Inspector 90 USV. (Exail picture/Naval News)
Exail telah memulai produksi Sistem Terpadu Penanggulangan Ranjau Tanpa Awak/ Unmanned Mine Countermeasures Integrated System (UMIS) yang dipesan oleh Indonesia, sekaligus bersiap untuk mengintegrasikan sistem sonar tarik dan sistem penyapu pihak ketiga.
Produksi sistem ini telah dimulai untuk paket UMIS yang diumumkan pada Juni 2025. Paket tersebut akan mencakup empat kapal permukaan tanpa awak (USV) Inspector 90, bersama dengan ROV pengidentifikasi ranjau Seascan dan sistem pembuangan ranjau sekali pakai K-Ster.
UMIS akan dikerahkan dari dua kapal penanggulangan ranjau laut (MCMV) TNI AL, KRI Pulau Fani (731) dan KRI Pulau Fanildo (732) yang dibangun oleh Abeking & Rasmussen.
Exail mengkonfirmasi bahwa Indonesia telah memilih sistem sonar tarik dan sistem penyapu dari pemasok Eropa yang sebelumnya telah bekerja sama dengan Exail.
Exail akan mengintegrasikan sistem-sistem ini ke dalam paket UMIS dan menyediakan sistem peluncuran dan pemulihan terkait.
Pada awal tahun ini, perusahaan Norwegia Henriksen mengumumkan akan memasok sistem Henriksen Multi Lightweight Influence Sweep (HEMLIS) ke TNI AL, menandai penjualan komersial pertama sistem tersebut di luar Eropa. HEMLIS akan diintegrasikan dengan USV Inspector 90.
Exail mengatakan kontrak dengan Indonesia sudah mencakup pekerjaan integrasi untuk kedua sistem pihak ketiga, serta pelatihan untuk personel Indonesia. Pelatihan akan berlangsung di Prancis dan Indonesia.
Kerjasama dengan ITB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy (kanan) dan Executive Vice President International Airbus Wouter van Wersch dalam agenda penandatanganan Nota Kesepahaman antara Airbus dengan Airnav Indonesia dan ITB di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (ANTARA/HO-Bappenas)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan ekosistem dirgantara Indonesia akan diperkuat dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Adapun strategi yang dilakukan ialah mengembangkan kompetensi, pendidikan dan penelitian, serta penguatan kapasitas teknologi dirgantara Indonesia, melalui kerja sama antara Bappenas dengan Airbus untuk memperkuat pengembangan kompetensi, pendidikan dan pelatihan teknis, penelitian bersama, serta eksplorasi pengembangan pusat riset di bidang dirgantara sebagai tindak lanjut Joint Declaration antara kedua belah pihak.
“Kemitraan kita dengan Airbus harus melangkah lebih jauh dari kepentingan komersial dan berkontribusi pada kemampuan teknologi, ketahanan industri, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Karena itu, kerja sama dengan ITB (Institusi Teknologi Bandung) harus mendukung pendidikan pascasarjana, pelatihan teknis yang intensif, dan penelitian bersama sehingga kita dapat memperkuat penguasaan teknologi Indonesia sekaligus membangun ekosistem dirgantara nasional yang lebih kuat,” ucapnya dalam agenda penandatanganan Nota Kesepahaman antara Airbus dengan Airnav Indonesia dan ITB, dari keterangan resmi, Jakarta, Jumat.
Kolaborasi Airbus–ITB juga diharapkan terhubung dengan agenda yang lebih luas, termasuk pengembangan kemampuan industri PT Dirgantara Indonesia, sertifikasi pesawat NC212, pengembangan N219, peningkatan kemampuan A400M, ekosistem maintenance, repair, and overhaul (MRO), serta pengembangan ekosistem dirgantara Kertajati.
Menteri Rachmat Pambudy menegaskan bahwa implementasi kerja sama perlu dilengkapi dengan rencana kerja, target terukur, institusi penanggung jawab, jadwal, serta kebutuhan sumber daya yang jelas.
“Kerja sama ini bukan hanya antara Indonesia dan Airbus, tetapi harus memperkuat keseluruhan ekosistem dirgantara Indonesia. Kita membutuhkan keterlibatan pemasok lokal, transfer teknologi, peningkatan kemampuan tenaga kerja, serta partisipasi Indonesia yang semakin besar dalam rantai pasok dirgantara global. Komitmen tersebut harus kita terjemahkan menjadi implementasi nyata yang sejalan dengan rencana pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045,” kata dia.
Executive Vice President International Airbus Wouter van Wersch menyatakan komitmen pihaknya untuk mengembangkan talenta lokal sebagai fondasi pertumbuhan industri dirgantara.
“Kami percaya Indonesia memiliki kemampuan dan talenta untuk melakukan hal tersebut. Dengan menggabungkan pengembangan industri, pembangunan talenta, dan pengembangan pesawat, kami tidak hanya menyediakan pesawat, tetapi juga membangun kemitraan strategis untuk jangka panjang,” ungkap Wouter.
Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas Vivi Yulaswati menambahkan bahwa kerja sama ini telah ditindaklanjuti hingga Juli 2026 melalui kelompok kerja lintas sektor dan diselaraskan dengan kebutuhan industri, ketersediaan sumber daya, serta peta jalan pengembangan ekosistem dirgantara nasional.
🚀 Mampu Tangkis Rudal Balistik
Rudal Aster 30 versi standar mempunyai jangkauan 100-120 km (Seaforces)
Pemasangan rudal Aster 30 pada dua kapal perang Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) bakal mendongkrak kemampuan pertahanan udara TNI AL. Senjata ini menggeser kapasitas tempur armada laut Indonesia dari perlindungan jarak dekat menjadi penangkis rudal balistik (anti-ballistic missile).
Head of Naval Systems MBDA, Stefano Bertuzzi, menyebut Aster 30 sebagai satu-satunya amunisi di portofolio perusahaan yang sanggup merontokkan ancaman rudal balistik di udara.
“Satu-satunya senjata yang kami punya untuk mengatasi ancaman rudal balistik cuma Aster. Kami tidak punya senjata lain untuk kebutuhan itu,” kata Bertuzzi di Paris, Prancis, Senin (5/10).
Bertuzzi menjelaskan, kemampuan mencegat rudal balistik butuh pemandu berakurasi tinggi. Pengembangan varian terbaru Aster 30 B1NT membekali rudal dengan komponen pencari sasaran (seeker) berbasis gelombang radio frekuensi tinggi (Ku-band) buatan Thales.
“Pengembangan utama pada B1NT ada di bagian pemandunya. Kami mengganti pemandu lama dengan seeker radio gelombang Ku-band buatan Thales. Perubahan ini meningkatkan akurasi tembakan secara signifikan,” ujar Bertuzzi.
Ia menambahkan, varian B1NT bahkan sanggup memburu sasaran balistik hingga jarak 1.500 kilometer. Kehadiran pemandu baru tersebut membuat rudal lebih responsif menyasar objek bergerak cepat.
“Varian B1NT dirancang mampu mencegat sasaran balistik sampai jarak 1.500 kilometer. Jadi, Aster memang solusi utama untuk menangkal rudal balistik,” tutur Bertuzzi.
Meski punya kemampuan teruji, pemboyongan rudal ini harus berhadapan dengan ketatnya antrean produksi di Eropa.
MBDA memberlakukan aturan prioritas pemesanan (first contract, first served), yang menempatkan pemesan awal seperti Prancis dan Italia di daftar teratas. Pembuatan komponen seeker Thales sendiri butuh waktu di atas dua tahun.
Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengincar amunisi penangkis serangan udara ini sejak 10 tahun lalu.
Keputusan memboyong dua kapal PPA, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, dari galangan Fincantieri Italia kini membuka jalan bagi MBDA dan Indonesia untuk menuntaskan negosiasi kontrak rudal Aster 30.
🛰 Dari Semikonduktor hingga Radar
📡 Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional. (antara)
PT Len Industri (Persero) membidik penguasaan empat teknologi strategis yang dinilai penting untuk memperkuat industri pertahanan nasional. Fokusnya mencakup semikonduktor, kecerdasan buatan, radar, serta satelit dan penginderaan jauh.
Direktur Utama PT Len Industri Joga Dharma Setiawan mengatakan tantangan terbesar bukan sekadar mengadopsi teknologi, tetapi memastikan kemampuan tersebut bisa dikembangkan, dikuasai, diintegrasikan, dan diindustrialisasikan di dalam negeri.
“35 tahun perjalanan Len bukan hanya tentang lamanya kami hadir, tetapi tentang bagaimana teknologi dan kemampuan rekayasa yang kami bangun dapat menjawab kebutuhan strategis Indonesia,” kata Joga dalam Len Techno Day 2026 di ITB Innovation Park Bandung, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 7 Oktober.
Sebagai induk Holding BUMN Industri Pertahanan DEFEND ID, Len diarahkan menjadi penghubung antara hasil riset dan kebutuhan industri, bukan hanya pengguna teknologi.
Empat bidang yang dibidik juga memiliki penggunaan ganda untuk sektor pertahanan maupun sipil.
Pada semikonduktor, Len mengarahkan pengembangan mikrocip untuk mendukung perangkat elektronik pertahanan dan industri otomotif.
Di bidang kecerdasan buatan, pengembangan mencakup AI agentik, AI generatif, visi komputer, dan pemrosesan bahasa alami. Teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung otomasi sistem.
Untuk radar, Len mengembangkan antara lain Ground Controlled Interception atau GCI, radar pertahanan udara, radar pelacak lokasi senjata, serta radar untuk pemantauan cuaca dan wilayah pesisir.
Sementara teknologi satelit dan penginderaan jauh dikembangkan melalui sistem intelijen citra untuk membantu pemantauan wilayah dan penanganan bencana.
Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan pengembangan teknologi strategis membutuhkan ekosistem yang menghubungkan industri, riset, dan sumber daya manusia.
“Len memiliki peran penting dalam membangun ekosistem teknologi yang menghubungkan industri, riset dan pengembangan, serta talenta,” kata Sigit.
Menurut Sigit, dalam tiga hingga empat tahun ke depan sedikitnya 15.000 talenta ditargetkan mendapat pelatihan di bidang semikonduktor.
Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata menilai penguasaan teknologi strategis tidak hanya terkait pertahanan, tetapi juga ketahanan ekonomi. “Kedaulatan teknologi menjadi bagian penting dari ketahanan nasional,” ujarnya.
Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menambahkan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan riset dasar dan sumber daya manusia agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi bisa masuk ke tahap industrialisasi.
Len Techno Day 2026 diikuti sekitar 150 peserta dari unsur pemerintah, TNI, BPI Danantara, BUMN, perguruan tinggi, peneliti, dan mitra teknologi.
🚀
Rudal Exocet SM39 (MBDA)
Selama rangkaian acara EURONAVAL 2026 Press Tour yang diselenggarakan oleh Asosiasi Industri Maritim Prancis (GICAN), MBDA mengkonfirmasi bahwa perusahaan tersebut menawarkan rudal anti-kapal Exocet yang diluncurkan dari kapal selam untuk kapal selam Scorpène Evolved masa depan Indonesia.
Menanggapi pertanyaan dari Naval News, MBDA mengatakan bahwa mereka menawarkan SM39 Block 2 Mod 2, varian Exocet terbaru yang diluncurkan dari kapal selam yang saat ini sedang dalam produksi penuh.
Perusahaan tersebut juga mengkonfirmasi bahwa kontrak yang sedang berjalan untuk dua kapal selam Scorpène Evolved sudah mencakup kemampuan untuk meluncurkan SM39, seperti yang dilaporkan Naval News sebelumnya.
MBDA mengatakan pihaknya menawarkan SM39 dan bukan SM40 generasi berikutnya yang masih dalam pengembangan, karena jadwal produksi kapal selam Indonesia.
Kapal selam Scorpène Evolved pertama dan kedua buatan Indonesia dijadwalkan akan dikirimkan pada tahun 2032 dan 2033 , dan MBDA ingin memastikan bahwa Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) dapat melengkapi kapal-kapal tersebut dengan rudal anti-kapal yang diluncurkan dari kapal selam pada saat atau segera setelah pengiriman jika diperlukan.
Sementara itu, SM40, yang masih dalam tahap pengembangan, mungkin tidak akan tersedia tepat waktu untuk memenuhi jadwal yang disebutkan di atas.
Namun, MBDA menekankan bahwa Indonesia masih dapat memperoleh SM40 di masa mendatang.
Perusahaan tersebut mengatakan hanya diperlukan penyesuaian minimal untuk menggunakan rudal yang lebih baru, karena SM39 dan SM40 menggunakan kapsul penyimpanan dan peluncuran yang sama dan keduanya sesuai dengan tabung torpedo kapal selam standar 533 mm.
SM40 memiliki jangkauan 120 km dan dilengkapi dengan pencari J-band generasi baru yang awalnya dirancang untuk MM40 B3c. MBDA memperkirakan Indonesia akan secara resmi memesan SM39 pada awal tahun 2027.