Kamis, 19 September 2013

TNI AL Bayang-bayangi Pergerakan Aktivis Australia

http://www.poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2012/10/armabar-sub5.jpg
Ilustrasi Kapal Patroli TNI AL
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut di Papua tengah mengintai dan mengawasi pergerakan aktivis asal Australia, Freedom Flotilla di perairan dekat Papua. Sebab Aktivis itu mendekat ke perairan Indonesia di kawasan Indonesia timur.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan pengintaian itu tanpa terjadi kontak langsung. Hanya pemantauan dari jauh.

"Sebenarnya kita ikutin terus mereka, tapi tidak kontak langsung. Kita pantau terus. (Sudah dihalau?) Kita bayang-bayangi saja kok," kata Moeldoko di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (18/9).

Moeldono mengatakan TNI AL akan langsung menghalau para aktivis Australia itu jika nekat masuk perairan Papua. "Pasti kita halau dong," jelas dia.

Sebelumnya ada aktivis Australia yang menamakan diri Freedom Flotilla menyatakan akan masuk ke Papua. Mereka yang datang dari Cairns bertujuan menyoroti perlunya perdamaian dan stabilitas di daerah itu. Awaknya terdiri dari sejumlah sesepuh Aborigin, pengungsi Papua, pembuat film dan aktivis lainnya.

Menteri Koordiantor Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan sudah konfirmasi dengan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, jika mereka hanya akan ke Papua Nugini, tidak jadi ke Indonesia.

  Jaringnews 

BNPT: Tutup Situs Panduan Perang Gerilya Kota!

Propaganda melalui internet merupakan strategi kelompok teroris

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), meminta Pemerintah dan Kepolisian RI segera menutup laman scribd.com yang memuat panduan pelaksanaan perang gerilya perkotaan.

Menurut Deputi I BNPT Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi, Agus Surya Bakti, panduan setebal 112 halaman ini bisa diunduh dengan mudah oleh siapa saja dan dikhawatirkan bisa melahirkan benih-benih baru terorisme di tanah air.

"Panduan itu mengkhawatirkan, karena bisa menginspirasi masyarakat. Seharusnya Pemerintah segera menutup akses (laman) tersebut," kata Agus SB saat berbincang dengan VIVAnews, Rabu kemarin.

Agus menambahkan, propaganda melalui internet merupakan strategi kelompok teroris. Menurut Agus, Pemerintah masih lamban dalam menangani permasalahan terorisme, apalagi propaganda yang mereka sebar melalui internet. "Itulah kelemahan kita (Pemerintah), begitu tahu baru ditangani," katanya.

Sementara itu, laman yang bisa dibaca secara cuma-cuma di scribd.com hanya pengantarnya, sedangkan untuk panduan teknis gerilya harus diunduh dengan membayar. Sekilas dengan membaca pengantarnya, panduan ini amat berbahaya bagi mereka yang mempunyai bibit ekstrem.

"Hari ini kita dijajah oleh kekuatan militer kafir. Mereka menguasai kota-kota besar dan gedung-gedung pemerintahan. Mereka mengangkat penguasa boneka atas nama sang penjajah. Umat Islam pun menjadi buruan penguasa, dan sebagian besar dari mereka ditahan," demikian paragraf pertama pengantar panduan itu.

Selanjutnya ditulis bahwa penguasa kafir menyebarkan kekuatan intelijen, informan, dan dinas keamanan rahasia di segala penjuru. “Siapapun yang berani berbicara atau mengutarakan ide-ide untuk menegakkan jihad, syariat, dan antidemokrasi –meskipun ia orang tidak bersalah– maka akan segera ‘dihabisi’,” tulis panduan itu.

Panduan itu kemudian bertanya kepada pembacanya apakah mereka akan berdiam diri dan mencari selamat saja, atau bertindak dan melakukan perlawanan balik. “Manual ini disediakan untuk Anda yang memutuskan untuk berperang. Manual ini disusun bagi rakyat biasa yang memutuskan bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan untuk menjatuhkan rezim berkuasa,” tulisnya.

Pengantar panduan lantas memberitahukan kepada pembacanya bahwa jaringan perlawanan harus mengadopsi sistem perlawanan gerilya dengan taktik serangan hit and run –menyerang berulang-ulang dan menghilang dengan cepat. Panduan itu menekankan, inti semua serangan itu adalah untuk membuat otoritas penguasa kebingungan dan kehilangan moral tempur.

“Para pejuang harus mulai merencanakan strategi gerilya kota dengan membawa peralatan tempur mereka dalam belantara gedung-gedung bertingkat dan bangunan tembok,” tulis panduan itu.

Seperti diketahui, belakangan pola serangan semacam yang tertulis dalam panduan tersebut marak terjadi pada anggota Kepolisian RI. Sejumlah polisi tewas ditembak oleh kelompok teroris dengan metode hit and run. Polisi sampai saat ini terus memburu pelaku penembakan.

  Vivanews 

Indonesia-China bahas perkembangan kerja sama keamanan

Jakarta - Indonesia dan China akan menggelar dialog membahas kerja sama bidang politik, hukum dan keamanan kedua negara serta pengaruhnya bagi kawasan.

Dalam dialog ke-4 Politik, Hukum dan Keamanan antara Indonesia dan China, delegasi Indonesia dipimpin Menko Polhukam Djoko Suyanto dan delegasi China dipimpin Anggota Dewan Negara Yang Jiechi.

Duta Besar RI untuk China merangkap Mongolia Imron Cotan, Rabu, mengatakan, kerja sama politik, hukum dan keamanan kedua negara telah berjalan baik bahkan semakin solid.

"Di bidang hukum, kita telah banyak melakukan kerja sama dalam penanganan kejahatan trans nasional seperti peredaran narkoba, kejahatan dunia maya dan lainnya," ungkapnya.

Sedangkan di bidang pertahanan, Indonesia dan China memiliki kerja sama yang semakin luas seperti pertukaran perwira siswa, latihan bersama, alih teknologi, dialog antarmatra angkatan darat, dan angkatan laut, kata Imron.

Dialog Bilateral antara Menko Polhukam RI dan State Councilor China merupakan pelaksanaan salah satu butir Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis RI-China yang ditandatangani April 2005.

"Kegiatan itu telah tiga kali dilaksanakan, yaitu pertama di Beijing, pada 17-21 September 2006, kedua di Jakarta, 21 Januari 2010, dan ketiga di Beijing, 28-29 Maret 2012," katanya.

Namun, lanjut Imron, sejak pertemuan ketiga kedua pihak sepakat untuk menjadikan pertemuan dua tahunan itu menjadi tahunan. "Ini menunjukkan kemitraan kedua negara semakin solid, terutama dalam bidang politik, hukum dan keamanan," katanya menegaskan.

Anggota Dewan Negara Yang Jieji saat tiba di Bandara Soekarno Hatta Rabu malam mengatakan dialog kali ini juga memiliki arti penting bagi kedua negara.

"Diharapkan dengan pertemuan kali ini, akan bertambah banyak kemajuan yang dicapai hingga makin mempererat hubungan kedua negara," katanya.

  ● Antara  

“Look Like a Truck and Fly Like Cadillac”

32 Tahun Pengabdian Skadron Udara 32

Angka cantik 32 tahun bagi Skadron Udara 32 memunyai makna tersendiri. Begitu banyak kiprah dan bakti yang telah dilaksananakan oleh skadron angkut berat yang mengoperasikan pesawat C-130 Hercules B/H/BT sejak diaktifkan kembali tahun 1981 ini.

Berawal dari nama besar “Hercules Son of Zeus“ segenap anggota Skadron Udara 32 berusaha melaksanakan setiap tugas yang diberikan, mengarungi luasnya langit demi kejayaan bangsa dan negara. Skadron ini merupakan salah satu satuan operasional di bawah jajaran Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang yang terletak di antara Pegunungan Arjuna dan Semeru. Kondisi geografis pegunungan telah memengaruhi mental jiwa juang dan militansi personel untuk mampu menjalankan tugas dengan penuh integritas.

Anytime Anywhere

Pembentukan Skadron Udara 32 Linud Berat dimulai tahun 1965 dengan dasar Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Nomor 50 tanggal 20 Juli 1965. Pada waktu itu Skadron Udara 32 merupakan Skadron Angkut Berat dengan kekuatan awal enam pesawat Antonov An-12B buatan Rusia dan berkedudukan di bawah jajaran Komando Operasi di Lanud Husein Sastranegara. Namun dalam perjalanannya permasalahan politik bangsa dan negara kemudian timbul sehingga menyebabkan kesiapan pesawat turun cukup drastis. Alhasil pimpinan AURI harus mengambil langkah melikuidasi skadron ini tahun 1974.

Baru tahun 1981 Skadron Udara 32 diaktifkan kembali dan berkedudukan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Peresmiannya dilakukan oleh KSAU pada 11 Juli 1981 berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Kep/21/V/1981 tanggal 20 Mei 1981. Sejak saat itulah tanggal 11 Juli ditetapkan sebagai hari Jadi Skadron Udara 32.

Dengan semboyan “Swadyayajnana Anuraga Bhakti Nagara” yang berarti “Giat Berlatih Demi Kejayaan Bangsa dan Negara”, skadron ini mendedikasikan seluruh waktu, kemampuan, dan pengabdiannya untuk misi operasi baik militer maupun misi kemanusiaan dalam sebuah kata-kata singkat yang tertuliskan dalam badge pada coverall yang digunakan. “Anytime Anywhere” menunjukkan tingkat mobilitas kekuatan udara yang tak lekang oleh waktu. Hampir bisa dipastikan seluruh pergerakan mobility capabilities unsur kekuatan militer tidak pernah terlepas dari kehadiran pesawat Hercules sebagai tulang punggung jembatan udara.

Kemampuan mobilitas udara merupakan kemampuan pokok yang menjadi faktor utama dalam konsep air power. Seperti doktrin mobilitas udara USAF, “Rapid global mobility is the backbone for sustained combat operations”. Lebih jauh lagi sesuai dengan konsep “The Air Mobility Triad” yang mendefinisikan air mobility sebagai sebuah sistem yang mengombinasikan airlift, air refueling, dan aset-aset air mobility support yang terintegrasi dengan baik. Skadron Udara 32 pada dasarnya mempunyai ketiga kemampuan tersebut. Sehingga sudah barang tentu tingkat mobilitas dan dinamika skadron ini sangat tinggi.

Dengan kesiapan pesawat Hercules tipe B/H dan BT, Skadron Udara 32 siap melaksanakan berbagai misi sesuai doktrin “Swa Buwana Paksa”. Mulai dari kemampuan pergeseran personel maupun logistik yang dapat diterjunkan maupun didaratkan sampai dengan kemampuan pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat-pesawat yang menjadi ujung tombak kekuatan deterrent effect.

Tantangan ke depan

Pada peringatan hari jadi tanggal 11 Juli 2013, disadari bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan. Bahkan semakin berat dihadapkan pada perkembangan teknologi dan tren konflik horizontal yang merupakan ciri khas asymmetric warfare. Kesiapan pesawat dan kesiapan personel merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dalam mewujudkan kesiapan operasional sebuah skadron udara.(Letkol Pnb Reza Sastranegara)

  ● Angkasa  

'Gerilya Kota' ala Kelompok Kiri Jadi Taktik Teroris di RI?

Minimanual of the Urban Guerrilla punya pesan: bunuh polisi

Kepolisian Republik Indonesia mengaku belum tahu beredarnya buku “Panduan Pelaksanaan Perang Gerilya di Perkotaan” di internet. Buku setebal 112 halaman yang dapat diunduh bebas di laman scribd.com itu mengajak pembacanya untuk memerangi dan menggulingkan rezim kafir.

“Saya belum membaca itu. Kami masih mempelajarinya,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Ronny Franky Sompie di kantornya, Rabu 18 September 2013.

Manual atau buku petunjuk pratis tentang gerilya kota itu diunggah oleh seseorang yang memakai nama Syarif Ramzan Saluev. Sampai saat ini buku tersebut telah diunduh oleh lebih dari 4.359 orang. Isi buku yang bisa dibaca cuma-cuma hanya pengantarnya, sedangkan materi teknisnya harus diunduh dengan membayar.

Pengamat teroris Noor Huda Ismail menyatakan panduan gerilya kota yang sudah lama beredar di internet ini berbahaya karena dapat menginspirasi kelompok-kelompok yang punya benih resisten terhadap pemerintah untuk mempraktikkan isi buku itu.

Buku ini menjadi lebih terdistribusi karena disebarluaskan lewat internet. “Internet, sosial media, dan smartphone yang murah membuat manual ini mudah didistribusikan ke berbagai kalangan yang mendukung gerakan antipemerintah,” kata dia.

Dalam pengantar buku itu, pembaca diajak melawan pemerintah berkuasa yang mereka sebut rezim kafir. Cara perlawanannya mengadopsi sistem gerilya lewat taktik serangan hit and run –menyerang berulang-ulang dan menghilang dengan cepat.

Serangan hit and run itu dimaksudkan agar pemerintah beserta aparatnya kebingungan dan kehilangan moral tempur. “Para pejuang harus mulai merencanakan strategi gerilya kota dengan membawa peralatan tempur mereka ke dalam belantara gedung-gedung bertingkat dan bangunan tembok,” tulis manual itu.

Noor Huda mengatakan, pola gerilya kota yang ada dalam manual tersebut mirip dengan rangkaian kasus penembakan polisi tiga bulan terakhir di Tangerang dan Jakarta. Dalam lima kasus penembakan tersebut, polisi ditembak di tempat umum atau jalanan. Saat Bripka Sukardi ditembak di depan Gedung KPK, situasi pun masih cukup ramai.

Noor Huda khawatir kasus penembakan polisi akan terulang karena manual gerilya kota terlanjur beredar luas di internet. Bukan tak mungkin buku tersebut menjadi panduan para teroris.

Dari membaca pengantarnya saja, manual gerilya kota ini amat menarik bagi mereka yang punya bibit ekstrem: “Hari ini kita dijajah oleh kekuatan militer kafir. Mereka menguasai kota-kota besar dan gedung-gedung pemerintahan. Mereka mengangkat penguasa boneka atas nama sang penjajah. Umat Islam pun menjadi buruan penguasa, dan sebagian besar dari mereka ditahan,” demikian paragraf pertama pengantar buku itu.

Selanjutnya ditulis bahwa penguasa kafir menyebarkan kekuatan intelijen, informan, dan dinas keamanan rahasia di segala penjuru. “Siapapun yang berani berbicara atau mengutarakan ide-ide untuk menegakkan jihad, syariat, dan antidemokrasi –meskipun ia orang tidak bersalah– maka akan segera ‘dihabisi’,” tulis buku tersebut.

Buku itu kemudian bertanya kepada pembacanya apakah mereka akan berdiam diri dan mencari selamat saja, atau bertindak dan melawan balik. “Manual ini disediakan untuk Anda yang memutuskan untuk berperang. Manual ini disusun bagi rakyat biasa yang memutuskan bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan untuk menjatuhkan rezim berkuasa,” tulisnya. Sungguh berbahaya.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Agus Rianto mengatakan, perkembangan teknologi memungkinkan setiap orang untuk melakukan dan menyebarkan apapun lewat dunia maya. “Produk-produk seperti itu dibuat oleh pihak tertentu yang ingin mengganggu stabilitas negara dan masyarakat. Tapi kami berharap tidak ada yang terpengaruh,” kata Agus.

Buku kelompok kiri

Noor Huda mengatakan, manual gerilya kota yang beredar di internet tersebut merupakan terjemahan dari buku gerilya kota kelompok kiri yang dicampur dengan argumentasi Islam. Buku kelompok kiri yang dimaksud itu yakni “Minimanual of the Urban Guerrilla” karangan gerilyawan Brasil Carlos Marighella yang diterbitkan Juni 1969.

Minimanual of the Urban Guerrilla berisi cara-cara untuk menggulingkan rezim otoriter dengan tujuan revolusi. Buku itu mendukung Brasil bertransformasi menjadi negara komunis seperti Kuba. Selama beberapa waktu, buku ini digunakan oleh sejumlah organisasi gerilya. Namun dalam beberapa dekade terakhir peran buku itu di kalangan gerilyawan kiri menurun –sampai tiba-tiba ekstremis Islam menggunakannya kembali.

Minimanual of the Urban Guerrilla sesungguhnya dilarang beredar di banyak negara. Namun buku itu tetap saja dicetak dan terpampang di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat.

Salah satu hal yang membuat pakar teroris Noor Huda menyebut pola gerilya kota dalam buku ini mirip dengan rangkaian kasus penembakan di Tangerang dan Jakarta tiga bulan terakhir adalah karena pelaku sama-sama menyasar polisi.

Dalam bukunya, Carlos Marighella jelas menjadikan polisi sebagai target. “Hal yang harus selalu diingat oleh setiap gerilyawan kota adalah ia hanya dapat mempertahankan eksistensinya jika membunuh polisi dan mereka yang berlaku represif,” tulisnya.

Bukan yang pertama

Manual gerilya kota ala ekstremis Islam bukan buku panduan teroris yang pertama. Sebelum ini, sudah banyak panduan merakit bom yang digunakan berbagai kelompok teroris di Indonesia untuk membuat bom. Panduan semacam itu misalnya pernah ditemukan polisi di kediaman teroris bom Tambora, Muhammad Toriq.

Di rumah Toriq, Gegana menemukan kertas yang berisi tulisan senyawa kimia yang ternyata merupakan tata cara merakit bom. Di samping kertas itu, Gegana juga menemukan barang-barang yang digunakan sebagai bahan peledak seperti detonator bom dan lembaran pembuatan racun atau bubur California.

Mabes Polri menyatakan, situs pembuatan bom memang bisa diakses dengan mudah lewat internet. Banyak di antara teroris yang dibekuk polisi pun ternyata belajar membuat bom secara otodidak lewat internet. Polri pun sempat meminta Kementerian Informasi dan Informatika untuk mengawasi dan memblokir situs-situs yang berpotensi menjadi panduan teroris supaya tidak tersebar ke masyarakat.

Mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Suhardi Alius yang kini menjabat Kapolda Jawa Barat beberapa waktu lalu mengatakan, para calon pengantin teroris yang terlibat dalam berbagai bom bunuh diri cenderung belajar membuat bom dari internet.

Menurutnya, pola terorisme masa kini tidak lagi direktif atau top-down dari pimpinannya, tapi parsial. Teroris dari suatu kelompok bisa langsung beraksi tanpa menunggu perintah dari pemimpinnya. Aksi teror sporadis pun bisa berlangsung karena bahan dasar pembuat bom mudah didapat di pasar-pasar. Pupuk saja bisa jadi bahan bom.

“Buku mengenai ajakan teror harus diwaspadai dan disensor untuk meminimalkan aksi teror,” kata Suhardi. Namun di era digital seperti sekarang di mana buku tidak selalu hadir dalam bentuk cetak, kesulitan Kepolisian untuk memantau buku-buku teror pun bertambah. (eh)

  Vivanews 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...