👷 Fasilitas perbaikan dan pembangunan kapal
Foto udara fasilitas PT PAL Indonesia di Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (23/9/2026). Fasilitas tersebut dikembangkan untuk mendukung kegiatan perbaikan dan pembangunan kapal. (ANTARA/HO-Humas PT PAL Indonesia)
PT PAL Indonesia menyatakan pengembangan galangan kapal di Desa Sidokelar Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas industri maritim nasional.
Ketua Tim Penyertaan Modal Negara (PMN) PT PAL Indonesia Uut Tata Wijaya mengatakan perusahaan mendapat penugasan sebagai konsolidator nasional galangan kapal untuk mengembangkan kapasitas industri perkapalan di Indonesia.
"PT PAL di sini dengan niatan positif, kita juga memperhatikan apa yang ada di sekitar kami," katanya di Lamongan, Rabu.
Ia menjelaskan fasilitas di Sidokelar tidak hanya diarahkan untuk perbaikan kapal komersial, tetapi juga berpotensi digunakan untuk pembangunan kapal baru, termasuk kapal untuk kebutuhan pertahanan.
Pengembangan teknologi pertahanan tersebut mencakup kapal perang tanpa awak yang beroperasi di permukaan air maupun kapal selam.
Menurut Uut, potensi pasar jasa perbaikan kapal di Jawa Timur masih besar. Berdasarkan data PT PAL, terdapat sekitar 22.891 kunjungan kapal ke Jawa Timur setiap tahun, sedangkan kapasitas galangan yang tersedia baru sekitar 984 kapal atau 4,29 persen.
"Yang bisa ditangani di Jawa Timur tidak sampai lima persen. Maka peluang pasar galangan repair di Jawa Timur masih sangat besar," ujarnya.
Pengembangan fasilitas tersebut menggunakan PMN sebesar Rp 427 miliar. Pada tahap awal, galangan ditargetkan mampu menangani kapal hingga panjang 60 meter dan kemudian meningkat menjadi 100 meter.
Ia menambahkan bahwa pengembangan galangan juga diharapkan memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan tumbuhnya usaha pendukung.
PT PAL mencatat kebutuhan tenaga kerja pada divisi pemeliharaan dapat mencapai sekitar 200 orang, belum termasuk tenaga kerja dari perusahaan sub kontraktor.
Selain itu, perusahaan akan melibatkan masyarakat dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), termasuk kegiatan yang berkaitan dengan nelayan dan pelestarian lingkungan..
Pada Kapal Induk KRI Sriwijaya
ITS Garibald berlabuh di Tanjung Priok resmi menjadi KRI Sriwijaya 100 (Ist)
Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan pihaknya memastikan akan mengganti seluruh peralatan komunikasi yang ada dalam KRI Sriwijaya-100.
Hal tersebut dilakukan karena sampai saat ini peralatan komunikasi yang terpasang di KRI masih menggunakan versi North Atlantic Treaty Organization (NATO).
"Peralatan komunikasi yang punya Italia itu kan versi NATO. Mereka (Nato) tidak akan memberikan itu (alat komunikasi) kepada yang lain selain NATO, maka kita menggunakan versi kita sendiri," kata Ali saat jumpa pers usai mengikuti upacara pemberian nama dan pengibaran bendera di Deck KRI Sriwijaya-100, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis.
Ali tidak merinci teknologi komunikasi apa saja yang akan dipasang di dalam kapal induk tersebut. Dia hanya menjelaskan proses pergantian teknologi itu memakan waktu yang tidak terlalu lama.
"Butuh waktu mungkin empat bulan atau lima bulan sudah bisa operasional," kata Ali.
Setelah proses pergantian teknologi selesai, barulah TNI AL siap untuk mengerahkan KRI Sriwijaya-100 dalam misi apapun sesuai perintah pimpinan.
Kapal induk yang diperkuat oleh 400 awak kapal TNI AL ini baru saja berganti nama dari ITS Giuseppe Garibaldi ke KRI Sriwijaya-100.
Setelah kapal induk ini sudah resmi diterima pemerintah Indonesia, TNI AL selaku pihak operator siap menerjunkan KRI Sriwijaya-100 dalam misi apapun, salah satunya penanggulangan bencana.
Untuk Korps Marinir TNI AL
12 AAV7-A1 batch 1 tiba di Indonesia (Dispenal)
Sebanyak 12 unit Ranpur Amfibi AAV tiba di Indonesia dan menjalani proses pembongkaran di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (22/09/2026).
Kedatangan tahap pertama ini menjadi bagian dari pemenuhan 35 unit AAV untuk memperkuat kemampuan operasi amfibi Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Kedatangan Ranpur disambut Aslog Pangkormar Brigadir Jenderal TNI (Mar) Efhardian, M.Tr.Opsla., didampingi Sahli A Bid Ops Pangkormar Kolonel Marinir Didiet Hendra Wijaya, M.Mp., Danmenkav 1 Marinir Kolonel Marinir Agus Setiyo Budi, M.Tr.Opsla., serta Danyon Ranratfib 1 Marinir Letkol Marinir Muhan Solihan, M.M.Tr.Opsla. Rombongan meninjau kondisi dan proses penerimaan Ranpur yang kemudian diturunkan ke truk oplegger untuk diberangkatkan ke Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, dengan sistem pengikatan guna menjamin keamanan selama perjalanan.
Kehadiran AAV menjadi tonggak penting bagi Korps Marinir setelah sebelumnya menerima 10 unit LVT-7A1 dari Korea Selatan pada 7 Desember 2009. Sebagai kendaraan pendarat amfibi, AAV memperkuat kemampuan pasukan dalam melaksanakan operasi dari laut menuju pantai hingga mencapai sasaran di darat.
AAV dirancang membawa pasukan melintasi zona tempur perairan dan mampu menghadapi gelombang serta arus hingga Sea State 5. Ranpur ini menggunakan mesin Cummins V903 berdaya 525 horsepower, memiliki panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, tinggi 3,26 meter, dan bobot 23 ton, dengan kecepatan hingga 15 km/jam di laut dan 75 km/jam di darat.
AAV diawaki tiga personel dan mampu membawa 21 prajurit infanteri Marinir beserta perlengkapan siap tempur. Kehadirannya bukan sekadar penambahan alutsista, tetapi juga meningkatkan mobilitas laut ke darat, perlindungan lapis baja, daya angkut pasukan, dan kecepatan manuver dalam mendukung kemampuan amfibi Resimen Kavaleri Korps Marinir di negara kepulauan.
Panglima Korps Marinir Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., menegaskan bahwa kehadiran AAV akan semakin memperkuat kemampuan operasi amfibi Korps Marinir, khususnya.
♞ TNI AL
Kerjasama dengan Ficantieri
ITS Garibald berlabuh di Tanjung Priok sedang dipersiapkan menjadi KRI Sriwijaya 100, sebelum serah terima tanggal 24 September 2026 (Ist)
PT PAL Indonesia (Persero) menyiapkan kemampuan maintenance, repair and overhaul (MRO) serta modernisasi kapal untuk mendukung rencana penyesuaian kapal induk Giuseppe Garibaldi dengan kebutuhan operasional TNI Angkatan Laut (TNI AL).
"Modernisasi kapal menuntut pemahaman yang utuh terhadap kondisi aktual platform, karakteristik sistem yang sudah terpasang, serta kebutuhan operasional pengguna," kata CEO PAL Indonesia Kaharuddin Djenod, dalam keterangan di Surabaya, Jatim, Selasa.
Kaharuddin mengatakan proses modernisasi harus diawali dengan pemahaman menyeluruh terhadap kondisi platform dan sistem yang telah terpasang agar pekerjaan dapat dilakukan secara terukur.
Nantinya, proses modernisasi akan dimulai dari inspection dan condition assessment, dilanjutkan dengan engineering, penentuan lingkup pekerjaan, integrasi sistem, hingga testing dan commissioning.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PAL Indonesia akan berkolaborasi dengan Fincantieri selaku pembangun kapal yang nantinya akan mengintegrasikan kebutuhan modernisasi dengan kondisi aktual kapal yang telah beroperasi selama lebih dari empat dekade.
Modernisasi kapal yang telah beroperasi memiliki tantangan berbeda dibandingkan pembangunan kapal baru dengan tahapannya antara lain meliputi condition assessment, inspeksi, kajian rekayasa, identifikasi teknologi yang sudah tidak lagi sesuai (obsolescence), hingga integrasi sistem lama dengan teknologi baru.
Menurut Kaharuddin, pengalaman lebih dari empat dekade dalam perbaikan kapal menjadi salah satu modal PT PAL untuk menangani pekerjaan modernisasi.
Kapabilitas tersebut mencakup perbaikan platform, sistem propulsi, kelistrikan, navigasi, komunikasi, sensor, hingga integrasi sistem persenjataan.
Ia mengatakan pengalaman tersebut juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia dan penguasaan teknologi industri pertahanan nasional melalui kolaborasi dengan pemilik teknologi.
"Kapabilitas PT PAL dalam MRO dan modernisasi menjadi basis untuk menjalankan tahapan tersebut secara sistematis," kata Kaharuddin.
Modernisasi Giuseppe Garibaldi diharapkan tidak hanya berorientasi pada perbaikan kondisi teknis kapal, tetapi juga menyesuaikan kemampuan platform dengan kebutuhan operasi TNI AL dan karakteristik lingkungan maritim Indonesia.
Penguatan kemampuan MRO dan mid-life modernization (MLM), kata dia, menjadi bagian dari pengembangan kemampuan industri galangan nasional dalam memperpanjang usia pakai dan menjaga kesiapan operasional kapal yang telah memasuki masa penggunaan panjang.
Melalui kerja sama dengan Fincantieri, lanjut dia, PT PAL Indonesia berupaya mendukung kebutuhan TNI AL sekaligus memperluas penguasaan kemampuan rekayasa dan teknologi dalam negeri pada sektor pemeliharaan serta modernisasi kapal perang.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menambahkan kapal induk Giuseppe Garibaldi perlu menjalani modernisasi agar mesin, teknologi, dan perlengkapannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta doktrin operasi TNI AL termasuk kondisi lingkungan maritim tropis Indonesia..
👷 🤝
Latihan bersama dengan Perancis (Dispenau)
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis ditandai dengan kedatangan jet tempur Rafale dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene.
Hal tersebut disampaikan Sjafrie saat menerima kunjungan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
“Dalam kunjungan Yang Mulia pada hari ini, kita akan mengapresiasi penguatan kerja sama di bidang alutsista yang ditandai dengan kedatangan Rafale pertama di Indonesia dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene yang pertama oleh PT PAL,” kata Sjafrie.
Dalam pelaksanaannya, PT Penataran Angkatan Laut (PAL) akan bekerja sama dengan Naval Group, galangan kapal asal Prancis dengan lokasi pembuatan Scorpene di Surabaya, Jawa Timur.
Sementara itu, Sjafrie mengungkapkan kerja sama Indonesia dan Prancis jug diwujudkan dengan pertukaran perwira dalam rangka sekolah dan latihan.
Pada November 2026, Indonesia dan Prancis bakal menggelar latihan bersama (Latma) Garuda Guerrier di Prancis.
“Ke depan ini kita akan terus bekerja sama untuk menunjukkan hubungan pertahanan antara Indonesia dan Prancis,” ucap Sjafrie.
“Terus berkembang dan berada pada momentum yang sangat positif. Tidak hanya untuk pengadaan alutsista, tapi juga dalam peningkatan kemampuan profesionalisme personel dan hubungan antar angkatan bersenjata,” tambahnya.