Sabtu, 07 Februari 2026

Excalibur Army Secures a Record Export Contract for Patriot Vehicles

Patriot (iExcalibur Army)

CSG
Group, through its subsidiary Excalibur Army, has secured contracts in Southeast Asia for the delivery of more than 100 Patriot armored vehicles in various configurations.

The total value of these contracts exceeds USD 300 million.

Deliveries are scheduled to be completed within a three-year timeframe.The order includes a wide range of Patriot platform variants designed for modern land forces, from mortar carrier vehicles and command vehicles to armored personnel carriers, wheeled infantry fighting vehicles, and armored medical evacuation versions.

“Within the CSG Group, Excalibur Army specializes in the development and production of top-tier land systems, often based on Tatra chassis. The contract in Southeast Asia confirms the trust of our partners and builds on our successful track record of deliveries in this region, where we have previously exported, for example, bridging systems and rocket launchers,” said Vladimír Stulančák, CEO of Excalibur Army.

The Patriot armored vehicle is built on the outstanding off-road wheeled Tatra chassis, featuring the unique central backbone tube design and independent swinging half-axles, ensuring high mobility even in demanding conditions.

This project represents the largest export order for the Patriot platform to date and confirms its versatility as well as its ability to be tailored to the customer’s specific requirements.

 
Excalibur Army  

PT DI dan Sari Bahari Teken “Letter of Intent” Produksi Bersama Roket 70 dan 80 MM

  Akan dijual ke pasar Internasional PT Dirgantara Indonesia dan PT Sari Bahari menekan letter of intent produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm di sela acara Singapore Airshow 2026. (Foto: Dok. PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (DI) dan industri pertahanan dalam negeri, PT Sari Bahari, meneken letter of intent (LoI) untuk produksi bersama roket kaliber 70 mm dan 80 mm.

Penandatanganan dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026 di Singapura, Rabu (4/2) waktu setempat. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI Arif Faisal dan Vice President Director PT Sari Bahari Putra Prathama Nugraha di booth PT DI A-L31.

Kesepakatan mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional.

Kerja samanya kolaborasi produksi antara PT DI dan Sari Bahari, penjualannya nanti joint marketing,” kata Putra Prathama kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (5/2).

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.

Arif Faisal menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman PT DI.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen PT DI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik dalam maupun luar negeri. (nma)

  🚀 
IDM  

BRIN Kawal Riset Tank Ringan Nasional melalui Kolaborasi Industri

 🤝 Hingga tahap sertifikasi BRIN riset tank ringan nasional (BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat perannya dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional melalui pengembangan riset kendaraan tempur tank ringan. Riset ini dikawal secara komprehensif hingga tahap kesiapan dan sertifikasi, serta dilaksanakan melalui skema kolaborasi dengan mitra industri.

Perkembangan riset tersebut disampaikan dalam rangkaian International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA) 2026 yang digelar di Hotel Trembesi BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Lukman Shalahuddin, menjelaskan bahwa riset kendaraan tempur tank ringan merupakan bagian dari prioritas riset strategis industri pertahanan.

BRIN mengawal pengembangan kendaraan ini hingga mencapai tahapan sertifikasi. Masih terdapat sejumlah tantangan teknis, sehingga kami memastikan kendaraan benar-benar siap sebelum dinyatakan ready,” ujar Lukman pada Selasa (3/2).

Menurutnya, tahap awal riset difokuskan pada optimasi kinerja kendaraan, meliputi desain dan struktur bodi, pemilihan material, serta sistem penggerak. Pengembangan ini ditujukan untuk memastikan kendaraan mampu beroperasi secara andal dalam berbagai kondisi ekstrem.

P8 Light Tank (SSE)

Lukman menambahkan, cakupan riset ke depan akan diperluas tidak hanya pada kendaraan tempur tank ringan, tetapi juga mencakup pengembangan berbagai varian kendaraan taktis lainnya. Setelah fase optimasi tank ringan, pengembangan akan dilanjutkan pada varian seperti Armoured Personnel Carrier (APC) yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional militer, termasuk evakuasi dan dukungan medis.

Skema kolaborasi riset ini dirancang melibatkan tiga pihak, yakni BRIN, TNI Angkatan Darat, dan PT Sentra Surya Ekajaya (SSE). Saat ini, kerja sama antara BRIN dan PT SSE telah berjalan, sementara penjajakan kolaborasi dengan TNI AD masih berlangsung dan ditargetkan terealisasi dalam tahun ini, imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Project Manager PT SSE, Mardjuki, menyampaikan apresiasi terhadap peran BRIN sebagai mitra riset strategis. Menurutnya, BRIN memberikan dukungan keilmuan yang signifikan, mulai dari pengembangan mesin hingga struktur kendaraan.

Kolaborasi dengan BRIN memberikan kontribusi penting dalam memastikan aspek teknis kendaraan dikembangkan secara ilmiah dan terukur. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan diperluas ke pengembangan kendaraan lainnya,” ujar Mardjuki.

Melalui kolaborasi riset ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam menjembatani riset dan kebutuhan industri, sekaligus mendorong lahirnya inovasi teknologi pertahanan yang siap diimplementasikan dan berdaya saing nasional. (aj/ed:ugi)

  ♞  BRIN  

PT Pindad & BRIN Jalin Kerja Sama Riset Material Laras Senjata

  Perkuat kemandirian indhan (Pindad)

PT Pindad bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani perjanjian kerja sama dalam rangkaian kegiatan BRIN Goes to Industry pada Kamis, 5 Februari 2026 berlokasi di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Penandatanganan dilaksanakan oleh Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma dengan Kepala Pusat Riset Metalurgi BRIN, Ika Kartika. Kerja sama antara PT Pindad dengan BRIN bernilai strategis dalam rangka mengakselerasi hilirisasi riset menuju kemandirian industri strategis nasional.

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini mengenai Riset Pengembangan Material untuk Laras Senjata Berbasis Baja Paduan. Tujuan kerja sama ini adalah peningkatan kemandirian industri pertahanan melalui penggunaan material dan proses dalam negeri. Laras merupakan komponen utama dalam senjata api yang memerlukan ketahanan tinggi dari ledakan serta gesekan dengan amunisi yang meluncur.

Mengawali kegiatan, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian menyampaikan bahwa hari ini merupakan momen penandatanganan kerja sama strategis antara BRIN dengan berbagai pihak.

Selanjutnya akan ada penandatanganan antara BRIN dengan PT Len Industri (Persero), lalu PT Pindad, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Chroma International dan PT Nuon Digital Indonesia dengan Asosiasi Game Indonesia. Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi, bahwa hari ini kita mengumpulkan periset-periset, universitas hingga industri strategis dan menjalin kerja sama. Kita berharap dengan berbagai kerja sama ini dapat mengakselerasi hilirisasi kemandirian industri strategis nasional.” Ucap Hendrian.

Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas mewakili Kepala BRIN menyampaikan permohonan maaf karena berhalangan hadir pada penandatanganan kerja sama hari ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang mendorong kemandirian industri strategis nasional.

Saya mengucapkan permohonan maaf dari Kepala BRIN yang sedianya hadir pada pagi hari ini namun berhalangan karena ada kegiatan mendesak. Kami menyampaikan apresiasi terhadap seluruh mitra industri, perguruan tinggi, dan asosiasi insinyur professional atas kerja samanya dalam hilirisasi dan komersialisasi riset inovasi terkait industri mineral, industri proses, industri pertahanan maupun industri nuklir.” Jelas Sekretaris Utama BRIN.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma menyampaikan bahwa kerja sama kali ini dengan BRIN bukanlah kali pertama. Beliau juga berharap bahwa hasil penelitian bersama ini dapat memaksimalkan tingkat kandungan dalam negeri terlebih bahan baku yang dibutuhkan ada di Indonesia.

Sebelumnya, PT Pindad dengan BRIN sudah memiliki rekam jejak kerja sama bernilai strategis yang sudah menjadi produk, antara lain teknologi modifikasi cuaca dan Roket Rhan 122. Kerja sama kali ini juga bersifat strategis karena di Indonesia belum ada yang memproduksi material laras dan Pindad mendapatkan nilai manfaat yang besar. Apabila kita melihat TKDN produk senjata Pindad sudah mencapai 60-70%, dan hasilnya akan lebih maksimal dengan material laras senjata hasil dalam negeri.” Jelas Prima Kharisma.

Melalui kerja sama dengan BRIN, PT Pindad memperkuat sinergi antara industri pertahanan dan Lembaga riset nasional dalam mendorong penguasaan teknologi material strategis. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi riset menjadi produk serta mendukung terwujudnya kemandirian industri pertahanan nasional.

  🤝 
Pindad  

Jumat, 06 Februari 2026

[Global] Arab Saudi Isyaratkan Akan Modali Proyek Jet Tempur Turki KAAN

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvY2VQJdvTEFOvacbp_xftc_jl4HEnVfng-RC4gpdHPsUPB7q2DyOCmiojUT0NvPwl1vXdkuPDqWG2tGtYRND7lY5PKkHm6yuHB9mY0_HtBal1hrg8cVasdGkBDuzwgJttEgYLErKjMJdf_ipAVv5wqYUcnHiLTefcMJ7Bt3IRCKQ8OcPV670YODptF7Bw/w1200-h630-p-k-no-nu/316167.jpgPesawat generasi kelima KAAN Turkiye (TAI)

Kerajaan Arab Saudi mengisyaratkan akan menanamkan modal dalam proyek pengembangan jet tempur generasi kelima Turki, KAAN. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan Riyadh dan Ankara sedang mempertimbangkan investasi bersama dalam proyek tersebut, dengan keputusan akan segera diambil.

Kami sedang menandatangani perjanjian kerja sama industri pertahanan yang signifikan dengan Arab Saudi, dan kami bertekad untuk lebih memperkuatnya,” kata Erdogan saat kembali ke Turki pada hari Kamis setelah kunjungannya ke Mesir dan Arab Saudi.

Selain itu, investasi bersama dengan Arab Saudi sedang dipertimbangkan, dan investasi KAAN ini dapat direalisasikan kapan saja,” ujarnya, seperti dikutip dari Middle East Eye, Jumat (6/2/2026).

Turki telah mengembangkan pesawat tempur generasi kelima tersebut sejak 2010, tetapi rencananya dipercepat setelah Ankara dikeluarkan dari program F-35 yang dipimpin Amerika Serikat (AS) pada 2019, menyusul pembelian sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia, yang juga menyebabkan sanksi oleh Kongres AS.

Proyek jet tempur KAAN dianggap sangat mahal, mendorong Ankara untuk mencari mitra internasional.

Pada bulan Juni, Indonesia menandatangani kesepakatan untuk membeli 48 jet tempur KAAN dalam perjanjian senilai lebih dari USD 10 miliar. Kesepakatan 10 tahun ini mencakup produksi bersama komponen tertentu dari KAAN di Indonesia.

Negara-negara lain, termasuk Qatar dan Azerbaijan, juga telah menyatakan minat untuk mengakuisisi pesawat tersebut.

KAAN melakukan penerbangan perdananya pada Februari 2024, untuk sementara ditenagai oleh dua mesin General Electric F110-GE-129, mesin yang sama yang digunakan pada jet tempur F-16 Turki. Turkish Aerospace Industries (TAI), yang memimpin program KAAN, sedang mengembangkan mesin produksi dalam negeri untuk pesawat tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengungkapkan tahun lalu bahwa Kongres AS telah memblokir pengiriman mesin F110-GE-129 yang ditujukan untuk batch pertama pesawat KAAN.

TAI bertujuan untuk mengirimkan jet KAAN pertama ke Angkatan Udara Turki pada akhir tahun 2028, meskipun beberapa analis memperkirakan jadwal ini dapat bergeser ke tahun 2030. Sepuluh jet tempur KAAN Block-1 pertama dijadwalkan untuk dikirim ke Angkatan Udara Turki antara tahun 2030 hingga 2033. (mas)

  sindonews 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...