Garap Alutsista hingga Mobil Nasional
BP BUMN dan Danantara mendorong pengembangan industri alutsista dan mobil nasional melalui peningkatan kapasitas produksi, pemanfaatan teknologi terkini, serta penguatan investasi.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengatakan, setiap proyek yang dikembangkan harus menggunakan teknologi terkini dan didukung investasi yang memadai.
Dony menekankan, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengikut, tetapi mampu menghadirkan fasilitas produksi dengan kualitas terbaik.
"Apa pun yang kita masuk, kita mesti the latest technology dan kita akan invest gede-gedean. Kita nggak mau cuma jadi follower. Ini akan menjadi satu manufaktur yang terbaik dan the latest technology," ujar Dony saat pertemuan dengan CTO Danantara Sigit Puji Santosa serta jajaran Direksi PT LEN dan PT Pindad di Wisma Danantara, mengutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.
Maung MV3 mulai digunakan para menteri (ist)
Dony menyampaikan bahwa Danantara akan mendukung pengembangan proyek-proyek tersebut, termasuk melalui peningkatan kapasitas produksi. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan nasional sekaligus memberikan manfaat bagi negara.
"Nanti kita akan support aja semuanya. Ini juga bagus buat Pindad, kan jelas offtake-nya, ada margin-nya, terutama buat negara ya," ujar Dony.
Selain pengembangan industri alutsista, mobil nasional juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri dalam negeri. Pengembangan tersebut diharapkan didukung teknologi modern dan fasilitas produksi yang berkualitas, sekaligus membuka kesempatan bagi talenta terbaik Indonesia untuk berkarya.
Melalui dukungan investasi dan kolaborasi antarpihak, BP BUMN dan Danantara mendorong peningkatan kapasitas serta kemandirian industri nasional agar semakin mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
🛩 Di wilayah Kodau III
Lanud Manuhua menjadi base operasi UCAV CH-4 (Dispenau)
Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara III (Pangkodau III) Marsda TNI Dr. Azhar Aditama D., S.Sos., M.M., M.Han., meninjau langsung pembangunan fasilitas pendukung operasional pesawat CH-4 di Lanud Manuhua, Biak, didampingi Komandan Lanud Manuhua Marsma TNI Rohmat Kusmayadi, S.Sos., M.Soc.Sc.
Pembangunan yang telah dimulai sejak September 2025 ini mencakup sejumlah fasilitas, di antaranya landasan pacu (runway) sepanjang 2 KM dengan lebar 30 meter, hanggar, serta menara pengawas lalu lintas udara (tower). Seluruh fasilitas tersebut dipersiapkan untuk menunjang kebutuhan operasional pesawat CH-4, baik dalam aktivitas penerbangan maupun penempatan dan pemeliharaan pesawat.
Dalam peninjauan ini, Pangkodau III melihat secara langsung perkembangan pembangunan serta kondisi fasilitas yang tengah dikerjakan. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan dan mampu mendukung kesiapan infrastruktur dalam rencana pengoperasian pesawat CH-4 di wilayah Kodau III.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Asisten Logistik (Aslog) Kaskodau III Kolonel Tek Yekti Sulistyo N., S.T., Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Kaskodau III Kolonel Lek Febri Eko Hadi P., S.E., serta Komandan Detasemen Markas (Dandenma) Kodau III Mayor Kal Febri Saputro, S.S.T.Han.
Proyek Elang Hitam membawahi eks-BPPT dan LAPAN.
👷
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)
Semboyan sekaligus doktrin TNI Angkatan Laut, yakni Jalesveva Jayamahe, yang berarti ’di laut kita jaya’, sejalan dengan tekad industri pertahanan nasional di sektor kelautan.
Ambisi menguasai laut Nusantara lewat produksi kapal niaga, kapal perang, kapal selam, hingga perawatan kapal induk coba diwujudkan lewat PT PAL Indonesia (Persero), badan usaha milik negara yang bergerak di industri pertahanan laut.
Bermula dari galangan kapal Marine Establishment yang didirikan pemerintah Hindia Belanda pada 1939, perusahaan ini bertransformasi menjadi PT PAL sejak tahun 1980. Selama 46 tahun terakhir, PT PAL menjalankan dua hal strategis dalam industri pertahanan laut, yakni membangun kapal perang dan kapal selam untuk TNI AL. Selain itu, produk strategis untuk menghadapi ancaman pertahanan laut di masa depan.
Direktur Utama PAL Kaharuddin Djenod berpandangan, karakter ancaman di laut mengalami perubahan. Negara tidak lagi hanya menghadapi perang konvensional dengan kapal perang besar, tetapi ada ancaman asimetris yang menuntut pengawasan lebih luas, respons lebih cepat, dan teknologi yang mudah disesuaikan. Untuk itu, industri pertahanan harus bisa memenuhi pesanan yang ada dan membaca kebutuhan yang belum muncul.
PAL menerjemahkan dua hal strategis itu menjadi sejumlah produk baru. Produk itu meliputi kapal selam otonom (KSOT), torpedo Piranha, Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze, dan kapal serbu sangat ringan (KSSR). USV Kamikaze sudah tampil dalam Latihan Gabungan TNI Dabo Singkep 2026. KSOT telah menjalani pengujian. Proyek kapal selam, bahkan yang terkini dengan Perancis, diteruskan.
Penamaan dan Peluncuran Fregat Merah Putih I sebagai KRI Balaputradewa-322 di graving dock Orca PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/12/2025) malam. Balaputradewa merupakan Fregat berkarakter destroyer perdana buatan dalam negeri yang memperkuat industri pertahanan nasional dan memperkuat postur TNI Angkatan Laut.
Pendekatan dengan terobosan melalui produk baru, lanjut Djenod, cocok dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Pertahanan laut disesuaikan dengan kondisi geografis, karakter ancaman, dan kemampuan yang ingin diwujudkan. Artinya, tidak semua kebutuhan diwujudkan dengan produk besar dan kompleks.
”Dalam kondisi tertentu, alternatif yang lebih fleksibel, termasuk platform nirawak, justru lebih tepat untuk melengkapi armada TNI AL,” ujar Djenod dalam wawancara tertulis, Jumat (30/10/2026).
Tak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, kapal yang diproduksi PT PAL juga bisa menembus pasar dunia. Saat ini PT PAL sedang mengerjakan dua kapal pesanan Filipina dan satu kapal pesanan Uni Emirat Arab. Sebelumnya, PT PAL sudah memenuhi pesanan dua kapal perang bagi Filipina.
Sejauh ini PT PAL mampu membangun beragam kapal strategis. Namun, diakui Djenod, keberlanjutan PT PAL memerlukan kemauan politik pemerintah secara konsisten. Misalnya, memastikan kebutuhan armada pertahanan nasional diutamakan dipenuhi industri domestik sepanjang kapabilitas, kualitas, dan persyaratan operasional terpenuhi.
”Kepastian pesanan menjadi sangat penting karena industri galangan kapal membutuhkan investasi besar dan waktu pengerjaan yang panjang. Dukungan juga tidak cukup hanya melalui kebijakan industri dan anggaran pengadaan, tetapi perlu diperkuat dengan akses pembiayaan perbankan yang sesuai dengan karakter industri maritim,” kata Djenod.
👷 Kompas
Penerbal Kerahkan 5 Helikopter
5 Helikopter TNI AL mengikuti latihan di atas deck KRI Sriwijaya-100, Senin (2/11/2026) (Ho-Humas TNI AL)
TNI AL menggelar latihan pengoperasian helikopter di atas kapal induk pertama Indonesia, KRI Siriwjaya-100 pada Senin (2/11).
Dalam siaran pers resmi TNI AL yang diterima di Jakarta, Selasa, dijelaskan kegiatan itu digelar untuk mempertajam kemampuan penerbang TNI AL dalam menerbangkan dan mendaratkan helikopter dari deck kapal induk.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menjelaskan ada lima jenis helikopter yang terlibat dalam latihan ini.
"Latihan ini melibatkan lima unit helikopter, yang terdiri dari tiga helikopter AS565 MBe Panther dari Skuadron Udara 100 serta dua helikopter Bell 412 dari Skuadron Udara 400 Wing Udara 2," kata Tunggul.
Tunggul melanjutkan, ke lima helikopter itu tidak hanya dipakai untuk latihan take of dan landing saja tetapi juga dikerahkan untuk menjalani simulasi penanggulangan bencana dari kapal induk.
Seluruh rangkaian latihan, lanjut dia, berjalan dengan aman dan lancar. Dengan adanya kegiatan ini, Tunggul berharap kemampuan para penerbang TNI AL dalam melakukan operasi dari kapal induk semakin terasah.
⚓️ Untuk Modernisasi Dua Kapal Bung Tomo class
FCEO SeaEagle (Chess Dynamics)
Perusahaan pertahanan asal Inggris, Chess Dynamics, memperoleh kontrak tambahan senilai sekitar 3 juta poundsterling atau sekitar Rp 72 miliar dari PT Len Industri (Persero).
PT Len Industri adalah BUMN pertahanan dan elektronika Indonesia.
Kontrak ini untuk penyediaan sistem Fire Control Electro-Optical (FCEO) SeaEagle bagi dua kapal fregat ringan multiperan (MRLF) kelas Bung Tomo milik TNI Angkatan Laut.
Chess Dynamics, bagian dari Cohort Group, mengumumkan kontrak itu pada Rabu, 28 Oktober 2026, dari Horsham, Inggris.
Pesanan terbaru ini melanjutkan program kerja sama yang dimulai lewat pesanan awal untuk kapal pertama kelas Bung Tomo pada 2023.
Kontrak kali ini mencakup kapal kedua dan ketiga, sehingga seluruh tiga kapal yang direncanakan dalam program peningkatan kemampuan ini akan memakai SeaEagle FCEO.
Kapal kelas Bung Tomo mulai beroperasi pada awal 2000-an dan kini menjalani pembaruan untuk memperpanjang usia pakai serta menjaga kemampuan tempurnya.
SeaEagle FCEO akan menggantikan perangkat kendali tembak elektro-optik lama.
Sistem baru ini dirancang terintegrasi dengan meriam laut OTO Melara 76 mm yang sudah terpasang dan terhubung dengan sistem manajemen tempur Thales TACTICOS yang ditingkatkan.
Managing Director Chess Dynamics, Andy Smith, menyebut kontrak lanjutan ini mencerminkan kepercayaan terhadap kinerja perusahaan di Indonesia selama ini.
"Modernisasi angkatan laut tidak selalu soal mengganti seluruh platform,” ujar Smith.
“Ada nilai besar dalam memperpanjang usia kapal yang ada dengan mengintegrasikan teknologi terkini yang sudah teruji.”
Chess Dynamics sebelumnya telah memasang SeaEagle FCEO pada kapal KCR-60 TNI AL, bagian dari sistem tempur yang dikirim dan diintegrasikan oleh Terma.
Perusahaan mengaku telah mendukung program angkatan laut di Asia Tenggara selama lebih dari 15 tahun, termasuk di Thailand dan Malaysia.
Di Australia, Chess bermitra dengan Owen International untuk pemeliharaan, perbaikan, dan peningkatan sistem SeaEagle.
Menurut perusahaan, lebih dari 150 unit SeaEagle FCEO telah dikirim ke seluruh dunia dan digunakan, atau segera digunakan, oleh 12 angkatan laut di empat benua.***