya.

Sjafrie mengatakan penguatan kerja sama alutsista ditandai dengan kedatangan pesawat Rafale pertama di Indonesia serta dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene pertama oleh PT PAL.

“Pada hari ini kita mengapresiasi penguatan kerja sama di bidang alutsista yang ditandai dengan kedatangan Rafale pertama di Indonesia dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene yang pertama oleh PT PAL,” tutur Sjafrie.

Selain pengadaan alutsista, Indonesia dan Prancis juga berkomitmen meningkatkan kerja sama melalui pertukaran perwira untuk pendidikan dan latihan.

Menurut Sjafrie, kerja sama tersebut mencakup hubungan antarinstitusi hingga interaksi antarpersonel.

“Ke depan, kita akan terus bekerja sama untuk menunjukkan hubungan pertahanan antara Indonesia dan Prancis terus berkembang dan berada pada momentum yang sangat positif, tidak hanya untuk pengadaan alutsista, tapi juga dalam peningkatan kemampuan profesionalisme personel dan hubungan antarangkatan bersenjata,” kata Sjafrie.

Kunjungan Vautrin ke Indonesia juga berkaitan dengan Misi Pégase 2026 Angkatan Bersenjata Prancis.

Dia dijadwalkan meninjau Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, yang menjadi salah satu lokasi kegiatan Angkatan Udara Prancis bersama TNI AU.

Dalam rangkaian Misi Pégase 2026, Vautrin meninjau pesawat-pesawat Prancis dan Indonesia yang berada di Indonesia pada 20–25 September 2026. (shf)

   👷  Sindonews   

Kamis, 24 September 2026

Penguatan Kerja Sama Alutsista Indonesia-Prancis Ditandai Rafale dan Scorpene

  👷  🤝  Latihan bersama dengan Perancis (Dispenau)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis ditandai dengan kedatangan jet tempur Rafale dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene.

Hal tersebut disampaikan Sjafrie saat menerima kunjungan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

“Dalam kunjungan Yang Mulia pada hari ini, kita akan mengapresiasi penguatan kerja sama di bidang alutsista yang ditandai dengan kedatangan Rafale pertama di Indonesia dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene yang pertama oleh PT PAL,” kata Sjafrie.

Dalam pelaksanaannya, PT Penataran Angkatan Laut (PAL) akan bekerja sama dengan Naval Group, galangan kapal asal Prancis dengan lokasi pembuatan Scorpene di Surabaya, Jawa Timur.

Sementara itu, Sjafrie mengungkapkan kerja sama Indonesia dan Prancis jug diwujudkan dengan pertukaran perwira dalam rangka sekolah dan latihan.

Pada November 2026, Indonesia dan Prancis bakal menggelar latihan bersama (Latma) Garuda Guerrier di Prancis.

“Ke depan ini kita akan terus bekerja sama untuk menunjukkan hubungan pertahanan antara Indonesia dan Prancis,” ucap Sjafrie.

“Terus berkembang dan berada pada momentum yang sangat positif. Tidak hanya untuk pengadaan alutsista, tapi juga dalam peningkatan kemampuan profesionalisme personel dan hubungan antar angkatan bersenjata,” tambahnya.

   👷  Kompas   

Selasa, 22 September 2026

Pesawat Militer Thailand hingga Korea Servisnya di Bandung

 🛩 👷 🛩 Mock up mesin NTP (detik)

PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP), anak usaha PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, mengembangkan bisnis perawatan mesin pesawat hingga menjangkau pasar Asia Pasifik.

VP Business Development & Marketing NTP Nicki Subianto mengatakan kapabilitas NTP bahkan digunakan untuk mendukung kebutuhan mesin pesawat militer Malaysia hingga Korea.

NTP merupakan perusahaan yang bergerak di bidang maintenance, repair, and overhaul (MRO) mesin pesawat di Bandung. Selain mesin pesawat, perusahaan juga bergerak di bidang perawatan mesin gas turbin, steam turbin industrial, hingga rotating equipment.

Dalam pameran TNI Fair 2026, NTP menampilkan sejumlah mesin dan mock-up engine yang dapat ditangani perusahaan, salah satunya mesin yang digunakan pada pesawat CN235 dan NC212 buatan PTDI.

"Jadi, kami perlihatkan apa saja engine-engine yang kami mampu lakukan. Ini mulai dari brosurnya, engine apa saja yang bisa kami lakukan. Nama engine-nya Honeywell TPE331. Yang ini dipasang di pesawat buatannya PTDI. Ini produk unggulan PTDI, ini nama pesawatnya CN235, ini nama pesawatnya CASA 212," kata dia saat ditemui detikcom di TNI Fair di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).

Keunggulan mesin milik NTP disebut telah mendapatkan sertifikasi Authorized Maintenance Center (AMC) dari original equipment manufacturer (OEM) untuk sejumlah jenis mesin. Menurut NTP, untuk tipe engine tertentu yang ditampilkan, perusahaan menjadi satu-satunya AMC di Indonesia.

"Kita Authorized Maintenance Center. Kita diautorisasi oleh OEM langsung, dan di Indonesia kita satu-satunya," katanya.

Selain sertifikasi dari OEM, NTP juga mengantongi sertifikasi internasional, termasuk dari Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat (AS). Sertifikasi tersebut memungkinkan NTP melayani kebutuhan operator dari sejumlah negara.

"Kita juga tersertifikasi di Thailand, Nepal, Kanada. Sampai ke beberapa negara lain. Yang kalau mereka butuh, kita bisa compliance," ujarnya.

 Militer Malaysia hingga Korea

Pasar NTP saat ini tidak hanya dari dalam negeri. NTP telah melayani sejumlah pelanggan di kawasan Asia Pasifik, meskipun mayoritas bisnisnya masih berasal dari sektor militer.

NTP memiliki kontrak jangka panjang dengan Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM). Selain Malaysia, perusahaan juga memiliki pelanggan dari Thailand dan Korea.

Untuk Thailand, pelanggan NTP antara lain Royal Thai Air Force dan Royal Thai Navy. Sementara di Korea, NTP melayani Korean Coast Guard dan Korean Air Force.

"Kalau Korea, ada Korean Coast Guard, ada Korean Air Force. Itu juga engine-nya ini, ke kami," ujarnya.

 Kembangkan Mesin Drone

Tak berhenti di bisnis MRO, NTP juga mulai mengembangkan mesin untuk drone atau pesawat tanpa awak. Menurut NTP, pengembangan tersebut dilakukan melihat pertumbuhan penggunaan drone dan UAV (Unmanned Aerial Vehicle/pesawat udara tanpa awak) di industri penerbangan.

"Ke depannya kami akan mulai dengan manufacturing engine drone. Kita coba, karena kan drone sedang booming. Dunia penerbangan sedang booming dengan drone, UAV, pesawat tanpa awak," terangnya.

NTP juga tengah mengembangkan engine Rolls-Royce Allison 556 untuk pesawat Hercules. Pengembangan tersebut saat ini masih dalam tahap pengerjaan. (ada/ara)

  🛩 detik  

Minggu, 20 September 2026

PTDI Akan Garap 15% Airframe Jet Tempur KF-21

  Dorong Kontrak Pengadaan 16 Unit untuk TNI AU
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah mengantongi Industrial Collaboration Agreement (ICA) dengan Korea Aerospace Industries (KAI) asal Korea Selatan untuk memproduksi 15% bagian airframe (kerangka pesawat) jet tempur KF-21 Boramae bagi TNI Angkatan Udara (TNI AU).

ICA ini merupakan kelanjutan dari selesainya Fase EMD (Engineering and Manufacturing Development) KF-21 antara PTDI dan KAI pada Mei lalu, yang memungkinkan pesawat untuk selanjutnya memasuki fase produksi massal dan tahap komersialisasi.

Saat ini PTDI dan KAI bersama-sama mendorong tercapainya kontrak pengadaan 16 unit KF-21 oleh Kementerian Pertahanan untuk TNI AU dengan perkiraan nilai mencapai 2,9 miliar dolar AS (sekitar Rp 51,65 triliun). Target pengiriman tiga pesawat pertama diproyeksikan pada akhir 2028 atau awal 2029.

VP of Business Development & Marketing PTDI, Heber M.F. Panjaitan, menyampaikan hal tersebut dalam perbincangan dengan Airspace Review di ajang TNI Fair yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Sabtu (19/9).

Ia menjelaskan, melalui kesepakatan ICA dengan KAI, PTDI akan memperoleh nilai tambah yang sangat krusial dalam memperkuat kapasitasnya sebagai entitas industri dirgantara nasional. “Dengan membeli KF-21 ini, ada nilai tambah yang sudah kami susun dalam ICA tersebut yang akan didapatkan oleh PTDI untuk meningkatkan kemampuan menuju kemandirian industri dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, PTDI akan menerima kucuran investasi sekitar 100-an juta dolar AS (lebih dari Rp 1,78 triliun) guna memaksimalkan fasilitas produksi di hanggar milik Kementerian Pertahanan di Bandung. Investasi tersebut, merupakan bagian dari total nilai kontrak yang akan didapat Indonesia.

“Semua permesinannya akan direvitalisasi, plus diberikan kemampuan komposit oleh KAI. Ini yang paling diincar industri penerbangan, yaitu Automated Fiber Placement (AFP),” ungkap Heber.

Sebagai tambahan informasi, AFP merupakan teknologi fabrikasi otomatis berbasis lengan robotik untuk menyusun dan menempelkan pita serat karbon (carbon fiber tows/prepreg) ke cetakan (mandrel/mold) dengan tingkat presisi dan kecepatan tinggi.

Guna mendukung penguasaan teknologi ini, KAI selain akan melengkapi berbagai fasilitas yang dibutuhkan tersebut, juga akan memberikan pelatihan kualifikasi secara intensif bagi puluhan teknisi dan insinyur PTDI.

"Ini merupakan benefit yang luar biasa tentunya bagi PTDI, di mana kita membeli 16 unit jet tempur KF-21 dan sekaligus mendapatkan nilai-nilai tambah tersebut," pungkas Heber.

 Dimulai pada 2010

Program KF-X/IF-X resmi dimulai pada 2010 melalui penandatanganan kesepakatan awal antara Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan untuk merancang jet tempur generasi 4,5 secara bersama.

Indonesia sepakat menanggung 20 persen biaya pengembangan dengan imbalan alih teknologi (transfer of technology) serta hak memproduksi pesawat untuk kebutuhan TNI AU.

Perjalanan panjang proyek kolaborasi ini melalui berbagai tahapan krusial, mulai dari fase pengembangan konsep (Technology Development), desain detail, hingga penyelesaian rancangan akhir (Critical Design Review).

Seiring berjalannya waktu, penamaan program ini berevolusi dan resmi diperkenalkan ke publik sebagai KF-21 Boramae saat peluncuran unit prototipe pertamanya pada April 2021.

Meskipun dinamika negosiasi ulang serta penyesuaian porsi pendanaan sempat mewarnai perjalanan kemitraan ini, kedua negara tetap mempertahankan komitmen utama untuk menyelesaikan program pengujian.

Keberhasilan penerbangan perdana prototipe KF-21 pada Juli 2022 menjadi bukti nyata pencapaian teknis dari kerja sama strategis Korea Selatan dan Indonesia.

Kini, dengan tuntasnya Fase EMD dan dimulainya kesepakatan produksi komponen airframe oleh PTDI, sejarah panjang KF-X/IF-X memasuki babak baru yang makin konkret.

Pencapaian ini menegaskan transformasi hubungan kedua negara dari sekadar kerja sama riset menjadi kemitraan manufaktur pertahanan tingkat lanjut. (RNS)

  ★ Airspace Review   
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...