Tampilkan postingan dengan label World. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label World. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2026

[Global] Malaysia Berencana Akuisisi Rudal Supersonik BrahMos dari India

  Perkuat Jet Su-30MKMPesawat SU30 MKI menembakan rudal BrahMos (IAF)

Pemerintah Malaysia dilaporkan tengah mempertimbangkan rencana akuisisi sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dari India untuk memperkuat armada pertahanannya.

Hal tersebut dikatakan oleh Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dalam wawancaranya bersama media India, NDTV.

Anwar menyampaikan, pembahasan mengenai potensi pembelian persenjataan tersebut telah didiskusikan dalam pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Meski demikian, Anwar menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final yang diambil oleh pemerintah Malaysia.

 Diserahkan ke TUDM

Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada pihak militer yang memiliki keahlian di bidangnya, khususnya Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM).

Kami telah berdiskusi, namun posisi saya umumnya menyerahkan kepada departemen atau lembaga terkait yang memiliki keahlian di angkatan udara untuk melanjutkan pembahasan,” ujar Anwar.

Ia menambahkan bahwa diskusi tahap awal telah berjalan dan dirinya mendukung penuh kerja sama tersebut guna memperkuat hubungan bilateral kedua negara yang berlandaskan rasa saling percaya.

Para analis memprediksi varian yang menjadi incaran utama Malaysia adalah BrahMos versi air-launched (peluncuran udara). Rudal ini rencananya akan diintegrasikan untuk memperkuat jet tempur Sukhoi Su-30MKM milik TUDM.

BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik dengan mesin ramjet. Sistem persenjataan ini dikembangkan melalui usaha patungan antara Defense Research and Development Organisation (DRDO) asal India dan NPO Mashinostroyeniya dari Rusia di bawah naungan BrahMos Aerospace.

Varian rudal ini memiliki fleksibilitas tinggi karena dapat diluncurkan dari kapal selam, kapal perang, pesawat tempur, hingga pelancar bergerak di darat (transporter erector launcher).

 Uji Coba Pertama oleh Jet Su-30MKI pada 2017

Uji coba peluncuran rudal jelajah supersonik BrahMos varian udara dari pesawat tempur Sukhoi Su-30MKI milik Angkatan Udara India sukses dilaksanakan untuk pertama kalinya pada 22 November 2017.

Uji coba bersejarah yang berlangsung di Teluk Bengkulu tersebut menjadi tonggak penting dalam membuktikan kemampuan integrasi rudal berdaya jelajah tinggi ini pada jet tempur buatan Rusia.

Pengembangan teknologi sistem persenjataan tersebut terus berlanjut hingga India menggelar uji peluncuran terhadap target darat pada 17 Desember 2019.

Keberhasilan uji coba tersebut membuktikan fleksibilitas rudal BrahMos-A dalam menghancurkan target strategis di darat maupun di lautan secara akurat dengan kecepatan supersonik.

Kemampuan kombinasi ini semakin ditingkatkan melalui uji coba penembakan rudal BrahMos versi jangkauan diperluas pada 29 Desember 2022.

Peluncuran dari Su-30MKI yang berhasil menghantam sasaran kapal perang sejauh 450 km tersebut secara resmi menandai kesiapan operasional penuh persenjataan ini di skuadron IAF. (AF)

  ✈️
Airspace Review    

Rabu, 02 September 2026

[Global] AS Pertimbangkan Desain Fregat Mogami, Chungnam, dan Istanbul untuk Diakuisisi

 ⚓️ 👷 Tiga kandidat utama (wikimedia)

Gedung Putih dan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dilaporkan tengah mempertimbangkan desain kapal fregat dari Jepang, Korea Selatan, dan Turkiye untuk memperkuat armada tempur masa depan mereka.

Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mempercepat ekspansi armada militer secara masif.

Berdasarkan sumber industri yang dihimpun USNI News, rencana kompetisi internasional ini berpotensi memicu perubahan besar dalam kebijakan pertahanan AS.

Dalam rencana ini, dua kapal pertama akan dibangun di galangan kapal asing sebelum akhirnya dialihkan ke galangan kapal domestik AS.

Keputusan tersebut akan memecahkan tradisi dan aturan hukum konstruksi angkatan laut domestik AS yang telah bertahan lebih dari satu abad.

 Dispensasi demi Keamanan Nasional AS

Pertimbangan untuk membeli kapal perang dari luar negeri ini mengemuka setelah Gedung Putih menerbitkan memo yang memberikan dispensasi (waiver) atas dasar kepentingan keamanan nasional.

Langkah ini membebaskan Pentagon dari batasan hukum AS yang sebelumnya melarang kapal perang buatan luar negeri masuk ke dalam jajaran Angkatan Laut AS.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS, Hung Cao, telah memerintahkan jajarannya untuk memimpin pengkajian terhadap kapal kombatan internasional, kapal kargo roll-on/roll-off, hingga kapal tanker pengisi bahan bakar di laut (CONSOL) untuk Military Sealift Command. Hasil pengkajian ini ditargetkan selesai pada 12 November 2026.

 Tiga Kandidat Utama

Tiga kandidat kapal perang utama yang masuk dalam radar kompetisi internasional ini mencakup versi ekspor dari fregat berpeluru kendali kelas Mogami buatan Mitsubishi Heavy Industries (Jepang), fregat kelas Chungnam dari Korea Selatan, dan fregat kelas Istanbul buatan galangan kawpal Turkiye.

Juru Bicara US Navy, Kolonel Ron Flanders, menyatakan AS tengah aktif mengembangkan berbagai opsi untuk memenuhi mandat presiden dalam mempercepat pengadaan kapal perang seraya memanfaatkan keahlian industri galangan kapal negara sekutu.

Skema pengadaan ini berencana mengadopsi apa yang dikenal sebagai “Model Finlandia”. Melalui pendekatan ini, pembangunan dua lambung kapal pertama akan dilakukan di galangan kapal asing, yang kemudian diikutsertakan dengan komitmen investasi asing ke dalam fasilitas dan infrastruktur galangan kapal domestik AS.

Konsep ini serupa dengan program Arctic Security Cutter milik US Coast Guard, di mana galangan kapal Finlandia membangun lambung awal berdasarkan desain Kanada sebelum mengalihkan seluruh proses manufaktur ke dalam negeri AS.

Direktur Office of Management and Budget (OMB), Russ Vought, menyuarakan dukungan penuh terhadap model ini guna mendorong kompetisi yang lebih terbuka di seluruh sektor galangan kapal Angkatan Laut AS.

 Peran untuk Misi Sederhana

Urgennya pengadaan ini didasari oleh adanya celah kemampuan (capability gap) pada armada permukaan US Navy saat ini.

Kapal perusak kelas Arleigh Burke yang sejatinya dirancang untuk peperangan tingkat tinggi sering kali harus dikerahkan untuk misi-misi dasar yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh armada yang lebih sederhana seperti fregat.

Kehadiran fregat baru diharapkan dapat mengisi peran pengawalan bernilai tinggi serta pengoperasian di wilayah perairan yang kurang rawan, sehingga kapal perusak dapat difokuskan sepenuhnya pada misi-misi tempur utama.

 Perlawanan Ketat dari Kongres

Program fregat baru ini juga muncul setelah pembatalan program fregat kelas Constellation (FFG-62) oleh Sekretaris Angkatan Laut sebelumnya, John Phelan, yang mengalihkan fokus ke program FFX berbasis National Security Cutter.

Meskipun demikian, langkah Gedung Putih untuk menggunakan desain dan galangan luar negeri mendapat perlawanan ketat dari Kongres AS.

Dalam rancangan Undang-Undang Kebijakan Pertahanan Tahun Anggaran 2027, Komite Angkatan Bersenjata Senat maupun House of Representatives berusaha membatasi wewenang eksekutif dengan menghentikan alokasi anggaran bagi kapal perang Amerika yang dibangun di galangan kapal asing.

Kendati masa depan anggaran tersebut masih diperdebatkan di Capitol Hill, dorongan untuk memanfaatkan teknologi manufaktur sekutu seperti Korea Selatan dan Jepang terus berjalan lewat rangkaian kunjungan pejabat tinggi US Navy ke berbagai galangan kapal di Asia. (RNS)

 ⚓️ 
airspace Review  

Selasa, 11 Agustus 2026

[Global] Vietnam Mulai Bangun Fregat Anti-Kapal Selam Domestik

  Mengurangi barang import
Desain kapal fregat pertama Vietnam, dengan panjang 105 meter.(VTV8)

Vietnam telah memulai konstruksi fregat anti kapal selam terbesar dan tercanggih dengan kemampuan khusus mendeteksi dan memerangi kapal selam asing. Hal ini diumumkan surat kabar militer negara tersebut. Fregat yang dibangun di galangan kapal Song Thu milik Kementerian Pertanahan di kota Danang tersebut rencananya akan dilengkapi dengan persenjataan dan peralatan militer yang dikembangkan dan dirakit di dalam negeri, jelas surat kabar Quan Doi Nhan Dan pada Senin(10/8).

Ketegangan antara Cina dan negara-negara di zona perbatasan Laut Cina Selatan terus meningkat. Dalam sepekan terakhir, kapal Cina Coast Guard turut terlibat dalam beberapa konfrontasi dengan kapal pemerintah Filipina dan turut menggelar latihan militer di sekitar wilayah tersebut.

Vietnam yang telah lama terlibat dalam pusaran sengketa maritim Cina dan negara lainnya terkait Laut Cina Selatan berupaya memperluas kemampuan manufaktur pertahanan dalam negerinya sembari mengurangi ketergantungannya akan peralatan militer yang diimpor sebagian besar dari Rusia.

Pemerintah Vietnam dalam pernyataannya, menggadang proyek ini dapat mengembangkan industri pertahanan yang "otonom, mandiri, serbaguna, dan modern."

Grup telekomunikasi dan teknologi yang dikelola militer, Viettel, bersama unit-unit penelitian dan manufaktur pertahanan lainnya, mendukung angkatan laut dan Song Thu selama pembangunan kapal tersebut, termasuk pengembangan dan pemasangan senjata serta peralatan, demikian jelas lebih lanjut dalam laporan tersebut.

Angkatan Laut Vietnam telah menjalani upaya modernisasi besar-besaran selama beberapa dekade terakhir. Selain dengan pembelian kapal selam tipe Kilo dan fregat kelas Gepard buatan Rusia, Vietnam juga mengembangkan dan menambah jumlah armada kapal rudal dan kapal patroli buatan dalam negeri.

Akhir tahun mendatang, Vietnam akan menjadi tuan rumah Vietnam International Defence Expo. Acara dua tahunan yang telah digelar sejak 2020 itu menjadi ajang penting bagi negara tersebut memperluas kerja sama pertahanan dan mendiversifikasi produsen peralatan militernya.

 Menggandeng Australia sebagai mitra

Dalam kesempatan terpisah di Australia, Presiden Vietnam, To Lam, menemui Perdana Menteri Anthony Albanese di Canberra pada Selasa (11/8). Kedua negara menyatakan akan memperluas kerja sama militer, melakukan latihan militer bersama, menguatkan dukungan keamanan maritim. Hal ini disampaikan di tengah perluasan pengaruh Beijing di Pasifik dan Laut Cina Selatan.

"Industri pertahanan serta angkatan bersenjata kami bekerja sama lebih erat lagi," kata Albanese kepada wartawan setelah pertemuannya dengan pemimpin tertinggi Vietnam tersebut. "Dunia yang penuh ketidakpastian saat ini berarti pentingnya interaksi antar negara sahabat di semua tingkatan dari ekonomi, sosial, hingga lingkungan hidup guna menghadapi tantangan yang ada di hadapan kita," tambahnya.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan pada hari Selasa (11/8) bahwa kerja sama yang semakin erat dengan Vietnam akan "secara langsung berkontribusi pada stabilitas dan keamanan kawasan."

Kunjungan pemimpin Vietnam ke Australia ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran kedua negara terhadap peningkatan kekuatan militer Cina di kawasan. Australia juga sedang meningkatkan kemampuan militernya secara signifikan dan menyebutnya sebagai "ekspansi sekali dalam satu generasi". Australia turut mempererat kerja sama militernya dengan AS, meningkatkan kehadiran militer AS di Australia untuk mengimbangi kekuatan militer Beijing di kawasan.

Penguatan kerja sama militer kedua negara tersebut disertai serangkaian komitmen untuk memperkuat "ketahanan ekonomi" serta membuka kembali akses pasar bagi daging hewan buruan Australia ke Vietnam. (ita/ita)

  👷  detik  

Jumat, 17 Juli 2026

[Global] Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal Supersonik

🛩 Turki Pamer Kekuatan Baru di Langit NATO Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal (Baykar)

Hanya beberapa hari setelah para pemimpin NATO membicarakan masa depan peperangan drone di Ankara, Turki langsung memperlihatkan bahwa negara itu bukan sekadar tuan rumah pertemuan. Ankara juga ingin menjadi salah satu penentu arah teknologi tempur nirawak di dalam aliansi militer tersebut.

Pesawat tempur nirawak Bayraktar KIZILELMA S2 berhasil meluncurkan rudal udara-ke-permukaan supersonik JET-230 buatan Roketsan dan mengenai sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer. Uji tembak itu bukan hanya menambah jenis senjata yang dapat dibawa KIZILELMA. Keberhasilan tersebut memperlihatkan kemampuan Turki menggabungkan pesawat, rudal, radar, sensor, perangkat lunak misi, dan sistem kendali ke dalam satu rantai serangan yang sebagian besar dibangun oleh industri pertahanannya sendiri.

Baykar mengumumkan keberhasilan tersebut pada Senin (13/7/2026). Menurut laporan Anadolu Agency pada Selasa (14/7/2026), pesawat produksi seri bernomor ekor S2 meninggalkan pusat pengujian Baykar di Çorlu pada 8 Juli menuju Pangkalan Jet Utama Kelima di Merzifon. Pada 11 Juli, KIZILELMA lepas landas dengan membawa dua JET-230 di bawah sayap, kemudian menembakkan salah satunya ke sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer.

Uji coba itu datang hanya empat hari setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meluncurkan inisiatif NATO Drone Edge dalam Forum Industri Pertahanan NATO di Ankara pada 7 Juli. Rutte mengatakan drone telah mengubah karakter peperangan modern dan menjadi faktor penentu di medan perang. Negara-negara NATO kemudian berkomitmen menginvestasikan lebih dari 40 miliar dolar AS untuk kemampuan antidrone dalam lima tahun serta melatih lima kali lebih banyak operator drone hingga akhir 2027.

Urutan waktunya mengandung pesan politik yang sulit diabaikan. Ketika NATO sedang mencari cara memperbesar kemampuan drone dan antidrone, Turki memperlihatkan sebuah pesawat tempur nirawak produksi seri yang sudah mampu membawa rudal supersonik jarak jauh.

Namun, superioritas yang sedang dibangun Ankara bukan sekadar terletak pada seberapa jauh rudalnya dapat terbang. Keunggulan yang lebih penting berada pada kemampuan Turki menguasai hampir seluruh mata rantai teknologi yang dibutuhkan untuk menemukan, mengenali, mengunci, dan menyerang sasaran.

Melampaui Kecepatan Suara

Senjata supersonik bergerak melampaui kecepatan suara. Baykar juga belum memublikasikan spesifikasi lengkap JET-230, termasuk jenis sistem pencari sasaran, bobot hulu ledak, metode pemanduan terminal, dan kecepatan maksimumnya. Jarak lebih dari 120 kilometer merupakan jarak penembakan yang telah diperlihatkan dalam uji coba, bukan berarti batas jangkauan maksimal senjata tersebut sudah diketahui secara independen.

Rudal yang paling dekat sebagai pembanding adalah UAV-230 atau IHA-230 buatan Roketsan. Perusahaan menyebut rudal balistik udara-ke-permukaan tersebut memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer, bergantung pada kecepatan dan ketinggian platform ketika senjata dilepaskan.

UAV-230 berbobot sekitar 225 kilogram, membawa hulu ledak 42 kilogram, menggunakan pemanduan inersial berbantuan GNSS, dan dirancang untuk menyerang radar pertahanan udara, pusat komunikasi, kendaraan lapis baja ringan, pusat komando, serta sasaran di darat ataupun laut. Setelah dijatuhkan dari pesawat, rudal mengalami fase jatuh bebas sebelum motor berbahan bakar padatnya menyala.

Konstruksi seperti itu memungkinkan rudal memanfaatkan ketinggian dan kecepatan awal pesawat peluncur. Semakin cepat dan tinggi platform terbang ketika melepaskan rudal, semakin besar energi awal yang dapat digunakan untuk memperluas jangkauan.

Namun, spesifikasi UAV-230 tidak dapat langsung dianggap sebagai spesifikasi JET-230. Keduanya mungkin berada dalam jalur pengembangan yang sama, tetapi Baykar dan Roketsan belum membuka cukup data untuk memastikan bahwa bobot, hulu ledak, sistem pemanduan, serta kemampuan antijamming keduanya identik.

Dari Pembawa Bom Menjadi Penyerang Jarak Jauh

Sebelum membawa JET-230, KIZILELMA telah diuji menggunakan sejumlah bom dan rudal berpemandu Turki, termasuk TOLUN, TEBER-82, KGK, LGK-82, dan rudal udara-ke-udara GOKDOGAN. Penambahan JET-230 mengubah kualitas ancaman yang dapat diberikan pesawat tersebut.

Bom berpemandu konvensional umumnya menuntut pesawat mendekat ke wilayah sasaran. Kondisi itu meningkatkan risiko platform masuk ke dalam jangkauan radar, rudal permukaan-ke-udara, dan sistem peperangan elektronik lawan.

Sebagai perbandingan, MAM-L, salah satu munisi yang membuat drone Turki dikenal di berbagai konflik, memiliki jangkauan sekitar 15 kilometer menurut Roketsan. JET-230 dalam pengujian terbaru mengenai sasaran dari jarak lebih dari 120 kilometer. Artinya, tanpa menyamakan fungsi kedua senjata, jarak serang yang diperlihatkan JET-230 setidaknya delapan kali lebih jauh daripada jangkauan MAM-L.

Lompatan itu memungkinkan KIZILELMA menjalankan serangan stand-off, yakni melepaskan senjata dari luar jangkauan efektif sebagian pertahanan udara lawan. Pilot manusia tidak perlu diterbangkan menuju wilayah dengan tingkat ancaman tinggi. Apabila pesawat hilang, kerugiannya tetap mahal, tetapi tidak disertai risiko tewas atau tertangkapnya penerbang.

Konsep tersebut sangat relevan untuk misi penekanan pertahanan udara. KIZILELMA dapat diarahkan untuk membidik radar, pusat komunikasi, pos komando, kapal, atau fasilitas strategis sebelum pesawat berawak memasuki wilayah operasi.

KIZILELMA juga dapat digunakan sebagai umpan untuk memaksa radar lawan menyala. Begitu radar memancarkan sinyal dan posisinya terdeteksi, sistem lain dapat menyerangnya. Dalam skenario berbeda, beberapa pesawat nirawak bisa dikirim dalam gelombang awal untuk menguras rudal pertahanan udara musuh sebelum jet berawak melanjutkan serangan.

Di sinilah arti penting pesawat tempur nirawak menjadi lebih besar daripada drone bersenjata konvensional. Platform tersebut bukan hanya dirancang untuk mengawasi wilayah atau menjatuhkan bom ke sasaran yang pertahanannya lemah. Ia dipersiapkan menjadi bagian dari operasi udara kompleks yang sebelumnya hampir sepenuhnya menjadi wilayah jet tempur berawak.

Superioritas Turki Ada pada Ekosistemnya

Spesifikasi Drone KIZILELMA Turki. - (Erdy Nasrul/Republika)

Turki memang belum mengungguli Amerika Serikat dalam keseluruhan teknologi penerbangan tempur. Amerika masih memiliki jaringan satelit, pesawat siluman operasional, kapal induk, pesawat pengisian bahan bakar, sistem komando global, dan anggaran pertahanan yang tidak dapat ditandingi Ankara.

Namun, di sektor pesawat tempur nirawak, Turki telah menempatkan diri di kelompok terdepan. Yang membuat kemajuannya menonjol bukan satu produk tertentu, melainkan kemampuan beberapa perusahaan nasional mengembangkan komponen yang saling melengkapi.

Baykar memproduksi wahana terbang dan perangkat lunak kendalinya. Roketsan menyediakan rudal. ASELSAN mengembangkan radar serta sensor elektro-optik. TUBITAK SAGE memproduksi senjata udara-ke-udara. Perusahaan-perusahaan itu tidak lagi berdiri sebagai pemasok produk terpisah, tetapi membentuk ekosistem pertempuran.

Pada November 2025, KIZILELMA menggunakan radar AESA MURAD buatan ASELSAN untuk mendeteksi dan mengunci sasaran udara bermesin jet. Pesawat itu kemudian menembakkan rudal GOKDOGAN buatan TUBITAK SAGE dan mengenai sasaran di luar jangkauan visual. Baykar menyebutnya sebagai keberhasilan pertama pesawat tempur nirawak menghancurkan sasaran udara bermesin jet dengan rudal udara-ke-udara BVR. Karena klaim “pertama di dunia” berasal dari produsen, klaim tersebut tetap perlu diposisikan sebagai pernyataan Baykar, bukan penilaian independen universal.

Sebulan kemudian, dua prototipe KIZILELMA melakukan penerbangan formasi rapat secara otonom menggunakan algoritma armada cerdas. Kemampuan tersebut diarahkan agar beberapa pesawat nirawak dapat mengatur posisi, berpatroli, dan menjalankan misi bersama di bawah satu komando.

Pada Mei 2026, Baykar dan perusahaan pertahanan Italia Leonardo juga menguji kerja sama KIZILELMA dengan pesawat M-346 dalam program K-SWARM. Uji coba tersebut memindahkan konsep kerja sama pesawat berawak dan nirawak dari lingkungan simulasi menuju penerbangan langsung.

Rangkaian itu memperlihatkan arah pengembangan yang jelas. KIZILELMA tidak disiapkan hanya sebagai pesawat yang dikendalikan operator dari darat. Platform ini diarahkan menjadi rekan tempur otonom bagi pesawat berawak, anggota armada drone, pembawa rudal udara-ke-udara, serta peluncur senjata jarak jauh.

Sementara itu, sistem TOYGUN buatan ASELSAN menyediakan pencitraan dan penargetan elektro-optik yang dipasang menyatu dengan badan pesawat. Menurut ASELSAN, sistem tersebut dikembangkan untuk platform yang sangat memperhitungkan penampang radar dan hambatan aerodinamis serta dapat mendukung misi udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan.

Dengan radar MURAD, sensor TOYGUN, rudal GOKDOGAN, dan JET-230, Turki sedang membangun rantai serangan dari sensor hingga senjata. Pesawat dapat menemukan sasaran, membangun gambaran situasi, meneruskan data, memilih senjata, dan melepaskan serangan dengan ketergantungan yang lebih kecil pada pemasok luar negeri.

Inilah superioritas yang paling sulit ditiru: bukan membuat satu drone, tetapi membuat ekosistem yang memungkinkan drone tersebut berperang.

Terbesar Kedua

Turki kerap disebut sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat. Pernyataan itu perlu dibuat lebih presisi.

NATO menyatakan Turki memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di dalam aliansi, terutama berdasarkan jumlah personel. NATO kembali menggunakan keterangan tersebut menjelang Konferensi Tingkat Tinggi di Ankara pada Juli 2026.

Namun, “terbesar kedua” tidak otomatis berarti “terkuat kedua” dalam seluruh indikator militer. Kekuatan militer juga ditentukan oleh anggaran, kesiapan tempur, senjata nuklir, jumlah pesawat modern, kemampuan intelijen, armada laut, logistik jarak jauh, teknologi antariksa, dan pengalaman operasi gabungan.

Inggris dan Prancis, misalnya, memiliki senjata nuklir serta kemampuan proyeksi kekuatan global. Sejumlah anggota NATO lain mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur generasi kelima. Karena itu, tidak terdapat peringkat resmi NATO yang menetapkan Turki sebagai negara “terkuat kedua” secara keseluruhan.

Keunggulan Ankara justru lebih tepat digambarkan sebagai gabungan antara jumlah personel yang besar, lokasi strategis, pengalaman operasi, dan industri pertahanan yang tumbuh cepat, terutama pada drone, rudal, radar, peperangan elektronik, kendaraan lapis baja, dan kapal perang.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan menyebut perkembangan industri pertahanan Turki sebagai sebuah “revolusi industri pertahanan” ketika berpidato di kompleks ASELSAN pada 22 April 2026. Ia mengatakan NATO dapat belajar dari cara Turki menggabungkan produksi dan inovasi.

Uji JET-230 memberi bentuk nyata pada pujian tersebut. Turki tidak lagi hanya menyediakan tentara dalam jumlah besar untuk menjaga sisi selatan NATO. Negara itu juga mulai menawarkan teknologi yang sedang sangat dibutuhkan aliansi.

Kemandirian Turki Belum Sempurna

Meski demikian, narasi bahwa seluruh sistem KIZILELMA sepenuhnya bebas dari teknologi asing juga harus disikapi hati-hati. Sebagian besar avionik, radar, sensor, senjata, perangkat lunak, dan struktur pesawat memang dikembangkan perusahaan Turki. Namun, mesin jet masih menjadi salah satu titik ketergantungan penting dalam program tersebut.

Baykar sebelumnya mengakui mesin sebagai teknologi kritis dan menargetkan pengembangan mesin dalam negeri untuk KIZILELMA. Haluk Bayraktar mengatakan perusahaan berinvestasi pada teknologi mesin karena kemampuan itu diperlukan agar Turki benar-benar mandiri dalam memproduksi pesawat tempur nirawak.

Keterbatasan lain terlihat pada konfigurasi uji JET-230. Dua rudal dipasang di bawah sayap. Senjata eksternal menambah hambatan udara dan dapat memperbesar pantulan radar, sehingga keuntungan karakteristik siluman pesawat berpotensi berkurang.

Dengan kata lain, konfigurasi KIZILELMA yang membawa senjata besar di luar badan pesawat harus dipahami sebagai kompromi. Pesawat memperoleh jarak serang dan daya hancur lebih besar, tetapi mungkin kehilangan sebagian keunggulan observabilitas rendahnya.

Keberhasilan mengenai sasaran uji juga belum sama dengan keberhasilan menembus pertahanan udara terintegrasi dalam peperangan nyata. Sasaran dalam pengujian telah ditentukan, ruang udara dikendalikan, dan tidak ada bukti terbuka bahwa rudal harus menghadapi pengacauan elektronik, pencegatan, sasaran yang melakukan manuver, atau jaringan pertahanan berlapis.

Karena itu, uji coba tersebut membuktikan integrasi dasar pesawat dan senjata, tetapi belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam perang berintensitas tinggi.

Status produksi seri juga tidak serta-merta berarti platform telah mencapai kesiapan tempur penuh. Baykar sebelumnya menyatakan produksi telah dimulai dan KIZILELMA ditargetkan masuk inventaris pada 2026, tetapi proses pengujian, sertifikasi, pelatihan operator, pematangan doktrin, serta integrasi ke sistem komando tetap menentukan kapan pesawat itu benar-benar siap digunakan secara luas.

Drone Turki Bukan Lagi Sekadar Produk Murah

Baykar telah membangun ekspansi internasional dari keberhasilan Bayraktar TB2 dan AKINCI. Perusahaan itu melaporkan memperoleh pendapatan ekspor sebesar 2,2 miliar dolar AS pada 2025, sementara 88 persen dari total pendapatannya berasal dari pasar luar negeri. Baykar juga menyebut telah menandatangani kontrak ekspor dengan puluhan negara.

Data tersebut berasal dari perusahaan dan perlu dibaca sebagai laporan korporasi. Namun, besarnya porsi ekspor menunjukkan bahwa industri drone Turki tidak sepenuhnya bergantung pada pesanan pemerintah dalam negeri.

Pada tahap awal, daya tarik drone Turki terletak pada harga yang relatif terjangkau, kemudahan pengoperasian, serta kesediaan Ankara menjualnya kepada negara yang sulit memperoleh sistem serupa dari Amerika atau Eropa.

KIZILELMA membawa Turki menuju kelas pasar yang berbeda. Pesawat tempur nirawak bermesin jet, radar AESA, rudal BVR, sensor tertanam, dan senjata stand-off tidak lagi bersaing hanya dengan drone pengintai atau pembawa bom ringan. Platform itu mulai memasuki wilayah yang bersinggungan dengan jet tempur, loyal wingman, dan sistem udara tempur masa depan.

Artinya, Ankara sedang bergerak dari pemasok drone alternatif menjadi produsen arsitektur peperangan udara.

Pesan untuk NATO dan Indonesia

Bagi NATO, keberhasilan JET-230 memperlihatkan bahwa salah satu sumber teknologi drone paling aktif di dalam aliansi kini berada di Ankara, bukan hanya di Washington atau pusat-pusat industri Eropa Barat.

Hal itu memberi Turki daya tawar tambahan. Negara-negara NATO memerlukan drone dalam jumlah besar, sistem antidrone, rudal presisi, radar, dan kemampuan produksi cepat. Turki memiliki kapasitas untuk menawarkan sebagian kebutuhan tersebut ketika aliansi sedang meningkatkan pembelanjaan pertahanannya.

Bagi Indonesia, perkembangan KIZILELMA juga bukan kabar yang jauh. Pada Mei 2026, Republikorp Group dan Baykar menandatangani kesepakatan kerja sama pengembangan UCAV generasi baru yang berkaitan dengan KIZILELMA. Menurut keterangan yang diberitakan Antara pada Jumat (8/5/2026), kerja sama itu mencakup transfer teknologi, produksi dan integrasi lokal, fasilitas pemeliharaan, pengembangan sumber daya manusia, serta riset teknologi masa depan. Kesepakatan tersebut merupakan kerja sama pengembangan, bukan bukti bahwa Indonesia telah membeli sejumlah KIZILELMA.

Karena itu, uji JET-230 dapat menjadi gambaran mengenai jenis teknologi yang kelak berpotensi masuk dalam ruang kerja sama industri Indonesia-Turki. Namun, manfaatnya bagi Indonesia akan bergantung pada kedalaman transfer teknologi, akses terhadap perangkat lunak, hak integrasi senjata, kemampuan pemeliharaan, dan seberapa besar industri nasional dilibatkan, bukan semata-mata pada pembelian platform.

Turki belum menggantikan Amerika Serikat sebagai kekuatan udara dominan NATO. KIZILELMA juga belum membuktikan dirinya dalam pertempuran melawan pertahanan udara modern.

Tetapi Ankara telah memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada sebuah demonstrasi sesaat: konsistensi mengubah drone sederhana menjadi pesawat tempur nirawak, mengubah munisi jarak dekat menjadi rudal stand-off, serta mengubah industri yang pernah bergantung pada impor menjadi ekosistem yang mulai diperebutkan pasar dunia.

JET-230 yang melesat dari bawah sayap KIZILELMA membawa pesan yang lebih jauh daripada 120 kilometer. Di dalam NATO, Turki tidak lagi puas hanya menjadi negara dengan tentara terbesar kedua. Ankara ingin menjadi negara yang ikut menentukan seperti apa perang udara masa depan. (Eddy Nasrul)

  🛩
Republika  

Senin, 22 Juni 2026

[Global] Turki Pertama Kalinya Ekspor Kapal Perang ke negara NATO

  Hisar OPV https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKXSMurhhqDVEBoLznXwmMicF1cr6x82rDwISm0V4S631cY2RwKX19x6kZt0GQ12ydRALy-Rjv944E3o64FR9jVGYkdp-RpkjMDQohb_I5dA204qx12cLGqQGoKqFjXuRU6kcWrt2iVf68FxOVOWka4hOQh6nMyQTCfFpj1-3yTcuARXQcgUF5ADZ0Jpyt/s2048/IMG_0636.webp Kapal Hisar OPV pesanan Romania dalam sea trial (Asfat)

Turki mengekspor kapal perang ke negara anggota NATO dan Uni Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarahnya melalui perjanjian penjualan yang ditandatangani dengan Rumania.

Itu diungkapkan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Minggu.

Berbicara pada upacara penyerahan Kapal Patroli Lepas Pantai CAm. Roman kepada Komando Angkatan Laut Rumania dan upacara pengoperasian dan pengibaran bendera platform Komando Angkatan Laut Turki di Istanbul,

Erdogan menyoroti kemampuan industri pertahanan angkatan laut Turki yang berkembang.

“Dengan perjanjian penjualan yang kami tandatangani dengan Rumania, Turki mengekspor kapal perang ke negara anggota NATO dan Uni Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarahnya,” katanya, dilansir Anadolu.

Erdogan mengatakan Turki telah membangun lebih dari 140 platform angkatan laut untuk berbagai wilayah di seluruh dunia dan menggambarkan sektor pembuatan kapal militer negara itu sebagai sektor yang mengalami “masa paling intensif dan produktif” dalam sejarah 103 tahun republik tersebut.

Ia mengatakan Turki termasuk di antara negara-negara yang mampu membangun jumlah kapal perang terbanyak secara bersamaan.

Presiden juga menekankan kerja sama pertahanan dengan negara-negara mitra, mengatakan Turki menganggapnya sebagai kewajiban untuk berbagi kemampuan industri pertahanannya dengan negara-negara sahabat.

“Tujuan Turki bukanlah untuk menimbulkan ketegangan di kawasan kita, tetapi untuk memperkuat perdamaian, keadilan, ketenangan, dan stabilitas,” kata Erdogan.

Ia juga mengatakan lingkungan internasional tetap sangat bergejolak, menambahkan bahwa negara-negara yang kurang kuat di lapangan mungkin akan kesulitan untuk mengamankan tempat mereka di meja perundingan.

 Spesifikasi kapal Hisar OPV :

- Panjang : 99.56 m
- Lebar : 14 m
- Draft : 3.77 m
- Kecepatan : 24 knots
- Beban : 2300 tons

(ahm)


   sindonews   

Sabtu, 09 Mei 2026

[Global] Spanyol Lirik Jet Tempur KAAN Turki

Tangguhkan F-35 dan menilai sebagai simbol ketergantungan terhadap Amerika https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP4R842OujwJuHkKS2ttAdH03sniJCkc7u4s6Z4pHT7kTUkfQGVE5jqFgooMSpiMEYWCip0lm3j6_TTA0cDlraOFGVGBAaw3A8MWadzQyGfBD2lK9xsSY2U_vnybZexCNN2Lau5FcsFfuMZrdTv-3q5Gi48M_fC_lRghVjnVVEmWYWZgALTyyVGjF2N3MQ/s1920/INFOGRAFIK_Jet_Tempur_KAAN_Turki_Jaga_Langit_RI-2025_06_15-16_33_22_ac050a7345219e333b6c3c8d9d6547a2.jpgInfografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)

Negosiasi awal antara Spanyol dan Turki mengenai jet tempur generasi kelima KAAN di ajang SAHA Expo 2026 berkembang menjadi salah satu manuver geopolitik pertahanan paling strategis di NATO. Pembicaraan itu tidak sekadar menyangkut transaksi militer, melainkan membuka babak baru dalam persaingan pengaruh teknologi tempur udara di jantung aliansi Atlantik.

CEO Turkish Aerospace Industries (TUSAS), Mehmet Demiroglu, mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara Spanyol telah meminta informasi resmi mengenai KAAN. Menurut dia, komunikasi antarpemerintah kini memasuki tahap penjajakan awal yang melibatkan evaluasi teknis dan politik.

Langkah Madrid dinilai sangat signifikan karena muncul setelah Spanyol menangguhkan jalur akuisisi F-35 buatan Amerika Serikat pada Agustus 2025. Penundaan program Future Combat Air System (FCAS) Eropa hingga dekade 2040-an membuat Spanyol menghadapi kekosongan kemampuan udara siluman di tengah penuaan armada F/A-18 Hornet dan AV-8B Harrier.

Dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol juga semakin kritis terhadap ketergantungan teknologi militer pada Washington. Pemerintah Madrid disebut keberatan terhadap kontrol ITAR Amerika Serikat yang membatasi akses perangkat lunak, integrasi persenjataan, hingga fleksibilitas operasional nasional pada platform F-35. Di kalangan pertahanan Spanyol, F-35 bahkan mulai dipandang sebagai “kotak hitam” yang terlalu bergantung pada kendali teknologi Amerika.

Media Spanyol, El Espanol mencatat bahwa F-35, satu-satunya pesawat tempur generasi kelima Barat yang saat ini tersedia, tidak menawarkan transfer teknologi kepada mitra, kecuali kepada Israel.

Semua operator F-35 lainnya tidak dapat mengintegrasikan sistem mereka sendiri ke dalam pesawat, dan platform tersebut membutuhkan layanan yang hanya dapat disediakan oleh Amerika Serikat untuk kemampuan operasional penuh. Dalam skenario gesekan diplomatik atau masa perang, ketergantungan ini dapat membuat pesawat tidak dapat beroperasi.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Turki untuk masuk ke pasar strategis Eropa melalui KAAN. Ankara menawarkan kombinasi pesawat tempur siluman generasi kelima, fleksibilitas integrasi subsistem, partisipasi industri lokal, serta skema transfer teknologi yang lebih terbuka dibanding platform Barat, sebagaimana diberitakan Turkiye Today dan sejumlah media asing pada Kamis (7/5/2026).

Program KAAN sendiri kini berkembang menjadi simbol kebangkitan industri dirgantara strategis Turki. Pesawat itu dirancang memiliki karakteristik utama jet generasi kelima seperti desain siluman, internal weapons bay, sensor fusion, peperangan berbasis jaringan, hingga kemampuan supercruise. Program tersebut dipercepat Ankara setelah Turki dikeluarkan dari konsorsium F-35 akibat pembelian sistem pertahanan udara Rusia S-400 yang memicu sanksi Amerika Serikat.

Keberhasilan penerbangan perdana KAAN mengubah persepsi banyak analis Barat yang sebelumnya meragukan kemampuan Turki mengembangkan jet tempur generasi kelima secara mandiri. Ankara kini mempercepat pengembangan ekosistem tempur udara nasional mulai dari drone KIZILELMA, ANKA, Hürjet, hingga KAAN sebagai tulang punggung kekuatan udara masa depan Turki.

Minat terhadap KAAN juga mulai muncul dari sejumlah negara di luar Eropa, termasuk Indonesia. Republika.co.id sebelumnya melaporkan Indonesia resmi menandatangani rencana pembelian 48 unit KAAN dalam ajang IDEF 2025 di Istanbul. Kesepakatan itu menjadi kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah industri militer Turki sekaligus memperlihatkan meningkatnya kepercayaan internasional terhadap program KAAN.

Indonesia memilih KAAN bukan hanya karena faktor teknologi siluman generasi kelima, tetapi juga karena peluang transfer teknologi dan penguatan industri pertahanan nasional. Republika.co.id melaporkan kerja sama Ankara-Jakarta mencakup partisipasi industri, pengembangan kemampuan dirgantara domestik, serta peluang integrasi dengan ekosistem pertahanan udara Indonesia di masa depan. Skema tersebut dinilai jauh lebih menarik dibanding model pembelian jet tempur Barat yang cenderung tertutup dalam aspek teknologi strategis.

Bagi Indonesia, KAAN juga dipandang relevan untuk menghadapi dinamika keamanan Indo-Pasifik yang semakin kompleks. Kemampuan stealth, peperangan berbasis jaringan, sensor canggih, dan operasi tempur modern membuat KAAN diproyeksikan menjadi bagian penting modernisasi kekuatan udara TNI AU dalam jangka panjang.

Jika Spanyol benar-benar melangkah menuju akuisisi KAAN, maka dampaknya akan melampaui sekadar transaksi militer biasa. Keberhasilan Turki menembus pasar NATO dan Uni Eropa dengan jet tempur generasi kelima buatan sendiri berpotensi mengubah peta industri pertahanan global sekaligus memperkuat posisi Ankara sebagai kekuatan dirgantara baru dunia.

 Tak Selamanya Lockheed Martin

Munculnya jet tempur generasi kelima Turki, TAI KAAN, mulai mengubah peta industri pertahanan global yang selama ini didominasi oleh Lockheed Martin F-35 Lightning II. Jika sebelumnya pasar jet tempur stealth praktis hanya dikuasai Amerika Serikat, kini sejumlah negara mulai melirik alternatif baru yang dinilai lebih fleksibel secara politik maupun teknologi.

Secara desain, KAAN dan F-35 sama-sama mengusung teknologi stealth, sensor fusion, kemampuan peperangan elektronik, dan operasi berbasis jaringan. Namun keduanya lahir dari filosofi strategis yang berbeda.

F-35 dirancang sebagai bagian dari ekosistem militer global Amerika Serikat. Jet ini terintegrasi erat dengan sistem komando, perangkat lunak, logistik, dan pembaruan data yang dikendalikan Washington. Karena itu, negara pengguna F-35 tetap bergantung pada persetujuan AS untuk pemeliharaan tertentu, integrasi senjata, hingga pembaruan software strategis.

Sebaliknya, KAAN diposisikan Turki sebagai simbol “kedaulatan teknologi pertahanan”. Ankara menawarkan jet ini dengan pendekatan yang lebih terbuka terhadap transfer teknologi, kerja sama industri, dan fleksibilitas integrasi sistem persenjataan lokal negara pembeli. Di sinilah letak daya tarik utama KAAN.

Sejumlah negara mulai melihat bahwa pembelian jet tempur kini bukan hanya soal kemampuan tempur, tetapi juga soal independensi geopolitik. Banyak negara tidak ingin seluruh sistem pertahanannya terkunci dalam kontrol satu kekuatan besar.

Spanyol, misalnya, mulai membuka pembicaraan awal terkait KAAN di tengah kegelisahan Eropa terhadap ketergantungan jangka panjang pada industri pertahanan AS. Media pertahanan Eropa menyebut Madrid tertarik pada peluang transfer teknologi serta ruang partisipasi industri domestik yang lebih luas dibanding skema F-35.

Indonesia juga menjadi salah satu negara yang disebut memiliki ketertarikan terhadap KAAN. Selain faktor hubungan strategis dengan Turki yang terus menguat, Jakarta dinilai melihat peluang memperoleh akses teknologi dan kerja sama industri yang lebih besar. Dalam sejumlah laporan media nasional, kerja sama pertahanan Indonesia–Turki berkembang cepat, mulai dari drone, kendaraan tempur, hingga pengembangan industri strategis.

Berbeda dengan F-35 yang memiliki harga operasional sangat tinggi, KAAN juga diproyeksikan menawarkan biaya yang lebih kompetitif untuk negara berkembang maupun middle power yang ingin memiliki jet tempur generasi kelima tanpa harus sepenuhnya bergantung pada Washington.

Faktor lain yang membuat KAAN menarik adalah perubahan lanskap geopolitik global. Banyak negara kini berusaha menerapkan strategi “multi-alignment”, yakni menjaga hubungan dengan Barat tanpa sepenuhnya bergantung pada satu blok kekuatan. Dalam konteks itu, Turki dipandang berada di posisi unik: anggota NATO, tetapi tetap memiliki kebijakan luar negeri yang relatif independen.

KAAN akhirnya bukan sekadar proyek pesawat tempur. Ia mulai dipandang sebagai simbol munculnya pusat kekuatan teknologi militer baru di luar dominasi tradisional Amerika Serikat, Rusia, dan China.

  Republika 

Rabu, 06 Mei 2026

[Global] Turkiye Luncurkan Rudal Balistik Yildirimhan Jangkauan 6.000 Km

🚀 Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida Rudal Yildirimhan (Republika)

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Nasional Turki meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Yildirimhan di Pameran Pertahanan dan Dirgantara Internasional SAHA 2026, Istanbul, Selasa (5/5/2026). Hal itu menandai pengenalan publik salah satu sistem rudal jarak jauh tercanggih di Turki.

Rudal antarbenua tersebut mampu mencapai kecepatan Mach 25 dan memiliki jangkauan yang dilaporkan sejauh 6.000 kilometer (km). Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida sebagai bahan bakar dan ditenagai oleh empat mesin propulsi roket.

Perusahaan pertahanan Turki dan lembaga publik memamerkan platform dan teknologi yang baru dikembangkan di pameran yang berlangsung pada 5-9 Mei 2026 itu. Dilaporkan Anadolu, peluncuran rudal terjadi ketika Turki terus memperluas kemampuan industri pertahanannya, termasuk drone, teknologi rudal, pertahanan udara, penerbangan, dan platform terkait ruang angkasa.

  Produk baru 
Beberapa teknologi Turki dipamerkan untuk pertama kalinya di SAHA 2026. Munisi keliling cerdas Mizrak produksi Baykar yang dikembangkan secara nasional dan orisinal, dengan jangkauan lebih dari 1.000 km dan kemampuan otonom berbasis AI, diluncurkan di pameran itu. UAV Kamikaze K2 dan munisi keliling Sivrisinek milik Baykar juga akan dipamerkan untuk pertama kalinya.

Aselsan juga memperkenalkan lima produk baru dan versi terbaru dari enam produk kepada ekosistem pertahanan global, termasuk kemampuan serangan baru untuk Blue Homeland Turkiye. Teknologi itu akan menambah kemampuan baru pada sistem pertahanan udara Steel Dome, serta sistem-sistem baru yang akan menjadi pengubah permainan dalam serangan udara.

Platform Sistem Senjata Energi Terarah Alka-Kaplan Hybrid, yang dikembangkan atas kerja sama Roketsan dan FNSS dan dikenal sebagai senjata laser, turut dipresentasikan di SAHA 2026 dengan kemampuan tambahan. STM memamerkan sistem udara dan angkatan lautnya yang dikembangkan untuk kebutuhan medan perang modern.

STM membawa UAV kamikaze jarak jauh, versi baru UAV kamikaze sayap tetap Alpagu dengan kemampuan yang ditingkatkan, sistem drone pencegat yang menghadirkan pendekatan inovatif untuk pertahanan udara. Juga, ada sistem pengintaian pengawasan mini yang dirancang untuk memberikan intelijen dan aliran data secara real-time. Pameran itu dihadiri lebih 140 delegasi negara..


  🚀 
Republika  

Senin, 27 April 2026

[Global] Korea Utara Lirik Su-35 dari Rusia

  Untuk modernisasi angkatan udaranya  
Ilustrasi SU35 Rusia, dikabarkan akan di beli Indonesia (TASS)
Korea Utara dilaporkan tengah mempertimbangkan akuisisi jet tempur kelas berat Su-35 dari Rusia. Langkah ini diambil untuk memperkuat pertahanan udara mereka secara signifikan.

Kesepakatan potensial ini mencakup pembelian sekitar 12 hingga 14 unit pesawat, menurut laporan Military Watch Magazine, dengan nilai kontrak diperkirakan mencapai angka 1 miliar dolar AS.

Rusia sendiri telah meningkatkan kapasitas produksi Su-35, sehingga peluang ekspor ke negara mitra terbuka lebih lebar.

Kehadiran Su-35 diproyeksikan oleh Pyongyang untuk menggantikan armada lama Angkatan Udara Korea Utara yang saat ini masih mengandalkan pesawat tua MiG-29 dan Su-25.

Meski kedua pesawat tersebut pernah menjadi legenda di masanya, pembaruan teknologi dibutuhkan untuk menghadapi dinamika konflik modern.

Akuisisi Su-35 dinilai akan membawa lompatan teknologi yang drastis bagi negara di Semenanjung Korea tersebut.

Su-35 merupakan jet tempur generasi 4++ yang memiliki kemampuan tempur luar biasa. Pesawat dibekali dengan berbagai fitur canggih, jauh melampaui armada tempur udara Korea Utara saat ini.

Radar modern yang digunakan Su-35 mampu mendeteksi dan melacak banyak target sekaligus dari jarak yang sangat jauh.

Pesawat juga dilengkapi mesin berteknologi Thrust Vectoring sehingga memberikan kelincahan ekstrem (supermaneuverability) di udara.

Untuk berperang, Su-35 dilengkapi rudal udara ke udara dan udara ke permukaan generasi terbaru dengan akurasi tinggi.

Jika kesepakatan ini terwujud, Korea Utara akan bergabung dengan daftar operator internasional jet tempur ini.

Faktor kedekatan Pyongyang dengan Moskow, dinilai dapat memuluskan rencana ini untuk direalisasikan. (AF)

  ✈️
  Airspace Review.  

Minggu, 19 April 2026

[Teror] Tentara Prancis Gugur di Lebanon

  👹 Presiden Macron Marah BesarIlustrasi Kendaraan UNIFIL Perancis (CNN) 🛡

Satu tentara Prancis yang bertugas dalam misi Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL) gugur pada Sabtu (18/4) waktu setempat.

Presiden Prancis Emmanuel Macron murka dan mengutuk keras terkait kematian tentaranya tersebut.

Pemerintah Prancis kemudian menyatakan bahwa tentaranya gugur kemungkinan besar karena serangan dari Hizbullah, milisi proksi Iran, dikutip dari Reuters.

Dalam percakapan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, Presiden Macron mengutuk insiden itu sebagai "serangan yang tidak dapat diterima."

Selain membuat satu tentara Prancis gugur, serangan yang diduga dari Hizbullah itu menyebabkan tiga personel UNIFIL terluka, dua di antaranya luka parah.

UNIFIL mengatakan penilaian awal menunjukkan bahwa tembakan berasal dari aktor non-negara, diduga Hizbullah, dan bahwa penyelidikan telah dilakukan atas apa yang disebutnya sebagai "serangan yang disengaja."

Macron juga mengatakan bukti sejauh ini mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran dan mendesak otoritas Lebanon untuk bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan patroli tersebut diserang saat menjalankan misi untuk membuka jalan menuju pos UNIFIL yang telah terisolasi oleh pertempuran di daerah tersebut.

UNIFIL menyatakan prajurit itu gugur tembakan senjata ringan langsung di Desa Ghandouriyeh, Lebanon selatan.

Tentara Lebanon mengutuk penembakan itu dan mengatakan telah membuka penyelidikan. Presiden Aoun menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan penyelidikan segera, sementara Perdana Menteri Salam juga mengutuk serangan itu.

Kematian tentara Prancis menambah korban gugur dari pasukan internasional dalam misi UNIFIL. Sebelumnya, tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia gugur akibat serangan dari Israel ke pos jaga di Lebanon selatan.

UNIFIL pertama kali dikerahkan pada tahun 1978 dan tetap berada di sana selama konflik berturut-turut, termasuk perang tahun 2024 di mana posisinya berulang kali menjadi sasaran tembakan. (bac)

  👹 CNN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...