Jumat, 22 Februari 2019

Pangab Australia Tegaskan Komitmen Bahwa Papua Bagian Tak Terpisahkan NKRI

Kunjungan Pangab Australia di Jakarta [Kemhan] ★

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan kehormatan Australian Chief of Defence Force (Panglima Angkatan Bersenjata Australia), General Angus Campbell, AO, DSC., Rabu (20/2) di kantor Kementerian Petahanan, Jakarta.

Dalam kunjungan ini, Pangab Australia menyampaikan komitmennya akan terus berupaya meningkatkan hubungan kerja sama di bidang pertahanan dengan Indonesia, khususnya kerja sama antar Angkatan Bersenjata.

Selain itu, Pangab Australia juga menegaskan bagaimana komitmen dan pandangan Australia terkait Papua sebagai bagian penting yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jadi perlu kami tekankan kembali, komitmen kami sebagai Pangab Australia, Militer Australia dan Pemerintah Australia dimanapun, komitmen kami bahwa Papua adalah bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dari Indonesia”, tandas Pangab Australia saat diterima Menhan RI.

Lebih lanjut disampaikannya, komitmen Australia tersebut juga telah disampaikannya saat bertemu dengan Panglima TNI. Sikap dan pandangan Australia tersebut tidak akan berubah dan akan tetap sama sampai kapanpun. Dan Australia juga tidak akan ikut campur dalam masalah tersebut.

Australia memandang penting dan akan terus menjaga hubungan persahabatan yang telah terjalin baik dengan Indonesia. Terkait kerjasama di bidang pertahanan, dikatakannya pihaknya bersama Panglima TNI telah berkomitmen untuk terus membangun hubungan yang lebih lengkap, lebih kompleks dan lebih bernilai, khusunya antara kedua institusi pertahanan dan kedua Angkatan Bersenjata.

Konsep ke depan, Angkatan Bersenjata Australia dan TNI akan berupaya bersama-sama membangun pemimpin – pemimpin masa depan yang memiliki komitmen kuat membangun hubungan kerjasama kedua negara.

Hubungan akan dibangun dari tiga lavel yakni hubungan antar senior para purnawirawan, pemimpin masa kini dan masa depan. Dengan hubungan yang baik ini, diharapkan akan tercipta komitmen yang kuat dari militer kedua negara agar hubungan tersebut terus terjalin kuat sepanjang masa.

  Kemhan  

Kamis, 21 Februari 2019

PTDI Butuh Dana $ 119 Juta

Untuk Tingkatkan Produksi Pesawat N219 N219 produk PT DI [PT DI] ★

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tengah mengkaji alternatif pendanaan eksternal yang mengedepankan ekuitas. Berdasarkan rencana tersebut, produsen pesawat milik negara ini sedang meninjau peluang penerbitkan surat berharga perpetual (perpetual bond) ataupun menggalang dana dari kontrak investasi kolektif-dana investasi real estate (KIK-DIRE).

Direktur Utama Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengatakan tengah mengkaji dan berdiskusi mengenai pendanaan alternatif dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), karena perseroan tengah membutuhkan dana sebesar US$ 119 juta untuk mendukung ekspansi fasilitas produksi pesawat terbang N219.

"KIK-DIRE maupun perpetual bond merupakan beberapa instrumen atau sumber dana yang sedang dijajaki perusahaan. Namun demikian, perseroan belum menentukan pilihan," ujar Elfien di Jakarta, Selasa (12/2).

PT DI masih akan mendiskusikan rencana pendanaan eksternal terkait ekuitas dengan pihak Bappenas lebih lanjut dalam waktu dekat. "Dua minggu lagi, kami akan kembali berdiskusi," ungkap dia.

Pendanaan eksternal ini diharapkan dapat segera difinalisasi karena perseroan memang perlu untuk memingkatkan kapasitas produksi pesawat terbang N219 yang tingkat permintaannya tengah meningkat.

"Permintaan tengah naik, misalnya itu dari Singapura, Uni Emirat Arab, Afrika, Amerika Latin," papar Elfien.

Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA) Bappenas Ekoputro Adijayanto mengatakan pihaknya turut mendorong penerbitan instrumen investasi alternatif untuk mendorong proyek badan usaha milik negara (BUMN) atau swasta. Karena itu pihaknya juga berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai hal tersebut.

https://2.bp.blogspot.com/-cYLBHcZq99k/W8svO8i5oMI/AAAAAAAALgY/-MKdealBmIgTFpaxDpEUGIX4oMzwbI77QCPcBGAYYCw/s1600/Pesawat%2BN-219_n219.jpgSalah satu BUMN yang berniat mendanai ekspansi melalui instrumen alternatif investasi, yakni DIRE adalah Dirgantara Indonesia.

Dirgantara Indonesia berniat mencari pendanaan dari DIRE, yang aset dasarnya merupakan kepemilikan atas pabrik,” jelas dia.

Lebih lanjut dia memaparkan proyek perluasan pabrik yang direncanakan Dirgantara Indonesia termasuk salah satu proyek yang ada di pipeline PINA per Januari 2019. Sejalan dengan hal itu, menurut dia, sejauh ini Dirgantara Indonesia bersama tim PINA masih mengkaji potensi dana yang dapat diraih melalui DIRE.

Kajian tersebut juga terkait dengan aset dasar yang akan digunakan.

Pastinya kami ingin menegaskan, instrumen DIRE tidak hanya terbatas untuk aset berupa perumahan. Sebaliknya, di luar negeri, setiap aset berada di atas lahan dapat dijadikan aset dasar dari DIRE,” ungkap Ekoputro.

Rencana penggalangan dana melalui instrumen DIRE, papar dia, merupakan bagian strategi dari Dirgantara Indonesia untuk mendanai ekspansi pabrik. Perusahaan pelat merah tersebut ingin meningkatkan kapasitas produksi, terutama untuk pesawat terbang N219.

Permintaan pesawat terbang N219 cukup tinggi, tapi kapasitas belum memadai sehingga Dirgantara Indonesia perlu ekspansi. Nah, mengenai hal itu, pemerintah juga berinisiatif untuk mendorong peningkatan kapasitasnya,” tegas dia.

Meski target dana melalui DIRE belum ditetapkan, tetapi menilik data pipeline PINA per Januari 2019, kebutuhan investasi Dirgantara Indonesia mencapai Rp 5,9 triliun. Dana tersebut dibutuhkan untuk pengembangan pesawat terbang N219.

  Janes  

Indonesia, DSME Set to Strike Deal for Submarines

Two of four submarines of Indonesian Navy [Hiu Kencana] ★

Korean shipbuilder Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) is in the final stages of negotiations for a massive deal to export submarines to Indonesia, company sources told the JoongAng Ilbo on Wednesday.

According to the sources, the Indonesian Navy is planning to purchase three new submarines from DSME for $ 1.2 billion. Jane’s 360, an online defense media channel, also reported last week that Indonesia and DSME are close to signing an order for the three 1,400-ton submarines, a modified version of the South Korean Navy’s Chang Bogo-class diesel-electric attack submarines.

If the contract is awarded to DSME, the shipbuilder will have won two consecutive submarine deals with Indonesia. In 2011, Korea won a $ 1.1 billion contract for three 1,400-ton submarines as part of Indonesia’s 2024 Defense Strategic Plan.

The three new submarines are to be built by DSME in cooperation with the Indonesian state-owned shipbuilder PT PAL.

During the final negotiation stage, discussions will take place on how to split the work,” said a defense industry source. “Component production and final assembly will be done at the Okpo Shipyard in Korea and a shipyard in Surabaya, Indonesia.

According to the sources, the contract is expected to be signed next month as the two sides have no major disagreements. The contract was supposed to be signed last year, but Indonesia requested more time for review and the deadline was postponed to March this year.

DSME opened a technology cooperation center at the PT PAL Shipyard in October last year as part of its efforts to secure the contract. One month later, it signed an agreement with the shipyard to form a consortium.

Sources said DSME also had an advantage because Indonesia is already operating Korean-built submarines. DSME’s deal with Indonesia in 2011 was Korea’s largest defense export project at that time. With the contract, Korea became the fifth submarine exporter in the world. Of the three submarines purchased by Indonesia, two were built in Korea and delivered later, and the last one is currently being built at the PT PAL Shipyard.

If DSME secures the follow-on order, Korea will supply six out of the 12 new submarines that the Indonesian Navy plans to introduce.

Indonesia-Rusia Jadwal Ulang Pembelian Sukhoi

✈️ Pesawat TNI AU [TNI AU]

Indonesia dan Rusia sepakat untuk penjadwalan ulang jangka waktu pembelian Pesawat Sukhoi SU-35.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan kesepakatan disetujui kedua pihak saat dirinya melakukan kunjungan kerja dan bertemu dengan perwakilan Pemerintah Rusia.

"Disinggung sedikit mengenai masalah pembelian Sukhoi dengan suatu penjadwalan ulang tentang jangka waktunya," ujar Wiranto di kantornya pada Selasa.

Namun, Wiranto tidak menjelaskan secara rinci mengenai kepastian waktunya.

"Tentang sistem pembayaran juga yang tadinya kita cash, kita ajukan adanya imbal dagang, sebagian," kata dia.

Menurut dia, proses pembelian pesawat tempur itu akan rampung dan hanya menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan hal teknis.

Sejak 2017 lalu, Indonesia sepakat membeli 11 unit Sukhoi SU-35 senilai USD 1,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16 triliun.

Dengan pembelian ini, Indonesia mewajibkan Rusia membeli produk-produk dari Indonesia senilai USD 570 juta atau sekitar Rp 8 triliun.

Selain itu, Rusia juga akan membangun fasilitas Maintenance, Repair, and Operating Supplies (MRO) di Indonesia senilai 35 persen dari transaksi.

BUMN Rusia, Rostec dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama tersebut saat Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita berkunjung ke Moskow, Agustus 2017.

Rencananya dua pesawat Sukhoi tersebut akan tiba di Indonesia pada tahun ini.

  ✈️ Anadolu  

Rabu, 20 Februari 2019

Koarmada II Adakan Latihan Peperangan Ranjau

Persiapan latihan peperangan ranjau Komando Armada II [TNI AL]

Komandan Gugus Tempur Laut (Koarmada II) Laksamana Pertama TNI Erwin S. Aldedharma, S.E., M.M., mewakili Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II, Laksamana Muda TNI Mintoro Yulianto, S.Sos., M.Si., sebagai irup Upacara pembukaan Latihan Peperangan Ranjau, bertempat di Rupat Satuan Kapal Ranjau (Satran) Koarmada II. Senin (18/02/2019).

Dalam amanat tertulis Pangkoarmada II yang dibacakan Danguspurla Koarmada II menyampaikan dinamika perkembangan lingkungan strategis saat ini semakin sulit diprediksi karena ketidak teraturan dan ketidak stabilan situasi baik pada tataran global, regional maupun Nasional sebagai dampak dari globalisasi.

Komando Armada II sebagai Kotama operasional mengemban fungsi TNI AL bidang pertahanan di Laut dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diamanatkan dalam undang-undang RI Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI.

Sebagai implementasi tugas TNI selaku penangkal dan penindak setiap bentuk ancaman militer serta ancaman bersenjata, gelar operasi militer perang (OMP) Koarmada sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis Indonesia sebagai Negara kepulauan.

Dalam konteks ini salah satu kemampuan penting yang menjadi Core Competency Koarmada II adalah kemampuan peperangan Ranjau, untuk itu kemampuan prajurit harus terus menerus diasah baik dalam hal kemampuan alutsista maupun profesionalisme prajurit.

Berkaitan dengan hal tersebut, kegiatan latihan peperangan ranjau TNI AL yang diselenggarakan oleh Koarmada II ini merupakan salah satu kegiatan penting untuk meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan unsur serta meningkatkan kerjasama antar unsur pendukung dalam melaksanakan operasi peperangan ranjau.

Pangkoarmada II berharap dengan adanya latihan peperangan ranjau, para peserta dapat mampu memahami prosdur peranjauan, mampu melaksanakan perencanaan peperangan ranjau, menggunakan peralatan, serta tindakan perlawanan ranjau, sehingga apa yang disampaikan dalam latihan tersebut dapat menunjang pelaksanaan tugas dan profesionalisme prajurit, serta hasil dari latihan ini dapat di aplikasikan dalam tugas operasi sesungguhnya.

Hadir dalam acara tersebut diantaranya Asops Pangkoarmada II, Kadislambairkoarmada II, Dankolatkoarmada II, Dansatrankoarmada II, dan Dansatkopaskakoarmada II.

  ✈️ Koarmada II  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...