Minggu, 13 September 2026

Garibaldi Tinggalkan Pelabuhan Kolombo Menuju Indonesia

  Akan diubah menjadi KRI Sriwijaya https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXqCBIR0ip6eKp3P9K76WxQ1MYYAdlkob1z90mlXmAaMLQ6iYXrAVKQaa5v6rdC1l38kWmJNMdifnAnlnmsZyrxUy64s7_g0g601JMzZUzPZsOnqyiFcQYD4IOOgiajlhjDDQ3YEHACcLKVU_vYw9lR4WWYYPTprDaV6GZswpzqfTZyGVKfOAbg_81gIWB/s1500/IMG_0741.jpegITS Garibaldi bersiap menuju Indonesia (Srilanka Navy)

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi (C551) bertolak dari Pelabuhan Kolombo pada Sabtu (12/9/2026), menuju Indonesia. Hal itu setelah kapal induk produksi Fincantieri, Italia tersebut menuntaskan proses singgah untuk pengisian ulang logistik dan layanan.

Selama Garibaldi berada di Pelabuhan Kolombo, Komandan ITS Giuseppe Garibaldi Kapten Marco Guerriero melakukan kunjungan kehormatan kepada Komandan Wilayah Angkatan Laut Barat Sri Lanka Laksamana Muda Harsha De Silva di Markas Komando Angkatan Laut Wilayah Barat.

Para anggota awak kapal juga mengunjungi sejumlah objek wisata di sekitar Kolombo selama singgah di pelabuhan tersebut.

Adapun Garibaldi dijadwalkan tiba di Jakarta pada Kamis (17/9/2026). Informasi terbaru, nantinya kapal induk tersebut disematkan nama KRI Sriwijaya.

Sementara itu, TNI AL dipastikan memberi nama baru bagi kapal induk Garibaldi setiba di Indonesia.

"Saat ini Garibaldi sedang dalam perjalanan menuju ke Indonesia dan diperkirakan akan tiba pada 17 September 2026," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul kepada Republika di Jakarta, Jumat (11/8/2026).

Disinggung penamaan Garibaldi diubah menjadi KRI Gajah Mada yang belum pasti, ia meminta publik menunggu pengumuman resmi. Pun kabar Garibaldi diubah menjadi KRI Sriwijaya, Tunggul menegaskan, TNI AL masih meminta persetujuan dari pimpinan.

Hanya saja, ia tidak menjelaskan, pimpinan itu apakah di TNI AL, Menhan RI, atau bahkan Presiden RI. "Untuk penamaan resmi masih dalam proses administrasi dan persetujuan dari pimpinan atas," ucap Tunggul.

    Republika   

Sabtu, 12 September 2026

KSAL Sebut RI Ditawari Kapal Selam Interim

 Diketahui mendapatkan penawaran kapal selam dari China, Italia, Jepang, Jerman, Prancis, Turki, dan Spanyol Type 212NFS kapal selam Italia yang akan diluncurkan pada pertengahan 2028 dan berteknologi Li Ion termasuk yang ditawarkan ke Indonesia (Fincantieri)

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengatakan bahwa Indonesia telah ditawari kapal selam interim oleh sejumlah negara.

"Ada beberapa negara yang sudah menawarkan, dan bisa jadi kita akan membeli dari beberapa negara yang sudah menawarkan itu," kata Ali di Auditorium Yos Sudarso, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Kapal selam interim adalah kapal selam sementara sembari menunggu pengerjaan kapal selam selesai.

Namun demikian, Ali tidak menjelaskan lebih lanjut negara mana saja yang dimaksud.

Selain kapal selam konvensional, Ali mengungkapkan TNI AL bekerja sama dengan PT PAL juga akan membangun kapal selam tanpa awak atau kapal selam otonom (KSOT).

Menurutnya hal tersebut dinilai lebih efektif dan efisien.

Selain itu, TNI AL juga berencana mengadakan kapal selam kecil atau midget submarine.

"Mungkin juga kita akan mengadakan kapal selam jenis itu," ucapnya.

Ia menambahkan, berbagai upaya tersebut bisa dilakukan TNI untuk mengisi kekuatan laut.

Kendati demikian, Ali menyerahkan keputusan tersebut kepada pemerintah.

"Jadi hal-hal itu sangat memungkinkan, tapi keputusannya semua berada di Kementerian Pertahanan," tuturnya.

 Menunggu kapal selam Scorpene selesai

Diketahui rencana TNI AL mengadakan kapal selam interim dilakukan sambil menunggu Scopene selesai dibangun.

Pembangunan Scopene sendiri membutuhkan waktu 7-8 tahun.

Di sisi lain Indonesia hanya memiliki 4 kapal selam. Berbeda dengan sejumlah negara di Asia Tenggara yang memiliki lebih dari 4 kapal selam.

"Dan selama delapan tahun kekosongan ini, kita hanya memiliki empat kapal selam. Yaitu satu kelas Cakra, kemudian yang tiga kelas Nagapasa," kata Ali. .

   👷  Kompas  

Jumat, 11 September 2026

Nevesbu Meluncurkan Konsep Restorasi SIGMA 9113 Corvette

 Untuk Indonesia https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjLlwwMMRu8P57cwHjubVoNGadNLU2Nja41XXV2TWODUJIZnjlJeboGjBEMrfYNabRBfEsqE0bTyBkKElfTMwEasMVxMXiVSePA4T50hU_PFr2yQ4qECRKZJz5kGENk9mBb9Rg6XQoeCh5-3SCCyD5HxK70o-nyz9LaHB5EEjhEZesOCpgRxLyM0eog_LX/s2048/IMG_0740.webpDesain Konsep Perbaikan Kapal Kelas Diponegoro. (Nevesbu)

Perusahaan rekayasa kelautan asal Belanda, Nevesbu, telah memaparkan rancangan konsep untuk peremajaan korvet kelas SIGMA 9113/Diponegoro milik TNI Angkatan Laut (TNI AL) yang dibangun oleh Damen.

Menurut Nevesbu, perusahaan tersebut mengembangkan konsep Integrasi Sistem Platform (PSI) untuk paket ekstensif Sensor, Senjata, dan Komando (SEWACO) dalam program ini hanya dalam waktu tiga bulan.

Pihak perusahaan menyatakan bahwa para pemangku kepentingan di Indonesia yakni Kementerian Pertahanan, TNI AL, dan perusahaan milik negara PT Len Industri menyambut baik konsep tersebut serta memberikan masukan konstruktif guna mendukung tahap pengembangan selanjutnya, yang akan berfokus pada solusi rancangan berskala penuh.

Pengumuman ini menyusul kontrak modernisasi yang ditandatangani oleh Thales dan PT Len Industri pada November 2022, yang mencakup keempat korvet kelas Diponegoro. Program berdurasi lima tahun ini meliputi pemasangan Sistem Manajemen Tempur (CMS) TACTICOS baru serta peningkatan sistem sensor.

Gambar konsep yang dirilis oleh Nevesbu, yang menampilkan kapal utama kelas tersebut yaitu KRI Diponegoro-365, memberikan gambaran lebih lanjut mengenai wujud peningkatan sensor tersebut.

Gambar visualisasi (rendering) tersebut tampaknya memperlihatkan radar pelacakan dan kendali tembakan jarak menengah Thales STIR 1.2 EO Mk2 yang menggantikan perangkat Thales Lightweight Radar/Optronic Director (LIROD) yang saat ini digunakan kapal tersebut. Selain itu, gambar tersebut juga tampak menampilkan perangkat yang diduga sebagai radar pengawas 4D pita-I Thales NS50, menggantikan radar Thales MW08 yang saat ini terpasang pada kapal-kapal tersebut.

Namun, gambar konsep tersebut tidak menunjukkan adanya perubahan besar pada konfigurasi persenjataan yang ada saat ini pada korvet kelas Diponegoro.

Proyek peremajaan ini akan menambah daftar program modernisasi TNI Angkatan Laut dalam portofolio Nevesbu.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh Naval News, Nevesbu juga terlibat dalam program modernisasi korvet/fregat ringan kelas Bung Tomo milik TNI Angkatan Laut yang sedang berjalan. Program tersebut dipimpin oleh PT Len Industri, dengan Thales Netherlands bertindak sebagai integrator sistem tempur. Dalam program itu, Nevesbu berperan sebagai integrator sistem platform, yang mencakup pekerjaan survei, desain, dan rekayasa, serta dukungan di lokasi selama masa pengerjaan.

Jika proyek peremajaan ini terlaksana, pengerjaannya kemungkinan besar akan dilakukan di Surabaya, Jawa Timur, yang merupakan pangkalan induk bagi keempat korvet kelas Diponegoro sekaligus lokasi pelaksanaan modernisasi kelas Bung Tomo yang sedang berlangsung.


   Naval News  

Kamis, 10 September 2026

TNI AD Terima Dua Helikopter Mi-35M Baru dari Rusia

  Puspenerbad saat ini mengoperasikan Mi-35P varian lama Penampakan helikopter Mi35M penerbad (KERIS reborn)

Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) telah menerima helikopter tempur Mi-35M baru buatan Rusia, dengan gambar yang beredar di media sosial pada 3 September 2026. Dikutip dari Militarywatchmagazine pada Kamis (10/9/2026), TNI AD saat ini, mengoperasikan Mi-35P varian lama di Lanumad Ahmad Yani, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Helikopter Mi-35M adalah salah satu turunan yang paling dimodernisasi dari keluarga Mi-24. Dikembangkan oleh Rostvertol, helikopter tersebut menggabungkan konfigurasi dasar helikopter serang-angkut lapis baja berat dan helikopter serang Mi-24 dengan perubahan substansial pada propulsi, avionik, sistem penerbangan, dan konfigurasi senjatanya.

Salah satu perbedaan yang paling jelas adalah pemasangan meriam. Mi-35P Indonesia menggunakan meriam laras ganda GSh-30K 30mm yang dipasang secara kaku di sisi badan pesawat bagian depan. Sehingga helikopter itu sendiri perlu bermanuver untuk mengarahkan senjata ke sasaran.

Mi-35M menggunakan turet NPPU-23 yang dipasang di dagu, yang menggabungkan meriam laras ganda 23mm GSh-23V. Hal itu memungkinkan senjata untuk diarahkan secara independen dalam busur yang jauh lebih lebar. Mi-35M juga menggabungkan sejumlah perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja penerbangannya dan mengurangi bobot. Rotor utamanya menggunakan bilah komposit, sementara rotor ekor mengadopsi konfigurasi berbentuk X yang khas yang terkait dengan helikopter serang Mi-28 yang lebih baru.

Selain itu, avionik dan kemampuan pertempuran malam Mi-35M juga merupakan peningkatan signifikan dibandingkan varian sebelumnya. Helikopter itu kompatibel dengan sistem penglihatan malam dan menggabungkan sistem elektro-optik modern, memungkinkan senjatanya digunakan lebih efektif di malam hari dan dalam kondisi visibilitas buruk.

Hal itu memberikan kemampuan Mi-35M yang jauh lebih dekat dengan kemampuan yang diharapkan dari helikopter serang modern sambil mempertahankan kemampuan keluarga Mi-24 untuk mengangkut pasukan dan peralatan. Saat ini Rusia adalah satu-satunya negara yang memproduksi tiga jenis helikopter serang kelas berat secara bersamaan, yaitu Mi-35, Mi-28, dan Ka-52.

Tidak seperti dua jenis lainnya, Mi-35 bukanlah desain baru pasca-Perang Dingin, tetapi varian Mi-24 yang dimodernisasi secara besar-besaran. Tidak hanya memiliki kemampuan tempur yang unggul, tetapi juga dapat berfungsi sebagai helikopter tempur dengan kemampuan pengangkutan personel terbatas.

Sebanyak 11 negara asing telah mengakuisisi Mi-35 sejak jenis itu mulai ditawarkan ke luar negeri pada awal tahun 2000-an, dengan lebih dari 180 unit telah diekspor. Belarus adalah operator baru terbaru, dan mulai menerima pesawat tersebut pada awal 2023.

  ✪ Republika   

Rabu, 09 September 2026

TNI AL Pertimbangkan Penggunaan Drone Bawah Air untuk Tingkatkan Pertahanan Maritim

  KSOT hasil rancangan & produk PT  PAL KSOT-001 dalam ujicoba di Laut (Sekpres)

Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana Muhammad Ali menguraikan rencana untuk berkolaborasi dengan industri pertahanan dalam negeri untuk mengembangkan drone bawah laut, yang bertujuan untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan pengawasan maritim negara.

"Teknologi bawah laut berkembang pesat. Angkatan Laut Indonesia terus mempelajari cara untuk memanfaatkan drone bawah laut untuk mendukung operasi pengawasan dan pengintaian di wilayah maritim kita," kata Ali di sini pada Rabu (9 September).

Menurut Kepala Angkatan Laut, drone bawah laut sangat efektif untuk tujuan pemantauan karena dapat dengan mudah menavigasi selat sempit di perairan strategis Indonesia, termasuk Jalur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.

Ali mencatat bahwa jangkauan jelajahnya yang lebih luas akan memungkinkan drone untuk mendeteksi pergerakan kapal asing dan mengantisipasi masuknya kapal secara ilegal ke perairan Indonesia.

Teknologi ini juga dapat digunakan untuk memetakan kontur dasar laut kepulauan. Dengan memperoleh data kelautan yang akurat, Angkatan Laut bertujuan untuk membuat peta bawah laut terperinci yang menunjukkan arus laut, pola pasang surut, dan kondisi dasar laut, termasuk terumbu karang dan bangkai kapal.

Operasi-operasi ini, tambah Ali, dapat dilakukan tanpa biaya tinggi yang terkait dengan pengerahan kapal permukaan berawak sekaligus memastikan keselamatan personel.

Sementara itu, Alman Helvas Ali, seorang analis pertahanan dari Marapi Consulting, menekankan dalam siaran pers baru-baru ini bahwa pemerintah harus memahami secara menyeluruh karakteristik kompleks perairan Indonesia sebelum memperluas infrastruktur pertahanan maritimnya.

"Di wilayah barat, laut kita cenderung dangkal, sedangkan wilayah timur terdiri dari perairan dalam. Setiap wilayah memiliki kepadatan air, salinitas, dan suhu yang berbeda," jelasnya.

Ia mencatat bahwa data oseanografi ini harus terus diperbarui agar Angkatan Laut dapat memaksimalkan efektivitas sistem senjata utamanya, seperti kapal selam dan kapal permukaan. Namun, analis tersebut mengakui bahwa Angkatan Laut dan industri dalam negeri belum memiliki teknologi khusus yang dibutuhkan untuk mendukung operasi pemetaan bawah air tingkat lanjut secara optimal.

Ia menyarankan agar Angkatan Laut mempertimbangkan untuk berkolaborasi dengan pemain industri pertahanan global. Selain menyediakan opsi pengadaan yang lebih cepat, kemitraan internasional semacam itu juga dapat membantu meningkatkan kemampuan teknologi sektor pertahanan dalam negeri Indonesia.

   👷  antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...