Kamis, 29 September 2016

DPR-Pemerintah Sepakat Beli Satelit Pertahanan Negara

Ilustrasi

Wakil Ketua Komisi I DPR, Asril Tanjung, mengatakan, kesepakatan DPR dan pemerintah membeli satelit pertahanan negara yang pengadaannya paling lambat 2018 ini tercapai. Pembelian satelit pertahanan sangat penting.

"Intinya selama ini kita memakai satelit asing untuk kepentingan keamanan negara. Itu seharusnya kita bisa punya sendiri yang bisa kita atur operasionalnya secara bebas karena ini menyangkut ketahanan dan pertahanan negara," kata Tanjung, di Jakarta, Rabu (28/9).

Dia mengatakan, kesepakatan itu diambil berdasarkan rapat kerja yang beberapa kali diadakan, dan semua pihak menyetujui pengadaannya baik itu menteri keuangan selaku pengucuran dananya dan menteri komunikasi dan informatika selaku pengatur hak patennya.

Menurut dia, apabila masih menyewa satelit pertahanan dari negara lain maka negara lain yang mengoperasikannya dan tentu akan berbahaya untuk keamanan nasional Indonesia.

"Perlu dipercepat pengadaannya agar Indonesia tidak kehilangan orbit satelit," ujarnya.

Selama ini Indonesia meminjam negara lain seperti Australia dan Amerika Serikat dengan sistem sewa dan selain itu, kerap kali Indonesia memanfaatkan satelit komunkasi Garuda-1 milik Asia Cellular Satellite buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat.

Namun satelit Garuda-1 kini telah digeser dengan alasan ada sistemnya yang tidak beres sehingga harus segera diisi yang baru.

"Oleh karena itu ini perlu dipercepat supaya kita tidak kehilangan hak atas orbit 123 bujur timur karena itu kami kebut pertemuan rapat dengar pendapat termasuk dengan sekjen Kemenkeu," katanya.

Asril mengatakan, pengadaan satelit ini dari aspek strategis juga tidak bisa ditawar karena sesuai aturan Internasional Telekomunikasi Dunia atau ITU sejak satelit Indonesia, Garuda-1, dinyatakan de-orbit Januari 2015, maka Indonesia harus mengisi slot orbit 123 Bujur Timur dengan satelit L-band paling lambat Januari 2018.

Menurut politikus Partai Gerindra itu, apabila tidak dilakukan, Indonesia akan kehilangan hak atas alokasi spektrum L-band tersebut selama-lamanya.

"Nantinya Indonesia bisa amankan negara atas kemauan sendiri dan pihak Kementerian Pertahanan yang akan mengoperasikannya. Pengadaan ini perlu mengingat negara-negara lain pun sudah memiliki satelit pertahanan sendiri sebab memang sudah seharusnya seperti itu karena bersifat rahasia," ujarnya.

Menurut dia, persoalannya saat ini ada di pendanaan, untuk itu dirinya berharap adanya kearifan dari Kementerian Keuangan untuk segera merealisasikan ajuan anggarannya.

Selain itu, anggaran sempat tidak disetujui untuk pengajuan pengadaan satelit pertahanan karena masalah harga.

Kementerian Pertahanan saat ini mengajukan anggaran sebesar 699 Juta dollar AS dari semula diajukan sebesar 849 juta dolar Amerika Serikat. (Ant/Sik)

  Elshinta  

[Dunia] Jurnalis Jerman: AS Tahu Senjatanya Jatuh ke Tangan Teroris

Jurgen Todenhofer, seorang jurnalis asal Jerman yang berhasil mewawancarai seorang komandan al-Nusra mengatakan, Amerika Serikat (AS) mengetahui kalau senjata yang mereka kirim ke Suriah jatuh ke tangan kelompok teroris. (Facebook)

Jurgen Todenhofer, seorang jurnalis asal Jerman yang berhasil mewawancarai seorang komandan al-Nusra mengatakan, Amerika Serikat (AS) mengetahui kalau senjata yang mereka kirim ke Suriah jatuh ke tangan kelompok teroris. Tapi, AS tetap terus mengirimkan senjata ke pemberontak Suriah.

"Ini adalah hal yang tampaknya sudah diketahui banyak orang. Ini sangat jelas, bahwa Amerika tahu, senjata mereka pada akhirnya berada di tangan teroris," kata Todenhofer, seperti dilansir Russia Today pada Rabu (28/9).

"CIA mengkoordinasikan pengiriman senjata dari Turki dan mereka membawa senjata ke perbatasan. Senjata ini diambil oleh kelompok teroris, Al-Qaeda, dan juga ISIS. Ini adalah hal yang sudah lumrah," sambungnya.

Todenhofer mengatakan, jatuhnya senjata ke tangan teroris mungkin bukanlah sebuah kesalahan atau kelalaian. Namun, dia juga menyebut, sejumlah pengamat percaya AS memang secara sengaja memberikan senjata tersebut pada teroris.

Sementara itu, terkait pernyataan AS yang mengatakan mereka tidak pernah mendukung kelompok teroris, tapi menyebut sejumlah negara sekutu mereka mungkin memberikan dukungan tersebut, Todenhofer menyatakan hal itu mungkin saja benar.

"Mungkin ada beberapa sekutu mereka (AS). Tapi, semua orang tahu bahwa mereka menggunakan sekutu dan mereka memungkinkan sekutu, tidak masalah jika roket TOW atau rudal TOW, yang merupakan rudal Amerika, diberikan kepada teroris oleh kelompok lain," ucapnya.

"Ketika sekelompok teroris menginginkan senjata yang dipasok ke pemberontak, teroris itu mengubah nama mereka dan dari titik itu para kelompok teroris itu menyebut diri mereka sebagai oposisi moderat," ungkapnya.

Dia ingat, bahwa pada tahun 2012 Pentagon mengeluarkan dokumen DIA yang mengungkapkan bahwa Washington berusaha untuk menghancurkan hubungan antara pemerintah Syiah di Iran, Irak, Lebanon dan Suriah.

"Dalam cara tertentu, ia (komandan al-Nusra) mengulangi apa yang dikatakan Pentagon empat tahun lalu. Mereka mencoba untuk menyingkirkan Bashar al-Assad dengan bantuan para pemberontak," tukasnya. (esn)

  ★ sindonews  

Rabu, 28 September 2016

BTR-4M Korp Marinir TNI AL Akhirnya Tiba

Di Tanjung Priuk, Jakarta BTR-4M pesanan Marinir TNI AL

Setelah perjalanan panjang mengarungi lautan selama lebih dari satu bulan, akhirnya pada sore hari 28 September 2016, kapal MV Texel yang membawa lima unit panser intai amfibi BTR-4M Bucephalus pesanan Korp Marinir TNI AL tiba juga di dermaga pelabuhan Tanjung Priuk. Angkasa berkesempatan meninjau penurunan seluruh BTR-4M dari kapal, setelah selesainya proses inspeksi oleh Direktorat Bea dan Cukai.

Berbeda dengan pada saat pengiriman Main Battle Tank Leopard 2 yang turun dari kapal dengan tenaganya sendiri, BTR-4M diangkat, digotong, dan diturunkan dengan crane dari dek kapal sampai ke dermaga. Ini mirip dengan pada saat sistem artileri swagerak CAESAR diturunkan dari kapal pengangkut.

Satu-persatu, ranpur amfibi bersosok sangar ini diturunkan dari atas kapal secara perlahan oleh kru pelabuhan yang cukup ahli, diawasi dengan cermat oleh perwakilan dari perusahaan forwarding, perusahaan konsultan yang mewakili pabrikan BTR-4, dan tentu saja perwakilan dari Korp Marinir TNI AL. Semua yang menanti sudah tidak sabar menunggu selesainya proses turunnya BTR-4 dari dalam kapal.

Kalau dipikir, mungkin ini satu-satunya kesempatan bagi BTR-4 untuk ‘bermanja-manja.’ Saat nanti menjalani dinas aktif di tangan Kompi Intai Amfibi (Pintam), BTR-4 sudah pasti harus mengarung laut keluar dari kapal saat menjalani fase pendaratan dalam operasi amfibi.

Dari segi desain, BTR-4 dengan sistem penggerak 8×8 merupakan desain asli Ukraina, yang merupakan penyempurna dari roh desain keluarga BTR-60/70/80. Walaupun buatan Timur, kualitas dan desainnya mengacu pada kendaraan tempur buatan Barat. Jika melongok ke dalamnya, layout-nya sudah seperti ranpur buatan Barat, dengan kompartemen pengemudi dan komandan di depan, mesin di tengah, dan kompartemen pasukan di belakang. Kompartemen belakang terasa sangat lapang dan lega, dengan konfigurasi kursi yang bisa diatur untuk duduk berhadapan atau berpunggung-punggungan.

Sistem penggerak untuk BTR-4 sendiri juga sudah mengandalkan mesin buatan Barat. Walaupun pabrikan sebenarnya menyiapkan dua opsi mesin, varian BTR-4M Indonesia menggunakan mesin terbaik yaitu Deutz BF6M 1015CP buatan Jerman yang sudah mengadopsi standar emisi Euro II yang saat ini berlaku di Indonesia. Mesin diesel berdaya 490hp ini dikawinkan dengan sistem transmisi otomatis buatan Amerika Serikat Allison 4600SP dengan 6 gigi maju dan 1 gigi mundur. Paduan mesin dan transmisi ini dapat membawa BTR-4 lincah melesat sampai kecepatan 100km/ jam di jalan aspal atau 70km/ jam cross country.

Untuk kompartemen pasukan, BTR-4 dapat mengangkut sampai 8 orang yang terdiri dari 7 prajurit dan 1 orang juru tembak untuk sistem senjata pada BTR-4. Setiap prajurit mendapatkan kursi individual, yang dipasang tergantung pada atap kendaraan. Konfigurasi ini sengaja dibuat untuk mengurangi keparahan cedera fisik apabila kendaraan sampai terkena ranjau, yang gelombang kejutnya dapat meremukkan tulang.

Lantai kendaraan dibuat berlapis untuk mengantisipasi impak dari ledakan ranjau darat. Kenyamanan pasukan terjaga karena BTR-4M pesanan Indonesia sudah dipasangi sistem pendingin udara dengan daya yang cukup besar. Untuk menghadapi tren pertempuran di masa mendatang, BTR-4 pesanan Indonesia bahkan juga dilengkapi dengan filter NBC alias Nubika (Nuklir, Biologi, dan Kimia) untuk menghadapi skenario perang inkonvensional.

Sementara untuk sistem senjata BTR-4M pesanan Indonesia, kubah yang dibeli adalah Parus yang menggabungkan 4 tipe senjata sekaligus. Daftarnya mulai dari kanon otomatis 30mm ZTM-1/ 2A72 seperti yang terpasang pada BMP-2/3, yang sudah terbukti andal untuk menggasak berbagai macam sasaran. Mengingat kanon serupa sudah digunakan pula oleh Korp Marinir pada ranpur BVP-2 dan BMP-3F, soal logistik amunisi, penggunaan dan perawatan tentu tidak jadi masalah.

Untuk anti-infanteri, disediakan senapan mesin 7,62mm PKT dan pelontar granat 30mm AGS-17. Paduan dari dua senjata ini mampu menyediakan cakupan sasaran tunggal ataupun area pada jarak di luar jangkauan senjata ringan. Amunisi untuk ketiga senjata ini dapat dipasok dan diisi ulang dari sisi bawah atau dari dalam kabin, sehingga mengurangi resiko tertembak. Sementara untuk melawan tank, BTR-4M dibekali dengan rudal antitank Baryer (penghalang) yang dua tabungnya nangkring di sisi kanan kubah Parus. Dengan jarak efektif sampai 4.000 meter, BTR-4M memiliki kans untuk menghadapi dan melumpuhkan Main Battle Tank.

Namun sesungguhnya, fitur terbaik dari kubah Parus yang dipasang dari BTR-4M tidak cuma itu. Kubah ini dilengkapi dengan sistem hunter-killer dimana komandan dapat mengintip sasaran dari modul kamera yang dapat dinaikkan dan berputar independen dari putaran kubah. Komandan yang duduk di kursi depan dapat mengatur arah gerak dan zoom kamera ke sektor yang diinginkan. Fitur yang jamaknya hanya ada pada Main Battle Tank tersebut diadopsi pada BTR-4 untuk memaksimalkan daya gebuknya. Fungsi intai ini akan sangat berguna mengingat Korp Marinir membutuhkan fungsi intai untuk Resimen Kavalerinya.

Dengan segala fiturnya, BTR-4M yang akan tiba di Indonesia tahun ini boleh jadi merupakan ranpur terbaik di antara arsenal ranpur milik ketiga angkatan. Dengan kemampuan arung laut yang prima, ditambahkan dengan sistem senjata mulai dari senapan mesin sampai kanon tembak cepat yang dapat mencakup berbagai jarak, BTR-4M menghadirkan kombinasi letalitas dan mobilitas yang masih sukar dicari padananannya di antara ranpur-ranpur buatan Barat.

Namun, perjalanan BTR-4 jelas tidak akan berhenti setelah tiba di Indonesia. Masih ada uji tembak dan uji arung laut, yang walaupun sudah dilaksanakan di Ukraina, tetap harus dilakukan di Indonesia sebelum dapat diserahterimakan secara resmi. Ikuti terus liputan eksklusifnya di Angkasa Online dan Commando!

Author: Aryo Nugroho

  ★ Angkasa  

★ SSV Buatan Indonesia Pesanan Filipina Dinamai Kota Kelahiran Duterte

Davao Del Sur SSV kedua, BRP 602 Davao Del Sur pesanan Filipina produksi PT PAL Indonesia siap diluncurkan. [anas_nurhafidz@def.pk]

Kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) pesanan kedua Pemerintah Filipina ke PT PAL Indonesia (Persero) dinamai "Davao Del Sur", yang diambil dari nama provinsi kelahiran Presiden Rodrigo Duterte.

"Kapal SSV yang pertama dulu itu namanya 'Tarlac', juga merupakan provinsi kelahiran Presiden Filipina saat itu, Benigno Simeon Aquino," ujar Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin kepada wartawan di Surabaya, Rabu (28/9/2016).

Kapal pesanan Kementerian Pertahanan Filipina tersebut akan diluncurkan pada Kamis, 29 September 2016, di galangan kapal PT PAL Indonesia wilayah Tanjung Perak, Surabaya.

Ia mengaku, penyelesaian kapal bernomor lambung 602 tersebut lebih cepat 3-4 bulan dibandingkan dengan proses pesanan pertama yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun.

"Pesanan pertama diluncurkan 18 Januari 2016, dan dikirim Mei sesuai batas waktu pengiriman, sedangkan kapal kedua ini diluncurkan September sehingga pengiriman keduanya diusahakan lebih cepat dikirim ke Filipinanya mendatang pada Maret 2017," ucapnya.

ssv-ke-2-filipina-1-lciSSV ke-2 Filipina (JMP)

Pada acara peluncuran, kata dia, dijadwalkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno akan hadir, sekaligus secara resmi meluncurkan kapal ekspor kedua buatan anak bangsa tersebut.

"Tentu ini adalah sebuah kebanggaan karena kita mampu mengekspor kapal perang. Tentu ini adalah awal, dan kami optimistis industri ini semakin berkembang," katanya.

Kapal ini merupakan bagian dari pengembangan kapal pengangkut "Landing Platform Dock" (LPD) yang didesain sepanjang 123 meter, lebar 21,8 meter, dan memiliki kecepatan 16 knot dengan ketahanan berlayar selama 30 hari di laut lepas.

https://4.bp.blogspot.com/-FuegYYbc990/V-uNOeGJgqI/AAAAAAAAJDk/VRjrNI8Z1mY8gJiDRyXEWxtA3VecihukgCLcB/s1600/KRI%2BI%2BGusti%2BNgurah%2BRai%2B332%2B%2528IMF%2529.jpgKRI I Gusti Ngurah Rai 332 (GNR) sudah mulai di penuhi air laut siap meluncur dan tentunya kapal SSV pesanan Filipina. [IMF]

SSV dilengkapi titik pendaratan tiga helikopter dan hanggar, serta memiliki kemampuan mengangkut dua unit kapal "landing craft utility" (LCU) ditambah berbagai macam kendaraan tempur dari truk militer hingga "Amphibious Assault Vehicle" (AAV).

Dengan memiliki draft kapal lima meter, SSV mampu menjangkau hingga ke perairan dangkal serta dapat difungsikan sebagai rumah sakit apung sekaligus SAR ketika sedang terjadi bencana.

Selain meluncurkan SSV-2, pada kesempatan sama juga akan diluncurkan kapal perang jenis Kapal Perusak Rudal (PKR) ke-2 nomor lambung 332 untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL.

  ★ Suara  

[Foto] Yon Armed 1/2 Kostrad Uji Coba Penembakan Roket Astros

Multiple Launch Rocket System (MLRS) Astros ll MK 6

_mg_8309

Pendivif 2. Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 1 adalah salah satu kekuatan bantuan tempur (Banpur) Divisi Infanteri 2/Kostrad, yang memiliki Alutsista terbaru MLRS (Artillery Saturation Rocket System) ASTROS II, produksi Avibrás Aerospacial, sebuah perusahaan manufaktur senjata militer dari negara Brazil.
_mg_8286

Baru-baru ini Yon Armed 1 Kostrad menggelar uji coba Alat Utama Sistem pertahanan MLRS Astros ll dan uji munisi Roket SS-09 dan SS-30 di pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur. Dalam uji coba tersebut, ditinjau secara langsung oleh Kepala Staf Divif 2 Kostrad Brigjen TNI Ainurrahman. (20/9/16).
dsc02901

Kegiatan menembak senjata ini dilaksanakan untuk menguji coba dan menguji fungsi Alutsista baru yang dimiliki oleh Yon Armed 1 Kostrad, sekaligus melatih kesiapan satuan dalam rangka menghadapi Latihan Bantuan Tempur Terpadu yang akan digelar pada bulan November mendatang. Kegiatan uji coba menembak ini diikuti oleh 102 personel prajurit yang dipimpin oleh Komandan Batalyon Armed 1, Mayor Arm Dodot Sugeng Hariadi dengan mengerahkan 6 pucuk roket Multiple Launch Rocket System (MLRS) Astros ll MK 6.

Mayor Dodot menjelaskan, “Bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melakukan uji coba dan uji fungsi terhadap Alutsista baru yang kita miliki. Selain itu juga sebagai bentuk persiapan Yon Armed 1 Kostrad dalam menghadapi kegiatan latihan pada skala TNI,” jelasnya.

Lebih lanjut Mayor Dodot menjelaskan, “Setiap Alutsista terbaru pasti akan melalui proses uji prima, baik untuk menguji presisinya, jarak capainya, mekaniknya ataupun komponen yang ada di roket itu sendiri. Dan apabila terdapat perubahan setelah penembakan atau adanya kerusakan, akan dievaluasi dan kita laporkan ke komando atas,” tandasnya.


Roket MLRS Astros ll merupakan senjata canggih berupa peluncur roket dengan mobilitas dan fleksibilitas tinggi, yang memiliki efek gentar terhadap musuh. Karena bisa meluncurkan beberapa roket sekaligus dengan jangkauan sasaran yang jauh dan tingkat akurasi yang tinggi. Saat ini untuk jenis munisi yang dimiliki Yon Armed 1 adalah Roket SS-09 dan SS-30 yang memiliki jangkauan 6 Km-30 Km, dan akan dikembangkan dengan jenis munisi baru dengan jarak jangkauan hingga 150-300 km.

Pengadaan roket MLRS Astros ll di Yon Armed 1 Kostrad ini, terkait salah satu wujud dari pembangunan MEF (Minimum Essential Force), yang saat ini sudah memasuki proses Renstra tahap 2. Pada tahap ini, Renstra lebih menitikberatkan pada pembangunan dan modernisasi Alutsista beserta teknologinya untuk membentuk kekuatan pertahanan yang memadai, guna menjadikan postur pertahanan Indonesia yang mandiri, kuat, disegani dan semakin berwibawa.

  ★ Kostrad  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...