Pesawat Pilatus PC21NG (Pilatus Aircraftr)
PC 21 secara khusus dipilih oleh Prancis untuk pelatihan pilot tempur tingkat lanjut: Angkatan Udara Prancis mengoperasikan 26 pesawat ini di Sekolah Pelatihan Pilot Angkatan Udara (EFOPAA) di Cognac.
PC-21 terkenal dengan kokpit digital dan sistem simulasi onboard-nya, yang memungkinkan pelatihan untuk misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat. Sangat lincah, pesawat ini tetap jauh lebih murah untuk dioperasikan daripada pesawat bertenaga jet.
Versi NG adalah yang paling canggih, dan Indonesia akan menjadi pelanggan ekspor pertamanya.
PC-24 mampu mendarat di landasan kasar (Pilatus)
E-System Solutions akan memanfaatkan PC-21NG ini untuk menciptakan Pusat Pelatihan Lanjutan yang didedikasikan untuk pelatihan pilot tempur, yang mencakup fase 2 hingga 4. Pelatihan tempur akan berlanjut di Pusat Perang Udara yang telah direncanakan oleh E-System Solutions, yang dilengkapi untuk peran agresor dengan MiG-29 dan drone Ultra Maneuverable Subsonik Tinggi.
Keputusan Indonesia ini menyusul dua keputusan lain yang secara resmi diumumkan bulan lalu di Singapore Air Show, mengenai 36 Leonardo M346FI (12 di antaranya opsional) dan 12 Pilatus PC-24. PC-24 akan digunakan untuk melatih pilot transportasi dan pilot Kementerian Perhubungan.
Indonesia memiliki rencana ambisius dan berinvestasi dalam kemampuan pelatihan yang komprehensif. Selain pilot Indonesia, rencananya juga akan melatih pilot asing, yang menunjukkan ambisi Indonesia untuk kemitraan internasional.
Latma Kakadu 2026
Ilustrasi KRI REM 331 (Dispenal]
TNI AL mengerahkan kapal perang KRI Raden Eddy Martadinata-331 untuk bertolak ke Australia. Kapal ini membawa misi khusus bersama pasukan elite Komando Pasukan Katak (Kopaska) untuk mengikuti latihan militer berskala internasional, Kakadu 2026.
Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II Laksda I Gung Putu Alit Jaya, melepas langsung keberangkatan KRI REM-331 dari Surabaya, Jawa Timur, Selasa (3/3). Alit Jaya menegaskan, para prajurit memikul tanggung jawab besar sebagai duta bangsa di kancah dunia.
“Prajurit bukan hanya membawa nama satuan, tetapi juga membawa nama besar TNI di forum internasional. Saya menekankan seluruh personel untuk melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab serta menjunjung tinggi disiplin dan profesionalisme,” tegas Alit Jaya saat memberikan amanat di atas geladak KRI I Gusti Ngurah Rai-332.
Misi 41 Hari Bersama Pasukan Elite
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada II Kolonel Laut (P) Antonius Februar, membeberkan detail kekuatan personel dalam misi kali ini. KRI RE Martadinata-331 akan menempuh pelayaran panjang selama 41 hari, terhitung mulai 3 Maret hingga 13 April mendatang.
Antonius menjelaskan, kapal membawa total 145 personel pilihan. “Komposisinya terdiri atas 138 anak buah kapal (ABK), satu dokter, perwira intelijen, serta personel penerangan,” ujar Antonius saat dikonfirmasi Indonesia Defense Magazine.
TNI AL juga menyertakan unit tempur khusus untuk memperkuat daya gedor dan keahlian taktis di Australia. Antonius menyebut Satgas Kakadu 2026 ini membawa dua personel Kopaska yang merupakan pasukan elite spesialis sabotase bawah air, serta dua personel penyelam untuk melakoni simulasi tempur tingkat tinggi.
Ajang Bergengsi Sejak 1993
Latihan Kakadu merupakan ajang dua tahunan bergengsi yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut Australia. Tahun ini menandai penyelenggaraan ke-17 sejak Kakadu pertama kali digelar pada 1993 silam.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang rutin berpartisipasi sejak awal gelaran ini untuk memperkuat diplomasi pertahanan di kawasan Asia-Pasifik. Tahun ini, sebanyak 20 negara mengirimkan unsur terbaiknya untuk menguji profesionalisme prajurit di laut.
Antonius mengungkapkan, skala latihan tahun ini sangat masif karena melibatkan puluhan armada tempur dunia. Angkatan Laut Australia mengerahkan 15 kapal perang, dari total 34 kapal perang yang ikut berpartisipasi. Armada besar ini terdiri atas 33 kapal permukaan dan satu unit kapal selam yang siap beradu taktik di perairan Darwin.
Adu Taktik Tempur Udara hingga Meriam
Para prajurit TNI AL akan menjajal berbagai materi latihan berat yang terbagi dalam fase pelabuhan dan fase laut. Antonius menceritakan, prajurit akan melakoni latihan menembak sasaran di laut menggunakan meriam kapal atau Gunnery Exercise (Gunnex).
Selain itu, KRI RE Martadinata-331 akan mengasah taktik strategi laut lewat Admiralty Exercise (Adex) dan latihan koordinasi tempur dengan pesawat udara atau Combat Air Support (CAS). Prajurit juga melatih kemampuan operasional di perairan terbuka yang jauh dari daratan melalui Surface Exercise Over The Horizon (Surfex OTH).
Antonius menambahkan, prajurit melatih reaksi cepat dalam proses pengiriman logistik atau isi bensin antarkapal saat tetap berlayar dalam latihan Replenishment at Sea (RAS). Tak ketinggalan, satgas bakal melakoni koordinasi lintas unit antarkapal negara yang berbeda melalui Cross Deck, serta latihan teknik pengambilan foto taktis militer.
Alit Jaya menambahkan, keterlibatan KRI RE Martadinata-331 bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas. Istilah ini merujuk pada kemampuan berbagai angkatan laut dunia untuk bekerja sama secara kompak menggunakan standar operasional internasional demi menjaga stabilitas keamanan kawasan. (at)
Pesawat F-16AM TS-1608 selesai jalani modernisasi Falcon STAR eMLU program (Dispenau)
TNI Angkatan Udara (TNI AU) kembali berhasil merampungkan proses modernisasi pesawat tempur F-16 AM dengan nomor registrasi TS-1608 melalui program Falcon STAR (Structural Augmentation Roadmap) dan eMLU (Enhanced Mid-Life Update).
Penerangan Grup 3 Tempur melalui unggahan instagram @grup_3_tempur_koopsau, yang dikutip Selasa (3/3) menjelaskan, keberhasilan program STAR e-MLU sejalan dengan salah satu program prioritas TNI AU dalam modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpahankam).
Program tersebut berlangsung di Skadron Teknik (Skatek) 042 Lanud Iswahjudi, Magetan. Sebelum diserahkan kepada Skadron Udara 3, sebagai skadron udara operasional, pesawat tersebut terlebih dahulu menjalani uji terbang.
Pesawat kemudian diserahterimakan oleh Komandan Grup 3 Tempur Marsma TNI David Yohan dalam acara bertajuk ‘Final Aircraft Delivery Falcon STAR e-MLU Program’ di hanggar Skatek 042, Senin (2/3).
Dalam sambutannya, Komandan Grup 3 mengapresiasi kerja keras serta profesionalisme personel yang terlibat dalam program ini sehingga proses modernisasi F-16 AM TS-1608 dapat berjalan dengan baik dan selesai tepat waktu.
“Serah terima TS-1608 diharapkan dapat meningkatkan kemampuan serta kesiapsiagaan Skadron Udara 3 dalam menjaga kedaulatan udara nasional, dengan tetap mengedepankan prosedur dan keselamatan penerbangan,” tegas Marsma TNI David.
Program Falcon STAR e-MLU
Program ini merupakan salah satu upaya TNI Angkatan Udara untuk meningkatkan kapabilitas pesawat tempur. Melansir laman tni-au.mil.id, STAR e-mLU dapat memperpanjang usia pakai (service life) pesawat hingga mencapai 8.000 jam terbang dengan adanya penguatan pada struktur pesawat.
Keuntungan lainnya dari program ini adalah meningkatnya kemampuan avionik serta persenjataan pesawat tempur F-16.
Seperti contoh, meningkatnya kemampuan Beyond Visual Range dan Within Visual Range dengan advanced weapon yang otomatis. Hal-hal tersebut kemudian dapat berpengaruh pada meningkatnya combat effectiveness sebuah pesawat.
Secara umum, program ini menargetkan 10 pesawat F-16 Fighting Falcon untuk dimodernisasi dan telah berlangsung sejak tahun 2017. (yas)
🛩 ⦻ Efektif kuras rudal mahal
Drone kamikaze Iran (Ist)
Drone kamikaze Shahed-136 Iran kembali menjadi sorotan, setelah digunakan dalam serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Teluk Arab akhir pekan lalu.
Setelah terbukti efektif dan relatif murah di medan perang Ukraina, drone tersebut kini dilepaskan ke sejumlah negara Teluk, menimbulkan kerusakan signifikan di tengah eskalasi konflik yang oleh AS dinamai Operasi Epic Fury.
Video terverifikasi New York Times pada Sabtu (28/2/2026) menunjukkan Shahed-136 menghantam bangunan di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Rekaman dari Manama, ibu kota Bahrain, memperlihatkan drone berbentuk segitiga itu menabrak sisi gedung apartemen bertingkat tinggi hingga memicu kebakaran, membuat puing-puing berhamburan.
Suara dengungan khas mesin drone terdengar jelas sebelum benturan terjadi.
Drone murah kuras rudal mahal
Spesifikasi drone Shahed-136 buatan Iran yang dipaparkan Badan Distribusi Informasi Visual Pertahanan (DVIDS) Amerika Serikat, dari puing-puing yang diambil Angkatan Laut AS pada 16 November 2022.(DVIDS via AFP)
New York Times melaporkan, Shahed-136 merupakan bagian dari keluarga drone Shahed yang dalam bahasa Persia berarti “saksi”.
Drone ini dirancang sebagai kendaraan udara tak berawak berbiaya rendah, yang dapat berfungsi seperti rudal berpemandu karena terbang menuju target yang telah ditentukan.
Pengembangannya dilakukan oleh perusahaan yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), cabang militer ideologis yang melindungi sistem pemerintahan Iran.
Iran memproduksi Shahed-136 setidaknya sejak 2021 dan pernah menggunakannya di Irak sebelum konflik terbaru.
Drone serang satu arah ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan rudal tradisional, terutama dari sisi biaya.
Satu unit Shahed-136 dapat diproduksi dengan biaya "hanya" 35.000 dollar AS (Rp 590 juta) dan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer.
Sebaliknya, biaya untuk mencegat satu drone oleh militer Amerika bisa mencapai antara 500.000 dollar AS (Rp 8,4 miliar) hingga 4 juta dollar AS (Rp 67,4 miliar).
Seth Frantzman, ahli perang drone, menilai efektivitas Shahed tidak terletak pada kecanggihannya, melainkan pada kombinasi harga murah dan kemampuan diproduksi massal.
“Mereka memberi Iran sistem senjata murah sekelas angkatan udara,” kata Frantzman, penulis buku Drone Wars: Pioneers, Killing Machines, Artificial Intelligence, and the Battle for the Future (2021), dilansir dari Daily Mail, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, meskipun tidak seefektif senjata lain dalam hal presisi atau daya hancur, drone ini kadang mampu menghindari sistem pertahanan udara mahal dan menyebarkan kekacauan.
Contoh penggunaan drone Shahed
Drone Shahed Iran menghantam sistem radar Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain. (ist)
Dalam eskalasi terbaru, Iran meluncurkan serangan ke Israel serta pangkalan AS dan sekutunya di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi.
Dengan menyebarkan serangan di lebih dari lima medan operasi sekaligus dan mempertahankan lebih dari 2.500 drone per hari, Teheran memaksa lawan-lawannya membagi pertahanan.
Setiap pencegat yang digunakan untuk melindungi satu pangkalan tidak dapat dialihkan ke lokasi lain karena jumlahnya terbatas.
Kondisi tersebut memaksa perencana militer menyebarkan sumber daya di ribuan kilometer wilayah, sehingga perlindungan di tiap titik menjadi lebih lemah.
Data intelijen sumber terbuka dan analisis pertahanan memperkirakan, total armada Shahed di semua varian mencapai antara 80.000-100.000 unit.
Produksi yang masih berjalan sekitar 500 unit per bulan memungkinkan Iran, jika mengerahkan kapasitas penuh, meluncurkan gelombang lebih dari 2.500 drone per hari selama sebulan.
Stok rudal pencegat menipis
Perisai udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) saat ditempatkan oleh militer Amerika Serikat di Israel pada 4 Maret 2019. Senjata ini kembali disiapkan dalam ancang-ancang serangan AS ke Iran, Januari 2026. (DVIDS/CORY PAYNE via AFP)
Sejumlah pejabat dan analis Barat memperingatkan, persediaan pencegat akan kesulitan mengimbangi laju tersebut.
Tekanan terhadap stok amunisi sudah terlihat sejak pertempuran pada Juni 2025 yang menguras persediaan secara signifikan.
Selama konflik musim panas lalu, Amerika Serikat menembakkan sekitar 150 pencegat THAAD dalam 12 hari untuk mempertahankan Israel, setara sekitar seperempat dari total persediaannya.
Setiap pencegat THAAD bernilai sekitar 15 juta dollar AS (Rp 253 miliar) dan memerlukan waktu tiga hingga delapan tahun untuk diproduksi ulang.
Saat ini sistem yang sama digunakan di berbagai negara sekaligus karena intensitas serangan Iran terus berlanjut.
Keterbatasan tidak hanya terjadi pada pencegat, tetapi juga pada rudal jelajah Tomahawk (TLAM) yang diluncurkan dari laut, serta senjata yang diluncurkan dari pesawat.
Situasi ini terjadi setelah AS-Israel melancarkan serangan terhadap kepemimpinan serta situs militer Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, penguasa Iran selama 37 tahun.
Iran kemudian membalas dengan rudal dan drone ke berbagai negara Timur Tengah yang menampung pasukan AS.
Ali Larijani, pejabat senior Iran, menulis di media sosial pada Minggu bahwa Iran tidak menyerang negara-negara Arab. Ia menyatakan sasaran Iran adalah pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS.
Rusia juga pakai, AS tiru model Shahed
Drone kamikaze tiruan amerika gagal dan jatuh di Iraq (X)
Di luar kawasan Teluk, Shahed-136 sebelumnya digunakan Rusia untuk menyerang infrastruktur sipil di Ukraina.
Rusia memproduksi versi dalam negeri yang dikenal dengan nama Geran di pabrik terpencil timur negara itu, lalu memodifikasinya selama invasi ke Ukraina.
Akhir tahun lalu, AS mengumumkan pengerahan drone serang satu arah bernama LUCAS, hasil rekayasa balik Shahed oleh perusahaan Arizona, SpectreWorks.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, drone tersebut dikerahkan untuk kali pertama dalam kampanye melawan Iran, tetapi klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen.
Presiden AS Donald Trump baru saja mengatakan bahwa perang dapat berlanjut hingga empat minggu ke depan.
Jika konflik berkepanjangan, persediaan pencegat dan amunisi mahal AS berpotensi menjadi persoalan serius di tengah gelombang serangan drone murah Iran yang terus berlanjut.
Rudal Seijil Iran, Pihak Barat ingin menghancurkannya (Ist)
Pengamat pertahanan dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi menilai Indonesia tidak membutuhkan pengembangan rudal balistik antarbenua atau ICBM di tengah eskalasi konflik global saat ini.
Menurut Fahmi, TNI AU saat ini sangat mendesak untuk memiliki skadron pesawat peringatan dini udara atau airborne early warning and control (AEW&C).
"Pesawat ini ibarat radar terbang yang mampu mendeteksi pergerakan pesawat siluman, rudal jelajah, dan kapal musuh dari jarak yang tidak bisa dijangkau oleh radar darat (GCI) kita, memberikan situational awareness dan waktu reaksi yang krusial bagi satuan tempur," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Khairul merespons pernyataan Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) perihal pentingnya memperkuat pertahanan udara untuk menjaga wilayah Indonesia dari serangan negara asing.
ICBM, tutur dia, tidak cocok dengan doktrin militerisme di Indonesia yang mengutamakan pertahanan aktif atau defensif yang tidak mempunyai ambisi ekspansionis ke benua lain.
"ICBM, dengan jangkauan ribuan kilometer, pada hakikatnya adalah senjata proyeksi kekuatan (power projection) ofensif yang biasanya didesain untuk membawa hulu ledak nuklir dengan tujuan strategic deterrence berskala global. Pengembangan ICBM sangat bertentangan dengan doktrin pertahanan aktif-defensif Indonesia yang tidak memiliki ambisi ekspansionis ke benua lain," ucapnya.
Rudal Supersonik
Rudal hipersonik Fattah milik Iran. Sulit Dideteksi Iron Dome, Rudal Hipersonik Iran Punya Kecepatan 16.000 Km per Jam! (Al Mayadeen)
Alih-alih membuang anggaran riset yang masif untuk ICBM, ujar dia, Indonesia jauh lebih membutuhkan pengembangan dan akuisisi rudal jelajah antikapal atau antiship cruise missiles (ASCM) berkecepatan supersonik serta rudal balistik jarak pendek hingga menengah (SRBM/MRBM) yang sangat presisi.
Fahmi menegaskan TNI AU juga perlu menguatkan kapasitasnya pada kepemilikan pesawat peringatan dini udara yang sangat diperlukan sesuai kebutuhan menghadapi kondisi geopolitik.
“Penguatan TNI AU tidak bisa direduksi sekadar pada kuantitas pembelian jet tempur generasi terbaru. Pesawat tempur secanggih apa pun akan buta dan tuli tanpa ekosistem pendukung yang terintegrasi. Fokus utama yang perlu dikejar saat ini adalah membangun arsitektur Network-Centric Warfare (NCW) dan kapabilitas Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) yang mumpuni,” ucapnya.
Selain itu, Fahmi menyebutkan sistem pertahanan Indonesia dapat diperkuat dengan memperbanyak sistem pertahanan udara berbasis darat (Arhanud), yakni baterai rudal surface-to-air missile (SAM) jarak menengah, dan ditempatkan pada titik-titik objek vital nasional secara berlapis.