Senin, 21 Agustus 2017

Kisah Pasukan Garuda Selamatkan Tentara Spanyol

Dari HizbullahIlustrasi Kontingen Garuda [Kuwadi Kuat]

Kontingen Pasukan Garuda di Haiti mendapatkan medali penghargaan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Di Kongo, atas kerja kerasnya membangun jalan raya, pasukan Garuda juga mendapat banyak pujian. Sebagai pasukan penjaga perdamaian di bawah PBB, kiprah Pasukan Garuda memang mendapat tempat di hati masyarakat setempat.

Pasukan Garuda di Libanon juga sempat menyelamatkan pasukan pengintai Spanyol yang sedang melakukan patroli. Saat itu posisi tim Spanyol benar-benar terjepit karena dikejar pasukan Hizbullah.

Kisah ini dimuat dalam buku Kopassus untuk Indonesia yang ditulis Iwan Santosa dan EA Natanegara dan diterbitkan R&W.

Ceritanya saat itu 60 pasukan Spanyol yang mengendarai 10 panser sedang berpatroli rutin. Mereka sempat mengambil foto dokumentasi kabel saluran air yang dicurigai sebagai kabel komunikasi milik Hizbullah. Ternyata aksi mereka diketahui Hizbullah.

Dengan menggunakan 10 motor trail dan mobil, Hizbullah mengejar tentara Spanyol. Mereka menyandang AK-47 dan roket antitank. Tim pengintai Spanyol terpaksa meminta bantuan Kontingen Indonesia.

Untuk mencegah pertempuran darah, akhirnya Spanyol terpaksa menyerahkan memory card kamera tersebut pada Hizbullah disaksikan pasukan Garuda sebagai penengah.

"Anda punya senjata, kami juga punya. Kami tidak takut menghadapi anda," kata Hizbullah galak pada tentara Spanyol.

Maka setelah konflik mereda, anggota Pasukan Garuda menemui para tokoh Hizbullah. Mereka mencoba menerangkan ada kesalahpahaman antara Hizbullah dan Spanyol. Hubungan pasukan TNI dengan warga sekitar Libanon memang dekat. Sikap Pasukan Indonesia yang ramah tamah ternyata mempunyai keuntungan. Apalagi rakyat Libanon dan Indonesia sama-sama beragama Islam.

Setelah pasukan Garuda memberi penerangan, para anggota Hizbullah bisa memahami masalah tersebut. Mereka pun melupakan konflik yang terjadi dengan pasukan Spanyol dari United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL) ini.

"Kami orang Libanon sebenarnya tidak menghargai dan menghormati UNIFIL karena mereka tidak berpihak secara adil pada orang Libanon selatan. Tetapi kami melakukan ini karena sangat menghormati anda orang Indonesia," kata Hizbullah.

   Merdeka  

Militer AS Bersiap Gelar Dua Latihan Besar dengan TNI AL

CARAT & SEACATLatihan bersama TNI-AL dan USMC dalam CARAT 2015. [istimewa]

Amerika Serikat bersiap kembali gelar latihan militer dengan Tentara Nasional Indonesia. Dalam beberapa pekan mendatang akan ada dua latihan besar yang melibatkan Angkatan Laut AS (US Navy) dan TNI AL.

Demikian ungkap Komandan Gugus Tugas ke-73 Angkatan Laut AS, yang beroperasi di Asia Tenggara, Laksamana Muda Don Gabrielson. Dua latihan besar yang dimaksud adalah Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) dan Southeast Asia Cooperation and Training (SEACAT).

"CARAT ini merupakan latihan militer tahunan, yang hanya melibatkan Angkatan Laut kami dengan TNI AL. Sedangkan SEACAT merupakan latihan gabungan maritim dengan negara-negara mitra kami di Asia Tenggara, termasuk dengan Indonesia," kata Gabrielson, yang tengah berkunjung di Jakarta hari ini.

Dua latihan ini berlangsung dalam waktu yang cukup berdekatan. SEACAT berlangsung selama 21 hingga 30 Agustus 2017 dengan beragam latihan maritim di Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Sedangkan CARAT dengan Indonesia dilaksanakan pada 7 hingga 13 September 2017 di perairan Surabaya, Jawa Timur.

"Kami sangat antusias untuk kembali berlatih bersama TNI AL. CARAT dengan Indonesia sudah berlangsung sejak 1995, jadi ini merupakan latihan tahunan kami yang ke-23," kata Gabrielson, yang mengkoordinasi 50 kapal di bawah kendali Armada Ketujuh Angkatan Laut AS.

Untuk CARAT dengan Indonesia tahun ini, berbagai persiapan sudah dilakukan Gabrielson dan para anak buahnya. "Kami tentunya mengerahkan para personel dan peralatan yang terbaik untuk berbagi kemampuan dan pengalaman dengan mitra-mitra kami di Indonesia. Latihan ini bukan bermaksud untuk pamer teknologi, namun lebih kepada memperkuat kerja sama dan hubungan rasa saling percaya antar-dua negara," kata Gabrielson.

Pada latihan mendatang, AS mengerahkan sekitar 500 personel Angkatan Laut dan Marinir. Kehadiran mereka juga akan diperkuat dengan tiga kapal perang yang dilengkapi dengan helikopter, serta satu unit pesawat P8 Poseidon. Pesawat varian dari Boeing 737 ini digunakan Angkatan Laut AS untuk berbagai fungsi, seperti pertempuran anti-kapal selam, operasi darat, dan patroli laut.

Menurut Gabrielson, CARAT adalah latihan rutin antara militer AS dan TNI Angkatan Laut yang mencakup sejumlah bidang, di antaranya peperangan anti-kapal selam, operasi tempur terbatas, dan patroli maritim. Di ajang itu, personel militer kedua negara juga bertukar pikiran dalam seminar dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial.

 Perkuat kerjasama
Komandan Angkatan Laut AS Gugus Tugas 73 Laksamana Muda Don GabrielsonKomandan Gugus Tugas ke-73 Angkatan Laut AS, yang beroperasi di Asia Tenggara, Laksamana Muda Don Gabrielson (Foto: VIVA.co.id / Renne Kawilarang)

Dia juga menegaskan komitmen AS untuk mempererat kerja sama militer dengan Indonesia. "Kami ingin lebih sering mengirim kapal ke Indonesia, dan bekerja sama dengan TNI menanggulangi masalah-masalah keamanan secara kolektif, serta bersama-sama menanggulangi kejahatan-kejahatan maritim seperti perompakan dan lain-lain," kata Gabrielson.

Selama kunjungan ke Jakarta kali ini Gabrielson memberi kuliah umum kepada para peserta Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) dan tukar pikiran dengan sejumlah pejabat TNI AL. Selain itu Gabrielson juga bertemu dengan Sekretaris Jenderal ASEAN, Le Luong Minh, untuk membicarakan kerjasama secara regional di Asia Tenggara.

Dia pun mengakui kemampuan TNI AL yang semakin meningkat. "Saya terkesan dengan kemampuan dan pengalaman para personel TNI AL yang makin baik. Saat berdiskusi di Seskoal pun saya menikmati interaksi yang baik dan pemikiran yang kritis dari para peserta," kata Gabrielson.
 

  Vivanews  

Pengenalan Alat Teknis dan Senjata KRI Usman Harun

Satgas MTF Konga XXVIII-J UNIFIL 2017 menerima kunjungan belasan perwira Koarmabar di dermaga Jakarta Internasional Container Terminal, Senin (14/08/2017). Perwira Koarmabar yang hadir terdiri dari 10 perwira korps Pelaut, 3 perwira korps Teknik, dan 3 Korps Elektro. Perwira Koarmabar mendapat kesempatan familiarisasi Alat Teknis dan Senjata KRI Usman Harun-359 didampingi personel Satgas MTF XXVIII-J UNIFIL 2017 yang merupakan Pengawak Alat Instrumen (PAI) Senjata KRI Usman Harun 359.

KRI Usman Harun-359 merupakan Kapal Perang kelas Multi Role Long Frigate (MRLF) jenis Frigate Satuan Eskorta, Koarmatim. Komponen Alat Teknis dan Senjata KRI Usman Harun 359 sudah dilengkapi radar AWS (Above Water Surveillance), Sonar, meriam 76 mm, 30 mm dan 12,7 mm. Kelengkapan ini memperkuat Satuan Tugas Maritime Task Force Kontingen Garuda XXVIII – J UNIFIL tahun 2017 akan menjaga perdamaian di perbatasan Lebanon. Perwira Koarmabar diharapkan dapat mengenal, memahami Alat Teknis serta Senjata KRI Usman Harun 359 dalam waktu singkat. Kegiatan familiarisasi ini akan berlangsung selama seminggu. Setelah kegiatan ini diharapkan menambah pengetahuan Perwira Koarmabar. Komandan Satgas MTF Konga XXVIII –J 2017, Kolonel Laut (P) Alan Dahlan, S.H. merespon positif kegiatan ini demi tercipta Sumber Daya Manusia yang berkompeten dalam setiap korps.

Satgas MTF Konga XXVIII – J UNIFIL 2017 berjumlah 100 prajurit terdiri dari 93 kru KRI, 1 Perwira Intelejen, 1 perwira psikologi, 1 dokter, 1 perwira psikologi, 1 perwira Penerangan, 1 prajurit Kopaska dan 1 penyelam.

(Pen Satgas MTF Konga XXVIII-J UNIFIL 2017)

  TNI AL  

Minggu, 20 Agustus 2017

Penerbang Jet Tempur TNI AU Masih Jauh dari Target

Ilustrasi penerbang jet tempur TNI AU [istimewa]

Penerbang militer pesawat tempur TNI AU masih jauh dari target. Sebab sesuai dengan rencana strategis (Renstra) tahun ini TNI AU akan menambah kekuatan lagi pesawat tempur, yaitu 24 pesawat tempur F16. Sehingga dengan penambahan ini nantinya jumlah pesawat tempur F16 akan menjadi 34 pesawat.

Sebab sebelumnya sudah ada 10 pesawat tempur F16. Padahal sekolah penerbang (Sekbang) TNI AU tahun 2017, hanya mampu menambah 13 penerbang pesawat tempur.

Dari penambahan 13 penerbang pesawat tempur ini jumlah penerbang pesawat tempur jauh dari target,” ujar KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto usai melantik penerbang militer Sekbang Terpadu TNI angkatan 91 di lapangan Jupiter, Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (19/8/2017).

Hadi mengatakan, sebagai solusi untuk kondisi tersebut, selain akan memaksimalkan penerbang militer yang ada, juga akan menambah kuota Sekbang, terutama jurusan pesawat tempur. Diharapkan dengan langkah tersebut kebutuhan penerbang pesawat tempur akan terpenuhi. Meskipun untuk pemenuhan kebutuhan itu sesuai dengan renstra dilakukan secara bertahap.

Karena itu, meminta kepada penerbang militer yang baru dilantik segera menyesuaikan diri dengan alutsista yang akan diawakinya nanti,” terangnya.

Mengenai kelanjutan pendidikan Sekbang terpadu yang melibatkan tiga angkatan, AD, AL dan AU, menurut Hadi, untuk tetap akan dilanjutkan. Sebab yang membutuhkan penambahan penerbang militer bukan hanya AU, namun AD dan AL juga sama.

Pasalnya, di ketiga angkatan tersebut, bukan hanya ada penambahan alutsista pesawat, baik tempur, angkut dan heli. Namun, alutsista yang datang juga lebih canggih, yaitu generasi 4.5.

Sekbang terpadu tetap akan dipertahankan,” paparnya.

Hadi juga berpesan kepada penerbang pesawat militer muda yang baru dilantik tetap harus mempertahankan airmanship, disiplin dan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Apalagi uang untuk membeli pesawat yang harganya cukup mahal itu memakai uang rakyat. Sehingga mereka dituntut dapat menerbangkan pesawat dengan aman dan selamat.

Yang jelas bertambahnya penerbang pesawat militer ini tentunya akan menjadi kekuatan TNI,” tandasnya.

Sekbang Terpadu angkatan 91, menghasilkan 46 penerbang militer muda. Terdiri dari penerbang militer TNI AU sebanyak 35 orang (14 penerbang militer pesawat angkut, 13 pesawat tempur dan 8 heli), AD 8 orang dan AL 3 orang.

35 penerbang militer TNI AU akan disebar ke skudron di Indonesia, untuk penerbang militer AD dan AL akan memperkuat kesatuan masing-masing, yaitu di Puspernebad dan Puspenerbal,” tambah Kapentak Lanud Adisutjipto Mayor Sus Giyanto.

  Sindonews  

Sabtu, 19 Agustus 2017

20 Pati TNI AL Bicarakan Masa Depan KRI Dewaruci

https://4.bp.blogspot.com/-XCkcNjYBLqA/UGv70F-hQQI/AAAAAAAAASw/IAl9JFT-70Y/s1600/610x.jpgKRI Dewaruci [TNI AL]

Di hari pertama pelayaran KRI Dewaruci menuju detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72, Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H., M.A.P., membuka sarasehan atau diskusi interaktif dengan tema, "KRI Dewaruci Menuju 100 Tahun", bertempat di Geladak KRI Dewaruci, Selasa, (15/08/2017).

Mengawali sambutannya, Laksamana berbintang dua tersebut mengucapkan selamat datang kepada perwakilan lichting Akademi Angkatan Laut (AAL) mulai dari Angkatan 10 s.d. 56 dan 60-61 yang hadir disini berkumpul bersama dalam rangka melakanakan upacara bendera 17-an di Laut. Selain itu Pangarmatim pada pertemuan sarasehan yang juga dihadiri oleh 20 Perwira Tinggi TNI AL baik yang aktif maupun purnawirawan serta pem berbincang-bincang membahas masa depan KRI Dewaruci menuju 100 tahun.

Pangarmatim mengungkapkan kenapa kita mempertahanakan KRI Dewaruci hingga 100 tahun kedepan, tentunya kita tidak boleh melupakan sejarah. KRI Dewaruci ini telah melahirkan ratusan Laksamana yang menjadi pemimpin TNI AL bahkan menjadi pemimpin negeri ini seperti Menteri dan Panglima TNI.

Menurut Pangarmatim yang kedua bahwa, KRI Dewaruci telah memberikan kontribusi positif terhadap bangsa Indonesia khususnya saat KRI Dewaruci bertugas keliling dunia dalam misi Diplomasi. Oleh karena itu, kita harus mempertahankan kapal ini dapat di lihat sekarang hadir mantan Komandan, Palaksa dan crew yang pernah melakukan pelayaran dan pelatihan di KRI Dewaruci ini. Sehingga pertemuan yang bersejerarah menjadi satu suara dan sumbangsih pemikiran untuk bahan saran dan masukan kepada pimpinan TNI AL sesuai dengan kebijakan Presiden RI terkait poros maritim dunia.

Dengan adanya kapal latih KRI Dewaruci ini, bisa kita kembangkan kedepan untuk pelatihan-pelatihan generasi muda bahkan calon pemimpin bangsa dapat kita latih disini. "Karena kalau tidak pernah merasakan berada di laut mungkin tidak ada pandangan tentang laut. Laut merupakan tantangan kita masa depan, inti sumber daya alam kita berada di laut", ucapnya.

Menutup sambutannya Laksda TNI Darwanto mengatakan, keberadaan para mantan Komandan Dewaruci dan masyarakat pemerhati dunia kemaritiman diharapkan bersama-sama bersinergi menjaga dan merawat KRI Dewaruci tetap baik sehingga kedepan dapat dimanfaatkan untuk menjadi contoh sejarah bahwa kapal latih ini yang dibuat sejak tahun 1953 mampu menjadi kebanggaan tidak hanya di Indonesia namun di mancanegara.

Selanjutnya dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan salah satu pertemuan menarik yaitu dalam pelayaran ini terdapat Laksda TNI (Purn) Warsono H.P yang merupakan komandan KRI Dewaruci di tahun 1982 - 1985 pernah berlayar muhibah ke Osaka Jepang dan Guam dan pada waktu itu, Laksda TNI Darwanto merupakan Taruna yang mengikuti pelayaran ke negara tersebut.

  TNI AL  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...