Selasa, 29 September 2026

Ketua MPR Minta Pindad Kurangi Ketergantungan Senjata Luar Negeri

 Medium Tank Harimau (Pindad) ♞

K
etua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan pentingnya penguatan industri pertahanan dalam negeri untuk menjaga kedaulatan NKRI. Hal itu disampaikan Muzani saat mengunjungi PT Pindad di Kota Bandung.

Dia berdialog dengan jajaran direksi Pindad mengenai perkembangan industri pertahanan nasional hingga rencana pengembangan ke depan. Muzani mengatakan salah satu tugas MPR adalah memastikan NKRI tetap terjaga dengan baik dan solid.

Dia menyebut jajaran Pindad telah memberikan penjelasan mengenai berbagai produksi dan rencana pengembangan perusahaan.

Salah satu isu yang turut dibahas dalam pertemuan tersebut adalah upaya meningkatkan kemandirian produksi alat pertahanan dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.

Dia menambahkan perkembangan teknologi yang dimiliki Pindad diharapkan dapat mendukung kebutuhan persenjataan nasional.

Di sisi lain, Muzani juga menyampaikan dukungan MPR terhadap pengembangan industri strategis tersebut.

Menurutnya, dalam pertemuan juga dibahas rencana pengembangan perusahaan hingga 2040. Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PT Pindad Sigit P Santosa mengatakan pihaknya telah memaparkan berbagai produk yang sedang dikembangkan kepada Ketua MPR dan jajaran.

Menurut Sigit, pengembangan tersebut mencakup senjata dan amunisi, kendaraan taktis, kendaraan operasional, hingga teknologi pertahanan masa depan.

Menurutnya, Pindad saat ini juga tengah mengembangkan teknologi dari sistem persenjataan konvensional hingga smart weapon system.

Dia mengatakan sejumlah hasil penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D) Pindad saat ini sudah memasuki tahap piloting dan trial production. Tahap selanjutnya adalah meningkatkan kapasitas produksi atau scaling up.

Menurut Sigit, proses peningkatan kapasitas produksi tersebut menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan TNI.

  ♞
JPNN   

Senin, 28 September 2026

KSAL Sebut Pengadaan AAV7 M-35 Gunakan Skema Foreign Military Sales

  Akan bertambah hingga 105 unit secara berkala hingga 2028 12 Ranpur Amfibi AAV7-M35 batch 1 telah berganti warna, sesuai warna kamuflase terbaru marinir  (Tribunnews)

Menteri Pertahanan (Menhan) RI memimpin penyerahan 12 unit kendaraan tempur amfibi (assault amphibious vehicle/AAV)7 M-35 ke Pasukan Marinir (Pasmar) 1 di Mako Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026).

AAV tersebut tiba dari Amerika Serikat (AS) dan menjalani proses pembongkaran di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (22/09/2026).

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menjelaskan, AAV7 tersebut dibeli dari US Marine Corps melalui skema foreign military sales (FMS). Dengan begitu, Marinir mendapatkan harga diskon atas ranpur tersebut. Terkait alokasi anggaran, ia meminta hal itu ditanyakan langsung kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI.

"Jadi ini merupakan foreign military sales dari Amerika. Kita diberi harga khusus karena kita dekat dengan Marinir Amerika Serikat. Hubungan dengan Marinir Indonesia sangat baik," kata Ali di lapangan Markas Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan.

Ali menjelaskan, ranpur tersebut jauh lebih modern daripada LVT-7A1 produksi Korea Selatan (Korsel) yang sudah dimiliki Marinir sejak Desember 2009. Keunggulan AAV7, sambung dia, bisa menampung 21 prajurit plus tiga awak kendaraan yang terdiri dari pengendara, pemberi komando dan pemegang senjata.

"Kendaraan ini juga mampu melewati perairan atau laut dengan sea state 5. Jadi makanya diberi nama M35 ya," kata Ali.

Dia menjelaskan, saat ini Korps Marinir TNI AL baru kedatangan 12 unit dari total 35 AAVyang sudah dibeli. Meski begitu, menurut Ali, total pengadaan ranpur itu mencapai 105 AAV. "Akan hadir lagi 23 (ranpur) di akhir bulan November 2026," jelas Ali.

Dia melanjutkan, nantinya, seluruh AAV ditempatkan di Pasmar I, II, dan III untuk memperkuat pertahanan wilayah maritim Indonesia. Dengan adanya kendaraan itu, Ali berharap, Korps Marinir TNI AL dapat semakin maksimal dalam menjalankan misi perang dan kemanusiaan.

  ♞
 Republika   

Minggu, 27 September 2026

18 Pesawat Rafale Tiba Tahun 2027

 ✈ Dua pesawat Rafael TNI AU terlacak terbang di ibukota Jakarta (Dispenau)

Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi memastikan pesawat tempur Rafale pesanan Indonesia akan kembali datang tahun 2027.

"Di tahun depan, kita akan kedatangan lagi 18 secara bertahap, ya. Secara bertahap sampai dengan diperkirakan di tahun 2029," kata Tedi saat dijumpai awak media di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu.

Kendati demikian, Tedi tidak menjelaskan secara rinci kapan gelombang ketiga kedatangan Rafale akan terjadi.

Dia hanya memastikan bahwa sejauh ini TNI AU sudah mempersiapkan fasilitas yang layak untuk pengoperasian dan perawatan pesawat tempur Rafale.

Hal tersebut, lanjut dia, terlihat dari pengoperasian pesawat tempur Rafale yang telah berjalan dengan baik di Skadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.

Sebelumnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu pelanggan pesawat tempur jenis Rafale yang diproduksi Dassault Aviation, Prancis.

Tercatat Kementerian Pertahanan telah memborong sebanyak 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Prancis setelah kontrak pembelian tahap ketiga untuk 18 unit terakhir efektif.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan yang kala itu dijabat Brigadir Jenderal TNI Edwin Adrian Sumantha menyampaikan kontrak efektif itu menjadi dasar Dassault Aviation mulai memproduksi 18 unit terakhir jet tempur Rafale pesanan Indonesia.

"Kemenhan RI sebelumnya telah mengefektifkan kontrak pengadaan tahap pertama dengan Dassault Aviation pada September 2022 sejumlah enam unit dan Agustus 2023 sejumlah 18 unit. Totalnya pengadaan pesawat tempur Rafale oleh Kementerian Pertahanan RI berjumlah 42 unit," kata Edwin.

Sejauh ini, TNI AU baru menerima enam pesawat tempur Rafale. Tiga pesawat pertama datang pada gelombang kedatangan pertama yakni pada awal 2026 lalu.

Sisanya datang pada gelombang ke dua pada Mei 2026 dan diterima langsung oleh TNI Presiden Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

  ★  
antara  

Sabtu, 26 September 2026

Menhan Sjafrie Bahas Pengadaan Rafale dan Scorpene

  👷  🤝 Dalam Pertemuan dengan Menteri Pertahanan Perancis Latihan bersama dengan Perancis dalam misi Pegase 2026 (Dispenau)

Menteri Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan kehormatan Menteri Angkatan Bersenjata dan Veteran Prancis HE Chaterine Vautrin di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Annual Defense Minister Dialogue pertama antara Indonesia dan Prancis.

Pertemuan digelar untuk memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara.

“Kita mengharapkan ini menjadi momentum yang paling penting dalam rangka penguatan, tidak hanya kerja sama pertahanan, tetapi juga kerja sama antarbangsa Indonesia dan Prancis,” kata Sjafrie dalam pernyataan bersama.

Menurut Sjafrie, hubungan pertahanan Indonesia dan Prancis terus berkembang, salah satunya melalui kerja sama pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Dia juga menyampaikan apresiasi atas pengadaan 42 jet tempur Rafale produksi Dassault Aviation dan dua kapal selam Scorpene buatan Naval Group.

Dua kapal selam Scorpene tersebut rencananya dibangun bersama PT PAL Indonesia di Surabaya.

Sjafrie mengatakan penguatan kerja sama alutsista ditandai dengan kedatangan pesawat Rafale pertama di Indonesia serta dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene pertama oleh PT PAL.

“Pada hari ini kita mengapresiasi penguatan kerja sama di bidang alutsista yang ditandai dengan kedatangan Rafale pertama di Indonesia dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene yang pertama oleh PT PAL,” tutur Sjafrie.

Selain pengadaan alutsista, Indonesia dan Prancis juga berkomitmen meningkatkan kerja sama melalui pertukaran perwira untuk pendidikan dan latihan.

Menurut Sjafrie, kerja sama tersebut mencakup hubungan antarinstitusi hingga interaksi antarpersonel.

“Ke depan, kita akan terus bekerja sama untuk menunjukkan hubungan pertahanan antara Indonesia dan Prancis terus berkembang dan berada pada momentum yang sangat positif, tidak hanya untuk pengadaan alutsista, tapi juga dalam peningkatan kemampuan profesionalisme personel dan hubungan antarangkatan bersenjata,” kata Sjafrie.

Kunjungan Vautrin ke Indonesia juga berkaitan dengan Misi Pégase 2026 Angkatan Bersenjata Prancis.

Dia dijadwalkan meninjau Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, yang menjadi salah satu lokasi kegiatan Angkatan Udara Prancis bersama TNI AU.

Dalam rangkaian Misi Pégase 2026, Vautrin meninjau pesawat-pesawat Prancis dan Indonesia yang berada di Indonesia pada 20–25 September 2026. (shf)

   👷  Sindonews   

Jumat, 25 September 2026

Galangan Kapal di Lamongan Dukung Industri Maritim Nasional

  👷 Fasilitas perbaikan dan pembangunan kapal Foto udara fasilitas PT PAL Indonesia di Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (23/9/2026). Fasilitas tersebut dikembangkan untuk mendukung kegiatan perbaikan dan pembangunan kapal. (ANTARA/HO-Humas PT PAL Indonesia)

PT PAL Indonesia menyatakan pengembangan galangan kapal di Desa Sidokelar Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas industri maritim nasional.

Ketua Tim Penyertaan Modal Negara (PMN) PT PAL Indonesia Uut Tata Wijaya mengatakan perusahaan mendapat penugasan sebagai konsolidator nasional galangan kapal untuk mengembangkan kapasitas industri perkapalan di Indonesia.

"PT PAL di sini dengan niatan positif, kita juga memperhatikan apa yang ada di sekitar kami," katanya di Lamongan, Rabu.

Ia menjelaskan fasilitas di Sidokelar tidak hanya diarahkan untuk perbaikan kapal komersial, tetapi juga berpotensi digunakan untuk pembangunan kapal baru, termasuk kapal untuk kebutuhan pertahanan.

Pengembangan teknologi pertahanan tersebut mencakup kapal perang tanpa awak yang beroperasi di permukaan air maupun kapal selam.

Menurut Uut, potensi pasar jasa perbaikan kapal di Jawa Timur masih besar. Berdasarkan data PT PAL, terdapat sekitar 22.891 kunjungan kapal ke Jawa Timur setiap tahun, sedangkan kapasitas galangan yang tersedia baru sekitar 984 kapal atau 4,29 persen.

"Yang bisa ditangani di Jawa Timur tidak sampai lima persen. Maka peluang pasar galangan repair di Jawa Timur masih sangat besar," ujarnya.

Pengembangan fasilitas tersebut menggunakan PMN sebesar Rp 427 miliar. Pada tahap awal, galangan ditargetkan mampu menangani kapal hingga panjang 60 meter dan kemudian meningkat menjadi 100 meter.

Ia menambahkan bahwa pengembangan galangan juga diharapkan memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan tumbuhnya usaha pendukung.

PT PAL mencatat kebutuhan tenaga kerja pada divisi pemeliharaan dapat mencapai sekitar 200 orang, belum termasuk tenaga kerja dari perusahaan sub kontraktor.

Selain itu, perusahaan akan melibatkan masyarakat dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), termasuk kegiatan yang berkaitan dengan nelayan dan pelestarian lingkungan..

 ⚓️ 
Antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...