Selasa, 18 Agustus 2026

[Video] Drone Anak Bangsa Untuk Pertahanan Negara

 ⍜  Puluhan drone lokal tampil dalam Expo di Jakarta Ilustrasi drone serbu otomatis digunakan Pasmar (PasMar1)

Puluhan produsen drone lokal tampil di Indonesia Drone Expo 2026 di Kemayoran, Jakarta.

Dari data Kementrian Perindustrian menunjukan produksi drone lokal berpotensi ekonomi yang tinggi

 Berikut video liputan CNN :



 
   Youtube    

Senin, 17 Agustus 2026

Deretan Alutsista Baru TNI yang Datang pada 2026

  Tercatat sebelum HUT RI Pesawat Rafael dan A400M TNI AU terlibat dalam latihan gabungan TNI (Dispenau)

Indonesia terus memperbesar dan memodernisasi kekuatan militernya selama delapan puluh satu tahun setelah merdeka.

Langkah tersebut terlihat dari kedatangan berbagai alat utama sistem persenjataan atau alutsista baru sepanjang 2026. Mulai dari pesawat tempur, pesawat angkut, radar pertahanan udara, hingga kapal perang.

Modernisasi diperlukan karena TNI masih mengoperasikan sejumlah alutsista yang telah berusia puluhan tahun. Indonesia juga memiliki wilayah darat, laut, dan udara yang sangat luas sehingga membutuhkan kemampuan pengawasan, mobilitas, serta pertahanan yang memadai.

Tahun 2026 menjadi salah satu periode penting bagi modernisasi pertahanan Indonesia.

TNI AU menerima pesawat tempur Rafale pertamanya, serta kedatangan pesawat angkut Airbus A400M kedua.

TNI AL juga menerima KRI Prabu Siliwangi-321 serta KRI Canopus-936, kapal pertama Indonesia yang memiliki kemampuan mendukung penyelamatan kapal selam.

 Enam Rafale Resmi Memperkuat TNI AU

Salah satu kedatangan paling besar pada 2026 adalah pesawat tempur Dassault Rafale buatan Prancis.

Tiga Rafale pertama tiba di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, pada 23 Januari 2026. Kedatangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang mengoperasikan Rafale.

Tiga unit berikutnya datang menjelang acara penyerahan alutsista oleh Presiden Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 Mei 2026. Dengan tambahan tersebut, TNI AU telah menerima enam dari total 42 Rafale yang dipesan.

Rafale sendiri merupakan pesawat tempur multirole yang dapat menjalankan misi pertempuran udara, serangan terhadap sasaran di darat, pengintaian, dan patroli wilayah udara.

Pesawat tersebut memperkuat Skadron Udara 12 di Lanud Roesmin Nurjadin. Sebelumnya, skadron tersebut mengoperasikan pesawat Hawk 109/209 yang kemudian dipindahkan ke Skadron Udara 1.

Penyerahan Rafale juga dilengkapi rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor serta AASM HAMMER. Sistem persenjataan tersebut memungkinkan Rafale menyerang sasaran di udara ataupun darat dari jarak jauh.

Dalam acara pada Mei 2026, pemerintah secara simbolis menyerahkan satu rudal Meteor dan enam AASM HAMMER kepada TNI AU.

 Airbus A400M Kedua Tiba dari Spanyol

TNI AU juga menerima pesawat angkut strategis Airbus A400M kedua pada 2026.

Pesawat dengan nomor registrasi A-4002 tersebut mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma pada 28 Maret 2026 setelah menempuh penerbangan dari fasilitas Airbus di Sevilla, Spanyol.

A-4002 melengkapi pesawat pertama bernomor A-4001 yang telah tiba pada November 2025.

Dengan demikian, dua A400M yang dipesan Indonesia telah berada di dalam negeri.

A400M mampu mengangkut personel, kendaraan militer, alat berat, logistik, dan perlengkapan kemanusiaan. Pesawat ini juga dapat beroperasi dari landasan yang relatif pendek serta menjalankan misi pengisian bahan bakar di udara.

Kemampuan tersebut memperluas jangkauan operasi TNI AU, terutama untuk mengirimkan pasukan dan logistik ke berbagai wilayah Indonesia. A400M juga dapat digunakan dalam operasi penanganan bencana serta misi kemanusiaan ke luar negeri.

Pesawat kedua kemudian diserahkan secara resmi oleh Prabowo kepada TNI dalam acara di Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 Mei 2026.

 Enam T-50i Golden Eagle Tambahan

Selain Rafale, TNI AU menerima enam pesawat T-50i Golden Eagle baru dari Korea Selatan.

Pengiriman dimulai pada Februari 2026 dan diselesaikan pada akhir Juni. Korea Aerospace Industries (KAI) kemudian mengumumkan penyelesaian proses penerimaan seluruh pesawat pada 16 Juli 2026.

Enam pesawat tersebut merupakan bagian dari kontrak senilai sekitar US$ 240 juta yang ditandatangani pada 2021. Kontrak juga mencakup dukungan teknis dan paket logistik.

T-50i merupakan pesawat latih jet supersonik yang juga dapat digunakan untuk menjalankan misi tempur ringan. Pesawat ini digunakan untuk melatih calon penerbang sebelum mengoperasikan pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi.

Indonesia sebelumnya telah menerima 16 T-50i berdasarkan kontrak pertama yang ditandatangani pada 2011. Dengan kedatangan enam unit terbaru, jumlah T-50i yang pernah dikirim kepada Indonesia menjadi 22 pesawat.

 Dua Radar GM403 Perkuat Pengawasan Udara

Kemampuan pengawasan udara Indonesia juga diperkuat dengan kedatangan radar Ground Master 403 atau GM403 buatan Thales, Prancis.

Thales secara resmi menyerahkan dua radar GM403 pertama kepada TNI AU pada 18 Mei 2026. Salah satu sistem ditampilkan dalam acara penyerahan alutsista di Lanud Halim Perdanakusuma.

Kedua radar tersebut merupakan bagian dari pengadaan 13 GM403 yang dijalankan bersama PT Len Industri. Sebanyak 11 radar berikutnya dijadwalkan diserahkan secara bertahap.

GM403 merupakan radar pengawas udara tiga dimensi jarak jauh. Radar ini dapat mendeteksi serta melacak pesawat tempur, pesawat tanpa awak, rudal, dan berbagai objek lain di udara.

Sistem tersebut juga memiliki fungsi Ground Controlled Interception. Data yang dihasilkan radar dapat digunakan untuk membantu mengarahkan pesawat tempur menuju sasaran yang memasuki wilayah udara Indonesia.

Radar GM403 akan diintegrasikan dengan sistem komando dan pengendalian SkyView. Integrasi tersebut memungkinkan informasi dari sejumlah radar disatukan untuk membentuk gambaran situasi udara nasional.

 KRI Prabu Siliwangi Tiba dari Italia

Modernisasi tidak hanya terjadi di udara. TNI AL menerima kedatangan KRI Prabu Siliwangi-321 pada Maret 2026.

Kapal tersebut sebelumnya diserahkan oleh galangan Fincantieri kepada TNI AL di Muggiano, Italia, pada 22 Desember 2025. KRI Prabu Siliwangi kemudian memulai pelayaran menuju Indonesia pada Februari 2026.

Setelah menempuh perjalanan mengelilingi Afrika, kapal tiba di wilayah perairan Indonesia pada 22 Maret. KRI Prabu Siliwangi kemudian bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 26 Maret 2026.

Kapal ini memiliki panjang sekitar 143 meter dan bobot penuh sekitar 6.270 ton. Kecepatan maksimumnya dapat mencapai 32 knot.

KRI Prabu Siliwangi dirancang untuk menjalankan berbagai misi, mulai dari peperangan permukaan, pertahanan udara, patroli, hingga operasi kemanusiaan.

Kapal tersebut menjadi kapal kedua dari kelas yang sama setelah KRI Brawijaya-320, yang telah tiba di Indonesia pada September 2025. Keduanya ditempatkan untuk memperkuat jajaran Komando Armada II di Surabaya.

KRI Prabu Siliwangi dilengkapi meriam utama kaliber 127 milimeter, sistem radar, sensor, dan fasilitas penerbangan untuk helikopter. TNI AL juga mempertimbangkan pemasangan rudal antikapal dan rudal pertahanan udara tambahan.

 KRI Canopus, Kapal Penyelamat Kapal Selam Pertama

TNI AL kembali mendapat tambahan kekuatan dengan kedatangan KRI Canopus-936 pada 11 Mei 2026.

Kapal tersebut diterima di Dermaga Kolinlamil, Jakarta, oleh Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali.

KRI Canopus merupakan kapal pertama milik Indonesia yang dirancang untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan kapal selam.

Kapal tersebut merupakan hasil kolaborasi galangan kapal Jerman Abeking & Rasmussen dengan PT Palindo Marine. Tingkat komponen dalam negerinya disebut mencapai 60%.

KRI Canopus dilengkapi Autonomous Underwater Vehicle, Remotely Operated Vehicle, perangkat survei hidrografi, dan pesawat tanpa awak.

Peralatan tersebut dapat digunakan untuk melakukan survei hidrografi, oseanografi, geofisika, serta pemetaan dasar laut secara terperinci.

Kapal ini juga dapat menjalankan pencarian objek di bawah laut, mendeteksi sinyal darurat, memetakan jalur kapal selam, mendeteksi ranjau, serta mendukung kegiatan intelijen maritim.

 NC212i Terbaru Buatan PTDI

Alutsista terbaru lainnya datang dari industri pertahanan dalam negeri. PT Dirgantara Indonesia menyerahkan satu pesawat NC212i kepada TNI AU pada 30 Juli 2026.

Pesawat bernomor AX-2135 tersebut merupakan unit kedelapan dari total sembilan NC212i yang dipesan Kementerian Pertahanan untuk TNI AU.

Unit terbaru memiliki konfigurasi untuk mengangkut pasukan, menjalankan operasi modifikasi cuaca, dan melakukan pemotretan udara.

NC212i dapat digunakan untuk mengangkut personel ataupun barang menuju wilayah yang memiliki landasan terbatas. Fleksibilitas tersebut membuat pesawat dapat digunakan untuk operasi militer, distribusi logistik, penanganan bencana, dan evakuasi.

Pesawat diterbangkan dari fasilitas PTDI di Bandung menuju Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. PTDI masih harus menyelesaikan satu NC212i terakhir untuk memenuhi kontrak sembilan pesawat.

   
CNBC  

Minggu, 16 Agustus 2026

Prajurit Koops TNI Habema Amankan Senjata Kelompok Bersenjata di Gamagai

🛩  Melalui observasi menggunakan drone Prajurit Koops TNI Habema kembali menunjukkan ketangguhan, kewaspadaan, dan profesionalisme melalui pelaksanaan penguasaan wilayah terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap VIII/Intan Jaya pimpinan Apeni Kobogau di sekitar Kampung Gamagai, Distrik Ugimba, Kab. Intan Jaya , Provinsi Papua Tengah, (Habema)

Dalam menjalankan tugas menjaga keamanan, prajurit Koops TNI Habema kembali menunjukkan ketangguhan, kewaspadaan, dan profesionalisme melalui pelaksanaan penguasaan wilayah terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap VIII/Intan Jaya pimpinan Apeni Kobogau di sekitar Kampung Gamagai, Distrik Ugimba, Kab. Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, Papua Tengah, Sabtu (15/08/26).

Patroli tersebut bermula ketika personel Koops TNI Habema diKampung Gamagai melaksanakan pengamanan wilayah. Di tengah kondisi medan yang gelap dan terjal, suhu dingin ekstrim 3 derajat, prajurit tetap menjalankan tugas dengan penuh kewaspadaan. Suara anjing serta cahaya senter yang terpantau di sekitar sungai menjadi petunjuk awal yang kemudian ditindaklanjuti melalui observasi menggunakan drone.

Hasil pemantauan udara menunjukkan adanya tiga orang yang bergerak menyusuri sungai menuju wilayah Distrik Ugimba dan kemudian berhenti di sebuah honai yang diduga menjadi tempat persinggahan. Informasi tersebut segera dilaporkan secara berjenjang untuk menentukan langkah selanjutnya. Koordinasi yang cepat dan terukur kemudian dilakukan dengan menambah kekuatan personel dari TK Gamagai untuk melaksanakan penyergapan.

Pada sabtu dini hari, personel melaksanakan penguasaan wilayah terhadap honai yang menjadi lokasi persinggahan kelompok tersebut. Saat penindakan dilakukan, kelompok yang diduga OPM tersebut memilih melarikan diri menuju kawasan hutan dan ketinggian, yang mengarah ke Kampung Kulapa.

Dari hasil pemeriksaan, personel berhasil mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok besenjata OPM, antara lain satu senjata rakitan, satu pistol revolver standar, tujuh butir munisi, satu kotak munisi senapan angin, satu panah beserta lima anak panah, dua noken, satu bendera Bintang Kejora, satu senter, serta sembilan baterai.

Kapen Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menyampaikan bahwa keberhasilan penguasaan wilayah tersebut merupakan hasil dari kesiapsiagaan, kecermatan, dan koordinasi personel di lapangan. “Prajurit Koops TNI Habema akan terus melaksanakan tugas secara selektif, terukur, profesional, dan mengutamakan keselamatan masyarakat dalam menjaga keamanan wilayah Papua,” ujarnya.

Keberhasilan tersebut menjadi gambaran nyata ketangguhan prajurit Koops TNI Habema dalam melaksanakan tugas di tengah medan Papua yang berat dan penuh tantangan. Patroli tersebut dilaksanakan secara selektif, terukur, profesional, dan tetap mengutamakan keselamat masyarakat serta nilai-nilai kemanusiaan, para prajurit terus hadir untuk menjaga keamanan dan memberikan rasa aman bagi masyarakat di Wilayah Papua.

Operasi di Kampung Gamagai juga menunjukkan bahwa keberhasilan dalam menghadapi situasi keamanan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan, tetapi oleh kesiapsiagaan, kecermatan, koordinasi, dan kemampuan prajurit mengambil keputusan secara terukur di lapangan. Di balik beratnya medan dan panjangnya waktu penugasan, para prajurit tetap menjalankan amanah dengan satu tujuan menjaga keamanan wilayah, melindungi masyarakat, dan memastikan tugas negara terlaksana dengan penuh tanggung jawab. (***)

  🛩 Lintas Papua  

Sabtu, 15 Agustus 2026

Kemhan Tandatangani Pengembangan Rantis Fortes H.V.9.0

Bersama PT. Elang Sukses Mardika (RALIKA group)Rantis Fortes H.V 9.0.(Ralika)

Kabatekhan hadiri penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama pengembangan kendaraan taktis Fortes H.V 9.0.

Rantis Fortes H.V 9.0 adalah kendaraan taktis (rantis) militer terbaru buatan PT Elang Sukses Mardika (Ralika group).

Prosesi penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh pihak Batekhan Kemhan bersama jajaran Direksi PT. ESM selaku mitra industri pertahaanan dalam negeri.

Langkah taktis ini diharapkan dapat mengakselerasi kesiapan teknologi serta modernisasi alutsista TNI, sekaligus mempromosikan industri pertahanan nasional menjadi lebih kompetitif di kancah global.

   Batekhan  

Jumat, 14 Agustus 2026

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV)PT PAL Indonesia

 Membangun kemampuan teknologi di dalam negeri USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (Corcomm PAL)

Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.

Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.

Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.

Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

  ★ PAL Indonesia  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...