Untuk penanganan bencana alam
TNI AL menggelar Tactical Floor Game dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang direncanakan digelar di perairan Teluk Jakarta (Koarmada II)
Pemerintah akan menyulap kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi atau KRI Gajah Mada asal Italia menjadi kapal induk untuk helikopter dan pesawat nirawak (drone).
"Sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran Angkatan Laut kita, kita ubah untuk menjadi kapal induk helikopter, dan untuk drone," kata Presiden RI Prabowo Subianto dalam Ratas Penanganan Bencana Alam, Jakarta, Senin (7/9).
Prabowo menyebut kapal induk perdana milik Indonesia itu bisa menampung sekitar 10 unit helikopter kelas menengah. Ia mencontohkan misalnya helikopter berjenis Black Hawk dan MI-17.
"Yang rata-rata bisa mengangkut 4-5 ton air. Jadi kalau kita punya 10 helikopter bisa segera merapat ke titik api yang terbanyak, ini juga akan sangat membantu respons kita," ucap dia.
Giuseppe Garibaldi yang merupakan kapal Induk pertama Indonesia dijadwalkan sampai di Tanah Air pada pertengahan September mendatang.
TNI Angkatan Laut menyebut kapal induk yang akan menyandang nama KRI Gajah Mada berangkat dari Italia pada awal pekan ini.
"Dan kami mohon doanya, malam ini mungkin jam 22.00, KRI Gajah Mada akan meninggalkan Italia menuju Indonesia," kata KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali saat mengunjungi Kraton Majapahit, Jakarta Timur, Senin (24/8), dikutip dari Detikcom.
"Namanya masih ITS Garibaldi, masih berbendera Italia. Tapi sesampainya di Indonesia akan berganti bendera menjadi KRI Gajah Mada," imbuhnya.
Giuseppe Garibaldi merupakan salah satu dari dua kapal induk yang dimiliki oleh Angkatan Laut Italia. Kapal ini mencetak sejarah sebagai kapal penerbangan bergeladak penuh pertama yang dibangun untuk Italia.
Sepanjang masa tugasnya, kapal ini sudah terlibat dalam berbagai operasi udara tempur di wilayah Somalia, Kosovo, Afghanistan, dan Libya.
Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter dan mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam berkat sistem mesin penggeraknya. Bobotnya diperkirakan sekitar 13,8 ribu ton.
Kapal ini mampu menampung kru yang besar, yakni sekitar 600 kru inti kapal, 230 personel grup udara, sekitar 100 personel komando, dan dalam kondisi tertentu dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan. (mnf/wis)
.
⍟
AT730 Triple Ejector Rack yang melengkapi Rafale TNI AU ( Jatosint)
Jet tempur Rafale TNI AU akan memiliki kemampuan membawa persenjataan udara-ke-permukaan dalam jumlah besar berkat penggunaan AT730 Triple Ejector Rack.
Rak peluncur ini memungkinkan satu titik gantung Rafale membawa hingga tiga amunisi kelas 250 kg, seperti bom berpemandu presisi AASM/HAMMER.
Dengan dua rak AT730 di bawah sayap, Rafale dapat membawa hingga enam amunisi hanya menggunakan dua titik gantung.
Penggunaan AT730 memberikan fleksibilitas lebih besar dalam konfigurasi tempur karena titik gantung lainnya masih dapat digunakan untuk membawa rudal udara-ke-udara, tangki bahan bakar eksternal, maupun persenjataan tambahan.
Selain AASM/HAMMER, AT730 juga dapat dikonfigurasi untuk beberapa jenis bom berpemandu lainnya. Kehadiran sistem ini akan meningkatkan kapasitas serangan presisi Rafale sekaligus memperkuat kemampuan multirole armada tempur TNI AU.
Di Bandung
Rombongan Dislitbangau lakukan kunjungan kerja ke PT Tiara Angkasa Gandiva (TAG) di Bandung Barat (Dislitbangau)
Guna memperkuat kemandirian Alpalhankam matra udara, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsma TNI Rachmadi Anggoro, S.E., M.Sc., M.S.S. beserta rombongan melaksanakan kunjungan kerja ke PT Tiara Angkasa Gandiva (TAG) Bandung Barat, Selasa (1/9/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda kolaborasi strategis dalam rangka penelitian dan pengembangan material mandiri guna memperkuat alpalhankam matra udara.
PT Tiara Angkasa Gandiva merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang industri pertahanan dan dirgantara. Perusahaan ini dikenal sebagai penyedia suku cadang komponen pesawat terbang, produk militer seperti parasut, serta mitra dalam pengembangan amunisi dan bom pertahanan bersama TNI Angkatan Udara.
Dalam kunjungan tersebut, Kadislitbangau meninjau langsung proses fabrikasi di lini produksi PT TAG. Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan standar quality control telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, pertemuan juga membahas kelanjutan integrasi teknologi persenjataan yang sedang dikembangkan.
Pembahasan ini menjadi langkah awal sebelum memasuki tahap uji coba operasional di lapangan.“Kolaborasi dengan industri dalam negeri seperti PT TAG merupakan wujud nyata dukungan terhadap program kemandirian alutsista. Sebagai contoh, pada pengembangan teknologi Smoke Generating System (SGS) pesawat KT 1B Woong Bee hasil karya kolaborasi antara Dislitbangau dan PT TAG pada demo udara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di atas Istana Merdeka yang sangat memukau. Kami berharap sinergi ini dapat terus ditingkatkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Kadislitbangau.
Turut hadir dalam pendampingan, Kasubdis Aero, Kolonel Tek Mohammad Arief, Kasubdis Palsus Kolonel Kal Abidin Abubakar, S.T., dan Perwira Peneliti Bidang Power Plant, Kolonel Tek Gembira Siringoringo, S.T., M.Si. beserta beberapa perwira engineering Dislitbangau.
Pada kesempatan tersebut Kadislitbangau memberikan Sertifikat Penghargaan kepada Presiden Direktur Ibu Tatiana atas keberhasilan kegiatan pengembangan teknologi Smoke Generating System (SGS) dan Smoke Oli System (SOS) sebagai bukti tertulis dan pengakuan resmi atas prestasi, jasa, dedikasi dan kontribusi dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi pertahanan yang inovatif guna mendukung tugas pokok TNI AU.
Dislitbangau berkomitmen untuk terus mendorong dan mendukung industri pertahanan nasional melalui kegiatan penelitian dan pengembangan. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan TNI Angkatan Udara dapat memiliki alutsista yang andal, mandiri, dan mampu menjawab tantangan tugas di masa mendatang. (R&D)
Gelar Tactical Floor Game
Gelar Tactical Floor Game dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang direncanakan digelar di perairan Teluk Jakarta (Koarmada II)
Panglima Koarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., memimpin Tactical Floor Game (TFG) Sailing Pass Naval Parade dalam rangka memperingati HUT Ke-81 TNI, bertempat di Gedung Panti Tjahaya Armada (PTA) Koarmada II, Surabaya, Rabu (2/9).
TFG dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan dan pemahaman seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang akan digelar di perairan Teluk Jakarta. Kegiatan ini membahas secara detail manuver unsur KRI, Pesawat udara serta kesiapan seluruh prajurit pendukung demo laut, udara, dan Pasukan Khusus Laut (Pasusla).
Dalam arahannya, Pangkoarmada II menekankan pentingnya seluruh peserta memahami rangkaian kegiatan secara menyeluruh, sekaligus menguasai tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur.
“Secara umum seluruh kegiatan rangkaian harus dipahami, sehingga setiap unsur mengerti tahapan pelaksanaan dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,” tegas Pangkoarmada II.
Lebih lanjut disampaikan bahwa setiap tim dan unsur, baik KRI, Pesud maupun unsur pendukung lainnya, harus mempersiapkan diri secara matang sehingga tercipta orkestrasi yang tepat dan mampu bekerja sebagai satu kesatuan. Setiap unsur juga dituntut memahami setiap perubahan situasi dan manuver yang telah direncanakan.
Pangkoarmada II juga menekankan aspek keselamatan dan kesiapsiagaan. Seluruh unsur, termasuk pesawat yang terlibat, diminta senantiasa dalam kondisi siap dan memastikan seluruh perlengkapan telah diperiksa serta dipersiapkan dengan baik sesuai waktu yang tersedia.
Selain kesiapan unsur, komunikasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan Naval Parade.
Pangkoarmada II mengingatkan agar jaring komunikasi antara Pengendali Utama dengan seluruh unsur demo laut, udara, dan Pasusla dapat terjalin dengan baik serta tidak mengalami kendala maupun kepadatan komunikasi.
“Kunci terakhir adalah komunikasi. Pengendali utama harus yakin bahwa komunikasi benar-benar terjalin dengan seluruh unsur,” tegasnya.
⚓️ 👷
Tiga kandidat utama (wikimedia)
Gedung Putih dan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dilaporkan tengah mempertimbangkan desain kapal fregat dari Jepang, Korea Selatan, dan Turkiye untuk memperkuat armada tempur masa depan mereka.
Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mempercepat ekspansi armada militer secara masif.
Berdasarkan sumber industri yang dihimpun USNI News, rencana kompetisi internasional ini berpotensi memicu perubahan besar dalam kebijakan pertahanan AS.
Dalam rencana ini, dua kapal pertama akan dibangun di galangan kapal asing sebelum akhirnya dialihkan ke galangan kapal domestik AS.
Keputusan tersebut akan memecahkan tradisi dan aturan hukum konstruksi angkatan laut domestik AS yang telah bertahan lebih dari satu abad.
Dispensasi demi Keamanan Nasional AS
Pertimbangan untuk membeli kapal perang dari luar negeri ini mengemuka setelah Gedung Putih menerbitkan memo yang memberikan dispensasi (waiver) atas dasar kepentingan keamanan nasional.
Langkah ini membebaskan Pentagon dari batasan hukum AS yang sebelumnya melarang kapal perang buatan luar negeri masuk ke dalam jajaran Angkatan Laut AS.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS, Hung Cao, telah memerintahkan jajarannya untuk memimpin pengkajian terhadap kapal kombatan internasional, kapal kargo roll-on/roll-off, hingga kapal tanker pengisi bahan bakar di laut (CONSOL) untuk Military Sealift Command. Hasil pengkajian ini ditargetkan selesai pada 12 November 2026.
Tiga Kandidat Utama
Tiga kandidat kapal perang utama yang masuk dalam radar kompetisi internasional ini mencakup versi ekspor dari fregat berpeluru kendali kelas Mogami buatan Mitsubishi Heavy Industries (Jepang), fregat kelas Chungnam dari Korea Selatan, dan fregat kelas Istanbul buatan galangan kawpal Turkiye.
Juru Bicara US Navy, Kolonel Ron Flanders, menyatakan AS tengah aktif mengembangkan berbagai opsi untuk memenuhi mandat presiden dalam mempercepat pengadaan kapal perang seraya memanfaatkan keahlian industri galangan kapal negara sekutu.
Skema pengadaan ini berencana mengadopsi apa yang dikenal sebagai “Model Finlandia”. Melalui pendekatan ini, pembangunan dua lambung kapal pertama akan dilakukan di galangan kapal asing, yang kemudian diikutsertakan dengan komitmen investasi asing ke dalam fasilitas dan infrastruktur galangan kapal domestik AS.
Konsep ini serupa dengan program Arctic Security Cutter milik US Coast Guard, di mana galangan kapal Finlandia membangun lambung awal berdasarkan desain Kanada sebelum mengalihkan seluruh proses manufaktur ke dalam negeri AS.
Direktur Office of Management and Budget (OMB), Russ Vought, menyuarakan dukungan penuh terhadap model ini guna mendorong kompetisi yang lebih terbuka di seluruh sektor galangan kapal Angkatan Laut AS.
Peran untuk Misi Sederhana
Urgennya pengadaan ini didasari oleh adanya celah kemampuan (capability gap) pada armada permukaan US Navy saat ini.
Kapal perusak kelas Arleigh Burke yang sejatinya dirancang untuk peperangan tingkat tinggi sering kali harus dikerahkan untuk misi-misi dasar yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh armada yang lebih sederhana seperti fregat.
Kehadiran fregat baru diharapkan dapat mengisi peran pengawalan bernilai tinggi serta pengoperasian di wilayah perairan yang kurang rawan, sehingga kapal perusak dapat difokuskan sepenuhnya pada misi-misi tempur utama.
Perlawanan Ketat dari Kongres
Program fregat baru ini juga muncul setelah pembatalan program fregat kelas Constellation (FFG-62) oleh Sekretaris Angkatan Laut sebelumnya, John Phelan, yang mengalihkan fokus ke program FFX berbasis National Security Cutter.
Meskipun demikian, langkah Gedung Putih untuk menggunakan desain dan galangan luar negeri mendapat perlawanan ketat dari Kongres AS.
Dalam rancangan Undang-Undang Kebijakan Pertahanan Tahun Anggaran 2027, Komite Angkatan Bersenjata Senat maupun House of Representatives berusaha membatasi wewenang eksekutif dengan menghentikan alokasi anggaran bagi kapal perang Amerika yang dibangun di galangan kapal asing.
Kendati masa depan anggaran tersebut masih diperdebatkan di Capitol Hill, dorongan untuk memanfaatkan teknologi manufaktur sekutu seperti Korea Selatan dan Jepang terus berjalan lewat rangkaian kunjungan pejabat tinggi US Navy ke berbagai galangan kapal di Asia. (RNS)