Selasa, 12 Mei 2026

Indonesia Kedatangan Pesawat Falcon 8X Lagi

🛩  Pesawat angkut VVIP Pesawat VVIP terbaru TNI AU, A 0803 (Dispenau)

Indonesia kembali menerima pesawat Falcon 8X buatan Dassault Aviation, perusahaan dirgantara asal Prancis yang juga memproduksi jet tempur Rafale.

Pesawat angkut VVIP itu tiba di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (10/5/2026).

Falcon 8X dengan nomor ekor A-0804, lengkap dengan tulisan TNI Angkatan Udara sempat terpotret oleh fotografer.

Kedatangan pesawat Dassault Falcon 8X tersebut merupakan bagian dari kontrak baru pengadaan empat unit pesawat Falcon,” ujar Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dihubungi, Selasa (12/5/2026).

Falcon 8X A0804 TNI AU (Dispenau)

Rico mengatakan, Falcon 8X A-0804 bukan bagian dari kontrak pembelian sebelumnya. Kontrak pengadaan dua pesawat sebelumnya mulai berjalan saat Presiden Prabowo Subianto masih menjabat Menteri Pertahanan.


Unit pertama tiba pada 2022, sedangkan unit kedua datang dua tahun kemudian.

Kedua pesawat itu kini dioperasikan oleh Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma untuk kebutuhan angkut VIP dan VVIP.

Dengan kedatangan A-0804, jumlah armada Falcon 8X milik TNI AU bertambah.

  🛩
Kompas  

TNI AL Persiapkan Pangkalan untuk Kapal Induk Giuseppe Garibaldi

  Akan dimodernisasi di PTPAL https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3MoVGQ4NZZ3KV-RZ37sLFHmtVHJ7iZGY5r0Mj681nZ38QGvy6TN66cToFKV3PBr3Cv3mjKGCY2SDMEf_eoQUG7RAlB-B6uYGuYgcZgbgsMPBT1yJi195z7FpzCOwq2T1qJ9h56hPv1aUECf5PaNweMkGxuHWTEoz0goUHdtch7l8GMdrGZdAzs-98eysf/s1265/Kapal%20induk%20Giuseppe%20Garibaldi.jpgKapal induk ITS Giuseppe Garibaldi diberitakan akan hadir tahun ini.  (Marina militare)

Angkatan Laut Indonesia sedang mempersiapkan beberapa pangkalan untuk menampung kapal induk Giuseppe Garibaldi seiring Jakarta semakin dekat untuk mengakuisisi kapal tersebut dari Italia, kata Kepala Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali pada hari Senin.

Ali mengatakan personel telah ditugaskan dan akan segera dikirim ke Italia, sementara angkatan laut sedang mempersiapkan infrastruktur untuk mendukung operasi kapal yang akan menjadi kapal induk pertama Indonesia.

Kami juga sedang mempersiapkan beberapa pangkalan di Indonesia,” kata Ali kepada wartawan di dermaga Kolinlamil di Jakarta, tanpa mengungkapkan lokasi atau kemajuan pembangunan.

Persiapan ini dilakukan saat Angkatan Laut Indonesia menunggu koordinasi lebih lanjut dari Kementerian Pertahanan, yang menangani negosiasi dengan perusahaan pembuat kapal Italia Fincantieri mengenai transfer kapal tersebut.

Ali mengatakan ia berharap Giuseppe Garibaldi dapat tiba di Indonesia sebelum peringatan Hari Jadi Tentara Nasional Indonesia pada Oktober 2026.

Kapal induk tersebut dibangun oleh perusahaan pembuat kapal Italia Fincantieri, perusahaan yang sama yang memproduksi kapal perang Indonesia yang baru diperoleh, KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321.

Kapal sepanjang 180,2 meter ini mampu mencapai kecepatan hingga 30 knot, atau sekitar 56 km/jam, dan dilengkapi untuk membawa pesawat tempur.

Persenjataannya meliputi peluncur delapan laras Mk.29 untuk rudal anti-pesawat Sea Sparrow atau Selenia Aspide, dua meriam Oto Melara 40L70 DARDO, tiga tabung torpedo 324 mm, dan rudal anti-kapal Otomat Mk 2.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan pada bulan Maret bahwa kapal induk tersebut akan menjalani modifikasi di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pertahanan negara, dengan pekerjaan yang akan dilakukan oleh perusahaan pembuat kapal milik negara PT PAL.

Insya Allah, Garibaldi akan tiba di Indonesia pada tahun 2026, dan kami akan memperbaruinya karena PT PAL memiliki kemampuan tersebut,” kata Sjafrie saat itu.

Sjafrie tidak merinci bagian mana dari kapal induk yang akan dimodifikasi, tetapi mengatakan bahwa dana telah disiapkan untuk pekerjaan tersebut.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan Indonesia diharapkan menerima Giuseppe Garibaldi sebagai hibah dari pemerintah Italia. Kapal tersebut, yang dibangun oleh Fincantieri, sebelumnya bertugas sebagai bagian dari armada angkatan laut Italia.


   antara  

TNI AL Perdalam Kajian Teknologi Penerbangan Strategis

  Dalam Kunjungan ke Italia 
TNI AL lakukan kajian pada pesawat A-Viator untuk pengawasan udara, heli angkut AW149 dan heli anti kapal selam NH90 NFH (Dispenal)

Sebagai bagian dari upaya memperdalam kajian teknologi penerbangan strategis guna mendukung penguatan kedaulatan maritim Indonesia, delegasi TNI AL yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin, S.H., M.Han., M.H. melaksanakan kunjungan kerja strategis delegasi TNI AL ke pusat industri penerbangan Italia pada 5 hingga 11 Mei 2026.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi TNI AL meninjau fasilitas produksi Vulcanair S.A. di Casoria, Naples, Italia, dengan fokus pada pesawat A-Viator (AP68TP-600), pesawat twin turboprop berkonfigurasi high-wing yang dirancang untuk mendukung efisiensi operasional tinggi.


Pesawat tersebut memiliki kapasitas 11 personel yang terdiri dari dua pilot dan sembilan penumpang serta dilengkapi retractable landing gear guna meningkatkan performa kecepatan.

Bagi TNI AL, platform ini dinilai memiliki fleksibilitas tinggi untuk mendukung berbagai misi khusus seperti pengawasan udara, pemetaan fotogrametri, hingga pengoperasian kamera FLIR untuk kebutuhan pengintaian dan deteksi jarak jauh.

Rangkaian kegiatan selanjutnya dilaksanakan di Leonardo Helicopters dengan menerima paparan mendalam terkait dua platform helikopter modern, yaitu AW149 dan NH90 NFH (NATO Frigate Helicopter).


AW149 merupakan helikopter militer medium multi-peran dengan bobot maksimal 8,6 ton dan mampu mengangkut hingga 16 personel bersenjata lengkap.

Helikopter ini memiliki kemampuan operasional segala cuaca serta konfigurasi fleksibel untuk mendukung misi SAR, evakuasi medis, hingga close air support.

Sementara itu, NH90 NFH dirancang khusus untuk operasi maritim dengan kemampuan anti kapal selam (ASW) melalui sistem dipping sonar SONICS Flash Mk1 dan pemrosesan sonobuoy.

Helikopter tersebut juga mampu membawa torpedo MU90 dan rudal anti-kapal Marte ER sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan laut modern.

  𒎓 TNI AL  

Republikorp Dan Baykar Lanjutkan Kemitraan Strategis

  Melalui Penandatanganan Kerja Sama Bayraktar Kizilelma 
Drone tempur Kizilelma (Baykar)

Republikorp Group dan Baykar kembali memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Türkiye melalui penandatanganan perjanjian pengembangan Bayraktar KIZILELMA Unmanned Combat Aircraft (UCAV) pada ajang SAHA 2026 di İstanbul.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia. Kini, kemitraan diperluas menuju pembangunan ekosistem industri dirgantara berkelanjutan dan pengembangan UCAV generasi baru.

Melalui kolaborasi antara Baykar dan PT Republik Aero Dirgantara, pengembangan operasional Bayraktar KIZILELMA ditargetkan memperkuat kemampuan UCAV Indonesia mulai 2028. Kerja sama mencakup transfer teknologi, pengembangan SDM, fasilitas MRO, pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.

Chairman Republikorp Group, Norman Joesoef, menegaskan, “Bersama Baykar, kami membangun ekosistem aerospace dan unmanned systems yang berkelanjutan, mulai dari produksi, maintenance, pengembangan SDM, hingga riset teknologi masa depan.”

CEO Baykar, Haluk Bayraktar, juga menekankan pentingnya kemitraan ini, “Pengembangan Bayraktar KIZILELMA menjadi tonggak baru dalam hubungan strategis Indonesia dan Türkiye.”

Kerja sama ini menandai transformasi berkelanjutan hubungan Indonesia–Türkiye menjadi kemitraan strategis industri pertahanan yang berorientasi pada transfer teknologi, pembangunan kapasitas nasional, dan inovasi industri pertahanan masa depan.

 👷 Republikorp  

Senin, 11 Mei 2026

Sanggupkah Jet Tempur KF-21 Korea-RI Dobrak Dominasi AS dan China?

 
Pesawat tempur KF-21 Boramae (KAI) 

Pesawat tempur pertama buatan Korea Selatan, KF-21, dinilai masih panjang jalannya untuk bersaing secara global melawan produk-produk dari Amerika Serikat, Eropa, dan China.

Di Maret, Korea Aerospace Industries (KAI) resmi memperkenalkan unit produksi pertama KF-21 Boramae, menjadikan Korsel negara kedelapan yang bergabung dengan kelompok elit yang mampu mengembangkan pesawat tempur supersonik canggih. Indonesia juga turut menyumbang pembuatan jet ini.

Peluncuran ini menandai dimulainya produksi massal jet tempur generasi 4,5 tersebut, dengan tahap awal 40 unit Block I untuk Angkatan Udara Korea Selatan pada tahun 2028. Menurut Bence Nemeth, dosen studi pertahanan di King's College London, KF-21 bisa kompetitif untuk ekspor tapi sudah cukup terlambat dan persaingannya ketat.

Nemeth menilai keunggulan Korsel kemungkinan terletak pada biaya, kualitas, kecepatan pengiriman, dan kemauan menawarkan kerja sama industri. Namun pengadaan jet tempur juga terkait politik dan keandalan rantai pasokan di masa perang.

"Karenanya, KF-21 butuh pemasaran agresif dan jaminan keberlanjutan jangka panjang yang kredibel. Versi siluman lebih canggih dari KF-21 dapat bersaing lebih langsung dengan pesawat generasi kelima, tapi itu tetap bergantung pada peningkatan di masa depan, pemasaran, dan hubungan politik Seoul dengan pasar potensial," sebutnya.

Korsel berusaha meningkatkan ekspor KF-21 guna menekan biaya per unit dan berpotensi bersaing dengan pesawat sekelas generasi 4,5 lainnya dari China, AS, dan Eropa. Negara lain di kelompok elit tersebut adalah Rusia, Prancis, Swedia, India, dan Jepang.

Indonesia dilaporkan mempertimbangkan membeli 16 pesawat Block II. Di April Seoul setuju mengirim pesawat purwarupa ke Indonesia. Namun Jakarta sempat meminta pengurangan finansial. Tahun lalu, kedua negara sepakat membagi biaya yang direvisi, menurunkan kontribusi Jakarta dari 1,5 triliun won jadi 600 miliar won. Ini mengalihkan beban finansial ke Seoul dan berpotensi meningkatkan biaya per unit.

Yang Uk, peneliti Centre for Foreign Policy and National Security menyebut sejumlah negara akan tertarik mengoperasikan KF-21 karena pertimbangan efektivitas biaya, tapi kurangnya rekam jejak tempur menjadi batasan.

"Pada dasarnya, kinerjanya belum 100 persen. Pesawat ini harus mencapai Block II terlebih dahulu, dimulai dengan kemampuan serangan darat, agar fungsi-fungsi ini terintegrasi pada tingkat tertentu sebelum dapat dievaluasi sebagai pesawat yang mampu melakukan operasi skala penuh," ujarnya, dikutip detikINET dari SCMP.

Pengembangan KF-21 dinilai belum sepenuhnya selesai dan masih lama sebelum bisa disejajarkan dengan pesawat generasi 4,5 lainnya seperti J-10C buatan China dan Rafale buatan Prancis.

Pertama kali diumumkan tahun 2001 dan resmi diluncurkan sebagai proyek pengembangan di 2015, unit seri pertama KF-21 ini menandai puncak upaya seperempat abad Seoul untuk menghadirkan jet tempur domestik. Jet ini dijadwalkan menggantikan armada F-4 dan F-5 Angkatan Udara Republik Korea.

Pesawat Block I berfokus pada misi superioritas udara, dilengkapi rudal udara ke udara Meteor dan rudal IRIS-T jarak pendek. Pembaruan pada Block II kemungkinan menampilkan kemampuan misi udara ke darat dan udara ke kapal secara penuh, dengan target penyelesaian awal tahun depan.

Block III diproyeksikan memasuki model generasi kelima dengan kemampuan siluman penuh. Versi ini juga berpotensi menambahkan fitur generasi keenam seperti drone pendamping (wingmen) yang terbang di sampingnya. Versi ini dijadwalkan rampung di 2030-an. (fyk/fay)

  ★ detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...