Kamis, 13 Desember 2012

Antara PT-76/BTR-50, Sentuhan dari Israel rasa lokal

Biarpun tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia, toh tidak menjadi halangan bagi perusahaan-perusahaan Israel dalam menyediakan jasa pertahanan bagi Indonesia. 

Baik TNI-AU, dan AL sedikit-banyak menggunakan jasa berbagai perusahaan Israel untuk meningkatkan kapabilitas atau meretrofit alutsista tua. Modus yang biasa digunakan, adalah masuk dengan entitas legal yang didirikan di Singapura, dan menggaet rekanan lokal Indonesia. 

Enaknya, biasanya perusahaan Israel tersebut justru tidak memandang ideologi atau menerapkan syarat tertentu dalam pelaksanaan jasanya. Selama ada uangnya, no questions asked, its pure business.

Kali ini yang hendak dibahas adalah PT-76, tank amfibi kebanggaan Korps Marinir TNI-AL. Dari jumlah seratusan unit yang dimiliki Marinir, hampir semuanya digunakan secara ekstensif dalam berbagai operasi, utamanya kampanye Dwikora, Seroja Timur-timur, dan berbagai pendaratan amfibi lainnya di berbagai pantai di Indonesia. 

Setelah 30 tahun masa pengabdian, sudah tentu kondisinya jauh menurun, apalagi wilayah operasinya di perairan laut menyebabkan komponen-komponennya mulai aus termakan korosi. Dari segi kemampuan ofensifnya pun, meriam D-56TM kal 76 mm boleh dibilang sudah mandul untuk ukuran pertempuran modern. 

Dengan hululedak sebatas HEF (High Explosive, Fragmentation) dan kaliber kecil, tank amfibi yang banyak jasanya ini membutuhkan penyegaran baru. Versi angkut pasukan dari PT-76 yaitu BTR-50 pun memerlukan retrofit dan rekondisi karena kondisinya sebelas duabelas dengan PT-76.

Proses rekondisi, retrofit, dan rearmament tersebut dikerjakan oleh perusahaan Israel, Nimda. Israel yang berpengalaman merebut berbagai tipe kendaraan tempur milik Mesir dan Suriah yang dibuat oleh Rusia tentunya memiliki pengalaman ekstensif dalam memodifikasinya dengan suku cadang buatan Barat. 

Nimda mengerjakan proyek refurbish PT-76 dan BTR-50 dengan kode PT-2000 dan BTR-2000, dimulai pada tahun 1990an. Kunci utama modifikasi difokuskan pada dua aspek: mobilitas dan kemampuan tempur. Sebagai pengganti mesin diesel 4 silinder V-6 digantikan dengan mesin Detroit Diesel 6V92T dengan 290 daya kuda. Didalam negeri, proses retrofit dikerjakan oleh PT.API pada medio 1985-1990.

Dengan mesin baru tersebut, PT-76 bisa melaju dengan kecepatan 58 km/ jam di jalan raya. Sementara kapabilitas ofensifnya diperbaiki dengan pemasangan meriam Cockerill Mk III A-2 kaliber 90mm. Kanon 90mm tersebut mampu melontarkan munisi APFSDS (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot) untuk melawan MBT dengan kulit baja yang keras, dengan daya penetrasi 300 mm RHA pada jarak 1.000 meter. 

Pada PT-76, meriam 90 mm tersebut mampu didongakkan 36o dan sudut depresi 6o. Senapan mesinnya yang tadinya DShK digantikan dengan FN GPMG. Sementara itu, BTR-2000 menerima mesin serupa dengan PT-76, panel meter indikator baru, dan teropong inframerah pada posisi disamping kanan pengemudi.

Didalam situs perusahaan Nimda, mereka masih menawarkan proses upgrade terhadap BTR-2000 dan PT-2000, yang didalamnya menyertakan gambar-gambar proses refurbish terhadap PT-76 dan BTR-2000. Walaupun pada sebagian besar gambar tersebut identitas pemilik BTR-50 dan PT-76 sudah dihapus, tetapi dalam salah satu gambar, masih ada nomor seri pengenal kendaraan milik TNI AL di lambung kanan BTR-50.

 


ARC
Abimanyu Dj

Menyambut Senyum 2013

Musim bunga alutsista segera tiba bersamaan dengan datangnya fajar senyum di tahun 2013 meski wangi kembangnya sudah mulai tercium harum sejak kuartal terakhir tahun ini. Bolehlah disebut sebagai tahun dimulainya panen raya dengan kedatangan beragam jenis alutsista modern untuk disandangkan dan dikandangkan ke setiap kesatrian pengawal republik di segala matra.

Boleh juga disebut inilah panen raya terbesar selama beberapa dekade manakala RI membelanjakan milyaran dollar untuk mengejar ketertinggalannya dalam memodernisasi alutsistanya. Ada pelajaran pahit manakala sebagian besar alutsista kita tak pernah disegarkan, sudah jumlahnya sedikit, mutunya jadul lagi. Namun yang bikin sesak nafas adalah ejekan tetangga dengan melakukan klaim dan show of force seakan mereka sudah menjadi ayam jantan yang merasa paling kuat lalu berkukuruyuk padahal hari telah malam.

Kesabaran dan rasa sesak di sekujur tubuh itu perlahan mulai menemukan sinar cerah manakala panglima tertinggi mulai menjalankan strategi “wajah jawa” dengan tetap berbaik hati dan bermanis muka pada si jiran. Namun dibelakangnya menjalankan strategi besar dengan anggaran besar, membangun kekuatan tentara dengan alutsista secara revolusioner tanpa harus arogan sikap. Kita masih ingat di ruang publik yang bernama layar kaca dan disiarkan secara langsung dari Cilangkap, Jakarta beberapa tahun lalu Presiden Sby mengeluarkan statemen yang softly untuk meredam kemarahan rakyat kepada negara jiran yang hobi mengklaim.

Pernyataan Presiden dalam bahasa diplomasi sebenarnya ingin agar kita sebagai rakyat tidak perlu emosi dengan negara jiran karena saling ketergantungan satu sama lain. Misalnya, kata beliau, di sana ada lebih sejuta tenaga kerja kita dan seterusnya. Jelas pernyataan yang tidak memuaskan secara adrenalin. Tapi banyak yang tak tahu sesungguhnya setelah itu ada “kemarahan militer” yang dituangkan dalam strategi memodernisasi angkatan bersenjata. Dan hasilnya kita lihat sekarang dan tahun-tahun mendatang, kita panen raya bro.

Namun yang perlu diingat dari semua sambutan kedatangan alutsista itu tentu pertanggung jawaban pada kesesuaian produk dengan nilai yang telah dikorbankan. Caranya tentu dengan menyampaikan sample utama untuk disiarkan kepada segenap publik yang juga menanti dengan keriangan hati. Tidak perlu telanjang jua karena ini rahasia militer, namun sample kedatangan alutsista gahar perlu disampaikan ke publik untuk memberikan rasa kebanggaan dan memupuk semangat beralutsista.

Visualisasi seperti yang akan disiarkan oleh Kompas TV tanggal 26 dan 28 Desember 2012 tentang “pertanggungjawaban” kehebatan Garda Samudra seharusnya menjadi sebuah public relation untuk jembatan komunikasi kepada rakyat bahwa ini loh yang telah kami lakukan untuk mengawal samudra. Misalnya dengan keberhasilan penembakan rudal Yakhont yang menggetarkan itu baru-baru ini. Sehingga publik tahu dan paham tentang sangarnya rudal itu dan keterlatihan prajurit TNI AL yang mampu menembakkan rudal maut itu tanpa supervisi dari negara si pembuat Rusia.

Jika setiap bulan ditayangkan melalui visualisasi minimal 30 menit di layar kaca dan narasi melalui media cetak representatif dengan berganti-ganti antar matra TNI, kita meyakini jembatan komunikasi yang dibangun kepada rakyat selaku “penyandang dana melalui pajak” akan memberikan nilai harmoni dan kesepahaman tentang nilai tugas tentara dan jenis alutsista yang dipergelarkan. Tidak seperti selama ini melalui layar kaca TVRI lewat acara CITA sama sekali tidak memberikan nilai kebanggaan dalam bermiliter. Yang ditampilkan kegiatan pergantian tugas jaga di kesatrian lalu wawancara ala kadarnya.

Dengan tayangan yang mengedepankan kebanggaan menampilkan latihan militer skala brigade ke atas boleh jadi akan menjadi respons yang baik dari publik dengan mengajak pemerintah dan DPR untuk lebih memoles lagi pengawal republiknya. Misalnya untuk pertahanan pangkalan AU dan AL serta ibukota negara tidak lagi dengan rudal-rudal jarak pendek melainkan dengan rudal surface to air jarak menengah yang punya nilai gentar.

Kita meyakini tidak lama lagi pengawal republik akan segera mendapatkan alutsista anti serangan udara jarak menengah seperti keyakinan kita akan terjadinya transaksi jet tempur canggih dari sebuah negara Eropa yang telah menjamu presiden Sby dengan megah dan meriah. Tidak adalah makan siang gratis dalam hubungan pertemanan dan persahabatan sekalipun, seperti yang ditunjukkan dalam perjamuan full service VVIP naik pesawat kepresidenan Korsel manakala delegasi RI bertandang ke Korsel sebelum kontrak Changbogo setahun silam. Dan itu sah dalam hubungan berbisnis untuk mengambil hati.

Sebagai bangsa besar dengan populasi besar kita tetap akan berjalan dengan keyakinan hati dan kepercayaan diri bahwa kita bisa membangun kekuatan kita. Kekuatan ekonomi yang stabil selama 9 tahun ini dengan pertumbuhan yang mengesankan, PDB kita menjadi yang terbesar di ASEAN dan no 15 terbesar di dunia. Pendapatan perkapita per tahun sudah mencapai US $ 5.000,- Rasio hutang jauh lebih baik dan ada dalam koridor aman dengan rasio 24%. Banyak hal yang berhasil di capai selama ini termasuk pengakuan badan-badan ekonomi dunia dan lembaga keuangan dunia pada kemajuan ekonomi Indonesia. Kemajuan ini tentu berpengaruh besar pada peningkatan anggaran militer yang diprediksi akan terus meningkat dan akan menjadi nomor satu di ASEAN.

Oleh sebab itu menyambut senyum di tahun 2013 adalah awal dari perubahan revolusioner dalam perolehan kuantitas dan kualitas alutsista kita. Kedatangan beragam jenis alutsista mulai tahun depan dan seterusnya akan memberikan nilai tawar dalam pergaulan kawasan dan diplomasi bergigi. Ini yang mestinya menjadi pijakan cara pandang sesama kita dalam berdiplomasi. Boleh saja di urusan rumah tangga bernegara kita ribut, namanya juga berdemokrasi. Tetapi manakala menjalankan diplomasi kita seragamkan sikap kita, tentu dengan motor Kementerian Luar Negeri untuk mengedepankan kewibawaan tanpa harus merasa sombong. Modal untuk kewibawaan itu tentu dengan kekuatan militer yang didukung kuantitas dan kualitas alutsista yang minimal setara dengan rumah jiran.

Rasa segan itu timbul jika kita mampu memoles kebugaran dan kekekaran tubuh kita untuk kemudian tampil dengan berbaik cakap dan sikap. Itulah analogi perkuatan milter. Kebugaran dan kekekaran tubuh kita itu memberikan nilai tawar tinggi dalam etika pergaulan. Setidaknya tetangga akan menahan diri untuk bersikap tak cakap, padahal kita belum melotot padanya. Apalagi kalau kita sampai melotot.


*******

Jagvane

Saksikan Garda Samudra di kompas Tv 26-28 Desember 2012 pukul 21.00 Wib

Rabu, 12 Desember 2012

Prioritaskan Sasaran Latihan dan Operasi

MENYIKAPI perkembangan saat ini, dengan mulai hadirnya beberapa alutsista baru yang dipesan pemerintah untuk TNI Angkatan Udara dan selanjutnya akan datang secara bertahap, maka TNI Angkatan Udara harus mampu memprioritaskan sasaran latihan dan operasi dengan pemanfaatan alokasi jam terbang yang telah ditentukan.

Hal itu diungkapkan Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Teknis Operasi (Rakernisops) TNI Angkatan Udara TA 2010 di Mabesau Cilangkap, Rabu (12/12).

Lebih lanjut dikemukakan, dari aspek pembinaan profesi operasi, staf Operasi harus selalu berupaya untuk mengoptimalkan kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan kualitasnya, karena bagaimanapun canggihnya teknologi yang digunakan, pada akhirnya unsur manusia yang menentukan segala keberhasilan setiap pelaksanaan tugas.

Melalui Rakernisops selama dua hari ini seluruh peserta rapat akan melakukan evaluasi dan saling tukar informasi tentang pelaksanaan program kerja Tahun Anggaran 2012 dan selanjutnya berdasarkan evaluasi dan program kerja TNI Angkatan Udara kedepan, baik jangka pendek dan jangka panjang, merencanakan kebutuhan jam terbang latihan dan operasi Tahun Anggaran 2013 sesuai alokasi yang sudah ditentukan..

Rapat Kerja Teknis Operasi TNI Angkatan Udara diadakan dengan tujuan mengidentifikasi permasalahan dan hambatan serta mendapatkan umpan balik dari pelaksanaan program kerja tahun 2012. Diikuti para Pejabat Mabesau, Kotama Operasi TNI AU, Lanud tipe “A” dan Lanud Operasional, Komandan Skadron Udara serta jajaran Kohanudnas.(dispenau)

MPI

Tim Pangkalan Koarmabar Temukan Kapal Korban Perompakan

berkat-subSetelah melakukan pencarian selama dua hari akhirnya Tim Pangkalan yang berada di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dengan menggunakan Patroli Keamanan Laut (Patkamla), Rabu (12/12/2012) berhasil menemukan kapal nelayan yang dirompak beberapa hari yang lalu di Perairan Bayeun Aceh Timur.

Pangkalan di bawah jajaran Koarmabar tersebut yakni Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Lhokseumawe yang dikomandani Letkol Laut (P) Tjatur Soniarto. Dalam Patroli tersebut Lanal Lhokseumawe menggunakan Patroli Keamanan Laut (Patkamla) Pante Raja dibantu Pos Angkatan Laut (Posal) Langsa yang menggunakan Patkamla Banda Sakti.

Patkamla Pante Raja dan Patkamla  Banda Sakti yang masing-masing diawaki lima personel Lanal Lhokseumawe dan Posal Langsa berhasil menemukan KM. Berkat Saudara milik nelayan Pangkalan Susu di Perairan Kuala Parek Aceh Timur yang dirompak pada hari Kamis tanggal 29 Nopember 2012 yang lalu oleh empat orang tak dikenal.

KM. Berkat Saudara ditemukan dengan posisi kandas dan tersembunyi di pohan Bakau yang sulit dilihat dari alur masuk Kuala Parek. Dari penyidikan awal diduga dua pelaku berinisial (My) bertempat tinggal di Kuala Parek, sedangkan (RA) bertempat tinggal di Kilometer 5 (Lima) Kuala Langsa, 3). Sedangkan dua pelaku lainnya masih dalam penyelidikan.

Untuk proses penyidikan lebih lanjut KM. Berkat Saudara telah dievakuasi ke Posal Langsa sebagai barang bukti.

Kepala Dispenarmabar
Agus Cahyono
Letkol Laut (KH) NRP 10881/P


Teks Gbr- KM. Berkat Saudara hasil perompakan berhasil ditemukan personel Patkamla Lanal Lhokseumawe dengan posisi kandas di alur masuk Kuala Parek.

Poskota

Mantapkan Pengamanan Pulau Terluar

Jakarta - Mengantisipasi pencaplokan maupun klaim sepihak batas maritim Indonesia oleh negara asing, TNI Angkatan Laut (AL) memantapkan pengamanan dini melalui penerbitan peta laut navigasi yang menggambarkan garis klaim batas laut secara unilateral atau klaim sepihak.

Kepala Dinas Hidro-Oseanografi (Kadishidros) TNI AL, Laksma TNI Aan Kurniadi seperti yang dikutip siaran pers Dispenal kepada Suara Karya di Jakarta, Selasa (11/12), menyatakan, garis klaim batas laut yang terbitkan TNI AL telah dikonsultasikan kepada Kementrian Luar Negeri (Kemlu), pakar dan ahli yang terkait dengan bidang perbatasan.

"Dishidros telah menerbitkan peta-peta laut navigasi yang menggambarkan garis klaim batas laut Indonesia secara unilateral," ujarnya.

Ia mengatakan, RI sebagai negara kepulauan terbesar di Asia yang memiliki 17.499 pulau. Sebanyak, 92 pulau, diantaranya merupakan gugus pulau terluar yang memiliki nilai strategis dan berbatasan langsung dengan 10 tetangga.

Perbatasan antarnegara itu, mencakup batas laut wilayah (laut teritorial), batas zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan batas landas kontinen (Continental Shelf) sangat penting dalam upaya mengelola sumber daya di lingkungan laut secara efektif dan berkesinambungan.

"Ini dalam rangka memajukan ekonomi kelautan yang disertai dengan peningkatan keamanan maritim, penegakan hukum dan kedaulatan di wilayah yurisdiksi Indonesia di laut," ucapnya.

Kadishidros juga menyinggung perkembangan penyelesaian batas wilayah negara. Dari 10 negara yang berbatasan, diantaranya, dua negara yang telah menyelesaikan seluruh perbatasannya dengan Indonesia, yaitu Australia dan Papua New Guinea.

Sedangkan yang masih dalam proses perundingan, yaitu Malaysia, Singapura, Philipina, Vietnam dan Palau. Hasil dari beberapa perundingan yang telah dilaksanakan, penyelesaian perbatasan laut dengan negara-negara tersebut masih memerlukan waktu yang cukup lama, untuk kebutuhan operasional di lapangan.

Dalam kesempatan itu, Aan juga menjelaskan bahwa Dishidros merupakan lembaga hidrografi nasional yang ditetapkan dengan dasar hukum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1951 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 164 Tahun 1960, berperan aktif dalam penetapan batas laut.

"Dishidros TNI AL merupakan salah satu Badan Pelaksana Tingkat Pusat di tingkat Mabesal (Balakpus Mabesal) yang melaksanakan fungsi hidro-oseanografi (hidros) untuk kepentingan militer dalam rangka mendukung penyiapan data dan informasi hidros bagi kepentingan operasi militer dan pertahanan," katanya.

Terkait tugas dan tanggung jawabnya, Dishidros TNI AL memiliki peran penting dalam mendukung teknis pada Tim Perundingan Perbatasan Laut (TPPL) yang dipimpin Kemlu, seperti dukungan peta laut dan publikasi nautika yang mencakup wilayah perbatasan yang dirundingkan, serta membuatkan garis-garis batas laut alternatif yang akan diusulkan dalam perundingan.(Feber S)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...