Sabtu, 18 Juli 2026

Len Perkuat Kapabilitas Ground Control Interception Radar

🛰 Untuk Mendukung Kesiapsiagaan Pertahanan Udara Nasional📡 Radar Hanud TNI AU (LEN)

PT Len Industri (Persero) terus memperkuat kapabilitas teknologi pertahanan udara nasional melalui implementasi Ground Control Interception (GCI) Radar, sebuah sistem radar generasi terkini yang dirancang untuk mendukung kemampuan pengawasan ruang udara dan Ground Control Intercept secara terintegrasi.

PT Len Industri (Persero) menerima kunjungan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sebagai bagian dari kegiatan company visit. Dalam kesempatan tersebut, Len memperkenalkan berbagai kapabilitas teknologi strategis yang dimiliki perusahaan, termasuk Radar Ground Control Intercept (GCI) yang saat ini tengah diimplementasikan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Direksi PT Len Industri (Persero) dan PT Pefindo sebagai bentuk pengenalan kompetensi Len dalam mengembangkan teknologi pertahanan nasional.

Radar GCI ini merupakan implementasi pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi terkini untuk mendukung kemampuan air surveillance dan Ground Control Intercept. Sistem ini dirancang untuk menghadirkan pengawasan ruang udara yang lebih efektif, meningkatkan situational awareness secara komprehensif, serta memperkuat pengendalian operasi pertahanan udara melalui penyajian informasi yang cepat, akurat, dan terintegrasi.

Dari sisi kapabilitas, Radar GCI memiliki kemampuan deteksi hingga 515 kilometer, update rate setiap 6 detik, serta fast time to target, sehingga mampu menyajikan informasi situasional secara real-time untuk mendukung pengambilan keputusan operasional yang cepat dan presisi. Keunggulan tersebut diperkuat melalui teknologi stacked beam yang meningkatkan efektivitas deteksi terhadap berbagai objek udara dalam beragam kondisi operasi.

Selain unggul dari sisi performa, Radar GCI juga dirancang dengan konsep mobilitas tinggi melalui konfigurasi ISO Container 20 feet dan kemampuan fast deployment, sehingga sistem dapat dipindahkan serta dioperasikan secara cepat sesuai kebutuhan operasi di berbagai wilayah.

Di balik keandalan sistem Radar GCI, terdapat kolaborasi puluhan engineer PT Len Industri (Persero) dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sipil, elektro, radio frequency (RF), jaringan, perangkat lunak, hingga mekanik. Bersama-sama, mereka mengawal setiap tahapan, mulai dari pembangunan site, instalasi, integrasi, pengujian, hingga memastikan radar siap beroperasi secara optimal.

Dalam operasionalnya, Radar GCI juga terintegrasi dengan sistem pertahanan udara TNI Angkatan Udara sehingga informasi pengawasan dapat diterima secara cepat untuk mendukung pengendalian operasi pertahanan udara.

Melalui penguasaan teknologi radar, kemampuan integrasi sistem, implementasi, pengawalan operasional, hingga dukungan pemeliharaan, PT Len Industri (Persero) terus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Implementasi Radar GCI menjadi salah satu wujud nyata komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi pertahanan udara yang modern, terintegrasi, dan andal, sekaligus memperkuat posisi Len sebagai perusahaan teknologi pertahanan nasional yang mendukung terwujudnya Indonesia yang berdaulat.
 

  📡
LEN  

KAI Telah Mengirimkan 6 unit T50i ke Indonesia

✈  T50i pesawat teranyar T5017 TNI AU bersiap terbang ke Australia (Dispenau)

Perusahaan pertahanan Korea Selatan, Korea Aerospace Industries (KAI) Ltd., mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka telah menyelesaikan pengiriman enam pesawat latih canggih T-50i tambahan ke Indonesia.

KAI menandatangani kontrak untuk memasok pesawat T-50i ke Angkatan Udara Indonesia pada tahun 2021 dan memulai pengiriman pada bulan Februari.

Produsen pesawat ini pertama kali menandatangani kesepakatan untuk memasok 16 pesawat latih T-50 ke Indonesia pada tahun 2011, dan sekarang telah mengirimkan 22 pesawat.

T-50i terbaru menggunakan kamuflase abu abu (KAI)

Indonesia adalah pelanggan luar negeri pertama untuk T-50i, varian ekspor dari pesawat latih jet supersonik buatan Korea Selatan pertama.

Negara Asia Tenggara ini telah mengakuisisi 42 pesawat buatan Korea Selatan, termasuk 20 pesawat latih KT-1.

Kedua negara telah memperluas kerja sama di sektor pertahanan, dengan Indonesia mengambil bagian dalam proyek pengembangan bersama jet tempur KF-21 buatan Korea Selatan.

  ✈  Yonhap   

Jumat, 17 Juli 2026

Skadron 31/AYC Operasikan Alutsista Baru

  Danpuspenerbad laksanakan kunker Helikopter Mi17V5 702 baru Skadron 31/AYC (Skadron 31/AYC)

Dalam rangka meningkatkan kesiapan dan keselamatan operasional penerbangan, Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Danpuspenerbad) melaksanakan kunjungan kerja yang dirangkaikan dengan doa bersama sebagai wujud ikhtiar memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh personel serta Alutsista helikopter yang baru.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, kebersamaan, dan profesionalisme dalam mendukung tugas pokok Penerbad.

Dengan harapan, setiap pelaksanaan operasi penerbangan senantiasa diberikan kelancaran, keamanan, serta keberhasilan dalam mengemban setiap tugas demi kepentingan bangsa dan negara.

Dalam rangka mendukung kesiapan pelaksanaan tugas operasi, Helikopter Mi-17V5 HA-5234 dan HA-5235 melaksanakan Proof Flight sebagai bagian dari tahapan untuk memastikan kesiapan alutsista dalam mengemban berbagai misi penerbangan.

Pelaksanaan kegiatan ini mencerminkan komitmen Penerbad TNI Angkatan Darat dalam menjaga profesionalisme, kesiapan operasional, serta keselamatan terbang, sehingga setiap alutsista senantiasa siap digerakkan kapan pun dan di mana pun negara memanggil.

Dengan semangat “Mental Juara”, Skadron-31/Amur Yudha Cakti terus berkomitmen menghadirkan kemampuan terbaik dalam mendukung setiap tugas operasi demi menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  🚁 
Skadron 31/AYC  

[Global] Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal Supersonik

🛩 Turki Pamer Kekuatan Baru di Langit NATO Drone Tempur KIZILELMA Tembakkan Rudal (Baykar)

Hanya beberapa hari setelah para pemimpin NATO membicarakan masa depan peperangan drone di Ankara, Turki langsung memperlihatkan bahwa negara itu bukan sekadar tuan rumah pertemuan. Ankara juga ingin menjadi salah satu penentu arah teknologi tempur nirawak di dalam aliansi militer tersebut.

Pesawat tempur nirawak Bayraktar KIZILELMA S2 berhasil meluncurkan rudal udara-ke-permukaan supersonik JET-230 buatan Roketsan dan mengenai sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer. Uji tembak itu bukan hanya menambah jenis senjata yang dapat dibawa KIZILELMA. Keberhasilan tersebut memperlihatkan kemampuan Turki menggabungkan pesawat, rudal, radar, sensor, perangkat lunak misi, dan sistem kendali ke dalam satu rantai serangan yang sebagian besar dibangun oleh industri pertahanannya sendiri.

Baykar mengumumkan keberhasilan tersebut pada Senin (13/7/2026). Menurut laporan Anadolu Agency pada Selasa (14/7/2026), pesawat produksi seri bernomor ekor S2 meninggalkan pusat pengujian Baykar di Çorlu pada 8 Juli menuju Pangkalan Jet Utama Kelima di Merzifon. Pada 11 Juli, KIZILELMA lepas landas dengan membawa dua JET-230 di bawah sayap, kemudian menembakkan salah satunya ke sasaran di laut dari jarak lebih dari 120 kilometer.

Uji coba itu datang hanya empat hari setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meluncurkan inisiatif NATO Drone Edge dalam Forum Industri Pertahanan NATO di Ankara pada 7 Juli. Rutte mengatakan drone telah mengubah karakter peperangan modern dan menjadi faktor penentu di medan perang. Negara-negara NATO kemudian berkomitmen menginvestasikan lebih dari 40 miliar dolar AS untuk kemampuan antidrone dalam lima tahun serta melatih lima kali lebih banyak operator drone hingga akhir 2027.

Urutan waktunya mengandung pesan politik yang sulit diabaikan. Ketika NATO sedang mencari cara memperbesar kemampuan drone dan antidrone, Turki memperlihatkan sebuah pesawat tempur nirawak produksi seri yang sudah mampu membawa rudal supersonik jarak jauh.

Namun, superioritas yang sedang dibangun Ankara bukan sekadar terletak pada seberapa jauh rudalnya dapat terbang. Keunggulan yang lebih penting berada pada kemampuan Turki menguasai hampir seluruh mata rantai teknologi yang dibutuhkan untuk menemukan, mengenali, mengunci, dan menyerang sasaran.

Melampaui Kecepatan Suara

Senjata supersonik bergerak melampaui kecepatan suara. Baykar juga belum memublikasikan spesifikasi lengkap JET-230, termasuk jenis sistem pencari sasaran, bobot hulu ledak, metode pemanduan terminal, dan kecepatan maksimumnya. Jarak lebih dari 120 kilometer merupakan jarak penembakan yang telah diperlihatkan dalam uji coba, bukan berarti batas jangkauan maksimal senjata tersebut sudah diketahui secara independen.

Rudal yang paling dekat sebagai pembanding adalah UAV-230 atau IHA-230 buatan Roketsan. Perusahaan menyebut rudal balistik udara-ke-permukaan tersebut memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer, bergantung pada kecepatan dan ketinggian platform ketika senjata dilepaskan.

UAV-230 berbobot sekitar 225 kilogram, membawa hulu ledak 42 kilogram, menggunakan pemanduan inersial berbantuan GNSS, dan dirancang untuk menyerang radar pertahanan udara, pusat komunikasi, kendaraan lapis baja ringan, pusat komando, serta sasaran di darat ataupun laut. Setelah dijatuhkan dari pesawat, rudal mengalami fase jatuh bebas sebelum motor berbahan bakar padatnya menyala.

Konstruksi seperti itu memungkinkan rudal memanfaatkan ketinggian dan kecepatan awal pesawat peluncur. Semakin cepat dan tinggi platform terbang ketika melepaskan rudal, semakin besar energi awal yang dapat digunakan untuk memperluas jangkauan.

Namun, spesifikasi UAV-230 tidak dapat langsung dianggap sebagai spesifikasi JET-230. Keduanya mungkin berada dalam jalur pengembangan yang sama, tetapi Baykar dan Roketsan belum membuka cukup data untuk memastikan bahwa bobot, hulu ledak, sistem pemanduan, serta kemampuan antijamming keduanya identik.

Dari Pembawa Bom Menjadi Penyerang Jarak Jauh

Sebelum membawa JET-230, KIZILELMA telah diuji menggunakan sejumlah bom dan rudal berpemandu Turki, termasuk TOLUN, TEBER-82, KGK, LGK-82, dan rudal udara-ke-udara GOKDOGAN. Penambahan JET-230 mengubah kualitas ancaman yang dapat diberikan pesawat tersebut.

Bom berpemandu konvensional umumnya menuntut pesawat mendekat ke wilayah sasaran. Kondisi itu meningkatkan risiko platform masuk ke dalam jangkauan radar, rudal permukaan-ke-udara, dan sistem peperangan elektronik lawan.

Sebagai perbandingan, MAM-L, salah satu munisi yang membuat drone Turki dikenal di berbagai konflik, memiliki jangkauan sekitar 15 kilometer menurut Roketsan. JET-230 dalam pengujian terbaru mengenai sasaran dari jarak lebih dari 120 kilometer. Artinya, tanpa menyamakan fungsi kedua senjata, jarak serang yang diperlihatkan JET-230 setidaknya delapan kali lebih jauh daripada jangkauan MAM-L.

Lompatan itu memungkinkan KIZILELMA menjalankan serangan stand-off, yakni melepaskan senjata dari luar jangkauan efektif sebagian pertahanan udara lawan. Pilot manusia tidak perlu diterbangkan menuju wilayah dengan tingkat ancaman tinggi. Apabila pesawat hilang, kerugiannya tetap mahal, tetapi tidak disertai risiko tewas atau tertangkapnya penerbang.

Konsep tersebut sangat relevan untuk misi penekanan pertahanan udara. KIZILELMA dapat diarahkan untuk membidik radar, pusat komunikasi, pos komando, kapal, atau fasilitas strategis sebelum pesawat berawak memasuki wilayah operasi.

KIZILELMA juga dapat digunakan sebagai umpan untuk memaksa radar lawan menyala. Begitu radar memancarkan sinyal dan posisinya terdeteksi, sistem lain dapat menyerangnya. Dalam skenario berbeda, beberapa pesawat nirawak bisa dikirim dalam gelombang awal untuk menguras rudal pertahanan udara musuh sebelum jet berawak melanjutkan serangan.

Di sinilah arti penting pesawat tempur nirawak menjadi lebih besar daripada drone bersenjata konvensional. Platform tersebut bukan hanya dirancang untuk mengawasi wilayah atau menjatuhkan bom ke sasaran yang pertahanannya lemah. Ia dipersiapkan menjadi bagian dari operasi udara kompleks yang sebelumnya hampir sepenuhnya menjadi wilayah jet tempur berawak.

Superioritas Turki Ada pada Ekosistemnya

Spesifikasi Drone KIZILELMA Turki. - (Erdy Nasrul/Republika)

Turki memang belum mengungguli Amerika Serikat dalam keseluruhan teknologi penerbangan tempur. Amerika masih memiliki jaringan satelit, pesawat siluman operasional, kapal induk, pesawat pengisian bahan bakar, sistem komando global, dan anggaran pertahanan yang tidak dapat ditandingi Ankara.

Namun, di sektor pesawat tempur nirawak, Turki telah menempatkan diri di kelompok terdepan. Yang membuat kemajuannya menonjol bukan satu produk tertentu, melainkan kemampuan beberapa perusahaan nasional mengembangkan komponen yang saling melengkapi.

Baykar memproduksi wahana terbang dan perangkat lunak kendalinya. Roketsan menyediakan rudal. ASELSAN mengembangkan radar serta sensor elektro-optik. TUBITAK SAGE memproduksi senjata udara-ke-udara. Perusahaan-perusahaan itu tidak lagi berdiri sebagai pemasok produk terpisah, tetapi membentuk ekosistem pertempuran.

Pada November 2025, KIZILELMA menggunakan radar AESA MURAD buatan ASELSAN untuk mendeteksi dan mengunci sasaran udara bermesin jet. Pesawat itu kemudian menembakkan rudal GOKDOGAN buatan TUBITAK SAGE dan mengenai sasaran di luar jangkauan visual. Baykar menyebutnya sebagai keberhasilan pertama pesawat tempur nirawak menghancurkan sasaran udara bermesin jet dengan rudal udara-ke-udara BVR. Karena klaim “pertama di dunia” berasal dari produsen, klaim tersebut tetap perlu diposisikan sebagai pernyataan Baykar, bukan penilaian independen universal.

Sebulan kemudian, dua prototipe KIZILELMA melakukan penerbangan formasi rapat secara otonom menggunakan algoritma armada cerdas. Kemampuan tersebut diarahkan agar beberapa pesawat nirawak dapat mengatur posisi, berpatroli, dan menjalankan misi bersama di bawah satu komando.

Pada Mei 2026, Baykar dan perusahaan pertahanan Italia Leonardo juga menguji kerja sama KIZILELMA dengan pesawat M-346 dalam program K-SWARM. Uji coba tersebut memindahkan konsep kerja sama pesawat berawak dan nirawak dari lingkungan simulasi menuju penerbangan langsung.

Rangkaian itu memperlihatkan arah pengembangan yang jelas. KIZILELMA tidak disiapkan hanya sebagai pesawat yang dikendalikan operator dari darat. Platform ini diarahkan menjadi rekan tempur otonom bagi pesawat berawak, anggota armada drone, pembawa rudal udara-ke-udara, serta peluncur senjata jarak jauh.

Sementara itu, sistem TOYGUN buatan ASELSAN menyediakan pencitraan dan penargetan elektro-optik yang dipasang menyatu dengan badan pesawat. Menurut ASELSAN, sistem tersebut dikembangkan untuk platform yang sangat memperhitungkan penampang radar dan hambatan aerodinamis serta dapat mendukung misi udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan.

Dengan radar MURAD, sensor TOYGUN, rudal GOKDOGAN, dan JET-230, Turki sedang membangun rantai serangan dari sensor hingga senjata. Pesawat dapat menemukan sasaran, membangun gambaran situasi, meneruskan data, memilih senjata, dan melepaskan serangan dengan ketergantungan yang lebih kecil pada pemasok luar negeri.

Inilah superioritas yang paling sulit ditiru: bukan membuat satu drone, tetapi membuat ekosistem yang memungkinkan drone tersebut berperang.

Terbesar Kedua

Turki kerap disebut sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat. Pernyataan itu perlu dibuat lebih presisi.

NATO menyatakan Turki memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di dalam aliansi, terutama berdasarkan jumlah personel. NATO kembali menggunakan keterangan tersebut menjelang Konferensi Tingkat Tinggi di Ankara pada Juli 2026.

Namun, “terbesar kedua” tidak otomatis berarti “terkuat kedua” dalam seluruh indikator militer. Kekuatan militer juga ditentukan oleh anggaran, kesiapan tempur, senjata nuklir, jumlah pesawat modern, kemampuan intelijen, armada laut, logistik jarak jauh, teknologi antariksa, dan pengalaman operasi gabungan.

Inggris dan Prancis, misalnya, memiliki senjata nuklir serta kemampuan proyeksi kekuatan global. Sejumlah anggota NATO lain mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur generasi kelima. Karena itu, tidak terdapat peringkat resmi NATO yang menetapkan Turki sebagai negara “terkuat kedua” secara keseluruhan.

Keunggulan Ankara justru lebih tepat digambarkan sebagai gabungan antara jumlah personel yang besar, lokasi strategis, pengalaman operasi, dan industri pertahanan yang tumbuh cepat, terutama pada drone, rudal, radar, peperangan elektronik, kendaraan lapis baja, dan kapal perang.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan menyebut perkembangan industri pertahanan Turki sebagai sebuah “revolusi industri pertahanan” ketika berpidato di kompleks ASELSAN pada 22 April 2026. Ia mengatakan NATO dapat belajar dari cara Turki menggabungkan produksi dan inovasi.

Uji JET-230 memberi bentuk nyata pada pujian tersebut. Turki tidak lagi hanya menyediakan tentara dalam jumlah besar untuk menjaga sisi selatan NATO. Negara itu juga mulai menawarkan teknologi yang sedang sangat dibutuhkan aliansi.

Kemandirian Turki Belum Sempurna

Meski demikian, narasi bahwa seluruh sistem KIZILELMA sepenuhnya bebas dari teknologi asing juga harus disikapi hati-hati. Sebagian besar avionik, radar, sensor, senjata, perangkat lunak, dan struktur pesawat memang dikembangkan perusahaan Turki. Namun, mesin jet masih menjadi salah satu titik ketergantungan penting dalam program tersebut.

Baykar sebelumnya mengakui mesin sebagai teknologi kritis dan menargetkan pengembangan mesin dalam negeri untuk KIZILELMA. Haluk Bayraktar mengatakan perusahaan berinvestasi pada teknologi mesin karena kemampuan itu diperlukan agar Turki benar-benar mandiri dalam memproduksi pesawat tempur nirawak.

Keterbatasan lain terlihat pada konfigurasi uji JET-230. Dua rudal dipasang di bawah sayap. Senjata eksternal menambah hambatan udara dan dapat memperbesar pantulan radar, sehingga keuntungan karakteristik siluman pesawat berpotensi berkurang.

Dengan kata lain, konfigurasi KIZILELMA yang membawa senjata besar di luar badan pesawat harus dipahami sebagai kompromi. Pesawat memperoleh jarak serang dan daya hancur lebih besar, tetapi mungkin kehilangan sebagian keunggulan observabilitas rendahnya.

Keberhasilan mengenai sasaran uji juga belum sama dengan keberhasilan menembus pertahanan udara terintegrasi dalam peperangan nyata. Sasaran dalam pengujian telah ditentukan, ruang udara dikendalikan, dan tidak ada bukti terbuka bahwa rudal harus menghadapi pengacauan elektronik, pencegatan, sasaran yang melakukan manuver, atau jaringan pertahanan berlapis.

Karena itu, uji coba tersebut membuktikan integrasi dasar pesawat dan senjata, tetapi belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam perang berintensitas tinggi.

Status produksi seri juga tidak serta-merta berarti platform telah mencapai kesiapan tempur penuh. Baykar sebelumnya menyatakan produksi telah dimulai dan KIZILELMA ditargetkan masuk inventaris pada 2026, tetapi proses pengujian, sertifikasi, pelatihan operator, pematangan doktrin, serta integrasi ke sistem komando tetap menentukan kapan pesawat itu benar-benar siap digunakan secara luas.

Drone Turki Bukan Lagi Sekadar Produk Murah

Baykar telah membangun ekspansi internasional dari keberhasilan Bayraktar TB2 dan AKINCI. Perusahaan itu melaporkan memperoleh pendapatan ekspor sebesar 2,2 miliar dolar AS pada 2025, sementara 88 persen dari total pendapatannya berasal dari pasar luar negeri. Baykar juga menyebut telah menandatangani kontrak ekspor dengan puluhan negara.

Data tersebut berasal dari perusahaan dan perlu dibaca sebagai laporan korporasi. Namun, besarnya porsi ekspor menunjukkan bahwa industri drone Turki tidak sepenuhnya bergantung pada pesanan pemerintah dalam negeri.

Pada tahap awal, daya tarik drone Turki terletak pada harga yang relatif terjangkau, kemudahan pengoperasian, serta kesediaan Ankara menjualnya kepada negara yang sulit memperoleh sistem serupa dari Amerika atau Eropa.

KIZILELMA membawa Turki menuju kelas pasar yang berbeda. Pesawat tempur nirawak bermesin jet, radar AESA, rudal BVR, sensor tertanam, dan senjata stand-off tidak lagi bersaing hanya dengan drone pengintai atau pembawa bom ringan. Platform itu mulai memasuki wilayah yang bersinggungan dengan jet tempur, loyal wingman, dan sistem udara tempur masa depan.

Artinya, Ankara sedang bergerak dari pemasok drone alternatif menjadi produsen arsitektur peperangan udara.

Pesan untuk NATO dan Indonesia

Bagi NATO, keberhasilan JET-230 memperlihatkan bahwa salah satu sumber teknologi drone paling aktif di dalam aliansi kini berada di Ankara, bukan hanya di Washington atau pusat-pusat industri Eropa Barat.

Hal itu memberi Turki daya tawar tambahan. Negara-negara NATO memerlukan drone dalam jumlah besar, sistem antidrone, rudal presisi, radar, dan kemampuan produksi cepat. Turki memiliki kapasitas untuk menawarkan sebagian kebutuhan tersebut ketika aliansi sedang meningkatkan pembelanjaan pertahanannya.

Bagi Indonesia, perkembangan KIZILELMA juga bukan kabar yang jauh. Pada Mei 2026, Republikorp Group dan Baykar menandatangani kesepakatan kerja sama pengembangan UCAV generasi baru yang berkaitan dengan KIZILELMA. Menurut keterangan yang diberitakan Antara pada Jumat (8/5/2026), kerja sama itu mencakup transfer teknologi, produksi dan integrasi lokal, fasilitas pemeliharaan, pengembangan sumber daya manusia, serta riset teknologi masa depan. Kesepakatan tersebut merupakan kerja sama pengembangan, bukan bukti bahwa Indonesia telah membeli sejumlah KIZILELMA.

Karena itu, uji JET-230 dapat menjadi gambaran mengenai jenis teknologi yang kelak berpotensi masuk dalam ruang kerja sama industri Indonesia-Turki. Namun, manfaatnya bagi Indonesia akan bergantung pada kedalaman transfer teknologi, akses terhadap perangkat lunak, hak integrasi senjata, kemampuan pemeliharaan, dan seberapa besar industri nasional dilibatkan, bukan semata-mata pada pembelian platform.

Turki belum menggantikan Amerika Serikat sebagai kekuatan udara dominan NATO. KIZILELMA juga belum membuktikan dirinya dalam pertempuran melawan pertahanan udara modern.

Tetapi Ankara telah memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada sebuah demonstrasi sesaat: konsistensi mengubah drone sederhana menjadi pesawat tempur nirawak, mengubah munisi jarak dekat menjadi rudal stand-off, serta mengubah industri yang pernah bergantung pada impor menjadi ekosistem yang mulai diperebutkan pasar dunia.

JET-230 yang melesat dari bawah sayap KIZILELMA membawa pesan yang lebih jauh daripada 120 kilometer. Di dalam NATO, Turki tidak lagi puas hanya menjadi negara dengan tentara terbesar kedua. Ankara ingin menjadi negara yang ikut menentukan seperti apa perang udara masa depan. (Eddy Nasrul)

  🛩
Republika  

Kamis, 16 Juli 2026

PT Len Industri (Persero) Perkuat Hilirisasi Mineral dan Pasok Alutsista

  Melalui Pengembangan Advanced Materials CMS AXYS LEN telah banyak digunakan KRI TNI AL (LEN)

PT Len Industri (Persero) menegaskan komitmennya dalam memperkuat hilirisasi industri nasional melalui pengembangan advanced materials sebagai fondasi lahirnya produk-produk teknologi strategis bernilai tambah tinggi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang berlangsung di Auditorium Wisma Danantara, Jakarta, pada 9–10 Juli 2026, sekaligus penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) (MIND ID), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (PERMINAS).

Forum yang diselenggarakan Danantara tersebut mempertemukan kementerian, BUMN, pelaku industri, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem advanced materials nasional. Melalui kolaborasi lintas sektor, forum ini mendorong percepatan hilirisasi mineral agar tidak berhenti pada pengolahan bahan baku, tetapi berkembang menjadi material maju dan produk teknologi bernilai tambah tinggi yang mampu memperkuat daya saing industri nasional.

Sebagai induk Holding Industri Pertahanan DEFEND ID, PT Len Industri (Persero) memanfaatkan forum ini untuk menunjukkan implementasi nyata advanced materials melalui berbagai teknologi strategis yang telah dikembangkan perusahaan. Produk yang dipamerkan meliputi Combat Management System (CMS), Radar Multimission, Ground Control Station (GCS) & AUTACS, Night Vision Goggle (NVG), Laser Point, serta kendaraan taktis listrik SPRINT. Beragam inovasi tersebut menunjukkan bagaimana hasil hilirisasi material dapat diwujudkan menjadi sistem teknologi yang mendukung sektor pertahanan, keamanan, maupun industri nasional.

Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., yang menjadi pembicara dalam sesi dialog, menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi harus diukur dari kemampuan menghasilkan produk teknologi yang berdampak bagi perekonomian nasional.

Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan mineral tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi mampu diolah menjadi material maju yang melahirkan produk-produk teknologi bernilai tinggi. Di sinilah kolaborasi pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset menjadi kunci untuk membangun ekosistem advanced materials yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Joga.

Ia menjelaskan bahwa sebagai induk Holding Industri Pertahanan DEFEND ID, Len bersama PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dahana terus mengembangkan berbagai solusi teknologi berbasis elektronika, komunikasi, radar, energi, transportasi, kemaritiman, dan transformasi digital. Berbagai pengembangan tersebut tidak hanya mendukung kebutuhan pertahanan negara, tetapi juga memberikan manfaat bagi sektor sipil melalui penerapan dual-use technology.

  👷 
LEN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...