Sabtu, 21 Januari 2017

KSAU Kaji Wilayah Timur yang Bakal Jadi Daerah Pangkalan Udara

⚓️ Untuk menghemat bahan bakar Ilustrasi latihan pesawat TNI AU [TNI AU]

Rencana Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo untuk mengembangkan pangkalan militer di wilayah timur Indonesia masuk dalam rencana TNI Angkatan Udara.

Kepala Staf TNI Angkatan Utara (KSAU), Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, menilai pembangunan pangkalan militer di wilayah timur Indonesia sangat diperlukan untuk menghemat bahan bakar pesawat tempur AU dalam mengamankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurutnya, saat ini sejumlah wilayah yang akan menjadi daerah pembangunan pangkalan militer sedang dalam proses kajian. Setidaknya, wilayah pangkalan militer yang dibangun nanti bisa mencapai pulau terluar di timur Indonesia. Hal ini, sambungnya bisa membuat penghematan bahan bakar 20 persen bagi pengamanan wilayah NKRI oleh pesawat tempur TNI AU.

Sesuai dengan konsep poros maritim dunia bagaimana rencana gelar yang disampaikan panglima kita akan mengembangkan Natuna, Morotai dan yang ditengah bisa pulau Selaru,” ujarnya seusai Upacara Sertijab di Lanud Halim perdanakhusuma, Jakarta Timur, Jumat (20/1).

Selain menghemat anggaran bahan bakar, pembangunan pangkalan militer ini juga bisa menjadi wilayah latihan bagi TNI AU.

Menurut Hadi, selama ini latihan pesawat tempur AU lebih terpusat di wilayah pulau Jawa. Disisi lain, lalu lintas ruang udara di wilayah tersebut sangat dipadati pesawat komersil. Dengan adanya pangkalan militer di wilayah timur Indonesia, latihan tempur bisa dialihkan dan tidak lagi berpusat di wilayah Jawa.

Kita akan mendukung. Jadi tidak hanya di utara tapi kita bagi di sebelah selatan. Namun kebutuhan latihan negara harus kita cukupi. Seandainya ada kebutuhan latihan di Madiun R to R, kita akan keluarkan namanya notam sehingga tidak mengganggu Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur,” tutup Hadi.

  ⚓️ RMOL  

Panglima Armada Harusnya di Kapal

⚓️ Bukan di DaratKRI REM 331 [Damen]

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengatakan, setiap panglima armada seharusnya bertugas di atas kapal, bukan di daratan.

Panglima armada itu seharusnya di kapal, misalnya panglima armada ketujuh, panglima armada pasifik. Itu di kapal semua,” ujar Ade usai membuka Rapat Pimpinan TNI AL di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jumat (20/1/2017).

Dia boleh di kantor, di darat, kalau sedang istirahat saja ya. Jadi jangan dibolak-balik, panglima armada posnya adalah di kapal,” lanjut dia.

Pernyataan itu merupakan jawaban dari pertanyaan wartawan soal rencana pembentukan armada TNI AL ketiga RI, armada laut timur. Armada timur ini dibentuk belakangan setelah armada barat dan armada tengah.

Rencananya, TNI AL membangun markas armada timur di Sorong, Papua.

Ade melanjutkan, Indonesia belum memiliki kapal yang berfungsi sebagai markas tempat kendali operasi dilakukan.

Ade meminta hal itu tidak menjadi alasan para panglima armada tidak menjalankan tugas pokoknya.

Dalam bahasa perang, dia tetap harus berani di atas kapal, jangan di darat. Keliru,” ujar dia.

Sesuai kajian TNI AL sejak 2004, Komando Armada RI Kawasan Barat nantinya memiliki kewenangan wilayah di seluruh perairan di Pulau Sumatera (ALKI I).

Sementara, Komando Armada RI Kawasan Tengah memiliki wewenang atas wilayah perairan sekitar Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan (ALKI II).

Adapun, Komando Armada RI Kawasan Timur nantinya menjangkau wilayah perairan di Pulau Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku dan Papua (ALKI III).

  ⚓️ Kompas  

KRI SIM-367 Ikuti Latma Multinasional AMAN 2017 di Pakistan

KRI Sultan Iskandar Muda (367) [TNI AL]

Kepala Staf Koarmatim (Kasarmatim) Laksamana Pertama (Laksma) TNI I.N.G. Ariawan, S.E., M.M., mewakili Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto, S.H., M.A.P., melepas keberangkatan KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 dengan Komandan Letkol Laut (P) Rio Henrymuko Yumm dalam rangka mengikuti Latihan Bersama (Latma) Multinasional AMAN 2017 di Karachi, Pakistan. Upacara pelepasan kapal perang TNI AL tersebut berlangsung di Dermaga Madura Koarmatim, Ujung Surabaya. Jum’at, (20/01/2017).

Pangarmatim dalam amanatnya yang dibacakan Kasarmatim menyampaikan, Latma Multinasional AMAN 2017 adalah suatu bentuk latihan bersama Angkatan Laut yang bersifat Multilateral, yang dilaksanakan tiap 2 (dua) tahun sekali di Pakistan.

Latihan ini dimaksudkan untuk membangun persamaan persepsi guna meningkatkan interoperability antara TNI Angkatan Laut regional dan non-regional demi terwujudnya situasi lingkungan maritim yang kondusif. Bagi TNI AL sendiri kesempatan latihan ini dimaksudkan juga untuk memantau perkembangan kemampuan dan kekuatan Angkatan Laut negara peserta latihan.

Lanjutnya, Latma Multinasional AMAN melibatkan 18 negara peserta, dimana untuk kedua kalinya TNI AL mengirimkan 1 (satu) unsur kapal perang guna mengikuti rangkaian kegiatan latihan tersebut. Unsur KRI yang terlibat adalah KRI SIM-367 beserta 1 (satu) tim Kopaska, 1 (satu) personel Marinir, dan 1 (satu) penerbang TNI AL sebagai observer.

Latma Multinasional AMAN 2017 yang dilaksanakan mulai tanggal 10 s.d. 14 Februari 2017 dibagi menjadi 2 (dua) tahap yaitu Tahap I (10 s.d.12 Februari 2017) berupa kegiatan di darat / Karachi Naval Base. Sedangkan Tahap – II (13 s.d. 14 Februari 2017) merupakan kegiatan manuvra lapangan di Laut Arab.

Dengan tema latihan “Together For Peace”, urgensi latihan ini diantaranya yaitu membawa arti penting bagi perkembangan situasi perairan nasional maupun yang dapat memberikan penangkalan ke dalam maupun keluar bagi Indonesia secara umum, sekaligus untuk menjalin kerjasama antar Angkatan Laut Indonesia dengan Pakistan.

Pangarmatim mengakhiri amanatnya menyampaikan berbagai tugas akan diemban, mulai yang paling ringan, sampai yang paling berat dan kompleks. Untuk itu, tunjukkan bahwa kalian mampu melaksanakan tugas dalam latihan bersama dengan baik. “Laksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan profesionalisme yang tinggi serta tetap mengutamakan keselamatan personel dan material, apapun bentuk keberhasilan tugas yang dikerjakan, jelas tidak terlepas dari kesungguhan, kerja keras dan koordinasi yang kalian laksanakan sebagai prajurit Sapta Marga”. ujarnya.

Adapun serial latihan dalam AMAN Exercise 2017 diantaranya, Aplikasi doktrin, taktik serta Operasi Tempur Laut sesuai referensi yang ditetapkan, Manuver taktis, Penembakan sasaran permukaan dengan meriam 76mm, Replenishment at Sea (RAS) / Pembekalan di laut, aplikasi Visit, Board, Search and Seizure (VBSS), Melaksanakan aksi peperangan AKS/kerja sama taktis dengan unsur udara, simulasi Search and Rescue, Komunikasi taktis sesuai referensi latihan, dan operasi Maritime Interdiction Operation (MIO), serta aplikasi operasi tempur laut dalam kegiatan anti kapal permukaan, anti kapal selam, dan pertahanan udara, selain itu dalam latihan ini juga dilaksanakan Special Operation at Sea oleh Pasukan Khusus.

Hadir dalam acara tersebut, Koorsahli Pangarmatim Kolonel Marinir Tory Subiyantoro, Pejabat Utama Koarmatim, Para Komandan Satuan Jajaran Koarmatim, Para Komandan Unsur yang berada di Pangkalan serta Ibu – ibu Jalasenastri Armatim.

  ⚓️ Berita Lima  

Komando Armada di Papua Segera Dibentuk

Penyebaran Pangkalan TNI Ilustrasi KRI TNI AL

TNI bertekad mendukung pemerintah dalam pembangunan nasional yang dimulai dari pinggiran dan tidak tersentralisasi. Komando Armada III TNI AL pun akan segera dibentuk.

Hal tersebut menjadi salah satu poin hasil Rapat Pimpinan (Rapim) TNI yang digelar selama empat hari. Presiden Joko Widodo meminta TNI mengantisipasi perubahan-perubahan global, termasuk persiapan dari dampaknya.

"Antara lain segera mengadakan penyesuaian penyebaran pasukan-pasukan dan pangkalan-pangkalan yang tidak tersentral di Jawa dan segera melaporkan kesiapan tersebut," ungkap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo seusai Rapim TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (19/1/2017) malam.

Untuk itu, Gatot pun memerintahkan jajarannya segera menggelar rapim di masing-masing matra. "Segera lakukan rapim tingkat angkatan, baik AD, AL, dan AU. Segera lakukan percepatan untuk pembangunan, kontrak-kontrak sehingga membantu perputaran ekonomi," ucapnya.

"Dan yang penting adalah penyebaran dari pangkalan-pangkalan difokuskan pada tempat-tempat terpinggir agar bisa membuat sentra-sentra ekonomi baru," tambah Gatot.

Saat ditanya mengenai penyebaran pangkalan-pangkalan, Panglima TNI mengatakan ke depan pembangunan difokuskan pada pembentukan komando armada (TNI AL). Sedangkan pembentukan kodam-kodam (TNI AD) dan Komando Operasi (TNI AU) belum akan dilakukan dulu.

"Pembentukan kodam-kodam baru, kemudian koops baru tidak. Tapi (Komando) Armada baru. (Pembentukan) Armada III harus dilakukan," jelas jenderal bintang empat itu.

Saat ini TNI AL memiliki 2 Komando Armada, yaitu Komando Armada Barat (Koarmabar), yang berada di Jakarta dan Komando Armada Timur (Koarmatim). Pembentukan Komando Armada baru akan membantu pemerataan pembangunan dan ekonomi sesuai dengan harapan Jokowi, termasuk untuk menunjang program tol laut.

"Karena kita tahu kita (selama ini) hanya berorientasi pada Armada Timur saja. Maka perlu ada armada satu lagi, tempatnya di sekitar Papua," kata Gatot.

Pembentukan Komando Armada baru ini sebetulnya bukan rencana baru. Penambahan Komando Armada TNI AL itu sejalan dengan rencana pembentukan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan). Ini juga sudah masuk dalam rencana strategis (renstra) TNI untuk memenuhi minimum essential force (MEF).

Lalu kapan Komando Armada baru ini dibentuk?

"Jadi semua pembentukan rencana ini harus dilaporkan kepada Presiden. Kemudian dianalisis dan diputuskan bersama-sama, baru dilangsungkan," jawab Panglima TNI belum bisa memastikan.

Meski begitu, Gatot yakin pembentukan Komando Armada di Papua akan segera terealisasi. Untuk mendukung ini, sejumlah Lanal di wilayah timur telah dinaikkan menjadi Lantamal.

"Yang bisa tahun ini ya tahun ini dilakukan, segera mungkin," tegas Gatot.

Sebelumnya sempat diberitakan, TNI AL direncanakan akan memiliki tiga Komando Armada dari yang sebelumnya hanya dua, plus satu komando pusat. Koarmatim yang berada di Surabaya disebut akan menjadi Komando Armada RI.

Sementara itu, rencananya Komando Armada Barat tetap berada di Jakarta, Komando Armada Tengah di Makassar, dan Armada Timur di Papua. Penambahan Komando Armada salah satunya juga terkait dengan pengamanan Laut Cina Selatan. (dnu/dnu)

  ★ detik  

Perluasan Kekuatan Armatim untuk Efisiensi Logistik

https://1.bp.blogspot.com/-EKWypIUbxN8/V9t804eaRjI/AAAAAAAAI_E/OdfuQko8udcUcGgDEDr4iXIiauCGIfLkwCLcB/s1600/Uji%2Bcoba%2Bpeluncuran%2BRudal%2BC-705%2Boleh%2BKRI%2BClurit%2B641%2Bdi%2BLaut%2BJawa%252C%2BRabu%2B%252814-9%2529.%2B%2528jawapos%2529.jpgPeluncuran rudal C705 [jawapos]

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi berharap rencana memperluas kekuatan di wilayah militer Armada Timur dapat terealisasi tahun ini. Perluasan kekuatan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasi dan logistik TNI AL dalam misi menjaga kedaulatan NKRI.

"Penggelaran pangkalan itu kan efisiensi operasi. Kalau ada satuan kita dekat dengan daerah operasi, maka efisiensi operasi, efisiensi logistik bisa kita capai," kata Ade usai membuka rapat pimpinan TNI Angkatan Laut di Markas Besar Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (20/1/2017).

Perluasan kekuatan militer TNI AL akan dilakukan secara bertahap. Contohnya Pangkalan Utama AL yang berkembang dari 3 lokasi hingga kini menjadi 14 lokasi.

"Lantamal di Tarakan dulu belum ada, baru lanal. Operasi di Laut Sulawesi itu dari Surabaya, dulu," ujar Ade menggambarkan jarak antara lokasi operasi dengan pusat logistik.

Prajurit yang bertugas tidak boleh kehabisan logistik, mulai bahan makanan hingga bahan bakar kapal, setelah adanya lantamal baru di wilayah timur.

"Artinya bunker-bunker untuk bahan makan itu juga tersedia di daerah operasi, sehingga tidak perlu balik lagi," tegas dia.

Ade juga menjabarkan urgensi peningkatan efisiensi logistik dan operasi di Armada Timur dilatarbelakangi cakupan wilayah militernya yang terlalu luas, mulai perairan Tegal, Jawa Tengah, hingga perairan Papua, yang berbatasan dengan negara tetangga.

"Memang kebutuhan tim saya itu tiga armada. Sehingga tak hanya dua armada (Timur dan Barat) seperti sekarang ini. Kita butuh armada (lagi) di kawasan Timur khususnya, supaya beban Pangarmatim (Panglima Armada RI Kawasan Timur) tidak terlalu berat," jelas Ade.

"Karena wilayah Armatim ini dari mulai perairan Tegal sampai ke perbatasan Papua," sambung dia.

Ade berharap lokasi-lokasi markas komando di bawah Armada Timur yang baru dapat menjadi solusi atas masalah logistik yang selama ini TNI AL alami.

"Bagaimanapun, kapal perang operasinya akan sangat bergantung pada logistik," imbuhnya.

Armabar nantinya akan berganti nama jadi Armada RI 1, Armatim berganti menjadi Armada RI 2 dan armada yang baru akan dinamai Armada RI 3. (fdn/fdn)

  detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...