Minggu, 09 Agustus 2026

Alutsista Terbaru TNI Menjelang HUT RI ke 81

  ✈  πŸš€  πŸ’‚ Alutsista terbaru TNI dalam latihan gabungan TNI (Dispenau)

Indonesia, yang akan berusia 81 tahun, terus memperkuat sekaligus memodernisasi kekuatan pertahanan nasional. Terbaru, pemerintah menyetujui pembelian rudal BrahMos dan Astra dari India.

India menyepakati ekspor sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dan rudal udara-ke-udara Astra kepada Indonesia dengan nilai sekitar US$ 630 juta atau setara Rp 11,3 triliun (asumsi kurs Rp 17.980 per dolar AS). Kesepakatan tersebut dicapai saat Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi melakukan kunjungan resmi ke Jakarta pada Selasa dan bertemu Presiden Prabowo Subianto.

BrahMos adalah rudal jelajah supersonik hasil pengembangan bersama India dan Rusia yang dikenal memiliki kemampuan diluncurkan dari berbagai platform, baik darat, laut, maupun udara. Sementara itu, Astra adalah rudal udara-ke-udara buatan India yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan tempur pesawat tempur.

Pembelian BrahMos dan Astra memperpanjang daftar pengadaan alutsista strategis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2019, saat Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), pemerintah secara agresif melakukan modernisasi alutsista dengan menggandeng berbagai negara mitra, mulai dari Amerika Serikat (AS), Prancis, Italia, Turki, Korea Selatan (Korsel), hingga India. Penguatan dilakukan mencakup pesawat angkut, jet tempur, drone, radar, kapal perang, kapal selam, hingga sistem rudal.

Sejumlah alutsista yang telah dipesan Indonesia antara lain pesawat angkut C-130J Super Hercules, Airbus A400M Atlas, jet tempur Rafale, dan drone TAI Anka-S. Ada pula radar pertahanan udara Thales Ground Master 403, fregat Merah Putih, serta kapal kepresidenan Bung Karno Class.

Di sektor pengadaan strategis, Indonesia juga memesan 42 unit jet tempur Dassault Rafale F4 dari Prancis senilai sekitar US$ 8,1 miliar. Ada juga dua kapal selam Scorpène Evolved dengan estimasi nilai US$ 2 miliar, serta dua kapal perang Brawijaya Class dari Fincantieri Italia senilai sekitar US$ 1,39 miliar.

Selain BrahMos dan Astra, Indonesia juga memperkuat kemampuan sistem persenjataannya melalui pengadaan rudal balistik jarak pendek Khan SRBM, rudal pertahanan udara Hisar-O MRSAM, serta rudal antikapal Roketsan Atmaca. Langkah ini menunjukkan strategi pemerintah untuk mendiversifikasi sumber pengadaan alutsista sekaligus meningkatkan kemampuan pertahanan nasional di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks.

 Sumber Dana Modernisasi Alutsista

Rudal BrahMos dari India akan memperkuat pertahanan NKRI (missilethreat) 

Belanja alutsista seperti pesawat tempur, kapal perang, radar, drone, hingga rudal bukan pengeluaran kecil. Sebagian besar kontraknya juga menggunakan mata uang asing, sehingga kebutuhan anggarannya ikut dipengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS maupun euro.

Dalam anggaran Kemhan, terutama untuk program modernisasi alutsista, sumber pembiayaan belanja pertahanan berasal dari Rupiah Murni APBN, serta juga dapat berasal dari pinjaman luar negeri, pinjaman dalam negeri, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), hingga Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dan, pada 2026, anggaran Kemhan ditetapkan sebesar Rp 187,1 triliun.

Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025 yang diundangkan pada 28 November 2025. Anggaran tersebut dibagi ke dalam dua fungsi utama, yakni fungsi pertahanan dan fungsi pendidikan.

Fungsi pertahanan menjadi porsi terbesar dengan alokasi Rp 186,6 triliun. Sementara itu, fungsi pendidikan mendapat anggaran Rp 490 miliar.

Jika dilihat dari programnya, pos terbesar berada pada Program Modernisasi Alutsista, Non Alutsista, dan Sarana Prasarana Pertahanan. Nilainya mencapai Rp  84,48 triliun atau sekitar 45,1% dari total anggaran Kemhan 2026.

Menariknya, sumber dana terbesar untuk program modernisasi tersebut justru berasal dari pinjaman luar negeri. Dari total Rp 84,48 triliun, pinjaman luar negeri mencapai Rp 46,5 triliun, lalu Rupiah Murni sebesar Rp 33,44 triliun, pinjaman dalam negeri Rp 3,69 triliun, SBSN Rp 800 miliar, serta Pendapatan Negara Bukan Pajak sekitar Rp 60 miliar.

MPCS BWJ 320 (Ficantieri)

Komposisi ini menunjukkan bahwa modernisasi alutsista Indonesia tidak hanya bertumpu pada belanja langsung dari kas negara. Untuk pengadaan besar seperti pesawat tempur, kapal perang, radar, hingga sistem rudal, pemerintah juga menggunakan skema pembiayaan lain, terutama pinjaman luar negeri.

Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran Kemhan sendiri bergerak naik. Pada APBN 2024, Kemhan mendapatkan alokasi sekitar Rp 139,26 triliun. Pada APBN 2025, angkanya naik menjadi sekitar Rp 166,26 triliun.

Namun, angka 2025 itu kemudian mengalami penyesuaian besar menjadi Rp 364,1 triliun. Mengutip dari Kehman, kenaikan tersebut diarahkan untuk modernisasi alutsista, peningkatan kesejahteraan prajurit, kemandirian industri pertahanan, serta validasi organisasi.

Rencana 2027 juga tidak kalah besar. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengusulkan tambahan anggaran sekitar Rp195 triliun untuk tahun anggaran 2027.

Usulan itu muncul karena kebutuhan anggaran pertahanan nasional disebut mencapai Rp 667 triliun, sementara pagu indikatif yang diberikan pemerintah hanya sekitar Rp 139 triliun. Jika tambahan Rp 195 triliun disetujui, anggaran Kemhan 2027 dapat naik ke kisaran Rp 334 triliun.

Besarnya kebutuhan anggaran itu memperlihatkan bahwa modernisasi pertahanan bukan hanya soal daftar belanja alutsista, tetapi juga soal ruang pembiayaan. Makin besar kebutuhan pengadaan, makin besar pula kebutuhan pemerintah untuk membiayainya.


   πŸš€  CNBC    

Sabtu, 08 Agustus 2026

[Video] Barata Indonesia Produksi Komponen Kapal

  Teknologi lokal dengan kualitas global 
 Berikut video dari Youtube : 



  πŸŽ₯  Youtube  

Jumat, 07 Agustus 2026

PT PAL Mulai Bangun Kapal Selam Scorpene

  πŸ‘· 🀝 Target Rampung Delapan Tahun (Humas PAL)

PT PAL Indonesia resmi memulai pembangunan kapal selam Scorpene untuk TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui seremoni first steel cutting di Surabaya, Jawa Timur.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan pembangunan kapal selam tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 96 bulan atau sekitar delapan tahun.

"Alhamdulillah berjalan lancar dan pembangunan kapal selam ini akan berlangsung selama 96 bulan, kurang lebih delapan tahun," ujar Ali dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).

Menurut Ali, proses first steel cutting dilakukan sekitar 12 bulan setelah kontrak pembangunan berlaku efektif. Hingga saat ini, progres proyek telah mencapai sekitar 20,5 persen.

Ia berharap pembangunan kapal selam dapat berjalan sesuai jadwal sehingga proses penyerahan kepada TNI AL juga berlangsung tepat waktu.

"Kami berharap ini bisa terbangun dengan tepat waktu. Jadi, delivery time-nya bisa tepat waktu," katanya.

Ali menjelaskan kapal selam Scorpene yang dibangun PT PAL bersama Naval Group Prancis merupakan generasi terbaru dengan kemampuan lebih canggih dibandingkan versi sebelumnya.

Kapal selam tersebut memiliki panjang hampir 72 meter, sekitar 10 meter lebih panjang dibanding kapal selam TNI AL yang saat ini beroperasi.

Selain mampu menyelam lebih lama dan lebih dalam, Scorpene juga dibekali sistem persenjataan berupa torpedo dan peluru kendali yang dapat ditembakkan dari bawah laut.

"Selain torpedo, ia dilengkapi juga dengan peluru kendali. Ini merupakan hal yang baru mungkin bagi kita untuk menembakkan peluru kendali dari bawah air," ujarnya.

Untuk mendukung pengoperasian kapal selam tersebut, TNI AL telah membentuk satuan tugas pengawak dan secara bertahap mengirim personel ke Prancis untuk mengikuti pelatihan bersama Angkatan Laut Prancis dan Naval Group.

Ali menilai pembangunan Scorpene di dalam negeri menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

"Ini pertama kali kita membangun kapal selam dari awal di Indonesia. Di negara-negara ASEAN mungkin kita yang pertama kali membangun kapal selam di dalam negeri," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan dimulainya proses first steel cutting menunjukkan kemitraan antara PT PAL dan Naval Group berjalan sesuai rencana.

Menurut dia, kerja sama tersebut tidak hanya mencakup pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menjadi bagian dari proses transfer teknologi antara Indonesia dan Prancis guna memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional.


   πŸ‘·  Kompas   

TNI AU Kerahkan 5 Alutsista Baru dalam Latihan Gabungan TNI

  Di Dabo Singkep, Kepri Alutsista terbaru TNI AU dalam latihan gabungan TNI di Kepri (Dispenau)

TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan lima alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8/2026).

Berdasarkan siaran pers dari Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau), kelima alutsista itu terdiri dari empat jet tempur Rafale dan satu pesawat angkut A400M.

Pada latihan tersebut, TNI AU mengerahkan berbagai unsur udara yang meliputi pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat intai, helikopter, pesawat tanpa awak serta pasukan gerak cepat untuk mendukung pelaksanaan operasi gabungan secara terpadu,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana.

Foto yang dirilis TNI AU turut memperlihatkan empat jet tempur Rafale tampak mengawal satu pesawat angkut strategis A400M yang terbang dalam formasi di atas langit Dabo Singkep.

Sementara itu, berdasarkan keterangan Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), TNI menampilkan simulasi peperangan modern dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep.

Dalam latihan itu, TNI AL menembakkan rudal C-705 dari KRI Sampari-628 dan mengoperasikan Unmanned Surface Vehicle (USV) atau drone laut untuk menyerang sasaran musuh.

Latihan dipimpin Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Panglima TNI dan para kepala staf angkatan.

Skenario yang dimainkan menggambarkan operasi gabungan TNI dalam menghadapi ancaman modern dengan melibatkan kekuatan darat, laut, udara, hingga peperangan siber.

Operasi diawali dengan serangan udara menggunakan pesawat tempur Rafale dan F-16 yang membawa bom MK-82.

Setelah itu, Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) melaksanakan operasi khusus untuk membuka jalan bagi serangan berikutnya.

Di laut, TNI AL mengerahkan USV kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991, disusul operasi ranjau laut serta infiltrasi Komando Pasukan Katak (Kopaska) yang mensimulasikan sabotase kabel bawah laut.

Dalam skenario yang sama, satuan siber juga melakukan serangan untuk melumpuhkan sistem kelistrikan lawan.

Setelah sasaran dinyatakan lumpuh, KRI Sampari-628 menembakkan rudal C-705 ke target di darat.

TNI AL juga mengerahkan Bantuan Tembakan Kapal dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Raden Eddy Martadinata-331.

Korps Marinir turut memberikan dukungan tembakan menggunakan Multi Launcher Rocket System (MLRS).

Sementara itu, TNI AD mengerahkan pasukan lintas udara yang diterjunkan dari pesawat Hercules C-130, drone pengintai, drone tempur, serta satuan Artileri Medan untuk mendukung operasi gabungan.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, serta hasil peninjauan langsung di lapangan, TNI telah menunjukkan kesiapan yang meyakinkan dalam menjalankan tugas menjaga, memelihara, dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bunyi keterangan.

Menurut dia, kemampuan yang diperagakan mencerminkan peningkatan kesiapan tempur, baik dari sisi alutsista, kualitas prajurit, maupun dukungan amunisi.

Sjafrie juga menilai penggunaan alutsista buatan dalam negeri dalam latihan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal Indonesia terhadap berbagai ancaman.

Latihan Integrasi TNI 2026 dirancang untuk menguji kemampuan operasi gabungan antarmatara, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi dinamika peperangan modern.

 Berikut video liputan IDN Times :


 ✈️ 
Kompas  

Kamis, 06 Agustus 2026

TNI AD Latihan Integrasi Terjun Bekal di Dabo Singkep

  Terjunkan UTV Fin Komodo produk Cimahi Yonbekang 5/ARY persiapkan UTV Fin Komodo dalam latihan terintergrasi TNI di Kepri (Dispenad)

Yonbekang 5/ARY dalam latihan gabungan TNI menerjunkan UTV (Utility Terain Vehicle) Fin Komodo produk dalam negeri di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan, profesionalisme, serta kesiapan personel Yonbekang 5/ARY dalam melaksanakan operasi Aerial Delivery (Terjun Bekal) sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku.

Selama pelaksanaan kegiatan berlangsung, seluruh rangkaian latihan mulai dari tahap persiapan, pengepakan, pengiriman, penerjunan bekal, hingga pengumpulan dan evaluasi dapat terlaksana sesuai rencana.

Komandan Yonbekang 5/ARY, Letkol Cba Rizki Marhandi, S.H., turut terjun langsung dalam kegiatan latihan tersebut sebagai bentuk kepemimpinan di lapangan. Beliau memberikan arahan, pengawasan, serta motivasi kepada seluruh personel sehingga setiap tahapan latihan dapat dilaksanakan secara efektif, terkoordinasi, dan sesuai dengan standar operasional yang berlaku.

Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi selama pelaksanaan latihan, kegiatan Latihan Integrasi Terjun Bekal Yonbekang 5/ARY berjalan dengan aman, tertib dan lancar tanpa adanya kecelakaan, kerugian personel maupun materiil, serta tidak ditemukan kejadian menonjol yang dapat menghambat jalannya latihan.

Seluruh sasaran latihan berhasil dicapai dengan baik sehingga tujuan untuk meningkatkan kemampuan personel dalam penyelenggaraan operasi terjun bekal dapat terwujud secara optima.

  πŸ›Ί  TNI AD  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...