Sabtu, 22 Agustus 2026

Transfer Teknologi Pertahanan dari Tiongkok Dimulai 2027

 ⚓️ 🚀 Bersama Pindad  Kapal perang TNI AL, KRI Sampari 628 tembakkan rudal C-705 dalam Operasi TNI Terintegrasi 2026 (Dispenal)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok akan mencakup transfer teknologi untuk mendukung pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.

Pelaksanaan kerja sama tersebut ditargetkan mulai berjalan paling lambat pada 2027.

Hal itu disampaikan Sjafrie setelah mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan atau 2+2 RI-Tiongkok bersama Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, dan Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Sjafrie menjelaskan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dilakukan kedua negara.

"Kerja sama kita dengan Tiongkok dalam industri pertahanan adalah melanjutkan apa yang sudah kita lakukan dan apa yang akan kita kerjakan," kata Sjafrie saat ditemui awak media setelah pertemuan.

Menurut Sjafrie, kerja sama tersebut mencakup pengembangan fasilitas produksi amunisi, misil, roket, dan sejumlah kebutuhan industri pertahanan lainnya.

Untuk sejumlah teknologi yang belum dikembangkan di Indonesia, Tiongkok akan memberikan dukungan melalui transfer teknologi. Langkah tersebut ditujukan agar Indonesia dapat membangun kemampuan produksi dan fasilitas industri pertahanan secara bersama-sama di dalam negeri.

"Yang belum kita buat, dia bantu dan dia akan kirim transfer teknologi agar supaya kita bisa membangun pabrik bersama-sama di Indonesia. Ini yang kita lakukan industri pertahanan," ujarnya.

 Paling Lambat 2027

Sjafrie menekankan transfer teknologi menjadi salah satu hal yang diangkat Indonesia dalam kerja sama industri pertahanan dengan Tiongkok. Indonesia, kata dia, ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan teknologi yang telah dikembangkan Tiongkok.

"Jadi yang saya angkat adalah mengenai bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh Tiongkok," kata Sjafrie.

Ketika ditanya mengenai waktu dimulainya pembangunan teknologi misil dan fasilitas terkait di Indonesia, Sjafrie menyebut pelaksanaannya ditargetkan paling lambat 2027.

"Ini paling lambat 2027 sudah jalan," tegasnya.

Dalam kerja sama tersebut, PT Pindad akan menjadi pihak Indonesia yang terlibat. Hal itu ditegaskan Sjafrie ketika ditanya apakah pembangunan tersebut akan melibatkan Pindad.

"Ya, Pindad. Pasti Pindad," jawabnya.

Adapun, kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok sebelumnya telah mencakup PT Pindad dan perusahaan pertahanan Tiongkok.

Berdasarkan informasi Kementerian Pertahanan RI, PT Pindad telah menandatangani nota kesepahaman dengan dua perusahaan pertahanan asal Tiongkok, Norinco dan Sany Group, pada Mei 2025. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan bersama, produksi bersama, serta penjajakan kandungan lokal di Indonesia. (Fajar Nugraha)

  👷  Metro TV  

Kemhan Tinjau Harwat Ranpur Marinir

♞  Pastikan ranpur PT 76M berjalan lancar PT 76 Marinir (Ist)

Kepala Staf Korps Marinir (Kas Kormar) Mayjen TNI (Mar) Suherlan mendampingi Kepala Badan Pemeliharaan dan Perawatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kabaharwathan Kemhan RI) Laksdya TNI Ir. Supo Dwi Diantara, S.T., M.Tr.Opsla., IPU., M.A., M.S.P., APEC Eng., ASEAN Eng., meninjau perbaikan Kendaraan Tempur (Ranpur) Korps Marinir TNI AL jenis Tank PT-76 M di PT Lumindo Artha Sejati, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Kamis (20/08/2026).

Kegiatan diawali dengan paparan oleh Project Manager PT Lumindo Artha Sejati, Arif Mei Subiyanto, S.T., yang memaparkan berbagai hal terkait pelaksanaan pengerjaan serta perkembangan perbaikan Ranpur Tank PT-76 M. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kabaharwathan Kemhan RI, peninjauan perbaikan Ranpur, penyerahan cenderamata dan plakat, penulisan kesan dan pesan, serta diakhiri dengan foto bersama.

Dalam sambutannya, Kabaharwathan Kemhan RI menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk melihat secara langsung kemampuan, kesiapan fasilitas, sumber daya manusia, metode kerja, serta kualitas pelaksanaan pemeliharaan dan perawatan (harwat) Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam).

Dalam pembinaan harwat Alpalhankam, kita tidak hanya dituntut untuk menjaga kondisi materiel agar tetap laik digunakan, tetapi juga harus mampu memastikan bahwa setiap proses harwat dilaksanakan secara terencana, terukur, memenuhi standar teknis, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Kemhan mendorong agar industri pertahanan nasional tidak hanya menjadi pelaksana pengadaan dan pemasangan suku cadang, tetapi juga secara bertahap mampu membangun kemandirian harwat Alpalhankam nasional, sehingga ketergantungan terhadap dukungan dari luar negeri dapat dikurangi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Aslog Pangkormar Brigjen TNI (Mar) Efhardian, M.Tr.Opsla., Kapusrenharwat Alpalhan Laksma TNI Saepudin Hidayat, S.E., M.Tr.Hanla., Kadisharmat Kormar Kolonel Marinir Ukik Ari Nursanto, M.Tr.Hanla., M.M., Kabid Alpalhan Matra Udara Kolonel Tek Suparman, S.T., M.Tr.(Han)., dan Kabid Sarhan Matra Udara Kolonel Tum Achmad Fauzi, S.T., M.Eng. (Benta)


  ♞  Bernasindo  

Jumat, 21 Agustus 2026

Menhan Tiongkok Sepakat Perdalam Kerja Sama Militer dengan Indonesia

  Modernisasi sistem pertahanan nasional Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) bersama Menteri Pertahanan China Laksamana Dong Jun di Gedung Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). (ANTARA/Walda Marison)
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menerima kedatangan Menhan Tiongkok Laksamana Dong Jun di Gedung Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan memperdalam kerja sama militer dengan Indonesia.

"Saat ini kerja sama pertahanan Tiongkok-Indonesia sudah jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Baik dari segi kedalamannya maupun cakupannya kita telah mencapai hasil yang melimpah di berbagai bidang dan semua tingkatan," kata Dong Jun usai kedatangannya disambut oleh Sjafrie di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, dilansir dari Antara, Jumat, 21 Agustus 2026.

Dong Jun mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menggandeng Indonesia dalam memodernisasi sistem pertahanan nasional. Hal tersebut, menurut dia, harus dilakukan agar Indonesia dan Tiongkok mampu menjadi negara yang kuat dan bisa menangkal ragam ancaman di kawasan.

Tidak hanya di bidang modernisasi alutsista saja, Dong Jun memastikan kedua negara akan menyelami ragam potensi kerja bidang pertahanan. Hal ini, demi memperkuat posisi Indonesia dan Tiongkok di ASEAN maupun dunia.

"Boleh dikatakan, kerja sama kedua negara memiliki prospek yang luas. Kualitas dan efisiensinya terus meningkat," terang Dong Jun.

Oleh karena itu, Dong berharap kerja sama strategis ini bisa terus terjalin dengan baik demi kebaikan Indonesia dan Tiongkok.

"Saya bersama Pak Menhan Sjafrie, kami sama yakin bahwa di bawah kepemimpinan dan arahan kepala negara, kita dapat meningkatkan hubungan kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi. Terima kasih," ungkap Dong Jun.

Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyambut baik ragam rencana kerja sama militer yang akan dijalankan Indonesia dan Tiongkok. Sjafrie berharap kerja sama bidang pertahanan ini dapat semakin mempererat hubungan baik antara Indonesia dengan Tiongkok, yang sudah terjalin sejak 19 tahun lalu.

"Hubungan antara Indonesia dan Tiongkok itu berlangsung dengan sangat akrab dan kita akan komitmen untuk meningkatkan kerja sama ini," kata Sjafrie.

  💥 
Metro TV  

Kencana 07 Kembali Perkuat Operasi Skadron Udara 17

Tuntas Check D Enam Bulan Pesawat angkut VVIP Kencana 07 TNI AU [TNI AU]

Pesawat B-737-400 (Kencana 07) resmi diserahterimakan kepada Skadron Udara 17 setelah menuntaskan pemeliharaan berat Check D di Satuan Pemeliharaan 14 Depohar 10. Penyerahan dilakukan oleh Komandan Sathar 14 Letkol Tek Syahprial Rahman kepada perwakilan Skadron Udara 17, Mayor Pnb Andreas, dalam kegiatan yang berlangsung di Apron Depohar 10 Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Kamis (13/8/2026).

Pemeliharaan Check D merupakan pemeliharaan berkala tingkat tinggi dengan interval delapan tahun yang mencakup pemeriksaan dan perawatan secara menyeluruh terhadap berbagai sistem serta struktur pesawat. Proses pemeliharaan Kencana 07 dilaksanakan selama enam bulan dengan melibatkan para teknisi berpengalaman Sathar 14 yang bekerja secara cermat, disiplin, dan berorientasi pada standar keselamatan penerbangan.

Usai seluruh rangkaian pemeliharaan diselesaikan, Kencana 07 menjalani tahapan uji terbang untuk memastikan seluruh sistem pesawat berfungsi secara optimal dan memenuhi persyaratan keselamatan. Hasil pemeriksaan dan uji terbang tersebut menyatakan Pesawat A-7307 laik terbang, sehingga siap kembali melaksanakan tugas dan tanggung jawab operasional yang diemban TNI Angkatan Udara.

Kembalinya Kencana 07 ke Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma menjadi bukti nyata kontribusi satuan pemeliharaan dalam menjaga kesiapan dan keandalan alutsista TNI AU. Pesawat tersebut kini siap kembali memperkuat dukungan penerbangan VIP/VVIP sekaligus mendukung berbagai tugas operasi strategis, dengan mengedepankan keselamatan, kesiapan, dan profesionalisme sebagai landasan utama setiap pelaksanaan tugas.

  TNI AU  

Kamis, 20 Agustus 2026

[Video] Membangun Air Power dari Balik Hanggar

  MRO Hercules dan Kemandirian Industri Dirgantara IndonesiaGMF AeroAsia menyerahkan satu unit C-130 Hercules bernomor ekor A-1319 ke Kementerian Pertahanan (Kemhan) di Hangar 4 GMF AeroAsia, Tangerang, Banten, Rabu (19/8/2026). Cetak Sejarah Baru, Mampu Modernisasi Hercules C-130H secara lokal. (GMF)

Kekuatan udara tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak atau seberapa canggih pesawat yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan untuk menjaga setiap platform tetap siap terbang dan beroperasi.

Dalam episode Defense Talk kali ini, kami berbincang bersama Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), Andi Fahrurrozi, mengenai peran strategis Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) dalam mendukung kesiapan TNI Angkatan Udara sekaligus membangun kemandirian industri dirgantara nasional.

Diskusi mengulas pelaksanaan MRO pesawat C-130 Hercules TNI AU di GMF, mulai dari tantangan teknis, kesiapan SDM dan fasilitas, standar kelaikudaraan, alih teknologi, hingga upaya meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.

Lebih jauh, pembahasan juga melihat bagaimana kolaborasi antara GMF, TNI AU, PT Dirgantara Indonesia, pemerintah, dan industri nasional dapat membangun ekosistem MRO pertahanan yang semakin kuat.

 Lalu, mampukah Indonesia melangkah lebih jauh?

Episode ini turut membahas peluang menjadikan Indonesia sebagai regional hub MRO Hercules, pengembangan fasilitas MRO di Kertajati, hingga bagaimana GMF mempersiapkan kemampuan untuk menangani berbagai platform militer baru yang akan memperkuat TNI AU dalam beberapa dekade mendatang.

Karena pada akhirnya, kekuatan udara tidak hanya dibangun di landasan pacu, tetapi juga dari balik hanggar.

 Berikut video liputan IDefense Magz ::
 


  ✈️   Youtube  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...