UCAV Elang Hitam sukses terbang perdana, diharapkan dapat diproduksi massal . (PTDI)
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin meminta industri pertahanan nasional memiliki mentalitas produsen.
Hal itu disampaikan Menhan Sjafrie saat menghadiri rapat kerja dan leadership development program DEFEND ID 2026 di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/4).
“Saya ingin industri pertahanan kita memiliki mentalitas produsen. Hilangkan ego sektoral dan pastikan kita bergerak dalam satu irama sebagai tulang punggung kedaulatan bangsa,” kata Sjafrie, dikutip dari siaran pers Biro Infohan Kemhan, Senin (27/4).
Dalam arahannya, Sjafrie mendorong agar seluruh entitas di bawah DEFEND ID terus berinovasi untuk mencapai kemandirian teknologi.
“Kita tidak sedang membangun industri biasa. Kita sedang membangun fondasi kemandirian bangsa yang menuntut kepemimpinan kuat, arah yang jelas, dan keberanian untuk melangkah maju bersama,” tutur Sjafrie.
“Dulu kita berjalan di bawah, hari ini kita mulai berdiri di atas. Tugas kita bukan hanya menjaga posisi itu tetapi memastikan kita tidak pernah kembali bergantung,” kata Menhan RI.
Sementara itu, Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan menyatakan komitmen untuk membawa DEFEND ID sebagai penguasa teknologi, bukan sekadar pengguna.
Adapun kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) ke-4 DEFEND ID. Kegiatan diselenggarakan selama tiga hari, diikuti oleh ratusan pejabat Eselon I yang bertujuan untuk memperkuat sinergi dan kepemimpinan di sektor industri pertahanan nasional. (nma).
Industri lokal akan produksi amunisi kaliber besar
Caesar TNI AD diberitakan akan ditambah (Dispenad)
Kerja sama pertahanan jadi salah satu fokus kerjasama strategis antara Indonesia dan Perancis. Dari tiga pilar modernisasi alutsista RI-Prancis--laut, udara, dan darat--sektor darat belum masuk tahap kontrak. Sistem artileri swagerak CAESAR disebut jadi kandidat utama.
Sumber dari Istana Élysée yang dikutip La Tribune menyebut Indonesia telah menyampaikan minat menambah pembelian CAESAR.
Pemerintah Prancis juga mulai menyiapkan aspek teknis. Pada Februari 2026, Armament Attaché DGA mengunjungi fasilitas PT Pindad di Bandung untuk mengecek kesiapan produksi, termasuk amunisi kaliber besar dan kendaraan pendukung.
Langkah ini merupakan lanjutan dari MoU antara PT Pindad dan KNDS pada Indo Defence 2025.
Kerja sama mencakup perakitan sistem artileri hingga produksi amunisi di dalam negeri.
Skema yang dibahas bukan sekadar pembelian, tapi juga produksi lokal. Pemerintah mendorong setiap pengadaan alutsista disertai alih teknologi dan manufaktur.
"Komitmen kami adalah untuk melakukan transfer perakitan, manufaktur, dan teknologi terhadap Indonesia dalam rangka memberikan kontribusi pada roadmap pemerintah Indonesia untuk kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Gerard, Chief Representative KNDS Indonesia.
Saat ini Indonesia menjadi operator CAESAR terbesar di Asia Tenggara dengan 56 unit. Penambahan unit dinilai lebih efisien jika dibarengi produksi dalam negeri.
Jika proyek ini berjalan, industri pertahanan dalam negeri berpeluang memproduksi amunisi kaliber besar yang selama ini masih bergantung pada impor.
Pertemuan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan Prabowo dijadwalkan kembali ke Prancis untuk membahas tindak lanjut kerja sama.
"Dan seperti kita ketahui bersama bahwa hubungan pribadi antar kedua Presiden merupakan sesuatu yang sangat dekat, yang akan merupakan sebuah modal besar dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis," ujar Sugiono.
(fdl/fdl)
♞ detik
Menempatkan skuadron pesawat tempur
Ilustrasi SU35 Rusia, dikabarkan akan di beli Indonesia (TASS)
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) memperkuat pertahanan udara nasional sekaligus modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan menempatkan skuadron pesawat tempur di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono saat ditemui di Kendari, Senin, mengatakan bahwa penempatan kekuatan udara tersebut rencananya akan dipusatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Haluoleo.
"Kami memilih wilayah Sultra karena posisinya sangat strategis bagi Angkatan Udara, yang dapat diibaratkan sebagai gerbang menuju wilayah Indonesia Timur," kata Tonny Harjono usai menghadiri kegiatan Semarak Dirgantara di eks MTQ Kendari.
Ia menjelaskan bahwa rencana tersebut saat ini masih dalam tahap persiapan dan pembahasan mendalam, termasuk mengenai spesifikasi jenis pesawat tempur berteknologi terbaru yang akan disiagakan.
Selain kehadiran skuadron tempur, TNI AU juga berencana memperkuat satuan Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) serta menambah jumlah personel secara signifikan di wilayah Sulawesi Tenggara.
Marsekal Tonny menegaskan, dalam pengembangan kekuatan ini, TNI AU berkomitmen memberdayakan sumber daya manusia (SDM) lokal. Putra-putri terbaik daerah akan diberikan prioritas untuk bergabung menjadi prajurit dan nantinya diprioritaskan untuk mengabdi kembali di daerah asal.
"Kami ingin ke depan satuan tempur semakin lengkap, personel bertambah, dan masyarakat lokal turut berperan aktif dalam pengabdian di TNI AU," ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Menurutnya, pengembangan pangkalan udara ini akan berdampak positif pada peningkatan konektivitas daerah.
Ia berharap peningkatan fasilitas pangkalan TNI AU ini dapat sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong status pangkalan udara menjadi berskala internasional, sehingga membuka akses Sultra ke jaringan global.
"Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu membuka akses Sultra ke dunia luar, baik dari sisi pertahanan maupun transportasi udara," ungkap Andi Sumangerukka.
Ia menambahkan, kolaborasi ini merupakan bentuk kepercayaan pemerintah pusat terhadap potensi Sultra, yang diharapkan tidak hanya memperkuat kedaulatan udara tetapi juga memicu kemajuan di berbagai sektor strategis lainnya.
🚀 Gandeng TNI
Rudal Merapi (UAD)
Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Prof Muchlas, mengungkapkan perkembangan signifikan dalam proyek pengembangan rudal anti-pesawat Merapi-R yang digarap bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Rudal tersebut bahkan dinilai berpotensi menjadi embrio sistem pertahanan udara mirip “Iron Dome” versi Indonesia.
Prof Muchlas menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari tim peneliti, uji fungsi rudal Merapi-R telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.
“Secara uji fungsi, Rudal Merapi siap dikembangkan menjadi senjata untuk keperluan perang, bahkan sangat taktis untuk dikembangkan menjadi embrio Iron Dome versi Indonesia,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (30/3/2026).
Meski demikian, dia menegaskan bahwa tidak semua spesifikasi teknis dapat dipublikasikan secara terbuka.
Hal ini berkaitan dengan aspek strategis dan keamanan nasional. Namun, sejumlah spesifikasi umum telah diungkap kepada publik.
"Spesifikasi tidak dapat disampaikan secara terbuka, tetapi secara umum telah dirilis," ucapnya.
Rudal Merapi-R diketahui merupakan jenis rudal panggul atau Man Portable Air Defence System (MANPADS)/dengan kaliber 70 mm.
Sistem ini dirancang untuk digunakan secara mobile oleh prajurit di lapangan. Dengan bobot sekitar 10 kilogram, rudal ini tergolong ringan dan mudah dibawa.
Dari sisi performa, rudal ini memiliki jangkauan efektif hingga 3.000 meter dan mampu melesat dengan kecepatan lebih dari 650 kilometer per jam.
Sistem pemandunya menggunakan teknologi penjejak inframerah (infrared seeker) dengan fitur fire and forget, yang memungkinkan rudal mengunci target secara otomatis setelah diluncurkan.
Secara desain, Merapi-R dilengkapi sirip lipat (canard dan fin-tail) yang akan terbuka setelah keluar dari tabung peluncur, guna menjaga stabilitas dan akurasi saat menuju sasaran.
Pengembangan rudal ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga, yakni tim CIRNOV UAD bersama PT Dahana, Dislitbangad, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi ini menjadi bukti kontribusi perguruan tinggi dalam penguatan teknologi pertahanan nasional.
Dia berharap pengembangan Merapi-R dapat terus berlanjut hingga tahap produksi dan operasional, sehingga mampu memperkuat sistem pertahanan udara Indonesia di masa depan.
Project Leader sekaligus Kepala CIRNOV UAD, Prof Hariyadi menyampaikan bahwa penyempurnaan akan selalu dilakukan agar kualitas produk riset itu dapat memenuhi standar industri pertahanan dan keamanan (hankam) dan digunakan oleh TNI sebagai suatu persembahan anak bangsa kepada negara Indonesia tercinta.
Untuk modernisasi angkatan udaranya
Ilustrasi SU35 Rusia, dikabarkan akan di beli Indonesia (TASS)
Korea Utara dilaporkan tengah mempertimbangkan akuisisi jet tempur kelas berat Su-35 dari Rusia. Langkah ini diambil untuk memperkuat pertahanan udara mereka secara signifikan.
Kesepakatan potensial ini mencakup pembelian sekitar 12 hingga 14 unit pesawat, menurut laporan Military Watch Magazine, dengan nilai kontrak diperkirakan mencapai angka 1 miliar dolar AS.
Rusia sendiri telah meningkatkan kapasitas produksi Su-35, sehingga peluang ekspor ke negara mitra terbuka lebih lebar.
Kehadiran Su-35 diproyeksikan oleh Pyongyang untuk menggantikan armada lama Angkatan Udara Korea Utara yang saat ini masih mengandalkan pesawat tua MiG-29 dan Su-25.
Meski kedua pesawat tersebut pernah menjadi legenda di masanya, pembaruan teknologi dibutuhkan untuk menghadapi dinamika konflik modern.
Akuisisi Su-35 dinilai akan membawa lompatan teknologi yang drastis bagi negara di Semenanjung Korea tersebut.
Su-35 merupakan jet tempur generasi 4++ yang memiliki kemampuan tempur luar biasa. Pesawat dibekali dengan berbagai fitur canggih, jauh melampaui armada tempur udara Korea Utara saat ini.
Radar modern yang digunakan Su-35 mampu mendeteksi dan melacak banyak target sekaligus dari jarak yang sangat jauh.
Pesawat juga dilengkapi mesin berteknologi Thrust Vectoring sehingga memberikan kelincahan ekstrem (supermaneuverability) di udara.
Untuk berperang, Su-35 dilengkapi rudal udara ke udara dan udara ke permukaan generasi terbaru dengan akurasi tinggi.
Jika kesepakatan ini terwujud, Korea Utara akan bergabung dengan daftar operator internasional jet tempur ini.
Faktor kedekatan Pyongyang dengan Moskow, dinilai dapat memuluskan rencana ini untuk direalisasikan. (AF)
✈️ Airspace Review.