Senin, 18 Februari 2019

TNI AU Bakal Siapkan Pesawat Tempur di Kabupaten Berau

Bandara Kalimarau, Kabupaten Berau [indoplaces]

Untuk memperkuat pertahanan di wilayah utara Kalimantan Timur, Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU), berencana menempatkan sejumlah pesawat tempur di Kabupaten Berau.

Hal ini diungkapkan oleh Kolonel Penerbang TNI AU, Irwan Pramuda yang juga menjabat sebagai Komandan Lapangan Udara TNI AU Balikpapan, usai meninjau Bandara Kalimarau, Kabupaten Berau, Jumat (15/2/2019).

Irwan mengatakan, TNI AU memandang perlu untuk menempatkan pesawat tempur, guna menjaga wilayah perbatasan. Terlebih lagi, Kabupaten Berau memang berbatasan dengan Malaysia dan Filipina.

"Ini untuk mengantisipasi ancaman dari wilayah utara. Jadi jika sewaktu-waktu terjadi eskalasi (konflik), kita sudah men-deploy (menempatkan) pesawat tempur kita," kata Irwan kepada Tribunkaltim.co saat ditemui di rumah dinas Bupati Berau.

Bersama para petinggi dari Mabes TNI, Irwan mengatakan, pihaknya telah meninjau Bandara Kalimarau, yang menurutnya cukup layak untuk penempatan pesawat tempur jenis sukhoi dan F-16.

"Kami sudah meninjau bandaranya, parkir (apron)nya, depo BBM (avtur) jugabsudah tersedia, hanya perlu penambahan kecil saja," ungkapnya.

Bahkan menurut Irwan, melihat luasan Bandara Kalimarau, wilayah ini bisa menampung satu skuadron (12 hingga 24) pesawat tempur.

"Tapi kalau untuk operasional (latihan tempur dan patroli), cukup 4 atau 5 pesawat saja," imbuhnya.

Setelah peninjauan ini, pihaknya akan langsung melapor ke Mabes TNI, agar rencana ini bisa segera direalisasikan.

"Kalau lancar, tahun ini mungkin sudah bisa menempatkan pesawat tempur di Berau," tandasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, TNI tampaknya terus memperkuat wilayah perbatasan di Kalimantan Timur. Di Kabupaten Berau sendiri, selain terdapat Komando Distrik Militer, juga ada Yon Armed dan Skadron Helikopter Serbu.

Menanggapi rencana ini, Bupati Berau, Muharram mengatakan, pihaknya akan mendukung rencana TNI ini.

"Karena wilayah kita memang berbatasan dengan Malaysia dan Filipina. Dengan kehadiran TNI Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Angkatan Darat, kita memiliki keamanan berlapis," ujarnya.

Muharram menambahkan, dirinya mendapat informasi, ada sekitar 200 personel TNI AU yang akan ditempatkan di Berau.

"Bandara kita dinilai sudah layak, ada depo avtur dan sebagainya, tinggal membangun barak (asrama TNI) saja, karena informasinya mereka akan menempatkan sekitar 200 personel," tandasnya.

   Tribunnews  

Minggu, 17 Februari 2019

Prajurit TNI AU Latihan Serangan Malam Hari

Setiap prajurit TNI AU digenjot latihan malam hari. Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin merupakan salah satu markas TNI AU yang beberapa hari belakangan melaksanakan latihan tersebut.

Dalam latihan yang dilaksanakan mulai Senin malam (11/2) sampai Kamis malam (14/2) mereka turut mengerahkan pesawat tempur dari Skadron Udara 16 dan Skadron Udara 12. Yakni pesawat F-16 dan Hawk 100/200.

Latihan tersebut dilaksanakan tidak lain guna memastikan kesiapan prajurit TNI AU mengantisipasi berbagai potensi ancaman maupun gangguan yang bisa muncul kapan saja. Termasuk di antaranya saat malam hari.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna menyampaikan bahwa salah satu fokus instansinya tidak lain adalah meningkatkan kemampuan operasi. ”Saya ingin meningkatkan kemampuan untuk operasi malam hari,” terang pria yang akrab dipanggil Yuyu tersebut.

Menurut orang nomor satu di TNI AU itu, ada banyak materi yang perlu dilatihkan untuk meningkatkan kemampuan operasi malam hari.

Di antaranya kemampuan intersepsi pesawat malam hari dan penyerangan malam hari. Dengan memberi atensi lebih terhadap latihan operasi malam hari, Yuyu optimistis kemampuan prajuritnya akan semakin baik.

Sehingga di akhir tahun 2019, di akhir renstra kedua ini, diharapkan kemampuan TNI AU sudah utuh. Baik di malam hari maupun di siang hari,” terang perwira tinggi matra udara dengan empat bintang di pundak tersebut.

Untuk kemampuan operasi siang hari, TNI AU percaya diri seluruh prajurit mereka sudah mampu melaksanakan operasi siang hari dengan baik. Untuk itu, latihan guna meningkatkan kemampuan operasi malam hari diberi atensi lebih.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Novyan Samyoga menyampaikan bahwa latihan tersebut dilaksanakan sesuai dengan arahan KSAU.

Pria yang biasa dipanggil Samyoga itu juga mengungkapkan, latihan operasi malam hari tidak hanya dilaksanakan di Lanud Roesmin Nurjadin. Melainkan turut dilaksanakan di lanud lainnya. ”Di semua pangkalan (udara) yang ada skadron-skadron udara,” terang Samyoga.

Artinya, latihan serupa juga di laksanakan di seluruh lanud yang sudah diperkuat dengan skadron udara. Baik tempur maupun angkut.

Menambahkan keterangan Samyoga, Kasubdispenum TNI AU Letkol Sus M. Yuris menyampaikan bahwa latihan operasi malam hari yang dilaksanakan oleh skadron udara di lanud masing-masing menyesuaikan dengan silabus yang berlaku di masing-masing skadron.

Ada di dalam jadwal latihan tahunan,” terang dia. Sehingga latihan operasi tersebut tidak dilaksanakan sembarang. (syn/)

   JPNN  

Sabtu, 16 Februari 2019

Pindad akan Produksi Roket untuk Sistem Astros II MLRS

➶ Dari BrasilKunjungan delegasi TNI AD ke Avibras, Brasil [TNI AD] ★

Tanggal 12 Februari 2019 lalu Wakil KSAD Letjen TNI Tatang Sulaiman ditemani pejabat terkait lainnya mengunjungi pabrik Avibras di Sao Paulo, Brasil. Ini merupakan kunjungan kedua perwakilan pertahanan dari Indonesia. Sebelumnya di akhir April 2018, KSAD Jenderal TNI Mulyono ditemani Dirut Pindad Abraham Mose lebih dulu berkunjung ke pabrik pembuat sistem artileri medan Astros II tersebut.

Seperti diketahui di kawasan Asia Tenggara, selain Malaysia, Indonesia adalah pengguna sistem peluncur roket multi laras (MLRS) buatan Negeri Samba ini. TNI AD sendiri mulai menerima Astros II pada Agustus 2014. Selanjutnya, dua baterai Astros II dibagikan masing-masing untuk Yonarmed 1/Malang, Jawa Timur dan Yonarmed 10/Bogor, Jawa Barat.

Terkait kunjungan petinggi TNI AD, perwakilan Kementerian Pertahanan RI, dan Pindad ke Avibras ini, diketahui adalah untuk menjalin kerja sama produksi roket untuk sistem Astros II di Tanah Air. Rencananya pabrik munisi Pindad di Turen, Malang ditunjuk untuk memproduksinya. Namun, untuk selongsong (tabung roket) tetap didatangkan dari Brasil.

Melansir dari liputan6.com, di tahun 2019 ini Pindad akan melakukan perakitan roket darat ke darat jarak menengah tersebut. Tak hanya itu, bahkan ke depannya Pindad berencana untuk membuat kendaraan pengangkut roket (transporter) secara mandiri.

Untuk jenis roketnya sendiri, sistem Astros II dapat meluncurkan beragam kaliber. Pertama adalah jenis roket SS-30 kaliber 127 mm sebanyak 32 unit, lalu SS-40 kaliber 180 mm sebanyak 16 unit roket.

Untuk roket berkaliber besar yakni 300 mm tersedia SS-60, SS-80, dan SS-150. Seluruhnya hanya untuk empat tabung saja. Jangkauan tembak roket bervariasi mulai dari jarak 85 km hingga 300 km.

Disebutkan bahwa kebutuhan TNI akan roket untuk sistem Astros II ini cukup besar. Yaitu hingga kisaran angka 3.000 unit, baik roket untuk pertahanan maupun untuk latihan.

Dengan dibuatnya roket ini di Indonesia, Pindad akan mendapatkan transfer teknologi untuk pembuatan persenjataan strategis ini. Sebuah ilmu pengetahuan yang berharga tentunya.

  Angkasa Review  

Jumat, 15 Februari 2019

Indonesia, South Korea Close to Signing Attack Submarine Deal

Indonesian is close to signing a contract for three more Type 209/1400 diesel-electric attack submarines. Indonesia and South Korea are close to signing a follow-up order for three Type 209/1400 Chang Bogo-class diesel-electric attack submarines (SSK), for the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut), according to media reports.

A final agreement for the three boats, to be built by South Korean defense contractor Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) with cooperation from Indonesian state-owned shipbuilder PT PAL, is expected to be signed in the coming months. According to IHS Jane’s, the contract is estimated to be worth around $ 1.2 billion. Indonesia is reportedly still considering other options.

Industry sources, who have been updating Jane’s on the progress of these negotiations since early January 2019, said that if all goes well a formal contract for the boats may even materialize by the end of February or early March,” IHS Jane’s writes on February 14. “However, there are several decisions yet to be made, and these mainly pertain to workshare arrangements that can be undertaken for each vessel, the sources confirmed.

The Type 209/1400 Chang Bogo-class SSK is a license-built variant of the German Type 209 submarine produced by DSME. The 1,400-ton SSK class has an operational range of around 11,000 nautical miles and has an endurance of about 50 days. The sub is a multipurpose platform capable of conducting anti-surface warfare, anti-submarine warfare, and special forces missions. The SSK can be armed with heavyweight torpedoes, anti-ship missiles, and mines.

Indonesia and South Korea concluded a $ 1.1 billion contract for three Type 209/1400 Chang Bogo-class (Nagapasa-class) SSKs in December 2011 as part of the Indonesian Ministry of Defense’s 2024 Defense Strategic Plan, which calls for the procurement of at least 10 new submarines for the Indonesian Navy. The new SSK class is expected to serve in Indonesia’s Navy for at least 30 years.

The first-of-class SSK, KRI Nagapasa, was commissioned in August 2017 in South Korea and is now homeported at the Palu Naval Base in the Watusampu province of Central Sulawesi. The second SSK of the class has also already been delivered to the Navy, while the third is still under construction at a PT PAL shipyard in Surabaya, Indonesia’s second-largest city, located on the northeastern coast of Java island, under a PT PAL-DSME technology transfer agreement.

As my colleague Prashanth Parameswaran pointed out, even with the three additional SSKs the Indonesian Navy would still be under-equipped to fulfill its mission and police Indonesian territorial waters. According to Indonesian defense officials, the Navy needs at least 12 modern boats to do so. Notably, the last time the Indonesian Navy received new submarines was in the 1980s with the delivery of three German Type 209/1300 (Cakra–class) diesel-electric attack submarines.

  ✈️ The Diplomat  

Kamis, 14 Februari 2019

Alasan Pembelian Pesawat Tempur Su-35 Tak Berjalan Lancar

✈️ Ilustrasi SU35 Rusia [defensenews]

Realisasi pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35 terancam terlambat lantaran daftar komoditas imbal beli yang diajukan Indonesia belum kunjung disetujui oleh Rusia.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, saat ini Kemendag telah menyampaikan daftar komoditas imbal beli Sukhoi SU-35 dari RI kepada Rusia.

Dia menyebutkan, setidaknya ada 16 komoditas yang diajukan sebagai komoditas ‘barter’ dengan Rusia, di antaranya berupa minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dan produk turunannya, karet, biskuit, dan kopi.

Kami sudah ajukan daftar komoditas dan draf tata kerja kelompok kepada pihak Rusia. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian dari Rusia apakah mereka menerima komoditas yang kita ajukan apa tidak?” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (13/2/2019).

Oke melanjutkan, dalam kerja sama dagang tersebut, Rusia diwajibkan untuk membeli komoditas asal Indonesia sebesar 50% dari nilai pembelian Sukhoi tersebut. Dia mengatakan, total nilai pembelian untuk 11 unit alat tempur tersebut sejumlah US$ 1,14 miliar di mana kontribusi dari imbal beli mencapai US$ 570 juta.

Menurutnya, selama ini Pemerintah RI terus menunggu kesediaan dari Rusia terkait dengan komoditas yang ditawarkan itu. Dia mengklaim, komoditas yang diajukan oleh Indonesia telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar di Rusia.

Adapun, pada tahun lalu, Indonesia sempat mengajukan 20 komoditas yang akan dipertukarkan dengan Rusia. Namun, beberapa komoditas yang diajukan ditolak oleh Rusia lantaran telah diproduksi oleh Rusia. Dia menyebutkan, salah satu komoditas yang diajukan Indonesia tetapi ditolak oleh Rusia adalah seragam militer.

 SUDAH EFEKTIF 

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Pertahanan Totok Sugiharto mengatakan, kontrak pembelian seharusnya sudah efektif pada Agustus 2018, sehingga dua dari 11 pesawat yang dipesan pemerintah bisa masuk Indonesia pada tahun ini.

Namun, lanjutnya, dengan masih terjadinya proses pembahasan mengenai komoditas yang dijadikan imbal dagang antara Indonesia dengan Rusia, target tersebut terancam molor.

Urusan mengenai spesifikasi pesawat sudah selesai di kami. Kalau di Kementerian Perdagangan (Kemendag) sampai saat ini masih tertahan dalam hal kesepakatan komoditas yang dijadikan imbal beli, maka besar kemungkinan Sukhoi yang kami pesan terlambat datang,” jelasnya, Rabu (13/ 2).

Dia mengatakan, proses pembelian Sukhoi masih cukup panjang. Menurut dia apabila kesepakatan kesepakatan mengenai komoditas imbal beli antara Rusia dan Kemendag RI telah terjadi, proses selanjutnya adalah penetapan transaksi antarnegara oleh Kementerian Keuangan RI.

Adapun, apabila transaksi kedua negara berjalan lancar, pesawat tempur dengan spesifikasi persenjataan lengkap (full combat) tersebut akan datang secara bertahap, yakni kloter pertama dua pesawat, lalu kloter kedua empat pesawat dan kloter ketiga lima pesawat.

Pengiriman kloter pertama itu, ditargetkan dapat dilakukan pada Agustus 2019 atau sebelum hari ulang tahun Tentaran Negara Indonesia (TNI) pada 5 Oktober.

Untuk itu saat ini kami sedang menunggu perkembangan terbaru dari Kemendag. Kami harapkan segera selesai proses transaksinya supaya pesawat baru itu bisa segera kami gunakan untuk meremajakan armada kami yang lama,” jelasnya.

Dia menambahkan, kesepakatan awap pembelian 11 Sukhoi dengan skema imbal beli itu ditanda tangani ole kedua negara pada Februari 2018 lalu.

Hal itu tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rusia yakni Rostec dengan BUMN Indonesia PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).

Terpisah, pengamat militer Al Araf mengatakan, keterlambatan tersebut seharusnya tidak terjadi jika sejak awal perjanjian kerja sama dagang kedua negara telah disiapkan secara detil. Dia mengatakan, Indonesia terlihat tidak siap ketika menyiapkan komoditas yang dijadikan imbal beli.

Kalau sejak awal sudah siap, transaksi bisa berjalan cepat. Kami paham, imbal beli ini bentuk transaksi yang pertama kali dilakukan Indonesia, tetapi seharusnya disiapkan secara matang terlebih dahulu,” jelasnya.

Dia mengatakan, keterlambatan itu akan menghambat proses peremajaan peralatan tempur udara Indonesia. Padahal, sedianya, Sukhoi SU-35 tersebut dijadikan pengganti bagi pesawat pendahulunya dengan fungsi hampir serupa yakni F-5 Tiger.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono mengatakan, niat awal dari transaksi berbentuk imbal beli tersebut cukup baik. Pasalnya, skema tersebut akan menguntungkan bagi kedua negara.

Bagi kita skema ini akan membantu Indonesia membuka pasar ekspor ke Rusia dengan lebih mudah. Paling tidak, kesepakatan ini bisa menjadi awal bagi Indonesia mempersempit defisit neraca perdagangan dengan Rusia,” ujarnya.

Hanya saja, dia berharap perdagangan kedua negara tidak hanya berhenti pada transaksi Sukhoi SU-35 tersebut. Sebab, menurut dia, Rusia adalah pasar potensial RI yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

  ✈️ Bisnis  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...