Di Latopslagab 2026
KRI Teluk Hading 538 (TNI AL)
Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Dermaga Baru Kodaeral VI Siang ini. Di bawah langit biru yang saksi bisu pengabdiannya, Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut VI (Komandan Kodaeral VI) Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M secara resmi memimpin tradisi pelepasan dan penghormatan terakhir bagi Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538, kapal angkut tank legendaris ini kini purnatugas dari jajaran alutsista TNI Angkatan Laut. Kamis (16/04/2026).
Tradisi TNI AL ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi tanpa batas yang telah ditunjukkan oleh kapal perang ini selama puluhan tahun menjaga kedaulatan NKRI. Eks KRI Teluk Hading-538 dikenal tangguh, melintasi ribuan mil laut dalam berbagai operasi militer, misi kemanusiaan, hingga pengangkutan logistik ke pelosok negeri.
Komandan Kodaeral VI menyampaikan Penghormatan terakhir diberikan melalui jajar kehormatan sebagai simbol rasa hormat kepada "Sang Veteran Samudera". Kepergian Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538 dari dermaga Kodaeral VI menandai akhir dari sebuah era, namun sejarah kegagahannya akan selalu tercatat dalam tinta emas sejarah maritim Indonesia.
"Selamat jalan, Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538. Terima kasih atas darma baktimu. Jalesveva Jayamahe", ucap Komandan Kodaeral VI.
Sasaran tembak rudal di Latopslagab 2026
Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538 nantinya akan ditarik oleh Kapal Perang Republik Indonesia Leuser-924 menuju lautan lepas untuk dijadikan sasaran tembak dalam Latopslagab (Latihan Operasi Laut Gabungan) TNI AL Tahun 2026 guna menguji kesiapan tempur alutsista dan meningkatkan profesionalisme prajurit.
Dalam momen yang penuh nilai heroik ini, Komandan Kodaeral VI didampingi oleh jajaran pejabat teras Kodaeral VI, di antaranya Wadan Kodaeral VI Laksamana Pertama TNI Dr. Arya Delano, S.E., M.Pd., M.Han, Para Pejabat Utama (PJU) Kodaeral VI, Dansatlinlamil-3, Para Kadis/Kasatker Kodaeral VI, Para Staf Inspektorat Kodaeral VI, dan Para Sahli Poksahli Kodaeral VI serta tim merpluq Kodaeral VI.
👹 Presiden Macron Marah Besar
Ilustrasi Kendaraan UNIFIL Perancis (CNN) 🛡
Satu tentara Prancis yang bertugas dalam misi Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL) gugur pada Sabtu (18/4) waktu setempat.
Presiden Prancis Emmanuel Macron murka dan mengutuk keras terkait kematian tentaranya tersebut.
Pemerintah Prancis kemudian menyatakan bahwa tentaranya gugur kemungkinan besar karena serangan dari Hizbullah, milisi proksi Iran, dikutip dari Reuters.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, Presiden Macron mengutuk insiden itu sebagai "serangan yang tidak dapat diterima."
Selain membuat satu tentara Prancis gugur, serangan yang diduga dari Hizbullah itu menyebabkan tiga personel UNIFIL terluka, dua di antaranya luka parah.
UNIFIL mengatakan penilaian awal menunjukkan bahwa tembakan berasal dari aktor non-negara, diduga Hizbullah, dan bahwa penyelidikan telah dilakukan atas apa yang disebutnya sebagai "serangan yang disengaja."
Macron juga mengatakan bukti sejauh ini mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran dan mendesak otoritas Lebanon untuk bertindak terhadap mereka yang bertanggung jawab.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan patroli tersebut diserang saat menjalankan misi untuk membuka jalan menuju pos UNIFIL yang telah terisolasi oleh pertempuran di daerah tersebut.
UNIFIL menyatakan prajurit itu gugur tembakan senjata ringan langsung di Desa Ghandouriyeh, Lebanon selatan.
Tentara Lebanon mengutuk penembakan itu dan mengatakan telah membuka penyelidikan. Presiden Aoun menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan penyelidikan segera, sementara Perdana Menteri Salam juga mengutuk serangan itu.
Kematian tentara Prancis menambah korban gugur dari pasukan internasional dalam misi UNIFIL. Sebelumnya, tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia gugur akibat serangan dari Israel ke pos jaga di Lebanon selatan.
UNIFIL pertama kali dikerahkan pada tahun 1978 dan tetap berada di sana selama konflik berturut-turut, termasuk perang tahun 2024 di mana posisinya berulang kali menjadi sasaran tembakan. (bac)
Rafale C T-0318 pesanan Indonesia sedang di ujiterbang. Dikabarkan Indonesia akan menambah pesawat Rafale. (@Swiderek M)
Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan opsi pembelian 24 pesawat tempur Rafale dari Prancis masih dalam tahap kajian.
Hal tersebut dikatakan Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemenhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi Antara di Jakarta, Jumat soal rencana membeli 24 pesawat tempur Rafale.
"Opsi penambahan masih dalam tahap kajian oleh pemerintah," kata Rico.
Rico menyampaikan pengkajian tersebut dilakukan untuk memastikan pembelian tersebut sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia.
Untuk itu, Rico memastikan hingga saat ini belum ada kontrak baru antara Pemerintah Indonesia dan Prancis terkait penambahan sebanyak 24 Rafale.
Seperti diketahui, Indonesia dan Prancis dikabarkan membuat opsi transaksi 24 pesawat tempur Rafael. Berdasarkan informasi yang diunggah akun Instagram khusus informasi pertahanan @isds.indonesia, dijelaskan bahwa pembahasan opsi itu muncul saat pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron beberapa waktu lalu.
Indonesia sendiri sudah memilik tiga pesawat Rafale, hasil dari kontrak pembelian 42 pesawat yang telah ditandatangani Prabowo Subianto saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Ke-42 pesawat tersebut datang secara bertahap, dimulai dari gelombang pertama kedatangan tiga pesawat tempur pada awal 2026 lalu.
Semua Tinggal Tunggu Permintaan
Ilustrasi SU35 Rusia, dikabarkan akan di beli Indonesia (TASS)
Rusia siap memasok berbagai kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk Indonesia. Namun saat ini, Rusia masih menunggu permintaan resmi dari pemerintah Indonesia.
Hal itu disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov usai menghadiri seminar internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN Veteran Jakarta, Kamis (16/4/2026.
Dia mengatakan, hubungan militer kedua negara selama ini telah terjalin kuat, termasuk dalam kerja sama teknis.
"Saya senang mengatakan bahwa kami memiliki hubungan yang sangat kuat dengan militer Republik Indonesia di bidang militer dan teknis," katanya.
Lebih lanjut, Tolchenov menyebut Rusia telah menawarkan berbagai opsi alutsista kepada Indonesia, mulai dari sistem pertahanan udara hingga teknologi persenjataan lainnya.
"Kami telah menyampaikan kepada mitra Indonesia bahwa kami siap memasok apa pun yang mereka butuhkan," katanya.
"Kami memiliki banyak peluang untuk menunjukkan kepada militer Indonesia, angkatan laut, udara, dan darat, teknologi serta persenjataan spesifik, termasuk S-300, S-400, bahkan sistem yang lebih canggih,” kata dia.
Meski demikian, realisasi kerja sama tersebut masih menunggu langkah dari Indonesia.
“Kami masih menunggu permintaan spesifik dari Indonesia dan siap memulai diskusi mengenai apa yang bisa kami suplai,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan teknologi militernya, Rusia juga aktif berpartisipasi dalam pameran pertahanan di Indonesia.
“Sebagai contoh, tahun lalu kami memiliki delegasi besar untuk berpartisipasi dalam Indo Defence 2024. Jadi ini sangat memungkinkan,” kata dia..
✈️ IDX Chanel
Dalam rangka efisiensi BBM
Ilustrasi kapal produksi PAL (PAL)
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan pihaknya akan menggunakan bahan bakar jenis B50 untuk kapal patroli dalam rangka penghematan bahan bakar minyak (BBM).
"Ke depan akan menggunakan bahan bakar B50. B50 nah ini tentunya ada modifikasi dari permesinan yang ada di kapal nantinya," kata Ali saat jumpa pers di Mabes Angkatan Laut (Mabes AL), Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.
Untuk diketahui, bahan bakar B50 merupakan bahan bakar nabati yang memiliki campuran 50 persen solar dan 50 persen minyak dari kelapa sawit (CPO).
Ali menyampaikan penggunaan B50 dapat mengurangi ketergantungan TNI AL akan bahan bakar yang berasal dari minyak mentah.
Selain itu, penggunaan B50 juga dianggap mampu untuk mendukung operasional kapal yang memiliki mobilitas tinggi seperti patroli laut hingga misi pengiriman logistik atau pasukan.
Ali melanjutkan penggunaan bahan bakar jenis B50 akan dilakukan secara bertahap dalam waktu dekat.
"Untuk patroli sementara ini kita masih menggunakan kapal-kapal yang menggunakan bahan bakar B35 ya," kata Ali.
Dengan adanya upaya penggunaan bahan bakar jenis B50, Ali memastikan intensitas kapal dalam berpatroli di laut tidak akan berkurang di tengah masa efisiensi bahan bakar.