Tampilkan postingan dengan label Hovercraft. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hovercraft. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Juli 2019
Selasa, 05 Mei 2015
[World] Hovercraft Zubr Class, Monster Laut Ciptaan Rusia
Zubr class, merupakan hovercraft militer terbesar di dunia, hovercraft merupakan wahana transportasi yang dapat digunakan untuk mendaratkan barang, atau personel yang menggunakan bantalan udara dan kipas besar untuk bergerak. Zubr class menjadi tulang punggung Voyenno-morskoy Flot Rossiyskoy Federatsii, atau AL Rusia ketika melakukan operasi amfibi. [thebrigade.com]
Zubr class atau yang berarti bison dalam bahasa Rusia, memang memiliki ukuran yang sangat besar, namun disitulah letak keunggulannya dibanding wahana hovercraft militer lainnya. Dengan berukuran besar, Zubr class mampu mengangkut lebih banyak personel, kendaraan militer dan dapat membawa senjata pertahanan diri lebih lengkap. [reddit.com]
Rusia sebagai perancang sekaligus operator, memang tidak tanggung-tanggung ketika membangun alutsista. Zubr class mampu melahap 140 personel militer, 80 kendaraan tempur dan dapat membawa 130 ton kargo, jumlah ini melebihi kapasitas angkut dari hovercraft buatan Amerika sekalipun, sehingga alutsista ini dijuluki monster. [waterlandandair]
Zubr class dirancang oleh Almaz pada tahun 1988, dan telah digunakan oleh 4 negara. Zubr class dilengkapi dengan 3 mesin kipas tipe NO-10 dan mesin 10 Kuznetsov NK-12MV gas turbines, yang mampu mendorong Zubr class hingga 63 knot, dengan jangkauan melaut mencapai 480 Km, Zubr class diawaki 31 personel. [2k2bt.com]
Sebagai wahana pengangkut pasukan dan kendaraan tempur, zubr class dilengkapi peralatan elektronik canggih dan radar. Ekran-1 navigational radar, Lazur radar, R-782 Buran communications system, Electronic Countermeasures System: Decoys, MS-227 chaff launcher, MP-411 ESM radar system. Peralatan ini dibutuhkan untuk mendeteksi lawan sejak dini, dan berkomunikasi dengan sesama unit lain. [armyphoto.net]
Zubr class dilengkapi senjata berat, sehingga menjadi kesalahan besar ketika kapal perang meremehkan kemampuan Zubr class. Rudal anti udara strela, A-630 air defense gun, ogon rocket launcher, mine dispenser, dan rudal grail. Puluhan senjata ini menjadikan Zubr class memiliki kemampuan ofensif, dan melindungi pasukan ketika mendarat di pantai. [wikimedia]
★ Tempo
Label:
Hovercraft,
World
Selasa, 24 April 2012
★ Hovercraft karya anak negeri
Ⓓalam
menjaga daerah perairan pulau-pulau yang tersebar di seluruh Indonesia,
diperlukan wahana yang bisa bergerak di dua alam. Jawabannya adalah
Hovercraft, suatu wahana transportasai yang dapat dengan leluasa
bergerak di dua alam tersebut. Untuk menjaga keamanan pesisir pantai dan
lepas pantai, TNI AL sangat memerlukan wahana transportasi ini yang
bisa dengan cepat mengangkut pasukan maupun logistik ke daerah penugasan
dengan cepat.
Ide pembuatan ini bermula dari proposal dua mahasiswa program doktoral di Den haag, Belanda, berkerjasama dengan perwira TNI AL kepada Pemerintah guna mendukung pembuatan kendaraan angkut amfibi berjenis hovercraft untuk kepentingan militer. Proposal yang diprakarsai oleh tim yang terbentuk tahun 1995 ini antara lain, Dr Ir Leonardus Gunawan, Dr Ir Soerjanto Tjahjono, dan Laksamana (Purn) Dr Dwi Nugroho, kemudian mengajukan proposal juga ke pihak swasta, tapi sayangnya tidak berlanjut.
Pertengahan tahun 1996 di kedutaan Indonesia di Belanda, KSAL waktu itu Laksamana Arief Kushariadi bersama Dwi Nugroho membicarakan pembuatan hovercraft untuk keperluan militer dan didukung oleh KSAL, berdasarkan dukungan tersebut, tim kecil ini mencari dana pinjaman lunak dari pemerintah Belanda.
Pada tahun 2004 merekapun bertemu dengan beberapa orang untuk mewujudkan mimpi membangun industri hovercraft di Indonesia. Tujuan utama untuk kepentingan Angkatan Laut dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara, tetapi bisa juga untuk kepentingan sipil seperti penyelamatan korban kecelakaan pesawat terbang yang berada radius 5 mil dari daerah pantai, keperluan SAR, dan sarana transportasi antar pulau yang tidak mempunyai pelabuhan laut.
Ide pembuatan ini bermula dari proposal dua mahasiswa program doktoral di Den haag, Belanda, berkerjasama dengan perwira TNI AL kepada Pemerintah guna mendukung pembuatan kendaraan angkut amfibi berjenis hovercraft untuk kepentingan militer. Proposal yang diprakarsai oleh tim yang terbentuk tahun 1995 ini antara lain, Dr Ir Leonardus Gunawan, Dr Ir Soerjanto Tjahjono, dan Laksamana (Purn) Dr Dwi Nugroho, kemudian mengajukan proposal juga ke pihak swasta, tapi sayangnya tidak berlanjut.
Pertengahan tahun 1996 di kedutaan Indonesia di Belanda, KSAL waktu itu Laksamana Arief Kushariadi bersama Dwi Nugroho membicarakan pembuatan hovercraft untuk keperluan militer dan didukung oleh KSAL, berdasarkan dukungan tersebut, tim kecil ini mencari dana pinjaman lunak dari pemerintah Belanda.
Pada tahun 2004 merekapun bertemu dengan beberapa orang untuk mewujudkan mimpi membangun industri hovercraft di Indonesia. Tujuan utama untuk kepentingan Angkatan Laut dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara, tetapi bisa juga untuk kepentingan sipil seperti penyelamatan korban kecelakaan pesawat terbang yang berada radius 5 mil dari daerah pantai, keperluan SAR, dan sarana transportasi antar pulau yang tidak mempunyai pelabuhan laut.
⚓ Hovercraft 'Lumba-Lumba'
Setelah
pertemuan tersebut, lalu didirikan perusahaan yang bernama PT Hoverindo,
yang mampu menyelesaikan lima unit pesanan TNI AL. Hovercraft ini
kemudian diberi nama 'Lumba lumba' yang mampu mengangkut 20 personil
atau logistik berkapasitas 2 ton. Pada Desember 2005, empat unit
berhasil di kirim dan menyusul kemudian satu unit pada tahun 2006.
Bersama Dislitbangal (Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Laut)
ditingkatkan untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam pengembangan
Teknologi hovercraft di Indonesia.
Pada tahun 2006 PT Hoverindo karena sesuatu hal tidak bisa melanjutkan produksinya untuk program hovercraft nasional, maka di lanjutkan dengan PT Sumber Daya Patriatama (SDP). Di tangan PT SDP berbagai macam hovercraft dapat di produksi, diantaranya dua unit hovercraft berkapasitas 6-8 penumpang untuk Pemda Boven Diguel, Papua.
Sebagai produk kebanggaan nasional ini yang sarat teknologi tinggi, banyak kendala dalam pengembangnya, maupun kurang perhatian masyarakat maupun pemerintah yang kurang intens dalam mendukung program hovercraft nasional tersebut. Apabila dilihat dari sisi teknologi, hovercraf produk anak bangsa ini tidak kalah dengan produk luar negeri, sedangkan dari sisi ekonominya, hovercraft ini lebih murah sampai 60% dari produk sejenis. Saat ini hovercraft 'Lumba lumba' ini termasuk dalam jajaran satuan kapal amfibi koarmatim, dua unitnya stand by di dalam deck Kapal Rumah Sakit KRI Dr Suharso (990).
Hovercraft yang berbahan baku utama Rubberizing Nylon ini bila melintas diatas ranjau tidak akan meledak, karena bahan bakunya yang tidak mengaktifkan ranjau laut maupun ranjau darat, dan terbebas dari sensor pendeteksi sonar.
Jarak jelajah hovercraft ini bisa ditempuh hingga 450 km dengan kecepatan hingga lebih 30 knot. Hovercraft ini sangat cocok digunakan Marinir dalam operasi-operasi amfibinya dan telah ikut serta dalam latihan besar gabungan TNI di Sangata, Kalimantan Timur. Keunikan Hovercraft adalah menggunakan baling-baling sebagai tenaga pendorong yang terpasang pada bagian belakang. Hovercraft ini dapat dioperasikan siang maupun malam karena terdapat sistem navigasi dan komunikasi yang modern dan dapat dipersenjatai untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Sebagian bahan baku pembuatan hovercraft ini masih di import seperti daun baling-baling dan mesin. Walaupun masih import, namun komponennya sebagai suku cadang banyak terdapat pada mesin truk yang beredar di Indonesia, sehingga memudahkan teknisi untuk merawat dan memperbaikinya. Sumber tenaga hovercrat ini biasanya mesin diesel atau bensin yang berdaya 466 tenaga kuda (HP) dan dapat menggerakan baling-baling sehingga menghasilkan tenaga pendorong yang dibutuhkan untuk manuver kencang atau lambat tergantung operatornya. Sisanya pada materi serat fiber untuk badan kapal, karet nylon untuk skirt (bantalan), adalah produk dalam negeri. Perlengkapan tambahan pada hovercraft ini berupa satu unit alat komunikasi radar antena high frequency, alat pemandu lokasi berteknologi GPS (Global Positioning System).
Dan dari semua kehebatannya, hovercraft ini dapat mendarat atau berlabuh di daerah pantai tanpa perlu pelabuhan laut dan di rawa-rawa, sehingga sangat berguna bila memasuki daerah yang terpencil di penjuru Nusantara ini.
Spesifikasi Hovercraft 'Lumba-Lumba" :
Pada tahun 2006 PT Hoverindo karena sesuatu hal tidak bisa melanjutkan produksinya untuk program hovercraft nasional, maka di lanjutkan dengan PT Sumber Daya Patriatama (SDP). Di tangan PT SDP berbagai macam hovercraft dapat di produksi, diantaranya dua unit hovercraft berkapasitas 6-8 penumpang untuk Pemda Boven Diguel, Papua.
Sebagai produk kebanggaan nasional ini yang sarat teknologi tinggi, banyak kendala dalam pengembangnya, maupun kurang perhatian masyarakat maupun pemerintah yang kurang intens dalam mendukung program hovercraft nasional tersebut. Apabila dilihat dari sisi teknologi, hovercraf produk anak bangsa ini tidak kalah dengan produk luar negeri, sedangkan dari sisi ekonominya, hovercraft ini lebih murah sampai 60% dari produk sejenis. Saat ini hovercraft 'Lumba lumba' ini termasuk dalam jajaran satuan kapal amfibi koarmatim, dua unitnya stand by di dalam deck Kapal Rumah Sakit KRI Dr Suharso (990).
Hovercraft yang berbahan baku utama Rubberizing Nylon ini bila melintas diatas ranjau tidak akan meledak, karena bahan bakunya yang tidak mengaktifkan ranjau laut maupun ranjau darat, dan terbebas dari sensor pendeteksi sonar.
Jarak jelajah hovercraft ini bisa ditempuh hingga 450 km dengan kecepatan hingga lebih 30 knot. Hovercraft ini sangat cocok digunakan Marinir dalam operasi-operasi amfibinya dan telah ikut serta dalam latihan besar gabungan TNI di Sangata, Kalimantan Timur. Keunikan Hovercraft adalah menggunakan baling-baling sebagai tenaga pendorong yang terpasang pada bagian belakang. Hovercraft ini dapat dioperasikan siang maupun malam karena terdapat sistem navigasi dan komunikasi yang modern dan dapat dipersenjatai untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Sebagian bahan baku pembuatan hovercraft ini masih di import seperti daun baling-baling dan mesin. Walaupun masih import, namun komponennya sebagai suku cadang banyak terdapat pada mesin truk yang beredar di Indonesia, sehingga memudahkan teknisi untuk merawat dan memperbaikinya. Sumber tenaga hovercrat ini biasanya mesin diesel atau bensin yang berdaya 466 tenaga kuda (HP) dan dapat menggerakan baling-baling sehingga menghasilkan tenaga pendorong yang dibutuhkan untuk manuver kencang atau lambat tergantung operatornya. Sisanya pada materi serat fiber untuk badan kapal, karet nylon untuk skirt (bantalan), adalah produk dalam negeri. Perlengkapan tambahan pada hovercraft ini berupa satu unit alat komunikasi radar antena high frequency, alat pemandu lokasi berteknologi GPS (Global Positioning System).
Dan dari semua kehebatannya, hovercraft ini dapat mendarat atau berlabuh di daerah pantai tanpa perlu pelabuhan laut dan di rawa-rawa, sehingga sangat berguna bila memasuki daerah yang terpencil di penjuru Nusantara ini.
Spesifikasi Hovercraft 'Lumba-Lumba" :
⚓ Panjang : 13 m
⚓ Lebar : 5,9 m
⚓ Tinggi : 3,2 m
⚓ Panjang kabin : 5,6 m
⚓ Lebar kabin : 2,8 m
⚓ Berat kotor : 8 ton
⚓ Daya angkut : 2 ton
⚓ Kapasitas bensin : 700 liter
⚓ Kecepatan maksimum : 33 knot
⚓ Kecepatan jelajah : 28 knot
⚓ Awak : 20 personil
⚓ Tinggi rintangan dipermukaan : 30 cm
⚓ Tinggi maksimum gelombang : 100 cm
⚓ Mesin : 466 HP Diesel DEUTZ
⚓ Lebar : 5,9 m
⚓ Tinggi : 3,2 m
⚓ Panjang kabin : 5,6 m
⚓ Lebar kabin : 2,8 m
⚓ Berat kotor : 8 ton
⚓ Daya angkut : 2 ton
⚓ Kapasitas bensin : 700 liter
⚓ Kecepatan maksimum : 33 knot
⚓ Kecepatan jelajah : 28 knot
⚓ Awak : 20 personil
⚓ Tinggi rintangan dipermukaan : 30 cm
⚓ Tinggi maksimum gelombang : 100 cm
⚓ Mesin : 466 HP Diesel DEUTZ
Berikut Foto Hovercraft "Lumba-Lumba" TNI AL :
⚓ Hovercraft Kartika
![]() |
| (Foto alutsista) |
Hovercraft
utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo (Karya Bersama
Indonesia) dengan TNI-AD (Direktorat Pembekalan dan Angkutan Angkatan
Darat).
Berbeda dengan Landing Craft Air Cushion (LCAC) yang digunakan marinir AS, Kartika menggunakan struktur material sandwich composite pada lambungnya dan jenis skirt pada bantalan craft-nya. Ditenagai oleh 2 buah mesin diesel berkekuatan 1550Hp, hovercraft ini ditengarai mampu dipacu hingga kecepatan 40 knot. Muatan maksimum yang bisa diangkut hingga 20 ton. "Sanggup membawa 1 mobil truck 3/4 lho mas!", ungkap petugas yang menjaganya.
Berbeda dengan Landing Craft Air Cushion (LCAC) yang digunakan marinir AS, Kartika menggunakan struktur material sandwich composite pada lambungnya dan jenis skirt pada bantalan craft-nya. Ditenagai oleh 2 buah mesin diesel berkekuatan 1550Hp, hovercraft ini ditengarai mampu dipacu hingga kecepatan 40 knot. Muatan maksimum yang bisa diangkut hingga 20 ton. "Sanggup membawa 1 mobil truck 3/4 lho mas!", ungkap petugas yang menjaganya.
Hovercraft
yang diberinama Kartika ini memiliki dimensi panjang 20 m, lebar 11 m dan
tinggi 5,7 m. Untuk propeller menggunakan variabel pitch control dengan
sistem belt transmision, sedangkan daya angkatnya (lifter) dan
pengendalinya memakai sistem centrifugal fan yang terhubung dengan
hydraulic motor.
Kedepannya paling tidak kita berharap innovasi yang telah berhasil dibuat anak bangsa ini mampu diwujudkan hingga ketahap produksi, tidak hanya sekedar sukses proyek litbang saja.
Kedepannya paling tidak kita berharap innovasi yang telah berhasil dibuat anak bangsa ini mampu diwujudkan hingga ketahap produksi, tidak hanya sekedar sukses proyek litbang saja.
Foto Hovercraft Kartika :
Video Hovercraft Kartika :
⚓ Hovercraft hasil karya PT Sumber Daya Primatamanusa
Specification Hovercraft 2 - 3 Pax
Specification Hovercraft 6 - 8 Pax
Specification Hovercraft 12 Pax
Specificatin 20 Pax / SDP L136
Dimension
- Length :7,3 m
- Width : 3.5 m
- Height : 2 m
- Empty weight : 1000 kg
- Max. weight : 1600 kg
- Payload : 600 kg (goods) or 8 pax
- Rec. of wave height : 0.4 m
- Engine type : Chevy 350, 250 Hp 5000 rpm, gasoline, Lift and Thrust
- Capacity of fuel tank : 200 liter
- Max speed : 25 knot
- Cruising speed : 20 - 24 knot
- Endurance : 3 jam
![]() |
| Hovercraft 6-8 Pax |
Dimension
- Length: 12,5 m
- Width : 5.9 m
- Height: 3.2 m
- Height (hovering) : 3.3 – 3.85 m
- Empty weight: 5500 kg
- Max. weight : 8000 kg
- Payload: 2500 kg (goods) or 20 pax
- Rec. of wave height : 1 m
Engine type:
- Lift and Thrust , power 466 Hp1800 rpm
- Capacity of fuel tank: 700 liters
- Max. speed: 27 knot
- Cruising speed: 20 - 24 knot
- Endurance : 5 hours
Specification SDP 10T (Development)
Dimension
- Length : 18 m
- Width : 8 m
- Height : 4.2 m
- Height (hovering) : 5 m
- Empty weight : 20000 kg
- Max. weight : 30000 kg
- Payload : 10 ton (goods or vehicle)
- Rec. of wave height: 1.50 m
- Engine type : 2 unit Diesel, 800 Hp for Thrust
- 2 unit Diesel, 300 Hp for lift
- Fuel Tank : 4500 liters
- Cruising speed (airspeed) : 25 knot
- Obstacle : 30 cm
▣ Majalah Defender
▣ Formil Kaskus
▣ PT SDP
Label:
Alutsista,
Hovercraft,
TNI AL
Langganan:
Postingan (Atom)











