Artikel dikutip sebagian teknis militer berserta sejarahnya dari Buku Memoar Ventje H.N. Sumual. Suntingan Sdr. Edi Lapian, Frieke Ruata dan BE Matindas. - Terbitan Bina Insani Jakarta 2009.
Konflik politik TNI AD - Awal Yang Nyaris Tiada Akhir
Saya
sedang mengikuti pendidikan SSKAD di Cililitan Jakarta ketika terjadi
peristiwa 17 Oktober 1952. Pimpinan MBAD mengerahkan demonstrasi massa
rakyat mengobrak-abrik ruang Parlemen. Sederet meriam dihadapkan ke
istana Presiden dan Gedung Parlemen. KSAD dan semuan Panglima menuntut
Presiden untuk membubarkan Parlemen. Berikut saya kutip sedikit
kesaksian Mangil, mantan Komandan DKP Tjakrabirawa, tentang situasi di
Istana Negara pada hari itu.
“Pagi itu saya berangkat dari rumah
pukul 06.30. Saya kaget, melihat didepan Istana, sejumlah meriam dengan
moncong mengarah tepat ke Istana,” kenang AKBP Purn. Mangil
Martowidjojo, Komandan Polisi Pengawal Pribadi Presiden, dalam
pernyataan tertulis tahun 1999, terbit dalam buku bertajuk Kesaksian Tentang Bung Karno.
“...sewaktu lewat belakang Istana, saya semakin kaget melihat beberapa
Panser berjajar ditepi sungai, meriamnya tepat diarahkan ke Istana
Negara juga.”
Meski sudah menyatakan dirinya Polisi Pengawal
Presiden, Mangil tetap dilarang masuk oleh pasukan yang sedang melakukan
pengepungan. Mangil tidak boleh masuk ke Istana karena, “Saudara tidak
meakai tanda kain putih dileher......” Perwira Mobile Brigade tersebut
tidak kehabisan akal.
“Saya segera mengambil sapu tangan,
kebetulan warnanya putih. Saya robek dan ikatkan dipundak. Saya dekati
lagi pasukan yang mengepung itu. Kapten Kavaleri itupun segera
mengizinkan saya masuk. Saya melenggang bebas masuk halaman Istana dan
berpikir, Kapten model opo iki, gampang banget diapusi karo bocah Wonogiri...”
Menurut
Mangil, “Saya lihat Bapak sedang olahraga pagi, jalan kaki keliling
halaman Istana bersama Kombes Ating, Kepala Kepolisian Jakarta, dikawal
oleh anak buah saya AKP Sardi. Setelah melihat Bapak dalam keadaan aman,
saya perintahkan Peltu CPM Mimbar, Komandan Peleton Pasukan Pengawal
Istana, mengecek meriam yang ada didepan Istana, diisi peluru atau
tidak?”
Beberapa saat kemudian Mimbar melapor, semua meriam
dipastikan sudah di isi peluru tajam dan siap ditembakkan! Mangil
berpikir, “......walah, bocah gendeng!, kalau meriamnya sampai meledak, seluruh Istana pasti akan hancur, dan kita akan diterbangkan jadi bubur sampai ke Pasar Ikan!.”
“Seingat saya, mereka yang pagi itu datang menghadap Bapak ialah Kolonel
Simatupang, Kolonel Nasution, Letkol S.Parman, dan beberapa perwira AD
lainnya. Di dekat pos jaga depan Istana, saya lihat seorang perwira
mondar mandir dengan gelisah sambil matanya sesekali melirik ke Istana,
seakan-akan menunggu isyarat atau menanti rekan-rekannya yang sedang
menghadap Bapak. Saya perintahkan anggota saya mengusirnya. Setelah
perintah dilaksanakan, Agen Polisi Pardi melaporkan. Tugas sudah saya
laksanakan, namanya Kemal Idris, Mayor Angkatan Darat.”....demikian
kesaksian Mangil.
Malamnya saya bertemu Joop Warouw, Kepala Staf
TT Indonesia Timur yang sedang berada di Jakarta. Kami mengobrol lama
dipinggir jalan Gunung Sahari. Dengan kami ada juga Mayor Muhammad, dulu
perwira Mabes TKR yang ditempatkan di Laskar KRIS, jadi dia sudah biasa
dan akrab bergaul dengan kami orang-orang Kawanua. Kami mendiskusikan
kejadian tadi pagi.
Bung Joop mengecam langkah KSAD Nasution dan
para Panglima daerah yang melampaui garis politik prajurit itu. Ia marah
Presiden ditekan-tekan seperti itu. Muhammad juga begitu, membela Bung
Karno. Sekembalinya ke Makassar, Warouw menegur keras Panglimanya,
Kolonel Gatot Subroto, yang ikut gerakan 17 Oktober itu. Warouw bahkan
kemudiannya bertindak terlalu jauh, mendepak Pak Gatot dari kedudukannya
sebagai Panglima TT VII, dan mengenakan tahanan rumah.
Saya
sendiri tidak berpihak kepada kubu manapun berkenaan peristiwa 17
Oktober itu. Latar belakang konflik ini adalah perhadapan antara, disatu
pihak Kolonel AH. Nasution beserta sejumlah perwira ex-KNIL yang
dibilang mengutamakan ”profesionalisme tentara/pengembangan teknis
militer” dan dipihak lainnya, yaitu Kolonel Bambang Supeno beserta
ex-PETA dan ex-Laskar yang dibilang “mengutamakan semangat juang/politik
nasionalisme”. Nah, dalam perhadapan kubu-kubu pemikiran seperti itu,
saya berada didalam kedua-duanya. Walaupun saya dari latar belakang
laskar, tapi saya juga sangat menilai pentingnya pengembangan kemampuan
teknis serta profesionalisme tentara. Dalam SSKAD sekarang pun saya
sedang menikmati mendapat banyak ilmu baru, sesuai program pengembangan
teknis militer yang dikembangkan KSAD Nasution.
Peristiwa 17
Oktober itu adalah suatu masalah besar, masalah kenegaraan, menimbulkan
pro dan kontra yang meluas. Akibatnya banyak, dan parah sekali. Inilah
yang menjadi awal konflik besar yang simpang siur dari politik praktis
kaum militer di Indonesia. Bahkan pribadi-pribadi dan pihak-pihak yang
semula menilai tepat untuk tidak terlibat, kenyataannya harus tergulung
dalam konflik yang kelak berkembang multi-polar.
Pergolakan Sekitar Peristiwa 17 Oktober 1952
Peristiwa
17 Oktober sangat berbuntut panjang, konflik demi konflik yang
berentetan. Tidak hanya selesai dengan diberhentikannya para perwira
yang terang-terangan berkonflik itu, Kolonel AH. Nasution dan Mayjen TB.
Simatupang diberhentikan., Kolonel Bambang Supeno sudah terlebih dahulu
diberhentikan dari Inspektur Infanteri AD oleh Nasution sebelum
peristiwa 17 Oktober. Peristiwa demi peristiwa berikutnya terus saling
berangkai.
Pemerintah mengganti Nasution dengan Kolonel Bambang
Sugeng, mantan Panglima Brawijaya. Ia dari kelompok Bambang Supeno, yang
lainnya termasuk Kolonel Lubis, Kolonel Suhud dan sejumlah Letkol dan
Mayor. Warouw tidak dari awal dalam kelompok yang kemudian disebut “Anti
17 Oktober” ini. Mungkin hanya karena memiliki pandangan politik yang
sama, yang pula oleh sejumlah perwira dalam kelompok ini dihayati
sebagai politik Sapta marga karena sejalan dengan Presiden.
Ketika
KSAD Bambang Sugeng hendak mengukuhkan Letkol Joop F. Warouw sebagai
Panglima TT-VII, Pemerintah setuju. Tapi Menteri Pertahanan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX protes keras dengan meletakkan jabatan. Pada hari
Warouw akan dilantik, Pemerintah mengubah keputusan, hendak membatalkan
pelantikan Warouw dan mengangkat Kolonel Sadikin. Sebaliknya, KSAD
Bambang Sugeng yang menjadi keberatan dan mengajukan untuk berhenti, dan
itu memang terlalu beresiko bagi Sadikin, Panglima TT-VII yang pro 17
Oktober itu. Sadikin menolak, maka, Warouw tetap Panglima Indonesia
Timur. Ketika KSAD Bambang Sugeng hendak memindahkan Kolonel Sudirman
dari Brawijaya, Sudirman juga membangkang, dna baik MBAD maupun
Pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Kondisi seperti inilah yang
membuat KSAD Mayjen Bambang Sugeng kewalahan, sehingga berkali-kali
menyatakan pengunduran diri dari KSAD, tapi tak dikabulkan oleh
Pemerintah. Mayjen TB. Simatupang diberhentikan dengan cara meniadakan
jabatan KSAP, tapi menarik fungsi KSAP ke tangan Menteri Pertahanan itu,
masalah-masalah barupun segera bermunculan.
Sebab Pemerintah,
disamping kurang memiliki wawasan mengenai profesinalisme militer serta
seluk beluk teknis militer, juga kenyataannya Pemerintah selalu dengan
gampang berubah arah, berubah keputusan. Pemerintah hanya menjadi
permainan para politikus partai-partai yang berkuasa, sehingga tentara
bakal diombang ambingkan oleh segala kepentingan. Misalnya, ketika
Menteri Pertahanan yang menggantikan Sri Sultan, Mr. Iwa Kusumasumantri
berencana mempersenjatai pasukan-pasukan laskar baru. Umumnya para
perwira TNI menolaknya dengan keras, baik yang pro maupun kontra 17
Oktober. Mereka melihat ini gejala yang sangat berbahaya, mereka
menantang dengan keras.
Dibawah pemerintahan PM Ali Sastromidjojo
yang menggantikan PM Wilopo pada Juli 1953, Menhan Iwa Kusumasumantri
mengangkat Kolonel Zulkifli Lubis sebagai Wakil KSAD dan Letkol Abimanyu
serta Letkol Sapari sebagai Asisten di SUAD. Ketiga-tiganya dari
kelompok anti 17 Oktober. Tentangan dari sejumlah pihak pun muncul,
terutama dari kelompok pro 17 Oktober.
Pertengahan 1954 Kolonel
Zulkifli Lubis mengambil inisiatif untuk mengajak Letkol Sutoko, Letkol
S.Parman, dan Letkol Suprapto, 3 perwira pro 17 Oktober untuk duduk
bersama merumuskan jalan rekonsiliasi total AD. KSAD Bambang Sugeng
memfasilitasi, puncaknya diadakan Konfrensi di Jogja pada Februari 1955
yang dihadiri hampir 300 orang perwira, menghasilkan Piagam Keutuhan Angkatan Darat atau yang lebih dikenal dengan nama Piagam Yogya.
Tapi
ternyata suasana tenang dalam kekompakan ini tidak berlangsung lama,
lantaran digoncang lagi oleh Pemerintah. Dimulai dengan Pemerintah yang
tidak menggubris tuntutan KSAD Bambang Sugeng untuk segera
merealisasikan hasil-hasil Piagam Yogya. Pemerintah hanya sibuk dengan
macam-macam urusan, memang waktu itu sedang menghadapai Konfrensi Asia
Afrika di Bandung. Juga Pemerintah hanya fokus kepada menghadapi Pemilu
1955. Akibatnya Bambang Sugeng lagi-lagi minta berhenti. Kali ini
pemerintah mengabulkannya.
Diangkat dalam Team Asistensi Pimpinan AD - Untuk Penyelesaian Masalah
Wakasad
Kolonel Zulkifli Lubis, dalam kapasitasnya sebagai caretaker KSAD,
menyiapkan rencana pemilihan KSAD baru oleh Pemerintah. Ia menyusun
kriterianya sebagai pokok-pokok pikiran yang diputuskan Konfrensi Yogya.
Antara lain adalah senioritas. Maka masuklah nama-nama calon KSAD
dengan urutan senioritas, Kolonel Simbolon, Kolonel Gatot Subroto, dan
Kolonel Zulkifli Lubis. Adapun Kolonel Djatikusumo menolak untuk
dicalonkan.
Namun yang diangkat oleh Pemerintah adalah Kolonel
Bambang Utoyo yang sama sekali tidak masuk nominasi., dan langsung
dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal. Zulkifli Lubis pun langsung
melancarkan boikot, Pemerintah membalasnya dengan men-skors Lubis.
Kolonel Mursito yang diangkat Pemerintah untuk menggantikan Lubis
menolak, sementara Lubis menggalang para panglima daerah, situasi
semakin meruncing.
Puncaknya, akan digelar perundingan
penyelesaian antara perwira-perwira AD kelompik Lubis dan Pemerintah.
Rencana perundingan untuk menuntaskan masalah ini adalah hasil keputusan
pertemuan antara KSAD pilihan Pemerintah Mayjen Bambang Utoyo, dan tiga
perwira senior AD, Kolonel Sungkono, Kolonel Gatot Subroto, dan Kolonel
Dr. Azis Saleh.
Angkatan Darat, yang dalam perundingan dengan
Pemerintah nanti akan dipimpin oleh WKSAD Kolonel Zulkifli Lubis, segera
mengadakan persiapan matang. Untuk itu, dibentuklah Team Asistensi
Pimpinan AD. Di samping untuk mendampingi Lubis dalam perundingan itu,
tim ini juga segera merumuskan garis-garis pokok yang akan diperjuangkan
dalam perundingan dengan Pemerintah. Tim ini terdiri dari 6 orang
perwira : Kolonel Dr. Azis Saleh, Letkol Sapari, Letkol Abimanyu, Letkol
AJ. Mokoginta, Letkol Herman Pieters, dan saya sendiri Letkol Ventje
HN. Samuel.
Saya dan Pieters adalah yang paling muda. Herman
Pieters ini adalah orang yang terpelajar. 10 tahun lampau saja, 1945 ia
sudah menjadi Asisten Gubernur Militer. Waktu itu juga, umur 20 tahun ia
menjadi Perwira Penghubung PM Sutan Sjahrir. Anggota tim lainnya adalah
senior kami. Pak Azis Saleh sudah lama di SUAD, Abimanyu Panglima
Siliwangi, Sapari Deputi KSAD, sedangkan Mokoginta Komandan SSKAD.
Banyak
analisa dan penjelasan yang disusun oleh tim kami. Namun garis besarnya
adalah harus mengangkat KSAD yang baru, serta harus sesuai dengan
kriteria yang telah diajukan oleh AD. Mayjen Bambang Utoyo kami minta
mengundurkan diri dengan sukarela, dan Pemerintah menerima pemberhentian
dengan hormat Bmabang Utoyo. Pemerintah juga harus segera mencabut
skors yang dikenakan terhadap WKSAD Zulkifli Lubis.
Dalam
perundingan dengan Pemerintah pada pertengahan Juli 1955, Pemerintah
tetap bertahan mengenai KSAD. Pihak kami juga sama kerasnya,
masing-masing ngotot. Cuma 1 poin yang tercapai, skorsing WKSAD dicabut.
Angkatan
Darat tetap mendesak masalah KSAD. Ditambah bermacam masalah politik,
pertengahan Juli 1955 Menhan Iwa Kusumasumantri meletakkan jabatan. PM
Ali Sastromidjojo mengajak WKSAD Zulkifli Lubis berunding lagi.
Pemerintah mengajak kompromi, yaitu akui saja dulu formalitas status
Bambang Utoyo sebagai KSAD, nanti kemudian akan diberhentikan. Tapi AD
tetap menolak kompromi. Pertengahan Agustus 1955, Kabinet Ali bubar.
Wapres Hatta, karena Presiden sedang berangkat Haji menunjuk Burhanuddin
Harahap menjadi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan.
Pak
Burhanuddin dulu pernah memimpin Pasukan Hizbullah dibawah komando
sektor saya di Jogja. Burhanuddin dari Partai Masyumi yang menguasai
kabinet. Keputusan Pemerintahan yang baru adalah, masalah 17 Oktober
dinyatakan selesai. Para perwira seperti Gatot Subroto, Nasution,
Suwondo, dan sebagainya harus dibukakan pintu untuk masuk berdinas
kembali. Sedangkan, perjuangan Zulkifli Lubis cs. Dikabulkan. Pemerintah
mempensiunkan KSAD Mayjen Bambang Utoyo, selanjutnya Pemerintah
mengangkat KSAD baru, berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan AD,
termasuk kriteria senioritas. Calon-calonnya adalah: Maulidin Simbolon,
Nasution, Gatot Subroto, Alex Kawilarang, dan Zulkifli Lubis.
Skenario Soekarno Mengangkat Kembali Nasution sebagai KSAD
Presiden
Soekarno pada akhir 1955 sudah lain sama sekali dengan Soekarno pada
sekitar Peristiwa 17 Oktober 1952. Sangat lain, bahkan untuk beberapa
hal sudah sangat bertolak belakang dan berputar 180 derajat dalam
rentang waktu 3 tahun yang penuh dengan gejolak politik ini. Kalau pada
1952 Soekarno membela kelompok politisi yang mneguasai Parlemen dan
menentang para pimpinan AD, sekarang ia berbalik mengutuk para politisi
parpol itu, baik secara emosional politis maupun segala konsepsi
politik. Dulu Soekarno dengan tegas memecat Nasution yang dikatakannya
mempunyai pemikiran akan mendirikan negara dalam negara, sekarang
Nasution akan diangkat kembali menjadi KSAD, tidak mematuhi Piagam
Jogja.
Langkah Bung Karno merangkul Nasution segera dipadukan
dengan sekaligus usahanya mengambil hati para politisi Muslim. Caranya,
bukan saja menolak Kolonel Simbolon yang menjadi pilihan utama KSAD dan
didukung oleh semua kalangan, tapi penolakannya itu sengaja diungkap
secara eksplisit – bahwa presiden tidak mau karena Simbolon beragama
Kristen!. Dan ini disebar secara bisik-bisik sehingga menumbuhkan kesan
konfidens pada Soekarno oleh para politisi Islam yang jadi targetnya
itu.
Joop Warouw mengeluh kepada saya. Ia sangat kaget dan kecewa
luar biasa, ketika mengetahui sikap dan tindakan Soekarno seperti itu.
Ceritanya, Presiden bicara dengan Komandan CPM Letkol Prajogo, Soekarno
mengatakan bahwa ia tidak suka Simbolon jadi KSAD karena Simbolon
seorang Kristen. Dia tidak tahu kalau Prajogo itu juga Kristen-Katholik.
Waktu bertemu Bung Joop, dia lantas cerita pertemuannya dengan
Soekarno.
Bung Joop merasa sangat kecewa. Ia merasa kehilangan.
Karena sejak lama dia sangat mengagumi Bung Karno. “Selalu
pidato-pidato tentang nasionalisme, persatuan bangsa, tapi ternyata
begitu?! Pemimpin negara macam apa itu..?!” keluh Joop.
Sejak
itu, saya amati sikap Bung Joop terhadap Soekarno berubah. Ketaatannya
hanya sekadar formalitas hubungan hirarki organisasional antara seorang
Panglima Daerah Militer dan Panglima Tertinggi APRI. Walaupun Soekarno
tidak tahu akan perubahan itu, Soekarno sendiri tetap memperlakukan Bung
Joop seperti biasanya. Menjadi andalannya. Skenario menaikkan Nasution
menjadi KSAD berjalan mulus. Akhir Oktober 1955 Kolonel AH. Nasution
diangkat kembali menjadi KSAD. Pangkatnya kemudian dinaikan menjadi
Mayor Jenderal.
● Diposkan Erwin Parikesit (kaskuser)