Jumat, 27 September 2013

Penentang Tank Leopard Minta Uang

 Mantan KSAD yang ikut konvensi itu tampil di Universitas Paramadina.

Leopard 2A4 TNI AD
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo menjadi salah satu peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang paling gencar berkampanye. Hari ini, Kamis 26 September 2013, dalam diskusi di Universitas Paramadina Jakarta, Pramono menyinggung keberhasilannya saat memimpin TNI AD.

Sebagai KSAD, ketika itu dia memutuskan untuk membeli tank Leopard dari Jerman. Menurutnya, sangat penting bagi Indonesia untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista). Namun, ujar Pramono, upayanya untuk memodernisasi alutsista TNI ditentang sekelompok orang.

“Rencana awal beli 44 tank, kemudian yang datang 150 tank dengan harga yang lebih murah namun dengan perlengkapan lebih lengkap. Tapi saya disalahkan oleh sekelompok orang. Mereka dulu idealis tapi sekarang minta bagian uang,” kata Pramono tanpa menyebut jelas siapa sekelompok orang yang ia maksud itu.

Modernisasi pertahanan, ujar ipar Susilo Bambang Yudhoyono itu, penting karena alutsista Indonesia sudah tertinggal dari negara lain. “Kita kelasnya Bajaj, yang lain Pajero. Bagaimana bisa menjaga kedaulatan kalau kita tidak kuat? Alhamdulillah, tahun 2014 nanti modernisasi alutsista sudah 70 persen dari rencana,” ujar Pramono.

Modernisasi alutsista itu dipandang Pramono sebagai salah satu bentuk nasionalisme yang ia praktikkan ketika menjabat sebagai KSAD. Ia lantas mengritik mantan aktivis mahasiswa dan organisasi kepemudaan yang kehilangan idealismenya setelah menjadi pejabat publik. “Tetaplah idealis. Jangan setelah menjabat lupa idealismenya, dan jangan setelah duduk lupa berdiri,” kata dia.

Pramono juga mengeluhkan ketika ia pernah bertemu dengan sekelompok pemuda yang menggadaikan idealisme demi segelintir keuntungan. “Semua dihitung dengan uang. Berat kalau sudah begitu. Padahal kalau kita tulus dalam berusaha, Tuhan akan memberi jalan keluar,” ujarnya.(kd)

  ● Vivanews  

Indonesian firm is lone bidder for P800-M PAF plane contract

http://images.solopos.com/2012/11/8.jpgMANILA, Philippines -- An Indonesian aircraft manufacturer was the only firm to bid for a Department of Defense contract to supply the Philippine Air Force with two medium-lift transport planes worth more than P800 million.

This was first revealed by reliable military sources and later confirmed by Defense Undersecretary Fernando Manalo who, when asked, said in a text message that the “big is (still) being evaluated.”

He did not elaborate.

According to one source, three companies bought bid documents but only PT Dirgantara Indonesia/Indonesian Aerospace (IAe) and Sikorsky Aircraft submitted offers.

When the bids were opened at the DND in Camp Aguinaldo on Wednesday, only PT Dirgantara qualified as a bidder. It offered a price of P812,550,000.

Another source said Sikorsky had offered the C27 Skytruck while PT Dirgantara offered the NC21-200 Aviocar.

“Assistant Secretary Patrick Velez has given the (Air Force’s) technical working group seven days to evaluate (PT Dirgantara’s) bid,” he said.

The Indonesian firm describes the NC-212-200 in its website as “a light transport that was designed to operate in areas lacking in infrastructure and unpaved runways. It has a high-wing configuration and fixed landing gear, is fitted with twin turboprop engines, and has excellent Short Take Off and Landing capability.”

The firm was established in 1976 and bills itself as “one of the indigenous aerospace company in Asia with core competence in aircraft design, development and manufacturing of civilian and military regional commuter aircraft.”

  ● Interaksyon   

Kamis, 26 September 2013

Danjen Kopassus: Kami Siap Basmi Preman

Aksi premanisme di Jakarta dan tempat-tempat lain di Indonesia semakin membuat resah masyarakat. Bila memang jajaran Polri membutuhkan dan diperintahkan, pasukan Kopassus TNI AD siap memberi bantuan.

"Kopassus siap membantu, kami dilatih dan dididik untuk menciptakan keamanan," ujar Komandan Jenderal Kopassus, Mayjen Agus Sutomo di Markasnya, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (26/9/2013).

"Tinggal tunggu izin turun, maka kami siap basmi preman," tegasnya.

Mantan Komandan Paspampres ini mengingatkan, tugas pokok TNI adalah pertahanan negara. Bila diperbantukan dalam penegakan keamanan sipil bersama Polri, tentunya membutuhkan payung hukum sebagai legitimasi.

"Mungkin saja kasus premanisme itu berkembang seperti penyekapan di mal Kenya, kita tidak tahu kalau tidak dicegah. Oleh karenanya kita menunggu perintah atasan untuk membantu basmi premanisme," imbuhnya.

  Detik  

DPR-Kemhan Meksiko Jalin Kerja Sama Pertahanan

Komisi I DPR RI menjalin kerjasama dengan Kementerian Pertahanan Meksiko dalam bidang pembangunan industri pertahanan.

Selain itu, rencana tukar-menukar siswa sekolah Staf dan Komando setiap angkatan antara kedua Negara.

“Naskah agreement kerjasama tersebut telah diteken antara pihak Komisi 1 DPR RI dengan pejabat Kemenhan Meksiko dalam kunjungan rombongan anggota Komisi 1 DPR RI ke negara tersebut,” kata anggota Komisi I DPR-RI, Marsdya (Purn) TNI M.Basri Sidehabi dari Meksiko, Kamis (26/9/2013).

Naskah kerjasama tersebut, menurut Basri, telah ditandatangani oleh Dr Agus Gumiwang Kartasasmita (Wakil Ketua Komisi 1 DPR-RI) mewakili pimpinan Komisi 1 DPR RI dan Letjen Lois Oliver Orturo, Sekjen Kemenhan Meksiko.

Kesepakatan kerjasama itu merupakan salah satu hasil dari rangakaian kunjungan rombongan anggota Komisi 1 DPR RI ke Meksiko, 25-29 September 2013.

Kerjasama tersebut, lanjut anggota Fraksi Golkar Dapil Sulawesi Selatan II ini, merupakan salah satu upaya mendorong penguatan dari program modernisasi pembangunan kekuatan persenjataan TNI.

Ini tertuang dalam target kekuatan pokok minimum (minimum essential forces/MEF) menuju angkatan udara kelas satu (first class air forces) pada tahun 2024 di lingkungan negara-negara ASEAN.

Sebelumnya, ungkap Basri, pihak Komisi I DPR sebagai mitra kerja Kementerian Pertahanan RI telah mengingatkan pemerintah agar mempercepat pencapaian (progres) dari program pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi TNI tersebut.

  Inilah  

JFWC Gelar Basic Fighter Manuver

GEMURUH udara di kota Pekanbaru begitu terasa bedanya dari hari-hari biasa, bagaimana tidak, sejak di gelarnya latihan bersama antara TNI AU dengan Republic Singapore Air Force (RSAF) yang bertajuk JFWC “Join Fighter Weapon Course”, frekwensi hilir-mudik sejumlah pesawat tempur dengan berbagai jenis begitu meningkat, apabila dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Sebut saja pesawat tempur milik RSAF, pada latihan ini sebanyak 6 unit pesawat tempur strategis F-16 D+ Blok 52 yang merupakan generasi tercanggih dikelasnya beberapa kali melaksanakan manuver terbang di udara kota Pekanbaru.

Demikian juga dengan pesawat tempur F-16 Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi dan pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 12 dan Skadron Udara 1 Lanud Supadio, selasa (25/9) Pada saat latihan tersebut, Danskadron Udara 12, Letkol Pnb Reka Budiarsa menyampaikan bahwa, dalam minggu ini seluruh pesawat yang mengikuti latihan melaksanakan Basic Fighter Manuver yakni, pertempuran udara satu lawan satu yang dilakukan oleh pesawat yang sama, baik pesawat F-16 maupun pesawat Hawk 100/200. Latihan yang direncanakan berlangsung hingga dua bulan kedepan tersebut akan melaksanakan berbagai teknik pertempuran udara, baik Air to Air maupun Air to Ground.(pentak iswahjudi)

  MPI 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...