👷 🤝 Dieselindo Dapat Transfer Teknologi Pertahanan
MPCS BWJ 320 (Fincantieri)
Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan industri dalam negeri di bidang mesin perkapalan mampu melakukan perawatan kapal perang, terkhusus dua kapal TNI AL buatan Fincantieri Italia yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321.
Hal tersebut dapat dipastikan setelah salah satu perusahaan anak bangsa PT Dieselindo Utama Nusa menerima offset atau imbal balik berupa mock up atau blok mesin tiruan mesin KRI dan fasilitas pelatihan sumber daya manusia (SDM) dari Fincantieri.
"Jadi, dengan kemampuan yang ada, kita harapannya sudah bisa melakukan perawatan mesin di dalam negeri," kata Dirjen Potensi Pertahanan Kemhan Laksda TNI Sri Yanto saat ditemui di kawasan Industri PT Dieselindo di kawasan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu.
Sriyanto menjelaskan blok mesin tiruan itu digunakan untuk bahan pembelajaran para teknisi dari PT. Dieselindo. Dengan demikian, PT. Dieselindo mampu melakukan perawatan KRI secara rutin.
Selain itu, PT. Dieselindo juga akan mendapat keuntungan peningkatan kualitas SDM) karena teknisinya diberi fasilitas pendidikan perawatan mesin di Italia.
Tidak hanya di PT. Dieselindo saja yang mendapat offset dengan Fincantieri. Beberapa perusahaan dalam negeri di bidang perkapalan juga mendapat bagian kerja dengan Fincantieri.
Sri Yanto meyakini kerja sama itu akan membuat perusahaan perkapalan dalam negeri semakin maju dari bidang teknologi dan kualitas SDM.
"Untuk offset-nya bukan hanya kepada Dieselindo, ada beberapa perusahaan lain yang mendapatkan offset kaitannya dengan pengadaan kapal Fregat PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) ini dan kapalnya sekarang semua sudah ada di Indonesia," katanya.
Dengan adanya kegiatan Transfer of Technology (TOT) tersebut, Sri Yanto berharap kapabilitas industri perkapalan dalam negeri bisa semakin meningkat sehingga mampu bersaing di kancah internasional.
👷 antara
👷 🤝 🚀
Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)
Sebuah laporan baru-baru ini menyebutkan bahwa dua kapal selam Scorpene Evolved pertama untuk Angkatan Laut Indonesia (TNI AL), yang akan dibangun di dalam negeri oleh perusahaan milik negara PT PAL Indonesia di Jawa Timur, tidak akan memiliki kemampuan peluncuran rudal sejak awal. Namun, sumber-sumber yang terlibat dalam proyek tersebut telah mengkonfirmasi kepada Naval News bahwa laporan tersebut tidak benar.
Berbicara kepada Naval News, salah satu sumber industri menyatakan bahwa kemampuan untuk meluncurkan MBDA SM39 (varian rudal anti-kapal Exocet yang diluncurkan dari kapal selam) telah menjadi bagian dari program sejak hari pertama. Sumber tersebut menambahkan bahwa kemampuan tersebut termasuk dalam kontrak asli dan sudah menjadi fitur dasar dari desain Scorpène yang ditawarkan di seluruh dunia.
Oleh karena itu, dua kapal selam Scorpène Evolved pertama Indonesia tidak akan dibangun tanpa integrasi/kemampuan peluncuran rudal, karena kapal selam tersebut memang selalu direncanakan untuk memiliki kemampuan tersebut sejak awal.
Sementara itu, CEO PT PAL, Kaharuddin Djenod, mengatakan kepada Naval News bahwa pernyataan tentang integrasi rudal tersebut merujuk pada target PT PAL untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pekerjaan integrasi rudal di masa depan, termasuk mengamankan transfer teknologi terkait yang nantinya dapat diterapkan pada program lain, termasuk proyek kapal selam otonom (KSOT) perusahaan.
Laporan Naval News sebelumnya telah mencatat bahwa Naval Group menawarkan Scorpene Evolved kepada Indonesia dengan integrasi SM39 penuh, karena hal itu selaras dengan salah satu persyaratan utama Angkatan Laut Indonesia untuk armada kapal selam masa depannya.
Sumber lain mengkonfirmasi bahwa rudal anti-kapal Exocet SM39 yang diluncurkan dari kapal selam buatan MBDA merupakan bagian dari kontrak Scorpene Evolved yang ditandatangani antara Prancis dan Indonesia.
Tandatangani kontrak pengadaan 2 unit DGK
(DRASS)
Kami dapat mengungkapkan secara eksklusif kepada pembaca elSnorkel.com bahwa DRASS — sebuah perusahaan Italia dengan tradisi selama satu abad dalam pembangunan kapal selam kompak, penerus langsung dari COSMOS yang bersejarah — telah menandatangani kontrak dengan Republik Indonesia untuk pembangunan dan pengiriman dua (2) kapal selam kompak kelas DGK baru. elSnorkel.com melaporkan bahwa DRASS — sebuah perusahaan Italia dengan tradisi selama satu abad dalam pembangunan kapal selam kompak, penerus langsung dari COSMOS yang bersejarah — telah menandatangani kontrak dengan Republik Indonesia untuk pembangunan dan pengiriman dua (2) kapal selam kompak kelas DGK baru.
Ini bukan nota kesepahaman. Ini bukan surat pernyataan niat. Ini adalah kontrak. Dua unit. Dua DGK yang akan berlayar di bawah bendera kepulauan terbesar di dunia.
Untuk memahami signifikansi berita ini, perlu dipahami apa itu DGK, mengapa Indonesia memilihnya, dan mengapa kontrak ini lebih dari sekadar kesuksesan komersial.
Apa itu DGK?
DGK — Drass Galeazzi K, di mana K menunjukkan penggerak diesel-elektrik konvensional, nomenklatur NATO yang sama yang mendefinisikan "pembunuh senyap" legendaris dari produsen besar — bukanlah pesawat kecil biasa. Ini adalah kategori tersendiri.
Spesifikasi kapal :
§ Berat : 270 ton terendam
§ Panjang : 34 meter
§ Awak kapal: 9 awak kapal selam + hingga 6 operator pasukan khusus
§ Jangkauan: hingga 4.000 mil laut pada kecepatan 4 knot
§ Persenjataan: hingga 4 torpedo berat
§ Muatan opsional: ranjau, UUV, SDV (termasuk DRASS DS8), torpedo mini, peralatan operasi khusus.
Kombinasi dimensi, kapasitas persenjataan, dan jangkauan operasional ini unik di antara kapal selam kompak di pasar global. Kapal selam mini konvensional—kapal dengan berat 100 hingga 150 ton—tidak memiliki rangkaian sensor lengkap, kemampuan komando dan kontrol canggih, dan daya tahan yang berkelanjutan. Kapal selam besar, dengan bobot lebih dari 1.000–1.550 ton, tidak mampu beroperasi di perairan dangkal: pergerakan mereka sangat terbatas, risiko deteksi meningkat secara kritis, dan jika ditemukan, mereka tidak memiliki peluang realistis untuk menghindar.
Di tempat yang tidak dapat mereka jangkau, dia beroperasi. Di tempat mereka terlalu terlihat, dia tak terlihat. Di tempat mereka membutuhkan kedalaman, dia mengubah keterbatasan perairan dangkal menjadi keunggulan taktis yang menentukan.
DGK mengisi kekosongan itu. Dan ia mengisinya dengan torpedo sungguhan, sensor berkinerja tinggi, dan kemampuan untuk beroperasi selama berminggu-minggu tanpa dukungan eksternal.
Mengapa Indonesia memilih DGK?
Kapal selam DGK (DRASS))
Indonesia bukan sekadar klien biasa; Indonesia adalah pemain strategis kunci di Indo-Pasifik. Indonesia adalah kepulauan terbesar di dunia: 17.000 pulau, lebih dari 50.000 kilometer garis pantai, selat-selat yang penting secara strategis—Malakka, Sunda, Lombok, Makassar—dan zona ekonomi eksklusif seluas 3,2 juta kilometer persegi. Mempertahankan perairan ini membutuhkan platform kapal selam yang mampu beroperasi secara efektif tidak hanya di laut lepas tetapi juga di lingkungan pulau dan pesisir dengan kompleksitas taktis yang ekstrem.
DGK menawarkan apa yang dibutuhkan Indonesia: platform yang ringkas, sangat senyap, mampu beroperasi di perairan dangkal kepulauan, dengan kemampuan tempur nyata dan siklus hidup yang mudah dikelola untuk angkatan laut yang berkembang pesat.
Pemilihan DRASS bukanlah kebetulan: ini adalah hasil dari proses evaluasi yang ketat yang menghargai pengalaman historis pembuatnya, pewaris tradisi berabad-abad dalam pembangunan kapal selam kecil, kematangan teknologi platform, dan kemampuan Italia untuk mendampingi klien dalam pelatihan, dukungan, dan transfer teknologi.
Garis yang tak pernah terputus
Yang membuat kontrak ini semakin signifikan adalah konteks historisnya. DRASS bukanlah pemain baru di pasar kapal selam kompak: mereka adalah pewaris langsung tradisi Italia sebagai pembuat kapal selam kecil yang selama beberapa dekade menjadi tolok ukur dunia absolut dalam kategori ini, dengan ekspor ke Pakistan, Korea Selatan, Kolombia, dan Taiwan.
Tradisi ini bukan sekadar warisan katalog. Ini adalah warisan pengetahuan yang terakumulasi selama beberapa dekade: penguasaan propulsi senyap, integrasi sistem di ruang yang sangat terbatas, rekayasa yang diarahkan untuk meminimalkan jejak akustik, dan pemahaman mendalam tentang apa yang dibutuhkan angkatan laut operasional dalam kondisi dunia nyata. Dalam DGK, pengetahuan ini telah menemukan ekspresi paling matangnya—sebuah platform yang dirancang untuk skenario yang mendefinisikan peperangan kapal selam kontemporer: garis pantai yang kompleks, perairan dangkal, dan lingkungan pulau yang padat dengan lalu lintas dan ancaman, di mana paradigma kapal selam samudra tidak lagi cukup atau memadai.
Kontrak dengan Indonesia bukanlah kembalinya Italia ke pasar kapal selam. Ini adalah konfirmasi bahwa Italia tidak pernah meninggalkannya.
Indonesia bukanlah tujuan akhir — melainkan titik awal.
DGK menjawab kebutuhan nyata yang ada di puluhan marina di seluruh dunia. Kepulauan, daerah pesisir yang kompleks, perairan dangkal, kebutuhan untuk mengendalikan ruang bawah air yang menantang dengan platform yang lincah, tenang, dan efisien secara operasional: profil pelanggan potensial DGK sangat luas, dan distribusi geografisnya bersifat global.
Indonesia adalah pelanggan pertama yang secara terbuka mengumumkan pilihannya. Dan ini bukan yang terakhir.
Kami yakin bahwa kesuksesan konsep kapal selam baru ini akan terus berlanjut. Apa yang kami umumkan hari ini dari Indonesia hanyalah permulaan dari sebuah perjalanan yang telah divalidasi oleh pasar—dan yang akan terus menghasilkan berita di bulan-bulan mendatang.
Sistem Perang Elektronik (EW) Aselsan Gergedan
Sistem Perang Elektronik (EW) Aselsan Gergedan yang digunakan oleh TNI AU (Aselsan Indonesia)
Aselsan Indonesia berada di lokasi bersama Koopsudnas minggu ini untuk memberikan pengarahan penting tentang sistem Perang Elektronik (EW) canggih kami dan melakukan sesi pelatihan penyegaran langsung untuk jammer GERGEDAN.
Menjaga operator tetap tajam, percaya diri, dan sepenuhnya mampu dengan teknologi kami tetap menjadi prioritas utama kami. Terima kasih kepada tim Koopsudnas atas keterlibatan yang sangat produktif.
📡 Aselsan
Hisar OPV
Kapal Hisar OPV pesanan Romania dalam sea trial (Asfat)
Turki mengekspor kapal perang ke negara anggota NATO dan Uni Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarahnya melalui perjanjian penjualan yang ditandatangani dengan Rumania.
Itu diungkapkan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Minggu.
Berbicara pada upacara penyerahan Kapal Patroli Lepas Pantai CAm. Roman kepada Komando Angkatan Laut Rumania dan upacara pengoperasian dan pengibaran bendera platform Komando Angkatan Laut Turki di Istanbul,
Erdogan menyoroti kemampuan industri pertahanan angkatan laut Turki yang berkembang.
“Dengan perjanjian penjualan yang kami tandatangani dengan Rumania, Turki mengekspor kapal perang ke negara anggota NATO dan Uni Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarahnya,” katanya, dilansir Anadolu.
Erdogan mengatakan Turki telah membangun lebih dari 140 platform angkatan laut untuk berbagai wilayah di seluruh dunia dan menggambarkan sektor pembuatan kapal militer negara itu sebagai sektor yang mengalami “masa paling intensif dan produktif” dalam sejarah 103 tahun republik tersebut.
Ia mengatakan Turki termasuk di antara negara-negara yang mampu membangun jumlah kapal perang terbanyak secara bersamaan.
Presiden juga menekankan kerja sama pertahanan dengan negara-negara mitra, mengatakan Turki menganggapnya sebagai kewajiban untuk berbagi kemampuan industri pertahanannya dengan negara-negara sahabat.
“Tujuan Turki bukanlah untuk menimbulkan ketegangan di kawasan kita, tetapi untuk memperkuat perdamaian, keadilan, ketenangan, dan stabilitas,” kata Erdogan.
Ia juga mengatakan lingkungan internasional tetap sangat bergejolak, menambahkan bahwa negara-negara yang kurang kuat di lapangan mungkin akan kesulitan untuk mengamankan tempat mereka di meja perundingan.
Spesifikasi kapal Hisar OPV :
- Panjang : 99.56 m
- Lebar : 14 m
- Draft : 3.77 m
- Kecepatan : 24 knots
- Beban : 2300 tons
(ahm)