🛩 Untuk kebutuhan militer maupun komersial
🛩 Pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia diperlihatkan saat kegiatan eksplorasi industri pertahanan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Gita Amperiawan menyatakan pesawat N219 merupakan hasil karya anak bangsa yang dikembangkan tanpa tenaga pendamping teknis dari luar negeri.
“Pesawat N219 adalah pesawat seratus persen karya anak bangsa. Tingkat kandungan dalam negerinya (TKDN) 44,69 persen,” ucap Gita saat eksplorasi industri pertahanan bersama pers di Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Dia menyebut pengembangan N219 melibatkan kurang lebih 16 industri pertahanan nasional dan empat perguruan tinggi dalam negeri.
Dijelaskannya, N219 merupakan pesawat turboprop bermesin ganda yang memiliki kapasitas 19 penumpang.
Pesawat tersebut dirancang untuk melayani rute penerbangan perintis, termasuk wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur landasan pacu. N219 memiliki kemampuan lepas landas pada landasan sepanjang sekitar 600 hingga 800 meter serta dapat dioperasikan pada landasan yang tidak beraspal (unpaved runway).
Gita menyebut sekitar 100 bandara perintis di Indonesia memiliki landasan pacu dengan panjang kurang dari satu kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 bandara disebut memiliki landasan yang tidak beraspal.
“Ini cocok dengan N219,” katanya.
Pesawat tersebut kini dikembangkan untuk kebutuhan militer dan komersial. Kedua jenis kebutuhan itu memiliki basis yang sama, tetapi dapat dibedakan berdasarkan persyaratan sertifikasi dan kebutuhan khusus.
Ia mencontohkan, untuk kebutuhan militer penyesuaian dapat dilakukan sesuai kebutuhan operasional TNI, termasuk untuk mendukung kegiatan penerjunan personel.
Di sisi lain, PT DI berupaya meningkatkan keterlibatan industri nasional dalam produksi N219. Gita memperkirakan TKDN pesawat tersebut meningkat hingga 65 persen apabila produksi dilakukan secara massal.
Di Doha, Qatar
Indonesia. Turki, Qatar dan Pakistan sepakati nota kesepahaman Bard. (Foto/X/@Defence_Turk_EN)
Turki, Qatar, Pakistan, dan Indonesia menandatangani perjanjian pada hari Rabu untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan memperkuat kapabilitas pertahanan.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian tersebut menyampaikan bahwa negara-negara tersebut menandatangani "Nota Kesepahaman Badr" di Doha sebagai wujud keinginan mereka untuk semakin memperdalam kerja sama dan mengembangkan kemitraan.
"Perjanjian ini memiliki nilai ekonomi yang signifikan," ungkap kementerian tersebut, seraya menambahkan bahwa kesepakatan ini bertujuan untuk mendorong kerja sama dalam produksi militer, meningkatkan kapabilitas militer, serta memfasilitasi kolaborasi dalam pelatihan teknis militer, penelitian, dan pengembangan.
"Dengan memanfaatkan kapabilitas produksi militer yang unik dari masing-masing negara, inisiatif ini akan memfasilitasi kerja sama dan integrasi, meningkatkan kapasitas industri pertahanan, serta memungkinkan pemenuhan kebutuhan negara-negara sekutu dan negara sahabat," tambahnya, dilansir Arab News.
Turki, yang memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO serta industri pertahanan yang tangguh, telah membantu negara-negara Teluk—termasuk Qatar, tempat Turkiye memiliki pangkalan militer—dalam memperkuat pertahanan mereka di tengah situasi perang yang melibatkan Iran.
Pada bulan Agustus, Turki menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Pakistan (negara pemilik senjata nuklir) dan Arab Saudi, yang menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap seluruh pihak.
Ankara juga menjalin hubungan erat dengan Indonesia, khususnya di sektor industri pertahanan.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa kesepakatan Badr akan mempererat hubungan antarindustri pertahanan negara-negara tersebut serta meningkatkan kolaborasi guna mendukung keamanan dan mencapai tujuan bersama.
Haluk Gorgun, Kepala Presidensi Industri Pertahanan Turki, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut menjadi landasan bagi “kerja sama strategis” untuk mengembangkan produksi dan teknologi bersama.
“Berbagi teknologi, pengembangan bersama, dan penguatan kapabilitas produksi dalam negeri merupakan inti dari industri pertahanan yang berkelanjutan. Sebagai Turki, kami menghargai kemitraan yang melampaui sekadar model pengadaan barang jadi, yakni kemitraan yang mendorong pengembangan sumber daya manusia serta infrastruktur industri suatu negara,” ujar Gorgun dalam sebuah pernyataan.
“Kami yakin bahwa Nota Kesepahaman Badr akan berkontribusi dalam mengubah kapabilitas yang saling melengkapi dari Qatar, Pakistan, Indonesia, dan Turki menjadi proyek-proyek nyata,” tambahnya. (ahm)
👷 Dukung Kesiapan Armada TNI AL
KRI Oswald Siahaan-354 tengah docking di Dock Beluga PT PAL Indonesia (PAL)
PT PAL Indonesia (Persero) tengah menangani pemeliharaan dan perbaikan dua kapal perang TNI Angkatan Laut (TNI AL), yakni KRI Oswald Siahaan-354 dan KRI Fatahillah-361.
Pekerjaan maintenance, repair, and overhaul (MRO) ini menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi teknis kapal agar tetap mampu mendukung berbagai kebutuhan operasional TNI AL.
Pada KRI Oswald Siahaan-354, pekerjaan mencakup pemeliharaan dan perbaikan badan kapal, terutama pada bagian bawah garis air (BGA). Sementara itu, KRI Fatahillah-361 menjalani docking rutin, perawatan BGA, serta perbaikan sistem bantu kapal. Penanganan setiap kapal disesuaikan dengan kondisi teknis dan kebutuhan pemeliharaannya.
Direktur Produksi PT PAL Indonesia, Diana Rosa, mengatakan pemeliharaan terencana berperan penting dalam menjaga keandalan kapal sepanjang masa operasionalnya. Pemeriksaan menyeluruh dan penanganan sesuai standar teknis diperlukan untuk memastikan setiap bagian kapal berfungsi sebagaimana mestinya.
“Pemeliharaan kapal harus memastikan kondisi fisik, mesin, dan sistem pendukung tetap berfungsi sesuai standar teknis. Melalui pemeriksaan menyeluruh dan penanganan yang tepat, keandalan kapal dapat dipertahankan untuk mendukung kebutuhan operasional,” ujar Rosa.
KRI Fatahillah-361 sedang menjalani perawatan dan perbaikan di PT PAL (PAL)
Berbeda dari pembangunan kapal baru, pekerjaan MRO menuntut pemeriksaan terhadap kondisi aktual kapal untuk menentukan penanganan yang sesuai pada setiap bagian dan sistem. Proses ini membutuhkan ketelitian, pengalaman, serta kompetensi teknis yang memadai.
Berbekal pengalaman lebih dari empat dekade, PT PAL terus mengembangkan kapabilitas MRO untuk menangani kebutuhan pemeliharaan dan perbaikan kapal perang maupun kapal komersial. Kemampuan ini turut mendukung upaya mempertahankan aset pertahanan di dalam negeri sekaligus memperkuat kemandirian industri maritim nasional.
Pentingnya pemeliharaan kapal juga terlihat dalam penugasan KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 yang menjalankan port visit di kawasan Pasifik pada 14 September–12 November 2026. Pelayaran lintas kawasan membutuhkan kondisi kapal dan sistem pendukung yang andal agar misi dapat berjalan sesuai rencana.
“Bagi kami, kemampuan merawat dan memperbaiki kapal di dalam negeri sangat penting. Dengan begitu, kesiapan armada tetap terjaga dan kemampuan industri maritim nasional juga terus berkembang,” pungkas Rosa.
Kerjasama produksi alutsista
Ilustrasi alutsista produk Pindad (Kumparan)
Direktur Strategi Bisnis PT Pindad, Syaifuddin dan Executive Vice Chairman NASENI, Mohammed Sani Haruna menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait Penelitian dan Pengembangan Produk serta Pengadaan produk pada 14 Agustus 2022 di Auditorium Gd. Direktorat PT Pindad, Bandung.
Penandatanganan MoU disaksikan oleh VP Pengembangan Bisnis, Yayat Ruyat beserta jajaran, Duta Besar Nigeria untuk Indonesia Ari Usman Ogah, dan Asst. Deputy Director Kementrian Luar Negeri Aditya Aji Nugraha.
MoU ini juga merupakan kerja sama yang dilakukan setelah sebelumnya beberapa delegasi pemerintahan Nigeria melakukan kunjungan ke PT Pindad. Ruang lingkup pada perjanjian kerja sama ini meliputi Pengadaan barang jadi dari PT Pindad ke NASENI, Pengembangan bersama produk hankam, Alih Teknologi, dan kerja sama lainnya.
Direktur Strategi Bisnis PT Pindad, Syaifuddin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi nya kepada NASENI Nigeria atas jalinan kerja sama nya dengan PT Pindad dan kemudian menjelaskan berbagai produk unggulannya.
"Pada kesempatan kali ini kita akan melakukan penandatanganan MoU antara PT Pindad dan NASENI, diharapkan dengan adanya penandatangan ini kedepannya akan menghasilkan suatu elemen baik dari segi inovasi ataupun produk yang maksimal dan bermanfaat untuk kedua belah Pihak." Jelas Syaifuddin.
Executive Vice Chairman NASENI, Mohammed Sani Haruna dalam sambutannya mengucapkan rasa terimakasih nya terhadap sambutan yang sudah di berikan oleh PT Pindad.
"Ini merupakan momen ber sejarah bagi kami dikarenakan kami sudah berusaha untuk melakukan penandatanganan ini sejak 2013 dan akhirnya bisa di selenggarakan pada hari ini. Kita juga ber terima kasih kepada PT Pindad yang sudah mempercayai NASENI untuk melakukan kerja sama ini. Kita juga menantikan PT Pindad untuk dapat berkunjung ke fasilitas NASENI untuk dapat mengimplementasikan kerja sama ini." Ujar Mohammed Sani Haruna.
Setelah mendengarkan paparan singkat mengenai profil dan produk PT Pindad oleh Syaifuddin, Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama dan foto bersama di Gedung direktorat PT Pindad Bandung.
Untuk Modernisasi Armada C-130
Pesawat C-130 Hercules A-1316 (GMF)
Komitmen PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) dalam mendukung modernisasi armada C-130 Kementerian Pertahanan terus berlanjut. GMF menerima pesawat C-130 Hercules dengan tail number A-1316 untuk menjalani perawatan Center Wing Box Replacement (CWBR). Pesawat tersebut berangkat dari Lanud Abdurrachman Saleh, Malang, dan tiba di GMF pada Selasa (15/09) untuk kemudian diserahterimakan melalui penandatanganan Berita Acara oleh Production Division Head SBU Defense Industry GMF, Imam Solikhin, dan Pengelola Pengadaan Barang/Jasa (PPBJ) Madya Pus Alpalhan Baloghan Kemhan, Kolonel Kal. Ronny Syah Faiza, M.Han.
Kedatangan A-1316 menjadi proyek CWBR C-130 kelima yang ditangani GMF dari total delapan pesawat yang telah direncanakan. Dengan masuknya A-1316, saat ini terdapat empat pesawat C-130 yang tengah menjalani berbagai pekerjaan perawatan di Hanggar 4 GMF.
Dalam acara serah terima, Kasatgas Modernisasi C-130, Marsma TNI Arif Djoko Nugroho, S.T., mengapresiasi kontribusi GMF dalam menjaga kesiapan skuadron melalui program modernisasi C-130. Berbekal pengalaman dalam menangani proyek CWBR sebelumnya, ia berharap pengerjaan A-1316 dapat diselesaikan tepat waktu. Menyambut hal tersebut, GMF menegaskan komitmen untuk terus mendukung kesiapan pesawat di masing-masing skuadron, sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan dan memperpendek lead time.
Keberlanjutan proyek CWBR C-130 menjadi bagian dari kontribusi GMF dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Pelaksanaannya juga mencerminkan sinergi antara GMF, Kementerian Pertahanan RI, dan TNI Angkatan Udara dalam mengoptimalkan kemampuan industri dalam negeri untuk mendukung pemeliharaan dan modernisasi alutsista.