Jumat, 12 April 2013

KSAU Berpeluang Jadi Panglima TNI

KSAU 
Jakarta • Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Polisi Timur Pradopo, dan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, akan segera memasuki usia pensiun. Sejumlah nama berpeluang besar menggantikan kedua petinggi instansi penanggung jawab keamanan dan pertahanan itu. Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Ida Bagus (IB) Putu Dunia dijagokan sebagai pengganti Agus Suhartono.

IB Putu Dunia sendiri enggan berkomentar. Ia menilai, pergantian Panglima TNI adalah hak prerogratif Presiden. "Itu adalah kewenangan Bapak Presiden, kami tidak berhak memberikan komentar atas itu," ujarnya, di Jakarta, kemarin. Ia menambahkan, sebagai prajurit siap bertugas di posisi apapun.

Direktur Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti, memprediksi, posisi panglima TNI setelah Laksamana Agus Suhartono akan jatuh ke tangan KSAU atau Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo. Sementara itu, hingga kini, nama calon KSAD yang baru juga masih berada di tangan Panglima TNI.

Menurut Ray, IB Putu Dunia bersaing dengan Pramono Edhie Wibowo, dan KSAL Laksamana Marsetio. Kalangan tokoh Bali pun sangat berharap IB Putu Dunia bisa menorehkan tinta emas menjadi panglima TNI.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, mengaku sudah mengajukan nama-nama calon penggantinya sebagai panglima TNI kepada Presiden SBY. Seusai aturan berlaku, kandidat Panglima TNI adalah tiga kepala staf angkatan, yakni KSAD, KSAU, dan KSAL.

Jika merunut sistem rotasi alias giliran, maka Marsekal IB Dunia sangat berpeluang menjadi Panglima TNI. Sebab, Panglima TNI saat ini, Laksamana Agus Suhartono, dari Angkatan Laut.

Sebelum Agus Suhartono naik, Panglima TNI diambil dari Angkatan Darat, yakni Jenderal TNI Joko Santoso. Sebelum naiknya Joko Santoso, Panglima TNI berasal dari Angkatan Udara yakni Marsekal TNI Djoko Suyanto (Februari 2006-September 2007).

Sementara itu, banyak spekulasi mengenai siapa calon Kapolri pasca Jenderal Timur Pradopo. Tapi, siapa bakal jadi orang nomor satu di korps baju coklat itu makin sulit ditebak. Pasalnya, Komisaris Jenderal Nanan Sukarna dan Komisaris Jenderal Imam Sudjarwo yang sudah diputuskan institusi Polri saja pernah diabaikan. Ketika itu, Presiden lebih memilih Timur Pradopo.

Terpilihnya Timur Pradopo menjadi kapolri hanya memastikan bahwa siapa pun boleh menebak siapa yang bakal menjadi kapolri, tapi presiden jua yang akan menentukan. Untuk ini bahkan presiden bisa mengabaikan mekanisme di internal Polri dalam memilih calon pemimpinnya.

Dari jenderal bintang 3, kini ada Kabareskrim Sutarman, Kabaharkam Oegroseno, Kalemdikpol Budi Gunawan, Kepala BNN Anang Iskandar dan Kabaintelkam Suparni Parto. Sementara Nanan Sukarna dan Imam Sudjarwo diketahui akan memasuki masa pensiun tahun ini.

Namun demikian, bisa saja calon Kapolri kini dari jenderal bintang dua, sebagaimana Timur Pradopo yang diangkat jadi Kabaharkam sebelumnya menjadi Kapolri. Dari jenderal bintang dua barangkali yang potensial antara lain Kapolda Metro Jaya Putut Eko Bayuseno, Kapolda Jawa Barat Anis Angkawijaya, Kapolda Jawa Timur Hadiatmoko dan Kapolda Sumatera Utara Wisjnu Amat Sastro. Kapolda ini inilah yang biasanya menjadi rekam jejak para calon Kapolri.(Feber S/Hanif S)

  Suara Karya  

Kamis, 11 April 2013

Membangun Air Power sebagai Deterence Power

MENYONGSONG datangnya era Open Sky Policy 2015, diharapkan dapat menyatukan persepsi insan dirgantara dalam menyikapi kebijakan “Open Sky Policy 2015”, serta bagaimana menyamakan pengertian dan persepsi menghadapi tantangan, disamping terus membangun peran air power sebagai deterence power dalam melindungi kepentingan nasional.

Demikian dikatakan Kasau Marsekal TNI Ida Bagus putu Dunia yang disampaikan Wakasau Marsdya TNI Boy Syahrir Qamar pada pembukaan Internasiona Seminar Air power 2013 yang diselenggarakan Air Power Club Indonesia (APCI) di Gedung Persada Purnawira, Halim Perdanakusuma, Kamis (11/4).

Dikatakan, melihat berbagai peluang dan tantangan dunia kedirgantaraan dikaitkan dengan kepentingan nasional, yang tujuan akhirnya agar kedirgantaraan bisa mendukung optimalisasi semua instrument of national power negara seperti diplomasi, informasional, militer, ekonomi, intelijen, dan penegakan hukum untuk membela kepentingan nasional kita berhadapan dengan lingkungan persaingan dunia internasional masa kini.

Untuk itu, Indonesia harus memiliki peraturan yang jelas, Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional, penguasaan teknologi kedirgantaraan, strategi dan doktrin air power yang tepat, serta memiliki industri penerbangan yang kuat guna mendukung  kepentingan nasional.

Tugas TNI AU yang tidak dapat ditawar adalah memiliki kemampuan penangkal utama yaitu pengendalian udara (control of the air) yang merupakan “the first core capabilities of the air power” dengan upaya menata doktrin dan organisasi baru berdasarkan pemahaman, pengetahuan dan analisa yang akurat tentang berbagai tantangan dan peluang yang timbul akibat dari penerapan “Open Sky Policy 2015”, jelas Kasau.

Sementara Menhan RI Purnomo Yusgiantoro dalam Key Note Speech mengatakan, dengan tema “The Open Sky Policy: Challenges and readiness”, sangat relevan, dihadapkan pada tugas dan fungsi TNI Angkatan Udara kedepan, hal ini sejalan dengan keinginan dalam percepatan pemenuhan kebutuhan pembangunan potensi pertahanan khusunya alutsista TNI Angkatan Udara.

Seminar ini juga bertujuan untuk mengetahuai tantangan dan kesiapan Indonesia dalam menyongsong datangnya open sky policy 2015 Challenges and Readiness, dalam upaya menyongsong ini maka TNI angkatan Udara harus meningkatkan kesiapan kemampuan dalam menghadapi tantangan tersebut.

Hal ini sebagai wujud profesionalisme dalam mengemban amanat dalam menjaga dan memelihara kedaulatan nasional, mempertahankan dan meningkatkan daya saing nasional, ditengah globalisasi dan libralisasi ruang udara, jelas Menhan.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara
Marsekal Pertama TNI Azman Yunus

Dukung Industri Perkapalan Nasional

PT. PAL IndonesiaUNTUK mendukung pengembangan industri perkapalan nasional membutuhkan sumber daya manusia yang handal, sarana prasarana yang memadai dan adanya kemampuan investor lokal serta memiliki pangsa pasar. Apabila semua itu dikelola dengan baik melalui suatu kebijakan yang berbasis maritim, niscaya industri perkapalan nasional akan mampu mandiri dan berdaya saing tinggi.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Marsetio menyampaikan hal itu dalam sambutan tertulis dibacakan oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Untung Suropati pada Seminar Nasional dengan tema “Teknologi Perkapalan sebagai bagian dari Peradaban Maritim Indonesia” di Aula Terapung, Universitas Indonesia, Depok, Rabu (10/4).

Seminar tersebut diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bekerja sama dengan Indonesia Maritime Institute (IMI) dengan nama IMI Goes to Campus.

Dalam seminar ini juga menampilkan beberapa pembicara yaitu Kadispenal Laksamana Pertama TNI Untung Suropati, Prof. Dr. Hasjim Djalal, Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M. Sc., Dr. Ir. Sunaryo, M.Sc., Dr. Ali Akbar., Dr. Hadi Tresno, serta Direktur Eksekutif IMI Dr. Y. Paonganan.

Laksamana TNI Marsetio seperti dilansir dalam siaran pers Dispenal, menyampaikan pemerintah sudah mendorong pembangunan industri perkapalan nasional. Diantaranya dengan diterbitkannya UU RI Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

“Semua kebijakan tersebut intinya mengarah kepada peningkatan kerja sama antara Kementerian Pertahanan dengan industri strategis pertahanan nasional, dalam hal pemenuhan kebutuhan alutsista TNI, khususnya TNI Angkatan Laut, yaitu berupa pembangunan kapal perang, yang dalam prosesnya akan terjadi transfer of technology, yang diharapkan turut membantu pengembangan teknologi perkapalan nasional,” katanya.

Lebih lanjut, KSAL mengatakan, di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen, industri perkapalan juga mengalami kemajuan, walaupun belum signifikan.

“Kemajuan tersebut berkat peran pemerintah yang telah menyiapkan road map pembangunan industri perkapalan di Indonesia tahun 2012-2025, sehingga di tahun 2013, industri ini naik menjadi 30 persen. Harapannya industri ini bisa memproduksi dan mereparasi semua jenis kapal dari yang berukuran kecil hingga besar,” katanya.

Hasjim Djalal menyatakan saat ini Indonesia bukan saja bercita-cita menjadi negara maritim, tetapi sudah menuju negara maritim. “Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diketahui yaitu mengetahui batas maritim negara Indonesia, kenali kekayaan alam Indonesia, tingkatkan Iptek dan kemampuan Sumber Daya Manusia, serta meningkatkan pola koordinasi antara instansi kemararitiman,” katanya.

Seminar yang dilaksanakan guna mewujudkan kejayaan maritim Indonesia ini, diikuti oleh 125 peserta dari berbagai instansi dan perguruan tinggi, antara lain perwakilan mahasiswa UI, IISIP Jakarta, UPN, Prof. Dr. Moestopo, Paramadina, serta perwakilan Perwira Siswa Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal).

  Jurnas  

Pembangunan Pabrik Kapal Selam Ditargetkan Selesai 2017

Jakarta Pembangunan pabrik modern untuk pembuatan kapal selam TNI Angkatan Laut di Indonesia ditargetkan dapat direalisasikan tahun 2016 atau 2017. Sebab, kapal selam pertama yang dibuat oleh Korea Selatan baru selesai tahun 2014.

"Pembangunan pabrik semua tergantung komitmen pemerintah. Pemerintah mutlak menyokong pendanaannya. Tanpa itu saya kira sangat sulit pembangunan kapal selam bisa direalisasikan di Indonesia," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati di sela seminar tentang "Teknologi Perkapalan sebagai Bagian dari Peradaban Maritim Indonesia", di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Rabu.

Ia berharap sudah ada perencanaan dari sekarang agar pada waktunya nanti pengerjaan kapal selam ketiga itu lancar tanpa kendala. "Keberadaan pabrik modern untuk membuat kapal selam menjadi kendala serius kita saat ini," kata Untung.

Pembangunan pabrik modern ini, tambah dia, bukan persoalan sederhana karena selain membutuhkan banyak sumber daya manusia yang andal. Pemerintah pun harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, ia berharap sumber daya manusia yang sudah dikirim ke Korea benar-benar menyerap ilmu secara komprehensif.

"Ketika secara keilmuan sudah memenuhi syarat, baru kemudian pemerintah mempersiapkan pabriknya," katanya.

Indonesia sudah sepakat melakukan transfer teknologi kapal selam dengan Korea Selatan, dimana akan dibuat tiga unit kapal selam. Untuk kapal selam pertama, pihak Indonesia hanya memantau pengerjaannya di Korea Selatan.

Selanjutnya, kata dia, pada pembuatan kapal kedua, teknisi di Indonesia dilibatkan dalam membuat kapal selam. Namun, pembuatannya tetap dilakukan di Korea Selatan.

Sementara untuk kapal selam ketiga, Indonesia akan membuat sendiri kapal itu di galangan kapal PT PAL. "Pada tahap inilah Indonesia harus mempersiapkan peralatannya. Termasuk membuat pabrik baru untuk mendukung pembangunannya," jelas Untung.

Ia juga memastikan Pangkalan Kapal Selam yang disiapkan di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, bisa diresmikan pada akhir tahun 2013.

"Hingga kemarin (minggu lalu) saat Kepala Staf Angkatan Laut (Laksamana Marsetio) berkunjung ke sana, pangkalan sudah rampung lebih dari 90 persen. Diharapkan akhir tahun ini diresmikan," katanya menjelaskan.

Pangkalan seluas 13 hektare inilah yang nantinya digunakan untuk menyimpan semua kapal selam yang dimiliki Indonesia, termasuk untuk menyimpan kapal selam baru yang saat ini dibuat di Korea Selatan.

  ● Investor  

☆ Laksamana Berjiwa Seniman

http://www.majalah-lifestyle.com/wp-content/uploads/2012/10/upay1-300x199.jpgLaksamana Muda (Laksda) TNI Herry Setianegara, S.Sos., S.H., M.M. lahir pada 17 Juli 1958 di Malang, Jawa Timur, dari keluarga tentara. “Ayahku CPM (Corps Polisi Militer). Jabatan terakhir beliau Dan Pomdam Udayana Bali dengan pangkat Kolonel CPM TNI-AD. Beliau sudah meninggal tapi ibuku masih sehat sampai sekarang dalam usia 87 tahun,” kata Gubernur Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) saat ditemui di ruang kerjanya.

Laksda Herry mengaku sangat menghormati Ibunya. “Hanya 2 (dua) yang saya takuti. Pertama takut pada Tuhan yang saya wujudkan dengan tidak melanggar aturan. Kedua, takut pada ibu yang melahirkan saya. Tanpa beliau, saya tidak akan menjadi apa-apa,” kata ayah dua putra dan kakek seorang cucu, lulusan AAL tahun 1983 ini.

HUMORIS DAN LOW PROFILE

Seorang Perwira Menengah di jajaran AAL mengakui, Laksda Herry sebagai Perwira Tinggi (Pati) yang sangat humoris dan low profil.

“Biasanya kalau sudah berpangkat bintang, semua harus protokoler. Tapi Pak Herry tidak demikian. Beliau masih mau berbincang dengan bawahan di lapangan. Bahkan beliau masih mau nyetir sendiri meski hingga 7 jam perjalanan,” kata sumber itu.

Jiwa humoris dan low profile pun dirasakan LIFESTYLE saat bertemu dengan Pati berdarah Minang ini. Gurauan yang dilontarkan sontak menghalau kesan angker di balik baju doreng dengan bintang dua di pundak ditambah kumisnya yang amat lebat.

SENIMAN

Meski dilahirkan di tengah keluarga tentara, ternyata sejak muda Laksda Herry suka menyanyi. Sebagaimana diakui seorang anggota TNI-AL.

“Saya sudah lama mengenal beliau karena pernah bertugas di KRI yang sama. Suatu ketika KRI kami mendarat di Banda Aceh, jauh sebelum tsunami melanda daerah itu tahun 2004. Masyarakat Aceh datang berbondong-bondong ke dermaga ingin melihat Kapal Perang RI dari dekat. Pemda setempat pun telah menyiapkan pentas musik untuk menyambut awak KRI. Ketika itu Pak Herry masih berpangkat Kapten. Tapi tanpa sungkan beliau menggunakan PDH Kopral Satu (Koptu) lalu menjadi MC acara dan bernyanyi bersama masyarakat. Sejak itu saya sangat terkesan pada beliau,” kata Sertu TNI-AL Miftachi mengisahkan sambil menyetir mobil dinas mengantar LIFESTYLE usai wawancara dengan Gubernur.

Agaknya darah seni itu pula yang mengalir kepada kedua anaknya Vega Antares Setianegara dan Shaula Alnilam Setianegara. Karena Vega memilih menjadi gitaris Dewa 19 dibawah bendera Republik Cinta Manajemen (RCM) pimpinan Ahmad Dani. Shaula juga tergabung dalam RCM sebagai drummer The Virgin.

“Anak saya Vega sudah punya anak, diberi nama Vittorio. Meski baru berusia 1 tahun, bakat seni Vittorio sudah mulai tampak. Dia sangat suka bermain musik. Soal nanti cucuku ini mau ikut ayahnya di dunia musik atau ikut jejak kakeknya sebagai tentara, silahkan saja,” kata Laksda Herry.

Menanggapi anaknya lari dari ‘pakem’ tentara, mantan Kepala Staf Gugus Tempur Laut Wilayah Barat (KS Guspurlabar) ini mengaku tetap bangga. “Isteri saya memang seniman. Sesungguhnya saya juga tentara seniman. Perlu Anda tahu, berperang itu seni. Makanya ada buku The Art of War. Seni berperang. Memimpin juga seni. Kalau kemudian anak saya memilih menjadi seniman murni, silahkan. Go a head,” imbuhnya.

Laksda Herry mengakui, awalnya ingin Vega berpenampilan tegap, gagah. Itu sebabnya ketika beranjak remaja, Vega mulai dilatih beladiri karate.

“Saya lihat dia tidak berminat. Malah meringis. Tapi kalau dikasih gitar, dia bisa menikmatinya sampai berjam-jam. Dan petikan gitarnya enak. Kami terkejut ternyata Vega sering ngamen di lampu merah Surabaya. Melihat kenyataan itu, kami putuskan memasukkan dia les gitar dan ternyata berkembang pesat.”

Kemudian dia kuliah S-1 Psikologi dan melanjutkan S-2 Manajemen dari London, Inggris. Sekarang Shaula juga sudah lulus S-1 Psikologi. Akhir Oktober ini akan berangkat ke Hoolywood Amerika mengambil S-2. “Saya tidak merasa gagal meski mereka tidak ada yang jadi tentara. Justru saya bangga dengan anak-anakku” kata mantan Kepala Lembaga Penyedia Tenaga Angkatan Laut (Kalapetal).

Sekarang anak sulungnya Vega menjadi dosen terbang di sekolah-sekolah musik yang didirikan Ahmad Dhani. “Baru saja Vega telp kalau posisinya sedang di Batam untuk mengajar dan nanti malam balik lagi ke Jakarta. Hebat, kan?” katanya dengan wajah berbinar.

Itu sebabnya kalau sedang bepergian bersama isteri melihat ada pengamen jalanan, hatinya langsung tergerak memberi uang. “Itu kawan-kawan atau komunitas Vega,” katanya sambil tertawa.

BERUTANG BUDI PADA ISTERI

Sebagaimana diketahui, dibalik kesuksesan seorang pria pasti ada topangan kuat seorang wanita. Hal itu diakui mantan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Mabesal ini yang mengaku sangat berutang budi pada isteri tercintanya Ny. Rr. Ken Respati.

“Di hadapan isteri dan anak-anakku, saya pernah berterus terang mengatakan, betapa saya berutang budi pada isteriku. Karena dialah yang berjuang berat membesarkan anak-anak. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di medan tugas. Di medan tugas saya sering membayangkan anak saya sakit pada malam hari yang kebetulan hujan deras lalu mati lampu. Dalam kondisi kalut, isteri saya ambil payung lalu menggendong anak berjalan mencari tempat berobat. Itu perjuangan luar biasa. Dia sangat berjasa membesarkan anak saya. Dengan anak-anak tid ak bermasalah sangat menolong saya bisa totalitas mengemban tugas yang dipercayakan negara,” katanya.

TANDA JASA

Atas dedikasi dan pengabdiannya, Laksda Herry telah menerima beberapa tanda jasa diantaranya Bintang Jalasena Nararya, Satya Lencana Kesetyaan VIII, XVI, XXIV, serta Satya Lencana Bhakti Sosial.[Robinson Simarmata]


  Majalah Lifestyle  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...