Jumat, 27 Maret 2020

Indonesia Ordered Amphibious Armored Vehicles From Russia

Indonesian military is expected to get 21 BT-3F and 22 BMP-3F vehicles BMP3F Marinir [istimewa/GM]

Indonesia has ordered a batch of amphibious armored vehicles from Russia to enhance the capabilities of its marines and replace ageing Soviet-era machines, operated by the military.

The contract was signed in the capital city of Jakarta, according to Russian state weaponry exporter, Rosoboronexport. Indonesian military is expected to get 21 BT-3F and 22 BMP-3F vehicles, at a total cost of over $170 million.

BMP-3F is a infantry fighting vehicle (IFV), designed specifically to meet the needs of marines. It boasts enhanced seafaring capabilities, yet lacks some implements of a ground combat-focused version. While the vehicle is very light, weighing only some 18 tons, it packs quite a punch – it’s equipped with a 100-mm gun, 30-mm autocannon and three machine guns. Indonesia already operates over 50 BMP-3s, including its marine variant.

BT-3F is an armored personnel carrier (APC), based on BMP-3F. While it lacks powerful armament, having only machine guns at its disposal, it is spacious enough to accommodate 15 marines as well as two crew members. Indonesia is the first foreign country to get its hands on the modern amphibious APC, according to Rosoboronexport.

The BMP-3F is armed with the standard 2K23 turret. Specially designed for operations at sea, with improved seaworthiness and buoyancy, capability to move afloat at sea.

The new APCs are likely to replace – partially, at least – Soviet-made old BTR-50P and truly antique K-61 amphibious vehicles, that are still operated by the Indonesian army.

  ★ Global Defense  

Kamis, 26 Maret 2020

Sea Rider Perkuat Lanal Nunukan

Produk anak bangsa dilengkapi alat canggih https://1.bp.blogspot.com/-5t07EsJh74g/XnvkZegcivI/AAAAAAABLoA/sMJe937Vqp8lYAMlxKarvE9PiK_nubbowCLcBGAsYHQ/s400/WhatsApp-Image-2020-03-24-at-11.32.19.jpegSea Rider di Lanal Nunukan [istimewa]

Karya anak bangsa kembali mengisi kekuatan maritim Indonesia. Kali ini, pangkalan TNI AL Nunukan mendapatkan tambahan Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan) berupa Sea Rider buatan PT Lundin Industry Invest, dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Komadan Lanal Nunukan Letkol Laut (P) Anton Pratomo mengatakan, dua alutsista jenis Sea Rider, telah dilakukan serah terima dari perusahaan PT Lundin Industry Invest kepada Lanal Nunukan, yang diwakili Penjabat Sementara (Pjs) Pasops Lanal Nunukan Lettu Laut (P) Nanang Setyo Budi.

Hari ini, dilakukan serah terima Sea Rider dari perusahaan PT Lundin Industry Invest ke Lanal Nunukan diwalili Pjs Pasop Lanal,” katanya, Selasa (24/3).

Usai dilakukan serah terima, Sea Rider langsung diujicoba dari pelabuhan Tunon Taka Nunukan, menuju Mako Lanal Nunukan. Sea Rider sendiri dilengkapi dengan 2 mesin gantung merk Yamaha 300 PK.

Alutsista ini memiliki kecepatan maksimal 60 Knot di atas permukaan laut. Sea Rider Lanal juga dilengkapi dengan alat navigasi yang cukup canggih. Seperti radar, AIS (Automatic Identification System), dan Thermal Camera (Kamera Pendeteksi Temperatur).

Dengan adanya Sea Rider, personil patroli Lanal Nunukan setidaknya bisa mendeteksi musuh ataupun hal-hal membahayakan meski, dalam kondisi minim penerangan atau kegelapan, apabila ditunjang dengan kecepatan yang melebihi speedboot biasa, di wilayah perbatasan Nunukan.

Sea Rider kita mampu mendeteksi musuh walaupun minim penerangan. Soal kecepatan, jangan diragukan lagi,” ungkapnya.

Dikatakan Danlanal, alutsista Sea Rider diharapakan mampu menjaga wilayah kedaulatan teritorial laut Indonesia bagian Utara Kalimantan, sekaligus dapat menjawab segala ancaman di perairan perbatasan Nunukan.

Gangguan, hambatan dan tantangan di perairan perbatasan semakin kompleks. Kedepannya, Sea Rider juga akan dilengkapi dengan senjata kaliber 7,65 MM di bagian di haluan,” demikian Anton.

  Niaga  

Rabu, 25 Maret 2020

Pesawat TNI Ditembak Orang Tak Dikenal di Papua

Tidak Ada KorbanIlustrasi CN 295 TNI AU [TNI AU]

Pesawat CASA CN A-2909 milik TNI AU ditembak orang tak dikenal (OTK) ketika melintas di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (23/3/2020). Pesawat tersebut mengangkut sembako dan alat bangunan untuk pembangunan pemerintah daerah.

Danlanud Silas Papare, Marsma TNI Ir. Tri Bowo Budi Santoso mengatakan penembakan itu terjadi ketika pesawat hendak mendarat di tempat tujuan.

"Benar adanya. Pada saat mau mendarat di final," kata Tri saat dihubungi wartawan, Senin (23/3/2020).

Ia menyebut tidak ada korban dari aksi penembakan itu, namun hanya ditemukan bekas tembakan di badan pesawat yakni di bagian sayap, badan, serta bagian pintu roda bagian depan.

Tembakan tersebut diperkirakan berasal dari senapan laras panjang kaliber 5.56mm. m16 atau SS1.

Lebih lanjut Tri menuturkan, pesawat tersebut hendak membawa kebutuhan logistik yang diperuntukkan kepada pemerintah daerah yang sudah diminta oleh Bupati. Adapun logistik yang dimaksud ialah sembako dan alat bangunan untuk pembangunan pemerintah daerah setempat.

"Dukungan logistik dan membantu pembangunan pemerintah daerah, oksibil kita terbang atas permintaan Bupati. Mengangkut alat sembako dan alat bangunan," pungkasnya.

  suara  

Selasa, 24 Maret 2020

Penerbang Skadron Udara 11 Berlatih Dog Fight dan BVR

✈️ Di Lanud Iswahjudi✈️ Su-30MK2 TS-3004 mendarat di Lanud Iswahjudi [TNI AU]

Sejumlah penerbang Skadron Udara 11, Lanud Hasanuddin Makassar melaksanakan latihan pertempuran udara Dog Fight dan Beyond Visual Range (BVR) di Lanud Iswahjudi, Magetan. Latihan yang bertajuk Advance Fighter Tactical Course (AFTC) ini direncanakan akan berlangsung selama 7 minggu dan dipimpin langsung oleh Danskadron Udara 11, Letkol Pnb I Gusti Ngurah Sorga.

Saat diwawancarai di apron Skadron Udara 14 usai melaksanakan latihan, Senin (23/3/2020), Letkol Gusti menyampaikan bahwa, AFTC dilatih oleh 3 instruktur penerbang dari TFASA (Afrika selatan) yang telah berpengalaman pada berbagai jenis pesawat tempur.

Latihan ini dilatih oleh 3 instruktur TFASA dari Afrika Selatan yang berpengalaman pada berbagai jenis pesawat tempur. Adapun tujuannya adalah melatih penerbang pesawat tempur Sukhoi SU-27/30 dalam melaksanakan pertempuran dari udara ke udara (Air to Air Combat), baik Dog Fight maupun BVR yang menggunakan rudal jarak pendek dan rudal jarak menengah,” demikian disampaikan oleh lulusan terbaik Seskoau A-53 tahun 2016 ini.

Lebih lanjut disampaikan bahwa, pelaksanaan AFTC dilaksanakan dalam dua fase latihan, yakni Close Combat yang dikenal dengan istilah Dog Fight dan Beyond Visual Range (BVR).

Close Combat merupakan pertempuran jarak dekat, sementara BVR adalah pertempuran jarak jauh. Latihan Close Combat tersebut bisa dilaksanakan antara satu lawan satu pesawat dan dua lawan satu pesawat. Kemudian BVR merupakan latihan pertempuran udara jarak jauh. Latihan BVR ini dilatihkan untuk memaksimalkan kemampuan persenjataan yang dimiliki oleh pesawat tempur Sukhoi SU-27/30, khususnya persenjataan rudal jarak menengah.

Kita berlatih dalam memahami dan mempelajari taktik BVR dengan persenjataan yang dimiliki oleh pesawat tempur Sukhoi SU-27/30,” ungkap Danskadron Udara 11.

Sebelum pelaksanaan AFTC, seluruh siswa melaksanakan Ground School selama satu minggu, kemudian dilanjutkan dengan terbang Familiarisasi dengan instruktur penerbang yang berasal dari TFASA (Afrika Selatan) tersebut, setelah itu baru melaksanakan fase latihan AFTC.

  ✈️ TNI AU  

Covid 19 Pembelajaran Menghadapi Perang Senjata Biologi

 Mobil dekontaminasi TNI AD [DitZ] ✈️

Wabah COVID-19 atau virus Corona menyebar ke berbagai belahan dunia. Korban akibat virus asal Wuhan ini terus berjatuhan. Tidak terkecuali ke Indonesia.

Pengamat pertahanan dan militer, Connie Rahakundini Bakrie menilai Indonesia harus menjadikan wabah Corona sebagai pelajaran atau latihan menghadapi perang senjata biologi ke depan.

Kendati demikian menandaskan tidak perlu diperdebatkan tentang virus Corona senjata biologi atau bukan.

"Jangan lagi dibahas tentang senjata biologi atau bukan, tapi kita harus siap hadapi senjata biologi. Ini bisa menjadi latihan, karena ke depannya bentuk rupanya akan berubah," kata Connie Rahakundini Bakrie kepada SINDOnews, Jumat (20/3/2020).

Apalagi, lanjut dia, ada penelitian tahun 2003 silam yang memprediksi tahun 2017 hingga tahun 2023 mendatang kebutuhan pasar tentang bagaimana deteksi, proteksi, dekontaminasi dan lain-lain itu akan meningkat 5%.

"Bayangkan 2017 sampai 2023," katanya.

Dia tidak menutup kemungkinan serangan virus muncul pada tahun tahun berikutnya. "Dengan adanya statement begitu, harus kita asumsikan sampai 2023 ini masih ada serangan lain, namanya bisa Corona, bisa Corona yang bermutasi saya enggak tahu," sambungnya.
 

  sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...