TNI AL Laksanakan Keputusan Kemenhan
screenshot pengadaan kapal TNI AL dalam wawancara bersama CNN (Ist)
Muncul kabar Kementerian Pertahanan (Kemenhan) akan mengakuisisi tujuh kapal fregat 053 dari China. Hanya saja, kapal perang tersebut mendapat sorotan karena sudah beroperasi sejak 1970-an, dan tipe terbaru keluaran 1980-an.
Informasi itu terungkap ketika Karo Infohan Setjen Kemenhan Brigjen Frega Wenas menjadi narasumber bertema Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran yang membahas bidang pertahanan di salah satu televisi swasta Indonesia.
Video dan tangkapan layar tersebut tersebar dan ramai dibahas di berbagai kanal media sosial (medsos).
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul tidak menepis kabar rencana pembelian tujuh unit fregat produksi Hudong-Zhonghua Shipbuilding (Group). Menurut dia, TNI AL dalam posisi akan menerima rencana pembelian kapal perang yang sudah melalui tahap kajian di internal Kemenhan.
"Pada prinsipnya TNI Angkatan Laut akan melaksanakan apa yang menjadi keputusan pemerintah dalam hal ini Kemhan," kata Tunggul ketika dikonfirmasi Republika di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Menurut dia, pembelian kapal perang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan alutsista TNI AL dalam menjaga wilayah perairan NKRI.
"Tentunya keputusan tersebut telah melalui proses pertimbangan yang matang dalam rangka peningkatan kemampuan pertahanan matra laut dalam menjaga kedaulatan Laut Republik Indonesia," ucap Tunggul.
Selain fregat 053, TNI AL juga bakal diperkuat dua kapal fregat PPA Italia, terdiri KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi.
Untuk KRI Brawijaya sudah tiba di Indonesia dan sempat memimpin sailing pass saat acara Presidential Inspection yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto di Teluk Jakarta pada 2 Oktober 2025. Adapun KRI Prabu Siliwangi direncanakan datang pada 2026.
Kemudian, dua unit fregat Kelas Istif dari Turki yang sudah teken kontrak oleh Kemenhan serta dua kapal Fregat Merah Putih (FMP) yang sedang dalam proses pembangunan di PT PAL Indonesia, Kota Surabaya, Jawa Timur, juga bakal menjadi armada masa depan TNI AL.
Tak Boleh Karena Politik
Pesawat tempur J-10 Vigorous Dragon (DefenceBD)
Komisi I DPR berencana memanggil Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara untuk meminta penjelasan lengkap mengenai kesiapan sistem pertahanan udara nasional, terkait rencana pengadaan jet tempur Chengdu J-10 dari China.
Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menegaskan, DPR ingin memastikan bahwa proses pengadaan pesawat tempur generasi 4,5 dengan kemampuan multirole ini berjalan sesuai ketentuan dan murni didasarkan pada kebutuhan operasional TNI, bukan dipengaruhi preferensi politik atau tekanan eksternal.
“Komisi I DPR RI akan meminta penjelasan resmi dari Kemhan dan TNI AU mengenai kesiapan integrasi pesawat tersebut dalam sistem pertahanan udara nasional,” ujar Dave saat dihubungi, Rabu (22/10/2025).
Sebagai komisi yang memiliki fungsi pengawasan terhadap kebijakan strategis dan alokasi anggaran di sektor pertahanan, Komisi I perlu menegaskan bahwa setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista), termasuk J-10, perlu dilandasi analisis kebutuhan yang komprehensif.
“Kami memastikan bahwa setiap pengadaan alutsista didasarkan pada kebutuhan operasional TNI, bukan semata-mata pada preferensi politik atau tekanan eksternal,” kata Dave.
Di sisi lain, Komisi I terus mendorong Kemenhan menyusun peta jalan modernisasi alutsista yang konsisten, transparan, dan berorientasi pada kepentingan nasional.
“Setiap keputusan strategis harus didasarkan pada kajian teknis dan kebutuhan nyata di lapangan, bukan pada preferensi politik luar negeri atau pengaruh industri pertahanan global,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa pesawat tempur J-10 Chengdu akan segera tiba di Indonesia.
“Sebentar lagi (J-10 C) terbang di Jakarta,” kata Sjafrie singkat saat ditemui di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Isu pengadaan pesawat J-10 menguat setelah Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono berkunjung ke pameran alutsista di China, di mana pesawat itu ditawarkan langsung kepada Indonesia.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Setjen Kemhan Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang sebelumnya menjelaskan, rencana pembelian 42 unit J-10 masih dalam tahap pengkajian.
“Untuk yang J-10 itu memang sedang dikaji oleh TNI AU. Kita ingin platform alutsista yang terbaik, yang memang bisa membantu kita untuk mewujudkan kebijakan pertahanan saat ini,” ujar Frega di Kantor Kemhan, Kamis (18/9/2025).
Menurut dia, arah kebijakan pertahanan saat ini merupakan kelanjutan dari program yang digagas Menteri Pertahanan sebelumnya, Prabowo Subianto, dan kini diteruskan oleh Sjafrie Sjamsoeddin.
✈️ Kompas
Diperintahkan Prabowo Dipakai Semua Menteri
Presiden Prabowo Subianto berkelakar kepada semua menteri di Kabinet Merah Putih untuk menggunakan mobil Maung buatan PT Pindad (Persero).
Kelakar Prabowo kepada para menterinya itu disampaikan dalam sidang kabinet paripurna, yang juga bertepatan dengan satu tahun pemerintahannya, pada Senin (20/10/2025).
"Sebentar lagi saudara-saudara harus pakai Maung semua. Saya enggak mau tahu," kelakar Prabowo, diikuti tepuk tangan dan tawa dari para menterinya.
Para menteri disebut Prabowo tetap dibolehkan menggunakan mobil selain Maung, tetapi diizinkan pada hari libur saja.
"Mobil-mobil bagus pakai kalau libur saja. Ya pada saat saya enggak panggil, kau bolehlah kau pakai mobil itu," lanjut Prabowo sambil tertawa.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyebut bahwa Indonesia akan memiliki mobil buatan sendiri dalam tiga tahun yang akan datang.
Prabowo menjelaskan, dirinya sudah mengalokasikan dana dan menyiapkan lahan untuk pabrik mobil buatan dalam negeri itu.
"Belum merupakan prestasi, tapi sudah kita mulai rintis. Kita akan punya mobil buatan Indonesia dalam tiga tahun yang akan datang," ujar Prabowo.
"Saya sudah alokasikan dana, sudah kita siapkan lahan untuk pabrik-pabriknya. Sedang bekerja sekarang tim. Kita sudah menghasilkan jip buatan Indonesia," sambungnya.
Mobil Maung MV3 Garuda
Sebagai informasi, mobil Maung yang kerap digunakan Prabowo dalam banyak agenda adalah Maung MV3 Garuda.
Secara spesifikasi, Pindad MV3 Maung Garuda memiliki bobot 2,95 ton, dimensi panjang sekitar 5,05 m, lebar 2,06 m, dan tinggi 1,87 m.
Pindad mengklaim Maung MV3 Garuda mampu melaju pada kecepatan maksimal 100 Kpj dan memiliki jarak tempuh hingga 500 km.
Terkait performa, mesin yang digunakan Maung MV3 Garuda diklaim mampu menyemburkan daya maksimum 202 PS atau setara dengan 199 TK dan torsi maksimal 441 Nm.
Pindad juga menyatakan bahwa Maung MV3 Garuda dirancang sebagai mobil yang dapat digunakan untuk menjelajahi segala medan.
Maung dibekali suspensi depan independent coil spring dan suspensi belakang rigid/independent with shock absorber.
Disebutkan bahwa proses produksi Maung MV3 Garuda dimulai dengan penyusunan spesifikasi teknis yang dituangkan dalam dokumen System Requirement Specification (SRS) dan Test & Evaluation Master Plan.
Jet tempur J10 China, ramai diberitakan akan dibeli Indonesia (ist)
Jet tempur Chengdu J‑10 akan menjadi andalan baru militer Indonesia. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa telah menyetujui anggaran pembelian fighter jet atau jet tempur dari China tersebut. Unit yang dibeli kemungkinan adalah Chengdu J-10C.
Chengdu J10C ini sejauh ini baru dioperasikan Angkatan Udara China dan Angkatan Udara Pakistan. Nah pada Mei 2025 saat konflik antara Pakistan dan India, Chengdu J10C jadi berita besar lantaran disebut mampu menjatuhkan jet tempur Rafale asal Perancis yang sebelumnya dinilai lebih hebat.
"Jet tempur kami menembak jatuh tiga Rafale India. Jet tempur kami adalah J-10C," cetus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar ketika itu. Rafale rontok konon dengan rudal PL-15 yang juga buatan China.
Dikutip detikINET dari Newsweek, Senin (20/10/2025) J-10C ini adalah varian baru dari J-10 dengan berbagai macam peningkatan, yang memang ditujukan agar lebih menarik untuk ekspor ke negara lain.
"Dulu, ketika orang-orang membicarakan jet tempur Tiongkok, kesan yang muncul kebanyakan adalah efektivitas biayanya. Namun kini, J-10C telah membuktikan kehebatan tempurnya yang sesungguhnya melalui pengalaman operasional di dunia nyata," kata Zhang Xuefeng, pengamat militer China.
Kepala perancang J-10C menonjolkan kemampuan angkut senjata di jet itu yang telah ditingkatkan. Pesawat tempur ini, yang mulai beroperasi di militer China pada tahun 2017, dapat dilengkapi dengan lebih dari 40 jenis persenjataan, meningkat dari hanya 10 jenis pada J-10 versi awal. Itu menawarkan fleksibilitas lebih besar untuk misi udara, darat, dan maritim.
Dari segi desain rangka pesawat, J-10C diuntungkan oleh sistem pemasukan udara yang meningkatkan aliran udara ke mesin, yang diklaim meningkatkan keandalannya dan mengurangi penampang radar.
Sementara itu, canard yang dipasang di bagian depan, yaitu kendali kecil seperti sayap, meningkatkan stabilitas dan kemampuan manuver di kecepatan tinggi, memberi keunggulan dibanding pesawat tempur JF-17 yang juga dibuat Chengdu Aircraft Corporation. Desain itu juga disebut membuatnya setara F-16 buatan Amerika Serikat.
Salah satu peningkatan paling signifikan adalah radar array terpindai elektronik aktif, yang menggantikan sistem pemindaian mekanis lama. Radar AESA memungkinkan deteksi dan pelacakan target yang lebih cepat, sehingga pilot dapat menghadapi beberapa musuh secara bersamaan sekaligus lebih sulit untuk diganggu atau dideteksi.
Pesawat tempur ini juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik canggih yang meningkatkan kewaspadaan situasional pilot dan mengurangi kemungkinan posisi pesawat terdeteksi oleh radar musuh.
Pembelian 42 Jet Tempur Chengdu J-10 Disorot Media Mancanegara
Kokpit J-10B/C (China Military Aviation)
Jet tempur Chengdu J‑10 ini sejauh ini baru dioperasikan Angkatan Udara China dan Angkatan Udara Pakistan. Kabar pembelian Chengdu J-10C oleh Indonesia ini pun cukup ramai diberitakan oleh beberapa media di mancanegara.
"Vigorous Dragon: China's J-10C fighter ready to roar in Indonesia" tulis media Asia Times melaporkan pembelian jet tempur itu oleh Indonesia. Mereka melaporkan Indonesia sedang giat membeli pesawat tempur.
"Bulan ini, sejumlah media melaporkan bahwa Indonesia telah mengonfirmasi rencana pembelian 42 pesawat tempur J-10C dalam kesepakatan senilai hampir USD 9 miliar, yang menandakan pergeseran dinamika pertahanan regional," tulis meereka.
"Pengumuman ini merupakan tambahan terbaru dalam rencana akuisisi jet tempur Indonesia yang beragam. Sebelumnya, Indonesia menandatangani kontrak dengan Turki untuk membeli 48 jet tempur Kaan, bersama dengan kontrak terpisah dengan Prancis untuk 42 jet Rafale," tambah media itu.
"Terlepas dari kesepakatan itu, Indonesia tetap jadi stakeholder dalam program jet KF-21 Boramae Korea Selatan, meski keterlibatannya terganggu masalah pembayaran dan potensi kebocoran informasi ke Korea Utara. Indonesia juga sedang berunding dengan AS untuk jet F-15EX setelah menunda rencananya untuk membeli Su-35 Rusia," tulis mereka.
"Indonesia set to buy Chinese J-10 fighter jets amid push to modernise military: minister," demikian judul yang diketengahkan oleh South China Morning Post.
"Pejabat tinggi pertahanan Indonesia mengatakan negaranya akan mengakuisisi jet tempur J-10 China, yang kemungkinan menjadikannya militer asing kedua yang mengoperasikan model tersebut setelah Pakistan. Kesepakatan ini juga akan menandai pembelian pertama pesawat tempur buatan China oleh Indonesia dalam upaya memodernisasi militernya," tulis media yang berbasis di Hong Kong ini.
"Indonesia to buy 42 fighter jets from China marking its first non Western aircraft purchase deal" merupakan judul yang ditulis oleh Channel News Asia. Mereka menyoroti inilah pertama kalinya Indonesia membeli jet tempur yang bukan buatan Barat atau Rusia.
"Pejabat tinggi pertahanan Indonesia mengatakan pada hari Rabu (15 Oktober) bahwa Jakarta akan memperoleh setidaknya 42 jet tempur Chengdu J-10C buatan China, menandai kesepakatan pembelian pesawat non Barat pertama negara itu," tulis mereka. (fyk/fay)
✈️ detik
12 Radar pesanan Kemhan
Radar GCI Retia Ceko akan perkuat Indonesia (defeence magazine)
Radar GCI Retia adalah bagian dari kerja sama Indonesia dengan Ceko untuk pengadaan 12 unit radar Ground Controlled Interception (GCI) yang akan dioperasikan secara interoperabel dengan 13 radar GCI Thales Prancis.
Radar ini berfungsi untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengarahkan pesawat tempur untuk mencegat ancaman udara, berperan penting dalam sistem pertahanan udara nasional dan Network Centric Warfare (NCW).
Fungsi dan kemampuan
📡 Mendeteksi ancaman udara: Dapat mendeteksi objek di udara dengan akurasi tinggi.
📡 Identifikasi kawan atau lawan (IFF): Dilengkapi fungsi Identification Friend or Foe (IFF) untuk mengidentifikasi objek secara tepat.
📡 Mengendalikan pesawat tempur: Memberikan arahan dan pengawalan kepada pesawat tempur untuk melakukan pencegatan (interception).
📡 Membangun Network Centric Warfare (NCW): Berperan krusial dalam doktrin peperangan berbasis jaringan komunikasi real-time untuk menghubungkan data dari markas ke unit tempur.
Kerjasama dengan perusahaan lain
🤝 Mitra kerja sama: Retia (Ceko) merupakan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pengadaan radar GCI.
🤝 Interoperabilitas: Radar buatan Retia akan bekerja sama dan terintegrasi dengan radar buatan Thales Prancis.
🤝 Kapasitas nasional: PT Len Industri (Persero) berperan dalam produksi dan perakitan komponen radar, seperti "octopath," serta menjadi mitra dalam proyek ini.
Peta jalan pengembangan
👷 Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan), terus mengembangkan teknologi radar GCI melalui berbagai tahapan litbang.
👷 Kemhan juga bekerja sama dengan PT Len Industri dan institusi lain seperti LAPI ITB untuk penelitian dan pengembangan prototipe.
🛰 Garuda Militer