Kamis, 21 Juni 2012

Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim




 Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim, Beberapa Rumah Terbakar

Ilustrasi Fokker 27 TNI AU
Jakarta Pesawat Fokker TNI AU jatuh di sekitar landasan Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur. Pesawat itu menimpa beberapa rumah di dekat bandara Halim. Beberapa rumah terbakar.

Informasi seorang saksi mata kepada detikcom, pesawat itu jatuh pada pukul 14.45 WIB, Kamis (21/6/2012). Pesawat jatuh di sekitar landasan Bandara Halim Perdana Kusumah.

"Ada sekitar 6-8 rumah warga yang terbakar. Rumah itu berada di sekitar Jalan Beranjangan," kata saksi mata tersebut.

Hingga kini beberapa mobil pemadan kebakaran sudah tiba di bandara Halim Perdana Kusumah.(asy/gah)

 Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim Saat akan Mendarat

Jakarta Pesawat Fokker TNI AU jatuh di sekitar Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur dan menimpa beberapa rumah warga. Pesawat itu jatuh saat akan mendarat.

"Pesawat Fokker jatuh saat akan mendarat. Proses pendaratannya terganggu," kata seorang saksi mata kepada detikcom, Kamis (21/6/2012).

Pesawat itu menimpa beberapa rumah warga di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan. Rumah-rumah itu akhirnya terbakar. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

Saat ini, beberapa unit mobil pemadam kebakaran sudah tiba di Bandara Halim.(asy/gah)

 Asap Mengepul dari Rumah yang Tertimpa Fokker

Jakarta Asap masih mengepul dari rumah yang tertimpa Fokker 27 di kawasan Lanud Halim Perdanakusumah, Jaktim. Percikan api juga sesekali masih terlihat.

"Pemadam kebakaran sudah berada di lokasi," kata warga sekitar, Yayan, saat dikonfirmasi, Kamis (21/6/2012) pukul 15.15 WIB.

Petugas pemadam juga berjibaku menjinakkan api. Sedang lokasi sudah dijaga petugas TNI. Warga tidak diperkenankan mendekat. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

"Warga juga sudah berkerumun, asap masih mengepul," jelasnya.

Hingga kini belum diketahui ada berapa korban jiwa yang jatuh akibat insiden ini. Rumah yang tertimpa pesawat milik TNI AU itu terletak di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan.(ndr/nrl)

 Fokker Jatuh di Halim Dipiloti Mayor Hery & Kopilot Lettu Paulus

Jakarta Pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di kawasan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, dipiloti Mayor Pnb Hery.

"Sampai saat ini diketahui pilotnya bernama Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus," kata Kapuspen TNI Laksamana Pertama Iskandar Sitompul saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Iskandar mengatakan masih belum diketahui berapa penumpang yang berada di dalam pesawat. Pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut.

"Masih pilot dan kopilotnya saja yang baru diketahui. Penyebab dan penumpang lainnya masih didalami lagi," jelasnya.

Pesawat itu menimpa beberapa rumah warga di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan, yang berdekatan dengan bandara. Rumah-rumah itu akhirnya terbakar. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

Saat ini, beberapa unit mobil pemadam kebakaran dan ambulans sudah tiba di Bandara Halim.(gus/nrl)

 RSAU Esnawan Halim Kirim 10 Ambulans Evakuasi Korban Fokker

Jakarta RSAU dr Esnawan Antariksa sudah mengirimkan semua ambulansnya untuk mengevakuasi korban pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan, Halim, Jakarta Timur. Ambulans dan tim medis sedang melakukan evakuasi.

"Semua sudah dikirim ambulansnya. Posisi pesawat di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan," jelas operator RS dr Esnawan Antariksa Halim Perdanakusumah, Serka Lisma, ketika dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Berapa ambulans yang dikirim? "Ya sekitar 10-an kurang lebihnya," jawab Lisma.(nwk/nrl)

 Fokker TNI AU Jatuh, 10 Mobil Damkar Dikerahkan ke Halim

Jakarta Asap hitam mengepul di kawasan Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, menyusul jatuhnya pesawat Fokker milik TNI AU. 10 Mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi.

"Kita sudah kirim 10 mobil pemadam ke Halim," kata petugas pemadam kebakaran, Sugiarto, kepada detikcom, Kamis (21/6/2012). Pesawat Fokker jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

Ia mengaku belum mengetahui kondisi selanjutnya. "Petugasnya belum pulang," ujarnya.(aan/vit)

 Sudah Ada Korban Pesawat Fokker yang Ditangani RSAU Halim

Fokker 27 TNI AU terbang oleng. (foto: Pasya)
Jakarta Sudah ada korban pesawat Fokker-27 yang ditangani di RSAU Dr Esnawan Antariksa Halim Perdanakusumah. Namun belum diketahui kondisi korban.

"Sudah, sudah ada yang ditangani. Tapi mohon maaf karena saya bukan humas, tidak bisa menjelaskan kondisinya. Sekarang sedang fokus menangani korban," jelas petugas UGD RSAU dr Esnawan Antariksa yang tidak mau menyebutkan namanya ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Petugas UGD tersebut enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai jumlah dan kondisi korban yang sedang ditangani.

Pesawat Fokker-27 milik TNI AU jatuh pukul 14.45 WIB saat sedang latihan rutin. Pesawat jatuh menimpa 6-8 rumah di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan, tak jauh Lanud Halim, saat hendak mendarat. Pesawat itu dipiloti oleh Mayor Hery dan Kopilot Lettu Paulus.(nwk/nrl)

 Ini Dia Penampakan Fokker Jelang Jatuh Hingga Timpa Rumah Warga 

(Foto: Pasya/pembaca detikcom)
Jakarta Pesawat Fokker 27 milik TNI AU jatuh di sekitar landasan Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur sekitar pukul 14.45 WIB, Kamis (21/6/2012). Ini dia penampakan pesawat bercat loreng itu beberapa detik sebelum jatuh hingga jatuh menimpa sekitar 8 rumah warga di samping Bandara Halim.

Adalah Pasya, seorang warga yang saat itu berada di gedung Blue Bird Halim, menyaksikan pesawat Fokker TNI AU terbang rendah saat akan mendarat di Halim. "Kebetulan saya membawa kamera, jadi saya potret," kata dia kepada detikcom.

Dia mengirimkan foto-foto itu kepada detikcom. Dari fotonya tersebut, pesawat yang dipiloti Mayor Pnb Hery itu tampak terbang rendah di atas bandara Halim.

Beberapa detik kemudian, terlihat api berkobar dari beberapa rumah di perumahan Rajawali Jalan Branjangan. Rumah-rumah ini berada persis di samping bandara. Asap hitam mengepul hebat dari perumahan itu. Ternyata pesawat itu jatuh menimpa beberapa rumah warga.

Dipastikan ada korban dalam kecelakaan ini. Beberapa korban sudah dilarikan ke RSAU Esnawan untuk ditangani, meski belum diketahui apakah ada korban meninggal atau tidak. Namun, hingga kini belum ada informasi pasti dari TNI AU maupun pejabat berwenang mengenai korban.(asy/gah)

 Fokker-27 Jatuh Saat Latihan Rutin

Jakarta Pesawat Fokker-27 milik TNI AU jatuh saat sedang melakukan latihan rutin. Pesawat ini dipiloti Mayor Hery dan Kopilot Lettu Paulus.

"Sedang latihan rutin. Beberapa menit lalu baru jatuh," kata Kapuspen TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Sebelumnya Fokker ini jatuh di sekitar Kompleks Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur. Fokker ini jatuh menimpa sebuah rumah warga di sekitar bandara, tepatnya di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan, Jakarta Timur.

Ada sekitar 6-8 rumah yang terbakar akibat ketimpa Fokker tersebut. 10 Unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang membakar rumah warga tersebut. Hingga kini masih belum diketahui korban jiwa akibat jatuhnya Fokker pada pukul 14.45 WIB ini.(gus/nrl)

 Ledakan Keras Terdengar Saat Fokker-27 Jatuh di Halim

(Foto Tribunnews)
Jakarta Ledakan keras terdengar saat pesawat Fokker-27 terjatuh di kawasan Lanud Halim Perdanakusumah, Jaktim. Asap hitam membumbung sesaat setelah pesawat itu jatuh.

"Ada ledakan cukup keras kemudian terlihat asap hitam," kata Pasya, seorang pekerja di kawasan Halim, Jakarta Timur, kepada detikcom, Kamis (21/6/2012). Pasya saat itu sedang mengambil foto burung-burung di angkasa dari kantornya di Gedung Bluebird Halim.

Di saat memfoto-foto itulah Pasya melihat ada pesawat Fokker terlihat oleng dan terbang cukup rendah. "Sesaat kemudian pesawat itu menghilang, lalu terdengar ledakan dan juga asap hitam," kata Pasya yang juga sempat mengabadikan pesawat yang oleng itu.

Tak berapa lama kemudian terlihat armada pemadam kebakaran menuju Halim. Menurutnya saat ini kepulan asap sudah tak setebal saat awal kecelakaan terjadi.

"Asapnya masih ada, tapi tak setebal tadi," katanya.(nal/nrl)

 TNI : Pilot, Kopilot & 1 Kru Fokker Meninggal Dunia

Jakarta TNI mengkonfirmasikan bahwa 3 awak yang ada di dalam pesawat Fokker F-27 meninggal dunia. Yang meninggal di dalam pesawat adalah pilot, kopilot dan seorang kru.

"Pilot, kopilot dan kru di RS, ini meninggal dunia," jelas Kapuspen Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Iskandar mengatakan nama pilot adalah Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus. Sedangkan kru yang meninggal adalah Lettu Fahroni.

"Pesawat Fokker-27 nomor ekornya A 2708," jelas Iskandar.(nwk/nrl)

 Ini Nama 7 Orang di Fokker yang Jatuh

Jakarta Pesawat Fokker F-27 milik TNI AU jatuh di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan, yang berdekatan dengan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta. Pesawat tersebut berisi tujuh orang.

"Ada 7 orang di dalam pesawat itu," ujar Kadispen AU, Marsma Azman Yunus, saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Berikut ini nama 7 orang yang berada dalam pesawat nahas tersebut:

1. Mayor Penerbang Ari Setyawan (pilot) - versi lain Hery
2. Letu Penerbang Paulus (kopilot)
3. Letda Penerbang Syahroni (kru) - versi lain menyebut Fahroni.
4. Kapten Teknik Agus
5. Serma Simulato
6. Serka Wahyudi
7. Sertu Purwo

"Informasi sementara itu. Korban tewas masih didata," kata Azman.

Dia menjelaskan pesawat itu take off pukul 13.10 WIB. Beberapa saat kemudian saat akan mendarat, pesawat jatuh pukul 14.45 WIB.

Sebelumnya, Kapuspen TNI AU Laksamana Muda Iskandar Sitompul menyebut 3 awak pesawat tewas yaitu pilot, kopilot dan 1 kru.(vit/nrl)

 TNI: Korban Tertimpa Fokker Sekitar 3 Orang, Bisa Bertambah

F27 TNI AU (foto Kaskus)
Jakarta Mabes TNI mengkonfirmasi sementara korban yang tertimpa Fokker-27 di Komplek Rajawali, Halim Perdanakusumah, sekitar 3 orang, di antaranya anak-anak. Korban ini bisa bertambah.

"Dari 8 rumah yang tertimpa (pesawat) ada korban 3 atau berapa, lagi didata. Korban yang ketimpa pesawat harus diidentifikasi secara tertib," jelas Kapuspen Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Belum diketahui kondisi korban yang tertimpa pesawat yang sedang ditangani di RSAU dr Esnawan Antariksa itu.

Iskandar membenarkan ada korban anak-anak dalam kecelakaan yang terjadi pukul 14.45 WIB itu. "Betul ada anak-anak 1, orang dewasa 2. Sementara akan didalami dulu, bisa bertambah," kata Iskandar.

Sebelumnya dia menjelaskan, 3 kru di pesawat tersebut meninggal dunia. Mereka adalah pilot Mayor Pnb Hery, kopilot Lettu Paulus. Sedangkan kru yang meninggal adalah Lettu Fahroni.(nwk/nrl)

 Ini Dia Bangkai Pesawat Fokker yang Jatuh di Halim

(Foto: Rio/detikcom)
Jakarta Pesawat Fokker 27 TNI AU yang jatuh menimpa beberapa rumah warga di samping landasan Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta Timur terbelah beberapa bagian. Sebagian gosong, sebagian masih utuh.

Pemantauan detikcom, Kamis (21/6/2012), pesawat itu terbelah dan teronggok di rumah warga yang hancur tertimpa pesawat tersebut. Sebagian badan pesawat gosong karena terbakar beserta rumah-rumah yang tertimpa. Sebagian bagian pesawat lainnya masih bisa dilihat jelas.

Di antara yang masih terlihat jelas adalah bagian sayap dan potongan badan pesawat. Roda pesawat yang sudah terlepas dari badan pesawat juga terlihat jelas.

Hingga pukul 16.45 WIB, bangkai pesawat tersebut masih belum dievakuasi. Beberapa petugas dari TNI AU masih tampak berada di lokasi untuk membicarakan bagaimana mengangkut bangkai pesawat itu.(asy/nrl)

 TNI AU: 6 Orang di Fokker Tewas, Kopilot Kritis

Jakarta Enam orang yang berada di perut Fokker-27 meninggal dunia. Satu orang lainnya, yakni kopilot Lettu Paulus dalam keadaan kritis.

"Lettu Paulus kritis. Itu kopilot," kata Kadispen AU Marsma Azman Yunus dalam jumpa pers di Halim, Kamis (21/6/2012). Berita ini juga meluruskan pernyataan Kapuspen TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul bahwa kopilot turut tewas dalam musibah itu.

Berikut nama korban tewas akibat kecelakaan ini:

1. Kapten Hery (pilot)
2. Letda Syahroni
3. Kapten teknis Agus
4. Serma Simulato
5. Serka Wahyudi
6. Sertu Purwo

Azman mendapat kabar 8 rumah hancur tertimpa pesawat tersebut. Dia juga mendengar ada korban sipil tetapi belum jelas keadaannya.

"Saya baru dapat kabar ada ibu-ibu yang kena. Tapi saya belum bisa memastikan keadaannya," tuturnya.(gah/nrl)

 Black Box Fokker-27 Sudah Diamankan TNI AU

Jakarta Black box Fokker-27 yang menyimpan data selama penerbangan sudah ditemukan anggota TNI AU. Kini alat yang sangat vital untuk menemukan penyebab kecelakaan itu sudah diamankan pihak berwenang.

"Saya kira black boxnya sudah diamankan," tutur Kasubdispenum TNI AU Kol Agung Sasongko Jati dalam jumpa pers di Gedung Air Tower Center of Indonesia, Jl Cendrawasih, Kompleks Rajawali, Halim, Jakarta Timur, Kamis (21/6/2012) malam.

Sementara itu bangkai pesawat buatan Belanda ini akan dievakuasi dulu. Saat ini petugas dari TNI AU sedang melakukan pendataan tentang kecelakaan.

"Saya kira black boxnya sudah diamankan dan bangkai pesawat akan dievakuasi besok setelah pendataan tentang kecelakaan ini selesai," terangnya.(gah/nrl)

 10 Orang Luka Ringan dan 2 Kritis Akibat Kecelakaan Fokker 

Jakarta Komandan Lanud Halim Perdanakusumah Marsekal Pertama TNI Asep Adang Supriyadi, mengatakan, ada 12 korban luka dalam kecelakaan pesawat Fokker-27. Dua di antaranya kritis.

"Total ada 12 korban luka dirawat di di RSUP AU Esnawan Antariksa, Halim, Jakarta Timur," kata Asep di Lanud Halim, Jakarta, Kamis (21/6/2012) malam.

Dari 12 korban luka itu, 10 mengalami luka ringan. "Keterangan identitasnya belum bisa disampaikan," ujarnya.

Pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan, Halim, Jakarta Timur, pukul 14.45 WIB.

Pesawat itu bernomor register A 2708 buatan tahun 1977. Pesawat nahas itu dipiloti Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus. Pesawat jatuh saat latihan rutin.(rvk/nrl)

 Korban Tewas Pesawat Fokker 27 Jadi 10 Orang

Desmunyoto P. Gunadi / Jurnal Nasional
Jurnas.com | SEBELUMNYA dikabarkan, korban tewas akibat jatuhnya pesawat Fokker 27 dengan No RE A2708 sebanyak enam orang. Keseluruhan korban merupakan awak pesawat.

Dalam keterangan baru TNI AU, jumlah korban tewas bertambah menjadi 10 orang. Lettu (Pnb) Paulus, kopilot pesawat Fokker 27 yang sebelumnya dikabarkan kritis, akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. "Dari 10 korban, tujuh orang merupakan awak pesawat. Sementara, tiga orang lainnya berasal dari sipil," ujar Kasubdis Penum AU Kolonel Agung Sasongkojati dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/6).

Tiga korban sipil tersebut adalah Bryan (6), Naflin (2), serta seorang pembantu rumah tangga. Bryan dan Naflin merupakan anak dan keponakan Mayor Johanes yang rumahnya hancur tertimpa pesawat. Selain anak dan keponakan, istri Johanes, Martina, juga ikut menjadi korban dan saat ini kondisinya dalam keadaan kritis.

Sementara tujuh orang awak pesawat adalah Mayor (Pnb) Heri Setiawan (instruktur), Lettu (Pnb) Paulus Adi, Letda (Pnb) Syahroni, Kapten (tek) Agus, Serma Simulato, Serka Wahyudi dan Sertu Purwo. Agung juga mengatakan, hanya ada satu rumah yang hancur, yaitu rumah Mayor Johanes.

"Delapan rumah lainnya hanya terbakar," katanya. Rumah yang terbakar diantaranya merupakan kediaman Letkol Sutarno, Mayor Muhlisin, Mayor Ali, Mayor Grahadi, dan Mayor Azwar. Sementara itu, penyebab terjadinya kecelakaan juga belum diketahui.

"Tidak ada yang mencurigakan, semua berjalan normal. Tiba-tiba saja peswat dikabarkan jatuh," ujarnya. Menurutnya, ini baru pertama kali terjadi seperti ini. Biasanya, kecelakaan pesawat latih terjadi saat pesawat dalam perjalanan terbang, bukan jatuh di tempat. Ia mengatakan, pesawat jatuh saat melakukan latihan touch and go.

"Mereka sedang latihan lepas landas sebentar kemudian take off. Diperkirakan pesawat jatuh di tengah-tengah proses tersebut," katanya menjelaskan. Ia menambahkan kontak terakhir pesawat dengan menara pengawas hanya permohonan izin landing dan take off.

Hingga saat ini, proses evakuasi bangkai pesawat masih dilakukan dan diperkirakan baru akan selesai esok hari. Kondisi pesawat sendiri hancur terbelah dua. "Saat ini kami masih mengumpulkan data dan bukti di lokasi kejadian sebagai bahan penyelidikan," katanya.

Kondisi pesawat masih bagus dan secara teratur dilakukan pengecekan. Pesawat Fokker 27 ini buatan Belanda tahun 1977 tersebut sudah mengoleksi 14.936 jam terbang. "Pesawat masih layak terbang, meskipun ada rencana untuk menggantikannya dengan peswat CN 25," ujarnya.

Rencananya, jenazah korban akan disemayamkan di hanggar Skaadron II, Halim Perdanakusumah. Tapi, masih harus menunggu proses autopsi di rumah sakit.
.

 ... Rest In Peace ...

detik / Jurnas

650 Prajurit TNI Dikirim dari Bengkulu ke Papua

Yonif 144 Jaya Yudha
BENGKULU -- Sebanyak 650 prajurit TNI dari Yonif 144 Jaya Yudha dikirim ke Papua untuk melaksanakan operasi teritorial dan menarik simpati rakyat Papua.

Kapenrem 041 Garuda Emas Mayor Inf Onsonuni di Bengkulu, Kamis (21/6) menyebutkan sebelum diberangkatkan ke Papua, Wakil Asiten Operasi (Waasops) Panglima TNI Laksamana Pertama Widodo yang didampingi Kasdam II/Sriwijaya Brigjen M Nasir meninjau gelar kesiapan akhir di Mayonif 144 Jaya Yudha Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Dalam sambutannya, Waasops berpesan kepada prajurit agar melaksanakan tugas negara dengan baik. Ia mengatakan tugas para prajurit di Papua adalah mengutamakan operasi teritorial dan menarik simpati rakyat Papua sehingga dapat mencairkan situasi yang kembali bergejolak di wilayah tersebut. "Ikuti aturan yang telah ditetapkan tentang pelibatan TNI dalam menangani masalah dalam tugas operasi," tambahnya.

Waasops menekankan, kehadiran TNI tidak boleh menjadi masalah baru. Para prajurit diminta menghindari perbuatan-perbuatan yang bersifat ilegal serta menjaga nama baik satuan. "Kalian diberangkatkan 650 orang dan kembali 650 orang, kemudian setiap kegiatan direncanakan dengan baik, jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa," katanya.(Fajar.co.id)

2013, Pesawat Sukhoi Jadi 16 Unit

Berita Armabar

SU 30 MK2 (Gambar www.mars.slups)
MAKASSAR, FAJAR -- Mabes TNI Angkatan Udara menjadikan Makassar sebagai salah satu pusat pertahanan udara. Buktinya, sebagian besar kapal perang dan alat utama sistem senjata (Alutsista) ditempatkan di Markas Koordinasi Operasi Angkatan Udara (Koopsau) II Sultan Hasanuddin Makassar.

Panglima Koopsau II, Marsekal Pertama Agus Supriatna mengatakan dalam waktu dekat ini dua pesawat sukhoi dari Rusia akan memperkuat armada TNI AU. Sukhoi tambahan itu akan ditempatkan di Makassar.

"Sekarang ini sudah 10 sukhoi. Dalam waktu dekat ini akan datang dua pesawat tambahan. Ditargetkan jumlah sukhoi di Indonesia mencapai 16 unit pada 2013 mendatang," kata Agus saat bersilahturahmi ke Graha Pena Makassar Selasa, 19 Juni kemarin.

Selain pesawat tempur, Rusia juga akan menyertakan beberapa teknisi sukhoi untuk perawatan pesawat tempur itu di Makassar. Mabes TNI AU juga merencanakan pembelian pesawat tempur super tucano dari Brazil yang bakal ditempatkan di Madiun.

"Penambahan pesawat tempur dan alutsista ini semata-mata untuk menyeimbangkan kekuatan pertahanan dengan negara tetangga," katanya.

Di Graha Pena, Agus yang didampingi beberapa perwira Koopsau II diterima langsung Komisaris Utama PT Media Fajar, HM Alwi Hamu, Dirut PT Media Fajar, H Syamsu Nur dan Komisaris PT Media Fajar, Andi Syafiuddin Makka. Ikut hadir Wadirut PT Media Fajar, H Agus Salim Alwi dan Kepala Redaksi Harian Fajar, Faisal Syam.

Panglima Koopsau II juga mengajak Harian Fajar bekerja sama dan bersinergi dalam menjaga keamanan udara. Ia mengatakan sinergi dan hubungan baik Koopsau dengan jajaran Harian Fajar selama ini sudah terjalin sangat baik. (fap/sil)(Fajar.co.id)

Special : Interview Bersama PT.PAL dengan tema KCR-60

Berita Armabar

Berikut Interviewnya :

KCR 60 M PT PAL

1. Apa kelebihan KCR-60 dibanding FPB-57 Nav V yang sebelumnya diproduksi PT.PAL? Dan apa pula kelebihan KCR-60 dibanding kapal sejenis dari luar negeri?

Kelebihan KCR-60 dibanding FPB 57, adalah sbb:

  • KCR-60 M dirancang dan dibangun secara mandiri oleh insan PT PAL berdasarkan dari pengalaman dalam membangun 12 unit kapal FPB 57 yang dirancang oleh Lurssen Jerman yang masih mengikat melalui design royalti, untuk itu PT PAL berusaha mengembangkan desain FPB 57 menjadi 60 m dengan tujuan kemandirian dibidang desain dan produksi tanpa royalti, pada tahun 2002 PT PAL juga pernah mengajukan proposal teknis Kapal Patroli Cepat Nasional 60 m (KPCN 60) ke TNI-AL. 
  • KCR 60 M mempunyai dimensi ukuran kapal lebih panjang dan lebih lebar, dengan displasemen yang lebih besar sehingga payload kapal lebih besar, mempunyai sarat kapal lebih rendah sehingga badan kapal yang tercelup air lebih sedikit dapat mengurangi tahanan kapal. 
  • KCR 60 M mempunyai daya mesin utama yang terpasang lebih kecil 27 %, sehingga akan mengurangi berat kapal dan mengurangi biaya operasional karena konsumsi bahan bakar lebih sedikit. 
  • KCR 60 M mempunyai bentuk superstructure yang lebih ergonomis yang mengacu ke desain Stealth.

Kelebihan 

KCR-60 dibanding kapal sejenis dari luar negeri, sbb:

Untuk perancangan kapal baru sekelas KCR 60 M masing-masing galangan diluar negeri mempunyai keunggulan dan karakteristik perancangan sendiri berdasarkan pengalaman dan kebutuhan dari user dalam operasional. Karena KCR 60 M adalah jenis kapal perang yang harus dijaga kerahasiaannya sehingga sangat wajar bila dirancang dan dibangun oleh Industri Pertahanan Nasional, disamping itu kebutuhan dan kehidupan dilaut dari crew kapal akan lebih dipahami oleh desainer nasional dalam menterjemahkan tata letak dari perancangan umum desain kapal tersebut, dengan pertimbangan tersebut sehingga dalam mendukung pengadaan Alutsista diperlukan kemandirian nasional.

2. Berapa lama proses perancangan dari KCR-60 ini? Dan apa keunggulan dari rancangan tersebut?

Bentuk KCR 60 dirancang dan didisain oleh tim desain PT PAL dimana beberapa diantaranya adalah desainer-desainer muda yang mempunyai ide kreatif yang masih segar. Melalui software untuk desain kapal yang diakui di dunia perkapalan, stabilitas KCR 60 diperhitungkan dari segala kondisi muatan sesuai dengan kriteria stabilitas yang dikeluarkan oleh IMO.

Kajian seakeeping
KCR 60 juga diperhitungkan secara detail terutama dari segi kenyamanan personil sampai dengan kemampuan beroperasi peralatan system persenjataan yang nantinya terpasang di dalam kapal pada saat kondis kapal operasi patrol.

Proses perancangan KCR 60 M yaitu perancangan : pada tahap Basic Design termasuk proses pengujian di Laboratorium Hidrodinamika Indonesia – BPPT (LHI – BPPT) di Surabaya, tahap Key Plan termasuk approval gambar ke Biro klasifikasi, tahap Yard Plan, kemudian tahap Production Drawing, sehingga total ± 10 bulan. Melalui diskusi yang terus menerus antara desainer PAL dengan LHI BPPT dan pabrikan mesin dan propeller, maka keunggulan dari rancangan KCR 60 m yang dirasakan adalah telah didapat dari perhitungan di software dan pengujian model di laboratorium hidrodinamika kapal tersebut dapat mampu mencapai kecepatan yang diinginkan sesuai dengan power mesin yang terpasang dan kapal mempunyai performance baik dapat bertahan sampai tinggi gelombang signifikan 2 m (termasuk di dalam kriteria sea state 4).

3. Boleh minta dijelaskan spesifikasi umum dari KCR-60?

Ukuran utama KCR 60, sebagai berikut:
Panjang keseluruhan : ± 59.80 m,
Lebar : ± 8.10 m,
Tinggi pada tengah kapal : ± 4.85 m,
Sarat muatan penuh : ± 2.60 m
Kecepatan maksimum : ± 28 knot.
Ketahanan dilaut : ± 9 hari
Daya jelajah : ± 2400 Nm
Crew : 43 orang

4. Seperti pernah bapak jelaskan untuk KCR-60 ini, PT. PAL membuat platform saja dulu. untuk systemnya nanti akan ditentukan kemudian. nah, menurut bapak sendiri, kira2 system dan persenjataan sebaiknya dari mana? Apakah kembali menggunakan Thales?

Ilustrasi KR 60 M PAL (gambar incoherrent)

Kapal KCR 60 ini didesain sudah mempertimbangkan peralatan system persenjataannya / combat system (payload) yang akan dipasang, yaitu pertimbangan berat, ruangan/space, power supply, dll. Untuk pemilihan maker/type peralatan system persenjataannya akan bergantung pada user karena peralatan system persenjataannya tersebut merupakan peralatan strategis TNI-AL.
Sumber dipostkan oleh Audrey

Usulan Pembentukan Indonesia Coast Gard

 DPR Usulkan Pembentukan Indonesian Coast Guard

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin mengkritik pemerintah lantaran lemahnya sistem pengawasan di laut dan pantai. Alhasil, kekayaan laut yang berlimpah tidak terkelola dengan baik.

Tidak mengherankan acapkali terjadi kasus illegal fishing, pencurian pasir, hingga penyelundupan manusia via laut. "Termasuk dengan mudahnya Neneng bebas masuk melalui "jalan tikus". Belum lagi keluarnya TKI ilegal ke luar negeri atau masuknya para penyelundup narkoba ke wilayah Indonesia," ungkap anggota Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin kepada Okezone, di Gedung DPR, Senin (18/6/2012).

Menurut dia, dengan garis pantai lebih dari 81.000 kilometer dan luas laut 3,1 juta kilometer persegi, memang memerlukan tata kelola kemaritiman yang baik. Saat ini ada 13 lembaga yang terlibat di laut atau pantai.

Yaitu TNI AL, Polri, PPNS Perhubungan, PPNS Bea Cukai, PPNS Imigrasi, PPNS Kehutanan, PPNS Diknas, PPNS Kemen Laut, PPNS Lingkungan Hidup, Kejaksaan, BIN, Badan SAR, dan Bakorkamla.

Dia menambahkan, kesemerawutan terjadi karena ke-13 lembaga itu memiliki tugas pokok dan fungsi yang tumpang tindih. Sehingga kontrol di lapangan menjadi kabur.

"Ditambah ego sektoral dari masing-masing lembaga menambah lagi susahnya kordinasi. Sekarang saatnya pemerintah memformulasikan ulang kebijakan keamanan dan pertahanan maritim secara komprehensif dan terintegrasi," jelasnya.

Oleh sebab itu, kata dia, penegakan hukum harus diperjelas sehingga masing-masing lembaga tidak tumpang tindih dalam menjalankan tugasnya.

"Lalu tentukan SOP dan siapa leading sector-nya. Saatnya sekarang dibentuk Indonesian Coast Guard yang cocok untuk kebutuhan pengamanan dan pertahanan Indonesia dalam penegakan hukum dan menjaga kedaulatan NKRI," pungkasnya.(ful)(Okezone)
 Pengawasan Laut Parah, Bentuk Coast Guard

Jakarta - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menilai, sistem pengawasan laut dan pantai Indonesia sangat buruk, sehingga kekayaan laut kerap dijarah pihak asing dan laut dijadikan jalur berbagai penyelundupan dan tindak kejahatan. Saatnya dibentuk Penjaga Pantai (Coast Guard).

"Indonesia sesungguhnya negara kaya, termasuk potensi kemaritimannya. Karena kekayaan itu tak dijaga dengan baik, menimbulkan maraknya ilegal fishing, ilegal mining, ilegal logging, bahkan penyelundupan manusia, termasuk dengan mudahnya tersangka koruptor Neneng Sriwahyuni bebas masuk melalui 'jalan tikus'," bebernya, di Jakarta, Senin (18/6).

Bukan hanya itu. Buruknya pengamanan, jalur laut juga, menurut Hasanuddin, kerap dimanfaatkan keluar-masuknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal menuju dan dari luar negeri, serta masuknya jaringan penyelundup narkoba internasional ke wilayah Indonesia.

Menurutnya, dengan garis pantai lebih dari 81.000 kilo meter dan luas laut 3,1 juta kilometer persegi, memang memerlukan tata kelola kemaritiman yang baik. Saat ini, ada 13 lembaga yang terlibat di laut dan pantai, antara lain; TNI AL, Polri, PPNS Perhubungan, PPNS Bea Cukai, PPNS Imigrasi, PPNS Kehutanan, PPNS Diknas, PPNS Kemen Laut, PPNS Lingkungan Hidup, Kajaksaan, BIN, Badan SAR, dan Bakorkamla.

"Kesemerawutan terjadi karena ke-13 lembaga itu memiliki Tupoksi yang kadang-kadang tumpang tindih satu sama lainnya. Sehingga kontrol di lapangan menjadi kabur. Ditambah, ego sektoral dari masing-masing lembaga menambah susahnya koordinasi," bebernya.

Mengatasi hal itu, ia menyarankan, saatnya pemerintah Indonesia memformulasikan ulang kebijakan keamanan dan pertahanan maritim secara komprehensif dan terintegrasi. Distribusi kewenangan penegakan hukum dan pertahanan harus jelas, agar tidak terjadi overlapping.

"Lalu tentukan SOP dan siapa leading sector-nya. Saatnya dibentuk Indonesian Coast Guard yang cocok untuk kebutuhan pengamanan dan pertahanan Indonesia dalam penegakan hukum dan menjaga kedaulan NKRI," pungkasnya. [IS](Gatra)
 Neneng Lewat Pelabuhan Tikus, Indonesia Sudah Perlu Coast Guard

JAKARTA - Cara masuknya Neneng Sri Wahyuni ke Indonesia terus mengundang kecurigaan. Jika benar Neneng masuk ke Indonesia melalui pelabuhan tikus di Batam, maka ada banyak instansi yang harusnya melakukan evaluasi.

Wakil Ketua Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan luar negeri, TB Hasanuddin, mengungkapkan bahwa saat ini ada 13 instansi yang terlibat dalam pengamanan di laut dan pantai. Instansi-instansi itu antara lain TNI AL, Polri, Kejaksaan, BIN, Badan SAR Nasional, Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla), serta PPNS dari sejumlah kementrian seperti Kementrian Perhubungan, Lingkungan Hidup, Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, Bea Cukai dan Imigrasi.

Namun menurut Hasanuddin, masuknya Neneng yang disebut-sebut melalui pintu keluar TKI ilegal menunjukkan adanya kesemrawutan dalam hal pengawasan pantai dan laut. "Sistem pengawasan laut dan pantai kita memang parah," kata Hasanuddin, Senin (18/6) di Jakarta.

Pensiunan TNI dengan dua bintang di pundak itu menambahkan, kesemrawutan terjadi karena 13 lembaga yang memiliki tugas pokok dan fungsi sendiri-sendiri justru sering tumpang tindah antara satu dengan lainnya. akibatnya, kontrol di lapangan menjadi terabaikan. "Ditambah ego sektoral dari masing-masing lembaga, membuat lebih susah lagi koordinasinya," ulasnya.

Karenanya mantan Sekretaris Militer Kepresidenan itu mengusulkan agar pemerintah segera memformulasikan ulang kebijakan keamanan dan pertahanan maritim secara menyeluruh dan terintergrasi. "Harus ada distribusi kewenangan penegakan hukum dan pertahanan yang jelas agar tidak overlapping dan tentukan pula leading sector-nya," cetusnya.

Yang juga tak kalah penting, katanya, Indonesia sudah saatnya memiliki Pasukan Pengawal Pantai (Coast Guard). Hasanuddin menilai Indonesia dengan garis pantai sepanjang 81 ribu KM dan laut seluas 3,1 juta KM persegi memang memerlukan tata kelola kemaritiman yang baik .

"Coast Guard ini cocok untuk kebutuhan pengamanan dan pertahanan Indonesia dalam penegakan hukum sekaligus menjaga kedaulatan NKRI," ulasnya.(ara/jpnn)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...