👷 Kapal Landing Dock generasi terbaru PAL
Persiapan kapal Landing Dock pesanan Filipina (PAL)
Kapal Landing Dock pesanan Filipina direncanakan akan diluncurkan akhir bulan Juni yang dibangun dalam waktu kurang lebih 6 bulan.
Unit pertama kapal LD generasi terbaru pesanan Philippine Navy dijadwalkan diluncurkan pada 30 Juni 2026 di galangan PT PAL Surabaya.
Kapal sepanjang 124 meter itu menjadi bagian dari kontrak lanjutan atau repeat order setelah keberhasilan PT PAL membangun kapal Strategic Sealift Vessel (SSV) BRP Tarlac dan BRP Davao del Sur yang saat ini telah menjadi tulang punggung operasi amfibi Angkatan Laut Filipina.
Berikut video dari PAL Indonesia :
Perlu dipertanyakan fungsi biaya investasi & kerjasama dengan Korsel ?
Pesawat tempur KF-21 Boramae kursi tunggal, kemungkinan yang akan dikirimkan ke Indonesia (Jetphotos)
Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengungkapkan Indonesia tidak terlibat dalam produksi bersama pesawat tempur KF-21 Boramae dengan Korea Selatan.
Namun, Indonesia akan memperoleh pesawat tempur tersebut melalui skema pembelian langsung dari pemerintah Korea Selatan.
“Indonesia tidak melakukan produksi KF-21 bersama, tetapi langsung membeli dari Korea,” kata Kepala Badan Logistik Pertahanan (Kabaloghan) Kemhan Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari, di Kemhan, Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).
Rencana Indonesia untuk memiliki jet tempur KF-21 Boramae dari Korea Selatan memang sebelumnya belum mencapai tahap keputusan final.
Pemerintah menyatakan, prosesnya masih berada pada tahap penjajakan dan negosiasi lanjutan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI Brigjen Rico Ricardo Sirait menegaskan pada April 2026 bahwa belum ada keputusan terkait pembelian pesawat tempur generasi baru tersebut.
“Perlu kami sampaikan bahwa rencana terkait pesawat tempur KF-21 Boramae saat ini masih berada pada tahap penjajakan,” kata Rico, kepada wartawan, Jumat (3/4/2026).
Pernyataan ini merespons kabar bahwa Korea Selatan siap mengirim 16 unit KF-21 sesuai permintaan Indonesia.
Dia menambahkan, realisasi kontrak sangat bergantung pada kemampuan anggaran negara dan hasil kajian kebutuhan operasional TNI.
👷 LPD Filipina dijadwalkan diluncurkan akhir bulan
Kapal LD ketiga pesanan Filipina dalam penyelesaian (PAL)
Keputusan Filipina kembali memesan dua kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) kepada PT PAL Indonesia bukan hanya transaksi bisnis pertahanan biasa.
Di balik kontrak bernilai strategis tersebut tersimpan pesan geopolitik yang jauh lebih besar, yakni meningkatnya kepercayaan negara-negara kawasan terhadap kemampuan industri pertahanan Indonesia sekaligus munculnya pergeseran konfigurasi keamanan maritim di Asia Tenggara.
Unit pertama kapal LPD generasi terbaru pesanan Philippine Navy dijadwalkan diluncurkan pada 30 Juni 2026 di galangan PT PAL Surabaya.
Kapal sepanjang 124 meter itu menjadi bagian dari kontrak lanjutan atau repeat order setelah keberhasilan PT PAL membangun kapal Strategic Sealift Vessel (SSV) BRP Tarlac dan BRP Davao del Sur yang saat ini telah menjadi tulang punggung operasi amfibi Angkatan Laut Filipina.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pesanan ulang dari Filipina merupakan indikator penting bahwa Indonesia mulai dipandang sebagai pemain strategis dalam rantai pasok pertahanan kawasan.
“Repeat order dalam industri pertahanan bukan sekadar soal kualitas produk. Ini menunjukkan adanya kepercayaan strategis," kata Amir, dikutip Sabtu 27 Juni 2026.
Menurut Amir, negara pembeli tidak hanya membeli kapal, tetapi juga mempercayakan sebagian kepentingan keamanan nasionalnya kepada negara pemasok.
Amir melihat langkah Filipina memperkuat armada amfibi tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya tensi keamanan di Laut China Selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Manila terus meningkatkan kemampuan militernya menyusul berbagai insiden dengan kapal-kapal penjaga pantai dan armada maritim China di wilayah sengketa.
Kapal LPD memiliki fungsi yang sangat penting dalam operasi modern karena mampu mengangkut pasukan, kendaraan tempur, logistik, helikopter, hingga menjadi pusat komando bergerak dalam operasi militer maupun kemanusiaan.
“Filipina membutuhkan kemampuan mobilisasi cepat antarpulau dan kemampuan proyeksi kekuatan maritim,” kata Amir.
Ia menjelaskan bahwa modernisasi armada Filipina merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan daya tangkal terhadap berbagai ancaman di kawasan Indo-Pasifik.
Tidak mengherankan jika Manila saat ini aktif memperkuat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan berbagai mitra regional lainnya.
👷 RMOL
👷 Gendong ratusan mitra lokal di Proyek LD Filipina
Kapal LD ketiga pesanan Filipina dalam penyelesaian (PAL)
Keberhasilan PT PAL Indonesia dalam memenangi kontrak ekspor kapal perang bukan sekadar prestasi di atas kertas atau pencapaian korporasi semata. Industri pertahanan.
Lebih dari itu, proyek pembangunan Landing Dock Philippines (LDP) nomor lambung pertama (#1) kini bertransformasi menjadi motor penggerak utama yang membawa ekosistem industri pertahanan (indhan) nasional naik kelas ke kancah global.
Tidak tanggung-tanggung, dalam menggarap proyek LDP #1 pesanan Angkatan Laut Filipina ini, PT PAL Indonesia melibatkan lebih dari 100 mitra lokal dari berbagai sektor industri pendukung.
Langkah strategis ini diambil guna membangun rantai pasok (supply chain) domestik yang tangguh sekaligus memenuhi standar kualifikasi internasional yang ketat.
Sinergi Menuju Kemandirian Indhan
PT PAL meyakini bahwa penguatan industri maritim dan pertahanan nasional tidak dapat berjalan secara parsial.
Diperlukan sinergi yang berkelanjutan antara galangan kapal utama (main contractor) dan industri pendukung agar tercipta kemampuan nasional yang mandiri, kompetitif, dan berdaya saing global.
Chief Technology & Procurement Officer (CTRO) PT PAL Indonesia, Briljan Gazalba, menegaskan bahwa perusahaan memikul tanggung jawab besar untuk memastikan setiap proyek strategis yang diraih mampu memberikan multiplier effect bagi industri nasional.
“Ketika PT PAL mendapatkan kepercayaan dari pelanggan internasional, maka kepercayaan tersebut harus diterjemahkan menjadi kesempatan bagi industri pendukung nasional untuk tumbuh bersama. Semakin banyak industri lokal berkualitas yang terlibat, semakin kuat pula fondasi industri maritim dan pertahanan Indonesia di masa depan,” ujarnya.
Jembatan UMKM ke Pasar Internasional
Menurut Briljan, proyek ekspor ini menjadi ujian sekaligus ruang akselerasi bagi para mitra lokal.
Melalui pola kemitraan yang berkelanjutan, PT PAL melakukan asistensi ketat terkait peningkatan kualitas, efisiensi, serta standardisasi komponen.
Tujuannya jelas, agar produk-produk buatan dalam negeri tidak hanya terserap di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar global.
Dampak positif dari proyek LDP Filipina ini langsung dirasakan di berbagai lini, mulai dari Peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada alutsista laut, Penciptaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan rekayasa engineering, Transfer teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga kerja transnasional.
Dengan meningkatnya kepercayaan pasar global terhadap produk korporasi asal Surabaya ini, PT PAL berkomitmen penuh untuk terus menjadikan proyek-proyek ekspor strategis sebagai jembatan emas bagi industri lokal agar semakin kompetitif dan mampu berbicara banyak di panggung internasional. (PN)
KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian di Surabaya (PAL)
Pembangunan kapal Fregat Merah Putih (FMP) unit pertama ditargetkan selesai pada September 2026 untuk diserahterimakan kepada TNI dan TNI Angkatan Laut.
Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan, FMP unit pertama direncanakan ikut dalam sailing pass pada peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-81 TNI pada Oktober mendatang.
“Kami akan delivery pada September (2026), sehingga 5 Oktober (HUT TNI) nanti bisa melakukan sailing pass bersama-sama (KRI lain),” ujar Djenod kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Rabu (24/6).
Bersamaan dengan itu, FMP unit pertama akan dilengkapi persenjataan secara bertahap. Adapun FMP unit pertama diberi nama KRI Balaputradewa-322.
KRI Balaputradewa-322 dirancang sebagai kapal tempur modern berkemampuan multiperan.
Diketahui, Kementerian Pertahanan RI memesan dua unit fregat dari galangan asal Inggris, Babcock. PT PAL diberi mandat mengerjakan proyek tersebut, yang kemudian diberi nama Fregat Merah Putih.
PT PAL bekerja sama dengan Babcock membuat kapal perang berdasarkan desain Arrowhead 140.
📝 IDM