Jumat, 06 September 2013

"Menguak Tabir Kanibalisme Permesta"

"Menguak Tabir Kanibalisme Permesta"Tondano, Masa pergolakan Permesta telah dimakan waktu hampir 56 tahun. Namun banyak cerita di balik perjuangan menuntut keadilan tersebut yang belum terkuak lepas. Dari kisah heroik 'pahlawan tak dikenal', cinta, pengkhianatan hingga cerita manusia memakan manusia (kanibal). Salah satu pasukan yang dikenal ‘buas’ memburu manusia di wilayahnya ketika itu adalah sosok-sosok dalam Batalyon R, yang dijuluki ‘Jin Kasuang’.

Wilayah tugas Batalyon R/’Jin Kasuang’/WK.III/KDP-II ADREV-Permesta berada di ruas jalan antara Tomohon-Tondano (Minahasa). Batalyon pimpinan Mayor Frans Karepouwan ini sangat ditakuti, termasuk oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) di wilayah tersebut. Bukan hanya saat ’pergolakan’ di tahun 1958 sampai 1961, tapi hingga kini daerah ini masih dianggap menyeramkan oleh sejumlah orang.

Hampir semua patroli TNI di wilayah itu diserang setiap berpatroli. Banyak personil TNI hilang di daerah ini dan tak pernah diketahui lagi keberadaanya sekalipun telah dilakukan pencarian setelah perang Permesta. Gara-gara itu, Batalyon R ADREV-Permesta sangat ditakuti TNI.

’Teror’ Jin Kasuang seolah masih membekas di benak mereka. ”Daerah jalan Kasuang itu memang menakutkan sekali di zaman Permesta. Karena di situ daerah penghadangan pasukan Jin Kasuang terhadap pasukan TNI,” ungkap Sadrak Pahung, mantan anggota pasukan TNI dari Batalyon KODAM V/Brawijaya yang bertugas di Tondano kala itu.

”Saya dan pasukan pernah datang ke daerah Kasuang untuk mencari jenasah teman-teman kami yang dihadang Jin Kasuang. Di jurang pas di bawah pompa PDAM sekarang, kami menemukan banyak mayat. Sepertinya itu memang menjadi daerah pembuangan mayat oleh pasukan Permesta di wilayah itu. Jujur saya dan teman-teman sedikit was-was ketika itu,” tambah pensiunan TNI berusia 76 tahun ini.

TEROR “JIN KASUANG”

Di kalangan pasukan Permesta, Batalyon R memang dikenal karena keberanian bertempur dan kengerian yang mereka timbulkan terhadap lawan. Salah satu teror menakutkan pasukan ini, mereka dikenal suka memakan manusia. Konon, saking seringnya memakan daging manusia hingga mata mereka terlihat memerah.

Di antara keraguan banyak pihak soal kebenaran cerita tersebut, tidak sedikit juga masyarakat yang menyimpan soal kanibalisme itu dalam memorinya. ”Saya pernah dapat tugas dan bersama Mayor Karepouwan. Memang dia bersama beberapa pasukan mengantung telinga manusia di leher. Banyak yang bilang itu anggota tubuh orang-orang yang mereka makan,,” kata Jus Pengemanan, tentara Permesta dari Batalyon B yang dikomandani Utu Pesik.

Pengakuan lain dituturkan salah seorang anggota pasukan Frans Karepouwan kepada Media Sulut, Sabtu (10/8). Kisah kanibalisme itu dibenarkannya.

”Memang tidak setiap hari, tapi saya sering memasak daging manusia. kadang dibikin sate ataupun direbus,” terang LS alias Rens, anggota pasukan yang mengaku pernah ditempatkan di bagian dapur Batalyon R.

“Saya sebenarnya sempat mendaftar di Batalion Fredrik, tapi karena belum cukup umur, tidak diterima. Pada watu itu seleksinya ketat. ditambah kakak saya yang ada di Batalion itu tidak mengijinkan saya untuk ikut perang. Dia menyuruh saya untuk menjaga orang tua di kampung. Karena keinginan hati yang sangat kuat untuk pegang senjata, akhirnya saya ke Batalion pimpinan Mayor Karepouwan. Saat diterima, tempat saya di dapur,” tutur Rens.

"KENGERIAN “PERANG URAT SARAF"

Berbagai bentuk kengerian yang ditimbulkan Batalion Jin Kasuang bukan tanpa sebab. Perlakuan pasukan TNI terhadap daerah pendudukan dengan menyiksa tawanan sampai mati, melakukan pembunuhan terhadap rakyat sipil yang memberi makan pasukan Permesta, dan perkosaan di desa-desa, menjadi salah satu alasan.

Sejumlah data menyebutkan, hal ini dilakukan pihak TNI karena semata-mata menutupi kekalahan mereka. Juga karena semakin banyaknya korban di pihak mereka dan perang tak kunjung dimenangkan oleh pasukan TNI atau pemerintah pusat, sekalipun TNI menguasai kota-kota strategis di Sulut dan Maluku Utara.

“Biasanya pasukan kami ’mengambil’ anggota TNI dengan pengkhianat Permesta,” kata Rens.

”Komandan sangat marah dengan pengkhianat. Makanya, sedikit-sedikit bagian tubuh mereka diambil. Mulai dari telinga, karena teliga sebagai pendengar info kemudian jari penunjuk. Kadang-kadang juga dimasak. Dari bagian tubuh yang berdaging seperti paha. Itu jadi pelajaran untuk mereka karena orang-orang seperti mereka penyusah masyarakat dan tentara permesta.”

Sejumlah sumber menyebutkan, sebenarnya tidak semua anggota Batalyon R yang suka memakan manusia. “Cuma orang-orang terentu. Salah satu yang terkenal algojo mereka, Oce Karundeng. Dialah yang sering mengambil tentara pusat didepan orang-orang. Semua yang digaetnya tidak kembali lagi hingga pergolakan selesai. Saya bersama beberapa masyarakat Koya dengan Tataaran pernah melihat langsung bagaimana tentara pusat di ambil jantungnya hidup-hidup kemudian dimakannya,” terang Buang Politton (74), anggota pasukan Batalyon Fredrik.

Data menyebutkan, pasukan Batalyon Jin Kasuang kemudian dapat ditertibkan akhir 1960 setelah kunjungan Panglima KDP II/Minahasa, Kolonel (ADREV-Permesta) D J Somba ke markas mereka. Somba dengan tegas memperingatkan Karepouwan dan anak buahnya untuk menghentikan bentuk-bentuk perang urat saraf yang melampaui batas.

PEMAKAN MANUSIA DI BERBAGAI BATALION

Sejarawan Minahasa, Bodewyn Talumewo menjelaskan, sebenarnya praktek kanibalisme di masa Permesta itu tidak hanya terjadi di Batalion Jin Kasuang. “Ada juga di batalyon-batalyon lain yang suka memakan manusia. Tapi hanya oknum-oknum tertentu. Selain memang karena kondisi perang yang sulit makanan tapi terutama itu dilakukan untuk menakut-nakuti musuh,” jelas Talumewo yang dikenal intens melakukan penelitian soal Permesta.

Buang Politton membenarkan jika memang ada banyak pasukan Permesta yang dikenal suka memakan daging manusia. “Pernah satu ketika kami satu pleton dari Batalyon Mayor Fredrik datang melakukan pembicaraan dengan Batalyon D ‘Sambar Nyawa’ pimpinan Mayor Dan Karamoy, di dekat cot Kumelembuai Tomohon. Kami tidak bisa makan di sana karena kami tau ada di antara mereka yang pemakan manusia. kadang daging manusia sudah dicampur dalam makanan. Terbukti, waktu mereka memberikan 'saguer' (Minuman dari pohon nira) untuk kami waktu itu, pada akhir tumpahan keluar telinga manusia dari dalam bambu 'saguer'," ungkapnya.

Perilaku yang sama juga sering diperagakan beberapa orang dari pasukan combat intelejen, Kompi Lahe. “Kami pernah bersua di Parepei Remboken dengan pasukan Lahe. Pasukannya memang banyak yang ditakuti lantaran talinga dan jari orang sudah dikalungkan. Kami tahu diantara mereka ada pemakan manusia juga,” kisah Politton. (rikson karundeng)

Foto: Penyelesaian Permesta di Woloan Tomohon, 14 April 1961. Deputi KSAD Brigjen Ahmad Yani bercakap-cakap dengan seorang tentara Permesta. (koleksi bodewyn talumewo)

  Manado Express  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvC-Ik6pAy87Hd6gx929x9COeJRzvIdsbxv3iK2S1y2Up_BVfPZKciQoWTqLcd1YCAtdMYpxjRCTF9hvaQ78aYA6z9u70LlWAUjn8-DgVNCE21EK0bEbxtNpi2jdPPt1k3I2UaijJ3SvKW/s605/1.jpg

Indonesia offers Azerbaijan to jointly produce automatic weapons

data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxMTEhQUEhIVFRUUFxQVGBMXFBcUExoaFhUXFxgUFxcYHCggGBolGxwUIjEhJSksMC4uGR8zOTMsNygtLisBCgoKDA0OFA8QFCwZFBwsLCssLCssLCwsLCw3LDcsKyssLCwsLCwsLCwsNyw3NzcsLDgsLCs3Kzc3KywrLCsrN//AABEIAMkA+wMBIgACEQEDEQH/xAAbAAEAAgMBAQAAAAAAAAAAAAAABAUCAwYBB//EAEUQAAEDAgQCBgcFBQUJAQAAAAEAAhEDIQQFEjFBURMiYXGBkQYyUqGx0fAVI0KSwRRTcqLhQ1RigvEzRHODk6Oy0tMW/8QAFgEBAQEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAEC/8QAGREBAQEBAQEAAAAAAAAAAAAAABEBIUES/9oADAMBAAIRAxEAPwD5KiIqgiIgIiICIiAiIgIiICIiAsqcTft84Me+FiiCSH0+U37ZiLTfefrZePNMi1j3Hlvc81HRBKBpbkHuE8592x7l411L2T8eHfzn3KMiCVqpWs7t93b9SViXU+R+vHv8Y4KOiDe407WIvfu894jzKzLqXsu/Ty5KKiCTqpeyduO08DYrx7qfAG43N4uNr8pUdEEgOp8jv7vPf9VrlsnlBjviy1oglF9KfVMT7o7+a8Jp8AeNj32vPJRkQSddOdvd2Dt/i81GREBERAREQEXoCkHC6RNQkTs0CXnw+aCMpeX4cvLgBNjHKeA71NwuTAkEulpAMeqb8Hbx4Svcwx4YOjpGI3IsBHs9u99+1QV1fDhghx+84sH4eYcefYNlHXpK8VBFhVcRcKTRqNcwOdAm3Lb65qUaVvq4R7QCWkA3B3HmNltp4MPbqY7qzEnmYtw5q+xOEq6NAJa6dQLXGO6Rw7Cg5VFa1aNUH72jrHFzQJ8C23mFpzHLyy4mPr67EEBERUEREBERAREQEREBERAREQEREBERARFto0C7sHM/oOKDLL56ZkTxO0yRsLLqKVBmvW5vXcBve/q27bbC6q8nw8FjmnUS6AZEdWZvy+Ssa+OZTe1pBL5naGiQYjxUTVZnWMe15YLS1oPMbmBytG3MqmUvNahdVcTxj3CP0URVRERBjUbIWujS5jwW5EE3K8ToOjZrnAl2xBtfusuoDHEhwcHwLEO0m8cuqeC4pdA/EmhQpwRr1AC1rkkz4KC2biAd+E7jSZHCdveFoq5Z07RLXWcDp1tDiXCeG4F/FbctxrXsMhrSSZHDvVHjM5eyq9jQ3QCCBwsB5XnZEwxeRls3LI4VGlvHTGr1ZnhKgV8DUZ6zDHMXHmF0WE9LyLPDgL2tUZcRYO2UqljMNV9UBptek7Qd5g03WN54p1pxS2Yelqc1sxqMSupxmGoBr3VC2oGtLrM6Kva88AeAj3qNgsmoOLHtrOaCbMqNFNx7GuJ0z4nwU+iKHF0w15aCTpiZABnw4LSrHPsD0L2NJcSWes4QTDjHEg2IEg8FXKoIiKgiIgIiICIiAiIgIijY2bFBZ0aHO55fNR8TXL7A9UWJ59g7FGpYh1o4yJ7IW5rYEBRUnABxcxrXEAT4Dc+a3ZliNVYng0gDuCj4TEFjtQvaPr3LUSkRIx9QF9uAj4n9VGRFQREQEREHoK2YzEOqFpd+EbdvNakQWWUvs4eP6KvxY+9eY3v5gFSctfD+8f6LDNKOmo08x8Jb8IU9EdIRFRv/AGypoczWS1wgg37oPBTWZ280P2eq1r6RIcQPuySCDMjjYXhVaIOmyrB4OvTIfWLH6oY2o4gtkC7XiQ4TuCOHBV+Z5DUpPe1hFZrCW9IzYkbwN97KpWdKq5plri08wYUGLgQYIg8jYrxWIzdxEVGtqDmWjUO4reaeFqDqk03WFza/OUop0UzMcAaWkl7XBxhukzPaoaoIiICIiAiIgLXiGS0rYiCLgx7rKUiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiARt2THj9BERAREQEREBERAREQEREBERAREQFa5TkrqzdWsMEwJEzz8NlWNpOPqtJ7gSuzwzWNDW0qgaIHVIO/4jqPE3UFRV9Faw2cwjnJH6KC7KHj+0on/mj9V2WK69J1MujU0N1De5Anb6uuXf6M1p6pY4c9Ue5EqEctf7VP8A6rPmvG5ZVPqtDv4XscfIFTD6OVv8H5lk30Zrc6Y/zf0VVUVqLmGHNLTyIgrBd3gcu+6bSxEVSSd5lt9MBxvYg37VznpBlAoub0ZLg8OOnctggXI4XUKp0WfRO9l3kU6J3snyKowRZdGeR8img8j5IMUWWk8j5LwjsQeKwy/LDVYXagIdpiJOwM91/iq9XGVYesadQUzpcHMJBOkxDtpUFTUYWkg7gkeSxU/NsK5jml8S8SYM3Fjt4HxUBUEREBERAREQFkymTtCxW3Dm6g30cPScAemjsLb/ABUhmXUj/vH8h+aHLx+yGsCdTa7qbhwAILh8W+a3+jeIDeknbqn4g/oisBlVL+8f9s/NenKKIucTA/4Tvmt2YZ5Bhh8AAXHzsAoVfOHvaWukgxIlo2M7hqDaMuw398b+Q/NWmB9Fqb2hwramniGkEie+3kuZ1t9g/m/oulyfPKVOkxpJEA234k7oixxDGs00qbTZrTYgC0GJ5778Vd/tbNIhkW9WG27FQZc2lWL3tBE2BnlDSVPOWMDRuYAvPvSprXjazQ2aFIa5HrU4EcdoMrzD45+ka6Q1cYLgPAaTHmV79nU55E9qfZ1M8Tx48lajMY537n+Z3/zXgx5/cu8CI94B9ygYbCSW6mOEmHbwBbjq4XVkcsp83eaCPXzAyIwsu3JdpNudgpdNr6tRmlumABEad9Zt4R5KPiKFKmxz3TDRO/uXP5jnTW1AcObQDxFxMb9hUXHVU8iMGQRqAk63+3w61uVluPo+BEz1NcDpH8Hfi694XBuz2qRExaN+2fisHZ3WP4zeffunFd/VyNku9YEl0/emBYOAA1wPDmsPsdstjV1YgdKbgkkT17z/AEXAnOKvtn6ELA5rV9s/6bJMV3LsnaBu+DBkVXSNxY65ha/2UNJIBLoiXPcW2i8TAvxj4riTmlX2yvPtOr7ZU3MK6lxr9NpNUNGprQKeGpVWNBY2XPcXNcRJPPimbPxdFw6N7awIO1AMIiOAc63iuSfjqhJOt0mJv2LF2LqHd7vzFIOrwmGr40Op1tTIh09Dr2sHWIO9j3qsxPojimh7gwPYzd7XAfyuh3uVXhMwq0ySx5BIg3n4rZUzes5rmmoYduFeo8+yq37s+Y+afZVb92fNvzUTWfad+Y/Neaj7TvzH5p0T/serezTHHW2PisTlNXg0Huc2PeVCDj7TvMprPtO8ynRvxmDdTIDwASJ3lR17J5k95leKgsmG6xQoLXCY9owuIoudBdUp1Bblpkz/AJVWdNaGWHF34j3cgo7aZJl0RyW5RXjWxsvURVBERBMwWZVaQIY6AeBEjw5K+9H8fVqh4fUJ06Ys0bzyHcuZo0i4wF1mU4UUm9piVNErNZbSe4OdZsjY93BVf/6YhoLmAk/4t+ZNrclH9Jsx1RSae11+HAeJ+Cpn1ZAkbSd+e6YOyybOBVnq6I4bj6urN2IHErgsqqkVGgGAZkAmDY7810TXXHdHwTUj30oxbDQLQfWLYtYwZ37gVx6vc4eHUQR+GpH8pVEmKIiKgiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiILXJnMm5urTMMc1jSZXLLN9QkQTKkGJcSSTuTJ+XgvERUbMM/S9p5Ef1XS0nWHZZcsr/AANXUwc494U0eYln3dZvH1wO4z8FQrp+j64fwiCOYXO4ujoe5nsuI8JsfKEwakRFQREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERAREQFJw2MLBYDx+u9RkQSKuMe7dx7hYe5R1kxhNgO1Z9A7l8FBqW6lQlrnSOrw4lZU8FUMww2uVKFAAadDnPI3AIHW33P6JRWorRmWSXDS8aY3i5PdwWbcnJ/CY7zy/g5pVVCK9bkJ4g8OLvH8KfYBG4Ox2k3Bj2doQUtKk5xhoJJ4ASVsdh43ewHlJd/wCIIXV5Zl5p6mAOF5PVM8LSI5bdpWRyamd6IvNwx0+QKrNciKI41WDwqf8AopuJydzG6i9pm4Am8q/GS0gZFPthzCQs6+ADgQSe8NvbvUK4pFcZnlYaNTCTsTMcZk/BVlNjTu+O8IrUimHAHn7itNajp3dHHYpRpRYtdM/FZKgiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgJCIgyY8jYkdxj4I55Jkkk8yST5rFEGbKzhs4ie1ZjFP9t3mVpRBvGMqe27zK2NzKsNqj/zH5qIiC4y/NajntbUOoON3Oku2Np5SuhLWFp223BuuOy//asjgQfK/wCiu8Q4hjjewJ+P6wpo3U8wogOFyRJuDO8QrDMKIosL3ssBfSVxGs37dzxXSYLMOmpdG8yQAL9mxQiuzLMmutSbAcIcSLnl5XVRoHLdScZQ0Oj3cvmtCo9a8gyCZWGNrF0k7mAsl45sqDymLLJAEVBTMDl5qNqODmtFINLtU8Q82gHgx2/EgcVDWTXkCAbEtJHCWzpPhJ8yguano1UaC41KelrqrS7r26I1g4xpn+yeRzkdsa2ej9Us6SWinJ68PjSKBxAqerOkstzm0BQhmNWSelfJMnrG5JeSSON6lX87uZXjcfVDtQqP1EFpOoklpcXFpncSSY7Sg3U8qcXVGhzSabWvgaiXBzQ8FjQNR6pBNrTdZ4jJ3M1ddh00+lDhq0Obq09R+nSbwBe8gBRG4uoC4h7pf6x1GT3nzWT8wqkEGo4h0AgmQYmN+93meaDd9lP0B5cwBzHvZJPXFOia1QNgG7Y0mY61u1QFvp4uo3TD3DSHtaJsA/1wBwDrzzWhAREQEREBERAREQEREBERAREQScBWax0unaBHbxU3McWCyGunUbjjG9x4BVKKAsmPIuCR3LFFR6SvERAREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERB//9k=Indonesia’s PT Pindad company has offered Azerbaijan to jointly produce automatic weapons, the company told APA.

The company offered the joint production of assault rifle in Baku early in this year. The Azerbaijani side said that this offers can be considered. There are 3 - 5.56x45 caliber various modifications of the assault rifle SS-2.

PT Pindad, the one of the leading organizations of Indonesia’s defense industry, produces military vehicles, ammunitions and weapons with various calibers. SS-1 and SS-2 assault weapons produced by the company are currently included in the arsenal of Indonesia and a number of countries.

  ● Apa.az  

Menhan dan Panglima TNI Akan Resmikan Batalyon Raider di Banda Aceh

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/p480x480/1173874_407069752730502_1834771124_n.jpg
Ilustrasi
MENTERI Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko akan meresmikan Batalyon 111/Raider di Banda Aceh, Jumat, 6 September 2013.

“Besok kita ke Banda Aceh, itu porsinya Panglima TNI atau KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat),” kata Purnomo Yusgiantoro kepada para wartawan di Wisma Tamu PT Arun, Batuphat, Lhokseumawe, Kamis petang tadi.

Purnomo Yusgiantoro kemudian meminta Panglima TNI Moeldoko memberi penjelasan kepada para wartawan. “Besok kita ke Banda Aceh akan meresmikan Batalyon Raider, Batalyon 111. Jadi karena posisi Aceh di Selat Malaka, kita akan perkuat satu Batalyon Raider lagi, biar penguatan sistem pertahanan di sini semakin mantap,” kata Moeldoko

Jenderal Moeldoko menambahkan, pihaknya juga merencanakan pembangunan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) pengembangan dari Lanal yang sudah ada di Lhokseumawe. “Di sini, diperkuat lagi. Terus yang kedua, ada pembangunan Kompi Kavaleri kemungkinan akan ditingkatkan menjadi detasemen,” katanya.

Ketika ditanyakan lokasi rencana pembangunan Lanal, Menhan Purnomo Yusgiantoro kembali menimpali. “Kalau itu (lokasi) makanya kita tinjau tadi. Dan, nanti malam (malam ini) kita dengar paparan dari Pertamina soal aset (lahan) yang ada di sini,” kata Purnomo.

  Atjehpost 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvC-Ik6pAy87Hd6gx929x9COeJRzvIdsbxv3iK2S1y2Up_BVfPZKciQoWTqLcd1YCAtdMYpxjRCTF9hvaQ78aYA6z9u70LlWAUjn8-DgVNCE21EK0bEbxtNpi2jdPPt1k3I2UaijJ3SvKW/s605/1.jpg

Kamis, 05 September 2013

Tahun 2014, TNI Memiliki Kekuatan Besar di Asia Tenggara

Keberhasilan pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) membuat banyak pihak yakin TNI akan memiliki kekuatan yang cukup memadai. Salah satunya diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Dengan keyakinannya, Purnomo mengatakan pada 2014 mendatang, TNI akan memiliki daya kekuatan yang terbesar di antara negara lain di Asia Tenggara.

"Renstra pertama 2014, kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara," kata Purnomo saat meresmikan dua Kapal Republik Indonesia di Batam, Kamis (5/9), seperti dilansir Antara.

Alasan itu diungkapkannya tercermin dari pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru.

Dia menambahkan, ada banyak alutsista yang ditambah untuk ketiga angkatan bersenjata, di antaranya kapal patroli cepat untuk TNI AL, tank leopard untuk TNI AD dan penambahan pesawat sukhoi untuk TNI AU.

"Sukhoi akan diganti semua (?). Negara kita akan kuat, itu penting," kata Menteri.

Khusus TNI AD, selain membeli 45 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Purnomo menilai, TNI yang kuat memiliki banyak arti, baik bagi dalam negeri maupun luar negeri.

Meski begitu, Purnomo mengatakan penambahan alutsista dan penguatan TNI tidak ada hubungannya dengan pendirian pangkalan militer AS di Singapura dan Australia.

"Ini tidak untuk perlombaan senjata, ini memordernisasi," katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya Marsetio mengatakan, pemerintah merencanakan pembangunan Kapal Cepat Rudal dengan panjang 40 meter sebanyak 16 unit dan kapal patroli cepat sebanyak 16 unit.

  Merdeka 

TNI Siapkan Langkah Terukur Hadapi Separatis

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL_hvxcvwi8sJU5lknCUJopPop4zhjtcUKrIyhBRmJBZ9InKcUFXCRwbpKXLb3PQGvdFtNVmJ_LynRiT6nzMXAOJgKdAYN34a_S0jAwQ-xA6j-gTe9IuDqopMkiZHrdpR8nW-4CfbJDFgg/s400/yonif+712.jpgKepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Letjen Budiman, mengatakan kendati pendekatan kesejahteraan diterapkan di Papua, terhadap kelompok bersenjata pihaknya akan bersikap tegas.

Kasad juga mengaku telah menyiapkan langkah terukur guna membekuk kelompok separatis Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka pimpinan Goliath Tabuni yang telah menewaskan anggota Satgas Yon 753, Pratu Andre, saat bertugas di Tinggi Nambut, Puncak Jaya, Papua, Sabtu (31/8) lalu.

"Tentunya kita ke dalam harus sudah introspeksi, mempersiapkan lebih baik lagi. Kemudian tentunya langkah-langkah untuk mengatasinya juga kita persiapkan secara baik," kata Budiman di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan langkah yang disiapkan TNI tersebut tentunya tidak bisa dipublikasikan. Budiman mengungkapkan optimismenya terhadap upaya yang dilakukan. "Dengan kondisi seperti sekarang ini, kita harus profesional dan penanganannya harus sangat baik," ujar dia.

Kasad memastikan bahwa tidak ada penambahan personel di Papua. "Kesiapannya pangdam sudah punya strategi, langkah-langkahnya," kata Budiman.

Anggota OPM


Sementara itu, Komandan Jenderal Komado Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), Mayor Jenderal TNI Agus Sutomo, mengatakan pelaku penembakan yang menewaskan anggota TNI, Partu Andre, merupakan anggota OPM.

"Pelaku Organisasi Papua Merdeka (OPM)," kata Agus singkat di Gedung Urip, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu. "Kalau kita lihat, kelompok bersenjata itu kan sudah terang-terangan menyatakan dirinya," ucap Agus saat kembali menjawab pertanyaan bahwa Panglima TNI hingga saat ini masih menyebut penembakan itu dilakukan kelompok bersenjata.

Dalam kesempatan itu, Agus lalu menjelaskan bahwa tugas yang diemban oleh anggota TNI ada risikonya, apalagi yang bertugas di Papua. "Itu semua anggota yang sedang melaksanakan tugas ada risiko, namun kita sayangkan (adanya penembakan) itu," jelas Agus.

Saat diminta klarifikasi soal anggota TNI, Pratu Andre, bagian dari anggota Kopassus, Agus tidak menampiknya. "Kalau ke Papua itu bukan pakai nama Kopassus karena mereka itu di-BKO (perbantukan) di Kodam (komando daerah) jadi anggota Kodam," tandas Agus.

  Koran Jakarta 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...