⚓️ Pada Puncak Latihan Operasi Laut Gabungan TA. 2026
KRI Sampari tembakan rudal C705 (Dispenal)
Unsur koarmada II, yakni KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dan KRI Sampari-628 yang tergabung dalam Satgas Penembakan Senjata Khusus Kogaslagab berhasil menembakkan rudal pada latihan puncak Latopslagab TA. 2026 yang digelar di Laut Jawa, perairan Kepulauan Karimun Jawa, Kamis (23/4). Aksi ini menjadi momen krusial dalam menunjukkan kesiapan tempur prajurit Jalasena dalam menghadapi berbagai spektrum ancaman di laut.
Dalam pelaksanaan latihan, Dansatkor Koarmada II Kolonel Laut (P) Adam Tjahja S. selaku Dansatgas Baksus onboard di KRI I Gusti Ngurah Rai-332 yang di Komandani Kolonel Laut (P) Ahmad Makmur Ikhlas menembakkan rudal Exocet MM 40 Blok III dengan sasaran eks KRI Teluk Hading-538 yang telah purna tugas sebagai alutsista TNI AL.
Sementara itu, KRI Sampari-628 yang di Komandani Letkol Laut (P) Eko Darmawan melaksanakan penembakan rudal C-705 juga berhasil mengenai sasaran Pulau Gundul di wilayah Kepulauan Karimun Jawa. Seluruh rangkaian penembakan berlangsung aman, dan sesuai rencana, menegaskan profesionalisme serta akurasi tinggi prajurit TNI Angkatan Laut.
Keberhasilan latihan ini disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsuddin dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto serta Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., dari atas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992. Sementara itu, Pangkoarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., selaku Pangkogaslagab memimpin seluruh unsur yang tergabung dalam Kogaslagab dari KRI Brawijaya-320. Kehadiran pimpinan tertinggi pertahanan negara tersebut menjadi bentuk dukungan sekaligus apresiasi terhadap kesiapan operasional TNI AL dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia.
Pada latihan ini melibatkan berbagai unsur kekuatan TNI AL yang terbagi dalam unsur tugas penembak, pengamanan, dan bantuan. Selain itu, pesawat udara, helikopter, serta drone turut dilibatkan untuk mendukung jalannya latihan secara terintegrasi, sehingga mampu mensimulasikan operasi laut modern yang kompleks dan realistis.
Sebelum mencapai puncak latihan, berbagai serial latihan telah dilaksanakan saat menuju daerah latihan (Rahlat). Seluruh rangkaian ini dirancang untuk mengasah kemampuan taktis, koordinasi, serta interoperabilitas antar unsur dalam menghadapi skenario operasi gabungan.
Latopslagab TA. 2026 tidak hanya menjadi ajang unjuk kekuatan tempur, tetapi juga wujud nyata komitmen TNI Angkatan Laut dalam menjaga kedaulatan dan keamanan laut Indonesia. Momentum ini sekaligus mempertegas semangat juang serta profesionalisme prajurit Jalasena dalam menghadapi tantangan pertahanan maritim yang semakin dinamis.
👷
Kapal LPD desain PAL Indonesia (PAL)
PT PAL Indonesia memperkuat langkah ekspansinya di pasar regional melalui partisipasi pada Defence Services Asia Exhibition and Conference (DSA) 2026 yang berlangsung sejak 20–23 April 2026 di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur.
Dalam pameran tersebut, PT PAL memfokuskan promosi pada varian Landing Platform Dock (LPD) yang dinilai relevan untuk mendukung kebutuhan Angkatan Laut Malaysia.
Sebagai negara maritim dengan tantangan geografis yang serupa dengan Indonesia, Malaysia membutuhkan platform yang tidak hanya mampu mendukung operasi militer, tetapi juga disaster relief, humanitarian assistance, evakuasi medis, serta mobilisasi pasukan dan logistik ke wilayah kepulauan.
Selain menawarkan platform, PT PAL juga membuka peluang kerja sama jangka panjang yang berfokus pada penguatan local content atau industri lokal, pengembangan sumber daya manusia, hingga peluang kolaborasi dengan industri Malaysia.
Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia, Wiyono Komodjojo, menyampaikan bahwa pendekatan tersebut menjadi nilai tambah utama PT PAL dalam membangun kerja sama dengan Malaysia.
PT PAL ingin menunjukkan bahwa kerja sama industri pertahanan tidak harus berhenti pada transaksi pembelian kapal, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membangun kemampuan industri nasional, meningkatkan tingkat serapan dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ekosistem maritim Malaysia secara keseluruhan.
Penguatan tersebut menjadi semakin penting di kawasan ASEAN yang memiliki karakter geografis maritim, jalur perdagangan strategis, serta tantangan bersama seperti bencana alam, keamanan laut, dan perlindungan wilayah perairan.
Partisipasi PT PAL di DSA 2026 sekaligus menjadi langkah strategis untuk memperluas peran Indonesia dalam membangun kekuatan maritim ASEAN yang lebih tangguh dan mandiri.
Melalui solusi yang tidak hanya kuat dari sisi platform, tetapi juga didukung transfer teknologi dan kolaborasi industri, PT PAL ingin mendorong terciptanya kawasan yang memiliki kapasitas pertahanan maritim yang lebih terintegrasi, siap menghadapi tantangan regional, dan mampu tumbuh bersama sebagai kekuatan maritim dunia.
Garapan UI dan ITB
Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto menjelaskan produk teknologi hidrografi unggulan Indonesia kepada delegasi asing dalam pameran IHO Assembly 2026 di Monaco. (Foto: Dok. Pushidrosal))
TNI AL melalui Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) hadir sebagai delegasi Indonesia dalam sidang 4th Session of the IHO Assembly 2026 di Monaco. Dalam forum internasional ini, Pushidrosal membawa produk teknologi hasil inovasi dalam negeri.
Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Budi Purwanto memimpin langsung delegasi Indonesia di Auditorium Rainier III, Monaco, pada 19-23 April. Pertemuan ini merupakan forum pengambil keputusan tertinggi dalam International Hydrographic Organization (IHO) atau Organisasi Hidrografi Internasional.
Inovasi HidroSDB35 dan Almanak Nautika
Dua produk unggulan yang menjadi fokus pameran adalah HidroSDB35 dan Almanak Nautika Indonesia. Teknologi ini merupakan hasil penelitian mandiri antara personel Pushidrosal dengan akademisi dari Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendukung data pemetaan laut nasional.
Budi menjelaskan, kehadiran produk tersebut membuktikan kemampuan teknologi Indonesia di bidang hidro-oseanografi atau ilmu pemetaan laut.
“Produk ini mencerminkan kemandirian teknologi nasional. Hal ini menunjukkan kontribusi nyata Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dunia,” ujar Budi, dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (22/4).
Ia menambahkan, keterlibatan para pakar domestik menjadi kunci dalam inovasi ini. “Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan putra-putri terbaik bangsa untuk menghasilkan perangkat pendukung keselamatan pelayaran,” lanjutnya.
Tentukan Kebijakan Strategis Maritim
Selain pameran teknis, delegasi Indonesia berperan aktif dalam merumuskan rencana strategis IHO periode 2027–2032. Forum ini membahas laporan kegiatan organisasi serta menetapkan anggaran tiga tahunan untuk kepentingan hidrografi global.
Partisipasi aktif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional sesuai instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, yang menekankan pentingnya peran Indonesia dalam mendukung keselamatan pelayaran dunia serta memperkuat kedaulatan maritim.
Melalui forum ini, TNI AL memastikan pemanfaatan informasi hidrospasial atau data keruangan laut dapat terintegrasi secara modern. Langkah tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan navigasi kapal-kapal yang melintasi perairan internasional. (at)
Rafale B T-0304 pesanan Indonesia sedang di ujiterbang. Dikabarkan Indonesia akan menambah pesawat Rafale. (JC Aero)
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan Indonesia terus memperkuat kerja sama dengan Prancis termasuk dalam pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis.
Ia menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya sebatas pengadaan, tetapi juga mencakup transfer teknologi.
"Karena kita ketahui bahwa kita memperoleh atau membeli alat-alat pertahanan yang cukup strategis dari Prancis. Dan ini juga memiliki turunan bahwa kita harus juga bisa meningkatkan penguasaan teknologi terhadap hal-hal tersebut," ujar Sugiono dalam konferensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4).
Ia menyampaikan hal itu usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas penguatan hubungan bilateral serta peningkatan kerja sama di berbagai sektor, termasuk pertahanan.
Sugiono menambahkan pemerintah mendorong agar kerja sama pertahanan berkembang ke arah yang lebih luas, tidak hanya berhenti pada pembelian alutsista.
"Sehingga terjadi apa yang disebut satu kerja sama beyond procurement. Kita tidak hanya sebatas membeli saja, tetapi juga melakukan transfer teknologi dan penguasaan teknologi dari barang-barang yang kita beli," katanya.
Selain sektor pertahanan, kerja sama juga diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya di bidang pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Hal ini dinilai penting untuk mendukung penguasaan teknologi dari alutsista yang dibeli Indonesia.
Sugiono menjelaskan pengadaan alutsista merupakan proses jangka panjang yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, termasuk saat Prabowo masih menjabat sebagai menteri pertahanan.
"Itu yang selalu diingatkan oleh Bapak Presiden bahwa yang namanya alutsista itu kita enggak bisa beli kayak beli barang di supermarket. Begitu kita butuh, kita ingin punya itu enggak bisa, jadi prosesnya itu panjang," ujarnya.
Ia mencontohkan pengadaan pesawat tempur Dassault Rafale yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sejak pemesanan hingga realisasi pengiriman.
"Seperti contoh untuk pengadaan pesawat tempur Rafale, kita pesannya kurang lebih empat tahun yang lalu sampai itu berjalan," katanya.
Sugiono juga mengungkapkan adanya rencana kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis dalam waktu dekat. Kunjungan ini dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara yang telah terjalin erat.
"Dan juga rencana kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis dalam waktu dekat. Dan seperti yang kita ketahui bersama, bahwa hubungan pribadi antara kedua negara ini sangat dekat, yang merupakan modal besar hubungan bilateral," ujarnya.
(bac)
Pesawat N219 (PTDI)
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) membidik posisi sebagai mitra pertahanan utama Malaysia dan kawasan Asia Pasifik secara lebih luas, melalui skema solusi end-to-end dan pengembangan alutsista mutakhir, termasuk sistem roket 70 mm, guna memperkuat kemandirian industri pertahanan di kawasan.
Strategi "total solusi" ini menjadi pembeda utama PTDI dibandingkan kompetitor global lainnya dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa ini. Di mana PTDI juga tidak lagi sekadar menjual badan pesawat, melainkan menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang militer Negeri Jiran tersebut.
"Partisipasi PTDI dalam DSA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kehadiran kami di Malaysia sebagai mitra jangka panjang," ujar Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal dalam keterangan di Bandung, Selasa.
Menurut Arif, rekam jejak PTDI di Malaysia sudah sangat mengakar. Sejak 1999, Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah mengoperasikan tujuh unit pesawat CN235-220.
Dengan adaptasi teknologi, PTDI sukses dalam program modifikasi tiga unit pesawat TUDM menjadi pesawat pengintai maritim atau Maritime Surveillance Aircraft (MSA) pada 2023.
Selain memperkuat lini CN235, PTDI kini membidik pasar Malaysia untuk pesawat NC212i, pesawat N219, hingga sistem roket 70 mm.
Pendekatan ini mencakup layanan purnajual komprehensif mulai dari pemeliharaan (MRO), Service Life Extension Program (SLEP), hingga dukungan suku cadang dan perbaikan struktur.
“Dengan rekam jejak operasional pesawat CN235-220 di TUDM serta pengalaman dalam berbagai program layanan purnajual, PTDI terus berkomitmen menghadirkan solusi yang andal dan berkelanjutan, tidak hanya pada produk pesawat tapi juga sistem pertahanan lainnya seperti roket,” ujar Arif.
Kehadiran PTDI di bawah payung Holding Defend ID ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pameran pertahanan terbesar Asia Pasifik tersebut.
Melalui kolaborasi strategis ini, PTDI optimistis dapat mengoptimalkan platform pesawat buatan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan spesifik keamanan regional..