SCYTALYS menandatangani MoU dengan PT Dirgantara Indonesia untuk mengintegrasikan sistem MIMS Airborne miliknya ke dalam pesawat N219 dan CN-235, meningkatkan kemampuan pengawasan maritim dan memperluas peluang di pasar Asia-Pasifik (Scytalys))
SCYTALYS (bagian dari EFA GROUP) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), menandai langkah strategis penting untuk memperkuat kehadiran kedua perusahaan di sektor Pesawat Patroli Maritim. Kerja sama ini berkaitan dengan integrasi sistem SCYTALYS ke dalam varian pengawasan maritim pesawat N219 dan CN-235 milik PTDI.
Perjanjian tersebut mencakup integrasi Sistem Manajemen dan Integrasi Misi Udara (MIMS Airborne) SCYTALYS ke dalam pesawat N219 dan CN-235 PTDI, meningkatkan kemampuan pengawasan dan patroli maritim kedua platform tersebut dan membuka prospek baru di pasar Asia-Pasifik. Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani oleh Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, Bapak Moh Arif Faisal, dan Presiden SCYTALYS, Bapak Dimitris Karantzavelos, selama Singapore Airshow 2026.
MIMS Airborne adalah sistem C2 modular canggih yang berbasis pada desain arsitektur terbuka. Sistem ini mengintegrasikan dan mengelola secara real-time berbagai sensor dan subsistem penting termasuk radar, EO/IR, ESM/ELINT, navigasi penerbangan, dan komunikasi taktis/strategis menghasilkan Gambaran Operasional Bersama (Common Operational Picture/COP) yang terintegrasi. Dengan mengintegrasikan MIMS Airborne, N219 dan CN-235 menjadi node C4ISR yang sepenuhnya berpusat pada jaringan, sehingga secara signifikan meningkatkan efektivitas operasionalnya.
Moh Arif Faisal, Direktur Perdagangan, Teknologi & Pengembangan PTDI, menyatakan: “Kerja sama ini akan meningkatkan kemampuan operasional pesawat N219 dan CN-235 dan akan menciptakan peluang baru bagi produk unggulan PTDI melalui solusi misi khusus yang kompetitif yang memenuhi persyaratan operasional pengguna.”
Bapak Dimitris Karantzavelos, Presiden SCYTALYS, menyatakan: “Penandatanganan MoU dengan PTDI menandai langkah penting menuju penguatan lebih lanjut kehadiran internasional SCYTALYS dan memajukan solusi misi inovatif. Integrasi sistem MIMS Airborne ke dalam pesawat N219 dan CN-235 menegaskan keunggulan teknologi kami dan kemampuan kami untuk memberikan solusi misi khusus yang andal, interoperabel, dan sesuai kebutuhan. Kerja sama kami dengan PTDI membuka prospek baru bagi ekspansi SCYTALYS di pasar Asia-Pasifik, dan kami berharap dapat melanjutkan kemitraan yang dinamis dan sangat menjanjikan ini.”
Tentang SCYTALYS
SCYTALYS adalah perusahaan pengembangan dan integrasi perangkat lunak pertahanan terkemuka, yang didirikan pada tahun 1993 di Yunani, yang mengkhususkan diri dalam desain, pengembangan, instalasi, dan pengujian. Perusahaan ini mempekerjakan 110 staf, sebagian besar adalah insinyur yang sangat terampil. Perusahaan ini memiliki kantor di tiga lokasi internasional (Yunani, AS, Singapura) untuk melayani pelanggan di 14 negara di seluruh dunia. SCYTALYS memiliki pengalaman luas dalam program domestik yang mendukung Angkatan Bersenjata Yunani, dan melalui sejarah panjangnya dalam inovasi teknik, keandalan, efisiensi, dan kualitas layanan, perusahaan ini telah menjadi mitra pilihan perusahaan dan organisasi multinasional di sektor Dirgantara, Pertahanan, dan Keamanan, yang menyediakan solusi interoperabilitas canggih. Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir yang telah teruji di lapangan, perusahaan ini merancang dan mengembangkan solusi dan produk canggih di bidang Tautan Data Taktis, Sistem Komando & Kontrol Misi dan Taktis, Sistem C4I, Pelatihan, Pengujian dan Simulasi, Pengawasan, dan Pengintaia.
🛰 Menjaga Langit Indonesia
(Dispenau)
Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Tonny Harjono mengatakan pihaknya sedang mengejar target membangun 30 satuan radar (satrad) di seluruh Indonesia.
Pembangunan satrad itu sampai saat ini masih terus berjalan dan ditargetkan dapat berfungsi secara maksimal pada 2029.
Tonny menjelaskan bahwa keberadaan satrad itu sangat diperlukan untuk memantau aktivitas udara Indonesia.
Menurut dia, dengan adanya satrad tersebut, TNI AU dapat mengantisipasi adanya pergerakan pesawat asing yang masuk ke wilayah udara Indonesia.
Hingga saat ini, TNI AU sudah memiliki 20 satrad yang tersebar di Indonesia. Namun demikian, sebagian dari satrad tersebut harus diganti karena sudah usang.
"Kita akan mendapatkan 25 radar baru karena kita ketahui bahwa radar yang kami miliki saat ini ada 20 satrad sudah usang tetapi masih berfungsi dengan baik," ujar Tonny.
Satrad baru itu akan ditempatkan lokasi yang dinilai sebagai titik buta atau blind spot wilayah udara Indonesia. Dengan adanya bantuan satrad tersebut, Tonny meyakini pertahanan udara Indonesia akan semakin kuat.
✈️ TNI AU menunggu keputusan Kemhan
Pesawat A 400M A-4002 TNI AU (Fanz Fighters)
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono mengatakan TNI AU menunggu keputusan Kementerian Pertahanan (Kemhan) soal rencana menambah empat unit pesawat angkut A400M.
"Sebagai pengguna kekuatannya adalah Panglima TNI. Jadi saya siapkan, Panglima yang menggunakan," kata Tonny saat jumpa pers usai upacara perayaan HUT Ke-80 TNI AU di Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.
Menurut Tonny, pihaknya hanya bertugas sebagai pengguna atau operator dari setiap alat utama sistem senjata yang dibeli Kemhan.
Tidak hanya sebagai pengguna, TNI AU juga memegang peran dalam perawatan, pembinaan dan pembangunan infrastruktur pendukung alutsista.
Selain itu, TNI AU juga bertugas untuk memastikan awak pengguna alutsista mendapat pelatihan yang layak dan berkualitas.
Untuk itu, dia kembali menegaskan bahwa TNI AU siap jika Kemhan akan mendatangkan empat pesawat A400M.
"Jadi, pengembangan pesawat A400M, kami menunggu dari Kemhan sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami, tetapi Angkatan Udara bersiap," ucap Tonny.
Untuk diketahui, TNI AU pada 2026 ini sudah memiliki dua unit A400M baru buatan Airbus. Pemerintah pun berencana menambah pesawat A400M untuk mendukung operasi militer dan nonmiliter yang dilakukan TNI AU.
"Kita sudah aktif (kontrak pembelian pesawat A400M) dua unit. Kita sudah ada opsi empat unit. Kita mungkin negosiasi untuk kita tanda tangan (pembelian) empat unit lagi.
Sementara itu," kata Presiden Prabowo Subianto saat menerima unit pertama A400M di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada November 2025 lalu.
Namun demikian, hingga saat ini pihak Kemhan belum mengeluarkan pernyataan resmi soal tambahan pembelian pesawat angkut A400M tersebut.
👹 Kemlu panggil dubes israel
Ilustrasi Kendaraan UNIFIL Italia (Ist) 🛡
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Italia memanggil duta besar Israel, Rabu (8/4), setelah insiden di Lebanon yang mengakibatkan kendaraan Italia untuk penjaga perdamaian Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) rusak akibat tembakan peringatan dari Israel.
Menteri Luar Negeri Antonio Tajani, dalam sebuah unggahan di platform X, mengatakan bahwa dia baru saja menginstruksikan duta besar Israel untuk Italia untuk dipanggil ke Kemlu Italia guna mengklarifikasi apa yang terjadi di Lebanon.
Tajani juga menekankan bahwa militer Italia tetap tidak akan "tersentuh".
Langkah itu diambil setelah Menlu Tajani mengatakan kepada parlemen Italia bahwa konvoi pasukan UNIFIL Italia terkena tembakan selama terjadinya peningkatan ketegangan.
"Tembakan peringatan Israel merusak salah satu kendaraan kami. Untungnya, tidak ada korban luka yang dilaporkan, tetapi konvoi itu (UNIFIL Italia) harus kembali," kata Tajani seperti dilaporkan Kantor Berita ANSA.
Semula, kata Tajani, konvoi tersebut membawa personel ke Beirut untuk repatriasi.
Dia juga memperingatkan tentang intensifikasi operasi Israel, dengan mengatakan bahwa telah terjadi pemboman Israel terdahsyat sejak dimulainya kembali perang dan 150 pesawat dilaporkan terlibat di seluruh Lebanon.
⚓️ Akan Dikirim ke Mabes TNI AL
Nelayan temukan drone bawah laut di perairan Gili Trawangan (Republika)
Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Mataram akan mengirim benda asing berbentuk silinder yang disebut mirip torpedo ke Markas Besar TNI AL di Jakarta. Benda seberat sekitar dua ton itu ditemukan di kawasan wisata Gili Trawangan.
Komandan Lanal Mataram Letnan Kolonel Laut Asep Tri Wibowo mengatakan, pengiriman dilakukan untuk kepentingan penelitian lebih lanjut. “Benda ini akan dibawa ke Jakarta untuk diteliti guna mengetahui asal-usul dan fungsinya,” kata dia, Rabu 8 April 2026.
Benda tersebut ditemukan nelayan pada Selasa 6 April 2026, sekitar 10 mil laut dari Gili Trawangan. Setelah dilaporkan ke petugas, benda itu dievakuasi ke darat dan diamankan di Lanal Mataram dengan pengawasan ketat.
Menurut Asep, secara kasat mata bentuk benda itu menyerupai torpedo, namun belum dapat dipastikan jenisnya. Ia menegaskan, penentuan fungsi dan asal benda menjadi kewenangan Mabes TNI AL setelah melalui pemeriksaan mendalam.
“Yang berwenang menilai itu dari Mabes, kita menunggu hasil investigasi dari pimpinan,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan awal oleh tim Gegana Polda Nusa Tenggara Barat menunjukkan benda tersebut tidak mengandung bahan peledak maupun zat radioaktif. Meski demikian, aparat tetap memasang garis polisi dan membatasi akses selama proses pengamanan berlangsung.
Benda itu memiliki panjang sekitar 3,7 meter dengan diameter 65 sentimeter. Saat ditemukan, kondisinya mengapung di laut dan belum diketahui sudah berapa lama berada di perairan tersebut.
TNI AL menyatakan terus berkoordinasi dengan satuan terkait serta meningkatkan patroli di wilayah perairan Nusa Tenggara Barat. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi penggunaan perangkat bawah laut tanpa izin.
“Kami tidak akan mentolerir segala aktivitas tanpa izin termasuk menggunakan perangkat bawah air yang tidak berkepentingan,” ungkap Asep.a