Kamis, 18 Oktober 2018

TNI AU Kaji Pembentukan Depohar 90

Khusus pemeliharaan terhadap Helikopter Ilustrasi

R
apat Penyusunan Naskah Kajian Pembentukan Depohar 90 ini sebagai langkah awal validasi organisasi yang bertujuan guna memberikan penjelasan kepada pimpinan tentang latar belakang perlunya pembentukan Depohar 90, bagaimana bentuk organisasinya serta rencana penempatannya, dalam rangka implementasi dari Renstra TNI Angkatan Udara tahun 2020–2024 dan pengembangan profil Koharmatau hingga tahun 2024.

Rapat dipimpin Wadan Komandan Koharmatau Marsekal Pertama TNI Hadi Suwito, S.E., di Rupat Basjir Soerya Mako Koharmatau, Kamis (18/10).

Dengan bertambahnya alutsista pesawat Helikopter yang dimiliki oleh TNI AU saat ini, tentunya harus diiringi dengan peningkatan kemampuan pemeliharaannya.

Khusus pemeliharaan terhadap pesawat Helikopter, saat ini kemampuan yang di miliki hanya sampai dengan pemeliharaan tingkat sedang dan pemeliharaan tingkat berat yang belum sepenuhnya dapat dilaksanakan.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan pemeliharaan terhadap pesawat helikopter sampai dengan tingkat berat yang efektif, efisien, dan handal, maka di perlukan upaya memvalidasi organisasi Koharmatau dengan membentuk Depo pemeliharaan 90.

Demikian yang disampaikan oleh Komandan Koharmatau dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wadan Koharmatau Marsekal Pertama TNI Hadi Suwito, S.E.

  TNI AU  

TNI AU Uji Dinamis Radar ADS-B

Hasil karya Depohar 50 TNI AU ADS-B, Merupakan Sistem Transportasi Udara Next Generation (NextGen) [myelectronicnote] 

U
ji dinamis Radar ADS-B (Automatic Depending Surveillance Broadcast) ini merupakan tahap terakhir dari sejumlah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Depohar 50 Koharmatau terhadap Radar ADS-B hasil Penelitian dan Pembuatan Depohar 50 sebelum dilaksanakan sertifikasi dan proses produksi, Uji Dinamis Radar ADS-B ini dilaksanakan di SatuanRadar 215 Congot Yogyakarta, Kamis (18/10). Hal ini menunjukkan bahwa salah satu kemampuan Depohar jajaran Koharmatau adalah melaksanakan pembuatan produk lokal sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengadaan dan perbaikan materiel dari pihak luar TNI AU.

Koharmatau mempunyai tugas dalam melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiel TNI AU serta menyelenggarakan pembinaan peralatan bengkel, peralatan produksi dan publikasi teknik. Pemeliharaan yang dilaksanakan adalah dalam rangka mempertahankan materiel atau fasilitas agar tetap dalam keadaan baik atau memulihkan kondisi materiel atau fasilitas ke dalam kondisi yang siap pakai.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara sangat mengapresiasi terhadap Inovasi dan karya nyata anak bangsa yang membanggakan, dimana Radar ADS-B buatan Depohar 50 ini sangat ekonomis dari segi biaya tetapi mempunyai kemampuan yang lebih handal dibandingkan dengan Radar ADS-B yang dimiliki TNI AU saat ini. Radar ADS-B buatan Depohar 50 ini tidak tergantung terhadap Internet bahkan dapat langsung diintegrasikan dengan Existing System yang sudah dimiliki oleh Kohanudnas. Demikian yang disampaikan Komandan Koharmatau dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktor Engineering Koharmatau Kolonel Tek Y. Catur Prasetiyanto P.

Dengan adanya keberhasilan pembuatan Radar ADS-B diharapkan setelah Uji dinamis ini, Lembaga Legalisator dalam hal ini Dislitbangau dan Dislambangjaau untuk segera melaksanakan sertifikasi terhadap Radar ADS-B buatan Depohar 50, selanjutnya dapat diproduksi secara masal guna mendukung dan memenuhi kebutuhan alutsista TNI AU khususnya Radar, sehingga kedepan akan merangsang satuan-satuan pelaksana pemeliharaan untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam mendukung kesiapan alutsista TNI AU yang muaranya adalah terjaminnya kesiapan dan keandalan materiel utama sistem senjata di lingkungan TNI AU.

  TNI AU  

[Dunia[ Jet Ukraina Jatuh saat Latihan Perang NATO

Tentara AS Tewas https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2018/10/17/41/1346763/jet-ukraina-jatuh-saat-latihan-perang-nato-tentara-as-tewas-PkH.jpgSebuah jet tempur Su-27 Ukraina saat mengikuti latihan perang NATO, Clear Sky 2018, pada 12 Oktober 2018. Foto/REUTERS/Gleb Garanichdef.pk

Sebuah jet tempur Su-27 Ukraina jatuh saat latihan perang dengan NATO pada hari Selasa sore. Kecelakaan pesawat tempur ini menewaskan dua tentara, termasuk tentara Amerika Serikat (AS).

Layanan pers dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan pesawat tempur Su-27 jatuh di dekat Desa Ulanov.

"Hari ini, sekitar pukul 17.00 waktu setempat, sebuah pesawat Su-27 jatuh di dekat desa Ulanov (di antara kota Berdychiv dan Khmil'nyk) selama penerbangan latihan tempur. Aktivitas pencarian dan penyelamatan sedang dilakukan," kata layanan pers tersebut yang dipublikasikan di halaman Facebook-nya.

Beberapa jam kemudian, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina seperti dikutip Reuters, Rabu (17/10/2018), memperbarui informasinya. Menurut Staf Umum kedua pilot yang tewas dalam kecelakaan ini adalah tentara Ukraina dan tentara AS.

"Kami menyesal untuk menginformasikan bahwa menurut laporan oleh tim pencarian dan penyelamatan, jasad dua pilot ditemukan; satu adalah pilot angkatan udara Ukraina, dan yang kedua adalah pilot Garda Nasional Udara AS," kata layanan pers staf tersebut.

Jet tempur Su-27 dan F-15 Ukraina awalnya sedang melakukan misi latihan tempur Clear Sky 2018. Namun, kecelakaan terjadi. Penyebab insiden sedang diselidiki.

Kantor Kejaksaan Militer Ukraina membenarkan bahwa tentara AS dan Ukraina tewas dalam kecelakaan pesawat.

Latihan perang gabungan NATO, Clear Sky 2018, berlangsung dari tanggal 8 hingga 19 Oktober di Ukraina barat. Negara-negara lain yang ikut latihan perang NATO antara lain Belgia, Inggris, Denmark, Polandia, Estonia, Belanda, Polandia dan Rumania.

Latihan perang tersebut telah dipromosikan di halaman Facebook Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina. Dalam promosinya, NATO menyatakan banyak hal untuk dipelajari dari Ukraina. NATO juga memperingatkan bahwa jika Rusia meluncurkan serangan udara terhadap Ukraina, harga yang harus dibayar akan sangat mahal. (mas)

  SINDOnews  

Rabu, 17 Oktober 2018

Soal Sukhoi Butuh Proses Panjang Dalam Pengirimanya

http://4.bp.blogspot.com/-19tawACLlm8/Vbjilrr5hrI/AAAAAAAABHY/1ZZLNE4VhlU/s1600/FB_IMG_1438124431555.jpgFlanker Indonesia [def.pk

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva menyatakan pembelian peralatan militer, khususnya jet tempur tidak sesederhana membeli barang dari supermarket. Dia menyatakan butuh proses panjang dalam pengirimanya.

Berbicara saat menggelar briefing bulanan di kediamanya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/10/2018), Vorobieva menuturkan jet tempur generasi terbaru Rusia itu mungkin baru akan diterima Indonesia pada tahun depan dan pengiriman akan dilakukan dalam beberapa tahap.

"Soal Su-35, kontraknya sudah ditandangani, tapi ini bukan transaksi instan. Perakitan jet tempur itu membutuhkan waktu, uji coba dan juga pengirimannya membutuhkan waktu," jelas Vorobieva.

"Tidak pernah disebutkan bahwa pesawat itu akan dikirimkan tahun ini. Mungkin tahun depan, di akhir tahun depan, tapi saya tidak bisa memberikan tanggal pastinya," sambungnya.

Ia lalu menuturkan, setelah pengiriman, masih ada proses lain yang harus dijalankan, yakni pelatihan. Vorobieva menuturkan, para pilot Indonesia harus terlebih dahulu mendapat pelatihan dari pilot Rusia dalam mengoperasikan jet tempur ini.

"Karena jet tempur ini memiliki teknologi yang cukup rumit, jadi diperlukan pelatihan dan ini akan membutuhkan waktu. Ini adalah proses yang cukup panjang," tukasnya. (ian)


 AS Ancam Pembeli Senjata Moskow dengan Sanksi 
AS Ancam Pembeli Senjata Moskow dengan Sanksi, Ini Respon RusiaDuta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva. [FOTO/Victor Maulana/SINDONEWS]

Rusia menyatakan ancaman penjatuhan sanksi oleh Amerika Serikat (AS) kepada negara-negara yang membeli senjata mereka adalah sesuatu yang tidak berdasar dan tidak bisa diterima. Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, menuturkan, ancaman sanksi itu juga adalah bentuk campur tangan AS dalam urusan dalam negeri sebuah negara.

"Ancaman ini sangat tidak bisa diterima, tapi seperti yang kita lihat negara-negara itu tidak takut. Turki tetap membeli persenjataan kami, India dan Indonesia juga tetap membeli senjata dari kami," ucap Vorobieva.

"Tentu saja itu adalah interfensi langsung terhadap urusan dalam negeri negara lain dan hubungan bilateral, yang mana tidak bisa diterima dan tidak sah," sambungnya, saat menggelar briefing bulanan di kediamannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (17/10).

Seperti diketahui, AS dari awal sudah mengancam negara-negara yang membeli senjata Rusia berpotensi terkena sanksi berdasarkan undang-undangnya, Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

UU itu sejatinya dirancang hanya untuk melawan Rusia, Iran, dan Korea Utara. Setelah New Delhi resmi membeli senjata pertahanan S-400 Triumf, Washington yang menganggap New Delhi sebagai mitra hanya membuat pernyataan samar. Kapan dan wujud sanksi yang berpotensi dijatuhkan pada India tak pernah diungkap secara jelas.

Sementara itu terkait dengan Indonesia, yang telah membeli Su-35 Rusia, AS belum pernah mengeluarkan pernyataan terbuka, bahwa mereka juga mungkin akan menjatuhkan sanksi kepada Jakarta. (esn)

  SINDOnews  

Turki Ingin Gandeng Indonesia Kembangkan Pesawat Tempur

https://2.bp.blogspot.com/-hEQXqddD4l8/W8XpMPpWPtI/AAAAAAAA9WI/zjNqmkRYqmkyfrrMUqQuVn3pVnv7imggQCLcBGAs/s400/5a339d400f2544092c8e8429.jpgProgram pesawat tempur TFX oleh TAI [Hurriyet] 

Turkish Aerospace Industries (TAI) sedang mencari mitra strategis di Indonesia untuk pengembangan pesawat tempur.

Vice Presiden Corporate Marketing and Communications TAI Tamer Ozmen mengatakan hal tersebut kepada Anadolu Agency saat berkunjung ke fasilitas pengujian pesawat terbang di BPPT Serpong, Banten, akhir pekan lalu.

Tamer mengatakan pihaknya sedang berusaha memperkuat kerja sama dengan industri pertahanan yang ada di Indonesia. Upaya tersebut dimulai melalui proses tender pengembangan pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aircraft Vehicle) oleh Kementerian Pertahanan Indonesia yang diikuti TAI.

Turki menurut dia, memiliki program pengembangan pesawat tempur yang ditargetkan akan mulai mengudara pada 2023 mendatang dan memulai operasional penerbangan pada 2026.

Pewasat tempur tersebut akan menggantikan seluruh pesawat tempur F16 yang dimiliki Turki pada 2040 mendatang,” ungkap Tamer.

Program tersebut menurut Tamer, membutuhkan dukungan banyak teknisi. Oleh karena itu, TAI ingin menggandeng kemitraan dengan industri dirgantara dan pertahanan di Indonesia seperti PT Dirgantara Indonesia serta universitas di Indonesia untuk penyediaan sumber daya manusianya.

Perusahaan tersebut lanjut Tamer, sedang mempertimbangkan untuk menggunakan teknisi asal Indonesia.

Mungkin kita akan membuka kantor di Jakarta atau Bandung. Kita tahu universitas di Bandung (ITB) cukup kuat untuk pengembangan pesawat tempur,” imbuh dia.

 Proyek pesawat angkut R-80 
Pesawat angkut R-80 [Detik]

Selain itu, TAI menurut Tamer, juga sedang mencari kesempatan untuk bekerja sama dalam pengembangan pesawat regional dengan menggandeng PT Regio Aviasi Industri (PT RAI) yang saat ini sedang menggarap pesawat R80.

Turki memiliki kehebatan dalam pengembangan pesawat regional dan mungkin bisa menggandeng PT RAI untuk bekerja sama,” aku Tamer.

  aa  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...