Jumat, 25 Januari 2013

Anggaran untuk Perbatasan 7,3 Triliun Rupiah

Jakarta | Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Triyono Budi Sasongko, mengungkapkan bahwa anggaran untuk penataan dan pengelolaan perbatasan yang dikoordinasikan badan perbatasan meningkat. Untuk 2013, anggaran yang dikoordinasikan BNPB mencapai 7,3 triliun rupiah.

"Melalui koordinasi BNPP, pada tahun ini terdapat anggaran sekitar 7,3 triliun rupiah. Berarti, anggaran ini meningkat sekitar 89 persen dari total anggaran tahun 2012 yang hanya berjumlah 3,9 triliun rupiah," kata Budi Sasongko, di Jakarta, Kamis (24/1).

Dana sebesar itu, kata dia, berasal dari 24 kementerian atau lembaga terkait yang memang dialokasikan untuk kawasan perbatasan negara. Artinya, dengan anggaran 7,3 triliun rupiah yang sekarang dikoordinasikan, ada peningkatan ketimbang tahun sebelumnya. Penataan dan pengelolaan wilayah perbatasan negara, hingga saat ini, berkembang cukup signifikan.

Khususnya, dengan semakin menguatnya komitmen dari kementerian dan lembaga negara terkait. "Sekaligus ada perkembangan terkait kebijakan program dan anggaran dari kementerian atau lembaga terkait," kata dia. Setidaknya, kata dia, itu ditandai dengan alokasi anggaran untuk pembangunan kawasan perbatasan yang meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya.


● Koran Jakarta

Menyelamatkan Mesin HERCULES C-130

Naskah Asli Oleh H. Soewidodo

 Peristiwa ini terjadi 46 tahun silam sekitar bulan September 1965. 

Didalam tugas Operasi Dwikora Kompi C dari YonZipur 5 Brawijaya dibawah pimpinan Danki Lettu CZI Wiradi (1960) di BP kan pada Brigif 5 dengan Dan Brigif Kol INF Jamal mendapat tugas di Kaltim. Ton 2 dibawah Danton Letda Suyoto (1963) sudah berangkat lebih dulu mengikuti Yonif 509 masuk ke pedalaman sedang Ton 3 dibawah Danton Letda Maxmilian Turumbe (1963) juga sudah berangkat ke pedalaman Long Bawang. Sedangkan saya dengan Ton 1 dan Ton 4 yang dipimpin Capa Sochirin dan komando Kompi masih berada di Tarakan.

Suatu malam Danki dipanggil Panglima Brigjen Mung Parhadimulyo untuk menerima tugas khusus yaitu mengambil 2 buah mesin pesawat Hercules yang jatuh diperbatasan dengan utuh dan tanpa ada korban jiwa. Untuk itu saya dengan peleton saya yang mendapat kehormatan melaksanakan tugas tersebut. Semula kami satu peleton akan didrop dengan pesawat, tetapi dibatalkan karena pertimbangan keselamatan pasukan, karena peleton kami belum pernah terjun payung. Maka kami segera bergerak menuju Malinou diangkut dengan 2 perahu besar menyusuri sungai Kayan selama 2 hari 1 malam. Malinou sendiri berada dihulu sungai Kayan yang sangat panjang dan lebar sekali. Bisa dibayangkan kalau disana sungainya bisa pasang surut layaknya laut saja.

Kemudian dari sini kami diangkut 2 Helicopter MI 8 menuju pedalaman bergabung dengan komando Brigif yang sudah berada di Long Kayan. Dengan diantar seorang bintara Brigif saya dan Danru Sertu Hayi meninjau lokasi jatuhnya pesawat yang ternyata berada di pinggir hutan dan didepan dataran landai dimana dataran ini hanya 500 meter dari perbatasan dimana musuh sudah menaruh beberapa kanon dan bisa dengan jelas melihat dataran ini. Seperti diketahui pesawat Hercules TNI AU ini tertembak jatuh oleh pasukan Arhanud kita sendiri yang bertugas sebelum Brigif 5. Pesawat itu sedang mengangkut 1 kompi RPKAD dibawah pimpinan Danki Lettu Sentot (alumni AMN 1961).

Maka saya putuskan bahwa mesin pesawat itu harus dibawa masuk lebih dahulu ke basis kami yang berjarak sekitar 3 – 4 km dengan melalui hutan sampai ada dataran untuk pendaratan heli pengangkutnya. Seingat saya mesin itu cukup besar dengan diameter sekitar 1.3 meter dan beratnya kurang lebih sekitar 3 ton, sedangkan baling-balingnya mungkin berdiameter sekitar 2.5 meter. Oleh karena itu kami harus membuat jalan selebar 2 meter dengan peralatan seadanya secara manual. Medannya sangat berat karena hutannya masih perawan namun akhirnya jalannya bisa tembus setelah kami kerjakan 58 hari dimana 6 hari terakhir dibantu peleton 3 yang sudah menyusul kami.

Tetapi masih ada kendala lainnya yaitu harus melewati sungai selebar 5 meter, maka saya minta pada team TNI AU untuk mendatangkan peralatan berupa sling kabel 1/2 inch sepanjang 70 meter, 12 buah klem kabel, 2 buah tracker, 3 buah katrol 4 mata dan lain lain. Kemudian kabel ini saya bentangkan melewati sungai itu dan saya ikatkan pada pohon besar dan yang seberang lagi pada pohon besar tetapi sudah mati / kering. Sekarang barulah regu AURI yang terdiri dari 7 orang bekerja setelah menunggu 60 hari untuk menurunkan 1 mesin dulu dan ditaruh diatas troly yang hanya dikerjakan selama kurang dari 1 hari dibawah pimpinan Kapten Bambang. Untuk pengangkutan troly saya hanya memakai satu regu yang saya pimpin sendiri. Untuk mengelabui musuh, kami barangkat per 2 orang dengan tanpa senjata serta bertelanjang hanya memakai celana pendek dan ketabang / topi Dayak dengan membawa keranjang dan mandau (sejenis pedang suku Dayak). Troli mesin pesawat kami dorong dengan berlari sambil berteriak-teriak untuk mengurangi ketegangan. Akhirnya dataran yang seluas 200 mt bisa kami lewati dengan selamat meskipun capeknya bukan main seperti lari 10 km dan kemudian troli ini didorong oleh regu lain sampai di tepi sungai.

Selanjutnya troli mesin kami gantungkan pada kabel yang terbentang diatas sungai tadi. Tetapi tiba tiba terdengar bunyi pletak yang cukup keras dan semua orang menduga bahwa pohon yang mati itu tidak kuat. Pasi 2 Brigif Kapten Soleh yang ikut menunggui minta pekerjaan ditunda dulu. Setelah semua anggauta pulang ke base kamp saya dengan beberapa anggauta menyelidiki apa yang terjadi dan apa penyebabnya. Ternyata ada satu akar samping yang patah, ini terjadi karena slink kabel telah mendapat beban berat hingga menarik pohon ini kesamping. Maka usaha kami adalah mengurangi daya tarik ini dengan membuat 2 angkur untuk menarik pohon hingga tidak ada moment puntir lagi. Malam harinya Danki Lettu Wiradi bersama saya, kapten Bambang dan Capa Sohirin berdiskusi. Saya tetap mengusulkan untuk melanjutkan evakuasi mesin dengan cara tadi. Karena bila membuat jembatan akan memakan waktu yang lama dan bila memindahkan lokasi penyeberangan juga sama. Maka saya minta usaha tadi diteruskan. Danki secara bergurau mengatakan bahwa kita harus siap melepaskan tanda pangkat sebagai taruhannya apabila mesin jatuh kesungai.

Akhirnya penyeberangan dengan cara tadi kita laksanakan setelah kita kontrol dan perkuat kabel-kabelnya dan semua klem-nja. Alhamdulillah berhasil dan troli mesin bisa kami dorong sampai akhirnya diangkut oleh helicopter yang landasannya sudah kami buat dari kayu karena bekas payau (rawa-rawa). Demikian pula pengambilan troli mesin yang kedua tidak ada hambatan apa2. Sekali lagi kita ucapkan syukur kehadirat Illahi karena selang satu hari setelah troli mesin selesai diangkut ke Tarakan hujan pun datang dan jalan yang kita buat dengan susah payah itu menjadi licin dan becek serta sulit untuk dilalui. Bisa dibayangkan kalau pelaksanaan tugas kami terlambat satu hari saja maka pasti kami akan gagal total.

Maha Suci Allah yang telah mengulurkan pertolongan-Nya pada pasukan kami.

Semarang, 7 Agustus 2011

● Diposkan Erwin Parikesit (Kaskuser)

Hercules dari Australia Siap Dikirim ke Indonesia

Hercules hibah asal Australia kini tengah dipersiapkan untuk dikirim ke Indonesia. Dalam foto yang dipublikasi australianaviation.com.au, terlihat sebuah C-130H Hercules dengan nomor seri A97-006 tengah menjalani uji terbang. Sebelumnya dipercaya Hercules ini sudah menjalani perawatan tingkat berat.

(foto australianaviation.com.au)

Dalam foto-foto tersebut juga Hercules terlihat "compang-camping" alias belum dicat. Hal ini menandakan sedang dilakukannya pengerjaan refurbish oleh Qantas Defence. Pesawat ini diduga diterbangkan ke Townsville untuk menjalani pengecatan. Juru bicara kementrian pertahanan Australia juga membenarkan, pesawat dengan nomor seri A97-006 ini akan menjadi Hercules ex RAAF pertama yang nantinya akan dikirim ke Indonesia.

(foto australianaviation.com.au)

TNI-AU rencananya akan mendapat total 10 pesawat C-130H Hercules bekas Australia. 4 pesawat merupakan hibah, namun Indonesia harus membayar biaya refurbish sebesar 15 juta dollar per pesawat. Sementara 6 unit lainnya dibeli dengan harga total 150 Juta dollar. Saat ini, TNI-AU mengoperasikan 2 Skadron Hercules, namun diduga kesiapannya minim.

● ARC

Kamis, 24 Januari 2013

Wakasad Cek Kesiapan Yonif Linud-503 Kostrad

Kesiapan Yonif Linud-503 u/ perbatasan RI-RDTL.
Jakarta | WAKASAD Letjen TNI Budiman mengadakan kunjungan ke Yonif Linud 503 Kostrad, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, Selasa(22/1). Kunjungan ini dalam rangka memeriksa kesiapan Yonif Linud-503 yang akan melaksanakan tugas pengamanan perbatasan RI-Timor Leste (RDTL).

Penerangan Kostrad dalam siaran pers kepada Jurnal Nasional, Kamis (24/01) mengatakan, kedatangan Wakasad beserta rombongan disambut Danbrigif Linud-18 Kostrad Kolonel Inf Syafrizal dan Danyonif Linud-503 Kostrad Mayor Inf F. J. Silalahi.

Pada kesempatan tersebut Wakasad memeriksa kesiapan Yonif Linud-503 Kostrad, baik personel maupun materill dalam sebuah gelar pasukan. Adapun materiil yang diperiksa meliputi persenjataan, munisi, kendaraan, protap perorangan prajurit dan perlengkapan pendukung lainnya. Di sela sela kunjungan, Wakasad menyempatkan diri mendatangi dan melihat kondisi perumahan prajurit di Asrama Yonif Linud-503 Kostrad.

Turut hadir dalam kunjungan ini Asops Kasad Mayjen TNI Dedi K. Thamin, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Murdjito, Pangdivif-2 Kostrad Mayjen TNI Setyo Sularso, Waaslog Kasad Brigjen TNI Bayu Purwiyono dan sejumlah pejabat TNI-AD lainnya.

● Jurnas

TNI Kesulitan Mendapatkan Penerbang

TNI Kesulitan Mendapatkan Penerbang
Interior pilot helikopter tempur. Bagian belakang ialah area navigator pilot yang lengkap dengan sistem persenjataan.

Yogyakarta | Sebanyak 17 calon penerbang TNI yang mengikuti tes terakhir, gugur satu orang. Sehingga sidang panitia penentu terakhir (Pantukhir) di Wing Pendidikan (Wingdik) Lanud Adi Sutjipto, Rabu (23/1), hanya meloloskan 16 orang. Padahal TNI membutuhkan sebanyak 25 penerbang.

Sidang Pantukhir dipimpin Asisten Personalia (Aspers) Panglima TNI, Marsda TNI Bambang Wahyudi yang diikuti penguji dari Mabes TNI, Mabes Angkatan Udara dan Mabes Angkatan Darat.

Menurut Bambang, peminat generasi muda untuk mengikuti seleksi sebagai calon penerbang TNI cukup tinggi. Pendaftaran yang dilakukan secara online terdaftar 369 orang, namun setelah diverifikasi tinggal 247 orang.

Kemudian mereka mengikuti seleksi daerah dan tinggal 60 orang yang ditetapkan untuk mengikuti seleksi tingkat pusat. Mereka terdiri 47 orang hasil seleksi daerah dan 13 orang mantan calon taruna. Akademi Militer, calon Kadet AAL, calon Karbol AAU.

Namun delapan dari 60 calon yang dipanggil seleksi pusat mengungurkan diri, sehingga tinggal 52 orang. Setelah diseleksi tinggal 17 orang.

Untuk seleksi calon penerbang meliputi tes kesehatan, tes jasmani, kesehatan jiwa, psikologi, dan tes akademik. Selain itu, untuk mengurangi agar setelah diterima mereka gagal, juga dilakukan attitude test (tes bakat terbang). Tes ini dilakukan di Lanud Adi Sutjipto selama lima jam di udara. "Ternyata setelah dilakukan tes ini tingkat kegagalan kecil, bahkan tidak ada," kata Bambang.

Setelah lulus tes terakhir, mereka akan menjalani pendidikan pertama (Dikma) di Lanud Adi Sumarmo Solo selama lima bulan. Selanjutnya, mereka akan mengikuti bina kelas dan bina terbang di Wingdik Lanud Adi selama 28 bulan.

● Republika
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...