🚀
(Yonarmed 22)
Indonesian Army tested the TRLG-122 laser-guided artillery rocket fired from ROKETSAN’s ITBM-600 MLRS, set to use the BORA TBM and various artillery rockets.
Indonesia has become the first known export customer of ROKETSAN’s TRLG-122 laser-guided artillery rocket with the test from ROKETSAN's MLRS platform.
The small-calibre artillery rocket was fired from the ITBM-600 MLRS, primarily acquired to use the BORA TBM, based on ROKETSAN’s flexible MLRS platform capable of using different types of artillery rockets.
TRLG-122 is the laser-guided variant of the TRG-122 GNSS-guided artillery rocket, also forming the basis for the UAV-122 short-range aeroballistic missile in terms of airframe.
The laser-guided artillery rocket with a CEP of two meters can reach a range of 35 km, and each vehicle can carry up to 24 rounds (12x2 pods).
With the presence of a UAV for terminal guidance, TRLG-122 can be used against point targets or moving ones thanks to laser guidance.
ROKETSAN has also developed the larger TRLG-230, the laser-guided variant of its TRG-230 medium-range artillery rocket with a range of 70 km.
👷 🤝 💰
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)
PT PAL Indonesia (Persero) membidik perluasan pasar industri maritim dan pertahanan di kawasan Timur Tengah. Langkah ini ditempuh melalui penguatan kemitraan strategis dengan Uni Emirat Arab (UEA).
Perluasan pasar tersebut menjadi upaya PT PAL meningkatkan jangkauan bisnis dan memperkuat daya saing internasional. Penjajakan peluang kerja sama dibahas bersama Duta Besar RI untuk UEA, Judha Nugraha, di Surabaya.
Judha menilai, penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan UEA membuka peluang bagi industri maritim dan pertahanan nasional. Peluang tersebut semakin besar setelah berlakunya Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA).
Dalam dua tahun penerapannya, perdagangan bilateral Indonesia–UEA meningkat 26 persen. Sementara itu, investasi UEA ke Indonesia naik hampir 641 persen.
“Capaian ini membuka ruang bagi penguatan kerja sama ekonomi yang lebih luas. Termasuk di sektor industri maritim dan pertahanan,” ujar Judha, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia juga mengapresiasi kemampuan desain dan rekayasa PT PAL yang telah memperoleh kepercayaan mitra internasional. Salah satu pencapaiannya terlihat melalui proyek kapal Landing Platform Dock (LPD) Al-Maryah.
Pengalaman tersebut menjadi modal PT PAL untuk menargetkan peluang bisnis baru di Timur Tengah. Perusahaan berupaya memperluas kemitraan sekaligus meningkatkan penetrasi pasar produk dan layanan industri maritim serta pertahanan.
Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia, Wiyono Komodjojo, mengatakan perluasan pasar internasional membutuhkan dukungan diplomasi dan hubungan industri yang kuat. Kemitraan dengan UEA diharapkan membuka akses bisnis sekaligus memperkuat kemampuan industri nasional.
“Melalui kemitraan internasional, kami ingin memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kapabilitas industri dalam negeri,” kata Wiyono. Ia berharap kerja sama tersebut memberikan nilai tambah bagi kedua negara dan mendukung kebutuhan pertahanan secara berkelanjutan.
Selain memperluas pasar, PT PAL juga menargetkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Direktur Keuangan dan SDM PT PAL Indonesia, Pramusti Indrascaryo, menilai kemitraan internasional dapat mendukung pencapaian target tersebut.
Selain memperluas pasar, PT PAL juga menargetkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Direktur Keuangan dan SDM PT PAL Indonesia, Pramusti Indrascaryo, menilai kemitraan internasional dapat mendukung pencapaian target tersebut.
Menurut Pramusti, kerja sama internasional membuka kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Kolaborasi tersebut juga dapat mendorong penguasaan teknologi guna memperkuat daya saing industri.
Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi dalam desain, produksi, dan riset teknologi. Kerja sama juga berpotensi mencakup layanan pemeliharaan dan perbaikan kapal.
Melalui penjajakan ini, PT PAL menargetkan terbukanya peluang bisnis baru di kawasan Timur Tengah. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperluas akses pasar, meningkatkan kapabilitas industri, dan memperkuat posisi Indonesia dalam industri maritim serta pertahanan global.
🛰 Rampung Pada 2027
📡 Radar GCI buatan PT Len Industri resmi dioperasikan untuk memperkuat pengawasan udara Indonesia dan sistem pertahanan nasional. (antara)
PT Len Industri (Persero) menargetkan instalasi 13 unit radar ground control intercept (GCI) yang akan digunakan untuk mendukung sistem pertahanan udara nasional, selesai pada 2027.
“Khusus radar sedang berjalan … [targetnya] tahun depan,” kata Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri Dwi Sulistiani di Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Ia menjelaskan sejauh ini instalasi radar telah rampung di dua lokasi. “Ini memang mendukung pertahanan di kawasan timur, khususnya, yang notabene ini menjadi fokus dari Kementerian Pertahanan,” kata dia.
Menurut dia, tantangan aktivasi radar tidak hanya berkaitan dengan perangkat dan teknologi, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung meliputi fasilitas operasional bagi prajurit, tempat tinggal, fasilitas pemantauan, serta ruang kendali operasi.
Namun Dwi menilai bahwa dalam pelaksanaannya, holding industri pertahanan Indonesia (Defend ID) itu mendapat dukungan Kementerian Pertahanan serta pemangku kepentingan lain, termasuk pemerintah daerah.
“Di dalam aktivasi radar ini tentunya harus bisa komunikasi, minimal di lingkup matra udara itu sudah. Tantangannya memang kita harus menuntaskan dengan matra yang lain, salah satunya laut,” ujarnya.
Radar GCI merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Perancis. GCI tercatat menjadi radar dengan jangkauan terjauh di Indonesia, yakni lebih dari 400 kilometer.
Radar itu disebut memiliki kemampuan mendeteksi, mengukur jarak, dan mengidentifikasi objek pesawat dengan keakuratan tinggi serta dilengkapi kemampuan mengidentifikasi objek yang menjadi kawan maupun lawan/musuh atau identification friend or foe (IFF).
Pada Juli lalu, PT Len memperkenalkan implementasi radar GCI generasi terkini pertama di Indonesia yang dipasang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kemampuan deteksi jarak jauh tercatat mencapai radius 515 kilometer.
🛩 Untuk kebutuhan militer maupun komersial
🛩 Pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (Kamal)
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Gita Amperiawan menyatakan pesawat N219 merupakan hasil karya anak bangsa yang dikembangkan tanpa tenaga pendamping teknis dari luar negeri.
“Pesawat N219 adalah pesawat seratus persen karya anak bangsa. Tingkat kandungan dalam negerinya (TKDN) 44,69 persen,” ucap Gita saat eksplorasi industri pertahanan bersama pers di Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Dia menyebut pengembangan N219 melibatkan kurang lebih 16 industri pertahanan nasional dan empat perguruan tinggi dalam negeri.
Dijelaskannya, N219 merupakan pesawat turboprop bermesin ganda yang memiliki kapasitas 19 penumpang.
Pesawat tersebut dirancang untuk melayani rute penerbangan perintis, termasuk wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur landasan pacu. N219 memiliki kemampuan lepas landas pada landasan sepanjang sekitar 600 hingga 800 meter serta dapat dioperasikan pada landasan yang tidak beraspal (unpaved runway).
Gita menyebut sekitar 100 bandara perintis di Indonesia memiliki landasan pacu dengan panjang kurang dari satu kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 bandara disebut memiliki landasan yang tidak beraspal.
“Ini cocok dengan N219,” katanya.
Pesawat tersebut kini dikembangkan untuk kebutuhan militer dan komersial. Kedua jenis kebutuhan itu memiliki basis yang sama, tetapi dapat dibedakan berdasarkan persyaratan sertifikasi dan kebutuhan khusus.
Ia mencontohkan, untuk kebutuhan militer penyesuaian dapat dilakukan sesuai kebutuhan operasional TNI, termasuk untuk mendukung kegiatan penerjunan personel.
Di sisi lain, PT DI berupaya meningkatkan keterlibatan industri nasional dalam produksi N219. Gita memperkirakan TKDN pesawat tersebut meningkat hingga 65 persen apabila produksi dilakukan secara massal.
Di Doha, Qatar
Indonesia. Turki, Qatar dan Pakistan sepakati nota kesepahaman Bard. (Foto/X/@Defence_Turk_EN)
Turki, Qatar, Pakistan, dan Indonesia menandatangani perjanjian pada hari Rabu untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan memperkuat kapabilitas pertahanan.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian tersebut menyampaikan bahwa negara-negara tersebut menandatangani "Nota Kesepahaman Badr" di Doha sebagai wujud keinginan mereka untuk semakin memperdalam kerja sama dan mengembangkan kemitraan.
"Perjanjian ini memiliki nilai ekonomi yang signifikan," ungkap kementerian tersebut, seraya menambahkan bahwa kesepakatan ini bertujuan untuk mendorong kerja sama dalam produksi militer, meningkatkan kapabilitas militer, serta memfasilitasi kolaborasi dalam pelatihan teknis militer, penelitian, dan pengembangan.
"Dengan memanfaatkan kapabilitas produksi militer yang unik dari masing-masing negara, inisiatif ini akan memfasilitasi kerja sama dan integrasi, meningkatkan kapasitas industri pertahanan, serta memungkinkan pemenuhan kebutuhan negara-negara sekutu dan negara sahabat," tambahnya, dilansir Arab News.
Turki, yang memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO serta industri pertahanan yang tangguh, telah membantu negara-negara Teluk—termasuk Qatar, tempat Turkiye memiliki pangkalan militer—dalam memperkuat pertahanan mereka di tengah situasi perang yang melibatkan Iran.
Pada bulan Agustus, Turki menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Pakistan (negara pemilik senjata nuklir) dan Arab Saudi, yang menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap seluruh pihak.
Ankara juga menjalin hubungan erat dengan Indonesia, khususnya di sektor industri pertahanan.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa kesepakatan Badr akan mempererat hubungan antarindustri pertahanan negara-negara tersebut serta meningkatkan kolaborasi guna mendukung keamanan dan mencapai tujuan bersama.
Haluk Gorgun, Kepala Presidensi Industri Pertahanan Turki, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut menjadi landasan bagi “kerja sama strategis” untuk mengembangkan produksi dan teknologi bersama.
“Berbagi teknologi, pengembangan bersama, dan penguatan kapabilitas produksi dalam negeri merupakan inti dari industri pertahanan yang berkelanjutan. Sebagai Turki, kami menghargai kemitraan yang melampaui sekadar model pengadaan barang jadi, yakni kemitraan yang mendorong pengembangan sumber daya manusia serta infrastruktur industri suatu negara,” ujar Gorgun dalam sebuah pernyataan.
“Kami yakin bahwa Nota Kesepahaman Badr akan berkontribusi dalam mengubah kapabilitas yang saling melengkapi dari Qatar, Pakistan, Indonesia, dan Turki menjadi proyek-proyek nyata,” tambahnya. (ahm)