Sabtu, 17 Februari 2018

[Video] Batalyon Kavaleri 8/Kostrad Narasinga Wiratama

Liputan Nettv, Garuda


  Youtube  

[Video] Wira Amur Penjaga NKRI

Liputan Khusus TvOne


  Youtube  

Korps Marinir Lakukan Uji Fungsi Radar Kelvin Hughes SharpEye

Untuk Modernisasi Batalyon Infantri dan Artileri Korps Marinir TNI Angkatan Laut melakukan uji coba dan kepelatihan Radar tipe pengamatan permukaan/Darat, Radar Hughes atau yang dikenal Ground Surveyland Radar System (GSRS) di Bukit Hambalang, Sentul Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/02/18).

Uji fungsi ini dilakukan guna mengetahui kemampuan mendeteksi, mengetahui dan mengidentifikasi musuh yang bergerak berupa kendaraan maupun personel secara terus menerus dari arah 360 derajat dan dapat dibuat Zona Clearing Alarm yang dapat mendeteksi musuh yang masuk wilayah tertentu. yang rencananya akan memperkuat Alkapsus Korps Marinir menjadi lebih modern, khususnya Batalyon Infanteri Marinir dan Artileri Korps Marinir.

Radar Hughes menyediakan solusi surveilans mobile berbasis radar yang lengkap untuk integrasi dengan kendaraan, Sistem dapat dikerahkan sebagai radar mobile SharpEye SxV tunggal yang terintegrasi dengan sistem tiang - tiang teleskopik kendaraan atau trailer mandiri.

Dengan radar SharpEye sebagai sensor pendeteksi utama, badan pengawas dan patroli keamanan dapat memantau dan mencegat ancaman di tempat terpencil dan sulit untuk mengakses lokasi dalam rentang yang panjang. Solusi radar pengawas seluler memungkinkan pergerakan lokasi yang sering dan mudah dengan kemampuan penyebaran dan pengawasan segera dalam beberapa detik setelah meningkatkan radar dan kamera.

Radar Hughes merupakan radar generasi baru buatan Inggris yang dirancang sesuai dengan kemajuan teknologi dan perkembangan kemampuan yang dapat mendeteksi pesawat tanpa awak (Drone), Radar Huges dilengkapi Kontrol Kamera, Video, Pelacakan dan Informasi Sasaran, Tampilan Peta, dan Kompatibilitas Perangkat Keras.

Uji coba dan kepelatihan Radar Hughes ini ditinjau oleh Kolonel Mar Enjang Suryana, Aslog Dankormar Kolonel Mar Budiarso, Kadismat Kormar Kolonel Mar Agung Trisnanto, Danbrigif-2 Mar Kolonel Mar Kresno Pratowo, Danmenart-2 Letkol Mar Wahyudi Saputra.

  Marinir  

Dua Sukhoi Su-35 Diharapkan Tiba 2019

✈ Disertai dengan skema imbal beli, offset, dan transfer teknologi. ✈ Su35 Russia  [russia-insider]

Setelah melewati berbagai proses dan penantian yang lama, akhirnya Kementerian Pertahanan menandatangani kontrak pembelian 11 pesawat tempur Su-35. Penambahan pesawat tempur ini diharapkan bisa meningkatkan kemampuan militer Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara.

Ya, betul, kontrak pembelian Sukhoi sudah ditandatangani,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Totok Sugiharto, Jumat (16/2).

Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, penandatanganan kontrak pembelian Sukhoi ini dilakukan oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Agus Setiadji dengan Perwakilan dari Rosoboronexport, Yuri. Penandatanganan dilaksanakan pada Rabu, 14 Februari, pukul 11.23.

Nilai kontrak 11 pesawat tempur itu adalah 1,14 miliar dollar AS. Sebagaimana disepakati sebelumnya, nilai ini juga disertai dengan skema imbal beli, offset, dan transfer teknologi. Di Indonesia akan diadakan tempat pemeliharaan sehingga pesawat itu tidak perlu lagi dibawa ke Rusia untuk pemeliharaan.

Diharapkan, hal ini juga bisa mendorong negara-negara di ASEAN yang memiliki Sukhoi untuk melaksanakan pemeliharaan pesawatnya di Indonesia. Walaupun sempat disebutkan imbal dagang di antaranya dengan menggunakan produk karet, rincian tentang transfer teknologi ataupun imbal dagang dan offset ini juga belum terperinci disampaikan ke publik.

Totok Sugiharto mengatakan, rencana pengiriman pesawat tersebut akan dilakukan secara bertahap. Apabila semua lancar, termasuk berlakunya efektif kontrak pada Agustus 2018, dua pesawat Sukhoi Su-35 akan dikirimkan ke Indonesia pada Agustus 2019. Enam unit berikutnya akan dikirimkan pada Februari 2020, sedangkan tiga unit lainnya pada Juli 2020.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya mengatakan, TNI AU mendukung penandatanganan kontrak pesawat pengganti F-5. Menurut dia, sudah hampir dua tahun para penerbang di Skuadron Udara 14 tidak terbang, sejak pesawat F-5 dinyatakan tak bisa dipakai lagi. ”Kami harapkan pengganti F-5 segera tiba di Tanah Air,” kata Jemi.

  Press Reader  

KSAU Akan Bentuk Satu Skuadron Jupiter Aerobatic Team

Jupiter Aerobatic Team TNI AU [Antara]

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna berencana membentuk satu skadron khusus Jupiter Aerobatic Team (JAT). Tim ini nantinya fokus mengembangkan kemampuanya di bidang Aerobatic.

"Ke depan saya akan memisah antara JAT dengan tugas-tugas instruktur. Jadi akan dibuat flight tersendiri. Mereka akan kita bina, lebih fokus lagi mengembangkan kemampuan di bidang aerobatic," ujarnya saat pemberian pin kualifikasi dan piagam penghargaan kepada penerbang Jupiter Aerobatic Team (JAT) di Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, kemarin.

Yuyu menjelaskan, selama ini para penerbang JAT yang berasal dari Skadron Pendidikan (Skadik) 102 Lanud Adi Sutjipto merupakan instruktur penerbang. Selain mengajar siswa sekolah penerbang, mereka juga berlatih sebagai penerbang JAT.

"Jadi mereka cukup berat tugasnya dengan dua kegiatan tersebut. Konsep saya ke depan JAT ini akan tetap saya pertahankan karena sudah membawa nama baik AU dan bangsa Indonesia di event-event internasional," katanya.

Dengan adanya pemisahan ini, sambung Yuyu, mereka tidak dibebani lagi dengan tugas mengajar di sekolah penerbang maupun sekolah instruktur penerbang. Dengan demikian, mantan Wakasau ini menegaskan, mereka akan lebih fokus mengembangkan kemampuannya.

"Tentunya keselamatan terbang dan kerja akan lebih terjamin. Harapan saya ke depan, ini (JAT) berkembang dan bisa tampil di forum-forum internasional yang lebih besar lagi," kata Yuyu.

Meski demikian, mantan Pangkohanudnas ini mengaku, masih mengkaji kemungkinan untuk tampil di forum-forum internasional seperti di negara-negara Eropa, Australia dan sebagainya. "Untuk yang lebih jauh, karena pesawat kita propeler masih kita pikirkan ya. Tapi untuk yang ASEAN Insya Allah akan kita hadiri. Seperti di Singapura dan Malaysia akan kita hadiri. Untuk di Australia, karena jauh kita perlu effort sangat besar," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya mengatakan, terkait dengan pemisahan dan pembentukan skadron khusus Jupiter Aerobatic Team, banyak hal-hal yang harus dikaji dari berbagai aspek, Termasuk kesiapan pesawat, para awak penerbang dan sebagainya.

"Saya belum dapat data-datanya terkait kebijakan beliau yang baru disampaikan dan rencananya akan di dalami oleh tim nantinya dalam sebuah kelompok kerja yang ditunjuk oleh KSAU," ucapnya.

   sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...