🛩 Di wilayah Kodau III
Lanud Manuhua menjadi base operasi UCAV CH-4 (Dispenau)
Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara III (Pangkodau III) Marsda TNI Dr. Azhar Aditama D., S.Sos., M.M., M.Han., meninjau langsung pembangunan fasilitas pendukung operasional pesawat CH-4 di Lanud Manuhua, Biak, didampingi Komandan Lanud Manuhua Marsma TNI Rohmat Kusmayadi, S.Sos., M.Soc.Sc.
Pembangunan yang telah dimulai sejak September 2025 ini mencakup sejumlah fasilitas, di antaranya landasan pacu (runway) sepanjang 2 KM dengan lebar 30 meter, hanggar, serta menara pengawas lalu lintas udara (tower). Seluruh fasilitas tersebut dipersiapkan untuk menunjang kebutuhan operasional pesawat CH-4, baik dalam aktivitas penerbangan maupun penempatan dan pemeliharaan pesawat.
Dalam peninjauan ini, Pangkodau III melihat secara langsung perkembangan pembangunan serta kondisi fasilitas yang tengah dikerjakan. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan dan mampu mendukung kesiapan infrastruktur dalam rencana pengoperasian pesawat CH-4 di wilayah Kodau III.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Asisten Logistik (Aslog) Kaskodau III Kolonel Tek Yekti Sulistyo N., S.T., Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Kaskodau III Kolonel Lek Febri Eko Hadi P., S.E., serta Komandan Detasemen Markas (Dandenma) Kodau III Mayor Kal Febri Saputro, S.S.T.Han.
Proyek Elang Hitam membawahi eks-BPPT dan LAPAN.
👷
KRI BPD 322 kapal fregat pertama produksi PAL bersama LPD pesanan Filipina (Ist)
Semboyan sekaligus doktrin TNI Angkatan Laut, yakni Jalesveva Jayamahe, yang berarti ’di laut kita jaya’, sejalan dengan tekad industri pertahanan nasional di sektor kelautan.
Ambisi menguasai laut Nusantara lewat produksi kapal niaga, kapal perang, kapal selam, hingga perawatan kapal induk coba diwujudkan lewat PT PAL Indonesia (Persero), badan usaha milik negara yang bergerak di industri pertahanan laut.
Bermula dari galangan kapal Marine Establishment yang didirikan pemerintah Hindia Belanda pada 1939, perusahaan ini bertransformasi menjadi PT PAL sejak tahun 1980. Selama 46 tahun terakhir, PT PAL menjalankan dua hal strategis dalam industri pertahanan laut, yakni membangun kapal perang dan kapal selam untuk TNI AL. Selain itu, produk strategis untuk menghadapi ancaman pertahanan laut di masa depan.
Direktur Utama PAL Kaharuddin Djenod berpandangan, karakter ancaman di laut mengalami perubahan. Negara tidak lagi hanya menghadapi perang konvensional dengan kapal perang besar, tetapi ada ancaman asimetris yang menuntut pengawasan lebih luas, respons lebih cepat, dan teknologi yang mudah disesuaikan. Untuk itu, industri pertahanan harus bisa memenuhi pesanan yang ada dan membaca kebutuhan yang belum muncul.
PAL menerjemahkan dua hal strategis itu menjadi sejumlah produk baru. Produk itu meliputi kapal selam otonom (KSOT), torpedo Piranha, Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze, dan kapal serbu sangat ringan (KSSR). USV Kamikaze sudah tampil dalam Latihan Gabungan TNI Dabo Singkep 2026. KSOT telah menjalani pengujian. Proyek kapal selam, bahkan yang terkini dengan Perancis, diteruskan.
Penamaan dan Peluncuran Fregat Merah Putih I sebagai KRI Balaputradewa-322 di graving dock Orca PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/12/2025) malam. Balaputradewa merupakan Fregat berkarakter destroyer perdana buatan dalam negeri yang memperkuat industri pertahanan nasional dan memperkuat postur TNI Angkatan Laut.
Pendekatan dengan terobosan melalui produk baru, lanjut Djenod, cocok dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Pertahanan laut disesuaikan dengan kondisi geografis, karakter ancaman, dan kemampuan yang ingin diwujudkan. Artinya, tidak semua kebutuhan diwujudkan dengan produk besar dan kompleks.
”Dalam kondisi tertentu, alternatif yang lebih fleksibel, termasuk platform nirawak, justru lebih tepat untuk melengkapi armada TNI AL,” ujar Djenod dalam wawancara tertulis, Jumat (30/10/2026).
Tak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, kapal yang diproduksi PT PAL juga bisa menembus pasar dunia. Saat ini PT PAL sedang mengerjakan dua kapal pesanan Filipina dan satu kapal pesanan Uni Emirat Arab. Sebelumnya, PT PAL sudah memenuhi pesanan dua kapal perang bagi Filipina.
Sejauh ini PT PAL mampu membangun beragam kapal strategis. Namun, diakui Djenod, keberlanjutan PT PAL memerlukan kemauan politik pemerintah secara konsisten. Misalnya, memastikan kebutuhan armada pertahanan nasional diutamakan dipenuhi industri domestik sepanjang kapabilitas, kualitas, dan persyaratan operasional terpenuhi.
”Kepastian pesanan menjadi sangat penting karena industri galangan kapal membutuhkan investasi besar dan waktu pengerjaan yang panjang. Dukungan juga tidak cukup hanya melalui kebijakan industri dan anggaran pengadaan, tetapi perlu diperkuat dengan akses pembiayaan perbankan yang sesuai dengan karakter industri maritim,” kata Djenod.
👷 Kompas
Penerbal Kerahkan 5 Helikopter
5 Helikopter TNI AL mengikuti latihan di atas deck KRI Sriwijaya-100, Senin (2/11/2026) (Ho-Humas TNI AL)
TNI AL menggelar latihan pengoperasian helikopter di atas kapal induk pertama Indonesia, KRI Siriwjaya-100 pada Senin (2/11).
Dalam siaran pers resmi TNI AL yang diterima di Jakarta, Selasa, dijelaskan kegiatan itu digelar untuk mempertajam kemampuan penerbang TNI AL dalam menerbangkan dan mendaratkan helikopter dari deck kapal induk.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menjelaskan ada lima jenis helikopter yang terlibat dalam latihan ini.
"Latihan ini melibatkan lima unit helikopter, yang terdiri dari tiga helikopter AS565 MBe Panther dari Skuadron Udara 100 serta dua helikopter Bell 412 dari Skuadron Udara 400 Wing Udara 2," kata Tunggul.
Tunggul melanjutkan, ke lima helikopter itu tidak hanya dipakai untuk latihan take of dan landing saja tetapi juga dikerahkan untuk menjalani simulasi penanggulangan bencana dari kapal induk.
Seluruh rangkaian latihan, lanjut dia, berjalan dengan aman dan lancar. Dengan adanya kegiatan ini, Tunggul berharap kemampuan para penerbang TNI AL dalam melakukan operasi dari kapal induk semakin terasah.
⚓️ Untuk Modernisasi Dua Kapal Bung Tomo class
FCEO SeaEagle (Chess Dynamics)
Perusahaan pertahanan asal Inggris, Chess Dynamics, memperoleh kontrak tambahan senilai sekitar 3 juta poundsterling atau sekitar Rp 72 miliar dari PT Len Industri (Persero).
PT Len Industri adalah BUMN pertahanan dan elektronika Indonesia.
Kontrak ini untuk penyediaan sistem Fire Control Electro-Optical (FCEO) SeaEagle bagi dua kapal fregat ringan multiperan (MRLF) kelas Bung Tomo milik TNI Angkatan Laut.
Chess Dynamics, bagian dari Cohort Group, mengumumkan kontrak itu pada Rabu, 28 Oktober 2026, dari Horsham, Inggris.
Pesanan terbaru ini melanjutkan program kerja sama yang dimulai lewat pesanan awal untuk kapal pertama kelas Bung Tomo pada 2023.
Kontrak kali ini mencakup kapal kedua dan ketiga, sehingga seluruh tiga kapal yang direncanakan dalam program peningkatan kemampuan ini akan memakai SeaEagle FCEO.
Kapal kelas Bung Tomo mulai beroperasi pada awal 2000-an dan kini menjalani pembaruan untuk memperpanjang usia pakai serta menjaga kemampuan tempurnya.
SeaEagle FCEO akan menggantikan perangkat kendali tembak elektro-optik lama.
Sistem baru ini dirancang terintegrasi dengan meriam laut OTO Melara 76 mm yang sudah terpasang dan terhubung dengan sistem manajemen tempur Thales TACTICOS yang ditingkatkan.
Managing Director Chess Dynamics, Andy Smith, menyebut kontrak lanjutan ini mencerminkan kepercayaan terhadap kinerja perusahaan di Indonesia selama ini.
"Modernisasi angkatan laut tidak selalu soal mengganti seluruh platform,” ujar Smith.
“Ada nilai besar dalam memperpanjang usia kapal yang ada dengan mengintegrasikan teknologi terkini yang sudah teruji.”
Chess Dynamics sebelumnya telah memasang SeaEagle FCEO pada kapal KCR-60 TNI AL, bagian dari sistem tempur yang dikirim dan diintegrasikan oleh Terma.
Perusahaan mengaku telah mendukung program angkatan laut di Asia Tenggara selama lebih dari 15 tahun, termasuk di Thailand dan Malaysia.
Di Australia, Chess bermitra dengan Owen International untuk pemeliharaan, perbaikan, dan peningkatan sistem SeaEagle.
Menurut perusahaan, lebih dari 150 unit SeaEagle FCEO telah dikirim ke seluruh dunia dan digunakan, atau segera digunakan, oleh 12 angkatan laut di empat benua.***
Kedua pihak sepakat riset sistem pendorong berbasis energi bersih
Kesepakatan riset ditandatangani oleh Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, E Hendrian dan Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero) Diana Rosa di Jakarta, Selasa (27/10/2026). (PAL)
PT PAL Indonesia (Persero) memperkuat kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendorong penerapan hasil riset dalam pengembangan teknologi maritim nasional. Kolaborasi itu diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara riset dan kebutuhan industri, termasuk melalui rencana riset sistem pendorong berbasis energi bersih untuk KRI Sriwijaya-100.
Penguatan kerja sama tersebut dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang Riset dan Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi di Bidang Industri Maritim Indonesia. Kesepakatan ditandatangani oleh Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, E Hendrian dan Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero) Diana Rosa di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Diana Rosa menjelaskan, keterlibatan industri menjadi bagian penting dalam mengarahkan hasil riset agar dapat menjawab kebutuhan pengembangan teknologi nasional. "Bagi kami, hasil riset harus diterjemahkan menjadi teknologi yang aplikatif dan menjawab kebutuhan industri," ucap Diana.
Karena itu, sambung dia, pengembangan sistem pendorong KRI Sriwijaya-100 menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan kemampuan riset dengan pengalaman industri. "Kami berharap kerja sama ini menghasilkan teknologi yang memiliki nilai strategis bagi kemandirian industri maritim Indonesia," ujar Diana.
Ruang lingkup kolaborasi diperluas mencakup riset, pengembangan, serta pemanfaatan hasil riset dan inovasi di bidang industri maritim, energi, dan industri proses. Perluasan tersebut memberikan ruang bagi PT PAL dan BRIN untuk mengembangkan kerja sama lintas bidang yang relevan dengan kebutuhan teknologi kapal dan industri pendukungnya.
Salah satu fokus kerja sama adalah riset sistem pendorong berbasis energi bersih yang direncanakan untuk KRI Sriwijaya-100. Riset tersebut menjadi bagian dari upaya menjajaki pengembangan teknologi propulsi dan energi yang lebih maju, dengan mempertemukan kapasitas riset nasional dan pengalaman PT PAL dalam pembangunan serta pengembangan kapal.
Bagi PT PAL, kolaborasi itu memiliki arti strategis dalam memperkuat kemampuan desain, rekayasa, dan integrasi teknologi di dalam negeri. Keterhubungan antara lembaga riset dan industri diharapkan dapat mendorong hasil penelitian menuju pemanfaatan yang sesuai dengan kebutuhan operasional, sekaligus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang terlibat dalam pengembangannya.
"Kesinambungan kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua pihak untuk menjalankan agenda riset dan inovasi secara berkelanjutan," kata Diana. PT PAL pun berharap, BRIN dapat memperkuat kemampuan nasional dalam mengembangkan serta memanfaatkan teknologi strategis, sekaligus mendukung kemandirian industri maritim Indonesia.
Gandeng Naval Group
ITS Garibaldi ketika dikawal 2 Brawijaya class di perairan Indonesia diresmikan sebagai KRI Sriwijaya 100 (Dispenal)
PT PAL Indonesia (Persero) dan Naval Group juga menandatangani MoU menjajaki maintenance, repair, and overhaul (MRO) kapal selam kelas Nagapasa. Penandatanganan berlangsung pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa.
PT PAL memiliki pengalaman dalam pekerjaan overhaul kapal selam, salah satunya pada KRI Cakra-401. Pekerjaan tersebut mencakup penanganan badan tekan, sistem mekanik dan elektrik, sensor, navigasi, hingga sistem persenjataan. Pengalaman ini menjadi fondasi bagi perusahaan untuk terus mengembangkan keahlian rekayasa dan kapasitas fasilitas dalam menangani kompleksitas pemeliharaan kapal selam.
Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero), Diana Rosa menyebut, penguasaan kemampuan MRO kapal selam merupakan bagian penting dari upaya membangun kemandirian industri pertahanan nasional. "Melalui kolaborasi dengan Naval Group, kami berharap dapat memperkuat keahlian teknis dan kompetensi SDM Indonesia," kata Rosa.