Jumat, 04 Oktober 2013

Pindad produksi roket pertama yang dikendalikan GPS

PT Pindad tengah mengembangkan roket balistik pertama buatan Indonesia bernama Rhan 122. Roket ini bisa menembak dengan jarak 15 kilometer (Km) dan dikendalikan dengan GPS. Pada proyek ini Pindad tergabung bersama PT Dirgantara Indonesia, Dahana, Ristek dan BPPT dalam sebuah konsorsium.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Pindad, Wahyu Utomo, mengatakan roket balistik ini pernah di uji coba di Baturaja, Sumatera Selatan serta di Garut Selatan.

"Roket kita masih konsorsium, sudah di uji coba karena kita butuh lahan tembak," ucap Wahyu ketika ditemui di Monas, Jakarta, Jumat (4/10).

Pembuatan roket masih dalam tahap penyempurnaan dan mendapatkan tabel tembak. Tabel tembak baru bisa didapat jika sudah dilakukan pengujian beberapa kali dan tembakannya akurat.

"Tabel tembak, kita harus nembakin berapa ratus kali dan sekian kali. Kalau itu akurat baru dibuat tabel tembak. Nama roketnya Rhan 122," katanya.

Roket ini nantinya akan dipakai oleh TNI. Pasalnya, selama ini TNI masih memakai produk impor. Menurut Wahyu ini adalah roket balistik pertama untuk industri pertahanan.

"Sekarang ini akan diuji dulu. Ini roket balistik pertama untuk pertahanan. Ini nanti bisa kendalikan GPS di sirip siripnya kita kendalikan. Nanti ada GPS segala macam dan ini generasi pertama," jelasnya.

Roket ini ditargetkan bisa digunakan pada tahun 2015 mendatang. "Tergantung pemerintah tabel tembak selama 2 tahun lagi lah," tutupnya.[bmo]

  Merdeka 

F-16 Fighting Falcon kawal pengamanan udara KTT APEC 2013

Nusa Dua, Bali - Pengamanan udara pelaksanaan KTT APEC 2013 di Nusa Dua, Bali, diperkuat dengan kehadiran satu flight F-16 Fighting Falcon Skuadron Udara 3, yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

Kemarin (3/10), satu flight F-16 Fighting Falcon Blok 25 TNI AU itu diterbangkan dari pangkalannya menuju Pangkalan Udara TNI AU Ngurah Rai, sebagai pangkalan aju mereka selama KTT APEC 2013 dilaksanakan pada 1-8 Oktober ini.

Pejabat di lingkungan Dinas Penerangan TNI AU, Jumat, menyatakan, untuk selanjutnya semua F-16 Fighting Falcon yang diterbangkan itu berada di bawah kendali operasi Komando Gabungan Pengamanan KTT APEC 2013 Markas Besar TNI.

Komando gabungan inilah yang bertanggung jawab mengamankan seluruh aktivitas KTT APEC 2013 yang diikuti 21 kepala negara/kepala pemerintahan anggota APEC.

Satu flight pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dalam Operasi Pertahanan Udara VVIP KTT APEC 2013 dipimpin langsung Komandan Skadron Udara 3, Letnan Kolonel Penerbang Setiawan, yang keberangkatannya dilepas langsung Komandan Wing 3 Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahjudi, Kolonel Penerbang Minggit Tribowo.

Bukan cuma satu flight F-16 Fighting Falcon itu yang diberangkatkan, karena juga dikerahkan personel Batalion 463 Pasukan Khas TNI AU, Satuan Polisi Militer TNI AU setempat, Satuan Hewan Brigade Anjing, yang dibawa sejumlah C-130 Hercules dari Skuadron Udara 31 dan Skuadron Udara 32.

  Antara  

[Foto] Persiapan H-2 HUT ke-68 TNI

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_9796.jpg
20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_8932.jpg
Anggota Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 10 Kodam jaya, dengan meriam anti serangan udara S-60 Kaliber 57 mm berbaris saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_5498.jpg
Anggota Korps Marinir TNI AL dengan kendaraan amfibi mengikuti gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_9586.jpg
Anggota TNI memainkan beduk mengiringi kolone senapan saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_7260.jpg
Anggota TNI memainkan kolone senapan saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_2661.jpg
Penerjun TNI mendarat di atas perahu karet saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_8804.jpg
Penerjun TNI membawa bendera merah putih saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_3385.jpg
20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_4165.jpg
20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_1361.jpg
20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_8901.jpg
Tim aerobatik TNI AU "Jupiter" dengan pesawat baling-baling KT-1 Wong Bee bermanuver saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_7869.jpg
Anggota Pasukan Perdamaian TNI berbaris saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_7221.jpg
Anggota Batalyon Infanteri Lintas Udara Kostrad berbaris saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_3953.jpg
20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_8348.jpg
20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_1177.jpg
20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_6149.jpg
Tank Leopard yang baru saja memperkuat TNI AD mengikuti defile saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

20131003_persiapan-hut-ke-68-tni_4199.jpg
Anggota Detasemen Bravo Pasukan Khas TNI AU mengikuti defile saat gladi resik upacara HUT ke-68 TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10/2013). Upacara HUT TNI pada Sabtu (5/10) akan dihadiri oleh presiden RI.(Warta Kota/alex suban)

  Tribunnews 

Menhan RI Menerima Dubes Swedia Bersama Delegasi SAAB AB

Jakarta - Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro, Rabu (2/9) menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Swedia Ewa Polano bersama Delegasi SAAB AB yang dipimpin oleh President and CEO SAAB AB, Hakam Buskhe.

Dubes Swedia bersama Delegasi SAAB AB diterima oleh Menhan RI di VIP Room, Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdana Kusuma, Jakarta yang pada kesempatan tersebut baru saja tiba dari Bandung, usai menghadiri acara penyerahan Pesawat CN-235 MPA dari PT. DI kepada TNI AL.SAAB AB adalah perusahaan industri pertahanan dan kedirgantaraan Swedia yang memproduksi berbagai produk militer antara lain Air Traffic Control systems, Fighter aircraft, Military aircraft, Military systems dan Radars. Kunjungan Delegasi SAAB AB ke Indonesia dalam rangka untuk menjajaki berbagai kemungkinan kerjasama di bidang industri pertahanan kedua negara.

Turut mendampingi Menhan RI dalam kesempatan tersebut Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI IB. Putu Dunia, Kasal Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Marsetio, Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan (Dirjen Pothan) Kemhan Dr Ir Pos M. Hutabarat dan Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksda TNI Ir. Rachmad Lubis.

Berikut Video Promo SAAB :


  ● DMC  

Mengenang Resimen Tjakrabirawa, pasukan elite pengawal Soekarno

"Kepada semua anggauta Tjakrabirawa!"

Tahukah kamu untuk apa Tjakrabirawa diadakan?
Setialah kepada tugasmu!
Aku melimpahkan kepercayaan penuh kepadamu!

Presiden/Panglima Tertinggimu

Soekarno
Jakarta 5 Oktober 1962

Itulah pesan Presiden Soekarno kepada segenap anggota Resimen Tjakrabirawa. Pasukan elite yang baru dibentuk 6 Juni 1962. Tepat di hari ulang tahun Bung Karno ke-61. Tjakrabirawa dibentuk khusus untuk mengawal keselamatan Soekarno dan keluarganya.

Personelnya dipilih dari pasukan terbaik empat angkatan. Angkatan Darat mengirimkan Batalyon Banteng Raiders, Angkatan Laut mengirim Korps Komando Operasi (KKO), Angkatan Udara mengirim Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dan Polisi mengirim Resimen Pelopor.

Seluruh anggotanya wajib punya kemampuan terjun payung dan pernah memiliki pengalaman perang gerilya. Soekarno sendiri yang memilih nama Tjakrabirawa, dari senjata sakti milik Batara Kresna. Semboyannya 'Dirgayu Satyawira' berarti pasukan setia berumur panjang. Soekarno juga yang mendesain baju dan perlengkapan pasukan pengawalnya.

Pembentukan Tjakrabirawa dinilai perlu oleh menteri pertahanan saat itu Jenderal Nasution. Sebabnya percobaan pembunuhan pada Presiden Soekarno terus terjadi. Mulai dari serangan pesawat oleh Daniel Maukar, penggranatan di Makassar dan Cikini, hingga penembakan saat Salat Idul Adha di istana.

Awalnya Soekarno menolak. Dia merasa pengawalan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang berkekuatan belasan polisi istimewa ini sudah cukup. Namun para pimpinan tentara berhasil mendesak Soekarno untuk membentuk sebuah pasukan elite pengawal presiden.

"Pada hari kelahiranku di tahun 1962, dibentuklah pasukan Tjakrabirawa. Satu pasukan khusus dengan kekuatan 3.000 orang yang berasal dari keempat angkatan bersenjata. Tugas pasukan Tjakrabirawa adalah melindungi presiden," kata Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Menurut Soekarno, tugas Tjakrabirawa tak cuma mengawal. Ada juga yang menyediakan grup band dan menghibur dirinya. Mereka juga bertugas mencicipi makanan sebelum disantap oleh Soekarno .

Diakuinya juga, Tjakrabirawa menjaganya rapat. Mereka selalu mengamankan gerak-gerik Soekarno. Awalnya Soekarno merasa kagok juga, tapi dia lalu terbiasa.

"Satu-satunya yang yang tidak dapat dijaga oleh Tjakrabirawa adalah kesehatanku. Aku punya satu ginjal yang membatu," canda Soekarno.

Ajudan senior presiden, Kolonel Sabur menjadi komandan pertama Resimen Tjakrabirawa. Pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal. Sementara Kolonel Maulwi Saelan menjadi wakilnya.

Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel (Purn) Maulwi Saelan yang ditemui merdeka.com menjelaskan Soekarno sangat dekat dengan para pengawalnya. Soekarno hapal dengan anggota Tjakrabirawa yang biasa bertugas di sampingnya.

"Bung Karno itu sangat egaliter. Saya pernah berdebat dengannya, sampai mukanya merah padam karena marah. Beliau lalu masuk kamar. Beberapa saat kemudian beliau panggil saya. Saya tegang, wah mau dipecat saya, pikir saya. Ternyata Bung Karno bilang, Saelan, kamu yang benar. Luar biasa beliau mau mengakui dirinya salah, padahal berdebat dengan bawahan," puji Saelan.

Sayang, tak seperti harapan Soekarno, Tjakrabirawa tak berumur panjang. Sebagian kecil pasukan elite ini kemudian terlibat penculikan para jenderal dalam peristiwa G30S. Tak semua terlibat, hanya sekitar 60 orang di bawah pimpinan Letkol Untung yang mengikuti aksi itu. Namun semua terkena imbasnya.

Umur resimen Tjakrabirawa hanya seumur jagung. Dibubarkan jenderal Soeharto di senjakala kekuasaan Soekarno yang makin meredup. Seperti kata pepatah, karena nila setitik hancur susu sebelanga.

Usai pembubaran Tjakrabirawa, arah dan kisah sejarah Indonesia memulai babak baru. Mulai dari pembantaian para pelaku penculikan hingga orang-orang yang dianggap komunis. Babak baru sejarah Indonesia yang harus melalui stempel Orde Baru.

Ada Tjakrabirawa, Soekarno tak bisa blusukan

Presiden Soekarno dikenal gemar keluar istana diam-diam. Dia kerap menyamar sebagai rakyat biasa dan blusukan ke pasar atau tempat lain untuk mengetahui langsung situasi di lapangan.

Awalnya Soekarno leluasa menjalankan aksi blusukan itu. Maklum pengawalnya cuma anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang jumlahnya cuma belasan polisi istimewa. Tapi sejak 21 Juni 1962, dibentuk Resimen Tjakrabirawa yang beranggotakan 3.000 personel. Soekarno pun tak leluasa blusukan karena terus dikawal pasukan pengaman presiden tersebut.

"Dulu aku biasa keluar istana diam-diam seorang diri. Namun sejak ada Tjakrabirawa, hal itu tak mungkin lagi dilakukan," kata Soekarno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams.

Namun tetap saja Soekarno membandel, dan mencoba menyelinap keluar istana. Keesokan harinya, ada nota yang dikirimkan para pengawal setia itu. Isinya penuh hormat tapi tegas.

"Bapak yang tercinta, kami bertanggung jawab atas keselamatan Bapak. Karena itu kami mohon dengan sangat agar Bapak tidak lagi diam-diam menyelinap keluar. (tanda tangan) para pengawal Bapak," ujar Soekarno membacakan nota itu dengan jenaka.

Soekarno mengaku puas dengan pengawalan Tjakrabirawa. Dia melukiskan personel DKP dan Tjakrabirawa tak pernah lepas menjaga keselamatannya.

"Kalau aku melakukan kunjungan kenegaraan, Tjakrabirawa menempatkan orangnya di seberang jendela tempatku menginap. Bahkan ketika aku sedang berada di istana, dua orang senantiasa berada di dekatku. Satu kompi menjaga di sekeliling istana, yang lain berjaga-jaga di luar kota," kata Soekarno.

Kepada merdeka.com, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Purn Maulwi Saelan menuturkan mengawal Soekarno memang penuh dengan kejutan. Hubungan Soekarno dan para pengawal memang sangat dekat karena pribadi Soekarno yang egaliter.

Saelan masih mengingat saat mengawal Soekarno ke Italia. Saat itu rombongan sedang melintas di sebuah pantai. Tiba-tiba Soekarno secara mendadak memerintahkan seluruh rombongan berhenti.

"Ternyata Bung Karno ingin makan es krim di sebuah restoran. Maka kita semua berhenti untuk makan es krim. Semua duduk bersama di satu meja. Semua ramai menyambut Bung Karno, ada yang bilang kalau Bung Karno ikut Pemilu di Italia pasti menang," kata Saelan sambil tertawa.

Ini standar pengamanan Soekarno oleh Tjakrabirawa

Resimen Tjakrabirawa bertugas mengawal Presiden Soekarno. Sesuai standar pengamanan kepala negara, ada beberapa lapis pengamanan.

Di ring satu, menempel pada presiden adalah Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Anggota DKP ini adalah polisi istimewa pimpinan AKBP Mangil Martowidjojo. Para anggota DKP ini telah mengawal Soekarno sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Anggota DKP menjaga hingga radius 15 meter.

"Setelah itu di ring dua ada Detasemen Kawal Chusus (DKC) yang menjaga hingga radius 50 meter. Untuk pengamanan di ring luar dan istana seperti Istana Negara, Istana Cipanas, Istana Bogor dan lainnya, ada Detasemen Kawal Kehormatan (DKK)," kata mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel (Purn) Maulwi Saelan saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (27/9).

Untuk iring-iringan mobil kepresidenan pun tak terdiri dari banyak rombongan. Menurut Saelan, rombongan yang ringkas bisa bergerak lebih cepat.

"Biasanya ada motor sebagai vorijder, lalu jip kepresidenan, baru mobil Bung Karno. Di belakangnya ada dua jip, dari DKP dan DKC. Tak lebih dari enam mobil. Kadang jika dibutuhkan ada panser yang siap melakukan evakuasi pada presiden," kata Saelan.

Untuk di sisi jalan, pengamanan dilakukan oleh satuan teritorial setempat dari Kodam. Karena itu tak butuh terlalu banyak pasukan untuk mengawal iring-iringan rombongan Soekarno.

Jika situasi membahayakan, pengamanan tambahan pun sudah disiapkan guna mengevakuasi sang pemimpin besar revolusi. Jika di darat, Soekarno akan dimasukkan dalam panser yang siap melaju kencang. Di pelabuhan Tanjung Priok tersedia sebuah kapal cepat yang siap membawa Bung Karno ke mana saja. Demikian juga untuk evakuasi lewat udara, sebuah pesawat jetstar kepresidenan selalu siaga di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

"Yang sulit itu menahan rakyat yang ingin bersalaman dengan Bung Karno," kenang Saelan sambil tersenyum.

  ● Merdeka  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...