Kunjungan Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin di galangan PT Palindo Marine dan PT Batamec, Selasa (17/3/2026). (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melaksanakan kunjungan kerja ke Batam, Kepulauan Riau, pada Selasa (17/3), dengan fokus utama meninjau kesiapan dua galangan kapal dalam memproduksi kapal-kapal perang.
Kunjungan pertama dilakukan ke PT Palindo Marine Shipyard. Di sana, Sjafrie meninjau proses perbaikan (refurbishment) kapal patroli tipe FPB-57.
Brigjen TNI Rico Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, menyatakan bahwa refurbishment kapal TNI AL tipe FPB-57 menunjukkan perkembangan signifikan. PT Palindo juga terlibat dalam pengadaan Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 serta pembangunan kapal serang ringan untuk mendukung operasional TNI AL.
Saat peninjauan, terlihat kapal-kapal tersebut berada dalam tahap drydock dengan pengerjaan yang masih berlangsung di beberapa bagian.
Selain fokus pada pengembangan kapal dalam negeri, galangan PT Palindo diharapkan dapat berperan dalam kerja sama internasional, khususnya di bidang Kapal Bantu Oseanografi.
Rico Sirait menambahkan, kerja sama internasional dalam pembangunan kapal bantu hydro-oceanography dan program transfer teknologi penting untuk meningkatkan penguasaan teknologi nasional dan memperkuat industri pertahanan dalam negeri.
Selanjutnya, Sjafrie mengunjungi galangan kapal PT Batamec, tempat pembangunan kapal tipe Offshore Patrol Vessel (OPV-3) untuk Kementerian Pertahanan sedang berlangsung.
Rico menjelaskan, kapal OPV-3 ini dirancang dengan spesifikasi modern, dilengkapi sistem radar, sensor, dan combat management system untuk mendukung operasi patroli dan pengawasan wilayah laut nasional.
Kunjungan Menhan ke dua galangan kapal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, tidak hanya memperkuat industri alutsista yang mandiri tetapi juga meningkatkan perekonomian nasional.
Rico Sirait menyimpulkan, kunjungan ini menjadi momentum untuk memastikan program pengadaan alutsista tidak hanya memenuhi kebutuhan operasional, tetapi juga memberikan dampak berganda, termasuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas industri, serta penguatan sektor maritim sebagai bagian dari kepentingan strategis nasional.
🤝 Berita Jejak Fakta
🛩 ⦻ Versi 'KW' dari Shahed Iran
Drone Shahed Iran yang ditiru AS. (via REUTERS/Iranian Army/WANA)
Drone Lucas FLM 136 milik Amerika Serikat menjadi sorotan karena disebut sebagai "versi tiruan" dari drone Shahed-136 buatan Iran.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan AS telah mengembangkan drone yang mirip dengan model Iran dan digunakan untuk menyerang ke negara-negara Arab.
"Kami juga baru-baru ini menerima informasi yang menunjukkan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara-negara Arab dari titik-titik tertentu," kata Araghchi dikutip dari Doha News.
"AS telah mengembangkan drone yang mirip dengan drone Shahed kami, yang disebut 'Lucas'. Drone ini digunakan untuk menyerang target di negara-negara Arab," lanjut Araghchi.
Dilansir Euro News, sejumlah perusahaan AS mengembangkan drone yang terinspirasi dari HESA Shaded 136 milik Iran, yakni pesawat tanpa awak otonom yang diluncurkan dari bak truk untuk serangan kamikaze.
Drone yang dikembangkan oleh Shahed Aviation Industries, afiliasi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada 2016 itu, diperkirakan berharga sekitar US$ 20.000 dan US$ 50.000 (sekitar Rp 340 juta dan Rp 850 juta).
Salah satunya perusahaan merekayasa balik versi drone mereka bernama FLM 136, drone yang kini digunakan untuk pertama kalinya dalam operasi tempur terhadap Iran.
Drone FLM 136 pertama kali diperkenalkan tahun lalu oleh perusahaan Spektreworks yang berbasis di Arizona.
Drone kamikaze tiruan amerika gagal terbang dan jatuh di Iraq (X)
Sistem ini dikenal sebagai Low-cost Uncrewed Combat Attack System atau LUCAS, yakni drone tempur tanpa awak berbiaya rendah yang dapat dioperasikan oleh tim kecil serta mampu lepas landas dan mendarat secara otomatis.
Dari segi ukuran, drone ini hampir identik dengan Shahed 136, dengan panjang sekitar 3 meter dan lebar 2,5 meter.
Namun, bobotnya jauh lebih ringan, yakni 81,5 kilogram dibandingkan Shahed yang mencapai 200 kilogram.
Konsekuensinya, kapasitas muatan FLM 136 juga lebih kecil, sekitar 18 kilogram, sementara Shahed mampu membawa hingga 50 kilogram.
FLM 136 mampu menjalankan misi serangan hingga enam jam dengan jangkauan sekitar 444 mil laut dan dapat beroperasi pada ketinggian maksimum 15.000 kaki atau sekitar 4.500 meter.
Pesawat tanpa awak ini menggunakan mesin pembakaran internal yang memungkinkannya melaju dengan kecepatan jelajah sekitar 137 km per jam dan mencapai kecepatan maksimum hingga 194 km per jam.
Harga setiap unit drone diperkirakan sekitar US$ 35.000 (sekitar Rp 595 juta), setara dengan biaya produksi Shahed 136.
Drone itu kini diluncurkan dari darat oleh Satuan Tugas Scorpion Strike (TFSS), unit di bawah Komando Pusat AS yang ditempatkan di Timur Tengah, untuk menjalankan serangan kamikaze satu arah, serupa dengan konsep operasi drone Shahed 136. (rnp/bac)
Indonesia minati kapal ITS Giuseppe Garibaldi, dapat hibah dan diharapkan tiba sebelum HUT TNI. (Marina militare)
Parlemen Italia yang dimotori Partai Demokrat dan Movimento 5 Star (Partai Lima Bintang) mempersoalkan keterlibatan Drass, pihak swasta yang terlibat dalam penjualan Kapal Induk Giuseppe Garibaldi ke Indonesia. Hal ini memicu penundaan pengambilan keputusan di parlemen.
Sorotan terhadap keberadaan Drass ini muncul Partai Demokrat dan Movimento 5 Star seperti ditulis Andrea Carli dalam ilsole24ore.com, edisi 16 Maret 2026.
Senator dari Partai Demokrat, Alessandro Alfieri dan Graziano Delrio, menunjukkan keputusan untuk menunda pemungutan suara juga didukung oleh sebagian kekuatan politik mayoritas. Faktanya, beberapa poin yang belum jelas masih ada, khususnya, peran perusahaan Italia Drass, yang diduga akan ditunjuk pihak Indonesia sebagai perantara operasi tersebut.
Namun, Drass sendiri sudah akan menjadi penerima manfaat tidak langsung dari kesepakatan keseluruhan, yang menurut informasi yang diberikan oleh kantor parlemen memiliki kontrak untuk pembangunan enam kapal selam senilai € 480 juta yang sedang dalam proses.
Kedua Senator itu, menyatakan mengingat situasi politik yang rumit, sangat penting agar Menteri Crosetto datang langsung untuk mengklarifikasi garis besar operasi tersebut guna menghilangkan keraguan apapun.
Partai Lima Bintang (M5S) juga mendesak untuk meminta dan memperoleh, bersama dengan oposisi lainnya, penundaan pemungutan suara atas dekrit tentang pengalihan kapal Garibaldi ke Indonesia, meminta informasi tambahan dari pemerintah tentang semua aspek yang tidak jelas dari urusan ini.
Pertama, mereka menuntut agar peran perantara perusahaan Drass yang diusulkan Kementerian Pertahanan di Jakarta diungkapkan sepenuhnya, dan hubungan antara penjualan ini dengan kontrak besar yang dimenangkan perusahaan kecil yang sama untuk pengadaan kapal selam, juga untuk Indonesia.
M5S ingin tahu mengapa Kementerian Pertahanan memilih untuk memberikan aset bersejarah Angkatan Laut yang masih bernilai lebih dari 50 juta euro dan oleh karena itu dapat dijual daripada diberikan sebagai hadiah.
Mereka menuntut transparansi mutlak mengenai hubungan antara Crosetto dan CEO Drass, Sergio Cappelletti, mengenai dugaan pertemuan mereka di Dubai beberapa hari terakhir dan mengenai hubungan antara perusahaan tersebut dan pesta Crosetto, yang telah didanai oleh perusahaan yang sama dalam beberapa tahun terakhir. “Kami mengharapkan jawaban yang jelas,” tulis pernyataan M5S.
Potensi Pertemuan Guido Crosetto dengan CEO Drass Sergio Cappelletti di Dubai muncul dalam pemberitaan Il Fatto Quotidiano pada 6 Maret 2026. Perjalanan ke Dubai seharusnya untuk menjual kapal. Indonesia akan menerima Garibaldi, senilai € 54 juta tetapi sekarang sudah usang menurut Kementerian Pertahanan.
Selama Guido Crosetto berada di Dubai, Uni Emirat Arab, Sergio Cappelletti, mitra dan presiden Drass Spa, yang memiliki kantor di Dubai, juga hadir.
Setelah beberapa rumor tentang kemungkinan pertemuan dengan Menteri Pertahanan, pengusaha tersebut menolak untuk menjawab pertanyaan Il Fatto Quotidiano tentang masalah tersebut. Cappelletti seharusnya melakukan perjalanan ke Indonesia untuk penjualan enam kapal selam dengan harga €480 juta (dua sudah dikirim pada bulan Februari).
Indonesia juga akan menerima, secara cuma-cuma, kapal induk Angkatan Laut Italia: Garibaldi, senilai €54 juta. Pengusaha tersebut saat ini terjebak di Dubai.
Situasi di Parlemen Italia, juga berpotensi merembet ke Indonesia mengenai keterlibatan pihak non pemerintah dalam pengalihan dan kontrak pengadaan kapal antara Indonesia dan Italia. Sebab, dari awal memang pihak swasta sudah menunjukkan inisiatif melalui pameran Alutsista pada 2025.(den)
Pesawat J10C China (CCTV)
Presiden Prabowo Subianto mengonfirmasi bahwa Indonesia sedang mempertimbangkan pembelian persenjataan dari China, termasuk jet tempur.
Dikutip melalui Bloomberg, Kepala negara menegaskan bahwa Indonesia membeli alat utama sistem persenjataan dari berbagai negara.
Langkah tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari strategi mempertahankan postur militer yang bersifat defensif sekaligus menjaga hubungan baik dengan semua mitra internasional.
Dia menegaskan bahwa Indonesia membeli alutsista dari berbagai negara dan tidak akan berpihak pada kekuatan militer mana pun.
“Indonesia tidak bisa menjadi bagian dari aliansi militer mana pun. Jika sesuatu terjadi, kita tidak bisa bergantung pada siapa pun,” kata Prabowo.
Rudal pertahanan udara HQ 9 juga dilirik Indonesia (CIN)
Di sisi lain, Presiden Ke-8 RI itu menilai China kemungkinan tidak akan memanfaatkan meningkatnya ketegangan global untuk memicu konflik baru di kawasan, termasuk terhadap Taiwan.
Prabowo mengatakan para pemimpin China saat ini lebih fokus pada pembangunan domestik dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya dibandingkan terlibat dalam konflik terbuka.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran sejumlah pihak bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat memicu eskalasi geopolitik yang lebih luas, termasuk di kawasan Asia Timur.
Meski demikian, Prabowo menegaskan Indonesia tetap menjalankan kebijakan luar negeri yang independen dan tidak berpihak pada kekuatan besar mana pun. Ia mengatakan Indonesia tidak akan bergabung dalam aliansi militer global.
“Saya melihat kepemimpinan China saat ini sangat fokus untuk meningkatkan taraf hidup rakyat mereka. Mereka akan berusaha menghindari konflik terbuka,” tandas Prabowo.
Bertolak dari Jerman ke Tanah Air
KRI Canopus 936 mulai perjalanan perdana. (Bernd U)
Kapal Bantu Hidro-Oseanografi terbaru milik TNI Angkatan Laut, KRI Canopus-936, memulai pelayaran perdananya dari Jerman menuju Indonesia, Sabtu (14/3/2026).
Pelayaran ini menjadi bagian dari proses pengiriman kapal setelah menyelesaikan pembangunan dan pengujian di galangan Abeking & Rasmussen, Lemwerder, Jerman.
Pelayaran ini menjadi momentum penting dalam perjalanan kapal sebelum resmi memperkuat armada survei milik Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal).
“Pelayaran perdana ini menjadi langkah awal bagi KRI Canopus-936 sebelum nantinya mulai menjalankan berbagai misi survei dan penelitian kelautan dalam mendukung kepentingan maritim nasional,” kata Danpushidrosal Laksamana Madya TNI Budi Purwanto, dalam siaran pers, Minggu (15/3/2026).
Selama pelayaran menuju Indonesia, kapal akan menempuh rute jarak jauh dengan beberapa kali singgah di pelabuhan internasional untuk kebutuhan logistik, koordinasi teknis, serta memastikan kesiapan operasional hingga tiba di Tanah Air.
Kehadiran KRI Canopus-936 diharapkan meningkatkan kapasitas survei hidro-oseanografi nasional.
“Kapal ini dirancang untuk mendukung berbagai kegiatan pengumpulan data kelautan, pemetaan dasar laut, serta penelitian hidro-oseanografi yang menjadi bagian penting dalam penyediaan informasi maritim yang akurat,” ujar dia.
Bagi Pushidrosal, pengoperasian kapal survei modern ini akan memperkuat pelaksanaan tugas sebagai lembaga hidro-oseanografi nasional.
Kapal tersebut juga mendukung penyediaan data dan peta laut untuk keselamatan navigasi pelayaran, operasi TNI Angkatan Laut, serta pengelolaan wilayah perairan Indonesia.
Selain itu, keberadaan KRI Canopus-936 juga menjadi bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL di bidang survei dan pemetaan laut.
KRI Canopus 936 hasil kolaborasi Indonesia Jerman. (Fasssmer)
“Dengan dukungan teknologi survei yang lebih maju, diharapkan kegiatan pemetaan dan penelitian kelautan di wilayah perairan Indonesia dapat dilakukan secara lebih efektif dan akurat,” tegas dia.
Diberitakan sebelumnya, Indonesia dilaporkan membeli KRI Canopus-936 dari Jerman.
KRI Canopus-936 merupakan hasil pengadaan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk mendukung kebutuhan survei hidro-oseanografi, pemetaan dasar laut, serta pengumpulan dan pengelolaan data kelautan.
Menurut Duta Besar Republik Indonesia, Abdul Kadir Jailani, kemampuan tersebut dibutuhkan untuk menunjang kepentingan pertahanan, keamanan, dan kedaulatan maritim.
“Indonesia membutuhkan sarana survei laut berdaya jelajah samudra yang mampu beroperasi secara mandiri, berkelanjutan, dan presisi tinggi. Karena itu, KRI Canopus-936 dirancang tidak hanya sebagai kapal survei ilmiah, tetapi juga sebagai platform pendukung operasi militer nontempur dan pengawasan maritim,” ujar Abdul Kadir Jailani dalam pernyataan tertulisnya.
Pembangunan KRI Canopus-936 dilaksanakan selama 36 bulan oleh galangan Palindo Marine, bekerja sama dengan galangan Abeking & Rasmussen dari Jerman sebagai mitra teknologi.
Kerja sama ini berada dalam kerangka kebijakan Imbal Dagang, Kandungan Lokal, dan Offset (IDKLO), yang selama ini diklaim mendorong peningkatan kapasitas industri nasional.
Melalui skema tersebut, pembangunan kapal ini tidak berhenti pada hasil fisik.
"Transfer teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia menjadi bagian dari proses yang diharapkan dapat memperkuat kemampuan galangan dalam negeri untuk membangun kapal berstandar ocean-going," ujar Dubes.
Sejauh mana dampak jangka panjangnya terhadap kemandirian industri pertahanan nasional, akan diuji oleh waktu.