Kamis, 02 September 2021

[Global] Turki Tampilkan Rolling Airframe Missile (RAM)

↗  Buatan dalam negeriRAM Buatan Turki [navalnews]

Sistem rudal pertahanan titik - point defense missile systems (PDMS) yang dikembangkan oleh dua perusahaan pertahanan terkemuka Turki, Aselsan dan Roketsan, dipajang di International Defense Exhibition and Fair (IDEF 21) Istanbul, yang berlangsung antara 17 dan 20 Agustus.

Roketsan meluncurkan "Levent," dan Aselsan memperkenalkan "Gokdeniz ER," varian yang dilengkapi rudal dari Gokdeniz CIWS-nya.

Levent mirip dengan sistem RAM PDMS dalam hal prinsip kerja dan missile load, sedangkan sistem Gökdeniz ER lebih dekat ke SeaRAM.

  Rokestan’s LEVENT 
Selama konferensi pers menjelang acara IDEF 21, General Manager Roketsan Murat IKINCI mengungkapkan pengembangan sistem pertahanan udara jarak dekat LEVENT, yang didanai sepenuhnya oleh sumber daya domestik.

Sistem LEVENT, yang didasarkan pada rudal SUNGUR kami dan akan memberikan pertahanan udara jarak dekat untuk kapal kami, siap untuk didemonstrasikan bersama dengan IDEF’21,” kata IKINCI.

LEVENT akan diproduksi dalam dua konfigurasi yang berbeda, jelasnya. “Konfigurasi pertama akan menggunakan sistem elektro-optik dan radar kapal, sedangkan konfigurasi kedua akan menjadi sistem yang berdiri sendiri,” lanjutnya.

Sistem pertahanan udara Levent akan menampilkan 21 rudal berbasis Sungur yang dipandu IIR (Imaging Infrared). Pejabat dari Roketsan menolak memberikan informasi tentang spesifikasi sistem teknisnya.

  Aselsan’s Gokdeniz ER 
Gokdeniz ER, versi lebih lanjut dari sistem senjata jarak dekat Gokdeniz, adalah PDMS lain yang dipresentasikan selama pameran.

Gökdeniz-ER akan beroperasi secara independen dari sensor dan sistem kapal, dipersenjatai dengan 11 rudal, dan menyediakan cakupan 360 derajat melalui radar AESA dan sensor elektro-optik.

Sistem ini akan dikembangkan secara independen dari sistem Levent ROKETSAN, dan akan setara dengan SeaRAM Block-2.

Sistem ini akan memiliki lebih sedikit rudal daripada Levent, tetapi rudalnya akan lebih besar.

Karena keterlibatan TÜBTAK-SAGE dalam proyek tersebut, maka akan menggunakan rudal Bozdogan, rudal udara-ke-udara asli yang diproduksi oleh TÜBTAK-SAGE.

Meskipun demikian, kemungkinan menggunakan versi yang lebih kuat dan lebih besar dari Rudal SUNGUR juga sedang dipertimbangkan.

  Menggantikan RAM 116 ? 
Korvet kelas Ada Angkatan Laut Turki dilengkapi dengan RIM-116 RAM (Rolling Airframe Missile).

Namun, Turki telah menghadapi kesulitan dalam memperoleh rudal RIM-116 karena sanksi CAATSA yang dikenakan padanya oleh Amerika Serikat.

Sanksi juga membuat pengadaan RAM PDMS tidak mungkin dilakukan, yang awalnya dimaksudkan untuk dipasang pada fregat kelas Istanbul. Akibatnya, Gökdeniz CIWS, yang dipilih.

Penerapan sanksi-sanksi ini merupakan pendorong mendasar di balik program-program PDMS.

Setelah menyelesaikan proyek Levent dan Gökdeniz ER, Angkatan Laut Turki akan diberikan sistem pertahanan udara jarak dekat ini sebagai solusi hemat biaya.

Sistem ini juga dapat digunakan dalam Fast Attacking Crafts dalam proyek FAC55.
 

  🔅
Naval News  

KRI Teluk Youtefa 522 Dukung Serpas Satgas Pamrahwan Maluku/Maluku Utara

Awali tugas pertamaKRI TYO 522 [TNI]

Perintah berlayar yang diterima KRI Teluk Youtefa 522 untuk mendukung Batalion TNI AD langsung diaksi dengan menuju dermaga untuk melaksanakan embarkasi personel dan materialnya. KRI Teluk Youtefa 522 tengah siap bertolak dari Dermaga Ende, Koarmada II, Surabaya, Rabu (1/9).

Sesuai perintah operasi, kapal perang yang merupakan karya anak bangsa ini akan mendukung pergeseran pasukan dan material Batalion Infanteri 732 Banau dan Batalion Artileri Pertahanan Udara 11 Wira Buana Yudha yang akan bertugas sebagai Satuan Tugas Pengamanan Daerah Rawan Maluku/Maluku Utara.

Kapal perang jenis angkut tank yang merupakan binaan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) 2 Surabaya ini akan menuju Belawan untuk embarkasi Yonarhanud 11 Wira Buana Yudha dan menuju Ambon untuk embarkasi Yonif 732 Banau.

Komandan KRI Teluk Youtefa 522 Letkol Laut (P) I Nyoman Armenthia mengatakan kesiapan seluruh prajurit KRI dan kapalnya untuk mendukung operasi angkutan laut militer Satgas Pamrahwan Maluku/Maluku Utara 2021.

"Kondisi kapal dan para pengawak siap untuk melaksanakan operasi. Mereka pun telah seluruhnya menjalani vaksinasi sebagai herd immunity ditengah pandemi covid 19 ini" jelas Alumni AAL tahun 2001 ini.

Setelah menurunkan pasukan di daerah operasi yang telah ditentukan, nantinya KRI Teluk Youtefa 522 juga akan menarik pasukan Satgas yang lama yang telah bertugas selama sembilan bulan, untuk kembali ke kesatuan asal.

Dan tentunya proses embarkasi dibarengi dengan prosedur tetap pencegahan deteksi dini penularan virus corona yang tengah mewabah.

"Sesuai himbauan pimpinan TNI dan TNI AL ditengah situasi yang cukup rawan dengan wabah virus covid 19, Kita harus waspada dengan mengikuti prosedur tetap bagaimana mencegah dan mengantisipasi penularan virus ini" tutur Komandan KRI mengingatkan.

KRI Teluk Youtefa 522 pun telah menyiapkan Bintara Kesehatan untuk mencek suhu dan menyemprot disinfektan kepada para prajurit yang melaksanakan embarkasi ke KRI.

"Untuk mengantisipasi dan mencegah menyebarnya virus covid-19 ke lingkungan KRI, maka kita harus laksanakan Protokol Covid-19 Kolinlamil berdasarkan SOP Satgas Covid-19 Kolinlamil" tandasnya.

Sementara itu Panglima Kolinlamil Laksma TNI Erwin S Aldedharma, menyatakan berdasarkan Perpres 66 tahun 2019 tentang Susunan Organisasi TNI menjelaskan bahwa salah satu tugas Kolinlamil adalah Pembina tunggal sistem angkutan laut militer TNI oleh karena itu pergeseran pasukan dan logistik TNI dari tiga matra melalui laut ke seluruh wilayah NKRI merupakan tugas Kolinlamil. Selain juga Kolinlamil juga aktif dalam mendukung pergeseran material, dan logistik ke daerah-daerah rawan dan pulau-pulau terluar RI.

"Meski masih ditengah situasi pandemi seperti sekarang ini, kapal perang Kolinlamil terus siap dalam mendukung pelaksanaan Serpas, Sermat maupun Serlog satuan tugas pengamanan daerah rawan, maupun Pulau terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sesuai perintah operasi" jelas Panglima Kolinlamil.
 

 
TNI  

Rabu, 01 September 2021

KASAU Temui Komandan Pasifik US Air Force di Pearl Harbor

✈️ Dalam pertemuan bilateral membahas kemungkinan kerja sama baru ✈️ Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Fadjar Prasetyo melakukan pertemuan bilateral dengan Commander Of Pacific Air Forces General Kenneth S. Wilbach di Joint Base Hickam Airforce Base, Pearl Harbour, Hawaii, United Stated Of America, Senin 30 Agustus 2021. (Dokumentasi TNI AU)

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Fadjar Prasetyo melakukan pertemuan bilateral dengan Komandan Angkatan Udara Pasifik Amerika Serikat atau Commander of Pacific Air Forces General Kenneth S Wilbach di Hawaii.

Dalam keterangan resmi TNI Angkatan Udara, pertemuan bilateral itu dilakukan disela-sela pelaksanaan kegiatan pertemuan kepala staf angkatan udara negara di wilayah Pasifik yang digelar di di Joint Base Hickam Airforce Base, Pearl Harbourr, Hawaii, United Stated of America.

Kasau dan Commander of Pacific Air Forces membahas kemungkinan kerja sama antar kedua angkatan udara.

Fadjar juga mengaku membahas tentang penanganan Pandemi Covid-19 serta latihan bersama Cope West 2021 yang telah dilaksanakan selama beberapa waktu lalu, di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

"Latihan bersama Cope West, sangat penting, mengingat latihan tersebut merupakan kesempatan pertama bagi TNI AU, untuk melatih kemampuan kemampuan Beyond Visual Range," ujar Kasau dalam keterangan resmi yang dirilis pada Selasa.

  Latma dengan Korea Selatan 

Selain itu, Kasau juga berkesempatan melakukan pertemuan bilateral Kepala Staf Angkatan Udara Korea Selatan Jenderal Park In-Ho.

Dalam pertemuan itu, keduanya membicarakan kerja sama aktif antar kedua angkatan udara, mulai dari latihan hingga pertukaran taruna dan Perwira, serta berharap dapat terus mengembangkan kerja sama tersebut.

"Saya mengapresiasi dukungan negara Korea untuk pesawat T-50 dan KT-1B, serta berharap dapat melaksanakan latihan bersama negara Korea secara reguler," ungkap Kasau.

Dalam kunjungannya itu, Fadjar dijadwalkan mengadakan pertemuan bilateral dengan para pemimpin kedua angkatan udara sahabat antara lain Thailand, Singapura, Perancis, Australia, dan Kepala Staf AU AS pada tanggal 1 September mendatang.

  ✈️ AA  

Satu Camar MSA CN-235-220M TUDM

Siap ujicoba di Bandung https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju7WrS4SGmgFKgTWSsxDc6wLT70pvCO7L-tiCKZsYg8UNrzjd-_qOe4uZDrfL1A24t4ALIrbNc02RSg1RX5VYt5AW6W4-kuga_Lks5J9SuocPBx4n6sOMokTstIr1sP3J-S9-EI9EKvLY/s750/FB_IMG_1628588966891-750x430.jpgCN235 MSA TUDM [fahmioden)]

S
ebuah gambar yang diambil oleh planespotter di Bandung, Indonesia menjadi viral di Malaysia baru-baru ini karena menunjukkan bahwa setidaknya satu dari tiga pesawat CN-235-220M telah menjalani modifikasi menjadi pesawat pengintai maritim - maritime surveillance aircraft (MSA) untuk Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) yang dulu dibuat PTDI kini telah siap setelah hampir satu tahun menjalani modifikasi panjang.

Konon, gambar tersebut memvalidasi beberapa modifikasi yang sebelumnya dispekulasikan untuk dimasukkan ke dalam tiga pesawat CN-235-220M Malaysia.

Ini termasuk turret kamera Electro Optical/Infra Red (EO/IR) yang dipasang di dagu pesawat dengan lampu pencari untuk pengoperasian malam hari. Setidaknya satu jendela gelembung (bubble) telah dipasang di bagian belakang pesawat.

Tidak terlihat adanya kubah radar (radar dome) yang terpasang di perut pesawat terlihat dari gambar karena pandangannya terhalang oleh kendaraan dorong pesawat. (Hafizuddin Sulaiman)

[Foto] Taliban Berseragam Pasukan AS Kuasai Bandara Kabul

💂 📸Milisi Taliban berseragam pasukan AS berada di samping helikopter AS di bandara Kabul, Afghanistan. [Foto/twitter]

Bandara Kabul kini berada dalam kendali penuh Taliban, tepat setelah Komando Sentral Amerika Serikat (US CENTCOM) mengumumkan penarikan pasukan AS dari Afghanistan selesai.

Penarikan seluruh pasukan AS itu mengakhiri perang 20 tahun yang dilancarkan untuk menggulingkan Taliban pada 2001.

Pejuang Taliban terlihat merayakan penarikan pasukan AS dari Afghanistan di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul,” tweet seorang reporter Los Angeles Times pada Senin malam, dengan berbagi foto-foto peristiwa tersebut.

Dalam foto-foto tersebut, para militan terlihat memamerkan senjata buatan AS saat mengenakan seragam pasukan AS.

Foto beredar setelah penerbangan terakhir AS lepas landas dari bandara Kabul. Tembakan dan sorakan juga dilaporkan terdengar di penjuru kota Kabul.

Video juga dibagikan di Twitter sebelumnya yang menunjukkan para pejuang Taliban melepaskan tembakan ke udara untuk menandai berakhirnya 20 tahun pendudukan Amerika Serikat.

Nyanyian "Alhamdulillah" dapat didengar sebagai latar belakang di beberapa video lainnya yang segera viral.

Situasi ini terjadi ketika kepala US CENTCOM Kenneth McKenzie meyakinkan bahwa AS telah melakukan demiliterisasi beberapa peralatan militer di Afghanistan yang tidak dapat dibawa kembali selama penarikan.

Peralatan militer bernilai miliaran dolar dikhawatirkan telah jatuh ke tangan Taliban, termasuk helikopter Black Hawk dan Humvee, dan juga perangkat biometrik militer yang dapat digunakan untuk melacak mantan sekutu Afghanistan yang bekerja dengan Amerika Serikat.

Peralatan itu awalnya dipasok untuk meningkatkan kemampuan pasukan Afghanistan dan dilaporkan ditinggalkan militer AS di tengah kekacauan evakuasi dari negara itu.

Foto dan rekaman yang diposting di media sosial beberapa hari sebelumnya menggambarkan pejuang Taliban berpose di samping barang rampasan militer mereka, ketika Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan mengkonfirmasi "sejumlah besar" senjata yang dipasok AS telah disita Taliban.

Seorang juru bicara kantor politik Taliban mengatakan kepada Sputnik bahwa seluruh Afghanistan berada dalam kendali penuh Taliban sekarang setelah pasukan AS terakhir meninggalkan negara itu.

"Sekarang negara kami telah merdeka dan merdeka," ungkap juru bicara Taliban.

Amerika Serikat seharusnya menyelesaikan evakuasi kontingennya dari negara itu pada 31 Agustus. Namun, hari-hari terakhir penarikan mereka telah menyaksikan serangan mematikan yang diklaim dilakukan teroris ISIS-Khorasan.

Serangan bom di bandara Kabul menewaskan hampir 200 orang, termasuk 13 anggota militer AS.

Washington membalas dengan serangan drone, yang menurut militer AS, menargetkan teroris ISIS itu. Namun, mereka juga membunuh sejumlah warga sipil, termasuk anak-anak berusia 2 tahun. (sya)

  💂 sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...