Selasa, 14 Juli 2026

TNI AL Tunggu Keputusan Menhan Soal Penggunaan Rudal BrahMos

➶ Direncanakan sebagai rudal pertahanan pantaiRudal BrahMos dari India akan digunakan sebagai rudal pertahanan pantai (missilethreat)

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) Republik Indonesia soal penggunaan rudal BrahMos.

"Untuk kerja sama dengan Indonesia, ini masih dalam penanganan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan," kata Tunggul saat jumpa pers di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

Tunggul belum bisa menjelaskan lebih lanjut soal rencana TNI AL dalam menggunakan rudal yang disebut cocok untuk pertahanan pantai itu.

Kendati demikian, dia menyambut baik kesepakatan kerja sama antara India dan Indonesia dalam pengembangan rudal BrahMos.

Dengan adanya kerja sama ini, dia meyakini pertahanan Indonesia akan semakin kuat.

Kontrak kerja sama pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos antara BrahMos Aerospace dan Kementerian Pertahanan RI diumumkan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi dalam rangkaian kunjungan kenegaraan PM Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7).

Dalam kesempatan yang sama, diumumkan pula perjanjian kerja sama pengadaan rudal udara-ke-udara (air-to-air missile/AAM) antara Bharat Dynamics Limited (BDL) dan Republikorp.

Kedua dokumen tersebut menjadi bagian dari 16 kerja sama yang diumumkan dalam kunjungan kenegaraan PM Modi ke Indonesia.

Indonesia telah membidik akuisisi rudal BrahMos sejak beberapa tahun terakhir. Beberapa hari sebelum kunjungan PM Modi, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty menyatakan pembahasan mengenai kerja sama pengadaan BrahMos telah memasuki tahap yang sangat maju dan diharapkan segera mencapai kesepakatan.

  antara  

Senin, 13 Juli 2026

Personel TNI AL dan AL Italia Kolaborasi Mengawaki Kapal Induk Garibaldi ke Indonesia

  Karena TNI AL hanya mengirim 100 personel https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3MoVGQ4NZZ3KV-RZ37sLFHmtVHJ7iZGY5r0Mj681nZ38QGvy6TN66cToFKV3PBr3Cv3mjKGCY2SDMEf_eoQUG7RAlB-B6uYGuYgcZgbgsMPBT1yJi195z7FpzCOwq2T1qJ9h56hPv1aUECf5PaNweMkGxuHWTEoz0goUHdtch7l8GMdrGZdAzs-98eysf/s1265/Kapal%20induk%20Giuseppe%20Garibaldi.jpgKapal induk ITS Giuseppe Garibaldi diberitakan akan hadir tahun ini.  (Marina militare)

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan kapal Induk pertama Indonesia, Giuseppe Garibaldi akan diawaki oleh personel TNI AL dan AL Italia saat berlayar ke Indonesia.

"Mereka akan menyeberang dengan konsep joint crew. Joint crew itu sebagian dari TNI Angkatan Laut dan sebagian dari personel Angkatan Laut Italia," kata Tunggul saat jumpa pers di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

Tunggul mengatakan upaya itu dilakukan agar para personel TNI AL dapat dibantu personel AL Italia dalam beradaptasi mengawaki kapal induk.

Dia menjelaskan TNI AL sekarang telah mengirim 100 personel untuk menjalani pelatihan di galangan kapal yang memproduksi Garibaldi yakni Fincantieri.

Pelatihan itu dilakukan agar para personel TNI AL mampu mengawaki kapal induk tersebut. Setelah selesai pendidikan, mereka dan para personel AL Italia akan bersama-sama membawa kapal induk Garibaldi ke Indonesia.

"Kemudian sampai di Indonesia akan terus dilaksanakan serah terima sampai dengan 100 persen pengawakan dari prajurit TNI Angkatan Laut," jelas Tunggul.

Tunggul tidak menjelaskan secara rinci seperti apa proses penyerahan yang akan dilakukan oleh Angkatan Laut Italia dan TNI AL nanti.

Dengan adanya proses adaptasi ini, Tunggul berharap para personel TNI AL memiliki kemampuan yang lebih maksimal dalam mengawaki kapal induk Garibaldi.

Sebelumnya, Asisten Operasi Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muda Yayan Sofiyan mengatakan TNI AL harus menyiapkan kurang lebih 500 pelaut untuk menjadi awak calon kapal induk Indonesia Giuseppe Garibaldi.

"Personelnya itu ada sekitar 500 pelaut yang harus mengawaki. Mulai dari sekarang sampai level perwiranya harus memiliki kompetensi khusus sebagai pengawak kapal induk," kata Yayan dalam diskusi bertajuk Indonsia's Blue Water Transition: Why High-Value ASW/ AAW Assets Will Decide Its Credibility yang digelar secara daring, Rabu (25/2).

Yayan menyebutkan jumlah kru kapal bahkan diperkirakan bisa lebih dari 500 orang karena belum mencakup kru tidak inti, yakni di luar kru navigasi hingga penerbang.

Selain kru, jajarannya juga harus mempersiapkan infrastruktur pendukung kapal induk seperti tempat bersandar dan kebutuhan teknis lain yang harus dimiliki kapal, serta kebutuhan logistik untuk para kru yang akan bertugas di kapal dalam waktu lama.

"Bisa kita bayangkan sandar di suatu tempat membutuhkan dukungan logistik kru yang 500 orang. Itu hanya kru inti saja. Kru untuk penerbangan, sistem aviation dan sebagainya," kata Yayan.

Meski harus melakukan banyak persiapan, Yayan meyakini TNI AL siap untuk memenuhi kebutuhan tersebut demi pengoperasian kapal induk itu secara maksimal.


   antara  

Komisi I DPR Sepakati RUU Ratifikasi Kerja Sama Pertahanan RI-Turki dan RI-Malaysia

➶ 🤝 Termasuk pengembangan rudal “Nagarasa”Rapat kerja DPR (Kompas)

Komisi I DPR mengambil keputusan tingkat I terhadap rancangan undang-undang (RUU) tentang Pengesahan Persetujuan Kerja Sama di Bidang Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Republik Turki.

Dalam kesempatan itu, Komisi I juga menyetujui RUU tentang Pengesahan Persetujuan Kerja Sama di Bidang Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Malaysia.

"Untuk menyetujui ratifikasi kerja sama pertahanan Republik Indonesia dengan Republik Turki. Setuju ya?" tanya Ketua Komisi I DPR Utut Adianto dijawab setuju oleh peserta rapat pengambilan keputusan tingkat I terhadap dua RUU itu, Rabu (1/7/2026).

Setelah pengambilan keputusan tingkat I, kedua RUU ratifikasi kerja sama pertahana antara Indonesia dengan Turki dan Malaysia itu dapat dibawa ke rapat paripurna untuk disahkan sebagai undang-undang.

"Alhamdulillah, mudah-mudahan dengan ratifikasi ini programnya bisa berjalan lebih mulus berbasis dengan kekuatan undang-undang," ujat Utut.

Sebelum disetujui Komisi I, Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto menjelaskan bahwa RUU diperlukan untuk memenuhi prosedur hukum nasional sebagai syarat berlakunya perjanjian pertahanan antara Indonesia dengan Turki dan Malaysia.

"Persetujuan kerja sama yang telah ditandatangani oleh kedua negara tersebut belum dapat diterapkan mengingat syarat pemberlakuan berdasarkan perjanjian kerja sama dimaksud yang menyatakan bahwa persetujuan ini akan mulai berlaku pada tanggal diterimanya pemberitahuan tertulis terakhir melalui saluran diplomatik atas pemenuhan prosedur dalam negeri oleh para pihak," ujar Donny.

Ia melanjutkan, kedua perjanjian kerja sama itu tersebut disusun berdasarkan prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan.

Perjanjian kerja sama pertahanan itu juga disusun berdasarkan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing negara.

Pengesahan RUU ratifikasi kerja sama pertahanan antara Indonesia dengan Turki dan Malaysia ini juga sekaligus memperkuat landasan hukum bagi peningkatan kerja sama pertahanan masing-masing negara.

 Berikut 3 kesepakatan raker DPR :




  Kompas  

Minggu, 12 Juli 2026

Retractable Landing Gear BRIN

🛩 Kunci Efisiensi dan Daya Jelajah PTTA Elang Hitam Proses pengujian Retractable Landing Gear (BRIN)

Sistem retractable landing gear yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan efisiensi aerodinamika Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) nasional. Teknologi roda pendaratan lipat ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) setelah pesawat lepas landas, sehingga mendukung durasi terbang lebih panjang dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kekuatan Struktur BRIN, Arif Krisbudiman, menjelaskan bahwa sistem pendaratan pada PTTA kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE UAV) dirancang tidak hanya untuk menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, tetapi juga mendukung efisiensi aerodinamika selama penerbangan. Karena itu, struktur landing gear harus ringan, kuat, dan mampu bekerja secara presisi.

Pada pesawat tanpa awak kelas MALE UAV, setiap komponen dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan durasi terbang panjang. Salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap kinerja tersebut ialah sistem pendaratan yang ringan, kuat, dan aerodinamis,” ujar Arif dalam Kelas Periset Edisi 16, Rabu (20/5).

Berbeda dengan fixed landing gear yang tetap terbuka selama penerbangan, sistem retractable landing gear memungkinkan roda pendaratan dilipat ke dalam badan pesawat setelah lepas landas. Mekanisme tersebut membuat hambatan aliran udara dapat ditekan sehingga efisiensi aerodinamika pesawat meningkat selama mengudara.

Selain menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, sistem ini juga dirancang untuk menyerap gaya benturan ketika roda menyentuh landasan. Untuk mendukung fungsi tersebut, BRIN mengembangkan mekanisme lipat presisi melalui aktuator otomatis. Struktur sistem juga dirancang tetap ringan, tetapi mampu menahan beban dinamis selama operasi penerbangan.

Komponen landing gear dilengkapi sistem suspensi oleo-pneumatic shock absorber untuk meredam energi benturan, serta sistem pengereman otomatis guna meningkatkan keselamatan saat pesawat berada di landasan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pendaratan tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga menjaga kestabilan struktur pesawat secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan material aluminium berkekuatan tinggi dan komposit ringan yang memiliki rasio kekuatan terhadap berat optimal. Pemilihan material tersebut memungkinkan pengurangan bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan, sehingga pesawat dapat membawa muatan lebih besar, memperpanjang durasi terbang, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Pendekatan desain itu juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pengembangan teknologi penerbangan berkelanjutan. Karena itu, bentuk landing gear dirancang seramping mungkin agar tidak menambah hambatan udara ketika terlipat di dalam badan pesawat.

Melalui desain aerodinamis tersebut, PTTA MALE dikembangkan untuk memiliki kemampuan jelajah hingga 30 jam dengan ketinggian operasi maksimum mencapai 7.200 meter.

Untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem, BRIN melakukan serangkaian pengujian di Laboratorium Kekuatan Struktur BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong. Pengujian dilakukan menggunakan metode shock absorber test untuk mengetahui karakteristik redaman, serta drop test guna mengukur beban benturan dan tegangan pada titik kritis struktur landing gear. Seluruh pengujian tersebut mengacu pada standar Federal Aviation Regulations (FAR) 23.

Menurut Arif, pengujian tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi desain dan simulasi digital sehingga sistem yang dikembangkan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam berbagai kondisi operasi.

Pengembangan retractable landing gear merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat penguasaan teknologi komponen strategis PTTA nasional. Kemampuan merancang dan memproduksi komponen secara mandiri dinilai penting sebagai fondasi menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan mitra industri, BRIN juga mendorong hilirisasi riset agar teknologi PTTA dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pertahanan dan pengawasan wilayah hingga penanggulangan bencana dan layanan sipil.

Penguasaan teknologi struktur ringan dan sistem pendaratan merupakan langkah penting menuju pesawat tanpa awak nasional yang andal, efisien, dan kompetitif. Ini menjadi kontribusi nyata riset dalam mendukung kedaulatan teknologi Indonesia,” tutup Arif.

  🛩
BRIN  

Sabtu, 11 Juli 2026

Kemhan Kunker ke Galangan Kapal Nasional

Meninjau perkembangan bridge kapal KRI BPD 322 frigate pertama PAL (Ditjen Pothan)

Direkktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda TNI Sri Yanto, S.T., melaksanakan kunjungan kerja ke PT Teknik Tadakara Sumber Karya (TTS) dan galangan kapal PT PAL Indonesia di Surabaya, dalam rangka meninjau progres daripada pembangunan Kapal Frigate Merah Putih TNI-AL yang merupakan salah satu program strategis dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

Dalam kunjungan tersebut, Laksda TNI Sri Yanto, S.T., menegaskan pentingnya implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan mekanisme self assessment sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas industri pertahanan nasional.

Setiap alutsista yang berhasil diselesaikan dan diserahkan kepada pengguna akan menjadi bagian dari realisasi pembangunan kekuatan pertahanan Republik Indonesia.

Melalui sinergi pemerintah dan industri pertahanan, pembangunan Frigate Merah Putih diharapkan mampu memperkuat kemandirian teknologi, meningkatkan daya saing industri nasional, serta mendukung terwujudnya postur pertahanan Indonesia yang tangguh.

  📝  Ditjen Pothan  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...