Menuding para korban sebagai aparat keamanan yang menyamar
TNI melakukan persiapan evakuasi 8 pendulang emas yang tewas dibunuh OPM di Yahukimo. (dok. istimewa)
Sebanyak delapan pendulang emas tewas dibunuh oleh anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Korowai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Rabu (20/5). Dilansir dari Detikcom, aparat gabungan kini tengah mempersiapkan langkah evakuasi menggunakan jalur udara untuk membawa seluruh jenazah korban dari lokasi kejadian.
Aksi pembunuhan tersebut dipicu oleh kecurigaan pihak OPM terhadap para pekerja tambang tersebut. Kelompok bersenjata itu menuduh para pendulang emas sebagai aparat keamanan yang sedang menyamar di area pendulangan.
"Kelompok tersebut menuding para korban sebagai aparat keamanan yang menyamar," ujar Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kapen Koops TNI Habema.
Pihak TNI membantah keras tuduhan yang dikeluarkan oleh kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo terkait identitas para korban. Penegasan diberikan bahwa seluruh korban yang meninggal dunia merupakan murni warga sipil setempat.
"Delapan orang tersebut bukan aparat keamanan seperti yang dituduhkan kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo, melainkan warga sipil yang sedang melakukan aktivitas pendulangan emas di wilayah tersebut," kata Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kapen Koops TNI Habema.
Guna menjangkau lokasi pembunuhan yang berada di daerah pedalaman, aparat keamanan mengerahkan armada helikopter. Langkah ini diambil agar proses pemindahan jenazah dapat berjalan lebih cepat dengan pengamanan dari personel gabungan.
"Saat ini, proses persiapan evakuasi terus dilakukan dengan dukungan personel gabungan dan armada heli guna menjangkau lokasi kejadian yang berada di wilayah pedalaman," ungkap Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kapen Koops TNI Habema.
⚓️ Akan dibiayai Qatar senile Rp 17,7 triliun.
TCG Akdeniz (F-519) (Savanma Sanayi ST)
Tahap strategis dalam proyek MİLGEM Indonesia, telah tercapai. Menurut laporan, proses pembangunan dua fregat kelas İstif untuk Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) telah resmi dimulai. Hal itu menyusul nota kesepahaman yang ditandatangani antara Turki, Qatar, dan Indonesia pada periode sebelumnya.
TAIS Shipyards mewakili Turki, menandatangani kontrak akhir untuk ekspor dua fregat tersebut, yang akan dibiayai oleh Qatar. TAIS meneken perjanjian senilai 1 miliar atau sekitar Rp 17,7 triliun dengan perusahaan Barzan Holdings dari Qatar.
Pembiayaan kredit memainkan peran penting dalam model ekspor ini, dan "Kerja Sama Industri Pertahanan Turki-Qatar-Indonesia" telah ditingkatkan ke tingkat strategis. Saat ini, kegiatan konstruksi sedang berlangsung secara bersamaan pada hampir 50 kapal militer di galangan kapal Turki, termasuk tujuh fregat kelas İstif.
Kapal pertama dari kelas ini, TCG Istanbul (F-515), telah lama aktif bertugas di Angkatan Laut Turki. Sebelumnya, sumber industri melaporkan, kapal dengan nomor lambung F-516 dan F-517, yang saat ini sedang dibangun, akan dikirim ke Indonesia. Namun, menurut informasi yang diperoleh SavunmaSanayiST.com, rencana itu telah direvisi karena meningkatnya intensitas operasional Angkatan Laut Turki.
Sesuai dengan rencana baru, fregat F-516 (TCG Izmir), F-517 (TCG Izmit), dan F-518 (TCG Icel), yang berada di tahap akhir pembangunan dan pengujian, akan langsung dimasukkan ke dalam inventaris Angkatan Laut Turki. Kapal-kapal dengan nomor lambung F-519 dan F-521 diharapkan akan dikirim ke Indonesia antara tahun 2027 dan 2028.
Kapal-kapal lain dalam kelas yang sama, F-520 dan F-522, juga akan menambah kekuatan Angkatan Laut Turki. Pembangunan fregat baru akan segera dimulai untuk menggantikan kapal F-519 dan F-521 yang akan diekspor ke Indonesia. Rencana ini bertujuan untuk sepenuhnya mencegah potensi kesenjangan dalam kekuatan tempur Angkatan Laut Turki saat mengekspor kapal perang itu.
Sebagian besar anggaran yang dihasilkan dari ekspor ke Indonesia akan digunakan untuk membiayai pembangunan kapal perang generasi baru untuk Angkatan Laut Turki. Ekspor fregat pertama ke pasar Asia Tenggara yang dibiayai Qatar, menandai tonggak sejarah bagi industri pertahanan Turki.
Dengan kontrak itu, Turki akan mengekspor kapal perang permukaan besar skala fregat ke negara Asia-Pasifik untuk pertama kalinya. Sebelumnya, ASFAT mengekspor empat korvet Kelas MİLGEM ADA ke Pakistan, dan STM mengekspor tiga unit ke Malaysia.
Selain ekspor platform, kapal-kapal tersebut akan mencakup fasilitas modern, seperti sensor canggih dan sistem lain yang diproduksi oleh Aselsan, sistem rudal nasional yang diproduksi oleh Roketsan, sistem senjata dan meriam angkatan laut yang diproduksi oleh MKE, serta sistem komando dan kontrol yang diproduksi Havelsan, akan disertakan dalam paket ekspor.
Dengan strategi ekspor baru itu, Turki sedang membangun model ekosistem yang mandiri secara ekonomi dan berkelanjutan dalam pembuatan kapal militer. Model tersebut mungkin dapat berkembang dengan menjadi "HUB Regional" untuk perbaikan kapal perang asing.
Fregat kelas Istif ini memiliki bobot 3.150 ton dan panjang 113 meter, yang dapat mencapai kecepatan maksimum lebih 29 knot. TCG-İstanbul yang sudah beroperasi dilengkapi dengan Radar AESA Aselsan Cenk-S, hingga dapat mendeteksi dan melacak target udara dari jarak yang jauh lebih panjang dengan presisi tinggi.
Kapal perang itu turut dilengkapi Roketsan MİDLAS, sistem peluncuran vertikal nasional pertama Turki. Dengan rudal pertahanan udara HİSAR-D yang dapat ditembakkan melalui MİDLAS dan rudal antikapal Roketsan ATMACA, yang terintegrasi untuk misi antikapal, kelas İstif memiliki kemampuan serangan yang sepenuhnya independen.
Empat kapal pertama sedang dibangun di bawah kepemimpinan STM. Dilengkapi dengan sistem sonar buatan dalam negeri dan tabung torpedo, platform itu menawarkan kemampuan bertahan hidup yang tinggi terhadap ancaman bawah laut.
⚓️ Tonggak Sejarah Industri Pertahanan RI
PAL Indonesia akan membangun dua unit kapal selam Scorpene Evolved berkonfigurasi LiB di Surabaya. (Naval Group)
Pembangunan kapal selam Scorpene Evolved oleh PT PAL Indonesia bersama Naval Group disebut menjadi tonggak penting sejarah industri pertahanan nasionale sekaligus penanda masuknya Indonesia ke era baru penguasaan teknologi strategis bawah laut.
Proyek strategis untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) tersebut kini telah memasuki tahap pra-produksi atau pre-production sebagai bagian dari persiapan teknis sebelum produksi utama dimulai.
Tahapan tersebut meliputi kesiapan desain, sistem produksi, penguatan sumber daya manusia, hingga pembangunan infrastruktur pendukung agar proses produksi berjalan sesuai standar internasional.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menegaskan proyek Scorpene Evolved memiliki arti strategis bukan hanya bagi sektor pertahanan, tetapi juga bagi masa depan industri teknologi nasional.
“Indonesia tercatat sebagai negara pertama di ASEAN yang mampu membangun kapal selamnya sendiri, termasuk pengembangan kapal selam Scorpene Evolved dengan teknologi Advanced and Improved Propulsion (AIP). Kemampuan ini menegaskan kemajuan penguasaan teknologi strategis nasional sekaligus memperlihatkan kesiapan industri pertahanan Indonesia untuk bersaing di tingkat global,” ujar Kaharuddin.
Menurutnya, di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan dunia di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik, keberadaan industri pertahanan nasional yang kuat menjadi modal strategis bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat posisi sebagai negara maritim utama di regional.
Sebagai bagian dari penguatan kapabilitas nasional, puluhan engineer PT PAL telah diberangkatkan ke Cherbourg, Prancis, untuk mengikuti program transfer teknologi dan penguatan keterampilan bersama Naval Group.
Program transfer of technology (ToT) tersebut menjadi langkah penting agar tenaga ahli Indonesia mampu menguasai pembangunan kapal selam modern berstandar global secara mandiri.
Bahkan, proses fabrikasi qualification section untuk “pilot hull sub-section” pertama Scorpene Evolved telah dimulai dan ditandai secara resmi di Surabaya pada 12 Desember 2025.
Direktur Program SRI Naval Group, Vincent Vimont, menyebut kerja sama dengan PT PAL menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem industri pertahanan Indonesia secara berkelanjutan.
“Dengan bermitra dengan Naval Group dalam program transfer keterampilan yang ambisius, Indonesia bertujuan meningkatkan ekonomi lokal dan memperkuat kemampuan ekosistem industrinya. Perjanjian dengan PT PAL sebagai galangan kapal berpengalaman akan mewujudkan ambisi ini,” kata Vincent.
Pembangunan Scorpene Evolved dinilai bukan sekadar proyek pengadaan alutsista, melainkan simbol transformasi besar industri pertahanan nasional menuju industri berbasis teknologi tinggi, riset, dan inovasi.
Kolaborasi ini juga memperlihatkan bahwa penguatan pertahanan negara dapat berjalan seiring dengan pengembangan SDM unggul, transfer teknologi, dan pertumbuhan industri dalam negeri menuju kemandirian strategis Indonesia.
Berkat “Offset” Rafale
Link ID dari PT Len (infographic: Len)
Kemampuan PT Len Industri (Persero) dalam hal interoperabilitas meningkat berkat pengadaan 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation, Prancis.
Interoperabilitas merupakan kemampuan berbagai sistem, perangkat, atau aplikasi yang berbeda untuk berkomunikasi, bertukar data, dan menggunakan informasi tersebut dalam militer.
Sebelumnya, kemampuan link dari PT Len hanya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat surveillance atau patroli.
Setelah ini, interoperabilitas Link ID yang dimiliki PT Len bisa terhubung ke komunikasi antarpesawat tempur TNI Angkatan Udara.
Sepasang Rafale TNI AU (Skuadron 12)
“Kemampuan Link ID yang dimiliki Len sebelumnya difokuskan untuk komunikasi antarkapal perang dan pesawat surveillance. Ke depan, kemampuan tersebut akan berkembang hingga mampu mendukung komunikasi data link antarpesawat tempur, sehingga memperkuat integrasi sistem pertahanan udara nasional secara lebih menyeluruh,” tulis siaran pers PT Len, dikutip Rabu (20/5).
Peningkatan kemampuan interoperabilitas ini merupakan bagian dari program training offset jet tempur Rafale.
Offset merupakan kewajiban produsen senjata asing, dalam hal ini Dassault Aviation, untuk memberikan kompensasi atau investasi timbal balik seperti alih teknologi, produksi lokal suku cadang, atau pelatihan kepada negara pembeli.
“Momentum ini juga menegaskan peran strategis PT Len Industri (Persero) sebagai induk holding industri pertahanan DEFEND ID dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguasaan teknologi dan penguatan interoperabilitas antarsistem pertahanan,” kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan dalam keterangannya..